Anda di halaman 1dari 16

EVALUASI FINANCIAL DISTRESS PADA PEMERINTAH KOTA BANDAR

LAMPUNG
Evaluation Of Financial Distress In The City Government Of Bandar Lampung
Agus Tubels
STAN, BPKP, Perumahan Pondok Jaya Jl. Genteng No. E5/ 16 Tangerang Selatan,
Indonesia, agustubels.nainggolan@gmail.com

Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi strategi perbaikan dalam
mengatasi financial distress pada Pemerintah Kota Bandar Lampung. Metode penelitian yang
digunakan adalah evaluasi dengan menggunakan pendekatan Miles dan Huberman. Data yang
diolah merupakan data kuantitatif dengan menggunakan analisis data pearson correlation
untuk melihat nilai hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Hasil evaluasi
menunjukkan bahwa terdapat kerentanan financial distress yang disebabkan oleh kurangnya
kemandirian keuangan, dan rendahnya derajat desentralisasi. Namun terdapat potensi
perbaikan atas financial distress di masa depan apabila Pemkot Bandar Lampung dapat
mengoptimalkan kelompok penduduk dalam usia produktif untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi dan pendapatan asli daerah sehingga dapat menurunkan tingkat financial distress
pula. Rekomendasi yang dapat disampaikan oleh peneliti adalah meningkatkan PAD melalui
upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi sektor- sektor penerimaan, Melakukan pemetaan
kondisi tax rate untuk tiap jenis pendapatan asli daerah, melakukan belanja yang berkualitas,
memanfaatkan kelompok usia produktif saat ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,
menginvestasikan lebih besar lagi anggaran pada sektor pendidikan agar diperoleh Sumber
Daya Manusia dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.
Kata Kunci: Desentralisasi Fiskal, Financial Distress,Kemandirian Keuangan
Abstract
The purpose of this research is to provide strategic advice to improve financial distress in the
city government of Bandar Lampung. The method used in this research is evaluation method
by using the approach of Miles and Huberman. The processed data is quantitative data using
Pearson correlation analysis to see the value of the relationship between the dependent variable
and the independent variables. Results of this evaluation indicate that there are vulnerabilities
of financial distress caused by lack of financial independence, and the low degree of
decentralization. However, there is a potential sign for improvement over the financial distress
in the future if the city government can optimize population of the productive age group to
encourage economic growth and local revenues so the level of financial distress can be reduced
as well. Suggestions that can be submitted by researcher is to increase revenue through
intensification and extensification receipts sectors, mapping the condition tax rate for each type
of income, doing quality expenditure, take advantage of the current productive age groups to
encourage economic growth, invest greater further education sector budget in order to obtain
the Human Resources with an adequate quantity and quality.
Keywords: Financial Distress, Financial Independence, Fiscal Decentralization

PENDAHULUAN

masyarakat seperti: pembangunan jalan

Latar Belakang

raya, gedung sekolah, penyediaan fasilitas

Desentralisasi Fiskal merupakan


penyerahan
tertentu

kewenangan-

dari

Pemerintah

Pemerintah
Daerah

penerangan,

kewenangan
Pusat

dengan

dan

telepon.

Tujuan

penyediaan barang dan jasa ini adalah

ke

dalam rangka meningkatkan pertumbuhan

tujuan

ekonomi

dan

meningkatkan

PAD.

pelaksanaan kebijakan dilakukan secara

Diharapkan penyediaan barang dan jasa ini

mandiri oleh Pemerintah Daerah. Adapun

dapat

pemerintah daerah merupakan unit yang

pertumbuhan ekonomi dan peningkatan

lebih dekat ke masyarakat dibandingkan

PAD.

pemerintah pusat dimana pemerintah pusat

mensyaratkan belanja modal daerah yang

dapat memiliki assymetric information

optimal adalah sebesar 30% dari total

sementara pemerintah daerah lebih kecil

belanja daerah melalui Peraturan Menteri

derajat assymetric information-nya karena

Dalam

lebih dekat ke masyarakat. Diharapkan

penyusunan anggaran pendapatan dan

dengan dilakukannya desentralisasi fiskal

belanja daerah yang diterbitkan setiap

ini maka pelaksanaan fungsi pemerintah

tahun. Nilai ini merupakan angka ideal

dapat berjalan lebih efektif. Adapun tujuan

menurut

dilakukannya desentralisasi fiskal adalah

mewujudkan

untuk memaksimalkan potensi masing-

dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah.

masing pemerintah daerah yang berbeda-

Namun pada faktanya belanja modal

beda. Secara praktis pemerintah daerah

pemerintah daerah tidak selalu dapat

dapat

mencapai angka ideal tersebut.

mencapai

potensinya

melalui

pelaksanaan fungsi pemerintah. Terdapat


tiga

fungsi

pemerintah

yaitu:

menjadi

multiplier

Pemerintah

Negeri

pusat

effect

selama

(Permendagri)

pemerintah
fungsi

Kegagalan

bagi

ini

tentang

pusat

dalam

alokasi

yang

fungsi

alokasi

the

pemerintah dapat disebut juga sebagai

stabilization of prices, the redistribution of

financial distress. Adapun financial distress

incomes, dan the allocation of resources.

pada sektor publik adalah ketidakmampuan

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai

pemerintah untuk menyediakan pelayanan

fungsi pemerintah dalam mengalokasikan

publik sesuai standar mutu yang telah

sumber daya.

ditetapkan (Jones dan Walker, 2007).

