Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP (IBD)

KATA PENGANTAR
Segala puji kami panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan pencipta alam semesta yang menjadikan
bumi dan isinya dengan begitu sempurna. Tuhan yang menjadikan setiap apa yang ada di bumi
sebagai penjelajahan bagi kaum yang berfikir. Dan sungguh berkat limpahan rahmat -Nya
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini demi memenuhi tugas mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar.
Penyusunan makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu
penulis mengucapakan banyak terimakasih.
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, sehingga dengan
segala kerendahan hati kami mengharapakan saran dan kritik yang bersifat membangun demi
lebih baiknya kinerja kami yang akan mendatang.
Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan informasi yang
bermanfaat bagi semua pihak.
Anjani, 17 Januari 2012
Penyusun
MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
A. Hakikat Manusia
Dalam pikiran dan perasaan manusia, ada beberapa faktor penting yang harus menjadikan
manusia sebagai makhluk yang berakal, yakni :
1. Pandangan Hidup
Pandangan Hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan jasmani
dan rohani. Pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau
negara. Semua perbuatan, tingkah laku dan aturan serta undang-undang harus merupakan
pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan.
Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat berarti cinta akan kebenaran, sedangkan
kebenaran dapat dicapai oleh siapa saja. Hal inilah yang mengakibatkan pandangan hidup itu
perlu dimiliki oleh semua orang dan semua golongan.
Setiap orang, baik dari tingkatan yang paling rendah sampai dengan tingkatan yang paling tinggi,
mempunyai cita-cita hidup. Hanya kadar cita-citanya sajalah yang berbeda. Bagi orang yang
kurang kuat imannya ataupun kurang luas wawasannya, apabila gagal mencapai cita-cita,
tindakannya biasanya mengarah pada hal-hal yang bersifat negative.
Disinilah peranan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang teguh merupakan
pelindung seseorang. Dengan memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak
akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan,
tantangan dan gangguan, serta kesulitan yang dihadapinya.
Biasanya orang akan selalu ingat, taat, kepada Sang Pencipta bila sedang dirudung kesusahan.
Namun, bila manusia sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan
pandangan hidup yang diikutinya dan berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Hal
ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain :
1. Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini.
2. Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya.

3. Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya.
4. Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada dalam
pandangan hidupnya.
5. Atau sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri.
Pandangan hidup tidak sama dengan cita-cita. Sekalipun demikian, pandangan hiup erat sekali
kaitannya dengan cita-cita. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat
mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorang dan sekelompok orang atau masyarakat.
Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, sebab kadang-kadang
pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir
didalam masyarakat. Manuel Kaisiepo (1982) dan Abdurrahman Wahid (1985) berpendapat
bahwa pandangan hidup itu bersifat elastis. Maksudnya bergantung pada situasi dan kondisi serta
tidak selamanya bersifat positif.
Pandangan hidup yang sudah diterima oleh sekelompok orang biasanya digunakan sebagai
pendukung suatu organisasi disebut ideology. Pandangan hidup dapat menjadi pegangan,
bimbingan, tuntutan seseorang ataupun masyarakat dalam menempuh jalan hidupnya menuju
tujuan akhir.
2. Cita-Cita
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup. Cita-cita, kebajikan dan sikap
hidup itu tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia tidak
dapat melepas diri dari cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu.
Orang tua selalu menimang-nimang anaknya sejak masih bayi agar menjadi dokter, insinyur, dan
sebagainya. Ini berarti bahwa sejak anaknya lahir, bahkan sejak dalam kandungan, orang tua
telah berangan-angan agar anaknya itu mempunyai jabatan atau profesi yang biasanya tak
tercapai oleh orang tuanya.
Selain dari itu, pada setiap kelahiran bayi, doa yang di ucapkan oleh family atau handai taulan
biasanya berbunyi : Semoga kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan
berbakti kepada orang tua.
Karena itu wajarlah apabila cita-cita, kebajikan, dan pandangan hidup merupakan bagian hidup
manusia. Tidak ada orang hidup tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup.
Sudah tentu kadar atau tingkat cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup itu berbeda-beda bergantung
kepada pendidikan, pergaulan, dan lingkungan masing-masing.
Cita-cita itu perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang ada dalam hati. Cita-cita sering
kali diartikan sebagai angan-angan, keinginan, kemauan, niat atau harapan. Cita-cita itu penting
bagi manusia, karena adanya cita-cita menandakan kedinamikan manusia.
Ada tiga kategori keadaan hati seseorang yakni lunak, keras,dan lemah, seperti :
- Orang yang berhati keras, biasanya tak berhenti berusaha sebelum cita-citanya tercapai. Ia tidak
menghiraukan rintangan, tantangan, dan segala esulitan yang dihadapinya. Orang yang berhati
keras biasanya juga mencapai hasil yang gemilang dan sukses hidupnya.
- Orang berhati lunak biasanya dalam usaha mencapai cita-citanya menyesuaikan diri dengan
situasi dan kondisi. Namun ia tetap berusaha mencapai cita-cita itu. Karena, biarpun lambat ia
akan berhasil juga mencapai cita-citanya.
- Orang yang berhati lemah biasanya mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Bila
menghadapi kesulitan cepat-cepat ia berganti haluan dan berganti keinginan.
3. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan pada hakikatnya adalah perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan
norma-norma agama atau etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu

baik dan makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.
Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu :
a. Manusia sebagai pribadi, Yang menentukan baik-buruknya adalah suara hati. Suara hati itu
semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi suara hati itu
merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah memilih yang baik, namun
manusia seringkali tidak mau mendengarkan.
b. Manusia sebagai anggota masyarakat, Yang menentukan baik-buruknya adalah suara hati
masyarakat. Suara hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat
menganggap baik. Sebagai anggota masyarakat, manusia tidak dapat membebaskan diri dari
kemasyarakatan.
c. Manusia sebagai makhluk tuhan, manusia pun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara
Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak
baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik dan buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau
Kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan berbentuk Hukum Tuhan atau Hukum agama.
Jadi, kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat,
dan Hukum Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku
baik, ramah-tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang
melihatnya.
Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu
ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik yang bermaksud mencari
keuntungan diri sendiri.
4. Sikap Hidup
Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap yang
positif atau yang negatif. Apakah kita mempunyai sikap optimis atau pesimis? Atau apakah kita
mempunyai sikap yang apatis?.
Sikap itu ada didalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu.orang lain hanya baru tahu setelah
kita bertindak. Sikap itu penting, setiap manusia mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap
orang berbeda sikapnya. Sikap dapat dibentuk sesuai kemauan yang membentuknya.
Sikap dapat juga berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan. Dalam menghadapi kehidupan,
manusia selalu menghadapi manusia lain atau menghadapi sekelompok manusia. Ada beberapa
sikap etis dan non etis. Sikap etis disebut juga sikap positif, dan sikap non etis disebut juga sikap
negatif.
Ada tujuh sikap etis, yaitu :
1) sikap lincah - sikap arif
2) sikap rendah hati - sikap berani
3) sikap tenang - sikap halus
4) dan sikap bangga
Sikap non etis atau sikap negatif, yaitu :
1) sikap kaku - sikap takut
2) sikap gugup - sikap kasar
3) sikap angkuh - sikap dan sikap rendah diri
Sikap-sikap ini harus dijauhkan dari diri pribadi-pribadi., karena sangat merugikan baik bagi
pribadi masing-masing maupun bagi kemajuan bangsa.
B. Manusia Dan Pandangan Hidup
Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawaciri tersendiri akan diri manusia itu.
Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan dengan

