Anda di halaman 1dari 152

Bisakah Hadits Ahad dijadikan Hujjah

dalam Perkara Akidah ?

Azizi Fathoni Ash Shiddiqi

DEFINISI - DEFINISI

DEFINISI
ILM, ZHANN, SYAKK, DAN JAHL

Al-Qadhi Abu Yalaa Al-Farraa Al-Hambali (w. 458 H)

hlm 76

Al-Qadhi Abu Yalaa Al-Farraa Al-Hambali (w. 458 H)

hlm 82-83

Imam Al-Haramain Al-Juwaini Asy-Syafii (w. 478 H)

hlm 8

DEFINISI HADITS AHAD

Al-Imam Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalaanii Asy-Syafiiy (w. 852


H)

hlm 200

Al-Imam Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalaanii Asy-Syafiiy (w. 852


H)

hlm 196

Al-Imam Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalaanii Asy-Syafiiy (w. 852


H)

hlm 195

Dr. Muhammad Abu Al-Laits Al-Khair Abadi

hlm 130

DEFINISI DAN BATASAN AKIDAH

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdulhamid Al-Atsari:

hlm 19

Asy-Syaikh Asy-Syahiid Hasan Al-Banna, menurut ket. AsySyaikh Dr. Utsman Jumah Dhumairiyah

hlm 121

Al-Imam Al-Muhaqqiq Muhammad bin Ahmad As-Safarini AlHambali (w. 1188 H)

juz 1 hlm 5

Asy-Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi (Imam Masjid Nabawi):

hlm 15

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimiyn (w. 2001 M):

hlm 74

Al-Allamah Thahir bin Shalih Al-Jazairiy (w. 1338 H):

hlm 12

Asy-Syaikh Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan (w. 1429 H)

hlm 13-14

Akidah Pembenaran yang Bersifat Pasti (100%)


Berdasarkan Al-Quran surat Yunus [10]: 36*

Dan kebanyakan mereka tidak


mengikuti kecuali persangkaan
saja. Sesungguhnya dugaan
itu sedikitpun tidak berguna
untuk mencapai kebenaran.
Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui apa yang mereka
kerjakan.

* Juga An-Nisa [4]: 157, Al-Anam [6]: 116, 148, Yunus [10] 66, 68, An-Najm [53]: 23, 27-28

Al-Imam Al-Mufassir Abu Bakr Al-Qurthubiy Al-Maliki (w. 671 H):


Ayat ini (Yunus 36) menunjukkan bahwa dalam perkara-perkara
akidah tidak cukup (berdasarkan) zhann (dugaan).

juz 10
hlm 502

Al-Muhaqqiq Abu Ishaq Asy-Syathibiy Al-Malikiy (w. 790 H):


Bahwasannya jika memang dalil zhanniy bisa dijadikan dasar
Ushulul-Fiqh tentunya dia juga bisa dijadikan dasar Ushulud-Diyn,
namun menurut konsensus ulama tidak demikian.

juz 1 hlm 20

Al-Allaamah Sadu-d-Diyn At-Taftaazaaniy Al-Hanafiy (w. 791


H): Zhann (dugaan) tidak diperhitungkan dalam perkara-perkara
akidah,

hlm 89

Al-Imam Badruddiyn Az-Zarkasyi Asy-Syafiiy (w. 794 H):


Aku katakan: Perbedaan antara taqliyd dengan perkara akidah adalah
bahwa yang dituntut dalam perkara akidah adalah keyakinan
sementara yang dituntut dalam perkara cabang adalah dugaan, dan
taqliyd dekat dengan dugaan, dan karena perkara akidah lebih urgen
daripada perkara cabang, di mana orang yang salah dalam perkara
akidah adalah kafir.

juz 6
hlm 283

Al-Imam Al-Muhaqqiq Muhammad bin Ahmad As-Safariniy AlHambaliy (w. 1188 H): Yang diperhitungkan sebagai dalilnya (dalil
Akidah) adalah keyakinan, karena Zhann (dugaan) tidak
diperhitungkan dalam perkara-perkara keyakinan, akan tetapi dia
diperhitungkan dalam perkara-perkara amaliyah (praktis).

juz 1 hlm 5

Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdullah bin Shiddiq Al-Ghumari:


Dalam permasalahan-permasalahan Tauhid (Akidah), keyakinan
merupakan perkara yang dituntut dengan pasti/harus.

hlm 13-14

POSISI HADITS AHAD PADA TINGKATAN PENILAIAN AKAL


Al-Ilm, Al-Yaqn
(keyakinan)
Azh-Zhann
(dugaan)
Asy-Syakk
(keragu-raguan)
Al-Jahlah
(ketidaktahuan)

Pembenaran yang bersifat pasti (dengan menafikan secara


pasti adanya kemungkinan lain) pembenaran 100%
Pembenaran yang bersifat tidak pasti (tanpa menafikan
adanya kemungkinan lain) pembenaran > 50% dan < 100%
Posisi antara membenarkan dan menafikan 50% - 50%
Posisi tidak tahu sama sekali atau membenarkan secara pasti
sesuatu yang sebenarnya salah 0%

