Anda di halaman 1dari 8

DK2P1

Divisi Ilmu Embriologi


Telinga
Telinga terbentuk dari tiga bagian yang berbeda: (a) telinga luar,
organ pengumpul suara; (b) telinga tengah, suatu penghantar suara dari
telinga luar ke telinga dalam; dan (c) telinga dalam, yang mengubah
gelombang suara menjadi impuls saraf dan mendeteksi perubahan dalam
keseimbangan.
1. Telingan luar, terdiri dari aurikula, gendang telinga atau membran
timpanika, dan meatus akustikus eksternus.
a) Aurikula terbentuk dari enam proliferasi mesenkim diujung
dorsal arkus faring pertama dan kedua, yang mengelilingi
celah
faring
pertama.
Penebalan
ini
(tonjolan
aurikula/auricular hillocks), tiga di masing-masing sisi
meatus akustikus eksternus, kemudian menyatu dan
membentuk aurikula definitive. Karena penyatuan tonjolan
aurikula adalah suatu proses yang rumit, sering terjadi
kelainan perkembangan aurikula. Pada awalnya, telinga luar
berada diregio leher bawah, tetapi dengan terbentuknya
mandibula, telinga luar naik ke samping kepala setinggi
mata.
b) Meatus akustikus eksternus terbentuk dari bagian dorsal
celah faring pertama. Pada awal bulan ketiga, sel-sel epitel
dibawah meatus berproliferasi, membentuk suatu lempeng
epitel solid, sumbat meatus. Pada bulan ketujuh, sumbat ini
luruh dan lapisan epitel di lantai meatus ikut serta
membentuk gendang telinga definitive. Kadang-kadang
sumbat meatus menetap sampai lahir sehingga menyebabkan
tuli kongenital.

c) Gendang telinga atau membran timpanika dibentuk dai


tiga lapisan, yaitu lapisan epitel ektoderm di dasar meatus
akusikus, lapisan epitel endoderm di kavitas timpani, dan
lapisan intermediet jaringan ikat yang membentuk stratum
fibrosum. Bagian utama gendang telinga melekat erat ke
tangkai maleus, dan bagian lainnya membentuk pemisah
antara meatus akustikus eksternus dan kavitas timpani.
2. Telinga tengah, terdiri dari kavitas timpani dan tuba auditiva dan
tulang-tulang pendengaran.
a) Kavitas timpani dan tuba auditiva. Kavitas timpani yang
berawal di endoderm, berasal dari kantong faring pertama.
Kantong ini meluas ke arah lateral dan menempel ke alntai
celah faring pertama. Bagian distal kantong, resesus
tubotimpanikus, melebar dan membentuk kavitas timpani
primitive, dan bagian proksimalnya tetap sempit dan
membentuk tuba auditiva yang merupakan saluran yang
menghubungkan kavitas timpani dengan nasofaring.
b) Tulang-tulang pendengaran. Maleus dan inkus berasal
dari tulang rawan arkus faring pertama, dan stapes berasal
dari tulang rawan arkus kedua. Meskipun tulang
pendengaran muncul selama paruh pertama kehidupan janin,
tulang-tulang ini tetap terbenam dalam mesenkim sampai
bulan ke delapan, disaat jaringan sekitarnya menghilang.
Lapisan epitel endoderm dari kavitas timpani primitive
kemudian meluas di sepanjang dinding ruang yang bearu
terbentuk. Kavitas timpani sekarang berukuran paling sedikit
dua kali lipat daripada sebelumnya. Saat tulang-tulang
pendengaran telah seluruhnya bebas dari mesenkim
disekitarnya, epitel endoderm menghubungkan tulang-tulang
tersebut ke dinding rongga seperti mesenterium.
Ligamentum penopang tulang pendengaran terbentuk di
dalam mesenterium ini. karena maleus berasal dari arkus
faring pertama, otot-ototnya, m. tensor timpani, disarafi