makhluk lainnya. Satu diantar keunggulan manusia tersebut ialah pandangan hidup. Disatu pihak
manusia menyadari bahwa dirinya lemah, dipihak lain menusia menyadari kehidupannya lebih
kompleks.
Kesadaran akan kelemahan dirinya memaksa manusia mencari kekuatan diluar dirinya. Dengan
kekuatan ini manusia berharap dapat terlindung dari ancaman-ancaman yang selalu mengintai
dirinya, baik yang fisik maupun non fisik. Seperti penyakit, bencana alam, kegelisahan,
ketakutan, dan sebagainya.
Selain itu manusia sadar pula bahwa kehidupannya itu lain bila dibandingkan dengan kehidupan
makhluk lain. Sadar pula bahwa dibalik kehidupan ini ada kehidupan lain yang diyakini lebih
abadi. Lebih yakin lagi bahwa kehidupan lain itu bahkan merupakan kehidupan yang
sesungguhnya.
Disana setiap manusia akan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan selama hidup
didunia. Manusia tahu benar bahwa baik dan buruk itu akan memperoleh perhitungan, maka
manusia akan selalu mencari sesuatu yang dapat menuntunnya kearah kebaikan dan menjauhkan
diri dari keburukan.
Akhirnya manusia menemukan apa yang disebut sesuatu dan kekuatan diluar dirinya .
Ternyata keduanya adalah Agama dan Tuhan . Dengan demikian bahwa pandangan hidup
merupakan masalah yang asasi bagi manusia. Sayangnya tidak semua manusia yang
memahaminya, sehingga banyak orang yang memeluk suatu agama semata-mata atas dasar
keturunan. Akibatnya banyak orang yang beragama hanya pada lahirnya saja dan tidak sampai
batinnya. Atau yang sering dikenal dengan agama KTP. Padahal urusan agama adalah urusan
akal, seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam satu hadistnya : Agama adalah akal,
tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak berakal.
Maksud Nabi Muhammad SAW tersebut ialah agar manusia dalam memilih suatu agama benarbenar berdasarkan pertimbangan akalnya, dan bukan semata-mata karena asas keturunan. Hal ini
ditegaskan oleh firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat-236 yang artinya :
Tidak ada paksaan untuk memasuki sesuatu agama, sesungguhnya telah jelas antara jalan
(agama) yang benar dan jalan (agama) yang salah.
Ternyata, pandangan hidup sangat penting. Baik untuk kehidupan sekarang maupun kehidupan di
akhirat. Dan sudah sepantasnya setiap manusia memilikinya. Maka pilihan pandangan hidup
harus betul-betul berdasarkan pilihan akal bukan sekedar ikut-ikutan saja.
Perlu kita sadari bahwa baik Tuhan maupun agama bagi kita adalah suatu kebutuhan. Bukan
kebutuhan sesaat seperti makan, minum, tidur, dan sebagainya. Melainkan kebutuhan yang terus
menerus dan abadi. Sebab setiap saat kita memerlukan perlindungan Allah SWT dan petunjuk
agama sampai diakhir nanti.
Firman Allah SWT :
Yang artinya :
Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat ; didalamnya kamu memperoleh apa
yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta. (QS.Fushilat : 31).
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Hakikat Manusia
Dalam pikiran dan perasaan manusia, ada beberapa faktor penting yang harus menjadikan
manusia sebagai makhluk yang berakal, yakni :
a. Pandangan Hidup
b. Cita-Cita

c. Kebajikan
d. Sikap Hidup
2. Manusia Dan Pandangan Hidup
Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawaciri tersendiri akan diri manusia itu.
Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan dengan
makhluk lainnya. Satu diantar keunggulan manusia tersebut ialah pandangan hidup. Disatu pihak
manusia menyadari bahwa dirinya lemah, dipihak lain menusia menyadari kehidupannya lebih
kompleks.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azumardi. Tt. Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: Team
ICCE UIN
Al-Quran Dan Terjemah. 2008. DEPAG RI
Team Educatif HTS. 2008. Modul Kewarganegaraan. Surakarta: CV. Hayati Tumbuh Subur.
Raymond Aron. 2009. Kebebasan Dan Martabat Manusia. Bandung : Yayasan Cibor Ind
BY : NURHANDIKA PARTA
http://makalah-makalah-handika.blogspot.com/2012/02/makalah-manusia-danpandangan-hidup-ibd.html

Setiap manusia di dunia ini tentu mempunyai pandangan hidupnya masing-masing yang perlu
dipersiapkan secara rinci sejak dini agar dapat terlaksana sesuai dengan harapan pada waktu
yang tepat. Pandangan hidup sendiri bersifat kodrati, yang telah diberikan oleh Tuhan kepada
setiap manusia. Adapun pengertian pandangan hidup itu adalah pendapat ataupun pertimbangan
yang dijadikan sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petujuk hidup di dunia agar dapat
menjalani hidup yang lebih baik lagi dengan adanya pandangan hidup tersebut. Pendapat atau
pertimbangan di sini merupakan hasil pemikiran manusia itu sendiri yang berdasarkan
pengalaman hidup atau sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Pada dasarnya, pandangan hidup mempunyai empat unsur yang saling terkait satu sama lain yang
tidak dapat terpisahkan, yaitu cita-cita, kebijakan, usaha, dan keyakinan atau kepercayaan. Yang
dimaksud dengan cita-cita adalah apa yang ingin dicapai dengan usaha atau perjuangan yang
akan ditempuh untuk mendapatkannya. Tujuan yang ingin dicapai adalah kebajikan. Kebajikan
adalah segala sesuatu hal yang baik yang dapat manusia itu bahagia, makmur dan tentram. Usaha
atau perjuangan yaitu kerja keras yang dilandasi oleh kepercayaan dan keyakinan. Keyakinan
atau kepercayaan itu dapat diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan
kepercayaan kepada Tuhan.
Seperti yang sedang berkembang di berbagai penjuru dunia saat ini, yaitu semakin maraknya
kasus terorisme dan bom bunuh diri yang mengatasnamakan agama yang merenggut banyak
korban dan materi yang tidak sedikit. Masalah ini terjadi akibat kurang tepatnya pandangan suatu
kelompok terhadap masalah kehidupan yang sedang terjadi. Mereka menafsirkan suatu ajaran
secara sepotong-sepotong dan hanya berdasarkan pada satu atau dua sumber saja tanpa melihat
keadaan sekitarnya.
Mereka berpandangan bahwa semua orang yang menentang atau memusuhi keyakinannya adalah
musuh bagi mereka dan itu harus dimusnahkan dari muka bumi ini untuk terciptanya kehidupan
yang aman dan sejahtera. Padahal jika diperhatikan lebih dalam sebenarnya pandangan mereka
terhadap masalah tersebut adalah kurang tepat, tidak sewajarnya orang yang keliru ditiadakan
tanpa memberi kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar.
Akan tetapi nampaknya pandangan seperti itu seperti sudah mendarah daging pada diri mereka
dan para pengikutnya. Bahkan mereka beranggapan bahwa jika melakukan hal tersebut maka
akan mendapat suatu pahala yang besar dan kalaupun mereka meninggal dalam menjalankan aksi
mereka tersebut dianggap sebagai mati syahid. Padahal jika dinilai justru perbuatan yang mereka
lakukan itu sangat sangat biadab dan tidak berperikemanusiaan.
Lebih parahnya lagi, mereka juga tidak segan-segan untuk menyebarkan ajarannya tersebut
kepada orang-orang yang di sekitar mereka sehingga pengikut mereka menjadi bertambah
banyak. Dan hal tersebut tidak akan berhenti sebelum apa yang mereka inginkan tercapai.
Seperti yang kita lihat sekarang ini, meskipun pimpinan gembong teroris sudah banyak yang
tertangkap tetapi terorisme masih terus terjadi. Hal tersebut dikarenakan bahwa ajaran yang
mereka ajarkan masih belum mati dan terus berjalan sehingga siapa saja bisa menerukan ajaran
tersebut meskipun sang pemimpin telah tiada, karena mereka bisa membentuk kader-kader
pemimpin baru.
Untuk masalah tersebut hal yang harus dibenahi sebenarnya adalah pandangan hidup pada
pribadi masing masing orang tersebut. Kalau yang dibasmi adalah pemimpinnya itu belum bisa
menuntaskan permasalahan karena pengikutnya masih banyak dan hal itu sulit untuk ditelusuri
satu per satu. Kalau pandangan hidup mereka sudah kembali ke jalan yang benar, tidak perlu lagi
diperintah pun mereka akan menghentikan aksi yang mereka jalankan sekarang ini dengan
kesadaran pribadi.

Pandangan hidup banyak sekali macam dan ragamnya. Akan tetapi berikut adalah klasifikasi
berdasarkan asalnya, antara lain:
1.
Pandangan hidup yang berasal dari agama, yaitu pandangan hidup yang mutlak
kebenarannya.
2.
Pandangan hidup yang berupa ideologi, yang disesuaikan dengan kebudayaan dan
norma yang terdapat pada Negara tersebut.
3.
Pandangan hidup hasil renungan, yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
Orang yang memiliki pandangan hidup pasti memiliki tujuan, dan tujuan ini biasa disebut citacita. Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan,
atau tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan
apa yang ingin dicapai seseorang pada masa mendatang. Apabila cita-cita itu tidak mungkin atau
belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu disebut angan-angan.
Antara masa sekarang yang merupakan realita dengan masa yang akan datang sebagai ide atau
cita-cita terdapat jarak waktu. Dapatkah seseorang mencapai apa yang dicita-citakan, hal itu
bergantung dari tiga faktor berikut:
1.
Faktor manusia ;
2.
Faktor kondisi ; dan
3.
Faktor tingginya cita-cita
Terdapat formula sukses yang dapat kita jadikan pedoman untuk menggapai cita-cita kita.
Pertama, kita harus mengubah belief system (keyakinan dan tujuan) kita. Kedua, kita harus
mengubah cara berpikir kita dan emosi kita. Ketiga, mengubah segala keputusan kita yang dapat
menghambat cita-cita kita. Keempat, kita harus mengubah segala tindakan-tindakan buruk kita.
Dari semua itu kita akan mendapatkan hasil yang menjadi keyakinan dan tujuan kita dari awal.
Cita-cita yang baik adalah cita-cita yang dicapai melalui kerja keras, kreativitas, inovasi,
dukungan orang lain dan sebagainya. Khayalan hasil melamun cenderung tidak logis dan bersifat
mubazir karena banyak waktu yang terbuang untuk menghayal yang tidak-tidak.
Dalam bercita-cita pun sebaiknya jangan terlalu mendetail dan fanatik karena kita bisa dibuat
stres dan depresi jika tidak tercapai, harus disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki.
Tidak semua orang bisa menentukan cita-cita. Jika tidak bisa menentukan cita-cita, maka bercitacitalah untuk menjadi orang yang berguna dan dicintai orang banyak dengan hidup yang
berkecukupan. Untuk mendapatkan motivasi dalam mengejar cita-cita kita bisa mempelajari
kisah sukses orang lain atau membaca atau melihat film motivasi hidup seperti Laskar Pelangi.
Langkah-langkah Berpandangan Hidup yang Baik
Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup apapun dan bagaimanapun itu untuk dapat
mencapai dan berhasil dalam kehidupan yang diinginkannya. Tetapi apapun itu, yang terpenting
adalah memiliki pandangan hidup yang baik agar dapat mencapai tujuan dan cita-cita dengan
baik pula. Adapun langkah-langkah berpandangan hidup yang baik yakni:
Mengenal
Mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap
aktivitas hidupnya yang dalam jal ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya kita yakin
dan sadar bahwa setiap manusia itu pasti mempunyai pandangan hidup, maka kita dapat
memastikan bahwa pandangan hidup itu ada sejak manusia itu ada, dan bahkan hidup itu ada
sebelum manusia itu belum turun ke dunia.
Mengerti
Tahap kedua untuk berpandangan hidup yang baik adalah mengerti. Mengerti disini
dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bemegara kita