The allocation of resources artinya


adalah

fungsi

pemerintah

Adapun standar mutu yang telah ditetapkan

dalam

oleh Pemerintah Pusat adalah sebesar 30%.

menyajikan barang dan jasa terhadap

Namun seringkali Pemerintah Daerah tidak


2

mengetahui

penyebab

Pengertian desentralisasi menurut Undang-

sehingga

undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

permasalahan financial distress menjadi

Pemerintahan Daerah pada pasal 1 ayat 7

recurring event setiap tahun yang dihadapi

adalah

oleh Pemda tanpa menemukan solusi dalam

pemerintahan

mengatasinya. Pemerintah Kota Bandar

kepada daerah otonom untuk mengatur dan

Lampung merupakan salah satu pemda

mengurus urusan pemerintahan dalam

yang

sistem

terjadinya

indikator
financial

terjebak

dan
distress

dalam

permasalahan

penyerahan
oleh

Negara

wewenang

Pemerintah

Kesatuan

pusat

Republik

financial distress. Diharapkan dengan

Indonesia. Wewenang yang diberikan

dilakukannya

kepada

penelitian

ini

dapat

pemerintah

daerah

adalah

memberikan solusi atas permasalahan

menjalankan otonomi seluas- luasnya untuk

financial distress Pemerintah Kota Bandar

mengatur dan mengurus sendiri urusan

Lampung. Berdasarkan latar belakang

pemerintahan berdasarkan asas otonomi

masalah dapat disimpulkan pertanyaan

dan tugas pembantuan, kecuali untuk

penelitian yaitu Bagaimana Pemerintah

urusan-urusan yang meliputi urusan politik

Kota Bandar Lampung dapat mengatasi

luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi,

financial distress sesuai dengan teori?

moneter dan fiskal nasional, dan agama.


Penyerahan kewenangan dari Pemerintah

Rumusan Masalah

Pusat

Berdasarkan latar belakang masalah diatas

melaksanakan urusannya harus diiringi

maka dapat disimpulkan rumusan masalah

dengan dana untuk melaksanakan urusan

yaitu

tersebut,

bagaimana

strategi

mengatasi

ke

Pemerintah

sehingga

Daerah

keluarlah

dalam

Undang-

financial distress pada Pemerintah Kota

Undang No 33 Tahun 2004 tentang

Bandar Lampung?

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah


Pusat

dan

Pemerintah

Daerah.

Undang-Undang

tentang

Tujuan Penelitian

Pembentukan

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk

Perimbangan Keuangan antara Pemerintah

memberikan rekomendasi perbaikan bagi

Pusat

Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam

dimaksudkan untuk mendukung pendanaan

mengatasi financial distress.

atas

dan

Pemerintahan

penyerahan

urusan

Daerah

kepada

Pemerintahan Daerah. Pendanaan tersebut


menganut prinsip money follows function,

TINJAUAN PUSTAKA

yang

Konsep Desentralisasi Fiskal

mengandung

makna

bahwa

pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan


3

yang menjadi kewajiban dan tanggung

distress

jawab

indikator finansial dalam menilai financial

masing-masing

tingkat

pemerintahan.

Pemerintah

Daerah.

Adapun

distress pada Pemerintah Daerah adalah


kemandirian

keuangan,

derajat

desentralisasi, dan tingkat solvabilitas.

Konsep Financial Distress


Pada sektor swasta menurut Ross

Sedangkan indicator non finansial yang

dan Westerfield (1996 : 808) financial

dapat dijadikan indikator financial distress

distress adalah suatu kondisi dimana cash

adalah jumlah penduduk.

flow operasi perusahaan tidak mampu


menutupi atau mencukupi kewajiban saat

METODOLOGI

ini, financial distress dapat membawa suatu

Jenis Penelitian

perusahaan

mengalami

kegagalan

Jenis penelitian yang dilakukan

(corporate failure) pada kontraknya yang

adalah evaluasi. Adapun penelitian evaluasi

akhirnya dapat dilakukan restrukturisasi

bertujuan untuk menentukan berhasil/

financial antara perusahaan, kreditor dan

tidaknya atau apakah ada manfaat/ nilai dari

investor.

sektor

suatu program atau kebijakan (Mcmila &

pemerintahan, financial distress adalah

Schumacker, 2010). Sedangkan tujuan

ketidakmampuan

utama

Sedangkan

pada

pemerintah

untuk

evaluasi

adalah

menyediakan

menyediakan pelayanan publik sesuai

informasi yang berguna bagi decision

standar mutu pelayanan yang ditetapkan.

maker untuk menentukan kebijakan yang

Salah satu standar mutu pelayanan yang

akan diambil berdasarkan evaluasi yang

ditetapkan oleh Pemerintah Pusat terhadap

dilakukan.

