Anda di halaman 1dari 14

Laporan Kasus

Fistula Oro Antral Regio 15 sebagai Penyebab Sinusitis


Maksilaris Dextra

Pembimbing:
Drg. Noenoeng Isnantijowati

DISUSUN OLEH :
Romel Ciptoadi Wijaya
210.121.0066

KEPANITERAAN KLINIK MADYA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
LABORATORIUM ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT
RSUD MARDI WALUYO KOTA BLITAR
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fistula

oro

antral

merupakan

saluran

abnormal

yang

terbentuk

dan

menghubungkan sinus maksilaris dan kavum oris dan mungkin merupakan hasil dari
beberapa proses patologis yang berbeda. Umumnya, fistula oroantral terjadi setelah
ekstraksi gigi; namun demikian, penyebab lainnya juga meliputi infeksi, kondisi
inflamasi, neoplasma dan cedera/trauma.
Pada sebagian besar kasus, pasien dengan fistula oroantral mempunyai riwayat
ekstraksi gigi sebelumnya dan keluhan adanya rasa asin dan bebasnya udara ke dalam
mulut pada saat meniup hidung. Jika terdapat infeksi, adanya sekret hidung yang
terkait dengan nyeri di pipi dan gejala umum infeksi.
Oroantral fistula yang diakibatkan oleh tindakan pencabutan gigi, yang
sebenarnya jarang sekali terjadi. Penyebab tersering adalah ekstraksi gigi molar,
biasanya molar pertama, dimana sepotong kecil tulang di antara akar gigi molar dan
sinus maksilaris ikut terangkat.
1.2 RUMUSAN MASALAH
I.2.1 Apa definisi dan etiologi Fistula oro antral?
I.2.2 Bagaimana Patogenesis fistula oro antral?
I.2.3 Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan fistula oro antral?
1.3

TUJUAN
I.3.1 Mengetahui dan memahami definisi dan etiologi fistula oro antral.
I.3.2 Mengetahui dan memahami Patogenesis fistula oro antral?
I.3.3 Mengetahui dan memahami diagnosis dan penatalaksanaan fistula oro antral
I.3.4 Mengetahui dan memahami Prognosis dan Komplikasi fistula oro antral?

1.4

MANFAAT
I.4.1

Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu


gigi dan mulut pada khususnya.

I.4.2

Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti


kepaniteraan klinik bagian ilmu gigi dan mulut.
2

BAB II
STATUS PASIEN
2.1

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. T

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Kalipare

Umur

: 53 tahun

Pekerjaan

: Pandai besi

Status

: Kawin

Suku Bangsa

: Jawa - Indonesia

Tanggal Periksa

: 29 Januari 2015

2.2
1.

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Sakit gusi kanan atas setelah dicabut 4 bulan yang lalu. Sudah 3

2.

minggu tidak sikat gigi karena sakit.


Riwayat Penyakit : Keluhan dirasakan sejak 2 bulan terakhir, disertai dengan
keluarnya nanah dari lubang gusi bekas gigi yang dicabut dan hidung. Rasa sakit
cekot-cekot, hanya timbul ketika disentuh atau saat makan di daerah gusi bekas

cabutan gigi 14 dan 15.


3. Riwayat Perawatan
a. Gigi
: Cabut gigi 14, 15, 16 dan 17, 4 bulan yang lalu
b. Jar.lunak rongga mulut dan sekitarnya : Tidak pernah
4. Riwayat Kesehatan :
- Kelainan darah
: Tidak ditemukan
- Kelainan endokrin
: Tidak ditemukan
- Kelainan Jantung
: Tidak ditemukan
- Gangguan nutrisi
: Tidak ditemukan
- Kelainan kulit/kelamin : Tidak ditemukan
- Gangguan pencernaan : Tidsk ditemukan
- Kelainan Imunologi
: Tidak ditemukan
- Gangguan respiratori : Tidak ditemukan
- Gangguan TMJ
: Tidak ditemukan
- Tekanan darah
: Tidak ditemukan
- Diabetes Melitus
: Tidak ditemukan
- Lain-lain
: Pasien mengalamai tuli telinga kanan sejat 3 tahun yang
lalu, berhubungan dengan pekerjaannya sebagai pandai besi
5. Obat-obatan yang telah/sedang dijalani : 6. Keadaan sosial/kebiasaan : Pasien golongan menengah kebawah dan merokok
7. Riwayat Keluarga :
- Kelainan darah
: Disangkal
3