Hadits
Ahad

PERBEDAAN ULAMA SEPUTAR HADITS AHAD


BERFAIDAH ILM ATAU ZHANN

FAIDAH YANG DIHASILKAN HADITS AHAD PERKARA MUKHTALAF

Hadits Ahad
Ahad
Hadits

Berfaidah Ilm
Ilm
Berfaidah
secara Mutlak
Mutlak
secara

Ahmad bin
bin Hanbal
Hanbal (di
(di salah
salah satu
satu riwayat),
riwayat), Dawud
Dawud bin
bin Ali
Ali AzhAzhAhmad
Zhahiri, Al-Harits
Al-Harits bin
bin Asad
Asad Al-Muhasibi,
Al-Muhasibi, Al-Husain
Al-Husain bin
bin Ali
Ali AlAlZhahiri,
Karabisi, Ibn
Ibn Hazm,
Hazm, Muhammad
Muhammad bin
bin Khuwayzamandad
Khuwayzamandad AlAlKarabisi,
Maliki, dll.
dll.
Maliki,

Berfaidah Ilm
Ilm
Berfaidah
dengan Syarat
Syarat
dengan

Jika Disertai
Disertai Qarnah
Qarnah secara
secara mutlak:
mutlak: An-Nazhzham,
An-Nazhzham, AlAlJika
Jashshash, Al-Juwaini,
Al-Juwaini, Al-Amidi,
Al-Amidi, Al-Ghazali,
Al-Ghazali, Ibn
Ibn Al-Hajib,
Al-Hajib, AlAlJashshash,
Baidhawi, Ibn
Ibn As-Subki,
As-Subki, dll.
dll. || Jika
Jika disertai
disertai Qarnah
Qarnah berupa
berupa
Baidhawi,
Talaqqiy Al-Ummah
Al-Ummah bil-Qabl:
bil-Qabl: Asy-Syiyrazi,
Asy-Syiyrazi, Ibn
Ibn Shalah,
Shalah, Ibnu
Ibnu
Talaqqiy
Taimiyyah, Ibn
Ibn Katsir,
Katsir, dll.
dll. || Jika
Jika disertai
disertai Qarnah
Qarnah berupa
berupa sifat
sifat
Taimiyyah,
Al-Mustafdh atau
atau Al-Masyhr:
Al-Masyhr: Ibn
Ibn Fawrak,
Fawrak, Abu
Abu Ishaq
Ishaq AlAlAl-Mustafdh
Isfirayiyni, Abu
Abu Manshur
Manshur Al-Baghdadi,
Al-Baghdadi, dll.
dll.
Isfirayiyni,

Berfaidah Zhann
Zhann
Berfaidah
secara Mutlak
Mutlak
secara

An-Numan bin
bin Tsabit
Tsabit dan
dan Al-Ahnaf,
Al-Ahnaf, mayoritas
mayoritas Al-Malikiyyah,
Al-Malikiyyah,
An-Numan
Muhammad bin
bin Idris
Idris dan
dan mayoritas
mayoritas Asy-Syafiiyyah,
Asy-Syafiiyyah, Ahmad
Ahmad
Muhammad
bin Hanbal
Hanbal (di
(di riwayat
riwayat yang
yang lain)
lain) dan
dan Al-Hanabilah
Al-Hanabilah AlAlbin
Mutaakhkhirun, dll.
dll. (jumhur)
(jumhur)
Mutaakhkhirun,

PARA ULAMA YANG BERPENDAPAT


BAHWA HADITS AHAD BERFAIDAH ILM
SECARA MUTLAK

Al-Imaam Ibn Hazm Azh-Zhaahiri (w. 456 H), dan menurut ket.
beliau: Abu Sulaimaan Daawud bin Ali Azh-Zhaahiri (w. 270 H), AlHusain bin Ali Al-Karaabisi Asy-Syaafii (w. 248 H), Al-Haarits bin
Asad Al-Muhaasibi Ash-Shuufi (w. 243 H), dan Ibn Huwaizamandzad
Al-Maaliki (w. 390 H) dan menurut beliau: Maalik bin Anas (w. 179 H)

juz 1 hlm 119

Al-Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H) (dalam sebuah riwayat),


menurut ket. Al-Imam Tajuddin Ibn As-Subki (w. 771 H)

hlm 66

Al-Faqih Muhammad bin Ali bin Ishaq bin Khuwayzamandad Al-Maliki


(w. 390 H), menurut ket. Ibn Hajar Al-Asqalani (w. 852 H)

juz 7 hlm 359

PARA ULAMA YANG BERPENDAPAT


BAHWA HADITS AHAD BERFAIDAH ILM
JIKA DISERTAI QARINAH (INDIKASI)

Abu Ishaq An-Nazhzham Al-Mutazili (w. 231 H), menurut ket.


Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syiyrazi (w. 476 H)

hlm 154

Al-Imam Abu Bakar Ar-Razi Al-Jashshash Al-Hanafi (w. 370 H)

juz 3 hlm 53

Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad Al-Amidi Asy-Syafii


(w. 631 H)

juz 2 hlm 43

Al-Imam Qadhi Qudhat Tajuddin Ibn As-Subki As-Syafii (w. 771


H)

hlm 66

Imam Al-Haramayn Al-Juwaini (w. 478 H), Al-Ghazali (w. 505 H),
Ibn As-Subki (w. 771 H), Al-Amidi (w. 631 H), Ibnu Al-Hajib (w.
646 H), dan Al-Baidhawi (w. 691 H), menurut ket. Al-Imam
Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H):

juz 2 hlm 51

Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ali Asy-Syiyrazi (w. 476 H)


(dalam pendapat barunya)

hlm 154

Al-Hafizh Abu Amr Ibn Shalah Asy-Syahrazuri (w. 643 H),


menurut ket. Al-Hafizh An-Nawawi (w. 676 H)

juz 1 hlm 40

Al-Imam Al-Hafizh Ibn Katsir Asy-Syafii (w. 774 H)

juz 1 hlm 126

Al-Ustadz Abu Ishaq Al-Isfirayini (w. 418 H) dan Ibnu Furak AsySyafii (w. 406 H), menurut ket. Al-Imam Tajuddin Ibn As-Subki (w.
771 H)

hlm 66

Al-Imam Abu Manshur Abdul Qahir Al-Baghdadi Al-Hambali (w.


429 H), menurut ket. Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H):

juz 2 hlm 53

PARA ULAMA YANG BERPENDAPAT


BAHWA HADITS AHAD BERFAIDAH ZHANN
SECARA MUTLAK

Al-Aimmah Al-Arbaah: Abu Hanifah (w. 150 H), Malik bin Anas
(w. 179 H), Asy-Syafii (w. 204 H), dan Ahmad bin Hambal (w.
241 H) dalam salah satu riwayat. Menurut keterangan Prof. Dr.
Mahmud Syaltut:

hlm 59

Al-Imam Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit (w. 150 H), menurut
ket. Al-Imam As-Sarakhsi Al-Hanafi (w. 483 H):

juz 3
hlm 79-80

Mayoritas Ulama, menurut ket. Alauddin As-Samarqandi AlHanafi (w. 450 H):

juz 2 hlm 661

Fakhrul Islam Ali bin Muhammad Al-Bazdawi Al-Hanafi (w. 482


H)

hlm 158

Al-Imam Abu Bakar As-Sarakhsi Al-Hanafi (w. 490 H)

juz 1 hlm 112

Al-Imam Abu Al-Barakat An-Nasafi Al-Hanafi (w. 710 H)

juz 2 hlm 19

Al-Imam Al-Allamah Ibn Najim Al-Hanafi (w. 970 H), dan menurut
ket. beliau: Mayoritas Ulama dan Seluruh Fuqaha

hlm 272

Al-Imam Alauddin Abdulaziz Al-Bukhari Al-Hanafi (w. 730 H)

juz 1 hlm 84

Al-Imam Malik bin Anas (w. 179 H). Menurut ket. Al-Qadhi Iyadh
(w. 544 H), sedangkan nukilan Ibn Khuwazamandad adalah
janggal.

hlm 259

Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani Al-Maliki (w. 403 H),


menurut ket. Al-Hafizh Al-Iraqi (w. 806 H):

hlm 15

Al-Hafizh Al-Muhaddits Ibn Abdilbarr Al-Maliki (w. 463 H) dan


menurut ket. beliau: Mayoritas Malikiyyah

juz 1 hlm 7

Al-Hafizh Abu Al-Walid Al-Baji Al-Maliki (w. 474 H) dan menurut


ket. beliau: Seluruh Fuqaha

hlm 234

Al-Qadhi Abu Bakar Ibn Al-Arabi Al-Maliki (w. 543 H)

hlm 115

Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Idris Al-Qarafi Al-Maliki (w. 684


H)

hlm 273

Asy-Syaikh Muhammad Abdul Azhim Az-Zurqani Al-Maliki (w. 1367


H)

juz 2 hlm 188

Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii (w. 204 H), mayoritas


Fuqaha dan Ulama, menurut ket. Al-Imam Ibn Abdilbarr (w. 463
H):

juz 1 hlm 7

Al-Hafizh Al-Muhaddits Al-Khathib Al-Baghdadi Asy-Syafii (w. 463


H)

hlm 16

Al-Imam Abu Al-Muzhaffar As-Samani Asy-Syafii (w. 489 H)

juz 2 hlm 262

Al-Imam Muhammad Ar-Razi Fakhruddin Asy-Syafii (w. 604 H)

juz 1 hlm 200

Al-Hafizh Abu Zakariya An-Nawawi Asy-Syafii (w. 676 H) dan menurut ket. beliau: Mayoritas
Sahabat, Tabiin, Muhadditsin, Fuqaha, dan Ushuliyin

juz 1 hlm 187

juz 1 hlm 188

Al-Imam Tajuddin Ibn Al-Farkah Asy-Syafii (w. 690 H)

hlm 180

Al-Hafizh Al-Mujtahid Ibn Daqiq Al-Iyd Asy-Syafii (w. 702 H)


dan menurut ket. beliau: Mayoritas Ulama

juz 1 hlm 183

Al-Hafizh Al-Faqih Sirajuddin Ibn Al-Mulqin Asy-Syafii (w. 804


H). Dan menurut ket. beliau: Al-Hafizh An-Nawawi, Al-Imam Ibn
Barhan, dan Al-Imam Izzuddin Abdussalam

juz 1
hlm 76-77

Al-Imam Al-Hafizh Al-Muhaddits Abdurrahman bin Abi Bakr


Al-Iraqi Asy-Syafii (w. 806 H)

hlm 15

Al-Imam Muhammad bin Utsman Al-Mardini Asy-Syafii (w. 871 H)

hlm 214

Al-Muhaddits Ahmad Ibn Hajar Al-Haitami Asy-Syafii (w. 974


H)

juz 1 hlm 60

Al-Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H)


(dalam salah satu riwayat), Mayoritas
Ulama, dan Hanabilah Mutaakhkhirin,
menurut ket. Al-Imam Ibn Qudamah AlMaqdisi Al-Hambali (w. 620 H):

hlm 52

Al-Imam Abu Al-Khaththab Mahfuzh bin Ahmad Al-Hambali (w.