Pemerintah Daerah adalah alokasi belanja

Penelitian

evaluasi

dapat

modal. Adapun standar mutu pelayanan

digolongkan menjadi dua yaitu: evaluasi

berupa belanja modal adalah sebesar 30%

formatif, dan evaluasi sumatif. Adapun

berdasarkan

penyusunan

evaluasi formatif adalah evaluasi selama

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

tahun berjalan atau selama pelaksanaan

pedoman

Berdasarkan penelitian sebelumnya

kegiatan.

Sedangkan

evaluasi

sumatif

yang dilakukan oleh Syurmita, yaitu

adalah evaluasi yang dilakukan setelah

prediksi financial distress Pemerintah

terjadinya suatu kegiatan. Penelitian ini

Daerah Kabupaten/ Kota di Indonesia

menggunakan pendekatan evaluasi sumatif

dapat ditarik kesimpulan bahwa indikator

untuk menilai penyebab financial distress

finansial dan indicator non finansial dapat

pada Pemerintah Kota Bandar Lampung.

menjadi indicator untuk menilai financial


4

melihat hubungan antara variabel dependen


(financial distress) dan variabel independen

Prosedur Penelitian
Penelitian
menggunakan

dilakukan

pendekatan

dengan

Miles

(kemandirian

dan

keuangan,

derajat

desentralisasi, tingkat solvabilitas, dan

Huberman yaitu:

jumlah penduduk).

Gambar 1 :Pendekatan Penelitian

Sumber Data

Reduksi Data

Adapun instrument penelitian diperoleh


dari Pemerintah Kota Bandar Lampung
Penyajian Data

yaitu Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP)


BPK RI TA 2010 s.d 2012.

Penarikan Kesimpulan

Teknik Analisis Data


Sumber: Pengolahan berbagai data

Data

Peneliti terlebih dahulu mengumpulkan

indikator

kemudian

rasio

terakhir

derajat

desentralisasi,

tingkat

solvabilitas, dan jumlah penduduk Kota

dan tabel untuk memudahkan evaluasi yang


Langkah

dalam

mencakup rasio kemandirian keuangan,

data

disajikan dalam bentuk grafik, persentase

dilakukan.

digunakan

penelitian ini adalah data kuantitatif yang

data- data yang diperlukan berdasarkan


indikator-

yang

Bandar Lampung. Adapun penelitian ini

adalah

menarik kesimpulan menggunakan hasil


pengolahan data.

menggunakan

data

tujuan

menghitung

untuk

kuantitatif

dengan

nilai

pada

variabel tertentu. Sehingga tidak diperlukan


uji asumsi klasik untuk menguji kehandalan

Alat

Analisis

dan

Variabel

yang

setiap variabelnya.

digunakan

Pendekatan

Alat analisis yang dilakukan pada


penelitian ini terdiri atas 2 yaitu:
1. Analisis kualitatif berdasarkan inkuiri

2. Analisis
menggunakan

dilakukan

adalah

diharapkan

hasil

memberikan

naturalistik.

penelitian
evaluasi
makalah
rekomendasi

yang
sehingga

ini

dapat
atas

permasalahan financial distress Pemerintah


kuantitatif
alat

bantu

dengan

Kota Bandar Lampung.

yang

Adapun

digunakan yaitu SPSS Versi 22.

indikator-

Adapun fungsi data kuantitatif adalah

indikator

sebagai berikut:

sebagai alat bantu bagi peneliti dalam


5

pengukuran
diatas

terhadap
dijabarkan

Berdasarkan data yang diperoleh oleh


peneliti dapat digambarkan oleh tren data
Gambar 2: Cara menghitung Indikator
Financial Distress

Kemandirian keuangan

berikut:

Belanja Modal

Tabel 1: Persentase Kemandirian keuangan 2009-

Total belanja

2012
Uraian

PAD
=

Total belanja

PAD

PAD
Derajat desentralisasi

Kemandirian keuangan

Total
pendapatan

Total belanja

2009

70.432.264.168,28

800.950.231.362,29
8,794%

2010

86.692.399.700,41

927.055.241.481,58
9,351%

Total Aset

solvabilitas

Total utang

2011

162.818.119.556,88 1.152.956.065.734,84
14,122%

2012

298.696.062.085,49 1.464.164.886.883,88
20,400%

Sumber: Penelitian Prediksi Financial Distress


Pemda di Indonesia (Syurmita)

Indikator

jumlah

Sumber: Diolah dari Instrumen Penelitian

penduduk

merupakan data sekunder dari Badan Pusat

Gambar 3: Grafik Kemandirian Keuangan

Statistik yang sudah siap diolah tanpa

Kemandirian Keuangan

memerlukan perumusan.
Hasil pengolahan data ini kemudian

30%

di-input pada SPSS versi 22.0 untuk

20%

melihat

Hasil

10%

pengolahan data berupa tabel, grafik, pie

0%

nilai

hubungannya.

