Anda di halaman 1dari 15

1.

Sejarah dan Definisi Kompos


Terkadang banyak orang penasaran ingin mengetahui asal-usul pembuatan kompos. Sulit
untuk orang-orang tertentu mengetahui awal dari lahirnya istilah pengkomposan. Pada
pemerintahan kuno di lembah Mesopotamia penggunaan pupuk dalam pertanian pada berbagai
tanah telah diketahui 1000 tahun sebelum masehi. Bangsa Roma dan Yunani telah mengetahui
tentang kompos dari berbagai literatur bahwa pupuk jerami terbukti bisa digunakan sebagai
pupuk organik. Pada buku yang ditulis oleh William Shakespeare, Sir Francis Bacon, Sir Walter
Raleigh disebutkan cara penggunaan kompos.
Di benua amerika utara, manfaat kompos telah terbukti penggunaannya. Di New England
banyak petani yang membuat kompos dari berbagai kotoran ternak dan bangkai ikan, mereka
menyimpan tumpukan kotoran dan bangkai ikan tersebut hingga hancur sampai menjadi kompos.
Stephen Hoyt dan Sons adalah seorang pekerja dibidang pertanian, mereka membuat kompos
dengan 220.000 bangkai ikan untuk satu musim tanam. Selain Stephen Hoyt and Sons, yang
memproduksi dan mempromosikan penggunaan kompos yaitu George Washington, Thomas
Jefferson, James Madison, dan George Washington Carver.
Pada awal abad ke 20 penggunaan pupuk kompos sangat diminati oleh para petani
daerah, karena manfaat pupuk kompos yang efektif, murah dan ramah lingkungan. Sir Albert
Howard, seorang ahli agronomi Inggris, pergi ke India pada tahun 1905 untuk bereksperimen
dengan berkebun organik. Ia menemukan bahwa kompos terbaik terdiri dari tiga kali lebih
banyak materi tanaman yang digunakan sebagai pupuk. Kemudian pada tahun 1943, Sir Howard
menerbitkan sebuah buku tentang metode organik pertanian dan beliau mendapatkan julukan
sebagai bapak modern dari pertanian organik. J.I Rodale bekerja sama dengan Sir Howard dalam
memperkenalkan paa para petani Amerika bahwa manfaat dan nilai kompos dapat meningkatka
kualitas tanah. Mereka mendirikan sebuah pusat penelitian pertanian di Pennsylvania dan
mempunyai redaksi majalah organik gardening. Saat ini, metode organiik dan berkebun semakin
diminati oleh berbagai petani. Hingga saat ini banyak para petani yang menyadari bahwa
penggunaan pupuk kompos lebih ramah lingkungan, murah serta efektif untuk pertumbuhan
tanaman dan penyuburan tanah, dan di bandingkan dengan pupuk kimia.

Kompos adalah hasil akhir suatu proses dekomposisi tumpukan sampah/serasah tanaman
dan bahan organik lainnya. Keberlangsungan proses dekomposisi ditandai dengan nisbah C/N
bahan yang menurun sejalan dengan waktu. Bahan mentah yang biasa digunakan seperti : daun,
sampah dapur, sampah kota dan lain-lain dan pada umumnya mempunyai nisbah C/N yang
melebihi 30 (Sutedjo, 2002). Beberapa manfaat pupuk organik adalah dapat menyediakan unsur
hara makro dan mikro, mengandung asam humat (humus) yang mampu meningkatkan kapasitas
tukar kation tanah, meningkatkan aktivitas bahan mikroorganisme tanah, pada tanah masam
penambahan bahan organik dapat membantu meningkatkan pH tanah, dan penggunaan pupuk
organik tidak menyebabkan polusi tanah dan polusi air (Novizan, 2007).
Kompos dibuat dari bahan organik yang berasal dari bermacam-macam sumber. Dengan
demikian, kompos merupakan sumber bahan organik dan nutrisi tanaman. Kemungkinan bahan
dasar kompos mengandung selulosa 15-60%, enzi hemiselulosa 10-30%, lignin 5-30%, protein
5-30%, bahan mineral (abu) 3-5%, di samping itu terdapat bahan larut air panas dan dingin (gula,
pati, asam amino, urea, garam amonium) sebanyak 2-30% dan 1-15% lemak larut eter dan
alkohol, minyak dan lilin (Sutanto, 2002). Penggunaan bahan organik (pupuk organik) perlu
mendapat perhatian yang lebih besar, mengingat banyaknya lahan yang telah mengalami
degradasibahan organik, di samping mahalnya pupuk anorganik (urea, ZA, SP36, dan
KCl).Penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus tanpa tambahan pupuk organik dapat
menguras bahan organik tanah dan menyebabkan degradasi kesuburan hayati tanah (Syafruddin,
et al, 2008). Selain itu, Hakim (2008) menyatakan humus dapat pula meningkatkan seskuioksida,
yaitu oksida-oksida Al dan Fe membentuk koloid protektif yang dapat mengurangi fiksasi P,
sehingga P lebih tersedia bagi tanaman.
2. Fungsi Kompos
Kompos ibarat multi-vitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkan
kesuburan tanah, merangsang perakaran yang sehat.Kompos memperbaiki struktur tanah dengan
meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk
mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman
akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk
menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang
pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman
menghadapi serangan penyakit. lewat proses alamiah.Namun proses tersebut berlangsung lama
sekali padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah mendesak. Oleh karenanya proses
tersebut perlu dipercepat dengan bantuan manusia. Dengan cara yang baik, proses mempercepat
pembuatan kompos berlangsung wajar sehingga bisa diperoleh kompos yang berkualitas baik
(Murbandono, 2000).
Proses pengomposan melalui 3 tahapan dan proses perombakan bahan organik secara
alami membutuhkan waktu yang relatif (3-4 bulan),mikroorganisme umumnya berumur pendek.
Sel yang mati akan didekomposisioleh populasi organisme lainnya untuk dijadikan substrat yang
2

lebih cocok dari pada residu tanaman itu sendiri. Secara keseluruhan proses dekomposisi
umumnya meliputi spektrum yang luas dari mikroorganisme yang memanfaatkan substrat
tersebut, yang dibedakan atas jenis enzim yang dihasilkannya (Saraswati, dkk, 2006).
Kompos adalah zat akhir suatu proses fermentasi tumpukansampah/serasah tanaman dan
adakalanya pula termasuk bangkai binatang.Sesuai dengan humifikasi fermentasi suatu
pemupukan dicirikan oleh hasil bagi C/N yang menurun. Bahan-bahan mentah yang biasa
digunakan seperti ; merang, daun,sampah dapur, sampah kota dan lain-lain dan pada umumnya
mempunyai hasil bagi C/N yang melebihi 30 (Sutedjo, 2002).
Di alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alamiah. Namun
proses tersebut berlangsung lama sekali padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah
mendesak. Oleh karenanya, proses tersebut perludipercepat dengan bantuan manusia. Dengan
cara yang baik, proses mempercepat pembuatan kompos berlangsung wajar sehingga bisa
diperoleh kompos yang berkualitas baik (Murbandono, 2000).
Kompos mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan antara lain : memperbaiki
struktur tanah berlempung sehingga menjadi ringan, memperbesar daya ikat tanah berpasir
sehingga tanah tidak berderai, menambah daya ikat air pada tanah, memperbaiki drainase dan
tata udara dalam tanah, mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara, mengandung hara yang
lengkap walaupun jumlahnya sedikit, membantu proses pelapukan bahan mineral, memberi
ketersediaan bahan makanan bagi mikrobia (Indriani, 2007).

3. Bahan pembuat kompos


Pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari mahluk hidup atau bahan organik dapat
buat menjadi pupuk kompos. Contoh nya adalah Sereasah, daun-daunan, pangkasan rumput,
3

ranting, dan sisa kayu dapat dikomposkan. Kotoran ternak, binatang, bahkan kotoran manusia
bisa dikomposkan. Kompos dari kotoran ternak lebih dikenal dengan istilah pupuk kandang. Sisa
makanan dan bangkai binatang bisa juga menjadi kompos. Ada bahan yang mudah dikomposkan,
ada bahan yang agak mudah, dan ada yang sulit dikomposkan. Sebagian besar bahan organik
mudah dikomposkan. Bahan yang agak mudah dikomposkan antara lain: kayu keras, batang, dan
bambu. Bahan yang sulit dikomposkan antara lain adalah kayu-kayu yang sangat keras, tulang,
rambut, tanduk, dan bulu binatang.
Secara alami bahan organik akan mengalami pelapukan menjadi kompos, tetapi waktunya lama
antara setengah sampai satu tahun tergantung bahan dan kondisinya. Agar proses pengomposan
dapat berlangsung lebih cepat perlu perlakuan tambahan. Pembuatan kompos dipercepat dengan
menambahkan aktivator atau inokulum atau biang kompos. Aktivator ini adalah jasad renik
(mikroba) yang bekerja mempercepat pelapukan bahan organik menjadi kompos. Bahan organik
yang lunak dan ukurannya cukup kecil dapat dikomposkan tanpa harus dilakukan pencacahan.
Tetapi bahan organik yang besar dan keras, sebaiknya dicacah terlebih dahulu. Aktivator kompos
harus dicampur merata ke seluruh bahan organik agar proses pengomposan berlangsung lebih
baik dan cepat.
Bahan yang akan dibuat kompos juga harus cukup mengandung air. Air ini sangat
dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik di dalam aktivator kompos. Bahan yang kering lebih
sulit dikomposkan. Akan tetapi kandungan air yang terlalu banyak juga akan menghambat proses
pengomposan. Jadi basahnya harus cukup. Bahan juga harus cukup mengandung udara. Seperti
halnya air, udara dibutuhkan untuk kehidupan jasad renik aktivator kompos.
Yang perlu diketahui adalah bahan baku utama membuat kompos, yaitu sampah itu
sendiri. Ada dua jenis sampah yaitu organik dan anorganik. Memisahkan sampah berdasarkan
jenisnya. Yang termasuk sampah organik dan bisa dijadikan bahan kompos adalah sampah coklat
(daun kering, rumput kering, serbuk gergaji, serutan kayu, sekam, jerami, kulit jagung, kertas
yang tidak mengkilat, tangkai sayuran) dan sampah hijau (sayuran, buah-buahan, potongan
rumput segar, daun segar, sampah dapur, ampas teh/kopi, kulit telur, pupuk kandang). Starter
yang digunakan untuk mengurai sampah menjadi kompos seperti EM4 (effective microorganism
4) atau membuat starter sendiri ini biasa disebut dengan MOL (mikro organisme lokal).
4. Jenis-Jenis Kompos

Vermikompos (Kompos Cacing Tanah)


Vermikompos adalah kompos yang diperoleh dari hasil perombakan bahan-bahan organik

yang dilakukan oleh cacing tanah. Vemikompos merupakan campuran kotoran cacing tanah
(casting) dengan sisa media atau pakan dalam budidaya cacing tanah. Oleh karna itu
vermikompos merupakan pupuk organik yang ramah lingkungan dan memiliki keunggulan
tersendiri dibandingkan dengan kompos lain yang kita kenal selama ini (Mahsur, 2001).

Kompos Bagase
Kompos bagase kompos yang dibuat dari ampas tebu (bagase), yaitu limbah padat sisa

penggilingan batang tebu. Kompos ini terutama ditujukan untuk perkebunan tebu. Bahan
pembuatan

kompos

bagase

yaitu

bagase

dan

kotoran

sapi

yang

dimanfaatkan

sebagai bioaktivator, dengan perbandingan volume 3:1. Penambahan kotoran sapi selain sebagai
bioaktivator juga untuk menurunkan rasio C/N. Bagase dan kotoran sapi ditumpuk berselingan
dengan tebal bagase 30 cm dan tebal kotoran sapi 10 cm, lalu di tumpukan teratas
diberikan jerami sebagai penutup.

Kompos Bokashi
Bokashi adalah sebuah metode pengomposan yang dapat menggunakan starter aerobik

maupun

anaerobik

untuk

mengkomposkan bahan

organik,

yang

biasanya

berupa

campuran molasses, air, starter mikroorganisme, dan sekam padi. Kompos yang sudah jadi dapat
digunakan sebagian untuk proses pengomposan berikutnya, sehingga proses ini dapat diulang
dengan

cara

yang

diinokulasikan dari

lebih

efisien.

material

Starter
sederhana

yang

digunakan
seperti kotoran

amat

bervariasi,

dapat

hewan, jamur, spora

jamur, cacing, ragi, acar, sake, miso, natto, anggur, bahkan bir, sepanjang material tersebut
mengandung organisme yang mampu melakukan proses pengomposan.

5. Cara Pengomposan
Pengomposan merupakan proses perombakan (dekomposisi) dan stabilisasi bahan
organik oleh mikroorganisme dalam keadaan lingkungan yang terkendali (terkontrol) dengan
hasil akhir berupa humus dan kompos (Simamora dan Salundik, 2006dalam Rahmaini, 2008).
Ada beberapa teknik cara pengomposan yang biasa digunakan. Pengomposan sengaja
dilakukan karena di alam jarang sekali terjadi proses pengomposan secara alami dikarenakan
suhu dan cuaca yang fluktuatif menyebabkan kondisi yang suboptimal untuk menunjang
terjadinya pengomposan.
Klasifikasi pengomposan berdasarkan ketersediaan oksigen yang diperlukan pada proses
pembuatannya dapat dikelompokkan menjadi aerobik (dalam prosesnya menggunakan oksigen
atau udara) dan anaerobik (dalam prosesnya tidak memerlukan adanya oksigen). Pengomposan
aerobik lebih banyak dilakukankarena tidak menimbulkan bau, waktu pengomposan lebih cepat,
serta temperatur proses pembuatannya tinggi sehingga dapat membunuh bakteri patogen dan
telur cacing sehingga kompos yang dihasilkan lebih higienis (Pustaka PU, 2015).
Prinsip pengomposan adalah menurunkan nilai nisbah C/N bahan organik menjadi sama
dengan nisbah C/N tanah. Nisbah C/N adalah hasil perbandingan antara karbohidrat dan nitrogen
yang terkandung di dalam suatu bahan. Nilai nisbah C/N tanah adalah 10-12. Bahan organik
yang memiliki nisbah C/N sama dengan tanah memungkinkan bahan tersebut dapat diserap oleh
tanaman (Djuarnani dkk, 2005dalam Rahmaini, 2008).
Dalam proses pengomposan terjadi perubahan seperti 1) karbohidrat, selulosa,
hemiselulosa, lemak, dan lilin menjadi CO2 dan air, 2) zat putih telur menjadi amonia, CO2, dan
air, 3) peruraian senyawa organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanaman. Dengan
perubahan tersebut kadar karbohidrat akan hilang atau turun dan senyawa N yang larut (amonia)
meningkat. Dengan demikian C/N semakin rendah dan relatif stabil mendekati C/N tanah
(Indriani, 2007dalam Rahmaini, 2008).
a. Cara Pengomposan Secara Tradisional
- Siapkan bahan organik yang akan dijadikan kompos lalu dicacah hingga ukuran lebih kecil
- Campurkan kotoran ternak (lebihkan 1 karung dari jumlah karung bahan organik), top soil (1/2
karung), dan dolomit (1/2 karung
6

Siram dengan air sedikit demi sedikit sambil diaduk merata dengan kadar air 40-60%
Letakkan tumpukan bahan tersebut diatas semen
Tancapkan bambu yang sudah dilubangi untuk memberikan sirkulasi udara
Tumpukan harus dibalik setiap minggu dan disiram apabila bahan teralu kering. Setelah
1,5-2 bulan kompos sudah matang, keringanginkan kemudian digiling/diayak lalu
dikemas dan kompos siap untuk dijual (Simamora dan Salundik, 2006dalam Rahmaini,
2008).

b. Pembuatan Kompos dengan Bantuan Aktivator


Aktivator merupakan bahan yang terdiri dari enzim, asam humat dan mikroorganisme
(kultur bakteri) yang dapat mempercepat proses pengomposan. Contoh aktivator yang beredar di
pasaran ; EM4, Orgadec, dan Stardec. Adapun teknik pembuatannya antara lain ;
-

Cacah jerami padi hingga ukurannya lebih kecil.


Campur dengan dedak (perbandingan dengan jerami 20:1) dan sekam padi (perbandingan
dengan jerami 1:1) kemudian diaduk merata.

Siram campuran bahan dengan larutan em4 (500 ml) + air (20 liter) dan molase (20
sendok makan), diaduk merata sampai kadar airnya 30-40%.
Tumpukkan campuran bahan di atas tempat kering dengan ketinggian 40-50 cm, lalu
tutup dengan plastik/terpal.
Suhu kompos dipertahankan 40-500c dengan cara mengaduk-aduk bahan tersebut agar
suhunya tidak tinggi - setelah 10 hari kompos sudah matang dan siap untuk digunakan
(simamora dan salundik, 2006 dalam Rahmaini, 2008).

c. Pembuatan Vermikompos
Adapun teknik pembuatannya antara lain ;
Siapkan campuran media dan pakan jadi sebanyak 10 kg/bak serta cacing tanah sebanyak
200 g/bak
Masukkan media dan pakan jadi ke dalam bak produksi, lalu semprotkan air sambil
diaduk merata dengan kadar air 10-20%
Biarkan campuran pakan dan media selama 6-12 jam sehingga menjadi dingin. Masukkan
seluruh cacing yang sudah disiapkan ke dalam media
Semprotkan air 1-3 hari sekali agar media dan pakan selalu dalam kondisi lembab
Dilakukan pembalikan dan pengadukan seminggu sekali
Hentikan penyemprotan 10 hari menjelang panen dan pengadukan tetap dilakukan 2 hari
sekali agar media tetap gembur
Panen seluruh cacing dan telurnya setelah 60 hari pembudidayaan dan media siap untuk
digunakan sebagai pupuk organik (Musnamar, 2006dalam Rahmaini, 2008).
7

6. Reaksi Kimia Yang Terjadi Pada Pengomposan


a. Pengomposan Secara Aerobik
Pada pengomposan secara aerobik, oksigen mutlak dibutuhkan. Mikroorganisme yang
terlibat dalam proses pengomposan membutuhkan oksigen dan air untuk merombak bahan
organik dan mengasimilasikan sejumlah karbon, nitrogen, fosfor, belerang, dan unsur lainnya
untuk sintesis protoplasma sel tubuhnya (Simamora dan Salundik, 2006). Dekomposisi secara
aerobik adalah modifikasi yang terjadi secara biologis pada struktur kimia atau biologi bahan
organik dengan kehadiran oksigen. Dalam proses ini banyak koloni bakteri yang berperan dan
ditandai dengan perubahan temperatur (Djuarnani dkk, 2005).
Dalam sistem ini, kurang lebih 2/3 unsur karbon (C) menguap menjadi CO2 dan sisanya
1/3 bagian bereaksi dengan nitrogen dalam sel hidup. Selama proses pengomposan berlangsung
akan terjadi reaksi eksotermik sehingga timbul panas akibat pelepasan energi (Sutanto,
2002dalamRahmaini, 2008).
Hasil dari dekomposisi bahan organik secara aerobik adalah CO2, H2O (air), humus, dan
energi. Proses dekomposisi bahan organik secara aerobik dapat disajikan dengan reaksi sebagai
berikut(Djuarnani dkk, 2005) :
Mikroba

Bahan Organik

CO2 + H 2 O+ Humus+ Hara+ Energi

Hasil dari proses pengomposan secara aerobik berupa bahan kering dengan kelembapan 30-40%,
berwarna cokelat gelap, dan remah. Selama hidupnya mikroorganisme mengambil air dan
oksigen dari udara, makanannya di peroleh dari bahan organik yang akan diubah menjadi produk
metabolisme berupa karbondioksida, air, humus, dan energi. Sebagian dari energi yang
dihasilkan digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan reproduksi, sisanya akan
dibebaskan sebagai panas (Djuarnani dkk, 2005).
b. Pengomposan Secara Anaerobik
8

Dekomposisi secara anaerobik merupakan modifikasi biologis pada struktur kimia dan
biologi bahan organik tanpa kehadiran oksigen (hampa udara). Proses ini merupakan proses yang
dingin dan tidak terjadi fluktuasi temperatur seperti yang terjadi pada proses pengomposan
secara aerobik. Namun, pada proses anaerobik perlu tambahan panas dari luar sebesar 30 C
(Djuarnani dkk, 2005).
Pengomposan anaerobik akan menghasilkan gas metan (CH4), karbondioksida (CO2),
dan asam organik yang memiliki bobot molekul rendah seperti asam asetat, asam propionat,
asam butirat, asam laktat, dan asam suksinat. Gas metan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar
alternatif (biogas). Sisanya berupa lumpur yang mengandung bagian padatan dan cairan. Bagian
padatan ini yang disebut kompos. Namun, kadar airnya masih tinggi sehingga sebelum
digunakan harus dikeringkan (Simamora dan Salundik, 2006).
Sisa hasil pengomposan anaerobik berupa lumpur yang mengandung air sebanyak 60%
dengan warna cokelat gelap sampai hitam. Hasil ini biasanya terkontaminasi oleh tanaman
phytotoxin yang hadir sebagai asam, metana dan hidrogen sulfida yang bersifat racun (Djuarnani
dkk, 2005).
7. Standarisasi dan Mutu Kompos
Kandungan unsur hara di dalam kompos sangat bervariasi. Tergantung dari jenis bahan
asal yang digunakan dan cara pembuatan kompos. Ciri fisik kompos yang baik adalah berwarna
coklat kehitaman, agak lembab, gembur, dan bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi.
Produsen kompos yang baik akan mencantumkan besarnya kandungan unsur hara pada kemasan.
Meskipun demikian, dosis pemakaian pupuk organik tidak seketat pada pupuk buatan karena
kelebihan dosis pupuk organik tidak akan merusak tanaman (Novizan, 2005).
Indonesia telah memiliki standar kualitas kompos, yaitu SNI 19-7030-2004 dan Peraturan
Menteri Pertanian No. 02/Pert/HK.060/2/2006. Di dalam standar ini termuat batas-batas
maksimum atau minimum sifat-sifat fisik atau kimiawi kompos, termasuk di dalamnya batas
maksimum kandungan logam berat. Untuk memastikan apakah seluruh kriteria kualitas kompos
ini terpenuhi maka diperlukan analisis laboratorium. Pemenuhan atas standar tersebut adalah
penting, terutama untuk kompos yang akan dijual ke pasaran. Standar itu menjadi salah satu
9

jaminan bahwa kompos yang akan dijual benar-benar merupakan kompos yang siap
diaplikasikan dan tidak berbahaya bagi tanaman, manusia, maupun lingkungan (Isroi dan
Yuliarti, 2009).
8. Efek Positif Kompos:
1

Kompos bersifat hidrofilik sehingga dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam


memegang air dan mengandung unsur karbon yang relatif tinggi sehingga dapat menjadi

sumber energi mikroba.


Kompos mengandung berbagai hara mineral yang berfungsi untuk menyediakan makanan

bagi tanaman, sehingga kompos dapat berfungsi sebagai pupuk.


Kompos juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah sehingga tanah menjadi remah dan pada

4
5

gilirannya mikroba-mikroba tanah yang bermanfaat dapathidup lebih subur.


Kompos juga berguna untuk bioremediasi (Notodarmojo 2005)
Kompos bersifat hidrofilik sehingga dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam
memegang air dan mengandung unsur karbon yang relatif tinggi sehingga dapat menjadi

6
7

sumber energi mikroba


Kompos akan meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat
Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik

tanah dan meningkatkan kemampuan tanah untukmempertahankan kandungan air tanah


Susunan tanah menjadi lebih baik terhadap gaya-gaya perusak dari luar, seperti hayutan
air (erosi). Hal ini disebabkan karena pengaruh bantuan jasad renik dalam tanah yang
merubah bahan organik menjadi humus. Humus merupakan perekat bagi butir-butir tanah

saat membentuk gumpalan. Akibatnya susunan tanah akan menjadi lebih baik.
Kompos menyebabkan terjadinya perbaikan struktur tanah. Sehingga sifat fisik dan kimia
tanah ikut diperbaiki.
A Pemberian pada tanah berpasir mengakibatkan daya ikat tanah meningkat
B Pemberian pada tanah berlempung akan menjadi ringan, daya ikat air menjadi tinggi,
daya ikat tanah terhadap unsur hara meningkat, serta drainase dan tata udara tanah

dapat diperbaiki
10 Kompos dapat membuat tata udara menjadi baik karena menyebabkan suhu tanah lebih
stabil serta aliran air dan aliran udara tanah lebih baik.
11 Kompos akan meningkatkan populasi musuh alami patogen sehingga akan menekan
aktivitas saprofitik patogen.
9. Efek Negatif Kompos:

10

1
2

Sering menjadi faktor pembawa hama penyakit karena mengandung larva atau telur
serangga sehingga tanaman dapat diserang.

Kandungan unsur haranya sulit diprediksi.


4. Kandungan unsur haranya jauh lebih rendah dibanding pupuk anorganik sehingga dosis
penggunaannya jauh lebih tinggi. Akibatnya biaya transportasi, gudang, serta tenaga kerja
meningkat.

Respon tanaman lebih lambat, karena sifatnya yang slow release.

Pupuk kompos yang tidak meningkatkan basa-basa tanah seperti unsur kalsium (Ca), magnesium
(Mg), dan kalium (K) secara nyata, sedangkan unsur-unsur tersebut dibutuhkan untuk
pertumbuhan kayu atau perkembangan diameter.

10. Analisis Kasus Penggunaan Kompos Pertumbuhan Semai Gmelina dengan Berbagai
Dosis Pupuk Kompos pada Media TanahBekas Tambang Emas
Jurnal ini berisikan

pengaruh pemberian pupuk kompos terhadap pertumbuhan semai

gmelina pada media tailing serta mendapatkan dosis pupuk kompos optimal bagi pertumbuhan
semai pda media tailing. Gmelina dipilih untuk revegetasi karena jenis ini toleran terhadap tanah
berlapisan dangkal, berpasir, padat, dan bersifat asam, kondisi yang miripdengan tailing.Tanah
tailing berpotensi menurunkan tingkat kesuburan tanah dan menyebabkan keracunan bagi
tanaman sehingga menyulitkan tanaman untuk tumbuh. Bibit yang digunakan adalah bibit yang
berumur sekitar 1 bulan. Media yangdigunakan merupakan campuran tanah tailing dan pupuk
kompos. Tailing bekas tambang emas yang diambil dari kawasan PT Antam Tbk. Pongkor Bogor
tidak disterilkan tetapi cukup dibersihkan dari kotoran-kotoran seperti daun, akar,dan ranting
kering.
11

Percobaan yang digunakan yaitu untuk mengetahui berbagai dosis pupuk kompos kompos
yang terdiri dari 4 taraf (0, 10, 20,dan 30 g), dengan masing-masing taraf perlakuan terdiri dari 2
ulangan pada Media Tanah Bekas Tambang Emas yang masing-masing ulangan terdiri dari 1
tanaman semai gmelina.

