Anda di halaman 1dari 11

Kedudukan Sunnah Dalam Menyikapi Penguasa Negeri

(Bagian II)
Ditulis : Abu Umar Ahmad bin Umar Bazemul
(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Karimah Askary)

HARAMNYA MENCELA PENGUASA

Syari’at yang lurus ini melarang seseorang dari mencela penguasa, sebab
mencela mereka akan menjurus kepada tidak mentaatinya dalam perkara yang
ma’ruf, dan akan membangkitkan emosi masyarakat terhadap mereka, yang
akan membuka jalan terjadinya kekacauan yang tidak akan kembali kepada
manusia melainkan kejahatan yang merebak, sebagaimana kebiasaan mencela
mereka akan berakhir dengan melakukan pemberontakan atas mereka, dan
memeranginya. Dan ini merupakan malapetaka yang dahsyat dan musibah yang
besar.
Mengotori kehormatan para penguasa dan menyibukkan diri dengan
mencelanya, serta menyebut aib-aibnya merupakan kesalahan besar dan
kejahatan yang buruk yang dilarang oleh syari’at yang suci, dan mencela
pelakunya, dan ini merupakan bibit sikap memberontak terhadap penguasa yang
merupakan inti rusaknya agama dan dunia. Dan telah diketahui bahwa wasilah
(perantara) memiliki hukum yang sama dengan tujuan, maka setiap nash yang
mengharamkan keluar dari ketaatan dan celaan terhadap pelakunya merupakan
dalil yang menunjukkan diharamkannya mencela dan tercelanya pelakunya.(53)
Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam “At-tamhid” dari Anas bin Malik
Rahimahullah bahwa beliau berkata :
" ‫نع اننو@ني ملسو @يلع @للا ىلص @للا لوسر باحصأ نم رباكألا ناك‬
‫"ءارمألا ِّبس‬
“Adalah para pembesar dari shahabat Rasulullah ‫ملسو @يلع @للا ىلص‬
melarang kami dari mencela para penguasa.”

MENASEHATI PENGUASA

Nasehat bagi penguasa termasuk diantara perkara agama yang terpenting,


sebagaimana yang dikeluarkan Muslim dalam shohihnya dari Tamim Ad-Dari
bahwa Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda:

" ‫ِ@ِلوُسَرِلَو ِ@ِباَتِكِلَو ِ@َّلِل َلاَق ْنَمِل اَنْلُق ُةَحيِصَّنلا ُنيِّدلا‬


‫"ْمِ@ِتَّماَعَو َنيِمِلْسُمْلا ِةَّمِئَأِلَو‬
“Agama itu nasehat”. Kami bertanya: “Bagi siapa?” Beliau menjawab: ”Bagi
Allah, kitab-Nya.Rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin dan
keumuman kaum muslimin.”
Dan dikeluarkan Tirmidzi dalam sunan-nya dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi
‫ ملسو @يلع @للا ىلص‬bersabda:
‫ِ@َّلِل ِلَمَعْلا ُصاَلْخِإ ٍمِلْسُم ُبْلَق َّنِ@ْيَلَع ُّلِغُي اَل ٌثاَلَث‬
‫َةَوْعَّدلا َّنِإَف ْمِ@ِتَعاَمَج ُموُزُلَو َنيِمِلْسُمْلا ِةَّمِئَأ ُةَحَصاَنُمَو‬
‫ْمِ@ِئاَرَو ْنِم ُطيِحُت‬
“Tiga hal yang hati seorang muslim tidak dengki padanya: ikhlas dalam beramal
karena Allah, menasehati para pemimpin kaum muslimin, dan komitmen dengan
jama’ah mereka, karena sesungguhnya do’a itu terkabulkan bersama
mereka”(54)
Makna hadits ini bahwa ketiga perkara ini: yaitu ikhlas dalam beramal karena
Allah, menasehati penguasa, dan komitmen dengan jama’ah, maka barangsiapa
yang melakukannya, maka dalam hatinya tidak terdapat sifat iri dan dengki.
Berkata Abu Nu’aim Al-Asbahani: “Barangsiapa yang menasehati para pemimpin
dan penguasa maka dia mendapat hidayah, dan barangsiapa yang menipu
mereka, maka dia menyimpang dan melampaui batas.”(55)

BEBERAPA BENTUK MENASEHATI PENGUASA

Dalam menasehati penguasa ada empat cara:


