Anda di halaman 1dari 12

ETIKA PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN IPTEKS DALAM

PANDANGAN ISLAM

KELOMPOK 3 :
1. Chintia Eka Winandiani
2. Nindita Sari
3. Tsamara Inggar Meinisa

1301038
1301054
1301062

STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN


2014/2015

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan IPTEK sekarang ini semakin pesat. Saking pesatnya setiap minggu ada
saja perkembangan teknologi yang dipamerkan dan dipublikasikan. Saat ini rakyat Indonesia
sebagian besar hanya sebagai komsumen dari teknologi-teknologi yang dihasilkan, bukan
menjadi produsen yang dapat membantu perkembangan IPTEK dan perekonomian di
Indonesia. Perkembangan IPTEK yang pesat ini membuat kita sebagai rakyat Indonesia
harus bealajar dengan segera dan tidak boleh terus tertinggal dalam perkembangan IPTEK
ini.
Perkembangan IPTEK yang pesat pada saat ini tidak diseimbangkan dengan
perkembangan nilai-nilai etika dan agama yang harusnya menjadi pondasi bagi IPTEK. Tidak
dipungkiri hal ini pun terjadi pada saat ini, dimana nilai-nilai etika dan agama tidak lagi
dipandang sebagai hal yang harus dipelajari dan dipahami. Sehingga penyimpangan yang ada
bukanlah hal yang harus disalahi. Alasan utamanya adalah IPTEK dengan etika dan agama
tidak ada sangkut pautnya.
Di zaman resainanance, orang-orang Atheis menganggap agama sebagai penghalang
dalam perkembangan IPTEK. Oleh karena itu, agama bukanlah hal yang penting untuk
dipelajari karena tidak membuat IPTEK semakin maju. Memang di zaman ini pun ada yang
tidak setuju dengan pendapat ini. Tetapi tetap saja hingga saat ini kedua hal ini belum dapat
terintegrasi satu sama lain. Selain agama, etika pun menjadi hal yang penting untuk
diperhatikan dan dijalankan. Etika dan agama sebenarnya menjadi suatu kesatuan. Karena
didalam agama juga dipelajari etika. Namun di beberapa negara ataupun wilayah, etika dan
agama merupakan hal yang terpisah karena etika bukanlah dari agama tetapi dari pendangan
dan tanggapan masyarakat terhadap tingkah laku sosial masyarakat. Sehingga bisa saja etika
di setiap wilayah di dunia ini dapat berbeda-beda, karena adat di setiap wilayah berbeda.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka timbul beberapa permasalahan. Yaitu :
1. Bagaimana etika pengembangan dan penerapan iptek dalam pandangan islam
2. Bagaimana peran Islam dalam perkembangan Ipteks?
C. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana beretika dalam pengembangan dan penerapan iptek
dilihat dari pandangan islam.

BAB 2
ETIKA , IPTEK DAN ISLAM
A. Pengertian Etika
Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Dalam bahasa Inggeris dikenal
sebagai ethics dan etiquette. Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang
berbicara tentang praxis (tindakan) manusia.
Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana
manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma.
Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, noprma agama dan norma
sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan,norma agama
berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun
berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika.
B. Peran Etika dalam Perkembangan IPTEK
Perkembangan secara ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat. Dengan
perkembangan tersebut diharapkan akan dapat mempertahankan dan meningkatkan taraf
hidup manusia, untuk menjadi manusia secara utuh, maka tidak cukup dengan mangandalkan
Ilmu pengetahuan dan teknologi, manusian juga harus menghayati secara mendalam kode
etik ilmu, teknologi dan kehidupan. Apabila manusia sudah jauh dari nilai-nilai, maka
kehidupan ini akan terasa kering dan hampa. Oleh karena ilmu dan teknologi yang
dikembangkan oleh manusia harus tidak mengabaikan nilai-nilai kehidupan dan keluhuran.
Para pakar ilmu kognitif telah menemukan bahwa teknologi mengambil alih fungsi mental
manusia, pada saat yang sama terjadi kerugian yang di akibatkan oleh hilangnya fungsi
tersebut dari kerja mental manusia.
Perubahan yang terjadi pada cara berfikir manusia sebagai akibat perkembangan
teknologi sedikit banyaknya berpengaruh terhadap pelaksanaan dan cara pandang manusia
terhadap etika dan norma dalam kehidupannya. Etika profesi merupakan bagian dari etika
sosial yang menyakut bagaimana mereka harus menjalankan profesinya secara profesional
agar diterima oleh masyarakat. Dengan etika profesi diharapkan kaum profesional dapat
bekerja sebaik mungkin, serta dapat mempertanggung jawabkan tugas yang dilakukan dari
segi tuntutan pekerjaannya.

C. Peranan islam dalam perkembangan dan penerapan iptek


Peran pertama yang dimainkan Islam dalam iptek, yaitu aqidah Islam harus dijadikan
basis segala konsep dan aplikasi iptek. Inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah
dibawa oleh Rasulullah Saw. Paradigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum
muslimin saat ini. Bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Diakui atau tidak, kini
umat Islam telah telah terjerumus dalam sikap membebek dan mengekor Barat dalam segalagalanya; dalam pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan.
Bercokolnya paradigma sekuler inilah yang bisa menjelaskan, mengapa di dalam sistem
pendidikan yang diikuti orang Islam, diajarkan sistem ekonomi kapitalis yang pragmatis serta
tidak kenal halal haram. Eksistensi paradigma sekuler itu menjelaskan pula mengapa tetap
diajarkan konsep pengetahuan yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan muslim.
Misalnya Teori Darwin yang dusta dan sekaligus bertolak belakang dengan Aqidah
Islam.kekeliruan paradigmatis ini harus dikoreksi. Ini tentu perlu perubahan fundamental dan
perombakan total.
Dengan cara mengganti paradigma sekuler yang ada saat ini, dengan paradigma Islam
yang memandang bahwa Aqidah Islam (bukan paham sekularisme) yang seharusnya
dijadikan basis bagi bangunan ilmu pengetahuan manusia.Namun di sini perlu dipahami
dengan seksama, bahwa ketika Aqidah Islam dijadikan landasan iptek,. Yang dimaksud
menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah bahwa konsep iptek wajib
bersumber kepada al-Qur`an dan al-Hadits, tapi yang dimaksud, bahwa iptek wajib
berstandar pada al-Qur`an dan al-Hadits. Jika suatu konsep iptek bertentangan dengan alQur`an dan al-Hadits, maka konsep itu berarti harus ditolak. Misalnya saja Teori Darwin yang
menyatakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari organisme sederhana yang selama
jutaan tahun berevolusi melalui seleksi alam menjadi organisme yang lebih kompleks hingga
menjadi manusia modern sekarang. Berarti, manusia sekarang bukan keturunan manusia
pertama, Nabi Adam AS, tapi hasil dari evolusi organisme sederhana. Ini bertentangan
dengan firman Allah SWT yang menegaskan, Adam AS adalah manusia pertama, dan bahwa
seluruh manusia sekarang adalah keturunan Adam AS itu, bukan keturunan makhluk lainnya
sebagaimana fantasi Teori Darwin (Zallum, 2001).

Adapun paradigma yang lain :

1. Paradigma Ilmu Yang Tidak Bebas Nilai


Dalam pandangan Islam , alam semesta sebagai objek ilmu pengetahuan tidak netral ,
melainkan mengandung nilai (value) dan maksud yg luhur . Bila alam dikelola dgn
maksud yg inheren dlm dirinya akan membawa manfaat bagi manusia maksud alam

tersebut adalah suci (baik) sesuai dgn misi yg diemban.


Proses pencarian ilmu tidak hanya berputar disekitar rasio dan empiri, tetapi juga
melibatkan al-qalb yakni intuisi batin yg suci. Rasio dan empiri mendeskripsikan fakta
dan al-qalb memaknai fakta, sehingga analisis dan konklusi yg diberikan sarat makna

makna atau nilai.


Realitas itu tidak hanya realitas fisis tapi juga non-fisis atau metafisis.
Ilmu pengetahuan adalah produk akal fikiran manusia sebagai hasil pemahaman atas
fenomena disekitarnya. Sbg produk fikiran maka corak ilmu yg dihasilkan akan diwarnai

oleh corak fikiran yg digunakan dlm mengkaji fenomena yg diteliti.


2. Paradigma ilmu yg bebas nilai
Dalam pandangan Barat bahwa ipteks itu bebas nilai (Free Value). Ipteks tidak ada
hubungannya dengan agama. Contoh dalam kejadian alam .Para ilmuwan barat memulai
penelitiannya dengan hal yg kosong sementara kalau ilmu yg didasari dgn nilai keislaman

berangkat dari alam itu merupakan ciptaan Tuhan.


Ipteks yg dihasilkan ilmuwan barat itu bebas nilai artinya kemanfaatannya tergantung
kepada manusia yg memakainya sementara kalau ilmu yg didasari dgn nilai keislaman
maka ipteks tersebut tujuannya untuk kemaslahatan masyarakat yg menggunakannya.
Peran kedua Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus

dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam)


wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga bentuknya.
Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sedangkan
iptek yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah diharamkan syariah Islam.
Kontras dengan ini, adalah apa yang ada di Barat sekarang dan juga negeri-negeri
muslim yng bertaqlid dan mengikuti Barat secara membabi buta. Selama sesuatu itu
bermanfaat, yakni dapat memuaskan kebutuhan manusia, maka ia dianggap benar dan absah
untuk dilaksanakan. Meskipun itu diharamkan dalam ajaran agama.

Keberadaan standar manfaat itulah yang dapat menjelaskan, mengapa orang Barat
mengaplikasikan iptek secara tidak bermoral, tidak berperikemanusiaan, dan bertentangan
dengan nilai agama. Misalnya menggunakan bom atom untuk membunuh ratusan ribu
manusia tak berdosa, memanfaatkan bayi tabung tanpa melihat moralitas ,mengkloning
manusia manusia, mengekploitasi alam secara serakah walaupun menimbulkan pencemaran
yang berbahaya, dan seterusnya. Karena itu, sudah saatnya standar manfaat yang salah itu
dikoreksi dan diganti dengan standar yang benar. Yaitu standar yang bersumber dari pemilik
segala ilmu yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang amat mengetahui mana yang secara
hakiki bermanfaat bagi manusia, dan mana yang secara hakiki berbahaya bagi manusia.
Standar itu adalah segala perintah dan larangan Allah SWT yang bentuknya secara praktis
dan konkret adalah syariah Islam.
D. Integrasi Pendidikan Iman,Takwa,dan IPTEK
Pertama, sebagaimana telah dikemukakan, iptek akan memberikan berkah dan manfaat
yang sangat besar bagi kesejahteraan hidup umat manusia bila iptek disertai oleh asas iman
dan takwa kepada Allah swt. Sebaliknya, tanpa asas imtak, iptek bisa disalahgunakan pada
tujuan-tujuan yang bersifat destruktif. Iptek dapat mengancam nilai-nilai kemanusiaan. Jika
demikian, iptek hanya absah secara metodologis, tetapi batil dan miskin secara maknawi.
Kedua, pada kenyataannya, iptek yang menjadi dasar modernisme, telah menimbulkan
pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik, materialistik, dan hedonistik, yang sangat
berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang dianut oleh bangsa kita.
Ketiga, dalam hidupnya, manusia tidak hanya memerlukan sepotong roti (kebutuhan
jasmani), tetapi juga membutuhkan imtak dan nilai-nilai sorgawi (kebutuhan spiritual). Oleh
karena itu, penekanan pada salah satunya, hanya akan menyebabkan kehidupan menjadi
pincang dan berat sebelah, dan menyalahi hikmat kebijaksanaan Tuhan yang telah
menciptakan manusia dalam kesatuan jiwa raga, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.
Keempat, imtak menjadi landasan dan dasar paling kuat yang akan mengantar manusia
menggapai kebahagiaan hidup. Tanpa dasar imtak, segala atribut duniawi, seperti harta,
pangkat, iptek, dan keturunan, tidak akan mampu alias gagal mengantar manusia meraih
kebahagiaan. Kemajuan dalam semua itu, tanpa iman dan upaya mencari ridha Tuhan, hanya
akan mengahsilkan fatamorgana yang tidak menjanjikan apa-apa selain bayangan palsu (Q.S.
An-Nur:39). Maka integrasi imtak dan iptek harus diupayakan dalam format yang tepat

sehingga keduanya berjalan seimbang (hand in hand) dan dapat mengantar kita meraih
kebaikan dunia (hasanah fi al-Dunya) dan kebaikan akhirat (hasanah fi al-akhirah) seperti
doa yang setiap saat kita panjatkan kepada Tuhan (Q.S. Al-Baqarah :201).
Alasan Umat Islam harus menguasai IPTEK
1. Ilmu pengetahuan yg berasal dari dunia Islam sudah diboyong oleh negara-negara barat. Ini
fakta, tdk bisa dipungkiri.
2. Negara-negara barat berupaya mencegah terjadinya pengembangan IPTEK di negara-negara
Islam. Ini fakta yang tak dapat dipungkiri.
3. Adanya upaya-upaya untuk melemahkan umat Islam dari memikirkan kemajuan IPTEK-nya,
misalnya umat Islam disodori persoalan-persoalan klasik agar umat Islam sibuk sendiri,
ramai sendiri dan akhirnya bertengkar sendiri.
Dampak Kemajuan Islam di Bidang IPTEK
Jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat lebih dari 100 persen. Dilaporkan bahwa
terdapat sekitar 13 juta umat Muslim tinggal di Eropa saat ini: 3,2 juta di Jerman, 2 juta di
Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan selebihnya tersebar di bagian Eropa lainnya, terutama di
Balkan. Angka ini mewakili lebih dari 2% dari keseluruhan jumlah penduduk Eropa.
Kesadaran Beragama di Kalangan Muslim Meningkat di Eropa. Penelitian terkait juga
mengungkap bahwa seiring dengan terus meningkatnya jumlah Muslim di Eropa, terdapat
kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama di kalangan para mahasiswa.
Menurut survei yang dilakukan oleh surat kabar Prancis Le Monde di bulan Oktober
2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di tahun 1994, banyak kaum Muslims terus
melaksanakan sholat, pergi ke mesjid, dan berpuasa. Kesadaran ini terlihat lebih menonjol
di kalangan mahasiswa universitas.
Dalam sebuah laporan yang didasarkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah
Turki Aktel menyatakan, para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun ke depan
Eropa akan menjadi salah satu pusat utama perkembangn islam.

BAB 3
HUBUNGAN ETIKA ISLAM DAN IPTEK
IPTEK, etika dan islam menjadi ketiga hal yang dipandang perlu untuk disinergikan.
Melihat ketiga hal ini belum sinergi dan terintegrasi hingga sekarang. Sebenarnya jika kita
bisa mengambil pelajaran pada zaman kejayaan Islam, dimana IPTEK merupakan bidang
yang dikuasai oleh umat Islam, ketiga hal tersebut tersinergikan dengan baik.
Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang
rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan
yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain,
dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan
memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah. Semua ini terintegrasi dengan baik,
yaitu IPTEK yang beretika dan Islami. Etika dan Islam sebagai pondasinya dan IPTEK
sebagai bangunanya, sehingga memberikan manfaat yang sangat besar pada masyarakat di
zaman itu.
Maka disini perlu dikaji kembali sebenarnya bagaimana mengembangkan IPTEK
yang beretika dan Islami. Apa yang dimaksud etika dan apa yang dimaksud islami?
Bagaimana cara pengembangan iptek yang beretika dan islami? Adakah pengembangan iptek
yang tidak beretika dan tidak islami?
Kemajuan teknologi pada saat ini berkembang dengan sangat cepat. Secara umum
IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) adalah suatu jalan dimana yang berfungsi
membantu segala jenis kebutuhan manusia agar sesuatu dapat dilakukan dengan mudah dan
sarana pemikiran manusia dan penciptaan alat-alat yang dapat mendukung kegiatan praktis
(Explore, 2012).
Hal yang perlu dimengerti pula dalam IPTEK adalah etika. Jika kita lihat dari asal
katanya, kata etik (etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak
kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki
oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan yang telah dikerjakannya itu
salah atau benar. Etika merupakan sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan

norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Etika ini sendiri pun
sebenarnya mengatur pula tentang IPTEK.
Dari sudut pandang agama, Islam tidak pernah namanya melarang untuk
mengembangkan IPTEK. Jika kita melihat surat yang pertama diturunkan Al-Quran, yaitu
surat Al-Alaq, ayat pertama menyuruh kita untuk membaca.
Al Quran bukan buku ilmu pengetahuan,tetapi ayat-ayat mengenai alam semesta (kauniyah)
kini terbukti dalam penemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini, kata Prof Naggardalam
ceramahnya

di

Aula

Harun

Nasution,

Universitas

Islam

Negeri

(UIN)

Syarif

Hidayatullah, Jakarta, pada Kamis 30/9/2010 silam.


