Anda di halaman 1dari 129

PRAKATA

Dalam perkuliahan, mahasiswa program studi Pengembangan


Wilayah Kota akan dibekali dengan berbagai macam ilmu pengetahuan.
Namun pemberian pengetahuan dengan cara bertahap. Pada tahap
semester ke Empat diharapkan mahasiswa harus diberi pengetahuan dan
pemahaman mengaplikasikan tentang ekologi Kawasan tepian air agar
untuk bisa lanjut pada tahap selanjutnya.
Mata kuliah Ekologi Kawasan Tepian Air, merupakan salah satu
mata kuliah inti yang wajib di ikuti oleh mahasiswa program studi
Pengembangan Wilayah Kota
Universitas

Hasanuddin.

pemahaman

Pengetahuan

Jurusan Arsitektur di Fakultas Teknik

Dalam
dan

usaha

memberikan

pengaplikasikannya

mahasiswa

dengan

baik

dibutuhkan koordinasi dalam bentuk/ sistem yang sederhana.


Sistem pedoman dalam pelaksanaan perkuliahan merupakan salah
satu metode agar tujuan pembelajaran ini dapat tercapai dengan baik
yaitu mahasiswa mampu merencanakan pengembangan baik fisik
maupun non fisik suatu kawasan tepian air yang berbasis ekologi
(berkelanjutan)

sesuai dengan standar- standar serta peraturan

pemerintah yang berlaku pada suatu kawasan.

Ekologi Kawasan Tepian Air

PROFIL LULUSAN PRODI TEKNIK PENGEMBANGAN


WILAYAH DAN KOTA

Profil Lulusan:
1. Secara umum keluaran program studi program studi Pengembangan

Wilayah Kota

diharapkan menjadi tenaga-tenaga profesional dibidang

Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Kota yang ahli dalam


bidangnya masing-masing serta dapat bersaing di tingkat lokal, nasional
dan internasional.
2. Secara khusus keluaran program studi Pengembangan Wilayah Kota
mampu merencana pengembangan suatu kawasan ataupun wilayah
3. Dalam merencanakan pengembangan suatu kawasan ataupun wilayah
diharapkan mampu mengidentifikasi serta menganalisis dengan teori dan
standar- standar serta peraturan pemerintah setempat.
4. Lulusan program studi Pengembangan Wilayah Kota

juga dapat menjadi

enterpreneur yang kreatif, dapat mengembangkan usaha serta mampu


bekerjasama dan berkoordinasi dengan tim yang ada di lapangan.
5. Lulusan program studi Pengembangan Wilayah Kota
menjadi

leader

dalam

hal

kepemimpinan,

diharapkan dapat

memiliki

inisiatif

untuk

menyelesaikan permasalahan di lokasi.


6. Lulusan program studi Pengembangan Wilayah Kota

diharapkan mampu

berkomunikasi dengan benar secara nasional maupun internasional.

Ekologi Kawasan Tepian Air

FORMAT RENCANA PEMBELAJARAN


MATA KULIAH

: EKOLOGI KAWASAN TEPIAN AIR

SKS

: 3 (Tiga) SKS

SEMESTER

: Empat / Genap

Deskripsi Singkat
Mata Kuliah

: Merupakan salah satu mata kuliah institusional


wajib yang membahas tentang teori-teori ekologi
kawasan tepian air dan kaitannya dengan Undangundang serta peraturan pemerintah yang
menyangkut pengembangan kawasan tepian air.

KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN DICAPAI OLEH PESERTA DIDIK:


1. Memberikan kemampuan dalam memahami

ekologi kawasan

tepian air
2. Memberikan

kemampuan

mengemukakan

teori-teori

Pengembangan perencanaan Kawasan Tepian air berbasis ekologi


3. Memberikan kemampuan mengemukakan standar dan
Undang

serta

Peraturan

yang

menyangkut

Undang-

Pengembangan

perencanaan Kawasan Tepian air


4. Memberikan kemampuan untuk menganalisis Kawasan tepian air
dengan teori-teori ekologi kawasan tepian air pada suatu kawasan
tepian air.

5. Memberikan kemampuan mengaplikasikan teori-teori ekologi


kawasan tepian air disesuaikan dengan Undang-undang, standar
atau peraturan pemerintah yang berlaku pada suatu kasus
kawasan tepian air tertentu.
Ekologi Kawasan Tepian Air

Tabel 1. Matriks hubungan antara Rumusan Kompetensi dengan Elemen Kompetensi Sesuai SK
Mendiknas No. 045/U/2002
KELOMPOK
KOMPETENSI

UTAMA

ELEMEN
KOMPETENSI

RUMUSAN KOMPETENSI
a

U1

Mampu berolahpikir dan berolahrasa secara kreatif, imajinatif, & inovatif yang berbasis pelestarian lingkungan

U2

Mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan menyintesis issu-issu & masalah-masalah arsitektural, serta
mengeksplorasi alternatif-alternatif solusi dalam bentuk konsep-konsep yang dapat dikembangkan lebih lanjut
dalam perancangan arsitektur dan pelaksanaan konstruksi