berpandangan pada Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila kita hendaknya
mengerti apa Pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan bemegara. Begitu juga bagi yang
berpandangan hidup pada agama Islam. Hendaknya kita mengerti apa itu Al-Quran, Hadist dan
ijmak itu dan bagaimana ketiganya itu mengatur kehidupan baik di dunia maupun di akhirat.
Menghayati
Langkah selanjutnya setelah mengerti pandangan hidup adalah menghayati pandangan hidup itu.
Dengan menghayati pandangan hidup kita memperoleh gambaran yang tepat dan benar
mengenai kebenaran pandangan hdiup itu sendiri.
Menghayati disini dapat diibaratkan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya, yaitu
dengan memperluas dan mernperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu sendiri.
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka menghayati ini, menganalisa hal-hal yang
berhubungan dengan pandangan hidup, bertanya kepada orang yang dianggap lebih tahu dan
lebih berpengalaman mengenai isi pandangan hidup itu atau mengenai pandangan hidup itu
sendiri. Jadi dengan menghayati pandangan hidup kita akan memperoleh mengenai kebenaran
tentang pandangan hidup itu sendiri.
Meyakini
Setelah mengetahui kebenaran dan validitas, baik secara kemanusiaan, maupun ditinjau dari segi
kemasyarakatan maupun negara dan dari kehidupan di akherat, maka hendaknya kita meyakini
pandangan hidup yang telah kita hayati itu. Meyakini ini merupakan suatu hal untuk cenderung
memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai suatu tujuan hidupnya.
Mengabdi
Pengabdian merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang
telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi
maka kita akan merasakan manfaatnya. Sedangkan perwujudan manfaat mengabdi ini dapat
dirasakan oleh pribadi kita sendiri. Dan manfaat itu sendiri bisa terwujud di masa masih hidup
dan atau sesudah meninggal yaitu di alam akhirat.
source :
http://taufikhidayah21.wordpress.com/2013/06/05/ilmu-budaya-dasar-manusia-danpandangan-hidup/

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam hidip ini, pandangan hidup ternyata sangat penting, baik untuk kehidupan sekarang
maupun akan datang. Pandangan hidup merupakan bagian hidup manusia, karena tidak ada
seorang pun yang hidup tanpa pandangan hidup merkipun tingkahnya berbeda-beda.
Menurut Koendjaraningrat, pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu
masyarakat, yang dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan di dalam masyarakat.
Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup, semuanya itu tidak dapat
dipisahkan dengan kehidupan.
Dalam hidup ini kita sangat membutuhkan pandangan hidup, karena pandangan hidup akan
mengacu kita pada kehidupan yang lebih baik dan memotifikasi kita untuk menggapai sesuatu
yang kita inginkan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP DAN IDEOLOGI
a. Pengertian Pandangan Hihup
Menurut Koentjaraningrat (1980) pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh
suatu masyarakat yang dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan didalam
masyarakat. Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan dan sikap hidup. Sedangkan
menurut Manuel Kaisiepo 1982, pandangan hidup merupakan bagian hidup manusia. Tidak ada
seorang pun tang hidup tanpa pandangan hidup meskipun tingkatannya berbeda-beda. Pandangan
hidup mencerminkan citra dari seseorang karena pandangan hidup itu mencerminkan cita-cita
atau aspirasinya.
Apa yang dikatakan oleh seseorang adalah pandangan hidup karena dipengaruhi oleh pola
berfikir tertentu. Tetapi, terkadang sulit dikatakan sesuatu itu pandangan hidup, sebab dapat pula
hanya suatuidealisasi belaka yang mengikuti kebiasaan berfikir yang sedang berlangsung di
dalam masyarakat. Setiap Bangsa, Negara maupun manusia yang ingin berdiri kokoh dan
mengetahui dengan jelas kearah mana tujuan yang ingin dicapainya sangatmemerlukan
pandangan hidup. Dengan pandangan hidup yang jelas, suatu Bangsa, Negara maupun manusia
akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana ia memecahkan masalah-masalah yang timbul
dalam gerak masyarakat yang semakin maju. Berpedoman pada pandangan hidup itu pula
seseorang akan mampu membangun dirinya.
Pandangan hidup cendrung diikat oleh nilai-nilai sehingga berfungsi sebagai pelengkap
dalam pembuatan, pembenaran atau rasionalisasi nilai-nilai. Pandangan hidup memberi
pandangan pada nilai-nilai yang dimilikinya sendiri baik Bangsa, Negara maupun manusia yang
diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekat untuk mewujudkannya.
b. Sumber Pandangan Hidup
Macam-macam pandangan hidup dapat digolongkan kedalam tiga kelompok, yaitu:
1) Pandangan hidup yang bersumber dari agama (pandangan hidup muslim). Pandangan hidup ini
memiliki kebenaran mutlak. Contoh, pandangan hidup muslim(orang islam) bersumber dari Al-

Quran dan sunnah (sikap, perkataan, dan perbuatan Nabi Muhammad SAW). Dengan demikian
maka pandangan hidup muslim yang setia kepada islamtentang berbagaimasalah asasi hidup
manusia, merupakan jawaban muslim yang islam oriented mengenai berbagai persoalan pokok
hidup manusia yang tersimpul dalam Al-Quran dan Hadits.
Pandangan hidup muslim terdiri atas:
a)

Pedoman hidupnya ialah Al-Quran yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 2, yang artinya:
Kitab Al-Quran tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang takwa. Dan sunnah
Rasul (hadits), yang artinya: Sesungguhnya aku tinggalkan untuk mu dua perkara, tidak sekalikali kamu tersesat sepanjang kamu berpegang pada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Quran) dan

Sunnah Rasul (Hadits). (H.R. Malik)


b) Dasar hidup ialah Islam
c) Tujuan hidupnya:
Berdasarkan arahnya ialah:
Tujuan hidupnya yaitu mendapat keridhaan Allah SWT
Kebahagiaan dunia dan akhirat
Menjadi rahmat bagi segenap Alam
Ditinjau dari segi lingkungan
Tujuan sebagai individu
Tujuan sebagai anggota keluarga
Tujuan sebagai warga lingkungan
Tujuan sebagai warga Negara atau Bangsa
Tujuan sebagai warga dunia
Tujuan sebagai warga alam semesta
d) Tugas hidup muslim adalah beribadah kepada Allah
e) Fungsi hidup muslim adalah:
Sebagai khalifah diatas bumi, yaitu menerjemahkan segala sifat-Nya kedalam perikehidupan dan
kehidupan sehari-hari dalam batas-batas kemanusiaan (kemampuan), melaksanakan segala yang
diridhai Allah diatas persada buana ciptaan Allah, yaitu yang tercantum dalam surat Al-Baqarah
ayat 30.
Sebagai fungsi risalah atau penerus risalah (ajaran) Nabi, pengembang tugas dakwah kepada
f)

segenap umat manusia, yaitu yang tercantum dalam Al-Quran surat Ali-Imran ayat 104.
Alat hidup muslim adalah harta menda dan segala sesuatu yang dimilikinya, jiwa-raga dan

g)

sebagainya
Teladan hidupnya adalah Nabi Muhammad SAW utusan Allah SWT., yang dijelaskan dalam AlQuran surat Al-Qalam ayat 4, dan dalam Hadits yang artinya: Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak manusia yang utama.

h)

Kawan hidup muslim dalam arti khusus adalah sumu/ istri yang taat kepada Allah yang
tercantum dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 34, Al-Araf ayat 189, At-Taubah ayat 71, dan

i)

surat Ar-Rum ayat 21.


Lawan hidup muslim adalah setan yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 168, dan
bangsa jin serta manusia yang tercantum dalam surat An-Nas ayat 4-6.

