Anda di halaman 1dari 29

TOPIK 2

ALAT REPRODUKSI JANTAN ANGIOSPERMAE


A. Tujuan
1. Mengamati struktur antera
2. Mengamati perkembangan mikrospora
3. Mengamati morfologi serbuk sari
B. Metode
Observasi
C. Cara Kerja & Alat Bahan
Alat dan Bahan
1) Mikroskop
2) Preparat awetan penampang melintang antera muda Lilium sp / Leucaena glauca
3) Preparat awetan penampang melintang antera muda Lilium sp / Leucaena glauca
pada waktu terjadi mikrosporogenesis
4) Preparat penampang melintang antera dewasa Lilium sp / Leucaena glauca
dengan tetrad-tetrad serbuk sari.
5) Preparat melintang antera dewasa Lilium sp / Leucaena glauca dengan serbuk sari
masak.

Cara Kerja

Preparat penampang melintang antera muda Lilium sp / Leucaena glauca.

Memperhatikan jaringan- jaringan penyusun dinding antera = eksotesium, endotesium, lapisan tengah
dan tapetum. Perhatikan jaringan sporogen atau mikrosporosit di dalam ruang sari.
Preparat penampang melintang antera muda Lilium sp / Leucaena glauca pada waktu terjadi

mikroporogenesis.. perhatikan mikrosporosit dan sel-sel hasil pembelahan meiosis mikrosporosit di


dalam kantung sari

Preparat penampang melintang antera dewasa Lilium sp / Leucaena glauca dengan tetradtetrad serbuk sari . Memperhatikan tetrad-tetrad serbuk sari di dalam kantung sari. Bagaimana bentuki
dan susunannya.
Preparat penampang melintang antera dewasa Lilium sp / Leucaena glauca dengan serbuk

sari yang telah masak. Memperhatikan struktur antera yang telah berubah dan mikrospora yang telah
masak di dalam kantung sari.
Menggambar semua bahan yang tersedia dan memberi keterangan secara lengkap

D.

Hasil & Pembahasan


Hasil

Kelompok

Ukuran anthera

Keterangan

0,2 cm

Sel induk mikrospora, masih terlihat intinya

0,5 cm

Sel induk mikrospora, dalam profase akhir

0,6 cm

Sel induk mikrospora, tetrad mikrospora

1,3 cm

Dinding eksin sudah tebal, diad mikrospora, tetrad


mikrospora

0,4 cm

Sel induk mikrospora dalam profase akhir

0,5 cm

Sel induk mikrospora akan membelah menjadi 2

Pembahasan
Benangsari (stamen) umumnya terdiri dari tangkai sari (filamen) dan

kepala sari (antera). Antera atau kotak sari pada umumnya terdiri atas 4 kantong
polen atau mikrosporangia. Pada saat antera masak, dua sporangia pada masingmasing sisi akan menyatu menjadi teka. Pada awal perkembangan antera mampu
membelah

dan

disebut

dengan

mikrosporofil.

Mikrosporofil

membelah

menghasilkan 4 sel haploid yang disebut mikrospora, selanjunya mikrospora

membelah membentuk 2 sel yaitu sel tabung dan sel generatif yang berukuran
lebih kecil. Kedua sel tersebut diselubungi suatu butiran serbuk sari. Bila serbuk
sari masak maka antera membuka dan menebarkan butir serbuk sari tersebut. Pada
angiospermae, butir serbuk sari sebagai gametofit jantan yang menghasilkan
sperma. Jumlah benangsari suatu tanaman bervariasi, tergantung jumlah dan
susunan stamen.

Dari praktikum, terlihat berbagai struktur penyusun antera

antara lain Antera Lilium sp memiliki struktur yang kompleks. Terdapat 4 lokuli
yang berisi butir-butir serbuk sari. Pada dinding antera ini terlihat ada 4 lapisan,
yaitu:
a) epidermis, lapisan terluar yang selnya memipih, membentuk tonjolan dan
berserabut.
b) endotesium, susunan selnya tak teratur dan berserabut.
c) Lapisan tengah, terdiri dari 2 lapis sel yang pipih.
d) tapetum, inti selnya terlihat jelas dan sel-selnya banyak mengandung plasma.
Dari hasil praktikum, pada ukuran antera sebesar 0,2 cm tahapan
perkembangan mikrospora ialah pada tahap sel induk mikrospora, dimana pada
pengamatan dibawah mikroskop intinya masih terlihat. Perkembangan mikrospora
pada dasarnya merupakan proses meiosis, dari satu sel induk mikrospora menjadi
empat sel anakan mikrospora (tetrad). Mikrospora dewasa atau setelah lepas dari
tetrad disebut sebagai butir serbuk sari. Setiap mikrospora dan mikrospora tetrad
dibungkus oleh dinding kalose. Inti dari setiap mikrospora tetrad belum kelihatan
dengan jelas, karena tidak berada ditengah, melainkan berada ditengah-tengah
keseluruhan tetrad. Dimana ukuran tetrad yaitu setengah dari ukuran mikrospora
maksimum. Selanjutnya, pada antera yang berukuran 0,5 cm dan 0,4 cm tahapan
perkembangan mikrospora ialah pada tahap sel induk mikrospora, yaitu tahap
profase akhir takan melah bersiap-siap akan membelah. Pada antera berukuran 0,6
cm, tahap perkembangan sel induk mikrospora ialah pada unit serbuk sari
berbentuk diad mikrospora dan tetrad mikrospora. Kemudian pada antera dengan
ukuran 1,3 tahapan perkembangan mikrospora mencapai tetrad