510 H)

juz 3 hlm 78

Al-Imam Sulaiman bin Abdulqawi Ath-Thufi Al-Hambali (w. 716


H): yang paling menonjol dari dua riwayat pendapat Al-Imam
Ahmad bin Hambal dan Mayoritas Ulama

hlm 53

Al-Imam Shafiyuddin Al-Baghdadi Al-Hambali (w. 739 H), dan


menurut ket. beliau: Al-Imam Ahmad dalam salah satu riwayat,
Mayoritas Ulama dan Hanabilah Mutaakhkhirun

hlm 48

Al-Imam Alauddin Ali bin Sulaiman Al-Mardawi Al-Hambali (w.


885 H): yang sahih dari dua riwayat pendapat Al-Imam Ahmad
bin Hambal, dan menurut ket. beliau: Mayoritas Hanabilah dan
Mayoritas Ulama.

juz 1 hlm 1808

Asy-Syaikh Muhammad Al-Khudhari Bik (w. 1345 H)

juz 216

PENDAPAT JUMHUR

Al-Imam Tajuddin Ibn As-Subki (w. 771 H): Hadits Ahad tidak
berfaidah keyakinan kecuali jika disertai qarinah (indikasi),
Mayoritas Ulama berpendapat dia tidak berfaidah keyakinan
secara mutlak, menurut Al-Imam Ahmad (dalam salah satu riwayat)
dia berfaidah keyakinan secara mutlak.

hlm 66

Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H): Telah terjadi


perbedaan pendapat terkait faidah keyakinan pada Hadits Ahad
dalam beberapa pendapat: Pertama: Tidak berfaidah keyakinan
secara mutlak. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, baik dengan
disertai qarinah maupun tidak.

juz 2 hlm 50-51

Asy-Syaikh Al-Allamah Abdullah bin Ibrahim Asy-Syinqithi AlMaliki (w. 1235 H): [ ] [ dan menurut mayoritas dari para ulama
yang ahli, dia (Hadits Ahad) tidak berfaidah ilm (keyakinan) secara
mutlak ] [ ].

hlm 69-70

Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (w.


1393 H): Artinya, bahwa Hadits Ahad tidak berfaidah ilm atau
keyakinan bagi mayoritas ulama yang kompeten, yaitu para ulama
ushul. Perkataan beliau [ secara mutlak ] artinya sama saja baik
didukung oleh indikasi-indikasi akan kebenarannya atau tidak. Hujjah
dari pendapat ini adalah: Bahwa para perawi tidak mashum, jadi
klaim ke-qathiy-an hadits yang mereka bawa dengan adanya
kemungkinan dusta pada mereka seakan-akan merupakan suatu
kerancuan.

hlm 345

Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (w.


1393 H): Kesimpulan dari pendapat ulama ushul dalam masalah ini,
yaitu apakah Hadits Ahad berfaidah keyakinan atau dia tidak berfaidah
kecuali hanya dugaan?, para ulama ushul memiliki tiga madzhab:
Pertama; madzhab mayoritas ulama ushul: bahwa Hadits Ahad hanya
berfaidah dugaan saja, dia tidak berfaidah keyakinan.

hlm 155

Al-Hafizh Abu Zakariya An-Nawawi Asy-Syafii (w. 676 H) dan menurut ket. beliau: Mayoritas Sahabat,
Tabiin, Muhadditsin, Fuqaha, dan Ushuliyin

juz 1 hlm 187

BUKTI HADITS AHAD BERFAIDAH ZHANN

HADITS JIBRIL
(tentang Iman, Islam, dan Ihsan)

Hadits No. 50

Hadits No. 4777

Hadits No. 8

Hadits No. 9

Hadits No. 10

Hadits No. 184

Hadits No. 173

Hadits Riwayat

Jalur

Perkara Iman

Perkara Islam

Abu Hurairah ra

5: Allah, Malaikat, Rasul-rasul,


Perjumpaan, dan Hari Kebangkitan

4: Menyembah dan tidak menyekutukan


Allah, Shalat, Zakat, dan Shiyam
Ramadhan

Muslim No. 8

Umar bin
Khaththab ra

6: Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasulrasul, Hari Akhir, dan Qadar

