Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PEMICU 4

A. Pemicu
Bayu yang berusia 17 tahun dikeluhkan teman- temannya karena jika dipanggil
tidak segera merespon. Bayu mengatakan jika dia memang tidak mendengar ketika
teman-temannya memanggil. Bayu merasa malu jika hal ini terus terjadi padanya,
padahal selama ini ia tidak pernah mengalami kelainan atau sakit yang berat, ia biasanya
hanya batuk pilek dan kadang-kadang demam saja. Sekarang Bayu mengeluhkan sakit
pada telinga kanannya

dan sedikit demam. Keluhan ini dirasakan sudah sejak satu

minggu yang lalu. Bayu takut jika sesuatu yang serius terjadi padanya sehingga ia
memeriksakan dirinya ke dokter.
Pada hasil pemeriksaan telinga didapatkan membrane timpani intak, hiperemis
dan bulging pada telinga kanan dan membrane timpani telinga kirinya tidak dapat dinilai
karena terhalangi oleh kotoran telinga yang banyak.
B. Klarifikasi dan Definisi

C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Bulging

: keadaan membran timpani terdorong keluar akibat cairan

Hiperemis

: kemerahan

Kata kunci
Laki- laki 17 tahun
Batuk
Pilek
Demam
Sakit telinga kanan
Membran timpani intak, bulging dan hiperemis
Serumen di telinga kiri

D. Rumusan Masalah
Apa yang menyebabkan Bayu 17 tahun dengan riwayat batuk, pilek dan demam
tidak merespon panggilan dari teman-temannya?

E. Analisis Masalah

Telinga
kanan sakit

Laki-laki, 17
tahun

Batuk, pilek

Gangguan
Pendengaran

Demam

Pemeriksaan
telinga

Kanan

Kiri

Membran timpani
intak, hiperemis,
bulging

Membran timpani
tidak dapat
dinilai
Kotoran
telinga/serum
en

diagnosis

OMA

Tuli
(konduktif,
sensori,

Kriteria
diagnosis

F. Hipotesis
Bayu 17 tahun mengalamiPemeriksaan
Otitis Media Akut (OMA)
lanjutan

tatalaksana
edukasi

OE

G. Pertanyaan Diskusi
1. Jelaskan mengenai OMA! Yosep, Tiwi, Herick, Ridha, Elsa
a. Definisi
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis media
berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non
supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain
itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa, otitis
media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis media adhesiva (Djaafar,
2007)
b. Klasifikasi
c. Epidemiologi
d. Etiologi
1. Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian,
65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi
bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong
sebagai nonpatogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Tiga
jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae
(40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis
(10-15%). Kira-kira 5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti
Streptococcus pyogenes (group A betahemolytic), Staphylococcus aureus, dan
organisme gram negatif. Staphylococcus aureusdan organisme gram negatif
banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah
sakit. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak balita. Jenis
mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa juga sama dengan yang
dijumpai pada anak-anak (Kerschner, 2007).
2. Virus
Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri atau
bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering dijumpai
pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau
adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus,
rhinovirus atau enterovirus. Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi
tuba Eustachius, menganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri,
menurunkan