U3

Mampu menerapkan norma-norma ilmiah/sains, teknologi, & estetika arsitektural dalam konteks kehidupan
sosial, ekonomi, & budaya masyarakat

U4

Menguasai ragam teori & pendekatan disain arsitektural era klasik, modern, pasca-modern, maupun mutakhir

U5

Mampu menerapkan metode & proses perancangan arsitektur, mencakup penelusuran masalah, perumusan
konsep, pembuatan pra-rancangan skematik dwimatra/2D & trimatra/3D

U6

Menguasai metode dan manajemen proyek yang dapat diaplikasikan dalam pelaksanaan konstruksi bangunan

P1

Menjunjung tinggi nilai agama, moral, etika & tanggungjawab profesional

P2

Menguasai wawasan lingkungan kepulauan beriklim tropis lembab

P3

Menguasai wawasan filosofis kearifan lokal dalam perspektif global dan dalam konteks kekinian

P4

Menguasai ketrampilan teknik komunikasi grafis arsitektural menggunakan berbagai media presentasi
(freehand-style dan/atau computerised-style) secara dwimatra/2D, trimatra/3D, maupun animasi audiovisual

P5

Mampu menerapkan kebijakan tata ruang serta berbagai peraturan bangunan dan lingkungan dalam konteks
perencanaan kota

L1

Mampu bekerja mandiri maupun kelompok dalam koordinasi kemitraan secara multi-disiplin

L2

Memiliki daya saing dan kepercayaan diri dalam komunitas profesional lingkup nasional maupun internasional

L3

Memiliki sikap responsif & partisipatif terhadap dinamika perkembangan ilmu/sains, teknologi, dan seni yang
mutakhir

PENUNJANG

LAINNYA

Ekologi Kawasan Tepian Air

ELEMEN KOMPETENSI:
a. Landasan kepribadian
b. Penguasaan ilmu dan keterampilan
c. Kemampuan berkarya
d. Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai
e. Pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya

Ekologi Kawasan Tepian Air

GARIS BESAR RENCANA PEMBELAJARAN (GBRP)


Nama / Kode Mata Kuliah
Semester/ SKS
KOMPETENSI SASARAN:

: Ekologi Kawasan Tepian Air


: Semester IV (Genap)/ 3 kredit

Kompetensi Utama
1. Mampu berolah pikir dan berolah rasa secara kreatif, imajinatif dan inovatif yang berbasis pelestarian
lingkungan. (U1)
2. Mampu menerapkan norma-norma ilmiah/sains, teknologi dan aturan pemerintah dalam peningkatan
kualitas lingkungan abiotik dan biotik pada kawasan tepian air.(U3)
3. Mampu menerapkan metode dan proses perencanaan kawasan tepian air berbasis ekologi mencakup
penelusuran masalah, analisis spasial serta perumusan konsep usulan perencanaan . (U5)
Kompetensi Penunjang
1. Menguasai wawasan lingkungan kepulauan, maritim yang beriklim tropis lembab. (P2)
2. Mampu menerapkan kebijakan tata ruang serta berbagai peraturan bangunan dan lingkungan dalam konteks
pengembangan kawasan tepian air.(P5)
Kompetensi Lainnya
1. Mampu bekerja mandiri maupun kelompok dalam koordinasi kemitraan secara multi-disiplin. (L1)
2. Memiliki daya saing dan kepercayaan diri dalam komunitas professional lingkup nasional maupun
internasional.(L2)

SASARAN BELAJAR:

1.
2.

Ekologi Kawasan Tepian Air

Mahasiswa dapat berpikir kritis dalam menyikapi issu, fenomena, perkembangan dan permasalahan yang
berkaitan dengan perencanaan pada Kawasan tepian air.
Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan, keahlian dan berperan serta dalam kegiatan perencanaan
pengembangan kawasan tepian air.

MINGGU
KE (1)

2 s/d 5

6-8

SASARAN
PEMBELAJARAN
(KOMPETENSI)
(2)
Mampu memahami
tujuan dan manfaat
mempelajari ekologi
kawasan tepian air

Mampu mengetahui
dan memahami
Ekologi Kawasan
Tepian Air

Mampu
mengembangkan Ilmu
Pengembangan
Wilayah Kota dengan
menerapkan ekologi
kawasan tepian air
pada kondisi lapangan

Ekologi Kawasan Tepian Air

MATERI PEMBELAJARAN

STRATEGI
PEMBELAJARAN

KRITERIA PENILAIAN
(INDIKATOR)

(3)

(4)

(5)

Kontrak perkuliahan

Ceramah interaktif

Menjelaskan tujuan mempelajari


ekologi kawasan tepian air

Pengertian Ekologi , Ekosistim


dan Kawasan Tepian Air
Ekologi Kawasan Tepian Laut

Ceramah interaktif
Kajian pustaka

Ekologi Kawasan Tepian Sungai

Ekologi Kawasan Tepian Danau

Perencanaan Pembangunan Daerah


Dalam Konteks Pengelolaan
Wilayah Pesisir Terpadu
Wawasan Lingkungan dalam
Pengembangan Maritim dan
Kelautan
Peran Ekosistim dalam Mitigasi
Bencana
Standar Standar, Peraturan
Pemerintah Dan Teori Yang
Menyangkut Pengembangan,
Penataan Dan Perencanaan
Kawasan Tepian Air

