Anda di halaman 1dari 13

MANIFESTASI KLINIS GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN

Manifestasi klinis pada gangguan sistem integumen diantaranya adalah sebagai berikut :
1. PRURITUS
Pruritus (gatal),salah satu manifestasi masalah kulit yang paling umum, adalah
gejala, bukan penyakit. Pruritus dapat menyebabkan kerusakan jika garukan
mencederai kulit, meningkatkan resiko infeksi, dan pembentukan parut. Pruritus dapat
dilihat pada berbagai kondisi, mulai dari kulit kering hingga penyakit sistemik berat.
Penyakit sistemik yang dapat menyebabkan pruritus umum dan berat meliputi, cacar
air, gatal hati dan ginjal, diabetes mellitus, reaksi hipersensitivitas terhadap obat,
kelainan imunodefisiensi, parasit usus, leukemia, dan limfoma. Meredakan gatal,
terutama untuk kliendengan pemyakit kronis, merupakan tantangan karena
keberadaannya yang umum, efeknya yang merugikan kesehatan kulit dan efek
utamanya pada kualitas hidup.
Gatal dapat diawali oleh iritasi dari hampir semua susbtansi kimiawi atau fisik,
atau reaksi alergi, terutama jika kulit rusak. Sekalinya sensasi gatal dimulai, klien
memiliki dorongan untuk menggaruk yang hampir tidak terkendali, dan menggaruk
menyebabkankerusakan kulit lebih lanjut dan meningkatkan inflamasi. Hal tersebut
membuat siklus gatal-menggaruk-gatal timbul. Untuk meminimalisasi trauma kulit
yang disebabkan oleh menggaruk, kuku jari harus pendek, halus dan bersih.
Manajemen gatal yang tepat membutuhkan pengkajian lengkap yang mencoba
menemukan penyebab yang mendasari dan mengetahui modalitas terapi yang tepat
untuk penanganannya. Kulit kering dapat menjadi sumber pruritus atau faktor yang
berkontribusi, dan hidrasi yang baik sering kali membantu, selain topical lainnya.
Satu kali mandi selama 15 hingga 20 menit dengan air hangat dan pembersih
lembut direkomendasikan, segera diikuti d ngan aplikasi emolien penutup, dengan atau
tnpa obat topical lain, untuk mencegah evaporasi air dari epidermis yang terhidrasi.
Medikasi topical lain yang sering ditambahkan pada emoilien untuk membantu
menghilangkan gatal meliputi mentol ( 0,25%-0,5%), Champor (0,25%-0,5%), urea
(10-20%), dan asam laktat (12%). Champor dan mentol membuat efek penyejuk. Urea

dan asam laktat melembabkan kulit yang bersisik dengan menarik kelembaban ke
dalam struktur sel dari stratum korneum. Antihistamin dan anastesia yang
diaplikasikan secara topical relative tidak efektif dan sebaiknya dihindari karena
berpotensi memicu terjadinya (sensitisasi) alergi. Efek sensititasi terutama menonjol
jika produk digunakan pada kulit yang berinflamasi. Penggunaan kortikosteroid topical
harus diberikan untuk penatalaksanaan dermatosis spesifik yang responsive terhadap
steroid, bukan pada pruritus dengan penyebab yang tidak diketahui. Aplikasi streroid
topical dalam jangka panjang, terutama pada kulit yang tidak memiliki kondisi eksim,
dapat menyebabkan penipisan kulit, striae, telangiektasis,dan mudah memar.
Agen antihistamin, sistemik paling membantu pada kelainan dimana histamine
adalah mediator utama namun dapat bermanfaat melalui efek sedative atau bahkan
efek placebo. Klien lansia mungkin mengalami kesulitan mengaplikasikan agen topical
yang dibutuhkan dengan tepat, dan mungkin dibutuhkan bantuan asisten untuk
memastikan terapi yang tepat. Antihistamin sedatif oral harus diberikan dengan hatihati, dengan penggunaan disis kecil pada awalnya, karena banyak lansia memiliki
toleransi yang sangat rendah terhadap agen-agen ini dan dapat mengalami rasa pusing
yang berat, terutama pada awal terapi.
2. LESI
Perubahan atau lesi kulit baru sering membuat klien mencari evaluasi. Ketika
mengkaji berbagai lesi penting untuk mencari tentang waktu kapan munculnya lesi,
adanya perubahan warna, adanya eksudat, dan perubahan lain yang telah terjadi. Lesi
dapat berubah karena garukan, trauma, infeksi atau pembentukan jaringan parut. Juga
penting untuk menentukan lesi pada area kulit yang telah mendapat paparan signifikan
sinar

matahari.