5: Dua kalimat syahadat, Shalat, Zakat,


Shiyam Ramadhan, dan Haji

Muslim No. 9

Abu Hurairah ra

6: Allah, Malaikat, Kitab, Perjumpaan,


Rasul-rasul, dan Hari Kebangkitan

4: Menyembah dan tidak menyekutukan


Allah, Shalat, Zakat, dan Shiyam
Ramadhan

Muslim No. 10

Abu Hurairah ra

7: Allah, Malaikat, Kitab, Perjumpaan,


Rasul-rasul, Hari kebangkitan, dan
Qadar

4: Tidak menyekutukan Allah, Shalat,


Zakat, dan Shiyam Ramadhan

Ahmad No. 184

Umar bin
Khaththab ra

6: Allah, Malaikat, Surga, Neraka, Hari


Kebangkitan, dan Qadar

5: Dua kalimat syahadat, Shalat, Zakat,


Shiyam, dan Haji

Ibn Hibban No. 173

Umar bin
Khaththab ra

9: Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasulrasul, Surga, Neraka, Hisab, Hari


Kebangkitan, dan Qadar

7: Dua kalimat syahadat, Shalat, Zakat,


Haji dan Umrah, Mandi besar,
Menyempurnakan wudhu, dan Shiyam
Ramadhan

Al-Bukhari
No. 50 & 4777

HADITS MIRAJ
(Urutan Nabi-nabi yang dijumpai Rasulullah saw)

Hadits No. 3207

Hadits No. 7517

Tingkatan
langit

Nama Para Nabi yang dijumpai Rasulullah saw saat Miraj


Versi Hadits Bukhari Nomor 3207

Versi Hadits Bukhari Nomor 7517

Langit Dunia

Nabi Adam as

(perawi tidak menyebutkan)

Langit 2

Nabi Isa dan Yahya as

Nabi Idris as

Langit 3

Nabi Yusuf as

(perawi tidak menyebutkan)

Langit 4

Nabi Idris as

Nabi Harun as

Langit 5

Nabi Harun as

(perawi tidak hafal namanya)

Langit 6

Nabi Musa as

Nabi Ibrahim as

Langit 7

Nabi Ibrahim as

Nabi Musa as

HADITS DAJJAL
(Buta mata sebelah Kanan atau Kiri?)

Hadits No. 2934

Hadits No. 169

Dajjal buta sebelah, kanan atau kiri?


Versi Hadits Muslim No. 169

Versi Hadits Muslim No. 2934

mata sebelah Kanan

mata sebelah Kiri

Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H):

vol II hlm 179

Idealnya, nash-nash syara tidak mungkin saling bertentangan antara satu dengan
yang lain, karena semuanya berasal dari satu kejadian yang sama atau dari satu
sumber yang sama, yaitu Nabi Muhammad saw.
Kesan pertentangan sebisa mungkin diselesaikan dengan melihat aspek-aspek
seperti: takhshshul m, taqydul mutlaq, tafshlul mujmal, an-nsikh wal manskh,
ziydatuts tsiqt, taqthul matan, dll.
Adanya perbedaan, selisih penyebutan, keberlawanan, dan keterbalikan, yang
tidak mungkin untuk dikompromikan, menunjukkan bahwa para perawi sekalipun
tsiqat mereka tidak terbebas dari kemungkinan salah atau lupa.
Adapun jalur periwayatan lain yang mendukung sebagian dari hadits-hadits di atas
hanya sebatas menjadikannya unggul dari yang lain, bukan menjadikannya benar
secara pasti sedangkan yang lainnya pasti salah.

PARA ULAMA YANG MENGANGGAP


HADITS AHAD TIDAK BISA DIJADIKAN
HUJJAH DALAM PERKARA AKIDAH

Al-Imam Abu Yusuf Al-Hanafiy (w. 182 H), menurut ket. AlImam Muhammad Al-Asmandi (w. 552 H)

hlm 396

Al-Imam Alauddiyn As-Samarqandiy Al-Hanafiy (w. 450 H):


Adapun apabila dia (Hadits Ahad) berkenaan dengan perkaraperkara akidah yaitu masalah-masalah Kalam maka dia tidak
bisa menjadi hujjah.

hlm 632

Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqiy Asy-Syafiiy (w. 458 H):


Dikarenakan aspek ini, yaitu adanya ihtimal (kemungkinan
salah), maka para ulama ahli nazhar (Ulama Ushul) dari
madzhab kami, meninggalkan berhujjah dengan Hadits Ahad
dalam perkara sifat Allah swt.

hlm 335

Al-Imam Abu Yala Al-Farra Al-Hambali (w. 458 H)

juz 1 hlm 875

Al-Hafizh Al-Muhaddits Al-Khathiyb Al-Baghdadiy (w. 463 H): Hadits


Ahad tidak diterima dalam perkara-perkara agama yang menuntut para
mukallaf untuk meyakininya dan memastikannya.

hlm 432

Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syiyraziy Asy-Syafiiy (w. 476 H):


Jawabannya adalah bahwa dalam perkara ushul (seperti
Tauhid dan Penetapan Sifat-sifat Allah swt) dalil-dalil nya harus
logis, yang mengharuskan keyakinan serta menghilangkan
sangsi, maka kami tidak menggunakan Hadits Ahad.

juz 2 hlm 601

Al-Imam Abu Al-Khaththab (w. 510 H), Ibn Aqil (w. 513 H), dll.
menurut ket. Al-Imam Ibn Najjar Al-Hambali (w. 972 H):
Hadits Ahad tidak digunalak dalam perkara Ushuluddin
(Akidah).