Ceramah interaktif
Kajian pustaka

Kontribusi keaktifan dlm


diskusi kelas
(softskills/physikomotorik)
Kedisiplinan (apektif)
Pemahaman materi
(critical thinking/kognitif)
Kesesuaian pustaka
(critical review/kognitif)
Ketelitian dan kebenaran
perhitungan standar sarana
dan prasarana kawasan
tepian air
Kedisiplinan (afektif)

Pemahaman materi (critical


thinking/kognitif)
Kontribusi keaktifan dlm
kelas
(softskills/physikomotorik)
Kedisiplinan mhs (afektif)

BOBOT
NILAI
(%)
(6)

10

10

10-11

12-15

16

Mampu memahami
ekologi kawasan
tepian air dalam
Konteks
Pengembangan
Wilayah dan Kota
Mampu
mengaplikasikan
materi ekologi
kawasan tepian air
yang dipahami pada
kasus dilapangan

Mampu
mempresentasikan
dan menggambarkan
konsep
Pengembangan
Kawasan Tepian air
sesuai Karakteristik
Fisik dan Non fisik

Final Test / Evaluasi


Akhir Semester

Ekologi Kawasan Tepian Air

Pemahaman materi (critical


thinking/kognitif)
Kedisiplinan mhs (afektif)

Evaluasi tengah Semester Dan


Pembagian Tugas Kelompok

Penggambaran karakteristik Lokasi


Membaca Potensi, Permasalahan
lingkungan abiotik dan biotik di
lapangan
Menganalisis Permasalahan dan
pemecahannya serta membuat
konsep Pengembangan Kawasan
tepian Air

Penggambaran karakteristik
Lokasi
Membaca Potensi dan
Permasalahan dilapangan
Menganalisis Permasalahan dan
membuat konsep
Pengembangan Kawasan tepian
Air

Pemahaman tentang Ekologi


Kawasan Tepian Air dan aplikasi
serta penguasaan terhadap hasil
studi di lapangan

Survey Lapangan
Asistensi & diskusi
kelompok(small
group)

Pemahaman materi (critical


thinking/kognitif)
Kontribusi keaktifan dlm
diskusi kelompok
(softskills/physikomotorik)
Kedisiplinan mhs (afektif)

Presentasi &
diskusi kelompok
(small group)
Self Directed
Learning

Pemahaman materi (critical


thinking/)

Teknik Pesentasi dan penyajian


materi (keruntutannya,kebenaran,
dan kelengkapan)

20

10

10

Kontribusi keaktifan dlm


diskusi kelompok (softskills)
Kedisiplinan mhs ( afektif)

Self Directed

Learning

Pemahaman materi
(critical thinking/kognitif)
Kedisiplinan (afektif)

35

FORMAT RENCANA PEMBELAJARAN (Jenis Kegiatan dan Pembobotan)

Minggu
Ke
1

Jenis Kegiatan Pembelajaran

Topik Bahasan

Bentuk Tugas

Perkuliahan

Kontrak perkuliahan
Tujuan mempelajari ekologi kawasan
tepian air

2-5

Perkuliahan
Case Study, Self Directed Learning

Pengertian Ekologi , Ekosistim dan


Kawasan Tepian Air
Ekologi Kawasan Tepian Laut

Pemahaman materi,
Kajian pustaka,
Membentuk tim kerja Kelompok

Pemahaman materi,
Kajian pustaka,
Mendiskusikan lokasi survey
Kelompok

Pemahaman materi,
Kajian pustaka,
Mengurus Surat Izin survey
Kelompok

Nilai
Bobot
(%)
5

10%

Ekologi Kawasan Tepian Sungai


Ekologi Kawasan Tepian Danau
6-8
Perkuliahan
Case Study, Self Directed Learning

Ekologi Kawasan Tepian Air

Perencanaan Pembangunan Daerah


Dalam Konteks Pengelolaan Wilayah
Pesisir Terpadu
Wawasan Lingkungan dalam
Pengembangan Maritim dan Kelautan
Peran Ekosistim dalam Mitigasi Bencana
Standar Standar, Peraturan
Pemerintah Dan Teori Yang
Menyangkut Pengembangan, Penataan
Dan Perencanaan Kawasan Tepian Air

10%

Penilaian terhadap tingkat


pemahaman mahasiswa terhadap
materi yang telah diberikan

Evaluasi Tengah Semester (UTS)

10-11

Diskusi Kelas
Small Group, Self Directed Learning

Essay
25%

Pemberian Tugas Kelompok

Hasil survey lapangan :


Identifikasi Kondisi Lapangan Masingmasing Kelompok (karakteristik , potensi
dan permasalahan kawasan tepian air
masing-masing kelompok)

Presentasi hasil survey lapangan


tiap kelompok
Kembali Survey lapangan Jika masih
memerlukan data.