mikrospoura

dimana dinding eksin sudah tebal. Dinding eksin disini pada tumbuhan
angiospermae, pada saat terjadi perkembangan benang sari, sel-sel induk

mikrospora melakukan meiosis dan menghasilkan 4 mikrospora haploid dimana


masing-masing akan berkembang menjadi butir polen (pollen grain). Polen yang
masak akan dilapisi oleh beberapa lapis dinding sel, yang terdalam disebut intin
dan disebelah luarnya terdapat eksin. Sedangkan untuk pengamatan yang terakhir
yaitu ukuran anthera 0,5 cm terlihat bahwa sel induk mikrospora akan membelah
menjadi dua.
Untuk morfologi serbuk sari, antara lain terdiri dari

dinding serbuk

dimana dinding sari Angiospermae terdiri dari dua lapisan: eksin (lapisan luar)
dan intin (lapisan dalam). Eksin tersusun atas sporopolenin, sedangkan intin
tersusun atas selulosa. Lebih lanjut eksin terbagi atas dua lapisan, yaitu seksin dan
neksin. Seksin merupakan lapisan yang memiliki ornamenetasi, sedangkan neksin
tidak. Struktur dinding serbuk sari, khususnya bagian eksin, merupakan salah satu
karakter yang digunakan dalam identifikasi. Struktur halus eksin dapat dibedakan
menjadi tiga tire, yaitu: tektat, semitektat, dan intektat. Selanjutnya ialah unit
serbuk sari yang dibedakan atas: monad, diad, tetrad, dan polyad. Selain itu ada
pula serbuk sari yang dilepaskan dari tumbuhan dalam bentuk massulau atau
polinia. Serbuk sari tertrad dibedakan ke dalam lima tire, yaitu: tetrahedral,
tetragonal, rhomboid, decussata, dan tetrad silang.
E.

Kesimpulan
Antera Lilium sp memiliki struktur yang kompleks. Terdapat 4 lokuli yang

berisi butir-butir serbuk sari. Pada dinding antera ini terlihat ada 4 lapisan, yaitu:
a) epidermis, lapisan terluar yang selnya memipih, membentuk tonjolan dan
berserabut.
b) endotesium, susunan selnya tak teratur dan berserabut.
c) Lapisan tengah, terdiri dari 2 lapis sel yang pipih.
d) tapetum, inti selnya terlihat jelas dan sel-selnya banyak mengandung plasma.
Dari hasil pengamatan tahapan perkembangan mikrospora yang terlihat
pada antera dengan ukuran 0,4 cm hingga 1,3 cm ialah tahap perkembangan sel
induk mikrospora dimana diantaranya terdapat tahap yang mencapai profase

akhir, ada yang berbentuk diad mikrospora, tetrad mikrospora, maupun sel induk
mikrospora yang akan membelah menjadi 2.
Untuk morfologi serbuk sari, antara lain terdiri dari dinding serbuk
dimana dinding sari Angiospermae terdiri dari dua lapisan: eksin (lapisan luar)
dan intin (lapisan dalam). Sedangkan untuk unit serbuk sari yang dibedakan atas:
monad, diad, tetrad, dan polyad. Selain itu ada pula serbuk sari yang dilepaskan
dari tumbuhan dalam bentuk massulau atau polinia
F. Daftar Pustaka
Aprianty, M.D., dan Kriswiyanti, E., 2008, Studi Variasi Ukuran Serbuk Sari Kembang
Sepatu (Hibiscus Rosa-Sinensis L.) Dengan Warna Bunga Berbeda, J. Biologi,
XII (1)
Etikawati, N. dan Setyawan, A.D., 2000, Studi Sitotaksonomi pada Genus Zingiber, J.
Biodiversitas, 1 (1) : 8-13
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan. (Terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press

TOPIK 3
PERKECAMBAHAN SERBUK SARI

A. Tujuan
Mengamati serbuk sari yang berkecambah secara in vitro
B. Metode
Observasi
C. Cara Kerja & Alat Bahan

Alat dan Bahan


1.
Serbuk sari tanaman bunga sepatu Hibiscus rossa sinensis
2.
Laruta sukrosa 10% dan 20%
3.
Gelas benda dan penutup
4.
Mikroskop
5.
Gelas beaker
6.
Cawan petri
Cara Kerja
1. Menyiapkan larutan sukrosa 10% dan 20 % agar larut.
2.

Memilih jenis bunga yang akan diamati dan mengambil putik dimana akan
diambil serbuk sarinya.

3.

Meneteskan larutan sukrosa tersebut pada gelas objek.

4.

Mengambil benang sari dengan tusuk gigi dan menaburkan serbuk sari pada
tetesan sukrosa yang telah diletakkan di gelas benda.

7.

Menutup cawan petri lalu tiap 5 menit serbuk sari dikeluarkan.

8.

Mengamati serbuk sari di bawah mikroskop setiap interval waktu 5 menit


sampai serbuk sari berkecambah.

9.

Mencatat waktunya dalam tabel.

10.

Memilih beberapa serbuk sari untuk dijadikan fokus pengamatan dan catat
pertumbuhan totalnya pada interval waktu 10 menit selama 25 menit.

11.

Mengembalikan preparat ke dalam cawan tertutup saat tidak dilakukan


pengamatan.