juz 2 hlm 352

Al-Imam Abu Al-Khaththab Mahfuzh bin Ahmad Al-Hambaliy (w. 510


H): Kami menerimanya (Hadits Ahad) dalam perkara amaliyah
(praktis), dan jika diberitakan kepada kami suatu qiraah syadzdzah
(ayat dengan riwayat ahad) yang di dalamnya ada ketetapan halal
dan haram maka kami mengambilnya, namun kami tidak
mengakuinya sebagai Al-Quran, karana jalan penetapan Al-Quran
dan Ushuluddiyn (Akidah) adalah keyakinan, sementara keyakinan
tidak bisa timbul dengan Hadits Ahad.

juz 3
hlm 27-28

Al-Imam Abu Al-Wafa Ali bin Aqiyl Al-Baghdadiy Al-Hambaliy (w. 513 H):
Bahwa perkara-perkara keyakinan (akidah) menurut dalil-dalilnya, dan
pengaruh-pengaruh dalam jiwa dan kalbu menurut apa yang
mempengaruhinya, tidak kami temukan pada Hadits Ahad. Meskipun dia
mencapai puncaknya (kekuatan tertinggi Hadits Ahad), tidak lain hanyalah
berupa pengunggulan benar dari dusta nya, dengan tetap mengakui ada
kemungkinan dusta padanya. Tidak ada pengaruh pada jiwa dari
mengunggulkan salah satu dari dua perkara yang sama-sama
memungkinkan kecuali hanyalah zhann (dugaan).

juz 4
hlm 405

Al-Imam Muhammad bin Abdil Hamiyd Al-Asmandiy AlHanafiy (w. 552 H): Tidak boleh menerima Hadits Ahad
(sebagai hujjah) dalam perkara-perkara akidah.

hlm 406

Al-Imam Abu Ats-Tsana Al-Hanafiy (w. 6.. H): Hadits Ahad tidak
bisa dijadikan hujjah dalam masalah-masalah akidah, karena
masalah-masalah akidah dibangun berdasarkan keyakinan yang
pasti, sementara Hadits Ahad (hanya) menimbulkan kebenaran
pada umumnya dan dugaan kuat , tidak sampai kebenaran yang
bersifat pasti.

hlm 148

Abu Al-Hasan Al-Amidi Asy-Syafii (w. 631 H): Bahwa yang


diakui dalam perkara-perkara pokok (akidah) adalah
kepastian dan keyakinan, sementara tidak ada kepastian pada
Hadits Ahad. Lain dengan perkara-perkara cabang,
sesungguhnya dia berdiri di atas dugaan.

juz 2 hlm 64

Al-Faqiyh Shafiyuddiyn Al-Armawiy Al-Hindiy (w. 715 H): Ini


karena yang diminta dalam perkara-perkara pokok adalah ilm
dan yakin (keyakinan), sementara Hadits Ahad tidak bisa
menghasilkannya sebagaimana (telah dijelaskan) lalu. Berbeda
dengan perkara-perkara cabang, dia cukup dengan dugaan, dan
Hadits Ahad bisa menghasilkannya.

hlm
2810-2811

Syaikhu-l-Islaam Ibnu Taimiyyah Al-Hambali (w. 728 H): Bagaimana


bisa pokok agama yang keimanan tidak sah tanpanya itu ditetapkan
berdasarkan
Hadits
Ahad?
(Bantahan beliau atas Rafidhah yang mengklaim Hadits tentang
kedatangan Al-Imam Al-Mahdiy untuk melegitimasi kedatangan
Muhammad bin Al-Hasan, imam mereka yang ke-12)

juz 4 hlm 94-95

Al-Imam Alauddiyn Abd Al-Aziz Al-Bukhariy Al-Hanafiy


(w. 730 H): Kemudian Hadits Ahad tatkala dia tidak berfaidah
keyakinan maka dia tidak bisa menjadi hujjah dalam perkaraperkara yang perpulang kepada akidah, karena akidah dibangun
berdasarkan keyakinan. Dia hanya merupakan hujjah dalam apa
yang dimaksudkan di dalamnya perbuatan.

juz 3
hlm 27

Al-Imam Syaikhu-l-Islam Taqiyuddiyn As-Subkiy Asy-Syafiiy (w.


756 H): Ke-qathiy-an atau ke-mutawatir-an bukan merupakan
syarat baginya (penetapan ruyatu-Llaah), bahkan tatkala suatu
hadits yang shahih meski hanya zhahirnya, sementara dia
adalah Hadits Ahad, maka boleh dijadikan dasar dalam perkara
itu, karena perkara itu tidak termasuk dalam masalah akidah
yang menuntut syarat kepastian.

hlm 495-496

Al-Imam Ali bin MuhammadAl-Jurjaniy (w. 816 H): Hadits


Ahad adalah apa-apa yang dinukil oleh satu orang dari
satu orang, yaitu yang tidak sampai batas kemasyhuran,
hukumnya meniscayakan amal tanpa ilm (keyakinan).
Karenanya dia tidak menjadi hujjah dalam perkara-perkara
akidah

hlm 86

Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalani Asy-Syafiiy (w. 852 H): Bahwa


Beliau (Al-Bukhari) menggiring hadits-hadits tentang sifat suci
Allah dengan menjadikan setiap hadits menjadi satu bab lalu
memperkuatnya dengan ayat Al-Quran, untuk menunjukkan
bahwa hadits-hadits tersebut tidak termasuk Hadits Ahad, demi
tidak berhujjah dengannya (Hadits Ahad) dalam perkara-perkara
akidah.