Pertama: menasehati penguasa secara rahasia antara dia dan penguasa.
Kedua: menasehati penguasa didepan manusia secara terang-terangan di
hadapannya,dalam keadaan memungkinkan menasehatinya secara tersembunyi.
Ketiga: menasehati penguasa secara tersembunyi, lalu keluar dari sisi penguasa
dan menyebarkannya dikalangan manusia.
Keempat:mengingkari penguasa disaat dia tidak ada melalui majelis-majelis,
nasehat, khutbah, pelajaran, dan semisalnya. Maka keempat cara ini, akan kami
sebutkan secara terperinci masing-masing dari bentuk tersebut:
Bentuk pertama: menasehati penguasa secara tersembunyi
Menasehati penguasa secara tersembunyi termasuk prinsip dalam manhaj salafy
yang diselisihi oleh ahlul ahwa’ dan bid’ah seperti khawarij:
Sebab asal hukum menasehati penguasa adalah secara rahasia dan tidak terang-
terangan. Hal ini berdasarkan apa yang dikeluarkan oleh Ahmad dalam
musnadnya dari ‘Iyyadh berkata : bersabda Rasulullah ‫ملسو @يلع @للا ىلص‬
:
‫ًةَيِناَلَع ُ@َل ِدْبُي اَلَف ٍرْمَأِب ٍناَطْلُسِل َحَصْنَي ْنَأ َداَرَأ ْنَم‬
‫اَّلِإَو َكاَذَف ُ@ْنِم َلِبَق ْنِإَف ِ@ِب َوُلْخَيَف ِ@ِدَيِب ْذُخْأَيِل ْنِكَلَو‬
‫ُ@َل ِ@ْيَلَع يِذَّلا ىَّدَأ ْدَق َناَك‬
“Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa tentang suatu perkara, maka
jangan dia menampakkannya secara terang-terangan, namun dia mengambil
tangannya dan bersepi dengannya, jika dia menerima maka itulah yang
diinginkan, namun jika tidak maka dia telah menunaikan kewajibannya.”(56)

Perkataannya: “Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa tentang satu