D.

Kelompok

Hasil & Pembahasan


Hasil

Bunga

Kuncup (10%)

Mekar segar (10%)

Mekar layu (10%)

Kuncup (20%)

Mekar segar (20%)

Mekar layu (20%)

Pembahasan
Perkecambahan serbuk sari secara in vitro ini digunakan untuk menguji

viabilitas serbuk sari.

Prinsip dari perkecambahan in vitro ini adalah

menyamakan kondisi medium dengan kondisi kepala putik, tempat dimana serbuk
sari berkecambah secara alami. Medium yang digunakan harus mendekati kondisi
lingkungan di kepala putik, agar serbuk sari dapat berkecambah dengan baik.

Selain perkecambahan secara in vitro, dikenal juga perkecambahan secara in vivo,


yang mana perkecambahan ini serbuk sari diserbukkan di kepala putik.
Perkecambahan secara in vivo memakan waktu yang cukup lama, sehingga pada
praktikum kali ini menggunakan perkecambahan secara in vitro yang lebih
praktis.
Serbuk sari (pollen grain) merupakan sebuah sel hidup yang berisi sel
kelamin jantan pada bunga (mempunyai protoplasma) yang terbungkus oleh
dinding sel. Dinding serbuk sari mempunyai peranan yang sangat penting untuk
melindungi serbuk sari dalam perjalanannya dari kepala sari menuju putik.
Dinding serbuk sari mempunyai dua lapisan dasar yaitu eksin dan intin. Intin
adalah lapisan bagian dalam yang dibangun dari bahan selulose. Eksin adalah
lapisan dinding bagian luar yang tersusun atas sporopolenin. Sporopolenin ini
tahan terhadap dekomposisi fisik maupun biologis. Pada permukaan eksin ini,
terdapat celah atau pori yang disebut apertura yang mempunyai dinding tipis, dan
digunakan oleh serbuk sari untuk jalan keluarnya buluh serbuk sari, sehingga
sering juga disebut celah perkecambahan. .
Tahapan awal dari percobaan ini yaitu dilakukan fiksasi terhadap pollen
dimana fiksasi ini berfungsi untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau
jaringan, dalam hal ini serbuk sari agar tetap pada posisinya dan tidak mengalami
perubahan bentuk maupun ukuran dengan media kimia sebagai fiksatif.
Pemanasan larutan ini bertujuan untuk mempercepat terjadinya reaksi yang terjadi
pada serbuk sari. Sedangkan penambahan H2SO4 berfungsi untuk untuk melisiskan
selulosa pada dinding serbuk sari, sehingga setelah dibuat preparat, morfologi
eksin serbuk sari akan terlihat lebih jelas. Larutan kemudian didinginkan sejenak
saat larutan telah berubah kecoklatan.
Dari pengamatan perkecambahan serbuk sari bunga sepatu saat kondisi bunga
mekar segar pad larutan sukrosa 20 % yaitu kelompok 5 , diketahui buluh serbuk

sari muncul setelah pengamatan pada menit awal yaitu menit ke 5 yaitu terdapat
16 buluh yang keluar. Buluh sari telah muncul pada menit ke 15, hal terjadi
karena bunga yang kami gunakan ialah bunga mekar segar, sehingga serbuk sari
telah siap untuk melakukan perkecambahan. Pada hasil pengamatan semakin
banyak waktu yang digunakan maka semakin banyak pula buluh yang keluar.
Akan tetapi, hingga menit ke 25 bentuk polen pada serbuk sari hanya bulat dan
tidak memanjang. Serbuk sari yang dapat berkecambah dalam waktu 5 menit
dapat dikarenakan serbuk sari sudah benar-benar masak, sehingga dalam medium
yang dibuat hampir sama dengan kondisi medium di kepala putik serbuk sari
dapat segera berkecambah dengan baik. Kemungkinan yang lain yaitu karena
medium buatan mempunyai kondisi yang sesuai dengan kondisi perkecambahan
serbuk sari secara alami, yaitu pada suasana yang lembab dan suhu yang hangat
tetapi tidak panas.. Dan ketika pengamatan dengan mikroskop, kemungkinannya
praktikan

tidak

mengamatinya

terlalu

lama

sehingga

masih

dapat

mempertahankan kondisi ruang biakan perkecambahan serbuk sari (di dalam


gelas benda) dengan suhu yang terjaga. Bila pengamatannya hanya sebentar maka
tidak begitu mempengaruhi terjadinya perubahan kondisi yang ekstrim dengan
kondisi di ruang biakan perkecambhan serbuk sari
Dari pengamatan perkecambahan serbuk sari bunga tapak dara saat kondisi
bunga kuncup pada kelompok 1 dan 4 dimana berturut turut konsentrasi
larutannya yaitu 10% dan 20%, diketahui buluh serbuk sari muncul setelah
pengamatan pada menit pertama jumlahnya paling sedikit jika dibandingkan
dengan bunga mekar segar dan mekar layu, terutama pada bunga kuncup dengan
konsentrasi sukrosa 20% pada 5 menit pertama hanya terdapat satu buluh saja
yang keluar, sehingga disebut dengan monosporik. Hal ini kemungkinan terjadi
karena bunga masih terlalu muda, sehingga serbuk sari belum begitu siap untuk
melakukan perkecambahan. Faktor lain yang dapat menyebabkan lambatnya

