Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Ke : 4

Integrasi Proses Nutrisi

Hari,Tanggal:Senin,9 Maret 2015


Tempat: Laboratorium BFM
Asisten:Eka Jatmika D24110034
Januar Ragil P D24110066
Shabrina D W D24110036
Nur Hidayah D251120091

MINERAL
Fani Karina Astrini
D24130090
Kelompok 4/G2

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mineral merupakan suatu zat organik yang terdapat dalam kehidupan alam maupun
dalam makhluk hidup. Di alam, mineral merupakan unsur penting pada tanah, bebatuan, air,
dan udara. Sedangkan pada tubuh makhluk hidup sendiri mineral merupakan salah satu
komponen penyusun tubuh. 4-5% berat badan kita terdiri atas mineral, sekitar 50% mineral
tubuh terdiri atas kalsium, 25% fosfor, dan 25% lainnya terdiri atas mineral lain. Tubuh
memerlukan mineral dari luar karena fungsinya yang penting untuk kelangsungan proses
metabolisme. Mineral tidak dapat dibuat di dalam tubuh hewan, sehingga harus disediakan
dalam ransum baik dalam hijauan, konsentrat, maupun pakan suplemen.
Mineral dibutuhkan ternak untuk berbagai fungsi, seperti pembentukan tulang dan gigi,
pembekuan protein darah atau susu, bagian dari enzim dan protein, regulasi asam basa dan
tekanan osmosis cairan di dalam tubuh, permeabilitas membran, kontrol replikasi dan
diferensiasi sel, dan lain sebagainya.
Mineral yang essensial untuk ternak diklasifikasikan menjadi mineral makro dan
mineral mikro. Mineral makro terdiri dari Ca, P, K, Na, Cl, S, dan Mg. Sedangkan mineral
mikro terdiri dari Fe, Zn, Cu, Mo, Se, I, Mn, Co, Cr, Sn, V, F, Si, Ni, dan As. Pemberian
ransum atau pakan pada ternak harus memperhatikan kandungan dan kualitas mineralnya.
Kurangnya konsumsi mineral secara terus menerus dapat menyebabkan penyakit defisiensi
mineral yang dapat berakibat fatal bagi kesehatan ternak, begitu juga konsumsi yang berlebih
dapat menyebabkan ternak terkena penyakit.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati karakteristik beberapa mineral
(Cu,Fe,Mg,Cl) dan CO2,mengamati perubahan warna sampel yang diberi
perlakuan,mengetahui kandungan mineral dalam sampel berdasarkan analisa kualitatif,dan
mengamati peran Ca2+ dalam proses pembekuan susu dan sari kedelai.

TINJAUAN PUSTAKA
Mineral
Mineral merupakan unsur yang dibutuhan oleh mahluk hidup yang mempunyai
peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ,
maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Unsur ini digolongkan ke dalam mineral makro dan
mineral mikro. Mineral makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari
100 mg sehari, misalnya natrium, klor, kalsium, kalium, magnesium, sulfur dan fosfor,
sedangkan mineral mikro dibutuhkan kurang dari 100 mg sehari, misalnya besi, iodium,
mangan, tembaga, zink, kobalt dan fluor (Almatsier, 2009). Selain itu ada sebuah istilah lain
yang disebut trace elements, yaitu mineral yang dalam keadaan alami berjumlah sangat
sedikit, misalnya barium, brom, stronsium, emas, perak, nikel, aluminium, timah, bismuth,
gallium, silikon dan arsen (Poedjiadi, 2009).