10%

Diskusi Kelas
Small Group, Self Directed Learning

Analisis dan konsep pengembangan ,


penataan serta perencanaan kawasan
tepian air masing-masing kelompok

Presentasi Analisis dan konsep


pengembangan , penataan serta
perencanaan kawasan tepian air
masing-masing kelompok

15%

12 - 15

30%

Problem Based Learning

Penguasaan seluruh materi yang telah


diberikan

Evaluasi Akhir Semester

16

Ekologi Kawasan Tepian Air

10

FORMAT RENCANA PEMBELAJARAN (Kompetensi Profesional)


Kemampuan Akhir
Yang Diharapkan
(Kompetensi)

Waktu
Minggu

Entry Skill

Bahan Kajian

Memahami materi
tentang Ekologi
Kawasan Tepian
Air serta dapat
membuat tim kerja

Mampu
mengemukakan
materi dan dapat
membentuk tim kerja
dalam perkuliahan

Bentuk
Kegiatan
Pembelajar
an
5

Kriteria Penilaian

Kesesuaian pustaka
(critical
review/kognitif)
Kontribusi keaktifan
dlm diskusi kelas
(softskills/physikom
otorik)
Kedisiplinan (apektif

Mampu memahami dan


mengetahui Jenis dan
Karakteristik Kawasan
Tepian air

Ekologi Kawasan Tepian Air

2-5

Standar
Kompetensi
8

Kontrak
Perkuliahan,
Kajian Pustaka
dan Kersama tim
Kerja

Perkuliahan,
Role Play

Mengetahui dan
memahami Jenis
dan Karakteristik
Kawasan Tepian
air

Bobot
Nilai
(%)
7

Jenis dan
Karakteristik
Kawasan Tepian
air

Case Study,
Self Directed
Learning

Pemahaman materi
(critical
thinking/kognitif)
Ketelitian dan
kebenaran
perhitungan stndar
permukiman
Kedisiplinan
(apektif)

Dapat mengetahui
dan paham tentang
Ekologi Kawasan
Tepian air

10%

Dapat mengetahui,
terampil
menjelaskan Jenis
dan Karakteristik
Kawasan Tepian air

11

Kemampuan Akhir
Yang Diharapkan
(Kompetensi)

Waktu
Minggu

Mampu

mengemukakan

6-8

Teori Standar
Standar, Peraturan
Pemerintah Dan
yang Menyangkut
Pengembangan,
Penataan Dan
Perencanaan sesuai
jenis dan
karakteristik
Kawasan Tepian Air
Mampu menjelaskan
Ekologi, Jenis dan
Karakteristik
Kawasan Tepian air
serta Teori Yang
Menyangkut
Pengembangan,
Penataan Dan
Perencanaan
Kawasan Tepian Air

Ekologi Kawasan Tepian Air

Entry Skill

Bahan Kajian

Mengetahui
dan
memahami
Standar
Standar,
Peraturan
Pemerintah
Dan Teori
Yang
Menyangkut
Pengembangan
, Penataan Dan
Perencanaan
Kawasan
Tepian Air
Mengetahui dan
memahami
Ekologi, Jenis dan
Karakteristik
Kawasan Tepian
air serta Teori
Yang Menyangkut
Pengembangan,
Penataan Dan
Perencanaan

Standar
Standar,
Peraturan
Pemerintah
Dan Teori
Yang
Menyangkut
Pengembang
an, Penataan
Dan
Perencanaan
Kawasan
Tepian Air

Bentuk
Kegiatan
Pembelaja
ran
5

Small Group,
Self Directed
Learning

Ekologi, Jenis
dan Karakteristik
Kawasan Tepian
air serta Standar
Standar,
Peraturan
Pemerintah dan
Teori Yang
Menyangkut
Pengembangan,
Penataan Dan
Perencanaan
Kawasan Tepian
Air

Kriteria Penilaian

Small Group,
Self Directed
Learning

Pemahaman materi
(critical
thinking/kognitif)
Ketelitian dan
kebenaran
perhitungan stndar
permukiman
Estetika (kebenaran,
kerapihan, gambar)
Kedisiplinan
(apektif)

Pemahaman materi
(critical
thinking/kognitif)
Estetika (kebenaran,
kerapihan,
penjabaran yang
sistimatis)
Kedisiplinan
(apektif

Bobot
Nilai
(%)
7

10%

25%

Standar
Kompetensi
8
Dapat terampil
menjelaskan
Standar Standar,
Peraturan
Pemerintah Dan
Teori Yang
Menyangkut
Pengembangan,
Penataan Dan
Perencanaan
Kawasan Tepian Air

Dapat dengan
sederhana dan
ringkas
menjelaskan
Ekologi, Jenis dan
Karakteristik
Kawasan Tepian air
serta Standar
Standar, Peraturan
Pemerintah dan
Teori Yang
Menyangkut
Pengembangan,
Penataan Dan
Perencanaan
Kawasan Tepian Air

12

Kemampuan Akhir
Yang Diharapkan
(Kompetensi)

Waktu
Minggu

Entry Skill

Bahan Kajian

Mampu
menjelaskanHasil
survey lapangan :
Identifikasi Kondisi
Lapangan Masingmasing Kelompok