oleh nervus mandibularis. M. stapedius, yang melekat ke


stapes, disarafi oleh nervus facialis, saraf arkus faring
kedua.
3. Telinga dalam. Terbentuknya telinga dimulai pada mudigah berusia
sekitar 22 hari sebagai suatu penebalan ektoderm permukaan di
kedua sisi rhombensefalon. Penebalan ini, plakoda otika (lempeng
telinga), cepat mengalami invaginasi dan membentuk vesikula otika
(vesikel telinga) atau auditorik (otocystis). Selama perkembangan
selanjutnya, masing-masing vesikel terbagi menjadi (a) komponen
ventral yang menghasilkan sakulus dan duktus koklearis dan (b)
komponen dorsal yang membentuk utrikulus, kanalis
semisirkularis, dan duktus endolimpatikus. Bersama-sama,
struktur-struktur epitel ini membentuk labirin membranosa.
a) Sakulus, koklea, dan organ corti. Pada minggu keenam
perkembangan, sakulus membentuk suatu kantong keluar
berbentuk tubulus dikutub bawahnya. Pertumbuhan keluar
ini, duktus koklearis, menembus mesemkin disekitarnya
secara spiral sampai akhir minggu kedelapan, saat duktus ini
telah menyelesaikan 2,5 putaran. Hubungannya dengan
bagian lain sakulus kemudian hanya berupa sebuah saluran
sempit yang disebut duktus reunions.
Mesenkim disekitar duktus koklearis segera berdiferensiasi
menjadi tulang rawan. Pada minggu ke-10, selubung tulang
rawan ini mengalami vakuolisasi dan terbentuk dua ruang
perilimfe, skala vestibuli dan skala timpani. Duktus koklearis
kemudian dipisahkan dari skala vestibule oleh membrane
vestibularis dan dari skala timpani dari membrane basilaris.
Dinding lateral duktus koklearis tetap melekat ke tulang
rawan sekitar melalui ligamentum spirale, sementara sudut
mediannya berhubungan dengan dan sebagian ditunjang leh
suatu prosesus tulang rawan panjang, modiolus yang kelak
menjadi sumbu tulang koklea.

Pada awalnya, sel-sel duktus epitel duktus koklearis tampak


sama. Naumn, pada perkembangan selanjutnya, sel-sel ini
membentuk dua hubungan: inner ridge, yaitu bakal limbus
spiralis, dan outer ridge. Outer ridge membentuk satu baris
sel rambut dalam dan tiga atau empat baris sel rambut luar
yang merupakan sel sensorik sistem pendengaran. Sel-sel ini
dilapisi oleh membrane tektoria, suatu bahan gelatinosa
fibrilar yang melekat ke limbus spiralis dan ujungnya
terletak di sel rambut. Sel sensorik dan membrane tektoria
bersama-sama membentuk organ corti. Impuls yang diterima
oleh organ ini disalurkan ke ganglion spirale dan kemudian
ke sistem saraf melalui serabut auditorik N.VIII.
b) Utrikulus dan kanalis semisirkularis. Selama minggu
keenam perkembangan, muncul kanalis semisirkularis
sebagai kantong luar gepeng dari bagian utrikulus vesikula
otika. Bagian tengah dinding kantong-kantong ini akhirnya
melekat satu sama lain dan lenyap, menyebabkan
terbentuknyatiga kanalis semisirkularis. Sementara salah satu
ujung dari masing-masing kanalis melebar untuk membentuk
krus ampulare, ujung lainnya, krus nonampulare tidak
melebar. Namun, karena dua krus nonampulare menyatu,
hanya ada lima krus yang masuk ke utrikulus, tida dengan
ampula dan dua tanpa ampula.
Sel-sel di ampula membentuk suatu Krista, Krista ampularis,
yang mengandung sel sensorik untuk memelihara
keseimbangan. Daerah sensorik serupa makula akustika,
terbentuk di dinding utrikulus dan sakulus. Impuls yang
dihasilkan di sel sensorik Krista dan macula akibat
perubahan posisi tubuh disalurkan ke otak oleh serabut
vestibularis N. VIII.

Mata
Mata mulai tampak pada mudigah 22 hari sebagai sepasang alur
dangkal di samping otak depan. Dengan menutupnya tabung saraf, alur-alur
ini membentuk kantong luar di otak depanyang disebut vesikula optika.
Vesikel-vesikel ini kemudian melekat ke ektoderm permukaan dan memicu
perubahan di ektoderm yang diperlukan untuk membentuk lensa. Segera
sesudahnya, vesikula optika mulai mengalami invaginasi dan membentuk
cawan optik berdinding ganda. Lapisan dalam dan luar dari cawan ini mulamula dipisahkan oleh lumen, ruang intraretin, tetapi lumen ini segera
lenyap, dan kedua lapisan tersebut berhadapan satu sama lain. Invaginasi
tidak terbatas pada bagaian tengah cawan optik tetapi juga melibatkan
sebagian dari inferior yang membentuk fisura koroidea. Pembentukan fisura
ini memungkinkan arteri hialoidea mencapai ruang dalam mata. Selama
minggu ketujuh, bibir-bibir fisura koroidea menyatu, dan mulut dari cawan
optik menjadi lubang bundar yaitu bakal pupil.
Selama proses ini berlangsung, sel-sel ektoderm permukaan yang
pada awalnya menempel dengan vesikula optika, mulai memanjang dan
membentuk plakoda lentis. Plakoda ini kemudian mengalami invaginasi dan
berkembang menjadi vesikula lentis (vesikel lensa). Selama minggu kelima,
vesikula lentis terlepas dari ektoderm permukaan dan berada di mulut
cawan optik.
1. Retina, iris, dan korpus siliare
Lapisan luar cawan optik yang ditandai oleh glanula-glanula
pigmen kecil, dikenal sebagai lapisan pigmen retina. Perkembangan
lapisan saraf (dalam) cawan optic berlangsung lebih rumit. Empat
perlima bagian posterior, pars optika retinae, mengandung sel-sel
yang berbatasan dengan ruang intraretina yang berdiferensiasi
menjadi elemen-elemen penyerap cahaya, sel batang dan sel
kerucut. Di dekat lapisan fotoreseptif ini terdapat lapisan mantel
yang seperti di otak, menghasilkan neuron dan selsel penunjangnya,
termasuk lapisan inti luar, lapisan inti dalam, dan lapisan sel

ganglion. Di permukaan terdapat lapisan fibrosa yang mengandung


akson sel saraf dari lapisan lebih dalam. Serabut-serabut saraf di
zona ini mengumpul ke arah angkai optik yang berkembang menjadi
nervus optikus. Karena itu, impuls cahaya berjalan melalui sebagian
besar lapisan retina sebelum mencapai sel batang dan kerucut.
Seperlima anterior lapisan dalam, pars seka retinae, tetap
memiliki ketebalan satu lapis sel. Bagian ini kemudian menjadi pars
iridika retinae yang membentuk lapisan dalam iris, dan pars siliaris
retinae yang ikut serta membentuk korpus siliare.
Sementara itu, region antara cawan optik dan epitel
permukaan diatasnya terisi oleh mesenkim longgar. M. sfingter
pupilae dan m. dilator pupilae terbentuk di jaringan ini. Otot-otot ini
berkembang dari ektoderm di bawah cawan optik. Pada orang
dewasa, iris terbentuk oleh lapisan luar yang mengandung pigmen,
lapisan dalam tak berpigmen cawan optik, dan suatu lapisan kaya
jaringan ikat bervaskular yang mengandung otot-otot pupil. Pars
siliaris retina mudah dikenali karena sangat berlipat-lipat. Di sebelah
luar, bagian ini ditutupi oleh suatu lapisan mesnkim yang
membentuk m. siliaris; disebelah dalam bagian ini berhubungan
dengan lensa melalui suatu jaringan serabut elastic, ligamentum
suspensorium atau zonula. Kontraksi m. siliaris mengubah tegangan
ligamentum dan mengakur lengkungan lensa.
2. Lensa
Segera setelah vesikula lentis terbentu, sel-sel dinding
posterior mulai memanjang ke arah anterior dan membentuk
serabut-serabut panjang yang secara bertahap mengisi lumen
vesikel. Pada akhir minggu ke-7, serabut lensa primer ini mencapai
dinding anterior vesikula lentis. Namun, pertumbuhan lensa belum
selesai pada tahap ini, karena serabut-serabut lensa baru (sekunder)
terus ditambahkan ke inti sentral tersebut.
3. Koroid, sklera, dan kornea

