Anda di halaman 1dari 29

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

BAHAN 2
GEREJA
Oleh:
RM. E. EKO PUTRANTO, O. CARM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Tahun 2014
1 | Page

HALAMAN PENGESAHAN
Mata Kuliah

: PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

Kode Mata Kuliah

: MPK4102

Modul 2/ Pokok Bahasan 2

: DINAMIKA GEREJA

Nama Penulis Utama/NIP

: RM.E.EKO PUTRANTO,O.CARM

Alamat Email

:eeputranto@gmai.com

No. Tel./HP

: 0341-557247/0818384195

Fakultas/Program

:MKU

Jurusan/Progam Studi

: MKU

Naskah Materi pernah dibiayai oleh hibah lain: Tidak*)


Malang,
Mengetahui:
Dekan/Pembantu Dekan I

NIP

2 | Page

Penulis Utama,

RM.E.EKO PUTRANTO,O.CARM

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
DAFTAR ISI
MODUL 2: GEREJA
SUB POKOK BAHASAN : DINAMIKA GEREJA
MATERI: 1. Sejarah Gereja Awal.
1.1. Permulaan Gereja.
1.2. Lahirnya Jemaat Kristen
1.3. Pertumbuhan Jemaat Perdana
1.4. Tantangan Gereja Perdana
1.5. Konsili Yerusalem
1.6. Gereja di Antiokhia
1.7. Penerusan Perutusan Gereja
2. Pengakuan Kekaisaran terhadap
Gereja
3. Perpecahan dalam Gereja.
4. Reformasi dalam Gereja.
5. Konsili Vatikan II.
6. Dinamika Gereja Indonesia.
7. Kebangkitan Badan dan Kehidupan
Kekal.
7.1. Iman akan Kebangkitan Orang
Mati
7.2. Aku Percaya akan Kehidupan
Kekal
8. Maria dan Gereja.
8.1. Gelar Maria Bunda Allah.
3 | Page

8.2. Maria tetap Perawan.


8.3. Maria Dikandung Tanpa Dosa
8.4. Maria Diangkat Ke Surga.

TEST FORMATIF
DAFTAR PUSTAKA
PENUTUP

4 | Page

DAFTAR GAMBAR

GEREJ
A
I TujuanInstruksionalUmum
1

Mahasiswa dapat memahami hakekat Gereja.

Mahasiswa dapat menjelaskan sejarah gereja dalam lintas jaman.

Mahasiswa dapat menjelaskan kaitan gereja dan tujuan hidup


manusia.

II Pendahuluan
Perjumpaan pertama kebanyakan orang dengan Gereja terjadi pada
umumnya ketika mereka membaca papan bertuliskan misalnya Gereja
St. Antonius.Tulisan itu mengarahkan kepada gedung. Perjumpaan
berikutnya berkaitan dengan sekumpulan orang yang menyatakan Kami
adalah warga gereja paroki St. Antonius. Pernyataan ini berkaitan dengan
kumpulan orang dari Patoki St. Antonius. Perjumpaan

berikutnya

berkaitan ketika ada kesusahan, atau ada bencana. Pertanyaannya:Apa


yang sudah dilakukan anggota gereja?.
5 | Page

Tiga contoh diatas menghantar pada pernyataan dari Lumen


Gentium 8, yaitu Gereja dibentuk dari realitas kompleks. Realitas itu
menuntun kepada bahwa

gereja sungguh nyata, bukan khayalan, atau

juga bukan hanya dalam bentuk gedung saja. Realitas menunjukkan


bahwa gereja ada yang dapat dikenali dalam hidup sehari-hari.

2 | Page

Sub Pokok Bahasan 2 :


DINAMIKA GEREJA
A. TujuanInstruksional Khusus
Setelah menyelesaikan sub pokok bahasan pada modul ini peserta
didik diharapkan mampu:

1. Maahasiswa dapat menjelaskan gereja perdana dalam


perjuangannya.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan selayang pandang dinamika
gereja mengarungi arus jaman.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan

sekilas

sejarah

gereja

Indonesia.
4. Mahasiswa memahami iman akan kebangkitan badan
kehidupan kekal.
5. Mahasiswa memahami peran Maria dalam hidup gereja

B. Pengantar
Gereja sampai ke Indonesia melalui proses sejarah yang panjang.
Gereja merambat dan berkembang karena pemberitaan Injil oleh mereka
yang mendapat

pengalaman Paskah.

Berasal dari persekutuan dari

orang-orang yang disentuh oleh Roh Yesus, gereja bertumbuh dan


3 | Page

berkembang.Aneka

tantangan,

kebutuhan

dan

dorongan

untuk

membertakan kabar baik, gerejapun berkembang secara universal.


Kelompok-kelompok krsitiani selalu menyesuaikan diri dengan situasi
jaman. Kelemahan dan kekuarang manusiawi

tentunya masih ada

sehingga berpengaruh pada tumbuh dan berkembangnya gereja. Namun


dalam kelemahan dan kekurangan ternyata Roh Allah tetap berkarya.
Dinamika Gereja berorientasi masa depan. Pengakuan iman Kristen
akan Allah Bapa, Putera , dan Roh Kudus, berpuncak pada pewartaan
bahwa orang-orang yang mati akan bangkit pada akhir jaman. Keyakinan
akan kekekalan kehidupan ini dilandaskan iman

bahwa seperti Kristus

telah bangkit dari antara orang mati dan hidup selamanya, Ia akan
membangkitkan orang orang benar sesudah kematiannya untuk hidup
selamanya. Teladan yang hidup didalam tradisi umat Katolik adalah
contoh dari Maria, yang menjadi model pertama yang diselamatkan oleh
Yesus, puteranya.Maka Maria mendapat tempat khusus dalam hidup
gereja.

C. Materi (SEKILAS DINAMIKA GEREJA)


1) SEJARAH GEREJA AWAL
1.1. PERMULAAN GEREJA
Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan perintah kepada para muridNya untuk pergi ke Yerusalem dan menunggu di sana sampai Roh Kudus
dicurahkan ke atas mereka. Dengan kuasa yang diberikan Roh Kudus itu
Yesus berjanji akan memperlengkapi murid-murid-Nya untuk menjadi
saksi-saksi, bukan hanya di Yerusalem tapi juga di ke ujung-ujung bumi
(Kis. 1:1-11). Janji itu digenapi oleh Kristus dan perintah itu ditaati oleh
murid-murid-Nya. Amanat Agung yang diberikan Kristus sebelum kenaikan
ke surga (Mat. 28:19-20) betul-betul dengan setia dijalankan oleh muridmurid-Nya. Sebagai hasilnya lahirlah gereja/jemaat baru baik di
4 | Page

Yerusalem, Yudea, Samaria dan juga di perbagai tempat di dunia (ujungujung dunia).
1.2
LAHIRNYA JEMAAT KRISTEN
Sewaktu mereka berkumpul di balik pintu terkunci di Yerusalem pada
hari-hari pertama setelah kebangkitan Yesus, para murid mengetahui
bahwa lebih mudah berbicara tentang mengubah dunia daripada pergi
keluar dan melakukannya. Tetapi tidak lama kemudian, sesuatu terjadi
yang bukan hanya mengubah jalan pikiran mereka, tetapi yang juga
memberanikan mereka untuk menyampaikan iman mereka dengan cara
yang menggoncangkan seluruh dunia Romawi.
Hanya lima puluh hari setelah kematian Yesus, Petrus berdiri di depan
suatu kerumunan orang banyak di Yerusalem, dan dengan berani
menyatakan kerajaan Allah telah datang, dan Yesuslah Raja dan
Mesiasnya. Pada waktu itu Yerusalem penuh dengan peziarah-peziarah
yang datang dari seluruh penjuru kekaisaran Roma untuk merayakan
Pesta Pentakosta - dan ketika Petrus berbicara, mereka tidak hanya
mengerti pemberitaannya,tetapi menerima hidup baru yang diberikan
Allah, tiga ribu orang menerima seruannya dan menyerahkan diri mereka
kepada Yesus (Kis 2,14-42)
1.2.CARA HIDUP GEREJA PERDANA (KIS 2,41-47)
41.Orang-orang yang yang menerima perkataannya itu memberi diri
dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu
jiwa.42. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam
persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan
berdoa. 43. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu
mengadakan banyak mujijat dan tanda.44. Dan semua orang yang telah
menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka dalah
kepunyaan bersama,45. Dan selalu ada dari mereka yang menjual harta
miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan
keperluan masing-masing.46.Dengan bertekun dan dengan sehati mereka
berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di
rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan
gembira dan dengan tulus hati.47. Sambil memuji Allah. Dan mereka
disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka
dengan orang yang diselamatkan
Cara hidup gereja perdana menjadi model cara hidup gereja yang
digambarkan dalam panca tugas gereja:
5 | Page

1.
2.
3.
4.
5.

