Anda di halaman 1dari 25

PENDAHULUAN

Hidropneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara dan cairan di dalam
rongga pleura yang mengakibatkan kolapsnya jaringan paru. Cairan ini bisa juga disertai
dengan nanah (empiema) dan hal ini di namakan dengan piopneumotoraks. Piopneumotoraks
diakibatkan oleh infeksi, yang mana infeksinya ini berasal dari mikroorganisme yang
membentuk gas atau dari robekan septik jaringan paru atau esofagus ke arah rongga pleura.
Kebanyakan adalah dari robekan abses subpleura dan sering membuat fistula bronkopleura.
Jenis kuman yang sering terdapat adalah Stafilokokus aureus, Klebsiela, mikobakterium
tuberkulosis dan lain-lain. Etiologi piopneumotoraks biasanya berasal dari paru seperti
pneumonia, abses paru, adanya fistula bronkopleura, bronkiektasis, tuberkulosis paru,
aktinomikosis paru, dan dari luar paru seperti trauma toraks, pembedahan toraks,
torakosentesis pada efusi pleura, abses sub phrenik dan abses hati amuba. Patofisologi dari
empiema itu sendiri yaitu akibat invasi kuman piogenik ke pleura. Hal ini menyebabkan
timbuk keradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat seros. Dengan
bertambahnya sel-sel PMN, baik yang hidup ataupun yang mati dan peningkatan kadar
protein didalam cairan pleura, maka cairan pleura menjadi keruh dan kental. Endapan fibrin
akan membentuk kantungkantung yang akhirnya akan melokalisasi nanah tersebut.
Pencatatan tentang insiden dan prevalensi hidropneumothorak belum ada dilkakukan, namun
insiden dan prevalensi pneumotoraks berkisar antara 2,4 - 17,8 per 100.000 penduduk per
tahun. Menurut Barrie dkk, seks ratio laki-laki dibandingkan dengan perempuan 5:1. Ada
pula peneliti yang mendapatkan 8:1.

Hidropneumotoraks

Page 1

DEFINISI
Hidropneumotoraks adalah suatu keadaan dimana terdapat udara dan cairan di dalam
rongga pleura yang mengakibatkan kolapsnya jaringan paru. Cairan ini bisa juga disertai
dengan nanah (empiema) dan hal ini di namakan dengan piopneumotoraks. Sedangkan
pneumotoraks itu sendiri ialah suatu keadaan, di mana hanya terdapat udara di dalam rongga
pleura yang juga mengakibatkan kolaps jaringan paru (Alsagaff & Hord 2010).
Hidropneumotoraks merupakan suatu kondisi di mana terdapat udara pada cavum
pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura ini tidak berisi udara sehingga paru paru dapat
leluasa mengembang terhadap rongga dada. Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkan
oleh :
1. Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari
alveolus akan memasukin kavum pleura. Pneumotoraks jenis ini disebut closed
pneumotoraks. Apabila kebocoran pleura visceralis berfungsi sebagai katup, maka
udara yang akan masuk saat inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura
pada saat ekspirasi. Akibatnya udara makin lama semakin banyak sehingga
mendorong mediastinum kearah kontralateral dan menyebabkan terjadinya tension
pneumotoraks.
2. Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat hubungan antara
kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang terjadi ini lebih besardari
2/3 diameter trakea, maka udara cendrung lebih melewati lubang tersebut
dibanding traktus respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi, tekanan
dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura
lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru ipsilateral. Saat ekspirasi,
tekanan rongga dada meningkat, akibatnya udara dari kavum pleura keluar
melalui lubang tersebut. Kondisi ini disebut sebagain open pneumotoraks (British
Thoracic Society, 2003).
Menurut Hudak & Gallo, (2006) Hidropneumotoraks dapat dibagi berdasarkan
atas beberapa hal, yaitu :
Berdasarkan kejadian
(1) Pneumotoraks spontan primer
Pneumotoraks

yang

ditemukan

pada

penderita

yang

sebelumnya

tidak

menunjukkan tanda-tanda sakit. Umunya diebabkan oleh pecahnyasuatu bleb sub


pleura yang biasanya terdapat didaerah apeks paru. Faktor resiko utama adalah

Hidropneumotoraks

Page 2

merokok. Pada beberapa kasus faktor herediter juga memegang peran, umunya
penderita berpostur tinggi dan kurus.
(2) Pneumotoraks spontan sekunder
Pneumotoraks yang ditemukan pada penderita yang sebelumnya telah menderita
penyakit, mungkin merupakan komplikasi dari pneumonia, abses paru,
tuberkulosis paru, asma kistafibrosis dan karsinoma bronkus. Terjadi sebagai
komplikasi penyakit paru dasarnya (underlying lung disease). Beberapa penyakit
yang sering menjadi penyeabab pneumotoraks antaralain PPOK tipe emfisema dan
tuberkulosis paru.
(3) Pneumotoraks traumatika
Pneumotoraks yang timbul disebabkan robeknya pleura viseralis maupun pleura
parietalis sebagai akibat dari trauma.
(4) Pneumotoraks artifisialis
Pneumotoraks yang sengaja dibuat dengan memasukkan udara ke dalam rongga
pleura, dengan demikian jaringan paru menjadi kolaps sehingga dapat beristirahat.
Pada zaman dulu pneumotoraks artifisialis sering dikerjakan untuk terapi
tuberkulosis paru.
Berdasarkan Lokalisasi
(a) Pneumotoraks parietalis
(b) Pneumotoraks mediastinalis
(c) Pneumotoraks basalis
Berdasarkan tingkat kolapsnya jaringan paru
(1) Pneumotoraks totalis
Apabila seluruh jaringan paru dari satu hemitoraks mengalami kolaps.
(2) Pneumotoraks parsialis
Apabila jaringan paru yang kolaps hanya sebagian. Derajat kolaps paru pada
pneumothorak totalis dapat dinyatakan dalam persen dengan rumus sebagai berikut:
Rumus mengukur volumenya : (A x B) (a x b) X 100%
Hidropneumotoraks