juz 13 hlm 372

Al-Imam Zainuddiyn bin Ibrahim Ibn Najim Al-Hanafi (w. 970 H):
Penjelasan tentang tempat digunakannya Hadits Ahad maka di
luar perkara-perkara akidah, karena sesungguhnya perkaraperkara akidah tidak bisa ditetapkan berdasarkan Hadits Ahad
lantaran keharusannya dibangun berdasarkan keyakinan.

hlm 293

Al-Allamah Ali Al-Qariy Al-Hanafiy (w. 1014 H): karena dia


(penetapan kedudukan orang tua Rasulullah saw di akhirat)
termasuk dalam bab itiqad (keyakinan) maka tidak berlaku
padanya dalil-dalil zhanniy, dan tidak cukup hanya
berdasarkan Hadits-hadits Ahad yang lemah dan riwayatriwayat Ahad yang tidak jelas, ...

hlm 62-63

Asy-Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. 1977 M):

juz 1 hlm 193

Sayyid Quthb bin Ibrahim (w. 1387 H): Hadits-hadits Ahad


tidak dapat dijadikan pegangan dalam perkara akidah, yang
menjadi rujukan ialah Al-Quran. dan kemutawatiran
merupakan syarat bagi hadits-hadits Nabi saw untuk dapat
dijadikan pegangan dalam pokok-pokok akidah.

vol 6 hlm 4008

Asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad Abu Zahrah (w. 1394 H): ,


mereka (para ulama) mengatakan: Seseungguhnya dia (Hadits
Ahad) wajib diamalkan jika tidak ada penghalang. Akan tetapi dia
tidak diambil (sebagai hujjah) dalam perkara keyakinan (akidah),
karena perkara-perkara akidah dibangun di atas kepastian dan
keyakinan, tidak dibangun di atas dugaan sekalipun dia unggul
(dugaan unggul). Karena dugaan dalam akidah tidak bermanfaat
sama sekali bagi kebenaran.

hlm 109

Asy-Syaikh Muhammad bin Alwi Al-Malikiy Al-Makkiy AlHasaniy: bahwa dia (Hadits Ahad meniscayakan wajibnya
amal dalam syariat (amaliyyah), tapi tidak meniscayakan
wajibnya kepastian dan keyakinan terhadap isinya dengan
keyakinan yang pasti, tapi hanya berfaidah dugaan saja.

hlm 72

Asy-Syaikh Mahmud Syaltut, dan menurut beliau Al-Imam AlBazdawi dan Al-Hafizh Al-Asnawi

hlm 60

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthiy

hlm 66

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdulmuhsin At-Turkiy: Mereka


(jumhur ulama) mengatakan: Sesungguhnya Hadits Ahad
dijadikan dalil dalam hukum-hukum Amaliyyah (praktis) tidak
dalam hukum-hukum Akidah.

hlm 313

FATWA ULAMA AL-AZHAR

(Sumber: http://www.kl28.com/fat1r.php?search=3624 atau http://islamport.com/w/ftw/Web/953/3626.htm)

MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH


Pokok-pokok Manhaj Tarjih Muhammadiyah(( 11 )): 5. Di dalam masalah aqidah (tauhid),
hanya dipergunakan dalil-dalil yang mutawatir. (( 22 ))
, tentang tanda-tanda hari kiamat, kalau tanda-tanda itu diterangkan oleh dalil-dalil alQuran dan hadis-hadis yang mutawatir, maka Muhammadiyah meyakininya, karena sesuai
dengan manhaj yang dipegang Muhammadiyah, menyangkut soal itiqad (keyakinan),
dalilnya harus mutawatir. (( 33 ))
--------------------------------------Merupakan Rumusan Majlis Tarjih Muhammadiyah 1929, dan tidak tidak ada perubahan pada Munas
Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam tahun 2000 di Jakarta.
(( 22 ))
Sumber: Manhaj Tarjih Muhammadiyah, oleh Prof. Drs. H. Asjmuni Abdurrahman, hlm 13, lihat juga:
http://muhammadiyahmalang.blogspot.com/2010/02/manhaj-tarjih-muhammadiyah.html
(( 33 ))
Sumber: http://www.fatwatarjih.com/2012/06/itiqad-muhammadiyah-tentang-hari-kiamat.html
(( 11 ))

PARA ULAMA YANG MENGANGGAP HADITS AHAD


YANG DIDUKUNG QARINAH BISA DIJADIKAN HUJJAH
DALAM PERKARA AKIDAH

Al-Hanabilah, menurut ket. Ibn Qadhi Al-Jabal, Abu Yala, dan


Ibn Taimiyyah, menurut ket. Al-Imam Muhammad bin Ahmad
(Ibn Najjar) Al-Hambali (w. 972 H)

juz 2 hlm 352

Al-Hanabilah, menurut
Abdilmuhsin At-Turkiy

ket.

