Anda di halaman 1dari 90

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN


KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN
PADA PASIEN CEDERA KEPALA DI RSUP FATMAWATI

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

RIA RAHMI PUTRI


0806334350

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM NERS ILMU KEPERAWATAN
DEPOK
JULI 2013

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN


KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN
PADA PASIEN CEDERA KEPALA DI RSUP FATMAWATI

KARYA ILMIAH AKHIR NERS


Diajukan Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Ners Ilmu Keperawatan

RIA RAHMI PUTRI


0806334350

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM NERS ILMU KEPERAWATAN
DEPOK
JULI 2013

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar

Nama

: Ria Rahmi Putri

NPM

: 0806334350

Tanda Tangan

Tanggal

: 08 Juli 2012

ii
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Ilmiah Akhir Ners ini diajukan oleh:


Nama

: Ria Rahmi Putri

NPM

: 0806334350

Program Studi

: Ners Ilmu Keperawatan

Judul Skripsi

: Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan


Masyarakat Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di
RSUP Fatmawati

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners
Ilmu Keperawatan pada Program Studi Ners Ilmu Keperawatan, Fakultas
Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing : Fajar Tri Waluyanti, S.Kp., M.Kep., Sp. Kep. An (

Penguji

: Dessie Wanda, SKp., MN

Ditetapkan di : Depok
Tanggal

: 05 Juli 2013

iii
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia_Nya, terutama selama penulis mengerjakan skripsi ini.
Shalawat beserta salam penulis kirimkan kepada Rasulullah SAW yang telah
menjadi teladan dalam segala hal.

Penulis menyadari banyak hambatan yang terjadi dalam penulisan, namun


keinginan penulis untuk membuat skripsi dan mejadi manfaat bagi masyarakat
luas yang membaca. Hambatan yang terjadi telah membuat sulit bagi penulis
dalam menyelesaikannya, namun banyak orang yang menjadi pendukung dan
bersedia menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya dalam membantu penulis.
Ucapan terima kasih penulis berikan kepada:
(1) Ibu Fajar Tri Waluyanti selaku pembimbing skripsi. Terima kasih banyak
atas waktu yang telah bersedia ibu habiskan untuk membimbing kami.
Semoga skripsi ini sesuai harapan ibu dan bisa bermanfaat bagi orang lain.
(2) Bapak Ns. Faisal selaku pembimbing lapangan di RSUP Fatmawati.
Terima kasih atas bimbingan, semangat, inspirasi dan motivasi yang telah
diberikan selama praktik.
(3) Ibu dan ayah tercinta. Terima kasih atas semangat, motivasi, dukungan dan
doa yang diberikan kepada ananda selama profesi dan penulisan.
(4) Saudara yang dibanggakan di dunia, Uda Oji. Penulis yakin kita dapat
menyelesaikan tugas akhir kita bersama-sama. Tetap semangat dan
berjuang uda.
(5) Terima kasih kepada keluarga besar Asrama Aceh, khususnya unit satu.
Imma, Kade, Eka, Nova, Mae, Dhanys, Fifah, Eka, Intan, dan Aad.Terima
kasih atas dukungan, semangat, candaan dan kenangan-kenangan selama
di asrama. Semoga kita tetap kompak.
(6) Terima kasih pada Eny Dewi Pamungkas, Niimma Nur Azizah dan Novi
Aprilia KD, Eka Purwani yang telah memberikan motivasi dan semangat
serta penguatan.

iv
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

(7) Laskar bunga. Sekarang telah lima tahun ini kita menjalani hari-hari
bersama, dan terasa dinamikanya, ada suka dan duka yang kita lalui.
Semoga kita selalu saling menyemangati, dimanapun kita berada.
(8) Keluarga besar SALAM UI X3 dan SALAM 14. Terima kasih atas segala
motivasi, dukungan, pembelajaran selama tahun-tahun terakhir ini.
Semoga ukhuwah kita tetap terjaga sampai akhir.
(9) Kepada Happy Family. Terima kasih atas kebersamaannya, bahkan sampai
anak cucu nanti, semoga persaudaraan kita makin erat dan terjaga.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini.
Oleh sebab itu saran dan kritik yang membangun sangat berarti bagi penulis untuk
menjadi lebih baik di masa mendatang. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
pembaca.

Depok, 09 Juli 2012

Ria Rahmi Putri

v
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademika Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan
dibawah ini:
Nama
: Ria Rahmi Putri
NPM
: 0806334350
Program Studi : Ners Ilmu Keperawatan
Fakultas
: Ilmu Keperawatan
Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir Ners
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneklusif (Non-exclusive Royalti
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada
Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan hak Bebas Royalt i
Noneklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalih media/
formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan
mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/ pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 09 Juli 2012
Yang Menyatakan

( Ria Rahmi Putri )

vi
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

ABSTRAK

Nama
Program Studi
Judul

: Ria Rahmi Putri


: S1 Program Ners Fakultas Ilmu Keperawatan
: Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Fatmawati

Angka kejadian kecelakan pada anak di daerah perkotaan mengalami peningkatan


dari tahun ke tahun. Kejadian kecelakaan ini menimbulkan berbagai efek, salah
satunya cedera kepala. Anak yang mengalami cedera kepala rentan mengalami
peningkatan tekanan intra kranial, dengan salah satu manifestasinya adalah nyeri
kepala. Karya ilmiah ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan
pada anak yang mengalami cedera kepala. Karya ilmiah ini juga menerapkan
terapi komplementer berupa terapi bacaan Al-Qur'an dengan media audio.
Didapatkan kesimpulan bahwa anak yang mengalami cedera kepala sering
mengalami nyeri kepala akibat peningkatan TIK. Respon nyeri pada anak dapat
dikurangi dengan mengaplikasikan terapi bacaan Al-Qur'an melalui media audio
pada anak yang mengalami cedera kepala.
Kata kunci : anak, cedera kepala, nyeri, terapi bacaan Al-Quran.

ABSTRACT

Name
Study Program
Title

: Ria Rahmi Putri


: Nursing Science, Faculty of Nursing
: Analysis Clinical Practice of Urban Health Nursing in Head
Injury Patient at RSUP Fatmawati Hospital.

Rate occurrence of accident on children in urban areas has increased year by


year. The accident have various effects, one of them is a head injury. Children
who suffer a head injury susceptible of experiencing the increase of intra cranial
pressure, which one of the manifestation is headaches. This scientific word aims
to describe about nursing care for child who suffer a head injury. This scientific
word also implemented therapy complementary in form of Quran listening
therapy. The conclusion is the child who suffer a head injury often experience
headache as result of an increase in intra cranial pressure. The response of pain
in children can be reduced by applying the Quran listening therapy with audio
on children who suffered a head injury.
Keyword : child, head injury, headache, Quran listening therapy.

vii
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...............................................................................


LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ..........................................
LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................
KATA PENGANTAR .............................................................................
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ..................
ABSTRAK ..............................................................................................
ABSTRACT ............................................................................................
DAFTAR ISI ...........................................................................................
DAFTAR TABEL ...................................................................................
DAFTAR GAMBAR ...............................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................
1. PENDAHULUAN ...........................................................................
1.1 Latar Belakang ...........................................................................
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................
1.3.1 Tujuan Umum ..............................................................
1.3.2 Tujuan Khusus ..............................................................
1.4 Manfaat Penelitian .....................................................................
1.4.1 Bagi Pelayanan Kesehatan ............................................
1.4.2 Bagi Pendidikan Keperawatan ......................................
1.4.3 Bagi Penelitian Selanjutnya ..........................................

i
ii
iii
iv
vi
vii
vii
viii
x
xi
xii
1
1
3
4
4
4
5
5
5
5

2. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................


2.1 Cedera Kepala ............................................................................
2.1.1 Klasifikasi Cedera Kepala .............................................
2.1.2 Etiologi Cedera Kepala .................................................
2.1.3 Komplikasi Cedera Kepala ...........................................
2.1.4 Manifestasi Klinis Cedera Kepala Akut ........................
2.2 WOC Cedera Kepala ..................................................................
2.3 Asuhan Keperawatan Cedera Kepala pada Anak ........................
2.3.1 Pengkajian ....................................................................
2.3.2 Rencana Asuhan Keperawatan ......................................
2.4 Nyeri dan Penatalaksanaan Nyeri ...............................................
2.4.1 Pengkajian Nyeri ..........................................................
2.4.2 Tatalaksana Nyeri .........................................................
2.4.3 Tatalaksana Nyeri dengan Terapi Bacaan Al-Qur'an
dengan Media Audio.....................................................

6
6
6
8
8
9
11
12
12
14
16
16
20
21

viii
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

3. LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA ...................................


3.1 Gambaran Umum .......................................................................
3.2 Masalah Keperawatan ................................................................
3.3 Asuhan Keperawatan..................................................................
3.4 Aplikasi Tesis.............................................................................

25
25
26
27
28

4. ANALISIS SITUASI .........................................................................


4.1 Profil Lahan Praktek...................................................................
4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep Terkait KKMP
dan Konsep Kasus Terkait ..........................................................
4.3 Analisis Salah Satu Intervensi dengan Konsep dan Penelitian
Terkait........................................................................................
4.4 Alternatif Pemecahan yang Dapat Dilakukan..............................

32
32

5. PENUTUP ........................................................................................
5.1 Kesimpulan ................................................................................
5.2 Saran ..........................................................................................

40
40
41

DAFTAR REFERENSI .........................................................................


LAMPIRAN

42

33
34
35

ix
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Manifestasi Cedera Kepala ................................................

Tabel 2.2

Manifestasi Klinis Peningkatan TIK pada Bayi dan

Anak-Anak .......................................................................

10

Tabel 2.3

Glaslow Coma Scale .........................................................

12

Tabel 2.4

Jenis-Jenis Instrumen Pengkajian Nyeri.............................

18

Tabel 2.5

Contoh Counterirritation dan Metode Psikologi dalam


Mengurangi Nyeri .............................................................

Tabel 4.1

20

Rekomendasi American Academy of Pediatrics untuk


Keamanana Bersepeda ......................................................

37

x
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Web of Caution Cedera Kepala .....................................

10

Gambar 2.2

Skala Nyeri Wajah ........................................................

17

Gambar 2.3

Skala Nyeri Numerik ....................................................

17

Gambar 2.4

Word Graphic Rating Scale ..........................................

18

Gambar 2.5

Skala Nyeri Oucher ......................................................

19

Gambar 3.1

Perubahan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah TBA


(Jum'at, 21 Juni 2013) ...................................................

Gambar 3.2

30

Perubahan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah TBA


(Sabtu, 22 Juni 2013) ....................................................

31

xi
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Daftar Riwayat Hidup

Lampiran 2

Pengkajian

Lampiran 3

Analisa Data

Lampiran 4

Rencana Asuhan Keperawatan

Lampiran 5

Catatan Perkembangan

Lampiran 6

Standar Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) Anak


Laki-Laki Umur 8 - 11 tahun

Lampiran 7

Chart Height-For-Age Boys Percentile 5 to 19 Years

Lampiran 8

Individual Growth Chart 3rd, 5th, 10th, 25th, 50th, 75th, 90th,
95th, 97th Percentiles, 2 to 20 years: Boys Weight-for-Age

Lampiran 9

Individual Growth Chart 3rd, 5th, 10th, 25th, 50th, 75th, 85th,
90th, 95th, 97th Percentiles, 2 to 20 Years: Boys Body Mass
Index-for-Age

Lampiran 10

Individual Growth Chart 3rd, 5th, 10th, 25th, 50th, 75th, 85th,
90th, 95th, 97th Percentiles: Boys Weight-tor-Stature

Lampiran 11

Individual Growth Chart 3rd, 5th, 10th, 25th, 50th, 75th, 90th,
95th, 97th Percentiles, 2 to 20 Years: Boys Stature-for-Age

xii
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehidupan masyarakat perkotaan tidak terlepas dari pesatnya pembangunan
fisik. Menurut Direktur Pusat Pembangunan Regional PBB (UNCRD),
negara-negara di kawasan Asia telah mengalami pembangunan sosial dan
ekonomi yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sektor transportasi
sebagai salah satu faktor pendukung utama dalam pembangunan, ikut
terdongkrak dengan pesatnya perkembangan pembangunan itu (Chan, 2013).
Peningkatan perkembangan fisik seperti pembangunan jalan raya, transportasi
di wilayah perkotaan menimbulkan risiko yang harus di perhatikan, seperti
kecelakaan lalu lintas.

Angka fatalitas kecelakaan jalan di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan data


Korps Lalu Lintas Polri menyebutkan ada 31.234 korban kecelakaan yang
meninggal dunia pada 2010 dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 32.657
orang (Pusat Komunikasi Publik, 2012). Fakta yang ada kemudian
menunjukkan bahwa sebagian besar korban kecelakaan didominasi oleh
kalangan pelajar. Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (2009)
dalam Feriyanto (2011), sebanyak 27% korban kecelakaan atau 43.361 orang
adalah mereka yang berusia 16-25 tahun dan sebagian besar didominasi oleh
mereka yang berpendidikan setingkat SMA. Masalah kecelakaan termasuk
masalah serius yang dapat dimasukkan ke dalam sektor kesehatan karena
menimbulkan efek terhadap kesehatan masyarakat, seperti terjadinya frakur,
cedera bahkan kematian. Salah satu bentuk cedera yang paling fatal adalah
cedera kepala.

1
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Cedera kepala merupakan masalah neurologik yang serius di antara penyakit


neurologik yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (60 % kematian yang
disebabkan kecelakaan lalu lintas merupakan akibat cedera kepala) dan faktor
kontribusi terjadinya kecelakaan seringkali adalah konsumsi alkohol
(Ginsberg, 2005). Penulis juga menemukan sekitar 3,7%

(n=459) pasien

cedera kepala di RSUP Fatmawati Lantai 3 Utara dalam kurun 3 bulan


terakhir. Pasien yang mengalami cedera kepala meningkat setiap bulannya
dimana pada bulan April terdapat 4 anak penderita cedera kepala, disusul
dengan sejumlah 5 lalu 8 pasien cedera kepala di bulan Mei dan Juni (RSUP
Fatmawati, 2013).

Cedera kepala ini menimbulkan resiko yang tidak ringan. Resiko utama pasien
yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau
pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan
peningkatan tekanan intrakranial. Peningkatan tekanan intrakranial akan
mempengaruhi perfusi serebral dan menimbulkan distorsi dan herniasi otak.
Manifestasi

klinis cedera kepala meliputi gangguan kesadaran, konfusi,

abnormalitas pupil, awitan tiba-tiba defisit neurologik, dan perubahan tandatanda vital. Gangguan penglihatan dan pendengaran, disfungsi sensori, kejang
otot, sakit kepala, vertigo, gangguan pergerakan, kejang dan banyak efek
lainnya juga mungkin terjadi pada pasien cedera kepala (Smeltzer & Bare,
2006).

Terdapat beberapa manifestasi yang timbul dari cedera kepala. Salah satunya
adalah edema atau hematoma yang menyebabkan peningkatan tekanan intra
kranial. Hal ini menimbulkan masalah gangguan perfusi jaringan serebral.
Selain itu, defisit neurologik mungkin saja terjadi sehingga mengganggu
refleks menelan yang berujung pada gangguan bersihan jalan napas. Defisit
neurologik tidak hanya mempengaruhi pernapasan, tetapi proses pikir dan
kognitif pasien sehingga muncul masalah gangguan proses pikir. Kejang, sakit
kepala dan vertigo juga menjadi salah satu risiko untuk terjadinya cedera dan
timbulnya rasa nyeri pada pasien cedera kepala. Mual, muntah serta

Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

penurunan kesadaran menyebabkan anoreksia pada penderita sehingga


menimbulkan gangguan cairan dan nutrisi (Herdman, 2012; Wilkinson &
Ahern, 2008).

Penyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh cedera kepala melalui beberapa


tahapan atau sasaran. Sasaran pasien meliputi mempertahankan bersihan jalan
napas, tercapainya keseimbangan cairan dan elektrolit, tercapainya status
nutrisi yang adekuat, pencegahan cedera, pencegahan fungsi kognitif, koping
keluarga efektif, peningkatan pengetahuan tentang proses rehabilitasi dan
pencegahan komplikasi (Smeltzer & Bare, 2006).

Ketika mengamati fenomena pasien yang mengalami sakit kepala di ruang


rawat anak RSUP Fatmawati, penulis mendapati berbagai reaksi anak seperti
mengerang, menangis atau mengeluh serta membentur-benturkan/ memukul
kepalanya saat terjadi pusing/ sakit kepala. Kejadian ini tentu saja
meningkatkan kecemasan orang tua dan mengganggu kenyamanan pasien
sehingga penulis tertarik menerapkan sebuah intervensi dari tesis yang
berjudul Pengaruh Terapi Bacaan Al-Qur'an Melalui Media Audio terhadap
Respon Nyeri Pasien Post Operasi Hernia di RS Cilacap. Selain karya ilmiah
ini mudah diaplikasikan di ruang rawat, tidak membutuhkan banyak dana atau
media, dan mudah diaplikasikan oleh orang tua bagi anaknya yang di rawat di
RS.

1.2 Perumusan Masalah


Telah terjadi peningkatan angka kejadian kecelakaan di Indonesia, khususnya
daerah perkotaan. Dampak dari fenomena ini adalah kejadian cedera kepala
pada anak, baik ringan, sedang atau berat. Pada kurun waktu 3 bulan terakhir,
terdapar 3,7% pasien cedera kepala di bangsal anak RSUP Fatmawati. Selain
itu, terjadi juga peningkatan jumlah kejadian cedera kepala di setiap bulannya
ruang rawat anak RSUP Fatmawati. Pada pasien cedera kepala, terdapat gejala
yang ditimbulkan dari peningkatan tekanan intra kranial, yaitu sakit kepala

Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

atau nyeri pada klien, sehingga dapat diterapkan salah satu intervensi dari
sebuah tesis untuk mempengaruhi respon nyeri klien.

1.3 Tujuan penulisan


1.3.1 Tujuan umum
Karya ilmiah ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan
pada anak yang mengalami cedera kepala dengan mengaplikasikan hasil
penelitian mengenai pengaruh terapi bacaan Al-Quran melalui media
audio terhadap respon nyeri pasien.

1.3.2 Tujuan khusus


1.3.2.1

Mengetahui gambaran kondisi umum anak yang terkena cedera


kepala

1.3.2.2

Mengetahui masalah keperawatan yang dapat terjadi pada pasien


cedera kepala

1.3.2.3

Mengetahui gambaran intervensi keperawatan yang dapat


diterapkan pada pasien cedera kepala

1.3.2.4

Mengetahui gambaran implementasi dan evaluasi asuhan


keperawatan yang diterapkan pada pasien cedera kepala

1.3.2.5

Mengetahui pengaruh terapi bacaan Al-Quran melalui media


audio terhadap respon nyeri anak yang mengalami cedera
kepala.

Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

1.4 Manfaat penulisan


1.4.1

Bagi Pelayanan Keperawatan


Sebagai bahan informasi mengenai gambaran anak yang mengalami
cedera kepala, asuhan keperawatan yang sesuai dan terapi
nonfarmakologis yang tepat dalam mengurangi respon nyeri pada
anak.

1.4.2

Bagi Pendidikan Keperawatan


Diharapkan menjadi bahan informasi untuk pembelajaran pendidikan
keperawatan dan penerapan asuhan keperawatan selama di rumah
sakit.

1.4.3

Bagi Praktik keperawatan


Diharapkan karya ilmiah ini dapat menjadi landasan untuk
menerapkan terapi nonfarmakologis pada anak yang mengalami
nyeri.

Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cedera Kepala


Cedera kepala merupakan penyakit neurologik yang serius diantara penyakit
neurologik yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (60 % kematian yang
disebabkan kecelakaan lalu lintas merupakan akibat cedera kepala). Faktor
kontribusi terjadinya kecelakaan seringkali adalah konsumsi alkohol
(Ginsberg, 2005). Risiko utama pasien yang mengalami cedera kepala adalah
kerusakan otak akibat perdarahan atau pebengkakan otak sebagai respon
terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan TIK (Smetlzer & Bare, 2006).

2.1.1 Klasifikasi Cedera Kepala


Cedera kepala digolongkan dengan berbagai macam klasifikasi berdasarkan
kepentingannya, namun disini akan dibahas penggolongan menurut patologis
yang terjadi dan gambaran cederanya. Menurut Satyanegara dkk (2010),
terdapat empat klasifikasi cedera kepala, yaitu:
a. Cedera kepala primer, dapat berupa:
1) Fraktur linear, depresi, basis kranii, kebocoran likuor
Merupakan rusaknya kontunuitas tulang tengkorak disebabkan oleh
trauma. Fraktur dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan otak.
Fraktur digolongkan menjadi fraktur terbuka (kerusakan dura) dan
fraktur tertutup bila dura tidak rusak (Smetlzer & Bare, 2006).
2) Cedera fokal yang berupa coup dan countercoup, hemato epidural,
subdural atau intraserebral
Cedera fokal merupakam akibat kerusakan setempat yang biasanya
didapatkan pada kira-kira setengah dari kasus cedera kepala berat
(Satyanegara dkk, 2010).

6
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

a) Coup
Gerakan yang menyebabkan memar pada titik benturan (Wong,
Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009).
b) Countercouop
Benturan pada tempat yang jauh dari benturan/ ketika otak
membentur permukaan tengkorak yang tidak lentur (Satyanegara,
2010).
c) Hemato epidural
Hemato epidural adalah kondisi setelah cedera, dimana darah
terkumpul di dalam ruang epidural (ekstradural) di antara
tengkorak dan dura (Mallinckrodt Institute of Radiology, 2006).
d) Hemato subdural
Hematoma subdural adalah pengumpulan darah diantara dura dan
dasar otak (Mallinckrodt Health Central., 2013).
e) Hemato intraserebral
Perdarahan intraserebral hematoma adalah perdarahan yang
terdapat di dalam substansi otak (MedicineNet, 2013).
3) Cedera difus yang berupa konkusi ringan atau klasik atau berupa
cedera aksional difusa yang ringan, moderat hingga berat.
Cedera difus berkaitan dengan disfungsi otak yang luas, serta biasanya
tidak tampak secara makroskopis. Mengingat bahwa kerusakan yang
terjadi kebanyakan melibatkan akson-akson, maka cedera ini juga
dikenal dengan nama cedera aksonal difusa.
4) Trauma tembak
Merupakan cedera yang timbul karena tembakan/ peluru.

b. Kerusakan otak sekunder, dapat berupa:


1) Gangguan sistemik: akibat hipoksia-hipotensi, gangguan metabolisme
energi dan kegagalan otoregulasi
2) Hematoma traumatik: epidural, subdural (akut dan kronis), atau
intraserebral
c. Edema serebral perifokal generalisata

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

d. Pergeseran otak (brain shift) - Herniasi batang otak

2.1.2 Etilogi Cedera Kepala


Tiga penyebab utama cedera kepala pada anak adalah cedera terjatuh,
cedera kendaraan bermotor dan cedera sepeda. Cedera neurologik memiliki
angka mortalitas tertinggi dan anak laki-laki terkena

dua kali lipat

dibanding anak perempuan. Selain kurangnya lingkungan yang aman,


proporsi tubuh anak, dimana kepala lebih besar dan lebih berat dibanding
bagian tubuh lain memiliki peluang yang lebih besar untuk cedera.
Perkembangan motorik yang belum lengkap serta sifat ingin tahu anak juga
meningkatkan risiko cedera pada anak (Wong, Hockenberry, Wilson,
Winkelstein & Schwartz, 2009).

Penyebab lain terjadinya cedera kepala adalah aktivitas rekreasi dan


penganiayaan anak. Beberapa faktor (seperti attention

deficit disorder,

alkohol dan penggunaan obat-obatan) dapat meningkatkan kejadian cedera


kepala pada anak dan dewasa. Anak juga lebih rentan dalam mengalami
penganiayaan karena ketergantungan mereka kepada orang dewasa dan
ketidakmampuan dalam membela diri sendiri (Verive, Stock, Singh,
Corden, Cantwell, Barry & Windle, 2013).

2.1.3 Komplikasi Cedera Kepala


Komplikasi utama trauma kepala adalah perdarahan, infeksi, edema dan
herniasi melalui tontronium. Infeksi selalu menjadi ancaman yang
berbahaya untuk cedera terbukja dan edema dihubungkan dengan trauma
jaringan. Uptur vaskular dapat terjadi sekalipun pada cedera ringan; keadaan
ini menyebabkan perdarahan di antara tulang tengkorak dan permukaan
serebral. Kompesi otak di bawahnya akan menghasilkan efek yang dapat
menimbulkan kematian dengan cepat atau keadaan semakin memburuk
(Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009).

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Telah dilakukan penelitian mengenai kondisi perubahan tingkah laku anak


setelah cedera kepala tertutup pada 6-12 bulan post cedera. Kebanyakan
anak dengan cedera kepala berat memiliki masalah

di sekolah dan

beraktivitas di lingkungan sosial dibanding anak yang mengalami cedera


kepala sedang dan ringan. Anak yang cedera kepala berat juga mengalami
kemunduran dalam fungsi adaptasinya (Fletcher, Cobbs, Miner, Levin &
Eisenberg, 1990).

2.1.4 Manifestasi Klinis Cedera Kepala Akut


Menurut Wong (2009) orang yang mengalami cedera kepala akut memiliki
beberapa tanda dan gejala. Dengan mengetahui manifestasi klinis dari
cedera kepala, dapat di bedakan antara cedera kepala ringan dan berat.

Tabel 2.1 Manifestasi Cedera Kepala

Cedera ringan

Tanda-tanda
progestivitas

Cedera berat

Tanda-tanda yang
menyertai

Dapat menimbulkan hilang kesadaran


Periode konfusi (kebingungan) transien
Somnolen
Gelisah
Iritabilitas
Pucat
Muntah (satu kali atau lebih)
Perubahan status mental (misalnya anak sulit
dibangunkan)
Agitasi memuncak
Timbul tanda-tanda neurologik lateral fokal dan
perubahan tanda-tanda vital yang tampak jelas
Tanda-tanda peningkatan TIK
Perdarahan retina
Paralisis ekstraokular (terutama saraf kranial VI)
Hemiparesis
Kuadriplegia
Peningkatan suhu tubuh
Cara berjalan yang goyah
Papiledema (anak yang lebih besar) dan perdarahan
retina.
Cedera kulit (daerah cedera pada kepala)
Cedera lainnya (misalnya pada ekstremitas).

Sumber : Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz (2009)

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

10

Pada saat merawat pasien dengan cedera kepala, perawat harus mampu
memantau tanda peningkatan TIK. Manifestasi peningkatan TIK dapat dilihat
di tabel berikut:

Tabel 2.2 Manifestasi Klinis Peningkatan TIK pada Bayi dan Anak-Anak
USIA
Bayi

Anak-anak

Kepribadian
dan tanda-tanda
perilaku

Tanda-tanda
lanjut

MANIFESTASI KLINIS
Fontanela tegang dan menonjol, kurangnya pulsasi yang normal
Sutura kranial terpisah
Tanda macewen (suara seperti pot pecah saat di perkusi)
Iritabilitas (anak menjadi rewel)
Tangisan dengan nada tinggi (high-ptched cry)
Peningkatan lingkaran oksipital
Distensi vena-vena di kulit kepala
Perubahan pola pemberian makan
Menangis ketika digendong atau digoyang
Setting-sun sign (deviasi mata kebawah sehingga masing-masing iris
tanpak tenggelam dibalik kelopak mata bawah, dengan sklera
putih terbuka diantara iris dan kelopak mata atas)
Sakit kepala
Mual
Muntah-sering tanpa rasa mual
Dipoplia, penglihatan kabur
Kejang
Iritabilitas (toddler), gelisah
Anak tampak tidak peduli, mengantuk atau tidak memiliki
ketertarikan
Kinerja di sekolah menurun
Aktivitas fisik dan kinerja motorik menurun
Peningkatan keluhan keletihan, kelelahan, waktu tidur bertambah
Penurunan berat badan yang signifikan, kemungkinan disebabkan
oleh anoreksia dan vomittus
Kehilangan ingatan jika tekanan semakin meningkat
Ketidakmampuan untuk mengikuti perintah sederhana
Berkembang menjadi letargi dan keadaan mengantuk
Penurunan tingkat kesadaran
Berkurangnya respon motorik terhadap perintah
Berkurangnya respon sensorik terhadap rangsangan nyeri
Perubahan ukuran dan reaktivitas pupil
Postur tubuh deserebrasi atau dekortikasi
Pernapasan Cheyne-Stokes
Papiledema

Sumber : Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz (2009)

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

11

2.2 Web Of Caution Cedera Kepala


Gambar 2.1 WOC Cedera Kepala

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

12

2.3 Asuhan Keperawatan Cedera Kepala pada Anak


Asuhan keperawatan pada anak yang mengalami cedera kepala harus dilakukan
secara holistik. Proses keperawatan dimulai dari pengkajian sampai evaluasi
keperawatan. Selain itu, dalam memberikan intervensi keparawatan, ada tahapan
proses pengkajiandan priorotas diagnosa yang harus diselesaikan secara berurutan
(Smeltzer & Bare, 2006).

2.3.1 Pengkajian
Hal-hal yang harus dikaji pada pasien cedera kepala, adalah:
1. Tingkat Kesadaran dan Responsivitas
Tingkat kesadaran dan responsivitas dikaji secara teratur dengan
Glaslow Coma Scale (GCS):

Tabel 2.3 Glaslow Coma Scale

EYE
OPENING
Membuka
mata
MOTOR
RESPONSE
Respon
motorik

VERBAL
RESPONSE
Respon
verbal

SCORE
4
3
2
1
6
5
4
3
2
1
5
4
3
2
1

DESKRIPSI
Spontan
Mengikuti perintah
Rangsang nyeri
Tidak ada respon
Sesuai perintah
Melokalisir nyeri
Fleksi normal
Fleksi abnormal
Ekstensi abnormal
Tidak ada respon
Terdapat kesadaran dan orientasi
Disorientasi
Berkata tanpa arti
Hanya suara (mengerang)
Tidak ada respon

Sumber: Miller (1991)

Pada saat menilai respon pasien untuk membuka mata, nilai 4 dapat
ditentukan jika pasien membuka mata dengan spontan. Nilai 3
ditentukan

dengan

menstimulus

klien

dengan

suara,

seperti

memerintahkan untuk membuka mata. Nilai 2 didapatkan jika respon

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

13

membuka mata dilaksanakan saat nyeri, sedangkan nilai 1 didapatkan


jika tidak ada respon (Jones, 2012).

Penilaian respon motorik melalui GCS memiliki skor tertinggi 6, yaitu


jika klien dapat menuruti perintah. Nilai 5 diperoleh jika klien mampu
melokalisir nyeri yang diberikan. Nilai 4 diperoleh jika klien masih
mampu melakukan fleksi normal saat di rangsang nyeri. Namun jika
terjadi ke abnormalan, baik fleksi maupun ekstensi, maka klien dapat
nilai 3 dan 2. Nilai 1 diperoleh jika klien tidak memiliki respon (Birbilis
& Matis 2008).

Pengkajian respon verbal memiliki nilai tertinggi 5, dengan respon


verbal yang terorientasi. Nilai 4 didapatkan jika klien menggunakan
bahasa percakapan yang membingungkan, tetapi masih mampu untuk
menjawab pertanyaan. Nilai 3 didapatkan jika klien berkata tanpa arti,
nilai 2 jika hanya suara atau mengerang, dan klien yang tidak ada
respon memperoleh

nilai 1 (Departement of Health and Human

Services, 2003).

