Anda di halaman 1dari 10

BAB I

Pendahuluan

1.1

Latar Belakang
Korban masalah gangguan pola makan atau yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai
eating disorder sudah banyak sekali, dari kelompok selebriti sampai orang biasa. Kalau
tidak segera diobati secara serius, gangguan pola makan bisa mengakibatkan korban jiwa.
Remaja, terutama remaja putri, termasuk kelompok yang rentan terhadap gangguan ini.
Mungkin karena remaja berusaha untuk gaul dan cenderung menjadi korban mode
yang menuntut seseorang langsing cenderung kurus.Seseorang dapat dikatakan
mengalami gangguan pola makan apabila ia terobsesi dengan pengaturan makanan dan
berat badannya. Mereka melakukan hal-hal yang ekstrem untuk menjaga berat badannya.
Ada dua gangguan pola makan, anorexia nervosa.
Walaupun belum diketahui secara pasti, ada berbagai teori yang menjelaskan penyebab
kedua gangguan ini.
Salah satu teori menyebutkan bahwa penyebabnya adalah karena cewek-cewek merasa
sangat tertekan dengan kewajiban untuk tampil langsing seperti yang dimunculkan oleh
televisi dan majalah. Teori yang menunjuk adanya gangguan pada sebagian fungsi otak
yang berkaitan dengan body image.Penderita anorexsia nervosa makan dalam jumlah
sangat berlebihan (menurut riset, rata-rata penderita anorexsia nervosa mengonsumsi
3.400 kalori setiap satu seperempat jam, padahal kebutuhan normal hanya 2.000-3000
kalori per hari). Kemudian berusaha keras mengeluarkan kembali apa yang telah
dimakannya, dengan cara memuntahkannya kembali atau dengan menggunakan obat
pencahar. Di antara kegiatan makan yang berlebihan itu biasanya mereka berolahraga
secara berlebihan.
Biasanya penderita tidak langsung ketahuan oleh orang lain bahwa ia menderita penyakit
ini, karena berat badannya normal dan tidak terlalu kurus. Karena tidak ketahuan
sehingga tidak ditangani dokter, penyakit yang sering berawal ketika seseorang masih
berusia remaja ini dapat berlangsung terus sampai ia berusia empat puluhan sebelum ia
mencari bantuan.

Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan tentang pasien
dengan anorexsia nervosa.untuk memudahkan kita sebagai calon perawat dalam merawat
pasien dengan anorexsia nervosa.

1.2

Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan memberikan suatu gambaran , penjelasan yang lebih
mendalam mengenai anorexsia nervosa. Diharapkan masyarakat dapat melakukan
pencegahan dan pengobatan ini dengan cara yang tepat.

1.3

Rumusan Masalah
1.

Apa yang menyebabkan penyakit anorexsia nervosa?

2.

Bagaimana gejala dan pengobatan penyakit anorexsia?

3.

Bagaimana patofisiologi anorexsia nervosa?

4.

Bagaimana asuhan keperawatan anorexsia nervosa?

BAB II
ISI
2.1 KONSEP DASAR
2.1.1

Pengertian
Anorexsia Nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan
penolakan mempertahankan berat badan dalam batas-batas minimal yang normal.
Ciri khasnya adalah mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan atau
dipertahankan oleh penderita.

2.1.2

Etiologi
Berbagai faktor psikologi berhubungan dengan perkembangan perilaku
yang khas dari Anorexsia Nervosa. Rasa harga diri yang rendah sering berperan
penting dalam munculnya penyakit ini. Penurunan berat badan dipandang sebagai
suatu pencapaian dan harga diri bergantung pada ukuran dan berat badannya. Ada
pula hubungan antara gangguan makan dengan gangguan alam perasaan.
Dinamika keluarga juga dapat berperan dalam perkembangan gejala anorexsia
nervosa. Orangtua mungkin terlalu memegang kendali dan terlalu melindungi
anak. Faktor lain yang juga berperan dalam munculnya gangguan ini adalah
kelangsingan idealik masyarakat yang berusaha disamai atau bahkan dilampau
oleh para remaja. Individu yang terkena gangguan ini mempunyai citra tubuh
yang menyimpang menganggap dirinya obesitas atau terobsesi tentang ukuran dan
bentuk bagian tubuh tertentu.

2.1.3

Patofisiologi
Penyebab dari anoreksia hingga saat kini belum diketahui. Akan tetapi,
para ahli kesehatan berpendapat bahwa factor sosial memegang peranan penting
dari anoreksia. Pada beberapa penelitian terdapat faktor-faktor yang menjadi
predisposisi peningkatan resiko anorexsia nervosa meliputi faktor biologi,
sosiokultural, dan psikologi.
A. Faktor Biologi
1. Kelaparan atau starvasi akan menyebabkan perubahan pada aktivitas
neuropeptida dan memberikan kontribusi terhadap gangguan neuroendokrin pada
pasien anorexsia nervosa. Sebagai contoh , perubahan CRH berkontribusi
terhadap hypercortisolemia dan perubahan NPY dapat berkontribusi pada
amenore. Perubahan dari peptida-Peptida ini seperti opiat, vasopresin, dan
aktivitas oksitosin dapat berkontribusi menjadi karakteristik gangguan

psikofisiologis lain, seperti


anoreksia(Kaye 1999).

mengurangi

makanan

pada

kondisi

akut

2. Pada penelitian fungsi dari hypothalamic- pituitary- adernal(HPA) Axis pada


pasien anoreksia nervosa secara prinsip ditemukan hyperkortisolisme dimana
HPA berperan dalam melepaskan hormon kortikotropin yang mempengaruhi
pasien menjadi anoreksia (licino,1996).
3. Jalur pusat serotonim mengatur pola makan dan juga berpartisipasi terhadap
regulasi prilaku dan susunan hati. Gangguan pengaturan regulasi serotonim
memberikan implikasi pada kondisi depresi umum dengan jelas akan
menyebabkan gangguan makan. Pada penelitian regulasi serotonim yang
terganggu memberikan peningkatan resiko anorexsia nervosa (Jimerson, 1990).
4. Determinasi Ghrelin , glucose-dependent insulinotropic polypeptide (GIP)
memberikan respon peningkatan anoreksia. pada penelitian didapatkan ghrelin
yang berperan dalam patofisiologi anoreksia. penurunan GIP terjadi pada objek,
meskipun intake sedikit kalori mencegah respon cepat insulin terhadap pasien
yang mengalami anorexsia(Stock, 2005).
5. Pada kondisi fungsi tiroid tertekan, kelainan ini hanya bisa dikoreksi dengan
kaliminasi. Kelaparan juga menyebabkan aminore yang menunjukan kadar
hormon(Luitenizing hormon, FSH, Gonadotropin, realising hormone). Meskipun
begitu, beberapa pasien anoreksia nervosa menderita aminore sebelum
kehilangan berat badan yang signifikan.
B. Faktor sosiokultural
Tidak ada gambaran keluarga yang spesifik untuk anorexsia nervosa. Walaupun
begitu, ditemukan bukti yang menunjukkan pasien anorexsia nervosa
mempunyai masalah hubungannya dengan keluarga dengan penyakit mereka.
Pasien anoxeksia mempunyai sejarah keluarga depresi ketergantungan alkohol,
atau gangguan makan.
C. Faktor Psikologis
Anorexsia nervosa adalah suatu reaksi dari tuntunan remaja untuk kebebasan
yang lebih dan peningkatan fungsi sosial dan seksual mereka.
Takut gemuk atau merasa terlalu gemuk ini terutama terjadi pada wanita
sehingga membatasi makan dan terkadang tidak makan atau puasa, akhirnya
tidak mau makan hingga penderita kurus kering. Dimana pada akhirnya kondisi
ini menimbulkan efek berbahaya yaitu kematian penyakit ini dapat menyebabkan
kematian pada 10% penderitanya (neumaker, 1997).

Respon pertama dari anorexsia nervosa adalah gangguan makanan yang


memberikan manifestasi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Kondisi merasa terlalu gemuk memberikan manifestasi gangguan konsep diri
(gambaran diri). Kondisi anorexsia akut memberikan manifestasi fisik dehidrasi
dan resiko shock hypovolemik akibat kurangnya asupan cairan serta terjadi
ketidakseimbangan elektrolit terutama kalium sehingga meningkatkan resiko
hipokalemia.