10-11

Memahami dan
mengetahui
Kondisi Lapangan
(karakteristik ,
potensi dan
permasalahan
kawasan tepian
air)

Menggambarkan
Identifikasi
Kondisi
Lapangan
Masing-masing
Kelompok

Bentuk
Kegiatan
Pembelaja
ran
5
Small Group,
Self Directed
Learning

Kriteria Penilaian

Analisis dan konsep


pengembangan ,
penataan serta
perencanaan kawasan
tepian air masingmasing kelompok

Ekologi Kawasan Tepian Air

12-15

Memahami dan
mengetahui tata
cara analisis dan
Konsep
pengembangan
Kawasan Tepian
Air

Menganalisis
dan
penggambaran
Konsep
pengembangan ,
penataan serta
perencanaan
kawasan tepian
air

Small Group,
Self Directed
Learning

Pemahaman materi
(critical
thinking/kognitif)
Ketelitian dan
kebenaran
identifikasi
Karakteristik
kawasan tepian air
Estetika (kebenaran,
kerapihan, gambar)
Kedisiplinan
(apektif)

Pemahaman materi
(critical
thinking/kognitif)
Ketelitian dan
kebenaran
menganalisis dan
arahan Konsep
pengembangan ,
penataan serta
perencanaan
kawasan tepian air
Kedisiplinan (apektif)

Bobot
Nilai
(%)
7
10%

15%

Standar
Kompetensi
8
Dapat terampil
menjelaskan dan
menggambarkan
karakteristik
kawasan Tepian air

Dapat terampil
menjelaskan Tata
Cara analisis dan
konsep arahan
pengembangan ,
penataan serta
perencanaan
kawasan tepian air

13

Kemampuan Akhir
Yang Diharapkan
(Kompetensi)

Waktu
Minggu

Entry Skill

Bahan Kajian

Mampu Menjelaskan
seluruh materi yang
telah diberikan
16

Ekologi Kawasan Tepian Air

Final Test /
Evaluasi Akhir
Semester

Bentuk
Kegiatan
Pembelaja
ran
5

Kriteria Penilaian

6
Pemahaman materi
(critical
thinking/kognitif)
Estetika (kebenaran,
kerapihan, gambar)
Kedisiplinan (apektif

Bobot
Nilai
(%)
7

Uji Kemampuan

Problem Based
Learning, Self
Directed
Learning

30%

Standar
Kompetensi
8
Dapat
mengaplikasikan
materi Ekologi
Kawasan Tepian
Air sesuai
Karakteristik
Potensi dan
permesalahan
Kawasan Tepian
Air dilappangan
dalam bentuk
Evaluasi Akhir
Semester

14

BENTUK TUGAS
Mata Kuliah : Ekologi Kawasan Tepian Air / 229D5203
SKS

: 3 (Tiga) SKS

Semester

: 4 (Empat)/Genap

TUJUAN TUGAS :
1. Mampu menjelaskan Ekologi, Jenis dan Karakteristik Kawasan Tepian air serta
Teori

Yang Menyangkut Pengembangan, Penataan Dan Perencanaan suatu

Kawasan Tepian Air


2. Mampu mengidentifikasi dengan menjelaskan dan menggambarkan Karakteristik
kawasan studi masing-masing Kelompok
3. Mampu menganalisis potensi dan permasalahan kawasan tepian air masingmasing kelompok
4. Berdasarkan hasil analisis, mampu menyusun konsep Pengembangan, Penataan
Dan Perencanaan suatu Kawasan Tepian Air berbasis ekologi

1. URAIAN TUGAS
a. Obyek garapan

:
:

Karakteristik

dan

analisis

Kawasan

tepian

air

digambarkan secara deskriptif dan spasial


Sistem perhitungan kebutuhan sarana dan prasarana
Kawasan tepian air sesuai standar, dan peraturan
Pemerintah setempat
b. Yang harus dikerjakan dan batasan-batasannya;
-

Memahami pengertian dan aturan pembangunan kawasan tepian air

Memahami

Ekologi, Jenis dan Karakteristik Kawasan Tepian air

serta Teori

Yang Menyangkut Pengembangan, Penataan Dan

Perencanaan suatu Kawasan Tepian Air


-

Terampil mengidentifikasi dengan menjelaskan dan menggambarkan


Karakteristik kawasan studi masing-masing Kelompok

Ekologi Kawasan Tepian Air

15

Terampil menganalisis potensi dan permasalahan kawasan tepian air


masing-masing kelompok

Terampil

menyusun

konsep

Pengembangan,

Penataan

Dan

Perencanaan suatu Kawasan Tepian Air berbasis ekologi

c. Metodologi/cara pengerjaan, acuan yang digunakan;