proses perkecambahan serbuk sari di antaranya karena media yang digunakan


kurang sesuai dengan kondisi untuk berkecambah yang sesungguhnya, seperti
terlalu kering. Kemungkinan lain, kami selaku praktikum mungkin kurang
berhati-hati dalam melakukan praktikum seperti misalnya pengamatan dilakukan
terlalu lama sehingga larutan mengering.
Pada serbuk sari pada bunga mekar layu, buluh serbuk sari yang
dihasilkan pada larutan sukrosa 10% paling banyak jika dibandingkan dengan
bunga kuncup dan mekar sedang. Sedangkan pada bunga mekar layu konsentrasi
20% buluh serbuk sari lebih sedikit jika dibandingkan dengan bunga mekar
segar, hal ini mungkin dikarenakan serbuk sari terlalu masak atau terlewat
masak, sehingga kemampuannya untuk berkecambah sudah berkurang atau tidak
bisa sama sekali walaupun ditaruh dalam medium yang sesuai untuk
perkecambahannya.
Jika dilihat dari konsentrasi sukrosa, buluh serbuk sari yang dihasilkan
lebih banyak pada larutan sukrosa 10% jika dibandingkan dengan 20%.
Serbuk sari yang memerlukan waktu yang cukup lama untuk
berkecambah, yaitu sekitar 15 menit, dapat disebabkan karena serbuk sari belum
benar-benar masak, sehingga masih membutuhkan waktu untuk pemasakan
terlebih dahulu, dan setelah masak maka serbuk sari dapat berkecambah dengan
baik bila kondisi mediumnya sesuai yaitu dalam suasana yang lembab dan pada
suhu hangat serta mempunyai kandungan nutrisi yang baik. Ketika pengamatan
berlangsung, kemungkiannya dilakukan dengan prosedur yang sesuai dan tidak
terlalu lama mengamati di bawah mikroskop (di luar ruang biakan
perkecambahan serbuk sari), sehingga kondisi untuk perkecambahannya tetap
terjaga, dan serbuk sari dapat berkecambah meskipun membutuhkan waktu yang
cukup lama. Lamanya waktu perkecambahan juga dapat dikarenakan pada awal
peletakan serbuk sari pada medium biakan, kondisi medium tersebut masih

belum sesuai dengan kondisi perkecambahan serbuk sari secara alami di kepala
putik, seperti kurang lembab atau suhunya terlalu rendah karena kelembabannya
terlalu tinggi atau bahakan suhunya terlalu panas. Namun lama-kelamaan kondisi
medium tersebut berubah menjadi kondisi yang sesuai untuk berkecambah,
sehingga pada waktunya, serbuk sari dapat berkecambah dengan baik.
E.

Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa


perkecambahan serbuk sari secara in-vitro adalah perkecambahan serbuk sari pada
media buatan, dimana lingkungan yang ada pada medium itu hampir sama dengan
kepala serbuk sari tempat disimpannya serbuk sari tersebut.
Pertumbuhan buluh serbuk sari diawali oleh pemanjangan intin yang menembus
apertura dimana pada intin terdapat inti vegetatif dan dua inti generatif.
Viabilitas perkecambahan serbuk sari dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban
lingkungan, serta kelengkapan nutrisi yang sesuai untuk membentuk buluh serbuk
sari dimana dalam hal ini larutan yang lebih cocok untuk pembentukan serbuk sari
ialah larutan sukrosa dengan konsentrasi 10% karena lebih banyak menghasilkan
buluh jika dibandingkan dengan larutan sukrosa degan konsetrasi 20%. Pada
konsentrasi 10% perkembangan buluh paling baik pada bunga mekar segar dan pada
konsentrasi 20% perkembangan buluh paling baik pada bunga mekar layu.
F. Daftar Pustaka
Galleta, G. J. 1983. Pollen and Seed Management. In: James, N.M. and J. Janick (eds).
Methods in Fruit Breeding. Purdue University Press. West Lafayette. Indiana.
Azwar, R dan Woelan. 1996. Karakteristik bunga dan viabilitas serbuk sari beberapa
klon karet. Bulletin Perkebunan
Wahyudin, D.S. 1999. Daya Simpan Serbuk Sari Salak (Salacca sp) pada Tingkat
Kemasakan yang Berbeda. [Skripsi]. Bogor: Jurusan Budidaya Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.

TOPIK 5
EMBRIO DAN ENDOSPERM

A. Tujuan
1. Mengamati struktur perkembangan endosperm
2. Mengamati struktur dan perkembangan embrio
B. Metode
Observasi
C. Cara Kerja & Alat Bahan
Alat dan Bahan
1) Mikroskop
2) Preparat penampang membujur ovulum Glycine max (kedelai) pada

berbagai stadium perkembangan embrio dan endosperm


Cara Kerja

Mengamati preparat penampang membujur ovulum Glycine max pada


stadium mitosis endosperm, memperhatikan pada bagian struktur dan tipe
endosperm pada Glycine max (seluler, nuclear atau helobial)

Mengamati perkembangan dari zigot hingga terbentuk embrio dewasa pada


preparat penampang membujur ovulum Glycine max pada berbagai stadium
perkembangan embrio

Menggambar seluruh preparat dengan keterangannya

D.

No

Hasil & Pembahasan


Hasil

Gambar

Keterangan

Biji Kedelai (bagian luar)

1. Hilus (pusar biji)


2. Spermatodermis
(kulit biji)

2.

Biji kedelai (bagian dalam)

3.