2009

chart dan nilai hubungan antar variable dari


SPSS

menjadi

Berdasarkan

hasil

materi

2011

2012

Sumber: Diolah dari Instrumen Penelitian

pembahasan.

pembahasan

2010

dapat

Kemandirian keuangan Pemerintah Kota

disimpulkan rekomendasi perbaikan atas

Bandar

financial distress Pemerintah Kota Bandar

Lampung

menunjukkan

peningkatan dari tahun 2009 hingga tahun

Lampung.

2012.
2. Derajat Desentralisasi

HASIL

ANALISIS

DAN

Berdasarkan data yang diperoleh oleh

PEMBAHASAN

peneliti dapat digambarkan oleh tren data

A. Analisis Data

berikut:

1. Kemandirian Keuangan
6

Tabel 2: Persentase Derajat Desentralisasi 2009-

Tabel 3: Persentase Tingkat Solvabilitas 2009-

2012

2012

Uraian

Derajat desentralisasi
PAD

2009

Uraian

Total pendapatan

70.432.264.168,28

solvabilitas
Total Aset

793.492.316.672,28

2009

1.822.081.028.595,18

8,876%
2010

86.692.399.700,41

2011

162.818.119.556,88

6.060.723.333,20

30063,755%

959.069.382.311,41
9,039%
1.187.871.504.156,20

2010

1.985.276.594.572,55 10.761.976.729,70
18447,137%

2011

2.161.943.710.320,66

13,707%
2012

Total utang

7.972.672.921,76

27116,925%

298.696.062.085,49 1.459.471.856.318,18
20,466%

2012

Sumber: Diolah dari Instrumen Penelitian

2.843.968.782.525,11 62.882.434.393,16
4522,676%

Sumber: Diolah dari Instrumen Penelitian

Gambar 5: Grafik Tingkat Solvabilitas 2009-2012

Gambar 4: Grafik Derajat Desentralisasi 2009-2012

Tingkat Solvabilitas

Derajat Desentralisasi
40000%

30%

30000%

20%

20000%
10000%

10%

0%

0%
2009

2010

2011

2009

2012

Sumber: Diolah dari Instrumen Penelitian

2010

2011

2012

Sumber: Diolah dari Instrumen Penelitian

Derajat desentralisasi Pemerintah Kota

Tingkat Solvabilitas

Bandar Lampung mengalami peningkatan

Bandar Lampung semakin menurun dari

pada tahun 2009 s.d 2012. Peningkatan ini

tahun 2009 s.d 2012. Adapun kenaikan

memiliki gap semakin besar dari tahun ke

utang yang bertambah secara sangat

tahun.

signifikan dari tahun 2009 s.d 2012 memicu

3. Tingkat Solvabilitas

gap yang semakin besar.

Berdasarkan data yang diperoleh oleh

4. Jumlah Penduduk

peneliti dapat digambarkan oleh tren data


berikut:

Pemerintah Kota

Tabel 4: Jumlah Penduduk Kota Bandar Lampung


berdasarkan Kelompok Umur

Sumber: Pengolahan data BPS Sensus Tahun 2010


Tabel 5: Jumlah Penduduk Kota Bandar Lampung

Jenis
Kelamin
Kelompok
Umur

Lakilaki

Perempuan

1971 s.d 2030


Laki-laki +
Perempuan

Tahun

Jumlah Penduduk

1971

198.427

1980

284.275

0-4

42.329

39.962

82.291

5-9

42.421

39.771

82.192

1990

636.418

10-14

40.812

39.348

80.160

2000

743.109

15-19

41.850

45.147

86.997

2008

822.880

20-24

46.997

47.536

94.533

2009

833.517

25-29

44.507

42.539

87.046

2010

881.801

30-34

39.542

37.088

76.630

2011

1.364.759

35-39

33.604

33.077

66.681

2012

1.446.160

2030

2.400.000 (perkiraan)

40-44

30.566

29.760

60.326

45-49

25.469

24.912

50.381

50-54

21.073

18.744

39.817

55-59

14.215

12.745

26.960

60-64

8.745

8.858

17.603

65-69

6.242

6.576

12.818

70-74

3.912

4.626

8.538

75-79

1.988

2.593

4.581

Pemerintah

80-84

1.081

1.536

2.617

berdasarkan

85-89

393

583

976

90-94

135

283

418

78

158

236

445.959

435.842

881.801

95+
Jumlah

Sumber: Wikipedia Kota Bandar Lampung

Berdasarkan

data

diatas

diperoleh

informasi bahwa komposisi penduduk


Kota
jenis

Bandar
kelamin

Lampung
cukup

berimbang. Sedangkan proyeksi penduduk


Kota Bandar Lampung pada tahun 2030
meningkat hampir 2x lipat dibandingkan

Sumber: data BPS Sensus Tahun 2010

penduduk tahun 2012.


5. Financial Distress

Gambar 6: Chart Kelompok umur Penduduk Kota


Bandar Lampung

Berdasarkan data yang diperoleh oleh


peneliti dapat digambarkan oleh tren data

Jenis Kelamin Laki-laki +


Perempuan

0-4

5-9

10-14

15-19

20-24

25-29

30-34

35-39

40-44

45-49

50-54

55-59

60-64

65-69

70-74

75-79

80-84

85-89

90-94

95+

berikut:

Tabel 6: Persentase Financial Distress 2009 s.d

tahun 2012 terjadi peningkatan mencapai

2012
Uraian

110,3%.

Financial Distress
Belanja Modal

2009

2010

2011

B. Hasil Analisis Hubungan Variabel

Total belanja

Berdasarkan hasil pengolahan data

82.279.630.710,00
800.950.231.362,29
10,273%

dengan menggunakan SPSS Versi 22.0


menggunakan analisis korelasi pearson

95.543.967.678,00
927.055.241.481,58
10,306%
109.907.484.427,00

diperoleh hasil sebagai berikut:

1.152.956.065.734,84

9,533%
2012

Tabel 7: Hasil Uji Korelasi Pearson

293.646.392.894,00 1.464.164.886.883,88
20,056%

Financial Distress
Pearson
Correlati
on

Uraian

Sumber: Pengolahan data berbagai sumber


Gambar 7: Grafik Financial Distress 2009 s.d 2012

Financial Distress
20%

Sig. (2tailed)

Kemandirian_Keuangan

,862

,138

Derajat Desentralisasi

,880

,120

Tingkat Solvabilitas

-,910

,090

Jumlah Penduduk

,603

,397

Sumber: Pengolahan Data SPSS

10%
0%
2009

2010

2011

Tabel 8: Hubungan Korelasi Pearson menurut D.A

2012

De vaus

Sumber: Pengolahan data berbagai sumber

Financial distress Pemerintah Kota Bandar


Lampung memiliki kecenderungan statis
selama tahun 2009 s.d 2011. Malah terdapat
kecenderungan

untuk

mengalami
Sumber:

penurunan pada tahun 2011. Namun pada

http://setabasri01.blogspot.com/2011/04/uji-

tahun 2012 terjadi peningkatan drastis.


Apabila

dijabarkan

dalam

korelasi-pearson.html

kenaikan/

penurunan adalah sebagai berikut:

Berdasarkan

uji

hubungan

yang

Pada tahun 2010 terjadi peningkatan

dilakukan

antara

sebesar

(Financial

distress) terhadap

sebelumnya. Pada tahun 2011 terjadi

independen

(kemandirian

penurunan sebesar 7,5%, sedangkan pada

Derajat desentralisasi, tingkat solvabilitas,

0,325%

dibandingkan

tahun

variabel

dependen
variabel
keuangan,

dan jumlah penduduk) diperoleh informasi

2009 s.d tahun 2012. Namun secara

bahwa:

persentase

1. Terdapat hubungan sangat kuat antara

Pemerintah Kota Bandar Lampung hanya

Financial Distress dan Kemandirian

mampu membiayai 20,4% total belanja

Keuangan.

Pemda pada tahun 2012. Hal ini tentunya

2. Terdapat hubungan sangat kuat antara


Financial

Distress

dan

cukup

Derajat

kemandirian

memprihatinkan

Pemerintah

Desentralisasi.

keuangan

Kota

mengingat

Bandar

Lampung

merupakan ibukota Provinisi Lampung

3. Terdapat hubungan berbanding terbalik

yang notabene padat penduduk, padat karya

sangat kuat antara Financial Distress

dan padat modal dibandingkan daerah lain

dan Tingkat Solvabilitas.

di Lampung namun ternyata kemandirian

4. Terdapat
Financial

hubungan

kuat

Distress

dan

antara

keuangannya masih belum mampu secara

Jumlah

signifikan membiayai belanjanya, Pada

Penduduk.

tahun 2012 perlu dicermati pula bahwa


terjadi

pengalihan

Pajak

Bumi

dan

C. Pembahasan

Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak

Berdasarkan analisis data diatas, maka

Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dari

dapat dibahas masing-masing indikator

sebelumnya

financial distress sebagai berikut:

Pelayanan Pajak menjadi dikelola oleh

1. Kemandirian Keuangan

Pemerintah Daerah. Oleh karena itu,

Adapun tujuan desentralisasi daerah

kenaikan

dikelola

oleh

kemandirian

Kantor

keuangan

adalah mendorong kemandirian Pemerintah

Pemerintah Kota Bandar Lampung dapat

Daerah dalam mengelola pendapatan dan

disebabkan oleh pengalihan pajak tersebut

belanjanya. Dengan adanya wewenang

dan bukan berdasarkan adanya upaya

yang

intensifikasi dan ekstensifikasi Pajak Asli

terdesentralisasi

seharusnya

Pemerintah Kota Bandar Lampung dapat

Daerah (PAD).
Gambar 8: Laffer Curve

mengupayakan peningkatan Pendapatan


Asli Daerah (PAD) agar dapat membiayai
seluruh belanja dan kegiatan Pemerintah
Daerah.
Berdasarkan analisis data diperoleh
informasi bahwa Pemerintah Kota Bandar
Lampung

mengalami

peningkatan

kemandirian keuangan terhitung tahun


10

Sumber: Wikipedia Laffer Curve

diperoleh posisi PAD dengan mengacu


pada kurva laffer curve.

Hasil

pengolahan

menggunakan

SPSS

data
versi

dengan

c. Melakukan upaya perbaikan terhadap

22.0

akun- akun belanja agar semakin

menunjukkan bahwa terdapat hubungan

berkuaalitas sehingga dapat diarahkan

sangat kuat antara Financial Distress dan

pada

Kemandirian Keuangan. Artinya adalah

Pemerintah Kota Bandar Lampung

dicermati bahwa akan terjadi kegoncangan

akan meningkat.

ekonomi apabila pada suatu saat PAD

2. Derajat Desentralisasi

Pemerintah Kota Bandar Lampung tidak

Adapun derajat desentralisasi menunjukkan

meningkat sesuai yang ditargetkan. Apalagi

tingkat kemapuan PAD sebagai sumber

bila dianalisis dengan menggunakan kurva

pendapatan

laffer curve belum diketahui apakah tarif

pendapatan

pajak yang menghasilkan PAD Pemerintah

persentase

Kota Bandar Lampung sedang berada pada

pemda.
PAD

dibandingkan

total

Semakin

tinggi

dibandingkan

total

desentralisasi Pemda yang artinya juga

sudah berada pada titik jenuh. Terdapat

semakin baik karena Pemda tidak terlalu

PAD

bergantung lagi pada dana transfer dari

Pemerintah Kota Bandar Lampung telah

pusat berupa DAU dan DAK.

berada pada titik puncak laffer curve

Berdasarkan data diatas diperoleh

mengingat tingkat kemandirian keuangan

informasi

pemerintah kota Bandar lampung baru

bahwa

terjadi

peningkatan

derajat desentralisasi pada Pemerintah Kota

sekitar 20% saja.

Bandar Lampung. Peningkatan ini terjadi

Rekomendasi perbaikan yang dapat

sangat signifikan pada tahun 2012 dimana

diberikan pada Pemerintah Kota Bandar

terjadi kenaikan hampir 7% dibandingkan

Lampung adalah:

tahun sebelumnya. Perlu dicermati bahwa

a. Meningkatkan PAD melalui upaya


intensifikasi

utama

pendapatan maka semakin besar derajat

titik yang menuju puncak ataukah malah

apabila

memberikan

masyarakat sehingga secara total GDP

total belanja. Berdasarkan data diatas, dapat

ekonomi

yang

multiplier effect terhadap kemakmuran

semakin tinggi PAD maka semakin tinggi

kerawanan

sektor

maupun

pada tahun 2012 adalah masa peralihan

ekstensifikasi

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea

sector- sector penerimaan.

Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

b. Melakukan pemetaan kondisi tax rate

(BPHTB) dari sebelumnya dikelola oleh

untuk tiap jenis pendapatan asli daerah

Kantor Pelayanan Pajak menjadi dikelola

Pemerintah Kota Bandar Lampung agar

oleh Pemerintah Daerah. Oleh karena dapat


11

disimpulkan bahwa peningkatan derajat

a. Meningkatkan PAD melalui upaya

desentralisasi belum merupakan upaya

intensifikasi

optimal dari Pemerintah Kota Bandar

sector- sector penerimaan.

Lampung dalam meningkatkan PAD secara

untuk tiap jenis pendapatan asli daerah


pengolahan

data

dengan

Pemerintah Kota Bandar Lampung agar

SPSS

versi

22.0

diperoleh posisi PAD dengan mengacu

menggunakan

menunjukkan bahwa terdapat hubungan

pada kurva laffer curve.

sangat kuat antara Financial Distress dan


derajat

ekstensifikasi

b. Melakukan pemetaan kondisi tax rate

signifikan.
Hasil

maupun

desentralisasi.

adalah

Adapun tingkat solvabilitas adalah

semakin tinggi PAD maka semakin tinggi

kemampuan Total Aset Pemerintah Kota

total pendapatan. Berdasarkan data diatas,

Bandar

dapat

utangnya.

dicermati

Artinya

3. Tingkat Solvabilitas

bahwa

akan

terjadi

Lampung

dalam

Tingkat

solvabilitas

sangat

ketimpangan pendapatan apabila pada

penting

suatu saat PAD Pemerintah Kota Bandar

kepailitan

Lampung tidak meningkat sesuai yang

Semakin

ditargetkan.

Pemerintah Kota Bandar Lampung maka

Dapat disimpulkan bahwa kondisi

dalam

mengcover

semakin

pemerintah Kota Bandar Lampung masih

memprediksi

potensi

suatu

Pemerintah

Daerah.

tinggi

tingkat

baik

pula

solvabilitas

komposisi

asset

dibandingkan utangnya.

sangat bergantung pada DAU dan DAK

Berdasarkan

data

diatas

diperoleh

Pemerintah Pusat. Kemampuan PAD dalam

informasi bahwa Pemerintah Kota Bandar

mengcover total pendapatan paling besar

Lampung

hanya senilai 20,46% pada tahun 2012.

solvabilitas. Penguatan solvabilitas ini

Padahal berdasarkan uji korelasi terdapat

disebabkan

hubungan sangat kuat antara financial

Pemerintah Kota Bandar Lampung dari

distress dan derajat desenttralisasi. Artinya

tahun 2009 s.d 2012 sebesar 1 triliun sejak

apabila suatu saat derajat desentralisasi

tahun

Pemerintah Kota Bandar Lampung tidak

disebabkan terjadi karena peningkatan total

mampu

maka

belanja sebagaimana dibahas pada poin

terdapat potensi financial distress pada

sebelumnya dan salah satu jenis belajanya

Pemerintah Kota Bandar Lampung.

yaitu belanja modal.

mengcover

Berdasarkan

pendapatan

pembahasan,

2009.

Hasil

mengalami

oleh

penguatan

meningkatnya

Adapun

Aset

penguatan

ini

pengolahan

data

dengan

SPSS

versi

22.0

rekomendasi yang dapat diberikan kepada

menggunakan

Walikota Bandar Lampung adalah:

menunjukkan bahwa terdapat hubungan


12

berbanding

terbalik

antara

Financial

Kota Bandar Lampung semakin padat dari

Distress dan tingkat solvabilitas. Artinya

tahun ke tahun dan diprediksi penduduk

adalah semakin tinggi tingkat solvabilitas

Kota Bandar Lampung akan mencapai 2,4

maka semakin rendah financial distress.

juta orang pada tahun 2030. Saat ini

Oleh karena itu, tidak dapat dielaborasi

kelompok umur mayoritas penduduk Kota

hubungan antara solvabilitas dan financial

Bandar Lampung adalah pada rentang usia

distress karena hasil pengolahan data

20- 24 tahun. Diharapkan dengan semakin

menunjukkan

banyaknya penduduknya yang berada pada

bahwa

kedua

variable

berbanding terbalik.

usia

4. Jumlah Penduduk

pendapatan asli daerah yang muaranya

Adapun jumlah penduduk merupakan salah

adalah

satu sumber daya dalam meningkatkan

Pemerintah Kota Bandar Lampung.

pertumbuhan ekonomi Pemerintah Daerah.

produktif

dapat

peningkatan

mendorong

financial

distress

Kepada Walikota Bandar Lampung

Adapun penduduk yang dapat memberikan

direkomendasikan untuk:

dampak pertumbuhan ekonomi secara

a. Memanfaatkan

kelompok

usia

signnifikan adalah penduduk yang berada

produktif saat ini untuk mendorong

dalam kelompok umur produktif. Penduduk

pertumbuhan

pada usia kerja ini dapat mendorong

memberikan feedback berupa kenaikan

konsumsi

pada

PAD pada Pemerintah Kota Bandar

sehingga

meningkatkan

persamaan

Keynesian

pertumbuhan

ekonomi

sehingga

Lampung.

ekonomi yang juga dapat meningkatkan

b. Menginvestasikan lebih besar lagi

pendapatan asli daerah Pemerintah Kota

anggaran pada sector pendidikan agar

Bandar

diperoleh

Lampung.

Kenaikan

PAD

Sumber

Daya

Manusia

merupakan salah satu indicator semakin

dengan kuantitas dan kualitas yang

baiknya financial distress.

memadai dalam meningkatkan PAD

Hasil
menggunakan

pengolahan

data

dengan

SPSS

versi

22.0

Pemerintah Kota Bandar Lampung.

menunjukkan bahwa terdapat hubungan

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

yang kuat antara Financial Distress dan

KEBIJAKAN

jumlah penduduk. Artinya adalah semakin

Kesimpulan

tinggi jumlah penduduk maka semakin

Kemandirian Keuangan

tinggi financial distress.

1. Pemerintah Kota Bandar Lampung

Berdasarkan informasi diatas dapat

mengalami peningkatan kemandirian

disimpulkan bahwa kondisi Pemerintah

keuangan terhitung tahun 2009 s.d


13

tahun 2012. Namun secara persentase


kemandirian

keuangan

3. Hasil

Pemerintah

pengolahan

data

dengan

menggunakan SPSS versi 22.0

Kota Bandar Lampung hanya mampu

menunjukkan

membiayai 20,4% total belanja Pemda

hubungan

sangat

kuat

antara

pada tahun 2012.

Financial

Distress

dan

derajat

2. Kenaikan kemandirian keuangan pada


tahun

2012

disebabkan

bahwa

terdapat

desentralisasi.

adanya

Tingkat Solvabilitas

pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan

1. mengalami

penguatan

solvabilitas.

(PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas

Penguatan solvabilitas ini disebabkan

Tanah dan Bangunan (BPHTB) dari

oleh meningkatnya Aset Pemerintah

sebelumnya

Kantor

Kota Bandar Lampung dari tahun 2009

Pelayanan Pajak menjadi dikelola oleh

s.d 2012 sebesar 1 triliun sejak tahun

Pemerintah Daerah.

2009.

3. Hasil

dikelola

oleh

pengolahan

menggunakan

data

SPSS

dengan

versi

2. Hasil

22.0

pengolahan

menggunakan

data

SPSS

dengan

versi

22.0

menunjukkan bahwa terdapat hubungan

menunjukkan bahwa terdapat hubungan

sangat kuat antara Financial Distress

berbanding terbalik antara Financial

dan Kemandirian Keuangan.

Distress dan tingkat solvabilitas.

Derajat Desentralisasi
1. Terjadi

peningkatan

desentralisasi
Kota

Jumlah Penduduk

pada

derajat

ini

Bandar

Lampung.

tahun dan diprediksi penduduk Kota

terjadi

derajat

Kota

Lampung semakin padat dari tahun ke

sangat

Bandar Lampung akan mencapai 2,4

signifikan pada tahun 2012.


2. Kenaikan

Pemerintah

Pemerintah

Bandar

Peningkatan

1. kondisi

juta orang pada tahun 2030.

desentralisasi

2. Hasil

pengolahan

data

pada tahun 2012 disebabkan adanya

menggunakan

pengalihan

Pajak

Bumi

dan

menunjukkan

Bangunan

(PBB)

dan

Bea

hubungan yang kuat antara Financial

Perolehan Hak Atas Tanah dan


Bangunan

(BPHTB)

SPSS

dengan

bahwa

versi

terdapat

Distress dan jumlah penduduk.

dari

sebelumnya dikelola oleh Kantor


Pelayanan Pajak menjadi dikelola
oleh Pemerintah Daerah.

14

22.0

Rekomendasi Kebijakan

Jumlah penduduk

Kemandirian Keuangan

a. Memanfaatkan

a. Meningkatkan PAD melalui upaya


intensifikasi

maupun

kelompok

usia

produktif saat ini untuk mendorong

ekstensifikasi

pertumbuhan

sector- sector penerimaan.

ekonomi

sehingga

memberikan feedback berupa kenaikan

b. Melakukan pemetaan kondisi tax rate

PAD pada Pemerintah Kota Bandar

untuk tiap jenis pendapatan asli daerah

Lampung.

Pemerintah Kota Bandar Lampung agar

b. Menginvestasikan lebih besar lagi

diperoleh posisi PAD dengan mengacu

anggaran pada sector pendidikan agar

pada kurva laffer curve.

diperoleh

Sumber

Daya

Manusia

c. Melakukan upaya perbaikan terhadap

dengan kuantitas dan kualitas yang

akun- akun belanja agar semakin

memadai dalam meningkatkan PAD

berkualitas sehingga dapat diarahkan

Pemerintah Kota Bandar Lampung.

pada

sector

yang

memberikan

multiplier effect terhadap kemakmuran


masyarakat sehingga secara total GDP
Pemerintah Kota Bandar Lampung
akan meningkat.
Derajat Desentralisasi
a. Meningkatkan PAD melalui upaya
intensifikasi

maupun

ekstensifikasi

sector- sector penerimaan.


Melakukan pemetaan kondisi tax rate
untuk tiap jenis pendapatan asli daerah
Pemerintah Kota Bandar Lampung agar
diperoleh posisi PAD dengan mengacu
pada kurva laffer curve.
Tingkat Solvabilitas
1. Tidak

terdapat

rekomendasi

yang

diberikan karena tidak ada hubungan


yang

signifikan

solvabilitas

dan

antara

tingkat

financial

distress

Pemerintah Kota Bandar Lampung.

15

DAFTAR PUSTAKA
Abees. (2013). Peran dan Fungsi Pemerintah di Bidang Ekonomi. Diakses pada 5 Maret 2015
dari
https://abees1010.wordpress.com/2013/04/17/peran-dan-fungsi-pemerintah-dibidang-ekonomi/
Direktorat Jenderal Keuangan Daerah. (2013). Belanja Modal Pemda Harus Capai 30 Persen.
Diakses pada 5 Maret 2015 dari http://keuda.kemendagri.go.id/artikel/detail/41-belanjamodal-pemda-harus-capai-30-persen
Hendra. (2013). Mekanisme Desentralisasi Fiskal dan Kebijakan Pembangunan Daerah.
Diakses pada 5 Maret 2015 dari http://hendragforce.blogspot.com/2011/04/mekanismedesentralisasi-fiskal-dan.html
Pupung. Desentralisasi Fiskal dan Kemandirian Daerah. Diakses pada 5 Maret 2015, dari
https://pupungph.wordpress.com/2012/10/10/hello-world/
Rahmatika, Dhea. (2011). Prediksi Financial Distress. Diakses pada 5 Maret 2015 dari
http://labfinancemgtfeunpad.blogspot.com/2011/06/prediksi-financial-distress-bydwi.html
Subekti Aji, Insan. Analisis data Kualitatif. Diakses pada 5 Maret 2015 dari
https://insanajisubekti.wordpress.com/2013/03/30/analisis-data-kualitatif/
Syurmita. (2014). Prediksi Financial Distress pada Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota di
Indonesia. Lombok: Universitas Mataram

16

Anda mungkin juga menyukai