Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengertian
Gagal ginjal kronik adalah penurunan semua fungsi yang bertahap diikuti
penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit (Mary E. Doengoes, 2000).
Gagal ginjal kronik adalah suatu proses penurunan fungsi ginjal yang
progresif dan pada umumnya pada suatu derajat memerlukan terapi pengganti
ginjal yang tetap berupa dialisis dan transplantasi ginjal (Aru A. Sudoyo, 2006).
Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan
reversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme
dan keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia (Suzanne
C.Smeltzer, 2001).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Gagal ginjal
kronik adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible, diikuti
penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit menyebabkan uremia.
B. Anatomi Fisiologi
Ginjal adalah organ ekskresi yang berperan penting dalam mempertahankan
keseimbangan

internal

dengan

jalan

menjaga

komposisi

cairan

tubuh/ekstraselular. Ginjal merupakan dua buah organ berbentuk seperti kacang


polong, berwarna merah kebiruan. Ginjal terletak pada dinding posterior
abdomen, terutama di daerah lumbal disebelah kanan dan kiri tulang belakang,
dibungkus oleh lapisan lemak yang tebal di belakang peritoneum atau di luar
rongga peritoneum.
Ketinggian ginjal dapat diperkirakan dari belakang di mulai dari ketinggian
vertebra torakalis sampai vertebra lumbalis ketiga. Ginjal kanan sedikit lebih

rendah dari ginjal kiri karena letak hati yang menduduki ruang lebih banyak di
sebelah kanan. Masing-masing ginjal memiliki panjang 11,25 cm, lebar 5-7 cm
dan tebal2,5 cm.. Berat ginjal pada pria dewasa 150-170 gram dan wanita
dewasa 115-155 gram.
Ginjal ditutupi oleh kapsul tunikafibrosa yang kuat, apabila kapsul di buka
terlihat permukaan ginjal yang licin dengan warna merah tua. Ginjal terdiri dari
bagian dalam, medula, dan bagian luar, korteks. Bagian dalam (interna)
medula.Substansia medularis terdiri dari pyramid renalis yang jumlahnya antara
8-16 buah yang mempunyai basis sepanjang ginjal, sedangkan apeksnya
menghadap ke sinus renalis. Mengandung bagian tubulus yang lurus, ansahenle,
vasa rekta dan duktuskoli gensterminal. Bagianluar (eksternal) korteks. Subtansia
kortekalis berwarna coklat merah, konsistensi lunak dan bergranula. Substansia
ini tepat dibawah tunika fibrosa, melengkung sepanjang basis piramid yang
berdekatan dengan sinus renalis, dan bagian dalam di antara pyramid dinamakan
kolumnarenalis. Mengandung glomerulus, tubulus proksimal dan distal yang
berkelok-kelok dan duktus koligens.
Struktur halus ginjal terdiri atas banyak nefron yang merupakan satuan
fungsional ginjal. Kedua ginjal bersama-sama mengandung kira-kira 2.400.000
nefron. Setiap nefron bias membentuk urin sendiri. Karena itu fungsi dari satu
nefron dapat menerangkan fungsi dari ginjal. (Luckman, 2002)
C. Etiologi
a. Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis
b. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis

benigna,

nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis


c. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik,
poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif
d. Gangguan kongenital dan herediter misalnya

penyakit

ginjal

polikistik,asidosis tubulus ginjal


e. Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis
f. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal
g. Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli
neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah:

hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung


kemih dan uretra.
h. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis
D. Tanda dan Gejala
Menurut Long (1996) tanda dan gejala CKD antara lain:
1. Gejala dini
Lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang,
mudah tersinggung, depresi.
2. Gejala yang lebih lanjut
Anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak napas baik waktu
ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukakan, pruritis mungkin tidak
ada tapi munkin juga sangat parah.
Menurut Tanda dan gejala menurut Smeltzer dan Bare (2001) antara lain:
1. Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas system renninangiotensi-aldosteron),
2. Gagal jantung kongestif dan udem pulmunor (akibat cairan berlebihan) dan
3. Perikarditis (akibat irioteasi pada lapisan pericardial oleh toksik, pruritis,
anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan
tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
Menurut Suyono (2001) tanda dan gejala adalah sebagai berikut :
1. Gangguan kariovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak napas akibat perikarditis, effuse perikarditis
dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan
edema.
2. Gangguan pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara
krekles.
3. Gangguan gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan formitus yang berhubungan dengan metabolisme
protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi, dan
perdarahan mulut, nafas bau ammonia.
4. Gangguan musculoskeletal
Resiles leg sindrom (pegal pada kakinya sehingga selalu digerakkan),
burning feet syndrome (rasa kesemutan dan terbakar, terutama pada telapak
kaki), tremor, miopati (kelemahan dan hipertropi otot-otot ekskremitas).
5. Gangguan integument