Persekutuan (Communio).
Pewartaan (Katekese).
Ekaristi (Liturgia).
Pelayanan ( Diakonia).
Kesaksian (Martyria)

1.3. PERTUMBUHAN JEMAAT PERDANA.


1. 3.1. Gereja Di Palestina
a. Gereja pertama lahir di Yerusalem (Kis. 1:8)
b. Petrus dan beberapa murid-murid Tuhan Yesus yang lain membawa Injil
ke Yudea (Kis. ps. 1-7).
c. Filipus dan murid-murid yang lain pergi ke Samaria dan sekitarnya (ps.
8).
1.3.2. Gereja di luar Palestina
a. Petrus membawa Injil ke Roma.
b. Paulus ke Asia Kecil dan Eropa (Kis. ps. 10-28).
c. Apolos ke Mesir (Kis. ps. 18).
d. Filipus ke Etiopia (Kis. ps. 8).
e. Sebelum tahun 100 M, Injil sudah tersebar ke Siria, Persia, Afrika (Kis.
9).
f. Lalu ke ujung-ujung bumi (Siria, Persia, Gaul, Afrika Utara, Asia &
Eropa).
1.4. TANTANGAN GEREJA PERDANA
Gereja/jemaat yang baru berdiri mengalami pertumbuhan yang luar biasa.
Kuasa Roh Kudus sangat nyata hadir di tengah jemaat. Namun demikian
tantangan dan kesulitan juga mewarnai pertumbuhan jemaat mula-mula
itu. Tapi luar biasa, justru karena keadaan yang sulit itu gereja semakin
berkembang.
1.4.1. Agama Negara
Kaisar Agustus mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Salah satu
peraturan yang muncul pada masa pemerintahannya adalah menyembah
kepada Kaisar sebagai dewa mereka, walaupun mereka masih diijinkan
melakukan penyembahan kepada dewa-dewa/kepercayaan asal mereka
sendiri.
Namun demikian ada kekecualian untuk orang-orang Yahudi yang
mempunyai agama Yudaisme yang menjunjung tinggi monotheisme,
mereka tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Hal ini terjadi
karena mereka takut kalau orang Yahudi memberontak.
Kehadiran agama Kristen saat itu, pada mulanya dianggap sebagai salah
satu sekte agama Yudaisme, itu sebabnya orang-orang Kristen pertama
6 | Page

tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Tetapi setelah orangorang Yahudi secara terbuka memusuhi orang Kristen (puncak peristiwa
penyalipan Kristus) barulah pemerintah Romawi melihat kekristenan tidak
lagi sebagai sekte Yudaisme tetapi agama baru. Sejak saat itu keharusan
menyembah kepada Kaisar pun akhirnya diberlakukan untuk orang-orang
Kristen. Kepada mereka yang tidak patuh pada peraturan ini mendapat
hukuman dan penganiayaan yang sangat berat.
1.4.2 Penganiayaan terhadap orang Kristen.
Salah satu bukti kesetiaan orang Kristen kepada Kristus ditunjukkan
dengan secara setia menjalankan pengajaran Alkitab dan menolak
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Alkitab. Karena
sebab itulah orang-orang Kristen sering harus membayar harga yang
mahal demi kepercayaan mereka kepada Kristus, antara lain adalah
dengan penganiayaan.
Beberapa penyebab penganiayaan:
a. Karena orang Kristen menolak untuk menyembah Kaisar.
b. Karena orang Kristen dituduh melakukan hal-hal yang menentang
kemanusiaan, mis. menolak menjadi tentara, mengajarkan tentang
kehancuran dunia, membiarkan perpecahan keluarga, dll.
c. Karena orang Kristen dituduh mempraktekkan immoralitas dan
kanibalisme, misalnya melakukan cium kudus, bermabuk-mabukan, dosa
inses, makan darah dan daging manusia.
1.4.3.Hasil dari penganiayaan.
Memang ada banyak orang Kristen yang mati dalam penganiayaan dan
pembunuhan, namun demikian jumlah orang Kristen tidak semakin
berkurang malah semakin bertambah banyak.
a. Orang Kristen semakin berani. Sekalipun dianiaya mereka tetap
mempertahankan iman mereka.
b. Kekristenan semakin menyebar keluar dari Yerusalem, yaitu ke daerahdaerah sekitarnya, dan ke seluruh dunia.
c. Orang-orang Kristen semakin memberi pengaruh dalam kehidupan
masyarakat, sehingga mereka benar benar menjadi saksi hidup.
1.5. KONSILI YERUSALEM: KONSILI I GEREJA(Kurang lebih Tahun 5051 M)
Tantangan gereja awal secara internal adalah perselisihan tentang adat
Yahudi menyangkut masuknya orang non Yahudi. Konsili Yeruslem
sebagai konsili pertama menjadi model bagaimana gereja menangani
permasalahan internalnya. Melalui konsili Yerusalem ditegaskan bahwa
7 | Page

Kristuslah yang perlu untuk keselamatan dan bukan sunat.Namun Rasul


Yakobus juga menaseihati erang percaya yang bukan Yahudi hendaknya
tdiak melukai kAum yahudi.Tahun 66-70 M pemberontakan Yahudi
berlangsung. Tahun 70 M Yeruselem dihancurkan. Orang Yahudi termasuk
orang Kristen tersebar.
1.6. .GEREJA DI ANTIOKHIA
Selain di Yerusalem, tumbuh pusat gereja di Antiokhia.Tahun berdirinya
gereja di Antiokhia tidak dinyatakan dengan jelas. Nampaknya ia berdiri
tidak lama setelah kematian Stefanus, mungkin sekitar tahun 33 hingga
40. Gereja di Yerusalem mengutus Barnabas untuk mengunjungi
Antiokhia dan kemudian pergi ke Tarsus untuk meminta Paulus agar
menjadi pembantunya (11:22-26). Gereja di Antiokhia cukup penting,
karena ia memiliki beberapa segi yang menonjol. Pertama, ia adalah induk
dari gereja bagi bangsa-bangsa lain. Rumah di keluarga Kornelius tidak
dapat disebut gereja dalam arti yang sama dengan kelompok umat di
Antiokhia, karena ia adalah suatu kelompok keluarga pribadi bukan suatu
jemaat umum. Dari gereja Antiokhia berangkatlah misi resmi yang
pertama ke dunia yang belum tersentuh Injil. Di Antiokhia dimulailah
perdebatan yang pertama tentang status umat Kristen dari bangsabangsa lain. Ia merupakan pusat tempat berkumpulnya para pemimpin
gereja.
Fakta yang paling kuat tentang gereja di Antiokhia adalah kesaksian ini.
"Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen"
(11:26). Sebelum itu orang-orang yang percaya kepada Kristus dianggap
sebagai suatu sekte agama Yahudi, tetapi dengan masuknya bangsabangsa lain ke dalam kelompok mereka dan dengan makin
berkembangnya sistem pengajaran yang sangat berbeda dengan hukum
Musa, dunia mulai melihat perbedaan itu dan menyebut mereka dengan
julukan yang lebih tepat. "Kristen" berarti "milik Kristus" .
1.7. PENERUSAN PERUTUSAN GEREJA.
1.7.1.PARA BAPA APOSTOLIK GEREJA
Setelah wafatnya Yesus, para Rasul meneruskan mewartakan
Kabar Gembira kepada segenap bangsa. Para Bapa Apostolik adalah
para pendahulu Gereja yang merupakan murid-murid langsung dari
para Rasul. Mereka hidup pada masa para Rasul masih hidup dan
mendengar khotbah dan ajaran dari mulut para Rasul sendiri
8 | Page