2) Pandangan hidup yang bersumber dari ideologi merupakan abstaksi dari nilai-nilai budaya suatu
negara atau bangsa. Misalnya ideologi pancasila
3) Pandangan hidup yang bersumber dari hasil renungan seseorang sehingga dapat merupakan
ajaran atau etika hidup. Misalnya aliran kepercayaan seperti agama Animisme, Kong Chu, Sinto,
Budha, Hindu, Angtingkan, dll.
c.

Ideologi
Menurut William J. Goode, dalam bukunya Vocabulary for Sosiology (1959) ideologi
mengandung dua hal. Yaitu:

1)

Unsur-unsur filsafat yang digunakan, atau usulan-usulan yang digunakan sebagai dasar untuk

kegiatan.
2) Pembenaran intelektual untuk seperangka norma-norma, seperti kapitalisme dan sebagainya.
Ideologi merupakan komponen dasar terakhir dari sistem-sistem dasar kepercayaan dan
petunjuk hidup sehari-hari. Sesuatu ideologi bagi masyarakat tersusun dari tiga unsur, yaitu:
a) Pandangan hidup (world view)
b) Nilai-nilai (value)
c) Norma-norma (lenski, 1974)
Pandangan ini menunjukkan bahwa pandangan hidup itu merupakan bagian dari ideologi.
Kebudayaan dapat membuat kemungkinan-kemungkinan menjawab pertanyaan mengapa (why)
tentang sesuatu dari kehidupan. Untuk menjawabnya, masyarakat mengepresikan

hasil

kebudayaan untuk mencapai beberapa pengertian. Dalam kenyataan ternyata ilmu pengetahuan
mampu menjawap pertanyaan mengapa (why)-nya sesuatu, tetapi sekaligus mengundang
pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
Pada abad ke-18 dan pada awal ke-20 banyak orang berfikir bahwa ilmu pengetahuandapat
menggantikan semua kedudukan ideologi (termasuk pandangan hidup) dan merupakan
pelengkap terakhir dari keterbatasab pandangan hidup. Sudah mafhum bahwa sains modern telah
memikirkan segala sesuatu, bahkan mendidik pribadi untuk bersikap mengambil sejumlah

kemudahan dalam rumuskan pandangan hidupnya. Tetapi, lambat laun sains tidak dapat
menghasilkan kreasinya, dalam kenyataan ia menghindar dari soal-soal yang berdasar tentang
realitas.
Dalam ideologi tindak hanya ada norma dan pandangan hidup, tetapi ada nilai-nilai. Hanya
yang penting ialah nilai-nilai itu cendrung mengikat pandangan hidup. Pandangan hidup
merupakan pelengkap nilai-nilai dalam membuat pembenaran atau rasionalisasi untuk nilai-nilai,
seperti untuk melakukan suatu kegiatan; pandangan hidup memberi semangat kepada nilai-nilai.
Dari uraian diatas, nampak pada kita bahwa ideologi lebih luas dari pada pandangan hidup.
Ideologi biasanya tidak dipakai dalam hubungan individu. Ideologi digunakan dalam konteks
yang lebih luas, seperti ideologi negara, ideologi masyarakat atau ideologi kelompok tertentu.
Tetapi, lahirnya suatu Ideologi dapat disusun secara sadar oleh tokoh-tokoh pemikir suatu
masyarakat atau golongan tertentu dari masyarakat, yang diperuntukan bagi masyarakat.

B. MAKNA CITA-CITA
Cita-cita adalah suatu keiginan yang terkandung didalam hati, karena itu cita-cita juga
berarti angan-angan, keiginan, harapan, atau tujuan.
Cita-cita tidak dapat dipaksakan dari kehidupan manusia, karena tanpa cita-cita berarti
manusia tanpa dinamika. Tidak ada dinamika berarti tidak ada kemajuan dan hidup asal hidup
saja. Itu sebabnya sikap hidup hanya menimbulkan daya kreatifitas manusia. Banyak hasil seni
yang melukiskan cita-cita, kebajikan dan sikap hidup seseorang. Cita-cita sering lkali berupa
perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang tidak ada dalam hati. Cita-cita diartikan
sebagai angan-angan, keinginan, kemauan, niat, atau harapan, keinginan ada yang baik dan ada
yang buruk, keinginan yang baik adalah keinginan yang dicapai dengan tidak merugikan orang
lain. Keinginan buruk adalah keinginan yang dapat merugikan orang lain.
Cita-cita berarti harapan, keinginan, dan tujuan. Contoh cata-cita yang berarti harapan.
Misalnya, Adi mendapat nilai C bukan main kecewanya, ia mengharapkan nilai A, sebab

pesiapan untuk final yang dilaksanakannya cukup lama dan ia merasa telah menguasai benarbenar materi yang diujikan.
Cita-cita yang berarti keinginan. Maya ingin sekali melanjutkan studinya UGM. Ia
mendaftar dan mengikuti testing masuk perguruan tinggi. Ternyata tidak lulus sehingga ia tidak
dapat melanjutkan studinya di UGM.
Contoh cita-cita tang berarti tujuan, Nana bertujuan setamat SMA akan melanjutkan
sekolahnya di Jakarta, ikut pamannya. Ternyata tamat SMA, pamannya dipindah tugaskan keluar
jawa. Hal itu menyebabkan Nana tidak jadi melanjutkan sekolahnya di Jakarta.
Ada tiga katagori keadaan hati seseorang.
a.

Orang yang berhati keras, tak berhenti berusaha sebelum cita-citanya tercapai. Ia tidak
menghiraukan rintangan, tantangan dan segala kesulitan yang dihadapinya. Orang yang berarti

keras biasanya mencapai hasil yang gemilang dan sukses hidupnya.


b. Orang yang berhati lunak dalam usaha mencapai cita-cita menyesuaikan diri dengan situasi dan
kondisi. Namun ia tetap berusaha mencapai cita-cita itu, karena itu biarpun lambat ia akan
c.

berhasil juga mencapai cita-cita.


Orang yang lemah, mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi bila menghadapi kesulitan cepatcepat ia berganti haluan atau berganti keinginan.

C. MAKNA KEBAJIKAN
Kebajikan dapat diartikan

kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan,

keselamatan, keuntungan, kemakmuran dan kebahagiaan. Manusia berbuat kebaikan karena


menurut kodratnya, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Dengan kesucian jiwanya itu
mendorong hati nuraninya untuk berbuat kebaikan. sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan berbuat kebajikan. (Q. S AN-Nahl = 90).
Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Kedua unsur
itu terpisah bila manusia meninggal. Karena pribadi merupakan, manusia mempunyai pendapai
sendiri, ia mencintai diri sendiri, perasaan sendiri, cita-cita sendiri dan sebagainya.
Manusia merupakan makhluk sosial: manusia hidup bermasyarakat, manusia saling
membutuhkan, saling tolong menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat.
Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membanci, saling merugikan dan sebagainya. Manusia
sebagai makhluk tuhan, diciptakan manusia dapat berkembang karena Tuhan. Untuk itu manusia

di lengkapi kemampuan jasmani dan rohani, juga fasilitas alam sekitarnya seperti tanah, air,
tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya.
Kebajikan dapat dilihat dari tiga segi yaitu:
a.

Manusia sebagai pribadi; dapat menentukan baik buruk. Yang menentukan baik buruk itu adalah
suara hati. Suara hati bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi, suara
hati itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah memilih yang baik,

namun manusia sering kali tidak mau mendengarkannya.


b. Manusia sebagai anggota masyarakat; yang menentukan baik buruk adalah suara hati
masyarakat. Suara hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat
menganggap baik.
c. Manusia sebagai makhluk Tuhan; melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya.
Kebajikan berasal dari dua sumber yaitu:
a. Manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini (Q. S AL-Baqarah: 30)
b. Allah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya.
Kebajikan Tuhan adalah berupa karunia-Nya. Bagi orang yang tidak beriman kepada
Tuhan, mereka tidak percaya adanya kebajikan yang berasal dari karunia-Nya, tetapi bagi orang
yang beriman, ia percaya bahwa kebajikan manusia adalah karena karunia-Nya juga, manusia
hanya sebagai perantaraannya saja.
Kebajikan dapat dikelompokkan dalam tiga, yaiu:
a.

Kebajikan yang berupa tingkah laku, misalnya sabda dan perbuatan Nabi Muhammad SAW

merupakan Rahmatan Lilalamin.


b. Kebajikan yang berupa benda-benda, misalnya harta kekayaan, bila tidak diamalkan maka harta
tersebut hanya berjasa bagi pemiliknya saja, bila diamalkan harta demikian berfungsi untuk
c.

sosial.
Kebajikan yang berupa benda yang tak berwujud, misalnya ilmu pengetahuan, kemampuan dan
keahlian untuk menciptakan sesuatu.
Pepatah mengatakan bahwa. Ilmu yang tidak di amalkan ibarat pohon yang tidak
berbuah. Tetapi ilmu yang diamalkan memiliki makna kebajikan dan keutamaan yang dalam
sekali. Nabi Muhammad SAW bersabda Barang siapa yang di kehendaki baik oleh Allah maka
ia di pintarkan dalam hal keagamaan dan diilhami oleh-Nya kepandaian dalam hal itu. (H. R
Bukhari, Muslim, Tabrani).

Hadits diatas menjelaskan bahwa betapa tinggi nilai ilmu pengetahuan itu sehingga
dipersamakan seiring dengan derajat kenabian, betapa pula rendahnya suatu amalan yang sunyi
dari ilmu pengetahuan, sekalipun yang beramal ibadat itu tentunya tidak terlepas dari
pengetahuan cara ibadat yang senantiasa di kekalkan mengerjakannya, maka jika tanpa
pengetahuan cara peribadatannya pastilah bukan ibadat namanya.
Contoh seperli wasiat Luqman kepada anaknya: Hai anak ku, pergaulilah para alim
ulama dan rapatilah mereka itu dengan kedua lutut mu, sebab sesungguhnya Allah SWT
menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan
lebat dari langit.
Hidup adalah kegelapan
Jika tanpa hasrat dan keinginan
Hasrat adalah butang
Jika tanpa pengetahuan
Dan pengetahuan adalah hampa
Jika tidak diikuti pelajaran
Semua pelajaran akan sia-sia
Jika tidak disertai cinta
(KAHLIL GIBRAN)
D. KEPERCAYAAN/ KEYAKINAN
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution (bahan ceramah pada perantaran pengajar Ilmu Budaya
Dasar di Bukit Tinggi, 1981), menurut beliau ada tiga aliran filsafat:
a. Aliran Naturalisme
Hidup manusia dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi.
Kekuatan gaib itu dari natur, dan natur itu dari Tuhan. Tetapi bagi yang tidak percaya pada
Tuhan, natur itulah yang tinggi. Tuhan menciptakan alam semesta lengkap dengan hukumhukumnya, secara mutlak di kuasai Tuhan. Manusia sebagai makhluk tidak mampu menguasai
alam ini karena manusia itu lemah, manusia hanya dapat berusaha dan berencana tapi yang
menentukannya adalah Tuhan.

Bagi yang percaya pada Tuhan, Tuhan itulah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah makhluk
ciptaan Tuhan, karena itu manusia mengabdi pada ajaran-ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran
agama ada dua yaitu:
Ajaran agama yang dogmatis yaitu yang di sampaikan Tuhan melalui Nabi-Nabi, sifatnya tetap
dan tidak berubah
Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya relatif
(terbatas) dan berubah sesuai dengan perkembangan agama.
Apabila aliran naturalisme ini di hubungkan dengan pandangan hidup maka keyakinan
manusia itu bermula dari Tuhan. Jadi, pandangan hidup yang dilandasi oleh ajaran-ajaran agama,
manusia yakin bahwa kebajikan itu di ridhai oleh Tuhan. Pandangan hidup yang dilandasi bahwa
Tuhanlah kekuasaan tertinggi, yang menentukan segala-galanya disebut pandangan hidup
keagamaan (religius), sebaliknya apabila manusia tidak mengakui adanya Tuhan, natur adalah
kekuatan tertinggi, maka keyakinan itu berasal dari natur dan pandangan hidup yang dilandasi
oleh natur, manusia yakin bahwa kebajikan itu kebajikan natur dan pandangan hidup ini sifatnya
ateistik. Disebut pandangan hidup komunisme.
b. Aliran Intelektualisme
Dasar aliran ini adalah akal atau logika. Manusia mengutamakan akal, dengan akal
manusia berfikir. Mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun mungkin
bertentangan dengan hati nurani . akal berasal dari bahasa Arab yang artinya Kalbu yang
berpusat dihati, sehingga timbullah istilah Hati Nurani artinya daya rasa.
Apabila aliran ini di hubungkan dengan pandangan hidup, maka keyahinan manusia itu
bermula dari akal. Jadi, pandangan hidup itu dilandasi oleh keyakinan, kebenaran yang diterima
akal. Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat
diperoleh dengan akal.
c.

