Anda di halaman 1dari 46

PLENO PEMICU 2

KELOMPOK DISKUSI 7
Scholastyka Febrylia I11111012
Farah Muthia
I11111035
Muhammad Subhan
I11111074
Cindy Lidia
I11112006
Jovi Parmoduan Siagian I11112008
Izzatul Yazidah
I11112024
Irene Olivia Salim
I11112030
Hendri Saputra
I11112043
Andri Hendratno
I11112058
Sujono
I11112061
Nisa Khinanty
I11112075

PEMICU 2
Seorang perempuan berusia 62 tahun mengeluh pandangannya
buram perlahan sejak 1 tahun yang lalu dan semakin lama semakin
memberat, ia takut mengalami hal yang sama dengan tetangganya
yang matanya dioperasi karena dinyatakan menderita katarak. Ia
minta diantar oleh keluarganya untuk memeriksakan matanya ke
rumah sakit. Pada anamnesis didapatkan pasien mengeluh sering
tersandung jika berjalan, dan kadang-kadang mata terasa pegal. Ibu
pasien dulu mengalami kebutaan pada kedua mata tapi pasien tidak
mengetahui penyebabnya. Pada pemeriksaan mata didapatkan
palpebra kongjunctiva tampak tenang, kornea jernih, bilik mata
depan dalam, gambaran iris baik dan pupil bulat dengan refleks
cahaya baik. Pada pemerisaan lanjutan didapatkan visus kedua mata
3/60 tidak terkoreksi, tekanan mata kanan 25 mmHg dan mata kiri
28 mmHg. Pada pemeriksaan funduskopi didapatkan refleksa fundus
(+) dengan detail tidak dapat dinilai.

KLARIFIKASI DAN DEFINISI


MASALAH
Katarak = Kekeruhan lensa kristalina
Visus ODS = Tajam penglihatan mata kanan dan kiri
Funduskopi = Pemeriksaan bagian dalam mata dengan
oftalmoskop

KATA KUNCI
Perempuan 62 tahun
Pandangan kabur perlahan sejak 1 tahun yang lalu yang
semakin memberat
Visus ODS 3/60
TIO kanan 25 mmHg dan kiri 28 mmHg
Ibu pasien mengalami kebutaan

RUMUSAN MASALAH
Seorang wanita berusia 62 tahun mengeluh
pandangannya kabur perlahan sejak 1 tahun yang
lalu yang semakin memberat disertai peningkatan
tekanan intraokular.

ANALISIS MASALAH

HIPOTESIS
Seorang wanita 62 tahun mengalami glaukoma

PERTANYAAN DISKUSI
1.
2.

Apa saja jenis penyakit mata tenang visus turun perlahan?


Katarak :
Definis
b. Klasifikasi
c. Etiologi
d. Patofisiologi
e. Gejala Klinis
f. Diagnosis
g. Faktor Risiko
h. Tata laksana
i. Komplikasi
j. Prognosis
a.

3.

Glaukoma:
a. Definisi
b. Klasifikasi
c. Patofisiologi
d. Gejala Klinis
e. Diagnosis
f. Faktor Risiko
g. Tata laksana
h. Komplikasi
i. Prognosis

PEMBAHASAN

13.

Jelaskan Fisiologi Aqueous Humor!


Hubungan ibu yang mengalami kebutaan dengan pasien
Jelaskan mengenai refleks cahaya dan refleks fundus!
Mengapa pasien mengeluh sering tersandung saat berjalan dan
kadang-kadang mata terasa pegal?
Bagaimana mekanisme penyempitan lapang pandang dengan
adanya peningkatan tekanan intraokular?
Jelaskan mengenai pemeriksaan funduskopi!
Hubungan glaukoma dengan katarak
Jelaskan mengenai pemeriksaan tekanan intraokular!
Jelaskan mengenai pemeriksaan shadow test!
Jelaskan mengenai pemeriksaan perimetri!

14.

Tatalaksana awal apa yang diberikan pada pasien ini?

4.
5.
6.
7.

8.

9.
10.
11.
12.

PEMBAHASAN
Apa saja jenis penyakit mata tenang visus turun
perlahan?
Tajam penglihatan akan berkurang perlahan-lahan bila
media menjadi keruh atau terjadinya proses gangguan
fungsi jalur penglihatan secara perlahan-lahan. Kelainan
semacam ini terdapat pada penyakit tertentu seperti :
. Glaukoma simpleks
. Glaukoma kongenital
. Katarak
. Kelainan pada retina (retinopati dan retinitis pigmentosa)
. Proses lainnya pada jalur penglihatan yang berjalan
kronis.
1.

