Anda di halaman 1dari 2

Teori Penguatan

Teori penguatan (reinforcement theory) adalah suatu teori yang mengatakan bahwa perilaku
merupakan fungsi dari konsekuensinya. Teori penguatan mengambil sudut pandang berlawanan
dengan behavioristic, menyatakan kondisi penguatan perilaku.
Teori penguatan mengabaikan keadaan dari dalam individu dan hanya memusatkan perhatian
semata pada apa yang terjadi ketika dia melakukan beberapa tindakan. Oleh karena tidak
memusatkan perhatian dengan apa yang mencetuskan sebuah perilaku, bukan itu, tetapi ini
sesungguhnya suatu teori motivasi. Teori ini memberikan sarana yang ampuh untuk menganalisis
apa yang mengendalikan perilaku, dan inilah mengapa kita umumnya akan
mempertimbangkannya dalam pembahasan mengenai motivasi.
Individu dapat mempelajari dengan diberitahukan atau dengan mengobservasi apa yang
terjadi pada orang lain, seiring dengan pengalaman secara langsung. Banyak hal yang telah kita
pelajari berasal dari mengamati modelorang tua, pengajar, rekan sekerja, para pelaku film dan
relevisi, bos, dan lain sebagainya. Pandangan yang dapat kita pelajari, baik melalui observasi
maupun pengalaman secara langsung disebut dengan teori pembelajaran sosial (sociallearning theory).
Meskipun teori pembelajaran sosial adalah perluasan dari pengondisian perilakuyaitu,
mengasumsikan perilaku sebagai fungsi dari konsekuensijuga mengetahui efek dari
pembelajaran melalui observasi dan persepsi. Orang-orang memberikan tanggapan pada cara
mereka memandang dan mendefinisikan konsekuensi, bukan pada tujuan konsekuensi itu sendiri.
Model-model merupakan pusat bagi sudut pandang pembelajaran sosial. Empat proses yang
menentukan pengaruh mereka pada individu:
1. Proses atensi. Orang-orang belajar dari model hanya ketika mereka mengakui dan
mencurahkan perhatian pada fitur pentingnya.
2. Proses retensi. Pengaruh dari model bergantung pada seberapa baiknya individu
mengingat tindakan model setelah model tidak lagi siap tersedia.
3. Proses reproduksi penggerak. Setelah seseorang melihat suatu perilaku baru dengan
mengobservasi model, mengamati, kemudian dikonversi menjadi melakukan.
4. Proses penguatan. Para individu termotivasi untuk memperlihatkan perilaku yang
dicontohkan jika insentif yang positif atau imbalan yang diberikan
(Robbins & Judge, 2015)

Teori Harapan
Expectancy Theory (teori harapan) awalnya dikembangkan oleh Vroom pada tahun 1964.
Motivasi menurut Vroom, mengarah kepada keputusan mengenai berapa banyak usaha yang
akan dikeluarkan dalam suatu situasi tugas tertentu. Pilihan ini didasarkan pada suatu urutan
harapan dua tahap (usaha prestasi dan prestasi-hasil). Atau dapat dikatakan bahwa motivasi
dipengaruhi oleh harapan individu bahwa pada tingkat usaha tertentu akan menghasilkan tujuan
prestasi yang dimaksudkan.
Vroom menggunakan persamaan matematis untuk mengintegrasikan konsep-konsep
kekuatan atau kemampuan motivasi menjadi model yang dapat diprediksi yaitu harapan
(expectancy), nilai (valence), dan pertautan (instrumentality).

Harapan (expectancy) adalah suatu kesempatan yang diberikan terjadi karena perilaku.
Harapan mempunyai nilai yang berkisar dari nol yang menunjukkan tidak ada
kemungkinan bahwa suatu hasil akan muncul sesudah perilaku atau tindakan tertentu,
sampai pada positif satu yang menunjukkan kepastian bahwa hasil tertentu akan
mengikuti suatu tindakan atau perilaku. Harapan yang dinyatakan dalam probabilitas
(kemungkinan).

Nilai (Valence) adalah akibat dari perilaku tertentu mempunyai nilai/martabat tertentu
(daya atau nilai memotivasi) bagi setiap individu. Nilai/valensi dutentukan oleh individu
dan tidak merupakan kualitas objektif dari akibat itu sendiri, sehingga pada situasi
tertentu, nilai ini akan berbeda antara satu pegawai dengan pegawai lainnya.

Pertautan (instrumentality) adalah persepsi dari individu bahwa hasil tingkat pertama
akan dihubungkan pada tingkat kedua.

(Hendry, 2010)

Daftar Pustaka:
Hendry. (2010, January 26). Retrieved from World Press:
https://teorionline.wordpress.com
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2015). Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.