Kulit

berwarna

pucat

akibat

anemia

dan

kekuning-kuningan

akibat

penimbunan urokrom, gatal-gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh, warna
kulit abu-abu mengkilat, rambut tipis dan kasar.
6. Gangguan endokrin
Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan
menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic lemak dan vitamin D.
7. Gangguan cairan dan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa
Biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium
dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipokalsemia.
8. System hematologi
Anemia yang disebabkan karena kurangnya produksi eritropoetin, sehingga
rangsangan eritroesis pada sum-sum tulang berkurang, hemolisis akibat
berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga
terjadi gangguan fungsi trombosiyt dan trombositopeni.
E. Komplikasi
Menurut Smeltzer & Bare (2001) komplikasi CKD antara lain :
a. Hiperkalemia
b. Perikarditis, efusi perikardial dan tamponade jantung
c. Hipertensi
d. Anemia
e. Penyakit tulang

F. Patofisiologi
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomelurus
dan tubulus) diduga utuh, sedangankan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh).
Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang
meningkat disertai reabsorbsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR/daya
saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai dari
nefron-nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar
daripada yang direabsorbsi berakibat dieresis osmotic disertai poliuri dan haus.
Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguria timbul
disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien
menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira
fungsi ginjal telah hilang 80%-90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian

nilai kreatinin clearance turun sampai 15ml/menit atau lebih rendah. (Barbara C
Long, 1996).
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya
diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan
mempengaruhi setiap system tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah
maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialysis.
( Smeltzer & Bare, 2001).
G. Penatalaksanaan
Menurut Sylvia Price (2000) adalah sebagai berikut :
1. Penatalaksanaan Medis
a. Obat anti hipertensi yang sering dipakai adalah Metildopa (Aldomet),
propanolol dan klonidin. Obat diuretik yang dipakai adalah furosemid
(lasix).
b. Hiperkalemia akut dapat diobati dengan pemberian glukosa dan insulin
intravena yang memasukan K+ ke dalam sel, atau dengan pemberian
kalsium glukonat 10% intravena dengan hati-hati sementara EKG terus
diawasi. Bila kadar K+ tidak dapat diturunkan dengan dialisis, maka dapat
digunakan resin penukar kation natrium polistiren sulfonat (Kayexalate).
c. Pengobatan untuk anemia yaitu : rekombinasi eritropoetin (r-EPO) secara
meluas, saat ini pengobatan untuk anemia uremik : dengan memperkecil
kehilangan

darah,

pemberian

vitamin,

androgen

untuk

wanita,

depotestoteron untuk pria dan transfusi darah.


d. Asidosis dapat tercetus bilamana suatu asidosis akut terjadi pada
penderita yang sebelumnya sudah mengalami asidosis kronik ringan,
pada diare berat yang disertai kehilangan HCO3. Bila asidosis berat akan
dikoreksi dengan pemberian pemberian NaHCO3 parenteral.
e. Dialisis : suatu proses dimana solut dan air mengalir difusi secara pasif
melalui suatu membran berpori dari suatu kompartemen cair menuju
f.

kompartemen lainnya.
Dialisis peritoneal : merupakan

alternatif

penanganan gagal ginjal akut dan kronik.