perkara”, terdapat keumuman lafadz baik bagi yang menasehati maupun perkara
nasehatnya.
Perkataannya: “jangan dia menampakkan secara terang-terangan”, padanya
terdapat larangan menasehati secara terang-terangan, dan larangan
menunjukkan haramnya, dan wajib merahasiakannya.
Perkataannya: ”namun hendaklah dia mengambil tangannya dan bersepi
dengannya, padanya terdapat penjelasan cara syar’i dalam menasehati
penguasa, yaitu secara rahasia, tidak dengan terang-terangan .”Bersepi
dengannya” yaitu sendirian. Seperti ucapan Usamah : ”Apakah kalian
menganggap bahwa aku tidak berbicara dengannya melainkan aku perdengarkan
kepada kalian, demi Allah, sungguh aku telah berbicara dengannya antara aku
dan dia.”
Hal ini dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kedua shohihnya dari Syaqiq
dari Usamah bin Zaid berkata: dikatakan kepadanya: “Mengapa engkau tidak
masuk bertemu Utsman dan mengajaknya berdialog”. Beliau menjawab: “Apakah
kalian menganggap bahwa jika aku berbicara dengannya , saya harus
memperdengarkan kepada kalian, demi Allah, aku telah berbicara dengannya,
antara aku dan dia tanpa membuka suatu perkara yang aku tidak suka menjadi
orang pertama yang membukanya.”
Maka dalam atsar ini menunjukkan bahwa nasehat secara terang-terangan
merupakan perkara mungkar yang dapat menimbulkan fitnah, dan bahwa
dengan cara rahasia merupakan prinsip dalam menyempurnakan penyampaian
nasehat tanpa fitnah dan tanpa menimbulkan gejolak dikalangan rakyat terhadap
pemimpinnya, dari ucapannya:
“Demi Allah, sungguh aku telah berbicara dengannya antara aku dan dia” dan
ucapannya
“tanpa aku membuka perkara yang aku tidak senang menjadi orang pertama
yang membukanya.”
Berkata Imam Nawawi: “Maksudnya adalah melakukan pengingkaran secara
terang-terangan terhadap para penguasa di kalayak ramai, seperti yang
dilakukan oleh para pembunuh Utsman Radhiyallahu ‘anhu. Dan pada ucapan
diatas terdapat adab bersama para penguasa dan bersikap lembut terhadap
mereka, dan menasehati mereka secara rahasia dan menyampaikan kepadanya
apa yang diucapkan oleh manusia tentang mereka agar mereka berhenti darinya,
dan ini semua jika hal tersebut memungkinkan. Namun jika tidak mungkin
menasehatinya dan mengingkarinya secara rahasia, maka dia boleh
melakukannya secara terang-terangan agar tidak hilang prinsip al-haq.”(57)
Perkataannya: ”Ini semua jika hal tersebut memungkinkan” yaitu memungkinkan
bagi yang menasehatinya penguasa secara rahasia, maka itu yang wajib
baginya, tidak yang lainnya.
Perkataannya: ”Jika tidak memungkinkan menasehatinya dan mengingkarinya
secara rahasia, maka dia boleh melakukannya secara terang-terangan agar tidak
hilang prinsip al-haq”, yaitu bahwa dia tidak mengingkari secara terang-terangan
kecuali dalam keadaan sangat terpaksa,(58) oleh karena itu ‘Iyyadh (bin Ghunm)
mengingkari Hisyam tatkala dia mengingkarinya secara terang-terangan tanpa
keadaan darurat. Maka tidak ada tindakan dari Hisyam melainkan menerimanya,
Wallahu a’lam.
Berkata Syekh Bin Baaz ketika mengomentari atsar Usamah :
“Tatkala mereka membuka kejahatan di zaman Utsman Radhiyallahu ‘anhu dan
mengingkari Utsman Radhiyallahu ‘anhu secara terang-terangan, maka semakin
sempurnalah fitnah, peperangan, dan kerusakan yang pengaruhnya masih terasa
hingga hari ini, sampai terjadi fitnah antara Ali dan Mu’awiyah, dan antara
pembunuh Utsman dan Ali dengan sebab itu. Dan terbunuh sekian banyak dari
para shahabat dan selainnya dengan sebab melakukan pengingkaran secara
terang-terangan dan menyebut ‘aib secara transparan, sehingga menyebabkan
masyarakat membenci penguasa mereka, sampai merekapun membunuhnya.
Kami memohon kepada Allah keselamatan.”(59)
Dan dikeluarkan Imam Ahmad dalam musnadnya dari Sa’id bin Jumhan bahwa
dia berkata: “Aku bertemu dengan Abdullah bin Abi Aufa lalu aku berkata:
sesungguhnya penguasa itu mendzalimi manusia dan bertindak kasar terhadap
mereka.” Maka dia mengambil tanganku dan menusuknya dengan tusukan yang
keras lalu berkata: “Celaka engkau wahai Ibnu Jumhan, hendaklah engkau
berpegang kepada sawadul a’dzam(60), hendaklah engkau berpegang kepada
sawadul a’dzam. Jika penguasa itu mau mendengar darimu maka datangilah
rumahnya lalu kabarkan apa yang engkau ketahui, jika dia menerima itu darimu,
namun jika tidak maka biarkan dia, sebab kamu tidaklah lebih mengetahui
tentang hal itu darinya.”
Perhatikanlah Shahabat yang mulia Ibnu Abi Aufa mencegahnya dari
membicarakan penguasa, dan memerintahkannya untuk menasehatinya secara
rahasia dan bukan terang-terangan.
Berkata Ibnu Nuhas rahimahullah: “Hendaknya dia memilih pembicaraan
bersama penguasa ditempat sepi daripada berdialog dengannya dihadapan
umum”.(61)
Dan berkata Asy Syaukani: ”Sepantasnya bagi yang mengetahui kesalahan
pemimpin dalam sebagian permasalahan agar menasehatinya, dan jangan
menampakkan celaan terhadapnya di hadapan khalayak ramai, namun
sebagaimana yang terdapat dalam hadits bahwa dia mengambil dengan
tangannya lalu berduaan dengannya, dan menyampaikan nasehat dan jangan
menghinakan penguasa milik Allah (di muka bumi).(62)
Berkata para Imam Dakwah: “Apa yang terjadi pada penguasa dari kemaksiatan,
dan penyimpangan yang tidak menyebabkan kekafiran dan keluar dari Islam,
maka wajib menasehati mereka dengan cara yang syar’i dengan lembut, dan
mengikuti metode salafus soleh dengan tidak mencelanya dimajelis-majelis dan
kumpulan manusia.”(63)
Dan berkata Allamah As-Sa’di rahimahullah: “Bagi siapa yang melihat dari
mereka (para penguasa,pen) sesuatu yang tidak halal, agar memberikan
peringatan kepadanya dengan cara rahasia, tidak dengan terang-terangan,
dengan lembut dan dengan ungkapan yang sesuai keadaan.”(64)
Berkata Syaikh Bin Baaz rahimahullah: “Cara yang diikuti dikalangan salaf adalah
menasehati antara mereka dengan penguasa (secara rahasia), menulis surat
kepadanya, menghubungi para ulama yang punya hubungan dengannya agar
membimbingnya kepada kebaikan. Mengingkari kemungkaran bisa dilakukan
tanpa penyebut pelakunya, maka dia mengingkari zina, minum khamr, riba,
tanpa menyebut orang yang melakukannya. Dan cukup mengingkari
kemaksiatan dan memberi peringatan darinya dengan tanpa menyebut bahwa si
fulan melakukannya , (tanpa menyebut) apakah dia hakim atau bukan.”(65)