Cedera Kepala

dapat diklasifikasikan menurut tingkat keparahan

cedera. Klasifikasi ini ditentukan berdasarkan nitao GCS, dimana nilai


GCS 3 8 merupakan cedera kepala berat, nilai GCS 9 12 merupakan
cedera kepala sedang dan nilai GCS 13 15 merupakan klasifikasi
cedera kepala ringan ( Departement of Health and Human Services,
2003).

2. Pemantauan Tanda Vital


Tanda vital perlu dipantau secara teratur untuk memantau tanda
peningkatan intra kranial klien. Hal ini dimaksudkan karena tanda
peningkatan TIK meliputi pelambatan nadi, peningkatan tekanan darah
sistolik, dan pelebaran tekanan nadi. Pada saat kompresi ke otak
meningkat, tanda vital cenderung sebaliknya nadi dan pernapasan

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

14

menjadi cepat, dan tekanan darah menurun. Peningkatan cepat suhu


tubuh dianggap tidak menguntungkan karena hipertemia meningkatkan
kebutuhan metabolisme otak dan merupakan indikasi kerusakan batang
otak, oleh sebab itu suhu harus dipertahankan di bawah 38o C (Smeltzer
& Bare, 2006).

3. Fungsi Motorik
Fungsi motorik sering dikaji melalui gerakan spontan, memerintahkan
pasien meninggikan dan menurunkan ekstremitas, dan membandingkan
kekuatan dan kualitas genggaman tangan dalam periodik waktu yang
teratur. Jika pasien tidak menunjukkan gerakan spontan, maka respon
stimulus nyeri dikaji. Kemampuan pasien berbicara dan kualitas bicara
juga dikaji. Kapasitas untuk bicara merupakan indikasi tingkat fungsi
otak yang tinggi. Pembukaan mata secara spontan pada pasien perlu
dievaluasi. Selain itu juga perlu diperhatikan ukuran dan kualitas pupil
dan reaksinya terhadap cahaya (Smeltzer & Bare, 2006).

2.3.2 Rencana Asuhan Keperawatan


Pada intervensi keperawatan pasien cedera kepala, terdapat priorotas
intervensi yang dilakukan, antisipasi dan rehabilitasi pasien dengan cedera
kepala. Prioritas intervensi keperawatan yang dilakukan dimulai dari
mempertahankan jalan napas pasien. Selanjutnya, menyelesaikan masalah
keseimbangan cairan dan elektrolit, memenuhi nutrisi yang adekuat dan
mencegah cedera pada pasien cedera kepala (Smeltzer & Bare, 2006).
a. Mempertahankan jalan napas
Salah satu tujuan yang paling penting adalah mempertahankan jalan
napas yang adekuat karena otak sangan sensitif dengan hipoksia dan
penurunan neurologik yang dapat buruk jika pasien hipoksia.
Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan, antara lain:

Mempertahankan pasien yang tidak sadar pada posisi yang


memudahkan pengeluaran sekresi melalui mulut, dengan kepala
ditinggikan 30 derajat untuk menurunkan TIK

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

15

Menerapkan prosedur penghisapan sekret yang efektif

Melindungi terhadap aspirasi dan insufisiensi oksigen ke paruparu

Memantau gas darah arteri untuk mengkaji keadekuatan ventilasi


dan kondisi perfusi

Memantau pasien pada ventilasi mekanik.

b. Memantau keseimbangan cairan dan elektrolit


Kerusakan otak dapat menghasilkan disfungsi hormonal dan
metabolik. Pemantauan elektrolit serum penting dilakukan pada pasien
cedera kepala, terutama yang mendapatkan diuretik osmotik.
Bentuk intervensi keperawatannya adalah:

Pemeriksaan serial elektrolit darah dan urine

Mempertahankan pencatatan terhadap berat badan setiap hari,

c. Memberi nutrisi adekuat


Cedera

kepala

menyebabkan

perubahan

metabolisme

yang

meningkatkan konsumsi kalori dan ekresi nitrogen. Sehingga bila


keadaan pasien
nasogastrik.

stabil segera diberikan makanan melalui pipa

Intervensi

keperawatan

yang

dilakukan

adalah

pemasangan dan perawatan pipa nasogastrik sesuai indikasi. Sebelum


pemberian makanan, harus di cek ketepatan posisi selang dan residu
makanan.

d. Mencegah cedera
Pasien setelah koma sering mengalami periode letargi dan stupor
diikuti dengan periode agitasi. Kegelisahan dapat disebabkan adanya
hipoksia, demam, nyeri atau kandung kemih penuh. Ini dikatakan
sebagai indikasi cedera otak , tetapi juga menjadi tanda pemulihan
kesadaran. Pencegahan cedera dapat dilakukan dengan memasang bed
rail, memantau dan mempertahankan posisi pasien tetap aman, dan
memasang gelang resiko jatuh.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

16

2.4 Nyeri dan Penatalaksanaan Nyeri


Nyeri didefinisikan oleh Association for the Study of Pain sebagai
pengalaman sensori atau emosional yang tidak menyenangkan, berhubungan
dengan kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial. Bentuk dan rasa
nyeri yang dialami oleh individu dipengaruhi oleh psikologis penderita yang
mengalaminya (Schechter, 2003).
2.4.1 Pengkajian Nyeri
Menurut Johnson (1998) dalam Twycross,

Dowden dan Bruce (2009)

menyatakan perbedaan dalam pengukuran nyeri dan pengkajian nyeri.


Pengukuran nyeri dideskripsikan sebagai intensitas dari nyeri yang
menyatakan kuantitas, dan derajat nyeri. Sedangkan pegkajian nyeri
meliputi penilaian klinis berdasarkan observasi dari sifat, signifikansi dan
keadaan dari pengalaman nyeri anak.

Terdapat 3 langkah dalam mengkaji nyeri, yaitu merekam riwayat nyeri,


mengkaji nyeri pada anak dengan menggunakan alat pengkajian nyeri yang
tepat dan mengkaji ulang nyeri setelah dilakukan intervensi.

1) Mencatat riwayat nyeri


Mencatat riwayat pengalaman nyeri anak dan komplain nyeri terbaru.
Riwayat yang harus dicatat yaitu deskripsi nyeri yang terdiri dari tipe,
waktu, durasi, frekuensi, lokasi, intensitas dan kualitas nyeri, gejala yang
berhubungan, variasi temporal atau musiman, dampak dalam kehidupan
sehari-hari dan pengukuran penurunan rasa nyeri

2) Alat pengkajian nyeri


Menurut Twycross, Dowden & Bruce (2009) , alat pengkajian nyeri dapat
dibagi menjadi 3, yaitu:
a) Skala nyeri wajah
Skala peringkat dapat berkisar antara 0 pada satu titik ekstim dan 10
pada titik ekstrim lainnya. Skala nyeri dinilai berdasarkan ekspresi
anak. Angka 0 diartikan sebagai perasaan tidak nyeri. Angka 1 sampai

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

17

3 diartikan sebagai nyeri ringan. Lebih dari Angka 3 sampai 7


diartikan sebagai nyeri sedang. Lebih besar dari angka 7 sampai 9
diartikan nyeri yang berat dan lebih dari angka 9 sampai 10 diartikan
nyeri yang sangat hebat (Supartini, 2002).

Gambar 2.2 Skala Nyeri Wajah

Sumber : Wong, D. L. (2009)

b) Skala nyeri numerik


Mengandung nilai 1 - 10 yang bisa direpresentasikan dalam format
verbal maupun grafik. Anak harus diberikan penjelasan nilai terendah
dan tertinggi dari skor nyeri.

Gambar 2.3 Skala Nyeri Numerik

Sumber: Twycross, A., Dowden, S. J., dan Bruce, E. (2009)

c) Skala analog visual / Visual Analog Scale (VAS)


VAS dikaji dengan anak memilih garis vertikal dan horizontal dimana
akhir garis menggambarkan batas ekstrim nyeri. Anak diminta untuk
menandai garis yang menjadi indikator nyeri mereka. VAS
direkomendasikan untuk anak berusia 8 tahun keatas.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

18

Gambar 2.4 Word Graphic Rating Scale

Tidak
nyeri

Sedikit
nyeri

Nyeri
sedang

Sangat
nyeri

Paling
nyeri

Sumber: International Association for the Study of Pain (1995)

Instrumen pengkajian pada anak berbeda sesuai tingkat usianya. Hal tersebut
disebabkan karena tidak semua instrumen dapat digunakan pada anak yang
berbeda usianya. Sejauh ini telah diketahui terdapat delapan jenis alat atau
instrumen pengkajian nyeri. Instrumen pengkajian nyeri tersebut adalah skala
nyeri wajah, Oucher, skala numerik, poker chip tool, word graphic scale, color
tool, Liverpool Infant Distress Score dan Pain Assessment Tool for Children
(Moules & Ramsay, 2004)
Tabel 2.4 Jenis-Jenis Instrumen Pengkajian Nyeri
Rating Skala
Skala nyeri wajah
Oucher
Skala numerik
Poker chip tool

Word graphic
scale
Color tool

Liverpool Infant
Distress Score
(LIDS)
Pain Assessment
Tool for Children
(PATCh)

Prinsip
Ekspresi wajah untuk menunjukkan
derajat nyeri
Foto wajah anak yang menunjukkan
skala nyeri
Garis lurus dengan skala 0 (tidak
nyeri) dan 10 (sangat nyeri)
Empat keping yang diberikan kepada
anak untuk merepresentasikan "piece
of hurt"
Garis melintang dengan interval yang
mendeskripsikan intensitas nyeri
Anak menentukan warna tersendiri
dengan memilih warna yang
menunjukkan derajat nyeri
Delapan kategori perilaku dengan
skor 0-5 yang mampu menjumlahkan
skor nyeri
Mengkombinasikan skala wajah,
garis, skala numerik dengan deskripsi
nyeri dan perubahan tingkah laku.

Kalangan Umur
3 tahun +
3 - 13 tahun
5 tahun +
4 tahun +

8 tahun +

4 tahun +

Neonatus

Segala umur

Sumber: Moules & Ramsay (2004)

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

19

Gambar 2.5 Skala Nyeri Oucher

Sumber : Pain Associates in Nursing (2013)

Skala nyeri Oucher merupakan skala nyeri yang ditentukan dari ekspresi
wajah. Skala ini telah ditentukan berdasarkan ekspresi dari beberapa ras
yang ada di dunia. Skala ini terlihat pada gambar di atas dimana skala
nyeri oucher menurut ras kaukasian (Caucasian Oucher), ras afro
amerika (African American Oucher), ras hispanik (Hispanic Oucher),
First Nations Boy Oucher, First Nation Girl Oucher, dan ras asia (Asian
Boy Oucher dan Asian Girl Oucher).

3) Pengkajian ulang nyeri


Pengkajian ulang nyeri dilakukan beberapa saat setelah intervensi
dilakukan (Twycross, Dowden & Bruce, 2009). Pengkajian ulang
bertujuan agar mengetahui pengaruh tindakan terhadap respon nyeri,
namun pengkajian ini diberikan jeda waktu setelah intervensi untuk
mengetahu keefektivan intervensi yang dilakukan.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

20

2.4.2 Tatalaksana Nyeri


Metode dalam mengurangi nyeri menurut Twycross, Moriarty, & Betts
(1998) dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu counterirritation dan
dengan metode psikologi. Counterirritation merupakan metode atau
keadaan yang sengaja dilakukan terhadap reaksi nyeri. Counterirritation
berupa kompres panas, dingin, penggunaan zat kimia, masase, akupuntur
dan vibrasi. Selain itu juga terdapat metode psikologi seperti yang
tergambar pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.5 Contoh Counterirritation dan Metode Psikologi


dalam Mengurangi Nyeri
Counterirritation

Metode Psikologi
Distraksi
Imaginasi
Relaksasi
Terapi musik
Hipnosis
Terapi kognitif-perilaku

Panas
Dingin
Kimia
Masase
Akupuntur
Vibrasi
Sumber: Twycross, Moriarty & Betts (1998)

Menurut Twycross, Moriarty

& Betts (1998), terdapat beberapa cara dalam

mengurangi nyeri pada anak, yaitu:


a. Distraksi
Merupakan teknik yang membantu anak mengurangi nyeri dengan durasi
yang relatif singkat, seperti nyeri saat prosedur. Contoh strategi distraksi
adalah memegang objek yang familiar, menyanyi, meniup gelembung,
menonton televisi atau video atau mendengarkan cerita atau musik.
b. Relaksasi
Relaksasi biasanya tidak mengurangi intensitas nyeri, tetapi mengurangi
stress yang berhubungan dengan nyeri. Hal ini disebabkan toleransi nyeri
akan meningkat jika pasien lebih rileks.
c. Menggambarkan
Menggunakan

teknik

imaginasi

untuk

memodifikasi

respon

nyeri.

Menyediakan pengurang nyeri dengan cara distraksi, relaksasi dan

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

21

menciptakan gambaran nyeri. Contohnya, anak yang memiliki nyeri bisa


membuat/ menggambarkan nyeri yang mengalir di tubuh mereka.
d. Massase
Menciptakan relaksasi pada otot tubuh karena meningkatkan sirkulasi darah
sehingga mengurangi nyeri.
e. Sentuhan
Banyak anak yang merasa diperhatikan dan dicintai dengan sentuhan
terapeutik. Perawat jarang menyentuh anak kecuali melakukan pemeriksaan
fisik atau melakukan prosedur. Tetapi, sentuhan merupakan bentuk
komunikasi yang kuat yang menunjukkan kepedulian dan empati.
f. Aromaterapi
Aromaterapi dapat mengurangi nyeri, relaksasi, merawat gejala dan
mengurangi rasa nyeri. Aromaterapi menyembuhkan di level fisik, emosi dan
mental.
g. Hipnosis
Meningkatkan fokus perhatian, menurunkan status kesadaran dan disertai
dengan relaksasi. Hipnosis sebenarnya tidak menghilangkan nyeri tetapi
mengurangi atau menghilangkan persepsi anak tentang nyeri.

2.4.3 Tatalaksana Nyeri dengan Terapi Bacaan Al-Qur'an dengan Media


Audio
Penggunaan media audio telah dibuktikan sebagai salah satu teknik distraksi
yang ampuh dalam menurunkan nyeri pada anak. Terapi yang menggunakan
media audio yang pernah dijadikan penelitian berupa musik relaksasi,
instrumen musik maupun murattal (bacaan Al-Quran). Peneliti menemukan
bahwa stimulasi musik lebih baik dibanding stimulasi lainnya. Sebuah
penelitian yang juga telah dilakukan menunjukkan bahwa terapi musik dapat
menurunkan efek mual dan muntah pada pasien yang menjalani kemoterapi
(Apriany, 2010). Dalam penelitian lain juga ditemukan adanya hubungan
antara teknik relaksasi dengan menggunakan terapi musik terhadap
penurunan nyeri pada klien paska apendiktomi (Wahyuni, 2002). Walaupun
begitu, Al-Qur'an adalah salah satu musik terlembut dan teringan di alam

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

22

yang berasal dari sumber yang suci, dan dapat mencegah sejumlah besar
masalah fisik dan mental (Abdullahzadeh & Abdullahzadeh, n.d.).

Menurut Sodikin (2012) , terdapat perbedaan skala nyeri pada pasien post
operasi hernia sebelum dan setelah dilakukan Terapi Bacaan Al-Quran
(TBA). Al-Tharshi (1992) meneliti tentang hubungan antara ibadah dan
penyembuhan dengan metode empiris. Dia menemukan bahwa orang yang
beribadah, termasuk sholat, doa, membaca Al-Qur'an, zikir memiliki
keuntungan dalam fisik psikologis dan spiritual. Pada penelitian lain juga
menemukan bahwa ibadah memiliki peran yang signifikan dalam pemulihan
atau koping terhadap penyakit. Hasil menunjukkan bahwa orang Islam yang
beribadah bisa menurunkan stres dan tekanan darah, memberikan
kenyamanan spiritual pada klien dan meningkatkan kemampuan emosional
untuk berdamai dengan penyakit mereka (Ycel, 2009).