Pada akhir minggu kelima, primordium mata seluruhnya


dikelilingi oleh mesenkim longgar. Jaringan ini segera
berdiferensiasi menjadi lapisan dalam yang setara dengan pia mater
otak dan lapisan luar yang setara dengan dura mater. Lapisan dalam
kemudian membentuk lapisan pigmen kaya pembuluh darah yang
dikenal sebagai koroid; lapisan luar berkembang menjadi sklera dan
bersambung dengan dura mater di sekitar nervus optikus.
Diferensiasi lapisan mesenkim di atas permukaan anterior
mata berlangsung berbeda. Bilik mata depan (kamera anterior)
terbentuk melalui vakuolisasi dan pemisahan mesenkim menjadi
lapisan dalam di depan lensa dan iris , membrane iriopupilaris, dan
lapisan luar yang bersambung dengan sklera, substansia propria
kornea. Bilik mata depan itu sendiri dilapisi oleh sel mesenkim
gepeng. Karena itu, kornea dibentuk oleh (a) lapisan epitel yang
berasal dari ektoderm permukaan, (b) substansia propria atau stroma
yang bersambungan dengan sklera, dan (c) lapisan epitel yang
berbatasan dengan bilik mata depan. Membrane iriopupilaris di
depan lensa lenyap seluruhnya, membentuk hubungan antara bilik
mata depan dan belakang.
4. Korpus vitreum
Mesenkim tidak saja mengelilingi primordium mata dari
sebelah luar tetapi juga menginvaginasi bagian dalam cawan optik
melalui fisura koroidea. Di sini, mesenkim membentuk pembuluh
darah hialoid, yang selama kehidupan intrauterus mendarahi lensa
dan membentuk lapisan vascular di permukaan dalam retina. Ruang
interstisium jalinan ini kemudian terisi oleh bahan gelatinosa
transparan, yang membentuk kospus vitreum. Pembuluh darah
hialoid di region ini mengalami obliterasi dan lenyap selam
kehidupan janin, meninggalkan kanalis hialoideus.
5. Nervus optikus
Cawan optik dihubungkan ke otak oleh tangkai optic, yang
memiliki suatu alur, fisura koroidea, di permukaan ventralnya. Di
dalam alur ini terdapat pembuluh darah hialoid. Serabut saraf retina

