Anda di halaman 1dari 10

Desy

Iklas
Rangga
Human Relations

Kasus 1: Kemelut Freeport dan Masyarakat Papua


a. Tuntutan karyawan PT Freeport Indonesia
b. Pelamggaran Hak Asasi Manusia
c. Ketidakpuasan Masyarakat Papua secara luas
Pertanyaan:
1. Mengapa pengelola/manajemen sebuah perusahaan harus memperhatikan
unsure human relations? Jelaskan dengan konsep Triple Botom Line.
2. Buatlah analisa khusus dan kemukakan pendapat Anda mengenai PT Freeport
Indonesia dipandang dari sudut Human Relations.
3. Bagaimana seharusnya penerapan human relations

dalam

komunikasi

organisasi (internal)?
4. Jika Anda menjadi Public Relations Officer PT Freeport Indonesia, program apa
saja yang akan Anda lakukan, baik untuk public internal maupun eksternal?
JAWAB :
1. Pengelola / manajer sebuah perusahaan harus memperhatikan unsure
human relations (dengan konsep bottom line), kenapa?
Karena human relations dalam perusahaan merupakan salah satu
factor/unsure pokok yang harus diperhatikan oleh seorang pengelola/manajer
perusahaan. Perusahaan sebagai suatu badan usaha turut berperan serta dalam
proses pembangunan ekonomi bangsa. Keterlibatan dalam proses tersebut tidak
terlepas dari keberadaan sumber daya manusia bagi perusahaan adalah untuk
meningkatkan produktivitas perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus

memperbaiki kesejahteraan atau kemajuan karyawan yang bekerja didalamnya.


Kesejahteraan atau kemajuan itu tidak hanya dapat dicapai melalui terpenuhinya
kebutuhan fisik atau materi saja. Satu hal yang sangat penting tapi justru kadang
terlupakan

adalah

usaha

perusahaan

untuk

memperhatikan

kebutuhan

psikologis karyawannya. Dalam hal ini salah satunya adalah faktor human
relationsnya.
Pengertian secara umum, human relations adalah hubungan antara
seseorang dengan orang lain yang terjadi dalam segala situasi dan dalam semua
bidang kegiatan atau kehidupan untuk mendapat kepuasan hati. Secara ringkas
sebenarnya studi human relations memusatkan perhatian pada dua tema, yaitu
memperbesar produktivitas dalam pekerjaan dan mempebesar kepuasaan
manusia dalam organisasi. Jadi sebenarnya dalam human relations kita
berbicara tentang pola-pola perilaku dalam organisasi. Di dalam perusahaan
manajer harus dapat peka untuk melihat apa yang sebenarnya dan apa yang
sedang dibutuhkan karyawan dari segi fisik dan psikologisnya. Terpenuhinya
kebutuhan fisik dan psikologis ini dalam suatu perusahaan merupakan hal
penting bagi tumbuhnya motivasi kerja yang lebih besar bagi produktivitas
perusahaan. Besarnya dampak ini karena motivasi kerja yang dimiliki karyawan
akan mampu memperbaiki efisiensi dan efektivitas perusahaan. Disamping itu
motivasi kerja yang dimiliki karyawan pada saat ini juga mampu menentukan
nasib perusahaan dimasa yang akan datang. Dalam hal ini yang memegang
peranan penting adalah seorang pimpinan. Pemimpin/manajer ini diharapkan
bisa memotivasi dan membimbing bawahannya dengan sebaik mungkin, selain
itu juga harus bisa menyatukan seluruh anggota organisasi/perusahaan
sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Ada beberapa perusahaan yang telah menerapkan konsep Triple Bottom
Line di dalam peraturan perusahaannya, contohnya seperti The Body Shop,
Nestle, Unilever dan Kraft Foods. Konsep Triple Bottom Line adalah Konsep
pengukuran kinerja perusahaan dengan memasukan tidak hanya ukuran kinerja
ekonomis berupa perolehan profit, tapi juga ukuran kepedulian sosial terhadap
public internal maupun eksternal dan pelestarian lingkungan. Konsep Triple

Bottom Line ini sering dikenal dengan konsep TBL / 3BL, atau 3P Profit,
People, Planet. Jadi, ketiganya merupakan pilar yang mengukur nilai kesuksesan
suatu perusahaan dengan tiga kriteria: ekonomi, manusia dan sosial, serta
lingkungan.
Human relations merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh
perusahaan. Human relations yang berjalan baik akan menghasilkan dampak
yang baik pula bagi perusahaan. Jika dipandang dengan konsep TBL,
pentingnya manajer memperhatikan unsur human relations adalah agar semua
tujuan perusahaan dapat tercapai dengan tidak mengesampingkan unsur
karyawan/sosial dan lingkungan. Yang ditekankan pada konsep TBL adalah
People (Manusia), perusahaan harus memperhatikan para pekerja/karyawannya.
Perusahaan tidak boleh egois hanya mementingkan profit perusahaan (profit
oriented) dan mengesampingkan faktor humanisnya. Disini secara tidak
langsung karyawan merupakan penggerak dari sebuah perusahaan, jika tidak
ada karyawan perusahaan juga tidak akan

berproduksi. Untuk itu, alangkah

baikknya jika sebuah perusahaan dengan bijak memandang karyawan sebagai


faktor yang sangat penting dalam proses keberhasilan sebuah perusahaan
dalam mencapai tujuan-tujuannya. Perusahaan harus memberikan perhatian
yang maksimal terhadap karyawan, seperti jaminan kesehatan bagi karyawan,
pendidikan

karyawan,

tunjangan,

dan

bonus.

Perusahaan

tidak

boleh

mengeksploitasi tenaga karyawan demi tujuannya, apalagi membayar gaji


karyawan di bawah range yang tidak wajar. Jika seorang pengelola/manajer
perusahaan memperhatikan hal-hal seperti itu, dengan membayar upah pegawai
dengan wajar, memberikan bonus bagi yang berprestasi, memberikan tunjangan,
jaminan kesehatan, memperhatikan waktu jam kerja karyawan (tidak melakukan
eksploitasi tenaga), tentu semangat kerja karyawan akan meningkat, hasil kerja
yang dilakukan juga baik dan produktif, konsumen semakin banyak, perusahaan
untung, karyawan mendapat bonus, kesejahteraan karyawan meningkat, tujuan
perusahaan tercapai. Hal ini sesuai dengan konsep Satisfaction Circle dengan
memperhatikan pula konsep TBL, unsur people. Jadi, kepuasan anatara kedua
belah pihak antara perusahaan dengan karyawan akan tercapai, baik dari segi

economis, psikologis, dan sosialnya. Untuk itu jika People sudah dijalankan
dengan baik maka Profit akan mengikuti, karena jika dipikir secara logis
penerapan People yang benar maka Profit perusahaan juga akan meningkat
sejalan dengan bagaimana penerapan People-nya. Unsur lain yang perlu
diperhattikan adalah Planet, Planet disini adalah lingkungan disekitar. Dalam
kasus ini tentu lingkungan disekitar FI. Sebagai perusahaan yang besar
seyogyanya FI juga ikut menjaga lingkungan, dengan mengurangi produk limbah
yang dihasilkan, mengurangi kerusajan tahan dan tumbuhan disekitarnya.
Alangkah bijaknya jika semua 3P ini diperhatikan dengan benar, sehingga tidak
merugikan dan mengorbankan pihak lain demi mencapai suatu tujuan.

2. Analisa dan pendapat saya mengenai PT Freeport Indonesia dipandang


dari sudut Human Relations.
Kemelut permasalahan PT Freeport Indonesia dengan masyarakat Papua
merupakan masalah yang penting untuk dibahas. Banyak terjadi pemberontakan
yang dilakukan oleh rakyat papua terhadap PT FI itu. Pemberontakan itu
sebenarnya bukan tanpa alasan. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap
masyarakat Papua tercermin dengan jelas dari adanya berbagai kasus yang
terjadi di mutiara timur Indonesia ini.
Dilihat dari sudut Human Relations, PT Freeport Indonesia sebenarnya
sudah melanggar peraturan. Pertama, tidak adanya komunikasi yang harmonis
antara perusahaan dengan pekerjanya mengindikasikan bahwa perusahaan itu
tidak menerapkan prinsip Human Relations dengan benar, atau bahkan tidak
menerapkan sama sekali, sehingga lambat laun perusahaan itu pasti akan
mengalami penurunan produksi karena tidak berjalannya satisfaction circle yang
merupakan salah satu konsep Human Relations yang sebenarnya harus
dilakukan oleh perusahaan sehingga tujuan dari perusahaan itu sendiri akan
tercapai. Hal ini tentu sangat beda dengan PT Freeport Indonesia, yang menurut
saya kurang menerapkan praktik Human Relations dengan baik kepada seluruh
karyawannya.

FI

hanya

melakukan

Downwards

Communications

yang

mengakibatkan proses Human Relations yang terjadi di FI itu sendiri berjalan


sangat kaku dan formal. Hal ini dapat dilihat dari sikap FI terhadap tuntutan
pekerja perusahaan ini, dimana FI bersikeras menolak tuntutan para pekerja.
Dengan kata lain FI tidak mau mendengar keluh kesah pekerjanya, FI tidak mau
mendengar pendapat pekerjanya, FI cenderung bersikap apatis dengan
mengendepankan prinsip Profit Oriented tanpa melihat sisi Humanis dari para
pekerjanya, hal ini tentu sangat tidak sesuai dengan prinsip Human Relations.
Kedua, FI telah mengeksploitasi tenaga pekerja. Praktik Human Relations
yang baik, seharusnya tidak melakukan hal seperti itu. Pekerja adalah aset
penting dalam suatu perusahaan. Demikian seharusnya terjadi di PT FI ini. Tetapi
kenyataannya, FI hanya menganggap pekerja sebagai buruh dengan derajat
paling bawah yang dapat dimanfaatkan sesuka hatinya untuk mendapatkan atau
mencapai sebuah tujuan. Pengeksploitasian tenaga kerja merupakan hal yang
melanggar hukum dilihat dari perspektif manapun. Pekerja/karyawan seharusnya
mendapat perlakuan yang baik oleh perusahaan.
Ketiga, Upah tenaga kerja yang minim. Hal ini merupakan salah satu akar
permasalahan yang mendasari dari pemogokan kerja pekerja PT Freeport
Indonesia ini. Tidak adanya keseimbangan dan pemerataan pendapatan
pekerja / karyawan, merupakan hal yang tidak sesuai dengan prinsip Human
Relations. Seperti telah kita ketahui, bahwa FI merupakan perusahaan tambang
emas terbesar di Dunia. Dan sungguh ironis jika kita mendengar bahwa
kesejahteraan masyarakat sekitar ataupun pekerjanya masih rendah atau dapat
dikatakan miskin dan terbelakang. Perusahaan tambang emas dan tembaga
terbesar ini seharusnya memperhatikan aspek lingkungan dan sosial mereka,
jangan

bertindak

egois

dengan

mengeksploitasi

tenaga

pekerja

dan

mengeksploitasi lingkungan. FI harus bisa menciptakan keseimbangan antara


profit, sosial, dan kesejahteraan karyawannya. Menurut saya FI seolah-olah
menganggap para pekerja sebagai buruh kasar yang dapat dimanfaatkan untuk
meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran anggaran yang
minim untuk gaji pekerja/karyawan. Tentu hal ini merupakan sesuatu yang bijak

yang dilakukan oleh sebuah perusahaan. Bagaimana dapat dikatakan bijak, jika
FI hanya membagi 1% dari keuntungannya untuk 7 suku yang berada di sekitar
penambangan PT FI ini, dan itu pun diserahkan kepada pemimpin suku, yang
belum jelas apakah dana itu didistribusikan atau tidak. Memang sungguh ironis,
Papua yang merupakan salah satu pulau terkaya di dunia itu, tidak dapat
mensejahterakan masyarakat Papua itu sendiri. Mereka miskin di tanah air
mereka yang kaya.
Keempat, Pengusiran paksa terhadap masyarakat di daerah Amungsal
(suku Amungme) yang dilakukan oleh oknum TNI dibawah kaki tangan PT
Freeport Indonesia. Hal ini merupakan peristiwa yang tidak humanis. FI yang
merupakan perusahaan pendatang / asing berani melakukan pengusiran
terhadap masyarakat suku Amungme yang merupakan masyarakat yang
memegang hak adat Gunung Eastberg yang konon merupakan tempat yang suci
yang tidak sembarang orang boleh memasuki tempat ini. Tapi FI tanpa permisi,
melanggar martabat, menghancurkan dunia batin dan sumber orientasi mereka.
Kemudian suku Amungme dipindahkan di daerah kaki gunung di Grasberg.
Banyak masyarakat dari suku Amungme yang meninggal karena tidak bisa
bertahan hidup dengan situasi / kondisi alam yang berbeda dengan daerah
asalnya itu.
Kelima, Kekerasan yang sering dilakukan oknum TNI kepada masyarakat
Papua. Banyak beberapa masyarakat Papua yang meningggal ataupun
mengalami luka-luka karena tindakan kekerasan yang dilakukan oknum TNI
bersenjatan ini yang menjadi tangan kanan PT FI. Sebenarnya banyak peristiwa
yang menimbulkan tragedi di tanah Papua karena permasalahan Freeport.
Kejadian terakhir yang dilakukan oknum TNI dan Polisi telah membuat kejadian
satu orang demonstran pekerja Freeport meninggal karena menjadi korban
pelurut aparat, dan beberapa lainnya luka-luka. Selain bukan merupakan
tindakan yang Humanis hal ini juga telah melanggar HAM, yaitu hak untuk hidup,
hak mendapatkan keadilan, dan hak mendapatkan keamanan. TNI dan Aparat
polisi yang seharusnya bertindak netral, seolah-olah lebih berpihak pada FI.

Dalam hal ini masyarakat Papua tidak mendapatkan keadilan rasa aman. Dalam
hal ini dapat kita katakan, sebenarnya siapa yang tidak nasionalis? Apakah
masyarakat Papua atau pemerintah Indonesia?

3. Penerapan Human Relations dalam komunikasi organisasi (internal) ?


Komunikasi Internal adalah komunikasi antara manajer dengan komunikan
yang berada di dalam organisasi, yakni para pegawai, secara timbal balik.
Karena dalam organisasi terdapat jenjang kepangkatan yang menyebabkan
adanya pegawai yang memimpin dan yang dipimpin, maka dalam manajemen
tidak saja terjadi komunikasi antara pegawai yang sama status atau pangkatnya,
tetapi juga antara pegawai yang memimpin dan yang dipimpin. Komunikasi
internal terbagi menjadi tiga kegiatan yakni komunikasi vertical, komunikasi
horizontal, dan komunikasi diagonal.
Komunikasi Vertikal
Komunikasi yang terjadi antara manajer dengan pegawainya atau sebaliknya.
Sebagai perusahaan pertambangan yang besar, PT Freeport Indonesia telah
menerapkan komunikasi vertical, tapi sayangnya komunikasi ini terlalu kaku
dan tidak memberikan banyak kesempatan bagi para pegawai untuk
mengeluarkan apresiasinya. Dapat dibilang komunikasi tipe ini seperti
komunkasi klasik yang menjunjung tinggi nilai mesin dan menjadikan pegawai
sebagai tenaga yang dapat dieksploitasi. Jadi saran saya, komunikasi vertical
tetap diterapkan, tetapi mungkin sikap dari manajer atau atasan-atasannya
yang

diubah.

Manajer

seharusnya

juga

lebih

menghargai

jasa

karyawan/pegawainya.
Komunikasi Horizontal
Komunikasi yang terjadi antara manajer dengan manajer, atau pegawai
dengan pegawai, komunikasi yang terjadi pada level yang sama. Dalam
komunikasi horizontal PT Freeport Indonesia, menurut saya cukup baik.
Hanya perlu ditingkatkan kegiatan yang melibatkan banyak pegawai sehingga
kesatuan dari pegawai menjadi suatu kesatuan yang solid.
Komunikasi Diagonal

Komunikasi yang terjadi antara atasan bidang lain, dengan staff yang
berbeda.
Seharusnya PT FI melakukan cara-cara komunikasi organisasi (internal) yang
benar yaitu:
-

FI memperhatikan kepentingan pegawai dari segi ekonomi, sosial maupun

psikologis
FI melaksanakan two way communication dengan feedback yang baik berkat
adanya good human relations, meliputi : downwards, upwards, horizontal,
diagonal communication

Komunikasi dalam organisasi ini diperlukan oleh FI untuk:


-

Menjalin pengertian di antara seluruh komponen organisasi. Bila FI tidak


dapat melaksanakan komunikasi dengan baik, maka semua rencana, intruksi,

sasaran, dan motivasi tinggal di atas kertas saja.


Tanpa adanya komunikasi yang baik, pekerjaan akan simpang siur dan kacau

balau sehingga tujuan organisasi tidak akan tercapai.