Penelitian yang menghubungkan antara kegiatan ibadah dan penyembuhan


penyakit semakin diminati oleh masyarakat. Salah satu bentuknya adalah
semakin banyak orientasi masyarakat terhadap penyembuhan yang islami.
Selama beberapa dekade terakhir, banyak masyarakat yang berfokus pada
dimensi spriritual dari penyakit, yaitu kekuatan Al-Qur'an, membaca AlQur'an dan penyembuhan alami di Al-Qur'an dan hadist (Tocco, 2010).
Penggunaan bahasa Al-Quran sebagai terapi relaksasi dalam mengurangi
nyeri karena Al-Quran memiliki keindahan ritme yang khas dan irama
yang merdu. Bacaan Al-Quran juga dianggap sebagai salah satu musik
terlembut yang berasal dari alam (Khan, n.d.). Oleh sebab itu, bacaan AlQuran dapat menjadi salah satu alternatif dalam teknik distraksi yang
bertujuan mengurangi nyeri pada anak.

Penelitian mengenai terapi nonfarmakologis dengan TBA melalui media


audio diaplikasikan sebagai salah satu intervensi terhadap nyeri pada An. P.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

23

Aplikasi dari penelitian Terapi Bacaan AL-Quran (TBA) dilakukan dengan


beberapa tahapan. Sebelumnya penulis menentukan pasien cedera kepala
yang telah menerima analgetik selama 6 jam. Kemudian dijelaskan tujuan dan
manfaat penelitian kepada keluarga klien. Setelah itu penulis menyampaikan
hasil dari penelitian di tesis sebelumnya tentang aplikasi bacaan Al-Qur'an.
Penulis meminta kesediaan keluarga dalam melakukan aplikasi penelitian.
Setelah disetujui oleh orang tua responden, penulis kontrak waktu dan tempat
dengan orang tua klien

Untuk mencegah terjadinya bias dalam intervensi dengan TBA, perlu adanya
pengecekan jadwal pemberian analgetik. Pada penelitian sebelumnya, klien
diintervensi setelah 6 jam post pemberian analgetik. Pada An. P, diberikan
Ketorolac 2 x 10 mg pada jam 06.00 dan 18.00 WIB.

Ketorolac

bekerja

dengan menghambat

sintesis prostaglandin

yang

merupakan mediator yang berperan pada inflamasi, nyeri dan demam.


Absorbsinya terjadi di usus dengan bioavalaibilitasnya pada pemberian oral,
intramuskular dan intravena bolus 100%. Konsentrasi puncak pemberian oral
akan tercapai dalam waktu 45 menit, pemberian intramuskular 3045 menit
dan intravena bolus 13 menit. Obat ini 99% berikatan dengan protein
plasma. Konsentrasi di plasma akan berkurang setelah 6 jam (Jusuf, 2008).
Keseimbangan tingkat plasma tercapai setelah diberikan dosis setiap 6 jam
dalam sehari. Kadar puncak plasma terjadi pada rata-rata 50 menit setelah
dosis tunggal 30 mg (Roche Diagnostic Australia, 2012). Oleh sebab itu,
TBA dilakukan setelah 6 jam pemberian analgetik (ketorolac).

Sebelum menerapkan TBA, dilakukan pengukuran tanda-tanda vital, yang


terdiri dari tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan dan suhu
tubuh klien. Pengukuran tanda-tanda vital ini bertujuan untuk mengetahui
perubahan tanda-tanda vital sebelum dan sesudah dilakukan TBA.
Selanjutnya klien dibimbing melalukan napas dalam sesuai kemampuan dan
pemahaman klien.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

24

Terapi

Bacaan

AL-Quran

dengan

media

audio

dimulai

dengan

memperdengarkan bacaan AL-Quran selama 15 menit. Ayat Al-Quran yang


digunakan sebaiknya surat yang dihafal oleh klien, sehingga lebih diresapi
dan diikuti oleh klien selama terapi.

Setelah diperdengarkan selama 15 menit, penulis memberi waktu istirahat


selama 10 menit dan mengukur ulang tanda-tanda vital. Selain itu penulis
juga meminta pendapat orang tua yang ikut mengobservasi penulis dalam
melakukan tindakan terhadap keadaan umum anaknya. Hasil pengukuran
dinilai dan didokumentasikan.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB 3
LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

3.1 Gambaran Umum


An. P (7 tahun) masuk rumah sakit karena keluhan muntah dan nyeri kepala
hebat. Orang tua klien mengatakan pada tanggal 15 Juni 2013, klien pulang
dengan keadaan lemah setelah bermain pada sore hari di luar rumah. Klien
masih mampu berdiri dan berjalan seperti biasa, namun klien selalu
memuntahkan makanan sehingga tidak ada makanan yang dapat dimakan.

Klien mengatakan bahwa telah jatuh dari sepeda namun tidak ingat
bagaimana kejadian persisnya dan tidak ada saksi mata. Keesokan harinya,
klien dibawa ke dokter spresialis karena merasa pusing dan muntah-muntah.
Setelah sehari di rumah, klien tidak mengalami perbaikan sehingga dibawa ke
RSUP Fatmawati. Klien masuk ke IGD mulai di rawat di ruang rawat inap
anak pada tanggal 19 Juni 2013.

An. P memiliki tekanan darah: 90/60 mmHg, nadi 112 x/menit, Suhu: 36,5C,
frekuensi penafasan: 20x /menit. Klien terlihat gelisah, sering memejamkan
mata dan belum mampu berbicara dengan jelas. Tidak tampak luka atau
cedera lain di tubuh klien. An. P selalu tidur dan memejamkan mata dengan
alasan merasa pusing jika membuka mata. An. P juga terlihat somnolen dan
selalu mengeluh pusing. Saat pusing, klien biasanya menangis atau
mengerang. Selain itu, An. P tidak mau berinteraksi dengan siapapun dan
jarang bicara, termasuk dengan ibunya.

Klien sering terlihat mual dan muntah. Dalam sehari, klien bisa muntah 3 - 4
kali, terutama setelah makan maupun minum. Selain keluhan pusing juga
terdapat nyeri di ulu hati. An. P mengalami konstipasi selama di RS, namun
abdomen terlihat cekung dan lemas.

25
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

26

3.3 Masalah Keperawatan


Pada an. P, terdapat beberapa masalah keperawatan, yaitu gangguan pola
eliminasi urine, gangguan perfusi jaringan serebral, nyeri akut, gangguan
nutrisi kurang dari kebutuhan, dan risiko infeksi.

Masalah gangguan pola eliminasi urine terjadi pada saat klien masuk di ruang
rawat inap anak. An P mengeluhkan sakit pada kandung kemih, ingin
berkemih namun tidak bisa mengeluarkan urine. Saat dilakukan palpasi di
area kandung kemih, teraba distensi dan nyeri tekan. Tidak ada peningkatan
produksi urine dari jam 08.00 sampai jam 14.30 WIB. Oleh sebab itu masalah
ini diangkat menjadi gangguan pola eliminasi urine.

Masalah berikutnya adalah gangguan perfusi jaringan serebral. Hal ini


didukung dengan data seringnya terjadi peningkatan TIK pada anak P, yang
ditandai dengan perubahan tanda-tanda vital, diaforesis, nyeri kepala dan
mual serta muntah. GCS klien bernilai E 2M4 V2. Hasil CT scan juga
menunjukkan terdapat perdarahan di regio occipital sebanyak 15 cc dan
terdapat edema serebri.

Selain itu klien juga mengeluh nyeri sehingga bisa diangkat masalah nyeri
akut. Klien berespon terhadap nyeri dengan menangis dan mengerang. Selain
itu klien juga sering memegang dan melindungi kepalanya. Pada saat nyeri
semakin hebat, klien terkadang pernah memukul-mukul atau membenturkan
kepalanya. Masalah ini dapat diangkat menjadi nyeri akut.

Masalah berikutnyaadalah gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.


Hal ini ditandai dengan mual dan muntah yang terus menerus. Klien juga
memuntahkan setiap makanan yang masuk. Selain itu, ibu klien melaporkan
perubahan berat badan, terutama dilihat dari bentuk abdomen klien.
Penimbangan berat badan tidak dilakukan karena klien belum bisa mobilisasi
dan tidak ada alat yang memadai untuk mengukur BB di tempat tidur.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

27

Masalah terakhir adalah risiko infeksi pada an. P. Risiko infeksi dapat
ditegakkan karena klien mendapatkan tindakan invasif, yaitu pemasangan
infus dan penggunaan kateter. Selama pengkajian ini tidak terlihat adanya
perubahan suhu pada an. P, timbulnya pus pada area insersi dan tidak terdapat
tanda kemerahan atau reaksi radang lainnya pada an P.

3.4 Asuhan Keperawatan


Keluhan mengenai rasa nyeri di kandung kemih segera ditindaklanjuti dengan
mengkaji ulang mengenai ketepatan posisi selang, memperbaiki posisi selang
dan mengamati aliran urine di selang kateter. Terihat tidak ada aliran pada
selang namun kandung kemih teraba penuh. Oleh sebab itu, dilakukan
pelepasan selang kateter danterlihat adanya gumpalan putih seperti pasir yang
menutupi ujung selang kateter. Setelah kateter dilepaskan, aliran urine lancar
dan An P tidak pernah mengeluh mengenai kegiatan berkemih. Frekuensi
berkemih sekitar 4 6 kali.

Perawat juga memantau tanda-tanda peningkatan TIK dengan mengobservasi


tanda-tanda vital, keadaan umum, respon serta orientasi dan nilai GCS. Selain
itu posisi head up 30o tetap dipantau dan dipertahankan untuk mencegah
peningkatan TIK. Keluarga klien juga diberi pendidikan kesehatan mengenai
aktivitas yang dapat menimbulkan peningkatan TIK sehingga bisa dicegah
sejak dini.

Dalam menerapkan intervensi keperawatan, terdapat beberapa kemajuan


kondisi klien, diantaranya perubahan nilai GCS, saat awal masuk, klien
memiliki GCS E2M4V2 namun di hari Sabtu (22/06/13), nilai GCS klien
meningkat menjadi E4M5V5.
Mengingat kemampuan klien menelan dan mencerna makanan masih terbatas,
perawat memantau terapi cairan dan status hidrasi pasien. Namun nutrisi juga
diperhatikan dengan mencari makanan pengganti yang lebih ringan namun
bergizi untuk klien. Perawat juga mengajarkan bagaimana memberi makanan

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

28

dengan kondisi anak yang mual dan muntah. Setelah dua hari di rawat,
frekuensi mual dan muntah sudah berkurang. Walaupun sesekali klien masih
memuntahkan makanan, di hari ketiga di rawat, klien sudah mampu menelan
1-2 sendok jus dan kentang dan apel tanpa muntah.

Respon nyeri klien juga terlihat berkurang. Keluhan pusing dan sakit kepala
sudah mulai menurun frekuensinya. Selain itu saat terjadi sakit kepala, klien
sudah tidak menangis atau memukul-mukulkan kepala, tetapi hanya
mengeluh sakit. Jika sebelumnya klien tidak mau membuka mata karena
merasa pusing, klien sekarang telah mampu membuka mata dan menatap
lawan bicara. Interaksi klien dengan orang lain juga lebih baik. Klien sudah
mau menjawab pertanyaan, walaupun terbatas anggukan dan gelengan. Klien
sudah mau diajak berkomunikasi dengan keluarga dan perawat.

Pada pasien cedera kepala, penggunaan obat-obatan dengan dosis dan waktu
yang tepat sangat penting untuk kesembuhan klien. Perawat bertugas
memberikan dan memastikan pemberian obat dengan benar agar mengurangi
peningkatan TIK dan mengurangi efek-efek dari cedera kepala yang dialami
klien. Pemberian obat-obatan seperti diuretic osmotic, analgetik dan
antibiotik perlu diawasi dengan tepat agar tercapainya kesembuhan yang
optimal.

3.6 Aplikasi Hasil Penelitian


Sebelum melakukan intervensi klien melakukan pengecekan jadwal obat
analgetik. Klien mendapatkan obat Ketorolac 2 x 10 mg, pada jam 06.00 dan
18.00 WIB. Sebelum menerapkan penelitian, penulis melakukan pengukuran
tanda-tanda vital, yang terdiri dari tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhu
klien. Selanjutnya klien dibimbing melalukan napas dalam sesuai kemampuan
klien dan diperdengarkan bacaan AL-Quran selama 15 menit. Ayat AlQuran yang penulis perdengarkan adalah Juz 30, dimana menurut ibu klien,
klien menghapal surat-surat di juz 30, seperti An-Naas, Al-Falaq dan AlIkhlas. Selain itu penulis juga memperdengarkan surat yang familiar pada

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

29

anak-anak, yaitu surat An-Naas sampai surat Adh-Dhuhaa. Setelah


diperdengarkan selama 15 menit, penulis memberi waktu istirahat selama 10
menit dan mengukur ulang tanda-tanda vital. Selain itu penulis juga meminta
pendapat orang tua yang ikut mengobservasi penulis dalam melakukan
tindakan

terhadap

keadaan

umum

anaknya.

Hasil

pengukuran

didokumentasikan dan penulis melakukan kontrak ulang untuk intervensi yang


sama dengan orang tua klien.

Intervensi I :
Hari

: Jumat

Tanggal

: 21 Juni 2013

Waktu

: 13.15 13.55

Penulis dilaporkan oleh orang tua klien tentang kondisi anaknya yang
mengeluh nyeri kepala sampai memegang erat (melindungi) kepala nya dan
mengerang kesakitan. Penulis melakukan kontrak intervensi dengan ibu klien
dan melakukan intervensi seperti yang telah disampaikan sebelumnya.

Tanda-tanda vital sebelum TBA:


Tekanan darah

: 150/110

Nadi

: 60 x/menit

Pernapasan

: 28 x/menit

Suhu

: 36,0o C

Setelah dilakukan pengukuran, didapatkan hasil pengukuran tanda-tanda vital,


yaitu:
Tekanan darah

: 140/100

Nadi

: 88 x/menit

Pernapasan

: 26 x/menit

Suhu

: 36,0o C

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

30

Selain itu, penulis mengobservasi keadaan umum klien, dimana klien terlihat
lebih tenang dan tertidur pulas setelah 10 menit diberi TBA. Orang tua klien
juga menyampaikan bahwa anaknya terlihat tenang dan mengatakan efeknya
langsung terlihat.
Penulis juga memperhatikan ekspresi anak saat sebelum dan sesudah TBA.
Penulis menggunakan skala Oucher dengan gambar anak laki-laki dengan ras
asia.

Gambar 3.1 Perubahan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah TBA


(Jumat, 21 Juni 2013)

Sumber : Pain Associates in Nursing. Oucher!. Juli 4, 2013.


http://http://www.oucher.org

Intervensi II :
Hari

: Sabtu

Tanggal

: 22 Juni 2013

Waktu

: 14.05 14.35

Penulis mendatangi klien sesuai kontrak pada hari sebelumnya. Ibu klien
melaorkan anaknya mengeluh sakit kepala lagi dan bergerak dengan gelisah di
tempat tidur. Klien berpindah posisi dan berguling sambil mengeluh nyeri.
Penulis melakukan intervensi dengan metode sebelumnya.
Tanda-tanda vital sebelum TBA:
Tekanan darah

: 140/100

Nadi

: 69 x/menit

Pernapasan

: 25 x/menit

Suhu

: 36,1o C

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

31

Setelah dilakukan pengukuran, didapatkan hasil pengukuran tanda-tanda vital,


yaitu:
Tekanan darah

: 130/100

Nadi

: 86 x/menit

Pernapasan

: 26 x/menit

Suhu

: 36,1o C

Penulis mencataan keadaan klien. Seperti hari sebelumnya, klien terlihat tidur
dengan tenang setelah diberikan TBA. Klien tidur dengan posisi terlentang
dan dengan ekspresi datar (tidak ada seringai atau menyeringitkan wajah
sebagai salah satu tanda nyeri).

Skala nyeri anak dengan Skala Oucher:

Gambar 3.2 Perubahan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah TBA


(Sabtu, 22 Juni 2013)

Sumber : Pain Associates in Nursing. Oucher!. Juli 4, 2013.


http://http://www.oucher.org

Dari dua intervensi yang dilakukan penulis, terlihat perubahan tanda-tanda


vital mendekati normal dan keadaan umum yang lebih tenang. Penulis tidak
mengukur skala nyeri karena klien masih terbatas dalam verbal dan tertidur
setelah diberikan TBA. Namun dapat dilihat bahwa keadaan klien lebih baik
dari sebelum diberikan TBA.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB 4
ANALISIS SITUASI

4.1 Profil Lahan Praktek


Lantai 3 utara gedung Teratai RSUP Fatmawati adalah bangsal khusus anak
bagian kelas III bedah dan kelas I dan II penyakit dalam dan bedah. Ruang
rawat ini menangani kasus-kasus seperti hidrosefalus (19,6%), hirscprung
(16,9%), cedera kepala (15,1%), fraktur (15,1%), apendiks (13,4%), atresia ani
(11,6%) dan spina bifida (8%). Selain itu juga terdapat penyakit lain seperti
hipospadia, persiapan bedah plastik, persiapan bedah tumor dan luka bakar
(RSUP Fatmawati, 2013).

Lantai III utara terdiri dari 12 ruang rawat, dimana 4 kamar ruang kelas III
bedah, 1 kamar ruang combustio, 4 kamar ruang kelas I dan 4 kamar ruang
kelas II. Selain itu, terdapat ruang tindakan, ruang obat, dapur (ruang gizi),
nurse station, spoelhoek, gudang, ruang penyimpanan laken dan ruang ganti
perawat. Ruang kelas I terdiri dari 2 bed, ruang kelas II terdapat 4 bed setiap
kamar dan kelas III memiliki 6 bed perkamar, sehingga total bed keseluruhan
adalah 54 buah tempat tidur.

Total jumlah perawat di lantai III utara adalah 23 orang, ditambah dengan 1
orang kepala ruangan dan 1 wakil kepala ruangan. Metode perawatan yang
dilakukan adalah metode tim, dimana setiap 2 orang ketua tim membawahi 24 perawat pelaksana setiap shift nya.
.

32
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

33

4.2 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep Terkait KKMP dan


Konsep Kasus Terkait
Diagnosa medis yang ditegakkan pada klien yang dikelola adalah Epidural
hematoma regio occipital dan edema ringan hemisfer cerebri dan cerebeli
dextra. Diagnosa ini muncul karena cedera kepala yang dialami klien yang
diakibatkan kecelakaan saat bersepeda. Seperti yang telah diuraikan
sebelumnya, cedera kepala adalah penyakit neurologik yang serius, yang
disebabkan kecelakaan lalu lintas (Ginsberg, 2005). Anak-anak memiliki
alasan yang lebih khusus sebagai penyebab cedera kepala. Tiga penyebab
utama kerusakan otak pada masa kanak-kanak secara berurutan adalah cedera
terjatuh, cedera bermotor, dan cedera sepeda. Anak yang lebih besar dari umur
2 tahun dapat mengalami cedera sebagai pejalan kaki atau mengedarai sepeda.
Mayoritas kematian akibat trauma otak terjadi pada usia 5 dan 15 tahun
(Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009).

Dari penjelasan diatas, terlihat bahwa penyebab cedera kepala pada anak lebih
sering akibat kecelakaan, lebih khususnya kecelakaan akibat terjatuh,
bermotor dan cedera sepeda. All-terrain vehicle (ATV) atau segala jenis motor
yang berukuran kecil yang populer di kalangan anak-anak dibawah usia 16
tahun, adalah kendaraan yang sulit dikendalikan, tidak stabil dan berperan
meningkatkan jumlah kejadian cedera pada anak (Wong, Hockenberry,
Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009). Hal ini juga didukung dengan
masalah kesehatan di perkotaan, dimana tingginya angka pembangunan fisik
dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang berada di jalan, sehingga
rentan menimbulkan kecelakaan akibat kondisi jalan yang padat.

Padatnya bangunan dan tingginya arus kendaaran berhubungan dengan tempat


tinggal klien yang berada di daerah kota, yaitu Jakarta Selatan. Peningkatan
pembangunan jalan raya, mall, jalan tol dan gedung-gedung serta padatnya
arus kendaraan bermesin didaerah tersebut mengakibatkan tingginya risiko
kecelakaan di jalan.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

34

Peminatan anak-anak terhadap olahraga juga menimbulkan salah satu


penyebab cedera kepala di perkotaan. Ketidakhati-hatian dalam berolahraga,
dan kurangnya pengamanan dalam berolahraga bisa menjadi salah satu
penyebab cedera kepala. Contohnya, saat bersepeda, anak cenderung tidak
memakai alat pengaman lengkap seperti helm atau pelindung lutut. Selain itu
kebiasaan mengemudi yang ceroboh dan ngebut di jalan raya yang populer di
kalangan anak-anak membuat keamanan dalam bersepeda menjadi rendah,
sehingga menjadi faktor yang bisa menyebabkan cedera pada anak.

Kondisi ini tentu menjadi penyebab terbesar cedera kepala pada anak. Cedera
yang terjadi sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan kebiasaan
mengemudi yang aman, penggunaan peralatan pendukung dalam bersepada
dan peningkatan pengawasan orang tua terhadap keamanan kegiatan bermain
anak (Villalpando,2012).

4.3 Analisis Salah Satu Intervensi dengan Konsep dan Penelitian Terkait
Intervensi yang diterapkan dalam kasus cedera kepala adalah aplikasi dari
Pengaruh Terapi Bacaan Al-Qur'an Melalui Media Audio terhadap Respon
Nyeri Pasien Post Operasi Hernia di RS Cilacap. Intervensi ini telah di
ujicobakan pada pasien yang mengalami operasi hernia melalui pembedahan
insisi kulit abdomen. Penulis ingin mengetahui keefektifan intervensi ini pada
anak yang cedera kepala.

Salah satu manifestasi dari cedera kepala adalah pusing atau vertigo atau nyeri
kepala hebat. Seringkali anak yang telah diberi analgetik masih merasakan
nyeri di kepala, terutama jika efek obat yang diberikan telah habis. Kondisi ini
akan menimbulkan perasaan tidak nyaman pada anak, dan juga meningkatkan
kecemasan pada orang tua. Kondisi tersebut tentu menimbulkan stres
hospitalisasi pada anak sehingga penulis tertarik mengaplikasikan penelitian
ini untuk mengurangi nyeri yang dirasakan oleh anak.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

35

Selama melakukan TBA pada anak cedera kepala, terlihat perubahan tandatanda vital dan skala nyeri anak. Tanda-tanda vital klien pada awalnya tidak
stabil, namun setelah diberikan TBA selama 15 menit, tanda-tanda vital
kembali ke batas normal. Kondisi umum klien juga terlihat mengalami
perubahan, dimana anak yang sebelumnya mengerang dan menyeringai,
terlihat tertidur pulas dengan ekspresi tenang.

Penelitian ini juga dapat melibatkan orang tua dalam pemberian terapi. Hal ini
didukung dengan konsep Family Centered Care (FCC) atau asuhan berpusatkeluarga. FCC menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran khusus dalam
merawat anak. Dalam FCC, terlihat pentingnya peran orang tua dan
keterlibatan mereka dalam meningkatkan kualitas perawatan anak (Wong,
Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009; Bowden & Greenberg,
2012). Pemberian TBA dengan melibatkan keluarga dalam proses terapi
bertujuan untuk menyediakan bentuk terapi nonfarmakologis yang mudah
dilakukan keluarga dan untuk meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan
anak dalam proses perawatan.

4.4 Alternatif Pemecahan yang Dapat Dilakukan


Dalam mencegah terjadinya cedera kepala pada anak, perlu adanya perhatian
yang besar dari orang tua untuk mencegah kejadian cedera pada anak. Seperti
yang dijelaskan dalam Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz
(2009),

penyebab tersering cedera dan kematian pada anak usia sekolah

adalah kecelakaan sepeda motor, baik sebagai pejalan kaki atau penumpang.
Selain itu tiga penyebab utama kerusakan otak pada masa kanak-kanak secara
berurutan adalah cedera terjatuh, cedera bermotor, dan cedera bersepeda.

Pemecahan terhadap masalah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan safety


anak dalam berkendara (bersepeda). Pemilihan sepeda yang tepat untuk anak
dapat meminimalkan resiko terjadi cedera pada anak. Orang tua mungkin
berpikir membelikan anak sepeda yang besar karena anak akan tumbuh besar,
tetapi harus dihindari pembelian sepeda yang terlalu besar karena menyulitkan

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

36

anak untuk berputar. Ketika berdiri di atas sepeda, kaki anak harus dapat
menyentuh tanah dengan sepeda yang tidak menyentuh antara kedua kakinya.
Ketika duduk, anak harus dapat mengayuh sepeda dengan mudah. Berat
sepeda harus dipikirkan juga dalam memilih sepeda. Beberapa sepeda yang
murah dibuat dari besi dan sangat berat, sehingga sulit bagi anak untuk
berputar (Villalpando, 2012).

Selain itu, setiap bersepeda, sebaiknya harus dilengkapi dengan helm. Dalam
sebuah penelitian, helm dapat menurunkan angka kejadian cedera kepala
sekitar 85% dan cedera otak 88% (Rivara, & Thompson, 1990). Namun,
banyak anak yang tidak menggunakan helm saat mengendarai sepeda dan
orang dewasa pun juga jarang menggunakan, terlepas dari fakta bahwa helm
sebagai alat yang sangat efektif mencegah terjadinya cedera kepala (American
Academy of Pediatrics, 2001). Tampak bahwa betapa pentingnya penggunaan
helm dalam menjaga keselamatan anak saat bersepeda. Perhatian orang tua
dan kepatuhan anak akan penggunakan peralatan yang safety dapat menjadi
salah satu cara untuk mencegah cedera kepala pada anak. Asuhan
keperawatan keluarga di rumah juga dapat dilihat dari tabel dibawah ini :

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

37

Tabel 4.1 Rekomendasi American Academy of Pediatrics


untuk Keamanan Bersepeda
Keamanan
Bersepeda

Gunakan selalu helm sepeda yang sesuai, yang telah disetujui Snell atau
ANS, ganti helm yang sudah rusak.
Mengendarai sepeda sesuai dengan rambu-rambu lalu lintas dan jauh
dari mobil yang diparkir.
Tuntun sepeda ketika melalui persimpangan jalan yang ramai hanya di
zebra cross.
Berikan tanda dengan tangan ketika akan berbelok atau berhenti.
Pertahankan posisi sepeda sedekat mungkin dengan tepi jalan.
Perhatikan jalan yang tidak rata, jalan yang berlubang, bahu jalan yang
lemah, dan adanya batu kerikil atau tanah.
Pegang stang sepeda dengan kedua tangan kecuali jiak ingin memberi
tanda dengan tangan.
Jangan mengendarai satu sepeda untuk dua orang.
Jangan membawa benda yang mengganggu penglihatan atau
pengendalian sepeda, jangan menarik benda di belakang sepeda.
Perhatikan dan dahulukan pejalan kaki.
Perhatikan mobil dari arah belakang atau hindari jalur kendaraan
bermotor, hati-hati terutama pada persimpangan jalan.
\Lihat ke kanan dan ke kiri sebelum belok ke jalur lalu lintas atau jalan
raya.
Jangan menghalangi jalan untuk mobil truk atau kendaraan lainnya
ketika mengendarai sepeda.
Pelajari peraturan di jalan dan hormati petrugas lalu lintas.
Patuhi semua peraturan yang berlaku.
Gunakan sepatu yang aman dan pas dipakai ketika mengendarai sepeda.
Gunakan pakaian berwarna terang saat malam hari dan tempelkan
benda-benda bercahaya pada pakaian dan sepeda.
Pastikan bahwa ukuran sepeda sesuai dengan pengendaranya.
Lengkapi sepeda dengan lampu dan benda yang mampu emmantulkan
cahaya.
Sepeda terlebih dahulu diperiksa untuk memastikan kondisi mekanik
yang baik.
Anak-anak yang dibonceng sepeda harus mengenakan helm berukuran
tepat pada tempat duduk yang telah dirancang khusus untuk
keamanan anak.

Sumber: American Academy Pediatrics, Committee of Injury and Poison Prenvention: Bicycle
helmets, Pediatrics (1995).

Kepatuhan dengan anjuran dan rekomendasi yang telah diberikan untuk


pencegahan cedera pada anak, serta pengawasan yang baik dari orang tua terhadap
keselamatan anak menjadi salah satu alternatif dalam mencegah terjadinya cedera
yang semakin banyak timbul di kalangan masyarakat perkotaan. Pencegahan
cedera yang tepat dan baik pada anak tentu saja berdampak pada penurunan angka

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

38

kejadian cedera kepala dan menurunkan angka kematian dan cedera yang fatal
pada anak. Namun, jika telah terjadi cedera kepala pada anak, tentu harus ada
jalan yang diupayakan dalam kesembuhan anak. Selain intervensi yang
menggunakan

farmakologis,

ada

juga

terapi

nonfarmakologis

dalam

meningkatkan kesembuhan anak yang mengalami cedera kepala.

Pada tahun 1977, pernah terjadi suatu kejadian yang membuah seorang psikolog
mengalami cedera kepala yang serius. Saat itu penelitian tentang cedera kepala
masih pada masa-masa awal dan belum ada dukungan dari organisasi atau sosial.
Dari segala keterbatasan dan kecacatan yang dialaminya, psikolog tersebut dapat
kembali menjadi praktisi profesional dan memperoleh kulitas hidup yang baik
dengan bantuan keluarganya. Artinya, keyakinan, harapan dan cinta merupakan
salah satu terapi dalam masa penyembuhan cedera kepala yang serius (Linge,
1990). Dapat disimpulkan bahwa peran keluarga, terutama orang tua menjadi
faktor yang sangat penting dalam peningkatan pemulihan anak dengan cedera
kepala.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa trauma otak dapat mengganggu hubungan


orang tua dan anak, berkonstribusi dalam kurangnya kecocokan dan respon timbal
balik antara orang tua dan anak. Namun, dalam perkembangannya, kemampuan
orang tua dalam bereaksi dengan hangat dan ramah dapat membantu pertumbuhan
kemampuan sosial, kognitif dan bahasa pada anak (Wade, Taylor, Walz,
Salisbury, Stancin, Bernard, et al, 2008). Hal ini mendukung keefektifan peran
orang tua terhadap masalah cedera kepala pada anak.

Telah dikenal konsep Family Centered Care (FCC) atau asuhan berpusat-keluarga
dalam perawatan anak. FCC menunjukkan bahwa keluarga bersifat konstan dalam
hidup anak. Keluarga didukung dalam peran pemberian perawatan yang alami dan
peran pembuatan keputusan dengan membangun kekuatan unik mereka sebagai
individu dan keluarga (Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz,
2009).

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

39

Penerapan asuhan berpusat-keluarga dibutuhkan dalam perawatan anak cedera


kepala, baik yang mengalami hospitalisasi maupun masa pemulihan di rumah.
Selama di rumah sakit, anak membutuhkan intervensi nonfarmakologis, seperti
terapi nyeri yang telah diaplikasikan sebelumnya, yaitu TBA dengan media audio.
Ketersediaan jumlah perawat dan waktu perawatan yang diberikan tentu saja
terbatas jika diterapkan ada seluruh anak yang mengalami cedera kepala. Oleh
sebab itu peran keluarga penting dalam penerapan intervensi ini.

Proses pemberian terapi ini tidak sulit karena cukup dengan menyediakan media
audio dan murottal yang diinginkan. Orang tua juga dapat membacakan langsung
ayat-ayat Al-Quran pada anaknya. Oleh sebab itu, aplikasi intervensi ini juga
meningkatkan intensitas hubungan dan komunikasi orang tua dan anak. Dukungan
orang tua dan keluarga, teknik relaksasi nyeri yang tepat dan

proses

penatalaksanaan yang tepat dalam menangani cedera kepala dapat menjadi sebuah
asuhan yang meningkatkan kualitas hidup dan penyembuhan anak yang cedera
kepala (Wong, Hockenberry, Wilson, Winkelstein & Schwartz, 2009; Linge,
1990).

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Gambaran umum anak yang mengalami cedera kepala memperlihatkan tandatanda gelisah, mual muntah, dan penurunan kesadaran. Anak yang mengalami
cedera kepala mengalami berbagai masalah keperawatan, seperti masalah
gangguan perfusi jaringan serebral, gangguan nutrisi, cairan ataupun memiliki
risiko cedera. Pemberian asuhan yang sesuai dengan prosedur, bertahap dan
berkelanjutan mampu menyebabkan peningkatan kondisi anak ke arah yang
lebih baik.

Terdapat beberapa kondisi yang harus diperhatikan pada anak yang


mengalami cedera kepala, yaitu terjadinya peningkatan tekanan intra kranial.
Peningkatan tekanan intra kranial ini ditandai dengan adanya nyeri kepala
pada anak. Respon nyeri yang terjadi pada anak tidak bisa diabaikankarena
akan meningkatkan stres hospitalisasi pada anak. Untuk itu perlu adanya
intervensi yang tepat dalam mengatasi nyeri yang timbul, salah satunya
dengan terapi Bacaan Al-Quran.

Terapi

ini

telah

diaplikasikan

pada

pasien

anak

cedera

kepala.

Hasilnyamenunjukkan adanya pengaruh TBA terhadap respon nyeri anak, baik


dari tanda-tanda vital dan keadaan umum anak. Terapi ini direkomendasikan
pada perawat dan orang tua karena mudah dan dapat dilakukan oleh keluarga.

Keluarga juga berperan penting dalam meningkatkan kondisi kesehatan anak.


Keterlibatan keluarga dalam proses perawatan serta peningkatan kualitas
interaksi antara orang tua dan anak menjadi salah satu cara dalam
meningkatkan proses penyembuhan anak.

40
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

41

5.2 Saran
Intervensi keperawatan pada anak yang mengalami cedera kepala memiliki
sebuah tindakan khusus, yaitu mengobservasi status neurologisnya dalam
waktu yang berkala. Sebaiknya penilaian terhadap status neurologis dengan
menggunakan Glaslow Coma Scale, dilakukan secara kontiniu dan teratur dan
dicantumkan di dalam lembar evaluasi keperawatan sehingga dapat diniliai
kemajuan dan perkembangan kondisi pasien cedera kepala.

Pengkajian nyeri pada anak juga memiliki beberapa tahapan, termasuk


kemampuan dalam melakukan pengukuran nyeri sebaiknya dipelajari dengan
lebih mendalam oleh seorang perawat. Berbagai instrumen pengukuran nyeri
telah dibuat sesuai dengan rentang umur anak, sehingga sebaiknya digunakan
sesuai dengan sasaran usia.

Tatalaksana nyeri secara nonfarmakologis telah dicoba diaplikasikan di


institusi pelayanan kesehatan dan menunjukkan hasil perubahan pada respon
nyeri pasien, sehingga sebaiknya terdapat sarana atau media dalam
mengaplikasikan terapi tersebut di ruang rawat inap. Seperti TBA yang telah
diujicobakan pada pasien cedera kepala, pihak institusi pelayanan kesehatan
dapat memberikan terapi dengan ayat-ayat Al-Quran ataupun musik relaksasi
pada anak yang mengalami nyeri.

Sesuai dengan konsep Family Centered Care, anak perlu dukungan orang tua
dalam menghadapi cedera kepala. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua diberi
pendidikan dan akses dalam terlibat langsung dengan perawatan anak.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Abdollahzadeh, F., dan Abdollahzadeh, N. (n.d.). The effect of voice of holley


quran to decrease aggresive behaviors in people with AD. Juli 04, 2013.
http://search.ebscohost.com/
Al-Tharshi, A. (1992). Prayer, exercise, and the body. Beirut: Maktabatul Islami.
Apriyani, D. (2010). Pengaruh terapi musik terhadap mual muntah lambat akibat
kemoterapi pada anak usia sekolah yang menderita kanker di RSUP Dr.
Hasan Sadikin Bandung. Tesis UI. Tidak dipublikasikan
American Academy of Pediatrics. (1995). Bicycle helmet. Pediatrics, 108, 609610.
American Academy of Pediatrics. (2001). Bicycle helmet. Pediatrics, 108, 10301542.
Birbilis, T. dan Matis, G. (2008). The glaslow coma scale-a brief review past,
present, future. Acta neurol belg, 108, 75-89
Brain Injury Alliance New Jersey. (2002). Mild head injury and post traumatic
headache. Juni 16, 2013. http://www.bianj.org
Bowden, V. R. & Greenberg, C.S. (2012). Pediatric nursing procedures 3rd ed.
Philadeplhia: Lippincott Williams & Wilkins.
Centers for Disease Control and Prevention. (2009, September 09). Chart heightfor-age boys percentile 5 to 19 years. Juli 23, 2013.
http://www.cdc.gov/growthcharts/who_charts.htm
Chan. (2013, April 24). Dari jumlah total korban kecelakaan di jalan di dunia, 60
persennya
ada
di
asia.
16
Juni
2013.
http://www.dephub.go.id/read/berita/berita-umum/57855
Departement of Health and Human Services (2003, Mei 09). Glaslow Coma
Scale. Juli 11, 2013. www.bt.cdc.gov/masscasualties
Departement of Health and Human Service. (2002). 2000 CDC growth charts for
the United States: Methods and development. Maryland: DHHS
Publication.

42
Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

43

Feriyanto, E. (2011). Pengaruh intensitas kampanye safety riding dan kemampuan


kognitif terhadap perilaku berlalu lintas para pelajar (studi penelitian
penyuluhan safety riding pada smu setia budi).Tesis yang dipublikasikan.
http://www.mikom.undip.ac.id/images/stories/Abstraksi/2011-0512_Eko_Feriyanto.pdf. Tesis UNDIP. Tidak dipublikasikan.
Fletcher, J. M., Cobbs, L. E., Miner, M. E., Levin, H. S., & Eisenberg, H. M.
(1990). Behavioral changes after closed head injury in children. Journal of
Consulting and Clinical Psychology, 58, 93-98
Ginsberg, L. (2010). Lecture Notes : Neurology 9th edition. West Sussex:
Blackwell Publishing Ltd.
Herdman, T. H. (2012). NANDA international nursing diagnoses; Definition and
classification 2012 - 2014. Oxford: Wiley-Blackwell.
International Association for the Study of Pain (1995, Juli). Pain Measurement in
Children. Pain Clinical Updates. Juli 08, 2013. www.iasp-pain.org
Jones. H. R. (2012). Glaslow Coma Scale. Juli 08, 2013. Netter's Neurology.
http://www.netterimages.com/image/63266.htm
Jusuf, J. (2008). Efektivitas dan efek samping ketorolac sebagai tokolitik pada
ancaman persalinan prematur tinjauan perbandingan dengan nifedipin..
http://eprints.undip.ac.id/17969/. Tesis FK UNDIP. Tidak dipublikasikan
Kementrian Kesehatan RI (2011). Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia tentang standar antopometri penilaian status gizi anak. Jakarta:
Direktorat Bina Gizi.
Khan, A. A. (n.d.). The amazing quran & views of non muslim scholar. Juli 04,
2013. http://search.ebscohost.com/
Linge, F. R. (1990). Faith, hope, and love: Nontraditional therapy in recorvery
from serious head injury, a personal account. Canadian Journal of
Psychology, 44, 116-129.
Mallinckrodt Institute of Radiology (2006). Epidural hematoma. Juli 04, 2013.
http://www.mir.wustl.edu/neurorad/internal.asp?NavID=89
MedicineNet,
Inc.
(2013).
Hematoma.
Juli
http://www.medicinenet.com/hematoma/article.htm

04,

2013.

Miller, J. D. (1991). Pathophysiology and management of head injury. Journal of


Neuropsychology, 4, 235-261.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

44

Moules, T., & Ramsay, J. (2004). The textbook of children's nursing. Cheltenham:
Nelson Thomes Ltd.
Pain

Associates
in
Nursing.
http://http://www.oucher.org

(n.d).

Oucher!.

Juli

4,

2013.

Pusat Komunikasi Publik. (2012, November 21). Angka fatalitas kecelakaan


jalan
di
indonesia
cukup
tinggi
.
16
Juni
2013.
http://www.dephub.go.id/read/berita/direktorat-jenderal-perhubungandarat/15286
Rivara, T., & Thompson. (1990). A case-control study of the effectiveness of
bicycle safety helmets. New England Journal of Medicine, 320, 13611367.
Roche Diagnostics Australia (2012, Februari 03). Ketorolac trometamol. Juli 03,
2013. http://www.roche-australia.com
RSUP Fatmawati.(2013). Daftar pasien Irna A lantai 3 utara. Juni 22, 2013.
Ruhyanudin, F. (2010, Januari 21). Pemeriksaan Neurologis. Juli 08, 2013.
http://www.http://faqudin.staff.umm.ac.id
Satyanegara, dkk. (2010). Ilmu bedah saraf satyanegara. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Schechter, N. L. (2003). Pain in infants, children, and adolescents. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2006). Brunner & Suddarths textbook of medicalsurgical nursing. Philadelphia : Lippincott.
Sodikin. (2012). Pengaruh terapi bacaan Al-qur'an melalui media audio terhadap
respon nyeri pasien post operasi hernia di RS Cilacap. Tesis UI. Tidak
dipublikasikan.
Supartini, Y. (2002). Buku ajar konsep dasar keperawatan anak. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Tocco, J. U. (2010). Every disease has its cure: Faith and HIV therapies in
Islamic Northern Nigeria. African Journal of AIDS Research, 9, 385-395.
Twycross, A., Dowden, S. J., & Bruce, E. (2009). Managing pain in children: A
clinical guide. West Sussex: Blackwell Publishing Ltd.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

45

Twycross, A., Moriarty, A., dan Betts, T. (1998). Paediatric pain management: a
multi-disciplinary approach. Abingdon: Radcliffe Medical Press Ltd.
Verive, M. J., Stock, A., Singh, J., Corden, T. E., Cantwell, G. P., Barry, E. J, &
Windle, M. L. (2013, Juni 10). Pediatric head trauma. 22 Juli 2013.
http://emedicine.medscape.com/article/907273-overview#aw2aab6b2b4
Villalpando, N. (2012, Desember 07). Buying a bike this holiday? Know what to
buy and how to keep kids safe. McClatchy-Tribune Business News, A4.
Wade, S. L., Taylor, H. G., Walz, N. C., Salisbury, S., Stancin, T., Bernard, L. A.,
Oberjohn, K., & Yeates, K. O. (2008). Parent-child interaction during the
initial weeks following brain injury in young children. Journal of
Rehabilitation Psychology, 53, 180-190.
Wahyuni, S. (2002). Pengaruh terapi musik terhadap peningkatan relaksasi:
penurunan nyeri pada klien paska bedah apendiktomi di RS Haji Jakarta.
Karya Ilmiah Akhir UI. Tidak dipublikasikan.
Wilkinson, J. M. & Ahern, N. R. (2008). Prentice Hall nursing diagnosis
handbook with NIC interventions and NOC outcomes 9 th edition.
California: Pearson Prentice Hall.
Wong, D. L., Hockenberry, M., Wilson, D., Winkelstein, L. M., & Schwartz, P.
(2009). Buku ajar keperawatan pediatrik Wong (6th ed.). (E. K. Yudha,
D. Yulianti, N. B. Subekti, E. Wahyuningsih, M. Ester, Penyunt., & N. J.
Agus Sutarna, Penerjemah). Jakarta: EGC.
Ycel, S. (2009). Concept of shifa, healing in the qur'an and sunnah. Akademik
Aratirmalar Dergisi, 40, 225-235.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

LAMPIRAN

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Ria Rahmi Putri

Alamat

: Jalan Margonda Raya, Asrama Putri Aceh Pocut


Baren, Depok

Tempat, Tanggal Lahir : Bukittinggi, 07 Januari 1991


Agama

: Islam

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pendidikan
1. Program Ners FIK UI Tahun 2012 2013
2. FIK UI Tahun 2008 2012
3. SMAN 5 Bukittinggi Tahun 2005 2008
4. SMPN 4 Bukittinggi Tahun 2002 2005
5. SDI Al-Azhar Bukittinggi Tahun 1996 2002
6. TKI Al-Azhar Bukittinggi Tahun 1995 1996

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

PENGKAJIAN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. P

Tempat/tgl lahir

: Depok/ 23 Oktober 2005

Usia

: 7 tahun 7 bulan

Nama Ayah/Ibu

: Bpk K/ Ibu S

Alamat

: Jakarta Selatan

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Betawi

Pendidikan Ayah

: SMA

Pendidikan Ibu

: SMA

II. KELUHAN UTAMA


Klien masuk dengan keluhan muntah-muntah, pusing dan sakit pada kedua
lengan. Klien mengatakan telah jatuh dari sepeda pada hari sebelunya dan tidak
ingat bagaimana proses kecelakaan yang terjadi.

Riwayat kehamilan dan kelahiran:


1. Prenatal
Tidak ada kelainan. Tidak ada PEB. Merupakan anak kedua dari 2
bersaudara. Ibu klien tidak memiliki riwayat keguguran.
2. Intranatal
Klien lahir normal dan spontan. Tidak ada kelainan pada plasenta atau
proses persalinan. Klien langsung menangis dan berwarna merah muda.
3. Postnatal
Tidak ada kelainan pasca melahirkan. Klien mendapat ASI selama 4 bulan
dan dilanjutkan dengan PASI dan susu formula.

III. RIWAYAT MASA LAMPAU


1. Penyakit waktu kecil

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

Klien di waktu kecil hanya mengalami demam, pilek, batuk atau diare.
Klien tidak mengalami penyakit kongenital atau penyakit berat lainnya.
2. Pernah dirawat di RS
Klien belum pernah di rawat di rumah sakit. Sat sehari setelah jatuh, klien
dirawat di puskesmas lalu dirujuk ke RSUP Fatmawati.
3. Obat-obatan yang digunakan
Klien tidak mengkonsumsi obat-obatan khusus sebelum di rawat di RS.
4. Tindakan (operasi)
Klien belum pernah mengalami tindakan operasi.
5. Alergi
Klien tidak memiliki alergi.
6. Kecelakaan
Klien sebelumnya tidak pernah mengalami kecelakaan.
7. Imunisasi
Klien mendapat imunisasi lengkat, yaitu BCG, DPT, polio dan campak.

IV. RIWAYAT KELUARGA (GENOGRAM)


Ny H
72 thn
HT

Ny S
37 thn
Sehat

An A
12 thn
Sehat

Tn K
42 thn
Sehat

Ny N
39 thn
DM

An P
7 thn
CK

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

V. RIWAYAT SOSIAL
1. Yang mengasuh
Klien diasuh oleh orang tua. Klien lebih dekat dengan ibunya dan selama
di rumah sakit dirawat oleh ibunya.