- Mengerjakan identifikasi kawasan berdasarkan data spasial, Kuantitatif
dan deskriptif dalam bentuk potensi dan permasalahan kawasan .
- Menganalisis Kawasan dengan analisis spasial, Kuantitatif dan deskriptif
- Berdasarkan

analisis

mampu

menghasilkan

arahan

konsep

pengembangan , penataan dan perencanaan kawasan tepian air berbasis


ekologi.
- Terampil menyajikan galam bentuk presentasi gambar tapak, zone dan
plooting site,
d. Kriteria luaran tugas yang dihasilkan/dikerjakan
- mampu memahami Ekologi Kawasan Tepian air
- mampu menerapkan hasil perhitungan kebutuhan sarana dan prasarana
permukiman kedlam bentuk desain
- mampu menjelaskan hasil desain dalam bentuk presentasi.
2. KRITERIA PENILAIAN ;
a. pemahaman materi Ekologi Kawasan Tepian air
b. Identifikasi Kawasan dengan penyajian data deskriptif dan spasial
c. Analisis terhadap karakteristik kawasan (potensi dan permasalahan)
d. Mengaplikasikan hasil analisis berupa keluaran konsep pengembangan
penataan dan perencanaan kawasan tepian air berbasis ekologi di paparkan
dalam bentuk presentasi

Ekologi Kawasan Tepian Air

16

FORMAT RENCANA EVALUASI


Nama Mata Kuliah

: Ekologi Kawasan Tepian Air

Kode/Nama Dosen

: 1. Dr. Ir. Mimi Arifin, Msi


2. Prof. Dr. Slamet Trisutomo,MS
3. Wiwik Wahidah Osman ST. MT.

Evaluasi Kinerja Mahasiswa


No.

Stambuk

Ekologi Kawasan Tepian Air

Nama
Mahasiswa

Pemahaman
Materi (teori)
25%

Minggu 1- 15
Kemampuan
Pembuatan
Mengidentifikasi
Konsep
Kondisi
Pengembangan
Lapangan dan
dan
Analisis
perencanaan
25%
20%

Minggu 16
Ujian Akhir Semester ( UAS)
30%

17

KONTRAK PEMBELAJARAN
Nama Mata Kuliah

: Ekologi Kawasan Tepian Air

Kode MK

: 229D5203

Pembelajar

: 1. Dr. Ir. Mimi Arifin, Msi


2. Prof. Dr. Slamet Trisutomo,MS
3. Wiwik Wahidah Osman ST. MT.

Semester

: IV (Empat)/Genap

Hari/Jam Pertemuan

: Jumat/ 9.00-11.30

Tempat Pertemuan

: Ruang 123 CR 50

1. MANFAAT MATA KULIAH


Pembelajaran Ekologi Kawasan Tepian Air merupakan salah satu
mata kuliah inti pada Prodi Pengembangan Wilayah Kota, Jurusan
Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, dimana mahasiswa
wajib mengambil mata kuliah ini pada semester 4 (Empat). Mata kuliah
Ekologi Kawasan Tepian Air memiliki materi tentang ekologi kawasan
tepian air, teori-teori Pengembangan perencanaan Kawasan Tepian air
berbasis ekologi, standar-standar dan Undang- Undang serta Peraturan
Pemerintah yang menyangkut Pengembangan perencanaan Kawasan
Tepian air
Di samping itu mata kuliah ini akan menjadi pedoman dalam mata
kuliah selanjutnya yakni mata kuliah Revitalisasi Kawasan Tepian Air,
Perencanaan berbasis mitigasi, Perencanaan Perumahan Permukiman
Pesisir, dan Perencanaan Ruang Publik Tepian Air.

Ekologi Kawasan Tepian Air

18

2. DESKRIPSI MATA KULIAH


Pengembangan kawasan tepi air di Indonesia merupakan pokok masalah
yang potensial ditangani secara lebih seksama, karena Indonesia memiliki
garis pantai terpanjang di dunia dan berdasarkan PP 47/97 (Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional) terdapat 516 kota di Indonesia dengan 216 kota
diantaranya merupakan kota tepian air yang berada di tepi laut (pantai),
sungai atau danau.

Perlu disadari dengan potensi yang dimiliki

diharapkan manusia Indonesia mampu memikirkan pengembangan serta


perencanaan yang tepat pada kawasan tepian air.
Untuk kelangsungan suatu kawasan

tepian air dengan karakteristik

tertentu, maka penanganan berbasis ekologi sangat diperlukan agar


diketahui bagi masyarakat Indonesia

dipahami bahkan diharapkan

menjadi mindset setiap masyarakat penghuni, pengguna, pengembang


maupun perencana.
Pokok materi dalam mata kuliah Ekologi Kawasan Tepia air adalah :
mengembangkan dan merencanakan
ekologi,

kawasan tepian air berbasis

dengan terlebih dahulu melakukan Identifikasi

karakteristik

ekologi suatu kawasan, seperti karakteristik fisik dan lingkungan, Flora


dan Fauna, Ekonomi sosial budaya dan kependudukan, Kondisi
Permukiman Masyarakat, Sarana dan Prasarana Lingkungan, sistim
Pengelolaan Kawasan jika ada dan Status Hukum (Legalitas). Selanjutnya
karakteristik tersebut dipaparkan dalam potensi dan permasalahan yang
ada, lalu menganalisisnya sesuai teori ekologi kawasan tepian air serta
standar-standar, Undang-undang atau peraturan pemerintah setempat.
Keluarannya

berupa

rekomendasi

konsep

pengembangan atau

perencanaan kawasan untuk perbaikan ke depan.