Page 3

(A x B)
Berdasarkan Jenis Fistel
(1) Pneumotoraks ventil
Di mana fistelnya berfungsi sebagai ventil sehingga udara dapat masuk ke dalam
rongga pleura tetapi tidak dapat ke luar kembali. Akibatnya tekanan udara di
dalam rongga pleura makin lama makin tinggi dan dapat mendorong mediastinum
ke arah kontra lateral.
(2) Pneumotoraks terbuka
Di mana fistelnya terbuka sehingga rongga pleura mempunyai hubungan terbuka
dengan bronkus atau dengan dunia luar; tekanan di dalam rongga pleura sama
dengan tekanan di udara bebas.
(3) Pneumotoraks tertutup
Di mana fistelnya tertutup udara di dalam rongga pleura, terkurung, dan biasanya
akan diresobsi spontan. Pembagian pneumotoraks berdasarkan jenis fistelnya ini
sewaktu-waktu dapat berubah. Pneumotoraks tertutup sewaktu-waktu dapat
berubah menjadi pneumotoraks terbuka, dan dapat pula berubah menjadi
pneumotoraks ventil.
EPIDEMIOLOGI
Pencatatan tentang insiden dan prevalensi hidropneumothorak belum ada dilkakukan,
namun insiden dan prevalensi pneumotoraks berkisar antara 2,4 - 17,8 per 100.000 penduduk
per tahun. Menurut Barrie dkk, seks ratio laki-laki dibandingkan dengan perempuan 5:1. Ada
pula peneliti yang mendapatkan 8:1. Pneumotoraks lebih sering ditemukan pada hemitoraks
kanan daripada hemitoraks kiri. Pneumotoraks bilateral kira-kira 2% dari seluruh
pneumotoraks spontan. Insiden dan prevalensi pneumotoraks ventil 3 5% dari
pneumotoraks spontan. Kemungkinan berulangnya pneumotoraks menurut James dan Studdy
20% untuk kedua kali,dan 50% untuk yang ketiga kali. Insiden empiema di bagian Paru
RSUD. Dr. Soetomo Surabaya, pada tahun 1987 dirawat 3,4% dari 2.192 penderita rawat
inap. Dengan perbandingan pria:wanita = 3,4:1
ETIOLOGI
Hidropneumotoraks

Page 4

Hidropneumotoraks spontan terjadi oleh karena pecahnya bleb atau kista kecil yang
diameternya tidak lebih dari 1-2 cm yang berada di bawah permukaan pleura viseralis, dan
sering ditemukan di daerah apeks lobus superior dan inferior. Terbentuknya bleb ini oleh
karena adanya perembesan udara dari alveoli yang dindingnya ruptur melalui jaringan
intersisial ke lapisan jaringan ikat yang beradadi bawah pleura viseralis. Sebab pecahnya
dinding alveolus ini belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga ada dua faktor sebagai
penyebabnya.
1) Faktor infeksi atau radang paru.
Infeksi atau radang paru walaupun minimal akan membentuk jaringan parut pada
dinding alveoli yang akan menjadi titik lemah.
2) Tekanan intra alveolar yang tinggi akibat batuk atau mengejan.
Mekanisme ini tidak dapat menerangkan kenapa pneumotoraks spontan sering terjadi
pada waktu penderita sedang istirahat. Dengan pecahnya bleb yang terdapat di bawah
pleura viseralis, maka udara akan masuk ke dalam rongga pleura dan terbentuklah
fistula bronkopleura. Fistula ini dapat terbuka terus, dapat tertutup, dan dapat
berfungsi sebagai ventil.
3) Robeknya pleura Visceralis
Sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari alveolus akan memasuki kavum
pleura. Hidropneumotoraks jenis ini disebut sebagai close pneumotoraks. Apabila
kebocoran pleura visceralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat
inspirasi tak akan dapat keluar dari kavun pleura pada saat ekspirasi. Akibatnya udara
semakin lama semakin banyak sehingga mendorong mediastinum kearah kontralateral
dan menyebabkan terjadinya tension hidropneumotoraks.
4) Robeknya dinding dada dan pleura parietalis
Sehingga terdapat hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang
yang terjadi lebih besar dari 2/3 daimeter trakea, maka udara cenderung lebih melewati
lubang tersebut dibanding traktus respiratorius yang seharusnya, pada saat inspirasi
tekanan dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura
lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru ipsilateral. Saat ekspirasi, tekanan
rongga dada meningkat, akibatnya udara dari kavum pleua keluar melalui lubang

Hidropneumotoraks

Page 5

tersebut.

Kondisi

ini

disebut

sebagai

open

hidropneumotorax

(Darmanto,

Djojodibroto,2009).
PATOFISIOLOGI
Paru-paru dibungkus oleh pleura parietalis dan pleura visceralis. Diantara pleura
parietalis dan visceralis terdapat cavum pleura. Cavum pleura normal berisi sedikit cairan
serous jaringan.Tekanan intrapleura selalu berupa tekanan negatif. Tekanan negatif pada
intrapleura membantu dalam proses respirasi. Proses respirasi terdiri dari 2 tahap : Fase
inspirasi dan fase eksprasi. Padafase inspirasi tekanan intrapleura - 9 s/d - 12 cmH2O;
sedangkan pada fase ekspirasi tekanan intrapleura: - 3 s/d - 6 cmH2O. Pneumotorak adalah
adanya udara pada cavum pleura. Adanya udara pada cavum pleura menyebabkan tekanan
negatif pada intrapleura tidak terbentuk. Sehingga akan mengganggu pada proses respirasi.
Pneumotorak dapat dibagi berdasarkan penyebabnya.
a. Pneumotorak spontan oleh karena : primer (ruptur bleb), sekunder (infeksi,
keganasan), neonatal.
b. Pneumotorak yang di dapat oleh karena : iatrogenik, barotrauma, trauma.
Pneumotorak dapat dibagi juga menurut gejala klinis:
a. Pneumotorak simple : tidak diikuti gejala shock atau pre-shock.
b. Tension Pnuemotorak : diikuti gejala shock atau pre-schock
Pneumotorak dapat dibagi berdasarkan ada tidaknya hubungan dengan luar
menjadi :
a. Open pneumotorak.
b. Closed pneumotorak Secara garis besar ke semua jenis pneumotorak mempunyai
dasar patofisiologi yang hampir sama.
Pneumotorak