Bentuk kedua: Menasehati penguasa di depan manusia secara terang-terangan,


dalam keadaan memungkikan menasehatinya secara rahasia.
Bentuk seperti ini diharamkan, berdasarkan beberapa ha berikut ini:
1. Menyelisihi hadits ‘Iyyadh bin Ghunm yang memerintahkan secara rahasia.
2. Menyelisihi atsar salafus shaleh dan manhajnya seperti Usamah bin Zaid dan
Abdullah bin Abi Aufa, dan yang lainnya.
3. Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam: ”Barangsiapa yang
menghinakan penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinakannya.”
Riwayat Tirmidzi.
Berkata Syaikh Shaleh bin Abdul Aziz bin Utsaimin rahimahullah: “Jika
membicarakan seorang raja tanpa kehadirannya, atau menasehatinya secara
terang-terangan dan memasyhurkannya termasuk menghinakannya yang Allah
telah mengancam pelakunya dengan kehinaan, maka tidak diragukan lagi bahwa
wajib menjaga apa yang telah kami sebutkan -yaitu menasehati secara rahasia-
bagi siapa yang sanggup menasehati mereka dari para ulama yang dekat dengan
mereka.”(66)
Dan berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah: : “Jika terjadi
kemungkaran dari seorang pemimpin atau yang lainnya, maka hendaklah
dinasehati dengan lembut dan rahasia , dan tidak diketahui oleh seorangpun, jika
dia menerima maka itulah yang dikehendaki, namun jika tidak maka dia mencari
bantuan orang lain yang bisa menerima (nasehatnya) secara rahasia, namun jika
dia tidak melakukan dan memungkinkan mengingkarinya secara terang-terangan
kecuali bila terhadap seorang pemimpin, dia telah menasehatinya dan tidak
diterima dan mencari bantuan yang lain pun tidak diterima, maka hendaklah dia
mengangkat masalah itu kepada kami secara tersembunyi.”(67)

Bentuk ketiga: menasehati penguasadengan cara rahasia, lalu dia


menyebarkannya.
Cara seperti ini diharamkan berdasarkan hal-hal berikut:
1. menyelisihi hadits ‘Iyyadh bin Ghunm, sebab maksud dan tujuannya adalah
agar manusia tidak mengetahuinya yang dapat menimbulkan kerusakan.
2. menyelisihi petunjuk salaf dalam menyikapi penguasa.
3. dapat menimbulkan riya’ dan tanda menunjukkan ketidak ikhlasan dalam
melakukannya.
4. dapat menimbulkan fitnah, kekacauan, dan perpecahan dari jama’ah.
5. menghinakan penguasa, dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda:
“Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi, maka Allah akan
menghinakannya.”
Berkata Syaikh Shaleh bin Abdul Aziz bin Utsaimin rahimahullah:
“Jika membicarakan seorang raja tanpa kehadirannya, atau menasehatinya
secara terang-terangan dan memasyhurkannya termasuk menghinakannya yang
Allah telah mengancam pelakunya dengan kehinaan, maka tidak diragukan lagi
bahwa wajib menjaga apa yang telah kami sebutkan -yaitu menasehati secara
rahasia-“
Berkata Syaikh As-Sa’di rahimahullah:
“Berhati-hatilah wahai pemberi nasehat kepada mereka cara yang terpuji ini –
yaitu dengan lembut dan halus- untuk kamu tidak merusak nasehatmu dengan
mengharapkan pujian dimata manusia, lalu kamu mengatakan kepadanya:
sesungguhnya aku telah menasehati mereka dan aku mengatakan begini dan
begitu, karena sesungguhnya ini merupakan tanda riya’ dan alamat kelemahan
ikhlas, dan dapat menyebabkan kemudaratan lainnya sebagaimana yang telah
diketahui.”(68)

Bentuk keempat: menasehati penguasa tanpa kehadirannya diberbagai majelis


dan nasehat serta khutbah, dan semisalnya
Maka cara seperti inipun diharamkan berdasarkan beberapa hal berikut ini:
1. Karena ini termasuk ghibah dan kebohongan terhadap penguasa.Allah Ta’ala
berfirman:
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu
yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu
merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.(QS.Alhujurat:12)
Maka Dan dikeluarkan Imam Muslim dalam shahihnya dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah  ‫ ملسو @يلع @للا ىلص‬bersabda :
‫َكاَخَأ َكُرْكِذ َلاَق؟ ُمَلْعَأ ُ@ُلوُسَرَو ُ@َّللا اوُلاَق ُةَبيِغْلا اَم َنوُرْدَتَأ‬
‫َناَك ْنِإ َلاَق ُلوُقَأ اَم يِخَأ يِف َناَك ْنِإ َتْيَأَرَفَأ َليِق ُ@َرْكَي اَمِب‬
‫"ُ@َّتَ@َب ْدَقَف ِ@يِف ْنُكَي ْمَل ْنِإَو ُ@َتْبَتْغا ِدَقَف ُلوُقَت اَم ِ@يِف‬
“Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab: Allah dan Rasulnya lebih
mengetahui”. Beliau bersabda: “Yaitu menyebut saudaramu dengan sesuatu
yang dibencinya”. Lalu ada yang bertanya: “Bagaimana jika pada saudaraku itu
benar-benar seperti yang aku katakan?” Beliau menjawab: ” Jika benar apa yang
kamu katakan maka sungguh engkau telah mengghibahinya, dan jika tidak benar
perkataanmu maka sungguh engkau telah menuduhnya (dengan dengan
bohong).”
Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya melarang dari ghibah, dan
tidaklah diragukan bahwa membicarakan penguasa termasuk diantara ghibah
tanpa kehadirannya, walaupun yang dibicarakan adalah benar, dan kalau dusta
maka termasuk buhtan (kebohongan).
2. Dan bentuk seperti ini juga termasuk ke dalam adu domba diantara manusia
yang dapat menimbulkan fitnah dan kekacauan, sebagaimana yang dikeluarkan
Imam Muslim dalam shohihnya dari Abdullah bin Mas’ud berkata: sesungguhnya
Muhammad ‫ ملسو @يلع @للا ىلص‬bersabda:
‫ ُةَميِمَّنلا َيِ@ ؟ ُ@ْضَعْلا اَم ْمُكُئِّبَنُأ اَلَأ‬: ‫" ِساَّنلا َنْيَب ُةَلاَقْلا‬
“Maukah aku kabarkan kepada kalian apa itu adhah? Yaitu namimah,
menyebarkan adu domba diantara manusia.”
3. Dan karena hal itu menyelisihi hadits ‘Iyyadh bin Ghunm tentang wajibnya
menasehati secara rahasia.
4. Dan juga menyelisihi petunjuk salaf soleh tentang cara menasehati penguasa.
5. Dan juga termasuk merendahkan penguasa dan ini diharamkan.
6. Dan juga dapat menyebabkan terjadinya pertumpahan darah dan
pembunuhan, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam “at-
thobaqot” dari Abdullah bin Ukaim Al-Juhani bahwa dia berkata: “Aku tidak akan
membantu untuk menumpahkan darah seorang khalifah setelah Utsman selama-
lamanya!!” Lalu ada yang bertanya kepadanya: ”Wahai Abu Ma’bad, apakah
engkau turut membantu atas tertumpahnya darah beliau?” Ia menjawab:
“Sesungguhnya aku menganggap bahwa menyebut kesalahan-kesalahannya
termasuk membantu tertumpahnya darah!”
Perhatikanlah atsar ini, dimana beliau menganggap bahwa menyebut kesalahan-
kesalahan penguasa termasuk diantara faktor pendukung atas tertumpahnya
darah.(69)
Berkata para Imam Dakwah: apa yang dilakukan oleh sebagian penguasa berupa
kemaksiatan dan penyimpangan yang tidak menyebabkan kekafiran dan keluar
dari Islam, maka wajib menasehati mereka dengan cara yang syar’i dengan
lembut, dan mengikuti cara yang telah diamalkan salafus shaleh dengan tidak