Ekologi Kawasan Tepian Air

19

3. TUJUAN PEMBELAJARAN

Tujuan Mempelajari Mata Kuliah Ekologi Kawasan Tepian Air:


1. Agar mahasiswa mengetahui memahami Ekologi kawasan
tepian air dan manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia.
2. Agar mahasiswa memiliki kemampuan mengemukakan teoriteori Pengembangan perencanaan Kawasan Tepian air berbasis
ekologi
3. Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi potensi dan masalah
pada suatu kawasan tepian air serta
mengaplikasikan

teori-teori

ekologi

menganalisis dengan
kawasan

tepian

air

disesuaikan dengan Undang-undang, standar atau peraturan


pemerintah yang berlaku pada kawasan tepian air tertentu.

Ekologi Kawasan Tepian Air

20

4. ORGANISASI MATERI

Ekologi Kawasan Tepian Air

Pengenalan dan
Pemahaman Ekologi
Kawasan Tepian Air
(Teori , Standar serta UU
dan Peraturan.Pemerintah)

Analis:
Analisis spasial
Analisis SWOT
Menganalisis dengan
mempertimbangkan semua
karakteristik dengan
segala potensi,
permasalahan, peluang
dan kelemahan
(fisik dan non Fisik)

Survey karakteristik Ekologi


Kawasan Tepian Air
Di Sulawesi Selatan
(Pengenalan lapangan)

Obsevasi:
lingkungan, Flora dan
Fauna, Ekonomi sosial
budaya, Permukiman ,
Sarana dan Prasarana
Lingkungan, sistim
Pengelolaan Kawasan
dan Status Hukum
(Karakter fisik ,non fisik
Kawasan)

Pembuatan Konsep Perencanaan


Kawasan Tepian Air Berbasis Ekologis
untuk Perbaikan ke depan
Saran untuk keberlangsungan sumberdaya
(Arahan lahan Konservasi dan Preservasi)
Arahan jumlah Prasarana dan Sarana yang
dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan
yang layak huni, berkarakter, produktif dan
berkelanjutan

Gambar 1 ; Skema Organisasi Materi

Ekologi Kawasan Tepian Air

21

5. STRATEGI PEMBELAJARAN

Pembelajaran Ekologi Kawasan Tepian Air merupakan mata kuliah


yang diawali dengan kuliah interaktif atau bentuk ceramah (Cooperatif
Learning) yang di laksanakan pada minggu I, II sampai dengan minggu
VIII. Selanjutnya agar mahasiswa termotivasi untuk mengetahui dan
memahami teori yang telah diberikan, maka dilakukan pengujian berupa
Mid tes pada minggu ke IX serta tugas mencari dan memiliki Standarstandar PU, Undang-Undang serta Peraturan Pemerintah terbaru
mengenai Kawasan tepian air, Bangunan tepian air, juga

Mengenai

Lingkungan Hidup.
Pada

pertemuan minggu ke X sampai dengan ke XI adalah

pemberian tugas

kelompok, lalu

selanjutnya asistensi terhadap hasil

observasi lapangan mulai dari mendeskripsikan karakter fisik kawasan


seperti topografi, posisi , kondisi lahan parasarana dan sarana serta flora
dan fauna . Begitupun non fisik kawasan seperti sosial kependudukan ,
budaya serta ekonomi dan kelembagaan. Selanjutnya dianalisis potensi
dan permasalahan yang ada untuk perencanaan pengembangan ke
depan ke arah yang lebih baik dengan konsep berbasis ekologis.
(pembangunan berwawasan lingkungan) Pada minggu ke XII sampai XV
dilakukan presentasi perkelompok sambil menghidupkan diskusi kelas.
Segala masukan didiskusikan dan di buat laporan penyempurnaannya (
dikumpul) pada akhir perkuliahan yaitu pada saat final Test.

Ekologi Kawasan Tepian Air

22

6. MATERI BACAAN
1. Whitten J.Anthony,Mustafa M., Henderson G., Ekologi Sulawesi,
Diterjemahkan

oleh

Gembong

Tjitrosoepomo,

Fakultas

Biologi

Universritas Gajah Mada, Gajah Mada University Press,1987.


2. McNaughton S.J., Larry L.Wolf, Ekologi Umum,Diterjemahkan oleh
Priggoseputro Dan Srigandono, Edisi kedua Gajah Mada University
Press,1998.
3. Purwanto, Hari, Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif
Antropologi, Pustaka Pelajar , Yogyakarta 2008.
4. Budiharsono,Sugeng , Teknik Analisis Pembangunan Wilayah
Pesisir Dan Lautan, PT Pradnya Paramita, Jakarta 2001.
5. Panuju R. Iah, Saefulhakim, Rustiandi, Perencanaan Dan
Pengembangan Wilayah, Yayasan Pustaka Obor dan Crespent
Press, Jakarta 2011.
6. Satria Arif, Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir, Cidesindo
Press IPB, Bogor 2002.
7. Bengen Dietriech, Ragam Pemikiran Menuju Pembangunan Pesisir
dan Laut Berkelanjutan Berbasis Eko-Sosiosistem, Pusat
Pembelajaran Dan Pengembangan Pesisir dan Laut, Makassar 2004.