1.7.2. BAPA GEREJA DAN DOKTOR GEREJA


Para pengajar yang luar biasa tidak hanya ada pada jaman
Apostolik. Sepanjang jaman, Gereja katolik terus dikaruniai dengan
berbagai "guru besar" yang lewat tulisan-tulisannya menunjukkan
pemahaman iman Kristiani yang sangat mendalam. Mereka diangkat
sebagai "doktor Gereja" karena gema tulisannya yang masih terus
mempengaruhi pemikiran Gereja Katolik masa kini dan seterusnya.
1.7.3..PEMBENTUKAN SISTEM-STRATEGI
RASUL- PENGINJIL.
DIAKON.
PRESBITER:USKUP, PENATUA.
1.7.4 NAMA KATOLIK
Sepucuk surat yang ditulis oleh IGNATIUS DARI ANTIOKIA kepada
umat Kristiani di Smyrna sekitar tahun 106 adalah bukti tertua yang
masih ada mengenai penggunaan istilah Gereja Katolik . Gereja
Katolik digunakan Ignatius untuk menyebut Gereja universal dalam
persekutuan dengan Uskup Roma (PAUS)
2). PENGAKUAN KEKAISARAN TERHADAP GEREJA
Kendati umat Kristne dikejar oleh penguasa Romawi, jumlah mereka
bertambah dan lambat laun merambat ke seluruh tepi Laut Tengah.
Pada tahun 313 agama Kristen menjadi agama resmi untuk kekaisaran
Romawi. Dalam hal ini peran kaisar Konstantinus sangat besar (360370 M). Ia mengeluarkan dekrit edikta Milan (313): Mengakui
kebebasan suara hati dan ibadah bagi semua agama dan
mengembalikan tanah milik Kristen.Dalam waktu singkat seluruh
Eropa, Afrika Utara dan asia Barat menjadi Kristen. Atas dukungan
Konstantinus juga Konsili Nicaea (325) berlangsung. Melalui Konsili
Nicaea ini dirumuskan Syahadat Iman yang kita sebut Kredo Para rasul.

3).

PERPECAHAN DALAM GEREJA.

Selama abad yang pertama dari keberadaannya, Gereja Kristen


berada di bawah kekuasaan Paus di Roma. Ketika pada akhirnya
kekaisaran Roma jatuh pada awal abad ke lima, tampak kekuasaan gereja
9 | Page

Kristen berpindah dari Barat ke Timur- dari Roma k eke Konstantinopel


.Gereja Roma lebih berbahasaLatin, gereja Timur lebih berbahasa Yunani.
Dipengaruhi oleh masalah politis. Terdapat jurang antara gereja barat
dan Timur. Berpuncak pada abad 11, sehingga pada tahun 1054 terjadi
skisma antara gereja Barat dan gereja Timur.
Pada abad ke 16 juga muncul perpecahan dalam gereja yang
muncul dari gerakan reformasi yang dipelopori Martin Luther dari Jerman,
John Calvin serta Zwingli di tempat lain di Eropa. Dasar utama gerakan ini
adalah supremasi Kitab Suci yang melebih segala bentuk kekuasaan atau
tradisi apapun yang ada dalam gereja.Muncul gereja gereja Protestan.
Demkian juga di Inggris muncul gereja Anglikan. Gereja Inggris berpisah
dari gereja Katolik pada abad ke-16, ketika raja Henry VIII dan bukannya
Paus menjadi kepala gereja.
4). REFORMASI DALAM GEREJA.
Ecclesia semper reformanda, Gereja Senantiasa Diperbaharui. Sekalipun
dilanda perpecahan internal, gereja Katolik senantiasa memperbaharui
diri. Pembaharuan muncu baik dari spiritualitas maupun dalam kebijakan.
Dari sisi spiritualitas muncul gerakan-gerakan tarekat. Sejak setelah
penindasan terhadap umat Kristen mereda dengan diterimanya Kristen
oleh kekaisaran Romawi, para kaum religius Gereja memulai pola hidup
membiara (monastik), yang seringkali disebut sebagai "kemartiran putih".
Para biarawan ini memiliki aturan-aturan tertentu, semacam undangundang yang direstui oleh otoritas Gereja. Pada perkembangannya,
kelompok-kelompok ini membentuk kongregasi atau tarekat religius
dengan namanya masing-masing. Tulisan ini memuat daftar lengkap
kongregasi / ordo / tarekat religius yang dikenal dalam Gereja Katolik.
Muncul Tarekat Agustinus, Benekdiktin, Fransiskan, Karmelit, Ignatian,,
Yesuit dlsb.
Reformasi Katolik" memaknai pembaharuan-pembaharuan tersebut
sebagai suatu tindakan Gereja. Upaya reformasi secara
komprehensif, terdiri atas lima unsur utama:
Doktrin
Rekonfigurasi (penataan kembali) gerejawi atau struktural
Ordo-ordo religius
Gerakan-gerakan kerohanian
10 | P a g e

Dimensi-dimensi politis
Istilah "Reformasi Katolik" memberi penekanan pada upaya-upaya
pembaharuan, teologis dan disipliner, dalam Gereja Katolik Roma
yang dimulai sebelum tanggal tradisional dimulainya Reformasi
Protestan oleh Martin Luther atau pun sebelum Konsili Trente
(peristiwa-peristiwa seperti:

Konsili Lateran V(1512-15170

Khotbah-khotbah tentang pembaharuan


Pembaharuan ini mencakup pula pendirian seminari-seminari untuk
mendidik para imam dalam kehidupan rohani dan tradisi-tradisi
teologis
Gereja,
pembaharuan
hidup-membiara
dengan
mengembalikan ordo-ordo pada dasar-dasar rohaninya, dan
gerakan-gerakan rohani baru yang terfokus pada kehidupan
devosional dan suatu hubungan pribadi dengan Kristus, termasuk
para mistikus Spanyol dan aliran spiritualitas Perancis.
5). KONSILI VATIKAN II
Sidang para uskup Katolik seluruh dunia disebut Konsili Ekumenis. Konsili
terakhir diadakan pada tahun 1962-1965 di Vatikan-Roma. Konsili Vatikan
II merombak wajah gereja. Melalui dokumen Konstitusi Dogmatik Gereja
(Lumen Gentium) gereja dirumuskan. Dibuka dengan bab pertama
tentang misteri gereja, bab ke dua membahasa gereja sebagai umat
Allah dan bab ketiga susunan hirarkis gereja khususnya keuskupan
difokuskan pada pelayanan gereja. Penekanan gereja sebagai Umat Allah
dalam Konsili Vatikan II membuat wajah gereja yang kaku, hirarkis vertical
menjadi terbuka dan konsentris. Di dukung dengan konstitusi Gaudium et
Spes gereja semakin membuka diri terhadap dunia. Gereja dan dunia
bukanlah saling bertentangan. Gereja ada di dalam dunia tetapi tidak ada
dalam dunia digambarkan seperti halnya perumpamaan ragi. Ragi dan
yang diragi dalam proses kerjanya merupakan satu realitas, . Gereja dan
dunia dalam proses penyempurnaan adalah satu ruang karya
penyelamatan dari Allah. Di dalam gereja terdiri dari kumpulan orangorang yang percaya dan masih dalam proses penyempurnaan oleh Roh
Kudus. Di lain pihak gereja adalah terdiri dari orang-orang yang berada di
dunia dalam merupakan realisasi dari kerajaan Allah yang belum
11 | P a g e