spontan,

closed

pneumotorak,

simple

pneumotorak,

tension

pneumotorak, dan open pneumotorak. Pneumotorak spontan terjadi karena lemahnya dinding
alveolus dan pleura visceralis. Apabila dinding alveolus dan pleura viceralis yang lemah ini
pecah, maka akan ada fistel yang menyebabkan udara masuk ke dalam cavum pleura.
Mekanismenya pada saat inspirasi rongga dada mengembang, disertai pengembangan cavum
pleura yang kemudian menyebabkan paru dipaksa ikut mengembang, seperti balon yang
dihisap. Pengembangan paru menyebabkan tekanan intraalveolar menjadi negatif sehingga
Hidropneumotoraks

Page 6

udara luar masuk. Pada pneumotorak spontan, paru-paru kolpas, udara inspirasi ini
bocor masuk ke cavum pleura sehingga tekanan intrapleura tidak negatif. Pada saat inspirasi
akan terjadi hiperekspansi cavum pleura akibatnya menekan mediastinal ke sisi yang sehat.
Pada saat ekspirasi mediastinal kembali lagi ke posisi semula. Proses yang terjadi ini dikenal
dengan mediastinal flutter.
Pneumotorak ini terjadi biasanya pada satu sisi, sehingga respirasi paru sisi sebaliknya
masih bisa menerima udara secara maksimal dan bekerja dengan sempurna. Terjadinya hiper
ekspansi cavum pleura tanpa disertai gejala pre-shock atau shock dikenal dengan simple
pneumotorak. Berkumpulnya udara pada cavum pleura dengan tidak adanya hubungan
dengan lingkungan luar dikenal dengan closed pneumotorak. Pada saat ekspirasi, udara juga
tidak dipompakan balik secara maksimal karena elastic recoil dari kerja alveoli tidak bekerja
sempurna. Akibatnya bilamana proses ini semakin berlanjut, hiperekspansi cavum pleura
pada saat inspirasi menekan mediastinal ke sisi yang sehat dan saat ekspirasi udara terjebak
pada paru dan cavum pleura karena luka yang bersifat katup tertutup terjadilah penekanan
vena cava, shunting udara ke paru yang sehat, dan obstruksi jalan napas. Akibatnya dapat
timbulah gejala pre-shock atau shock oleh karena penekanan vena cava. Kejadian ini dikenal
dengan tension pneumotorak. (Hudak, C.M. 2010)
Pada open pneumotorak terdapat hubungan antara cavum pleura dengan lingkunga
luar. Open pneumotorak dikarenakan trauma penetrasi. Perlukaan dapat inkomplit (sebatas
pleura parietalis) ataukomplit (pleura parietalis dan visceralis). Bilamana terjadi open
pneumotorak inkomplit pada saat inspirasi udara luar akan masuk kedalam cavum pleura.
Akibatnya paru tidak dapat mengembang karena tekanan intrapleura tidak negatif. Efeknya
akan terjadi hiperekspansi cavum pleura yang menekan mediastinal ke sisi paru yang sehat.
Saat ekspirasi mediastinal bergeser kemediastinal yang sehat. Terjadilah mediastinal flutter.
Bilamana open pneumotorak komplit maka saat inspirasi dapat terjadi hiper ekspansi cavum
pleura mendesak mediastinal ke sisi paru yang sehat dan saat ekspirasi udara terjebak pada
cavum pleura dan paru karena luka yang bersifat katup tertutup. Selanjutnya terjadilah
penekanan vena cava, shunting udara ke paru yang sehat, dan obstruksi jalan napas.
Akibatnya dapat timbulah gejala pre-shock atau shock oleh karena penekanan venacava.
Kejadian inidikenal dengan tension pneumotorak (Hudak, C.M. 2010)
MANIFESTASI KLINIS

Hidropneumotoraks

Page 7

Tanda dan gejala yang timbul pada Pneumotoraks tergantung pada besarnya
kerusakan yang terjadi pada sub pleura dan ada tidaknya komplikasi penyakit paru. Gejala
yang utama adalah berupa rasa sakit yang tiba - tiba bersifat unilateral diikuti sesak napas.
Gejala ini lebih mudah ditemukan bila penderita melakukan aktivitas berat. Tapi pada
sebagian kasus gejala gejala masih dapat ditemukan pada aktivitas biasa atau waktu
istirahat. Selain itu terdapat gejala klinis yang lain yaitu suara melemah, nyeri menusuk pada
dada waktu inspirasi, kelemahan fisik. Pada tahap yang lebih berat gejala semakin lama akan
semakin memberat, penderita gelisah sekali, trakea dan mediastinum dapat mendorong kesisi
kontralateral. Gerakan pernafasan tertinggi pada sisi yang sakit fungsi respirasi menurun,
sianosis disertai syok oleh karena aliran darah yang terganggu akibat penekanan oleh udara,
dan curah jantung menurun
a. Biasanya akan ditemukan adanya nyeri dada yang terjadi secara tiba-tiba, nyerinya
tajam dan dapat menimbulkan rasa kencang di dada.
b. Nafas yang pendek
c. Nafas yang cepat
d. Batuk
e. Lemas
f. Pada kulit bisa ada keluhan sianosis
Manifestasi Klinis (Barbara Engram, 1997)
1. Pneumotoraks tertutup :
-

