Anda di halaman 1dari 4

Minyak saat ini merupakan senergi utama penyokong suatu negara, khususnya di

Indonesia. Penggunaan energi ini sangatlah besar dan jumlah permintaannya terus menerus
bertambah setiap tahunnya Permasalahan industri minyak dan gas di Indonesia adalah
permasalahan yang sering dikaji di berbagai acara, baik acara formal atau non-formal, baik oleh
kalangan stakeholder, pengamat, mahasiswa, dan bahkan khalayak pada umumnya. Topik yang
dibahas pun beragam, mulai dari segi keteknikan, hukum, ekonomi, dan bahkan segi sosial. Oleh
karena itu, pada kesempatan kali ini kami, FORGI FTUI, mencoba mengulas sedikit tentang
overview industri minyak dan gas di Indonesia.
Minyak adalah salah satu energi yang berbasis hidrokarbon. Jenis energy lain yang
berbasis hidrokarbon adalah gas alam dan batu bara. Ada juga tipe hidrokarbon yang
unconventional yaitu minyak batu sepih, gas batu sepih, CBM, dll. Sumber energi-energi inilah
yang sangat banyak dipakai di Indonesia, khususnya BBM. Industri migas sudah dilakukan sejak
lama di Indonesia. Tercatat puluhan kontraktor, baik BUMN, swasta nasional, maupun swasta
internasional mengambil peran dalam industri migas. Nama-nama besar seperti Pertamina,
Chevron, Total, dan BP mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Perusahaan-perusahaan
inilah yang punya andil besar dalam eksplorasi dan/atau produksi migas di Indonesia.

Berdasarkan data, perkembangan


produk minyak dan gas di Indonesia
semakin hari semakin menurun.
Indonesia pernah mengalami puncak
produksi migas pada tahun 1977 dan
1995 setelah itu menurun hingga 35%. Untuk memenuhi permintaan
minyak dalam negeri, Indonesia
mengimpor dari negara lain, sekitar
60% dari minyak Indonesia adalah hasil impor. Untuk gas, Indonesia masih bisa melakukan
ekspor keluar. Akan tetapi, diprediksikan pada tahun 2020, Indonesia tidak hanya menjadi net oil
importer saja, namun juga akan menjadi net gas importer.

Diperkirakan tahun 2015 ke


atas negara-negara di dunia
sebagian

besar

akan

lebih

banyak mengonsumsi minyak


tanpa

diikut

dengan

pertambahan

produksi

minyaknya.

Dibandingkan

dengan beberapa negara di


Asia-Pasifik, margin eksporimpor BBM

di Indonesia

sangatlah besar, sekitar 40%. China yang merupakan konsumen energi besar pun marginnya
hanya sekitar 5% , dan diperkirakan akan mencapai 80% pada tahun 2030 dan pada tahun 2050
kita akan 100% bergantung pada impor minyak dan BBM.
Produksi BBM dalam negeri di
Indonesia dinilai masih sangat lah
kurang,

kita

masih

banyak

mengimpor BBM dari negara


tetangga yaitu Singapura. China
yang

merupakan

konsumen

energi yang lebih besar tersebut,


marginnya

cukup

kecil

dikarenakan mereka mempunyai


cukup banyak kilang, mereka membangun kilang-kilang mereka sendiri.

Lalu,

sebenarnya

bagaimana keadaan kilang minyak Indonesia? Indonesia, diwakili oleh Pertamina, mempunyai
total delapan kilang minyak (+kilang pusdiklat Cepu) yang tersebar di beberapa wilayah. Namun,
1 kilang minyak telah berhenti beroperasi, yaitu di Pangkalan Brendan, Sumut. Jumlah total
kapasitas kilang minyak yang ada sekarang sekitar 1 juta barrel/day. Ada beberapa hal menarik
yang dapat kita telisik dari kilang minyak Indonesia. Pertama, terakhir kali Indonesia
membangun kilang sudah cukup lama, yaitu kilang Balongan pada tahun 1994. Kedua, jumlah
kapasitas kilang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan energi nasional. Saat ini, kebutuhan
energi nasional sekitar 1,5 juta barrel per hari. Terakhir, permasalahan impor Indonesia yang
tidak hanya impor minyak mentah, namun juga impor BBM.
Untuk keekonomian minyak dan gas, harga minyak disetir dengan adanya supply
demand, situasi makroekonomi, geopolitik, pendapatan pasar, dan perubahan harga dolar.
Contohnya adalah kondisi turunnya harga minyak dunia. Harga minyak dunia turun
diindikasikan akibat berlimpahnya supply minyak mentah di dunia karena naiknya produksi
minyak oleh negara-negara non-OPEC. Dengan jumlah minyak yang berlimpah, dan permintaan
yang tetap, maka harga minyak dunia pun turun. Di Indonesia sendiri, market tidak boleh
memegang kendali dalam harga minyak, karena sudah diinterfensi oleh pemerintah. Pemerintah
akan menjaga harga minyak /bbm agar stabil.
Dari beberapa informasi diatas bisa kita lihat bahwa permasalahan di bidang minyak ini
tidaklah mudah untuk diambil garis kesimpulannya. Sulit menemukan solusi yang dapat
menyelesaikan masalah industri minyak ini karena masalah enegi adalah masalah nasional.

Pemerintah perlu duduk bersama para ahli, akademisi, dan golongan lainnya agar solusi yang
ditetapkan tidak hanya untuk kepentingan golongan tertentu saja. Impian bangsa ini untuk dapat
menjadi negara yang mandiri energi dan berdaulat semoga dapat terealisasi segera.
Salam
DIVISI GAS FORGI FTUI 2015
Untuk Indonesia yang Mandiri Energi.