Embrio stadium globuler

1. Hipokotil (radikula)
2. Epikotil (plumula)
3. Kotiledon

1.

Sel-sel penyusun

badan embrio
2.
Suspensor

4.

Embrio stadium jantung

1.
2.
3.

Suspensor
Badan embryo
Endosperm sudah

mengalami selularisasi

Embrio stadium torpedo

1.
2.
3.
4.

Kotiledon
Plumula
Hipokotil
Endosperm

Pembahasan
Pada pengamatan struktur luar biji kedelai (Glycine max), bagian-bagian

biji yang dapat diamati yaitu kulit biji (seed coat), kotiledon, dan hilum. Fungsi
kulit biji pada kedelai sama dengan fungsi kulit biji pada jagung. Kotiledon juga
merupakan jaringan penyimpan cadangan makanan. Cadangan makanan yang
tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, dan
mineral. Komposisi dan persentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji,
misalnya biji bunga matahari kaya akan fat/lemak, biji kacang-kacangan kaya
akan protein, biji padi mengandung banyak karbohidrat.

Pola perkembangan tumbuhan berbeda-beda, secara umum sel zigot hasil


fertilisasi akan menghasilkan dua sel, satu diantarannya akan berkembang
menjadi embrio lainnya menjadi suspensor. perkembangan suspensor mendorong
embrio tumbuh kedalam endosperm yang menyediakan banyak makanan.
perkembangan embrio melalui beberapa tahap antara lain tahap globular, jantung,
dan torpedo. dua lekukan pada tahap jantung akan berkembang menjadi kotiledon,
dan pada tahap kotiledon embrio telah mengembangkan meristem akar (radikul)
dan meristem pucuk (tunas pucuk). Biji pada tanaman kedelai dikotil terdiri dari
Plumula (embrio yang akan tumbuh menjadi batang dan daun) , Hipokotil (calon
batang yang terletak di bawah daun lembaga), Radikula (embrio yang akan
tumbuh menjadi akar), dan Embrio ( calon tanaman).
Pada proses pertumbuhannya, sel sebelah dalam pada biji akan membentuk
meristem dasar, sistem prokambium, hipokotil dimana pada tahap ini proembrio
berada pada tahap globular. Embrio tahap globular kemudian mengalami
pendataran dibagian apeks, pada tahap ini embrio pada tahap jantung. Kemudian,
pada ke dua sisi embrio tahap jantung akan membelah lebih cepat dibandingkan
bagian tengah sehingga membentuk embrio tahap torpedo. Pemanjangan ini terus
terjadi membentuk embrio tahap kotiledon Suspensor membantu embrio masuk
kedalam endosperm untuk mendapatkan makanan. Embrio tahap kotiledon yang
terus tumbuh akan melengkung didalam ovulum dimana pada bagian ini
suspensor sudah mengecil. Embrio merupakan hasil pembuahan oosphere (ovum)
olleh satu inti jantan generatif. Embrio terdiri dari embryonic axis yang dikelilingi
oleh satu atau lebih kotiledone. Embryonic axis disusun oleh hipokotil dimana
disana menempel kotiledon, radicle, dan plumula. Bagian ini umumnya mudah
untuk dikenali dalam satu embrio dikotil tetapi sulit untuk diidentifikasi dalam
banyak spesies monokotil. Satu kotiledon pada embrio ini diperluas menjadi
haustorial seeperti scutellum. Bagian basal lapisan kotiledon diperpanjang ke
dalam koleoptil dan hipokotil mengalami modifikasi, dalam beberapa spasies
bagiannya ke dalam mesokotil. Koleorhiza merupakan dasar hipokotil yang
menyelimuti endogenous radicle.

Endosperm merupakan hasil fusi antara satu inti jantan generatif dan dua
inti polar untuk membentuk triploidnukleus endosperm. Selama perkembangan
biji, endosperm mengelilingi embrio dan mungkin tetap sebagai satu jaringan
yang relative luas sampai bijicukup berkembang baik. Endosperm berfungsi
sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan (pati, protein, dan karbohidrat).
E.

Kesimpulan
Pada perkembangan embrio diawali dengan sel zigot hasil fertilisasi akan

menghasilkan dua sel, satu diantarannya akan berkembang menjadi embrio


lainnya menjadi suspensor. perkembangan suspensor mendorong embrio tumbuh
kedalam endosperm yang menyediakan banyak makanan. perkembangan embrio
melalui beberapa tahap antara lain tahap globular, jantung, dan torpedo.
Endosperm merupakan hasil fusi antara satu inti jantan generatif dan dua
inti polar untuk membentuk triploid nukleus endosperm. Selama perkembangan
biji, endosperm mengelilingi embrio dan mungkin tetap sebagai satu jaringan
yang relative luas sampai bijicukup berkembang baik. Endosperm berfungsi
sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan (pati, protein, dan karbohidrat).

F.

Daftar Pustaka

Bhatnasar, SP dan Bhojwani 2004. The Embryologi of Angiospermae.