Pakar ilmu bumi (geologi) tersebut mengupas beragam penemuan ilmiah mengenai alam
semesta yang mengamini hakikat kebenaran AlQuran. Sebagai contoh, Ayat-6 Surat Al Thur,
Al Bahrul Masjur (Demi laut yangdi dalam tanah bawah laut ituada api). Terbukti
secara ilmiah oleh para ahli geologi dan ilmu kelautan bahwa dasar semua samudra dipanasi
oleh jutaan ton magma yang keluar dari perut bumi. Menurut peraih doktor geologi jebolan
Universitas Wales, Inggris, pada tahun 1963 itu, magma tersebut keluar melalui
jaringanrengkahan raksasa yang secara total merobek lapisan litosfir dan sampai kelapisan
astenosfir. Para ilmuwan yang jujur akan kagum melihatkepeloporan Al Quran dan hadishadis Nabi terkait petunjuk tentangfakta-fakta ilmiah bumi, yang baru dapat dibuktikan pada
akhir abad ke-20seiring dengan kemajuan iptek, kata ilmuwan yang telah menghafal semua
30 juz Al Quran saat berusia sepuluh tahun itu.
Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia
kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang
kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan
dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas
yang sama dengan riset-riset ilmiah.
Orientalis Sedillot seperti yang dikutip Mustafa as-Sibai dalam Peradaban Islam, Dulu, Kini,
dan Esok, mengatakan bahwa, Hanya bangsa Arab pemikul panji-panji peradaban abad
pertengahan. Mereka melenyapkan barbarisme Eropa yang digoncangkan oleh seranganserangan dari Utara. Bangsa Arab melanglang mendatangi sumber-sumber filsafat Yunani
yang abadi. Mereka tidak berhenti pada batas yang telah diperoleh berupa khazanah-

khazanah ilmu pengetahuan, tetapi berusaha mengembangkannya dan membuka pintu-pintu


baru bagi pengkajian alam.

BAB 4
PENUTUP
Kesimpulan
Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Dalam bahasa Inggeris
dikenal sebagai ethics dan etiquette. Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat
yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia.
Perkembangan secara ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat.
Dengan perkembangan tersebut diharapkan akan dapat mempertahankan dan meningkatkan
taraf hidup manusia, untuk menjadi

manusia secara utuh, maka tidak cukup dengan

mangandalkan Ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia juga harus menghayati secara
mendalam kode etik ilmu, teknologi dan kehidupan
IPTEK, etika dan islam menjadi ketiga hal yang dipandang perlu untuk disinergikan.
Melihat ketiga hal ini belum sinergi dan terintegrasi hingga sekarang. Sebenarnya jika kita
bisa mengambil pelajaran pada zaman kejayaan Islam, dimana IPTEK merupakan bidang
yang dikuasai oleh umat Islam, ketiga hal tersebut tersinergikan dengan baik.
Dari sudut pandang agama, Islam tidak pernah namanya melarang untuk mengembangkan
IPTEK. Jika kita melihat surat yang pertama diturunkan Al-Quran, yaitu surat Al-Alaq, ayat
pertama menyuruh kita untuk membaca.

Al Quran bukan buku ilmu pengetahuan,tetapi ayat-ayat mengenai alam semesta (kauniyah)
kini terbukti dalam penemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini, kata Prof Naggardalam
ceramahnya

di

Aula

Harun

Nasution,

Universitas

Hidayatullah, Jakarta, pada Kamis 30/9/2010 silam.

DAFTAR PUSTAKA
Kemajuan agama dalam bidang iptek
http://www.Google.Com
http://alcolinz.blogspot.com
http://unisavi.wordpress.com
http://raffy-makalah.blogspot.com
Misterway.Wordpress.com
Gpai2.blogspot.com

Islam

Negeri

(UIN)

Syarif

Friendly12.mywapblog.com