Anda di halaman 1dari 18

Pemerkosaan Terhadap Anak dibawah Umur

Anak Agung Dewi Adnya Swari*

Pendahuluan
Anak sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa dan makhluk sosial, sejak dalam
kandungan sampai melahirkan mempunyai hak atas hidup dan merdeka serta mendapat
perlindungan baik dari orang tua, keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Oleh karena itu
tidak ada setiap manusia atau pihak lain yang boleh merampas hak atas hidup dan merdeka
tersebut.
Kejadian pemerkosaan meningkat seiiring berjalannya waktu, dilihat dari kemajuan
teknologi yang memudahkan anak-anak menggunakan alat-alat canggih seperti handphone.
Pemerkosaan adalah suatu tindakan kriminal berwatak seksual yang terjadi ketika seorang
manusia (atau lebih) memaksa manusia lain untuk melakukan hubungan seksual dalam
bentuk penetrasi vagina atau anus dengan penis, anggota tubuh lainnya seperti tangan, atau
dengan benda-benda tertentu secara paksa baik dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.
Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan hendaknya dilakukan dengan teliti dan tepat
sebab pada kasus pemerkosaan, keberadaan barang bukti dapat dengan cepat menghilang. Di
Indonesia, pemeriksaan korban persetubuhan yang diduga sebagai tindak kejahatan seksual
saat ini dilakukan oleh dokter ahli Forensik. Jika di tempat tersebut tidak ada dokter ahli
demikian maka dokter umumlah yang harus melakukan pemeriksaan tersebut. Korban
kejahatan seksual dianggap sebagai orang yang telah mengalami cedera fisik dan/atau mental
sehingga sebaiknya pemeriksaan ditangani oleh dokter yang berpengalaman di bidanganya.
Terutama pada pemerkosaan yang terjadi pada anak di bawah umur yang bisa mengakibatkan
terganggunya fisik dan mental sehingga diperlukan juga dukungan yang kuat dari keluarga
dan lingkungan sehingga peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sangat berperan aktif
pada kasus ini.
*Alamat korespondensi:
Anak Agung Dewi Adnya Swari. 102011308. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Krida Wacana. Jalan Terusan Arjuna Utara 6 Jakarta Barat.
agungdewiadnyaswari@yahoo.co.id
1

Skenario
Anda bekerja sebagai seorang dokter IGD sebuah rumah sakit. Pada suatu sore hari
datang seorang laki-laki berusia 45 tahun membawa anak perempuannya berusia 14 tahun
menyatakan bahwa ankanya tersebut baru saja pulang dibawa lari oleh teman laki-lakin
yang berusia 18 tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu
pada diri putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah
disetubuhi laki-laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat menjelaskan
berbagai hal tentang aspek medikolegal dan hukum kasus anaknya.
Aspek Hukum
Berdasarkan KUHP mengenai anak di bawah umur (belum dewasa) adalah mereka
yang berusia di bawah 16 tahun. Dalam pasal 45 KUHP menyebutkan: Jika seseorang yang
belum dewasa dituntut karena perbuatan yang dikerjakannya ketika umurnya enam belas
tahun, hakim boleh memerintahkan sitersalah itu dikembalikan kepada orang tunya, wali,
atau pemeliharaanya dengan tidak dikenakan suatu hukuman, yakni jika perbuatan itu masuk
bagian kejahatan atau pelanggaran yang diterangkandalam pasal 489, 490, 492, 496, 497,
503-505, 514, 417-519, 526, 531,532, 536, dan 540 dan perbuatan itu dilakukannya sebelum
lalu 2 tahun sesudah keputusan dahulu yang menyalahkan dia melakukan salah satu
pelanggaran ini atau sesuatu kejahatan; atau menghukum anak yang bersalah itu.1
Pada tindak pidana, pada skenario perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan
telah terjadi paksaan dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat
menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tanda-tanda
kekerasan. Tetapi dokter tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindak
pidana ini.
Pada hakekatnya dokter hanya membuktikan adanya persetubuhan dan adanya
tindakan kekerasan sehingga dokter tidak menentukan apakah perkosaan telah terjadi. 1 Yang
berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim karena perkosaan adalah pengertian
hukum bukan istilah medis sehingga dokter tidak boleh menggunakan istilah perkosaan
dalam Visum et Repertum.
Dalam bagian kesimpulan Visum et Repertum hanya dituliskan2
1.

Ada tidaknya tanda persetubuhan

2.

Ada tidaknya tanda kekerasan serta jenis kekerasan yang menyebabkannya.

Pada skenario, dikatakan bahwa pasien berusia 14 tahun atau dibawah umur, sehingga
hal tersebut diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang
Pelindungan Anak.3
BAB

IX.

Penyelenggaraan

Perlindungan (Bagian

Kelima:

Perlindungan

Khusus)

Pasal 59
Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk
memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan
dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara
ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban
penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental,
anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.
Bab XII. Ketentuan Pidana
Pasal 81
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga)
tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling
sedikit Rp 60.000.000,00(enam puluh juta rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap
orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau
membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Pasal 82
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan,
memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh
juta rupiah).

Pasal 88
Setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk
menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
KUHP pasal 2874
Ayat 1
Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan padahal diketahuinya
atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya
tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.
Ayat 2
Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan kecuali jika umur wanita itu belum sampai dua
belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.
Tindak pidana yang diatur dalam KUHP pasal 287 merupakan persetubuhan dengan
wanita yang menurut undang-undang belum cukup umur atau dibawah usia 15 tahun. Jika
umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan
bila ada pengaduan dari yang bersangkutan.4 Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut
merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan maka tidak ada penuntutan.
Tetapi keadaan berbeda jika :
1.

Umur korban belum cukup 12 tahun, atau

2.

Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat
perbuatan itu (KUHP pasal 291), atau

3.

Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya, muridnya, anak
yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya (pasal 294).
Dalam keadaan diatas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada pengaduan
karena bukan lagi merupakan delik aduan. Pada pemeriksaan akan diketahui umur
korban. Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan perlu
dikemukakan. Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 (molar ke-2) sudah
tumbuh (terjadi pada umur kira-kira 12 tahun), sedangkan molar ke-3 akan muncul pada
usia 17-21 tahun atau lebih. Juga harus ditanyakan apakah korban sudah pernah
mendapat haid bila umur korban tidak diketahui.

Jika korban menyatakan belum pernah haid, maka penentuan ada atau tidaknya
ovulasi masih diperlukan. Muller menganjurkan agar dilakukan observasi selama 8 minggu di
rumah sakit untuk menentukan adakah selama itu ia mendapat haid.5
Aspek Medikolegal
Tata cara prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan dengan
pelayanan kedokteran untuk kepentingan umum. Secara garis besar prosedur medikolegal
mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia dan pada beberapa bidang
juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.5
Lingkup prosedur medikolegal antara lain5
1. Pengadaan Visum et Repertum
2. Pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka
3. Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian
keterangan ahli di dalam persidangan
4. Kaitan Visum et Repertum dengan rahasia kedokteran
5. Penerbitan surat keterangan kematian dan surat keterangan medik
6. Fitness/kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik
Kewajiban dokter untuk membuat keterangan ahli telah diatur dalam pasal 133
KUHAP. Keterangan ahli ini akan dijadikan sebagai alat bukti yang sah di depan sidang
pengadilan (pasal 184 KUHAP).5
a. Pihak yang berwenang meminta keterangan ahli
Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
adalah penyidik. Penyidik pembantu juga mempunyai wewenang tersebut sesuai dengan
pasal 11 KUHAP.
b. Pihak yang berwenang membuat keterangan ahli
Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) yang berwenang melakukan pemeriksaan forensik yang
menyangkut tubuh manuasia dan membuat keterangan ahli adalah dokter ahli kedokteran
kehakiman (forensik), dokter dan ahli lainnya. Sedangkan dalam penjelasan KUHAP tentang
pasal tersebut dikatakan bahwa yang dibuat oleh dokter ahli kedokteran kehakiman disebut
keterangan ahli sedangkan yang dibuat oleh selain ahli kedokteran kehakiman disebut
keterangan.
Secara garis besar, semua dokter yang telah mempunyai surat penugasan atau surat izin
dokter dapat membuat keterangan ahli. Namun untuk tertib administrasinya, maka sebaiknya
permintaan keterangan ahli ini hanya diajukan kepada dokter yang bekerja pada suatu instansi
5

kesehatan (puskesmas hingga rumah sakit) atau instansi khusus untuk itu, terutama yang
milik pemerintah.
c. Prosedur permintaan keterangan ahli
Permintaan keterangan ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis dan hal ini secara
tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2), terutama untuk korban mati. Jenasah
harus diperlakukan dengan baik, diberi label identitas dan penyidik wajib memberitahukan
dan menjelaskan kepada keluarga korban mengenai pemeriksaan yang akan dilaksanakan.
Mereka yang menghalangi pemeriksaan jenasah untuk kepentingan peradilan diancam
hukuman sesuai dengan pasal 222 KUHP.
d. Penggunaan keterangan ahli
Penggunaan keterangan ahli atau dalam hal ini visum et repertum adlaah hanya untuk
keperluan peradilan. Dengan demikian berkas keterangan ahli ini hanya boleh diserahkan
kepada penyidik (instansi) yang memintanya. Keluarga korban atau pengacaranya dan
pembela tersangka pelaku pidana tidak dapat meminta keterangan ahli langsung kepada
dokter pemeriksa, melainkan harus melalui aparat peradilan (penyidik, jaksa atau hakim).
Berkas keterangan hali ini tidak dapat digunakan untuk penyelesaian klaim asuransi. Bila
dioerlukan keterangan, pihak asuransi dapat meminta kepada dokter keterangan yang khusus
untuk hal tersebut, dengan memperhatikan ketentuan tentang wajib simpan rahasia jabatan.
I

Kewajiban Dokter Membantu Peradilan

Pasal 133 KUHAP


1

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.

Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 179 KUHAP


1

Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
6

Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan

keterangan

yang

sebaik-baiknya

dan

sebenar-benarnya

menurut

pengetahuan dalam bidang keahliannya.


II

Hak Menolak Menjadi Saksi / Ahli

Pasal 120 KUHAP


1

Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang
yang memiliki keahlian khusus.

Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia
akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila
disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia
menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.

Pasal 168 KUHAP


Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar
keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi:
a

Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat
ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;

Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau
saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anakanak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;

Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai
terdakwa.

Pasal 170 KUHAP


1

Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan
rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai
saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.

2
III

Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.
Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya

Pasal 183 KUHAP


Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Pasal 184 KUHAP
1

Alat bukti yang sah adalah:


7

Keterangan saksi;

Keterangan ahli;

Surat;

Petunjuk ;

Keterangan terdakwa.

Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Pasal 185 KUHAP


1

Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan.

Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa
bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai dengan
suatu alat bukti yang sah lainnya.

Keterangan beberapa saksi yang berdiri-sendiri tentang suatu kejadian atau suatu
keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu
ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan
adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.

Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan
merupakan keterangan saksi.

Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, Hakim harus dengan sungguhsungguh memperhatikan:

persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain;

persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;

alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan yang tertentu;

cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat
mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.

Keterangan saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain, tidak
merupakan alat bukti, namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari
saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.

Pasal 187 KUHAP


Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan
atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
a

Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian

atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan
yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;
b

Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang
dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi
tanggung jawabnya dan yang diperuntukan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu
keadaan;

Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;

Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian yang lain.

IV

Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter

Pasal 216 KUHP


1

Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling
banyak sembilan ribu rupiah.

Disamakan dengan pajabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan
jabatan umum.

Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan
yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat
ditambah sepertiga.

Pemeriksaan Medis dan Interpretasi Hasil


Anamnesis
Anamnesis sangatlah penting yaitu hubungan yang baik antara pasien dan dokter
sehingga dokter dapat mendiagnosis pasien. Dalam anamnesis, dokter meminta pada korban
untuk menceritakan segala sesuatu tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya terarah. 6
Anamnesis terdiri dari bagian yang bersifat umum dan khusus. Anamnesa diberikan bila
diminta oleh penyidik dan tidak secara otomatis dilampirkan dalam Visum et Repertum.

Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal, dan tempat lahir,
status perkawinan, siklus haid untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit kelamin,
penyakit kandungan dan penyakit lainnya seperti epilepsi, katalepsi, syncope. Keterangan
pernah atau belum pernah bersetubuh, saat persetubuhan terakhir, adanya penggunaan
kondom.6
Menanyakan waktu Kejadian, bila antara kejadian dan pelaporan kepada yang
berwajib berselang beberapa hari/minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan
perkosaan tetapi persetubuhan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang
bersangkutan karena berbagai alasan, misalnya merasa tertipu, cemas terjadi kehamilan atau
karena ketakutan diketahui orangtuanya bahwa dia sudah pernah bersetubuh maka mengaku
disetubuhi secara paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan segera melapor.
Pada pelaporan yang terlambat, ada kemungkinan pula karena korban diancam untuk tidak
melapor ke polisi. 7
Menanyakan tempat kejadian, adanya rumput, tanah dan lainnya yang melekat pada
pakaian dan tubuh korban dapat dijadikan petunjuk dalam pencarian trace evidence yang
berasal dari tempat kejadian. Perlu diketahui pula apakah korban melawan. Jika korban
melawan maka pada pakaian mungkin ditemukan robekan, pada tubuh korban akan
ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan dan pada alat kelamin mungkin terdapat bekas
perlawanan. Kerokan kuku mungkin menunjukkan adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang
berasal dari pemerkosa/penyerang. Temukan adanya kemungkinan korban menjadi pingsan
karena ketakutan atau dibuat pingsan dengan pemberian obat tidur/bius. Dalam hal ini
diperlukan sampel pengambilan urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologik.Perlu
ditanyakan pula apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi, dan mengganti pakaian. 7
Hasil anamnesis adalah seorang anak berusia 14 tahun menceritakan bahwa ia diajak
pergi ke Bogor bersama teman laki-lakinya untuk jalan-jalan dan melihat keadaan villa yang
dimiliki pelaku. Setibanya di Bogor sudah larut malam dan pelaku mengatakan bahwa tidak
bisa pulang hari itu juga sebab ada perbaikan jalan selama 3 hari menuju Jakarta, sehingga
mereka menginap di villa pelaku selama 3 hari. Setelah 3 hari berlalu, korban dan pelaku
pulang menuju Jakarta pada saat malam hari. Korban selama perjalanan tertidur pulas dan
saat bangun melihat keadaan sekitar sangat sepi dan gelap. Kemudian pelaku memaksa
korban untuk membuka pakaian, korban melawan dan menangkis tangan pelaku sambil
berteriak dan menangis tetapi korban tidak kuat karena badan pelaku lebih besar
dibandingkan korban. Pelaku mencengkram kedua lengan korban kemudian ia menggigit

10

payudara korban agar korban diam dan tidak berteriak. Kemudian pelaku mengatakan bahwa
korban memasukan alat kelaminnya kedalam vagina korban.
Pemeriksaan Fisik
Melihat bagaimana keadaan pasien dan menghitung tanda-tanda vital. Pasien datang
dengan keadaan sadar penuh, dan hasil dari tanda-tanda vital yaitu: tekanan darah seratus dua
puluh per delapan puluh milimeter air raksa, frekuensi nadi delapan puluh kali permenit,
frekuensi nafas dua puluh kali permenit, suhu tubuh tiga puluh enam koma lima derajat
celcius.
Pemeriksaan Pakaian
Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti helai demi helai, apakah terdapat
robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, kancing yang terputus
akibat tarikan, bercak darah, air mani, lumpur, dan lainnya yang berasal dari tempat kejadian.
Apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak. Bila tidak ada fasilitas pemeriksaan, maka
benda-benda yang melekat dan pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan dikirim ke
laboratorium forensik di kepolisian atau bagian ilmu kedokteran forensik dalam keadaan
dibungkus, tersegel dan disertai berita acara pembungkusan dan penyegelan.7
Pada pemeriksaan pakaian korban yang digunakan saat kejadian hanya ditemukan
robekan pada baju.
Pemeriksaan Tubuh Korban
Pemeriksaan tubuh korban meliputi pemeriksaan umum seperti penampilan rambut
yang rapi atau kusut, wajah dalam keadaan emosional, tenang atau sedih/gelisah. Adanya
tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran akibat pemberian obat tidur/bius, adanya needle
marks. bila ada indikasi maka diperlukan pengambilan urin dan darah. Adanya memar atau
luka lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan
pinggang. Dicatat pula tanda perkembangan alat kelamin sekunder, refleks cahaya pupil,
pupil pinpoint, tinggi-berat badan, tekanan darah, keadaan jantung, paru, dan abdomen.7
a.

Pada pemeriksaan tubuh ditemukan adanya luka dan memar.


Pada leher, tepat garis pertengahan depan terdapat dua buah luka lecet berbentuk

cakar kuku dengan panjang masing-masing lima milimeter dan enam milimeter.
b. Pada pergelangan tangan kanan dan kiri, terdapat memar berukuran masing-masing
lima milimeter.
11

c. Pada payudara kanan, terdapat memar berwarna merah, berukuran lima kali empat
sentimeter.
Pemeriksaan Khusus Daerah Genitalia
Pemeriksaan bagian khusus daerah genitalia meliputi adanya rambut kemaluan yang
saling melekat menjadi satu karena air mani yang mengering yang akan digunting untuk
pemeriksaan laboratorium. Jika dokter menemukan rambut kemaluan yang lepas pada badan
wanita maka harus diambil beberapa helai rambut kemaluan dari wanita dan laki-laki sebagai
bahan pembanding (matching). Perlu ditemukan bercak air mani di sekitar alat kelamin
dengan cara dikerok menggunakan sisi tumpul skapel atau swab dengan kapas lidi yang
dibasahi dengan garam fisiologis. Pada vulva, perlu diteliti adanya tanda-tanda bekas
kekerasan seperti hiperemi, edema, memar dan luka lecet (goresan kuku). Introitus vagina
apakah hiperemi/edema dan penggunaan kapas lidi untuk pengambilan bahan pemeriksaan
sperma dari vestibulum.
Pemeriksa jenis selaput dara untuk melihat adanya ruptur dan penentuan apakah
ruptur tersebut baru atau lama. Bedakan ruptur dengan celah bawaan dari ruptur dengan
memperhatikan sampai di pangkal selaput dara. Celah bawaan tidak mencapai pangkal
sedangkan ruptur dapat sampai ke dinding vagina. Pada vagina akan ditemukan parut bila
ruptur sudah sembuh, sedangkan ruptur yang tidak mencapai basis tidak akan menimbulkan
parut. Ruptur akibat persetubuhan biasa ditemukan di bagian posterior kanan atau kiri dengan
asumsi bahwa persetubuhan dilakukan dengan posisi saling berhadapan. Tentukan pula besar
orifisium apakah sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk, atau 2 jari. Ukuran pada seorang
perawan kira-kira 2,5 centimeter sedangkan lingkaran persetubuhan yang dapat terjadi
menurut Voight minimal 9 centimeter. Pada persetubuhan tidak selalu disertai deflorasi.
Pemeriksaan pada frenulum labiorum pudendi dan comissura labiorum posterior
untuk melihat keutuhannya. Pemeriksaan vagina dan serviks dilakukan dengan spekulum bila
keadaan alat genital memungkinkan dan pemeriksaan kemungkinan adanya penyakit
kelamin.7
Hasil pemeriksaan didapatkan, pada vulva ditemukan hiperemis dan selaput darah
robek pada arah jam 5 mencapai dasar.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina dilakukan dengan
mengambil lendir vagina menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose batang gelas
12

atau swab. Bahan diambil dari forniks posterior, bila mungkin dari spekulum. Pada anak-anak
atau bila selaput dara masih utuh, pengambilan bahan dibatasi dari vestibulum saja.
Pemeriksaan terhadap kuman Neisseria gonorrhoeae dari sekret urether (urut dengan
jari) dan dipulas dengan pewarnaan Gram. Pmeriksaan dilakukan pada hari ke-I, III, V, dan
VII. Jika pada pemeriksaan didapatkan N.gonorrheae berarti terbukti adanya kontak seksual
dengan seorang penderita, bila pada pria tertuduh juga ditemukan maka ini akan menjadi
bukti yang kuat. Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik atau
bakteriologik. Pemeriksaan kehamilan dan toksikologik terhadap urin dan darah juga bisa
dilakukan bila ada indikasi.7
Hasil dari laboratorium dengan bahan pulas lendir vagina didapatkan adanya sel
spermatozoa.
Aspek Psikososial
Pelecehan seksual anak dapat mengakibatkan kerugian baik jangka pendek dan jangka
panjang, termasuk psikopatologi di kemudian hari. Dampak psikologis, emosional, fisik dan
sosialnya meliputi depresi, gangguan stres pasca trauma, kegelisahan, gangguan makan, rasa
rendah diri yang buruk, gangguan identitas pribadi dan kegelisahan; gangguan psikologis
yang umum seperti somatisasi, sakit saraf, sakit kronis, perubahan perilaku seksual, masalah
sekolah/belajar; dan masalah perilaku termasuk penyalahgunaan obat terlarang, perilaku
menyakiti diri sendiri, kekejaman terhadap hewan, kriminalitas ketika dewasa dan bunuh
diri.8 Pola karakter yang spesifik dari gejala-gejalanya belum teridentifikasi dan ada beberapa
hipotesis pada asosiasi kausalitas ini.8
Anak yang dilecehkan secara seksual menderita gerjala psikologis lebih besar
dibanding anak-anak normal lainnya; sebuah studi telah menemukan gejala tersebut 51
sampai 79% pada anak-anak yang mengalami pelecehan seksual. Resiko bahaya akan lebih
besar jika pelaku adalah keluarga atau kerabat dekat, juga jika pelecehan sampai ke hubungan
seksual atau paksaan pemerkosaan, atau jika melibatkan kekerasan fisik. Tingkat bahaya juga
dipengaruhi berbagai faktor seperti masuknya alat kelamin, banyaknya dan lama pelecehan,
dan penggunaan kekerasan.
Tiga modalitas utama untuk memberikan terapi pada anak-anak yaitu terapi keluarga,
terapi kelompok, dan terapi individu.9 Dimana peran keluarga, teman-teman, dan lingkungan
sekitar sangat berpengaruh sehingga disarankan untuk membantu anak.
Orang tua pasien mengatakan bahwa pasien tidak mau bersekolah, sehingga orangtua
pasien bisa membujuk dan memberikan nasihat bahwa sekolah itu sangat baik dan berguna
13

untuk masa depan. Teman-teman pasien juga datang kerumah untuk mengajak pasien
bermain dan belajar bersama serta mengajak kembali untuk bersekolah.
Peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Komisi Nasional Perlindungan Anak memiliki tugas sebagai berikut:9
1. Melaksanakan mandate/kebijakan yang ditetapkan oleh Forum Nasional Perlindungan
Anak;
2. Menjabarkan Agenda Perlindungan Anak dalam Program Tahunan.
3. Membentuk dan memperkuat jaringan kerjasama dalam upaya perlindungan anak, baik
dengan LSM, masyarakat madani, instansi pemerintah, maupun lembaga internasional,
pemerintah dan non-pemerintah;
4. Menggali sumber daya dan dana yang dapat membantu peningkatan upaya perlindungan
anak; serta
5. Melaksanakan administrasi perkantoran dan kepegawaian untuk menunjang kinerja
Lembaga Perlindungan Anak.
Selain tugas tersebut diatas Komnas Perlindungan Anak juga memiliki fungsi dan
peran yaitu:9
1. Lembaga pengamat dan tempat pengaduan keluhan masalah anak;
2. Lembaga pelayanan bantuan hukum untuk beracara di Pengadilan mewakili kepentingan
anak;
3. Lembaga Advokasi dan Lobi;
4. Lembaga rujukan untuk pemulihan dan peyatuan kembali anak;
5. Lembaga kajian kebijakan dan perundang-undangan tentang anak;
6. Lembaga pendidikan, pengenalan dan penyebarluasan informasi tentang hak anak, serta
lembaga pemantau implementasi hak anak.
Dalam melaksanakan tugas, fungsi dan perannya Komnas Perlindungan Anak mempunyai
Prinsip yaitu independen, pertanggungjawaban publik, mengedepankan peluang dan
kesempatan pada anak dalam berpartisipasi dengan menghargai dan memihak pada prinsip
dasar anak, ikut serta menjamin hak anak untuk menyatakan pendapatnya secara bebas dalam
semua hal yang menyangkut dirinya, pandangan anak selalu dipertimbangkan sesuai
kematangan, mengupayakan dan membela hak untuk berpartisipasi dan didengar pendapatnya
dalam setiap kegiatan, proses peradilan dan adminsitrasi yang mempengaruhi hidup anak.9

14

RS MERDEKA JAYA
Jl. Pahlawan no 8 Jakarta 123456
Telp/fax 021-8444418
PRO JUSTITIA

Jakarta, 16 Desember 2014


VISUM ET REPERTUM
No.08/TU.RSMJ/I/2013

Yang bertandatangan dibawah ini, dr. A A Dewi Adnya Swari, SpF, dokter pada Rumah Sakit
Merdeka Jaya, atas permintaan dari kepolisian Sektor Jakarta Barat Taman Sari dengan
suratnya nomor VER-18/XII/2013/SEK.TM.Sari, tertanggal 10 Desember 2014, maka
dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal sepuluh Desember dua ribu empat belas, pukul
dua puluh dua lewat sepuluh menit Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di RS Merdeka
Jaya, telah melakakuan pemeriksaan korban dengan nomor registrasi 376-83-89 yang
menurut surat tersebut adalah:
Nama

: Anastasia Angelina ---------------------------------------------------------------------

Umur

: 14 tahun ----------------------------------------------------------------------------------

Jenis Kelamin : perempuan ------------------------------------------------------------------------------Warga Negara : Indonesia -------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan

: Pelajar ------------------------------------------------------------------------------------

Alamat
:
Jl.
Puri
Kapuk
------------------------------------------------------------

no

Jakarta

HASIL PEMERIKSAAN : ----------------------------------------------------------------------------1. Korban datang dalam keadaan sadar penuh, dengan keadaan umum tampak sakit. --------2. Korban mengaku pelaku memasukan alat kelaminya kedalam vagina korban. Pelaku
adalah teman laki-laki korban. ---------------------------------------------------------------------3. Pada korban ditemukan : ---------------------------------------------------------------------------a. Tanda vital: tekanan darah seratus dua puluh per delapan puluh milimeter air
raksa, frekuensi nadi delapan puluh kali permenit, frekuensi nafas dua puluh kali
permenit, suhu tubuh tiga puluh enam koma lima derajat celcius. -------------------b. Pada leher, tepat garis pertengahan depan terdapat dua buah luka lecet berbentuk
cakar kuku dengan panjang masing-masing lima milimeter dan enam milimeter.-c. Pada pergelangan tangan kanan dan kiri, terdapat memar berukuran masingmasing lima milimeter. --------------------------------------------------------------------d. Pada payudara kanan, terdapat memar berwarna merah, berukuran lima kali
empat sentimeter. ---Pemeriksaan laboratorium dengan bahan pulas lendir vagina
didapatkan adanya sel spermatozoa. -----------------------------------------------------e. Pada vulva ditemukan hiperemis dan selaput darah robek pada arah jam 5
mencapai dasar. -----------------------------------------------------------------------------f. Pemeriksaan laboratorium dengan........
15

Lanjutan Ver No: No.08/TU.RSMJ/I/2014


Halaman ke 2 dari 2 halaman

f. Pemeriksaan laboratorium dengan bahan pulas lendir vagina didapatkan adanya


sel spermatozoa.
4. Korban diberi analgetika dan dipulangkan. ------------------------------------------------------KESIMPULAN: -----------------------------------------------------------------------------------------Pada korban, ditemukan luka lecet pada leher dan memar pada pergelangan tangan dan
payudara, terdapat robekan pada selaput dara serta pemeriksaan laborotarium menunjukkan
adanya sel spermatozoa yang telah menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan
pekerjaan
jabatan/pencaharian.
--------------------------------------------------------------------------Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan keilmuan
yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana. -------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dokter Pemeriksa,

dr. A A Dewi Adnya Swari, SpF

16

Kesimpulan
Pasien berusia 14 tahun mengalami kejahatan seksual yaitu pemerkosaan oleh teman
laki-lakinya setelah melakukan pemeriksaan medis dan laboratorium. Peran pendamping
psikososial yaitu keluarga dan lingkungan sekitarnya serta lembaga swadaya masyarakat
khususnya komisi perlindungan anak sangatlah membantu dan berperan penting dalam
perkembangan pertumbuhan mental dan fisik pasien dikarenakan pasien tidak mau dan malu
untuk bersekolah.

17

Daftar Pustaka
1.

Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran. Jakarta:


Pustaka Dwipar; 2007.h. 17-85.

2.

Safitry O. Mudah membuat visum et repertum kasus luka. Jakarta: Bagian


Kedokteran Forensik FK UI; 2013.h.6-11.

3.

Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran. Jakarta:


Pustaka Dwipar; 2007.h. 17-85.

4.

Anonymous. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Jakarta: Bagian


Kedokteran Forensik FKUI; 1994.h.33-6.

5.

Wagner Sa. Identification methods. Death scene investigation - a field guide.


London: CRC Press; 2009.h.111-20.

6.

Safitry O. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik kedokteran.


Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI;2014.h.14-42.

7.

Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga


Medical Series;2007.h.52-4.

8.

Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S, et al.


Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997.h.147-58.

9.

Data

Pelanggaran

Hak

Anak

di

Indonesia.

Diunduh

dari

http://komnaspa.or.id/Komnaspa/Artikel.html tanggal 7 Januari 2015.

18