Vika Publishing House PVT LVD. New Delhi.
Indah 2010. Srtuktur biji. http://www.pustakaut.ac.id. Diakses 6 Januari
2015.
Nugroho, H, Purnomo dan Issirep S 2006. Struktur dan Perkembangan
Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suharto, E 2004. Struktur Biji, Sifat Fisik Biji dan Karakteristiknya.
Jurnal Akta Agrisia Vol. 7

TOPIK 6
BIJI DAN KECAMBAH

A. Tujuan
1. Membedakan biji albuminous dan eksalbuminous
2. Mengamati perkecambahan tipe epigeal dan hipogeal
3. Mengamati poliembrioni pada biji
B. Metode
Observasi
C. Cara Kerja & Alat Bahan

Alat dan Bahan


1.
Beberapa jenis biji dan kecambah (kacang kedelai dan jagung)
2.
Pisau / silet tajam
3.
Kaca pembesar (loup)

Cara Kerja

Mengambil biji kacang kacang merah yang telah direndam semalam dalam
air. Menggambar biji dan memberi keterangan secara lengkap

Mengupas kulit biji kacang kacang merah sehingga yang tampak adalah
kotiledonnya yang berjumlah dua keeping dan akar lembaganya.
Menggambar dan memberi keterangan secara lengkap
Memisahkan kedua daun lembaga (kotiledon), menemukan batang
lembaga, pucuk lembaga (plumula) dan akar lembaganya. Menggambar
dan memberi keterangan secara lengkap

D. Hasil dan Pembahasan


Mengamati
Hasil Pengamatan
dan menggambar semua biji dan kecambah pada jagung, dan
memcatat perbedaan struktur yang tampak pada kedua biji

No
1

Gambar pengamatan
Jagung 0 hari

Jagung 3 hari

Keterangan

Jagung 7 hari

No
4

Gambar pengamatan
Kacang merah 0 hari

Kacang merah 3 hari

Keterangan

Kacang merah 7 hari

Pembahasan
Periode pertumbuhan tiap jenis tumbuhan berbeda, namun semua diawali dari
proses yang sama, yaitu perkecambahan. Perkecambahan adalah munculnya
plantula (tanaman kecil) dari dalam biji yang merupakan hasil pertumbuhan.
Embrio yang terdapat di dalam biji mempunyai beberapa bagian, antara lain
embrio akar (radikula), embrio daun (plumula), embrio pucuk (epikotil) dan
embrio batang (hipokotil).
Dari hasil pengamatan, biji kacang merah pada pengamatan struktur luar
memperlihatkan bagian-bagian kulit biji ( seed coat ), kotiledon dan radikula.
Bagian-bagian yang teramati pada penampang membujur kedelai yaitu seed coat,
kotiledon, radikula dan plumula. Sedangkan pada penampang melintang, bagianbagian yang dapat diamati antara lain seed coat, kotiledon dan plumula. Kulit biji
umumnya memiliki fungsi yang sama yakni melindungi organ di dalam biji dari
organisme di luar biji. Kotiledon merupakan jaringan penyimpan cadangan
makanan. Cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari
karbohidrat, lemak, protein, dan mineral. Biji kacang merah merupakan biji
dikotil dengan tipe bibit epigeal yang terdapat di dalam polong. Kulit luar (testa)
bertekstur keras, berfungsi untuk melindungi biji yang berada di dalamnya. Biji

terdiri atas lembaga dan keping biji, diliputi oleh kulit ari tipis (tegmen). Biji
berbentuk bulat agak lonjong atau bulat dengan ujung agak datar karena
berhimpitan dengan butir biji yang lain selagi di dalam polong. Warna kulit biji
bervariasi yaitu merah jambu, merah, cokelat, merah tua, dan ungu. dilihat dari
cirinya tipe perkecambahan pada kacang merah merupakan epigeal, hal ini sesuai
dengan teori yang menyatakan bahwa perkecambahan epigeal merupakan
perkecambahan apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga
atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat ke
atas tanah. Pada perkecambahan
Akibatnya, plumula dan

epigeal,

hipokotil

tumbuh

memanjang.

kotiledon terdorong ke permukaan tanah. Pada

perkecambahan secara epigeal ini, kotiledon yang terkena sinar matahari akan
mengembangkan klorofil dan dapat mengadakan fotosintesis, tetapi sebelum hal
itu terjadi, suplai makanan diambil dari endosperm. Kotiledon hanya berfungsi
sementara sebagai daun tempat fotosintesis, yaitu sebelum daun sesungguhnya
tumbuh.
Biji tanaman kacang merah secara umum terdiri dari :
a.

Plumula (embrio yang akan tumbuh menjadi batang dan daun)

b.

Hipokotil (calon batang yang terletak di bawah daun lembaga)

c.

Radikula (embrio yang akan tumbuh menjadi akar)

d.

Embrio ( calon tanaman)


Biji jagung (Zea mays) Biji jagung diamati dari struktur luarnya memiliki

bagian-bagian kulit biji (seed coat ) dan endosperma. Kulit biji jagung terdiri dari
satu lapis kulit. Struktur biji dapat lebih lengkap diamati dengan memotong biji
secara melintang. Bagian-bagian yang dapat diamati dari penampang biji jagung
melintang yaitu embryo, endosperm, seed coat , radikula dan

plumula.

Sedangkan, pada penampang melintang hanya terlihat embryo, endosperm dan


seed coat. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan
mekanis, dan serangan cendawan, bakteri, dan insekta. Endosperm yaitu suatu
jaringan penyimpanan makanan cadangan yang diserap oleh embrio sebelum atau
selama perkecambahan biji dan selalu terdapat di dalam biji yang sangat muda.