Setelah

mendapat

kesan

mengenai

kesehatan

penderita, membuat diagnosis penyakit kulit di mulai dengan


melihat aspek morfologi kelainan kulit. Dalam hal mempelajari
kelainan kulit sebaiknya dicoba untuk menentukan cirri dasarnya.
Dermatology dapat dipelajari secara sistematis setelah PLENCK
(1776)

menulis

bukunya

yang

berjudul

System

der

Hautkrankheiten.berdasarkan

efloresensi

(ruam),

penyakit

kulit

mulai dipelajari secara sistematis. Sampai kini pemikiran PLENCK


masih dipakai sebagai dasar membaut diagnosis penyakit kulit
secara klinis, walaupun ditambah dengan segala kemajuan tehnologi
dibidang bakteriologi, mikrologi, hispatologi, dan imunologi. Jadi
untuk

mempelajari

ilmu

penyakit

kulit

mutlak

diperlukan

pengetahuan tentang ruam kulit atau morfologi atau ilmu yang


mempelajari lesi kulit.
Efloresensi kulit dapat berubah pada waktu belangsungnya
penyakit. Proses tersebut dapat merupakan akibat biasa dalam
perjalanan proses patologik. Kadang kadang perubahan ini dapat
dipengaruhi keadaan dari luar, ,misalnya trauma, garukan, dan
pengobatan yang diberikan, sehingga perubahan tersebut tidak bisa
lagi. Dalam hal ini gambaran klinis morfologik penyakit menyimpang
dari biasanya dan sulit dikenali. Demi kepentingan diagnosis penting
sekali untuk mencari kelainan yang pertama (efloresensi primer)
yang biasnya khas untuk penyakit tersebut.
Menurut PARKKEN (1966) yang disebut efloresensi (ruam)
primer adalah : mukula, papul, plak, urtika, nodus, nodulus, vesikel,
bula,

pustule,

dan

kista.

Sedangkan

yang

dianggap

sebagai

efloresensi sekunder adalah skuama (sangat jarang sekali timbul


sebagai efloresensi primer) ; krusta, erosi, ulkus dan sikatriks.
Untuk mempelajari macam macam kelainan kulit lebih
sistematis sebaiknya dibuat pembagian menurut SIEMENS (1958)
yang membaginya sebagai berikut :
1. Setinggi pernukaan kulit:
Makula adalah kelainan kulit berbatas tegas berupa perubahan
warna semata mata.

Contoh

melanoderma,

leukoderma,

purpura,

petekie,

ekimosis.
2. Bentuk peralihan, tidak terbatas pada pemukaan kulit:
Eritema adalah kemerahan pada kulit yang disebabkan
peleburan pembuluh darah kapiler yang reversible.
Telangiektasis
3. Diatas pemukaan kulit:
Urtika adalah edema setempat yang timbul mendadak dan
hilang perlahan lahan.
Vesikel adalah gelembung berisi cairan serum, beratap,
berukuran kurang dari cm garis tengah, dan mempunyai
dasar. Vesikel berisi darah disebut vesikel hemoragik.
Pustul adalah vesikel yang berisi nanah, bila

nanah

mengendap dibagian bawah vesikel disebut vesikel hipopion.


Bula adalah vesikel yang berukuran lebih besar. Dikenal juga
istilah bula hemoragik, bula purulen, dan bula hipopion
Kista adalah ruangan berdinding dan berisi cairan, sel, maupun
sisa sel. Kista terbentuk bukan akibat peradangan, walaupun
kemudian dapat meradang. Didinding kista merupakan selaput
yang terdiri atas jaringan ikat dan biasanya dilapisi sel epitel
atau endotel. Kista terbentuk dari kelenjar yang melebar dan
tertutup, saluran kelenjar, pembuluh darah, saluran getah
bening, atau lapisan epidermis. Isi kista terdiri atas hasil
dindingnya, yaitu serum, getah bening, keringat, sebum, sel
sel epitel, lapisan landuk, dan rambut.
Abses merupakan kumpulan nanah dalam jaringan, bila
mengenai kulit berarti didalam kutis atau subkutis. Batas
antara

ruangan

disekitarnya

tidak

yang
jelas.

berisikan
Abses

nanah

biasanya

dan

jaringan

terbentuk

dari

infiltrate radang. Sel dan jaringan hancur membentuk nanah.


