Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dari berbagai penelitian epidemiologi, dikatakan bahwa insiden diabetes
melitus (DM) cenderung meningkat. Penelitian epidemiologi yang dikerjakan di
Indonesia juga jelas menunjukan kecenderungan serupa.. Berbagai penelitian
prospektif jelas menunjukan meningkatnya penyakit akibat penyumbatan
pembuluh darah, baik mikrovaskular seperti retinopati, nefropati maupun
makrovaskular seperti penyakit pembuluh darah koroner dan juga pembuluh
darah tungkai bawah. Diperlukan identifikasi dan diagnosis dini pada orang yang
mempunyai risiko tinggi terjadinya komplikasi kronik DM. Semua hal tersebut
diharapkan akan dapat mengurangi beban biaya yang harus tanggung oleh
masyarakat dibandingkan akibat komplikasi yang terjadi.1
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di berbagai penjuru dunia.
WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta
pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Senada dengan WHO,
International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009, memprediksi kenaikan
jumlah penyandang DM dari 7,0 juta pada tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada
tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan keduanya
menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat
pada tahun 2030.2

Berbagai studi telah melaporkan hubungan antara DM dan gangguan


fungsi kognitif yang meningkatkan risiko terjadinya demensia. Hubungan
gangguan fungsi kognitif pada lansia penderita DM cukup kuat, dan wanita
mengalami penurunan fungsi kognitif yang lebih bermakna dibandingkan pria.
Studi lain membuktikan bahwa lansia dengan kontrol gula darah yang baik lebih
lambat mengalami gangguan fungsi kognitif.3-5
Seperti halnya depresi, gangguan fungsi kognitif dapat menganggu
kemampuan partisipasi pasien dalam tata laksana DM, baik dalam hal modifikasi
gaya hidup maupun minum obat. Oleh sebab itu, penting dilakukan skrining atas
gangguan fungsi kognitif pada awal pengobatan dan setiap ada perubahan pada
kemampuan lansia di dalam mengurus diri sendiri. 6-8
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas masalah penelitian dapat
dirumuskan : Bagaimana gambaran gangguan kognitif pada orang dengan faktor
Risiko atau dengan Diabetes Melitus?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum: Membuktikan dan menganalisis gambaran gangguan kognitif
pada orang dengan Diabetes Melitus.
Tujuan Khusus:
1. Deteksi dini adanya gangguan fungsi Kognitif pada pasien dengan faktor
risiko atau dengan Diabetes Melitus.
2. Memperoleh data gangguan fungsi kognitif pada Diabetes Melitus
D. Ruang Lingkup
Penelitian ini di batasi pada kajian tentang gambaran gangguan fungsi
kognitif pada orang dengan Diabetes Melitus. Objek penelitian ini adalah orang

dengan usia > 55 tahun dengan memiliki penyakit Diabetes Melitus di berbagai
Ruamah Sakit Suasta di Jakarta pada bulan Agustus - Oktober Tahun 2013.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai:
1. Pribadi : Lebih terlatih dalam mendeteksi dini gangguan kognitif
dengan menggunakan MoCA INA.
2. Bidang akademik : Menjadi data dasar untuk penelitian selanjutnya
3. Masyarakat : Data ini dapat disumbangkan ke Puskesmas sebagai data
untuk program kerja. Sebagai pertimbangan dalam upaya deteksi dini
gangguan kognitif secara klinis pada orang dengan risiko atau dengan
Diabetes Melitus.