sempurna dan masih berkembang menuju kepenuhannya. Maka gereja


terbuka terhadap institusi lain sebagai rekan perjalanan ke tujuan utama.
6). Dinamika Gereja Indonesia: Dari Gereja Katolik di Indonesia
menjadi Gereja Katolik Indonesia.
Gereja sampai ke Indonesia dan berproses sampai dewasa ini melalui
perjalanan panjang. Bagaimana refleksi sejarah pewartaan Injili di
Nusantara dituliskan oleh Romo JWM Huub Boelaars, OFM Cap dalam
Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja
Katolik Indonesia, Kanisius, 2005). Garis besar perjalanan misi gereja
Katolik dapat memberikan wawasana mneyeluruh tentang gereja Katolik
Indonesia.
6.1 Indonesianisasi: masalah dan pembatasan tema
6.1.1 Indonesianisasi - bukan konsep khas gerejawi - di gunakan di
Indonesia dalam konteks yang tiap kali berbeda: bahasa, financialekonomi, berkenaan dengan pergantian orang-orang asing oleh orangorang Indonesianisasi di deskripsikan sebagai " keseluruhan proses
perubahan politik, social, dan ekonomi di Indonesia, yakni disitu
kepentingan rakyat Indonesia sebagai tolak ukur yang dominan dan di
pandang sebagai tujuan segala perubahan". Bila diterapkan kepada
orang, Indonesianisasi berarti bahwa orang-orang di Indonesia harus
berkembang menjadi orang-orang Indonesia.
6.1.2 Deskripsi itu menimbulkan pertanyaan: "manakah ciri khas rakyat
yang membuat Indonesia itu menjadi Indonesia? Manakah jati diri
Indonesia?" Jawabannya tidak psikologis, tidak etnologis, tidak linguistis,
juga tidak kenegaraan-historis, tetapi disusun berdasarkan perumusan
politik-idiologi Indonesia, yang nilai-nilainya terdapat dalam pancasila,
landasan Negara Indonesia. Penafsiran resmi Pancasila selama "Orde
Baru" sejak tahun 1965: Pancasila ialah "jiwa, jati diri, orientasi hidup
rakyat Indonesia". Proses Indonesianisasi berlangsung dalam ramburambu Pancasila, kesepakatan nilai-nilai nasional, yang harus membentuk
masa depan Indonesia. Pembentukan itu di perlukan karena adanya
gelanggang tegangan yang menguasai seluruh masyarakat Indonesia,
yakni "kesatuan dalam keragaman", "Bhineka Tunggal Ika".
6.1.3 Di kawasan Indonesia, Pancasila dipandang sebagai factor
pengintegrasian yang diperlukan untuk menciptakan" satu Negara, satu
bangsa, satu bahasa", Keanekaragaman Indonesia tampak dalam
setruktur kepulauan tanah air, besarnya pluralisme dalam kelompok etnis
beserta bahasa masing-masing, dan kehadiran banyak agama dunia yang
12 | P a g e

besar di kawasan Indonesia, di jembatani pertentangan, tetapi bukan


keseragaman.
6.1.4 Hubungan antara pancasila dan agama sejak tahun 1945 di
jernihkan selanjutnya. Indonesia mengakui semua agama besar sebagai
sah menurut hukum dan pada prinsipnya sederajat. Secara konsekuen,
Undang-undang Dasar tidak mengakui satu agama Negara, pun bukan
Negara, seolah-olah mendasarkan diri pada agama tertentu. Juga
meskipun 87% seluruh penduduk Indonesia formal beragama Islam golongan terbesar kaum Muslim di seluruh dunia - itu tidak berarti seakanakan Islam menurut Undang-undang Dasar beroleh posisi yang
teristimewa. Indonesia bukan negara agama, bukan pula negara sekular,
bukan negara ateis. Di Indonesia prioritas utama diberikan kepada
toleransi antara para penganut pelbagai agama, atau ditinjau secara
positif, kepada usaha memajukan keselarasan dan kerja sama antara para
pemeluk semua agama besar.
6.1.5 Indonesianisasi menurut logat gerejawi harus ditempatkan dalam
konteks umum yang sudah di bentangkan. Itu bukan proses intern
gerejawi melulu. Meskipun begitu, proses gerejawi tidak semuanya
bertepatan dengan proses Indonesianisasi umum. Ada satu perbedaan:
Proses Indonesianisasi umum menemukan sasarannya dalam Indonesia
sendiri. Proses Indonesianisasi gerejawi menemukan titik tolaknya diluar
Indonesia, lagi pula tujuannya tidak semata-mata dalam Indonesia. Gereja
Katolik Indonesia mempunyai akar-akarnya diluar Indonesia, dan proses
perubahannya tidak pernah dapat bermuara dalam Gereja Indonesia
"nasional" semata-mata. Gereja Indonesia adalah bagian Gereja universal
sedunia.
6.1.6 Tiang-tiang Indonesianisasi gerejawi adalah di satu pihak prinsipprinsip Katolik universal umum itu, dan, di lain pihak, prinsip-prinsip
khusus Indonesia. Gereja katolik Indonesia memiliki ikatan dengan Gereja
Katolik semesta, tetapi gereja Indonesia selanjutnya makin harus
menampilkan diri sebagai Indonesia, menurut visi nasional Indonesia
sendiri, dituangkan dalam pancasila, serta perwujudannya dalam
masyarakat Indonesia
6.1.7 Pada penentuan pembatasan tema studi ini dinyatakan: "Tema studi
ini: menggambarkan dan menganalisis proses Indonesianisasi gerejawi:
keseluruhan proses perubahan, yang menyertai Gereja Katolik, yang
dalam segala nuansanya di masyarakat Indonesia mengembangkan
aspeknya sedemikian rupa sehingga selain dimensi universalnya juga
menampakan perangai Indonesia seutuhnya." Sebagai pembatasan,
dirumuskan: "Karya tulis ini membatasi diri pada aspek-aspek proses
perubahan itu yang menurut pengaran bersifat hakiki." Metode untuk
13 | P a g e

menganalisis proses itu ialah analisis historis deskriptif apa saja, yang
dalam sejarah Gereja Indonesia berkaitan dengan tematik tadi. Titik
tolaknya: apa yang dimasa silam dan sekarang ini berlangsung dalam
prakteknya. Bukan visi "idiologis" tentang apa saja yang dapat
dimaksudkan dengan Indonesianisasi dalam konteks gerejawi, tetapi
analisis "praksis" konkret dalam konteks historis aktualnya Proses
perobakan itu dibahas pada tingkat nasional; bukan studi kasus tentang
33 keuskupan.
6.2 Misi Katolik di Seluruh Nusantara
"Pembangunan Gereja setempat mulai pada saat rakyat Indonesia
menerima pewartaan keselamatan dan rahmat penebusan. Hal itu sudah
terjadi pada masa sangat lampau." Seperti agama dunia lainnya, agama
Kristen datang dari seberang laut, itu berlawanan dengan adat dan agama
pribumi yang hidup di pelbagai suku bangsa di Nusantara.
Sesudah Hinduisme dan Buddisme, agama Kristen datang dari India
Selatan pada abad VII ke Nusantara. Akan tetapi, dari antara para perintis
Katolik itu tidak pernah ditemukan sisa-sisa fisik lagi. Islam menginjak
bumi Nusantara sejak abad XIII di Sumatra dan jawa, dan demikianlah
agama-agama yang lebih lama sebagian terhalau.
Suatu permulaan Katolik baru mulai di bawah bendera Portugis-Spanyol:
450 tahun yang lalu di Maluku. Karya Misioner itu menumbuhkan hasil
yang besar. Menjelang akhir abad XVI terdapat 30.000 umat Katolik. Juga
di regio Flores karya misi Portugis berhasil baik, dan pada awal abad XVII
ada 50.000 orang Katolik.
Orang-orang Belanda, dalam pertemuan melawan Spanyol, menemukan
jalan sendiri menuju Hindia, dan pada tahun 1602 mendirikan VOC.
Mereka merebut monopoli perdagangan dan dengan demikian monopoli
keagamaan juga. Daerah-daerah katolik di Maluku di protestankan. Di
Pulau Flores Timur dan terutama di Timor, yang tetap berada di tangan
portugis, Katolisisme masih betahan. Di Negeri belanda selama periode itu
juga antara tahun 1600-1800 umat Katolik berada di gereja-gereja yang
tersembunyi. Sesudah Revolusi Prancis dan pembubaran VOC pada tahun
1799, mulailah kebebasan beragama yang baru di Kerajaan. Pada tahun
1807 dua imam pertama berangkat untuk menjalankan reksa jiwa di
seberang. Akan tetapi, mereka dan para penganti mereka dirintangi oleh
pelbagai peraturan pemerintah dalam kegiatan-kegiatan mereka. Bahkan
pada tahun 1847 tidak ada seorang imam pun yang masih berada di
Hindia-Belanda Timur
Pada paro kedua abad XIX terjadi terobosan dari sudut pandang Katolik
reksa jiwa di seberang dapat di kembangkan menjadi Gereja yang
berkarya misioner dengan mempertaruhkan ordo dan kongregasi
misioner. Meskipun kebebasan pewartaan Katolik dibatasi oleh larangan
"perutusan rangkap" serta penerapannya yang leluasa, di semua pulau
14 | P a g e

besar dapa didirikan misi Katolik yang baru.


Antara tahun 1900 dan 1940 seluruh Indonesia dibagi secara gerejawi
diantara tarekat misioner; dan kepada setiap kali dipercayakan daerahdaerah misi yang baru. Itulah periode "Misi yang Agung" .Misi berkembang
subur di mana-mana: Jumlah umat Katolik pada periode itu bertambah
dari 50.000 menjadi 566.000. Persentase umat Katolik Indonesia
bertambah dari 52% menjadi 84%
Akibat politik perizinan yang selektif oleh pemerintah Hindia-Belanda,
praktis hanya misionaris-misionaris Belanda yang diizinkan memasuki
Hindia. Suatu pengamatan keadaan misi pada tahun 1940 menampakan
betapa misi Roma-Katolik praktis semata-mata perkara Belanda.
6.3 Dari Misi Menuju Gereja yang Mandiri: Tahun 1940-1961
Misi Katolik di "Negeri Belanda Tropis" sampai tahun 1940 dalam banyak
hal tergantung dari Nederlan: ketenagaan, materi, dan finansial. Antara
tahun 1940 dan 1961 kader acuan gerejawi bergeser dari konteks Belanda
kepada konteks Indonesia: dari misi menuju Gereja yang mandiri beserta
hierarkinya sendiri, pratahap Gereja Indonesia.
Bahwa Gereja Katolik sesudah perang dan perjuangan kemerdekaan tidak
dapat ditolak sebagai produk kolonial mempunyai dua sebab yang
penting. Misi Katolik berdasarkan visi supranasional, lagi pula sebelum
perang pun telah mempunyai basis Indonesia yang mantap. Pedomanpedoman kepausan tentang karya misioner, yang tidak boleh
dilaksanakan bertolak dari pendirian nasionalis, menjelaskan bahwa para
misionaris bukanlah perpanjangan politik kolonial Belanda.
Sudah sebelum perang ada landasan Indonesia yang jelas dalam Gereja
Katolik. Beberapa perintis, seperti Pater van lith, secara terbuka
mendukung nasionalisme yang bangkit. Sejumlah tokoh Katolik Indonesia
menduduki posisi-posisi politik yang terkemuka; dan berkat itu wajah
Belanda Gereja cukup ditandingi. Sudah mulai berlangsung proses
pembinaan kader "pribumi", dan ada permulaan kerja sama antara
berbagai wilayah gerejawi.
Periode penjajahan Jepang mulai penahanan (internering) praktis semua
misionaris Belanda merupakan masa percobaan yang berat. Landasan
Indonesia sebelum perang, terutama banyak sekali katekis, melestarikan
persekutuan iman Katolik.
Seusai perang, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal
17 Agustus 1945, dan di terimanya Pancasila sebagai dasar negara yang
baru. Demikianlah ada kebebasan beragama yang asasi dan pengakuan
hak-hak yang sama. Dalam periode sesudah itu, yakni masa perjuangan
kemerdekaan tahun 1945-1949, umat Katolik Indonesia (teristimewa Mgr.
A. Soegija pranata, SJ) memainkan peran positif yang jelas sekali, dan
tampilah loyalitas para misionaris luar negeri terhadap Republik
Indonesia.
15 | P a g e

Mulai tahun 1950 jug bagi Gereja Katolik mulailah tahap dekolonisasi.
Departemen Agama, Pendidikan dan Kebudayaan, Kehakiman (bagian
imigrasi), dan Kesehatan secara aktif mencampuri kehadiran dan
kegiatan-kegiatan para misionaris luar negeri. Pada tahun 1950, ada 90%
di antara semua tenaga inti misi masih berkebangsaan Belanda! Mereka
menerima (secara terbatas) peluang untuk menjadi warga negara
Indonesia. Kalau tidak, mereka selanjutnya harus menerima izin bekerja
atau izin tinggal. Misionaris baru harus menerima visa. Departemen
Agama memulai dengan peraturan-peraturan quota. Jawaban - sedapat
mungkin - ordo dan kongregasi ialah "internasinalisasi": tidak lagi
mengutus tenaga-tenaga Belanda melulu! Akibat konflik IndonesiaBelanda sekitar Guinea Baru (Irian jaya), selama beberapa tahun sama
sekali tida ada misionaris Belanda yang di izinkan memasuki Indonesia
Pada tanggal 3 Januari 1961 Gereja di Indonesia menerima hirarkinya
sendiri dan dengan demikian menjadi persekutuan Gereja yang mandiri,
terdiri dari enam propinsi gerejawi. Dua puluh dua di antara 25 ordinaris
bukan Indonesia asli, dan 21 berasal dari Belanda! Bagaimana itu
mungkin? Manakah motivasi Roma pada saat itu dan manakah reaksireaksi di pihak Indonesia? Tokoh kunci dalam seluruh periode itu, Mgr. T.
Van Valenberg OFM Cap., menjawab pertanyaan-pertanyaan.
6.4 Dari Gereja yang Mandiri Menuju Gereja Indonesia
Proses perombakan dari Gereja yang mandiri kearah gereja Indonesia
merupakan proses yang di kemudikan secara sadar. Stimulus yang paling
utama ialah Konsili Vatikan II pada tahun 1962-1965. Berbicara secara
gerejawi, sebelum Konsili umat masih hidup dalam suasana "kepulauan"
daerah-daerah misi yang tersendiri. Sidang Gereja menhimpun para uskup
Indonesia di Roma. Di situ lahirlah visi Gereja yang baru; di tetapkan
kebijakan Gereja yang baru; dan lebih relevan lagi: disitu diciptakan satu
epikopat. Pengalaman Konsili meletakan landasan bagi kerjasama
selanjutnya dikawasan Indonesia, juga demi pembangunan sadar Gereja
Indonesia setempat. Selain faktor ekstern itu, masih ada situasi intern
Indonesia yang saling mempertemukan episkopat, umat beriman, dan
para imam, yakni situasi politik menjelang tahun 1965. Perlawananperlawanan dahsyat antara kaum Muslimin, rakyat nasionalis, dan
golongan komunis berputar sekitar penerima Pancasila dalam bentuk
murni sebagai landasan bagi seluruh Indonesia. Baik pihak Islam maupun
pihak komunis mengancam eksistensi Gereja Katolik. Ketidakstabilan
politik menghilang sesudah tahun 1965, dan umat katolik bahu membahu
mengangkat pengembangan Orde baru demi pembangunan bangsa.
Sesuai Vatikan II, MAWI mulai menjabarkan secara sistematis tema-tema
Konsili dalam Gereja Indonesia. Mulai dengan dokumen "Indonesianisasi"
pada tahun 1970 sampai dengan dokumen "Umat katolik Indonesia dalam
Masyarakat Pancasila' pada tahun 1985, yakni selama 15 tahun
16 | P a g e

diperbincangkan semua aspek yang penting dalam hidup Gerejawi


Indonesia. Para Imam, religius, dan umat awam bersama-sama dengan
para uskup mencari wajah Indonesia Gereja Katolik, baik dalam peri hidup
umum maupun dalam hidup gerejawi.
Makna MAWI sebagai lembaga pengemudi proses Indonesianisasi
terutama mencapai posisi yang penting melalui strukturalisasi ulang
statusnya sendiri dan pembentukan banyak panitia dan komidi di pelbagai
bidang. KWI sebagai kantor konferensi para uskup memainkan peranan
yang makin sentral dalam gereja secara keseluruhan pada tingkat
nasional. Dalam hal ini, terbentuklah Depertemen Dokumen-penerangan
beserta terbitannya, yakni Spektrum. Diterbitkan Sejarah Gereja Indonesia
yang sangat terperinci. Di semua keuskupan, didirikan komisi regional
yang khusus memperhatikan aspek tertentu hidup gerejawi dan
masyarakat. Komunikasi antara komisi diosesan dan komisi nasional
makin diperbaiki. Dalam proses pertumbuhan dari Gereja yang mandiri
menuju Gereja Indonesia, pembatalan ius commissionis pada tahun 1969
relevan sekali. Bukan ordo atau kongregasi (yang dipercayai wilayah
gerejawi), tetapi para uskuplah yang sekarang dapat menentukan
orientasi masa depan keuskupan mereka. Demikian struktur kewenangan
yang rangkap dihapuskan, dan hubungan eksklusif antara daerah dan
tarekat religius tertentu disingkirkan selamanya. Dengan dibatalkannya
ikatan daerah, tarekat-tarekat itu dapat mengenakan posisi yang lebih
leluasa untuk berkarya di daerah-daerah lain juga. Di kebanyakan
keuskupan, diciptakan ruang yang lebih longgar bagi klerus
diosesan. Peralihan kearah Gereja Indonesia yang mandiri di percepat oleh
peristiwa-peristiwa pada tahun 1979. Kehadiran para misionaris luar
negeri di perdebatkan dari sudut politik. MAWI menyusun program "untuk
mempercepat Indonesianisasi" pada semua tingkatan. Reaksi kejutan
dalam Gereja-Gereja setempat menjalin cita rasa kebersamaan nasional;
permasalahan sekitar izin tinggal (yang sedang surut) para misionaris
sebagai katalisator mempengaruhi kesadaran bahwa tenaga-tenaga
Indonesia harus menopang Gereja selanjutnya. Selain itu, gagasan
tentang bantuan timbal balik antarkeuskupan memperoleh dorongan yang
baru.
6.5 Indonesianisasi Umat Katolik
"Umat Katolik" menunjuk kepada kaum beriman yang biasa, kaum awam.
Mereka merupakan 99,9% persekutuan iman Katolik Indonesia. Seberapa
jauh ada informasi yang layak dipercaya tentang kelompok umat Katolik
Indonesia itu? Ada perbedaan antara angka-angka gerejawi dan angkaangka pemerintah. Sejak tahun 1980, angka-angka gerejawi pada tingkat
nasional dihimpun dan diolah secara sistematis.
Menurut data-data gerejawi, umat Katolik bertambah dari setengah juta
pada tahun 1940 menjadi empat setengah juta pada tahun 1990. Di
17 | P a g e

Indonesia, orang katolik merupakan kelompok minoritas, yakni 3% dari


seluruh penduduk.
Angka-angka pemerintah tentang jumlah umat Katolik pada tahun 1980
lebih tinggi, yakni 900.000. Disatu pihak, itu disebabkan karena dalam
gereja Indonesia umat Katolik Timor Timur tidak ikut dihitung. Dilain pihak,
ada gejala yang cukup mencolok bahwa ratusan ribu (penganut
kepercayaan-kepercayan asli) mendaftarkan diri sebagai umat katolik,
meskipun tanpa kontak yang resmi dengan Gereja.
Penyebaran umat Katolik tidak merata di seluruh Indonesia, lagi pula
antara tahun 1940-1990 tidak ada pertumbuhan yang merata di berbagai
propinsi gerejawi. Pertambahan yang terbesar berlangsung di Kepulauan
Sunda Kecil (Nusa Tenggara), yang dihuni oleh sebagian terbesar umat
Katolik, yakni 39% pada tahun 1990.
Faktor-faktor pertambahan umat Katolik ialah pembaptisan,
pertambahan, dan imigrasi; faktor-faktor pengurangan: kematian, keluar
dari gereja, dan emigrasi. Berbagai komposisi faktor-faktor itu
mengakibatkan perbedaan dalam pertumbuhan di masing-masing
keuskupan.
Faktor pertumbuhan umat Katolik yang paling penting adalah
pembaptisan baru. Selama 15 tahun (sampai tahun 1990) ternyata bahwa
30-38% di antara semua baptisan di Indonesia berumur lebih dari tujuh
tahun. Berbagai penelitian menunjukan bahwa rakyat di pulau-pulau di
luar jawa terutama berlatar belakang kepercayaan asli. Disamping itu, ada
kelompok yang lebih kecil yang berasal dari kelompok yang disebut rakyat
Muslim statistik: terutama orang-orang jawa. Kelompok ketiga terdiri dari
mereka yang berlatar belakang Konfusianisme/Buddha yang memutuskan
masuk Katolik: terutama generasi rakyat Cina yang lebih muda. Mereka
itu sudah tidak merasa kerasan lagi dalam tradisi para leluhur mereka.
Akan tetapi, kelompok terbesar para baptisan baru terdiri dari keturunan
orang tua Katolik.
Informasi sosiologis tentang ciri-ciri latar belakang umat Katolik memang
terbatas, dari tahun 1980 hanya dikenal data-data. Suatu profil umat
Katolik yang terbatas menghasilkan gambar berikut.
X Mengingat latar belakang kejuruan, ternyata 68% umat Katolik
Indonesia bekerja disektor pertanian, hidup di pedesaan. Profail itu
berbeda-beda dari keuskupan ke keuskupan.
X Ditinjau dari sudut sosial-ekonomi, ternyata 41% umat Katolik sudah
berpenghasilan memadai, 10% tampak serba kecukupan, tetapi 49%
hidup dibawah garis kecukupan (bahkan 17% ternyata sama sekali tidak
berkecukupan). Profil itu pun berlain-lainan per provinsi dan keuskupan.
X Di pandang dari sudut etnis, ternyata 32% umat Katolik terdiri dari
umat Flores, 18% dari Jawa, 9,5% dari timur, 9% dari Batak,7% dari Cina
18 | P a g e