- Kelainan endokrin
- Diabetes melitus
- Kelainan jantung
- Kelainan syaraf
- Alergi
- Lain-lain

: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
:-

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


1. Ekstra Oral
- Muka
- Pipi kiri
- Pipi kanan
- Bibir atas
- Bibir bawah
- Sudut mulut
- Kelenjar submandibularis kiri
- Kelenjar submandibularis kanan
- Kelenjar submental
- Kelenjar leher
- Kelenjar sublingualis
- Kelenjar parotis kanan
- Kelenjar parotis kiri
2. Intra Oral
- Mukosa labial atas
- Mukosa labial bawah
- Mukosa pipi kiri
- Mukosa pipi kanan
- Bukal fold atas
- Bukal fold bawah
- Labial fold atas
- Labial fold bawah
- Gingival rahang atas
-

: simetris
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak teraba- tidak ada kelainan
: tidak teraba- tidak ada kelainan
: tidak teraba- tidak ada kelainan
: tidak teraba- tidak ada kelainan
: tidak teraba- tidak ada kelainan
: tidak teraba- tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: Sebelah kanan ditemukan adanya lubang

(titik) pada regio 15, yang sebelumnya telah dicabut.


Gingival rahang bawah
: tidak ada kelainan
Lidah
: tidak ada kelainan
Dasar mulut
: tidak ada kelainan
Palatum
: tidak ada kelainan
Tonsil
: tidak ada kelainan
Pharynx
: tidak ada kelainan

STATUS LOKALIS
8
3

7
2

6
1

V
II

7
2

6
1

6
V
II

IV
I

III

I
IV

IV

III

I
IV

II

III

II

III

3
8

3
8

Sisa akar
Lubang
Hilang

R/ Amoxsan tab. 500 mg

1. Pengobatan :
No. XV

S 3 dd 1 pc
Mefinal kapl 500 mg

No. X

S 2 dd tab 1 pc

2. Pemeriksaan Penunjang :
- Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi

####

Kesan:
Tampak gambaran radioluscent pada regio 15. Gambaran radioluscent tersebut
menunjukkan hubungan atau saluran abnormal yang menghubungkan cavum
oris dengan sinus maksilaris pada regio 15.
- Lab.Patologi anatomi
: Sitologi
: Biopsi
:- Lab.Mikrobiologi
: Bakteriologi
: Jamur
:- Lab.Patologi Klinik
:3. Rujukan :
Poli Penyakit Dalam
Poli THT
Poli Kulit & Kelamin
Poli Syaraf

::
::-

2.6 DIAGNOSA AKHIR


Fistula Oro Antral region 15 sebagai Penyebab Sinusitis Maksilaris Dextra.
2.7 LEMBAR PERAWATAN
Tgl

Anamensis/Pemeriksaan

29/1/15 Sakit

fisik
gusi kanan

Diagnosa

atas Fistula Oro Antral Membuat

setelah dicabut 4 bulan


yang lalu. Sudah 3 minggu

Regio

15

Penyebab

sebagai
Sinusitis

Maksilaris Dextra.

tidak sikat gigi karena HP 37


sakit. Sakit cekot-cekot GR 35,36

jika tersentuh. Rokok (-), Calculus RA/RB


kopi (-).

Rencana terapi

ER 14, 15, 16, 17

rujukan

ke

Dokter Spesialis THT.


Menutup fistula dengan

menjahit mukosa gingiva


regio 15.
Pulp capping tumpatan

regio 37
Ekstraksi regio 35,36
Scaling
Pro protesa 14, 15, 16,
17, 35, 36

KIE:
Rutin minum obat dan
antibiotik

diminum

sampai tuntas
Kontrol kembali
Sinusitis disebabkan oleh
penyakit pada gigi
Rajin dan rutin merawat
serta menjaga kebersihan
gigi dan mulut.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1.

Definisi
Fistula oroantral merupakan suatu saluran yang menghubungkan rongga dasar

sinus maksilaris dengan rongga mulut. Fistula oroantral ini merupakan suatu komplikasi
akibat tindakan pencabutan gigi molar 1, 2 atau premolar 2. Selain itu, dapat juga
diakibatkan oleh trauma iatrogenik, infeksi, tumor ganas, osteomyelitis dan sifilis.

3.2.