menjelekkan mereka di berbagai majelis dan perkumpulan manusia, lalu
meyakini bahwa hal tersebut termasuk diantara mengingkari kemungkaran yang
wajib diingkari atas setiap hamba. Ini adalah kesalahan yang besar dan kejahilan
yang nampak, pelakunya tidak mengetahui akibatnya yang akan terjadi berupa
kerusakan yang besar dalam agama dan dunia, sebagaimana telah diketahui hal
tersebut oleh orang yang Allah terangi hatinya dan mengetahui metode salafus
shaleh dan para pemimpin agama.”(70)
Berkata Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Sebagian orang ada yang
kebiasaannya disetiap majelis yang dibentuknya, selalu membicarakan para
penguasa dan menodai kehormatan mereka, menyebarkan kekeliruan dan
kesalahan mereka, lalu mengenyampingkan apa yang mereka miliki dari
kebaikan atau kebenaran, dan tidaklah diragukan bahwa menempuh cara seperti
ini dan menodai kehormatan para penguasa, tidak akan menambah
permasalahan kecuali semakin parah, sebab itu tidak akan menyelesaikan
problem dan tidak akan mengangkat kedzaliman, namun hanya semakin
menambah musibah diatas musibah, dan mengakibatkan kebencian terhadap
para penguasa dan tidak melaksanakan perintah-perintahnya yang wajib
ditaati.”(71)
Berkata Syaikh Bin Baaz rahimahullah: “Bukan termasuk manhaj salaf
memasyhurkan aibnya para penguasa dan menyebutkannya di atas mimbar-
mimbar, sebab hal tersebut dapat menjurus kepada gejolak dan tidak
mendengar dan taat dalam perkara ma’ruf, dan menjurus kepada
pemberontakan yang memudharatkan dan tidak mendatangkan manfaat.”(72)
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin: ”Aku memintamu atas nama Allah untuk
memahami manhaj salaf shaleh dalam menyikapi penguasa, dan jangan dia
menjadikan kesalahan-kesalahan penguasa sebagai sarana untuk
membangkitkan amarah umat, dan menimbulkan kebencian terhadap para
penguasa. Dan ini inti kerusakan dan salah satu pondasi yang menimbulkan
fitnah di kalangan manusia, sebagaimana pula memenuhi hati dengan penuh
kebencian terhadap penguasa dapat menimbulkan kejahatan, fitnah, kekacauan.
Demikian pula memenuhi hati dengan penuh kebencian terhadap para ulama
akan menyebabkan diremehkannya kedudukan mereka, yang kemudian
berakibat diremehkannya syariat yang mereka emban, maka jika seseorang
berupaya untuk mengecilkan sikap segannya terhadap para ulama dan
penguasa, maka syariat dan keamanan akan menjadi lenyap , sebab ketika
ulama tersebut berbicara, maka mereka tidak lagi percaya dengan ucapannya,
dan jika para penguasa angkat bicara, maka merekapun membangkang dari
ucapan mereka, sehingga terjadilah kejahatan dan kerusakan.
Maka wajib kita perhatikan, apa yang telah ditempuh oleh salafus shaleh dalam
menghadapi penguasa, dan hendaklan seseorang mengatur dirinya dan
mengetahui akibatnya.
Dan ketahuilah bahwa orang yang membangkitkan gejolak, hanyalah membantu
musuh-musuh Islam. Maka menimbulkan gejolak dan sikap membantah
bukanlah menjadi ukuran, namun yang menjadi ukuran adalah sikap hikmah.
Dan bukanlah saya memaksudkan dengan sikap hikmah adalah diam dari
kesalahan, akan tetapi dalam hal mengobati kesalahan tersebut untuk kita
semakin memperbaiki kondisi, bukan untuk merubah kondisi (menjadi semakin
runyam,pen). Maka seorang penasehat adalah orang yang memperbaiki kondisi
dan bukan merubah kondisi.”(73)

SYUBHAT ORANG YANG MEMBOLEHKAN MENGERITIK PENGUASA TANPA


KEHADIRANNYA BESERTA BANTAHANNYA

Sebagian orang ada yang mengeritik penguasa tanpa kehadirannya, jika engkau
katakan kepadanya bahwa ini tidak boleh, maka dia berdalil dengan apa yang
dikeluarkan oleh Tirmidzi dalam sunan-nya dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Nabi
Shalallahu’alaihi Wassallam bersabda:
‫ٍرِئاَج ٍناَطْلُس َدْنِع ٍلْدَع َةَمِلَك ِداَ@ِجْلا ِمَظْعَأ ْنِم َّنِإ‬
“Sesungguhnya diantara jihad yang paling agung adalah mengucapkan
kebenaran disisi penguasa yang dzalim”.(74)
Lalu dia berkata: ini adalah kalimat kebenaran.
Tidaklah diragukan bahwa hal ini merupakan kesalahan fatal, berdasarkan
beberapa hal berikut:
Pertama: hadits ini menyebutkan: “di sisi” yaitu dihadapan penguasa dan dengan
kehadirannya , dan bukan dibelakangnya.
Kedua: bahwa hadits ini tidak menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah
engkau mengingkarinya secara terang-terangan atau tanpa kehadirannya,
bahkan hadits ini wajib difahami sejalan dengan hadits ‘Iyyadh bin Ghunm yang
mewajibkan secara rahasia, maka kita menyatakan: kamu menasehatinya
sendirian, bukan dengan terang-terangan atau tanpa kehadirannya.
Ketiga: sabdanya mengatakan “di sisi penguasa yang dzalim” , dan kita
Walhamdulillah –di kerajaaan arab saudi- dibawah naungan penguasa yang adil
yang beramal dengan Al-qur’an dan Sunnah diatas pemahaman salafus shaleh,
menyeru kepada tauhid dan memerangi bid’ah dan khurofat.

Berkata Syekh Ibnu Utsaimin: ”Aku bersaksi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
terhadap apa yang aku katakan,dan aku mempersaksikannya kepada kalian pula
bahwa aku tidak mengetahui dimuka bumi pada hari ini ada yang menerapkan
syariat Allah seperti apa yang diterapkan di negeri ini, yang aku maksudkan
adalah kerajaan arab saudi. Dan tidaklah diragukan bahwa ini termasuk diantara
kenikmatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita. Maka hendaklah kita
senantiasa menjaga atas apa yang telah kita rasakan pada hari ini, bahkan kita
selalu berusaha menambah pengamalan syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih
dari apa yang telah kita rasakan pada hari ini. Sebab aku tidaklah menganggap
telah sempurna dan telah berada di puncak kesempurnaan dalam hal penerapan
syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak diragukan bahwa kami banyak
melalaikan darinya, namun kami lebih baik Walhamdulillah dari apa yang kami
ketahui dari negeri-negeri lainnya.......
Sesungguhnya kita berada di negeri ini hidup dalam kenikmatan setelah
kefakiran, keamanan setelah rasa takut, keilmuan setelah kejahilan, kemuliaan
setelah kehinaan, dengan keutamaan berpegang teguh terhadap agama ini, yang
menyebabkan sakitnya hati orang-orang yang dengki dan mengganggu
peristirahatan mereka, mereka berangan-angan hilangnya kenikmatan yang kita
rasakan sekarang, dan sangat disayangkan sekali mereka menemukan diantara
kita ada yang menggunakannya, ada yang memanfaatkannya untuk
menghancurkan bangunan yang kokoh ini dengan cara menyebarkan kebatilan
mereka, dan menganggap baik kejahatan yang mereka sebarkan dikalangan
manusia,

“mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri”


(QS.Al-Hasyr:2)
Sungguh aku heran tatkala disebutkan kepadaku bahwa ada salah seorang yang
jahil –semoga Allah memberi hidayah kepadanya dan mengembalikannya kepada
kebenaran- menyebarkan berbagai selebaran yang berasal dari luar negeri yang
tidak terlepas dari tipu muslihat dan dusta, lalu meminta agar disebarkan kepada
sebagian para pemuda, lalu memberi semangat kepada mereka agar
mengharapkan pahalanya dari Allah. Subhanallah, apakah pemahaman mereka
sudah terbalik? Apakah mungkin keridhoan Allah dapat ditempuh melalui
kemaksiatan kepada-Nya? Apakah mendekatkan diri kepada Allah dapat
dilakukan dengan cara menyebarkan fitnah dan menanamkan perpecahan di
kalangan kaum muslimin terhadap penguasa mereka? Aku berlindung diri kepada
Allah untuk menjadi seperti mereka.(75)