Nyeri tajam pada sisi yang sakit sewaktu bernafas

Disnea dan takipnea

Penggunaan otot asesori pernafasan

Takikardi

Diaforesis

Gelisah dan agitasi

Bunyi hipertimpani diatas daerah yang sakit

Luka memar pada dada

Tidakadanya bunyi nafas seirama dengan gerakan dinding dada

2. Pneumotoraks tension :
-

Distensi vena leher

Kemungkinan emfisesma subkutan

Hidropneumotoraks

Page 8

Manifestasi lain seperti pada pneumotoraks tertutup

3. Pneumotoraks terbuka
-

Observasi luka dada terbuka terhadap bunyi seperti hisapan

Manifestasi lain seperti pada pneumotoraks tertutup

4. Hemotoraks
-

Pekak dengan perkusi di atas sisi yang sakit

Manifestasi lain seperti pada pneumotoraks tertutup

DIAGNOSIS
Anamnesis
Biasanya ditemukan anamnesis yang khas, yaitu rasa nyeri pada dada seperti ditusuk,
disertai sesak nafas dan kadang-kadang disertai dengan batukbatuk.Rasa nyeri dan sesak
nafas ini makin lama dapat berkurang atau bertambah hebat. Berat ringannya perasaan sesak
nafas ini tergantung dari derajat penguncupan paru, dan apakah paru dalam keadaan sakit
atau tidak. Pada penderita dengan COPD, pneumotoraks yang minimal sekali pun akan
menimbulkan sesak nafas yang hebat. Sakit dada biasanya datang tiba-tiba seperti ditusuktusuk se tempat pada sisi paru yang terkena, kadang-kadang menyebar ke arah bahu,
hipokondrium dan skapula. Rasa sakit bertambah waktu bernafas dan batuk. Sakit dada
biasanya akan berangsur-angsur hilang dalam waktu satu sampai empat hari. Batuk-batuk
biasanya merupakan keluhan yang jarang bila tidak disertaipenyakit paru lain; biasanya tidak
berlangsung lama dan tidak produktif. Keluhan.keluhan tersebut di atas dapat terjadi
bersama-sama atau sendirisendiri, bahkan ada penderita pneumotoraks yang tidak
mempunyai keluhan sama sekali. Pada penderita pneumotoraks ventil, rasa nyeri dan sesak
nafas ini makin lama makin hebat, penderita gelisah, sianosis, akhirnya dapat mengalami
syok karena gangguan aliran darah akibat penekanan udara pada pembuluh darah
dimediastinum.
Pemeriksaan fisik
a) Inspeksi, mungkin terlihat sesak nafas, pergerakan dada berkurang, batukbatuk,
sianosis serta iktus kordis tergeser kearah yang sehat.
b) Palpasi, mungkin dijumpai spatium interkostalis yang melebar Stemfremitus melemah,
trakea tergeser ke arah yang sehat dan iktus kordis tidak teraba atau tergeser ke arah
yang sehat.
c) Perkusi; Mungkin dijumpai sonor, hipersonor sampai timpani.
Hidropneumotoraks

Page 9

d) Auskultasi; mungkin dijumpai suara nafas yang melemah, sampai menghilang.


Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan Rontgen foto toraks. Pada rontgen foto
toraks P.A akan terlihat garis penguncupan paru yang halus seperti rambut. Apabila
pneumotoraks disertai dengan adanya cairan di dalam rongga pleura, akan tampak gambaran
garis datar yang merupakan batas udara dan caftan. Sebaiknya rontgen foto toraks dibuat
dalam keadaan ekspirasi maksimal.
Pemeriksaan Diagnostik
a. Foto Rontgen Gambaran radiologis yang tampak pada foto rontgen kasus
hidropneumotoraks antara lain:
1) Bagian hidropneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps akan
tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru yang kolaps
tidak membentuk garis, akan tetapi berbentuk lobuler sesuai dengan lobus
paru.
2) Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa radioopaque yang
berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan kolaps paru yang luas sekali.
Besar kolaps paru tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang
dikeluhkan.
3) Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium intercostals
melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah. Apabila ada
pendorongan jantung atau trakea ke arah paru yang sehat, kemungkinan besar
telah terjadi hidropneumotoraks ventil dengan tekanan intra pleura yang
tinggi.
4) Pada pneumotoraks perlu diperhatikan kemungkinan terjadi keadaan sebagai
berikut
a) Pneumomediastinum, terdapat ruang atau celah hitam pada tepi jantung,
mulai dari basis sampai keapeks. Hal ini terjadi apabila pecahnya fistel
mengarah mendekati hilus, sehingga udara yang dihasilkan akan terjebak
di mediastinum.
b) Emfisema subkutan, dapat diketahui bila ada rongga hitam dibawah kulit.
Hal ini biasanya merupakan kelanjutan dari pneumomediastinum. Udara
yang tadinya terjebak di mediastinum lambat laun akan bergerak menuju
daerah yang lebih tinggi, yaitu daerah leher. Di sekitar leher terdapat
banyak jaringan ikat yang mudah ditembus oleh udara, sehingga bila

Hidropneumotoraks

Page 10

jumlah udara yang terjebak cukup banyak maka dapat mendesak jaringan
ikat tersebut, bahkan sampai ke daerah dada depan dan belakang.
c) Bila disertai adanya cairan di dalam rongga pleura, maka akan tampak
permukaan cairan sebagai garis datar di atas diafragma Foto Rontegen
hidropneumotoraks