efisiensi

obat

antimikroba

dengan

menganggu

mekanisme

farmakokinetiknya (Kerschner, 2007). Dengan menggunakan teknik polymerase


chain reaction (PCR) dan virus specific enzyme-linked immunoabsorbent assay
(ELISA), virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang
menderita OMA pada 75% kasus (Buchman, 2003).
e. Patofisiologi
Pathogenesis OMA pada sebagian besar anak-anak dimulai oleh infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA) atau alergi, sehingga terjadi kongesti dan edema pada
mukosa saluran napas atas, termasuk nasofaring dan tuba Eustachius. Tuba
Eustachius menjadi sempit, sehingga terjadi sumbatan tekanan negatif pada
telinga tengah. Bila keadaan demikian berlangsung lama akan menyebabkan
refluks dan aspirasi virus atau bakteri dari nasofaring ke dalam telinga tengah
melalui tuba Eustachius. Mukosa telinga tengah bergantung pada tuba Eustachius
untuk mengatur proses ventilasi yang berkelanjutan dari nasofaring. Jika terjadi
gangguan akibat obstruksi tuba, akan mengaktivasi proses inflamasi kompleks
dan terjadi efusi cairan ke dalam telinga tengah. Ini merupakan faktor pencetus
terjadinya OMA dan otitis media dengan efusi. Bila tuba Eustachius tersumbat,
drainase telinga tengah terganggu, mengalami infeksi serta terjadi akumulasi
sekret di telinga tengah, kemudian terjadi proliferasi mikroba patogen pada sekret.
Akibat dari infeksi virus saluran pernapasan atas, sitokin dan mediator-mediator
inflamasi yang dilepaskan akan menyebabkan disfungsi tuba Eustachius. Virus
respiratori juga dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri, sehingga
menganggu pertahanan imum pasien terhadap infeksi bakteri. Jika sekret dan pus
bertambah banyak dari proses inflamasi lokal, perndengaran dapat terganggu
karena membran timpani dan tulangtulang pendengaran tidak dapat bergerak
bebas terhadap getaran. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya dapat
merobek membran timpani akibat tekanannya yang meninggi (Kerschner, 2007).
Obstruksi tuba Eustachius dapat terjadi secara intraluminal dan ekstraluminal.
Faktor intraluminal adalah seperti akibat ISPA, dimana proses inflamasi terjadi,
lalu timbul edema pada mukosa tuba serta akumulasi sekret di telinga tengah.
Selain itu, sebagian besar pasien dengan otitis media dihubungkan dengan riwayat
fungsi abnormal dari tuba Eustachius, sehingga mekanisme pembukaan tuba

terganggu. Faktor ekstraluminal seperti tumor, dan hipertrofi adenoid (Kerschner,


2007).
f. Manifestasi klinis
Gejala klinis OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada
anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam
telinga, di samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek
sebelumnya. Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa
nyeri, terdapat gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa
kurang mendengar. Pada bayi dan anak kecil, gejala khas OMA adalah suhu tubuh
tinggi dapat mencapai 39,5C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan sukar
tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang dan kadang-kadang
anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka
sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tidur tenang (Djaafar,
2007).
Penilaian klinik OMA digunakan untuk menentukan berat atau ringannya suatu
penyakit. Penilaian berdasarkan pada pengukuran temperatur, keluhan orang tua
pasien tentang anak yang gelisah dan menarik telinga atau tugging, serta membran
timpani yang kemerahan dan membengkak atau bulging. Menurut Dagan (2003)
dalam Titisari (2005), skor OMA adalah seperti berikut:

Penilaian derajat OMA dibuat berdasarkan skor. Bila didapatkan angka 0 hingga
3, berarti OMA ringan dan bila melebihi 3, berarti OMA berat. Pembagian OMA
lainnya yaitu OMA berat apabila terdapat otalgia berat atau sedang, suhu lebih