Magnesium (Mg)
Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting. Sekitar 70% dari total
Mg dalam tubuh terdapat dalam tulang atau kerangka (Underwood, 1981), sedangkan 30%
lainnya tersebar dalam berbagai cairan tubuh dan jaringan lunak (Tillman et al., 1989). Mg
dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan
dibutuhkan untuk memperbaiki fungsi sistem saraf (Perry et al., 2003 ). Selain itu Mg
berperan penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid (Girindra, 1988).
Jika mineral Mg yang diberikan pada ternak kurang maka akan menyebabkan iritabilitas
syaraf, convulsion, dan hypomagnesaernia. Namun, jika berlebih juga tidak baik untuk
ternak, karena akan menyebabkan ekskreta basah.
Indikator defesiensi Mg adalah menurunnya kadar Mg dalam plasma menjadi 1,2
1,8 mg/100ml dari kadar normal sebesar 1,8 3,2 mg/100ml (McDowell, 1992). Tempat
utama absorsi Mg pada ternak ruminansia adalah pada bagian retikulorumen, sekitar 25% Mg
diabsorsi oleh hewan dewasa. Jumlah Mg yang diabsorsi menurun seiring dengan penurunan
tingkat mineral di dalam pakan. Dalam kondisi defisiensi status Mg cadangan dalam tubuh
untuk menggantikan sumbangan dari absorpsi Mg yang rendah (McDowell, 1992).
Tembaga (Cu)
Mineral Cu adalah salah satu mineral yang sering dilaporkan defisien pada ternak
ruminansia. Menurut McDowell (1992), defisien Cu dapat menyebabkan diare, pertumbuhan
terhambat, perubahan warna pada rambut dan rapuh serta mudah patahnya tulang-tulang
panjang. Defisiensi sekunder mineral mikro sering dialami oleh ternak ruminansia walaupun
ternak diberi suplemen mineral dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan (Kardaya et al.,
2001).
Unsur Cu diabsorpsi kurang baik oleh ruminansia dalam metabolisme tubuh
(Kardaya, 2000). Meskipun Cu bukan merupakan bagian dari molekul hemoglobin, akan
tetapi Cu ini adalah komponen yang sangat penting untuk pembentukkan sel darah merah dan
menjaga aktivitasnya dalam sirkulasi (Nugroho, 1986). Unsur Cu terdapat dalam plasma
darah, kandungan Cu secara normal dalam plasma darah adalah 0,6 Cu/ml (Underwood,
1981).
Besi (Fe)
Lebih dari 90% Fe yang terdapat dalam tubuh terikat pada protein dan terutama pada
hemoglobin darah mengandung Fe sebanyak 0,34%. Fe juga terdapat dalam mioglobin, hati,
limpa dan tulang. Fe dalam serum darah terdapat dalam bentuk non hemoglobin yang disebut
transferrin atau siderophilin. Pada individu normal hanya 30-40% transferrin yang membawa
Fe, dalam keadaan normal plasma darah mengandung 240 480 mcg% ; pada sapi dewasa
130 140 mcg% (Church, 1991).
Fungsi Fe yang penting adalah untuk absorpsi dan transport O 2 ke dalam sel-sel, Fe
juga merupakan komponen yang aktif dari beberapa enzim yaitu sitokrom perioksidase dan
katalase. Selain itu Fe berfungsi sebagai mediator prosesproses oksidasi (Tillman et al.,

1998). Unsur Fe diabsorpsi sesuai dengan kebutuhan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti status Fe dalam tubuh, umur hewan (Underwood dan Sutlle, 1999), kebutuhan
metabolik tubuh, bentuk komponen zat besi yang terdapat dalam makanan dan ada tidaknya
zat-zat nutrisi lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi (Piliang, 2002). Fe lebih banyak
diabsorpsi oleh hewan yang defisien Fe dibanding hewan yang tercukupi kebutuhan Fe,
karena absorpsi dan metabolisme Fe diatur oleh status Fe pada mukosa usus. Tempat absorpsi
Fe pertama adalah duodenum (Underwood dan Sutlle, 1999).
Karbon dioksida (CO2)
Karbon dioksida adalah hasil metabolisme dalam organisma yang mendapat tenaga dari
penguraian gula atau lemak dengan oksigen sebagai sebagian metabolisma mereka, dalam
proses yang dikenal dengan pernafasan selular. Ini termasuk pada semua tumbuhan, hewan,
kebanyakan fungi dan sebagian bakterium. Karbon dioksida diangkut melalui darah (di mana
banyak berada dalam larutan).
Kandungan karbon dioksida dalam udara segar adalah kurang daripada 1% (sekitar
350 ppm), dalam udara dihembus keluar sekitar 4.5% (Cotton, 1989). Hemoglobin, molekul
utama dalam sel darah merah, dapat mengikat oksigen dan karbon dioksida. Jika kepekatan
CO2 terlalu tinggi, semua hemoglobin dipenuhi karbon dioksida dan tidak ada pengangkutan
oksigen (walaupun terdapat banyak oksigen dalam udara). Akibatnya, orang yang berada
dalam tempat tertutup akan mengalami perasaan sukar bernafas akibat pengumpulan karbon
dioksida.

