Anda di halaman 1dari 12

1

Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

BAB 1
MENAKAR KONDISI SOSIAL-EKONOMI KOTA
SURABAYA: URAIAN PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Secara makro perkembangan ekonomi nasional memang menunjukkan
tanda-tanda membaik, tetapi bagaimana pun harus tetap diakui bahwa imbas
situasi krisis belum sepenuhnya teratasi. Sekali pun pertumbuhan ekonomi
dilaporkan tidak lagi negatif sudah naik di kisaran 3,5-4,5%, inflasi bisa
dikendalikan di bawah 8%, tingkat bunga rata-rata atas dana pihak ketiga
perbankan sudah di bawah 8% dan rupiah juga makin perkasa karena menguat
sekitar 6% terhadap dollar. Tetapi, berbagai kemajuan yang berhasil dicapai
tampaknya masih rapuh dan mengidap berbagai kelemahan (Kompas, 28 Juni
2003). Upaya pemerintah termasuk di Pemerintah Kota Surabaya untuk
melakukan pemulihan ekonomi masih tertatih-tatih, ekspor masih naik-turun tak
menentu, kesempatan kerja relatif stagnan, pengangguran justru meningkat, dan
harga kebutuhan pokok tetap tinggi, sehingga ujung-ujungnya bukan saja
menimbulkan biaya sosial-politik yang besar, tetapi, yang mencemaskan adalah
kecenderungan

terjebak

pada

program-program

darurat

(emergency

programme) yang sifatnya temporer dan tidak efektif.


Sepanjang tahun 2002 lalu, optimisme sebetulnya sedikit mulai bangkit
dan harapan masyarakat untuk keluar dari belitan situasi krisis pelan-pelan
timbul ketika stabilitas politik mulai memperlihatkan kemajuan, fluktuasi nilai
rupiah tak lagi binal, dan angka pertumbuhan ekonomi tak lagi negatif atau
stagnan. Tetapi, di awal Januari tahun 2003, harapan itu seolah sirna dalam
sekejap ketika pemerintah mengumumkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) tarif
jasa telepon, dan harga bahan bakar minyak (BBM). Bukan rahasia lagi, setiap
kali pemerintah menetapkan kenaikkan tarif baru, niscaya hal itu akan segera
diikuti dengan meroketnya harga-harga kebutuhan pokok yang nyaris tak
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

2
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

terkendali (Jawa Pos, 5 Januari 2003). Bagi masyarakat luas, apalah artinya
pertumbuhan ekonomi membaik, jika dalam kenyataan sektor riil tetap tidak
bergerak, dan kebutuhan terhadap barang-barang sehari-hari tetap tidak
terjangkau?
Apakah di tahun-tahun mendatang, kinerja perekonomian nasional dan
perekonomian kota Surabaya pada khususnya bakal membaik ataukah malah
memburuk? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu bukan hal yang mudah karena
ada banyak faktor yang saling tali-temali, dan semuanya harus diperhitungkan
sebelum menyusun proyeksi perkembangan sosial-ekonomi kota Surabaya limasepuluh tahun mendatang. Yang jelas, ke depan permasalahan sosial-ekonomi
yang mesti dihadapi akan makin kompleks dan membutuhkan program intervensi
yang benar-benar efektif dan terfokus. Dalam konteks ini, tak pelak yang
dibutuhkan bukan saja data yang akurat, tetapi juga proses perencanaan
program pembangunan kota yang benar-benar matang, terarah, efisien, dan
efektif.
Bagi

kota

Surabaya

sendiri,

upaya

untuk

memperbaiki

kinerja

perekonomian pada dasarnya adalah sebuah tantangan sekaligus peluang.


Seperti diketahui, sebagai koreksi atas perekonomian nasional yang terpuruk
berkepanjangan, maka di awal tahun 2001 lalu pemerintah telah memutuskan
untuk menerapkan kebijakan desentralisasi fiskal yang berimplikasi pada
perubahan yang radikal bagi pengelolaan perekonomian lokal termasuk di kota
Surabaya. Dalam kerangka kerja yang baru ini otoritas pemerintah kota
Surabaya dalam manajemen pembangunan semakin luas, tetapi pada saat yang
bersamaan dibatasi oleh sumber dana pembangunan. Kondisi baru ini tentu saja
dapat merupakan peluang, tetapi sekaligus juga merupakan tantangan bagi
pemerintah

kota,

terutama

bila

dikaitkan

dengan

data-data

indikator

perekonomian kota yang tidak begitu menggembirakan.