(PA),

bagian

yang

ditunjukkan

dengan

anak

panahmerupakan bagian paru yang kolaps


b. Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi meskipun pada
kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal napas yang
berat secara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%.
c. CT-scan thorax. CT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan antara
emfisema bullosa dengan pneumotoraks, batas antara udara dengan cairan intra
dan ekstrapulmoner dan untuk membedakan antara pneumotoraks spontan primer
dan sekunder. Komplikasi dapat berupa hemopneumotorak, pneumomediastinum
dan emfisemakutis, fistel bronkopleural dan empiema (Sjahriar Rasad, 2009).
Penatalaksanaan Medik
Tindakan pengobatan hidropneumotoraks tergantung dari luasnya permukaan
hidropneumotoraks. Tujuan dari penatalaksanaan ini yaitu untuk mengeluarkan udara dari
rongga pleura, sehingga paru-paru bisa kembali mengembang. Pada hidropneumotoraks yang
kecil biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, karena tidak menyebabkan masalah
pernafasan yang serius dan dalam beberapa hari udara akan diserap. British Thoracic Society
dan American College of Chest Physicians telah memberikan rekomendasi penanganan
hidropneumotoraks adalah :
a. Observasi dan pemberian tambahan oksigen.
Tindakan ini dilakukan apabila luas pneumotoraks <15% dari hemitoraks. Apabila
fistula dari alveoli ke rongga pleura telah menutup, udara dalam rongga pleura perlahan-lahan
akan diresorbsi. Laju resorbsinya diperkirakan 1,25% dari sisi pneumotoraks perhari. Laju
resorbsi tersebut akan meningkat jika diberikan tambahan oksigen. Observasi dilakukan
dalam beberapa hari (minggu) dengan foto dada serial tiap 12-24 jam selama 2 hari bisa
dilakukan dengan atau tanpa harus dirawat dirumah sakit. Jika pasien dirawat dirumah sakit
dianjurkan untuk memberikan tambahan oksigen. Pasien dengan luas pneumotoraks kecil
unilateral dan stabil, tanpa gejala diperbolehkan berobat jalan dandalam 2-3 hari pasien harus
control lagi

Hidropneumotoraks

Page 11

b. Aspirasi sederhana dengan jarum dan pemasangan tube torakostomi dengan


atau tanpa pleurodesis.
Tindakan ini dilakukan seawal mungkin pada pasien pneumotoraks yang
luasnya>15%.

Tindakan

ini

bertujuan

mengeluarkan

udara

drongga

pleura

(dekompresi).Tindakan dekompresi ini dapat dilakukan dengan cara :


1) Menusukkan jarum melalui dinding dada sampai masuk rongga pleura, sehingga
tekanan udara positif akan keluar melalui jarum tersebut.
2) Membuat hubungan dengan udara luar melalui saluran kontra ventil, yaitu dengan :
a) Jarum infuse set ditusukkan ke dinding dada sampai masuk rongga pleura,
kemudian ujung pipa plastik dipangkal saringan tetesan dipotong dan
dimasukkan ke dalam botol berisi air kemudian klem dibuka, maka akan
timbul gelembung-gelembung udara didalam botol.
b) Jarum abbakoth no 14 ditusukkan ke rongga pleura dan setelah mandarin
di cabut, dihubungkan dengan pipa infuse set, selanjutnya.
c) Water sealed drainage (WSD)
Pipa khusus (kateter urin) yang steril dimasukkan kerongga pleura dengan
perantaraan trokar atau klem penjepit. Sebelum trokar dimasukkan ke rongga pleura,
terlebih dahulu dilakukan insisi kulit pada ruang antar sela iga ke enam pada linea
aksilaris media. Insisi kulit juga bisa dilakukan pada ruang antar iga kedua pada linea
mid klavikula. Sebelum melakukan insisi kulit, daerah tersebut harus dibersihkan
cairan disinfektan dan dilakukan injeksi anastesi local dengan lidokain atau prokain
2% dan kemudian ditutup dengan kain duk steril. Setelah trokar masuk kedalam
rongga pleura, pipa khusus (kateter urin) segera dimasukkan ke rongga pleura dan
kemudian trokar dicabut sehingga hanya pipa khusus itu yang masih tinggal di ruang
pleura.
Pemasukan pipa khusus tersebutdiarahkan ke bawah jika lubang insisi kulitnya
ada diruang antar iga kedua. Pipa khusus atau kateter tersebut kemudian dihubungkan
dengan pipa yang lebih panjangdan terakhir dengan pipa kaca yang dimasukkan ke
dalam air di dalam botol. Masuknya pipa kaca ke dalam air sebaiknya 2 cm dari
permukaan air, supaya gelembung udara mudah keluar. Apabila paru sudah
mengembang penuh dantekanan rongga pleura sudah negative, maka sebelum dicabut
dilakukan uji coba dengan menjepit pipa tersebut selama 24 jam.
Tindakan selanjutnya adalah melakukan evaluasi dengan foto dada, apakah
paru mengembang dan tidak mengempis lagi atau tekanan rongga pleura menjadi
Hidropneumotoraks

Page 12

positif lagi. Apabila tekanan rongga pleura menjadi positif lagi maka pipa tersebut
belum dapat dicabut. Bilaparu sudah mengembang maka WSD dicabut. Pencabutan
WSD dilakukan saatpasien dalam keadaan ekspirasi maksimal
3) Torakoskopi dengan pleurodesis dan penanganan terhadap adanya bleb/bulla4.
4) Torakotomi

WATER SEAL DRAINAGE


1. Pengertian
Water seal drainagee (WSD) adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk
mengeluarkan cairan dan udara melalui selang dada dan mencegah aliran balik.

2. Tujuan
Tujuan dilakukan pemasangan water seal drainage adalah :
1.

Memungkinkan cairan ( darah, cairan, pus ) keluar dari ruang pleura

2.

Memungkinkan udara keluar dari ruang pleura

3.

Mencegah udara masuk kembali (terhisap) ke ruang pleura

4.

Mempertahankan agar udara tetap mengembang dengan jalan


mempertahankan tekanan negatif pada intrapleura.
3. Indikasi
Indikasi dari pemasangan water seal drainage adalah :

1.

Pneumothoraks, adanya udara dalam rongga pleura

2.

Hemothoraks, adanya darah dalam rongga pleura

3.

Effusi pleura, adanya penimbunan cairan dalam rongga pleura

4.

Empiema, adanya effusi pleura yang mengandung pus.

5.

Thoracotomy surgical

4. Prinsip Water Seal Drainage


Prinsip yang digunakan pada water seal drainage adalah :
a. Gravitasi
Udara dan cairan mengalir dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah.

Hidropneumotoraks

Page 13

b. Tekanan negatif
Udara atau cairan dalam rongga dada menghasilkan tekanan positif (763 mmHg atau
lebih) dalam rongga pleura. Udara dan cairan pada water seal pada selang dada menghasilkan
tekanan positif yang kecil (761 mmHg ). Sebab udara dan cairan bergerak dari tekanan yang
lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah, maka udara dan cairan akan berpindah dari
tekanan positif yang lebih tinggi pada rongga pleura ke tekanan positif yang lebih rendah
yang dihasilkan oleh water seal.
c. Suction
Yaitu suatu kekuatan tarikan yang lebih kecil dari pada tekanan atmosfir (760 mmHg).
Suction dengan kekuatan negatif 20 cmH2O menghasilkan tekanan subatmosfer 746 mmHg
sehingga udara atau cairan berpindah dari tekanan lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah.
d. Water seal
Tujuan utama dari water seal adalah membiarkan udara keluar dari rongga pleura dan
mencegah udara dari atmosfer masuk ke rongga pleura. Botol water seal diisi dengan cairan
steril yang didalamnya terdapat selang yang ujungnya terendam 2 cm. Cairan ini
memberikan batasan antara tekanan atmosfer dengan tekanan subatmosfer (normal 754-758
mmHg). Selang yang terendam 2 cm itu menghasilkan tekanan positif sebesar 1,5 mmHg
semakin dalam selang water seal terendam air semakin besar tekanan positif yang dihasilkan.
Pada saat expirasi, tekanan pleura lebih positif sehingga udara dan air dari rongga pleura
begerak masuk ke botol. Pada saat inspirasi tekanan pleura lebih negatif sehingga water seal
mencegah udara atmosfer masuk ke rongga pleura.

Hidropneumotoraks

Page 14

5. Tipe sistem drainage


Ada beberapa tipe sistem drainase, yaitu :
a. Sistem satu botol
Merupakan sistem drainase dada yang paling sederhana. Terdiri dari botol steril rapat
udara yang berisi 100 ml air steril atau saline. Bagian penutup botol memiliki dua lubang.
Selang udara yang pendek merupakan lubang udara, yang memungkinkan udara dari ruang
pleura keluar dan untuk mencegah tekanan yang terbentuk pada rongga pleura. Satu lubang
dengan ujung selang yang panjang masuk ke air sekitar 2 cm, sehingga ia bertindak sebagai
water seal. Ujung selang tersebut dihubungkan ke tubing drainase dada pasien. Botol
bertindak sebagai ruang pengumpul dan ruang water seal. Undulasi pada sistem mengikuti
irama pernafasan, meningkat saat inspirasi dan turun saat ekspirasi.
Keuntungan sistem satu botol :
-Penyusunan sederhana
-Mudah untuk pasien untuk yang dapat jalan

Hidropneumotoraks

Page 15

Kerugian sistem satu botol :


-Saat drainase dada mengisi botol, lebih banyak kekuatan diperlukan untuk
memungkinkan udara dan cairan pleura untuk keluar dari rongga dada masuk
kebotol.
-Campuran darah drainase dan udara menimbulkan campuran busa dalam botol yang
membatasi garis pengukuran drainase.
-Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.

b. Sistem dua botol


Pada sistem dua botol, botol pertama sebagai wadah penampung dan yang kedua
bertindak sebagai water seal. Botol pertama bersambungan dengan selang drainase. Botol ini
mulanya kosong dan hampa udara. Selang udara yang pendek pada botol pertama
bersambungan dengan selang yang panjang pada botol kedua, yang menimbulkan water seal
pada botol kedua. Cairan dari ruang pleura mengalir masuk kedalam botol pertama dan udara
dari ruang pleura ke water seal pada botol kedua.
Keuntungan sistem dua botol :
-Mempertahankan water seal pada tingkat konstan.
-Memungkinkan observasi dan pengukuran drainase yang lebih baik
Kerugian sistem dua botol :
-Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol.

Hidropneumotoraks

Page 16

c. Sistem dua botol dengan suction


Sistem dua botol dapat disambungkan ke suction. Botol pertama selain menampung
drainase juga bertindak sebagai water seal seperti sistem satu botol. Botol kedua merupakan
botol pengontrol suction. Lubang untuk atmosfir ditempatkan pada botol kedua. Sistem ini
memliki keuntungan dari suction tetapi memiliki kerugian peningkatan tekanan dari tingkat
water seal ketika drainase meningkat.
d. Sistem tiga botol
Pada sistem tiga botol, botol pertama menampung drainase dari ruang pleura, botol
kedua bertindak sebagai water seal dan botol ke tiga merupakan botol pengontrol suction.
Pada sistem ini yang penting kedalaman selang dibawah air pada botol ketiga dan bukan
jumlah penghisap di dinding yang menentukan jumlah penghisapan yang diberikan pada
selang dada. Jumlah penghisap di dinding yang diberikan pada botol ke tiga harrus cukup
untuk menciptakan putaran lembut gelembung udara dalam botol. Gelembung kasar
menyebabkan kehilangan air, mengubah tekanan penghisap dan meningkatkan tingkat
kebisingan dalam ruangan.
Keuntungan sistem tiga botol :
- Memungkinkan akumulasi drainase dan keakuratan pencatatan jumlah drainase
- Tingkat water seal stabil
- Suction terkontrol
Kerugian sistem tiga botol :
- Lebih kompleks, lebih banyak kesempatan untuk terjadinya kesalahan dalam pemeliharaan
dan perakitan.
- Ambulasi dan transfer pasien sulit dan beresiko.
Hidropneumotoraks

Page 17

e. Sistem drainase sekali pakai ( pleur evac)


Sistem tiga ruang yang memiliki ruang drainase, water seal dan suction yang
terpisah.Banyak fasilitas kesehatan menggunakan drainase pleur evac sebagai ganti sistem
tiga botol.
Keuntungan drainase pleur evac :
-Bahan dari plastik sehingga tidak mudah pecah seperti botol
-Bersifat disposible, bentuk tunggal, ringan dan mudah dibawa-bawa.
Kerugian drainase pleur evac :
-Harga mahal
-Kehilangan water seal dan keakuratan pengukuran drainase bila unit terbalik.

Hidropneumotoraks

Page 18

6. Monitoring dan perawatan pasien yang terpasang sistem water seal drainage
a. Monitor tanda-tanda vital khususnya kecepatan, kedalaman dan pola nafas setiap 2 jam
atau sesuai kebutuhan, kaji kesimetrisan suara nafas.
b. Observasi selang water seal
Selama inspirasi, cairan dalam botol terhisap masuk ke selang water seal beberapa
sentimeter sebab adanya penurunan tekanan intrapleura. Sebaliknya selama ekspirasi
peningkatan tekanan intrapleura memaksa cairan balik ke selang. Fluktuasi atau pergerakkan
cairan bolak balik (tidalling) dalam selang water seal menunjukkan pergerakkan ventilasi
seseorang. Oleh karena itu saat tidalling terjadi, selang drainase dalam keadaan paten, dan
sistem drainase berfungsi semestinya. Tidalling stop saat paru telah mengembang kembali
atau jika selang drainase kinking atau terdapat obstruksi. Jika tidalling tidak terjadi :

Cek untuk meyakinkan bahwa selang tidak kinking atau tertekan.


Ubah posisi pasien
Anjurkan pasien untuk nafas dalam dan batuk

c. Observasi selang udara ( selang yang pendek)


Yakinkan bahwa selang ini tetap terbuka ke atmosfer untuk memungkinkan udara
intrapleura keluar dari botol. Jika selang udara tersumbat, udara intrapleura yang
terperangkap dalam botol penampung, meningkatkan tekanan dalam botol. Jika tekanan
menjadi cukup besar, ia mencegah drainase udara dan cairan dari rongga pleura,
mempercepat terjadinya tension pneumothorak dan mengakibatkan pergeseran mediastinal.
d. Observasi cairan dalam botol water seal
Gelembung dalam botol water seal disebabkan oleh udara yang keluar dari rongga
pleura masuk ke dalam cairan dalam botol. Gelembung yang intermiten adalah normal. Ini
mengindikasikan bahwa sistem melakukan satu dari tujuannya seperti mengeluarkan udara
dari rongga pleura. Gelembung yang intermiten bisa terjadi saat ekspirasi normal seseorang
karena ekspirasi meningkatkan tekanan intrapleura dan mendorong udara melalui selang.
Gelembung yang terus menerus selama inspirasi dan ekspirasi mengindikasikan bahwa udara
bocor masuk kedalam sistem drainase atau rongga pleura. Situasi ini dapat dikoreksi yaitu
dengan mencari lokasi kebocoran udara dan lakukan perbaikkan jika dapat dilakukan.

Hidropneumotoraks

Page 19

Gelembung yang terjadi cepat pada kondisi tidak terdapat kebocoran udara mengindikasikan
kehilangan udara yang bermakna seperti dari insisi atau sobekan pada pleura.
e. Cek patensi selang setiap 2 sampai 4 jam, karena adanya obstruksi pada selang dada
mempengaruhi reexpansi paru.
f. Monitor jumlah dan tipe dari drainase pada selang dada
Kehilangan volume yang besar dapat menyebabkan hipovolemi. Penurunan atau tidak
adanya drainase dengan kondisi distress respiratory mengindikasikan adanya sumbatan.
Penurunan atau tidak adanya drainase tanpa distress respiratory mengindikasikan paru sudah
mengembang kembali.
g. Beri tanda atau batas drainase pada sisi luar tabung pengumpul setiap jam, sebagai acuan
untuk pengukuran selanjutnya.
Drainase secara bertahap berubah dari warna darah ke warna pink kemudian warna merah
kecoklatan. Aliran yang tiba-tiba dan warna darah yang merah pekat terjadi karena perubahan
posisi yang sering berupa darh yang lama yang dapt keluar ke selang dada. Laporkan bila
drainase lebih dari 200 ml/jam, penurunan atau tidak ada drainase secara tiba-tiba, perubahan
karakteristik dari drainase.
h. Pertahankan posisi selang dada
Tempatkan selang secara harizontal di tempat tidur dan ke arah bawah ke tabung
pengumpul. Akumulasi drainase pada selang yang terjepit menghambat drainase ke sistem
pengumpul dan meningkatkan tekanan paru, berikan area yang cukup untuk pergerakkan
pasien.
i. Selalu tempatkan sistem WSD lebih rendah dari dada pada posisi vertikal untuk mencegah
aliran balik cairan ke rongga pleura.
j. Cek level cairan pada water seal atau cairan pada control suction yang bisa berkurang
karena evaporasi, dan isi ulang sesuai batas yang dianjurkan.
k. Kolaborasi dalam pemberian analgetic untuk mengontrol rasa sakit, karena rasa sakit bisa
mempengaruhi keefektifan pernafasan.
Hidropneumotoraks

Page 20

l. Kaji daerah tusukan dan kulit sekitar daerah tusukan akan adanya subcutaneous air dan
tanda-tanda infeksi atau inflamasi dengan mengganti balutan setiap hari.

E. Prosedur pemasangan water seal drainage


Pemasangan water seal drainage dapat dilakukan diruang operasi, ruang kedaruratan
atau pada tempat tidur pasien.
1. Lokasi pemasangan water seal drainage
Lokasi pemasangan selang WSD ditentukan berdasarkan indikasi :

Jika mengeluarkan udara, selang ditempatkan dekat apex paru didaerah ICS II
Jika mengeluarkan cairan, selang ditempatkan dekat basal paru didaerah ICS V-VI
Setelah bedah jantung, selang ditempatkan di daerah mediastinum.