Etiologi
Secara anatomis oral dan antrum adalah dua bagian yang dekat tetapi terpisah satu

dengan yang lain. Antrum berbentuk ruangan kosong yang terletak di bawah orbita kiri
dan kanan. Bagian medial dari antrum dibatasi oleh dinding lateral dari rongga hidung
dan bagian dasar dibatasi oleh tulang alveol rahang atas yaitu tempat di mana gigi geligi
berada.

Secara umum tulang dasar antrum mempunyai ukuran yang relatif tebal.

Ketebalan yang dimaksud adalah jarak antara permukaan dasar antrum dengan ujung akar

gigi posterior rahang atas. Pada beberapa kasus dapat dijumpai dinding dasar antrum yang
tipis bahkan begitu tipisnya sehingga tidak ada batas dengan ujung akar gigi.
Menipisnya tulang dasar antrum dapat terjadi karena beberapa sebab. Pertama, diduga
adanya pertumbuhan akar gigi yang tumbuh bersama-sama dengan perkembangan
antrum, sehingga tulang dasar antrum membentuk kontur yang mengikuti lekuk trifurkasi
akar molar atau lekuk di antara akar-akar premolar. Sehingga akar gigi berkesan masuk ke
dalam rongga antrum. Kedua, terdapatnya jaringan patologis pada ujung akar gigi.
Jaringan patologis tersebut antara lain kista radikuler atau granuloma periapikal. Proses
perluasan dari jaringan patologis tersebut akan dapat merusak dan menipiskan tulang
setempat. Selain hal tersebut, neoplasia dapat juga menipiskan tulang dasar antrum.
Pada proses pencabutan gigi, tulang dasar antrum yang tipis akan lebih mudah rusak,
sehingga mudah untuk menimbulkan kecelakaan terbukanya antrum. Terbukanya antrum
dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, karena terjadi kecelakaan penggunaan
alat, misalnya penggunaan bein dengan cara kasar. Dilaporkan juga karena pemasangan
gigi tiruan implan. Penyebab kedua adalah, bentuk dinding dasar antrum yang berlekuk
mengikuti kontur akar gigi. Penyebab ketiga, adanya jaringan patologis pada ujung akar
gigi posterior rahang atas.
3.3.

Patogenesis
Pada dasar sinus maksilaris terdapat tiga jenis fistula yaitu fistula oro nasal, oro

antral dan oro-antro-nasal. Fistula oroantral dapat diklasifikasikan berdasarkan


ukurannya, ukuran kecil (kurang dari 2 mm), ukuran sedang (3-5 mm) dan ukuran besar
(lebih dari 5 mm). Pada ukuran kecil (kurang 2 mm) cenderung akan menutup dengan
sendirinya, tetapi bila dalam waktu tiga minggu tidak terjadi penutupan perlu dilakukan
tindakan operasi. Gejala yang ditimbulkan berupa sekret purulen melewati fistula yang
berasal dari rongga sinus maksilaris dan pada saat minum pasien terasa adanya cairan
yang masuk ke dalam hidung melewati fistula.
Berpedoman pada ukuran fistula oroantral dapat ditentukan teknik menutup
fistula. Bila ukuran kurang dari 2 mm dilakukan observasi selama tiga minggu, bila tidak
terjadi penutupan fistula oroantral secara spontan dapat dilakukan tindakan penjahitan
mukosa atau teknik jabir alveolaris. Ukuran 3-4 mm dilakukan penutupan fistula oroantral
dengan teknik buccal flap. Ukuran lebih dari 5 mm dilakukan penutupan fistula oroantral
8

dengan teknik palatal flap.


3.4.

Diagnosis
Pemeriksaan radiologi berupa foto polos panoramik berguna untuk melihat

