Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Nama orang tua
Ayah
Ibu
Pekerjaan orang tua
Ayah
Ibu
Alamat
Tanggal masuk RS
No RM

: An. E
: 3 tahun 8 bulan
: laki - laki
: Tn. S
: Ny. A
: karyawan swasta
: ibu rumah tangga
: Kp. Dewa Ruci Semper Barat Cilincing Jakarta Utara
: 28 November 2014 (10.35 wib)
: 199053

Alloanamnesis (ibu os)


Keluhan utama
Demam sejak 3 hari SMRS
Riwayat penyakit sekarang
Ibu pasien mengeluh anaknya sudah demam sejak tanggal 25 november 2014 tepatnya 3 hari
SMRS. Panas yang dirasakan cenderung meninggi pada malam hari, setiap hari bertambah
panas dan turun ketika diberikan paracetamol. Pada saat datang ke RS demam tinggi di hari
ke 4, setelah demam tersebut muncul bintik-bintik merah dikulitnya. Semula bintik merah
muncul di wajah lalu ke seluruh bagian tubuh. disertai mata yang merah. Os mengeluh
sakit saat menelan, batuk berdahak berwarna kuning, dan pilek dengan mukus berwarna
kuning sejak 3 hari SMRS. Sariawan (+), nafsu makan berkurang sejak sakit. Sakit kepala
(+), fotofobia (+), muntah (-), sesak (-). BAB dalam batas normal, BAK sedikit berwarna
kuning. Kejang disangkal, sakit perut tidak dirasakan, mimisan disangkal, gusi berdarah
disangkal.

Riwayat Pengobatan
Sudah diobati dengan paracetamol, obat batuk dan antibiotik. Jenis antibiotik tidak tahu.
Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelumnya belum pernah mengalami hal yang sama seperti yang dirasakan sekarang. Riwayat
kejang disangkal
Kesan
dalam batas normal
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita gejala seperti ini
Riwayat epilepsi atau kejang di keluarga disangkal
Riwayat alergi, asma, TBC dikeluarga disangkal
Kesan

normal, tidak ada penyakit yang berpengaruh

Riwayat kehamilan dan persalinan


Os merupakan anak kedua dari 2 bersaudara. Selama kehamilan ibu tidak pernah mengalami
keadaan yang sakit, dirawat, atau bahkan mengkonsumsi obat tertentu, ibu hanya mengkonsumsi
vitamin yang diakui adalah asam folat yang diberikan oleh dokter spesialis kandungan. Dalam
setiap bulan ibu rutin melakukan pemeriksaan kandungan ke dokter spesialis kandungan. Ibu os
menyangkal adanya penyakit hipertensi atau penyakit dengan konsumsi obat jangka panjang. Ibu
juga menyangkal adanya perdarahan dan kaki bengkak saat kehamilan. Kehamilan ibu cukup
bulan, tidak ada kelainan dalam posisi janin sehingga bisa dilakukan partus spontan dengan
BBL : 3100 gram, PB : 50 cm, air ketuban bening. partus dibantu oleh dokter spesialis
kandungan tanpa ditemukan adanya cacat atau kelainan lain.
Kesan
normal
Riwayat Imunisasi
Hepatitis B 3 kali, (usia 0 hari, 1 bulan, dan 6 bulan)
BCG 1 kali (usia 2 bulan)
DPT 4 kali (2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 18 bulan)
Polio 4 kali (2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 3 tahun)
Campak 1 kali (9 bulan)
Kesan

imunisasi lengkap dasar telah terpenuhi, imunisasi lengkap baik sesuai usia

Riwayat tumbuh kembang


Motorik Kasar : Keseharian os aktif, berlari-lari kecil
Motorik Halus : Menggambar Lingkaran
Bicara : Dapat menyusun kata sederhana, mama papa, mamam, minum
Sosial : Suka bermain-main dengan anak anak lainnya
Kesan

tumbuh kembang sesuai usia

Riwayat makanan
ASI eksklusif sampai usia 6 bulan
Diberikan makanan tambahan seperti nasi tim dan susu formula di usia 7 bulan
Sekarang os diberi makan 3x sehari : nasi + sayur + ikan/daging/ayam
Diberikan pula makanan tambahan seperti buah, roti, dan biskuit.
Kesan

kuantitas
kualitas

: cukup
: cukup memenuhi kebutuhan

Riwayat psikososial
Os sudah dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Os adalah pribadi yang aktif dan
gemar bermain baik di dalam maupun di luar rumah. Os juga suka jajan di luar rumah.
Kesan

normal, tidak memiliki kelainan sosial

Riwayat alergi
Alergi obat, makanan, dan udara disangkal
Kesan

tidak ada alergi apapun

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda-tanda vital
Nadi
Nafas
Suhu

: tampak sakit sedang


: compos mentis
: 120 x / menit
: 50 x/ menit
: 39,5o C

Status gizi
BB
: 18 kg
TB
: 105 cm
Antropometrik
:
BB/U
= Ba/Bu x 100% = 18/16 x 100% = 112 % (over weight)
TB/U
= Ta/Tu x 100% = 105/102 x 100% = 105 % (gizi baik)
Pengukuran yang digunakan :
BB/TB
= Ba/Bi x 100% = 18/17 x 100% = 105 % (gizi baik)
Kesan : gizi anak baik

Status Generalis
Kulit : berwarna merah
Kepala :
Bentuk : normocephal
Rambut warna hitam, distribusi merata
Ruam makulopapular, batas tidak tegas di seluruh wajah
Mata :
Mata hiperemis dan berair
mata cekung (+)
reflek pupil (+/+)
isokor
Sklera ikterus (-/-)
Konjungtiva hiperemis (+/+)
Fotofobia (+/+)

Hidung
Telinga
Mulut
Leher

Thorax
COR

: NCH (-), deviasi septum (-), sekret (+/+)


: normotia, membran timfani intak, sekret (-)
: lidah kotor (-), sariawan (+), faring hiperemis (+)
: Pembesaran KGB regional mandibula (+/+), ruam makulopapular
batas tidak tegas
:
:
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi
: iktus cordis tidak teraba
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : bunyi jantung I dan II murni regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo

:
Inspeksi

Atas

: gerakan dinding dada simetris, otot bantu pernapasan (-), ruam


makulopapular, batas tidak tegas
Palpasi
: tidak dilakukan
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : vesikuler pada seluruh lapang paru, Ronkhi (+/-), Wheezing (-/-)
Abdomen
:
Inspeksi : perut tampak datar, supel, terdapat ruam makulopapular
dengan batas tidak tegas
Auskultasi : BU
N
Palpasi
: nyeri tekan (-), turgor kulit kembali cepat
Perkusi : timpani di ke 4 kuadran abdomen
o Ekstremitas :
: ruam makulopapular, batas tidak tegas, akral hangat (+/+),
Edema (-), CRT < 2 detik
Bawah
: ruam makulopapular, batas tidak tegas, akral hangat (+/+),
Edema (-), CRT < 2 detik
o Urogenital
: , tidak tampak kelainan, pembesaran kelenjar inguinal (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal 28 November 2014
Pemeriksaan

Hasil

Rujukan

Natrium

131 m Eq/L

134 - 146

Kalium

3,5 m Eq/L

3,4 - 4,5 new born = 4,5-7,7

Chlorida

102 m Eq/L

96 - 108

Hemoglobin

12,5 g/dl

L = 13,817,0 P = 11,3-15,5

Hematokrit

35,7 %

42 - 50

Leukosit

13000 sel/mm3

L = 4,510,8 P = 4,3-10,4

Trombosit

213 ribu/mm3

185 - 402

Resume
An.laki-laki usia 3 tahun 8 bulan, demam hari ke 4, tinggi, terus menerus. Timbul bercak
kemerahan di wajah, leher, lalu ke seluruh bagian tubuh. Mata merah, batuk pilek sejak 3
hari SMRS berwarna kuning, sulit menelan, sariawan, nafsu makan berkurang. Sakit
kepala, fotofobia dan BAK sedikit berwarna kuning.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan :


S : 39,20C, N : 120x/mnt, RR : 50x/mnt, kulit kemerahan, konjungtiva hiperemis (+),
fotofobia(+), faring hiperemis (+), ronkhi (+/-), ruam makulopapular batas tidak tegas di
wajah, leher, dada dan ekstremitas, sariawan pada mukosa bibir, pembesaran KGB
regional mandibular.

Diagnosis kerja
Diagnosis banding
Rencana diagnosis

: Morbili
: Rubella, Eksantema Subitum
: Pemeriksaan DPL (HHTL)
Tes serologis
Isolasi dan identifikasi virus
:

Penatalaksanaan dokter
Rawat inap
Cairan Kaen3B + 35g lameson + 4mg vometro 15 tpm makro
Amiosin 3x125 mg
Sanmol drip 6x250 mg
Cendoxitrol 6x2 tetes
Alerfed 3 dalam Vectrin 3x1 cth
Rencana terapi coass
:
Tirah baring
Paracetamol syr (10-15mg/kgBB/kali(3x)) dengan sediaan (120mg/5ml)
18 x 10 = 180 : 120 = 1,5
3 x 1,5 cth
Ambroxol syr (1,2 1,6mg/kg/hr) dengan sediaan (15mg/5ml)
18 x 1,2 = 21,6 : 15 = 1,44/hari : 3 = 0.48
3 x 0,5 cth
Vitamin A 100.000 IU peroral/hari, jika dengan malnutrisi dilanjutkan 1500 IU
Gentamicin (6 7,5 mg/kg/hr; 3x) sediaan Amp 40mg/2mL
18 x 6 = 108/hari : 3 = 36 mg
3 x 1 ampul / 3x2cc IM/IV

Kebutuhan cairan : 11-20kg -> 1000 + 50cc/kg/day


18 kg = 1000 + (50x8) = 1000+400 = 1400/hari = 58 cc/jam
58 : 60 x 15 = 14 tpm
Edukasi
Minum banyak air putih dan makan makanan yang bergizi

FOLLOW UP 29 November 2014 11.30 wib


S
= demam hari ke 5, mata masih merah, batuk (+), pilek (+), sariawan (+), mencret
(-), kemerahan masih ada di seluruh tubuh -> stadium erupsi
O
= TTV : nadi : 124
Keadaan umum
: sakit sedang
Tingkat kesadaran : composmentis
Rambut
: tidak rontok
Kepala
: normochepal
Mata
: konjungtiva eritema (+/+), cekung (-), ikterik (-/-),
fotofobia (-)
Hidung dan telinga : dalam batas normal, mukus (+/+), sekret (+/+)
Bibir
: sariawan
Leher
: pembesaran KGB regional mandibularis (+/+)
Thorax
: normochest, tidak ada retraksi dinding dada
Paru
: vesikuler (+/+), ronkhi halus (+/-), wheezing (-/-)
Abdominal
: bising usus normal
Ekstremitas
: akral keempat ekstremitas hangat, CRT < 2 detik, edema
(-/-)
A
= morbili stadium erupsi
P
= terapi dilanjutkan
FOLLOW UP 30 November 2014 11.30 wib
S
= demam (-) hari ke 6, mata merah (-), batuk berkurang, pilek (+), bibir kering,
ruam pada kulit mulai kecoklatan dan kasar, mencret (-). -> stadium
konvalesens
O
= TTV : nadi : 124
Keadaan umum
: sakit sedang
Tingkat kesadaran : composmentis

Rambut
Kepala
Mata
Hidung dan telinga
Bibir
Leher
Thorax
Paru
Abdominal
Ekstremitas

A
P

: tidak rontok
: normochepal
: konjungtiva eritema (-/-), cekung (-), ikterik (-/-)
: dalam batas normal, mukus (+/+), sekret (+/+)
: kering, sariawan (-)
: pembesaran KGB regional mandibularis (-/-)
: normochest, tidak ada retraksi dinding dada
: vesikuler (+/+), ronkhi halus (-/-), wheezing (-/-)
: bising usus normal
: akral keempat ekstremitas hangat, CRT < 2 detik, edema
(-/-)
= morbili stadium konvalesens
= paracetamol stop, bila perlu saja. Terapi lain lanjutkan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
MORBILI
(Campak, Measles, Rubeola)

Definisi
Campak adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus yang umumnya
menyerang anak.1
Kasus : os berusia tahun masih dalam golongan anak.
Campak memiliki gejala klinik khas yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan, stadium
konvalesensi.1
Kasus : os datang dengan stadium erupsi dengan demam memasuki hari ke 4, dengan
ruam makulopapular yang keluar dimulai dari wajah, leher, badan dan ekstremitas,
dengan batas yang tidak tegas serta adanya rasa gatal. Dengan riwayat sebelum datang ke
rumah sakit os sudah melewati stadium kataral dengan demam 4 hari, serta mata merah,
perih, sulit menelan, nafsu makan menurun, batuk, pilek. Setelah dirawat di RS memasuki

demam hari ke 6, os memasuki stadium konvalesensi dengan bercak yang berubah warna
menjadi kecokelatan dan kasar, rasa gatal yang telah menghilang, mata merah dan nyeri
yang sudah tidak ditemukan, batuk berkurang, pilek (-), demam (-).
Epidemiologi
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan
seumur hidup. Usia puncak insidens penyakit ini adalah umur 5-10 tahun, di negara yang belum
berkembang insidens tertinggi pada umur 2 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang
rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan
daya tahan tubuh yang lemah. Hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5 tahun pernah
terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus pertahun.2
Kasus : os berusia

ETIOLOGI
Campak disebabkan oleh Morbilivirus, salah satu virus RNA dari famili Paramyxoviridae3
yang terdapat dalam sekret dan darah. Dapat menular sejak masa prodromal sampai lebih
kurang 4 hari setelah timbul ruam. Cara penularan dengan droplet dan kontak.4

FAKTOR RISIKO
1. Daya tahan tubuh yang lemah
2. Belum pernah terkena campak
3. Belum pernah mendapat vaksinasi campak
Kasus : os sebelumnya batuk, pilek, sulit menelan. Os belum pernah mengalami keluhan
seperti ini sebelumnya.

PATOGENESIS
Manusia adalah satu-satunya inang asli untuk virus campak4. Penularan campak terjadi
secara droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari

setelah timbul ruam. Infeksi dimulai di mukosa hidung/faring. Di tempat awal infeksi,
penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk ke dalam
limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah
bening lokal. Virus kemudian bermultiplikasi dengan sangat perlahan dan disitu mulailah
penyebaran ke sel jaringan limforetikular (RES) seperti limpa, dimana virus menyerang limfosit.
Virus campak dapat bereplikasi dalam limfosit tertentu yang membantu penyebaran ke seluruh
tubuh4. 5-6 hari sesudah infeksi awal, fokus infeksi terbentuk yaitu ketika ketika virus masuk ke
dalam pembuluh darah (viremia primer) dan menyebar ke permukaan epitel orofaring,
konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih, dan usus. Pada hari 9-10 fokus infeksi yang
berada di epitel saluran napas dan konjungtiva, mengalami nekrosis pada satu sampai dua
lapisan. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke dalam pembuluh darah
(viremia sekunder) dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem pernafasan diawali dengan
keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah.1
MANIFESTASI KLINIS
1. Stadium inkubasi
Berlangsung 10-12 hari, tanpa gejala.
2. Stadium prodromal
Berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan gejala-gejala demam, diikuti coryza (batuk, bersin,
diikuti hidung tersumbat dan ingus/pilek), faring merah, nyeri saat menelan, stomatitis
(radang mulut), konjungtivitis. Tanda khas (pathognomonic): enantema mukosa bukalis
di depan gigi seri (molar) ketiga yang disebut bercak Koplik (Koplik's spots).2
Kasus : 3 hari sebelum masuk RS os mengeluh demam, nafsu makan berkurang,
sulit menelan, batuk, pilek, mata merah serta nyeri.
3. Stadium erupsi
Ditandai dengan panas tinggi dan timbulnya rash makulopapuler (ruam kemerahan) yang
dimulai dari batas rambut di belakang telinga, lalu menyebar ke wajah, leher,
dan akhirnya ke ekstremitas (anggota gerak tubuh, seperti tangan dan kaki).2
Kasus : demam memasuki hari ke 4, timbul ruam merah diseluruh tubuh dengan
makulopapular dengan batas yang tidak tegas.
4. Stadium penyembuhan (konvalesens)
Setelah tiga hari ruam berangsur-angsur menghilang. Ruam kulit menjadi kehitaman dan
mengelupas, akan menghilang setelah 1-2 minggu. Adanya kulit kehitaman dan bersisik
(hiperpigmentasi) dapat merupakan tanda penyembuhan.2

Kasus : demam memasuki hari ke 6, ruam merah berubah warna menjadi


kecokelatan dengan permukaan yang kasar dan bersisik.
.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relatif.6
2. Isolasi dan identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari
pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit (terutama
selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi virus.
Selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak pada hapusan
3.

mukosa hidung.6
Serologis: konfirmasi serologi campak berdasarkan pada kenaikan empat kali titer
antibodi antara sera fase akut dan fase penyembuhan atau pada penampakkan antibodi
IgM spesifik campak antara 1-2 minggu setelah onset ruam kulit. Bagian utama dari
respon imun ditujukan langsung pada protein NP. Hanya pada kasus campak yang tidak
khas, yang pasti bereaksi terhadap protein M yang ada.5

KOMPLIKASI
1. Laringitis akut
Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas, bertambah
parah pada saat demam mencapai puncaknya, ditandai dengan distres pernafasan, sesak,
sianosis, dan stridor. Ketika demam menurun, keadaan akan membaik dan gejala akan
menghilang.3
2. Bronkopneumonia
Bronkopneumonia adalah komplikasi campak yang sering dijumpai (75,2%). yang sering
disebabkan invasi bakteri sekunder, terutama Pneumokokus, Stafilokokus, dan
Hemophilus influenza7. Pneumonia terjadi pada sekitar 6% dari kasus campak dan
merupakan penyebab kematian paling sering pada penyakit campak.3
3. Kejang demam
Kejang dapat timbul pada periode demam, umumnya pada puncak demam saat ruam
keluar.3
4. Ensefalitis
Ensefalitis adalah penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi pada
hari ke 4-7 setelah timbul ruam, dan sejumlah kecil pada periode pra-erupsi. Ensefalitis
simptomatik timbul pada sekitar 1:1000. Diduga jika ensefalitis terjadi pada waktu awal

penyakit maka invasi virus memainkan peranan besar, sedangkan ensefalitis yang timbul
kemudian menggambarkan suatu reaksi imunologis. Gejala ensefalitis dapat berupa
kejang, letargi, koma, dan iritabel. Keluhan nyeri kepala, frekuensi nafas
meningkat, twitching, disorientasi, juga dapat ditemukan. Pemeriksaan cairan
serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan predominan sel mononuklear,
peningkatan protein ringan, sedangkan glukosa dalam batas normal.3
5. Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE)
SSPE (Dawsons disease) merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat
yang disebabkan oleh infeksi oleh virus campak yang persisten, suatu penyulit lambat
yang jarang terjadi. Semenjak penggunaan vaksin meluas, kejadian SSPE menjadi sangat
jarang. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya pernah campak
adalah 0,6-2,2 per 100.000. Masa inkubasi timbulnya SSPE rata-rata 7 tahun.3
Sebagian besar antigen campak terdapat dalam badan inklusi dan sel otak yang terinfeksi,
tetapi tidak ada partikel virus matur. Replikasi virus cacat karena kurangnya produksi
satu atau lebih produk gen virus, seringkali adalah protein matrix. Keberadaan virus
campak intraseluler laten dalam sel otak pasien dengan SSPE menandakan kegagalan
sistem imun untuk membersihkan infeksi virus.5
Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku, iritabilitas dan penurunan
intelektual yang progresif serta penurunan daya ingat, diikuti oleh inkoordinasi motorik,
dan kejang yang umumnya bersifat mioklonik. Selanjutnya pasien menunjukkan
gangguan mental yang lebih buruk, ketidakmampuan berjalan, kegagalan berbicara
dengan komprehensi yang buruk, dysphagia, dapat juga terjadi kebutaan. Pada tahap
akhir dari penyakit, pasien dapat tampak diam atau koma. Aktivitas elektrik di otak pada
EEG menunjukkan perubahan yang progresif selama sakit yang khas untuk SSPE dan
berhubungan dengan penurunan yang lambat dari fungsi sistem saraf pusat. Laboratorium
: Peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal, antibodi terhadap campak dalam
serum meningkat (1: 1280).7
6. Otitis media
Invasi virus ke telinga tengah umumya terjadi pada campak. Gendang telinga biasanya
hiperemia pada fase prodromal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri menjadi
otitis media purulenta.3
7. Enteritis dan diare persisten

Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada fase
prodromal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus. Diare persisten
bersifat protein losing enteropathy sehingga dapat memperburuk status gizi.3
8. Konjungtivitis
Ditandai dengan mata merah, pembengkakan kelopak mata, lakrimasi dan fotofobia.
Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Virus campak atau antigennya dapat
dideteksi pada lesi konjungtiva pada hari-hari pertama sakit. Konjungtivitis diperburuk
dengan terjadinya hipopion dan pan-oftalmitis yang dapat menyebabkan kebutaan.
9. Miokarditis
10. Hemorrhagic (black) measles
11. Reaktivasi atau memberatnya penyakit TB
12. Trombositopenia.

PENGOBATAN
Supportif :
Memperbaiki keadaan umum
Istirahat cukup
Mempertahankan status nutrisi dan hidrasi (cukup cairan dan kalori)
Perawatan kulit dan mata
Perawatan lain sesuai penyulit yang terjadi
Simptomatik :
Antipiretik, antitutif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan.
Antibiotik bila ada infeksi bakteri sekunder.
Vitamin A 100.000 IU peroral/hari dengan malnutrisi dilanjutkan 1500 IU
PROGNOSIS
Biasanya campak sembuh dalam 7-10 hari setelah timbul ruam. Bila ada penyulit infeksi
sekunder/malnutrisi berat, maka penyakit menjadi berat. Kematian disebabkan karena penyulit
(pneumonia dan ensefalitis)2.
PENCEGAHAN
1. Imunisasi aktif
Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur
9 bulan atau lebih. Dosis baku minimal pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah

0,5 ml, secara subkutan, namun dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular
mempunyai efektivitas yang sama.
Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis
epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, difteri-tetanus-polio vaksin dan lain-lain.
Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebut pada umumnya aman dan
tetap efektif 2.
2. Imunisasi pasif
Bayi berusia < 12 bulan yang terpapar langsung dengan pasien campak dapat dicegah
dengan Immune serum globulin (gamma globulin)
Dosis anak : 0,2 ml/kgBB IM pada anak sehat
0,5 ml/kgBB untuk pasien dengan HIV
maksimal 15 ml/dose IM dalam waktu 5 hari sesudah terpapar, atau sesegera mungkin.5,6
KESIMPULAN
Penyakit campak merupakan salah satu penyakit menular dengan tingkat insidensi yang tinggi
pada anak-anak. Penularan yang cepat, terutama pada kelompok dengan daya tahan imun rendah,
kepadatan yang tinggi, serta kurangnya akses pelayanan kesehatan dan pelaksanaan vaksinasi,
terutama di daerah pedesaaan. Kematian pada campak sering kali disebabkan oleh komplikasikomplikasinya, seperti pneumonia dan ensefalitis. Penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi,
karena vaksin campak telah terbukti efektif menurunkan insidensi penyakit.

DAFTAR PUSTAKA
1. Markum, AH, dkk. Editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I. Jakarta: Balai
penerbit FKUI; 2002.
2. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 2/Editor, Richard E. Behrman. Robert M. Kliegman,
Ann M. Arvin. Editor Edisi Bahasa Indonesia A. Samik Wahab Ed. 15, Jakarta : EGC,
1999.
3. Soegeng Soegijanto. Campak. Dalam : ed. Sumarno S. Poorwo Soedarmo, Herry Garna,
Sri Rezeki S. Hadinegoro. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Infeksi & Penyakit Tropis.
Edisi I. 2002. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI : Jakarta.
4. Pedoman pelayanan medis. IDAI : 2010
5. Brooks, Geo F., Butel, Janet S., Morse Stephen A. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi I.
Terjemahan. 2005.Salemba Medika : Jakarta.
6. Phillips, Carol.F. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 2. Terjemahan. 1993. EGC : Jakarta. p 198203.
7. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Subacute Sclerosing
Panencephalitis.2007.http://www.ninds.nih.gov/disorders/subacute_panencephalitis/subac
ute_panencephalitis.htm. 10 Maret 2008