Hidropneumotoraks

Page 21

2. Peralatan untuk pemasangan selang WSD


- Troly dressing
- Cairan antiseptik : betadine solution
- Sarung tangan steril, topi, masker, gaun, dan duk steril
- Anestesi lokal : lidokain 1 %
- Drain set steril
- Drain penampung atau meddap
- Trocar sesuai kebutuhan
- Tubing 1/4, 1/16
- Blade no 11
- Jarum dan benang
- Y konektor atau konektor cabe
- Tromol kasa
- Spuit 5 cc, spuit 2,5 cc, spuit 10 cc
- WFI
- Sumber suction
- Klem
- Gunting, plester
- Bengkok
3. Persiapan pasien
- Kaji status pasien dan tanda-tanda vital
- Cek kelengkapan alat dan inform consent dari pasien/keluarga
Hidropneumotoraks

Page 22

- Jelaskan tindakan yang akan dilakukan untuk memberi rasa aman dan nyaman
- Mengatur posisi pasien fowler atau semifowler
- Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan

4. Prosedur pemasangan WSD (dilakukan oleh dokter)


Urutan pemasangan WSD adalah :
- Kulit dibersihkan dan di anesthesi
- Dibuat insisi kecil pada kulit
- Penetrasi ruang pleura dengan menggunakan forcep
- Pelebaran dibuat dengan forcep kemudian diregangkan dengan jari
- Akhir proksimal selang di klem dengan forcep kemudian dimasukkan ke ruang pleura.
- Bila pemasangan sulit, trokar metal untuk penetrasi dada, membiarkan selang pada
tempatnya.
- Bagian ujung selang eksternal dihubungkan ke unit drainase.
- Untuk mencegah selang terlepas, kulit sekitar selang dijahit.
- Akhir dari jahitan diikatkan melingkari selang dan diikat.
- Pada sisi insisi diberi betadine dan ditutup kasa.
- Kasa ukuran 3x4 berlubang diletakkan pada selang dan diplester kuat pada dada. Selang
diplester pada dada untuk mencegah penarikkan selang dan jahitan bila pasien bergerak.
-

Foto thorax pasca pemasangan selalu dilakukan untuk menjamin ketepatan posisi.

F. Prosedur pencabutan selang dada


1. Indikasi pencabutan didasarkan pada alasan insersi dan meliputi dibawah ini :
-

Drainase telah berkurang 50-100 ml dalam 24 jam jika selang dipasang untuk hemothoraks,
empyema atau efusi pleura.

Drainase telah berubah dari merah menjadi serosa, tidak terdapat kebocoran udara dan
jumlah kurang dari 100 ml setelah 8 jam (jika selang dipasang setelah operasi jantung)

Paru-paru telah mengembang kembali (dibuktikan dengan chest x-rays).

Status respirasi telah membaik (yaitu ; tidak terdapat kesulitan bernafas, suara nafas bilateral
sama, penurunan penggunaan otot aksesori pernafasan, pengembangan dada simetris dan RR
kurang dari 24x/menit).

Kebocoran udara telah pulih ( dikaji dengan tidak adanya bubbling kontinyu pada ruang water
seal).

Hidropneumotoraks

Page 23

2. Persiapan alat
-

Troly dresing

Dresing set

Betadine solution

Klem

Sarung tangan steril dan tidak steril

Spuit 2,5 cc

Analgesik

Bengkok

Plester

Gunting

3. Persiapan pasien
- Yakinkan pasien mengerti pengajaran pre prosedur.
- Pre medikasi pasien dengan analgesik adekuat setidaknya 15 menit sebelum prosedur.
- Tempatkan pasien pada posisi semifowler
4. Prosedur pencabutan (dilakukan oleh dokter)
1.

Cuci tangan

2.

Buka set angkat jahitan steril dan siapkan betadine dan kasa.

3.

Lepaskan suction dari chest drainage systtem dan cek terhadap kebocoran
udara pada ruang water seal.

4.

Angkat plester yang menempel dan tentukan tipe jahitan yang terdapat pada
selang dada.

5.

Konfirmasi bahwa selang bebas dari jahitan dan plester.

6.

Klem setiap selang yang akan dicabut.

7.

Intruksikan pada pasien untuk tarik nafas dalam dan tahan saat setiap selang
diangkat.

8.

Cabut selang dada secara cepat.

9.

Tutup sisi insersi dengan kasa steril dan rekatkan dengan plester.

10.

Kaji pasien setelah prosedur dan bandingkan hasilnya dengan pengkajian


sebelumnya.

11.

Lakukan chest x-ray sesuai protokol

12.

Cuci tangan

Hidropneumotoraks

Page 24

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mukti dkk (2009) Pedoman Diagnosis dan Terapi lab ilmu penyakit paru
RSUD Soetomo Surabaya. Surabaya
Afif Muttaqin, (2008). Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan sistem
pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.
Alsagaf Hood dan Mukti Abdul H, (2002). Dasar-Dasar Ilmu Diagnostik Fisik
Paru. Surabaya: Airlangga.
Alsagaff Hood, (2010), Dasar Ilmu Penyakit Paru, Jakarta: EGC
Amirulloh R. Penatalaksanaan Pneumotoraks di Dalam Praktek. http://www.
Budi Swidarmoko, Agus dwi Susanto. (2010). Pulmonologi Intervensi dan Gawat
Darurat Nafas. Jakarta: FK UI.
Carpenito,L.J (2008) Buku Saku Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta: EGC
Darmanto Djojodibroto, 2009, Respirologi, Jakarta: EGC
Doengoes, M.E. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi
3. Jakarta: EGC.
Herdman. T. Heather (2012). NANDA International Diagnosis Keperawatan Definisi
dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC
Hudak, C.M. (2010) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC
Kahar Kusumawidjaja, (2008), Pleura dan Mediastinum, Radiologi diagnositik,
kalbe.co.id. [diakses tanggal 22 Agustus 2014]
Mansjoer dkk, (2007). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi-3 Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius.
Sjahriar rasad, (2009), Radiologi Diagnostik, Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Wilkinson. M. Judhit, (2006).Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan Intervensi
NIC dan Kreteria Hasil NOC. Edisi-7. Jakarta: EGC

Hidropneumotoraks

Page 25