Dengan penduduk sekitar 2,7 juta jiwa (2000) jelas Kota Surabaya
menghadapi tantangan berat sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan
menerima konsekuensi sebagai kota pilihan bagi urbanisasi penduduk daerahPEMERINTAH KOTA SURABAYA
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

3
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

daerah pinggiran yang faktanya memang lebih miskin dari Surabaya. Di


Surabaya, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 9,7% dengan
partisipasi kerja sebesar 62,4%. Sedangkan Data Propinsi Jawa Timur (2002)
menunjukkan bahwa jumlah orang miskin di Surabaya meliputi 11,4% jiwa dari
keseluruhan penduduk kota. Kalau dibandingkan dengan angka pertumbuhan
ekonomi makro Indonesia yang masih di kisaran 3,5-4,5%, apa yang berhasil
dicapai Surabaya dengan angka

pertumbuhan ekonomi sebesar

4, 64%

barangkali adalah sebuah langkah maju. Tetapi, apa dampak dari kemajuan
pembangunan di bidang ekonomi bagi masyarakat?
Secara oyektif harus diakui bahwa kemampuan kota Surabaya untuk
menyediakan fasilitas publik yang layak bagi warga kota masih membutuhkan
berbagai pembenahan. Walaupun tingkat buta huruf penduduk Surabaya cukup
rendah (1,9%), tetapi ada 12,2% penduduk yang belum mempunyai akses yang
memadai pada fasilitas kesehatan (UNDP 2002). Sementara itu, anak berumur di
bawah 5 tahun yang menderita kekurangan gizi masih sebesar 25,8%. Data
tentang status perempuan relatif lebih baik meski pun masih di bawah standard
bagi prinsip gender equality.
Di luar persoalan kualitas manusia, bagi kota Surabaya tantangan dari
luar juga patut dijadikan konsideran baru dalam merencanakan pembangunan.
Realisasi

AFTA tinggal

di

depan

mata.

Artinya,

jika

Surabaya

tidak

mempersiapkan perekonomiannya untuk berkompetisi, maka kita hanya akan


menjadi teritori tempat pasar bagi produk-produk dari negara ASEAN lainnya.
Yang lebih mengenaskan, sesama ASEAN memiliki kesamaan siklus produk
sehingga pertarungan hanya dapat dimenangkan dengan peningkatan efisiensi
ekonomi kota. Sementara itu, realisasi kebijakan WTO untuk sektor jasa, GATS
akan dimulai Bulan Maret tahun ini. Oleh karenanya tantangan Pemerintah Kota
Surabaya dalam mewujudkan impian untuk menjadi Kota Jasa bukan hal yang
mudah.
Sementara itu konteks ruang local-global di atas diperumit dengan gejala
berikutnya yaitu hubungan dua arah antara faktor ekonomi dan non faktor
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

4
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

ekonomi (sosial). Pelajaran penting selama krisis ekonomi menunjukkan bahwa


faktor keamanan dan ketidakpastian hukum (kegagalan institusi) merupakan
faktor penghambat recovery economy terutama dapat dilihat dari data tidak
ada satupun investor baru masuk ke Indonesia selama 2 tahun terakhir karena
dua alasan di atas. Berdasar berbagai faktor di atas, bagi Pemerintah Kota
Surabaya merencanakan pembangunan seefektif mungkin

menjadi hal yang

mendesak mengingat kedua tantangan baik internal maupun eksternal serta


dinamika antar faktor sosial dan ekonomi di masa desentralisasi fiskal saat ini
begitu berat.
Pengalaman menjalankan pembangunan merupakan modal berharga
untuk mempersiapkan dan merencanakan perkembangan di masa mendatang.
Bukan sesuatu yang mudah karena pada dasarnya kita menterjemahkan catatan
masa lampau untuk ditransformasikan ke dalam bentuk perencanaan masa
depan. Dalam konteks globalisasi, banyak faktor ketidakpastian (uncertainties)
dan sulit diperhitungkan terutama dikaitkan dengan kompleksitas perubahan di
lingkungan bisnis, sehingga untuk meramalkan atau memproyeksikan
perkembangan masa depan sebenarnya merupakan upaya mengkombinasikan
pengalaman masa lampau dengan ketajaman visi melihat pelbagai faktor kunci
masa