Jagumg merupakan salah satu contoh biji monokotil dengan tipe bibit hypogeal.
Perkecambahan hipogeal menurut teori merupakan perkecambahan yang terjadi
karena pertumbuhan memanjang dari epikotil yang menyebabkan plumula keluar
menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Pada jagung, kotiledon (skutelum)
akan menyerap makanan cadangan pada endosperm. Koleoptil dan koleorhiza
merupakan penutup/pelindung meristem apeks akar dan pucuk. Setelah akar
muncul ke permukaan biji, koleoptil kemudian akan keluar dan akhirnya diikuti
oleh munculnya daun yang sebenarnya tunas (plumula). Selain itu biji jagung
mempunyai aleuron layer yang merupakan selaput tipis berfungsi sebagai
pelindung biji. Menurut teori, secara struktural, biji jagung yang telah matang
terdiri atas empat bagian utama, yaitu perikarp, lembaga, endosperm, dan tip kap.
Perikarp merupakan lapisan pembungkus biji yang berubah cepat selama proses
pembentukan biji. Pada waktu kariopsis masih muda, sel-selnya kecil dan tipis,
tetapi sel-sel itu berkembang seiring dengan bertambahnya umur biji. Pada taraf
tertentu lapisan ini membentuk membran yang dikenal sebagai kulit biji atau
testa/aleuron yang secara morfologi adalah bagian endosperm. Bobot lapisan
aleuron sekitar 3% dari keseluruhan biji (Suarni dan Widyowati, 2008)
Biji tanaman jagung secara umum terdiri dari :
a. Koleoptil (selubung ujung plumula)
b. Plumula (embrio yang akan tumbuh menjadi batang dan daun)
c. Radikula (embrio yang akan tumbuh menjadi akar)
d. Koleoriza (bagian yang menyelubungi akar)
e. Endospern ( jaringan yang mengelilingi embrio dan terdapat kotiledon yang
mengandung cadangan makanan)
Berdasarkan keberadaan endosperma, biji dapat dibedakan menjadi:
1.

Biji exalbuminous

Biji jenis ini hanya mengandung sedikit endosperma Atau bahkan tidak
memilikinya sama sekali. Tumbuhan yang termasuk kedalam biji exalbuminous
ialah pada biji dikotil, termasuk ke dalam non-endosperm yaitu pada biji tidak
dapat dijumpai adanya endosperm, misalnya pada bijikacang merah. Pada dikotil,

endosperm terpakai habis oleh embrio, sehingga tidak telihat lagi pada saat benih
masak.
2.

Biji albuminous

Biji tipe ini mengandung endosperma atau perisperm (jaringan nuselus yang
persisten dan volumenya bertambah sejalan dengan perkembangan ini). Biji
monokotil ternasuk endospermus (albuminus) yaitu pada biji dapat dijumpai
adanya endosperm, misalnya pada biji jagung (Zea mays). Perkembangan
endosperm pada biji monkotil mencapai maksimum pada saat benih mencapai
masak fisiologi. Endosperm menjadi bagian yang paling besar dari benih
monokotil masak.
E.

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan, biji kacang merah pada pengamatan struktur luar

memperlihatkan bagian-bagian kulit biji ( seed coat ), kotiledon dan radikula.


Bagian-bagian yang teramati pada penampang membujur kedelai yaitu seed coat,
kotiledon, radikula dan plumula. Sedangkan pada penampang melintang, bagianbagian yang dapat diamati antara lain seed coat, kotiledon dan plumula. Selain itu
Biji kacang merah merupakan biji dikotil dengan tipe bibit epigeal serta termasuk
kedalam biji exalbuminous yaitu biji yang non-endosperm yaitu pada biji tidak
dapat dijumpai adanya endosperm.
Biji jagung (Zea mays) jika diamati dari struktur luarnya memiliki bagianbagian kulit biji (seed coat ) dan endosperma. Kulit biji jagung terdiri dari satu
lapis kulit. Struktur biji dapat lebih lengkap diamati dengan memotong biji secara
melintang. Bagian-bagian yang dapat diamati dari penampang biji jagung
melintang yaitu embryo, endosperm, seed coat , radikula dan

plumula.

Sedangkan, pada penampang melintang hanya terlihat embryo, endosperm dan


seed coat. Selain itu Biji kacang merah merupakan biji monokotil dengan tipe
bibit hipogeal serta termasuk kedalam biji albuminous yaitu pada biji dapat
dijumpai adanya endosperm.
F. Daftar Pustaka

Hakim L dan Anis F 2008. Pengaruh Ukuran Kotiledon Terhadap pertumbuhan Semai
Ulin (Eusideroxylon zwageri T. ET B.). Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan.
Ifomi 2012. Patenokarpi, Apogami dan Apomixis. http://agristark.blogspot.com. Diakses
pada tanggal 5 Januari 2015
Jain M 2000. Reproduction and Development in Angiosprems II. New Delhi: UPKAR
Press
Utami B 2012. Biologi. Jakarta: Wahyu Media

TOPIK 7
PENGENALAN MACAM-MACAM STRUKTUR YANG MEMBANTU
PENYEBARAN BIJI/BUAH
A. Tujuan
Mengenali bagian-bagian buah/biji yang mempunyai peran dalam penyebaran biji.
B. Metode
Observasi
C. Cara Kerja & Alat Bahan
Alat dan Bahan
1. Buah pala ( Myristica fragans)
2. Buah papaya ( Carica papaya)
3. Meranti ( Shorea leprosula)
4. Buah tomat ( Lycopersicum esculentum)
5. Biduri (Calatropis gigantea)

Cara Kerja
Mengamati bahan yang tersedia, gambar dan beri keterangan

Menunjukkan bagian-bagian biji/buah yang berperan dalam membantu


penyebaran

D.