dari hemodialisis pada

g. Pada orang dewasa, 2 L cairan dialisis steril dibiarkan mengalir ke dalam


rongga peritoneal melalui kateter selama 10-20 menit. Biasanya
keseimbangan cairan dialisis dan membran semipermeabel peritoneal
yang banyak vaskularisasinya akan tercapai setelah dibiarkan selama 30
menit.
h. Transplantasi ginjal : prosedur standarnya adalah memutar ginjal donor
dan menempatkannya pada fosa iliaka pasien sisi kontralateral. Dengan
demikian ureter terletak di sebelah anterior dari pembuluh darah ginjal,
dan lebih mudah dianastomosis atau ditanamkan ke dalam kandung
kemih resipien.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, penimbangan berat
badan setiap hari, batasi masukan kalium sampai 40-60 mEq/hr, mengkaji
daerah edema.
3. Penatalaksanaan diit
Tinggi karbohidrat, rendah protein, rendah natrium, batasi diit rendah protein
sampai mendekati 1 g / kg BB selama fase oliguri. Untuk meminimalkan
pemecahan protein dan untuk mencegah penumpukan hasil akhir toksik.
Batasi makanan dan cairan yang mengandung kalium dan fosfor (pisang, buah
dan jus-jusan serta kopi).
H. Pemeriksaan diagnostik / laboratorium
Menurut marilynn E .Doenges (2000) adalah sebagai berikut :
1. Urine
Volume :
Biasanya kurang dari 400 ml / 24 jam atau urine tak ada (anuria)
Warna
:
Secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus bakteri, lemah,
partikel koloid, fosfat atau urat.
Berat jenis :
Kurang dari 1,05 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat).
Osmolalitas
:
Kurang dari 300 mosm / kg menunjukkan kerusakan tubular dan rasio urine
serum sering 1 : 1.
2. Klirens Kreatinin :

Mungkin agak menurun.stadium satu CCT(40-70ml/menit), stadium kedua,


CCT (20-40ml/menit) dan stadium ketiga, CCT(5 ml/menit)
3. Natrium :
Lebih besar dari 40 g/dl, karena ginjal tidak mampu mereabsorpsi natrium.
(135-145 g/dL)
4. Protein :
Derajat tinggi proteinuria (3 4 + ) secara kuat menunjukkan kerusakan
glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada.
5. Darah
6. BUN/Kreatinin:
Meningkat, biasanya meningkat dalam proporsi, kadar kreatinin 10 mg/dl.
Diduga batas akhir mungkin rendah yaitu 5
7. Hitung darah lengkap :
Ht namun pula adanya anemia Hb : kurang dari 7 8 9/dl, Hb untuk
perempuan (13-15 g/dL), laki-laki (13-16 g/dL)
8. SDM :
Waktu hidup menurun pada defesiensi eriropoetin seperti pada azotemia.
9. GDA :
PH : penurunan asidosis (kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan
kemampuan ginjal untuk mengekskresi hidrogen dan amonia atau hasil akhir
katabolisme protein. Bikarbonat menurun PCo2 menurun natrium serum
mungkin rendah (bila ginjal kehabisan natrium atau normal (menunjukkan
status difusi hipematremia)
10. Kalium :
Peningkatan normal (3,5- 5,5 g/dL) sehubungan dengan rotasi sesuai
dengan perpindahan selular (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis
SDM) pada tahap akhir pembahan EKG mungkin tidak terjadi sampai umum
gas mengolah lebih besar.
11. Magnesium / fosfat meningkat di intraseluler : (27 g/dL), plasma (3 g/dL),
cairan intersisial (1,5 g/dL).
12. Kalsium :
menurun. Intra seluler (2 g/dL), plasma darah (5 g/dL), cairan intersisial (2,5
g/dL)
13. Protein (khususnya albumin 3,5-5,0 g/dL) :
Kadar semua menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine
pemindahan cairan penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena
asam amino esensial.
14. Osmolalitas serum :

Lebih besar dari 285 mos m/kg. Sering sama dengan urine Kub Foto :
menunjukkan ukuran ginjal / ureter / kandug kemih dan adanya obstruksi
(batu)
15. Pielogram retrograd :
Menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
16. Arteriogram ginjal :
Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi

ekstravakuler

massa.

Sistrouretrografi berkemih : menunjukkan ukuran kandung kemih, refiuks


kedalam ureter, rebonsi.
17. Ultrasono ginjal :
Menentukan ukuran ginjal dan adanya massa. Kista obstruksi pada saluran
kemih bagian atas.
18. Biopsi ginjal :
mungkin dilakukan secara endoskopik untuk menentukan pelvis ginjal :
keluar batu hematuria dan pengangkatan tumor selektif
19. EKG :
Mungkin abnormal menunjukan ketidak keseimbangan elektrolit asam/basa.
20. Foto kaki, tengkorak, kolumna spinal, dan tangan :
Dapat menunjukkan deminarilisasi, kalsifikasi.
I.