depan

selain

ketepatan

memilih

metodologi

proyeksi

ataupun

perencanaan.
Pada prinsipnya perencanaan dan model poyeksi terdapat persamaan, di
mana keduanya menangkap masa yang akan datang, mempunyai sistematika,
berlandasan teoritis dan bahkan seringkali menggunakan pendekatan kuantitatif
(Iwan J. Azis, 1990). Namun, perencanaan dan proyeksi mempunyai perbedaan
yang mendasar. Perbedaan keduanya terletak pada perlakuan terhadap
target/skenario dan kebijakan. Model proyeksi memperlakukan target sebagai
variabel endogen (dicari dari dalam sistem persamaan) dan kebijakan
diperlakukan sebagai variabel eksogen (ditentukan dari luar sistem persamaan/
given). Sebaliknya, model perencanaan memperlakukan kebijakan sebagai
variabel endogen dan target sebagai variabel eksogen.
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

5
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

Model

proyeksi

sangat

berguna

untuk

menyiapkan

perencanan

pembangunan kota dalam menentukan antara lain: pertumbuhan ekonomi


ataupun kontribusi sektoral, sebagai suatu target/sasaran/skenario. Oleh karena
itu, model proyeksi harus dilakukan sebelum menerapkan model perencanaan.
Hal ini untuk menghindari pelbagai kemungkinan penetapan target/ sasaran di
luar kemampuan daerah.
Kegiatan sebagaimana dilaporkan bermaksud menyusun proyeksi kondisi
sosial-ekonomi Kota Surabaya Tahun 2003-2010. Kegiatan ini penting dilakukan
untuk mengetahui arah perkembangan kondisi perekonomian dan kondisi sosial
yang terkait sebagai dasar acuan untuk mempertajam fokus Renstrada dan
kegiatan pembangunan Kota Surabaya setiap tahunnya.
2. Permasalahan
Secara rinci, permasalahan yang dicoba dikaji dalam Penyusunan
Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010
adalah :
1. Bagaimana gambaran tentang perkembangan kesejahteraan sosial,
kesenjangan, PDRB dan kondisi umum perekonomian Kota Surabaya ke
depan?
2. Faktor-faktor

apa

sajakah

yang

mempengaruhi

pasang-surut

perkembangan kondisi sosial-ekonomi Kota Surabaya?


3. Program-program pembangunan apa sajakah yang mesti dikembangkan
Kota Surabaya ke depan untuk meningkatkan kondisi sosial-ekonomi
secara efektif dan efisien?
3. Tujuan Sasaran Proyek
Maksud dan tujuan disusunnya Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota
Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010 ini adalah untuk menyediakan panduan
yang dapat digunakan oleh semua pihak yang memiliki tanggungjawab dan
komitmen dalam meningkatkan kondisi sosial-ekonomi secara efektif dan efisien
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

6
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

agar semua kegiatan berjalan searah, terkoordinir, sinergis dan benar-benar


tepat sasaran. Secara garis besar, tujuan dari kegiatan ini adalah:
1. Mendeskripsikan gambaran perkembangan kondisi sosial-ekonomi Kota
Surabaya Tahun 2003 - 2010.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi arah perkembangan
kondisi sosial-ekonomi Kota Surabaya.
3. Menyediakan bahan masukan untuk mempertajam fokus Renstrada,
sekaligus sebagai kontrol pelaksanaan Renstrada Kota Surabaya.
4. Merumuskan program intervensi yang efektif dan strategis untuk
meningkatkan kondisi sosial-ekonomi Kota Surabaya di tahun-tahun
mendatang.
4. Ruang Lingkup
Yang termasuk dalam ruang lingkup data Penyusunan Proyeksi Kondisi
Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010 yang dicoba untuk
diproyeksikan dan dianalisis dalam kegiatan ini meliputi:
1. Kependudukan
-

Jumlah Penduduk

Laju Pertumbuhan Penduduk

2. Indeks Pembangunan Manusia


-

Angka Harapan Hidup

Angka Melek Huruf

Rata-rata Lama Sekolah

Daya Beli Masyarakat

3. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)


-

Atas Dasar Harga Berlaku

Atas Dasar Harga Konstan

4. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita


-

Atas Dasar Harga Berlaku

Atas Dasar Harga Konstan


PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

7
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

5. Laju Pertumbuhan Ekonomi


6. Inflasi
7. Kebutuhan Investasi
-

Atas Dasar Harga Berlaku

Atas Dasar Harga Konstan

5. Metode dan Prosedur Pengkajian


Kegiatan ini pada dasarnya bermaksud membantu Pemerintah Kota
Surabaya dalam mempersiapkan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota
Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010 yang bersifat kontekstual dan aplikatif.
Perlu dicatat di sini bahwa proyeksi ini sangat bergantung pada
ketersediaan data. Selain itu, dalam penyusunan proyeksi ini juga diperlukan
informasi atau variabel kunci sebagai instrumen dalam upaya mencapai sararan
yang hendak dicapai. Dengan kata lain jumlah observasi untuk setiap persamaan
model proyeksi tersebut sangat bergantung pada ketersediaan dan kelengkapan
data.
Dalam proses pengumpulan data, rincian dan cakupan ekonomi daerah
yang dikumpulkan mengacu pada klasifikasi Biro Pusat Statistik (BPS) ataupun
kantor statistik tingkat I dan II. Sedangkan sektor pembangunan tersebut
mengacu pada Repelita VI. Jadi, makna perencanaan dalam judul studi ini
menekankan pada proyeksi, di mana proyeksi merupakan tahap awal yang harus
dilakukan dalam menyusun perencanaan dan digunakan sebagai dasar
penentuan sasaran/ target sektoral.
Data yang dibutuhkan sebagai bahan Penyusunan Proyeksi Kondisi
Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010 ini sebagian besar
adalah data sekunder. Data primer diperlukan untuk mempertajam analisis
deskriptif perkembangan ekonomi Kota Surabaya, termasuk tentang kebijakan
ekonomi daerah. Data sekunder diperoleh dari pelbagai sumber dari dinas-dinas
termasuk Bappekot Surabaya, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, dan

PEMERINTAH KOTA SURABAYA


Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

8
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

instansi terkait lainnya. Data Primer diperoleh dengan metode wawancara secara
langsung kepada pimpinan dan staf instansi terkait.
Metode Pengolahan dan Teknis Analisis, alat analisis yang digunakan
untuk identifikasi, deskripsi, dan memformulasikan model proyeksi terutama yang
berkaitan pada aspek ekonomi adalah sebagai berikut:
5.1. Statistik Deskriptif
Dalam menjelaskan karakteristik data serta mengetahui berbagai macam
sifat dapat menggunakan statistik deskriptif yaitu dengan mengeksplorasi data
dalam beberapa bentuk nilai statistik.
Beberapa nilai statistik yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Mean (rata-rata)

xi
n

;
Nilai statistik yang menunjukkan keadaan/ kondisi suatu data dalam bentuk yang
seragam
- Proporsi (angka relatif)

xi
xi

100%

Nilai statistik yang digunakan untuk menunjukkan bobot pada masing-masing


kategori
- Angka Pertumbuhan (%)

x t x t1
100%
x t1

Nilai statistik yang menunjukkan nilai pola perubahan data dalam selang waktu
tertentu

PEMERINTAH KOTA SURABAYA


Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

9
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

5.2. Analisis Kelompok (Cluster Analysis)


Pada sekumpulan data yang terdiri dari beberapa kriteria dapat dibentuk
klasifikasi data untuk membedakan karakteristik/komposisi data berdasarkan
kriterianya. Untuk memperoleh beberapa kelompok yang relatif homogen (mirip
komposisi)

pada

masing-masing

kelompok

menggunakan

suatu

teknik

pengolahan data yaitu Analisis Kelompok (Cluster Analysis). Bila jumlah


kelompok data sudah diketahui, proses pengelompokan dapat menggunakan
metode K-Means (Non Hierarki). Kelompok-kelompok yang dibentuk tidak
menunjukkan sifat ordinal (misal: kelompok 1 lebih tinggi dari 2 atau sebaliknya).
Namun dalam deskripsi statistik, data dapat dijelaskan oleh karakteristik masingmasing kelompok (misal: lebih layak, lebih dominan, dan sebagainya).
5.3. Analisis Faktor
Untuk menggambarkan hubungan/korelasi beberapa variabel secara
serentak adalah dengan mengelompokkan variabel yang saling terkait. Analisis
korelasi bisa saja digunakan, tapi mempunyai kelemahan dalam hal kombinasi
yang cukup besar. Akibatnya, akan kesulitan dalam membuat analisa atau
penjelasan serta menariku suatu kesimpulan. Dengan demikian diperlukan alat
analisis yang dapat menyederhanakan hasil pengolahan data. Oleh karenanya,
dalam studi ini akan digunakan alat statistik analisis faktor.
Adapun langkah-langkah dalam analisis faktor adalah sebagai berikut:
- Deskripsi data
Langkah awal adalah melakukan eksplorasi dari data yang tersedia
dengan menampilkan beberapa nilai statistik. Nilai statistik tersebut sebagai
konfirmasi awal untuk menunjukkan homogenitas, perbedaan rata-rata, dan lain
sebagainya.

