Anda di halaman 1dari 18

MALARIA

A. Definisi
Malaria merupakan suatu penyakit akut maupun kronik, yang disebabkan
oleh protozoa genus Plasmodium dengan manifestasi klinis berupa demam,
anemia dan pembesaran limpa. Sedangkan meurut ahli lain malaria
merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebakan
oleh infeksi Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan
ditemukannya bentuk aseksual dalam darah, dengan gejala demam,
menggigil, anemia, dan pembesaran limpa.

B. Etiologi
Malaria disebabkan oleh protozoa darah yang termasuk ke dalam genus
Plasmodium. Plasmodium ini merupakan protozoa obligat intraseluler.
Pada manusia terdapat 4 spesies yaitu Plasmodium vivax, Plasmodium
falciparum, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale. Penularan pada
manusia dilakukan oleh nyamuk betina Anopheles ataupun ditularkan
langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar serta dari
ibu hamil kepada janinnya.

Malaria vivax disebabkan oleh P. vivax yang juga disebut juga sebagai
malaria tertiana. P. malariae merupakan penyebab malaria malariae atau
malaria kuartana. P. ovale merupakan penyebab malaria ovale, sedangkan P.

falciparum menyebabkan malaria falsiparum atau malaria tropika. Spesies


terakhir ini paling berbahaya, karena malaria yang ditimbulkannya dapat
menjadi berat sebab dalam waktu

singkat dapat

menyerang

eritrosit

dalam jumlah besar, sehingga menimbulkan berbagai komplikasi di dalam


organ-organ tubuh.

C. Patofisiologi
Gejala malaria timbul saat pecahnya eritrosit yang mengandung parasit.
Gejala yang paling mencolok adalah demam yang diduga disebabkan oleh
pirogen endogen, yaitu TNF dan interleukin-1. Akibat demam terjadi
vasodilatasi perifer yang mungkin disebabkan oleh bahan vasoaktif yang
diproduksi oleh parasit. Pembesaran limpa disebabkan oleh terjadinya
peningkatan jumlah eritrosit yang terinfeksi parasit dan sisa eritrosit akibat
hemolisis. Juga terjadi penurunan jumlah trombosit dan leukosit neutrofil.
Terjadinya kongesti pada organ lain meningkatkan resiko terjadinya ruptur
limpa.

Anemia terutama disebabkan oleh pecahnya eritrosit dan difagositosis oleh


sistem

retikuloendotelial.

Hebatnya

hemolisis

tergantung

dari

jenis

Plasmodium dan status imunitas pejamu. Anemia juga disebabkan oleh


hemolisis autoimun, sekuestrasi oleh limpa pada eritrosit yang terinfeksi
maupun yang normal, dan gangguan eritropoiesis. Pada hemolisis berat dapat

terjadi

hemoglobinuria

dan

hemoglobinemia.

Hiperkalemia

dan

hiperbilirubinemia juga sering ditemukan.

Kelainan patologik pembuluh darah kapiler pada malaria tropika, disebabkan


karena sel darah merah yang terinfeksi menjadi kaku dan lengket, sehingga
perjalanannya dalam kapiler terganggu dan mudah melekat pada endotel
kapiler

karena

adanya

penonjolan membran eritrosit. Setelah terjadi

penumpukan sel dan bahan pecahan sel, maka aliran kapiler terhambat dan
timbul hipoksi jaringan, terjadi gangguan pada integritas kapiler dan dapat
terjadi perembesan

cairan bahkan perdarahan ke jaringan sekitarnya.

Rangkaian kelainan patologis ini dapat

menimbulkan manifestasi klinis

sebagai malaria serebral, edema paru, gagal ginjal dan malabsorpsi usus.