dan Daya, 5% dari Papua. Kelompok-kelompok Penduduk lainnya kurang


dari 3% terwakili dalam umat Katolik.
Diamati dari visi nasional, tidak boleh diadakan perbedaan berdasarkan
berbagai latar belakang etnis. Setiap anggota Gereja itu adalah orang
Indonesia. Semua kebudayaan daerah membawa sumbangan kepada
kebudayaan nasional Indonesia. Akan tetapi, ditilik dari sudut sosial
psikologis dan budaya, memang ada pelbagai perbedaan. Ditinjau dari
sudut idiologi, diperjuangkan "Bhineka Tunggal Ika". Itu berarti proses
mengusahakan integrasi nasional. Dalam berbagai hal, permasalahan itu
belum terpecahkan, tetapi masih ada tegangan antara situasi-situasi
regional dan idiologi nasional. Mgr.M. Coomans, MSF bertanya, "Benarkah
suku-suku yang sudah lama di Kalimantan mempunyai masa
depan?"Jawanya, "Tidak, orang Daya kehilangan jati diri budayanya
sebagai Daya, tetapi menemukan kebudayaan yang baru sebagai orang
Indonesia."Permasalahan integrasi nasional itu berlangsung di semua
daerah bagian Indonesia. Rakyat Cina, sebagai kelompok minoritas dari
luar Indonesia, menghadapi masalah khusus untuk menjadi Indonesia.
Juga umat Katolik Cina mengalami loyalitas yang di tuntut untuk
berintegrasi. Maka itu integrasi bukan masalah Indonesia "Katolik", tetapi
masalah Indonesia nasional. Umat Katolik Indonesia- seperti seluruh
rakyat Indonesia - harus menjadi lebih Inonesia, tetapi jangan kembali
kepada pertentangan-pertentangan regional, yang sering juga bersifat
etnologis.
7.GEREJA MASA DEPAN: KEBANGKITAN BADAN DAN KEHIDUPAN
KEKAL
Tujuan akhir manusia adalah hidup abadi kepenuhan hidup bersama Allah,
yang diwahyukan dan dijanjikan Yesus dalam kemenangan atas dosa dan
maut. Inilah akhir keselamatan kita dalam Yesus Kristus.
Tradisi Kristiani menggunakan sejumlah lambang, gambaran, dan konsep
untuk mengungkapkan kepenuhan harapan kristiani. Kebangkitan badan,
kedatangan Kristus yang kedua, pengadilan pribadi pada saat aja,
pengadilan umum pada akhir jaman, surge, hidup abadi. Itu semua
merupakan usaha untuk mengungkapkan kebenaran dari tujuan akhir
kita, tujuan yang berakar pada kebangkitan Kristus.
7.1.Iman akan kebangkitan orang mati.
Ketika seseorang meninggal, tubuhnya dikubur atau dikremasi. Namun
demikian, kita percaya adanya kehidupan seteah kematian bagi orang
itu. Dalam kebangkitanNya, Yesus menunjukkn bahwa dialah Tuhan atas
19 | P a g e

kematian: Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yoh 11,25b).
Penegasan Paulus membantu keyakinan akan kebangkitan menjadi
dimensi
mendasar iman Kristiani. Kepada umat Korintus Paulus
menegaskan:Bagaimana mungkin ada diantara kamu yang mengatakan
bahtwa tidak ada kebangkitan orang mati. Kalau tidak ada kebangkitan
orang mati maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus
tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga
kepercayaan kamu. Tetapi yang benar bahwa Kristus telah dibangkitkan
dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah
meninggal (1 Kor 15,12-14,20).
Kematian bukanlah hal yang mengerian setelah penderitaan dan kematian
Kristus. Dengan tindakan percaya dan kasih, kita dapat berkata: Ya
seperti yang dilakukan Yesus di bukit Zaitun.Tindakan ini disebut
pengorbanan rohani;: orang yang dalam sakratul maut menyatukan
dirinya dengan pengorbanan Kristus di salib. Seseorang yang meninggal
dengan cara ini yakin kepada Allah dan berdamai dengan manusia. Jika
tidak menanggung dosa serius, ia sedang menuju persekutuan dengan
Kristus yang bangkit. Proses kematian kita membawa kita menyerahkan
diri ke dalam tanganNya. Seseorang yang meninggal tidak pergi kemanamana selain pulang kepada Allah yang menciptakannya.
7,2. AKU PERCAYA AKAN KEHIDUPAN KEKAL
Ketika sakratul maut, setiap orang memasuki saat-saat kebenaran. Jika
saat itu tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk menutupi atau
mengungkapkan sesuatu: tidak ada lagi yang bisa diubah. Allah
memandang kita sebagaimana kita adanya. Kita menghadap ke
pengadilanNya. Dalam pengadilan itu kita dibenarkan karenda dalam
keadilan, Allah semua harus benar sama seperti saat kita diciptakan.
Ketika Kristus datang lagi dalam kemuliaan, kemegahanNya yang penuh
akan bersinar atas kita. Kebenaran akan tiba menerangi kita: pikiran kita,
niat kita, hubungan kita dengan Allah dan orang lain-tidak ada satupun
yang tersembunyi. Kita mengakui makna mutlak penciptaan, memahami
cara-cara Allah untuk menyelamatkan ktia .Pengadilan akan terjadi pada
akhir dunia, saat kedatangan Kristus yang kedua, saat semua orang
yang di dalam kuburan akan mendengar suaraNya, mereka yang telah
berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi
20 | P a g e

merekayang teah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum (Yoh 5,29).
Saat itulah keputusan apakah kita akan bangkit untuk hidup abadi atau
terpisah dari Allah selamanya. Kepada mereka yang memilih hidup, Allah
akan bertindak dengan kreatif satu kali lagi. Dalam tubuh baru (2 Kor
5,1), mereka akan hidup selamanya dalam kemuliaan Allah dan memuji
Dia dengan tubuh dan jiwa mereka.
Pada akhir jaman , Allah akan menciptakan surga dan bumi baru.
Kejahatan tidak akan berkuasa ataupun memikat. Penebusan akan
berhadapan secara langsung dengan Allah. Kerinduan akan kedamaian
dan keadilan akan terpenuhi. Yang berkenan pada Allah akan terberkati.
Allah Tritunggal akan tinggal diantara mereka dan menghapuskan setiap
tetes air mata. Tiada lagi kematian, kesedihan, ratapan dan kesulitan.
8.MARIA DAN GEREJA.
Dalam gereja Katolik, Maria mendapat peran dan penhormatan yang
tinggi. Orang Katolik percaya bahwa Maria tidak hanya ibu Yesus tetapi
juga ibu dari Gereja. Keyakinan ini sangat khas dalam gereja Katolik.
Peran Matia sebagai ibu Gereja sangat jelas diperlihatkan dalam Perjanjian
baru secara khusus Injil Yohanes bab 19,26-27. Dalam perikop ini Yesus
mati disalib dan berbicara dengan ibunya dan murid terkasih yang
merupakan representasi dari semua umat beriman. Kepada Maria, Yesus
berkata:Ibu, inilah anakmu sambil menunjuk murid terkasih (semua
orang beriman) yang adalah anak-anaknya. Kepada murid terkasih, Yesus
berkata,Itulah ibumu, yang berarti Maria adalah ibu dari seluruh orang
Kristen.
Ketika Maria didatangi malaikat Gabriel, Maria menjawab ya atas
permintan untuk menjadi ibu Yesus. Kesediaan Maria menunjukkan
penerimaan penuh atas konsekuensi dari perkataan dan tindakan Yesus.
Dengan kecintaan penuh, Maria mendampingi puternya sampai pada
penderitaan dan kematiannya.Peran Maria dalam rencana Allah tidak
hanya berhenti dengan melahirkan Yesus, bahkan sampai kematiannya
dan menyertai gereja dalam peristiwa Petakosta.
Tradisi Katolik mengajarkan bahwa karena kesetiaan dan kekudusan
Maria, Gereja mengangkat Maria dengan gelar-gelar.Gereja memberinya
berbagai penghormatan yang sangat istimewa kepada Maria. Dari antara
semua manusia, ia dihormati sebagai pribadi yang tinggi . Karena itu
muncul banyak devosi kepada Maria.
21 | P a g e

Dogma tentang Maria dalam gereja Katolik:


8.1..Maria Bunda Allah (Theotokos), dimaklumkan dalam konsili
Efesus pada tahun 431.
Maria adalah ibu Yesus karena telah melahirkan Yesus. Namun, Yesus
yang hidup dalam sejarah manusia adalah Pribadi Ilahi. Dia diimani
sebagai Tuhan. Maka , Maria bukan sekedar bunda dari manusia Yesus,
melainkan juga bunda dari Yessu yang adalah Allah. Ketika Gerjea
katolik menegaskan Maria sebagai Bunda Allah, sebenarnya
menegaskan kembali keallahan Yesus.Maria sebagai Bunda Allah dlam
arti Maria membawa Pribadi Illahi di dalam rahimnya yaitu Yesus.
Sabda yang telah menjadi manusia (Yoh 1,14). Kita mengerti Maria
sebagai Bunda Allah, karena ia secara biologis adalah ibu dari Yesus
yang adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal.
8.2.Maria Tetap Perawan: selamanya, sebelum , selama maupun sesudah
kelahiran Yesus, dimaklumkan dalam Sinode Lateran pada tahun 649.
Berdasar Kitab Suci dan Tradisi, Gereja menegaskan bahwa Yesus
adalah satu-satunya Putera Maria dan Maria tetap perawan. Melalui
dogma ini, keperawanan dipahami bahwa seuruh tubuh dan jiwa Maria
semata-mata dipersembahkan kepada Tuhan. Kesucian Maria sebagai
pengantara rahmat bagi manusia
8.3.Maria Dikandung Tanpa Dosa, dimaklumkan oleh Paus Pius IX pada
tanggal 8 Desember 1854.
Dosal asal adalah suatu hambatan untuk memiliki rahmat yang
memuaskan, karena kejatuhan dosa keluhur pertama kita, yaitu Adam
dan Hawa sehingga menggeser tujuan mulia hidup manusia. Dengan
kata lain, dosa asal adalah suatu kekurangan yang menjadi satu
dengan kita dari Adam dan hawa, Namun Perawan Suci Maria terbebas
dari semua itu karena posisinya yang istimewa (Paus Yohanes Paulus II
pada audiensi 1 Oktober 1986). Gereja telah sampai pada pemahaman
bahwa sejak dalam kandungannya Maria telah diisi dengan rahmat
Tuhan sehingga terbebas dari semua noda dosa (KGK 490-491).
8.4.Maria Diangkat ke Surga dengan badan dan jiwanya, dimaklumkan
oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950Muncul gelar Maria
Diangkat Ke surga, Maria yang terkandung tanpa noda, Maria Bunda
22 | P a g e

Allah. Gelar-gelar tersebut ditetapkan dalam konsili sesuai refleksi


gereja.
Tradisi awal tentang bagaimana Maria berangkat dari dunia ini sangat
kuat nampak dalam tradisi Gereja Timur(Ortodoks). Kaisar Byzantium,
Mauritius (582-602) menetapkan perayaan tertidurnya Santa Perawan
maria pada tanggal 15 Agustus bagi Gereja Timur. Sebagain ahli
sejarah menyatakan bahwa perayaan ini teah tersebar luas sebelum
konsili Efesus pada tahun 431. Pada akhir abad keenam Gereja Barat
juga merayakan pestaMaria diangkat ke Surga. Pada akhir abad ke
delapan terdapat doa-doa bagi perayaan Santa Perawam Maria
Diangkat ke Surga. Paus Leo IV pada tahun 847 memerintahkan
diadakan doa 7 hari (oktfaf) sebelum hari raya Maria Diangkat kesurga.
Tradisi perayaa Maria diangkat ke Surga ini terus berkembang hingga
akhirnya pada tanggal 1 Novemver 1850, Paus Pius XII menegaskan
tradisi ini menjadi suatu dogma.
Dogma
membeerikan

Santa

Perawan

pengharapan

maria

bahwa

Diangkat

kita

pun

ke

nantinya

Surga
boleh

menerima rahmat seperti Maria. Maria memberi teladan kepada


kita

agar

bertumbuh

dalam

rahmat

Tuhan,

berserah

pada

kehendakNya dan mengubah hidup kita melalui pertobatan, agar


nantinya kitapun diijinkan memperoleh persatuan abadi dalam
Kerajaan surga

23 | P a g e

D.Test Formatif
Jawab pertanyaan berikut dengan singkat dan jelas.

1 Apakah Yesus Kristus mendirikan Gereja Katolik?


2 Apa saja yang menunjukkan pernyataan ecclesia semper
reformanda dalam perjalanan sejarah gereja?
6. Bagaimana panca tugas gereja seperti
perdana

(Kis

2,

41-47)

teraktualisasi

pada

gereja

dalam

gereja

Indonesia?
7. Apa saja yang menunjukkan kehadiran umat Katolik di
dalam kehidupan bangsa Indonesia?
8. Bagaimana nilai-nilai Katolik mendukung pengembangan
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila?
9. Apa yang menjadi bayangan anda mendengar istilah
Parousia: kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya?
10. Apa saja makna kata-kata konsekrasi dalam misa
berkaitan kehidupan kekal?
11. Peristiwa apa saja dalam Kitab Suci yang menunjukkan
keterlibatan Maria sehingga Maria dihormati gereja Katolik?
12. Bentuk-bentuk apa saja dalam gereja Katolik yang
menunjukkan penghormatan umat Katolik terhadap Maria?

E. Daftar Pustaka
1 Adolf Heuken SJ, Be My Witness to the Ends of the Earth,
CLC, Jakarta, 2002.
1 Alkitab Deuterokanonika.
2 Eddy Kristiyanto, OFM, Gagasan Yang menjadi Peristiwa,
Kanisius, Yogyakarta, 2001.
24 | P a g e

3 Hardawiryana

SJ,

Panggilan Gereja

Dalam

Masyarakat

Indonesia, Spektrum no. 3, 1978.


4 JWM Huub Boelaars, OFM Cap.Indonesianisasi: Dari Gereja
Katolik

di

Indonesia

Menjadi

Gereja

Katolik

Indonesia,

Kanisius, 2005
5 M. Benyamin Mali, Sejarah Perkembangan Iman Kristiani,
Immaculata Press, Jakarta, 2003.
6 Michael Keene, Kristianitas, Kanisius, 2006
7 Pendidikan
Agama
Kaotlik
di
Perguruan
Umum.Pedoman

Umat

Katolik

Gereja

Tinggi

Indonesia,

Jakarta, Dokpen KWI, 1996.


8 Ratna Gultom,
9 Thomas P Rausch, Katolisisme, Kanisius, Yogyakarta, 2005
10 Yustinus Ardianto Pr, Mencintai Iman Katolik, Joy,Jakarta,
2012

I.

Penutup
Modul II merupakan dasar-dasar yang harus dipahami peserta kuliah

sebelum melanjutkan ke modul III.

Peserta kuliah diharapkan sudah

menyelesaikan rangkaian tes formatif yang tersedia disetiap akhir sub


pokok bahasan.

25 | P a g e