PEMERINTAH KOTA SURABAYA


Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

10
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

- Matrik Korelasi
Membentuk matrik korelasi pada variabel untuk mengetahui kelompokkelompok

variabel

yang

saling

berkorelasi.

Untuk

mendeteksi

apakah

sekumpulan variabel tersebut layak untuk direduksi (dikelompokkan).


- Uji KMO dan Uji Bartlett
Uji Bartlett dilakukan untuk mendeteksi apakah terdapat variabel yang
berkorelasi atau tidak (hipotesis nol menyatakan tidak ada variabel yang
berkorelasi).
Uji KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) dilakukan untuk mengetahui homogenitas
variabel. Kriteria untuk menentukan tingkat homogenitasnya dapat ditunjukkan
pada tabel berikut.
Nilai KMO
1 - 0,80
0,8 > - 0,70
0,7 > - 0,60
0,6 > - 0,50
< 0,50

Keterangan
Sangat Homogen
Homogen
Cukup Homogen
Kurang Homogen
Tidak Homogen

- Communality
Untuk Membandingkan korelasi variabel awal sebelum dilakukan analisis
faktor dan sesudah dilakukan analisis faktor.
- Nilai Eigen
Menyeleksi beberapa faktor yang tepat. Faktor pertama yang terseleksi
memiliki nilai eigen terbesar. Selanjutnya diambil beberapa faktor sedmikian
hingga diambil sejumlah nilai eigen proporsi yang dapat menjelaskan proporsi
varians variabel awal.
- Matrik faktor
Faktor-faktor yang diperoleh dari variabel awal.

PEMERINTAH KOTA SURABAYA


Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

11
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

- Korelasi variabel awal setelah analisis faktor


Sebagai cross-check nilai variabel awal dan untuk mencari nilai
communality.
- Rotasi matrik
Digunakan untuk mengoptimalkan setiap variabel awal terhadap salah
satu faktor hasil reduksi. Setelah dirotasikan, maka masing-masing faktor hasil
reduksi menunjukkan keterkaitan terhadap

beberapa variabbel awal yang

berbeda.
Beberapa cara merotasi:
-

varimax

quartimax

equimax

oblimin

5.4. Time-series dan Forecasting


Salah cara yang dapat digunakan membuat estimasi/ proyeksi untuk data
series (runtun waktu) adalah menggunakan ARIMA (AutoRegressive Integrated
Moving Average). Secara general dapat dinyatakan sebagai berikut:

ao a1X

t 1

. . . a p X

t p

b 1 e t 1 . . . b p e t p

Lebih spesifik dibagi dalam 3 bagian yaitu autoregression (p), derajat


defferencing (d), dan moving average (q) sehingga dapat ditulis dengan ARIMA
(p,d,q)
Autoregression (AR) adalah bentuk model regresi dengan variabel bebas
adalah data masa lampau dan variabel tak bebas adalah data masa berikutnya.
Jumlah variabel bebas bergantung dari jumlah lag yang paling sesuai (sebanyak
p). Apabila pola data series tidak stasioner (biasanya terdapat trend), dilakukan
proses transformasi data dengan diferensiasi yaitu membuat nilai yang diperoleh
PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

12
Penyusunan Proyeksi Kondisi Sosial Ekonomi Kota Surabaya Sampai Dengan Tahun 2010

dari selisih data antar waktu. Moving average (MA) adalah model untuk
memprediksi data pada masa berikutnya bergantung pada beberapa nilai
residual dari prediksi masa lampau.
Penggunaan model ARIMA untuk prediksi data masa akan datang juga
akan

memperhatikan

kondisi

yang

realistis

sehingga

penghalusan (smoothing) nilai prediksi (*).

PEMERINTAH KOTA SURABAYA


Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya

perlu

dilakukan