PEMBAHASAN
Katarak
a.
Definisi
Katarak berasal dari Yunani Katarrhakies, Inggris
Cataract, Latin Cataracta yang berarti air terjun. Dalam
bahasa Indonesia disebut bular dimana seperti tertutup air
terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap
keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein
lensa, proses penuaan
2.

PEMBAHASAN
Klasifikasi
Menurut Ilyas (2009), berdasarkan usia katarak
diklasifikasikan dalam:
.Katarak kongenital, katarak juvenil dan katarak senilis
Berdasarkan waktu terjadinya, katarak dibagi menjadi
katarak yang didapat dan katarak kongenital.
b.

PEMBAHASAN
Klasifikasi berdasarkan morfologi: Capsular cataract,
Subcapsular cataract, Cortical cataract, Supranuclear
cataract, Nuclear cataract, Polar cataract.
Berdasarkan stadium pada katarak senilis diklasifikasikan:
Katarak imatur
Katarak matur
Katarak hipermatur
Katarak morgagnian

PEMBAHASAN
Katarak Toksik
Katarak Akibat Radiasi
Katarak Elektrik

PEMBAHASAN
c.

Faktor resiko
Faktor

keturunan
Cacat bawaan sejak lahir
Masalah kesehatan, misalnya diabetes mellitus
Penggunaan obat tertentu
Gangguan pertumbuhan
Efek radiasi sinar matahari
Asap rokok
Operasi mata sebelumnya
Trauma pada mata
Faktor-faktor lainnya yang belum diketahui

PEMBAHASAN
Patofisiologi
Terdapat 2 teori yang menyebabkan terjadinya katarak
yaitu teori hidrasi dan sklerosis.
Perubahan yang terjadi pada lensa usia lanjut:
.Kapsula
.Epitel-makin tipis
.Serat lensa
d.

PEMBAHASAN
Gejala Klinis
Pasien dengan katarak mengeluh gangguan penglihatan
dapat berupa:
Merasa silau
Berkabut, berasap
Sukar melihat di malam hari atau penerangan redup
Melihat ganda
Melihat warna terganggu
Melihat halo sekitar sinar
Penglihatan menurun
e.

PEMBAHASAN
Diagnosis
Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Pada pasien katarak sebaiknya
dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui kemampuan
melihat pasien. Pada pemeriksaan slit lamp biasanya
dijumpai keadaan palpebra, konjungtiva, dan kornea dalam
keadaan normal. Iris, pupil, dan COA terlihat normal. Pada
lensa pasien katarak, didapatkan lensa keruh. Lalu,
dilakukan pemeriksaan shadow test untuk menentukan
stadium pada penyakit katarak senilis. Ada juga
pemeriksaan-pemeriksaan lainnya seperti biomikroskopi,
stereoscopic fundus examination, pemeriksaan lapang
pandang dan pengukuran TIO
f.

PEMBAHASAN
g.

Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya katarak sangat bervariasi
bergantung dari proses patogenesis, proses umur,
genetik, makanan, diabetes melitus, radiasi
ultraviolet, merokok merupakan faktor penyebab
terjadinya katarak.
Framingham Eye Study 1973-1975, menyatakan
bahwa perempuan memiliki prevalensi lebih tinggi
daripada laki-laki, dengan perbandingan:
perubahan kedua lensa (63% vs 54,1%)
katarak senilis (17,1% vs 13,2%).

PEMBAHASAN
h.

i.

Tatalaksana
Ekstraksi lensa intrakapsular
Ekstraksi lensa ekstrakapsular
Fakoemulsifikasi
Komplikasi
Komplikasi Pre Operasi Katarak
Glaukoma fakomorfik
Glaukomafakolitik
Glaukoma fakotopik

PEMBAHASAN
Komplikasi Intra Operasi Katarak
Hifema
Iridodialisis
Prolapskorpusvitreum
Perdarahan ekspulsif

PEMBAHASAN
Komplikasi Post Operasi Katarak Awal
Hifema
Prolaps iris
EndoftalmitisAkut
Descemet Fold
Komplikasi Post Operasi Katarak Lanjut
Edema kornea
Kekeruhan kapsul posterior
Residual Lens Material
Dekompensasi kornea
Glaukoma sekunder
Endoftalmitis Kronik

PEMBAHASAN
Prognosis
Tindakan pembedahan secara defenitif pada katarak
senilis dapat memperbaiki ketajaman penglihatan pada lebih
dari 90% kasus. Sedangkan prognosis penglihatan untuk
pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik
prognosis untuk pasien katarak senilis
j.

PEMBAHASAN
Glaukoma
a.
Definisi
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana gambaran
klinik yang lengkap ditandai oleh peninggian tekanan
intraokuler, penggaungan dan degenerasi papil saraf optic
serta defek lapang pandangan yang khas.
3.

PEMBAHASAN
Klasifikasi
. Glaukoma Sudut Terbuka
b.

Glaukoma Primer Sudut Terbuka/Primary Open Angle Glaucoma (POAG)


Glaukoma dengan Tensi Normal
Glaukoma Suspek
Glaukoma Sekunder Sudut Terbuka

. Glaukoma

Sudut Tertutup

Glaukoma Primer Sudut Tertutup dengan Blok Pupil Relatif


Glaukoma Sudut Tertutp Subakut (Intermiten)
Glaukoma Sudut Tertutup Kronik
Glaukoma Sekunder Sudut Tertutup dengan Blok Pupil
Glaukoma Sudut Tertutup tanpa Blok Pupil

. Glaukoma

pada Anak

PEMBAHASAN
Patofisiologi
.Beberapa mekanisme peningkatan tekanan intraokuler:
.Korpus siliaris memproduksi terlalu banyak cairan bilik
mata, sedangkan pengeluaran pada jalinan trabekular
normal
.Hambatan pengaliran pada pupil sewaktu pengaliran
cairan bilik mata belakang ke bilik mata depan
.Pengeluaran di sudut bilik mata terganggu.
c.

PEMBAHASAN
d.

Gejala klinis
Peningkatan TIO
Halo sekitar cahaya dan kornea yang keruh
Nyeri
Penyempitan lapang pandang
Perubahan pada diskus optik
Oklusi vena
Pembesaran mata

PEMBAHASAN
e.

Diagnosis
Anamnesis
pemeriksaan penunjang:
Tonometri.
Gonioskopi.
Penilaian diskus optikus
Pemeriksaan lapang pandang
Uji lain pada glaukoma: Uji variasi diurnal, Uji
kamar gelap, Uji minum air.

PEMBAHASAN
Faktor Resiko
Beberapa faktor resiko untuk terjadi glaukoma, antara
lain:
.Usia, Glaukoma lebih sering terjadi pada usia di atas 40
tahun
.Faktor genetik, riwayat glaukoma dalam keluarga.
.Penyakit hipertensi
.Penyakit diabetes dan penyakit sistemik lainnya.
.Kelainan refraksi berupa miopi dan hipermetropi
.Ras tertentu
f.

PEMBAHASAN
g.

Tatalaksana
Penatalaksanaan medikamentosa:
Beta-blockers
Agonis alpha
Analog prostaglandin/prostamide
Inhibitorik karbonik anhidrase
Agonis kolinergik
Penatalaksanaan bedah:
Trabekulektomi
Siklodestruktif

PEMBAHASAN
Komplikasi
Komplikasi glaukoma pada umumnya adalah kebutaan
total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan
fungsi lanjut. Kondisi mata pada kebutaan yaitu kornea
terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan
ekskavasi (panggaungan) glaukomatosa, mata keras seperti
batu dan dengan rasa sakit
h.

PEMBAHASAN
Prognosis
Tanpa pengobatan, glaukoma sudut terbuka dapat
berkembang secara perlahan sehingga menimbulkan
kebutaan total. Apabila proses penyakit terdeteksi secara
dini, sebagian besar pasien glaukoma dapat ditangani
dengan baik secara medis.
Pada glaukoma kongenital yang tidak diobati, kebutaan
timbul dini. Mata mengalami peregangan hebat dan bahkan
dapat ruptur hanya akibat trauma ringan.
i.

PEMBAHASAN
4.

Jelaskan Fisiologi Aqueous Humor

PEMBAHASAN
5.

Hubungan ibu yang mengalami kebutaan dengan pasien

. Tergantung

dari apa yang menyebabkan kebutaan pada ibu


pasien, jika kebutaan ibu pasien dikarenakan penyakit
herediter seperti yang di derita pasien saat ini maka bisa
dikatakan ada hubungannya, tetapi jika kebutaan ibu pasien
disebabkan oleh faktor lain seperti trauma maka tidak ada
hubungannya.
. Glaukoma merupakan penyakit yang bisa diturunkan. Pada
Glaukoma, anggota keluarga penderita galukoma mempunyai
risiko 6 kali lebih besar untuk terkena glaukoma. Risiko
terbesar adalah kakak-beradik kemudian hubungan orang tua
dan anak-anak.

PEMBAHASAN
Jelaskan mengenai refleks cahaya dan refleks
fundus!
.Pemeriksaan refleks pupil atau refleks cahaya terdiri dari
reaksi cahaya langsung dan tidak langsung (konsensual).
.Pemeriksaan funduskopi di bidang neurologi bertujuan
untuk menilai keadaan fundus okuli terutama retina dan
papil nervus optikus. Bila media refraksi jernih reflek
fundus berwarna merah kekuningan pada seluruh
lingkaran pupil. Bila media refraksi keruh (kornea, lensa,
badan kaca)terlihat adanya bercak hitam didepan latar
belakang yang merah kekuningan
6.

PEMBAHASAN
Mengapa pasien mengeluh sering tersandung saat
berjalan dan kadang-kadang mata terasa pegal?
Peningkatan TIO dapat menyebabkan mata menjadi
nyeri dan pegal. Pada pasien yang mengalami glaukoma
akan terjadi kerusakan atau gangguan saraf optik,
manifestasi gangguan fungsinya adalah penurunan lapang
pandang. Lapang pandang yang mengecil inilah yang
membuat pasien tidak leluasa untuk melihat lingkungan
secara utuh akibatnya pasien sering tersandung jika
berjalan.
7.

PEMBAHASAN
Bagaimana mekanisme penyempitan lapang
pandang dengan adanya peningkatan tekanan
intraokular?
Peningkatan TIO akan mendorong perbatasan antara
saraf optikus & retina dibagian belakang mata akibatnya
pasokan darah ke saraf optikus berkurang sehingga sel-sel
sarafnya mati. Karena saraf optikus mengalami
kemunduran, maka akan terbentuk bintik buta pada lapang
pandang mata. Yang pertama terkena adalah lapang
pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. Jika
tidak diobati bisa menyebabkan kebutaan
8.

PEMBAHASAN
9.

Pemeriksaan funduskopi?

PEMBAHASAN
Hubungan glaukoma dengan katarak?
Penyakit glaucoma dan katarak merupakan penyakit
yang alami terjadi akibat proses penuaan. Seseorang yang
menderita glaukoma biasanya tidak selalu berisiko tinggi
untuk berlanjut menjadi katarak. Ada pengecualian,
termasuk mereka yang memiliki glaukoma karena
penyebab sekunder seperti radang mata, trauma mata, atau
pengguna steroid jangka panjang. Juga berisiko tinggi
adalah mereka dengan rubella congenital yang dapat
menyebabkan glaukoma, katarak, atau kadang-kadang
keduanya.
10.

PEMBAHASAN
11.

Jelaskan mengenai pemeriksaan tekanan


intraokular!
Cara Palpasi
Tonometri Non Kontak
Tonometer Schiotz
Tonometri Aplanasi

PEMBAHASAN
Jelaskan mengenai pemeriksaan shadow test!
Uji bayangan iris, diketahui bahwa semakin sedikit
lensa keruh semakin besar bayangan iris pada lensa yang
keruh. Sentolop disinarkan pada pupil dengan membuat
sudut 45 derajat dengan dataran iris, dan dilihat bayangan
iris pada lensa keruh. Bila letak bayangan jauh dan besar
berarti katarak imatur, sedangkan bila bayangan kecil dan
dekat pupil berarti lensa katarak matur.

PEMBAHASAN
Jelaskan mengenai pemeriksaan perimetri!
Alat ini berguna untuk melihat adanya kelainan lapang
pandangan yang disebabkan oleh kerusakan sarafoptik
Perimetri manual: Perimeter Lister, Tangent screen,
Perimeter Goldmann
Perimetri otomatis
Perimeter Oktopus
13.