2. Hubungan dengan anggota keluarga


Klien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga. Klien dekat dengan
ibunya dan sering bermain dengan kakaknya, walaupun masih sering
bertengkar dengan kakaknya. Tapi keluarga klien terlihat sangat
menyayangi anak P karena selalyui dijaga atau ditunggui dengan keluraga
dan diperhatikan dengan sangat baik.

3. Hubungan dengan teman sebaya


Klien memiliki banyak teman sebaya di rumah, namun tidak pernah
mengunjungi klien di rumah sakit karena masih berada di bawah umur.

4. Pembawaan secara umum


Saat pengkajian dengan perawat, klien masih dalam kondisi somnolen dan
apatis. Klien jarang berinteraksi dengan perawat maupun keluarg. Klien
juga terlihat masih mengalami peningkatan TIK sehingga klien jarang
membuka mata karena merasa sakit saat membuka mata.

5. Lingkungan rumah
Lingkungan rumah sederhana, namun bersih. Ibu klien adalah ibu rumah
tangga dan bertanggung jawab dengan kebersihan rumah.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

VI. KEBUTUHAN DASAR


1. Makanan yang disukai/tidak disukai : Klien menyukai nasi, lauk pauk,
sayur dan buah-buahan.
Selera

: Selera makan klien saat shat


termasuk baik dan banyak makan,
Namun sejak terjadi kecelakaan
terjadi penurunan nafsu makan,
terutama klien selalu menuntahkan
makanan yang dimakan sehingga
sering tidak makan selama masa
pengkajian.

Alat makan yang dipakai

: Sendok dan piring

Pola makan/jam

: 3 kali sehari/ pagi, siang dan


malam.

2. Pola tidur

: Klien terbiasa tidur siang. Klien


tidur pukul 09.00 di malam hari.
Tidak ada gangguan tidur sebelum
kecelakaan.

Kebiasaan sebelum tidur

: Klien tidak memiliki kebiasaan


khusus sebelum tidur.

Tidur siang

: Klien selalu tidur siang selama 2


jam perhari.

3. Mandi

: Klien mandi setiap hari selama di


rumah. Selama di rumah sakit
klien dilap oleh ibunya. Klien

4. Aktivitas bermain

: Klien senang bermain di luar


rumah bersama teman sebaya dan
kakak kandungnya. Tetapi tidak

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

ada

aktivitas

khusus

bermain

selama di rumah sakit.


5. Eliminasi

: Selama di rumah, klien tidak ada


masalah

pencernaan

atau

berkemih. Namun sejak masuk RS,


klien belum mengalami konstipasi,
tetapi

klien

tidak

mengalami

masalah BAK, sekitar 4-6 kali


perhari.

VII. KEADAAN KESEHATAN SAAT INI


1. Diagnosa Medis
Epidural hematoma regio occipital dan edema ringan hemisfer cerebri dan
cerebeli dextra.

2. Tindakan operasi
Klien masih dipertimbangkan menjalani operasi atau tidak dengan melihat
hasil CT scan sesudahnya.

3. Status nutrisi
TB

: 121 cm

: 7 tahun 7 bulan

BB

: 25 kg

IMT

: 17,12

Status gizi:
IMT
= persentil 2 SD sampai dengan1 SD = gizi baik
U
TB
= persentil 15th sampai dengan 50th = normal
U
BB
= persentil 25th sampai dengan 50th = normal
U
TB
= persentil 10th sampai dengan 25th = normal
U
BB
= persentil 75th sampai dengan 85th = normal
TB

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

4. Status cairan
Turgor kulit baik, mukosa lembab, kulit baik, tidak kering atau pecahpecah. CRT < 2 detik.

5. Obat-obatan
Klien mendapatkan obat-obatan:

Manitol 3 x 100 ml

Ceftriaxone 1 x 1 gr

Ranitidin 3 x 1 gr

Ondansentron 3 x 4 mg

Ketorolac 2 x 10 mg

6. Aktivitas
Selama di rumah sakit klien hanaya beraktivitas di tempat tidur. Klien
terlihat selalu mengantuk dan tidur. Klien merasa pusing jika membuka
mata dan mengeluh atau mengerang jika sakit.

7. Tindakan Keperawatan

Mengkaji status pernapasan

Mengkaji respon dan orientasi

Observasi reaksi terhadap cahaya, sakit kepala, diplopia, mual/ muntah

Mengobservasi tanda-tanda vital

Memantau status intrakranial

Pantau volume urine

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

8. Hasil Laboratorium

Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Jumlah Trombosit
Jumlah Leukosit
HEMOSTASIS
PT
Kontrol PT
APTT
Kontrol APTT
KIMIA KLINIK
SGOT
SGPT
ELEKTROLIT
Natrium
Kalium
Chlorida

Hasil lab

L
H
H

Nilai normal

12.2
33
430
12.3

g/ dL
%
10 ^ 3 /L
10 ^ 3 /L

12.6
13.7
26.2
34.2

detik
detik
detik
detik

7
13

U/L
U/L

132
4.73
101

12.0 14.0
37.0 43.0
150 400
5.00 10.00
9.8 12.6
31.0 17.0

< 27
< 34
132.0 147.0
3.30 5.40
94.0 111.0

mEq/L
mEq/L
mEq/L

9. Hasil Pemeriksaan penunjang


Hasil CT Scan kepala tanpa kontras (17 Juni 2013):

Epidural hematoma regio occipital 15 cc

Edema ringan hemisfer cerebri dan cerebeli dextra

Tidak ada fraktur cranii

Sinusitis maxilaris, ethmoidolis dan sphenoidalis dextra.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

Gambar Lampiran 1 Hasil CT Scan (17 Juni 2013)

Sumber: Dokumentasi pribadi

VIII. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum

: KU lemah, kesadaran somnolen

TB/BB(Persentil)

: 121 cm / 25 kg

Mata

: Simetris, isokhor +/+

Hidung

: Simetris, tidak ada sumbatan, tidak ada perdarahan


dan riwayat perdarahan

Mulut

: Simetris, mukosa bibir agak kering, tidak ada lesi,

Telinga

: Simetris, tidak ada cairan di liang telinga, tidak ada


nyeri, berdenging, tidak ada lebam di daerah
telinga dan belakang telinga.tidak ada riwayat
perdarahan.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 2

Tengkuk

: Tidak ada kaku kuduk, tidak ada nyeri dan


perbesaran KGB.

Dada

: Simetris, tidak ada lesi

Jantung

: S1 dan S2 +/+. Tidak ada suara murmur dan gallop.

Paru-paru

: Suara paru vesikuler +/+, Ronchii -/-, Wheezing -/-.

Perut

: Terdengar bising usus. Nyeri tekan di ulu hati.


Terlihat agak cekung, lemas.

Punggung

: Simetris, tidak ada lesi

Genitalia

: Terpasang kateter, tidak ada rembesan di ujung


penis, tidak ada pus.

Ekstrimitas

: Tidak ada udema, akral hangat, CRT <2 detik.

Kulit

: Lembab, tidak kering, elastis, turgor kulit baik.

Tanda-tanda vital

: TD 90/60 mmHg; Suhu 36,5 oC ; Frekuensi nadi


112 x/menit ; Frekuensi pernapasan 20 x/ menit

IX. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN


Tidak dapat dilakukan pemeriksaan motorik karena klien dalam keadaan
penurunan kesadaran dan tidak menunjukkan aktivitas yang mendukung
tingkat perkembangan.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 3

ANALISA DATA

DATA KLIEN
DS:

DO:

DS:

Klien selalu mengeluh pusing dan nyeri pada


kepala

MASALAH KEPERAWATAN
Ketidakefektifan perfusi jaringan
serebral

GCS E2M4V2
Tingkat kesadaran delirium
Sulit menelan
Perubahan respon motorik; fleksi normal
Perubahan perilaku; menarik diri, tidak
berinteraksi dengan orang lain
Gelisah
Tekanan darah 150/100 mmHg; Nadi 59
x/menit, Suhu 36,0o, Frekuensi pernapasan 29
x/menit
Diaforesis
Sering mual dan muntah

Klien selalu mengeluh pusing dan nyeri pada


kepala
Klien mengatakan pusing jika membuka mata

Nyeri akut.

DO:

Klien awalnya melindungi/ memegang bagian


kepala yang nyeri
Diaforesis
Perubahan Tekanan darah 150/110 mmHg
Frekuensi pernapasan 29 x/menit
Gangguan tidur (klien sering terbangun karena
nyeri)
Menarik diri
Klien memukul-mukulkan kepala jika terjadi
nyeri kepala
Klien mengerang atau menangis jika nyeri
kepala muncul

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 3

DS:

Klien selalu tidak mau makan karena tidak ada


nafsu makan dan sering muntah

DO:

Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang


dari kebutuhan.

TB : 121 cm
BB : 25 kg
IMT/U : 17,12 (gizi baik)
Nyeri tekan abdomen (ulu hati)
Abdomen cekung, lemas
Mual dan muntah
Membran mukosa pucat
Menolak makan
Indigesti

XII. PRIORITAS MASALAH

Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
2. Nyeri akut
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 4

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakefektifan perfusi jaringan
serebral
DS:

DO:

Klien selalu mengeluh pusing


dan nyeri pada kepala
GCS E2M4V2
Tingkat kesadaran delirium
Sulit menelan
Perubahan respon motorik;
fleksi normal
Perubahan perilaku; menarik
diri, tidak berinteraksi dengan
orang lain
Gelisah
Tekanan darah 150/100
mmHg; Nadi 59 x/menit,
Suhu 36,0o, Frekuensi
pernapasan 29 x/menit
Diaforesis
Sering mual dan muntah

KRITERIA EVALUASI

TINDAKAN KEPERAWATAN

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan 1 x 24 jam, diharapkan
keluarga mampu:
Memiliki tanda-tanda vital
dalam batas normal; TD
120/80, Nadi 60-100 x/menit;
Frekuensi pernapasan 12- 20
x/menit
Mempertahankan suhu dibawah
38,0 oC
Mempunyai pupil yang sama
besar dan reaktif
Terbebas dari aktivitas kejang
Tidak mengalami sakit kepala
Terbebas dari mual dan muntah

1. Pertahankan fungsi pernapasan;


memantau RR dan menyiapkan
oksigen jika dibutuhkan
2. Pertahankan kposisi epala tempat
tidur 30o
3. Cegah aktivitas yang dapat
meningkatkan TIK; mencegah
batuk dan mengejan
4. Pantau balans cairan

5. Observasi penggunaan kateter


pasa klien
6. Observasi tanda-tanda infeksi

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

RASIONAL
1. Mempertahankan sirkulasi
teroksigenasi yang adekuat
terhadap otak
2. Menurunkan tekanan vena
intrakranial
3. Menurunkan tekanan vena
intrakranial
4. Kerusakan otak dapat
menghasilkan disfungsi
hormonal dan metabolik.,
menunjukkan tanda klinis
dehidrasi dan kelebihan hidrasi.
5. Mengobservasi tanda-tanda
infeksi, dan keefektifan
penggunaan kateter.
6. Mencegah terjadinya
peningkatan suhu tubuh dan
penyakit sekunder

Universitas Indonesia

Lampiran 4

7. Observasi tanda-tanda
peningkatan intrakranial
Perubahan pupil
Tanda-tanda vital
Respon dan orientasi
8. Awasi kegelisahan klien

9. Berikan obat untuk mengurangi


tekanan intra kranial
10. Hindari cedera yang mungkin
timbul; memasang bed rail dan
mempertahankan posisi klien
11. Dukung koping keluarga;
dengarkan kecemasan keluarga,
jelaskan prosedur tindakan.
12. Berikan pendidikan pada pasien
dan keluarga

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

7. Mempertahankan sirkulasi yang


adekuat

8. Mencegah kejadian jatuh dan


sebagai salah satu tanda-tanda
peningkatan TIK
9. Mencegah peningkatan TIK
10. Mencegah kejadian jatuh dan
injury pada pasien
11. Meningkatkan dukungan yang
dapat diberikan keluarga
12. Meminimalkan cemas dan stres
hospitalisasi pada pasien dan
keluarga

Universitas Indonesia

Lampiran 4

2.

Nyeri Akut
DS:

Klien selalu mengeluh pusing


dan nyeri pada kepala
Klien mengatakan pusing jika
membuka mata

DO:

Klien awalnya melindungi/


memegang bagian kepala
yang nyeri
Diaforesis
Perubahan Tekanan darah
150/110 mmHg
Frekuensi pernapasan 29
x/menit
Gangguan tidur (klien sering
terbangun karena nyeri)
Menarik diri
Klien memukul-mukulkan
kepala jika terjadi nyeri
kepala
Klien mengerang atau
menangis jika nyeri kepala
muncul

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan 1 x 24 jam, diharapkan
pasien mampu:
Melaporkan tingkat nyeri
kepada penyedia pelayanan
kesehatan
Memperlihatkan teknik
relaksasi individual yang efektif

1. Berikan informasi tentang nyeri,


penyebab nyeri, berapa lama akan
berlangsung atau aktivitas yang
dapat menimbulkan nyeri
2. Ajarkan dan mengaplikasikan
teknik nonfarmakologis: napas
dalam dan terapi audio bacaan
Al-Quran

1. Menurunkan cemas dan stres


pada klien dan keluarga

3. Berikan analgesik sesuai dosis

3. Meminimalkan dan mengurangi


nyeri pada klien
4. Mencegah terjadinya
peningkatan nyeri pada klien.

Tidak mengalami gangguan


dalam frekuensi napas,
frekuensi jantung atau tekanan
darah
Melaporkan selera makan yang
baik
Melaporkan pola tidur yang
baik

4. Batasi aktivitas yang


menimbulkan nyeri

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

2. Salah satu alternatif yang dapat


digunakan untuk menurunkan
atau meminimalkan nyeri

Universitas Indonesia

Lampiran 4

3.

Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang


dari kebutuhan.
DS:

Klien selalu tidak mau makan


karena tidak ada nafsu makan
dan sering muntah

DO:
TB : 121 cm
BB : 25 kg
IMT/U : 17,12 (gizi baik)

Nyeri tekan abdomen (ulu


hati)
Abdomen cekung, lemas
Mual dan muntah
Membran mukosa pucat
Menolak makan
Indigesti

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan 3x24 jam, diharapkan
keluarga mampu:
Mempertahankan berat badan
Menoleransi diet yang
dianjurkan
Memperlihatkan asupan cairan
dan makanan yanga adekuat

1. Kaji makanan kesukaan pasien

2. Tentukan kemampuan pasien


untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi
3. Timbang pasien dalam interval
yang tepat
4. Tawarkan posisi kecil, sedikit tapi
sering

5. Tawarkan kudapan (buah-buahan


atau jus buah segar yang tidak
terlalu asam atau terlalu manis)
6. Ajarkan orang tua tentang asupan
yang diperlukan anak sesuai
kondisi saat ini
7. Beri obat antiemetik dan
analgesik sebelum makan atau
sesuai jadwal yang diajurkan

1. Menentukan makanan yang


dapat meningkatkan nafsu
makan dan kesesuai dengan
terapi yang diberikan ahli gizi
2. Menentukan kemampuan klien
dalam menelan dan mengolah
makanan dan keterkaitan dengan
penyakit yang dialami klien
3. Memantau kenaikan dan
penurunan berat badan klien
4. Meningkatkan asupan dan nafsu
makan klien

5. Sebagai makanan pengganti jika


mual muntah dan jenis makanan
yang mtidak mempengaruhi
peningkatan TIK
6. Menurunkan kecemasan orang
tua terhadap kondisi mual
muntah yang dialami klien
7. Menurunkan frekuensi mual,
muntah dan nyeri yang terjadi
pada klien

Sumber: Herdman, T. H. (2012). NANDA international nursing diagnoses; Definition and classification 2012 - 2014. Oxford: Wiley-Blackwell ; Smeltzer, S. C., dan
Bare, B. G. (2006). Brunner & Suddarths Textbook of Medical-Surgical Nursing. Philadelphia : Lippincott.
Wilkinson, J. M. & Ahern, N. R. (2008). Prentice Hall nursing diagnosis handbook with NIC interventions and NOC outcomes 9 th edition. California: Pearson
Prentice Hall.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

CATATAN PERKEMBANGAN

Hari/
tanggal
Kamis, 20
Juni 2013

Diagnosa Keperawatan

Implementasi

Ketidakefektifan perfusi
jaringan serebral
DS:
Klien selalu
mengeluh pusing dan
nyeri pada kepala
DO:
GCS E2M4V2
Tingkat kesadaran
delirium
Sulit menelan
Perubahan respon
motorik; fleksi
normal
Perubahan perilaku;
menarik diri, tidak
berinteraksi dengan
orang lain
Gelisah

Jam 08.30
1. Mempertahankan fungsi
pernapasan; memantau RR dan
menyiapkan oksigen jika
dibutuhkan
2. Mempertahankan kepala tempat
tidur 30o
3. Mengobservasi tanda-tanda infeksi
4. Mengobservasi status intrakranial
Perubahan pupil
Tanda-tanda vital
Respon dan orientasi
Jam 10.00
7 Mengawasi kegelisahan klien
8 Memberian obat untuk mengurangi
tekanan intra kranial;
menginjeksikan Manitol via infus
drip sebanyak 100 ml

Evaluasi (SOAP)
Subjektif :

Tidak ada keluhan dari klien


Objektif :

RR 26 x/menit

Posisi dipertahankan sebesar 15o karena model tempat tidur yang


tidak bisa dinaikkan

Suhu afebris, tidak ada tanda-tanda infeksi

GCS : E2M4V2, tingkat kesadaran delirium

Pupil isokhor

TD 90/60, RR 26 x/mnt, N 68 x/mnt, S 36,2oC

Keadaan umum lemah

Kesadaran somnolen

Klien terlihat gelisah, posisi badan sering memutar dan berpindah

Pemberian manitol 3 x 100 ml sesuai program

Bedrail selalu terpasang dan diawasi oleh ibu klien

Ibu klien mengerti dengan penjelasan yang diberikan, ibu klien


dapat mengulangi garis besar penjelasan yang diberikan oleh
perawat.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

Hari/
tanggal
Jumat, 21
Juni 2013

Tekanan darah
150/100 mmHg;
Nadi 59 x/menit,
Suhu 36,0o,
Frekuensi
pernapasan 29
x/menit
Diaforesis
Sering mual dan
muntah

Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan perfusi
jaringan serebral
DS:
Klien selalu
mengeluh pusing dan
nyeri pada kepala

Menghindari cedera yang mungkin


timbul; memasang bed rail dan
mempertahankan posisi klien

Jam 14.00
10 Memberikan pendidikan pada
pasien dan keluarga:
Dampak cedera kepala
terhadap respon anak
Efek yang muncul seperti
mual muntah
Hal-hal yang harus diawasi
oleh orang tua; resiko jatuh,
muntah proyektil

Analisis:

Masalah belum teratasi


Planning :

Monitor status tanda-tanda vital dan status hidrasi klien

Observasi intake dan output

Memantau mual dan muntah

Implementasi
Jam 08.00
1. Mempertahankan fungsi
pernapasan; memantau RR dan
menyiapkan oksigen jika
dibutuhkan

Evaluasi (SOAP)
Subjektif :

Klien mengerang sambil memegang kepala


Objektif :

RR 28 x/menit, klien tidak terlihat sesak

Kepala sudah head up 30o

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

DO:
GCS E2M4V2
Tingkat kesadaran
delirium
Sulit menelan
Perubahan respon
motorik; fleksi
normal
Perubahan perilaku;
menarik diri, tidak
berinteraksi dengan
orang lain
Gelisah
Tekanan darah
150/100 mmHg;
Nadi 59 x/menit,
Suhu 36,0o,
Frekuensi
pernapasan 29
x/menit
Diaforesis
Sering mual dan
muntah

2. Mempertahankan kepala tempat


tidur 30oC
3. Memantau balans cairan
4. Mengobservasi penggunaan kateter
pada klien
5. Mengobservasi tanda-tanda infeksi
6. Mengobservasi status intrakranial
Perubahan pupil
Tanda-tanda vital
Respon dan orientasi
7. Mengawasi kegelisahan klien
Jam 10.00
8. Pemberian obat untuk mengurangi
tekanan intra kranial;
menginjeksikan Manitol via infus
drip sebanyak 100 ml
9. Menghindari cedera yang mungkin
timbul; memasang bed rail dan
mempertahankan posisi klien
10. Mendukung koping keluarga;
mendengarkan ibu klien
menceritakan keluhan dan
kekhawatirannya terhadap kondisi
anaknya
11. Memberikan pendidikan pada
pasien dan keluarga

Sejak jam 08.00 14.00, produksi urin klien masih 30 cc


Kandung kemih teraba keras, distensi, pada selang kateter terlihat
urine berwarna jernih, tidak ada stolsel, tidak ada tekukan atau
hambatan. Tidak ada rembesan pada ujung penis

Suhu afebris, tidak ada tanda kemerahan atau pus pada tempat
invasi kateter dan infus

GCS : E3M5V3 tingkat kesadaran somnolen

Pupil isokhor, respon cahaya (+)

TD 150/110, N 60 x/mnt, RR 28 x/menit, S 36,0oC

Keadaan umum sedang, orientasi somnolen

Klien terlihat gelisah dan memegang kepala

Manitol diberikan sesuai program

Bedrail dipasang dan diawasi

Ibu klien terlihat lebih tenang setelah dijelaskan tentang kondisi


anaknya.

Ibu klien mempercayakan mahasiswa memberikan obat dan


mengaplikasikan terapi baca Al-Quran pada anaknya.

Ibu klien mengatakan akan sabar dan ikut proses medis yang akan
diberikan
Analisis:

Masalah belum teratasi


Planning :

Monitor GCS

Observasi tanda-tanda vital

Rencana aff kateter jika tidak lancar dan masih distensi

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

Nyeri akut
DS:
Klien selalu
mengeluh pusing dan
nyeri pada kepala
Klien mengatakan
pusing jika membuka
mata
DO:

Klien awalnya
melindungi/
memegang bagian
kepala yang nyeri
Diaforesis
Perubahan Tekanan
darah 150/110
mmHg

Kemugkinan operasi yang


akan dilakukan
Hasil analisis CT scan
Efek mual muntah dan cara
menangani
Obat-obat yang diberikan

Jam 10.00
1. Memberikan informasi tentang
nyeri, penyebab nyeri, berapa lama
akan berlangsung atau aktivitas
yang dapat menimbulkan nyeri
Jam13.15
2. Mengajarkan dan mengaplikasikan
teknik nonfarmakologis: napas
dalam dan terapi audio bacaan AlQuran
3. Memantau pemberian analgesik
sesuai dosis (jam 06.00 WIB)
4. Mengajarkan cara membatasi jenis
aktivitas yang menimbulkan nyeri

Rencana CT scan ulang.

Subjektif :
Ibu klien mengatakan memahami bahwa nyeri adalah proses yang
pasti terjadi
Ibu klien mengatakan memahami bahwa nyeri sudah dikontrol
dengan analgetik dan dapat dikurangi dengan terapi lain, seperti
napas dalam dan terapi bacaan Al-Quran
Tidak ada keluhan dari anak
Ibu klien dapat menyebutkan aktivitas yang menimbulkan nyeri
(akibat peningkatan TIK), yaitu, batuk, mengejan, posisi yang
terlalu tinggi dan rendah.
Objektif :
Keadaan umum anak lebih tenang
Gelisah anak berkurang setelah didengarkan bacaan Al-quran
(TBA) lewat media audio selama 15 menit
Tanda vital awal: TD 150/110, N 60 x/menit, RR 28 x/menit, S
36,0oC
Tanda vital setelah diberikan TBA: TD 140/100, N 88 x/menit, RR
26 x/menit, S 36,0 oC

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

Hari/
tanggal
Sabtu, 22
Juni 2013

Klien telah diberikan analgesik sesuai program


Analisis :
Masalah teratasi sebagian
Planning :
Lanjutkan TBA jika terjadi nyeri
Memberikan analgesik sesuai program
Memantau aktivitas anak selama di tempat tidur

Frekuensi
pernapasan 29
x/menit
Gangguan tidur
(klien sering
terbangun karena
nyeri)
Menarik diri
Klien memukulmukulkan kepala jika
terjadi nyeri kepala
Klien mengerang
atau menangis jika
nyeri kepala muncul

Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan perfusi
jaringan serebral
DS:
Klien selalu
mengeluh pusing dan
nyeri pada kepala

Implementasi
Jam 09.00
1. Mempertahankan fungsi
pernapasan; memantau RR dan
menyiapkan oksigen jika
dibutuhkan

Evaluasi (SOAP)
Subjektif :

Klien mengatakan masih sakit kepala


Objektif :

RR 25 x/menit

Posisi dipertahankan 30o

Klien tidak batuk atau mengejan

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

DO:
GCS E2M4V2
Tingkat kesadaran
delirium
Sulit menelan
Perubahan respon
motorik; fleksi
normal

Perubahan perilaku;
menarik diri, tidak
berinteraksi dengan
orang lain
Gelisah
Tekanan darah
150/100 mmHg;
Nadi 59 x/menit,
Suhu 36,0o,
Frekuensi
pernapasan 29
x/menit
Diaforesis

2. Mempertahankan kepala tempat


tidur 30o
3. Mencegah aktivitas yang dapat
meningkatkan TIK; mencegah
batuk dan mengejan
4. Mengobservasi penggunaan kateter
pada klien
5. Mengobservasi tanda-tanda infeksi

6. Mengobservasi tanda peningkatan


intrakranial
Perubahan pupil
Tanda-tanda vital
Respon dan orientasi
7. Mengawasi kegelisahan klien
8. Pemberian obat untuk mengurangi
tekanan intra kranial;
menginjeksikan Manitol via infus
drip sebanyak 65 ml
9. Menghindari cedera yang mungkin
timbul; memasang bed rail dan
mempertahankan posisi klien

Kateter DC sudah dilepaskan, klien menggunakan pispot, urin


lancar, berwarna kuning jernih.
Suhu afebris, tidak terlihat pus atau kemerah pada area pemasangan
infus
GCS : E4M5V5
Pupil isokhor
TD 140/100, RR 25 x/mnt, N 69 x/mnt, S 36,1oC
Keadaan umum sedang
Kesadaran compos mentis

Klien terlihat masih gelisah, tetapi lebih tenang dibanding


sebelumnya.
Pemberian manitol diturunkan 3 x 65 ml sesuai program

Bedrail selalu terpasang dan diawasi oleh ibu klien


Ibu klien terlihat lebih tenang dan lebih paham terhadap pentingnya
tindakan operasi
Analisis:

Masalah teratasi sebagian


Planning :

Monitor status tanda-tanda vital dan status hidrasi klien

Observasi intake dan output

Memantau mual dan muntah

Memantau status kesadaran

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

Sering mual dan


muntah

Nyeri akut
DS:
Klien selalu
mengeluh pusing dan
nyeri pada kepala
Klien mengatakan
pusing jika membuka
mata
DO:
Klien awalnya
melindungi/
memegang bagian
kepala yang nyeri
Diaforesis
Perubahan Tekanan
darah 150/110
mmHg

10. Mendengarkan keluarga


mengungkapkan perasaannya
mengenai kecemasan terhadap
anaknya

Jam 14.05
1. Mengajarkan dan
mengaplikasikan teknik
nonfarmakologis: napas dalam
dan terapi audio bacaan AlQuran
2. Mengecek pemberian analgesik
sesuai dosis (Ketorolac 10 mg
jam 06.00 WIB)
3. Membatasi aktivitas yang
menimbulkan nyeri

Subjektif :
Tidak ada keluhan
Objektif :
Keadaan umum anak lebih tenang dan tertidur setelah
diperdengarkan TBA selama 15 menit
Gelisah anak berkurang setelah didengarkan bacaan Al-quran
(TBA) lewat media audio selama 15 menit
Tanda vital awal: TD 140/100, RR 25 x/mnt, N 69 x/mnt, S 36,1 oC
Tanda vital setelah diberikan TBA: TD 130/100, N 86 x/menit, RR
26 x/menit, S 36,1 oC
Klien telah diberikan analgesik sesuai program
Klien tidak melakukan aktivitas yang menimbulkan nyeri atau
meningkatkan TIK di atas tempat tidur.
Analisis :
Masalah teratasi sebagian
Planning :
Lanjutkan TBA jika terjadi nyeri
TBA dapat diaplikasikan oleh orang tua sesuai yuang telah
diajarkan.

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

Ketidakseimbangan nutrisi:
Kurang dari kebutuhan.
DS:

Frekuensi
pernapasan 29
x/menit
Gangguan tidur
(klien sering
terbangun karena
nyeri)
Menarik diri
Klien memukulmukulkan kepala jika
terjadi nyeri kepala
Klien mengerang
atau menangis jika
nyeri kepala muncul

Klien selalu tidak


mau makan karena
tidak ada nafsu
makan dan sering
muntah

Jam 10.00
1. Kaji makanan kesukaan
2. Menentukan kemampuan pasien
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
3. Mengajarkan cara makan yang
benar; posisi kecil, sedikit tapi
sering

Memberikan analgesik sesuai program


Memantau aktivitas anak selama di tempat tidur

Subjektif:
Klien mengatakan malas makan
Objektif:
Klien masih sering memuntahkan makanan dan minuman
Klien sudah mau makan makanan buah dan kentang dg prosi kecil
Orang tua sudah paham dg bentuk dan jumlah asupan
Analisis:
Masalah teratasi sebagian

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 5

DO:
TB : 121 cm
BB : 25 kg
IMT/U : 17,12 (gizi
baik)
Nyeri tekan abdomen
(ulu hati)
Abdomen cekung,
lemas
Mual dan muntah
Membran mukosa
pucat
Menolak makan
Indigesti

4. Mengajarkan cara memenuhi


nutrisi; memberi kudapan rendah
gula dan tidak asam
5. Mengajarkan orang tua tentang
asupan yang diperlukan anak
sesuai kondisi saat ini
Jam 13.00
6. Memberikan obat antiemetik dan
analgesik sebelum makan atau
sesuai jadwal yang diajurkan ;
Menginjeksikan Ranitidin 1 gr dan
Ondansentron 4 mg via vemplon,

Planning:
Pantau mual muntah

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran

Standar Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U)


Anak Laki-Laki Umur 8 - 11 tahun

Sumber: Kementrian Kesehatan RI (2011)

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 7

Chart Height-For-Age Boys Percentile 5 to 19 Years

Sumber: Centers for Disease Control and Prevention. (2012). Chart height-for-age boys percentile 5 to 19 years. Juli 23, 2013.
http://www.cdc.gov/growthcharts/who_charts.htm

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 8

Individual Growth Chart 3rd, 5th, 10th, 25th, 50th, 75th, 90th, 95th, 97th
Percentiles, 2 to 20 years: Boys Weight-for-Age

Sumber: Departement of Health and Human Service (2002)

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 8

Individual Growth Chart 3rd, 5th, 10th, 25th, 50th, 75th, 85th, 90th, 95th,

97th Percentiles, 2 to 20 Years: Boys Body Mass Index-for-Age

Sumber: Departement of Health and Human Service (2002)

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 10

Individual Growth Chart 3rd, 5th, 10th, 25th, 50th, 75th, 85th, 90th, 95th,
97th Percentiles: Boys Weight-tor-Stature

Sumber: Departement of Health and Human Service (2002)

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 10

Individual Growth Chart 3rd, 5th, 10th, 25th, 50th, 75th, 90th, 95th, 97th
Percentiles, 2 to 20 Years: Boys Stature-for-Age

Sumber: Departement of Health and Human Service (2002)

Analisis praktik ..., Ria Rahmi, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia