Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH AIK IV

HAKIKAT IPTEK DALAM PANDANGAN ISLAM

DISUSUN OLEH :
1. HENI TASLIMAH
2. PUTRI PAMUNGKAS

( 1301046 )
( 1301056 )

SI KEPERAWATAN IIB
TAHUN AJARAN 2014 / 2015
KATA PENGANTAR

Pertama - tama penulis memanjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang
senantiasa melimpahkan segala nikmat dan karuniaNya, karena berkat karunianya penulis
dapat menyelesaikan tugas mata AIK IV. Shalawat serta salam senantiasa kita panjatkan
kepada junjungan kita Rasulullah SAW.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan tugas makalah ini. Rekan rekan yang senantiasa mendukung dan
memotivasi serta memberi masukan yang sangat berguna dalam penyelesaian tugas makalah
ini.
Makalah ini berjudul HAKIKAT IPTEK DALAM PANDANGAN ISLAM .
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis memohon
maaf, apabila didalam tulisan saya ini ada kekurangandalam penulisan sebagainya. Penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan penulisan kedepannya.

Klaten, 13 Pebruari 2015

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Manusia selain diciptakan sebagai abdullah ia juga diutus sebagai khalifatullah yang
tujuannya untuk menjadi pemimpin di dunia beserta isinya ini sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan oleh Allah, baik itu yang tersurat dalam Al Quran dan Al Hadits mupun
yang tersirat dalam Sunnatullah (fenomena alam). Dengan kata lain dalam Islam harus ada
keserasian antara imtaq yang berorientasi kepada abdullah yaitu zikir dan iptek yang
berorientasi kepada khalifatullah yaitu fikir.
Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Banyak
disebutkan dalam Al Quran ayat-ayat yang menganjurkan manusia untuk senantiasa mencari
ilmu. Allah senantiasa meninggikan derajat orang - orang yang berilmu, sebagaimana telah
dijelaskan dalam surat al-Mujadalah ayat 11 :
.........(11 : )
Yang terpenting adalah ilmu itu tujuannya tidak boleh keluar dari nilai - nilai islami yang
sudah pasti nilai - nilai tersebut membawa kepada kemaslahatan manusia. Seluruh ilmu, baik
ilmu - ilmu teologi maupun ilmu - ilmu kealaman merupakan alat untuk mendekatkan diri
kepada Allah, dan selama memerankan peranan ini, maka ilmu itu suci.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan konsekuensi dari konsep ilmu
dalam Al Quran yang menyatakan bahwa hakikat ilmu itu adalah menemukan sesuatu yang
baru bagi masyarakat, artinya penemuan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui orang.
Dijelaskan dalam surat al-'alaq
(5 : )
Jadi pada hakikatnya umat Islamlah yang paling berkewajiban untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi, sebagai tanda ketaatannya terhadap Allah SWT.
Namun satu fenomena yang paling memilukan yang dialami umat Islam seluruh dunia saat
ini adalah ketertinggalan dalam persoalan iptek, padahal untuk kebutuhan kontemporer
kehadiran iptek merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar, terlebih - lebih iptek
dapat membantu dan mempermudah manusia dalam memahami (memarifati) kekuasaan
Allah dan melaksanakan tugas kekhalifahan.
Realitas tersebut sebenarnya tidak akan terjadi jika umat Islam kembali kepada ajaran Islam
yang hakiki. Untuk itulah sudah saatnya umat Islam bangkit untuk mengejar
ketertinggalannya dalam hal iptek.

Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai konsep iptek dan peradaban Islam, hubungan
ilmu, agama, dan budaya, serta hukum Sunatullah ( kausalitas ).
A. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan iptek ?
2. Bagaimana konsep iptek dalam Islam ?
3. Bagaimana fakta iptek dalam Al Quran ?
4. Bagaimana realitas iptek dalam Islam ?
5. Apa yang dimaksud dengan Agama ?
6. Apa pentingnya Agama bagi manusia ?
7. Apa hubungan antara Ilmu dengan Teknologi ?
8. Apa hubungan antara Ilmu dengan Kebudayaan ?
9. Apa hubungan antara Teknologi dengan Kebudayaan ?
10. Apa yang dimaksud dengan Sunatullah ?
11. Bagaimana pandangan dasar mengenai Sunatullah ?
12. Apa klasifikasi Sunatullah ?
B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari iptek
2. Mahasiswa dapat mengetahui konsep iptek dalam Islam
3. Mahasiswa dapat mengetahui fakta iptek dalam Al Quran
4. Mahasiswa dapat mengetahui realitas iptek dalam Islam
5. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari Agama
6. Mahasiswa dapat mengetahui pentingnya Agama bagi manusia
7. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara Ilmu dengan Teknologi
8. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara Ilmu dengan Kebudayaan
9. Mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara Teknologi dengan Kebudayaan
10. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari Sunatullah
11. Mahasiswa dapat mengetahui pandangan dasar mengenai Sunatullah
12. Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi Sunatullah .

BAB II
TINJAUAN TEORI
I.

KONSEP IPTEK DAN PERADABAN ISLAM


A. Pengertian iptek
IPTEK merupakan singkatan dari dua komponen yaitu ilmu pengetahuan dan

teknologi dan ada pula yang memasukkan unsur seni di dalamnya sehingga singkatannya
menjadi ipteks.
Mengenai definisi ilmu pengetahuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai
gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan
memperhitungkan sebab dan akibat.
Lebih jauh Zalbawi Soejati mendefinisikan ilmu pengetahuan atau sains sebagai sunnatullah
artinya adalah ilmu yang mengarah perhatiaannya kepada perilaku alam (bagaimana alam
bertingkah laku).
Menurut Ali Syariati dalam buku Cakrawala Islam yang ditulis oleh Amin Rais, Ilmu adalah
pengetahuan manusia tentang dunia fisik dan fenomenanya. Ilmu merupakan imagi mental
manusia mengenai hal yang kongkret. Ia bertugas menemukan hubungan prinsip, kausalitas,
karakteristik di dalam diri manusia, alam, dan entitas - entitas lainnya.
Sedangkan kata teknologi berasal dari bahasa Yunani "teknikos" berarti "teknik". Apabila
ilmu bertujuan untuk berbuat sesuatu, maka teknologi bertujuan untuk membuat sesuatu.
Karena itu maka teknologi itu berarti suatu metode penerapan ilmu untuk keperluan
kehidupan manusia.
Menurut Zalbawi Soejati, teknologi adalah wujud dari upaya manusia yang sistematis dalam
menerapkan atau memanfaatkan ilmu pengetahuan / sains sehingga dapat memberikan
kemudahan dan kesejahteraan bagi umat manusia.
Dari beberapa definisi tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan
merupakan kumpulan beberapa pengetahuan manusia tentang alam empiris yang disusun
secara logis dan sistematis. Sedangkan Teknologi merupakan penerapan dari ilmu
pengetahuan tersebut, yang tujuan sebenarnya adalah untuk kemaslahatan manusia.

B. Konsep iptek dalam islam


Menurut Harun Nasution, tidak tepat anggapan yang mengatakan bahwa semua ajaran
agama bersifat mutlak benar dan kekal. disamping ajaran - ajaran yang bersifat absolut benar
dan kekal itu terdapat ajaran - ajaran yang bersifat relatif dan nisbi, yaitu yang dapat berubah
dan boleh diubah. Dalam konteks Islam, agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad,
memang terdapat dua kelompok ajaran tersebut, yaitu ajaran dasar dan ajaran dalam bentuk
penafsiran dan penjelasan tentang perincian dan pelaksanaan ajaran - ajaran dasar itu.
Allah SWT menciptakan alam semesta dengan karakteristik khusus untuk tiap ciptaan itu
sendiri. Sebagai contoh, air diciptakan oleh Allah dalam bentuk cair mendidih bila
dipanaskan 100 C pada tekanan udara normal dan menjadi es bila didinginkan sampai 0 C.
Ciri - ciri seperti itu sudah lekat pada air sejak air itu diciptakan dan manusia secara bertahap
memahami ciri - ciri tersebut. Karakteristik yang melekat pada suatu ciptaan itulah yang
dinamakan sunnatullah.
Allah SWT, secara bijaksana telah memberikan isyarat tentang ilmu, baik dalam bentuk
uraian maupun dalam bentuk kejadian, seperti kasus mujizat para Rasul. Manusia yang
berusaha meningkatkan daya keilmuannya mampu menangkap dan mengembangkan potensi
itu, sehingga teknologi Ilahiyah yang transenden ditransformasikan menjadi teknologi
manusia yang imanen.
Studi Al Quran dan Sunnah menunjukkan bahwa karena dua alasan fundamental, Islam
mengakui signifikansi sains :
1. Peranan sains dalam mengenal Tuhan
2. Peranan sains dalam stabilitas dan pengembangan masyarakat Islam
Dari sini dapat dilihat bahwa dalam Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan
sebagai sarana untuk mengenal Allah dan juga untuk melaksanakan perintah Allah sebagai
khalifatullah fil Ard sehingga sains tersebut harus membawa kemaslahatan kepada umat
manusia umumnya dan umat Islam khususnya.
Melihat banyaknya jenis bentuk seni yang ada, maka ulama berbeda pendapat dalam
memberi penilaian. Dalam hal menyanyi dan alat musik saja jumhur mengatakan haram
namun Abu Mansyur al Baghdadi menyatakan:"Abdullah bin Ja'far berpendapat bahwa
menyanyi dan alat musik itu tidak masalah. Dia sendiri pernah menciptakan sebuah lagu
untuk dinyanyikan para pelayan."

Namun menurut Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati menyatakan bahwa
seniman dan budayawan bebas melukiskan apa saja selama karyanya tersebut dinilai sebagai
bernafaskan Islam.
C. Fakta iptek dalam Al Quran
Al Quran merupakan satu - satunya mujizat yang tak lekang dimakan zaman. Al Quran ini
bersifat universal untuk seluruh umat manusia.
Salah satu sifat asli Al - Quran yang membedakannya dari bible adalah bahwa untuk
mengilustrasikan penegasan yang berulang - ulang tentang kemahakuasaan Tuhan, kitab
tersebut merujuk kepada suatu keragaman gejala alam.
Diantara aspek - aspek terpenting dari pemikiran ini, bahwa al - Qur'an berisi informasi
tentang fakta - fakta ilmiah yang amat sesuai dengan penemuan manusia, yang diantaranya
adalah sebagai berikut :
Bahwa seluruh kehidupan berasal dari air

(30 : )
Bahwa alam semesta terbentuk dari gumpalan gas (di dalam al-Qur'an disebut dengan adDukhan)


(11 :)
Matahari dan bulan mempunyai ukuran dan perhitungan yang sesuai.

(5 : )
Bahwa kandungan oksigen di udara akan semakin berurang di tempat - tempat yang tinggi

(124 :)... ...


Selain fakta ilmiah yang disebutkan diatas juga tampak dari penamaan surat - surat dalam Al
Quran antara lain: An-Nahl, An-Naml, Al-Hadid, Ad-Dukhan, An-Najm, Al-Qomar dan
masih banyak lagi yang lainnya.
Dari beberapa fakta ilmiah tersebut di dalam al - Qur'an, amatlah jelas bahwa al - Qur'an
memberikan petunjuk kepada manusia tentang berbagai hal. Dengan berlandaskan kepada al Qur'an,

manusia

akan

mengetahui

hasil

penelitiannya

mengenai

alam

melalui

"pengkomparasian (pencocokan)" dengan al-Qur'an", apakah sesuai dengan apa yang telah
dijelaskan oleh al-Qur'an atau sebaliknya.
Disamping contoh fakta ilmiah tersebut di atas, terdapat pula ayat yang mengisyaratkan
tentang teknologi kepada umat manusia. Al - Qur'an tidak menghidangkan teknologi suatu

ilmu yang murni dan lengkap, tetapi hanya menyinggung beberapa aspek penting dari hasil
teknologi itu dengan menyebutkan beberapa kasus atau peristiwa teknik. Perlu diingat bahwa
al - Qur'an bukan buku teknik sebagaimana juga ia bukan buku sejarah (walaupun banyak
juga kisah di dalamnya), buka buku astronomi, fisika dan lain - lain, melainkan kitab suci
yang berisi petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia.
Disamping banyak tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, Al - Qur'an juga membahas
tentang seni, hal ini dapat dilihat pada firman Allah :

(149 : )
Ayat di atas menunjukkan seni pahat yang dilakukan oleh kaum nabi Shaleh yaitu memahat
gunung untuk dijadikan rumah. Dalam ayat lain Allah berfirman :

(19 : ),
Ayat di atas menunjukkan perlunya seni dalam berbicara yaitu dengan nada yang baik dan
lemah lembut, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lirih.
D. Dampak kemajuan Islam di bidang iptek

Gereja Katolik dan Perkembangan Islam

Gereja Katolik Roma, yang berpusat di kota Vatican, adalah salah satu lembaga yang
mengikuti fenomena tentang kecenderungan perpindahan agama. Salah satu pokok bahasan
dalam pertemuan bulan Oktober 1999 muktamar Gereja Eropa, yang dihadiri oleh hampir
seluruh pendeta Katolik, adalah kedudukan Gereja di milenium baru. Tema utama konferensi
tersebut adalah tentang pertumbuhan pesat agama Islam di Eropa. The National Catholic
Reporter melaporkan sejumlah orang garis keras menyatakan bahwa satu - satunya cara
mencegah kaum Muslim mendapatkan kekuatan di Eropa adalah dengan berhenti bertoleransi
terhadap Islam dan umat Islam kalangan lain yang lebih objektif dan rasional menekankan
kenyataan bahwa oleh karena kedua agama percaya pada satu Tuhan, sepatutnya tidak ada
celah bagi perselisihan ataupun persengketaan di antara keduanya.
Dalam satu sesi, Uskup Besar Karl Lehmann dari Jerman menegaskan bahwa terdapat lebih
banyak kemajemukan internal dalam Islam daripada yang diketahui oleh banyak umat
Nasrani, dan pernyataan - pernyataan radikal seputar Islam sesungguhnya tidak memiliki
dasar.

1. Mempertimbangkan kedudukan kaum Muslim di saat menjelaskan kedudukan Gereja di


milenium baru sangatlah tepat, mengingat pendataan tahun 1999 oleh PBB
menunjukkan bahwa antara tahun 1989 dan 1998, jumlah penduduk Muslim Eropa
meningkat lebih dari 100 persen. Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 13 juta umat
Muslim tinggal di Eropa saat ini: 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris, 4-5 juta di
Prancis, dan selebihnya tersebar di bagian Eropa lainnya, terutama di Balkan. Angka ini
mewakili lebih dari 2% dari keseluruhan jumlah penduduk Eropa.
2.

Kesadaran Beragama di Kalangan Muslim Meningkat di Eropa. Penelitian terkait juga


mengungkap bahwa seiring dengan terus meningkatnya jumlah Muslim di Eropa,
terdapat kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama di kalangan para
mahasiswa. Menurut survei yang dilakukan oleh surat kabar Prancis Le Monde di bulan
Oktober 2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di tahun 1994, banyak kaum
Muslims terus melaksanakan sholat, pergi ke mesjid, dan berpuasa. Kesadaran ini
terlihat lebih menonjol di kalangan mahasiswa universitas.

3. Dalam sebuah laporan yang didasarkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah
Turki Aktel menyatakan, para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun ke depan
Eropa akan menjadi salah satu pusat utama perkembangan Islam.

Islam adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Eropa

Bersamaan dengan kajian sosiologis dan demografis ini, kita juga tidak boleh melupakan
bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru - baru ini saja, akan tetapi Islam
sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa.
Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad - abad. Pertama,
negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang
Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389)
memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu. Kini banyak
pakar sejarah dan sosiologi menegaskan bahwa Islam adalah pemicu utama perpindahan
Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya Masa Renaisans. Di
masa ketika Eropa terbelakang di bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan di banyak
bidang lain, kaum Muslim memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan
kemampuan hebat dalam membangun.

II.

HUBUNGAN ILMU, AGAMA DAN BUDAYA

A. AGAMA
i.
Devinisi agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan
kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran
kebhaktian dan kewajiban - kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Kata
agama berasal dari bahasa Sansekerta gama yang berarti tradisi. Sedangkan kata lain
untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar
pada kata kerja re-ligare yang berarti mengikat kembali. Maksudnya dengan bereligi,
seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan (wikipedia.com).
ii.
Pentingnya agama bagi manusia
Setiap agama dan kepercayaan mempunyai pengertiannya masing - masing. Agama dapat
dilihat sebagai kepercayaan dan pola perilaku yang dimiliki oleh manusia untuk menangani
masalah - masalah penting dan aspek - aspek alam semesta yang tidak dapat dikendalikannya
dengan teknologi maupun sistem organisasi sosial yang dikenalnya.
Agama memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi sosial dan fungsi psikologis. Secara
psikologis, agama dapat mengurangi kegelisahan manusia dengan memberikan penerangan
tentang hal - hal yang tidak diketahui dan tidak dimengerti olehnya di dalam kehidupan
sehari-hari. Ditinjau secara sosial, agama mempunyai sanksi bagi seluruh perilaku manusia
yang beraneka ragam.
iii.
Pentingnya peran manusia terhadap agama
Bagi kebanyakan manusia, kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan
mereka.
Menurut Feuerbach, yang disebut Allah adalah kesadaran manusia itu sendiri. Menurut
pemikiran itu maka Feuerbach menyimpulkan bahwa agama adalah kesadaran Nan tak
terbatas. Dengan demikian, manusia menciptakan Allah menurut citranya sendiri, sehingga
dapat dikatakan bahwa manusia jugalah yang menciptakan agama. Manusia adalah awal,
pusat, dan akhir agama. Menurut Feuerbach, ini bukanlah ateisme, melainkan humanisme.

B. HUBUNGAN ILMU DAN TEKNOLOGI


Mengenai teknologi ada tiga pendapat :
1) Teknologi bukan ilmu, melainkan penerapan ilmu.

2) Teknologi merupakan ilmu, yang dirumuskan dengan dikaitkan aspek eksternal,


yaitu industri dan aspek internal yang dikaitkan dengan objek material ilmu
maupun aspek murni-terapan.
3) Teknologi merupakan keahlian yang terkait dengan realitas kehidupan sehari

hari.
Untuk lebih memperjelas identifikasi ilmu dan teknologi ada tujuh pembeda :
1. Teknologi merupakan suatu system adapatasi yang efisien untuk tujuan - tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan akhir dari teknologi adalah untuk
memecahkan masalah - masalah material manusia, atau untuk membawa
perubahan - perubahan praktis yang diimpikan manusia. Sedangkan ilmu
bertujuan untuk memahami dan menerangkan fenomena fisik, biologis,
psikologis, dan dunia sosial manusia secara empires.
2. Ilmu berkaitan dengan pemahaman dan bertujuan untuk meningkatkan pikiran
manusia, sedangkan teknologi memusatkan diri pada manfaat dan tujuannya
adalah untuk menambah kapasitas kerja manusia.
3. Tujuan ilmu adalah memajukan pembangkitan pengetahuan, sedangkan teknologi
adalah memajukan kapasitas teknis dan membuat barang atau layanan.
4. Perbedaan ilmu terknologi berkaitan dengan pemegang peran. Bagi ilmuan
diharapkan untuk mencari pengetahuan murni dari jenis tertentu, sedangkan
teknologi untuk tujuan tertentu. Ilmuan mencari tahu, teknologi mengerjakan.
5. Ilmu bersifat supranasional (mengatasi batas Negara) sedangkan teknologi harus
menyesesuaikan diri lingkungan tertentu.
6. Input teknologi bermacam - macam jenis yaitu material alamiah, daya alamiah,
keahlian, teknik, alat, mesin, ilmu, dan pengetahuan sari berbagai macam,
misalnya akal sehat, pengalaman, ilham, intuisi, dan lain - lain. Adapun input
ilmu adalah pengetahuan yang telah tersedia.
7. Output ilmu adalah pengetahuan baru, sedangkan teknologi menghasilkan produk
berdimensi tiga.

Dari penelusuran terhadap konsep ilmu dan teknologi dengan berbgai aspek dan nuansanya,
kiranya mulai jelas keterkaitan antara ilmu dan teknologi. Beberapa titik singgung antara
keduanya mungkin dapat dirumuskan :
1. Bahwa baik ilmu maupun teknologi merupakan komponen dari kebudayaan.
2. Baik ilmu maupun teknologi memiliki aspek ideasional maupun faktual, dimensi
abstrak maupun konkrit, dan aspek teoritis maupun praktis.
3. Terdapat hubungan dialektis (timbal balik) antara ilmu dan teknologi. Pada satu
sisi ilmu menyediakan bahan pendukung penting bagi kemajuan teknologi, yakni
teori - teori. Pada sisi lain penemuan - penemuan teknologi sangat membantu

perluasan cakrawala penelitian ilmiah yakni dengan dikembangkannya perangkat


- perangkat penelitian berteknologi mutakhir.
4. Sebagai klarifikasi konsep, istilah ilmu lebih dapat dikatakan dengan konteks
teknologi, sedangkan istilah pengetahuan lebih sesuai digunakan dalam konteks
teknis.
C. HUBUNGAN ILMU DENGAN KEBUDAYAAN
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahun merupakan unsur dari kebudayaan.
Kebudayaan disini merupakan seperangkat sistem nilai, tata hidup dan sarana bagi manusia
dalam kehidupannya. Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan
aspirasi dan cita - cita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara.
Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi.
Pada suatu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi
kebudayaannya. Sedangkan dilain pihak, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya
kebudayaan. Ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan struktur sosial dan tradisi
kebudayaan, mereka saling mendukung satu sama lain : dalam beberapa tipe masyarakat ilmu
dapat berkembangkan secara pesat, demikian sebaliknya, masyarakat tersebut tak dapat
berfungsi dengan wajar tanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan
penerapannya.
Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunyai peranan ganda :
1)

Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan

kebudayaan nasional.
2) Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.
Pada kenyataanya kedua fungsi ini terpadu satu sama lain dan sukar dibedakan.
Pengkajian pengembangan kebudayaan nasional kita tidak dapat dilepaskan dari
pengembangan ilmu. Dalam kurung dewasa ini yang terkenal sebagai kurun ilmu teknologi,
kebudayaan kitapun tak lepas dari pengaruhya, dan mau tidak mau harus ikut
memperhitungkan faktor ini. Sayangnya yang lebih dominan pengaruhnya terhadap
kehidupan kita adalah teknologi yang merupakan produk dari kegiatan ilmiah. Sedangkan
hakikat keilmuan itu sendiri yang merupakan sumber nilai yang konstruktif bagi
pengembangan kebudayaan nasional pengaruhnya dapat dikatakan minimal sekali.
Ada pemahaman yang memisahkan ilmu dan kebudayaan baik secara konseptual
maupun faktual, tidak dapat diterima lagi. Ilmu merupakan komponen penting dari
kebudayaan.

Sebagaimana watak yang sudah melekat pada kebudayaan manusia scientism pada akhirnya
dapat reaksi paling tidak dengan munculnya reorientasi atau pengembangan orientasi baru
bagi pengembangan ilmu baru. Gejala yang tampak semakin luas adalah mulai
ditinggalkannya ideologi ilmu untuk ilmu atau ilmu bebas nilai. Ideoloi yang sedemikian
jelas mengingkari hubungan dialektis antara ilmu sebagai unsur sistem kebudayaan dengan
unsur sistem kebudayaan yang lain, baik itu religi, struktur social, kepentingan politis
maupun subjektifitas manusia itu sendiri. Persoalan yang kemudian menuntut pemikiran
bersama lebih lanjut adalah strategi pengembangan ilmu yang sungguh - sungguh
mempertimbangkan unsure - unsur sistem kebudayaan yang lain secara integral dan
integratif. Kesalahan pemilihan strategi pembelajaran ilmu akan mempunyai akibat langsung
bagi integrasi kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan. Setiap kebudayaan memiliki
hierarki nilai yang berbeda sebagai dasar penentuan skala prioritas. Ada sistem kebudayaan
yang menentukan nilai teori dengan mendudukan rasiolisme, empirisme, dan metode ilmiah
sebagai dasar penentu dunia objektif. Terdapat pula sistem kebudayaan yang menempatkan
nilai ekonomi sebagai acuan dasar dari seluruh dinamika unsur kebudayaan yang lain. Ada
juga sistem kebudayaan yang meletakkan nilai positif sebagai dasar pengendali unsure unsur kebudayaan yang lain, selain ada sistem kebudayaan yang menempatkan nilai religius,
nilai estetis, nilai sosial sebagai dasar orientasi seluruh kebudayaan setiap pilihan orientsi
nilai dari kebudayaan akan memiliki konsekuensi masing - masing, baik pada taraf ideasional
maupun operasional.

Untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan pada pokoknya mengandung


beberapa pikiran :
1. Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkah - langkah kearah
peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan
masyarakat kita.
2. Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran. Disamping ilmu masih
terdapat cara-cara lain yang sah sesuai lingkungan dan permasalahannya masingmsaing.
3. Asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya
terhadap metode yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut.
4. Pendidikan ilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral.
5. Pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang
filsafat terutama yang menyangkut keilmuan.
6. Kegiatan ilmiah harus bersifat otonomi yang terbatas dari tekanan struktur kekuasaan.
Pada hakikatnya semua unsur kebudayaan harus diberi otonomi dalam menciptakan
paradigma mereka sendiri. Terlalu banyak campur tangan dari luar hanya menimbulkan
paradigma mereka semua yang tidak ada gunanya. Paradigma agar bisa berkembang dengan
baik membutuhkan dua syarat yakni kondisi rasionalitas dan kondisi psikososial kelompok.
Kondisi rasionalitas menyangkut dasar pikiran paradigma yang berkaitan dengan makna,
hakikat

dan

relevansinya

dengan

keterlibatan

semua

anggota

kelompok

dalam

mengembangkan dan melaksanakan paradigma tersebut.


D. HUBUNGAN TEKNOLOGI DENGAN KEBUDAYAAN
Sejak dimulai revolusi industri di Eropa, teknologi yang dihasilkan oleh masyarakat Eropa,
kemudian disebarkan keseluruh dunia ternyata memiliki berikut :

Watak ekonomis yang pada intinya berorientasi pada efisiensi ekonomis dengan

mengutamakan kendali pada elit pendukung finansial dan elit tenaga ahli.
Ditinjau dari aspek sosial teknologi barat ternyata bersifat melanggengkan sifat
ketergantungan. Ketergantungan ini terkait, baik dengan teknik produksi maupun pola
konsumsi. Mata rantai produsen dan konsumen terputus. Artinya, produsen menentukan
produk lebih berorientasi pada kemajuan teknologi. Iklan - iklan berbagai media massa

merupakan nabi - nabi bagi pencipta kebutuhan baru.


Struktur kebudayaan teknologi barat telah melahirkan struktur kebudayaan yang :
a. Memandang ruang geografis dengan kacamata pusat pinggiran dengan dunia barat
sebagai pusatnya.

b. Adapun kecenderungan untuk melihat waktu sebagai suatu hal yang berkaitan dengan
kemajuan dan berkembang secara linier
c. Adanya kecenderungan untuk memahami relaitas secara terpisah, dan memahami
hubungan antara bagian sebagai hubungan mekanistis sehingga perubahan pada suatu
bagian menuntut adanya penyesesuaian pada bagian yang lain
d. Kecenderungan untuk memandang manusia sebagai tuan atas alam dan hak - hak yang
terbatas.
Dengan mempertimbangkan watak teknologi barat yang demikian, sulit kiranya untuk tidak
menyebut ahli teknologi barat sebagai invasi kebudayaan barat. Perbincangan tentang
hubungan antara teknologi dan kebudayaan dapat dititip dari dua sudut pandang, yakni dari
teknologi dan kebudayaan. Dari sudut pandang teknologi terbuka alternatif untuk
memandang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dalam paradigma positifistis atau
dalam paradigma teknologi tepat. Masing - masing pilihan mengandung konsekuensi yang
berbeda terhadap komponen - komponen kebudayaan yang lain. Paradigma teknologi
positifistis yang didasari oleh metafisika matearialistis jelas memiliki kekuatan dalam
menguasai, menguras, dan memuaskan hasrat manusia yang tak terbatas. Sedangkan
paradigma teknologi tepat lebih menuntut kearifan manusia secara wajar. Dari sudut pandang
kebudayaan bagaimanapun juga teknologi dewasa ini merupakan anak kandung kebudayaan
barat. Hal ini berarti bahwa penerimaan ataupun penolakan secara sistematik terhadap
teknologi harus dilihat dalam rangka komunikasi antar sistem kebudayaan. Dengan demikian,
Negara atau masyarakat pengembang teknologi bahwa suatu penemuan teknologi baru
merupakan momentum proses eksternalisasi dalam rangka membangun dunia objektif yang
baru, sedangkan bagi Negara atau masyarakat konsumen teknologi, suatu konsumsi teknologi
baru dapat bermakna inkulturasi kebudayaan, akulturasi kebudayaan, atau bahkan invasi
kebudayaan.
E. PATOKAN

NILAI

YANG

PERLU

DIPERHATIKAN

DALAM

PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI


Ada 4 hal pokok ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan secara manusiawi :
1. Penghormatan pada hak - hak asasi manusia, yang menegaskan bahwa secara positif
dan secara konkrit unsure - unsur nama yang tidak boleh dilanggar dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat agar masyarakat itu
tetap manusiawi. Rumusan hak asasi merupakan sarana hukum untuk menjamin
penghormatan terhadap manusia. Individu - individu perlu dilindungi dari pengaruh
penindasan ilmu pengetahuan.

2. Keadilan dalam bidang sosial, politik dan ekonomi sebagai hal yang mutlak.
Perkembangan teknologi sudah membawa akibat konsentrasi kekuatan ekonomi
maupun kekuatan politik. Mau memanusiakan pengembangan ilmu pengetahuam dam
teknologi berarti mau mendesentralisasikan monopoli pengambilan keputusan dan
bidang politik dan ekonomi.
3. Soal lingkungan hidup. Tak seorangpun berhak menguras tandas sumber - sumber
alam dan manusiawi tanpa memperhatikan akubat - akibatnya pada seluruh
masyarakat. Ekologi mengajarkan kita bahwa ada kaitan erat antara benda yang satu
dengan benda yang lain di alam ini. Ada hubungan timbal balik antara manusia, alam
dan benda - benda. Ini berarti pengolahan sepihak terhadap salah satu dari tiga realitas
tadi akan membawa akibat dan pengaruh pada bagian - bagian lain. Ekologi mengejar
kita pula mengatasi batas - batas kritis dari dunia : energy dan sumber daya alam yang
terbatas. Pertimbangan soal lingkungan menuntut perhatian pada akibat - akibat pada
4.

pencemaran alam,
Nilai manusia sebagai pribadi. Dalam dunia yang dikuasa teknik, harga manusia
dinilai dari tempatnya sebagai salah satu instrumen sistem administrasi kantor
tertentu. Akibatnya manusia dinilai bukan sebagai pribadi tetapi lebih dari sudut
kegunaannya atau dilihat sejauh manfaat praktisnya bagi suatu sistem. Nilainya
sebagai pribadi berdasarkan hubungan sosial, dasar kerohanian dan penghayatan
hidup sebagai manusia dikesampingkan. Bila pengembangan ilmu penetahuan dan
teknologi mau manusiawi perhatian pada nilai manusia sebagai nilai pribadi tak boleh
dikalahkan oleh mesin.
Hal ini penting karena sistem teknokratis cenderung kearah dehumanisasi. Karena

nilai - nilai sistem teknokrasi berdasar pada objek nyata. Sebagai data serta paham
instrumentalisme. Teknologi ternyata menggeser nilai - nilai dasar manusia sebagai dasar
pribadi. Maka pengembangan teknologi yang manusiawi harus secara dasar menempatkan
manusia sebagai pribadi, sebagai objek yang bernilai pada dirinya.

III.

HUKUM SUNALTULLAH ( KAUSALITAS )


a. Pengertian Sunatullah

Sunnatullh merupakan istilah dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata, yaitu sunnah ( )
dan Allah (). Dengan digabungkannya dua kata tersebut, maka menjadi susunan id afiah (
), susunan kata yang terdiri dari kata yang berpredikat sebagai mudlof (kata yang
disandari) dan mudlof ilaihi (kata yang disandarkan). Kata sunnat berkedudukan sebagai
mudlof ( )dan kata Allah berkedudukan sebagai mudlof ilaihi ( )nya.
Di dalam bahasa arab, kata sunnat dengan fi'il madli (kata kerja untuk masa lampau)nya
sanna ini mempunyai beberapa arti. Diantaranya adalah, tharqat (jalan, cara, metode), assrat (peri kehidupan, perilaku), thab'at (tabiat, watak), asy-syr'at (syariat, peraturan,
hukum) atau dapat juga berarti suatu pekerjaan yang sudah menjadi tradisi (kebiasaan).
Menurut Syaikh al Islam Ibnu Taimiyah, sunnat adalah kebiasaan yang dilakukan kedua
kalinya seperti apa yang dilakukan pertama kalinya. Sedangkan menurut Ar Razi, sunnat
adalah jalan yang lurus dan tauladan yang diikuti. Diantara pendapat kedua tokoh Islam dan
beberapa pendapat lain tentang arti kata sunnat, makna sunnat berkisar pada jalan yang
diikuti. Dan secara umum, kata sunnat digunakan oleh al-Qurn sebagai cara atau aturan.
Jadi, sunnatullh dapat diartikan sebagai cara Allah memperlakukan manusia, yang dalam
arti luasnya bermakna ketetapan-keteapan atau hukum-hukum Allah yang berlaku untuk alam
semesta.
b. Pandangan dasar tentang Sunatullah
Terma Sunnatullh yang banyak disebutkan di dalam al - Qurn merupakan terma bagi
aturan global yang berlaku dan ditetapkan oleh Allah terhadap seluruh komponen alam
semesta. Mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari yang bersifat materi maupun
yang immateri, seluruhnya berjalan di atas aturan - aturan ini. Dan secara umum, aturan
tersebut berdiri diatas hukum sebab-akibat (kausal) atau premis dan hasil akhir (conclution).
Di dalam al-Qurn dijelaskan :
Yang artinya : Kami datangkan bagi setiap sesuatu dengan adanya sebab. (QS. Al Kahfi:
84).

Berdasarkan hal di atas, dapat diketahui jika terma Sunnatullh ini seringkali
disandingkan dengan istilah hukum alam (naturweet) ala pemikiran barat atau bahkan
dianggap sama oleh sebagian umat Islam. Padahal, di antara kedua terma tersebut terdapat
perbedaan yang sangat mendasar dan substansial. Di dalam konsep barat, hukum kausalitas
tersebut menafikan adanya kekuasaan dan kehendak di luar kehendak dan kekuasaan
manusia. Dalam arti murni didasarkan atas potensi suatu benda atau usaha manusia saja.
Sedangkan di dalam Islam, justru faktor di luar diri manusia dan benda itulah yang
menentukan hasil akhir dari hukum kausalitas tersebut. Dengan demikian, hukum kausalitas
di dalam Islam diyakini bahwa pada hakikatnya bukanlah sebab - sebab itu yang membawa
akibat. Namun, akibat itu muncul adalah karena Allah SWT menghendaki demikian.
Sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qurn :
Yang artinya : Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah,
padahal kepada - Nyalah berserah diri dari segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan
suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS: Ali Imran:
83).
Dengan demikian, hukum kausalitas di dalam Islam tidak hanya berjalan secara
horisontal dalam dua arah, antara depan dan belakang, antara sebab dan akibat, akan tetapi
berjalan dalam tiga arah. Horisontal dan vertikal, depan dan belakang serta atas. Sudut
belakang adalah peristiwa atau usaha dari potensi suatu benda atau manusia. Sedangkan
sudut vertikal adalah kekuasaan dan kehendak Allah. Dan sudut depan adalah hasil akhir.
Di dalam al - Qurn banyak sekali disebutkan kejadian - kejadian yang menyimpang
jika dilihat dari perspektif hukum kausalitas barat. Inilah sebenarnya yang menunjukkan
adanya Faktor penentu di luar diri manusia dalam setiap kejadian dan peristiwa yang
terjadi. Dan hal seperti ini, di dalam Islam juga disebut sebagai Sunnatullh.
M. Quraish Shihab, seorang mufassir kontemporer Indonesia, mengatakan bahwa
Sunnatullh tidak harus sama dengan Sunnah-Nya. Karena Sunnatullh yang difahami oleh
sebagian orang merupakan "hukum - hukum alam yang tidak lain adalah "kebiasaan kebiasaan" yang terjadi dan kemudian dijadikan sebagai formulasi. Jadi, penggunaan metode
dan perspektif yang berbeda inilah yang dapat menimbulkan salah kaprah dalam
memahami hukum kausalitas yang menjadi landasan dasar dalam memahami Sunnatullh.
Sedikit saja keliru dalam memahami hal tersebut, itiqadiyah dan kemurnian keimanan
seorang muslim menjadi taruhannya.
Dalam sejarah pemikiran Islam sendiri, perdebatan mengenai hal tersebut mencuat pada
saat Al - Ghazali memberikan komentarnya terhadap para filosof yang ditulis di dalam kitab

Tahfut Al-Falsifah yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rusyd dengan karyanya Tahfut
Al-Tahfut pada masa yang berbeda. Dalam pandangan Al - Ghazali, sebab - akibat
(kausalitas) bukanlah sebagai kepastian, tapi sebagai kebiasaan (adat), bukan sifat yang pasti
(niscaya). Pada saat tertentu hal itu akan berubah. Semua adalah bukti kekuasaan Tuhan yang
tidak terbatas. Sedangkan menurut Ibnu Rusd bahwa, seorang filosof yang beraliran rasional
pasti berpendapat bahwa segala sesuatu tidak mungkin lepas dari sebab

-musabab

(kausalitas). Bahkan sebab -musabab adalah asas ilmu alam dan asal filsafat rasional.
Di dalam karyanya Filsafat Islam, Hasyimsyah Nasution menjelaskan bahwa Ibnu
Ruysd mengembalikan persoalan sebab - musabab (kausalitas) ini kepada empat sebab
pokok (illat) sebagaimana yang dkatakan oleh Aristoteles. Di antara sebab pokok tersebut
adalah :

Materi Causa (Illat Mdiyyah). Sebab - musabab yang berkaitan dengan benda.
Formal Causa (Illat s u wriyyah). Sebab - musabab yang berkaitan dengan bentuk/

form.
Efficient Causa (Illat Filah). Sebab - musabab yang berkaitan dengan daya guna.
Final Causa (Illat Giyyah). Sebab - musabab yang berkaitan dengan tujuan.
Di dalam al - Qurn surat Al Waqiah ayat 63 sampai 70 diterangkan:
Yang artinya : Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam ? Kamukah yang

menumbuhkan atau kamu yang menumbuhkan ? Kalau Kami kehendaki, benar - benar Kami
jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang. (Sambil berkata) :
Sesungguhnya kami benar - benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang yang
tidak mendapatkan hasil apa - apa. Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu
minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan yang ataukah Kami yang menurunkan ?
Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak
bersyukur ?
Berkaitan dengan hal tersebut, Syahid Behesyti mengatakan :
Faktanya al - Qur'n ingin membimbing manusia dari akhir rangkaian ini, yaitu dari hal hal yang dapat diindra, kepada akhir rangkaian yang lain, yaitu Allah. Al - Qur'n
menghendaki manusia untuk tidak berhenti pada sebab - sebab perantara dan gagal mencapai
sumber. Oleh karena itu, anda dengan seluruh alat - alat yang anda punyai adalah juga terlalu
tidak berarti untuk menguasai akhir rangkaian ini. Benar, bahwa air minum itu turun dari
awan, tetapi jangan biarkan mata pandangan anda melihat awan itu dengan mengatakan
bahwa air di awan itu bersih. Al - Qur'n mengatakan : Boleh jadi hujan, tetapi bisa jadi hujan

itu tercemari atau begitu pahit dan tidak bisa dirasakan sehingga seseorang tidak bisa
meminum walau setetes darinya. Maka akhir rangkaian dari minum kalian adalah bukan di
tangan awan, melainkan pada Kekuasaan Yang Maha arif, yang telah menciptakan awan dan
ratusan sarana lain yang bekerja di bawah perintah-Nya dan membersihkan manusia dengan
air - air yang segar dan berasa enak.
Secara umum, prinsip kausalitas dibagi menjadi dua. Pertama, prinsip determinisme,
yaitu setiap sebab memerlukan suatu akibat, dan tanpa sebab tidak mungkin terjadi suatu
akibat (longitudinal). Kedua, prinsip keseragaman alam, yaitu sebab - sebab yang sama
diikuti akibat - akibat yang sama (transversal). Dua akibat ini tidak dapat dipindahkan dari
prinsip kausalitas umum, dan suatu pelanggaran terhadapnya akan menjadi pelanggaran
terhadap prinsip-prinsip kausalitas umum.
c. Klasifikasi Sunatullah
Bukan terjadi karena kebetulan, akan tetapi terjadi disebabkan adanya ketentuan - ketentuan
baku yang mengatur terjadinya suatu kejadian. Penciptaan alam semesta dan seluruh makhluk
yang ada, termasuk manusia diciptakan bukan untuk main - main (La'b) atau kepalsuan
(Bthil), penciptaan yang tanpa maksud dan tujuan. Namun penciptaan ini merupakan suatu
yang merefleksikan Yang Haqq, yaitu Allah Yang Maha Agung, yang menguasai dan
mengawasi seluruh ciptaannya. Dengan sifat

-sifat dan segala ke-Agungan-Nya yang

dipatuhi oleh setiap partikel (arrah) yang menjadi unsur alam menyebabkan terwujudnya
suatu keharmonisan dan kelestarian kosmis yang sempurna.
Secara global, aturan - aturan tersebut di bagi ke dalam dua segi, yang pertama adalah aturan
yang semua makhluk hidup tunduk kepadanya dalam eksistensinya sebagai benda, begitu
juga semua kejadian yang dialami oleh benda itu. Tunduk pula keberadaan manusia dengan
segala perkembangannya. Dan yang kedua, aturan yang berhubungan dengan tunduknya
manusia pada aturan sebagai makhluk individu dan sosial.
Dari kedua kategori global tersebut, ada tiga sifat utama Sunnatullh yang diterangkan di
dalam al - Qurn dan dapat ditemukan dalam riset oleh setiap saintis yaitu :

Pertama, exact (pasti). Sebagaimana disebutkan ayat - ayat muhkamat di dalam al Qurn. Antara lain :

Yang artinya :
Yang kepunyan - Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai
anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah
menciptakan segal sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran - ukurannya dengan
serapi - rapinya.(QS: Al Furqn; 2)
Sesungguhnya

Allah

melaksanakan

urusan

(yang

dikehendaki)-Nya.

Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan-ketentuan bagi tiap-tiap


sesuatu. (Ath-Thalq: 3).
Dengan sifat Sunnatullh ini manusia mendapat jaminan yang memberi kemudahan
bagi manusia dalam suatu rencana berdasarkan perhitungan. Hal inilah, secara fungsional
mendorong manusia untuk berkreasi dan meningkatkan proses kemanusiaannya menuju
kepada yang lebih baik.

Kedua. Immutable, tetap atau tidak berubah. Sebagaimana dalam al - Qurn :


Yang artinya :
Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang - orang yang telah terdahulu

sebelum(mu), dan kamu sekali - kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.
(Q.S. Al-Isra: 77).
Dengan adanya sifat seperti ini, manusia dapat memahami suatu fenomena yang terjadi
di alam ini dengan mengamati relasi - relasi konsisten yang ada di dalamnya. Sehingga
memberikan keyakinan bagi manusia dalam menjalani tugas dan tanggung jawabnya di
dalam kehidupan dunia ini.

Ketiga. Objective. Dengan sifat Sunnatullh ini dapat difahami bahwa, siapapun yang
melakukan kehidupannya di dunia ini dengan mematuhi ketentuan - ketentuan di dalam
Sunnatullh, maka ia akan memperoleh apa yang menjadi tujuannya. Dan sebaliknya,
barang siapa yang tidak mengikuti Sunnatullh secara konsisten, maka ia tidak
mendapatkan apa yang ia harapkan. Dalam ranah inilah terminologi 'amal shlih

diartikan sebagai perbuatan yang sesuai dan mengikuti ketentuan - ketentuan yang ada
di dalam Sunnatullh. Sebagaimana yang di dalam al - Qurn :
Yang artinya :
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu
(cobaan) sebagaimana halnya orang - orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh
malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam - macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan orang - orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya
pertolongan Allah ? ingatlah, sesungguhnnya pertolongan Allah itu amat dekat. (AlBaqarah: 214).
Tiga sifat utama di atas, dilihat dari sudut pandang epistemik - teologis dan
operasionalnya dikategorisasikan ke dalam dua hal, yaitu :
1.

Yang tidak diwahyukan. Pada sub ini, dalam proses operasionalnya tidak melibatkan
manusia. Artinya, kehendak dan kemerdekaan manusia tidak dapat mempengaruhi serta
menjadi parameter dalam berlakunya hukum ini. Hukum ini akan tetap berlaku terlepas
dari apakah manusia itu suka atau tidak suka. Subset ini memudahkan manusia untuk
meneliti, karena salah satu sifatnya adalah time responnya pendek. Jarak waktu antara
terjadinya sebab dan terjadinya akibat tidak membutuhkan waktu yang lama. Sehingga
manusia pun dapat melakukan, misalnya, eksperimen - eksperimen terhadap sesuatu
yang masuk dalam kategori subset ini. Dengan mempelajari hukum - hukum ini akan

2.

memudahkan manusia dalam mengemban amanatnya sebagai khalifah di muka bumi.


Yang diwahyukan. Subset ini semata - mata mengenai dan demi kemaslahatan umat
manusia. Proses berlakunya hukum ini melibatkan manusia dan time respon dari sebset
ini relatif lama. Sehingga sifat-sifatnya yang exact, immutable dan obyektif dapat
terlihat dalam perjalanan sejarah umat manusia. berkaitan dengan hal ini, banyak
dijumpai di dalam al - Qurn ayat - ayat yang mengandung unsur - unsur kesejarahan.
Dan manusia sangat dianjurkan mempelajari sejarah yang masa lampau sebagai bahan
studi perbandingan akan berlakunya hukum ini. Dengan time responnya yang panjang
ini, maka manusia tidak dapat segera melihat akibat dari perbuatan yang termasuk
dalam kategori melanggar atau mematuhi unsur-unsur dari subset yang diwahyukan ini.
Oleh karena itu, dibutuhkan rasa keimanan dalam memahami dan menghayati subset
Sunnatullh ini. Iman di sini berarti percaya dengan sepenuhnya akan akibat baik dan
buruk dari mematuhi atau mengingkari Sunnatullh yang diwahyukan ini.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
-

IPTEK merupakan singkatan dari dua komponen yaitu ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Ilmu pengetahuan diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang disusun
secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.
Teknologi itu berarti suatu metode penerapan ilmu untuk keperluan kehidupan

manusia.
Dari sini dapat dilihat bahwa dalam Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi

digunakan sebagai sarana untuk mengenal Allah dan juga untuk melaksanakan
perintah Allah sebagai khalifatullah fil Ard sehingga sains tersebut harus
membawa kemaslahatan kepada umat manusia umumnya dan umat Islam
-

khususnya.
Sunnatullh merupakan istilah dari bahasa arab yang terdiri dari dua kata, yaitu

sunnah dan Allah.


sunnatullh dapat diartikan sebagai cara Allah memperlakukan manusia, yang
dalam arti luasnya bermakna ketetapan - ketetapan atau hukum - hukum Allah
yang berlaku untuk alam semesta.

DAFTAR PUSTAKA
1. Suryo Ediyono, 2010, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Penerbit Kaliwangi
2. Al Baghdadi, abdurrahman. Seni Dalam Pandangan Islam: Seni Vocal, Musik & Tari.
3. Gema Insani Press. Jakarta. 1991Butt, Nasim. Sains dan Masyarakat Islam. Pustaka
Hidayah. Bandung. 2001.
4. Muntasyir, Rizal & Munir, Misnal. Filsafat Ilmu. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2001
5. http://anti-islamlib.com/2009/10/ilmu-pengetahuan-dalam-perspektif-islam/

6. http://radenbeletz.com/ilmu-dan-teknologi-menurut-islam.html#more-584