Dinding abses terdiri atas jaringan sakit, yang belum menjadi
nanah.

Papul

merupakan

penonjolan

diatas

permukaan

kulit,

sirkumskrip, berukuran diameter lebih kecil dari dari cm, dan


berisikan zat padat. Bentuk papul dapat bermacam macam,
misalnya

setengah

bola,

contohnya

pada

eksem

atau

dermatitis, kerucut pada keratosis folikularis, datar pada


veruka plana juvenilis, datar dan berdasar pada polygonal
pada liken planus, berduri pada veruka vulgaris, bertangkai
pada fibroma pendulans dan pada veluka filiiformis. Warna
papul dapat merah akibat peradangan, pucat, hiperkrom,
putih, atau seperti kulit disekitarnya. Beberapa infiltrate
mempunyai warna sendiri yang biasanya baru terlihat setelah
eritema yang timbul bersamaan ditekan dan hilang (lupus,
sifilis) letak papul dapat epidermal atau kutan
Nodus adalah massa padat sirkumskrip, terletak di kutan atau
subkutan,

dapat

menonjol,

jika

diameternya

daripada 1 cm disebut nodulus.


Tumor merupakan istilah umum

untuk

lebih

benjolan

kecil
yang

berdasarkan pertumbuhan sel maupun jaringan.


Vegetasi yaitu pertumbuhan berupa penonjolan bulat atau
runcing

yang

menjadi

satu.

Vegetasi

dapat

dibawah

permukaan kulit, misalnya pada tubuh. Dalam hal ini disebut


granuasi, seperti pada tukak.
4. Bentuk peralihan, tidak terbatas pada suatu lapisan saja:
Sikatriks terdiri atas jaringan tak utuh, relative kulit tidak
normal, permukaan kulit licin dan tidak terdapat adneksa kulit.
Sikatriks

dapat

hipertropik,

yang

atropik,

kulit

secara

klinis

mencekung,
terlihat

dan

dapat

menonjol

karena

kelebihan jaringan ikat. Bila sikatrikis hipertropik menjadi


patologik, pertumbuhan melampaui batas luka disebut keloid
(sikatrik yang pertumbuhan selnya mengikuti pertumbuhan
tumor) dan ada kecenderungan untuk terus membesar.

Anetoderma yaitu bila kutis kehilangan elastisitas tanpam


perubahan berarti pada bagian bagian yang bila ditekan
dengan jari seakan akan berlubang. Bagian yang jaringan
elastisnya atrifi disebut anetoderma. Contoh pada striae
gravidarum.
Erosi adalah

kelainan

kulit

yang

disebabkan

kehilangan

jaringan yang tidak melampaui stratum basal. Contohnya bila


kulit digaruk sampai stratum spinosum akan keluar cairan
sereus dari bekas garukan.
Ekskoriasi yaitu bila garukan lebih dalam lagi sehingga
tergores sampai ujung papil, maka akan terlihat darah yang
keluar selain serum. Kelainan kulit yang disebabkan oleh
hilangnya jaringan sampai dengan stratum papilare disebut
ekskoriasi.
Ulkus adalah hilangnya jaringan yang lebih dalam dari
ekskoriasi. Ulkus dengan demikian mempunyai tepi, dinding,
dasar, dan isi. Termasuk erosi dan ekskoriasi dengan bentuk
liniar ialah fisura atau rhagades, yakni belahan kulit yang
terjadi oleh tarikan jaringan disekitarnya, terutama terlihat
pada sendi dan batas kulit dengan selaput lender.
Skuama adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari
kulit. Skuama dapat halus bagai taburan tepung, maupun
lapisan tebal dan luas bagai lembaran kertas. Dapat dibedakan
misalnya, pitiriasiformis (halus), psoriasiformis (berlapis
lapis), iktiosiformis (seperti ikan), kutikular (tipis), lamellar
(berlapis),

membranosa

atau

eksfoliativa

(lembaran

lembaran), dan keratotik (terdiri atas zat tanduk)


Krusta adalah cairan badan yang mengering, dapat bercampur
dengan jaringan nekrotik, maupun benda asing (kotoran, obat,
dan sebaginya). Warnanya ada beberapa macam; kuning muda

berasal dari serum, kuning kehijauan berasal dari pus, dan


kehitaman berasal dari darah.
Likenifikasi adalah penebalan kulit disertai relief kulit yang
makin jelas.
Guma adalah infiltrate sirkumskrip, menahun,

destruktif,

biasanya menahun.
Eksantema kelainan pada kulit yang timbul serentak dalam
waktu

singkat,

dan

tidak

berlangsung

lama,

umumnya

didahului dengan demam.


Fagedenikum yaitu proses yang menjurus kedalam dan meluas
(ulkus tropikum, ulkus mole).
Terebrans yaitu proses yang menjurus kedalam.
Monomorf merupakan kelainan kulit yang pada satu ketika
terdiri atas hanya satu macam ruam kulit.
Polimorf merupakan kelianan kulit yang sadang berkembang,
terdiri atas bermacam macam efloresensi.
Telangiektasis adalah pelebaran pembuluh darah kapiler yang
menetap pada kulit.
Roseola adalah eksantema yang lentikular berwarna merah
tembaga pada sifilis dan frambusia.
Eksantema Skariatiniformis adalah erupsi yang difus dapat
generalisata atau lokalisasi, berbentuk eritema nummular.
Eksantema Morbiliformis adalah erupsi yang
berbentuk
eritema yang lentikuler.
Galopans merupakan proses yang sangat cepat meluas (ulkus
diabetikum galopans).
`Berbagai istilah ukuran, susunan kelainan/ bentuk serta
penyebaran dan lokalisasi dijelaskan sebagai berikut :
a. Ukuran
Miliar yaitu sebesar jarum pentul.
Lentikular yaitu sebesar biji jagung.
Nummular yaitu sebesar uang logam 5 rupiah atau 100

rupiah.
Plakat ( en plaque) yaitu lebih besar dari numular.

b. Susunan kelainan/bentuk
Liniar yaitu seperti garis lurus
Sirsinar/anular yaitu seperti lingkaran
Arsinar yaitu berbentuk bulan sabit
Polisiklik
yaitu
bentuk
pinggiran

menyambung.
Korimbiformis yaitu susunan seperti

yang

sambung

induk ayam yang

dikelilingi anak anaknya.


Bentuk lesi

Teratur

misalnya

bulat,

lonjong,

seperti

ginjal

dan

sebagainya.
Tidak teratur yaitu tidak memiliki bentuk teratur.
c. Penyebab dan lokalisasi
Sirkumskrip yaitu berbatas tegas.
Difus yaitu tidak berbatas tegas.
Generalisata yaitu tersebar pada sebagian besar bagian

tubuh.
Regional yaitu mengenai daerah tertentu badan.
Universalis yaitu seluruh atau hampir seluruh tubuh (90%

100%).
Soliter yaitu hanya satu lesi.
Herpertiformis yaitu vesikel berkelompok seperti pada herpes

zoster.
Konfluens yaitu dua lebih lesi yang menjadi satu.
Diskret yaitu terpisah satu dengan yang lain.
Serpiginosa yaitu proses yang menjalar kesatu jurusan diikuti

oleh penyembuhan pada bagian yang ditinggalkan.


Irisformis yaitu eritema berbentuk bulat lonjong dengan

vesikel warna yang lebih gelap ditengahnya.


Simetrik yaitu mengenai kedua belah badan yang sama.
Bilateral yaitu mengenai kedua belah badan.
Unilateral yaitu mengenai sebelah badan.

Gambaran Berbagai Lesi

3. INFEKSI
Infeksi kulit dapat mendorong klien untuk mencari evaluasi lebih lanjut,
terutama jika terdapat riwayat kegagalan dalam usaha mengobati diri semdiri. Sama

halnya dengan infeksi lain, penegakan dilakukan jika ada demam, menggigil, tipe dan
jumlah eksudat, serta adanya nyeri pada daerah infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Black.J.(2009).Keperawatan medical bedah.(Edisi 8).singapura:


elsevier.
Djuanda.A.

(2002).Ilmu

penyakit

kulit

dan

kelamin.

ketiga).Jakarta: FKUI.
Brown.R & Burns.T.(2005). Lecturer notes on dermatology. (Edisi kedelapan).
Jakarta: Erlangga.

(Edisi

TUGAS KEPERAWATAN SISTEM INTEGUMET


MANIFESTASI KLINIS GANNGUAN SISTEM
INTEGUMENT

Kelompok II
Aminudin
Diah Setiawati
Imma Suryandari
Kamsiyah
Shifa Fajriyati R

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014 2015

Anda mungkin juga menyukai