Pengkajian
Menurut Susan Martin Tucker (1998) adalah sebagai berikut:
1. Neurologis
Sakit kepala, penglihatan kabur, perubahan kepribadian, malaise, neuropatik
perifer, penurunan tingkat kesadaran.
2. Pernapasan
Sesak napas, hiperventilasi, edema paru, pneumoni, napas cheyne stokes,
napas berbau amoniak.
3. Kardiovaskular
Hipertensi, takikardi, disritmia, miokardiopati, perikarditis.
4. Cairan dan elektrolit
Oliguria, anuria, edema : berat badan meningkat, dehidrasi : berat badan
menurun, hiperkalemia, hiperfostatemia, hipokalemia, hiperlipidemia, asidosis
metabolik.
5. Gastrointestinal

Rasa pahit pada mulut, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi dan
hemoragik.
6. Integumen
Mulut kering, kuku pucat, petekie, pruritus, memar dan lapisan uremik.
7. Hematologis
Anemia, koagulasi, defisiensi trombosit.
8. Endokrin
Amenoria, disfungsi seksual, infertilitas, hiperparatiriodisme, tidak toleransi
terhadap glukosa.
9. Imunologis
Peningkatan suhu, leukosit tinggi, infeksi, toksisitas obat.
10. Psikososial
Ansietas, takut, tak berdaya, berduka, menyangkal, depresi dan gangguan
hubungan dengan orang lain.
J. Diagnosa Keperawatan
Menurut Brunner dan Suddarth (2002) dan Marilin E, Doenges (2002) adalah
sebagai berikut :
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine,
diet berlebihan dan retensi cairan serta natrium.
1. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membran
mukosa mulut.
2. Kurang pengetahuan

tentang

kondisi

dan

program

penanganan

berhubungan dengan kurang informasi.


3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur dialisis.
4. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan perubahan
peran
5. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
ketidak seimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja
miokardial

dan tahanan vaskular sistemik, gangguan frekuensi, irama,

konduksi jantung, ketidakseimbangan elektrolit, hipoksia), akumulasi


toksin (urea) klasifikasi jaringan lunak.
6. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan penekanan produksi /
sekresi eritropoitin / penurunan produksi dan SDM hidupnya gangguan
faktor pembekuan peningkatan kerapuhan kapiler.
7. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis,
akumulasi

toksin

asidosis

metabolik,

ketidakseimbangan

elektrolit,

klasifikasi metabolik pada otak.


8. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kuit berhubungan dengan
gangguan status metabolik, sirkulasi anemia dengan iskemia jaringan dan
sensasi (neuropati perifer), gangguan turgor kulit cedera / dehidrasi)
penurunan aktivitas/metabolisasi akumulasi toksin dalam kulit.
9. Risiko tinggi terhadap perubahan membran mukosa oral berhubungan
dengan kurang / penurunan saliva, pembatasan cairan, iritasi kimia,
perubahan urea dalam saliva menjadi amonia.
K. Perencanaan dan Kriteria Hasil
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine,
diet berlebihan dan retensi cairan dan natrium.
Tujuannya : Mempertahankan berat badan ideal tanpa kelebihan volume
cairan
Kriteria Hasil : Menunjukkan perubahan berat badan yang lambat,
mempertahankan pembatasan diet cairan, menunjukkan turgor kulit normal
tanpa ada edema, menunjukkan tandatanda vital normal, menunjukkan
tidak adanya distensi vena leher, melaporkan adanya kemudahan dalam
bernafas atau tidak terjadi nafas pendek, melakukan oral hygiene dengan
sering, merupakan penurunan rasa haus, melaporkan berkurangnya
kekeringan pada membran mukosa mulut.
Intervensi :
a. Kaji status cairan : timbang BB harian, keseimbangan masukan dan
haluaran, turgor kulit dan adanya edema, distensi vena leher, tekanan
darah, denyut nadi dan irama nadi.
b. Batasi masukan cairan

c. Identifikasi cairan potensial cairan : medikasi dan cairan yang digunakan


untuk pengobatan oral dan intravena, makanan.
d. Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan cairan
e. Bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan
cairan
f. Tingkatkan dan dorong hygiene oral dengan sering
2. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membran mukosa
mulut.
Tujuan : Masukan nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil : mengkonsumsi protein yang mengandung nilai biologis tinggi,
memilih makanan yang menimbulkan nafsu makan dalam batasan diet,
mengkonsumsi makanan tinggi kalori dalam batasan diet, mematuhi medikasi
sesuatu jadwal untuk mengatasi anoreksia dan tidak menimbulkan rasa
kenyang menjelaskan dengan kata-kata sendiri rasional pembatasan diet dan
hubungannya dengan kadar kreatinin dan urea, mengkonsumsi daftar
makanan yang dapat diterima, melaporkan peningkatan nafsu makan,
menunjukkan tidak adanya penambahan atau penurunan BB yang cepat,
menunjukkan turgor kulit yang normal tanpa edema, kadar albumin plasma
dapat diterima.
Intervensi :
a. Kaji status nutrisi : perubahan BB, pengukuran antropometrik, nilai
laboratorium (elektrolit serum, BUN, kreatinin, protein, transferin dan
kadar bersih)
b. Kaji pola diet nutrisi pasien : riwayat diet, makanan kesukaan, hitung
kalori.
c. Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi : anoreksia,
mual atau muntah, diet yang tidak menyenangkan bagi pasien, depresi,
kurang memahami, pembatasan diet, stomatitis
d. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batasan-batasan diet
e. Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi sel
telur, produk susu dan daging
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan program penanganan berhubungan
dengan kurang informasi.

Tujuan : Meningkatkan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan


yang bersangkutan
Kriteria hasil : menyatakan hubungan antara penyebab gagal ginjal dan
konsekuensinya, menjelaskan pembatasan cairan dan diet sehubungan
dengan kegagalan regulasi ginjal menyatakan hubungan antara gagal ginjal
dengan

kebutuhan

penanganan

menggunakan

kata-kata

sendiri.

Menanyakan tentang pilihan terapi yang merupakan petunjuk kesiapan


belajar, menyatakan rencana melanjutkan kehidupan normalnya sedapat
mungkin, menggunakan informasi dan instruksi tertulis untuk mengklasifikasi
pertanyaan dan mencari informasi tambahan.
Intervensi :
a. Kaji pemahaman mengenai penyebab gagal ginjal konsekuensinya dan
penanganannya : penyebabnya gagal ginjal pasien, pengertian gagal
ginjal, pemahaman mengenai fungsi renal, hubungan antara cairan
pembatasan diet dengan gagal ginjal, raional penanganan (hemodialisis,
dialisis peritorial, transplantasi)
b. Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan
pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar
c. Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami
berbagai

perubahan

akibat

penyakit

dan

penanganan

yang

mempengaruhi hidupnya
d. Sediakan informasi baik tertulis maupun secara oral dengan tempat
tentang fungsi dan kegagalan renal. Pembatasan cairan dan diet,
medikasi, melaporkan masalah tanda dan gejala, jadwal tindak lanjut,
sumber dikomunitas pilihan terapi.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk
sampah dan prosedur dialisis.
Tujuan : Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi
Kriteria Hasil : Berpartisipasi dalam meningkatkan singkat aktivitas dengan
latihan melaporkan peningkatan rasa sejahtera melakukan istirahat dan
aktivitas secara bergantian berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri
yang dipilih.

Intervensi :
a. Kaji faktor yang menimbulkan kelebihan : anemia, ketidakseimbangan
cairan dan elektrolit/retensi produk sampah depresi.
b. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat
ditoleransi bantu jika keletihan terjadi.
c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat.
d. Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis.
5. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan perubahan
penuh, perubahan citra tubuh dan fungsi seksual.
Tujuan : Memperbaiki konsep diri
Kriteria Hasil : Mengidentifikasi pada koping yang efektif dan pada saat ini
tidak mungkin lagi digunakan akibat penyakit dan pananganan (pemakaian
alkohol dan obat-obatan, penggunaan tenaga yang berlebihan), pasien dan
keluarga mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan dan reaksinya
terhadap penyakit dan perubahan hidup yang diperlukan. Mencari konseling
profesional jika perlu untuk menghadapi perubahan akibat gagal ginjal.
Intervensi :
a. Kaji respons dan reaksi pasien dan keluarga terhadap penyakit dan
penanganan
b. Kaji hubungan antara pasien dengan anggota keluarga terdekat
c. Kaji pula kuping pasien dan anggota keluarga
d. Ciptakan diskusi terbuka tentang perubahan yang terjadi akibat penyakit
dan penanganan perubahan-perubahan gaya hidup, perubahan dalam
pekerjaan