Aliran Gabungan
Aliran gabungan adalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang
berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar
kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik
sebagai logika berfikir maupun sebagai lohika rasa. Jadi, apa yang benar menurut logika berfikir,
juga dapat diterima oleh hati nurani. Logika berfikir tidak ditekankan pada logika berfikit
individu, melainkan logika berfikir kolektef (masyarakat) pandangan hidup ini adalah disebut

sosialisme akal dalam arti baik sebagai logika berfikir maupun sebagai daya rasa, logika berfikir
secara individual maupun kolektif. Pandangan hidup ini disebut sosialisme religius. Dua
pandangan hidup ini terdapat perbedaan pokok. Pandangan hidup sosialisme menekan pada
logika berfikir kolektif, sedangkan pandangan hidup sosialisme religius menekan pada logika
berfikir kolektif dan individual. Pandangan hidup sosialisme mengutamakan logika berfikir dari
pada hati nurani, sedangkan sosialisme religius mengutamakan kedua-duanya, logika berfikir dan
hati nurani.
E. MAKNA SIKAP HIDUP
Sikap hidup adalah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Sikap itu bisa positif, bisa
negatif, apatis atau sikap optimis atau persimis, bergabung pada pribadi orang itu dan juga
lingkungannya.
Sikap itu penting, setiap orang mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda
sikapnya. Sikap dapat dibentuk sesuai dengan kemauan yang membentuknya. Pembentukan
sikap ini terjadi melalui pendidikan. Seperti halnya orang militer yang bersikap tegas, berdisiplin
tinggi, sikap kesatria, karena dalam kemiliteran ia dididik kearah sikap itu. Sikap dapat juga
berubah karena situasi, kondisi, dan lingkungan.
Dalam menghadapi kehidupan, yang berarti manusia menghadapi manusia lain atau
menghadapi kelompok manusia, ada beberapa sikap etis dan nonetis. Sikap etis ini disebut juga
sikap positif yaitu sikap lincah, sikap tenang, dikap halus, sikap berani, sikap arif, sikap rendah
hati dan sikap bangga.
Sikap nonetis atau negatif ialah sikap kaku, sikap gugup, sikap kasar, sikap takut, sikap
angkuh, sikap rendah diri. Sikap-sikap itu harus di jauhkan dari diri pribadi, karena sangat
merugikan baik bagi pribadi masing-masing maupun bagi kemajuan bangsa.
Dalam berbagai perpustakaan, khususnya yang menelaah sikap manusia, ada semacam
kesepakatan bahwa sikap tidak lain merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang
berarti bahwa sikap seseorang terhadap objek tertentu pada dasarnya merupakan hasil
penyesuaian diri seseorang terhadap objek yang bersangkutan dengan dipengaruhi oleh
lingkungan susial serta kesediaan untuk bereaksi terhadap objek tersebut
Dalam kurun waktu setengah abad terakhir inipengkajian terhadap sikap manusia,
khususnya yang dilakukan oleh disiplin spikologi sosial, ada yang mengatakan sikap berpangkal

pada pembawaan atau kepribadian, ada yang menempatkan sikap sebagai motif atau sesuatu
kontruk yang mendasari tingkah laku seseorang, dan ada pula yang mengidentikkan sikap sengan
keyakinan, kebiasaan, pendapat atau konsep-konsep yang dikembangkan oleh seseorang. Bahwa
mengidentifikasi sikap tidak dapat dilihat secara langsung akan tetapi harus ditafsirkan terlebih
dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup. Secara operasional pengertian sikap
menunjukkan konotasi ada kesesuaian reaksi terhadap katagori stimulus tertentu, sementara
dalam penggunaan praktis sikap sering kali dihadapkan dengan rangsang sosial dan reaksi yang
bersifat emosional.
Menurut T. M. Newcomb, sikap manusia bukanlah suatu kontruk yang berdiri sendiri, akan
tetapi paling tidak ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan yang lain, seperti dorongan,
motivasi, nilai-nilai sikap. Dorongan adalah keadaan organisme yang menginisiasikan
kecendrungan kearah aktivitas umum. Motivasi adalah kesiapan yang ditujukan pada sasaran dan
dipelajari untuk tingkah laku dan bermotivasi. Sikap adalah kesiapan secara umum untuk suatu
tingkah laku bermotivikasi, sedangkan nilai-nilai adalah sasaran atau tujuan yang bernilai
terhadap berbagai pola sikap dapat.
Menurut Van Peursen dalam bukunya strategi kebudayaan mengenai aktualisasi sikap
manusia dari zaman ke zaman dalam menghadapi kekuasaan-kekuasaan tersebut, melihat adanya
3 periode peralihan yang mencolok yang dialami manusia pada umumnya. Ketiga pagiode itu
adalah:
a.

Tahap mitis ialah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib

disekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan


b. Tahap antiologi ialah sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan, ia menyusun suatu
ajaran atau teori mengenai dasar hakikatnya segala sesuatu (antologi) dan mengenai segala
c.

sesiatu menurut perinciannya (ilmu-ilmu)


Tahap fungsianal ialah sikap dan alam pikiran yang makin nampak dalam diri manusia modern.
Ia tidak begitu terpesona lagi oleh lingkungan (sikap mitis), ia tidak lagi dengan kepala dingin
ambil jarak terhadap objek penyelidikannya (sikap antologis).
Sementara itu Franz Magnis Suseno melihat adanya dua bahaya yang terjadi kendala bagi
manusia dalam upaya memenuhi ataupun mempertahankan sikap hidup, kedua bahaya yang
dimaksud adalah nafsu dan pamrih.
Nafsu adalah perasaan-perasaan kasar yang bisa menggagalkan kontrol diri manusia dan
sekaligus membelenggunya secara buta secara lahir. Nafsumemperlemah manusia karena

pemborosan kekuatan-kekuatan batin tanpa guna. Seseorang yang dikuasai nafsu, boleh jadi
tidak lagimenuruti akal budinya, tidak bisa lagi mengembangkan segi-segi halusnya, semakin
mengancam

lingkungannya,

menimbulkan

konflik

dan

ketegangan-ketegangan

dalam

masyarakat dan pada instansi terakhir, membahayakan ketentraman.


Pamrih dan egoisme juga menjadi musuh manusia. Ini bias dimengerti mengingat
seseorang yang bertindak lantaran pamrih semata-mata biasanya cendrung mengusahakan
kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan masyarakat. Dilihat dari kacamata
sosial pun pamrih itu selalu mengacau karena merupakan tindakan tanpa perhatian terhadap
keselarasan sosial. Selain itu pamrih sekaligus memperlemah manusia dari dalam, karena sikap
yang mengajar pamrih biasanya akan memutlakkan kekuatannya sendiri. Dengan demikian itu ia
mengisolasikan dirinya sendiri dan memotong diri dari sumber kekuatan

batin yang tidak

terletak dalam individualitasnya, melainkan dalam dasar yang mempersatukan semua kekuata
pada dasar jiwa mereka.
Menurut Soetrisno dalam bukunya Falsafah Hidup Pancasila sebagaimana tercermin
Falsafah Hidup Orang Jawa, ia melihat adanya tiga, yaitu:
a. Selalu ingin menang sendiri
b. Selalu ingin benar sendiri
c. Hanya mementingkan kebutuhannya sendiri
Selain yang tertera diatas ada juga sikap lain yang dianggap kurang baik, yaitu kebiasaan
untuk menarik keuntungan sendiri dari setiap situasi tanpa memperhatikan masyarakat
kecendrungan untuk memperoleh hak yang lebih dibanding orang lain dengan alasan juga yang
diberikannya.
F. MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
Akal dan budi sebagai milik manusia ternyata membawa ciri tersendiri akan diri manusia
itu. Sebab akal dan budi mengakibatkan manusia memiliki keunggulan dibandingkan makhluk
lain. Satu diantara keunggulan manusia tersebut adalah pandangan hidup. Disatu pihak manusia
menyadari kehidupannya lebih kompleks.
Pandangan hidup berupa suatu penggaris yang mungkin dapat dinyatakan dengan kata-kata
sebagai rumusan juga dapat dikatakan rumusan:
a.

Orang yang sulit menyusun perasaan, pikiran dan kejiwaan.

b. Juga karena ia sendiri menyadari bahwa mungkin ia dapat berbuat/ bertindak yang melanggar
prinsip-prinsip yang dikatakan.
c. Dan khawatir kalau ada kritik besar dan penyelewengan pandangan hidup dari anak-anak atau
orang yang di bimbing.
Menurut Drijarko S. J. Mengatakan bahwa manusia itu serba terhubung dengan dunia
jasmani sekitarnya, terhubung erat dengan masyarakat dan akhirnya manusia itu tergantung
seluruhnya pada yang ada, yang mutlak, yaitu Tuhan.
Pandangan hidup adalah Filsafat hidup. Sesuai dengan arti filsafat yaitu cinta akan
kebenaran tentulah bentuk kebenaran yang akan dicapai kebenaran yang dapat diterima oleh
siapa saja.
Kesadaran akan kelemahan dirinya memaksa manusia mencari kekuatan diluar dirinya.
Dengan kekuatan ini manusia berharap dapat terlindung dari ancaman-ancaman yang selalu
mengintai dirinya, baik yang fisik maupun yang non fisik, seperti penyakit, bencana alam,
kegelisahan, ketakutan.
Banyak orang yang pandangan hidupnya didasari pandangan-pandangan hidup untuk
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya; pada waktu mudanya, tetapi disaat-saat mendekati
kematiannya mulai berbuat seperti orang-orang yang hidup beragama.
Jadi pandangan hidup merupakan keseluruhan garis dan kecendrungan jalan-jalan dan
nilai-nilai yang akan dicapaiuntuk landasan semua dimensi kehidupan. Dengan demikian bahwa
pandangan hidup merupakan masalah yang asasi bagi manusia. Sayangnya manusia tidak
memahami dan menyadarinya, sehingga banyak orang yang memeluk sesuatu agama sematamata atau sadar keturunan. Akibatnya banyak orang yang beragama hanya pada lahirnya saja dan
tidak sampai batinnya, atau sering dikenal dengan agama KTP. Padahal urusan agama adalah
urusan akal, seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW: Agama adalah akl, tidak ada
agama bagi orang-orang yang tidak berakal.
Maksud Nabi Muhammad SAW tersebut adalah agar manusia dalam memilih suatu agama
benar-benar berdasarkan pertimbangan akalnya, dan bukan semata-mata karena asas keturunan.
Hal ini di tegaskan dalam firman Allah SWT, surat Al-Baqarah ayat 236 yang artinya: Tidak
ada paksan untuk memasuki suatu agama, sesungguhnya telah jelas antara jalan (agama) yang
benar dan jalan (agama) yang salah.

Dalam firman Allah SWT itu tersirat bahwa betapa Dia menghargai akal manusia. Dia
hanya menawarkan atau mendorongkan ini yang baik dan ini yang buruk. Akhir keputusan
terserah kepada manusia, sebab manusia mempunyai akal. Dan Allah SWT telah berfirman
dalam surat Ali Imran ayat 19 yang artinya: Agama yang benar bagi Allah itu hanyalah Islam.
Namun agama apa yang akan dipilih oleh manusia sebagai sandaran hidupnya, diserahkan
hidupnya kepada manusia itu sendiri.
Pandangan hidup ternyata sangat penting, baik untuk kehidupan sekarang maupun
kehidupan di akhirat, dan sudah sepantasnya setiap manusia memilikinya. Maka pilihan
pandangan hidup harus betul-betul berdasarkan pilihan akal, bukan sekedar ikut-ikutan saja.
Pandangan hidup berbeda dengan cita-cita. Cita-cita misalnya:
Ingin punya istri cantik, terpelajar tapi setia
Ingin punya suami tinggi, tampan (simpatik), pilot dan setia
Ingin jadi insinyur, doktor, atau pilot
Ingit hidup selamat, bahagia alis tidak kekurangan apapun
Sedangkan pandangan hidup:
Hidup bahagia, sejahtera
Hidup sejahtera, penuh kebahagiaan dan cinta kasih
Hidup panjang umur untuk sanad kerabat dan dirinya serta bahagia, penuh cinta kasih

BAB III
PENUTUP
I.
1.

KESIMPULAN

Pandangan hidup adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, yang dipilih secara

selektif oleh para indifidu dan golongan dalam masyarakat.


2. Pandangan hidup merupakan pandangan hidup manusia, tidak ada seorang pun yang hidup tanpa
3.
a.
b.
c.
4.
a.

pandangan hidup walaupun tingkatnya berbeda-beda.


Pandanga hidup dapat dikelompokkan kedalam tiga, yaitu:
Pandangan hidup yang bersumber dari agama(pandangan hidup muslim)
Pandangan hidup yang bersumber dari ideologi
Pandangan hidup yang bersumber dari hasil perenungan seseorang
Menurut William ideologimengandung dua hal, yaitu:
Unsur-unsur filsafah yang digunakan, atau usulan-usulan yang digunakan sebagai dasar untuk

b.
5.
a.
b.
c.
6.
a.
b.
c.
7.

kegiatan
Pembenaran intelektual untuk seperangkat norma-norma
Suatu ideologi masyarakat terdiri dari tiga unsur, yaitu:
Pandangan hidup
Nilai-nilai
Norma-norma
Menurut Prof. Dr. Harun Nasition ada tiga aliran filsafat, yaitu:
Aliran naturalisme
Alitan intelektualisme
Aliran gabungan
Sikap hidup adalah keadaan hati seseorang dalam menghadapi hidup, sikap itu bisa positif jan
juga bisa negatif, apatis atau sikap optimis, bergabung pada pribadi orang itu dan juga
lingkungannya.
DAFTAT PUSTAKA

Mustopo, M. Habib, Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional. 1983


Notowidagdo, Rohiman, Ilmu Budaya Dasar Berdasarka Al-Quran Dan Hadits. Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada. 2002
Prasetya, Drs. Joko Tri, Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Rieneka Cipta. 1998
Pudjawiyatna, Prof. Ir. Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: PT.Bina Aksara. 1982
Sulaeman, M. Munandar. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: PT. Eresco. 1995

Widagdho, Djhoko. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Bumi Akrasa. 2003
http://ilmubudayadasar-wanda.blogspot.com/2011/12/manusia-dan-pandanganhidup.html