Asy-Syaikh

Abdullah

bin

hlm 313

Syaikhu-l-Islam Ibn Taimiyyah Al-Harraniy (w. 728 H) dan


menurut ket. beliau: Al-Hanabilah

juz 2 hlm 73

MENJAWAB SYUBUHAT

Syubhat:
Nabi dan Rasul diutus dalam jumlah yang tidak mencapai batas mutawatir, tapi umat
manusia wajib mengikuti ajaran yang mereka bawa seluruhnya (akidah dan syariah). Itu
menunjukkan bahwa periwayatan secara Ahad telah ditetapkan oleh Allah swt untuk
diterima tanpa membedakan antara Akidah dan Syariah?
Jawaban:
Para Nabi dan Rasul memang diutus di masing-masing zamannya tidak dalam jumlah
mutawatir, tapi untuk membuktikan kepastian bahwa mereka adalah benar-benar utusan
Allah swt, mereka dibekali mujizat, dan untuk menjamin kemurnian ajaran yang mereka
sampaikan, mereka diberi sifat ishmah (terjaga dari kesalahan).
Terutama mujizat, yang dalam hal ini menjadi qarinah qathiyyah akan kenabian dan
kerasulan seorang nabi dan rasul.

Syubhat:
Bukankah Rasulullah saw mengutus para sahabat untuk menyampaikan, mendakwahkan,
atau mengajarkan Islam (Akidah dan Syariah nya) dalam jumlah yang tidak mencapai batas
mutawatir? Itu bertanda bahwa Rasulullah saw sendiri menyepakati berlakunya hadits ahad
dalam perkara akidah.
Jawaban:
1. Perlu dibedakan antara aktivitas Tabligh dengan aktivitas Tahqiq. Aktivitas Tabligh boleh
dilakukan secara individu maupun berjamaah, tidak ada ketentuan baku terkait
jumlahnya. Sedangkan dalam aktivitas Tahqiq (dalam hal ini terhadap Hadits Nabi saw)
secara ilmiyah memperhitungkan kualitas dan banyaknya jalur periwayatan dalam
menimbang kuat-tidaknya kebenaran berita. Hingga dikenal ada hadits ahad (gharib,
aziz, masyhur) dan mutawatir, yang memiliki kekuatan berbeda-beda.
2. Menurut para ulama hadits, sanad lin (jalur periwayatan pendek) itu lebih kuat daripada
sanad nzil (jalur periwayatan panjang), maka sudah barang tentu pemberitaan secara
ahad di masa Nabi saw dan para Sahabat jauh lebih kuat daripada yang kita kenal
sebagai Hadits Ahad saat ini. Maka tidak bisa menyamakan antara ini dan itu.

Syubhat:
Kaum muslimin di Quba menerima pemberitaan secara Ahad pada saat mereka shalat
shubuh terkait pemidahan qiblat dari Masjidil Aqsha menuju Masjidil Haram sehingga
mereka mengubah arah shalat seketika itu juga. Rasulullah saw yang tahu hal tersebut
mendiamkan bertanda beliau setuju atas penerimaan terhadap Hadits Ahad.
Jawaban:
Ketentuan-ketentuan di dalam amalan Shalat (baik gerakan maupun bacaan) termasuk
bab syariat, sehingga penetapan atasnya tidak dibatasi hanya berdasarkan nash
mutawatir saja, melainkan juga menerima nash ahad. Termasuk dalam ketentuan shalat
adalah menghadap qiblat, maka penerimaan penduduk Quba di situ baru menunjukkan
wajibnya menerima Hadits Ahad dalam perkara syariat, belum menunjukkan penerimaan
terhadap Hadits Ahad dalam perkara Akidah.

Syubhat:
Bukankah dalam mengamalkan syariat juga harus berdasarkan keyakinan?
Jawaban:
Tidak semua amalan menuntut untuk disertai keyakinan, karena fakta amalan ada yang
berdasarkan nash qathi, dan ada pula yang berdasarkan nash zhanni.
Untuk amalan yang berdasarkan nash qathi secara tsubut, selama dilalah-nya juga qathi
maka amalan tersebut harus diyakini, seperti syariat shalat, zakat, puasa dan haji.
Mengingkari syariat-syariat tersebut dihukumi kafir, karena berarti mengingkari perkara
yang qathi.
Untuk amalan yang berdasarkan nash zhanni (zhanni tsubut dengan qathi dilalah, qathi
tsubut dengan zhanni dilalah, atau zhanni tsubut dan dilalah sekaligus), maka
pengamalannya tidak mungkin disertai keyakinan, melainkan cukup berdasarkan dugaan
kuat sebagai pendapat yang rajih (lebih kuat dari yang lain), tanpa menafikan adanya
kemungkinan pendapat lain yang benar.

SIKAP TERHADAP HADITS AHAD


YANG MEMENUHI SYARAT KESHAHIHAN
DARI ASPEK ZHAHIR SANADNYA

Al-Imam Ahmad bin Hambal dalam riwayat Al-Atsram


menyatakan: Apabila datang suatu hadits dari Nabi saw
dengan sanad yang shahih, di dalamnya ada (ketetapan)
hukum atau kewajiban maka aku akan mengamalkannya dan
menghambakan diri kepada Allah dengannya, namun aku
tidak berani bersumpah bahwa Nabi saw benar-benar telah
mengatakannya.

juz 3 hlm 78

Al-Imam Abu Bakar As-Sarakhsi Al-Hanafi (w. 483 H):

juz 1 hlm 329

Asy-Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. 1977 M):

juz 1 hlm 193