yang kembali ke otak terletak di antara sel-sel dinding dalam


tangkai. Selama minggu ketujuh, fisura koroidea menutup dan
membentuk suatu terowongan sempit di dalam tangkai optik. Akibat
peningkatan jumlah serabut saraf yang terus menerus, dinding dalam
dan luar tangkai menyatu. Sel-sel lapisan dalam menghasilkan
jalinan neuroglia yang menunjang serabut nervus optikus.
Dengan demikian, tangkai optic berubah menjadi nervus
optikus. Bagian tengahnya mengandung sebagian dari arteri
hialoidea yang kemudian dinamai arteri sentralis retinae. Di bagia
luar, terdapat lapisan pia araknoid dan dura, yaitu kelanjutan dari
koroid dan sklera yang mengelilingi nervus optikus.
SUMBER: T. W. Sadler. 2006. Langman: Embriologi Kedokteran.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Divisi Ilmu Fisiologi
Sistem Aferen
Sistem saraf pada manusia terbagi menjadi sistem saraf pusat dan
sistem saraf tepi. Sistem saraf tepi membawa informasi antara SSP dan
bagian tubuh lain. Sistem saraf tepi ini dibagi menjadi dua, yaitu divisi
aferen dan difivisi eferen. Divisi aferen susunan saraf tepi mengirim
informasi mengenai lingkungan internal (subdivisi aferen viseral: simpatis
dan parasimpatis) dan lingkungan eksternal (subdivisi aferen sensorik:
sensasi somatik dan sensasi khusus (alat indera)) ke SSP.
Pada sistem aferen ini erat kaitannya dengan reseptor yang
tereksitasi oleh stimulus/rangsangan. Rangsangan ini sendiri terdiri atas
beberapa bentuk (modalitas), misalnya panas, suhu, cahaya, suara, tekanan,
dan, perubahan kimiawi. Reseptor berfungsi untuk mengenali stimulus
tersebut baik yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal tubuh.
Informasi yang didapat akan dibawa ke SSP melalui perambatan potensial
aksi yang terjadi pada sel saraf (neuron), sehingga dibutuhkan pengubahan

bentuk-bentuk energi lain menjadi energi listrik. Proses perubahan energi


ini dikenal sebagai transduksi.

penjarangan (peregangan) molekul udara. Suara itu sendiri ditandai oleh


adanya beberapa hal berikut ini:

Suatu stimulus harus adekuat supaya dapat mengeksitasi reseptor


agar diperoleh suatu informasi, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu, modalitas, lokasi (medan reseptif, inhibisi lateral, dan somatotopi),
intensitas, dan durasi. Setiap reseptor bersifat khusus untuk berespons
terhadap suatu jenis stimulus. Reseptor dapat dibagi menjadi beberapa jenis
berdasarkan modalitas stimulus yang direspon, yaitu:

1. Nada suatu suara (misalnya C atau G) ditentukan oleh frekuensi


getaran. Semakin besar frekuensi getaran, semakin tinggi nada.
Telinga manusia dapat mendeteksi gelombang suara dengan
frekuensi 20-20000 siklus per detik dengan paling peka pada
frekuensi 1000-4000 per detik.
2. Intensitas atau kekuatan, bergantung pada amplitude gelombang
suara, atau perbedaan tekanan antara daerah pemadatan bertekanan
tinggi dan peregangan bertekanan rendah. Semakin besar amplitude,
maka semakin keras suara. Kekuatan gelombang suara diukur dalam
decibel (dB), yaitu ukuran logaritmik intensitas dibandingkan
dengan suara paling lemah yang masih terdengar (ambang
pendengaran).
3. Warna suara, atau kualitas, bergantung pada overtone, yaitu
frekuensi tambahan yang mengenai nada dasar.

1.
2.
3.
4.

Fotoreseptor peka terhadap gelombang cahaya yang tampak.


Mekanoreseptor peka terhadap energi mekanis.
Termoreseptor peka terhadap panas dan dingin.
Osmoreseptor mendeteksi perubahan konsentrasi zat terlarut dalam
cairan tubuh dan perubahan dalam aktivitas osmotik.
5. Kemoreseptor peka terhadap bahan kimia spesifik.
6. Nosiseptor atau reseptor nyari peka terhadap kerusakan jaringan.
Jenis reseptor juga dapat dibagi berdasarkan kemampuan kecepatan
adaptasi, yaitu:
1. Reseptor tonik, yaitu reseptor yang tidak beradaptasi sama sekali
atau beradaptasi dengan lambat, misalnya adalah reseptor pada otot.
2. Reseptor fasik, yiatu reseptor yang cepat beradaptasi, misalnya
adalah reseptor taktil (sentuh).
Fisiologi Mendengar
Pendengaran adalah persepsi energi suara oleh saraf. Pendengaran
terdiri dari dua aspek: identifikasi suara dan lokalisasinya. Sebelum
memulai bagaimana fisiologi mendengar pada manusia, kita akan
mempelajari mengenai gelombang suara terlebih dahulu.
Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat yang terdiri
dari daerah-daerah bertekanan tinggi akibat kompresi (pemadatan) molekul
udara bergantian dengan daerah-daerah bertekanan rendah akibat

Telinga terbagi kedalam tiga bagian yang masing-masing memiliki


perannya sendiri. Reseptor-reseptor khusus untuk suara terletak di telinga
dalam yang berisi cairan. Karena itu, gelombang suara di udara harus dapat
disalurkan ke arah dan dipindahkan ke telinga dalam, dengan
mengompensasi pengurangan energi suara yang terjadi dalam prose salami
ketika gelombang suara berpindah dari udara ke air. Fungsi ini dilakukan
oleh telinga luar dan telinga tengah.
Telinga luar terdiri dari aurikula, meatus akustikus eksternus, dan
membrane timpani. Aurikula berfungsi untuk mengumpulkan suara yang
kemudian akan disalurkan ke saluran telinga, serta mengubah warna suara
sehingga kita dapat mengetahui darimana asal suara berada. Saluran telinga
(meatus akustikus eksternus) dijaga oleh rambut-rambut halus. Kulit yang
melapisi saluran mengandung kelenjar keringat modifikasi yang
menghasilkan serumen (tahi kuping), suatu sekresi lengket yang menjebak
partikel-partikel kecil asing. Membrane timpani yang akan bergetar ketika

gelombang suara mengenainya. Daerah-daerah bertekanan tinggi dan


rendah yang berseling-seling dan ditimbulkan oleh gelombang suara
menyebabkan gendang telinga yang sangat peka melekuk ke dalam dan
keluar seiring dengan frekuensi gelombang suara.
Telinga tengah memindahkan gerakan bergetar membrane timpani
ke cairan telinga dalam. Pemindahan ini dipermudah oleh adanya rantai tiga
tulang kecil, atau osikulus (mealus, inkus, dan stapes), yang dapat bergerak
dan membentang di telinga tengah. Tulang pertama, maleus melekat pada
membran timpani, dan tulang terakhir stapes melekat pada jendela oval,
pintu masuk ke dalam koklea yang berisi cairan. (ingat hukum perambatan
bunyi: tekanan=gaya/luas). Gelombang suara yang diterima akan
diusahakan sama dengan gelombang suara yang diterima oleh koklea,
mengingat medium perambatan suara yang berubah dari lingkungan luar
yaitu udara, dan dalam koklea yang berisi cairan. Gaya yang bekerja pada
jendela oval sebesar 20 kali dibandingkan suara yang mengenai membran
timpani.
Koklea yang adalah bagian dari telinga dalam berfungsi sebagai
organ untuk mendengarkan dan merupakan sistem tubulus bergelung yang
terletak jauh di dalam tulang temporal. Koklea dibagi menjadi tiga
kompartemen longitudinal berisi cairan, yaitu:
1. Skala media (duktus kokhlearis) yang buntu dan membentuk
terowongan di seluruh panjang bagian tengah koklea hampir sampai
ujung, serta berisi cairan endolimfe.
2. Skala vestibuli kompartemen atas yang mengikuti kontur dalam
spiral, dipisahkan dengan skala media oleh membran vestibularis.
3. Skala timpani, kompartemen bawah yang mengikuti kontur luar,
dipisahkan dengan skala media oleh membran basilaris. Kedua skala
vestibuli dan skala timpani berisi perilimfe dan berhubungan pada
ujung duktus koklearis yang disebut helikotrema.

Pada permukaan membran basilaris terdapat organ corti yang


mengandung sel rambut yang merupakan reseptor suara. Sebanyak 16.000
sel rambut di dalam masing-masing koklea tersusun menjadi empat baris
sejajar di seluruh panjang membran basilaris: satu baris sel rambut dalam
dan tiga baris sel rambut luar. Dari permukaan masing-masing sel rambut
menonjol sekitar 100 rambut yang dikenal sebagai stereosilia, yaitu
mikrovilus yang dibuat kaku oleh adanya aktin. Sel rambut ini akan
menghasilkan sinyal saraf jika rambut permukaannya mengalami perubahan
bentuk secara mekanis akibat gerakan cairan di telinga dalam. Stereosilia ini
berkontak dengan membran tektorium, suatu tonjolan mirip tenda yang
menutupi organ corti di seluruh panjangnya.
Gelombang yang masuk akan masuk melalui jendela oval pada
kompartemen atas. Gelombang ini akan menggerakan perilimfe yang berada
dikompartemen sehingga bergerak menuju helikotrema sehingga masuk ke
kompertemen dalam. Kemudian gerakan perilimfe akan mengenai jendela
bundar yang menyebabkan jendela menonjol ke arah telingan tengah untuk
mengompensasi peningkatan tekanan. Ketika stapes bergerak mundur dan
menarik jendela oval ke arah telinga tengah, perilimfe akan bergerak ke
arah yang berlawanan,menyebabkan jendela oval menonjol ke dalam.
Sistem ini berguna untuk menghilangkan tekanan.
Selain gelombang suara tersebut menyebabkan pergerakan cairan
perilimfe, gelombang suara akan disalurkan ke skala media melalui
membran vestibule yang tipis dan keluar ke skala timpani melalui membran
basilaris. Gelombang yang mengenai membran basilaris akan menyebabkan
membran ini bergetar naik turun yang juga menyebabkan organ corti
bergetar naik turun sewaktu membran basilaris bergetar. Organ corti yang
bergetar akan menggerakan membran tektorium yang akan menggerakan sel
rambut dalam dan sel rambut luar yang masing-masing memiliki perannya.
Sel rambut dalam mengandung kanal ion. Ketika terjadi deformasi
mekanime maju-mundur pada rambut-rambut ini oleh karena membran
tektorium yang bergerak, menyebabkan kanal ion membuka dan menutup

sehingga terjadi perubahan potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang


bergantian. Depolarisasi sel-sel rambut ini meningkatkan laju pelepasan
neurotransmitter, yang meningkatkan frekuensi lepas muatan di serat aferen.
Sebaliknya, laju lepas muatan berkurang sewaktu sel-sel rambut ini
mengelurakan lebih sedikit neurotransmitter ketika mengalami
hiperpolarisasi akibat pergeseran ke arah berlawanan. Sinyal listrik ini akan
disalurkan ke SSP melalui nervus auditorius (kokhlearis).
Sel rambut luar tidak memberi sinyal ke otak mengenai suara yang
datang. Sel-sel rambut luar secara aktif dan cepat berubah panjang sebagai
respons terhadap perubahan potensial membran, suatu perilaku yang dikenal
sebagai elektromotilitas. Sel rambut luar memendek pada depolarisasi dan
memanjang pada hiperpolarisasi. Perubahan panjang ini memperkuat atau
menegaskan gerakan membran basilaris, sehingga meningkatkan respons
sel rambut dalam yang menyebabkan sel rambut dalam sangat peka
terhadap intensitas suara dan dapat membedakan berbagai nada suara.
Learning Issue!!!
1. Bagaimana cara telinga membedakan nada (frekuensi) suara?
Diskriminasi nada bergantung kepada bentuk dan sifat dari
membran basilaris. Bagian yang menyempit dan kaku dari membran
basilaris terletak pada ujung jendela oval, sedangkan bagian yang
melebar dan lentur berada pada ujung helikotrema. Berbagai
membrane basilaris bergetar maksimal pada frekuensi yang berbedabeda. Ujung sempit dan kaku pada jendela oval akan bergetar
maksimal apabila frekuensi suara tinggi dan sebaliknya untuk ujung
lebar dan lentur bergetar maksimal apabila frekuensi rendah. Selsel
rambut yang berada pada membran basilaris yang bergetar maksimal
akan tersksitasi paling kuat yang kemudian dikirim ke SSP dan
diinterpretasikan pola stimulus sel rambut sebagai suara dengan
frekuensi tertentu.
2. Bagaimana cara telinga membedakan intensitas (kekuatan) suara?