Hasil & Pembahasan


Hasil

No

Gambar Pengamatan

Keterangan

Pembahasan

1. Buah Tomat (Lycopersicum esculentum)


Buahnya buah buni, berdaging, kulitnya tipis licin mengkilap, beragam dalam
bentuk maupun ukurannya, warnanya kuning atau merah. Bijinya banyak, pipih,
warnanya

kuning

kecokelatan..

Bagian-bagian

buah

tomat

Mesocarpium, Eksocarpium, Endocarpium, Plasenta, dan Biji.

antara

lain

Sedangkan

morfologi dan anatomi biji tomat adalah Biji tomat berbentuk pipih, berbulu dan
diselimuti daging buah. Warna bijinya ada yang putih, putih kekuningan, ada juga
yang kecoklatan. Pada sekitar biji tomat terdapat funikula yang merupakan bagian
yang menghubungkan biji dengan tembuni/papan biji (plasenta) atau tangkai

sebagai tempat menggantungnya bakal biji. Jika biji masak, tali pusat lepas
(funikulus) sehingga pada biji terlihat bekas yang disebut pusat biji (hilus)
Proses

perkecambahan

perkecambahan

epigeal,

biji
dimana

tomat
radikel

termasuk
muncul

dalam
dan

katagori
diikuti

tipe

dengan

memanjangnya hipokotil dan membawa serta kotiledon dan plumula ke atas


permukaan tanah.
2. Pepaya ( Carica papaya)
Merupakan buah yang berasal dari pertumbuhan ovarium dan disebut
dengan buah sejati. Bagian-bagian buah pepaya sama seperti toamat yaitu
antara lain Mesocarpium, Eksocarpium, Endocarpium, Plasenta yang biasa
disebut funikula, dan Biji. Pada pepaya terdapat bakal biji dan kantung
embrio, setiap bakal biji (ovulum) melekat pada dinding ovarium dengan
adanya tangkai bakal biji (funikulus ) yang mengandung satu berkas
pembuluh. Bakal biji terdiri dari jaringan ditengah (nuselus) dilingkari oleh
integumen dalam dan integument luar. Kedua integument mengelilingi suatu
saluran yang bermuara di pori, disebut mikropil. Daerah nuselus, integument,
dan funikulus yang berhubungan, disebut kalaza, Sering terletak berhadapan
derngan mikropil.
3. Meranti (Shorea leprosula)
Meranti pada umumnya berbunga dan berbuah 4-7 tahun sekali yang disebut
dengan musim berbuah masal. buah Meranti berbentuk bulat telur, berbulu,
bersayap lima yang berbentuk sodet, tiga sayapnya besar dan dua sayapnya
kecil. Sayap tersebut merupakan alat bantu tambahan untuk penyebaran biji
meranti yang berada di tengah. Alat bantu tersebut memiliki morfologi seperti
kelopak dan mahkota pada bunga.

4. Pala (Myristica fragrans)


Tanaman pala memiliki buah berbentuk bulat, berwarna hijau kekuningkuningan buah ini apabila masak terbelah dua. Garis tengah buah berkisar antara

3-9 cm, daging buahnya tebal. Biji berbentuk lonjong sampai bulat, panjangnya
berkisar antara 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5 cm. Kulit biji berwarna coklat dan
mengkilat pada bagian luarnya. Kernel biji berwarna keputih-putihan sedangkan
fulinya berwarna merah gelap dan kadang-kadang putih kekuning-kuningan dan
membungkus biji menyerupai jala. Tumbuhan pala memiliki kulit biji atau biasa
disebut testa yang tebal dan keras. Kulit biji (testa) berkembang dari jaringan
integumen yang semula mengitari ovula (bakal biji) dan berguna untuk menjaga
lembaga dari kekeringan dan kerusakan mekanis. Di samping ketiga bagian utama
biji di atas, pala memiliki bagian tambahan pada biji yang dihasilkannya yaitu
salut biji (arilus) biasanya berasal dari pertumbuhan tali pusar
5. Biduri (Calatropis gigantea)
Bagian-bagian buah biduri sama seperti buah lainnya yaitu antara lain
Mesocarpium, Eksocarpium, Endocarpium, Plasenta. Hanya saja terdapat alat
tambahan untuk penyebaran bijinya yaitu bulu (coma), yaitu penonjolan selsel kulit luar biji yang berupa rambut-rambut yang halus, memudahkan biji
ditiup oleh angin.

E.

Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pada beberapa tumbuhan

terdapat struktur yang membantu penyebaran biji atau buah yang berupa alat
tambahan. Pada tomat dan pepaya antara lain funikula atau tangkai pendukung
biji, pada tumbuhan biduri yaitu bulu (coma), pada tumbuhan meranti adalah
struktur seperti sayap berjumlah lima yang berbentuk sodet, dan pada tanaman
pala berupa salut biji.

F.

Daftar Pustaka

Campbell, Neil A et al. 2004. BIOLOGI EDISI KELIMA JILID III. Jakarta:
Erlangga.

Hidayat,Estiti.1995.Anatomi tumbuhan berbiji.ITB:Bandung.


Kimball, John W. 1999. Biologi Jilid 2 dan 3. ErlanggaL: Jakarta.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2001. Morfologi Tumbuhan. Cet. 13. Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta.