Anda di halaman 1dari 81

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sehat menurut Badan Kesehatan Dunia / World Health Organization
(WHO), adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial bukan hanya
sekedar tidak adanya penyakit maupun cacat. Menurut UU Kesehatan No 23
tahun 1992, sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dari
ketiga definisi sehat diatas dapat disimpulkan bahwa sehat adalah suatu
keadaan fisik, mental, dan sosial yang terbebas dari suatu penyakit sehingga
seseorang dapat melakukan aktivitas secara optimal.1
Konsep pembangunan kesehatan di Indonesia dimulai dengan
pemikiran tentang paradigma sehat. Paradigma sehat adalah suatu pola
pikir/cara pandang dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang
pelaksanaannya sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip pokok kesehatan.
Secara makro bahwa pembangunan semua sektor harus memperhatikan
dampak terhadap kesehatan. Secara mikro berarti bahwa pembangunan
kesehatan lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlidungan
kesehatan, bukan hanya penyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan.
Secara umum konsep paradigma sehat dapat menghasilkan dua poin penting,
yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati, dan pentingnya pemberdayaan
masyarakat untuk berperilaku hidup sehat dan hidup dalam lingkungan yang
sehat.2,3
Menurut Bloem, tingkat derajat kesehatan manusia dipengaruhi oleh 4
faktor yaitu: faktor perilaku, genetik, lingkungan dan pelayanan kesehatan.
Dalam hal ini jelas bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap derajat
kesehatan manusia. Oleh karena itu perlu adanya perhatian yang serius dalam
menangani masalah-masalah kesehatan khususnya kesehatan lingkungan.2
Salah satu upaya dalam menciptakan keadaan sehat adalah dengan
meningkatkan kesehatan lingkungan untuk mendukung tercapainya kualitas

hidup yang sehat. Pembuangan kotoran baik sampah, air limbah dan tinja yang
tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan rendahnya kualitas air,
serta dapat menimbulkan penyakit menular di masyarakat. Jamban, tempat
sampah, pengelolaan limbah dan persediaan air bersih merupakan sarana
Penataan Lingkungan Pemukiman (PLP). Masalah mengenai kesehatan
lingkungan pada pemukiman terutama tentang pembuangan tinja pada jamban
yang tidak sehat merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang
perlu mendapatkan prioritas karena dapat mendatangkan masalah dalam
bidang kesehatan seperti seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan
dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada
sumber air dan bau busuk serta estetika.2
Berdasarkan

deklarasi

Johannesburg

yang

dituangkan

dalam

Millennium Development Goals (MDGS) yang disepakati oleh seluruh


Negara di dunia termasuk di Indonesia, menetapkan bahwa pada tahun 2015
separuh dari penduduk dunia yang saat ini belum mendapatkan akses
terhadap sanitasi dasar (jamban) harus mendapatkannya. Pemerintah
Indonesia sejak tahun 2003 telah melaksanakan kegiatan SANIMAS (Sanitasi
oleh Masyarakat). Sanitasi menjadi masalah yang sangat kompleks ketika
masyarakat tidak memahami pengaruh sanitasi dalam kehidupan masyarakat.
Dalam program peningkatan sanitasi sehat, keterlibatan warga masyarakat
merupakan faktor yang sangat menentukan. Di Jawa Tengah, jumlah KK
yang telah memiliki jamban untuk tempat Buang Air Besar (BAB) :
1.791.869 (50.71 %).1
Dari

data

SPM

dapat

diketahui

cakupan

penduduk

yang

memanfaatkan jamban yang memenuhi syarat di wilayah kerja Puskesmas


Borobudur periode Januari Desember 2014 adalah 111,88%, sedangkan
target Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang adalah 75%. dan target Dinas
Kesehatan Kabupaten Magelang 2014 adalah 75%. 3
Menurut data hasil inspeksi sanitasi kepemilikan jamban di Dusun
Tuksongo 1 Desa Tuksongo pada tanggal 30 Januari 2014 dan tanggal 31
Januari 2014, dimana jumlah rumah yang dilakukan survei sebanyak 30

rumah, sebanyak 14 rumah tidak memiliki jamban yang tidak memenuhi


syarat. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebab dari
masalah tersebut.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, cakupan penduduk yang
memanfaatkan jamban sehat masih rendah, oleh karena itu perlu diketahui
faktor apa saja yang menyebabkan penduduk di Dusun Tuksongo 1, Desa
Tuksongo tidak memanfaatkan jamban sehat dan bagaimana pemecahan untuk
mengatasi masalah tersebut?
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui dan menganalisa penyebab kurangnya jamban sehat keluarga
di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui faktor-faktor penyebab kurangnya jamban sehat di Dusun
Tuksongo 1, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur dari faktor input,
proses, dan lingkungan.
b. Mengetahui upaya pemecahan masalah penduduk yang tidak
menggunakan jamban sehat di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur.
c. Mengetahui rencana kegiatan untuk mengatasi penduduk yang tidak
menggunakan jamban sehat di Dusun Tuksongo 1 , Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur.
D. MANFAAT
1. Hasil laporan ini dapat dijadikan data awal untuk merencanakan

penanggulangan masalah pemanfaatan jamban di Dusun Tuksongo 1, Desa


Tuksongo, Kecamatan Borobudur.

2. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan pengetahuan warga Dusun

Tuksongo 1, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, dapat bertambah,


mengenai pentingnya memanfaatkan jamban keluarga agar tercipta
lingkungan yang sehat sesuai dengan syarat kesehatan.
3. Sebagai masukan bagi puskesmas Borobudur untuk menyusun program

dalam rangka pemanfaatan jamban keluarga.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. KESEHATAN LINGKUNGAN
Kesehatan Lingkungan menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan
Lingkungan Indonesia) adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang
sehat dan bahagia.4
Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain mencakup:
perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja), penyediaan air bersih,
pembuangan sampah, pembuangan air kotor (air limbah), pengawasan
makanan dan minuman, pembuatan SPAL, dan sebagainya. Kontribusi
lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang
essensial di samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan
faktor keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap
timbulnya masalah kesehatan masyarakat.4
Usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki
atau mengoptimalkan lingkungan hidup manusia untuk terwujudnya kesehatan
yang optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya. 4
Integrasi upaya kesehatan lingkungan dan upaya pemberantasan
penyakit berbasis lingkungan semakin relevan dengan diterapkannya
Paradigma Sehat. Dengan paradigma ini, maka pembangunan kesehatan lebih
ditekankan pada upaya promotif-preventif, dibanding upaya kuratifrehabilitatif. Melalui Klinik Sanitasi ketiga unsur pelayanan kesehatan yaitu
promotif,

preventif, dan kuratif dilaksanakan secara integratif melalui

pelayanan kesehatan program pemberantasan penyakit berbasis lingkungan di


luar maupun di dalam gedung.4

B. STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL KLINIK SANITASI

Standar prosedur operasional (Standard Operational Procedur / SOP)


klinik sanitasi secara umum meliputi SOP di dalam gedung (puskesmas) dan
di luar gedung (lapangan).5
1. Dalam Gedung
Di dalam gedung puskesmas, petugas klinik sanitasi melakukan langkahlangkah kegiatan terhadap penderita/pasien dan klien.
a. Menerima kartu rujukan status dari petugas poliklinik.
b. Mempelajari kartu status/rujukan tentang diagnosis oleh petugas
poliklinik.
c. Menyalin dan mencatat nama penderita atau keluarganya, karakteristik
penderita yang meliputi umur, jenis kelamin, pekerjaan dan alamat,
serta diagnosis penyakitnya ke dalam buku register.
d. Melakukan wawancara atau konseling dengan penderita/keluarga,
penderita tentang kejadian penyakit, keadaan lingkungan, dan perilaku
yang diduga berkaitan dengan kejadian penyakit dengan mengacu pada
buku Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas dan Panduan
Konseling Bagi Petugas Klinik Sanitasi di Puskesmas.
e. Membantu menyimpulkan permasalahan lingkungan atau perilaku
yang berkaitan dengan kejadian penyakit yang diderita.
f. Memberikan saran tindak lanjut sesuai permasalahan.
g. Bila diperlukan, membuat kesepakatan dengan penderita atau
keluarganya tentang jadwal kunjungan lapangan.
2. Luar Gedung
Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati antara penderita / klien
atau keluarganya dengan petugas, petugas klinik sanitasi melakukan
kunjungan lapangan/rumah dan diharuskan melakukan langkah-langkah
sebagai berikut :
a. Mempelajari hasil wawancara atau konseling di dalam gedung
(Puskesmas).

b. Menyiapkan dan membawa berbagai peralatan dan kelengkapan


lapangan yang diperlukan seperti formulir kunjungan lapangan, media
penyuluhan, dan alat sesuai dengan jenis penyakitnya.
c. Memberitahu atau menginformasikan kedatangan kepada perangkat
Desa/kelurahan (kepala Desa/lurah, sekretaris, kepala Dusun, atau
ketua RW/RT) dan petugas kesehatan / bidan di desa.
d. Melakukan pemeriksaan dan pengamatan lingkungan dan perilaku
dengan mengacu pada Buku Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk
Puskesmas, sesuai dengan penyakit/masalah yang ada.
e. Membantu menyimpulkan hasil kunjungan lapangan.
f. Memberikan saran tindak lanjut kepada sasaran (keluarga penderita
dan keluarga sekitar).
g. Apabila permasalahan yang ditemukan menyangkut sekelompok
keluarga atau kampung, informasikan hasilnya kepada petugas
kesehatan di desa / kelurahan, perangkat desa/kelurahan (kepala desa /
lurah, sekretaris, kepala dusun atau ketua RW/RT), kader kesehatan
lingkungan serta lintas sektor terkait di tingkat Kecamatan untuk dapat
di tindak lanjut secara bersama.
C. JAMBAN
1. Definisi Jamban Sehat
Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk tempat
membuang dan mengumpulkan kotoran/najis manusia yang lazim disebut
kakus atau WC, sehingga kotoran tersebut disimpan dalam suatu tempat
tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan
mengotori lingkungan pemukiman.6 Sedangkan di dalam Keputusan
Menteri Kesehatan nomor 852/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat disebutkan bahwa jamban sehat adalah fasilitas
pembuangan tinja yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan
penyakit.5
2. Kriteria Jamban Sehat

Menurut kriterian Depkes RI (1985), syarat sebuah jamban


keluarga dikatagorikan jamban sehat, jika memenuhi persyaratan
sebagai berikut6 :

Tidak mencemari sumber air minum, untuk itu letak lubang


penampungan kotoran paling sedikit berjarak 10 meter dari sumur
(SPT,SGL, dan jenis sumur lainnya). Perkecualian jarak ini menjadi
lebih jauh pada kondisi tanah liat atau berkapur yang terkait dengan
porositas tanah. Juga akan berbeda pada kondisi topografi yang
menjadikan posisi jamban diatas muka dan arah aliran air tanah.

Tidak berbau serta tidak memungkinkan serangga dapat masuk ke


penampungan tinja. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan menutup
lubang jamban atau dengan sistem leher angsa.

Air seni, air pembersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah di
sekitarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat lantai jamban
dengan luas minimal 1x1 meter, dengan sudut kemiringan yang cukup
kearah lubang jamban.

Mudah dibersihkan, aman digunakan, untuk itu harus dibuat dari


bahan-bahan yang kuat dan tahan lama dan agar tidak mahal
hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang ada setempat.

Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan


berwarna terang.

Cukup penerangan.

Lantai kedap air.

Luas ruangan cukup, atau tidak terlalu rendah.

Ventilasi cukup baik, dan tersedianya air dan alat pembersih.

Menurut WSP (2008) kriterian Jamban Sehat (improved


latrine), merupakan fasilitas pembuangan tinja yang memenuhi
syarat6 :

Tidak mengkontaminasi badan air.

Menjaga agar tidak kontak antara manusia dan tinja.

Membuang tinja manusia yang aman sehingga tidak dihinggapi lalat


atau serangga vektor lainnya termasuk binatang.

Menjaga buangan tidak menimbulkan bau

Konstruksi dudukan jamban dibuat dengan baik dan aman bagi


pengguna

3. JenisJenis Jamban
Jenis- jenis jamban keluarga yaitu5,7,8
a. Jamban Cemplung (pit latrine)

Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan tapi


kurang sempurna, misalnya tanpa rumah jamban. Pada jamban ini,
kotoran langsung masuk ke jamban dan tidak boleh terlalu dalam
sebab bila terlalu dalam akan mengotori air tanah dibawahnya.
Dalamnya pit latrine berkisar antara 1,5 3 meter saja. Jarak dari
sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter.

Gambar 1. Jamban Cemplung

Cara

dan

beberapa

syarat

pembuatan

jamban

galian

(cemplungan) adalah9,10:
1. Jauh dari tempat kediaman/perumahan
2. Lubang digali sedalam 2-3 m dengan garis tengah 80 cm.
3. Dalamnya tergantung keadaan tanah, permukaan air tanah dan
lama penggunaan
4. Letaknya diusahakan pada tanah yang agak longgar tapi kokoh
hingga tidak memerlukan dinding penahan
5. Pada lubang bagian atas perlu diberi dinding dan pondasi penguat
6. Bila tanahnya terlalu longgar dan mudah runtuh, lubang bagian
dalam perlu diberi penahan atau penguat dari beton, batu-batu,
kaleng atau drum, anyaman bambu atau bahan lainnya.
7. Pondasi disekitar atas lubang dibuat dari beton, batu bata
bersemen, atau balokkayu.
8. Di sekitar lantai dan pondasi ditimbun tanah agar jamban tetap
kering.
9. Ditutup yang layak dan memenuhi syarat kesehatan.
b. Jamban Cemplung Berventilasi (Ventilation Improved Pit Latrine)
Jamban ini hampir sama dengan jamban cemplung, bedanya
lebih lengkap, yakni menggunakan ventilasi pipa. Untuk daerah
pedesaan pipa ventilasi ini dapat dibuat dengan bambu.

10

Gambar 2. Jamban Cemplung Berventilasi (Ventilasi Improved Pit Latrine)


Sumber : Tampibolon, 2000

c. Watersealed Laterine (Angsa Trine)


Jamban tanki septik/leher angsa adalah jamban berbentuk leher
angsa sehingga akan selalu terisi air. Fungsi air ini sebagai sumbat bau
bususk dari cubluk sehingga tidak tercium di ruangan rumah kakus.
Bila dipakai, faecesnya tertampung sebentar dan bila disiram air, baru
masuk

ke

bagian

yang

menurun

untuk

masuk

ke

tempat

penampungannya (pit). Penampungannya berupa tangki septik kedap


air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian/dekomposisi
kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapannya. Kakus ini yang
terbaik dan dianjurkan dalam kesehatan lingkungan.

11

Gambar 3. Jamban leher angsa

Latrin jenis septic tank ini merupakan cara yang paling


memenuhi persyaratan, oleh sebab itu, cara pembuangan tinja
semacam ini dianjurkan. Septic tank terdiri dari tangki sedimentasi
yang kedap air dimana tinja dan air buangan masuk dan mengalami
dekomposisi.
Didalam tangki ini, tinja akan berada selama beberapa hari.
Selama waktu tersebut tinja akan mengalami 2 proses, yakni:
a) Proses Kimiawi
Akibat penghancuran tinja akan direduksi dan sebagian besar
(60-70%) zat-zat padat akan mengendap didalam tangki sebagai
sludge. Zat-zat yang tidak dapat hancur bersama-sama dengan
lemak dan busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang
menutup permukaan air dalam tanki tersebut. Lapisan ini disebut
scum yang berfungsi mempertahankan suasana anaerob dari cairan
dibawahnya, yang memungkinkan bakteri-bakteri anaerob dan
fakultatif anaerob dapat tumbuh subur, yang akan berfungsi pada
proses berikutnya.
b) Proses Biologis

12

Dalam proses ini terjadi dekomposisi melalui aktivitas bakteri


anaerob dan fakultatif anaerob yang memakan zat-zat organik alam,
sludge dan scum. Hasilnya, selain terbentuk gas dan zat cair
lainnya,

adalah

juga mengurangi

volume

sludge sehingga

memungkinkan septic tank tidak cepat penuh. Kemudian cairan


enfluent sudah tidak mengandung bagian-bagian tinja dan
mempunyai BOD (Biological Oxygen Demand) yang relatif rendah.
Cairan enfluent ini akhirnya dialirkan keluar melalui pipa dan
masuk ke dalam tempat perembesan.
Penggunaan Jamban :
1. Siramkan air pada mangkokan leher angsa supaya tidak lengket
2. Jongkok atau duduk diatas kloset untuk melaksanakan hajat.
3. Setelah selesai guyur dengan air secukupnya sampai kotoran
bersih
Keuntungan dari jamban ini antara lain :
1. Menghindarkan atau mengurangi gangguan lalat atau serangga
dan binatang lain.
2. Mengurangi timbul dan tersebarnya bau
3. Dapat dipakai dengan aman oleh anak-anak
4. Kebersihan mudah dijaga
5. Dapat dipasang di luar maupun di dalam rumah
6. Mudah dibuat dan hemat
Kelemahan jamban leher angsa :
1. Memerlukan cara-cara penggunaan dan pemeliharaan yg lebih
baik,teliti dan teratur
2. Leher angsa bisa rusak atau pecah, memerlukan perbaikan, perlu
waktu, biaya dan tenaga
3. Leher angsa bisa tersumbat

13

4. Kotoran tidak langsung jatuh ke dalam tempat pengumpul, tetapi


harus didorong dengan guyuran air tersendiri
Jamban Keluarga di Pedesaan
Banyak macam jamban yang digunakan ,tetapi jamban
pedesaan di Indonesia pada dasarnya digolongkan menjadi 2 macam
yaitu5,10 :
1) Jamban tanpa leher angsa. Terdapat 2 jenis antara lain :
Jamban cubluk, bila kotoran dibuang ke tanah.
Jamban empang/kolam, bila kotoran dialirkan ke empang atau
kolam.
2) Jamban dengan leher angsa. Jamban ini mempunyai 2 cara :
Tempat jongkok dan leher angsa atau pemasangan slab dan
bowl langsung diatas lubang galian penampungan kotoran
Tempat jongkok dan leher angsa tidak berada langsung diatas
lubang galian penampungan kotoran atau pemasangan slab dan
bowl tapi dibangun terpisah dan dihubungkan oleh satu saluran
yang miring ke dalam lubang galian penampungan kotoran.
4. Bangunan Jamban

Bangunan kakus yang memenuhi syarat kesehatan terdiri dari :


a. Rumah kakus: Syarat syarat rumah kakus antara lain; Sirkulasi
udara cukup, Bangunan mampu menghindarkan pengguna terlihat dari
luar, Bangunan dapat meminimalkan gangguan cuaca (baik musim
panas maupun musim hujan), Kemudahan akses di malam hari,
Ketersediaan fasilitas penampungan air dan tempat sabun untuk cuci
tangan.
b. Lantai kakus: Sebaiknya diplester agar mudah dibersihkan.
c. Slab : Berfungsi sebagai penutup sumur tinja (pit) dan dilengkapi
dengan tempat berpijak. Pada jamban cemplung, slab dilengkapi
dengan penutup, sedangkan pada kondisi jamban berbentuk bowl
(leher angsa) fungsi penutup ini digantikan oleh keberadaan air yang
secara otomatis tertinggal di didalamnya. Slab dibuat dari bahan yang
cukup kuat untuk menopang penggunanya. Bahan-bahan yang

14

digunakan harus tahan lama dan mudah dibersihkan seperti kayu,


beton, bambu dengan tanah liat, pasangan bata, dan sebagainya.
d. Closet
: Lubang tempat faeces masuk.
e. Pit : Sumur penampung faeces / cubluk.
f. Bidang resapan.

Gambar 4. Bidang Resapan

5. Cara Membangun Jamban Sehat


Untuk mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka
pembuangan kotoran harus dikelola dengan baik di suatu jamban yang
sehat. Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat
jamban sehat. Ada tujuh yang harus diperhatikan. Berikut syarat-syarat
tersebut:
a. Tidak mencemari air

Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar


lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum.
Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus
dipadatkan dengan tanah liat atau diplester.

Jarang lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter

Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air
kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur.

15

Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam


selokan, empang, danau, sungai, dan laut

b. Tidak mencemari tanah permukaan

Tidak buang air besar di sembarang tempat, seperti kebun,


pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan.

Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras


kotorannya, atau dikuras, kemudian kotoran ditimbun di lubang
galian.

c. Bebas dari serangga

Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya


dikuras

setiap

minggu.

Hal

ini

penting

untuk

mencegah

bersarangnya nyamuk demam berdarah

Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat


menjadi sarang nyamuk.

Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang


bisa menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya

Lantai jamban harus selalu bersih dan kering

Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup

d. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan

Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup


setiap selesai digunakan

Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa


harus tertutup rapat oleh air

Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa


ventilasi untuk membuang bau dari dalam lubang kotoran

Lantai jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin.


Pembersihan harus dilakukan secara periodik

e. Aman digunakan oleh pemakainya

16

Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding
lubang kotoran dengan pasangan bata atau selongsong anyaman atau
bahan penguat lain yang terdapat di daerah setempat
f. Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya

Lantai jamban rata dan miring ke arah saluran lubang kotoran

Jangan membuang plastik, rokok, atau benda lain ke saluran


kotoran karena dapat menyumbat saluran

Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran


karena jamban akan cepat penuh

Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan


pipa berdiameter minimal 4 inci. Letakkan pipa dengan kemiringan
minimal 2:100

g. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan

Jamban harus berdinding dan berpintu

Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya


terhindar dari kehujanan dan kepanasan.

6. Pemilihan Jenis Jamban


Beberapa jenis jamban yang digunakan di daerah khusus, diantaranya :
a. Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air
b. Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk daerah yang cukup
air dan daerah padat penduduk, karena dapat menggunakan multiple
latrine yaitu satu lubang penampungan tinja/tangki septik digunakan
oleh beberapa jamban (satu lubang dapat menampung kotoran/tinja
dari 3-5 jamban).
c. Daerah pasang surut, tempat penampungan kotoran/tinja hendaknya
ditinggikan kurang lebih 60 cm dari permukaan air pasang. Setiap
anggota rumah tangga harus menggunakan jamban untuk buang
airbesar/buang air kecil.

17

7. Penentuan Letak Jamban


Dalam menentukan letak jamban, ada 3 hal yang harus diperhatikan :
a. Keadaan daerah datar atau lereng; Bila daerahnya berlereng, kakus atau
jamban harus dibuat di sebelah bawah dari letak sumber air. Andaikata
tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak tidak boleh kurang
dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak
sumur.
b. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang
sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya
lantai jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggi dari permukaan air
yang tertinggi pada waktu banjir.
c. Mudah dan tidaknya memperoleh air
8. Fungsi dan Manfaat Jamban Keluarga
Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan.
Jamban yang baik dan memenuhi syarat kesehatan akan menjamin
beberapa hal, yaitu :
a. Melindungi kesehatan masyarakat dari penyakit
b. Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan sarana yang
aman
c. Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit
d. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan.
e. Pembuangan tinja sebagian dari kesehatan lingkungan maka kebiasaan
masyarakat memakai jamban harus terlaksana bagi setiap keluarga.
9. Pemeliharaan Jamban
Jamban hendaknya dipelihara baik dengan cara :
a. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering. 1x seminggu
bersihkan lantai dan tempat jongkok dengan air dan sabun, sapu lidi
b.
c.
d.
e.
f.

dan sikat ijuk.


Tidak ada sampah berserakan dan tersedia alat pembersih
Tidak ada genangan air di sekitar jamban
Rumah jamban dalam keadaan baik dan tidak ada lalat dan kecoa
Tempat duduk selalu bersih dan tidak ada kotoran yang terlihat
Tersedia air bersih dan alat pembersih di dekat jamban

18

g. Bila ada bagian yang rusak harus segera diperbaiki.


D. PENGETAHUAN DAN PERILAKU
1. Pengetahuan
a. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi


setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian

besar

pengetahuan

manusia

diperoleh

melalui

pendidikan, pengalaman orang lain, media massa maupun lingkungan.


Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai
dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan
perilaku setiap hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan
merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang.
Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil dari pekerjaan
tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf,
mengerti dan pandai.
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa
Inggris yaitu knowledge. Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan
bahwa

definisi

pengetahuan

adalah

kepercayaan

yang

benar

(knowledgement is justified true beliefed). Pengetahuan itu adalah


semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian, pengetahuan
merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
Dalam

kamus

filsafat,

dijelaskan

bahwa

pengetahuan

(knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara


langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang
mengetahui (subjek) memilliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya
sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang
diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.

19

1. Memahami (Comprehension)
Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar.
2. Aplikasi (Application)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan
sebagai pengguna hukum-hukum, rumus, metode, prinsip-prinsip
dan sebagainya.
3. Analisis (Analysis)
Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam
suatu komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi
dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat
dilihat

dari

penggunaan

kata

kerja

seperti

kata

kerja

mengelompokkan, menggambarkan, memisahkan.


4. Sintesis (Synthesis)
Kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk
keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang
ada.
5. Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau
objek tersebut berdasarkan suatu cerita yang sudah ditentukan
sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada.

b. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara
atau angket yang berisi tentang materi yang akan diukur dari subjek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita

20

ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan


diatas.
Tingkat pengetahuan baik bila skor 81%-100%
Tingkat pengetahuan cukup bila skor 65%-80%
Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 65%
2. Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2003) perilaku adalah semua kegiatan atau
aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak
dapat diamati oleh pihak luar. Menurut Robert Kwick (1974) perilaku
adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati
bahkan dapat dipelajari.
Menurut Ensiklopedia Amerika perilaku diartikan sebagai suatu
aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya. Skiner (1938) seorang
ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Namun dalam
memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktorfaktor lain dari orang yang bersangkutan.
E. SOSIAL EKONOMI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sosial berarti segala
sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat. Sedangkan dalam konsep
sosiologi manusia sering disebut mahluk sosial, yang artinya manusia tidak
dapat hidup wajar tanpa adanya bantuan orang lain. Istilah ekonomi itu berasal
dari kata Yunani, oikos yang berarti keluarga atau rumah tangga, dan
nomos yaitu aturan. Maka ekonomi diartikan sebagai aturan rumah tangga.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia arti ekonomi adalah ilmu yang mengenai
asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang, serta kekayaan.
Maka dapat disimpulkan social ekonomi adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat, antara lain sandang, pangan,

21

perumahan, pendidikan dan kesehatan, dimana pemenuhan kebutuhan tersebut


berkaitan dengan penghasilan.
F. KESADARAN
Kesadaran berasal dari kata sadar yang berarti insyaf. Jadi kesadaran
adalah keinsyafan atau merasa mengerti atau memahami segala sesuatu.
Menurut A.W. Widjaja (1984:46) kesadaran adalah mengerti, insyaf dan yakin
tentang kondisi tertentu. Diharapkan dengan adanya kesadaran masyarakat
tentang pentingnya BAB di jamban yang sehat akan meningkatkan taraf
kesehatan.
G. PENYULUHAN
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga
masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa
melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Sehingga
diharapkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat meningkat setelah
dilakukannya penyuluhan mengenai jamban sehat, dan dapat tercapainya
kesehatan lingkungan yang semakin meningkat.
Menurut WHO, tujuan dari penyuluhan kesehatan adalah untuk
merubah perilaku perseorangan dan atau masyarakat dalam bidang kesehatan.
H. PETUGAS KESEHATAN DAN KADER
Menurut Depkes (1998), peran petugas sanitasi dan kepala puskesmas
sangat menentukan keberhasilan cakupan pelaksanaan inspeksi sanitasi di wilayah
puskesmas selama 1 tahun. Sanitarian adalah tenaga kesehatan yang memiliki
latar belakang pendidikan terakhir bidang kesehatan lingkungan dan sanitarian
yang bekerja di puskesmas. Yang termasuk tenaga sanitarian adalah SPH, D-III
Kesehatan Lingkungan dan D-III Penyuluhan Kesehatan.
A. Petugas Sanitarian

22

Tugas Pokok

: Merubah, mengendalikan, atau menghilangkan


semua

unsur

fisik

dan

lingkungan

yang

memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan


masyarakat.
Fungsi

- Penyuluhan terhadap masyarakat tentang penggunaan air bersih,


jamban keluarga, rumah sehat, kebersihan lingkungan dan
pekarangan.
- Membantu masyarakat dalam pembuatan sumur, perlindungan
mata air, penampungan air hujan dan sarana bersih lainnya.
- Pengawasan higiene, perusahaan, dan tempat-tempat umum.
- Aktif memperkuat kerjasama lintas sektoral
- Ikut serta dalam Puskesling dan kegiatan terpadu yang terkait
dengan kesehatan lingkungan
- Memberikan penyuluhan kesehatan
- Pengawasan penyehatan rumah
B. Kader
Kader sebagai ujung tombak terdepan dalam Upaya Kesehatan
Berbasis Masyarakat (UKBM) memegang peranan penting untuk
menggerakkan partisipasi masyarakat supaya hidup bersih dan
sehat. Salah satu tugas utama kader adalah mengupayakan agar
masyarakat desa bisa membangun rumah sehat sesuai dengan
kriteria rumah sehat. Ada lima peran (5P) kader dalam mewujudkan
Rumah Sehat, seperti berikut ini :
- Pendataan :
Melakukan pendataan rumah yang ada di wilayahnya dengan
menggunakan Kartu Rumah Sehat pada buku kader.
Pendataan bisa dilakukan secara terpadu dengan petugas
kesehatan atau pamong praja, aparat pemerintahan di wilayah
tempat tinggalnya.
- Pendekatan
Melakukan pendekatan kepada kepala desa/lurah dan tokoh
masyarakat untuk memperoleh dukungan dalam perwujudan
rumah sehat.
23

Pendekatan dilaksanakan secara personal dan persuasif guna


mendapatkan dukungan optimal yang berkelanjutan.
- Pemberdayaan
Memberdayakan keluarga untuk membangun rumah sehat
melalui penyuluhan personal, kelompok, penyuluhan massa
dan penggerakan masyarakat.
Sosialisasi kriteria rumah sehat ke seluruh warga yang ada di
desa/kelurahan melalui kelompok dasawisma.
- Pengembangan
Mengembangkan kegiatan-kegiatan yang

mendukung

terwujudnya Rumah Sehat.


Kegiatan yang dikembangkan disesuaikan dengan kreatifitas
dan kemapanan dari warga masyarakat setempat.
- Pemantauan
o Memantau kemajuan pencapaian Rumah

Sehat

di

wilayahnya setiap tahun.


o Pemantauan tersebut bisa dilaporkan secara koordinir
dengan petugas kesehatan di wilayah kerja puskesmas
setempat.

I. KERANGKA PIKIR PERENCANAAN MASALAH


1. Identifikasi Masalah

Menetapkan keadaan spesifik yang diharapkan, yang ingin dicapai,


menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja.
Kemudian mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau
mengukur hasil pencapaian. Yang terakhir membandingkan antara keadaan
nyata yang terjadi, dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau indikator
tertentu yang sudah ditetapkan.
2. Memilih Penyebab yang Paling Mungkin

24

Penyebab masalah yang paling mungkin harus dipilih dari sebabsebab yang didukung oleh data atau konfirmasi dan pengamatan.
3. Menentukan Alternatif Pemecahan Masalah
Seringkali pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari
penyebab yang sudah diidentifikasi. Jika penyebab sudah jelas maka dapat
salangsung pada alternatif pemecahan masalah.
4. Penetapan Pemecahan Masalah Terpilih
Setelah alternatif pemecahan masalah ditentukan, maka dilakukan
pemilihan pemecahan terpilih. Apabila ditemukan beberapa alternatif
maka digunakan Hanlon Kualitatif untuk menentukan/memilih pemecahan
terbaik.
5. Penyusunan Rencana Penerapan
Rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk
POA (Plan of Action atau Rencana Kegiatan).
6. Monitoring dan evaluasi
Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan
pemecahan masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan
baik dan menyangkut masalah itu sendiri, apakah permasalahan sudah
dapat dipecahkan.

1. Identifikasi
Masalah

6. Monitoring &
Evaluasi

5. Penyusunan
rencana penerapan

2. Memilih Penyebab
yang paling mungkin

3. Menentukan
alternatif pemecahan

25

4. Penetapan
pemecahan masalah
Gambar 5. Kerangka Pikir Pemecahan Masalah

J. ANALISIS MASALAH
Dalam menganalisis masalah digunakan metode pendekatan sistem
untuk mencari kemungkinan penyebab dan menyusun pendekatan-pendekatan
masalah, dari pendekatan sistern ini dapat ditelusuri hal-hal yang mungkin
menyebabkan munculnya permasalahan Kesehatan lingkungan yang tidak
memenuhi syarat di wilayah Puskesmas Borobudur I, Kecamatan Borobudur,
Kabupaten Magelang. Adapun sistem yang diutarakan disini adalah sistern
terbuka pelayanan kesehatan yang dijabarkan sebagai berikut:
INPUT
INPUT

PROSES
PROSES

OUT
OUT PUT
PUT

Man,
Man, Money,
Money, Methode,
Methode,
Material,
Material, Machine
Machine

P1,P2,P3
P1,P2,P3

Cakupan
Cakupan
Program
Program

OUTCOME
OUTCOME

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN
Fisik,
Fisik, Kependudukan,
Kependudukan, Sosial
Sosial Budaya,
Budaya, Sosial
Sosial Ekonomi,
Ekonomi, Kebijakan
Kebijakan

Gambar 6. Analisis Penyebab Masalah Dengan Pendekatan Sistem

Masalah yang timbul terdapat pada output dimana hasil kegiatan tidak
sesuai standar minimal. Hal yang penting pada upaya pemecahan masalah
adalah kegiatan dalam rangka pemecahan masalah harus sesuai dengan
penyebab masalah tersebut, berdasarkan pendekatan sistern masalah dapat
terjadi pada input, lingkungan maupun proses.
1. Analisis Penyebab Masalah
Penentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau
kepustakaan dengan curah pendapat. Untuk membantu menentukan
kemungkinan penyebab masalah dapat dipergunakan diagram fish bone.
Metode ini berdasarkan pada kerangka pendekatan sistem, seperti yang
tampak pada gambar di bawah ini:

26

INPUT
INPUT
MAN
MAN

MONEY
MONEY

METHOD
METHOD
E
E
MATERIAL
MATERIAL

MACHINE
MACHINE

MASALA
MASALA
H
H

P1
P1

P3
P3

P2
P2
LINGKUNGA
LINGKUNGA
N
N

PROSES
PROSES

Gambar 7. Diagram fish bone

2. Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah


Setelah melakukan analisis penyebab maka langkah selanjutnya
yaitu menyusun alternatif pemecahan masalah.
3. Penentuan

Pemecahan

Masalah

Dengan

Kriteria

Matriks

Mengunakan Rumus M x I x V/C


Setelah

menemukan

alternatif

pemecahan

masalah,

maka

selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah.


Penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan
menggunakan metode kriteria matriks MxIxV/C. Berikut ini proses
penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan
metode kriteria matriks:
1.

Magnitude (M) adalah besarnya penyebab masalah dari pemecahan


masalah yang dapat diselesaikan. Makin besar (banyak) penyebab
masalah yang dapat diselesaikan dengan pemecahan masalah,
maka semakin efektif.

27

2.

Importancy (I) adalah pentingnya cara pemecahan masalah. Makin


penting cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah,
maka semakin efektif.

3.

Vulnerability (V) adalah sensitifitas cara penyelesaian masalah.


Makin sensitif bentuk penyelesaian masalah, maka semakin
efektif.

4.

Cost (C) adalah perkiraan besarnya biaya yang diperlukan untuk


melakukan pemecahan masalah. Masing-masing cara pemecahan
masalah diberi nilai 1-5.

Tabel 1. Kriteria Matriks


Magnitude

Importancy

Vulnerability

Cost

1 = Tidak magnitude

1 = Tidak penting

1 = Tidak sensitif

1 = Sangat murah

2 = Kurang magnitude
3 = Cukup magnitude
4 = Magnitude
5 = Sangat magnitude

2 = Kurang penting
3 = Cukup penting
4 = Penting
5 = Sangat penting

2 = Kurang sensitif
3 = Cukup sensitif
4 = Sensitif
5 = Sangat sensitif

2 = Murah
3 = Cukup murah
4 = Mahal
5 = Sangat mahal

4. Pembuatan Plan of Action dan Gann Chart

Setelah melakukan penentuan pemecahan masalah maka selanjutnya


dilakukan pembuatan plan of action serta Gann Chart, hal ini bertujuan
untuk menentukan perncanaan kegiatan.
BAB III
ANALISIS MASALAH
Indikator merupakan alat yang paling efektif untuk melakukan monitoring
dan evaluasi. Indikator adalah variabel yang menunjukkan / menggambarkan
keadaan dan dapat digunakan untuk mengukur terjadinya perubahan.
Berdasarkan data sekuder yaitu data SPM Puskesmas Borobudur ,warga
yang memanfaatkan jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Borobudur
memiliki cakupan 84%, dimana target Dinkes adalah 75% sehingga dapat
disimpulkan

tidak menjadi masalah. Namun, berdasarkan data sekunder

pemegang program kesehatan lingkungan puskesmas Borobudur ditemukan di

28

desa Tuksongo didapatkan jumlah penduduk yang memanfaatkan jamban sehat


yang lebih rendah dari target.

Hal ini tentu masih menjadi masalah yang harus

dicari penyebab dan upaya penyelesaiannya


Cakupan jamban sehat ini diperoleh dari data primer yang berasal dari
hasil inspeksi penduduk dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo, Kecamatan
Borobudur, dengan kriteria dari Depkes juga kriteria dari puskesmas.
Pengambilan data primer dilaksanakan pada tanggal 30 Januari 2015 dan 31
Januari 2015. Jumlah sasaran inspeksi sanitasi ini adalah 30 KK di Dusun
Tuksongo 1, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Berdasarkan hasil inspeksi, pengambilan responden dilakukan pada 30
KK. Pengambilan data dilakukan dengan mendatangi rumah responden dan
dilakukan wawancara serta pengisian kuesioner. Kuesioner dibuat dengan
pertanyaan meliputi ketersediaan jamban serta jamban yang memenuhi syarat
kesehatan.

a. Data berdasarkan SPM Puskesmas Borobudur Januari Desember 2014


Tabel 1. Data SPM Puskesmas Borobudur januari-Desember
2014

Besar Cakupan =

Jamban yang memenuhi syarat yang


dimanfaatkan
Jumlah jamban yang diawasi

x
100%

29

Besar Cakupan =

146

100

174
= 84 %
Dari data SPM Puskesmas Borobudur, besarnya cakupan penduduk yang
memanfaatkan jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Borobudur adalah 84%.
Hasil tersebut memenuhi target Dinkes 2014 yaitu sebesar 75%.
Jumlah pencapaian penduduk yang memanfaatkan jamban sehat di wilayah kerja
puskesmas Borobudur adalah
Besar Cakupan

Pencapaian =

x 100
Target

=
=

84%
x 100%
75 %
111,88 %

Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan skor pencapaian jamban sehat


di Dusun Tuksongo 1 kurang dari 100% yaitu sebesar 62,23 %, sehingga menjadi
masalah.
b.

Data kepemilikan jamban di wilayah kerja Puskesmas Borobudur

Tabel 2 Data keluarga dengan kepemilikan jamban tahun 2014

No

1
2
3
4

Desa

Giripurno
Giritengah
Tuksongo
Majaksingi

Jumlah
KK
626
956
874
776

Jumlah
RMH
617
906
836
717

Jumlah
Jiwa
2296
3282
3141
2763

Jumlah Sarana
Jamban Tidak
Sehat
143
172
105
123

Jumlah

cakupan

Jamban
Sehat

151
293
180
431

294
465
285
554

30

51%
63%
63%
78%

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kenalan
Bigaran
Sambeng
Candirejo
Ngargogondo
Wanurejo
Borobudur
Tanjungsari
Karanganyar
Karangrejo
Ngadiharjo
Kebonsari
Tegalarum
Kembanglimus
Ringinputih
Bumiharjo
Jumlah

417
314
370
1209
451
1172
2290
344
485
672
1362
503
640
512
1484
519
15976

395
314
332
1134
451
1036
2190
340
474
672
1296
501
577
512
1338
519
15157

1365
1312
1352
4188
1630
3826
8011
1165
1613
2541
4527
1880
2132
1859
5041
1931
55855

52
41
53
108
43
95
175
30
64
92
285
82
46
41
26
42
1818

174
66
175
467
118
705
694
137
189
334
427
239
429
237
297
441
6184

226
107
228
575
161
800
869
167
253
426
712
321
475
278
323
483
8002

Cakupan kepemilikan jamban desa Tuksongo adalah 63%, dimana target Dinkes
adalah 75%, sehingga hal ini menjadi masalah karena angka tersebut dibawah
terget.
C. Data keluarga dengan kepemilikan jamban dusun Tuksongo 1
Tabel 3 . Data keluarga dengan kepemilikan jamban dusun Tuksongo 1 tahun 2015

Ketersediaan

Jumlah KK

Jamban
ada
101 KK
Tidak ada
22 KK
Ada
dan 70 KK

persen
82%
18%
57%

memenuhi syarat
Jamban yang memenuhi syarat yang
dimanfaatkan
Jumlah jamban yang diawasi

Besar Cakupan =

Besar Cakupan =

70

x
100%

X 100 %

101
31

77%
62%
77%
81%
73%
88%
80%
82%
75%
78%
60%
74%
90%
85%
92%
91%
77%

= 69,3%
Dari hasil perhitungan, besarnya cakupan penduduk yang memanfaatkan
jamban sehat di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo adalah 69,3%. Hasil tersebut
dibawah dari target Dinkes 2014 yaitu sebesar 75%.
Jumlah pencapaian penduduk yang memanfaatkan jamban sehat di Dusun
Tuksongo 1, Desa Tuksongo adalah:
Besar Cakupan

Pencapaian =

x 100
Target

=
=

69,3%
x 100%
75 %
92,4 %

Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan skor pencapaian jamban sehat


di Dusun Tuksongo 1 kurang dari 100% yaitu sebesar 62,23 %, sehingga menjadi
masalah.
D.Hasil inspeksi sanitasi
Pengambilan data untuk mencari masalah dilakukan dengan
mendatangi rumah responden dan dilakukan wawancara serta pengisian
kuesioner. Kuesioner dibuat dengan pertanyaan meliputi ketersediaan
jamban serta jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Jumlah keluarga
yang dilakukan inspeksi sanitasi sebanyak 30 rumah, didapatkan hasil
sebagai berikut:
Tabel 4. Ketersediaan Jamban di Dusun Tuksongo 1 Desa Tuksongo

Ketersediaan Jamban

Jumlah

Persen (%)

Ada

30

30

Tidak Ada

32

Total

30

100

Berdasarkan tingkat resiko untuk mencemari lingkungan, nilai ringan dan


sedang termasuk kriteria jamban memenuhi syarat dengan kata lain jamban
sehat.

Tabel 5. Inspeksi Sanitasi Jamban

NO
1
2
3

4
5

Nilai
Apakah penampungan akhir kotoran /
jamban berjarak kurang dari 10 meter dari
sumer air?
Apakah penutup sumur resapan jamban
(penampungan akhir kotoran) tidak kedap
air?
Apakah konstruksi jamban
memungkinkan binatang penyebar
penyakit menjamah kotoran di dalam
jamban?
Apakah jamban menimbulkan bau?
Apakah jamban tidak selalu terjaga
kebersihannya?

Kriteria
A. Ya
B. Tidak

Nilai
A. 3
B. 0

A. Ya
B. Tidak

A. 3
B. 0

A. Ya
B. Tidak

A. 3
B. 0

A. Ya
B. Tidak
A. Ya

A. 1
B. 0
A. 2

B. Tidak

B. 0

Keterangan:
Tingkat Resiko untuk mencemari lingkungan
Nilai ya = 0-2 = R

: Ringan

: Jamban memenuhi syarat (jamban sehat)

Nilai ya = 3-4 = S

: Sedang

: Jamban memenuhi syarat (jamban sehat)

Nilai ya = 5-8 = T

: Tinggi

: Jamban tidak memenuhi syarat (jamban


tidak sehat)

Nilai ya = 9-12= AT : Amat tinggi : Jamban tidak memenuhi syarat (jamban


tidak sehat)
Tabel 6. Inspeksi Jamban berdasarkan tingkat resiko untuk mencemari lingkungan di
Dusun Tuksongo 1

33

NO

KRITERIA
Jarak lubang
kotoran ke sumur
<10 meter
Penampung
kotoran tidak
kedap air
Konstruksi
jamban
memungkinkan
binatang
menjamah
kotoran
Menimbulkan
bau
Tidak terjaga
kebersihannya
SKOR

1
2

3
4
5

TINGKAT
PENCEMARAN

NO

KRITERIA

Jarak lubang
kotoran ke
sumur <10
1
meter
Penampung
kotoran tidak
2
kedap air
Konstruksi
jamban
memungkinka
n binatang
menjamah
3
kotoran
Menimbulkan
4
bau
Tidak terjaga
5
kebersihannya
SKOR
TINGKAT
PENCEMARAN

KK
10

11

12

20

21

22

23

24

13

14

15

16

17

KK
18 19

34

NO

KRITERIA
Jarak lubang
kotoran ke sumur
<10 meter
Penampung
kotoran tidak
kedap air
Konstruksi
jamban
memungkinkan
binatang
menjamah
kotoran
Menimbulkan
bau
Tidak terjaga
kebersihannya
SKOR

1
2

3
4
5

TINGKAT
PENCEMARAN

KK
25

26

27

28

29

30

Tabel 7. Ketersediaan Jamban Memenuhi Syarat berdasarkan ketersediaan jamban di


Dusun Tuksongo 1

Tingkat Resiko untuk mencemari


lingkungan
Ringan (R)
Sedang (S)
Tinggi (T)
Amat Tinggi (AT)

Jumlah jamban

Persentase (%)

1
15
14
0

7,5%
57,5%
35%

Tabel 8. Rekapitulasi Inspeksi Jamban berdasarkan tingkat resiko untuk mencemari


lingkungan di Dusun Tuksongo 1

NO
1
2
3

Nilai
Apakah penampungan akhir
kotoran / jamban berjarak kurang
dari 10 meter dari sumber air?
Apakah penutup sumur resapan
jamban (penampungan akhir
kotoran) tidak kedap air?
Apakah konstruksi jamban
memungkinkan binatang penyebar
penyakit menjamah kotoran di
dalam jamban?
Apakah jamban menimbulkan bau?

Kriteria
A. Ya
B. Tidak

Jumlah
A.17
B. 23

Persen
A. 42,52%
B. 57,48%

A. Ya
B. Tidak

A. 11
B. 29

A. 27,5%
B. 72,5%

A. Ya
B. Tidak

A. 10
B. 30

A. 25 %
B. 75 %

A. Ya

A. 7

A. 17,5 %

35

B. 33
A. 15
B. 25

B. 82,5%
A. 59,09%
B.62,5 %

Jumlah

Persentase

Memiliki jamban yang memenuhi syarat

16

53,33%

Memiliki jamban yang tidak memenuhi syarat

14

46,67%

30

100%

Apakah jamban tidak selalu terjaga


kebersihannya?

B. Tidak
A. Ya
B. Tidak

Tabel 9. Jumlah rumah yang memiliki jamban di Tuksongo 1

Indikator

TOTAL

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa cakupan penduduk Dusun


Tuksongo 1, Desa Tuksongo yang memiliki jamban yang memenuhi syarat
sanitasi yaitu 53,3 %, dan penduduk yang memiliki jamban namun tidak
memenuhi syarat sebesar 46,67%. Jumlah cakupan penduduk yang memanfaatkan
jamban di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo adalah:

Besar Cakupan =

Jamban yang memenuhi syarat yang dimanfaatkan


Jumlah jamban yang diawasi
14
30

=
=

x 100

x 100%

46,67%

Dari hasil perhitungan, besarnya cakupan penduduk yang memanfaatkan


jamban sehat di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo adalah

46,67%. Hasil

tersebut jauh dari target Dinkes 2014 yaitu sebesar 75%.


Jumlah pencapaian penduduk yang memanfaatkan jamban sehat di Dusun
Tuksongo 1, Desa Tuksongo adalah:

Pencapaian =

Besar Cakupan
x 100
Target

36

=
=

46,67%
x 100%
75 %
62,23 %

Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan skor pencapaian jamban sehat


di Dusun Tuksongo 1 kurang dari 100% yaitu sebesar 62,23 %, sehingga menjadi
masalah.

37

BAB IV
KERANGKA PENELITIAN
A.

KERANGKA TEORI
INPUT
Man:
Petugas
Kesehatan
Lingkungan Puskesmas Salaman I
dan Kader Kesehatan Lingkungan
Money: Dana Operasional
Methode: Inspeksi, wawancara,
pengisian
kuesioner,
dan
penyuluhan mengenai jamban sehat
Material: Kendaraan operasional
bagi Petugas Kesehatan Lingkungan
dan kamera
LINGKUNGAN

PROSES
P1 : Perencanaan dan
penjadwalan pengawasan serta
sosialisasi pemanfaatan jamban
sehat oleh petugas kesehatan

Cakupan
penduduk yang
memanfaatkan
jamban sehat

P2 : Pelaksanaan peninjauan dan


penyuluhan pemanfaatan
jamban sehat

Machine:

Blanko inspeksi
dan masyarakat
Pengetahuan
P3 :mengenai
Evaluasi kegiatan yang telah
jamban
sehat
Blanko kuesioner
dilakukan
Perilaku masyarakat dalam
menggunakan jamban
Dana masyarakat untuk membuat
jamban sehat sendiri
Kondisi tanah yang tidak memungkinan
untuk
membuat
jamban
Gambar
9. Kerangka
Teorisehat
Penelitian Tentang Cakupan
Pemanfaatan Jamban Sehat
38
Gambar 8. Kerangka Teori Tentang Pemanfaatan Jamban Sehat

B.

KERANGKA KONSEP

Faktor Lingkungan:
Pengetahuan warga dusun
tentang jamban sehat dan
manfaat jamban sehat
Perilaku
warga
dusun
tentang jamban sehat

Faktor petugas kesehatan lingkungan:


Jumlah petugas kesehatan
lingkungan
Peran petugas kesehatan lingkungan
dalam memberikan informasi aktif
tentang syarat-syarat jamban sehat
Pembuatan jadwal dan
pelaksanaan inspeksi dan
penyuluhan
Pencatatan dan pelaporan hasil
inspeksi
Penyuluhan mengenai informasi
jamban sehat, manfaat jamban sehat
dan mengenai akibat jika tidak
menggunakan jamban sehat
Evaluasi kegiatan yang dilakukan

Cakupan penduduk yang


memanfaatkan jamban sehat di Dusun
Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur, Magelang
Gambar 9. Kerangka Konsep Penelitian Tentang Cakupan
Pemanfaatan Jamban Sehat

39

BAB V
METODE PENELITIAN
A. JENIS DATA YANG DIAMBIL
Pengumpulan data dilakukan di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, pada tanggal 30 Januari 2015
dan 31 Januari 2014. Jenis data adalah data primer dan sekunder.
1. Data Primer, diperoleh dari daftar pertanyaan (kuesioner) yang
diberikan kepada responden sebanyak 40 rumah yang jambannya tidak
memenuhi syarat tentang pengetahuan dan perilaku jamban sehat
disusun sebelumnya sesuai tujuan survey yang dilakukan.
2. Data sekunder didapat dari data Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Puskesmas Borobudur dan laporan bulanan pemegang program bagian
kesehatan lingkungan Puskesmas Borobudur.
Data yang diperoleh dianalisis dilakukan analisis masalah secara
deskriptif dan mencari kemungkinan penyebabnya melalui pendekatan system
dengan metode cross sectional, meliputi input (man, money, methode,
machine, material), proses (Perencanaan/P1, Penggerak Pelaksanaan/P2,
Penilaian Pengawasan Pengendalian/P3), serta lingkungan dengan tujuan
mengetahui penyebab masalah melalui diagram Fish Bone. Kemudian
ditentukan prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan kriteria
matriks dengan rumus M.I.V/C. Selanjutnya menyusun rencana kegiatan
berdasarkan masalah yang terpilih.
B. BATASAN JUDUL
Laporan kegiatan dengan judul Rencana Peningkatan Cakupan
Penduduk yang Memanfaatkan Jamban Sehat di Dusun Tuksongo 1, Desa
Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Evaluasi Manajemen

40

Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Borobudur. Periode Januari


Desember 2014 mempunyai batasan pengertian judul sebagai berikut:
1. Rencana
Rencana adalah proses pemikiran ke depan
2. Peningkatan
Peningkatan adalah proses meningkatkan
3. Cakupan
Adalah batasan suatu masalah
4. Rumah tangga yang memanfaatkan jamban
Adalah penduduk di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo yang memanfaatkan
jamban yang memenuhi syarat sanitasi

5. Jamban Sehat
Adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran
manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher
angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit
penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya, serta memenuhi
syarat kesehatan dari Kementerian Kesehatan.
6. Dusun Tuksongo 1
Adalah salah satu dusun yang terletak di Desa Tuksongo
7. Desa
Desa Tuksongo merupakan salah satu desa dari 20 desa yang berada dalam
wilayah kerja Puskesmas Borobudur.
8. Kecamatan Borobudur
Kecamatan Borobudur adalah salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten
Magelang.
9. Kabupaten Magelang
Kabupaten Magelang adalah salah satu kabupaten di wilayah Provinsi
Jawa Tengah.
10. Evaluasi

41

Evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian


nilai, atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian
solusi-solusi atas permasalahan yang ditemukan.
11. Manajemen
Pengaturan sumber daya agar tercapai tujuan yang di harapkan
penggunaan secara efektif untuk mencapai sasaran.
12. Program Kesehatan Lingkungan
Adalah salah satu program puskesmas Borobudur yang bertujuan untuk
mengatasi masalah berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan
pemukiman yang dilaksanakan oleh petugas puskesmas bersama
masyarakat yang dapat dilaksanakan secara pasif dan aktif di dalam dan
luar puskesmas.
13. Puskesmas Borobudur
Puskesmas Borobudur adalah salah satu puskesmas di wilayah kabupaten
Magelang
14. Periode Januari Desember 2014
Adalah periode waktu yang digunakan untuk melakukan evaluasi
mengenai cakupan penduduk yang memanfaatkan jamban yang memenuhi
syarat sanitasi.

C. BATASAN DAN DEFINISI OPERASIONAL


1.

Batasan Operasional
Adapun batasan operasional dalam hal ini adalah sebagai berikut :
Kepala Keluarga (KK) yang memanfaatkan jamban tidak sehat
dengan nilai tingkat pencemaran lingkungan yang tinggi dan amat tinggi.

2.

Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan definisi secara aplikatif /
operasional dari variabel-variabel yang ada di dalam kerangka konsep.
Dalam definisi operasional ini disebutkan cara pengukuran masing-masing
variabel (bila memang bisa diukur).
Sasaran adalah warga (subjek) dan jamban (objek) di Dusun
42

Tuksongo 1, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten


Magelang.
Cakupan adalah persentase hasil perbandingan antara jumlah
jamban yang memenuhi syarat jamban sehat yang dimanfaatkan dengan
jumlah seluruh jamban yang diperiksa di Dusun Tuksongo 1, Desa
Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang

melakukan

penginderaan

terhadap

suatu

objek

tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra


penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan
(knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara
langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui
(subjek) memilliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri
sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui
pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif. Kedalaman pengetahuan yang
ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatantingkatan di atas.
Tingkat pengetahuan baik bila skor 81%-100%
Tingkat pengetahuan cukup bila skor 65%-80%
Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 65%
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat
diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan dengan wawancara dan angket
tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden.
Perilaku baik bila skor 81% - 100%
Perilaku cukup bila skor 65% - 80%
Perilaku kurang bila skor < 60%
Jamban sehat adalah jamban yang memiliki kriteria tingkat pencemaran
lingkungan rendah dan sedang dimana meliputi tidak mencemari air, tidak
mencemari tanah permukaan, bebas dari serangga, tidak menimbulkan

43

bau dan nyaman digunakan, aman digunakan oleh pemakainya, mudah


dibersihkan, tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya, dan tidak
menimbulkan pandangan yang kurang sopan.
Dana adalah uang yang dimiliki seseorang yang didapat dari
penghasilan guna untuk pembangunan. Penduduk Dusun Tuksongo 1
memiliki masalah dana untuk membuat jamban sehat. Data ini didapatkan
dari hasil wawancara pendapatan responden.
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga
masyarakat tidak saja sadar, tahu, dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa
melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.
Penyuluhan tentang informasi jamban sehat kepada warga Dusun
Tuksongo 1 diberikan oleh petugas kesehatan.
Peran petugas kesehatan lingkungan adalah menyusun rencana kegiatan
unit kesehatan lingkungan, penyuluhan dan peran serta masyarakat
berdasarkan data program puskesmas dan ketentuan perundang-undangan
yang

berlaku;

Melaksanakan

kegiatan

kesehatan

lingkungan;

Mengevaluasi hasil kegiatan serta membuat laporan kegiatan.


D. RUANG LINGKUP KEGIATAN
1. Lingkup

lokasi:

Dusun Tuksongo1,

Desa Tuksongo,

Kecamatan

Borobudur, Kabupaten Magelang.


2. Lingkup waktu: Januari Desember 2014
3. Lingkup sasaran: 40 Kepala Keluarga yang memanfaatkan jamban di
Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo
4. Lingkup metode: Kuesioner, wawancara, pencatatan, dan pengamatan
5. Lingkup materi: Evaluasi cakupan penduduk yang menggunakan jamban
sehat di dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur,
Kabuaten Magelang

44

E. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI


Kriteria Inklusi
KK yang bertempat tinggal di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur, yang memiliki jamban yang tidak memenuhi
syarat sanitasi, yang bersedia diwawancara dan berada di tempat.
Kriteria Ekslusi
a. KK yang bertempat tinggal di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur, yang memiliki jamban yang tidak
memenuhi syarat sanitasi dan tidak memiliki jamban, yang tidak
bersedia diwawancara saat dilakukan survey.
b. KK yang bertempat tinggal di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur, yang memiliki jamban yang tidak
memenuhi syarat sanitasi dan tidak memiliki jamban dan tidak ada
di tempat saat dilakukan survey.
c. KK yang bertempat tinggal di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur, yang memiliki jamban sehat.
d. KK yang bertempat tinggal di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur yang tidak memiliki jamban

BAB VI

45

HASIL PENELITIAN
Data Umum Desa Tuksongo
A. Keadaan Geografis
1. Letak Wilayah
Desa Tuksongo secara administratif termasuk dalam wilayah kecamatan
Borobudur, Kabupaten Magelang, terletak di arah Selatan Kabupaten
Magelang, terdiri dari 7 dusun dan terdiri dari 20 RT dan 6 RW, nama-nama
dusun tersebut adalah Kesuman I , Kesuman II, Puton , Tuksongo I,
Tuksongo II, Ganjuran I, Ganjuran II.
2. Batas Wilayah
Wilayah Desa Tuksongo dibatasi oleh :
Sebelah Utara
: Desa Borobudur
Sebelah Selatan
: Desa Majaksingi
Sebelah Barat
: Desa Tanjungsari dan Desa GiriTengah
Sebelah Timur
: Desa Ngargogondo
3. Luas Wilayah
Luas Wilayah Desa Tuksongo adalah 228,44 Ha.
B. Keadaan Demografi
1. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Desa Tuksongo tahun 2013 adalah 3.320 jiwa.
Laki-laki berjumlah 1.665 jiwa, sedangkan untuk Perempuan berjumlah
1.655. Jumlah KK miskin 535 KK.

2. Data Penduduk
Daftar tabel dibawah ini memberikan gambaran jumlah penduduk
Desa Tuksongo menurut jenis kelamin, usia, mata pencaharian, dan
pendidikan.

46

Tabel 8. Jumlah penduduk Desa Tuksongo menurut jenis kelamin


Jumlah

Penduduk
Kesuman I
Kesuman II
Puton
Tuksongo I

P
184
216
324
306
274
172
179
1655

191
224
331
279

Tuksongo II
Ganjuran I
Ganjuran II

Total

Kepala

375
440
655
585
549
351
365
3320

Keluarga
124
21
212
160
190
110
125
1042

275
179
186
1665
(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Tuksongo , tahun 2013)

Dengan data lebih rinci penduduk Desa Tuksongo dikelompokkan sebagai


berikut :
Tabel 9. Jumlah Penduduk Desa Tuksongo berdasarkan usia
no

Nama

0-4

5-9

dusun

10-

15-

20-

25-

30-

40-

50-

14

19

24

29

39

49

59

>60

jumlah

Kesuman
I

27

34

27

25

56

27

35

42

42

60

375

Kesuman
II

32

54

28

32

36

47

55

61

56

39

440

Puton

40

30

43

70

93

115

80

80

50

27

628

Tuksongo
I

33

66

82

42

60

57

88

71

44

42

585

Tuksongo
II

30

20

54

46

76

120

79

82

43

29

379

Ganjuran
I

21

31

23

32

25

23

49

64

33

17

248

Ganjuran
II

32

34

39

23

43

44

37

35

30

48

365

Jumlah

215 269

296

270

389

433

423

435 298

292

3320

47

Tabel 10. Jumlah KK miskin


Nama dusun

Jumlah KK

Jumlah KK Miskin

Kesuman I

124

99

Kesuman II

121

79

Puton

212

150

Tuksongo I

160

45

Tuksongo II

190

83

Ganjuran I

110

40

Ganjuran II

125

39

Jumlah

1042

535

(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Tuksongo, tahun 2013)

3. Sarana Kesehatan

Puskesmas induk

: 1 buah

Polindes

: 1 buah

PKD

: 1 buah

Bidan desa

: 1 orang di 7 dusun ( dusun Kesuman I,

Kesuman II, Puton, Tuksongo I, Tuksongo II, Ganjaran I, Ganjaran II)

Posyandu

: 8 tempat

4. Fasilitas Umum

TPQ/ TPA

: 21 buah

48

TK PAUD

: 2 tempat

SD/ MI

: 2 tempat

SLTP/MTs

SLTA

: - tempat
: - tempat

PETA DESA TUKSONGO

49

Gambar 10 : peta wilayah Desa Tuksongo


DATA KHUSUS DUSUN TUKSONGO I
A. Keadaan Geografis
1. Letak Wilayah
Dusun Tuksongo I secara administratif termasuk dalam wilayah desa
Tuksongo kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, terletak di arah
Selatan Kabupaten Magelang, terdiri dari terdiri dari 3 RT dan 1 RW.
2. Batas Wilayah
Wilayah Desa Tuksongo dibatasi oleh :
Sebelah Utara
: Desa Borobudur
Sebelah Selatan
: Desa Majaksingi
Sebelah Barat
: Desa Tanjungsari dan Desa GiriTengah
Sebelah Timur
: Desa Ngargogondo
3. Luas Wilayah
Luas Wilayah Desa Tuksongo adalah 228,44 Ha.
B. Keadaan Demografi
1. Jumlah Penduduk

50

Jumlah penduduk Dusun Tuksongo I tahun 2013 adalah 549 jiwa.


Laki-laki berjumlah 275 jiwa, sedangkan untuk Perempuan berjumlah 306.
Terdiri dari 160 KK dengan jumlah KK miskin 45 KK.

2. Data Penduduk
Daftar tabel dibawah ini memberikan gambaran jumlah penduduk
Desa Tuksongo menurut jenis kelamin dan usia.
Tabel 11. Jumlah penduduk Dusun Tuksogo I menurut jenis kelamin
Jumlah

Total

Kepala

Penduduk
Keluarga
Tuksongo I
279
306
585
160
(Sumber : Data Statistik Kantor Desa Tuksongo , tahun 2013)
Tabel 12. Jumlah penduduk dusun Tuksongo I menurut umur
RANGE USIA

JUMLAH

0-4 tahun

33

5-9 tahun

66

10-14 tahun

82

15-19 tahun

42

20-24 tahun

60

25-29 tahun

57

30-39 tahun

88

40-49 tahun

71

>60 tahun

42

Total

585

A. HASIL WAWANCARA
Hasil Wawancara dengan Petugas Kesling

51

Tabel dibawah ini merupakan hasil wawancara dengan petugas Kesehatan


Lingkungan di Puskesmas Borobudur yaitu Bapak Joko Susiantono, ST yang
dilakukan pada hari Selasa, 3 Februari 2015 di Puskesmas Borobudur I.
Tabel 13. Hasil wawancara Input
No
Pertanyaan
1.

Man

Jawaban

Berapa jumlah tenaga


kesehatan yang terlibat dalam
program Pemanfaatan jamban
sehat?

1 Petugas Koordinator
Kesehatan Lingkungan

Berapa jumlah kader kesehatan


lingkungan?

Tidak
terdapat
kader
kesehatan lingkungan

Apakah ada kader khusus yang


menangani program
Pemanfaatan jamban?

Tidak ada.

Apakah ada pembinaan kader?

Tidak ada

Money

Dari manakah sumber dana


untuk program pemanfaatan
jamban sehat?

Dari pemerintah
bentuk APBD.

Method

Bagaimana Anda mengetahui


seberapa jauh masyarakat
memanfaatkan jamban sehat?

Melalui pengamatan dan


wawancara dengan cara
kunjungan ke masyarakat
untuk dilakukan pendataan.
Ya,
sudah
melakukan.
Penyuluhan
langsung
kepada
pemilik
rumah
mengenai jamban yang
memenuhi syarat kesehatan
saat pendataan.

Bagaimana cara penyuluhan


pemanfaatan jamban dilakukan
dan apakah anda sudah
melakukan penyuluhan
tersebut?
4

Material

Machine

dalam

Dimana penyuluhan mengenai


pemanfaatan jamban sehat
dilakukan?

Di lapangan. Penyuluhan
dilakukan
bersamaan
kepada masyarakat saat
dilakukannya
inspeksi
jamban sehat

Apakah terdapat kendaraan


operasional untuk petugas
Kesehatan Lingkungan?

Terdapat 1 sepeda motor


namun
untuk
bensin
menggunakan biaya sendiri

Apakah ada buku untuk

Ada, Buku data sanitasi

52

melakukan pencatatan
pemanfaatan jamban sehat?

Tabel 14. Hasil wawancara Proses


No
Pertanyaan
1
P1
Apakah ada jadwal untuk

dasar yang dibuat oleh


koordinator
Kesehatan
Lingkungan
untuk
memudahkan pencatatan

Jawaban
Untuk pengawasan jamban

pengawasan dan penyuluhan

atau inspeksi jamban

mengenai pemanfaatan jamban

dilakukan setiap hari.

sehat?

Namun, untuk penyuluhan


tidak ada jadwal khusus.
Penyuluhan biasa diberikan
bersamaan dengan saat
inspeksi jamban atau
berkoordinasi dengan
program lain untuk
pemberian penyuluhan.

P2

Kapan dilakukan penyuluhan

Saat pendataan berlangsung,

dan pendataan pemanfaatan

petugas sanitarian langsung

jamban sehat?

memberikan penyuluhan
tentang jamban sehat.

P3

Bagaimana cara melakukan

Terdapatnya pencatatan

evaluasi pemanfaatan jamban

rutin setiap bulan dari kader

sehat?

kesehatan lingkungan pada


buku data

B. HASIL SURVEI
1. Hasil Survei Penyebab Masalah
Kuesioner terdiri dari beberapa pertanyaan. Kuesioner penyebab masalah
yaitu mencari penyebab mengapa banyak rumah penduduk yang tidak memiliki

53

jamban yang memenuhi syarat sanitasi. Kuesioner dilakukan pada 40 rumah di


Dusun Tuksongo 1.
2. Kuesioner Penyebab Masalah
Dilakukan penyebaran kuesioner untuk mencari penyebab masalah pada
tanggal 30 Januari 2014 dan 31 Januari 2014 kepada 40 responden yang bertempat
tinggal di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo. Pertanyaan terdiri atas pertanyaan
mengenai pengetahuan tentang jamban sehat, perilaku menggunakan jamban
sehat, dan penyebab masalah lain.
a. Kuesioner Pengetahuan tentang Jamban Sehat
Kuesioner terdiri dari 9 pertanyaan yang dibuat berdasarkan kriteria
penilaian jamban sehat untuk mengukur pengetahuan responden tentang jamban
sehat. Untuk setiap pertanyaan dengan jawaban Ya diberi nilai 1 (satu),
sedangkan untuk jawaban Tidak diberi nilai 0 (nol). Nilai dari jawaban setiap
responden dijumlahkan, kemudian dipersentasekan untuk mengetahui seberapa
besar tingkat pengetahuan responden, penilaian:
Tingkat pengetahuan baik bila skor 81%-100%
Tingkat pengetahuan cukup bila skor 65%-80%
Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 65%
Tabel 15. Kuesioner Pengetahuan tentang Jamban Sehat

NO
1

PERTANYAAN
Apakah Anda tahu apa itu jamban sehat?

Apakah menurut Anda jamban itu penting?

Dimanakah Anda sebaiknya BAB?

JAWABAN

NILAI

A. Ya

A. 1

B. Tidak
A. Ya
B. Tidak
A. Jamban
B. Sungai
C. Kolam
D. Kebun
E. Dimana
saja

B. 0
A. 1
B. 0
A. 1
B. 0
C. 0
D. 0
E. 0

54

5
6
7
8
9

Apakah Anda tahu jika BAB di


sungai/kolam/kebun dapat mencemari
lingkungan dapat menimbulkan penyakit?
Apakah Anda tahu cara membangun jamban
sehat?
Apakah Anda tahu jarak ideal antara sumber air
dan jamban?

A. Ya

A. 1

B. Tidak

B. 0

A. Ya
B. Tidak
A. Ya

A. 1
B. 0
A. 1

B. Tidak

B. 0

Pada kondisi tanah berlereng, apakah Anda tahu


letak jamban itu harus lebih rendah dari sumber
air?
Apakah menurut Anda lantai jamban perlu
diplester?

A. Ya

A. 1

B. Tidak

B. 0

A. Ya
B. Tidak

A. 1
B. 0

Apakah menurut Anda jamban itu perlu


memiliki dinding, atap, dan pintu?

A. Ya
B. Tidak

A. 1
B. 0

Tabel 16. Hasil Survei Kuesioner Pengetahuan tentang Jamban Sehat


Jumlah
No.

JAWABAN
KK

3 4

7 8

Skor

Kriteria

Nuryanto

1 0

0 1

66.7%

Cukup

Muhadi

1 0

0 1

44.4%

Kurang

muryadi

1 0

0 1

44.4%

Kurang

Kominah

1 1

0 1

77.7%

Cukup

Samyudi

1 0

0 1

77.7%

Cukup

Budiatmo

1 0

0 1

44.4%

kurang

Muhrofik

1 0

0 0

33.3%

Kurang

Nursodiq

0 1

0 1

33.3%

Kurang

9 1 Sunadi

1 0

44.4%

Kurang

10

Sudarman

1 1

0 1

55.66%

Kurang

11

Nur
rohmah

1 1

0 1

88.9%

Baik

12

Badiyah

1 0

0 1

44,44

Kurang

55

13

Sarmono

1 1

0 0

66,67%

Cukup

14

Muhadi

1 0

0 1

44.4%

kurang

Keterangan:

KK= Kepala Keluarga

P = Pertanyaan

Tabel 17. Rekapitulasi Tingkat Pengetahuan Jamban Sehat


Tingkat Pengetahuan
81% - 100%
65% - 80%

Jumlah Responden
1
4

Persentase
7,14%
28,58%

< 65%

64,28

TOTAL

40

100,00%

Kriteria
Baik
Cukup
Kurang

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan warga


Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo mengenai jamban yang sehat masih kurang
yaitu sebanyak 64,28%.
b. Kuesioner Perilaku tentang Jamban Sehat
Kuesioner terdiri dari 7 pertanyaan yang dibuat untuk menilai perilaku
menggunakan jamban sehat dari warga Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo,
Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang
Tabel 18. Hasil Survei Kuesioner Perilaku tentang Jamban Sehat

NO
Perilaku Penghuni
1 Seperti apa bentuk jamban
Anda?

2
3
4

Jika bukan leher angsa, apakah


menggunakan penutup?
Berapa jarak jamban Anda ke
sumber air?
Apakah jamban Anda diplester,
memiliki dinding, atap, dan
pintu?

Kriteria
A. Leher
angsa
B. Bukan
leher angsa
A. Ya

Jumlah Persentase
A. 14
A. 100%
B. 0

B. 0%

A. 0

A. 0%

B. Tidak

B. 0

B. 0%

A. < 10 m
B. > 10 m
A. Ya
B. Tidak

A.11
B. 3
A. 10
B. 4

A. 78,5 %
B. 21,4 %
A. 71,43%
B. 28,57%

56

Setiap berapa lama Anda


membersihkan jamban?

Dimana Anda biasanya BAB?

A. Setiap hari
B. Seminggu
sekali
C. Sebulan
sekali
D. Tidak
tentu
A. Jamban
B. Sungai
C. Kolam
D. Kebun

A. 2
B. 4

A. 14,28%
B. 28,57%

C. 0

C. 0%

D. 8

D. 57,14%

A. 14
B. 0
C. 0
D.0

A. 100%
B. 0%
C.0%
D.0%

Sebagian besar perilaku warga yang terdapat di Dusun Tuksongo 1, Desa


Tuksongo sebenarnya sudah baik dengan kebiasaan BAB di jamban yaitu sebesar
100%, Walaupun masih ada beberapa jamban yang jaraknya < 10 m dengan
sumber air yaitu sebesar 78,5%.
c. Kuesioner Penyebab Masalah Lain
Kuesioner terdiri dari 4 pertanyaan yang dibuat untuk mencari penyebab
masalah lain disamping pengetahuan dan perilaku hidup sehat.
Tabel 19. Hasil Survei Kuesioner Penyebab Masalah Lain

NO
Pertanyaan
1 Mengapa belum memiliki
jamban sendiri?

Apakah pernah ada


penyuluhan bagaimana
membangun jamban sehat
yang sederhana?
Apakah petugas kesehatan
pernah mengunjungi rumah
Anda untuk mendata
ketersediaan jamban di rumah
Anda?
Bila jawaban di atas YA,

Jawaban

Jumlah
A. 0

Persen
A. 0%

B. 0

B. 0%

C. 0

C. 0%

A. Ya

A. 2

A. 20%

B. Tidak

B. 12

B. 80%

A. Ya

A. 1

A. 7,14%

B. Tidak

B. 13

B. 92,8%

A. Setiap bulan

A. 0

A. 0%

A.
Keterbatasan
dana
B. Masih
merasa belum
perlu
C. Lokasi

57

berapa kali petugas kesehatan B. sekali


B. 1
B. 7,5%
mengunjungi rumah Anda
C. Dua kali
C. 0
C. 0%
dalam 1 tahun?
Dari tabel di atas penyebab terbanyak masyarakat di Dusun Tuksongo1
adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang jamban sehat juga diakibatkan
oleh kurangnya jumlah penyuluhan yang dilakukan. Penyuluhan tidak merata di
dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo

58

BAB VII
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil inspeksi, kuesioner, dan wawancara yang telah dilakukaan
di Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten
Magelang, didapatkan penyebab masalahnya adalah jamban yang tidak memenuhi
kriteria jamban sehat sebesar 46,67%. Beberapa warga di Dusun Tuksongo 1,
Desa Tuksongo juga memiliki perilaku dan kesadaran yang kurang tentang
jamban sehat dan penyebab lain yang paling tinggi adalah kurangnya biaya dan
kurangnya penyuluhan mengenai jamban sehat
A. ANALISIS PENYEBAB MASALAH
Tabel 20. Penyebab Masalah dari Faktor Input
INPUT
MAN
(Tenaga Kerja)

MONEY
(Pembiayaan)

METHOD
(Metode)

KELEBIHAN
Tersedia petugas promosi
kesehatan di Puskesmas
Borobudur
Tersedia petugas kesehatan
lingkungan di Puskesmas
Borobudur

KEKURANGAN

Pelaksanaan pembinaan
jamban sehat belum
optimal (1)

Tidak terdapat kader


khusus kesehatan
lingkungan tentang
pemanfaatan jamban
(2)

Terdapatnya dana

operasional di puskesmas
yang berasal dari APBD
yang dimanfaatkan untuk
kegiatan luar gedung
(pemantauan dan pendataan
jamban)
Melakukan pengamatan
(inspeksi) dan wawancara
dengan cara kunjungan ke
masyarakat untuk dilakukan
pendataan
Penyuluhan langsung
kepada pemilik rumah
mengenai jamban yang
memenuhi syarat kesehatan

Belum ada
penyuluhan secara
berkala mengenai
jamban sehat (3)

59

MATERIAL
(Perlengkapan
)
MACHINE
(peralatan)

saat pendataan berlangsung


Terdapat kendaraan
operasional bagi petugas
kesehatan lingkungan
Terdapat blanko kuesioner
untuk pemeriksaan jamban
Terdapat buku data sanitasi
dasar yang dibuat oleh
koordinator Kesehatan
Lingkungan untuk
memudahkan pencatatan
yang dibagikan kepada para
kader Kesehatan
lingkungan.

Tidak tersedianya
pamflet, brosur dan
poster penyuluhan
tentang jamban yang
memenuhi syarat
sanitasi.(4)

Tabel 21. Penyebab Masalah dari Faktor Proses dan Lingkungan


PROSES
KELEBIHAN
KEKURANGAN
P1
Adanya data jumlah
Belum ada jadwal
(Perencanaan)
rumah, data jumlah
tertulis dari
KK, dan data jumlah
puskesmas tentang
rumah tangga yang
perencanaan
memiliki jamban.
pelaksanaan
pengawasan jamban.
Terdapat jadwal tentang
(5)
perencanaan
pelaksanaan
pengawasan jamban
yang dilakukan tiap
hari.
P2
Saat pendataan
Kurangnya jamban
(Pelaksanaan)
berlangsung, sanitarian
yang diperiksa akibat
langsung memberikan
tenaga petugas
penyuluhan tentang
kesehatan yang kurang
jamban.
mencukupi. (6)
Pelaksanaan
penyuluhan kurang
berkelanjutan dan
terpadu (7)
P3
Terdapatnya pencatatan
Evaluasi dari ekegiatan
(Penilaian,
dan pelaporan mengenai
yang dilakukan masih
Pengawasan
jamban
kurang (8)
Pengendalian)
Dilakukannya evaluasi
ulang pada rumah
rumah yang telah

60

diinspeksi.

Lingkungan

Tokoh masyarakat
sangat berperan dalam
mendorong masyarakat
untuk menggunakan
jamban sehat
Pemilik rumah cukup
kooperatif pada saat
petugas melakukan
pendataan.

Kurangnya informasi
dan kesadaran
masyarakat mengenai
jamban sehat.
Masyarakat selalu
menuntut untuk
meminta bantuan (9)
Kurangnya informasi
dan kesadaran
masyarakat mengenai
dampak yang dapat
ditimbulkan jika BAB
di jamban yang tidak
memenuhi syarat
sanitasi (10)

Berdasarkan hasil pengamatan, survei, wawancara yang telah dilakukan di


Dusun Tuksongo 1 Desa Tuksongo didapatkan penyebab masalahnya sebagai
berikut :
1. Hanya terdapat 1 petugas kesehatan lingkungan sehingga mengakibatkan
belum optimalnya dalam melakukan penyuluhan mengenai jamban sehat
2. Tidak terdapat kader khusus kesehatan lingkungan tentang pemanfaatan
jamban
3. Belum ada penyuluhan secara berkala mengenai jamban yang memenuhi
syarat sanitasi
4. Belum adanya media promosi tentang jamban yang memenuhi syarat
(pamflet, poster, brosur, dll).
5. Belum ada jadwal tertulis dari puskesmas tentang perencanaan
pelaksanaan pengawasan jamban sehat.
6. Kurangnya jamban yang diperiksa akibat tenaga petugas kesehatan yang
kurang mencukupi.
7. Pelaksanaan penyuluhan kurang berkelanjutan dan terpadu
8. Kurangnya evaluasi dari kegiatan yang dilakukan

61

9. Masih ada beberapa masyarakat yang kurang mendapat informasi tentang


jamban sehat dan belum memahami pentingnya jamban sehat.
10. Masih ada beberapa masyarakat yang belum mengetahui mengenai
dampak yang dapat ditimbulkan jika BAB di jamban yang tidak memenuhi
syarat sanitasi

62

INPUT
Mone
y

Material

Man
Machine
Machine
Tidak
Tidak tersedianya
tersedianya pamflet,
pamflet, brosur
brosur dan
dan
poster
poster tentang
tentang jamban
jamban yang
yang memenuhi
memenuhi
syarat
syarat sanitasi.
sanitasi.

Tidak
Tidak terdapat
terdapat kader
kader khusus
khusus untuk
untuk
pemanfaatan
pemanfaatan jamban
jamban sehat
sehat

Method
Method
Belum
Belum ada
ada penyuluhan
penyuluhan secara
secara berkala
berkala mengenai
mengenai
jamban
jamban sehat
sehat

Kurangnya informasi dan kesadaran

masyarakat mengenai jamban sehat


Lingkung
Kurangnya informasi dan kesadaran
an
masyarakat mengenai dampak yang

Hanya
terdapat
1
petugas
Hanya
terdapat
1
petugas
kesehatan
kesehatan lingkungan
lingkungan sehingga
sehingga
mengakibatkan
mengakibatkan belum
belum optimalnya
optimalnya
dalam
melakukan
penyuluhan
dalam
melakukan
penyuluhan
mengenai
mengenai jamban
jamban sehat
sehat

Cakupan masyarakat yang


memanfaatkan jamban
sehat di dusun Tuksongo
46,67% dari target dinkes
75 %

P3

Evaluasi
Evaluasi dari
dari kegiatan
kegiatan
yang
dilakukan
yang
dilakukan
(penyuluhan)
masih
(penyuluhan)
masih
kurang
kurang

P1

dapat ditimbulkan jika BAB di


jamban yang tidak memenuhi syarat
sanitasi

Jadwal
Jadwal tertulis
tertulis tentang
tentang
perencanaan
perencanaan
pelaksanaan
pelaksanaan
pengawasan
pengawasan jamban
jamban
sehat
sehat belum
belum ada.
ada.

Gambar 11. Diagram Fish


P 2 Bone
Kurangnya
Kurangnya jumlah
jumlah jamban
jamban yang
yang diperiksa
diperiksa

Proses

akibat
akibat tenaga
tenaga petugas
petugas kesehatan
kesehatan yang
yang kurang
kurang
Pelaksanaan
Pelaksanaan penyuluhan
penyuluhan kurang
kurang berkelanjutan
berkelanjutan
dan
dan terpadu
terpadu

63

B. PENENTUAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


Setelah melakukan analisis penyebab-penyebab rendahnya cakupan
Kesehatan Lingkungan (Jamban Sehat) yang memenuhi syarat sanitasi yang
ditemukan atau ditangani sesuai standar di wilayah Puskesmas Borobudur I,
maka langkah selanjutnya yaitu menyusun alternatif pemecahan masalah.
Alternatif pemecahan masalah dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 23. Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah
NO
Penyebab Masalah
Alternatif Pemecahan Masalah
1.

Hanya terdapat 1 petugas


kesehatan lingkungan
sehingga mengakibatkan
belum optimalnya dalam
melakukan penyuluhan
mengenai jamban sehat

1. Meningkatkan kerjasama lintas


program dengan promkes dan lintas
sektoral dengan kader serta tokoh
masyarakat.
2. Perekrutan
kader
kesehatan
lingkungan

Tidak terdapat kader khusus


kesehatan lingkungan
tentang pemanfaatan jamban

3. Pembentukan
kader
kesehatan
lingkungan
pemanfaatan jamban

Belum ada penyuluhan


secara berkala mengenai
jamban sehat

4. Mengadakan penyuluhan mengenai


jamban sehat serta pentingnya
penggunaan jamban sehat secara
berkala

Tidak tersedianya media


promosi seperti poster dan
baliho penyuluhan tentang
jamban yang memenuhi
syarat sanitasi

5. Pembuatan

khusus
tentang

poster dan baliho


penyuluhan tentang jamban yang
memenuhi syarat sanitasi

64

Jadwal tertulis tentang


perencanaan pelaksanaan
pengawasan jamban sehat
belum ada

6. Pembuatan
jadwal
mengenai
pelaksanaan pengawasan jamban
dan penyuluhan pentingnya BAB di
jamban yang sehat dan pembuatan
target jumlah rumah yang harus
dikunjungi tiap bulannya

Kurangnya jumlah jamban

7. Mengoptimalisasi
petugas
kesehatan yang ada dengan
peningkatan
kerjasama
lintas
program
8. Perekrutan kader khusus kesehatan
lingkungan

yang diperiksa di inspeksi

Pelaksanaan
penyuluhan
kurang berkelanjutan dan
terpadu

9. Diadakan penyuluhan mengenai


jamban sehat dan pentingnya BAB
di jamban sehat secara berkala

Evaluasi dari kegiatan yang


dilakukan
(penyuluhan)
masih kurang

10.

Masih
ada
beberapa
masyarakat yang belum
memahami
pentingnya
jamban sehat.

11. Penyuluhan mengenai syarat-syarat


jamban sehat, pentingnya BAB di
jamban sehat dan penyuluhan
mengenai cara membangun jamban
sehat yang sederhana

10

Masih
ada
beberapa
masyarakat yang belum
mengetahui
mengenai
dampak
yang
dapat
ditimbulkan jika BAB di
jamban
yang
tidak
memenuhi syarat sanitasi

12. Penyuluhan mengenai dampak


yang dapat ditimbulkan jika BAB
di jamban yang tidak memenuhi
syarat sanitasi.

Rapat
Evaluasi antara petugas sanitarian
dengan kader dan perangkat desa

65

PENGGABUNGAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


Hanya terdapat 1 petugas kesehatan
lingkungan sehingga mengakibatkan
belum optimalnya dalam melakukan
penyuluhan mengenai jamban sehat
Tidak terdapat kader khusus kesehatan
lingkungan tentang pemanfaatan
jamban

Meningkatkan
kerjasama
lintas
program dengan promkes dan lintas
sektoral dengan kader serta tokoh
masyarakat
Perekrutan kader khusus kesehatan
lingkungan

Tidak tersedianya poster dan baliho


penyuluhan tentang jamban yang
memenuhi syarat sanitasi
Jadwal tertulis tentang perencanaan
pelaksanaan pengawasan jamban
sehat belum ada
Evaluasi dari kegiatan yang dilakukan

Belum ada penyuluhan secara


berkala mengenai jamban sehat
Pelaksanaan
penyuluhan
berkelanjutan dan terpadu

kurang

Masih ada beberapa masyarakat yang


belum memahami pentingnya jamban
sehat.
Masih ada beberapa masyarakat
yang belum mengetahui mengenai
dampak yang dapat ditimbulkan
jika BAB di jamban yang tidak
memenuhi syarat sanitasi
Kurangnya

jumlah

jamban

Pembuatan jadwal mengenai pelaksanaan


pengawasan
jamban
dan
penyuluhan
pentingnya BAB di jamban yang sehat dan
pembuatan target jumlah rumah yang harus
dikunjungi tiap bulannya

Rapat Evaluasi antara petugas


sanitarian dengan kader dan
perangkat desa
Penyuluhan mengenai syarat-syarat
jamban sehat, pentingnya BAB di
jamban sehat, dan dampak yang dapat
ditimbulkan jika BAB di jamban yang
tidak memenuhi syarat sanitasi dan
penyuluhan mengenai cara membangun
jamban sehat yang sederhana dengan
cara pembuatan media promosi seperti
pamflet, leaflet, poster

yang

diperiksa di inspeksi
Gambar 12. Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah

66

C. PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH


Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya
dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan
prioritas alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan
Kriteria Matriks. Berikut ini proses penentuan prioritas alternatif pemecahan
masalah dengan menggunakan Kriteria Matriks Menggunakan Rumus:
MxIxV
C
1. Efektivitas program
Pedoman untuk mengukur efektivitas program :
Magnitude ( M ) Besarnya penyebab masalah yang dapat
diselesaikan. Makin besar (banyak) penyebab masalah yang dapat
diselesaikan dengan pemecahan masalah, maka semakin efektif
Importancy ( I ) Pentingnya cara penyelesaian masalah
Vulnerability ( V ) Sensitifitas cara penyelesaian masalah
Kriteria M, I, dan V masing-masing diberi skor 1-5
Bila makin magnitude maka nilainya makin besar, mendekati 5. Begitu
juga dalam melakukan penilaian pada kriteria I dan V.
2. Efisiensi Program
Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (cost). Kriteria cost
(c) diberi nilai 1-5. Bila cost-nya makin kecil, maka nilainya mendekati 1.
Berikut ini proses penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah
dengan menggunakan kriteria matriks:

67

Tabel 24. Hasil Akhir Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah


Penyelesaian masalah

Nilai Kriteria

Hasil

Urutan

Akhir
M

(M.I.V)/
C

A. Meningkatkan kerjasama lintas program 4


dengan promkes dan lintas sektoral
dengan kader serta tokoh masyarakat.

64

II

B. Perekrutan kader khusus kesehatan


lingkungan

21

III

C. Pembuatan jadwal mengenai


pelaksanaan pengawasan jamban dan
penyuluhan pentingnya BAB di jamban
yang sehat dan pembuatan target jumlah
rumah yang harus dikunjungi tiap
bulannya

12

D.

Rapat Evaluasi antara petugas sanitarian 2


dengan kader dan perangkat desa

18

IV

E.

Penyuluhan mengenai syarat-syarat


jamban sehat, pentingnya BAB di
jamban sehat, dan dampak yang dapat
ditimbulkan jika BAB di jamban yang
tidak memenuhi syarat sanitasi dan
penyuluhan mengenai cara membangun
jamban sehat yang sederhana dengan
cara pembuatan media promosi seperti
pamflet, leaflet dan poster

50

68

PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN


Tabel 25. Plan of Action
No
.
I

Kegiatan

Tujuan

Penyuluhan
mengenai jamban
sehat

-Meningkatkan
pengetahuan warga
mengenai syarat-syarat
jamban sehat, manfaat,
cara membangun jamban
sehat yang sederhana,
dan dampak yang
ditimbulkan jika BAB
tidak di jamban yang
sehat.

Pelaksanaa
Waktu
n
Warga,
Balai Desa Petugas
Setiap
Dusun
Tuksongo 1 Promosi
3 bulan
Tuksongo 1,
kesehatan,
sekali
Desa
Petugas
Tuksongo
kesehatan
yang tidak
lingkungan
memanfaatk
& kader
an jamban
sehat
Sasaran

Lokasi

Dana
Bantuan
Operasio
nal
Kesehata
n

Metode
Penyuluhan
secara
langsung,
diskusi,
tanya jawab
dan
pembuatan
poster
mengenai
cara
membangun
jamban
sehat

Tolak ukur
Tolak ukur proses
-Terlaksananya
kegiatan penyuluhan
tersebut
Tolak ukur hasil :
-Meningkatnya
pengetahuan
masyarakat
mengenai
jamban
sehat
-Meningkatnya
jumlah
penduduk
yang BAB di jamban
sehat
-Meningkatnya
jumlah jamban sehat
di Dusun Tuksongo
1

69

II

Rapat
koordinasi
lintas program
dan
lintas
sektoral

Meningkatkan kerjasama Pihak


lintas program dengan pelayanan
promkes dan sektoral puskesmas
dengan kader dan tokoh
masyarakat
untuk
mengoptimalkan
penyuluhan
mengenai
jamban sehat

III

Perekrutan
kader khusus
kesehatan
lingkungan

Meningkatkan
Warga dusun
pemanfaatan
jamban Tuksongo 1
sehat di masyarakat

Aula
puskesmas
Borobudur

Petugas
Setiap
promosi
3 bulan
kesehatan,
sekali
petugas
kesehatan
lingkungan,
kader, dan
tokoh
masyarakat

Petugas
promosi
kesehatan,
petugas
kesehatan
lingkungan
dan
masyarakat
dusun
Tuksongo 1

Disesua
ikan

Bantuan
operasio
nal
kesehata
n

Musyawarah

Tolak
ukur
Proses :
-Terlaksananya
rapat koordinasi
Tolak ukur hasil :
-Terbentuknya
koordinasi
yang
baik
untuk
meningkat kualitas
kerja

Pemilihan
kader yang
memiliki
kinerja yang
baik

Tolak
ukur
Proses :
-Terlaksananya
perekrutan kader
Tolak ukur hasil :
Meningkatnya
jumlah pemanfaatan
jamban sehat di
dusun Tuksongo 1

70

IV

Rapat Evaluasi
petugas Kesling,
Kader, dan
Perangkat Desa

Untuk mengetahui dan Petugas


Balai Desa Petugas
menilai hasil kegiatan Kesling,Kad Tuksongo 1 Kesling
penyuluhan
er,
dan
Perangkat
Desa

Setiap
Dana
1 bulan operasio
sekali
nal
Puskesm
as

Diskusi,
Tanya jawab,
penilaian
hasil kegiatan

Tolak ukur proses


Terlaksananya rapat
evaluasi
secara
berkala
Tolak ukur hasil
Meningkatnya
kegiatan
penyuluhan

Pembuatan jadwal
pelaksanaan
pengawasan
jamban dan
penyuluhan serta
pembuatan target
jumlah rumah
yang harus
dikunjungi

Untuk mengetahui
sasaran penyuluhan,
Tersusun jadwal kegiatan
yang baik dan sistematis

Setiap
1 tahun
sekali

Diskusi,
Tanya jawab

Tolak ukur proses


Terlaksananya
kegiatan pembuatan
jadwal tertulis
Tolak ukur hasil
Didapatkan data
sasaran penyuluhan
Tersusun jadwal
kegiatan yang baik
dan sistematis, serta
mengetahui sasaran
penyuluhan

Petugas
kesling,
kader

Puskesmas, Petugas
balai Desa kesling,
Tuksongo 1 kader

Dana
operasio
nal
puskesm
as

71

N
o

KEGIATAN

Penyuluhan
mengenai
jamban
sehat

Rapat
koordinasi
lintas
program

Perekrutan
kader
khusus
kesehatan
lingkungan

Rapat
evaluasi

Pembuatan
jadwal

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agust

Sep

Okt

Nov

Des

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 4

Tabel 23. Gann Chart Tahun 2015

72

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Setelah melakukan analisis kemungkinan penyebab masalah rendahnya cakupan
penduduk yang menggunakan jamban sehat di Dusun Tukongo 1 Desa Tuksongo periode
Januari Desember 2014 dengan menggunakan metode pendekatan masalah dan juga
melakukan konfirmasi ke bagian Program Kesehatan Lingkungan, maka didapatkan
penyebab masalah yang paling mungkin, antara lain hanya terdapat 1 petugas kesehatan
lingkungan sehingga mengakibatkan belum optimalnya dalam melakukan penyuluhan
mengenai jamban sehat, pengetahuan masyarakat yang masih kurang mengenai jamban
sehat, cara membuat jamban, tidak mengetahui dampak yang timbul jika BAB di jamban
yang tidak memenuhi syarat. Selain itu tidak adanya penyuluhan yang berkelanjutan
mengenai jamban sehat. Jadwal tertulis tentang perencanaan pelaksanaan pengawasan
jamban sehat belum ada, maupun evaluasi dari kegiatan yang telah dilakukan masih
kurang.
Alternatif pemecahan penyebab masalah antara lain dengan melakukan
penyuluhan mengenai syarat-syarat jamban sehat, pentingnya BAB di jamban sehat, dan
dampak yang dapat ditimbulkan jika BAB di jamban yang tidak memenuhi syarat
sanitasi,penyuluhan mengenai cara membangun jamban sehat yang sederhana, Dapat
dilakukan peningkatan media promosi dengan membuat pamflet, brosur maupun poster
mengenai jamban sehat.
Melakukan pembinaan kader kesehatan lingkungan. Melakukan pendekatan tokoh
masyarakat tentang pentingnya BAB di jamban sehat sehingga tokoh masyarakat tersebut
dapat mensosialisasikannya kembali ke masyarakat. Juga dibuat jadwal pelaksanaan dan
pengawasan jamban, serta penyuluhan secara tertulis, sehingga data mengenai jamban
yang sehat maupun yang tidak sehat dapat diketahui dengan baik..
B. SARAN
1. Bagi Warga Dusun Tuksongo 1
- Hendaknya lebih mengerti tentang jamban sehat, memiliki kesadaran tentang
pentingnya memiliki jamban yang sehat serta mengetahui dampak akibat pengunaan
jamban yang tidak sehat

73

Memunculkan peran serta panitia atau badan khusus berbasis desa, misalnya Badan
Permusyawaratan Desa di desa Tuksongo umtuk terlibat dalam pemanfaatan jamban
sehat, berkoordinasi dengan puhak puskesmas..

2. Bagi Puskesmas Borobudur


a. Meningkatkan kerjasama den, meningkatkan pembinaan kader agar lebih optimal
dalam hal kegiatan pendataan dan penyuluhan untuk meningkatkan cakupan
penduduk yang menggunakan jamban sehat khususnya di Dusun Tuksongo 1 Desa
Tuksongo.
b. Melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat Dusun Tuksongo 1 untuk
menggalakan program jambanisasi. Diharapkan dengan pendekatan ke tokoh
masyarakat, program jambanisasi ini akan berjalan dengan lancar.
c. Memberikan penghargaan bagi Desa atau Dusun yang cakupan penggunaan
jamban sehat telah mencapai target
d. Menggalakaan lokakarya yang dilaksanakan secara rutin
3. Bagi Peneliti
Perlunya penelitian lebih lanjut dan mendalam terutama hubungan antar penyebab
yang dapat mempengaruhi cakupan penduduk yang menggunakan jamban sehat di
Dusun Tuksongo 1, Desa Tuksongo.

DAFTAR PUSTAKA
74

1. Sarana

kesehatan

lingkungan.

Available

at

http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/profil/2003. Accessed on, 24 December


2014
2. Hartoyo. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Survei Mawas Diri dan Intervensi
Masyarakat dalam Bentuk Pendekatan Kemasyarakatan. Magelang; 2011.
3. Hartoyo. Konsep Pendekatan Masyarakat dalam Kaitannya dengan Desa Siaga.
Magelang; 2011
4. Definisi

Kesehatan

Lingkungan.

Available

at:

http://kesehatanlingkungan.duniakesehatan/76856.com. Accesed on, December 24


2014
5. Kriteria Jamban Sehat. Available at : http://puskesmas/2011/03/definisi-jamban-sehatdan-tujuh-syarat.html Accessed on Januari 30, 2015
6. Jenis

jamban

dan

criteria

jamban

sehat.

Available

at:

http://inspeksisanitasi.blogspot.com/2012/08/kriteria-jamban-dan-jamban-sehat.html.
Accessed on Januari 30, 2015
7. Program

Pelayanan

Kesehatan

Lingkungan.

2010.

Available

at:

http://puskesmasbonorowo.blogetery.com/category. Accesed on December 24, 2014.


8. Madjid. 2009. Pengetahuan dan Tindakan Masyarakat dalam Pemanfaatan Jamban
Keluarga. Available at: http://datinkessulsel.wordpress.com/2009/06/26/pengetahuandan-tindakan-masyarakat-dalam-pemanfaatan-jamban-keluarga/. Accessed on Januari
30, 2015
9. Jamban

sehat.

2010.

Available

at:

http://enviromentalsanitation.wordpress.com/2009/01/02. Accessed on Januari,30,


2015.
10. Menristek. 2009. Teknologi Tepat Guna. http://www.iptek.net.id. Accessed on Januari
30, 2015

A. Blanko Kuesioner

75

BLANKO INSPEKSI SANITASI JAMBAN


DESA / KELURAHAN :
KECAMATAN :
KOTA / KABUPATEN :
PROVINSI :
TANGGAL PEMERIKSAAN :
NAMA PETUGAS :
NAMA KK :
NO
NAMA KK
1
2
3
4
5

NO
1

4
5

NILAI
Apakah penampungan
akhir kotoran / jamban
berjarak kurang dari 10
meter dari sumber air?
Apakah penutup sumur
resapan jamban
(penampungan akhir
kotoran) tidak kedap air?

NAMA KK

NO
6
7
8
9
10

KRITERIA

NILAI

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Apakah konstruksi
Ya
jamban memungkinkan
binatang penyebar
penyakit menjamah
Tidak
kotoran di dalam
jamban?
Apakah jamban
Ya
menimbulkan bau?
Tidak
Apakah jamban tidak
Ya
selalu terjaga
Tidak
kebersihannya?
JUMLAH
Tingkat resiko untuk mencemari lingkungan
Nilai YA = 0 - 2 = R
Nilai YA = 3 - 4 = S
Nilai YA = 5 - 8 = T
Nilai YA = 9 - 11 = AT

HASIL PENELITIAN
1

4 5 6 7 8 9

3
0
1
0
2
0
:

76

1
0

BLANKO KUESIONER PENGETAHUAN


TENTANG JAMBAN SEHAT

77

NO
1
2
3

PERTANYAAN
Apakah Anda tahu apa
itu jamban sehat?
Apakah menurut Anda
jamban itu penting?
Dimanakah Anda
sebaiknya BAB?

Apakah Anda tahu jika


BAB di
sungai/kolam/kebun
dapat mencemari
lingkungan dapat
menimbulkan penyakit?
Apakah Anda tahu cara
membangun jamban
sehat?
Apakah Anda tahu jarak
ideal antara sumber air
dan jamban?
Pada kondisi tanah
berlereng, apakah Anda
tahu letak jamban itu
harus lebih rendah dari
sumber air?
Apakah menurut Anda
lantai jamban perlu
diplester?
Apakah menurut Anda
jamban itu perlu
memiliki dinding, atap,
dan pintu?
Tingkat pengetahuan :
81% - 100% = Baik
65% - 80%
= Cukup
< 65%
= Kurang

JAWABA
N

NIL
AI

Ya

Tidak

Ya

Tidak
Jamban
Sungai
Kolam
Kebun
Dimana
saja

0
1
0
0
0

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

HASIL PENELITIAN
1 2 3 4 5

BLANKO KUESIONER PERILAKU TENTANG


JAMBAN SEHAT
N

PERTANYAAN

KRITERIA

HASIL PENELITIAN

78

10

O
1

1 2 3 4
Apakah di rumah
Anda terdapat
jamban? (jika YA
lanjut no.2, jika
TIDAK lanjut ke
no.7)
Seperti apa bentuk
jamban Anda?

5 6 7 8 9 10

Ya
Tidak
Leher angsa
Bukan leher
angsa

Jika bukan leher


angsa, apakah
menggunakan
penutup?
Berapa jarak
jamban Anda ke
sumber air?
Apakah jamban
Anda diplester,
memiliki dinding,
atap, dan pintu?
Setiap berapa lama
Anda membersihkan
jamban?

Ya
Tidak
< 10 m
> 10 m
Ya
Tidak
Setiap hari
Seminggu sekali
Sebulan sekali
Tidak tentu

Dimana Anda
biasanya BAB?

Jamban
Sungai
Kolam
Kebun

Perilaku :
81% - 100% = Baik
65% - 80%
< 65%

= Cukup
= Kurang

79

BLANKO KUESIONER TENTANG PENYEBAB


MASALAH LAIN
N
O
1

HASIL PENELITIAN
PERTANYAAN

JAWABAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Mengapa belum memiliki


jamban sendiri?

A.
Keterbatasan
dana
B. Masih
merasa belum
perlu
C. Lokasi

Apakah pernah ada


penyuluhan bagaimana
membangun jamban sehat
yang sederhana?
Apakah petugas kesehatan
pernah mengunjungi rumah
Anda untuk mendata
ketersediaan jamban di
rumah Anda?
Bila jawaban di atas YA,
berapa kali petugas
kesehatan mengunjungi
rumah Anda dalam 1
tahun?

A. Ya
B. Tidak
A. Ya
B. Tidak
A. Setiap bulan
B. sekali
C. Dua kali

80

1
0

B.Lampiran Foto Kegiatan

81