2.1.4

Manifestasi Klinis
1. Penurunan berat badan mendadak, tanpa penyebab yang jelas.
2. Tampilan kurus kering, hilangnya lemak subcutan
3. Perubahan kebiasaan makan, waktu makan yang tidak lazim
4. Latihan dan aktivitas fisik yang berlebihan
5. Amenorea
6. Kulit kering bersisik
7. Lanugo pada ekstremitas, punggung dan wajah
8. Kulit berubah kekuningan
9. Gangguan tidur
10. Konstipasi
11. Erosi eosopagus
12. Alam perasaan depresi
13. Fokus yang berlebihan pada pencapaian hasil yang tinggi
14. Perhatian berlebihan terhadap makanan dan penampilan tubuh
15. Erosi email dan dentin tinggi

2.1.5

Komplikasi
1. Jantung: bradikardi, tachikardi, aritmia, hipotensi, gagal jantung
2. Gastrointestinal: esofagitis, ulcus peptikum, hepatomegali
3. Ginjal; abnormalitas urea serum dan elektrolit
4. Skelet; osteoporosis, faktor patologik
5. Endokrine; penurunan fertilitas, peningkatan kadar kortisol dan hormon
pertumbuhan, peningkatan glukoneogenesis
6. Metabolik; penurunan BMR, gangguan pengaturan suhu badan, gangguan
tidur

2.1.6

Penatalaksanaan
Pengobatan diberikan dengan rawat jalan, kecuali muncul masalah medis
yang berat. Pengobatan rawat jalan ini mencakup:
1. Pemantauan medis
2. Rencana diet untuk memulihkan status nutrisinya
3. Psikoterapi jangka panjang untuk mengatasi penyebab dasarnya
4. Pengobatan psikofarmaka untuk mengatasi gejala depresi, kegelisahan dan
perilaku kompulsif obsesif
Obat-obat yang dapat digunakan :
1. Antidepresan, juga dipakai SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors),
terutama bila salah satu komponen penyakitnya adalah latihan yang dipaksakan
(Imipramin, Desipramin, Fluoksetin, Sertralin).
2. Penggantian estrogen untuk amenore

2.2 KONSEP DASAR KEPERAWATAN


2.2.1

Konsep dasar keperawatan


A. Pengkajian
1.

Identitas

Umur
: tidak ada perbandingan dari usia anak anak sampai dewasa, jadi
relatif sama, hanya saja bnayak diantaranya di derita oleh usia usia dewasa.
Jenis kelamin : Laki laki dan perempuan yang mederita anoreksia nervosa relatif
sama.
2.

Keluhan utama

Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian.
Biasanya keluhan utama yang klien rasakan jarang diungkapkan klien. Klien biasa
mengungkapkan bahwa dia tidak menderita anorexsia nervosa dengan tanda binge
dan purge.
3.

Riwayat penyakit dahulu

Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di riwayat
sebelumnya, kapan waktu terjadinya, dan penanganan yang dilakukan sendiri
sebelum di rawat. Klien anorexsia nervosa sering berfokus pada cara
menyenangkan orang lain dan menghindari konflik. Klien sering memiliki
perilaku impulsif seperti penyalahgunaan zat dan pencurian, ansietas, depresi, dan
gangguan keperibadian.
4.

Riwayat penyakit sekarang

Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST,


paliatif atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien, quality atau kualitas
(Q) yaitu bagaimana binge dan purge dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu
menjalar binge dan purge kemana, Safety (S) yaitu posisi yang bagaimana yang
dapat mengurangi binge dan purge atau klien merasa nyaman dan Time (T) yaitu
sejak kapan klien merasakan binge dan purge tersebut.
5.

Riwayat penyakit keluarga

Mengkaji ada atau tidaknya keluarga klien pernah menderita penyakit anorexsia
nervosa.

6.

Pemeriksaan fisik

a.

Penampilan Umum

Mengkaji tentang berat badan dan tinggi badan klien. catat kehilangan berat badan
15% dibawah normal atau lebih. Klien anorexsia nervosa dapat kelebihan berat
badan atau kekurangan berat badan, tetapi biasanya mendekati berat badan yang
diharapkan sesuai dengan usia dan ukuran tubuhnya. Penampilan umum klien
tidak luar biasa, dan klien tampak terbuka dan mau berbicara.
b.

Kesadaran

Kesadaran mencakup tentang kualitas dan kuantitas keadaan klien. Klien biasanya
malu dengan perilaku makan berlebihan dan pengurasan. Klien mengakui bahwa
perilaku tersebut abnormal dan berusaha keras untuk menyembunyikanya dari
orang lain. Klien merasa lepas kendali dan tidak mampu merubah perilaku
tersebut meskipun klien mengakui perilaku tersebut sebagai hal yang patologis.

c.

Tanda-tanda Vital

Mengkaji mengenai tekanan darah, suhu, nadi dan respirasi (TPRS).


d.

Sistem gastrointestinal

Mengkaji tentang keadaan gigi, mulut, dan abdomen . Biasanya pada klien
anoreksia nervosa dapat terlihat karies gigi, lidah kotor, membran mukosa mulut
kering dan perut agak cekung atau semua ini bisa tidak terlihat karena terjadi
dengan dirahasiakan oleh klien.
e.

Nutrisi

Dikaji tentang intake dan output nutrisi, porsi makan, nafsu makan, pola makan
dan aktifitas setelah makan kliem. Klien makan berlebihan (binge) dan melakukan
pengurasan (purge). Klien mengakui bahwa perilaku tersebut abnormal dan
berusaha keras untuk menyembunyikanya dari orang lain.
f.

Ciran

Dikaji tentang intake cairan yang berkurang dan output cairan berlebih ,
keseimbangan cairan dan elektrolit (natrium, kalsium, albumin), turgor kulit tidak
elastis dan membran mukosa kering.

g.

Aktivitas

Dikaji tentang aktivitas sehari-hari, kesulitan mengatur pola makan binge,


mencegah terjadinya pengurasan (purge) dan kekuatan otot. Hal membuat klien
dapat cepat lelah karena kekurangan asupan nutrisi dan cairan yang cukup.
h.

Psikologis

Kaji tentang emosi, pengetahuan terhadap penyakit, dan suasana hati klien. Klien
yang mengalami gangguan makan mempunyai mood yang labil, biasanya
berhubungan dengan perilaku makan atau diet klien. Menghindari makanan yang
buruk atau makanan yang menggemukkan memberi klien perasaan kuat dan
kendali terhadap tubuhnya, sedangkan makan berlebihan atau pengurasan
menimbulkan ansietas, depresi, dan perasaan lepas kendali. Klien sering tampak
sedih, cemas, dan khawatir.
Klien anoreksia nervosa pada awalnya senang dan gembira, seolah-olah tidak ada
yang salah. Wajah yang menyenangkan biasanya hilang saat klien menunjukan
perilaku makan berlebihan dan pengurasan, dan klien mungkin menunjukan emosi
yang intens tentang perasaan bersalah, malu, dan memalukan. Klien merasa lepas
kendali dan tidak mampu merubah perilaku tersebut meskipun klien mengakui
perilaku tersebut sebagai hal yang patologis.
Hal ini menebabkan klien anoreksia nervosa menjalini hidup yang rahasia, dengan
diam-diam melakukan makan yang berlebihan dan pengurasan dibelakang teman
dan keluarga klien. Jumlah waktu yang diluangkan untuk membeli dan memakan
makanan dan kemudian melakukan pengurasan dapat mengganggu performa
peran baik di rumah maupun di lingkungan.
i.

Penunjang

Hasil pemeriksaan Laboratorium


Na : 135 -145 mEq/L
Ca: 4-5 mEq/L
K : 3.5 5.3 mEq/L
j.

Diagnosis keperawatan

Diagnosis keperawatan pada pasien dengan anorexsia nervosa pada saat


dilakukan asuhan keperawatan klinik diruang rawat inap, meliputi hal-hal berikut
ini:
1.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. tidak
adekuatnya intake nutrisi, ketidakinginan untuk makan.
2.
Resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit b.d. ketidakseimbangan
intake cairan secara oral dengan pengeluaran cairan, penggunaan obat diuretik.
3.

Gangguan aktifitas sehari-hari b.d. kelemahan fisik umum.

4.
Gangguan konsep diri ( Gambaran diri rendah) b.d. merasa bentuk tubuh
tidak ideal.
2.2.2

Pohon masalah