Diskriminasi intensitas bergantung pada amplitude getaran. Sewaktu


gelombang suara yang berasal dari sumber suara lebih keras
mengenai gendang telinga, gelombang tersebut menyebabkan
gendang telinga bergetar lebih kuat tetapi dengan frekuensi yang
sama seperti suara yang lebih lembut dengan nada sama. Defleksi
membran timpani yang lebih besar ini diubah menjadi amplitude
gerakan membrane basilaris di daerah responsivitas tertinggi. SSP
akan menginterpretasikan peningkatan osilasi membrane basilaris
sebagai suara yang lebih kuat.
Fisiologi Keseimbangan
Selain berperan dalam pendengaran yang bergantung pada koklea,
telingan dalam memiliki komponen khusus lain, yaitu apparatus
vestibularis, yang memberii informasi esensial bagi sensasi keseimbangan
dan untuk koordinasi gerakan kepala dengan gerakan mata dan postur.
Apparatus vestibularis terdiri dari kanalis semisirukularis dan organ otolit,
yaitu utrikulus dan sakulus.
Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi kepala
rotasional atau angular. Masing-masing telinga mengandung tiga kanalis
semisirkularis yang tersusun dalam bidang tiga dimensi yang tegak lurus
satu sama lain. Sel-sel rambut reseptif masing-masing kanalis semisirkularis
terletak di atas suatu bubungan yang di dalam ampula, suatu pembesaran di
dasar kanalis. Rambut-rambut terbenam di dalam lapisan gelatinosa
diatasnya, kupula, yang menonjol ke dalam endolimfe di dalam ampula.
Rambut-rambut di sel rambut vestibularis terdiri dari satu silium, yaitu
kinosilium, bersama dengan 20-50 mikrovilus yiatu stereosilia yang
tersusun dalam barisan-barisan yang semakin tinggi. Stereosilia
berhubungan di ujung-ujungnya oleh tautan ujung, yaitu jembatan
molecular halus antara stereosilia-stereosilia yang berdekatan. Ketika
stereosilia terdefleksi oleh gerakan endolimfe, tegangan terjadi di tautan
ujung menarik saluran ion berpintu mekanis di sel rambut. Sel rambut
mengalami depolarisasi atau hiperpolarisasi, bergantung pada apakah

saluran ion terbuka atau tertutup secara mekanis oleh pergeseran berkas
rambut. Setiap sel rambut memiliki orientasi sedemikian sehingga sel
tersebut mengalami depolarisasi ketika stereosilia menekuk ke arah
kinosilium; penekukan ke arah berlawanan akan menyebabkan
hiperpolarisasi sel. Sel-sel rambut membentuk sinaps dengan ujung terminal
neuron aferen yang aksonnya menyatu dengan akson struktur vestibularis
lain untuk membentuk nervus vestibularis.
Organ otolit memberii informasi tentang posisi kepala relative
terhadap gravitasi dan juga mendeteksi perubahan kecepatan gerakan lurus.

Organ otolit, utrikulus dan sakulus adalah struktur berbentuk kantung yang
berada di dalam ruang bertulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea.
Sel-sel rambut reseptif (kinosilium dan stereosilia) akan bergetar pula
apabila terjadi gerakan pada endolimfe.
SUMBER: Lauralee Sherwood. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke
Sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC.