Anda di halaman 1dari 91

BAB I

PENGENALAN DAN PENGGUNAAN


ALAT GEOLOGI
1.1. Pendahuluan
Pandangan bagi seorang ahli dalam bidang pertambangan, geologi berarti
suatu ilmu yang mempelajari tentang bumi sedangkan alat berati suatu media
yang diperlukan dalam suatu pekerjaan, praktek lapangan, penelitian dan lain
sebagainya. Alat geologi adalah peralatan atau perlengkapan yang diperlukan
dalam praktek lapangan/pengolahan data, pemetaan dan lain sebagainya,
merupakan cara-cara yang digunakan untuk mempelajari dan menafsirkan
struktur, dan sifat batuan yang ada pada suatu singkapan. Kajian lapangan
merupakan dasar yang utama untuk cara yang sederhana, misalnya dengan
mengunjungi suatu singkapan atau tempat-tempat pengalian, membuat sketsa dan
catatan mengenai hubungan batuannya, mengumpulkan contoh batuan, dengan
mengambil data di lapangan secara langsung sehingga diperlukan kondisi dalam
pengoperasian alat geologi sehingga data yang didapat bisa lebih akurat.
Adapun perlengkapan dasar yang harus disiapkan sebelum melakukan
kegiatan Geologi lapangan yaitu:
1.

Palu geologi

2. Kompas geologi
3. GPS (Global Positioning System)
4. Pita atau tali ukur (Meteran 5/50 Meter)
5.

Buku catatan lapangan

6. Tas lapangan
7. Kamera
8. Clipboard
9. Kantong contoh batuan

1.2. Perlengkapan Alat Geologi


1.2.1. Palu Geologi
Jenis palu geologi yang digunakan ada dua jenis yaitu Pick Point yaitu
jenis yang berujung runcing, umumnya di pakai didaerah batuan yang keras
( batuan beku dan batuan metamorf ). Sedangkan jenis yang lain adalah Chisel
point yang berujung seperti pahat. Umumnya dipakai untuk batuan yang
berlapis ( batuan sedimen ).
Palu geologi digunakan untuk membersihkan suatu singkapan batuan yang
tertutup dengan tujuan memudahkan penempatan kompas untuk
kedudukan dan kemiringan suatu batuan / singkapan tersebut.

Gambar 1.1. Palu Geologi

mencari

1.2.2. Kompas Geologi


Kompas adalah alat untuk mengukur atau menentukan arah mata angin yang
beracuan dengan medan magnet bumi (sudut utara), yang selalu di tunjukkan
dengan arah jarum kompas. (North South).
1. Azimuth
Pada kompas Azimuth (pembagian lingkaran 3600) selalu dibaca jarum Utara,
dan kemudian diamati angka yang ditunjuknya. Biasanya jarum Utara
dibedakan dengan jarum Selatan dengan diberi tanda putih atau merah pada
ujungnya.
Untuk menyatakan arah, dibaca : N 2300 E (pembacaan selalu melalui arah E).
2. Strike dan Dip
Jika kita melakukan dengan menggunakan kompas geologi, ada istilah
pengukuran strike (perlapisan), yang dimana bagian sisi kompas (umumnya
bagian E) ditempelkan pada bidang yang diukur. Pada waktu kedudukan
kompas horizontal (dengan mengukur kedudukan gelembung udara ditengah),
harga yang ditunjukkan jarum kompas adalah harga jurus.
Ada pula istilah pengukuran Dip (kemiringan), dengan menemplekan bagian
sisi kompas (umumnya bagian W), pada bidangan dengan posisi tergak lurus
jurus yang telah diukur. Klinometer diatur sehingga gelembung udara terletak
ditengah. Harga yang terbaca merupakan besarnya kemiringan.
3. penentuan arah dip
Didalam penentuan arah dip yang harus diperhatikan adalah arah Utara derajat
serta peletakan garis tegak lurus, karena jika salah maka Dip juga akan salah.

Gambar 1.2. Kompas Geologi dengan Bagian-bagiannya.


Bagian bagian dari kompas geologi :
a. Jarum magnet
Ujung jarum bagian utara selalu mengarahkan kekutub utara magnet bumi (
bukan kutup utara geografi ). Dalam hal ini arah utara sebenarnya harus dikoreksi
tarhadap iklinnasi dan diklinnasi yang harganya tergantung posisi kutup magnit
bumi di daerah mana kompas itu digunakan.
- inklinasi :

Kecondongan jarum kompas yang disebabkan letak

geografis

suatu daerah. Pada dasarnya , sebelum kompos geologi

itu dapat

diguanakan dengan baik, kedudukan jarum kompas horizontal.


Untuk itu bisa digunakan beban ( bisanya ada ) yang dapat digeser
sepanjang jarum kompas
- Deklinasi : Sudut yang dibentuk arah utara jarum kompos dan arah utara
sebenarnya ( sudut penyimpangan ). Untuk menyusuaikan agar
kompas yang akan dipakai menunjukan arah utara yang
sebenarnya, lingkaran derajat pada kompas harus digeser dengan
cara memutar adjusting screw yang terdapatpada sisi kompas
sebesar deklinasi.
b. Lingkaran Pembagian Derajat (Graduated Circle).
Dikenal 2 macam jenis pembagian derajat pada kompas geologi, yaitu
kompas kompas Azimuth dengan pembagian derajat dimulai 0 pada arah utara
(N) sampai 360, tertulis berlawanan dengan arah perputaran jarum jam dan
kompas Kwadran dengan pembagian derajat dimulai 0 pada arah utara (N) dan
selatan (S), sampai 90 pada arah timur (E) dan barat (W).
c. Klinometer
Yaitu bagian kompas untuk mengukur besarnya kecondongan atau
kemiringan suatu bidang atau lereng. Letaknya di bagian dasar kompas dan

dilengkapi dengan gelembung pengatur horisontal dan pembagian skala (gambar


A dibawah ini). Pembagian skala tersebut dinyatakan dalam derajat dan persen.

Nivo Bull Eyes

Gambar 1.3. Klinometer


d. Nivo Bull Eyes
Dalam pengukuran strike, Nivo Bull Eyes berguna untuk menunjukkan
posisi level dari kompas yang kedudukannya dihorizontalkan, maka harga yang
ditunjukkan oleh jarum utara kompas adalah harga jurus bidang yang diukur.
Dalam pengukuran dip, Nivo Bull Eyes digunakan untuk menunjukkan
posisi level pada saat elinometer diatur samapi gelembung udaranya berada di
tengah. Harga yang ditunjukkan oleh penunjuk pada skala elinometer adalah
besarnya sudut kemiringan dari bidang yang diukur.
Penggunaan kompas geologi:
a. Untuk menentukan arah
- Kompas dipegang dengan setingi dada atau pinggul dan arahkan ke udara
- Kompas dibuat level / horizontal.
- Cermin dibuka kurang lebih () 135
- Kompas diputar sedemikian rupa sehingga arahnya yang dituju tampak pada
cermin.
- Baca derajat yang ditunjukan oleh jarum kompas.

Gambar 1.4. Untuk Menentukan Arah


b. Untuk mengukur kemiringan suatu lereng
- Tutup kompas dibuka 45
- Kompas dipegang dengan tangan yang ditekuk pada posisi vertikal
- Melalui lubang VIP kita dapat membidik suatu kemiringan
- Kemudian stec klinometer hingga dalam keadaan level
- Baca derajat yang ada dibawah klinometer

Gambar 1.5. Mengukur Kemiringan Suatu Lereng.

c. Untuk mengukur kedudukan unsur struktur


- Menentukan arah perlapisan (strike), yaitu dengan menempelkan sisi East
pada kompas dan baca arah singkapannya
- Menentukan kemiringan (Dip), yaitu dengan menempelkan sisi West dengan
memutar klinometer sampai posisi nivo tabung stabil/level
- Menentukan arah kemirngan, yaitu dengan menempelkan sisi South horizontal
kompas hingga posisi nivo mata sapi level, angka yang ditunjukan oleh jarum
utara kompas merupakan harga dari awal kemiringan.

Gambar 1.6. Pengukuran Kedudukan Struktur Bidang.


Keterangan

a. Pengukuran Jurus
b. Pengukuran Kemiringan
c. Pengukuran Arah Kemiringan

1.2.3. Global Positioning System ( GPS )


GPS adalah alat untuk menentukan koordinat / batas-batas wilayah, elevasi
dengan bantuan satelit sehingga mudah untuk mendapatkan suatu titik / lokasi
pengamatan. Pengertian secara khusus GPS yaitu alat navigasi untuk mengetahui
koordinat suatu titik dimana kita berada. Sekarang ini telah dibuat GPS selain
sebagai alat navigasi juga untuk kebutuhan survey pemetaan tofografi dan geologi
di darat (onshore) maupun di laut (offshore). Posisi dan lintasan pemetaan dapat
terbaca pada saat GPS dinyalakan. GPS satu-satunya sistem navigasi satelit yg
berfungsi dengan baik, sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan
sinyal gelombang mikro kebumi, sinyal ini diterima oleh alat penerima
dipermukaan dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan
waktu.
Untuk kebutuhan pemetaan geologi gunakan GPS saku dengan tingkat
ketelitian alat adalah 30 meter dengan angka koordinat yang ditampilkan adalah
koordinat geografis dan UTM atau tergantung setting dari alat tersebut.

Gambar

1.7. Global
Positioning
(GPS)
60
Bagian
Global
System

System
GARMIN
Bagian
tombol
Position
(GPS)
1.

POWER

Menghidupkan dan mematikan GPS

Menghidupkan dan mematikan lampu layar

2. IN
-

Membesarkan peta yang ada pada layar GPS

3. OUT
-

Mengecilkan peta yang ada pada layar GPS

4. NAVIGASI
-

Untuk Mengarahkan Skrole

5. FIND
-

Membuka Menu Penyimpanan Data

6. ENTER
-

Konfirmasi masukan data atau memilih menu

Tekan dan tahan tombol ENTER untuk mengaktifkan menu mark


waypoint

7. PAGE
-

Untuk menampilkan menu.

8. MENU
-

Menampilkan menu utama

9. QUIT
-

untuk kembali ke menu sebelumnya.

10. MARK
-

untuk mengambil koordinat dimana kita berdiri atau di posisi kita berdiri

Main Menu :
1.
2.

Way point : memasukan data - rename new delete done


Way point list : melihat kembali data yang sudah disimpan dalam GPS

3.
4.
5.
6.

Caranya data dari way point dimasukan dalam routes.


Setup menu : untuk pengaturan GPS
system : untuk mengatur tanggal, dll.
navigation : untuk mengatur jenis koordinat.
Alarm : tanda yang disetujui dari pengaturan way point sudah dekat dan

7.

alarmnya berbunyi
Language : bahasa

Global Position System ( GPS ) Penerima / RECEIVER:


- satelit navigasi
- satelit bumi sebagai pengelola satelit
Kemampuan :
Posisi : Geographic Coordinat System ( GCS ), lintang / bujur
GEOID : lengkung permukaan bumi
Word Geodetik System (WGS):
- mengukur obyek yang diam pengukuran spatik
- mengukur obyek yang bergerak pengukuran kinetik type GPS
Navigasi : arah ( < 5 m )
Geodetik : absolut ( 2 cm )
- Mengukur lokasi pengamatan real time / kapan saja.
Tingat ketelitian yaitu :
1. Data yang dipakai
2. Jenis receiver
3. Gangguan / noise kesalahan bias dilonosfer, hindari pengambilan data pukul
10.00-14.00
Teknik pengambilan data :
DGPS :Defferential Global Position System base/tetap, mobile/bergerak
RTK

: Real Time Kinetik

WAAS : Wide Area Augmentation System.

1.2.4. Pita atau Tali Ukur (Meteran)


Meteran digunakan untk pengukuran ketebalan batuan pada lokasi
pengamatan, dimana data tebal batuan kita butuhkan untuk mengetahui litologi
apa saja yang ada di daerah penelitian.

10

1.2.5. Buku Catatan Lapangan


Hasil catatan lapangan merupakan data penting dalam pembuatan laporan
geologi. Untuk itu catatan lapangan harus terbuat baik, tulisannya dapat dibaca
dan dimengerti dengan jelas oleh orang lain. yang mungkin memerlukan
dikemudian hari untuk pekerjaan kita seumpamanya pekerjaan tersebut belum
selesai.
Agar tulisannya tidak luntur karena terkena air atau lembab, maka tulisan
harus menggunakan pensil yang agak runcing dan tidak dibenarkan menggunakan
tinta.
1.2.6. Tas Lapangan
Tas lapangan di gunakan unntuk menyimpan peralatan lapangan yang kita
gunakan agar memudahkan dalam membaawa peralatan lapangan pada waktu
penelitian di lapangan.
1.2.7. kamera
Kamera digunakan untuk mengambil gambar fisual lapangan untuk
dokumentasi lapangan contohnya pengambilan gambar singkapan, foto bentang
alam, dll.

1.3. Kegiatan dan Pengukuran Dilapangan


1.3.1. Penentuan Lokasi

11

Didalam kalangan pemetaan geologi secara populernya disebut Penentuan


Lokasi atau Lokasi saja. Perlu diketahui bahwa prosedur yang penting didalam
melakukan suatu pemetaan geologi ada 3, yaitu :
1. Pengamatan batuan pada singkapan.
2. Penentuan letak dari pada tempat-tempat dimana pengamatan tersebut
dilakukan.
3. Memasukan data yang diamati tersebut kedalam peta dasar.
4. Disini jelas bahwa hal (2) dan (3) harus dilakukan dengan teliti dan tepat.
Secara tidak berlebihan dapat dikatakan bahwa nilai dari suatu peta geologi
akan sangat ditentukan oleh ketelitian dan ketetapan memasukan data yang
diamati pada peta. Kesalahan memasukan data akan mengakibatkan dihasil
suatu peta geologi yang menyesatkan. Dibawah ini akan dikemukakan
beberapa cara yang dapat ditempuh oleh pemeta untuk menentukan letak dari
pada titik-titik pengamatan dengan menggunakan peta topografi dan kompas.
Cara mana yang paling baik masih harus dipilih oleh si pemeta dengan melihat
keadaan medan.
a. Dengan melihat dan mengamati keadaan bentuk bentang alam disekitar titik
pengamatan, dan disesuaikan dengan peta.
Umpamanya : Kelokan sungai, suatu bukit yang menonjol atau perpotongan
sungai, jalan dan sebagainya.
b. Dengan jalan menarik garis yang terarah terhadap suatu obyek yang jelas dan
dapat dikenal dengan segera dalam peta. Hanya data-data yang terletak pada
bentuk-bentuk yang berupa garis lurus sering dapat ditentukan dengan cara
demikian seperti jalan, sungai, gunung.
5. Dengan menentukan titik perpotongan antara garis-garis yang terarah pada
obyek-obyek yang dapat dikenal dari peta, misalnya puncak-pncak bukit.
Biasanya diambil 3 titik yang nyata dan arahnya dari kompas.
6. Kadang-kadang kita hanya dapat menarik satui garis saja. Dan kalau kita tidak
dapat mengetahui ketinggian dari tempat dimana kita berada, maka
perpotongan antara garis itu dengan garis countur adalah titik lokasi yang
dimaksud. Untuk mendapatkan ketelitian, biasanya kalau mungkin kita
terapkan lebih dari satu cara menentukan satu titik pengematan.
1.3.2. Pengamatan di Lapangan
12

Semua yang dapat dilihat di lapangan mempunyai arti tertentu, merupakan


kewajiban bagi peneliti untuk mencatat segala yang diamati, walaupun yang ada
pada saat itu mungkin tampak tidak terlalu penting, Tetapi diwaktu yang akan
datang hal tersebut merupakan kunci atau keterangan tambahan bagi hal-hal yang
belum terpecahkan.
Ada hal-hal pokok yang harus direkam oleh pemeta dalam buku lapangannya,
yaitu :
1. Unsur-unsur struktur : jurus dan kemiringan untuk struktur bidang (misalnya
bidang lapisan, sesar, kekar, foliasi dan lain-lain), serta arah penjaruman untuk
struktur garis (misalnya : sumbu microfold, gores garis liniasi mineral, dan
lain-lain).
2. Diskripsi litologi : dilapangan harus diusahakan pada singkapan yang baik,
serta diharapkan dapat mewakili suatu satuan degan cara mendiskripsi batuan.
3. Membuat sketsa atau potret : mungkin keduanya perlu dilakukan, sebab dengan
foto saja kemunkinan gagal, dan pula sketsa dapat memperjelas hal-hal yang
ingin ditonjolkan.

BAB II
PETROLOGI DAN MINERALOGI
2.1. Pendahuluan
Batuan merupakan bahan pembentuk kerak bumi, sehingga mengenal
macam-macam dan sifat batuan adalah sangat penting. Batuan didefinisikan
sebagai semua bahan yang menyusun kerak bumi. Dan merupakan suatu agregat
(kumpulan) mineral-mineral yang menghablur. Yang tidak termasuk batuan adalah
13

tanah dan bahan lepas lainnya yang merupakan hasil pelapukan kimia ataupun
mekanis serta proses erosi dari batuan. Dalam praktikum dan kuliah akan
diberikan latihan membedakan batuan yang lazim didapatkan di alam. Dengan
cara mendiskripsikan secara megaskopus dari contoh-contoh batuan di
laboratorium atau diskripsi langsung kelapangan pada suatu singkapan batuan.
Sehingga diharapkan praktikum dapat mengenal Rock Forming Mineral dan
dapat mendiskripsikan secara baik dan benar.
Mineralogi berasal dari dua kata yaitu mineral dan logos yang berarti salah
satu cabang ilmu geologi yang mempelajari mengenai mineral, baik dalam bentuk
individu maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain mempelajari tentang sifatsifat fisik, sifat-sifat kimia, cara terjadinya dan kegunaan.
Mineral (menurut Berry dan Mason) adalah bentuk padat homogen yang
terdapat di alam, terbentuk alam secara anorganik dengan komposisi kimia pada
batas tertentu dan sifat fisik yang tertentu pula dan mempunyai atom-atom yang
tersusun secara teratur.
2.2. Definisi Petrologi
Petrologi adalah salah satu dari segi dalam pengetahuan geologi yang
mempelajari sejarah dan cara terjadinya batuan di alam serta proses-proses
perubahan yang dialaminya. Definisi lainnya petrologi adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari batuan pembentuk kulit bumi yang mencakup mengenai cara
terjadinya, komposisi, klasifikasi, batuan tersebut dan hubungannya dengan
proses-proses geologi dan sejarah geologinya. Kedalam petrologi termasuk pula
penelitian-penelitian petrografi ( contoh batuan dibuat dalam sayatan tipis 0,032
mm dan diamati dengan mikroskop polarisasi ) dan petrogenesis ( Penentuan
proses terjadinya batuan berdasarkan data yang diperoleh di lapangan ). Tekstur
menunjukkan aspek geometri butir-butir mineral yang mencakup besar butir,
betuk, dan hubungan satu sama lain; sehingga pula dikatakan bahwa ia merupakan
data keadaan fisika dan kimia pada waktu terjadinya batuan.
a.

Klasifikasi Batuan

14

1. Batuan Beku (Igneous Rock)


Adalah batuan yang terbentuk langsung dari pembekuan magma.
Dibentuk dari magma / lava yang membeku kemudian mengkristal menjadi
batuan. Terdiri dari kumpulan mineral-mineral silika yang interlocking
(saling mengunci) atau kumpulan interlocking agregat mineral-mineral
silikat hasil pengebluran magma yang mendingin (Walter T. Huang, 1962).
Magma : batuan yang intrusif
Lava

: batuan yang ekstrusif

2. Batuan Sediment (Sedimentary Rock)


Batuan yang terbentuk akibat proses diagnesa dari material batuan lain
yang sudah mengalami sedimentasi.
Dibentuk dari akumulasi sedimen yang kompak (keras) kemudian
terlapiskan, terdiri dari fragmen batuan yang mempunyai ukuran bervariasi,
mineral mineral yang stabil, sisa kehidupan, hasil kimiawi, evaporasi atau
hasil campuran tersebut diatas.
Dapat juga terjadi akibat prises pelapukan, desintegranasi ( mekanis ) secara
kimia ( dekomposisi ) perombakan material yang bercampur didalam suatu
larutan.

15

Gambar 2.1. Proses Terjadinya Batuan Sedimen.


3. Batuan Metamorf (Metamorphic Rock)
Batuan yang terbentuk oleh proses metamorfosa pada batuan yang telah ada
pada sebelumnya sehingga mengalami perubahan komposisi mineral,
tekstur, tanpa mengubah komposisi kimia dan tanpa berubah fase.

Gambar 2.2. Proses terjadinya batuan Metamorf.

Sedimentologi
Cabang ilmu geologi khususnya mempelajari batuan sedimen sifat sifat
fisisnya, tempat dalam kerangka geologi, proses pembentukannya dan lingkungan
pengendapan.
Metode Penyelidikan Sedimentologi :
-

Observasi lapangan

Statistik

Experimental

Identifikasi

Analisa laboratorium ( mineral, tekstur, kimia )

Sifat-sifat Dan Pemerian Batuan Sedimen:

16

Sifat Umum

Pelapisan dan struktur batuan

Tekstur batuan sedimen

Kandungan fosil
Perlapisan dan Lapisan

Pengertian

Grain size variation

Color variation

Lithologio concentration

Mineral concentrtion

Pembentukan perlapisan

Arti perlapisan bagi stratigrafi


Struktur Sedimen

Kelainan-kelainan dari perlapisan normal ( menunjukan lingkungan


pengendapan). Contoh : Graded bedding, cross bedding, laminasi, perlapisan,
masif.

Gambar 2.3. Struktur Laminasi

Gambar 2.4. Struktur Perlapisan

17

Gambar 2.5. Struktur Graded Bedding

Gambar 2.6. Silang Siur

Gambar 2.7. Struktur Masif


Pemahaman Litologi Suatu Batuan :
o

Pemberian nama dan istilah

Macam fragmentasi dan butiran pembentuk

Semen, masa dasar

Warna

Besar butir

Kemas

Mineral sedikit

Porositas / Permeabilitas

Kandungan fosil

Analisa lithology Dan Interpretasi Lingkungan


Dengan pemerian yang lengkap lingkungan pengendapan dapat
ditafsirkan berdasarkan ciri-ciri yang kas (tertentu).
Pemerian Litologi Yang Sistematis

18

Pemerian yang secara teratur menurut suatu standart dalam aturan-aturan


urutan sifat-sifat yang diberi / keseragaman istilah yang dipakai maupun dalam
singkatan kata-kata.

Tekstur Sedimen Klastik


Ukuran Butir (Grain Zize) Didasarkan pada skala WENTWORTH, 1922
Tabel 2.1. Ukuran Butir Batuan Sedimen.
Nama Butiran

Ukuran Butiran

Nama Batuan

Bongkah

>256

Breksi : Fragmennya runcing

Berangkal

64 - 256

Konglomerat : Fragmennya membulat

Kerakal

4 - 64

Kerikil
Pasir sangat kasar

24
12

Pasir Kasar

1/2 - 1

Pasir sedang

1/4 1/2

Pasir halus

1/8 1/4

Pasir sangat halus


Lanau

1/16 1/8
1/16 1/256

Batu Lanau

Lempung

<1/256

Batu Lempung

Batu pasir

Pemilahan (Sortasi)
Tingkat hubungan antar butir :
1. Pemilahan baik

: besar butiran merata

2. Pemilahan Buruk : besar butiran tidak merata


Derajat Pemundaran (Bentuk Butir)

19

1. Menyudut runcing (very angular)


2. Menyudut (angular)
3. Menyudut Tanggung (sub angular)
4. Membulat (rounded)
5. Membulat Tanggung (sub rounded)
6. Membulat Baik (well rounded)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Gambar 2.8. Bentuk butir batuan Sedimen


Kemas (Fabric)
1. Kemas terbuka

: Butiran tidak saling bersentuhan

2. Kemas tertutup

: Butiran saling bersentuhan

Komposisi Mineral
1. Fragmen

: Butiran yang paling besar

2. Matrik

: Ukurannya lebih kecil dari fragmen

3. Semen

: Pengikat antara fragmen dan matrik (karbonat, silika, oksida besi)

Tekstur Sedimen Non Klastik


Amorf

: Berukuran lempung/ koloid, non kristal

Olitik

: Kristal bulat/elipsoid ukurannya 0,25-2 mm

Pisolitik

: Mirip olitik, ukuran butiran kristalnya > 2 mm

Sakaroidal

: Kristal sangat halus, ukuran gula

Kristalin

: Tersusun oleh kristal

20

Fosiliferous

: Ditunjuk oleh adanya fosil

b. Siklus Batuan

Gambar. 2.9 siklus batuan


Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis batuan yaitu
batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga batuan tersebut dapat
berubah menjadi batuan metamorf tetapi ketiganya juga bisa berubah menjadi
batuan lainnya. Semua batuan akan mengalami pelapukan dan erosi menjadi
partikel-partikel atau pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa
membentuk batuan sedimen. Batuan juga bisa melebur atau meleleh menjadi
magma dan kemudian kembali menjadi batuan beku. Kesemuanya ini disebut
siklus batuan atau Rock cycle.
Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab
pelapukan tersebut ada 3 macam:

1.

Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke dingin akan


membuat batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat
rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang sehingga prosesproses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian yang lebih
kecil lagi.

21

2.

Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan
batuan seperti contohnya larutan HCl akan bereaksi dengan batu gamping.
Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Salah satu
contoh yang nyata adalah hujan asam yang sangat mempengaruhi
terjadinya pelapukan secara kimia.

3.

Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat proses


fisikan dan kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan
secara biologi. Salah satu contohnya adalah pelapukan yang disebabkan oleh
gangguan dari akar tanaman yang cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar
ini mampu membuat rekahan-rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah
batuan menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah

menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat.
Berpindahnya tempat dari partikel-partikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini
dapat terjadi melalui beberapa cara:
1.

Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang
ada bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui
tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah.

2.

Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat
mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu
contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah peranan sungai dalam
mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ini.

3.

Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan


batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah
gurun.

4.

Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di
Alaska sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang
ada.

22

Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat terbawa


selamanya. Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang
tiupannya, dan juga glasier akan meleleh. Akibat semua ini, maka pecahan batuan
yang terbawa akan terendapkan. Proses ini yang sering disebut proses
pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan
secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru
kemudian diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan
ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang sering kita lihat di batuan
sedimen saat ini.
Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan yang ada di
perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di
atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan
batuan akan tertekan sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Proses ini
sering disebut kompaksi. Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang
ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau
kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat partikel tersebut menyatu
membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering disebut sementasi. Setelah
proses kompaksi dan sementasi terjadi pada pecahan batuan yang ada, perlapisan
sedimen yang ada sebelumnya berganti menjadi batuan sedimen yang berlapislapis. Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, dan batu gamping dapat
dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan, butiran-butiran sedimen
yang menjadi satu akibat adanya semen, dan juga adanya fosil yang ikut
terendapkan saat pecahan batuan dan fosil mengalami proses erosi, kompaksi dan
akhirnya tersementasikan bersama-sama.
Pada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada sangatlah
tinggi. Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti ini dapat mengubah
mineral yang dalam batuan. Proses ini sering disebut proses metamorfisme.
Semua batuan yang ada dapat mengalami proses metamorfisme. Tingkat proses
metamorfisme yang terjadi tergantung dari:

23

1. Apakah batuan yang ada terkena efek tekanan dan atau suhu yang tinggi.
2. Apakah batuan tersebut mengalami perubahan bentuk.
3. Berapa lama batuan yang ada terkena tekanan dan suhu yang tinggi.
Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan
batuan yang ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini karena
tekanan dan suhu yang sangat tinggi pada kedalaman yang sangat dalam. Akibat
densitas dari magma yang terbentuk lebih kecil dari batuan sekitarnya, maka
magma tersebut akan mencoba kembali ke permukaan menembus kerak bumi
yang ada. Magma juga terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle bumi.
Magma ini juga akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul
dengan magma yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha
menerobos kerak bumi untuk membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun
vulkanik.
Kadang-kadang magma mampu menerobos sampai ke permukaan bumi
melalui rekahan atau patahan yang ada di bumi. Pada saat magma mampu
menembus permukaan bumi, maka kadang terbentuk ledakan atau sering disebut
volcanic eruption. Proses ini sering disebut proses ekstrusif. Batuan yang
terbentuk dari magma yang keluar ke permukaan disebut batuan beku ekstrusif.
Basalt dan pumice (batu apung) adalah salah satu contoh batuan ekstrusif. Jenis
batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang
ada. Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
1.

Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan


bumi mengalami proses pendinginan yang sangat cepat sehingga mineralmineral yang ada sebagai penyusun batuan tidak mempunyai banyak waktu
untuk dapat berkembang.

2.

Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk akibat gas


yang terkandung dalam batuan atau yang sering disebut gas bubble.

24

Batuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi sering
membentuk magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini bercampur dengan
magma yang terbentuk dari mantle. Karena letak magma chamber yang relatif
dalam dan tidak mengalami proses ekstrusif, maka magma yang ada mengalami
proses pendinginan yang relatif lambat dan membentuk kristal-kristal mineral
yang akhirnya membentuk batuan beku intrusif. Batuan beku intrusif dapat
tersingkap di permukaan membentuk pluton. Salah satu jenis pluton terbesar yang
tersingkap dengan jelas adalah batholit seperti yang ada di Sierra Nevada USA
yang merupakan batholit granit yang sangat besar. Gabro juga salah satu contoh
batuan intrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari
komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku intrusif memperlihatkan
cirri-ciri berikut:
1.

Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan


bumi mengalami proses pendinginan yang sangat lambat sehingga mineralmineral yang ada sebagai penyusun batuan mempunyai banyak waktu untuk
dapat berkembang.

2.

Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif memperlihatkan


angular interlocking.
Proses-proses inilah semua yang terjadi dimasa lampau, sekarang, dan

yang akan datang. Terjadinya proses-proses ini menjaga keseimbangan batuan


yang ada di bumi.

2.3. Teori Tektonik Lempeng (Sekunder asikin)


Tektonik Setting Cekungan Tarakan

25

Perkembangan struktur-struktur di Sub-cekungan Tarakan, Cekungan


Tarakan berlangsung dalam beberapa tahapan yang mempengaruhi pengendapan
sedimen pada area tersebut. Konfigurasi secara struktural sudah dimulai oleh
rifting sejak Eosen Awal, menyebabkan perkembangan dari graben-graben dan
horst-horst yang tersesarkan. Pada graben-graben ini terdapat sedimen-sedimen
tertua pada sub-cekungan ini, seperti Formasi Sembakung yang terkompaksi kuat.
Meskipun sedimen-sedimen pra-Tersier tidak terpenetrasi pada banyak sumur
yang dibor pada daerah tersebut, seismik yang dilakukan dapat mendeteksi
keberadaan sedimen-sedimen tersebut (Biantoro dkk., 1996).
Proses Rifting berjalan secara kontemporer dengan pengangkatan di
bagian barat dari sub-cekungan yang mengontrol siklus-siklus pengendapan
sedimen pada sub-cekungan tersebut. Pengangkatan pada Eosen Tengan
menyebabkan erosi pada Tinggian/Punggungan Sekatak dan dimulainya
pengendapan sedimen-sedimen dari siklus yang pertama (Siklus 1).
Pengendapan siklus yang kedua (Siklus 2) dimulai sejak pengangkatan
Oligosen

Awal,

dengan

sedimen-sedimen

yang

diendapkan

secara

ketidakselarasan terhadap Siklus 1. Sedimen-sedimen Siklus 2 ini diendapkan


pada fasa transgresif. Fasa ini berubah menjadi regresif ketika proses rifting dan
pengangkatan mencapai puncaknya pada akhir dair Miosen Akhir. Pengangkatan
yang kedua ini berbeda dengan proses pengangkatan pertama karena berkembang
ke arah timur dan menghasilkan Punggungan Dasin-Fanny. Proses rifting dan
pengangkatan ini menghasilkan sesar-sesar normal yang memiliki arah timurlautbaratdaya.

Gambar Tektonik Sub-Cekungan Tarakan (Modifikasi dari Biantoro dkk.,


1996). Proses-proses rifting, pengangkatan, dan reaktivasi sesar-sesar tua
mempengaruhi perkembangan struktur dan siklus pengendapan di Sub-Cekungan
Tarakan.

26

Gambar 2.10
Siklus 3 yang regresif kemudian diendapkan di lingkungan transisionaldeltaik.

Sedimen-sedimen

yang

diendapkan

dalam

jumlah

yang

besar

menyebabkan rekativasi dari sesar-sesar tua yang terbentuk selama Oligosen


sampai Miosen Awal yang berkembang menjadi growth fault. Petumbuhan dari
sesar-sesar tersebut berhenti untuk sementara waktu pada awal pengendapan dari
Formasi Santul dikarenakan oleh terjadinya fasa trangresif yang pendek.
Pensesaran tersebut berlangsung selama Pliosen ketika siklus pengedapan
keempat (Siklus 4), yaitu Formasi Tarakan diendapkan.
Aktivitas Tektonik pada Pliosen Akhir-Pleistosen bersifat kompresif dan
menghasilkan sesar-sesar strike-slip. Di beberapa tempat, kompresi ini
menginversikan sesar-sesar normal menjadi sesar-sesar naik (Biantoro dkk.,
1996). Kegiatan tekonik yang menyebabkan pengangkatan, perlipatan, dan
pensesaran keseluruhan daerah cekungan Tarakan ketidakselarasan di beberapa
tempat (Pliosen Akhir) Pada Siklus 5 yang merupakan siklus pengendapan
terakhir pada sub-cekungan ini, diendapakan Formasi Bunyu.

27

Statigrafi
Batuan dasar pada cekungan Kalimantan Timur Utara terdiri dari sedimensedimen berumur tua, meliputi Formasi Danau (Heriyanto dkk., 1991) atau
disebut juga Formasi Damiu (IBS, 2006), Formasi Sembakung, dan Batulempung
Malio. Sedimen-sedimen tersebut telah terkompaksi, terlipatkan, dan tersesarkan.
Formasi Danau
Formasi Danau terdeformasi kuat dan sebagian termetamorfosa, mengandung
breksi terserpentinitisasi, rijang radiolaria, spilit, serpih, slate, dan kuarsa.
Formasi Sembakung dan Batulempung Malio
Formasi Sembakung diendapkan di atas Formasi Danau secara tidak selaras.
Formasi ini terdiri dari sedimen volkanik dan klastik yang berumur Eosen AwalEosen Tengah. Di atas Formasi Sembakung diendapkan batulempung berfosil,
karbonatan, dan mikaan yang dikenal dengan Batulempung Malio yang berumur
Eosen Tengah.

Gambar 2.11. Kolom Stratigrafi Cekungan Kalimantan Timur Utara

28

Siklus 1: Formasi Sujau, Mangkabua, dan Selor (Eosen Akhir Oligosen)


Sedimen-sedimen pada Siklus 1 diendapkan secara tidak selaras terhadap
Formasi Sembakung dan memiliki lingkungan pengendapan dari laut littoral
sampai dangkal. Formasi Sujau terdiri dari sedimen klastik (konglomerat dan
batupasir), serpih, dan volkanik. Klastika Formasi Sujau merepresentasikan tahap
pertama pengisian cekungan graben-like yang mungkin terbentuk sebagai
akibat dari pemakaran Makassar pada Eosen Awal. Produk erosional dari Paparan
Sunda di sebelah barat terakumulasi bersamaan dengan endapan gunungapi dan
pirokasltik pada bagian bawah siklus ini. Keberadaan lapisan-lapisan batubara dan
interkalasi napal pada bagian bawah mengindikasikan fasies pengendapan danau
yang bergradasi ke atas menjadi lingkungan laut. Batugamping mikritik dari
Formasi Seilor diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Sujau dan Formasi
Mangkabua yang terdiri dari serpih laut dan napal yang berumur Oligosen
menjadi penciri perubahan suksesi ke basinward. Batuan sedimen siklus 1
terangkat, sebagian tersingkap dan tererosi sebagian di tepi barat dari cekungan
berkaitan dengan aktivitas volkanisme yang terjadi sepanjang tepian deposenter
pada akhir Oligosen.
Siklus 2: Formasi Tempilan, Formasi Taballar, Napal Mesalai, Formasi
Naintupo (Oligosen Akhir Miosen Tengah).
Sedimen-sedimen yang diendapkan di atas sedimen sebelumnya secara
tidak selaras. Sedimen-sedimen tersebut merupakan sikuen-sikuen transgersif dan
tidak terlalu terdeformasi. Fasies klastik basal dari Formasi Tempilan diendapkan
pertama kali pada siklus ini dan diikuti oleh batugamping mikritik dari Formasi
Taballar. Formasi Taballar merupakan sikuen paparan karbonat dengan
perkembangan reef lokal Oligosen Akhir sampai Miosen Awal. Formasi ini secara
gradual menipis ke arah cekungan terhadap napal Mesalai yang kemudian berubah
menjadi Formasi Naintupo di atasnya. Formasi Naintupo terdiri dari lempung dan
serpih yang bergradasi ke atas menjadi napal dan batugamping yang menandakan
meluasnya genang laut di cekungan Tarakan.

29

Siklus 3: Formasi Meliat, Formasi Tabul, dan Formasi Santul (Miosen


Tengah Miosen Akhir).
Sedimen-sedimen dari siklus 3 ini terdiri dari sikuen-sikuen deltaik
regresif yang terbentuk setelah tektonisma Miosen Awal (Orogenesa IntraMiosen). Siklus sedimentasi ini terbagi menjadi 3 formasi, yaitu: Formasi Meliat,
Tabul, dan Santul. Perbedaan sikuen deltaik antara formasi-formasi tersebut sulit
untuk diuji dan dibedakan mengingat sedikitnya fosil-fosil yang dapat ditemukan
dan kesamaan litologi antar formasi-formasi tersebut. Pengangkatan yang terjadi
menyebabkan berhentinya fasa genang laut dan perubahan lingkungan
pengendapan yang semula bersifat laut terbuka menjadi lebih paralik. Perubahan
ini mengawali pola pengendapan baru di Cekungan Tarakan yang membentuk
delta-delta konstruktif dengan progradasi dari barat ke timur.
Formasi Meliat merupakan nama formasi tertua dari siklus 3 dan
diendapkan secara tidak selaras dengan Serpih Naintupo. Formasi ini terdiri dari
batupasir kasar, serpih karbonatan, dan batugamping tipis. Di beberapa bagian,
Formasi Meliat terdiri dari batulanau dan serpih dengan sedikit lensa-lensa
batupasir. Formasi Tabul terdiri dari batupasir, batulanau, dan serpih yang kadang
disertai dengan kemunculan lapisan batubara dan batugamping. Bagian paling atas
dari siklus ini adalah Formasi Santul. Pada formasi ini sering dijumpai lapisan
batubara tipis yang berinterkalasi dengan batupasir, batulanau, dan batulempung,
yang diendapkan di lingkungan delta plain sampai delta front pada Miosen Akhir.
Siklus 4: Formasi Tarakan (Pliosen)
Pada siklus sedimentasi Pliosen, diendapkan Formasi Tarakan. Formasi ini terdiri
dari interbeding batulempung, serpih, batupasir, dan lapisan-lapisan batubata
lignit, yang menunjukan fasies pengendapan delta plain. Dasar dari Formasi
Tarakan pada beberapa ditepresentasikan oleh ketidakselarasan, sedangkan di
Pulau Bunyu, kontak antara Formasi Santul dengan Tarakan bersifat transisional.
Siklus 5: Formasi Bunyu (Pleistosen)
30

Sejak Pliosen, sedimen fluviomarine yang sangat tebal terbentuk, terutama terdiri
dari perlapisan batupasir delta, serpih, dan batubara. Sedimen Kuarter dari siklus 5
dinamakan Formasi Bunyu, diendapkan di lingkungan delta plain sampai fluviatil.
Batupasir tebal, berukuran butir medium sampai kasar, kadangkala konglomeratan
dan interbeding batubara lignit dengan serpih merupakan litologi penyusun dari
formasi Bunyu. Batupasir formasi ini lebih tebal, kasar, dan kurang terkonsilidasi
jika dibandingkan dengan batupasir Formasi Tarakan. Batas bawah dari Formasi
ini dapat bersifat tidak selaras maupun transisional. Meningginya muka laut pada
kala Pleistosen Akhir menyebabkan garis pantai mundur ke arah barat seperti garis
pantai saat ini.

Teori Lempeng Tektonik


Lempeng Tektonik adalah bagian teluar dari bumi yang bersifat masif,
berbentuk iregular, dan padat, serta terdiri dari litosfer benua dan samudra.
Litosfer adalah bagian bumi yang terdiri dari kerak dan mantel atas bagian atas
Ukuran dari lempeng tektonik dapat beraneka ragam dengan ketebalan yang
berkisar antara 15km pada litosfer samudra muda sampai sekitar 200km pada
litosfer benua tua.

31

Gambar 2.12 Struktur Dalam Bumi.


Teori Tektonik Lempeng menurut sekunder asikin
Teori tekonik lempeng merupakan pengembangan dari teori pengapungan
benua Wegener. Teori ini mengambarkan lempeng-lempeng yang berupa litosefer
samudra dan benua yang berada di atas astenosfer, yang merupakan lapisan lunak
mantel bagan atas yang memiliki temperatur tinggi dan dapat mengalir (plastis).
Lempeng-lempeng tersebut bergerak di atas astenosfer melaluri shearing
motion

Gambar 2.13. Shearing Motion Antara Atmosfer Dan Litosfer


Arus Konveksi sebagai Tenaga Pengerak Lempeng
Hubungan arus konveksi dan gerakan benua, Hipotesa pengapungan benua
Wegener diteliti lebih lanjut oleh Arthur Holmes dan Alexander du Toit. Keduanya
menggunakan dinamika arus konveksi untuk menjelaskan mekanisme penyebab
gerakan benua. Du Toit menerangkan arus konveksi sebagai mekanisme penyebab
peregangan kerak benua yang mengasilkan sistem rift, sistem kompresi, dan
pelipatan yang menghasilkan pegunungan lipatan (Gambar 6). Sedangkan Holmes
menyatakan bahwa kerak samudra yang semakin tua semakin berat akan
menyusup ke bagian bawah kerak benua sehingga menyebabkan terbentuknya
palung Mekanisme ini akan mempercepat arus konveksi sehingga terbentuknya
pengunungan di sekitar batas benua terhadap kerak samudra.

32

Gambar 2.13. Ilustrasi De Toit


Tenaga penggerak arus konveksi
Pada masa Wegener, kebanyakan ahli geologi percaya bahwa bumi kita
bersifat padat dan terdiri dari bagian-bagian yang tidak dapat bergerak. Tetapi
beberapa dekade kemudian, J. Tuzo Wilson (1968) menyatakan bumi adalah
benda yang hidup dan bergerak, baik pada permukaan maupun bagian dalamnya
dan sejak saat itu berbagai model dari arus konveksi telah dibuat. Arus konveksi
bergerak ke mantel atas melalui bagian tengah dari kerak benua dan lama
kelamaan membentuk zona pemekaran antarbenua (Gambar 7, Gambar 9: ridge).
Mekanisme dari arus konveksi diperkirakan mirip dengan mekanisme konveksi
ketika pemanasan air pada panci dilakukan.
Konveksi pada interior bumi hanya dapat berlangsung jika terdapat
sumber panas yang cukup. Panas di dalam bumi mungkin dapat berasal dari dua
sumber utama, yaitu dari peluruhan radioaktif dan panas residual. Peluruhan
radioaktif merupakan proses spontan yang terjadi ketika suatu isotop mengalami
kehilangan partikel-partikel dari nukleusnya lalu membentuk isotop dari unsur
yang lainnya. Peluruhan radioaktif secara alamiah terjadi pada unsur-unsur kimia
seperti uranium, thorium, dan sebagainya dan akan meglepaskan energi panas
yang secara lambat bermigrasi ke permukaan bumi. Panas residual merupakan
energi gravitasi yang tersisa sejak masa pembentukan bumi melalui proses
kompresi debu kosmis, tetapi mekanisme yang memungkinkan bahwa panas ini
dapat terkonsentrasi pada daerah-daerah tertentu lalu menciptakan arus konveksi
masih belum dapat dijelaskan dengan baik.

33

Basal Drag
Basal Drag merupakan istilah gerakan lempeng yang disebabkan oleh arus
konveksi. Dalam hal ini, arus konveksi terjadi berskala besar di mantel atas
disalurkan melalui astenosfer (Gambar 6), sehingga pergerakan didorong oleh
gesekan (shearing) antara astenosfer dan litosfer (Gambar 5).
Slab suction
Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di
daerah penunjaman di palung (trench) (Gambar 9). Slab suction ini bisa terjadi
dalam kondisi geodinamik dimana basal drag terus bekerja pada lempeng
lempeng tersebut memasuki mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak
bekerja pada kedua sisi lempengan. Slab suction mempercepat gerakan lempeng
yang awalnya disebabkan oleh basal drag.
Slab pull sebagai Mekanisme Pengerak Lempeng
Holmes (1944) menyatakan bahwa lempeng samudra yang semakin tua
akan mengalami pertambahan berat berat. Sehingga gerakan lempeng juga
mungkin disebabkan oleh berat lempeng yang mendingin dan memadat yang
turun ke mantel di palung samudera (Gambar 9). Slab pull sendiri sangat mungkin
menjadi salah satu gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Gerakan lempenglempeng dapat terjadi karena gabungan dari basal drag, slab suction, dan slab
pull. Ketiganya juga dapat berperan untuk membentuk zona regangan di tengah
lempeng yang memungkinkan terbentuknya terjadinya pemekaran.
Mekanisme Penyebab Gerakan Lainnya
Dalam studi yang dipublikasikan pada edisi Januari-Februari 2006 dari
buletin Geological Society of America , sebuah tim ilmuwan dari Italia dan
Amerika Serikat berpendapat bahwa komponen lempeng yang mengarah ke barat
berasal dari rotasi Bumi dan gesekan pasang bulan yang mengikutinya.. Diduga
Venus dan Mars tidak memiliki lempeng tektonik disebabkan karena ketidakadaan

34

bulan di Venus dan kecilnya ukuran bulan Mars untuk memberi efek seperti
pasang seperti di Bumi.
Tiga jenis batas lempeng
Berbagai mekanisme yang ada dapat menyebabkan lempeng-lempeng
yang ada saling berpisah, bergabung, dan bergeser. Ada tiga penggolongan utama
batas lempeng dari cara interaksi lempeng-lempeng tersebut bergerak relatif
terhadap satu sama lain

Batas transform
Batas ini terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama

lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan


relatif kedua lempeng bisa sinistral atau dekstral. Contoh dari batas lempeng ini
adalah Sesar San Andreas di California.

Batas divergen
Batas ini terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid

oceanic ridge dan zona rifting yang aktif adalah contoh batas divergen.

Batas konvergen
Batas konvergen terjadi jika dua lempeng saling bergerak mendekati satu

sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di
bawah yang lain atau kolisi jika kedua lempeng mengandung kerak benua
(Gambar 13). Aktivitas vulkanik dan palung laut dapat muncul pada zona
subduksi sebagai hasil interaksi konvergensi dari kedua lempeng. Contoh batas
konvergen dapat dilihat di busur api dunia (ring of fire).
II.4. Definisi Mineralogi
Mineralogi berasal dari dua kata yaitu mineral dan logos. Mineral
(menurut Berry dan Mason) adalah bentuk padat homogen yang terdapat di alam,
terbentuk secara anorganik dengan komposisi kimia pada batas tertentu dan sifat

35

fisik yang tertentu pula dan mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.
Logos adalah ilmu geologi, Jadi Mineralogi merupakan ilmu bumi yang berfokus
pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika (termasuk optik) dari mineral. Studi
ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral.
Pada awalnya, mineralogi lebih menitikberatkan pada sistem klasifikasi
mineral pembentuk batuan. International Mineralogical Association merupakan
suatu organisasi yang beranggotakan organisasi-organisasi yang mewakili para
ahli mineralogi dari masing-masing negara. Aktifitasnya mencakup mengelolaan
penamaan mineral (melalui Komisi Mineral Baru dan Nama Mineral), lokasi
mineral yang telah diketahui, dsb. Sampai dengan 2004 telah terdapat lebih dari
4000 spesies mineral yang diakui oleh IMA. Dari kesemua itu, 150 dapat
digolongkan umum, 50 lainnya terkadang, dan sisanya jarang sampai
sangat jarang.Beberapa contoh mineral dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.2. Contoh beberapa mineral


Komposisi
kimia
Ca Co3
Ca Co3
PbS
Fe2O3
Fe2O4
NaCl
CaSO4
CaSO4 . 2H2O
C
C
FeS2
FeS

Sistem kristal

Nama mineral

Rombohedral
Ortorombik
Isometrik
Rombohedral
Isometrik
Isometrik
Ortorombik
Monoklin
Isometrik
Heksagonal
Isometrik
Heksagonal

Kalsit
Aragonit
Galena
Hematit
Magnetit
Halit
Anhidrit
Gipsum
Intan
Grafit
Pyrit
Pyrotit

36

Ada bahan lain yang tidak dapat disebut sebagai mineral, misalnya SiO 2
(opal, karena amorf), C (batubara, karena merupakan bahan organik), H 2O (air,
karena bukan benda padat).
Mineral dapat berupa bahan berharga/bahan tambang, seperti Cu5FeS4
(bornit, merupakan bijih tembaga), CuFeS 4 (kalkopirit, merupakan bijih tembaga),
Fe2O3 (hematit, merupakan bijih besi), Fe3O4 (magnetit, merupakan bijih besi), dll.
Mineral juga dapat berupa gangue (pengotor) bahan tambang (dibuang), misalnya
SiO2 (kuarsa, pada tambang timah), FeS2 (pirit, pada tambang tembaga, emas),
Na-Ca Si3O8 (felspar, pada tambang timah primer), dll.
a. Benda Padat Homogen
- Cair dan Gas tidak termasuk Mineral.
- Tidak dapat diuraikan menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana.
b. Terdapat di alam
- Sebagai Bahan alam
- Mineral terjadi melalui proses alamiah, tidak dibuat oleh tangan maanusia
tetapi terbentuk secara alami.
c. Terbentuk secara Anorganik
Bukan hasil dari suatu kehidupan baik manusia, hewan ataupun tumbuhtumbuhan.
d. Mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu
- Kimia mempunyai komposisi kimia yang tetap.
- Dapat berupa senyawa tunggal, misalnya Graphite (C), Belerang (S).
- Dapat berupa senyawa sederhana, misalnya Calcite (CaCO3), Quarz (SiO2).
- Dapat berupa senyawa komplek, misalnya Marilite (Na4Al3Si9O24CL).
e. Mempunya atom-atom yang tersusun secara teratur
Mineral terdiri dari kumpulan atom-atom.
II.5. Sifat-Sifat Fisik Mineral
Semua mineral mempunyai susunan kimia tertentu dan susunan atom-atom
yang beraturan. Dengan menggunakan kedua batasan ini, maka setiap jenis

37

mineral mempunyai sifat fisik/kimia tertentu. Dan dengan mengenal sifat-sifat


tersebut setiap jenis mineral dapat di identifikasi.
Sifat Fisik Mineral dapat diklasifikasikan berdasarkan :
a. Kohesi dan elastisitas mineral, yakni :
-

Belahan dan pecahan ( Cleavage dan Fracture ).


Apabila sebuah kristal mendapatkan suatu tekanan yang melampaui batasbatas elastis dan plastisnya, maka pada akhirnya kristal akan pecah. Cara
pecahnya ini ada yang beraturan dan ada pula yang tidak beraturan. Jika
pecahnya secara beraturn, maka akan memperlihatkan suatu pecahan, dan
jika pecahnya mengikuti permukaan yang sesuai dengan struktur kristalnya
akan memperlihatkan suatu belahan.

Kekenyalan ( Tenacity ).
Kekenyalan merupakan sifat dalam dari suatu mineral yang merupakan daya
tahan mineral terhadap usaha pemecahan, pemotongan, penghancuran dan
lengkungan atau sobekan pendek.

Kekerasan ( Hardness ).
Pada umumnya kekerasan mineral diartikan sebagai daya tahan mineral
terhadap goresan. Kekerasan merupaka suatu sifat yang ditentukan oleh
susunan dalam dari atom-atom. Kekerasan adalah ukuran daya tahan suatu
permukaan rata terhadap goresan. Jika suatu mineral dapat digores oleh
mineral lain, maka yang belakangan ini dikatakan lebih keras daripada
mineral yang dapat digores. Kekerasan relatif telah dipergunakan dalam
penentuan mineral sejak masa permulaan adanya mineralogy sistematik.
Mohs (1822), telah mengadakan suatu penentuan mineral secara kualitatif
berdasarkan kekerasan mineral. Ia menentukan suatu skala relatif, sebagai
berikut :
Tabel 2.3. Skala Kekerasan Mohs (1822)

38

Derajat Kekerasan
1

Jenis Mineral
Talk

Gipsum

Kalsit

Fluorit

Apatit

Ortoklas

Kwarsa

Topas

Korundum

10

Intan

Setiap skala Mohs yang lebih tinggi dapat menggores mineral-mineral


dengan skala Mohs yang lebih rendah. Untuk pengukuran kekerasan ini
dapat kita pergunakan alat-alat yang sederhana, seperti : kuku tangan
manusia, pisau baja dan lain-lain.

Tabel 2.4. Alat-Alat Penguji Kekerasan


Alat Penguji
Kuku manusia

Derajat Kekerasan Mohs


2,5

Kawat tembaga

3,0

Pecahan kaca

5,5 6,0

Pisau baja

5,5 6,0

Kikir baja

6,5 7,0

Mengingat struktur kristal yang berbeda-beda pada berbagai arah, maka


kekerasan mineral dapat pula berubah-ubah menurut arah kristalografinya.
-

Elastisitas ( Elasticity ).
Elastisitas mineral adalah kemampuan suatu mineral untuk merubah bentuk
dan volumenya, dan juga kecendrungan untuk kembali pada bentuk semula
apabila gaya yang diperolehnya dilepaskan.

39

b. Berat Jenis Relatif


Berat relatif dari suatu mineral yang diukur terhadap berat air disebut sebagai
berat jenis relatif (spesific gravity). Dengan perkataan lain, bahwa berat jenis
relatif mineral adalah perbandingan antara berat jenis mineral tersebut dengan
berat jenis air pada temperatur 4oC.
Penentuan berat jenis relati dapat juga dilakukan melalui :
-

Penggunaan Alat Ukur (Beam Balance).

Penggunaan Piknometer (Picnometer).

Penggunaan Cairan Berat (Methylene iodide, Mercury iodide, Clerici


Solution, bromoform, Acethylene tetrabromida).

c. Sifat-Sifat Fisik berdasarkan Pengaruh Cahaya


Sifat fisik yang didasari oleh pengaruh cahaya, biasanya dikenal dengan sifat
optik. Apabila suatu benda disinari cahaya, maka benda tersebut akan
menyerap dan memantulkan cahaya.
Beberapa sifat optis yang akan dibahas adalah :
- Warna ( Colour )
Warna suatu benda yang napak oleh mata sebenarnya disebabkan oleh satu
atau lebih cahaya dengan panjang gelombang tertentu yang tidak dapat
diserap oleh benda tersebut.
Sebab-sebab yang menimbulkan warna pada mineral tergantung pada
berbagai hal, yaitu Komposisi kimia, Struktur kristal dan ikatan atom, dan
Pengotoran daripada mineral.
- Kilap ( Luster )
Kilap merupakan suatu sifat optis yang mempunyai hubungan erat dengan
peristiwa pemantulan dan pembiasan. Kilap dapat dibagi menjadi tiga jenis,
yaitu Kilap logam ( metallic luster ), Kilap setengah logam ( sub metallic
luster ), dan Kilap bukan logam ( non metallic luster ).
- Diaphaneti ( Diaphanaety ).
Diaphanaety adalah kemapuan suatu mineral untuk memindahkan cahaya.

40

- Derajat Kejernihan ( Degree of Tranparancy )


Derajat kejernihan adalah kemampuan mineral untuk meneruskan cahaya.
d. Sifat Fisik berdasarkan pengaruh panas ( Heat )
- Daya hantar panas/isolator panas ( heat conductivity )
Ada mineral-mineral penghantar panas, seperti Cu, Fe dan lain-lain, ada
pula sebagai isolator panas seperti asbes, mika dan lain-lain.
- Nilai lebur
Perubahan bentuk terhadap perubahan tempertur, mudah atau tidaknya suatu
mineral melebur atau menjadi plastik ditentukan dengan skala lebur
Kobell.
Ada tujuh mineral yaitu Stibnit, Kalkopirit, Almandit, Aktinolit, Ortoklas,
Enstatit atau Bronzit, kwarsa.

e. Sifat fisik berdasarkan pengaruh Listrik dan Magnet


- Sifat listrik ( conductivity properties )
Berdasarkan sifat listriknya, mineral dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu
penghantar listrik ( conductor ), dan bukan penghantar listrik ( non
conductor ).
- Sifat magnet ( magnetism properties )
Berdasarkan sifat magnetnya, mineral- mineral dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu bersifat paramagnetis (dapat ditarik oleh magnet) dan
diamagnetis (tidak dapat atau sukar ditarik oleh magnet).
f. Sifat fisik berdasarkan Kepekaan Pancaindera
- Rasa ( Taste )
Mineral-mineral yang dapat larut dalam air atau air liur dapat membeikan
rasa yang khas bagi mineral-mineral tersebut.

41

- Bau ( Odor )
Kebanyakan mineral dalam keadaan kering atau baru/segar tidak
memberikan bau, tetapi pada beberapa mineral akan memberikan bau
khususnya kalau mineral tersebut digosok, dibasahi, direaksikan dengan
asam dan lain-lain.
- Rabaan ( Feel )
Kadang-kadang raba merupakan karakter yang penting. Misalnya,
permukaan kristal yang bila diraba serasa menyentuh permukaan benda
tertentu, ex: Mengusap talk serasa menyentuh permukaan sabun.

BAB III
GEOLOGI STRUKTUR
III.1. Pendahuluan
Geologi struktur umumnya didefinisikan sebagai suatu studi yang
membahas mengenai bentuk arsitektur dari kulit bumi dan gejela-gejela yang
menyebabkan terjadinya perubahan-peubahan pada kulit bumi.
Inti dari pada geologi struktur dengan demikian adalah deformasi dari pada
bumi, apa yang menyebakan dan apa akibatnya. Karena itu benyak penulis yang
menganggap bahwa geologi struktur adalah sama dengan tektonik. Sebenarnya
kedua istilah ini harus dibedakan satu sama lainnya :
Geologi struktur ( struktural geology ) merupakan studi mengenai unsurunsur dari pada struktur itu sendiri yaitu studi tentang antiklin, rekahan, sesar,

42

kelurusan dan sebagainya. Yang terdapat dalam suatu saatuan tektonik ( tectonic
units ).
Tectonics dan geotectonics dianggap sebagai suatu studi yang mencangkup
soal bentuk, pola, dan evolusi dari suatu satuan tektonik dalam ukuran yang jauh
lebih besar, sepetri cekungan, rangkaian pegunungan, paparan dan sebagainya.
Dalam uraian selanjutnya, kita akan tetap mempertahankan prinsip
perbedaan ini dan dengan demikian akan memberikan pula batasan-batasan dari
apa yang dicakup didalam buku ini.
Tektonik dan geologi struktur, sebenarnya adalah dua subyek yang tidak
terpisahkan. Bagi mahasiswa yang mempelajari bidang ilmu geologi, maka kedua
subyek ini harus dipelajari. Bagi mahasiswa yang hanya mengikuti mata kuliah
geologi struktur dan tidak berkesempatan untuk mendapatkan gambaran yang
lebih luas lagi, maka pada bagian akhir buku ini akan diuraikan sedikit mengenai
konsep-konsep dari pada tektonik atau geotektonik.
Tujuan final geologi struktur adalah suatu pemahan sepenuhnya terhadap
mekanisme produk dan proses deformasi batuan.
GEOLOGI STRUKTUR
UNSUR-UNSURNYA:
-

Struktur Primer
Struktur Sekunder

PENGENALAN / PENGAMATAN
BENTUK:
UKURAN

: Pendeskripsian

KEDUDUKAN : Pengukuran

PENCATATAN / PEREKAMAN
DATA-DATA : Pengumpulan
STRUKTUR

: Pengelompokan
43

ANALISA
PENGOLAHAN DATA : - Metode Geometri
- Metode Statistik
PENYAJIAN HASIL ANALISA : - Peta-Peta
- Diagram Blok
- Maket
Diagram 3.1. Tahap Penganalisaan Geologi Struktur

44

III.2. Kekar
Kekar merupakan suatu rekahan yang relatif tanpa mengalami pergeseran
pada bidang rekahannya. Penyebab terjadinya kekar dapat disebabkan oleh gejala
tektonik maupun non tektonik. Dalam analisa struktur geologi, yang diperlukan
adalah kekar oleh gejala tektonik. Jadi dilapangan harus dapat membedakan dua
jenis kekar tersebut. Klasifikasi kekar ada beberapa macam, tergantung dasar
klasifikasi yang digunakan, diantaranya :
a.
b.
c.
d.

Berdasarkan bentuknya
Berdasarkan ukurannya
Berdasarkan kerapatannya
berdasarkan cara terjadinya (genesanya).

Klasifikasi kekar berdasarkan genesanya :


a. Shear joint (kekar gerus), terjadinya akibat adanya tegasan tekanan
(compressive stress).
b. Tension joint, (kekar tarik), dibedakan atas :
Extension joint, terjadi akibat pemekaran/tarikan.
Release joint, terjadi akibat berhentinya gaya yang bekerja.
Misalkan pada suatu kubus dikenekan tegasan tekanan dengan pola seperti Gb.
3.1.a, maka pola kekar yang terbentuk adalah sebagai berikut : ( lihat Gb 3.1.a)
Dari Gb 3.1.a Dapat diambil kesimpulan bahwa :

Tegasan utama terbesar akan membagi dua sama besar sudut lancip
yang dibentuk oleh kedua shear joint.

Tegasan utama terkecil akan membagi dua sama besar sudut


tumpul yang dibentuk oleh shear joint.

45

Gambar 3.1. Kekar


1. Perhitungan besar sudut antara dua shear joint.
Suatu kubus dikenakan tegasan dengan pola seperti Gb 3.1.b. secara
teoritis rekahan/bidang geser yang terbentuk adalah AA dan BB yang saling
tegak lurus, tetapi karena suatu batuan mempunyai sifat/ciri tertentu, maka
bidang geser yang terbentuk adalah bidang SS.
Keterangan Gb 3.1.b :

= Sudut geser dalam dari batuan (Angle Internal of Friction).

= Sudut antara tegasan utama terbesar dengan shear joint.

= Sudut antara tegasan utama terkecil dengan shear joint.

2. Analisa kekar
Secara skematis prosedur analisanya adalah sebagai berikut :
Pengumpulan/pencatatan data Pengelompokan data Penyajian data
Analisa data Interpretasi/diskusi.
Untuk analisa data, digunakan metode statistik yang dilakukan dengan :

46

1. Diagram Kipas : a. Pita radial (Gb 3.2)


b. Garis radial (Gb 3.3)
2. Histogram (Gb.3.4)
3. Diagram kontur, dengan menggunakan proyesi stereografis dan Proyeksi
kutub.
Tujuan analisa :
Menentukan kedudukan/arah umum dari kekar

Menentukan arah umum dari gaya utama


Prosedur analisa menggunakan diagram kipas, Hal ini digunakan untuk

kekar kekar yang mempunyai kemiringan, Relatif tegak, jadi yang diukur hanya
jurus/ arahnya saja.
Langkah langkahnya adalah sebagai berikut :

Pengumpulan/pencatatan data.

Pembagian derajat arah pada jurus, dikelompokan setiap 5 atau 10

Gambar diagram kipas, yaitu berupa setengah lingkaran dengan jari jari
sepanjang harga prosentase maksimum

Catatan :

Setiap 5 dibatasi garis yang berasal dari pusat lingkaran .


Batas/jari jari tiap bagian derajat sesuai dengan harga prosentase masing
- masing (liat Gb 3.5)

Interpretasi diagram kipas :


Misalkan pada suatu daerah, diukur 50 buah kekar gerus yang relatif
vertikal, kemudian dibuat diagram kipasnya, seperti pada Gb 3.5
Untuk interpretasi arah gaya utama, arah umum kekar gerus adalah
berikut :

47

sebagai

Gambar 3.2. Diagram kipas pita radial

Gambar 3.3. Diagram kipas garis radial

Gambar 3.4. Histogram

Gambar 3.5. Diagram Kipas


-

48

Kedudukan umum kekar gerus

Langsung dapat dibaca pada diagram rosetnya, yaitu N 30 E dan 10 W.


-

Arah gaya utama yang bekerja, dasarnya seperti pada Gb 3.1.a,


arahnya membagi sudut lancip antara kekar gerus.
Jika yang diukur hanya satu arah kekar gerus, untuk analisa 2 pola tegasnya
adalah sebagai berikut :

Harus mengetahui daya tahan batuan ataupun sudut geser dalamnya (angle
of internal friction), misal besar sudut geser dalam 30 , maka sdut antara
kekar gerus dengan tegasan utama terbesar :

: 45 -

: 45 - 15 = 30

- Arah gaya utama dianggap tegak lurus terhadap jurus umum lapisan batuan atau
sumbu lipatan.
III.3. Metode Statistik
Adalah suatu metoda yang diterapakan untuk mendapatkan kisaran harga
rata-rata atau harga maksimum dari sejumlah data acak satu jenis struktur. Dari
sini kemudian dapat diketahui kecenderungan-kecenderungan, bentuk pola
ataupun kedudukan umum dari jenis struktur yang sedang dianalisa.
1. Diagram Kipas
a. Tujuan : diagram ini dimaksudkan untuk mengetahui arah kelurusan
umum dari unsur-unsur struktur yang data-datanya hanya terdiri dari satu
unsur pengukuran data (bearing), misalnya : data-data arah (bearing) dari
sejumlah pengukuran arah liniasi fragmen breksi sesar, arah kelurusan
sungai, arah kelurusan topografi, dll.
b. Tabulasi data : data-data pengukuran (Tabel 3.1) yang terkumpul
dimasukkan ke dalam suatu tabel (tabulasi data), (Tabel 3.1), dengan
tujuan untuk mempermudah proses dalam pembuatan diagramnya. Dalam
hal ini jumlah data tidak terdapat batasan mengenai banyaknya data yang
harus dikumpulkan. Semakin banyak data lapangan yang dipakai dalam
analisa, maka hasilnya akan mendekati keadaan sebenarnya.

49

Semakin kecil pembagian interval arah (lihat kolom arah pada tabel 5)
maka hasil analisanya akan semakin teliti. Pembagian interval arah
menjadi : 0 - 5 (180 - 185), 5 - 10 (185 190), ...........dst, seperti
pada contoh (Tabel 2) bukanlah suatu pembagian interval yang baku,
semakin kecil intervalnya maka hasilnya akan semakin teliti. Interval arah
(0- 5) dibuat sama dengan (180 - 185) merupakan pelurus dari (0 5).
c. Pembuatan Diagram Kipas (Gb. 3.6).
Contoh yang akan dibahas disini adalah pembuatan diagram kipas dari
data-data pengukuran ke dalam tabel 2 diperoleh harga presentase
maksimum 24 %. Harga ini dipakai sebagai patokan untuk menentukan
panjang jari-jari diagram setengah lingkaran.
Pada contoh ( Gb. 3.6. a) dibuat
Tabel 3.1. Pengukuran jurus kekar gerus Vertikal.
N....0 E
186
10
191
12
187
9
356
377
14
7

N....0 E
8
188
181
1
16
13
152
9
186
195

N....0 E
190
183
3
357
18
157
16
19
15
203

N....0 E
189
2
16
4
199
359
179
199
178
172

N....0 E
351
174
353
6
21
23
201
24
204
11

Panjang jari jari dari harga maksimum 24 % = 6 cm. Kemudian panjang


jari jari tersebut dibagi enam, sehingga setiap setiap satu inteval berharga 4 %.
Selanjutnya dari setiap interval dibuat busurnya dengan puasat titik nol dan
panjang jari jari sama dengan interval yang bersangkutan ( Gb 3.6 b ).
Kemudian bagilah sisi paling interval tersebut tariklah garis garis kearah pusat
busur (Gb 3.6 b).

50

Tabel 3.2. Tabulasi Data untuk pembuatan diagram kipas.


ARAH
N....E

N....E

NOTASI

JUMLAH

IIIII

0 - 10

180 - 190

11 - 20

191 - 200

21 - 30

201 - 210

31 - 40

211 - 220

II

41 - 50

221 - 230

51 - 60

231 - 240

61 - 70

241 - 250

71 - 80

251 - 260

III

81 - 90

261 - 270

91 - 100

271 - 280

101 - 110

281 - 290

111 - 120

291 - 300

III

121 - 130

301 - 310

131 - 140

311 - 320

141 - 150

321 - 330

151 - 160

331 - 340

161 - 170

341 - 350

171 - 180

351 - 360
Jumlah

2
1
1
3

2
II
23

51

Gambar 3.6. Pembuatan diagram kipas.


Langkah terakhir masukanlah hasil perhitungan prosentase ( Tabel 3.3 )
kedalam Gb. 3.6. b sehingga didapatkan hasil analisa arah umum kekar gerus : N
7 30 ' E - N 187 30 E ( Gambar 3.7p Analisa arah kekar ).

Gambar 3.7. Analisa Arah Kekar.

52

BAB IV
GEOMORFOLOGI
IV.1. Pendahuluan
Geomorfologi sebenarnya berasal dari kata yunani, yaitu dari kata :
Geo

Bumi

Morpho

Bentuk

Logos

Ilmu

Jadi geomorfologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bentuk


permukaan bumi ( bentang alam ) atau dalam istilah asing disebut sebagai
landscape.
Mula mula orang memakai istilah fisiografi untuk ilmu yang
mempelajari roman muka bumi. Di eropa fisiografi diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari rangkuman tentang iklim, Meteorologi, oceanografi

dan

geografi.akan tetapi para ahli terutama ahli ahli dari amerika tidak sependapat
dengan istilah ini. Dalam bidang ilmu yang hanya mempelajari roman muka bumi
dan erat hubungannya dengan ilmu geologi. Mereka lebih cenderung untuk
memakai istilah geomorfologi untuk memudahkan membedakan kedua istilah
ilmu tersebut dan juga hubungannya dengan ilmu laian dapat dilihat pada sketsa
dibawah ini.

53

Gambar 4.1 Sketsa hubungan antara geomorfologi dengan ilmu lain dan
daerah gerak Geomorfologi.
IV.2. Konsep dan Proses Geomorfologi
Untuk mempelajari bentuk permukaan bumi dipakai dasar-dasar yang kita
sebut sebagai konsep morfologi, diantaranya :
Konsep Keseimbangan
Ialah bahwa segala sesuatu gejala alam yangterjadi sekarang juga jerjadi
masa lampau, bisa intensitas yang sama ataupun berbeda.
Konsep Kontrol Morfologi
Ialah bahwa untuk mempelajari keadaan bentang alam suatu wilayah adalah
dengan mengontrol keadaan morfologi daerah tersebut.
Sedangkan yang dimaksud dengan proses geomorfologi adalah perubahanperubahan baik secara fisik ataupun secara khemis yang dialami oleh permukaan
bumi.
Penyebab dari proses perubahan tersebut kita kenal sebagai geomorphic
agent, dimana faktor-faktor pengubah ini kita bedakan menjadi dua golongan
besar yaitu:
a. Tenaga asal dalam (tenaga endogen) :
- Gempa tektonik
- Gaya-gaya pembentuk struktur
- Vulkanisme
b. Tenaga asal luar (tenaga eksogen) :
- Angin
- Suhu (temperatur)
- Air (air hujan, air laut, air tanah, air rawa, air danau dan gletser)
Tenaga eksogen dan endogen ini bekerja bersamaan membentuk roman
muka bumi. Tenaga endogen cenderung untuk membengun sedangkan tenaga
eksogen cenderung untuk merusak.

54

Contoh keadaan membangun diantaranya :


- Pembentukan struktur
- Pembentukan gunung api
- Agradasi
Contoh keadaan merusak diantaranya :
- Degradasi
- Pelapukan
- Erosi, deflasi dan abrasi
- Korasi
IV.3. Satuan Morfologi
Satuan morfologi atau geomorphic unit merupakan pembagian bentang
alam menjadi satuan-satuan morfologi yang terutama didasarkan atas morfologi
itu sendiri, disamping juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.
Skema satuan-satuan morfologi adalah sbb :
1. Sistem Aluvial :
- Subsistem aluvial marine : Rawa
Delta
- Subsistem alluvial sungai : Banjir
Aluvial
Kipas aluvial
Tanggul alam
Point bar desit
- Subsistem Collovial
2. Sistem Daratan
- Peneplain
- Dataran pantai
- Dataran antar pegunungan
- Teras

55

3. Sistem Perbukitan
- Bukit
- Punggungan
- Scarp
4. Sistem Pegunungan
- Pegunungan tinggi
- Pegunungan rendah
IV.4. Peragaan Geomorfologi
Peragaan geomorfologi adalah cara untuk menggambarkan tentang
geomorfologi suatu daerah melalui suatu citra
1. Peragaan geomorfologi dapat dituangkan ke dalam bentuk :
a. Blok Diagram Peta
Bentuk-bentuk pandangan tiga dimensi baik kenampakan lateral
maupun vertikal. Blok diagram dapat dibuat berdasarkan proyeksi dari peta
topografi untuk mencerminkan reliefnya, sedangkan susunan litologi dan
struktur geologi berdasarkan Peta Geologi.
- Secara Orthogonal : perbandingan semua sisi sama
- Secara Perspektif

: rusuk mendatar menuju kesatu titik pusat.

Gambar 4.2. Blok Diagram Peta.

56

b. Sketsa Lapangan atau Foto


Adalah rekaman gejala / proses geologi di lapangan yang dibayangkan
pada gambar / foto dengan cepat dan padat. Rekaman meliputi relief, pola
pengeringan dan kebudayaan manusia (culture).
c. Foto Udara (Citra Foto)
Adalah

rekaman

suatu

obyek

difoto

dari

udara

yangdapat

menggambarkan keadaan bentang alam secara visuil.


Foto udara yang diambil secara berurutan akan nampak bentuk-bentuk
bentang alam secara tiga dimensidibawah stereoskop.
- Foto udara dibedakan atas foto udara yang miring atau tegak.
- Foto landsat (foto satelit).
d. Peta Topografi (peta kontur)
Adalah penggambaran peta suatu daerah dengan dasar ketinggian.
Penggambaran peta topografi ini dapat dilakukan dengan berapa cara antara
lain :
1. Cara shading (bayangan)
Yaitu penggambaran peta topografi dengan teknik bayangan,
dimana pada daerah topografi curam dibuat dengan bayangan yang tebal,
rapat dan pendek-pendek. Sedangkan daerah dengan topografi landai
dibuat dengan teknik bayangan yang tipis, renggang dan panjangpanjang.

Gambar 4.3. Garis Bayangan.

57

2. Cara hachures (garis strip-strip)


Yaitu penggambaran peta topografi dengan teknik garis strip-strip,
dimana pada daerah topografi curam dibuat dengan garis strip-strip yang
tebal, rapat dan pendek sedangakan untuk daerah peta topografi landai
dibuat dengan teknik garis strip-strip yang tipis, renggang dan panjang.

Gambar 4.4. Garis Strip-Strip.


3. Cara garis kontur
Yaitu penggambaran peta topografi dengan teknik garis kontur
(yaitu garis yang menghubungkan titik sama tinggi), dimana daerah
topografi curam dibuat dengan garis kontur yang rapat sedangakn untuk
daerah landai ditandai dengan garis kontur yang renggang.

Gambar 4.5 Garis Kontur.

58

4. Cara tinting
Yaitu semakin tinggi suatu tempat warnanya semakin gelap. Jadi
warna ini menunjukkan interval ketinggian tertentu.

Gambar 4.6. Garis Tinting.


IV.5. Peta Topografi
Memperlihatkan elevasi (ketinggian) bentang alam baik bentuk, lokasi
maupun out lines. Suatu peta topografi yang baik dilengkapi dengan keterangan
yang dapat dipergunakan untuk berbagai kegiatan penelitian (ilmiah, terapan) atau
kemiliteran.
Unsur-unsur penting yang terdapat dalam suatu peta topografi antara lain :
(1). Relief
Adalah bentuk ketidakteraturan secara vertikal dalam ukuran besar maupun
kecil dari permukaan litosfer.
Contoh : Bukit (hill), lembah (valley), pegunungan (mountain), punggungan
(ridges).
Dalam peta topografi berwarna dipakai warna dasar coklat untuk daratan dan
warna biru untuk lautan, dengan variasi berwarna tua untuk daerah yang lebih
rendah.
(2). Drainage
Atau biasa dikenal dengan drainage pattern / pola pengaliran / pola
penyaluran, adalah segala bentuk-bentuk yang berhubungan dengan
penyaluran baik dipermukaan maupun di bawah permukaan.

59

Contoh : sungau-sungai (besar maupun kecil), danau, rawa, laut dan


sebagainya.
Sungai-sungai itu sendiri di permukaan bumi ada yang terpolakan dan tidak
terpolakan. Hal ini tergantung dari batuan dasar, straigrafi maupun struktur
geologi daerah yang dilalui. Dalam hal ini pola (pattern) didefinisikan sebagai
suatu keseragaman : bentuk (shape), ukuran (size), penyebaran (distribution).
(3). Culture
Yaitu segala bentuk hasil kebudayaan (budi daya) manusia, seperti :
perkampungan, jalur jalan, perkebunan, persawahan, dan lain-lain.
Umumnya culture pada peta topografi yang dicetak berwarna akan
memperlihatkan warna hitam, sedangkan daerah perkebunan, perhutanan,
persawahan diberi warna hijau.
(4). Scale
Adalah perbandingan jarak horisontal sebenarnya dengan jarak dipeta.
Perlu diingat bahwa semua jarak yang diukur pada peta adalah menunjukkan
jarak-jarak horisontal.
macam-macam skala:
a. Skala Fraksi (Representatif Fraction Scale)
Contoh

: 1 : 50.000
Artinya 1 cm dalam peta sama dengan 50.000 cm

(500 m)

dilapangan.
Keterangan : Bila peta mengalami pembesaran, pengecilan, atau pemuaian,
maka skala ini tidak terpakai lagi.
b. Skala Verbal
Dinyatakan dengan ukuran panjang.
Contoh :

1 cm = 10 km
1 cm = 1 km, dan lain-lain

Skala ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan skala fraksi.

60

c. Skala Grafis
Yaitu perbandingan jarak horisontal sesungguhnya dengan jaraka dalam
peta yang ditunjukkan dengan garis.
Keuntungan : Tidak akan terpengaruh baik oleh pembesaran, pengecilan
ataupun pemuaian peta.

Gambar 4.7. Skala Grafis.


Yang umumnya digunakan dalam suatu peta topografi yang baik adalah
kombinasi antara skala fraksi dan skala grafis.
(5). Orientasi Peta
Merupakan bagian yang menunjukkan kiblat dari peta. Garis batas pada
kedua sisi samping peta daerah utara-selatan, dalam hal ini adalah arah utaraselatan sesungguhnya, bukan utara kutub magnetis.
Arah utara dikenal ada dua macam, yaitu :
a. Arah Utara Magnetis ( Magnetic North = MN )
Yaitu arah utara yang ditunjukkan oleh jarum magnet.
b. Arah Utara Sebenarnya ( True North = TN )
Yaitu arah utara geografis atau arah utara yang sesuai dengan sumbu bumi

.Gambar 4.8. Orientasi Peta

61

Atau utara magnetik dan arah utara geografis umumnya ditunjukkan


pada peta dan membentuk sudut diantara keduanya yang besarnya bervariasi,
disebut dengan deklinasi.
(6). Judul Peta dan Nomor Lembar Peta
Judul peta merupakan nama daerah yang tercakup dalam peta, sedangkan
nomor lembar peta adalah nomor dari peta berdasarkan sistem pembagian
yang disebut quadran

Gambar 4.9. Sistem Pembagian Quadrangle

(7). Legenda
Pada peta topografi banyak digunakan simbol / tanda untuk mewakili
bermacam-macam keadaan di lapangan. Penjelasan mengenai berbagai tanta /
simbol yang dipergunakan itu, dikelompokkan dan tercakup dalam legenda.
Legenda biasanya diletakan dibawah.
(8). Coverage Diagram
Merupakan diagram yang menunjukan dari mana dan bagaimana

cara

memperoleh datanya. Keterangan ini penting untuk dapat memperkirakan


sampai sejauh mana ketelitian peta, misalnya :
a. Dibuat berdasarkan foto udara.
b. Dibuat berdasarkan Pengukuran di lapangan.
c. Dibuat sketsanya

62

(9). Indeks administrasi


Yaitu pembagian daerah berdasarkan hukum pemerintah. Ini penting untuk
memahami/mengetahui kemana harus dilakukan pengesahan surat ijin
sebelum dilakukan penyelidikan lapangan dari peta yang bersangkutan.
(10). Index to adjoining sheet
Petunjuk tentang kedudukan peta terhadap peta peta yang ada
disekitarnya.
(11). Edisi Peta
Adalah Tahun pembuatan peta tersebut.
IV.6. Peta Kontur Topografi
Untuk mempelajari peta jenis ini perlu dipahami dan dimengerti dengan
baik segal sesuatu tentang garis kontur dan sifatnya.
a. Garis Kontur
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik titik yang terletak
pada ketinggian yang sama dari permukaan laut.
Beberapa sifat garis kontur adalah :
1. Garis kontur merupakan garis tertutup.

Gambar 4.10. Garis Kontur.

63

2. Sebuah garis kontur tidak dapat memotong garis itu sendiri.

Gambar 4.11. Garis kontur yang tidak dapat memotong.


3. Beberapa garis kontur dapat berimpit secara lokal pada jarak yang pendek. Ini
terjadi pada topografi yang curam.

Gambar 4.12. Tofografi yang curam.


4. Beberapa garis kontur tidak dapat memotong satu dengan yang lain dan ini
hanya terdapat pada keadaan khusus dimana pendakian lereng abnormal.

Gambar 4.13 Lereng Abnormal.

64

5. Pada umumnya berdasarkan garis tinggi yang lebih besar akan terletak pada
lingkaran garis tinggi yang lebih kecil akan terletak pada lingkaran garis tinggi
bagian luar, terkecuali untuk basin adalah kebalikannya dengan tada strip-strip
kerah dalam pada garis tingginya.

Gambar 4.14. Garis tinggi dan Basin.


6. Garis kontur yang terbentuk huruf U menunjukan suatu punggungan.

Gambar 4.15 Garis kontur berbentuk huruf U yaitu pegunungan.


7. Pada garis kontur yang melalui lembah akan menunjukan kebalikan arah
kehulu.

Gambar 4.16. Garis kontur yang melalui lembah.

65

8. Jarak garis yang berurutan menjadi lebih rapat apabila lereng curam dan
sebaliknya kontur akan menjadi renggang apabila lereng landai.

Gambar 4.17. Garis Kontur lereng curam dan landai.


9. Garis kontur dengan intervalnya setengahnya digambarkan dengan teknik garis
putus-putus.

Gambar 4.18. Garis Kontur Interval setengah digambar dengan garis putusputus.
b. Interval Kontur.
Interval kontur adalah jarak vertikal antara garis yang satu dengan garis
kontur yang lainnya secara berurutan. Ada beberapa halangan berpengaruh
dalam penentuan interval kontur dari suatu topografi, sebagai berikut ;
1. Keadaan medan ( relief )
Daerah /medan yang relatif landai biasanya mempunyai interval
kontur relatif kecil, sedangkan medan yang relatif terjal interval konturnya
besar.
2. Tujuan pembuatan peta

66

Peta yang dibuat untuk menghitung volume suatu bentuk bentang


alam tertentu, misalnya suatu bukit gamping. Sebaiknya mempunyai inteval
kontur kecil supaya hasilnya lebih akurat.
Dalam keadaan umum, jika tidak ada masalah-masalah khusus
seperti

tersebut diatas, interval kontur ditentukan dengan rumus sebagai

berikut :
Interval kontur (IK) = (1/2.000) x Skala peta
Misalnya skala peta 1: 50.000, maka interval konturnya adalah (1/2.000) x
50.000 = 25.
c. Kontur Indeks
Kontur indeks garis kontur yang dicetak lebih tebal dari garis kontur
lainnya. Merupakan kelipatan tertentu dari beberapa garis kontur biasa.
Maksud dari pembuatan garis kontur indeks ini adalah untuk menyederhanakan
dan mempermudah pembacaan peta tofografi. Besarnya kelipatan dipengaruhi
oleh medan ( relief ).
d. Interpolasi & Persen Lereng.
Interpolasi adalah metode yang digunakan untuk membuat garis kontur.
Persen Lereng adalah persentasi dari lerengan untuk menentukan satuan
morfologi.
Rumus persen lereng :
(n 1) . k
S=

x 100%
D

Ket :
S = Kemiringan Lereng
n = Jumlah kontur
ik = Interval Kontur
D = Jarak Datar Pada Peta x Penyebut Skala Peta

67

Variasi nilai kemiringan lereng kemudian dikelompokkan dalam


berdasarkan klasifikasi R.A VAN ZUIDAM (1983) sehingga diperoleh penamaan
kelas lerengnya.
Tabel 4.1. Klasifikasi Kemiringan Lereng (R.A Van Zuidam, 1983)
Kelas
1
2
3
4
5
6
7

Slope (%)
02
37
8 13
14 20
21 55
56 140
> 140

Klasifikasi
Datar (flat to almost flat)
Agak Landai (gentle sloping)
Landai (sloping)
Agak Curam (moderately steep)
Curam (steep)
Sangat Curam (very steep)
Terjal (extremely steep)

Tabel 4.2. Klasifikasi Klas Lereng ( R.A Van Zuidam, 1983)


No.

Klas Lerang

Sifat - Sifat Proses

68

Warna

Kondisi Alamiah
Datar hingga hampir datar.
Tidak ada proses denudasi yang berarti

0 -2
(0 - 2%)

Hijau

20 - 40
(2 - 7%)

Agak miring
Pergerakan massa tanah secara perlahan
dengan kecepatanyeng berbeda, erosi
lembar dan erosi alur. Rawan erosi

Hijau Muda

40 - 80
(7 - 15%)

Miring
Hampir sama dengan diatas, tetapi
dengan besaran yang lebih tinggi

Kuning Terang

80 - 160
(15 - 30%)

Curam menengah
Banyak terjadi gerakkan tanah, erosi
dan longsoran yang bersifat mendatar

Jingga

160 - 350
(30 - 70%)

Curam
Proses denudasional intensif, erosi dan
gerakan tanah sering terjadi

Merah Muda

350 - 550
(70 - 140%)

Sangat curam
Batuan umumnya mulai tersingkap,
proses denudasional sangat intensif,
sudah mulai menghasilkan endapan
rombakan (Koluvial).

Merah Tua

> 550
(>140%)

Curam extrim
Batuan tersingkap, proses denudasi
sangat kuat, rawan jatuhan batu,
tanaman jarang tumbuh (terbatas)

Ungu

Tabel 4.3. Pemerian Bentuk Lahan Absolut (R.A Van Zuidam, 1983)

69

Perbedaan Ketinggian

Klasifikasi

(M)
<50
50-100
100-200
200-500
500-1.500
1500-3.000
>3.000

Dataran Rendah
Dataran Rendah Pedalaman
Perbukitan Rendah
Perbukitan
Perbukitan Tinggi
Pegunungan
Pegunungan Tinggi

Dari tabel di atas, dapat dilihat pembagian kemiringan lereng serta bentuk
lahan secara kuantitatif, dikelompokkan berdasarkan jumlah persen dan besar
kemiringan lereng. Jumlah tersebut dapat diketahui melalui perbedaan ketinggian
dengan jarak datar.

70

BAB V
GENESA BAHAN GALIAN
V.1. Pendahuluan
Genesa Bahan Galian adalah Proses terjadi/terbentuknya suatu bahan galian
contohnya

Batugamping.

Bahan Galian

menurut

pemanfaatannya

dapat

dikelompokan atas tiga macam, yaitu bahan galian logam, bahan galian energi fan
bahan galian industri. Bahan Galian industri adalah semua bahan galian diluar
bahan logam, energi dan radio aktif yang pada umunya dapat digunakan dalam
industri tertentu baik tanpa atau melalui proses pengolahan yang sederhana,
maupun canggih. Jika dikaitkan degan pengelompokan, bahan galian menurut
Undang-undang di Indonesia, maka bahan galian industri ini sebagian besar
adalah bahan galian gologan C.

Gambar 5.1. Bowen Reaction Series

71

V.2. Pembagian Bahan Galian


Bahan galian terbagi beberapa kelompok :
a. Bahan galian berasal dari batuan sedimen
- Batuan sedimen itu sendiri
- Endapan residu dan endapan letak
b. Bahan galian berkaitan dengan gunung api
- Intrusi tektonik batua asam dan ultra basa
- Proses
V.3. Bahan Galian Berasal Dari Batuan Sedimen
Batuan sedimen terbagi menjadi dua, yaitu sedimen klastik dan sedimen
non klastik.
Batuan sedimen klastik adalah batuan yang terbentuk dari pengendapan
kembali rombakan atau pecahan batuan asal, baik yang berasal dari batuan beku,
batuan ubahan / metamorfik ataupun batuan sedimen sendiri yang lebih tua.
Contoh batuan sedimen klastik antara lain : kerikil, batupasir, konglomerat,
lempung, dan lanau.
Batuan sedimen non klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk oleh
organisme atau dari suatu proses kimiawi dan dia tidak tertransportasi seperti
halnya batuan sedimen klastik. Contohnya antara lain batugamping terumbu.
V.4. Batugamping
Batu gamping adalah suatu bahan galian yang terbentuk dari endapan
bintang karang, mengalami proses geologi, digolongkan dalam batuan sedimen
yang banyak mengandung CaCo3.
Proses pembentukan batugamping terumbu berasal dari penggumpalan
plankton, molusca, algae, dan kemudian membentuk terumbu. Jadi batu gamping
terumbu berasal dari organisme.

72

Foto 5.1. Tambang Batu Gamping Dusun Jongkang Tenggarong Seberang


Batuan gamping tersusun dari mineral kalsit ( CaCo3 ) dengan warna putih,
abu-abu kebiruan, jingga, atau hitam. Batugamping dengan kadar kalsium tinggi
bisa seluruhnya terdiri atas CaCo3.

V.4.1 Sifat-sifat Khusus Batugamping


1. Mengandung Ca tinggi
2. Mudah larut dalam asam lemah degan melepaskan Co2, yang tidak berbau
3. Dalam proses pembakaran dikenal degan proses caloinasi. Maka batu
gamping akan melepasakan C02 dan hasil pembakaran disebut Quick
Lime.
V.4.2 Penambangan Batugamping
Penambangan batugamping kebanyakan dilakukan secara tambang terbuka.
Sebelum dilakukan pengalian batu gamping, terlebih dahulu pengupasan tanah
penutup yang meliputi pekerjaan pembabatan semak-semak dan pohon-pohon
yang dilakukan degan alat bulldozer dan scraper. Sedangkan pengalian lapisan
tanah penutup dapat dilakukan degan peralatan seperti dragline, back hoe, dan
73

shavel. Setelah pekerjaan pengupasan tanah penutup selesai, baru pengalian batu
gamping dapat dimulai dan dilakukan dengan sistem jenjang (benches), dengan
ketinggian enam meter. pekerjaan pembongkaran ini biasnya diikuti pula dengan
pemboran dan peledakan. Hasil ledakan masih berupa bongkahan atau boulder
dapat diledakan kembali (secondary blasting) untuk memperkecil ukuran, sedang
material hasil ledakan yang sudah berupa loose degan alat muat shovel segera
dimasukan kedalam dump truck menuju kealat peremuk (crusing plant) untuk
memperkecil ukurannya sehingga didapat ukuran yang sesuai permintaan.
V.4.3 Kegunaan Batugamping
Batugamping adalah bahan galian yang banyak kegunaannya, antara lain
sebagai berikut :
1.

Bahan bagunan, pengeras jalan, untuk pembagunan bendugan


(urugan), bahan dasar semen ponland, semen romawi, semen alam.

2.

Industri kramik terutama dalam pembuatan kaca, alat dari kaca dan
sebagainya.

3.

Industri kimia, untuk bahan pembuatan kalsium dalam pabrik gula,


penghilang warna dalam indusri lemak atau minyak, bahan kedokteran, pasta
pencegah penyakit tanaman dan untuk pembuatan pupuk.

4.

Industri logam, batugamping digunakan sebagai flux, dan bahan tahan


api.

5.

Bahan baku untuk kesenian dan litografi Data dari lapangan, daerah
tenggarong seberang khususnya (Dusun Jongkang).

74

V.5. Batubara

Foto 5.2. Singkapan Batu Bara Dusun Jongkang


Batubara adalah batuan sediment (padatan ) yang dapat terbakar, berasal
dari tumbuhan, yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan
dan penghancuran yang sempurna karena aktivitas bakteri anaerob, berwarna
coklat sampai hitam yang sejak pengendapannya terkena proses fisika dan kimia,
yang mana mengakibatkan pengayaan kandungan karbon.
V.5.1. Genesa
Proses pembentukan batubara dari tumbuhan melalui dua tahap, yaitu :
1.

Tahap pembentukan gambut (peat) dari tumbuhan yang disebut proses


peatification. Gambut adalah batuan sediment organic yang dapat terbakar
yang berasal dari tumpukan hancuran atau bagian dari tumbuhan yang
terhumifikasi dan dalam keadaan tertutup udara ( dibawah air ), tidak padat,
kandungan air lebih dari 75 %, dan kandungan mineral lebih kecil dari 50%
dalam kondisi kering

2.

Tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut proses


coalification Lapisan gambut yang terbentuk kemudian ditutupi oleh suatu

75

lapisan sediment, maka lapisan gambut tersebut mengalami tekanan dari


lapisan sediment di atasnya. Tekanan yang meningkatakan mengakibatkan
peningkatan temperature. Disamping itu temperature juga akan meningkat
dengan bertambahnya kedalaman, disebut gradient geotermik. Kenaikan
temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktivitas magma, proses
pembentukan gunung api serta aktivitas tektonik lainnya.
Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan
mengkonversi gambut menjadi batubara dimana terjadi proses pengurangan
kandungan air, pelepasan gas-gas ( CO 2, H2O, CO, CH4 ), penigkatan kepadatan
dan kekerasan serta penigkatan nilai kalor. Komposisi batubara terdiri dari unsur
C, H, O, N, S, P, dan unsur unsur lain (air, gas, abu)
Secara Horisontal maupun Vertikal endapan batubara bersifat heterogen.
Perbedaan secara horisontal disebabkan oleh:
- Perbedaan kondisi lapisan tanah penutup
- Mineral pengotor yang dibawa oleh sedimen rawa.
Perbedaann secara vertikal terajdi karena:
-

Pengendapan berkali2
endapan yang paling bawah yang paling tua dengan kualitas terbaik.
V.5.2. Teori Berdasarkan Tempat Terbentuknya

Teori Insitu :
Bahan2 pembentuk lapisan batubara terbentuk ditempat dimana tumbuhan
asal itu berada. Dengan demikian setelah tumbuhan mati, belum mengalami
proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses
coalification

76

Ciri :
-Penyebaran luas dan merata
-Kualitas lebih baik
Contoh : Muara Enim
Teori Drift:
Bahan2 pembentukan lapisan batubara terjadi ditempat yang berbeda
dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang. Dengan demikian
tumbuhan yang telah mati mengalami transportasi oleh media air dan
terakumulasi disuatu tempat, tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami
coalification.
Ciri :
-Penyebaran tidak luas tetap banyak
-kualitas kurang baik (mengandung pasar pengotor).
Contoh : pengendapan delta di aliran sungai mahakam.

V.5.3. Manfaat batubara


Secara umum batubara digunakan sebagai bahan bakar, dan selain itu
batubara digunakan sebagai pengganti minyak bumi dan bahan bakar pengganti
kayu.

77

BAB VI
GEOHIDROLOGI
VI.1. Latar Belakang
Hidrogeologi dalam bahasa Inggris tertulis hydrogeology. Hydro merupakan
kata sifat (adjective) yang berarti mengenai air Geology kata benda Sehingga
dapat diartikan menjadi geologi air (the geology of water). Secara definitif dapat
dikatakan merupakan suatu studi dari interaksi antara kerja kerangka batuan dan
air tanah. Dalam prosesnya, studi ini menyangkut aspek-aspek fisika dan kimia
yang terjadi di dekat atau di bawah permukaan tanah. Termasuk di dalamnya
adalah transportasi massa, material, reaksi kimia, perubahan temperatur,
perubahan topographi dan lainnya. Proses ini terjadi dalam skala waktu harian
(daily time scale). Sedangkan gerakan air di dalam tanah melalui sela-sela dari
kerangka batuan dikenal juga dengan istilah aliran air tanah (groundwater flow).
Definisi air tanah ialah sejumlah air dibawah permukaan bumi yang dapat
dikumpulkan dengan sumur-sumur, terowongan atau sistem drainase. Dapat juga
disebut aliran yang secara alami mengalir ke permukaan tanah melalui pancaran
atau rembesan (Bouwer, 1978). Atau Air tanah adalah air yang terdapat dalam
lapisan tanah atau bebatuan dibawah permukaan tanah. Air tanah merupakan salah
satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat
mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan.
Selain air sungai dan air hujan, air tanah juga mempunyai peranan yang
sangat penting terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan
baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestic) maupun untuk kepentingan
industri.
Kerusakan sumber daya air tidak dapat dipisahkan dari kerusakan
disekitarnya seperti kerusakan lahan, vegetasi, dan tekenan penduduk. Ketiga hal
tersebut saling berkaitan dalam mempengaruhi ketersediaan sumber air.
Kondisi tersebut diatas tentu saja perlu dicermati secara dini, agar tidak
menimbulkan kerusakan air tanah dikawasan sekitarnya.

78

Gambar 6.1. Model siklus hidrologi


VI.2. Maksud Dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari diadakannya Praktikum Pengenalan Lapangan
Kebumian (Geohidrologi) ini adalah :
1.

Untuk mengenalkan jenis jenis resapan air tanah.

2.

Dapat menganalisa terjadinya resapan air tanah.

3.

Dapat menganalisa resapan air tanah yang tidak tercemar.

4.

Mengetahui tentang cara konservasi Air Tanah.

VI.3. Lokasi Dan Kesampaian Daerah


V1.3.1. Lokasi
Lokasi kegiatan Praktek Lapangan Kebumian yang berada di Desa
Maluhu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi
Kalimantan Timur.
VI.3.2. Kesampaian Daerah
Untuk mencapai lokasi Kegiatan Penelitian Geohidrologi dapat ditempuh
dari universitas Kutai Kartanegara dengan menggunakan kendaraan roda dua
maupun roda empat melalui jalur darat dengan jarak tempuh kurang lebih 20
menit dengan kondisi jalan yang cukup baik, dangan jarak tempuh 10 Km.
79

VI.4 Dasar Teori


Air tanah mengalir dari daerah yang lebih tinggi menuju ke daerah yang
lebih rendah dan dengan akhir perjalanannya menuju ke laut. Daerah yang lebih
tinggi merupakan daerah tangkapan (recharge area) dan daerah yang lebih rendah
merupakan daerah buangan (discharge area), yang merupakan daerah pantai
maupun lembah dengan suatu sistem aliran sungai. Secara lebih spesifik daerah
tangkapan

didefinisikan

sebagai

bagian

dari

suatu

daerah

aliran

(watershed/catchment area) dimana aliran air tanah yang menjauhi muka air
tanah.
Sedangkan daerah buangan didefinisikan sebagai bagian dari suatu daerah
aliran (watershed/catchment area) dimana aliran air tanah (yang saturated)
menuju muka air tanah (Freeze dan Cherry, 1979). Biasanya di daerah tangkapan,
muka air tanahnya terletak pada suatu kedalaman tertentu sedangkan muka air
tanah daerah buangan umumnya mendekati permukaan tanah, salah satu
contohnya adalah pantai.
VI.4.1. Sistem Aquifer dan Geologi Air Tanah
Beberapa istilah penting yang merupakan bagian dari hidrogeologi
dijelaskan definisinya, yaitu :
a. Aquifer
Definisi aquifer ialah suatu lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan
geologi yang permeable baik yang terkonsolidasi (misalnya lempung) maupun
yang tidak terkonsolidasi (pasir) dengan kondisi jenuh air dan mempunyai suatu
besaran konduktivitas hidraulik (K) sehingga dapat membawa air (atau air dapat
diambil) dalam jumlah (kuantitas) yang ekonomis.
b. Aquiclude (impermeable layer)
Definisinya ialah suatu lapisan lapisan, formasi, atau kelompok formasi
suatu geologi yang impermable dengan nilai konduktivitas hidraulik yang sangat
kecil sehingga tidak memungkinkan air melewatinya. Dapat dikatakan juga
merupakan lapisan pambatas atas dan bawah suatuconfined aquifer.

80

c. Aquitard (semi impervious layer)


Definisinya ialah suatu lapisan lapisan, formasi, atau kelompok formasi
suatu geologi yang permable dengan nilai konduktivitas hidraulik yang kecil
namun masih memungkinkan air melewati lapisan ini walaupun dengan gerakan
yang lambat. Dapat dikatakan juga merupakan lapisan pambatas atas dan bawah
suatu semi confined aquifer.
d. Confined Aquifer
Merupakan akuifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas dan
bawahnya merupakan aquiclude dan tekanan airnya lebih besar dari tekanan
atmosfir. Pada lapisan pembatasnya tidak ada air yang mengalir (no flux).
e. Semi Confined (leaky) Aquifer
Merupakan akuifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas
berupaaquitard dan lapisan bawahnya merupakanaquiclude. Pada lapisan
pembatas di bagian atasnya karena bersifat aquitard masih ada air yang mengalir
ke akuifer tersebut (influx) walaupun hidraulik konduktivitasnya jauh lebih kecil
dibandingkan hidraulik konduktivitas akuifer. Tekanan airnya pada akuifer lebih
besar dari tekanan atmosfir.
f. Unconfined Aquifer
Merupakan akuifer jenuh air (satured). Lapisan pembatasnya, yang
merupakan aquifer, hanya pada bagian bawahnya dan tidak ada pembatasaquit ard
dilapisan atasnya, batas di lapisan atas berupa muka air tanah. Dengan kata lain
merupakan akuifer yang mempunyai muka air tanah.
g. Semi Unconfined Aquifer
Merupakan akuifer yang jenuh air (satured) yang dibatasi hanya lapisan
bawahnya yang merupakan aquitard. Pada bagian atasnya ada pembatas yang
mempunyai hidraulik konduktivitas lebih kecil daripada hidraulik konduktivitas

81

dari akuifer. Aquifer ini juga mempunyai muka air tanah yang terletak pada
lapisan pembatas tersebut.
h. Artesian Aquifer
Merupakan

confined

aquifer

dimana

ketinggian

hidrauliknya

(potentiometric surface) lebih tinggi dari pada muka tanah. Oleh karena itu
apabila pada akuifer ini dilakukan pengeboran maka akan timbul pancaran air
(spring), karena air yang keluar dari pengeboran ini berusaha mencapai ketinggian
hidraulik tersebut.
VI.4.2. Jenis Aquifer

Airtanah (groundwater) berada pada susunan batuan yang berpori atau


pada lapisan pembawa air yang dapat menyimpan dan melepas air dalam jumlah
yang cukup. Lapisan pembawa air dimaksud adalah aquifer.

82

Aquifer terdapat dalam beberapa keadaan:


1. Aquifer Tertekan
Aquifer tertekan (Confined aquifer, non-leaky aquifer) dapat juga disebut
sebagai aquifer terkurung, adalah lapisan pembawa air yang sepenuhnya
jenuh air, dengan bagian atas dan bagian bawah dibatasi oleh lapisan
kedap air. Tinggi pisometris muka airtanah tertekan, berada di atas posisi
aquifer itu sendiri, dan apabila muncul di atas permukaan tanah, maka
disebut sebagai air artesis.
2. Aquifer tidak tertekan (aquifer bebas)
Aquifer bebas (unconfined aquifer, water-table aquifer) ialah aquifer yang
hanya sebagian terisi air, dan terletak pada suatu dasar lapisan yang kedap
air. Batas bagian atas adalah muka air bebas atau muka air freatik yang
dipengaruhi oleh tekanan atmosfir.
3. Aquifer semi-tertekan (aquifer bocor)
Aquifer semi-tertekan atau aquifer bocor adalah aquifer jenuh yang
sempurna, pada bagian atas dibatasi oleh lapisan semi-lulus air dan bagian
bawah merupakan lapisan lulus air ataupun semi-lulus air.

IV.4.3. Lithologi, Stratigrafi dan Struktur


Kondisi alami dan distribusi akuifer, aquiclude danaquit ard dalam sistem
geologi dikendalikan oleh lithologi, stratigrafi dan struktur dari material simpanan
geologi dan formasi (Freeze dan Cherry, 1979). Selanjutnya dijelaskan lithologi
merupakan susunan fisik dari simpanan geologi. Susunan ini termasuk komposisi
mineral, ukuran butir dan kumpulan butiran (grain pacting) yang terbentuk dari
sedimentasi atau batuan yang menampilkan sistem geologi. Stratigrafi
menjelaskan hubungan geometris dan umur antara macam-macam lensa, dasar

83

dan formasi dalam geologi sistem dari asal terjadinya sedimentasi. Bentuk
struktur seperti pecahan (cleavages), retakan (fracture), lipatan (folds), dan
patahan (faults), merupakan sifat-sifat geometrik dari sistem geologi yang
dihasilkan

oleh perubahan bentuk (deformation)

akibat

adanya

proses

penyimpanan (deposition) dan proses kristalisasi (crystallization) dari batuan.


Pada simpanan yang belum terkonsolidasi (unconsolidated deposits) lithologi dan
stratigrafi merupakan pengendali yang paling penting.
I.5. Kegiatan di lapangan
VI.5.1 Alat alat yang digunakan
GPS (Global Position System)
Kompas Geologi
Meteran
VI.5.2 Langkah langkah Kerja
Menentukan titik koordinat air tanah (sumur)
Mengukur kedalaman air tanah (sumur) dari top hingga bottom.
Menganalisa kualitas air tanah secara fisik.
Mengetahui elevasi.
Tinggi muka air tanah.
VI.5.3 Hasil Yang Dicapai
Dari kegiatan ini peserta Praktek Lapangan Kebumian (Geohidrologi)
mendapatkan 4 (empat) data kualitas resapan air tanah dengan lokasi yang
berbeda beda.

84

DATA DI LAPANGAN
HASIL PENELITIAN GEOHIDROLOGI (AIR TANAH)
Foto Sumur 1

Koordinat

: S 002416,0
E 1165718,6

Elevasi

: 10 m

Lokasi

: Maluhu

Deskripsi

Warna
Bau
Kedalaman Muka Air tanah

85

: Keruh
:: 10 m 1,4 m = 8,4 m

Foto Sumur 2

Koordinat

: S 002424,3
E 1165649,9

Elevasi

: 21 m

Lokasi

: maluhu

Deskripsi

Warna
Bau
Kedalaman Muka Air tanah

86

: Bening
:: 5,78 m

Foto Sumur 3

Koordinat

: S 002425,2
E 1165647,8

Elevasi

: 20 m

Lokasi

: Maluhu

Deskripsi

Warna
Bau

: Bening
:87

Kedalaman Muka Air tanah

: 1.18 m

Foto Sumur 4

Koordinat

: S 002419,5
E 1165651,1

Elevasi

: 21 m

Lokasi

: Maluhu

Deskripsi

Warna
Bau
Kedalaman Muka Air tanah

88

: Bening
:: 0,46 m

BAB VII
PENUTUP
VII.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Kita dapat mengetahui berbagai alat geologi serta kegunaannya seperti
kompas geologi, Palu Geologi, GPS (Global Positioning System) secara
mendetail.
2. Kita dapat mengetahui cara menentukan arah, mengukur kemiringan dan
mengukur kedudukan unsur struktur.
3. Kita dapat mengetahui GPS merupakan alat untuk menentukan koordinat
atau batas - batas wilayah, sehingga mudah untuk mendapatkan suatu
titik/lokasi pengamaan.
4. Kita mendapat banyak wawasan, pengetahuan serta kemudahan didalam
pendeskripsian Batuan maupun Mineral.
5. Kita dapat mengetahui bagaimana kualitas air tanah yang baik dan dapat
menganalisa sebab-sebab berbedanya kualitas air tanah di tempat yang
berbeda.
VII.2 Saran
Harapan saya, sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan
praktikum Ini dapat dioptimalkan dan jumlah alat-alat geologi agar bisa
ditambah sesuai dngan jumlah mahasiswa yang ada demi optimalnya kerja
dan efisiensi waktu.
Selain itu saya mengharapkan di dalam kegiatan Praktikum Dosen
atau Assisten mengawasi dan memberi penjelasan secara rinci tentang
Batuan, Singkapan dan lain-lain, supaya dalam pendeskripsiannya tidak
terjadi kesalahan, dan diharapkan kepada teman-teman agar selalu
mengikuti Kegiatan Praktikum dengan aktif dan disiplin.

89

Semoga laporan yang saya susun ini dapat bermanfaat bagi semua pihak pihak dan dapat menunjang atau menjadi panduan dalam Kegiatan Praktikum
berikutnya, dan juga dapat menunjang proses belajar khususnya Mata kuliah
Pengenalan Lapangan Kebumian.

90

DAFTAR PUSTAKA
1. Bayly, B.,1969, Intoduction to Petrology,1st.eV.6., Prentice Hall Inc.,
Englewood Cliffs, New Jersey.
2. Districh, R.V. dan Sknner, B.J., 1979, Rock dan Rock Minerals, John Wiley
& Sons Inc., Toronto Canada.
3. Diktat Kuliah , 1992 Geomorfologi . UPN Veteran Yogyakarta .
4. Ehlers, E.g. dan Blatt, H., 1980, Petrologi, 1st..e.V.6., W.H. Freeman
Company, San Francisco.
5. Sekunder Asikin , 1979 Dasar Dasar Geologi Struktur , I.T.B. Bandung.
6. Sekunder Asikin, 1990 Geologi Lapangan, ITB. Bandung.

91