Komunikasi di dalam organisasi bagaikan darah di dalam badan. Bila
jalannya tidak lancer atau tersumbat, badan akan sakit bahkan jantung
terhenti. Hal ini dapat kita ketahui dari masalah FI sekarang ini, terjadinya
mogok kerja karena kurang berjalannya komunikasi yang baik.

Tujuan pelaksanaan human relations di lingkungan internal organiasi:


-

Menciptakan hubungan yang harmonis di lingkungan internal organisasi


Menciptakan motivasi kerja tinggi pada karyawan

4. Program yang akan saya lakukan jika menjadi PRO PT Freeport Indonesia
adalah :
Mengadakan program pengembangan dan agribisnis di Papua
Program Papua: Together We Can
Papua Green and Clean
Papua Trashion
Program Pendidikan Kesehatan Masyarakat

Festifal Seni Budaya Asmat dan Kamoro


Program Papua Mandiri (Wirausaha Papua)
Program Pendidikan Karyawan
Program Pra-magang / magang bagi keluarga karyawan (Tujuh Suku)
Program Recycle limbah
Program pengurangan limbah yang dihasilkan

Program utama yang akan saya lakukan adalah program Papua: Together We
Can, Papua Mandiri (Wirausaha Papua) dan Papua Green and Clean.
-

Program Papua: Together We Can


Program ini bertujuan mencerdaskan masyarakat Papua yang telah kita
ketahui, masih banyak masyarakat Papua yang belum dapat membaca,
menulis, dan mengembangkan ketrampilannya. Papua: Together We Can ini
akan mengadakan pendidikan secara gratis bagi masyarakat Papua terutama
yang berada di pedalaman. Kami akan menyesuaikan bagaimana cara
mengajar kami kepada masyarakat pedalaman. Kami akan mengundang
pengajar-pengajar yang professional baik dalam negri maupun dari luas
(Amerika Serikat). Untuk memudahkan dalam pengajaran kami akan
mengudang ahli psikologi. Program ini kami tujukan bagi masyarakat semua
umur khusus Papua, terutama yang berada disekitar tempat pertambangan
maupun yang berada jauh di pedalaman. Together We Can merupakan
program gotong-royong dalam mencerdaskan masyarakat Papua. Program
ini gratis, dan diharapkan Papua dapat menjadi daerah yang cerdas dan

berwawasan luas.
Papua Mandiri
Program Papua Mandiri dikhususkan bagi perempuan dan Pria dewasa
Papua. Program Papua Mandiri / wirausaha, mereka akan dilatih bagaimana
berwirausaha yang benar, mereka juga akan diberikan ketrampilan seperti
menjahit, membuat kerajinan, dan memanfaatkan sumber daya alam sebagai
obat, makanan, dan kerajinan. Hal ini tentu akan diteliti terlebih dahulu di
laboraturium mana saja sumber daya alam yang dapat diolah dan tidak
menimbulkan efek samping.

Papua Green and Clean

Program Papua Green and Clean ini akan diadakan khususnya di daerah di
sekitar PT Freeport Indonesia, yang meluas ke tujuh suku di daerah PT FI ini.
Program ini terdiri dari reboisasi daerah/lahan gundul, pembelajaran teknik
penaman yang benar, merawat tanaman, menjaga tanah, membuang
sampah pada tempatnya, bagaimana mengolah sampah yang benar,
menjaga kebersihan air sungai, serta bersama PT FI ikut menjaga hutan di
Papua yang berperan penting dalam menangani proses pemanasan global
yang terjadi saat ini.
Pada program-program di atas merupakan bentuk program CSR yang akan kami
lakukan, jika saya menjadi PRO PT Freeport Indonesia. Adapun tahap yang akan
saya lakukan adalah:
-

Tahap perencanaan: awareness building, CSR assessment, CSR manual

building
Tahap Implementasi:
~ Organizing
~ Staffing
~ Directing
~ Controlling
~ Actuating
~ Evaluating
Tahap Evaluasi: internal maupun meminta pihak independen untuk

melakukan audit implementasi atas praktek CSR


Tahap Pelaporan

Bentuk CSR yang akan saya lakukan adalah:


-

Bentuk Sosial
Bentuk Lingkungan
Bentuk Ekonomi
Bentuk Budaya