PEMBAHASAN
Tatalaksana awal apa yang diberikan pada
pasien ini?
Glaukoma sebutulnya dapat ditangani terlebih
dahulu
dengan
terapi
farmakologi
untuk
mengurangi produksi aqueous humor (contoh:
golongan -blocker) atau meningkatkan absorpsi
(contoh: analog prostaglandin) sebelum dilakukan
pembedahan

KESIMPULAN
Seorang wanita 62 tahun mengalami glaukoma
sudut terbuka

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi kelima. Jakarta : Penerbit FKUI. 2011.
Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury's General Ophthalmology 16th Edition. New York:
McGraw-Hill; 2007. p.105-20
Loewenstein J, Scott L: Anterior chamber, iris, and lens. Ophthalmology. New York: McGraw-Hill.
2004
Rosenfeld, S. I., dkk. 2007. Lens and Cataract. San Francisco: American Academy of
Ophthalmology.
Khurana, A.K., 2007. Comprehensive Ophthalmology. 4th ed. New Delhi: New Age International
(P) Limited.
Azhar Z,Akmam SM. Katarak dan Perkembangan Operasinya. Cermin Dunia Kedokteran No.21,
2011. Hal 26-7
Vaughan D, Riordan-Eva P. Glaukoma. Dalam: OftalmologiUmum Ed 14.Alih Bahasa: Tambajong
J, Pendit BU. General Ophthalmology 14th Ed.Jakarta: WidyaMedika; 2000. 220-232.
Pascolini D, Mariotti SP. Global estimates of visual impairment:2010. BR J Ophthalmol. 2011.
AAO (American Academy of Ophthalmology). Cataract.
http://www.geteyesmart.org/eyesmart/diseases/cataracts.cfm;2011 [diakses 25 Februari 2015]
Smith, JS. 2003. Sutureless Cataract Surgery: Principles and Steps. Community Eye Health
Journal. pp. 49-53. Dalam www. ncbi. nlm. nih. gov/ pmc/ articles/ PMC1705836/ diakses tanggal
24 Februari 2015.
American Academy ofOpthalmology, Basic and aclinical Science Course. Lens and Cataract.
Section 11. San Fransisco : American Academy of Opthalmology : 17-22, 81-97, 103-10
kBoyd FB. Highlight of opthalmology. World atlas series of ophthalmic surgery. Vol 1. Eldorado :
Highlight Opthalmology Intl : 123-4. 172-75
Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology : A Systemic Approach. 7th ed. China: Elsevier :
2011. (e-book)\

Skuta. Glaukoma, Section 10. Basic and Clnical Science Course. 2009-2010 San Fransisco. American
Academy Opthalmology.
Shock JP, Harper RA. 2000. Lensa. Dalam: Oftalmologi Umum Ed 14. Alih Bahasa: Tambajong J,
Pendit BU. General Ophthalmology 14th Ed. Jakarta: Widya Medika.
Virna Dwi Oktariana. Lebih Jauh Tentang Glaukoma 2008. Diperoleh dari: www.perdami.or.id.
(pada tanggal 24 februari 2015).
Khaw T, Shah P, Elkington AR. 2005. ABC of Eyes 4th Edition. London: BMJ Publishing
Group; 52-59
Blanco AA, Costa VP, Wilson RP. Handbook of Glaucoma. London: Martin Dunitz; 2002. 17-20
Quigley H.A, American Academy Of Opthalmology, Glaucoma, ini Basic and Clinical Science Course,
section 10,2005-2006,pp 88
Cibis, G.H., Beaver, H.A., Jhons, K., Kaushal, S., Tsai, J.C., and Beretska, J.S., 2007. Trabecular
Meshwork. In: Tanaka, S., ed. Fundamentals and Principles of Ophthalmology. Singapore: American
Academy of Ophthalmology, 54-59.
Guyton dan Hall. Buku Ajar Fisiologi Manusia edisi 11. Jakarta : EGC, 2007.
Lumbantobing S. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
2006. p 25 46.
Gilroy Jhon. Abnormalities of Pupillary Light Reflex. In : Basic Neurology. Third edition. New York:
Mc Graw-Hill. 2000. p26 27.
Michael Sakamoto. Cataracts and Glaucoma. [Cited: February 26, 2015; Updated May 02, 2011].
Available from: http://www.glaucoma.org/glaucoma/cataracts-and-glaucoma.php

Harvey B. Examination of intraocular pressure. In:Doshi S, Harvey W, eds. Investigative techniques


and ocular examination.Butterworth Heineman: Spain; 2003. p.61-7