Anda di halaman 1dari 6

SEMINAR NASIONAL VIII

SDM TEKNOLOGI NUKLIR


YOGYAKARTA, 31OKTOBER 2012
ISSN 1978-0176

VALIDASI METODE ANALISIS UNSUR TANAH JARANG


(Ce, Eu, Tb) DENGAN ALAT ICP-AES PLASMA 40
Erlina Noerpitasari, Arif Nugroho
Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir-BATAN
Kawasan Puspiptek Gd. 20 Serpong Tangerang Banten 15314
Email untuk korespondensi: noerpitasari.erlina@gmail.com

ABSTRAK
VALIDASI METODE ANALISIS UNSUR TANAH JARANG (Ce, Eu, Tb) DENGAN ALAT ICPAES PLASMA 40. Telah dilakukan validasi metode analisis unsur tanah jarang Ce, Eu dan Tb dengan ICPAES Plasma 40 menggunakan standar bersertifikat, meliputi konfirmasi identitas, linieritas standar dan
rentang metode, limit deteksi dan limit kuantitasi, serta ripitabilitas. Konfirmasi identitas dilakukan dengan
mengukur intensitas unsur dalam campuran standar pada panjang gelombang masing-masing. Linieritas
standar diperoleh dengan mengukur intensitas larutan standar dengan beberapa konsentrasi yang berbeda.
Limit deteksi dan limit kuantitasi dihitung dengan melakukan pengukuran intensitas setiap unsur dalam
larutan blanko. Ripitabilitas dilakukan dengan melakukan pengukuran berulang satu konsentrasi standar,
selanjutnya dihitung nilai standar deviasi relatif (RSD) untuk dibandingkan terhadap CV Horwitz. Dari
hasil validasi diperoleh bahwa pada setiap pengukuran, alat tersebut mengukur setiap unsur tepat pada
panjang gelombang yang spesifik, yaitu Ce pada 393,109 nm; Eu pada 381,967 nm; dan Tb pada
350,917 nm. Linieritas standar Ce pada konsentrasi 6 ppm - 60 ppm dengan koefisien korelasi (r) 0,9993; Eu
pada konsentrasi 0,6 ppm - 4 ppm dengan r 0,9994; dan Tb pada konsentrasi 2 ppm - 10 ppm dengan r
0,9967. Ce mempunyai limit deteksi 2,0802 ppm dan limit kuantitasi 4,3770 ppm; Eu mempunyai limit
deteksi 0,1152 ppm dan limit kuantitasi 0,1868 ppm; serta Tb mempunyai limit deteksi 0,4363 ppm dan limit
kuantitasi 0,6020 ppm. Ripitabilitas setiap unsur masuk ke dalam kriteria keberterimaan yaitu RSD lebih
rendah dari CV Horwitz. Berdasarkan hasil yang diperoleh disimpulkan bahwa metode analisis unsur Ce,
Eu, dan Tb dengan ICP- AES Plasma 40 sudah tervalidasi, pengukuran dengan metode ini memberikan hasil
yang dapat dipercaya.
Kata kunci : Validasi, Metode, ICP, Unsur Tanah Jarang

ABSTRACT
METHOD VALIDATION OF RARE EARTH ELEMENTS (Ce, Eu, Tb) ANALYSIS WITH ICPAES PLASMA 40. The analytical method of rare earth elements Ce, Eu and Tb with Plasma 40 ICP AES
using certified standard has been validated the method, the parameters are confirmation of identity,
standards linearity and method range, limit of detection and limit of quantitation, and repeatability.
Confirmation of identity performed by measuring the intensity of the elements in the mixed standard at each
wavelength. Linearity of the standard performed by measuring the intensity of a standard solution with
several different concentrations. Limit of detection and limit of quantitation calculated by measuring the
elements intensity of the blank solution. Repeatabilities done by repeated measures one of standard
concentration, then calculated the value of the relative standard deviation (RSD) to compare with the CV
Horwitz. From the validation method found that in each measurement, the instrument precisely measure each
element on each specific wavelength at 393.109 nm for Ce, at 381.967 nm for Eu and at 350.917 nm for
Tb. The standard linearity, obtained the range of Ce from 6 ppm up to 60 ppm with a correlation coefficient
(r) 0.9993, the range of Eu from 0.6 ppm up to 4 ppm with r 0.9994, the range of Tb from 2 ppm up to 10
ppm with r 0.9967. Ce has a detection limit 2.0802 ppm and limit of quantitation 4.3770 ppm, Eu has a
detection limit 0.1152 ppm and limit of quantitation 0.1868 ppm, Tb has a detection limit 0.4363 ppm and
347

SEMINAR NASIONAL VIII


SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 31OKTOBER 2012
ISSN 1978-0176
limit of quantitation 0. 6020 ppm. The repeatabilities for each element are meet the acceptance criteria that
the RSD value for each element is lower than CV Horwitz. From the results of the data acquisition can be
concluded that the method of analysis of Ce, Eu, and Tb with ICP-AES Plasma 40 is validated, the
measurements with this analysis method gives reliable results.
Keywords : validation, methods, ICP, rare earth elements
dialirkan melalui capillary tube ke nebulizer.
Nebulizer mengubah larutan menjadi aerosol.
Cahaya yang dipancarkan oleh atom-atom dalam
ICP dikonversi ke dalam bentuk sinyal listrik yang
dapat diukur secara kuantitatif. Hal ini dilakukan
dengan memecahkan cahaya menjadi komponen
radiasi (hampir selalu melalui suatu kisi difraksi)
dan kemudian mengukur intensitas cahaya dengan
tabung photomultiplier pada panjang gelombang
yang spesifik untuk setiap baris elemen. Cahaya
yang dipancarkan atom atau ion dalam ICP diubah
menjadi sinyal-sinyal listrik oleh photomultiplier
dalam spektrometer. Setiap unsur memiliki panjang
gelombang tertentu dalam spektrum yang dapat
digunakan untuk analisis [Anonim, 1989].
Metode standar analisis unsur tanah jarang
dengan alat ICP belum ada, oleh karena itu perlu
dikembangkan dan divalidasi. Validasi metode
analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap
parameter
tertentu,
berdasarkan
percobaan
laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter
tersebut
memenuhi
persyaratan
untuk
penggunaannya. Pada validasi metode, parameterparameter unjuk kerja metode ditentukan dengan
menggunakan peralatan yang memenuhi spesifikasi,
bekerja dengan baik dan terkalibrasi secara
memadai. Secara umum, validasi metode mencakup
penentuan yang berkaitan dengan alat dan metode
[Kantasubrata, 2003]. Pada penelitian ini validasi
metode dibatasi pada penentuan yang berkaitan
dengan alat. Parameter tersebut antara lain
konfirmasi indentitas, linieritas standar dan rentang
metode (daerah kerja), limit deteksi dan limit
kuantitasi, serta presisi (ripitabilitas). Validasi
metode analisis bertujuan untuk memastikan dan
mengkonfirmasi bahwa metode analisis tersebut
sesuai untuk peruntukannya [Chem-is-try, 2012].

PENDAHULUAN
Tanah jarang memegang peranan yang
sangat penting dalam kebutuhan material produksi
modern seperti superkonduktor, laser, optik
elektronik, gelas dan keramik. Untuk instalasi
nuklir, logam tanah jarang digunakan dalam
detektor nuklir dan pengkounter, rod kontrol nuklir.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kebutuhan
tanah jarang dari tahun ke tahun terus meningkat.
Unsur tanah jarang (UTJ) sumbernya cukup banyak
tersedia di Indonesia seperti di Pulau Bangka dan
Belitung, terdapat dalam mineral monasit dan
senotim dalam tailing penambangan timah. Di
dalam mineral, unsur tanah jarang mempunyai sifat
kimia dan fisik yang mirip sehingga penentuan
tanah jarang tanpa pemisahan sangat sulit untuk
dilakukan. Berkaitan
hal
tersebut,
maka
pengembangan metode analisis yang tepat dan
akurat untuk pengukuran tanah jarang di dalam
tanah perlu ditingkatkan [Wikipedia, 2012].
Analisis unsur tanah jarang dapat dilakukan
dengan menggunakan alat Atomic Absorption
Spectrometry (AAS) atau Inductively Coupled
Plasma Atomic Emission Spectrometry (ICP-AES).
Pada penelitian ini digunakan alat ICP-AES karena
dapat mengukur unsur dengan ketelitian lebih tinggi
mengingat kandungan UTJ dalam tanah relatif
kecil. ICP-AES merupakan alat yang digunakan
untuk menganalisis kadar unsur-unsur logam dari
suatu sampel dengan menggunakan metode
spektrofotometer emisi. Spektrofotometer emisi
adalah metode analisis yang didasarkan pada
pengukuran intensitas emisi pada panjang
gelombang yang khas untuk setiap unsur. Ada
sekitar 80 jenis unsur yang dapat dianalisis dengan
menggunakan alat ini.
Material yang akan dianalisis dengan
alat ICP harus berbentuk larutan yang homogen.
Sebelum dianalisis dengan ICP, sampel harus
dilarutkan terlebih dahulu menggunakan pelarut
yang sesuai. Larutan dalam bentuk pelarut air lebih
disukai daripada pelarut organik, karena larutan
organik memerlukan perlakuan khusus sebelum
diinjeksikan ke dalam ICP.
Prinsip umum pada pengukuran ini adalah
mengukur
intensitas
energi/radiasi
yang
dipancarkan oleh unsur-unsur yang mengalami
perubahan tingkat energi atom (eksitasi atau
ionisasi) [Amini, 1997]. Larutan dihisap dan

METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan
yang
digunakan
pada
penelitian ini antara lain: larutan standar unsur
Cerium (Ce), Europium (Eu), dan Terbium (Tb)
SPEX 10000 ppm, gas argon HP, HNO3 1,5%, dan
air bebas mineral.
Alat yang digunakan adalah ICP-AES
Plasma 40 dan beberapa peralatan gelas untuk
penyiapan sampel.
Cara Kerja
348

SEMINAR NASIONAL VIII


SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 31OKTOBER 2012
ISSN 1978-0176
Pembuatan larutan deret standar:

HASIL DAN PEMBAHASAN

Larutan deret standar dibuat konsentrasi


yang bervariasi dengan cara mengencerkan larutan
induk (unsur Ce, Eu, dan Tb) dengan HNO3 1,5%,
sedangkan sebagai blanko digunakan HNO3 1,5%.

Konfirmasi identitas dilakukan untuk


meyakinkan bahwa respon yang dihasilkan pada
pengukuran hanya berasal dari analit bukan berasal
dari senyawa lain atau bukan merupakan campuran
respon dari analit dengan senyawa lain yang
mempunyai sifat fisika/kimia serupa dengan analit
yang ditetapkan. Pada alat ICP, masing-masing
unsur diukur pada panjang gelombang tertentu
(spesifik). Konfirmasi identitas unsur Ce, Eu, dan
Tb dapat dilihat pada spektrum yang dihasilkan dari
pembacaan alat ICP AES Plasma 40. Spektrum
unsur Ce dapat dilihat pada Gambar 1 yang diukur
pada panjang gelombang 393,109 nm, Spektrum
unsur Eu dapat dilihat pada Gambar 2 yang diukur
pada panjang gelombang 381,967 nm, dan unsur Tb
dapat dilihat pada Gambar 3 yang diukur pada
panjang gelombang 350,917 nm.

Pelaksanaan Validasi:
Untuk konfirmasi identitas dilakukan
pengukuran terhadap setiap unsur dengan
konsentrasi tertentu pada panjang gelombang
masing-masing unsur. Linieritas standar ditentukan
dengan cara melakukan pengukuran intensitas
setiap unsur pada beberapa tingkatan konsentrasi.
Limit deteksi dan limit kuantitasi ditentukan dengan
cara melakukan pengukuran setiap unsur terhadap
larutan blanko sebanyak 5 kali pengulangan.
Ripitabilitas
dilakukan
dengan
melakukan
pengukuran intensitas setiap pengukuran pada
salah satu konsentrasi standar sebanyak 5 kali
pengulangan dan dihitung nilai RSD, kemudian
dibandingkan dengan CV Horwitz.

Gambar 1. Spektrum unsur Ce

349

SEMINAR NASIONAL VIII


SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 31OKTOBER 2012
ISSN 1978-0176
Gambar 2. Spektrum unsur Eu

Gambar 3. Spektrum unsur Tb

Linieritas dinyatakan dalam istilah variansi


sekitar arah garis regresi yang dihitung berdasarkan
persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil
analisis unsur dalam larutan standar dengan
berbagai konsentrasi (deret standar). Perlakuan
matematik dalam pengujian linieritas adalah melalui
persamaan garis lurus dengan metode kuadrat
terkecil antara hasil analisis terhadap konsentrasi
standar. Untuk memperoleh hubungan proporsional
antara hasil pengukuran dengan konsentrasi standar,
data yang diperoleh diolah melalui transformasi
matematik terlebih dahulu sebelum dibuat analisis
regresinya. Untuk menentukan linieritas, maka
Unsur Ce
Konsentrasi
(ppm)
0
6
10
20
40
60
Slop, b
Aksis intersep, a
Koefisien korelasi, r

variasi konsentrasi yang digunakan sekurangkurangnya sebanyak lima standar. Parameter


adanya hubungan linier digunakan koefisien
korelasi r pada analisis regresi linier Y = a + bX.
Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0
dan r = +1 atau 1 bergantung pada arah garis,
sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis
terutama instrumen yang digunakan.
Hasil analisis regresi menggunakan model y
= ax + b dapat dilihat pada Tabel 1 dengan kurva
kalibrasi Ce pada Gambar 4, kurva kalibrasi Eu
pada Gambar 5, dan kurva kalibrasi Tb pada
Gambar 6.

Tabel 1. Hasil Analisis Regresi


Unsur Eu
Intensitas
Konsentrasi
Intensitas
(rerata)
(ppm)
(rerata)
465,7
0
438,8
541,7
0,6
703,9
598,4
0,8
804,6
797,5
1
916,9
1112
2
1481,7
1473,3
4
2579,6
16,955
543,8496
447,12
392,8605
0,9993
0,9994

Gambar 4. Hubungan konsentrasi Ce terhadap intensitas

Unsur Tb
Konsentrasi
Intensitas
(ppm)
(rerata)
0
584,6
2
696,2
4
842,2
6
977,2
8
1177,7
10
1322,1
75,2429
557,119
0,9967

Gambar 5. Hubungan konsentrasi Eu terhadap intensitas

350

SEMINAR NASIONAL VIII


SDM TEKNOLOGI NUKLIR
YOGYAKARTA, 31OKTOBER 2012
ISSN 1978-0176
blanko, selanjutnya dikonversi ke persamaan kurva
kalibrasi yang merupakan hubungan antara
konsentrasi dan intensitas. Hasil analisis blanko
sebanyak 5 data dihitung konsentrasi rerata (X rt)
dan standar deviasinya (SD). Untuk mengetahui
nilai limit deteksi dihitung menggunakan persamaan
(1) dan limit kuantitasi dihitung menggunakan
persamaan (2).
LoD = X rt + ( 3 x SD )
LoQ = X rt + ( 10 x SD )
Gambar 6. Hubungan konsentrasi Tb terhadap intensitas

(1)
(2)

Hasil perhitungan limit deteksi dan limit


kuantitasi setiap unsur ditampilkan pada Tabel 2.

Rentang metode merupakan pernyataan


batas terendah dan tertinggi analit yang sudah
ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan,
keseksamaan, dan linieritas yang dapat diterima.
Rentang metode unsur Ce berada pada batas
terendah 6 ppm dan batas tertinggi 60 ppm, rentang
metode unsur Eu berada pada batas terendah 0,6
ppm dan batas tertinggi 4 ppm, dan rentang metode
unsur Tb berada pada batas terendah 2 ppm dan
batas tertinggi 10 ppm. Dengan adanya rentang
metode ini, pengukuran sampel dilakukan pada
daerah kerja tersebut, apabila konsentrasi sampel
terlalu tinggi, perlu dilakukan pengenceran
sehingga konsentrasinya masuk ke dalam rentang
metode.
Limit deteksi (LoD) adalah konsentrasi
terendah dari analit dalam sampel yang dapat
dideteksi yang masih memberikan respon signifikan
dibandingkan dengan blanko, akan tetapi tidak perlu
terkuantisasi, pada kondisi pengujian yang
disepakati. Limit kuantisasi (LoQ) atau biasa
disebut limit pelaporan (limit of reporting) adalah
konsentrasi terendah dari analit yang dapat
ditentukan dengan tingkat presisi dan akurasi yang
dapat diterima, pada kondisi pengujian yang
disepakati.
Secara umum, penentuan limit deteksi dan
limit kuantitasi dilakukan dengan menganalisis

Tabel 2. Limit deteksi dan limit kuantitasi


Unsur
Ce
Eu
Tb

Limit deteksi
(ppm)
2,0802
0,1152
0,4363

Limit kuantitasi
(ppm)
4,3770
0,1868
0,6020

Presisi adalah ukuran yang menunjukkan


derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur
melalui penyebaran hasil individual dari rerata jika
prosedur diterapkan secara berulang pada sampel
yang diambil dari campuran yang homogen. Presisi
pengukuran ditunjukkan dengan melakukan uji
ripitabilitas yang merupakan presisi metode yang
jika dilakukan berulang kali oleh analis yang sama,
pada kondisi yang sama, dan dalam interval waktu
yang pendek. Kriteria presisi diberikan jika metode
memberikan simpangan baku relatif atau koefisien
variasi CV Horwitz yang diperoleh dari
persamaan (3).
CV Horwitz = 21-0,5logC

(3)

Data
pengukuran
uji
ripitabilitas
ditampilkan pada Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3. Ripitabilitas
Unsur Ce
Konsentrasi
Intensitas
(ppm)
1
1140
40,8658
2
1124,5
39,9516
3
1107,5
38,9490
4
1133
40,4530
5
1135,5
40,6004
Rerata
1128,1
40,1640
CV Horwitz
9,1774
CV Horwitz
6,1183
RSD ( CV Horwitz)
1,8830
Pengulangan

Unsur Eu
Konsentrasi
Intensitas
(ppm)
938
1,0024
889
0,9123
968
1,0575
926,5
0,9812
960,5
1,0437
936,4
0,9994
16,0014
10,6676
5,7644

351

Unsur Tb
Konsentrasi
Intensitas
(ppm)
1015
6,0854
1035,5
6,3578
1000,5
5,8927
1001
5,8993
990,5
5,7598
1008,5
5,9990
12,2182
8,1455
83,8619

Pada Tabel 3 terlihat bahwa nilai standar


deviasi relatif (RSD) tiap-tiap unsur lebih kecil
dari CV Horwitz, sehingga hasil yang diperoleh
masuk ke dalam kriteria keberterimaan, atau
metode ini memiliki presisi yang baik.

yaitu memiliki standar deviasi relatif (RSD) lebih


kecil dari CV Horwitz.

ARTI SIMBOL (NOMENCLATURE)


= panjang gelombang (nm)
c = konsentrasi (%)

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Hasil konfirmasi identitas, diperoleh


panjang gelombang () yang spesifik untuk
masing-masing unsur yaitu unsur Ce pada
393,109 nm; unsur Eu pada 381,967 nm; dan
unsur Tb pada 350,917 nm. Linieritas standar
unsur Ce mulai dari konsentrasi 6 ppm hingga 60
ppm dengan koefisien korelasi 0,9993; unsur Eu
mulai dari konsentrasi 0,6 ppm hingga 4 ppm
dengan koefisien korelasi 0,9994; dan unsur Tb
mulai dari konsentrasi 2 ppm hingga 10 ppm
dengan koefisien korelasi 0,9967. Hasil limit
deteksi dan limit kuantitasi unsur Ce dengan limit
deteksi sebesar 2,0802 ppm dan limit kuantitasi
sebesar 4,3770 ppm; unsur Eu dengan limit
deteksi sebesar 0,1152 ppm dan limit kuantitasi
sebesar 0,1868 ppm; sedangkan unsur Tb dengan
limit deteksi sebesar 0,4363 ppm dan limit
kuantitasi sebesar 0,6020 ppm. Presisi
ditunjukkan dengan uji ripitabilitas, dimana untuk
setiap unsur masuk dalam batas keberterimaan

352

1.

Wikipedia, (2012), Logam Tanah Jarang.


Available from: http://id.wikipedia.org/wiki/
logam_tanah_jarang. Diakses September
2012.

2.

Amini, S., (1997), Spektrometri Emisi,


Pelatihan dan Keahlian Analisis Kimia Bahan
Nuklir secara Spektrometri, Pusdiklat
BATAN, Serpong.

3.

Anonim, (1989), Manual ICP-AES, Phillips


PV 8030, Netherland.

4.

Kantasubrata, Y., 2003, Validasi Metoda,


Ketidakpastian Pengukuran Hasil Uji
Laboratorium. Pusdiklat BATAN, Serpong.

5.

Chem-is-try, (2012), Validasi Metode


Analisis. Available from: http://www.chemis-try.org/artikel_kimia/kimia_analisis/validasi-metode-analisis. Diakses September
2012.