Pertahanan tubuh individu terhadap malaria dapat berupa faktor yang


diturunkan maupun yang didapat. Pertahanan terhadap malaria terutama
penting untuk melindungi anak kecil

atau

bayi

karena

sifat

khusus

eritrosit yang relatif resisten terhadap masuk dan berkembang- biaknya


parasit malaria. Masuknya parasit tergantung pada interaksi antara
organel spesifik pada merozoit dan struktur khusus pada permukaan eritrosit.

Imunitas humoral dan seluler tehadap malaria didapat sejalan dengan infeksi
ulangan. Namun imunitas ini tidak mutlak dapat mengurangi gambaran klinis
infeksi ataupun dapat menyebabkan asimptomatik

dalam

periode

panjang.

Pada

individu

dengan

malaria

dapat

dijumpai

hipergamaglobulinemia poliklonal, yang merupakan suatu antibodi spesifik


yang diproduksi untuk melengkapibeberapa aktivitas opsonin terhadap
eritrosit yang terinfeksi,

tetapi proteksi ini tidak lengkap dan hanya bersifat sementara bilamana tanpa
disertai infeksi ulangan. Tendensi malaria untuk menginduksi imunosupresi,
dapat diterangkan sebagian oleh tidak adekuatnya respon ini. Antigen yang
heterogen terhadap Plasmodium mungkin juga merupakan

salah

satu

faktor. Monosit/ makrofag merupakan partisipan selular yang terpenting


dalam fagositosis eritrosit yang terinfeksi.

D. Klasifikasi
Menurut Harijanto (2000) pembagian jenis-jenis malaria berdasarkan jenis
plasmodiumnya antara lain sebagai berikut :
a. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum)
Malaria tropika/ falciparum malaria tropika merupakan bentuk yang
paling

berat,

ditandai

dengan

panas

yang

ireguler, anemia,

splenomegali, parasitemia yang banyak dan sering terjadi komplikasi.


Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria tropika menyerang semua bentuk
eritrosit. Disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Plasmodium ini
berupa Ring/ cincin kecil yang berdiameter 1/3 diameter eritrosit
normal dan merupakan satu-satunya spesies yang memiliki 2 kromatin
inti (Double Chromatin).

Klasifikasi penyebaran Malaria Tropika:


Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup.
Infeksi Plasmodium Falcifarum sering kali menyebabkan sel darah
merah yang mengandung parasit menghasilkan banyak tonjolan untuk
melekat pada lapisan endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi
trombosis dan iskemik lokal. Infeksi ini sering kali lebih berat dari
infeksi lainnya dengan angka komplikasi tinggi (Malaria Serebral,
gangguan gastrointestinal, Algid Malaria, dan Black Water Fever).

b. Malaria Kwartana (Plasmoduim Malariae)


Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan
Plasmoduim vivax, lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih
biru. Tropozoit matur mempunyai granula coklat tua sampai hitam dan
kadang-kadang

mengumpul

sampai

membentuk

pita.

Skizon

Plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti


kelopak bunga/ rossete. Bentuk gametosit sangat mirip dengan
Plasmodium vivax tetapi lebih kecil.

Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain
nyeri pada kepala dan punggung, mual, pembesaran limpa, dan malaise
umum. Komplikasi yang jarang terjadi namun dapat terjadi seperti
sindrom nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal lainnya. Pada
pemeriksaan

akan

di

temukan

edema,

hipoproteinemia, tanpa uremia dan hipertensi.

asites,

proteinuria,

c. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)


Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium
malariae, skizonnya hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa
pigmen hitam di tengah. Karakteristik yang dapat di pakai untuk
identifikasi adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi Plasmodium Ovale
biasanya oval atau ireguler dan fibriated. Malaria ovale merupakan
bentuk yang paling ringan dari semua malaria disebabkan oleh
Plasmodium ovale. Masa inkubasi 11-16 hari, walau pun periode laten
sampai 4 tahun. Serangan paroksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih
dari 10 kali walau pun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari.

d. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)


Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit
muda yang diameternya lebih besar dari eritrosit normal. Bentuknya
mirip dengan plasmodium Falcifarum, namun seiring dengan maturasi,
tropozoit vivax berubah menjadi amoeboid. Terdiri dari 12-24
merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli. Gametosit berbentuk oval
hampir memenuhi seluruh eritrosit, kromatinin eksentris, pigmen
kuning. Gejala malaria jenis ini secara periodik 48 jam dengan gejala
klasik trias malaria dan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali
dengan puncak demam setiap 72 jam.

Dari semua jenis malaria dan jenis plasmodium yang menyerang system
tubuh, malaria tropika merupakan malaria yang paling berat di tandai dengan
panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemis yang banyak, dan
sering terjadinya komplikasi.

E. Gambaran Klinis
Secara klinis, gejala malaria infeksi tunggal pada pasienn non-imun terdiri
atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu (paroksisme), yang
diselingi oleh suatu periode (periode laten) bebas demam. Sebelum demam pasien
biasanya merasa lemah, nyeri kepala, tidak ada nafsu makan, mual atau muntah.
Pada pasien dengan infeksi majemuk/ campuran

(lebih

dari

satu

jenis

Plasmodium atau satu jenis Plasmodium tetapi infeksi berulang dalam waktu
berbeda), maka serangan demam terus- menerus (tanpa interval), sedangkan
pada pejamu yang imun gejala klinisnya minimal.
Periode paroksisme biasanya terdiri dari tiga stadium yang berurutan yakni
stadium dingin (cold stage), stadium demam (hot stage) dan stadium berkeringat
(sweating stage). Paroksisme ini biasanya terlihat jelas pada orang dewasa namun
jarang dijiumpai pada usia muda. Pada anak di bawah umur lima tahun, stadium
dingin seringkali bermanifestasi sebagai kejang. Serangan demam yang pertama
didahului oleh masa iinkubasi (intrinsik). Masa inkubasi bervariasi antara 9- 30
hari t ergantung pada spesies parasit. Masa inkubasi ini juga tergantung pada
intensitas infeksi, pengobatan yang pernah didapat sebelumnya, dan derajat
imunitas pejamu. Pada malaria akibat transfusi darah, masa inkubasi Plasmodium
falciparum adalah 10 hari, Plasmodium vivax 16 hari,

dan Plasmodium

malariae 40 hari atau lebih setelah transfusi. Masa inkubasi pada penularan secara
alamiah bagi masing- masing spesies parasit, untuk Plasmodium falciparum 12
hari, Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale 13- 17 hari, dan Plasmodium
malariae 28- 30 hari. Setelah lewat masa inkubasi, pada anak besar dan orang
dewasa timbul gejala demam yang terbagi dalam tiga stadium atau trias malaria

(malaria proxym), yaitu :

1. Stadium dingin
Diawali dengan gejala menggigil atau perasaan yang sangat dingin.
Gigi gemeretak, nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari- jari pucatatau
sianosis, kulit kering dan pucat, pasien mungkin muntah pada anak
sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.
2. Stadium demam
Pada stadium ini pasien merasa kepanasan. Muka merah, kulit kering dan
terasa sangat panas seperti terbakar, nyeri kepala, mual dan muntah, nadi
menjadi kuat lagi. Biasanya pasien menjadi sangat haus dan suhu badan
dapat meningkat sampai 410 C atau lebih. Stadium ini berlangsung antara
2- 12 jam. Demam disebabkan oleh karena pecahnya skizon dalam sel
darah merah yang telah matang dan masuknya merozoit darah ke dalam
aliran darah.
3. Stadium berkeringat
Pada

stadium ini pasien berkeringat banyak sekali, kemudian suhu

badan menurun dengan cepat, kadang- kadang sampai di bawah normal.


Black water fever yang merupakan komplikasi berat, adalah munculnya
hemoglobin pada urin sehingga menyebabkan warna urin berwarna tua atau
hitam. Gejala lain dari black water fever

adalah ikterus dan muntah

berwarna seperti empedu. Black water fever biasanya dijumpai pada mereka
yang menderita infeksi Plasmodium falciparum berulang dengan infeksi yang
cukup berat.2

Anemia merupakan gejala yang sering ditemui pada infeksi malaria, dan lebih
sering ditemukan pada daerah endemik. Kelainan pada limpa akan terjadi

setelah 3 hari dari serangan akut dimana limpa akan membengkak,


nyeri dan hiperemis.
Hampir semua kematian akibat malaria disebabkan oleh P. falciparum. Pada
infeksi

P. falciparum

dapat

menimbulkan

komplikasi umumnya digolongkan

malaria

berat

dengan

sebagai malaria berat yang menurut

WHO didefinisikan sebagai infeksi P. falciparum stadium aseksual dengan


satu atau lebih komplikasi sebagai berikut:
1. Malaria serebral, derajat kesadaran berdasarkan GCS kurang dari 11.
2. Anemia berat (Hb<5 gr% atau hematokrit <15%) pada keadaan hitung
parasit >10.000/l.
3. Gagal ginjal akut (urin kurang dari 400ml/24jam pada orang dewasa atau
<12 ml/kgBB pada anak-anak setelah dilakukan rehidrasi, diserta kelainan
kreatinin >3mg%.
4. Edema paru.
5. Hipoglikemia: gula darah <40 mg%.
6. Gagal sirkulasi/syok: tekanan sistolik <70 mmHg diserta keringat
dingin atau perbedaan temperature kulit-mukosa >1oC.
7. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, saluran cerna dan atau disertai
kelainan laboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler.
8. Kejang berulang lebih dari 2 kali/24jam setelah pendinginan pada
hipertermis.
9. Asidemia (Ph<7,25) atau asidosis (plasma bikarbonat <15mmol/L).

10. Makroskopik hemaglobinuri oleh karena infeksi malaria akut bukan


karena obat antimalaria pada kekurangan

Glukosa

Phospat

Dehidrogenase.
11. Diagnosa post-mortem dengan ditemukannya parasit yang padat pada
pembuluh kapiler jaringan otak.

F. Diagnosis
Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti infeksi malaria
ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik atau tes diagnostic
cepat.
1. Anamnesis
a. Keluhan utama, yaitu demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit
kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot dan pegal-pegal.
b. Riwayat berkunjung dan bermalam lebih kurang 1-4 minggu yang lalu ke daerah
c.
d.
e.
f.

endemik malaria.
Riwayat tinggal di daerah endemik malaria.
Riwayat sakit malaria.
Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir.
Riwayat mendapat transfusi darah.
Selain hal-hal tersebut di atas, pada tersangka penderita malaria berat, dapat

ditemukan keadaan di bawah ini:


1) Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat.
2) Keadaan umum yang lemah.
3) Kejang-kejang.
4) Panas sangat tinggi.
5) Mata dan tubuh kuning.
6) Perdarahan hidung, gusi, tau saluran cerna.
7) Nafas cepat (sesak napas).
8) Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum.
9) Warna air seni seperti the pekat dan dapat sampai kehitaman.
10) Jumlah air seni kurang bahkan sampai tidak ada.
11) Telapak tangan sangat pucat.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Demam (37,5oC)
b. Kunjunctiva atau telapak tangan pucat
c. Pembesaran limpa
d. Pembesaran hati
Pada penderita tersangaka malaria berat ditemukan tanda-tanda klinis sebagai
berikut:
1) Temperature rectal 40oC.
2) Nadi capat dan lemah.
3) Tekanan darah sistolik <70 mmHg pada orang dewasa dan <50 mmHg pada
anak-anak.
4) Frekuensi napas >35 kali permenit pada orang dewasa atau >40 kali permenit
pada balita, dan >50 kali permenit pada anak dibawah 1 tahun.

5) Penurunan kesadaran.
6) Manifestasi perdarahan: ptekie, purpura, hematom.
7) Tanda-tanda dehidrasi.
8) Tanda-tanda anemia berat.
9) Sklera mata kuning.
10) Pembesaran limpa dan atau hepar.
11) Gagal ginjal ditandai dengan oligouria sampai anuria.
12) Gejala neurologik: kaku kuduk, refleks patologis positif.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan dengan mikroskopik
Sebagai standar emas pemeriksaan laboratoris demam malaria pada penderita
adalah mikroskopik untuk menemukan parasit di dalam darah tepi(13).
Pemeriksaan darah tebal dan tipis untuk menentukan:
1) Ada/tidaknya parasit malaria.
2) Spesies dan stadium Plasmodium
3) Kepadatan parasit
Semi kuantitatif:
(-)
: tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB
(+) : ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB
(++) : ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB
(+++) : ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB
(++++): ditemukan >10 parasit dalam 1 LPB
Kuantitatif
Jumlah parasit dihitung permikroliter darah pada sediaan darah
tebal atau sediaan darah tipis.
b. Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test)
Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan
menggunakan metoda immunokromatografi dalam bentuk dipstik.
c. Tes serologi
Tes ini berguna untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau
pada keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai
alat diagnostic sebab antibodi baru terbentuk setelah beberapa hari parasitemia.
Titer >1:200 dianggap sebagai infeksi baru, dan tes >1:20 dinyatakan positif.
G. Penatalaksanaan
Obat anti malaria yang tersedia di Indonesia antara lain klorokuin, sulfadoksinpirimetamin, kina, primakuin, serta derivate artemisin. Klorokuin merupakan obat
antimalaria standar untuk profilaksis, pengobatan malaria klinis dan pengobatan
radikal malaria tanpa komplikasi dalam program pemberantasan malaria, sulfadoksin-

pirimetamin digunakan untuk pengobatan radikal penderita malaria falciparum tanpa


komplikasi. Kina

merupakan obat anti malaria pilihan untuk pengobatan radikal

malaria falciparum tanpa

komplikasi. Selain itu kina juga digunakan untuk

pengobatan malaria berat atau malaria dengan komplikasi. Primakuin

digunakan

sebagai obat antimalaria pelengkap pada malaria klinis, pengobatan radikal dan
pengobatan malaria berat. Artemisin digunakan untuk pengobatan malaria tanpa atau
dengan komplikasi yang resisten multidrugs.
Beberapa obat antibiotika dapat bersifat sebagai antimalaria. Khusus di Rumah
Sakit, obat tersebut dapat digunakan dengan kombinasi obat antimalaria lain, untuk
mengobati penderita resisten multidrugs. Obat antibiotika yang sudah diujicoba sebagai
profilaksis

dan

pengobatan

malaria

diantaranya

adalah

derivate

tetrasiklin,

kloramfenikol, eritromisin, sulfametoksazol-trimetoprim dan siprofloksasin. Obat-obat


tersebut digunakan bersama obat anti malaria yang bekerja cepat dan menghasilkan
efek potensiasi antara lain dengan kina.
1. Pengobatan malaria falciparum
a. Lini pertama
Artesunat+Amodiakuin+Primakuin
Dosis artesunat= 4 mg/kgBB (dosis tunggal), amodiakuin= 10 mg/kgBB
(dosis tunggal), primakuin= 0,75 mg/kgBB (dosis tunggal).
Apabila pemberian dosis tidak memungkinkan berdasarkan berat badan
penderita, pemberian obat dapat diberikan berdasarkan golongan umur. Dosis
makasimal penderita dewasa yan

dapat

diberikan untuk artesunat dan

amodiakuin masing- masing 4 tablet, 3 tablet untuk primakuin.


Tabel Pengobatan Lini Pertama Untuk Malaria falciparum
Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1 bln 2-11 bln
1-4 th
5-9 th
10-14 th
15 th
Jenis obat
Artesunat

1
2
3
4
Amodiakuin

1
2
3
4
Primakuin
I

1
2
2-3
Artesunat

1 utama 2untuk pengobatan


3
4malaria
Kombinasi ini digunakan
sebagai
pilihan
Amodiakuin

1
2
3
4

Hari

II falciparum. Pemakaian
Artesunat

Amodiakuin

III

artesunat

dan
1
1

amodiakuin
2
2

bertujuan untuk
3
4
3
4

membunuh parasit stadium aseksual, sedangkan primakuin bertujuan untuk


membunuh gametosit yang berada di dalam darah(3).
Pengobatan lini kedua malaria falciparum diberikan bila pengobatan lini
pertama tidak efektif.
b. Lini kedua
Kina+Doksisiklin/Tetrasiklin+Primakuin
Dosis kina=10 mg/kgBB/kali (3x/hari selama 7 hari), doksisiklin= 4
mg/kgBB/hr (dewasa, 2x/hr selama 7 hari), 2 mg/kgBB/hr (8-14 th, 2x/hr
selama 7 hari), tetrasiklin= 4-5 mg/kgBB/kali (4x/hr selama 7 hari).
Apabila pemberian dosis obat tidak memungkinkan berdasarkan berat badan
penderita, pemberian obat dapat diberikan berdasarkan golongan umur.
Tabel Pengobatan Lini Kedua Untuk Malaria falciparum
Hari

*
**
***

Jenis obat

Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur


0-11 bln 1-4 th
5- 9 th
10-14 th
*
Kina
3x
3x1
3x
Doksisiklin 2x1**
I
Primakuin
1
2
: dosis diberikan per kgBB
*
Kina
3x
3x1
3x
: 2x50 mg doksisiklin
Doksisiklin 2x1**
:
2x100
mg
doksisiklin
II-VII

15 th
3x2-3
2x1***
2-2
3x2-3
2x1***

2. Pengobatan malaria vivax dan malaria ovale


a. Lini pertama
Klorokuin+Primakuin
Kombinasi ini digunakan sebagai piliha utama untuk pengobatan malaria
vivax

dan

ovale.

Pemakaian

klorokuin

bertujuan

membunuh

parasit

stadium aseksual dan seksual. Pemberian primakuin selain bertujuan untuk


membunuh hipnozoit di sel hati, juga dapat membunuh parasit aseksual di
eritrosit(3).
Dosis total klorokuin= 25 mg/kgBB (1x/hr selama 3 hari), primakuin=
0,25 mg/kgBB/hr (selama 14 hari).
Apabila pemberian dosis obat tidak memungkinkan berdasarkan berat badan
penderita obat dapat diberikan berdasarkan golongan umur, sesuai dengan tabel.

Tabel Pengobatan Lini Kedua Untuk malaria vivax dan malaria ovale
Hari

Jenis obat

Jumlah tablet menurut kelompok umur (dosis tunggal)


0-1 bln
2-11 bln 1-4 th
5-9 th
10-14 th
Klorokuin

1
2
3
Primakui

15 th
3-4
1

I
n
Klorokuin

1
2
3
3-4
Primakui

1
Pengobatan efektif apabila sampai dengan hari ke 28 setelah
II
n
pemberian
obat, ditemukan
keadaan
Klorokuin
1/8
sebagaiberikut: klinis
1 sembuh1(sejak hari2
Primakui

1
(3)
IIIkeempat) dan tidak ditemukan parasit stadium aseksual sejak hari ketujuh .
n
(3)
Pengobatan
tidak efektif
obat:
IV-XIV
Primakui
- apabila-dalam 28 hari
setelah pemberian

Gejala klinis memburuk dan parasit aseksual positif, atau

Gejala
klinis tidak memburuk tetapi parasit aseksual tidak berkurang
n

atau timbul kembali setelah hari ke-14.


Gejala klinis membaik tetapi parasit aseksual timbul kembali antara
hari ke-15 sampai hari ke-28 (kemungkinan resisten, relaps atau infeksi
baru).

b. Lini kedua (pengobatan malaria vivax resisten klorokuin)


Kina+Primakuin
Dosis kina= 10 mg/kgBB/kali (3x/hr selama 7 hari), primakuin= 0,25
mg/kgBB (selama 14 hari).
Dosis obat juga dapat ditaksir dengan menggunakan tabel dosis berdasarkan
golongan umur sebagai berikut:
Tabel Pengobatan Malaria vivax Resisten Klorokuin
Jumlah tablet perhari menurut kelompok umur
0-1 bln 2-11 bln
1-4 th
5-9 th
10-14 th

15 th

Hari diberikan
Jenis obat
: dosis
per kgBB
*
*
1-7
Kina
3x
3x1
3x2
3x3
1-14 Primakuin
- yang -relaps

1
Pengobatan
malaria vivax
Sama dengan regimen sebelumnya hanya dosis primakuin yang ditingkatkan. Dosis
*

klorokuin diberikan 1 kali perhari selama 3 hari, dengan dosis total 25 mg/kgBB dan

primakuin diberikan selama 14 hari dengan dosis 0,5 mg/kgBB/hari. Dosis obat
juga dapat ditaksir dengan menggunakan tabel dosis berdasarkan golongan umur(3).
Tabel Pengobatan Malaria vivax yang Relaps
Hari
Jenis obat
Jenis obat menurut kelompok golongan umur
0-1 bln 2-11 bln
1-4 th
5-9 th
10-14 th 15 th
1
Klorokuin

1
2
3
3-4
Primakui

1
1
2
n
2
Klorokuin

2
3
3-4
Primakui

1
1
2
n
1/8
3
Klorokuin

1
1
2
Primakui

1
1
2
n
4-14
Primakui

1
1
2
n
3. Pengobatan malaria malariae
Klorokuin 1 kali perhari selama 3 hari, dengan dosis total 25 mg/kgBB.
Klorokuin dapat membunuh parasit bentuk aseksual dan seksual P. malariae.
Pengobatan dapat juga diberikan berdasarkan golongan umur penderita.

Tabel pengobatan malaria malariae


Jumlah tablet menurut kelompok golongan umur
0-1 bln 2-11 bln 1-4 th
5-9 th
10-14
Hari

15 th

Jenis obat

I
II

Klorokuin
Klorokuin

1
1

2
2

th
3
3

III

Klorokuin 1/8

3-4
3-4
2

4. Kemoprokfilaksis
Kemoprofilaksis

bertujuan

untuk

mengurangi

resiko

terinfeksi

malaria

sehingga bila terinfeksi maka gejala klinisnya tidak berat. Kemoprofilaksis ini
ditujukan kepada orang yang bepergian ke daerah endemis malaria dalam waktu
yang tidak terlalu lama, seperti turis, peneliti, pegawai kehutanan dan lain-lain.

Untuk kelompok atau individu yang akan bepergian atau tugas dalam jangka
waktu yang lama, sebaiknya menggunakan personal protection seperti pemakaian
kelambu, kawat kassa, dan lain-lain.
Oleh karena P. falciparum merupakan spesies yang virulensinya cukup tinggi maka
kemoprofilaksisnya terutama ditujukan pada infeksi spesies ini. Sehubungan dengan
laporan tingginya tingkat resistensi P. falciparum terhadap klorokuin, maka
doksisiklin menjadi pilihan. Doksisiklin diberikan setiap hari dengan dosis 2
mg/kgBB selama tidak lebih dari 4-6 minggu. Kemoprofilaksis untuk P. vivax
dapat diberikan klorokuin dengan dosis 5 mg/kgBB setiap minggu. Obat tersebut
diminum 1 minggu sebelum masuk ke daerah endemis sampai 4 minggu setelah
kembali.

Tabel Dosis Pengobatan Pencegahan Dengan Klorokuin


Golongan umur (thn)
<1
1-4
5-9
10-14
>14

Jumlah tablet klorokuin (dosis tunggal, 1x/minggu)

1
1
2