keadaan akar gigi sehingga setelah tindakan ekstraksi gigi tidak terjadi fistula oroantral.
Pada tomografi komputer ditemukan diskontinuitas dinding dasar sinus maksilaris,
tampak adanya perselubungan opak di sinus maksilaris dan atrofi fokal alveolar. Atrofi
tulang alveolar terlihat di segmen yang berdekatan dengan fistula. Pada
pemeriksaan kultur kuman awal didapatkan Staphylococcus epidermidis. Hasil
pemeriksaan kultur dan sensitifitas kuman spesimen pus saat operasi didapatkan hasil
Streptococcus hemoliticus. Hal tersebut sesuai bahwa pada saat itu terjadi sinusitis
maksilaris kronis yang berasal dari gigi. Kuman pada sinusitis maksilaris kronis, dapat
berupa kuman aerob fakultatif, anaerob serta gabungan (mix). Pada penelitian yang
dikutip dari Brooke, ditemukannya kuman yang terbanyak berasal dari kuman gabungan
(aerob fakultatif dan anaerob) sebanyak 14 sampel (50%), urutan kedua kuman anaerob
sebanyak 11 sampel (39%), dan urutan ketiga kuman aerob fakultatif sebanyak 3 sampel
(11,6%). Pada kasus ini terdapat 2 jenis kuman aerob fakultatif berupa Staphylococcus
epidermidis dan Streptococcus hemolitikus (aerob fakultatif).
Secara radiologis, biasanya terlihat diskontinuitas dari dasar sinus, opasifikasi
sinus, atrofi fokal alveolar dan penyakit periodontal yang terkait terlihat ketebalan
mukosa antrum dan defek pada dasar tulang. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan
tomografi komputer untuk melihat keadaan sinusitisnya dan tampak adanya
diskontinuitas dari dasar sinus maksilaris sehingga terbentuk celah yang menghubungkan
rongga sinus dengan rongga mulut. Dikutip dari Abraham JJ, ada 3 alasan dipilihnya
tomografi komputer: 1.Dengan menggunakan tomografi komputer dapat melihar defek
yang kecil di lantai sinus maksilaris. 2.Dengan potongan koronal tomografi komputer
dapat dilihat secara sejajar panjangnya fistula. 3.Dapat melihat defek yang kecil
menggunakan tomografi komputer dengan potongan 3-5 mm.
3.5.

Penatalaksanaan
Fistula oroantral berdasarkan ukuran diameternya terbagi 3. Ukuran 2 mm,

ukuran 3-4 mm dan ukuran 5 mm. Pada pasien ini fistula oro antral berukuran kurang
dari 2 mm. Dikutip dari Sokler K, menurut Hanazawe fistula oroantral yang berukuran
9

diameter kurang 2 mm, kemungkinan akan menutup secara spontan. Menurut Martensson
(1957), kecil kemungkinan fistula oroantral akan menutup spontan bila selama 3-4
minggu atau saat diameternya lebih dari 5 mm. Penutupan fistula oroantral akan menutup
secara spontan dalam 48 jam, angka keberhasilannya 90- 95%. Bila diameter fistula
oroantral lebih dari 3 mm akan mengalami gangguan penyembuhan secara spontan. Bila
fistula oroantral berukuran diameter 3-4 mm, penanganan selanjutnya dilakukan buccal
flap, Bila berukuran diameter 5 mm dilakukan palatal flap. Menurut Gullane dan Arena,
tindakan palatal flap memberikan keuntungan berupa suplai darah yang baik ke jaringan
mobilitas local yang baik, sedikit ada gangguan berbicara dan tingkat keberhasilan 96%.
Kerugiannya berupa proses terbentuknya epitelisasi palatum durum relatif cukup lama.
Pada fistula oroantral ukuran kurang dari 2 mm cenderung akan menutup dengan
sendirinya, tetapi bila dalam waktu tiga minggu tidak terjadi perlu dilakukan operasi
menutup fistula. Operasi FESS dilakukan untuk meningkatkan fungsi ventilasi dan aerasi
dari sinus maksilaris. Von Wowern menyelidiki 90 kasus dan menyimpulkan bahwa
penutupan spontan fistula oroantral dari berbagai ukuran jarang, dan pada akhirnya
dibutuhkan tindakan operasi untuk menutup fistula.
Keberhasilan operasi penutupan fistula oroantral tergantung pada teknik yang
digunakan, lokasi dan ukuran dari fistula dan ada atau tidaknya infeksi pada sinus.
Penyakit pada sinus biasanya ditatalaksana secara teknik Caldwell-Luc atau BSEF. Pada
pasien ini ukuran fistula kurang dari 2 mm dan tampak adanya multisinusitis kronik dan
direncanakan dilakukan BSEF dan penutupan fistula dengan mukosa sekitar celah.
Penutupan fistula oroantraldiantara gigi dilakukan dengan insisi melibatkan
mukoperiosteum di daerah distal gigi di anterior kemudian melewati daerah fistula
oroantral dilanjutkan ke daerah mesial gigi di posterior.7 Alveolar flap dapat dilakukan
untuk menutup fistula yang kecil (< 2 mm) bila tidak terjadi penutupan fistula oroantral
secara spontan. Khusus dalam tindakan ini yang harus diperhatikan hindari terjadinya
luka pada duktus Stenon. Kerugian akibat tindakan alveolar flap, flap melewati dan
menutupi sebagian sulkus gingivolabial, sehingga sulit untuk menggunakan prosthesis.
Flap ini juga berada di bawah tekanan bibir dan mungkin akan mengganggu gerakan
pipi.
Pasien post perawatan operasi diberikan antibiotik, analgetik, kortikosteroid dan
anjuran untuk tidak menyikat gigi atau mengganggu dengan lidah. Follow up pasien
dilakukan secara teratur hingga 1 bulan post operasi dan hasil operasi fistula oro antral
yang menutup dengan baik ditandai tidak adanya keluar cairan yang berasal dari rongga
10