MATERI DAN METODE


Materi
Alat
Peralatan yang digunakan antara lain tabung reaksi,pipet tetes,potongan kertas
saring,spoit,sampel uji,spot plate,kaca arloji,corong.
Bahan
Bahan yang digunakan antara lain garam Rochele,garam Nitroso-R-Salt,KOH 1
N,Iodium,HCl,larutan kapur 5%,HNO3 2 N,tepung ikan.

Metode
2+
Pengujian Cu dan Fe
Teteskan 1-2 tetes larutan garam Rochele pada potongan kertas saring, kemudian
SO 4
taburkan sampel mineral Cu
, teteskan 1-2 tetes larutan garam Nitroso-R-salt, Amati
perubahan yang terjadi. Ulangi percobaan dengan menggunakan sampel Fe

SO 4

2+
Pengujian Mg

Buat larutan iodium dengan mencampurkan 12,7 g I dan 40 g KI dilarutkan dalam 25


ml aquadest dan diencerkan sampai 100 ml (simpan dalam botol coklat). Teteskan 2-3 tetes
larutan iodium ke dalam spot plate, kemudian campurkan 2-3 tetes larutan KOH 1 N hingga
terjadi warna kuning. Teteskan larutan campuran berwarna kuning tersebut ke atas kertas
SO 4
saring yang berisi sampel mineral Mg
. Amati perubahan yang terjadi. Ulangi
percobaan dengan menggunakan sampel mineral MgO.

Pengujian Cl
Masukkan tepung ikan ke dalam tabung reaksi. Larutkan tepung ikan dengan aquadest.
Saring larutan tepung ikan dengan menggunakan kertas saring ke dalam tabung reaksi yang
NO3
lain. Tambahkan larutan H
2 N untuk mengasamkan. Teteskan 2-3 tetes atau lebih
larutan Ag

NO3

hingga terbentuk endapan putih. Lakukan prosedur yang sama dengan

menggunakan sampel mineral NaCl . Amati perubahan yang terjadi.


Pengujian
Masukkan sampel mineral Ca

CO3

CO2

ke dalam gelas arloji. Teteskan 3-4 tetes larutan

HCl. Catat reaksi yang terjadi.


2+
Pengujian Ca dalam Pembekuan Susu dan Sari Kedelai

Masukkan 1 ml susu murni ke dalam 5 tabung reaksi (beri tanda 1-5). Amati sifat susu.
( OH) 2
Masukkan larutan Ca
sebanyak 2, 4, 6, 8, dan 10 tetes masing-masing ke dalam
tabung susu tersebut. Amati perubahan yang terjadi. Lakukan prsedur yang sama dengan
menggunakan sampel susu skim dan sari kedelai.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Mineral merupakan zat anorganik yang bukan terdiri dari unsur kimia
karbon,hidrogen,oksigen,dan nitrogen.Berdasarkan pada konsentrasi mineral di dalam tubuh
ternak atau jumlah yang dibutuhkan dalam ransum ternak diklasifikasikan menjadi mineral
makro dan mikro.Secara normal,konsentrasi mineral mikro dalam tubuh ternak tidak lebih
dari 50mg/kg dan kebutuhan dalam ransum kurang dari 100mg/kg ransum.Berdasarkan
kegunaannya dalam aktivitasnya hidup,mineral dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu
essensial dan non essensial (Parakasi,1986).
Fungsi mineral secara umum antara lain:untuk pembentukan struktur,untuk fungsi
fisiologis,nerfungsi sebagai katalis,dan sebagai regulator.Ternak memperoleh sebagian
mineral yang dibutuhkannya berasal dari pakan,baik yang bersifat nabati maupun bersifat
hewani.
Tabel 1.Pengujian Mg2+
Nama
MgSO4
MgO

Sebelum
Putih Kristal
Putih Kapur

Sesudah
Coklat
Putih Kapur

Pada pengujian sampel yang mengandung Mg2+ maka dapat diketahui dengan adanya
perubahan warna dari putih menjadi coklat.Hal tersebut terjadi pada MgSO 4 yang memiliki
unsur S yang mempunyai ikatan bebas yang dapat mengikat larutan Iodium dan KOH
sehingga terjadi reaksi perubahan warna coklat.Sedangkan hal tersebut tidak terjadi pada
MgO.Mineral magnesium adalah mineral makro yang sangat penting dalam tubuh.menurut
(Perry,2004),jika mineral Mg yang diberikan pada ternak kurang maka akan menyebabkan
iritabilitas syaraf,colvulsion,dan hypomagnesaemia.Namun,jika berlebih juga tidak baik
untuk ternak karena akan menyebabkan ekskreta basah.
Tabel 2.Pengujian Cu2+ dan Fe2+
Nama
CuSO4
FeSO4

Sebelum
Biru
Hijau

Sesudah
Kuning
Hijau

Pada pengujian Cu2+ dan Fe2+menunjukkan perbedaan warna sebelum dan setelah pengujian.
Cu2+ semula berwarna biru, setelah diuji muncul warna coklat pada serapan kertas saring. Fe 2+
berubah warna dari hijau menjadi hijau (tidak ada perubahan). Literatur Cu merupakan
komponen yang sangat penting dalam pembentukan sel darah dan menjaga aktivitasnya
dalam sirkulasi. Sedangkan Fe berperan dalam absorpsi dan transport O2 ke dalam sel-sel,
dan berfungsi sebagai komponen aktif dari beberapa enzim yaitu sitokrom perioksidase dan
katalase.
Tabel 3.Pengujian CO2
Nama
CaCO3

Sebelum
Serbuk

Sesudah
Buih dan Berasap

Pada pengujian CO2 digunakan sampel CaCO3 yang di uji dengan larutan HCl.Sampel yang
awalnya berbentuk serbuk berwarna putih bereaksi menjadi buih dan berasap setelah ditetesi
HCl.Hal ini terjadi karena adanya reaksi endoterm pada percampuran CaCO 3 dengan HCl
yang menghasilkan CO2,H2O,dan CaCl2.
Serbuk CaCO3 yang diuji dengan larutan HCl mengalami beberapa perubahan setelah
reaksi.Sampel yang tadinya berbentuk serbuk/padatan setelah ditetesi HCl mengeluarkan
gelembung-gelembung gas (berbuih), dan berasap. Reaksi yang terjadi selama pengujian
yakni sebagai berikut :
CaCO3 + 2HCl CO2 + H2O + CaCl2
Gelembung gas yang muncul adalah gas CO2, terdapat H2O sehingga sampel yang
semula berbentuk serbuk menjadi berair, dan terdapat endapan CaCl pada sampel yang diuji.

Tabel 4.Peran Ca2+ terhadap susu murni,susu skim,dan sari kedelai


Nama
Tabung ke
Warna Asal
Ca(OH)2
Susu Murni
1
Putih
2
Kekuningan
2
Putih
4
Kekuningan
3
Putih
6
Kekuningan
4
Putih
8
Kekuningan
5
Putih
10
Kekuningan
Susu Skim
1
Putih
2
2
Putih
4
3
Putih
6
4
Putih
8
5
Putih
10

Endapan
+
+
++
+++
+
++
+++

Susu Kedelai

1
2
3
4
5

Putih
Kekuningan
Putih
Kekuningan
Putih
Kekuningan
Putih
Kekuningan
Putih
Kekuningan

++

+++

10

++++

Pada percobaan ini didapatkan hasil pengendapan yang berbeda-beda pada susu
murni,susu skim,dan sari kedelai.Semakin banyak Ca(OH) 2 yang diteteskan pada susu, maka
endapan yang terbentuk semakin banyak.Endapan pada sari kedelai lebih banyak daripada
susu murni. Hal ini menunjukkan bahwa kadar Calsium pada susu murni lebih baik daripada
susu kedelai. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Hasim dan Martindah (2007) bahwa
air susu sapi jauh lebih sempurna dibandingkan dengan susu nabati, naik ditinjau dari
kandungan maupun absorbilitasnya. Kandungan kalori, kalsium, besi, iodium, fosfor, vitamin
B12 dan vitamin D pada air susu sapi lebih unggul dari susu kedelai. Begitu pula dengan
Johanes (2009),Segelas susu murni (250ml) memenuhi 20% kalsium, sedangkan kandungan
kalsium susu kedelai murni hanya sekitar 150 mg per gelas, yang hanya sekitar seperempat
dari kalsium yang dikandung susu sapi murni.Sedangkan pada susu skim juga sulit terjadi
endapan,hal itu dibuktikan bahwa susu skim baru mengalami pengendapan setelah diteteskan
Ca(OH)2 sebanyak 6 tetes.
Tabel 5.Pengujian ClSampel
NaCl
Tepung Ikan

Sebelum
Kuning
Putih Keruh

Sesudah
Putih
Putih

Endapan
+++
++

Pada pengujian Cl- dengan menggunakan sampel tepung ikan dan NaCl menunjukkan
adanya endapan.Semakin banyak jumlah endapan maka kandungan Cl yang terdapat dalam
sampel semakin banyak pula. Hasil yang didapatkal dibandingkan tepung ikan.Tepung ikan
juga mengandung Cl yang cukup banyak dikarenakan tepung ikan yang digunakan pada
umumnya berasal dari ikan asin yang pengolahannya diberi garam.Fungsi Cl yaitu sebagai
keseimbangan antara asam dan basa, osmoregulasi, dan sekresi cairan. Sedangkan defisiensi
mineral Cl akan mengakibatkan alkalosis.
Tabel 6.Pengujian sampel yang belum teridentifikasi
Sampel
Mineral
Cu/Fe
Mg
Cl

A
B

C
-

Mineral
CO2

CuSO4+CaCO3
MgSO4+CaCO3
Cl

Keterangan : - = tidak ada endapan


+ = endapan sedikit
++ = seperempat
mengendap
+++ = setengah endapan
++++ = endapan penuh
Pada pengujian sampel yang belum teridentifikasi didapatkan bahwa Sampel A mengandung
Cu,Mg,dan CO2.Sampel B hanya mengandung CO 2 saja,sedangkan sampel C mengandung
Mg dan Cl.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa karakteristik beberapa mineral berbeda-beda
dan mengalami perubahan warna. Sampel yang mengandung Mg akan berubah warna dari
putih menjadi coklat,yang mengandung Cu akan berubah dari biru menjadi kuning dan Fe
akan tetap berwarna hijau.Menjadi buih jika ditetesi HCl jika mengandung CO2.Akan terjadi
endapan jika mengandung Ca dan Cl.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID) : PT Gramedia Pustaka Utama.
Church, D. C. 1991. The Ruminal Animal :Digestive,Physiology and Nutrition.Volume 2.New
Jersey (UK) : Prentice Hall.
Cotton,F dan Geoffrey,W.1989.Kimia Organik Dasar.Terjemahan:Sahati Suharto.Jakarta
(ID) : UI Press
Girindra, A. 1998. Biokimia Patologi Hewan. Bogor (ID) : IPB Press.
Kardaya, D. 2000. Pengaruh suplementasi mineral organik (Zn-Proteinat, Cu-Proteinat) dan
amonium molibdat terhadap performans domba lokal. Tesis. Program Pasca Sarjana. Bogor
(ID) : IPB
McDowell, L. R. 1992. Mineral in Animal and Human Nutrition. San Diego (INC) :
Academic Press.
Perry, T. W., A. E. Cullison and R.S. Lowrey. 2003. Feeds and Feeding. Sixth Edition.New
Jersey (USA) : Pearson Education
Poedjiadi, Anna dan Supriyanti, F.M. Titin. 2009. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta (ID) :
Universitas Indonesia (UI-Press).
Tillman, A. D., H. Hartadi, S Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosukujo. 1998.
Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Ke- 6. Yogyakarta (ID) : Gadjah Mada University
Press.
Underwood, E. J. 1981. The Mineral Nutrition of Livestock. Second Edition. London (UK)
:Commonweath Agricultural Bureaux