Hasil Percobaan:
Pertumbuhan tinggi semai gmelina setiap minggu pada masing-masing perlakuan
(Gambar 1) menunjukkan bahwa tinggi semai meningkat sejak minggu ke-1 sampai minggu ke12 dengan intensitas penambahan tinggi yang beragam untuk setiap perlakuan. Dalam perlakuan
pemberian pupuk kompos, dosis30 g memberikan pengaruh yang paling nyata untuk
pertumbuhan tinggi tanaman di antara perlakuan yang lainnya. Semakin tinggi dosis pupuk
kompos yang diberikan,nilai rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman gmelina semakin meningkat
(Gambar 2). (Tabel 2) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos tidak berpengaruh nyata
terhadap pertumbuhan diameter tanaman gmelina. Pertumbuhan diameter berlawanan dengan
perubahan tinggi disebabkan oleh pemberian pupuk kompos yang tidak meningkatkan basa-basa

12

tanah seperti unsur kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan kalium (K) secara nyata, sedangkan
unsur-unsur tersebutdibutuhkan untuk pertumbuhan kayu atau perkembangan diameter.
Media tanah tailing yang dicampur dengan kompos merupakan media yang mampu
memberikan respons pertumbuhan gmelina yang lebih baik (Dharmawan 2003). Selama
pertumbuhan tanaman, logam-logam yang mencemari tanah dapat terserap sehingga tidak
membahayakan lingkungan (Arienzo et al. 2003; Darmono 2006). Penambahan kompos pada
tanah tailing dapat meningkatkan kandunganhara terutama nitrogen (N) dan fosfor (P),
sementara itu kandungan besi (Fe+3) yang bersifat toksik menurun 35 kali. Pemberian kapur
atau dolomit dapat dilakukan untuk menyikapi rendahnya pertumbuhan diameter semai. Kapur
atau dolomit akan mengatasi kebutuhan unsur Ca dan Mg bagi semai (Hakimet al. 1983)
sehingga pengaruh buruk dari kompos dapat diatasi.

DAFTAR PUSTAKA
Mahsur. 2001. Vermikompos (Kompos Cacing Tanah) Pupuk Organik Berkualitas Dan
Ramah Lingkungan. Mataram; Instalasi Penelitian Dan Pengkajian Teknologi Pertanian
(IPPTP) Mataram Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Tersedia Online :
http://pustaka.litbang.pertanian.go.id/agritek/ntbr0102.pdf.
Rahmaini, Wulan. 2008. Kandungan Co2, Nisbah C/N Dan Temperatur Pada Pengomposan

13

Jerami Padi Dengan Menggunakan Trichoderma Harzianum Dan Cacing Tanah. Medan;
Univeritas

Sumatera

Utara.

Tersedia

Online

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25149/4/Chapter%20II.pdf.
Simamora, Suhut, dan Salundik. 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Jakarta; AgroMedia
Pustaka.
Djuarnani, Nan. dkk. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka; Jakarta.
Tersedia Online :
https://books.google.co.id/books?
id=O46HSApC94IC&pg=PR7&lpg=PR7&dq=cara+pengomposan&source=bl&ots=v3L
GpCeaeU&sig=FmAAVlFz9zzj7uOJbGvVQCTk4tI&hl=id&sa=X&ei=1rD7VPazCJSnu
QSynoGoDw&redir_esc=y#v=onepage&q=cara%20pengomposan&f=false.
Novizan. 2005. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif, Cetakan Pertama. AgroMedia Pustaka;
Jakarta.
Isroi dan N. Yuliarti. 2009. Kompos. Penerbit ANDI; Yogyakarta.
PUPUK ORGANIK. 2013. Tersedia Online :
http://www.tanijogonegoro.com/2013/02/pupuk-Organik.html. Diakses

pada 7 Maret

2015

B Wasis. 2011. Pertumbuhan Semai Gmelina dengan Berbagai Dosis Pupuk Kompos pada
Media TanahBekas Tambang Emas. Tersedia Online :
http://journal.ipb.ac.id/index.php/jmht/article/download/3264/2198. Diakses pada 7
Maret 2015.
14

Rahmi,K. 2010.Kompos. Tersedia Online :


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19609/6/Chapter%20II.pdf. Diakses pada
7 Maret 2015.
Rahmaini,W.2011.Pengomposan. Tersedia Online :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25149/4/Chapter%20II.pdf. Diakses pada
7 Maret 2015.
Anonim., History of Composting.University Of Illion. Tersedia Online :
http://web.extension.illinois.edu/homecompost/history.cfm. Diakses pada 08
maret 2015.

15