hidung ke rongga mulut melalui celah. Pada pasien ini sudah sesuai dengan perawatan
post-operasi dengan pemberian antibiotik, dekongestan, Anti Inflamasi Non Steroid
(AINS), disarankan untuk menghindari sikat gigi atau mengenai luka bekas operasi
dengan lidah, hindari hembusan dari hidung atau jangan menggunakan protesa gigi
selama tujuh hari. Follow up pasien dilakukan pada minggu ke-2, minggu ke-4 dan empat
bulan berikutnya.

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
Keluhannyeripadagusibekascabutangigidapatterjadiakibatprosesinflamasi
akutmaupunsubakut.Inflamasidapatterjadiakibatprosespenyembuhanyang
tidaksempurna,atauprosesinfeksiyangprogresif.PadaPasienTn.T,kombinasi
prosespenyembuhanyangtidaksempurnapadaekstraksigigiregio15danproses
infeksiyangprogresifberperanpentingdalammenyebabkankondisipasien.
PasienmengalamiFistulaoroantralregion15,sehinggamenyebabkanberbagai
mikrobayangterdapatpadacavumorisdapatdenganmudahmemasukiantrum
wajah,yaituSinusMaksilaris Dextra.Keadaantersebutmengakibatkan, proses
infeksitidakhanyaterjadipadagingivadaribekasekstraksigigi15saja,namun
berlanjutkesinusmaksilarisdextradanmenyebabkanSinusitisMaksilarisDextra.
Hal ini dibuktikan dengan pasien yang mengaku pernah mengeluarkan nanah
melaluigusibekascabutandanhidungsebelahkanan.
Hasil foto polos Panoramik pada pasien juga menunjukkan gambaran
Radioluscentyangmengindikasikanadanyasaluranabnormal,antaracavumoris,
11

khususnyaregio15,hinggasinusmaksilarisdextra.
Perawatanyangdapatdilakukanadalahmengurangiprosesinflamasipadagingiva
pasien,agarpasiendapatmengkonsumsimakanandanmembersihkangigidan
mulut dengan normal dan teratur. Medikamentosa yang bisa diberikan adalah
Mefinal(AsamMefenamat)500mgyangdiberikansebanyak2xsehariuntuk
meredakan nyeri dan inflamasi. Sementara untuk mengatasi infeksi, dapat
diberikanAmoxan(Amoxicillin)500mg,sebagaibroadspectrumantibiotic.
Selanjutnya,untukmengatasisinusitis,pasienperlumendapatrujukankeDokter
Spesialis THT untuk mendapatkan penanganan adekuat. Fistula yang menjadi
penyebab utama harus dievaluasi kembali dan ditutup menggunakan tampon
selama 3 minggu. Hal ini bertujuan agar mukosa gingiva dapat bertumbuh
kembali dan menutup fistula. Apabila proses penutupan tidak terjadi, dapat
dilakukan penjahitan pada fistula tersebut. Penjahitan dilakukan karena fistula
padapasieninitergolongdalamfistularingan(<2mm).
BABV
KESIMPULAN
Fistula oro antral akibat komplikasi tindakan ekstraksi atau pencabutan gigi
rahang atas terutama pada molar pertama, molar kedua, dan premolar kedua. Umumnya
penyebab fistula oro antral akibat pencabutan gigi molar pertama atas diikuti molar kedua
atas. Fistula oro antral disebabkan karena akar gigi berada dalam hubungan dekat dengan
antrum (80%). Penyebab terjadinya fistula oro antral lainnya adanya kista maksilaris (1015%), tumor jinak atau ganas (5-10%) dan trauma (2-5%). Pada kasus ini terbentuknya
fistula oroantral akibat tindakan pencabutan gigi molar 2 rahang atas.
Tanda dan gejala klinis yang tampak dari fistula oro antral adalah adanya
pembukaan atau lubang antara rongga mulut dengan antrum. Lubang yang terbentuk
sering mengalami infeksi, adanya pembentukan jaringan ikat atau jaringan granulasi dan
sering terjadi drainase mukopurulen. Pasien tidak mengeluh adanya rasa sakit, kecuali
terjadi infeksi akut pada sinus. Pada saat minum ataupun kumur-kumur pasien
mengeluhkan adanya cairan yang keluar dari hidung. Fistula oro antral juga dapat
diketahui dengan melakukan tes tiup dengan cara pasien meniup dengan hidung tertutup
dan mulut terbuka. Pada keadaan telah terjadi fistula oroantral, akan terdengar hembusan
12