atau sama dengan 39C oral atau 39,5C rektal. OMA ringan bila nyeri telinga
tidak hebat dan demam kurang dari 39C oral atau 39,5C rektal (Titisari, 2005).
g. Faktor risiko
Faktor risiko terjadinya otitis media adalah umur, jenis kelamin, ras, faktor
genetik, status sosioekonomi serta lingkungan, asupan air susu ibu (ASI) atau
susu formula, lingkungan merokok, kontak dengan anak lain, abnormalitas
kraniofasialis kongenital, status imunologi, infeksi bakteri atau virus di saluran
pernapasan atas, disfungsi tuba Eustachius, inmatur tuba Eustachius dan lain-lain
(Kerschner, 2007).
Faktor umur juga berperan dalam terjadinya OMA. Peningkatan insidens OMA
pada bayi dan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan fungsi tidak
matang atau imatur tuba Eustachius. Selain itu, sistem pertahanan tubuh atau
status imunologi anak juga masih rendah. Insidens terjadinya otitis media pada
anak laki-laki lebih tinggi dibanding dengan anak perempuan. Anak-anak pada ras
Native American, Inuit, dan Indigenous Australian menunjukkan prevalensi yang
lebih tinggi dibanding dengan ras lain. Faktor genetik juga berpengaruh. Status
sosioekonomi juga berpengaruh, seperti kemiskinan, kepadatan penduduk,
fasilitas higiene yang terbatas, status nutrisi rendah, dan pelayanan pengobatan
terbatas, sehingga mendorong terjadinya OMA pada anakanak. ASI dapat
membantu dalam pertahanan tubuh. Oleh karena itu, anak-anak yang kurangnya
asupan ASI banyak menderita OMA. Lingkungan merokok menyebabkan anakanak mengalami OMA yang lebih signifikan dibanding dengan anak-anak lain.
Dengan adanya riwayat kontak yang sering dengan anak-anak lain seperti di pusat
penitipan anak-anak, insidens OMA juga meningkat. Anak dengan adanya
abnormalitas kraniofasialis kongenital mudah terkena OMA karena fungsi tuba
Eustachius turut terganggu, anak mudah menderita penyakit telinga tengah. Otitis
media merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat infeksi saluran napas atas,
baik bakteri atau virus (Kerschner, 2007).
h. Diagnosis
Menurut Kerschner (2007), kriteria diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal
berikut, yaitu:
1. Penyakitnya muncul secara mendadak dan bersifat akut.
2. Ditemukan adanya tanda efusi. Efusi merupakan pengumpulan cairan di telinga
tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti

menggembungnya membran timpani atau bulging, terbatas atau tidak ada gerakan
pada membran timpani, terdapat bayangan cairan di belakang membran timpani,
dan terdapat cairan yang keluar dari telinga.
3. Terdapat tanda atau gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan
adanya salah satu di antara tanda berikut, seperti kemerahan atau erythema pada
membran timpani, nyeri telinga atau otalgia yang mengganggu tidur dan aktivitas
normal.
Menurut Rubin et al. (2008), keparahan OMA dibagi kepada dua kategori, yaitu
ringan-sedang, dan berat. Kriteria diagnosis ringan-sedang adalah terdapat cairan
di telinga tengah, mobilitas membran timpani yang menurun, terdapat bayangan
cairan di belakang membran timpani, membengkak pada membran timpani, dan
otore yang purulen. Selain itu, juga terdapat tanda dan gejala inflamasi pada
telinga tengah, seperti demam, otalgia, gangguan pendengaran, tinitus, vertigo dan
kemerahan pada membran timpani. Tahap berat meliputi semua kriteria tersebut,
dengan tambahan ditandai dengan demam melebihi 39,0C, dan disertai dengan
otalgia yang bersifat sedang sampai berat.
i. Komplikasi
Sebelum adanya antibiotik, OMA dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari
abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang semua jenis
komplikasi tersebut biasanya didapat pada otitis media supuratif kronik. Mengikut
Shambough (2003) dalam Djaafar (2005), komplikasi OMA terbagi kepada
komplikasi intratemporal (perforasi membran timpani, mastoiditis akut, paresis
nervus fasialis, labirinitis, petrositis), ekstratemporal (abses subperiosteal), dan
intracranial (abses otak, tromboflebitis).
j. Tatalaksana
k. Prognosis

Buchman, C.A., Levine, J.D., Balkany, T.J., 2003. Infection of the Ear. In: Lee, K.J., ed.
Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 8th ed. USA: McGraw-Hill
Companies, Inc., 462-511.
Djaafar, Z.A., Helmi, Restuti, R.D., 2007. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Soepardi,
E.A., ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi
ke-6. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 64-86.

Kerschner, J.E., 2007. Otitis Media. In: Kliegman, R.M., ed. Nelson Textbook of
Pediatrics. 18th ed. USA: Saunders Elsevier, 2632-2646.
Rubin, M.A., Gonzales, R., Sande, M.A., 2008. Pharyngitis, Sinusitis, Otitis, and Other
Upper Respiratory Tract Infections. In: Fauci, A.S., ed. Harrysonss Principles of Internal
Medicine. 17th ed. USA: McGraw-Hill Companies, Inc., 205-214.
3. Jelaskan mengenai Otitis Eksterna! Beby, Novia, Moja, Fawaid, Bang Jamal
a. Definisi
b. Klasifikasi
c. Epidemiologi
d. Etiologi
e. Patofisiologi
f. Manifestasi klinis
g. Faktor risiko
h. Diagnosis
i. Komplikasi
j. Tatalaksana
k. Prognosis
4. Jelaskan mengenai tuli konduktif, tuli sensori dan tuli campuran! Kak Atun, Tiwi,
Herick
5. Bagaimana pemeriksaan dasar pada telinga (tes penala, tes berbisik dan tes
audiometri)? Yosep, Beby, Novia
6. Jelaskan fisiologi terbentuknya serumen! Elsa, Bang Jamal, Moja
Proses fisiologis meliputi kulit kanalis akustikus eksternus yang berbeda dari kulit
pada tempat lain. Pada tempat lain, sel epitel yang sudah mati dan keratin
dilepaskan dengan gesekan. Karena hal ini tidak mugkin terjadi dalam kanalis
akustikus eksternus migrasi epitel squamosa merupakan cara utama untuk kulit mati
dan debris dilepaskan dari dalam. Sel stratum korneum dalam membran timpani
bergerak secara radial dari arah area anular membran timpani secara lateral
sepanjang permukaan dalam kanalis akustikus eksternus. Sel berpindah terus ke
lateral sampai mereka berhubungan dengan bagian kartilaginosa dan akhirnya
dilepaskan, ketiadaan rete pegs dan kelenjar sub epitelial serta keberadaan membran
basal halus memfasilitasi pergerakan epidermis dari meatus ke lubang lateral
pergerakan pengeluaran epitel dari dalam kanal memberikan mekanisme
pembersihan alami dalam kanalis akustikus eksternus, dan bila terjadi disfungsi
akan menyebabkan infeksi. (5)

Sejumlah kecil serumen ditemukan pada kanalis akustikus eksternus, bila tidak
ditemukan maka menjadi tanda patologis terjadinya otitis eksterna kronis. Serumen
dapat dikeluarkan dengan suction, kuret, dan dengan membersihkan seluruh canal
profunda dan seluruh membran timpani. (5)
Brian J. G.B., Michael H., Peter K., Atlas of Clinical Otolaryngology. 2001. Mosby
Yaer Book
7. Jelaskan fungsi dan cara pembersihan serumen! Ridha, Herick, Fawaid
8. Bagaimana hubungan batuk, pilek dan demam dengan kasus? Kak Atun, Yosep,
Novia
9. Apa kompetensi dokter umum untuk kasus ini? Tiwi, Beby
10. Bagaimana edukasi pada pasien? Ridha, Elsa, Bang Jamal
Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya OMA. Mencegah ISPA pada
bayi dan anak-anak, menangani ISPA dengan pengobatan adekuat, menganjurkan
pemberian ASI minimal enam bulan, menghindarkan pajanan terhadap lingkungan
merokok, dan lain-lain (Kerschner, 2007). Beberapa hal yang tampaknya dapat
mengurangi risiko OMA adalah:
1. Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak,
2. Pemberian ASI minimal selama 6 bulan,
3. Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring,
4. Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
5. Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA
11. Bagaimana prognosis pada pasien jika penyakit sudah berjalan satu minggu? Kak
Atun, Fawaid, Moja