Sebagai penutup: saya akan menyebutkan kalimat yang sangat penting dari
Syaikh Shaleh Alus syaikh seputar kesalahan yang dilakukan kebanyakan dari
para pemuda tatkala terjadi sebuah problem yang disebabkan kejahilannya
terhadap manhaj salafus shaleh:
“Wahai muslim, jangan engkau menerapkan hadits-hadits tentang fitnah kepada
kondisi yang sedang engkau hadapi, sebab sebagian orang merasa nyaman
disaat muncul fitnah untuk meneliti kembali hadits-hadits Nabi ‫@يلع @للا ىلص‬
‫ ملسو‬dalam hal fitnah dan sering membicarakannya diberbagai majelis:
bersabda Nabi ‫ ملسو @يلع @للا ىلص‬demikian, inilah waktunya, inilah fitnah!
Dan yang semisalnya.
Ulama salaf mengajari kita bahwa hadits-hadits tentang fitnah tidak boleh
diterapkan pada kondisi saat ini, namun akan nampak kebenaran ucapan Nabi
‫ ملسو @يلع @للا ىلص‬terhadap apa yang beliau kabarkan dari terjadinya
fitnah setelah ia terjadi dan berlalu, yang disertai sikap waspada dari fitnah
secara keseluruhan. Penerapan terhadap hadits-hadits fitnah ini kepada kondisi
yang sedang terjadi dan menyebarkannya dikalangan kaum muslimin bukanlah
dari manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, namun ahlus sunnah wal jama’ah
menyebutkan fitnah dan hadits-hadits fitnah untuk memberi peringatan darinya
dan menjauhkan kaum muslimin dari keterlenaan atau dari mendekatinya, agar
kaum muslimin tersebut tidak tertimpa fitnah, dan agar agar mereka meyakini
kebenaran apa yang telah dikabarkan oleh Nabi ‫ ملسو @يلع @للا ىلص‬.(76)
Inilah akhir dari apa yang ingin saya sebutkan dalam risalah yang singkat ini, dan
hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala aku memohon agar memberi manfaat
kepada kaum muslimin. Dan segala puji bagi Allah yang Maha Awal (yang tidak
ada sebelumnya sesuatu) dan Maha Akhir (yang tidak ada setelahnya sesuatu)
dan yang maha Zhahir (tidak ada diatasnya sesuatu) dan maha batin ( yang
tidak tersembunyi dari sesuatu apapun), shalawat dan salam kepada Muhammad
‫ ملسو @يلع @للا ىلص‬, keluarganya, para shahabatnya Radhiyallahu ta’ala
‘anhum ajma’in

-----------------------------------
53 Al-mu’amalah: 87
54 Dishohihkan Al-Albani dalam ash-shohihah:1/404. (penterjemah)
55 Fadhilatul ‘adilin:140
56 Dishohihkan Al-Albani dalam tahqiqnya terhadap kitab As-sunnah,karangan
Ibnu Abi Ashim,no:1096,dan 1097
57 Syarah muslim:18/160
58 Dan terhadap hal ini difahami perbuatan salaf ,seperti kisah Abu Sa’id al-
Khudri bersama Marwan gubernur Madinah,tatkala dia menudahulukan khutbah
dari sholat ‘ied.lihat shohih Bukhari (2/449,no:956,kitab al-iedain,bab: al-khuruj
ilal musholla bighoiri mimbar,bersama al-fath).
59 Al-ma’lum:23,dan kitab: al’mu’amalah:44.
60 Maksudnya adalah taat kepada penguasa yang mayoritas masyarakatnya
berlindung di bawah kekuasaannya.
61 Tanbih al-ghafilin: 64
62 As-sailul jarror: 4/556
63 Nasihah muhimmah: 30
64 Ar-riyadh an-nadhiroh:50
65 Al-ma’lum:22
66 Maqoshid al-Islam: 393.
67 Nasihah muhimmah:33
68 Ar-riyadh an-nadhiroh :50
69 Ini memberi faedah bahwa pemberontakan bisa dilakukan dengan pedang
juga dengan lisan,berbeda dengan apa yang dikatakan oleh seseorang : bahwa
memberontak tidak dilakukan kecuali dengan pedang. Perhatikanlah hal ini,dan
cermatlah dengan baik!
70 Nasihah muhimmah: 30
71 Wujub taatis sulthan,karya Al-Uraini: 23-24
72 Al-ma’lum:22,al-mu’amalah:43
73 Al-mu’amalah: 32
74 Dishohihkan Al-Albani dalam as-shohihah: 1/491. (penterjemah)
75 Wujub tho’at as-sulthan,karya al-Uraini:49.
76 Ad-dhawabit asy-syar’iyyah li mauqif al-muslim fil fitan:52.
(Selesai)