udara melalui daerah yang mengalami kerusakan, dan pada soket gigi akan terlihat
gelembung udara seperti busa.

DAFTAR PUSTAKA
Kamadjaja DB. The role of proper treatment of maxillary sinusitis in the
healing of persistent oroantral fistula. Majalah Kedokteran gigi. Dental
J. 2008;41:3. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12884211.
Yilmaz T, Suslu AE, Gursel B. Treatment of Oroantral Fistula: Experience
With 27 Cases. Am J Otolaryngol.2003;24(4):221-3. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12884211.
Khitab U, Khan A, Tariqkhan M, Alishah AM. Treatment of Oroantral
Fistula- a study. Pakistan. Oral & Dental J. 2010;30(2):299-302.
Available from: http://www.podj.com.pk/Dec_2010/7-PODJ.pdf
Sokler K, Vuksan V, Lauc T. Treatment of Oroantral Fistula.Acta Stomatol
Croat. 2001;36(1):136-40. Available from: http://hrcak.srce.hr/file/5104.
Meirelles RC, Mochado R, Pinto N. Oroantral fistula and genian mucosal
flap: a review of 25 cases. Rev Bras Otorrinolaringol. 2008;74(1):85-90.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18392507.
Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head & Neck Surgery. 4th ed. Elsevier
Saunders: Phyladelphia, Pensylvania. 2005. p. 256-57.
Sulastra IW. Oroantral Fistula sebagai salah satu komplikasi pencabutan
13

dan perawatannya. J PDGI. 2009;58(1):7-11


Hernando J, Gallego L, Junquera L, Villareal P. Oroantral
communications. A retrospective analysis. Med Oral Patol Oral Cir
Bucal. 2010;15(3):499-503. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20038901.
Kale TP, Urolagin S, Khurana V, Kotrashetti SM. Treatment of Oroantral
Fistula using palatal flap-A case report and technical note. J Int Oral
Health. 2010;2 (3):77-82. Available from:
http://www.ispcd.org/~cmsdev/userfiles/rishabh/12.%20Dr%20Tejraj
%20F.pdf
Brook I. Microbiology of Acute and Chronic Maxillary Sinusitis
Associated with an Odontogenic Origin. Laringoscope. 2005; 115:823-5.
Adeyemo WL, Ogunlewe MO, Ladeinde AL, James O. Closure of oroantral fistula with pedicled buccal fat pad. A case report and review of
literature. J Oral Health. [last revised Feb 15, 2012; cited Feb 20, 2012].
Available from: http://www.ajoh.org
Abraham JJ, Berger SB. Oral-Maxillary Sinus Fistula (Oroantraiol Fistula):
Clinical Features and Findings on Multiplanar CT. American J.Roentgen.
1995;165:1273-6. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7572517.
Martin Junior JC, Keim FS, Kreibich MS. Closure of Oroantral
Communication Using Buccal Fat Pad Graft- Case Report. Intl Arch
Otorhinolaryngol. 2008; 12(3):450-3. Available from:
http://www.arquivosdeorl.org.br/conteudo/acervo_eng.asp?Id=554.
Yabroudi F, Dannan A. A Comparison between Submucosal Connective
Tissue Palatal Flap and Conventional Pedicle Palatal Flap for the Closure
of Oroantral Fistulae. Internet J Dental Science. 2009;8:1

14