perubahan

seksual,

ketergantungan

pada

tim

tenaga

kesehatan.
e. Gali cara alternatif untuk ekspresi seksual lain selain hubungan seksual
f. Diskusikan peran memberi dan menerima cinta, kehangatan dan
kemesraan
6. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan
ketidakseimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja miokardial
dan tahanan vaskuler sistemik, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung
(ketidakseimbangan elektrolit, hipotesa) akumulasi toksin urea klasifikasi
jaringan lunak.
Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung

Kriteria Hasil : Mempertahankan curah jantung dengan bukti TD dan


frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan
waktu pengisian kapiler
Intervensi :

7.

a. Aukultasi bunyi jantung dan paru


b. Kaji adanya / derajat hipotensi
c. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan lokasi radiasi, dan beratnya.
d. Kaji tingkat aktivitas, respons terhadap aktivitas
e. Awasi pemeriksaan laboratorium : elektrolit
f. Berikan obat anti hipertensi
Risiko tinggi terhadap Cedera berhubungan dengan penekanan produksi
sekresi eritropoitin, penurunan produksi dan SDM hidupnya, gangguan faktor
pembekuan, peningkatan kerapuhan kapiler.
Tujuan : Tidak terjadi cidera
Kriteria hasil : Tak mengalami tanda / gejala pendarahan, mempertahankan /
menunjukkan perbaikan nilai laboratorium.
Intervensi :
a.
b.
c.
d.

8.

Observasi takikardi, Dispneu dan nyeri dada


Evaluasi respon terhadap aktivitas
Observasi perdarahan terus menerus
lakukan penekanan lebih lama setelah menyuntikkan / penusukan

vaskuler
e. Awasi pemeriksaan laboratorium : hitung DL
f. Berikan obat sesuai indikasi
Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis akumulasi
toksin, asidosis metabolik, ketidakseimbangan elektrolit, kalsifikasi metastatik
pada otak
Tujuan : Pola pikir tidak terganggu
Kriteria hasil : Meningkatkan tingkat mental biasanya, mengidentifikasi cara
untuk mengoperasikan gangguan kognitif / defisit memori.
Intervensi :
a. Kaju luasnya gangguan kemampuan berfikir, memori dan orientasi
b. Berikan orang terdekat informasi tentang status pasien
c. Berikan lingkungan tenang dan izinkan menggunakan televisi, radio dan
kunjungan
d. Orientasikan kembali terhadap lingkungan orang dan sebagainya

e. Hadirkan

kenyataan secara singkat-ringkas dan jangan menantang

dengan pemikiran yang tak logis


9. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
gangguan status metabolik, sirkulasi lanemia dengan iskemia jaringan dan
sensasi (neuropati perifer), gangguan turgor kulit ledema / dehidrasi
penurunan aktivitas / mobilisasi, akumulasi toksin dalam kulit
Tujuan : Tidak terjadi perubahan / kerusakan integritas kulit
Kriteria hasil : Mempertahankan kulit utuh, menunjukkan perilaku / teknik
untuk mencegah kerusakan / cedera kulit
Intervensi :
a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor
b. Inspeksi area tergantung terhadap edema
c. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
d. Ubah posisi dengan sering
e. Berikan perawatan kulit
f. Pertahankan linen kering
g. Selidiki keluhan gatal
10. Risiko tinggi terhadap perubahan membran mukosa oral berhubungan
dengan kurang / penurunan saliva, pembatasan cairan, iritasi kimia
perubahan urea dalam saliva menjadi amonia
Tujuan : Tidak terjadi perubahan membran mukosa oral
Kriteria hasil : Mempertahankan integritas membran mukosa mengidentifikasi
/ melakukan intervensi untuk mengingkatkan kesehatan mukosa oral.
Intervensi :
a.
b.
c.
d.
e.

Inspeksi rongga mulut


Berikan cairan sepanjang 24 jam dalam batas yang ditentukan
Berikan perawatan mulut
Anjurkan hygiene gigi yang baik setelah makan dan saat tidur
Berikan obat-obatan sesuai indikasi