7. TUGAS
1. Mahasiswa membaca karakteristik lapangan (fisik dan non fisik),
melihat masalah dan potensi di lapangan berbasis ekologis serta
menyajikannya dalam bentuk deskriptif, peta dan gambar.
2. Mahasiswa mengerjakan analisis spasial dan kualntitatif dan kualitatif
sesuai kondisi lapangan misalnya perhitungan kebutuhan sarana dan
prasarana berdasarkan jumlah penduduk serta prediksinya mengikuti
standar pemerintah,Dinas PU dan Lingkungan Hidup

Ekologi Kawasan Tepian Air

23

3. Mahasiswa mengaplikasikan sistem perhitungan KDB, KLB serta RTH


pada kawasan tepian air sesuai

dengan standar / peraturan

Pemerintah, Dinas PU dan Dinas Lingkungan Hidup (sempadan


pantai/ kawasan konservasi dan preservasi serta kawasan yang harus
direhabilitasi).
4. Mahasiswa mampu membuat konsep

Pengembangan Kawasan

Tepian Air berwawasan lingkungan .


5. Mahasiswa memahami sistem perencanaan pengembangan Kawasan
Tepian Air Berbasis Ekologi.

8. KRITERIA PENILAIAN
Kriteria penilaian pada mata kuliah Ekologi Kawasan Tepian Air
tetap dinilai pada setiap pertemuan, akan tetapi nilai maksimum pada
mata kuliah ini adalah pada final test

yakni sebesar 35% dimana

dinilai dari tugas besar yakni estetika (kebenaran, kelengkapan,


kerapihan gambar). Yang menjadi patokan penilaian setiap pertemuan
adalah :
1. Memahami materi perkuliahan Jenis dan karakteristik kawasan tepian
air 10%
2. Memahami dan mengetahui materi perkuliahan Ekologi

kawasan

tepian air 25%


3. Memahami dan mengetahui standar, peraturan pemerintah tentang
pembangunan, penataan dan perencanaan kawasan tepian air
berbasis ekologi 10%

Ekologi Kawasan Tepian Air

24

4. Mampu mengidentifikasi lokasi survey dan menyajikan dalam data


spasial, kuantitatif dan kualitatif. 10%
5. Mampu menganalisis berdasarkan hasil identifikasi lokasi survey dan
menyajikan dalam data spasial, kuantitatif dan kualitatif. 15%
6. Mengevaluasi penguasaan terhadap seluruh materi pembelajaran
dari minggu ke I sampai dengan minggu ke XV. 30%.

Nilai Angka

Nilai Mutu

Nilai Konversi

4,00

81 85

A-

3,75

76 80

B+

3,50

71 75

3,00

66 70

B-

2,75

61 65

C+

2,50

51 60

2,00

46 50

1,00

<45

0,00

86

Dalam penentuan nilai akhir akan digunakan pembobotan sebagai


berikut :
Tugas pengumpulan standar,UU dan PP

10%

Tugas Kelompok

30%

Mid Test

20%

Final Test

35%

Kehadiran

5%

Penilaian tugas akan dilakukan dengan menggunakan kriteria:


Ekologi Kawasan Tepian Air

25

Kebenaran Isi Penulisan

30%

Kelengkapan Proses Penulisan

25%

Teknik Presentasi

15%

Teknik Analisis serta Norma dan Standar Penyajian

20%

Etika dan Kerapihan Penyajian Tugas

10%

Contoh Alat Ukur


Berikut akan dikemukakan salah satu alternatif (contoh) alat ukur yang
digunakan dalam menilai tugas gambar mahasiswa baik tugas kecil
maupun tugas besar sebagai berikut:
Prodi

: Pengembangan Perencanaan Kota

Mata Kuliah

: Ekologi Kawasan Tepian Air

Tugas

: Tugas Kelompok Studi Kasus Kawasan Tepian Air

Jenis Tugas

: Observasi Lapangan dan Konsep Pengembangan


Kawasan Berbasis Ekologi.

No

Aspek yang dinilai

Skor (0-4)

Bobot

Kelengkapan proses penulisan

25%

Kebenaran isi

30%

Teknik presentase

15%

Teknik analisis serta norma dan

20%

Nilai

Standar penyajian
5

Etika dan Kerapihan Tugas


Total Nilai

10%
100%

Keterangan:

Ekologi Kawasan Tepian Air

26

Skor 0,00 1,00 = sangat kurang (E)


Skor 1,01 2,00 = kurang (D)
Skor 2,01 2,75 = cukup (C)
Skor 2,76 3,30 = baik (B)
Skor 3,31 4,00 = baik sekali (A)

Defenisi Operasional Tabel


1) Aspek yang dinilai:
Kelengkapan

proses penulisan yaitu Kelengkapan mengikuti

proses penulisan mulai dari pemberian tugas, asistensi , presentasi


dan perbaikan.
Kebenaran isi, adalah kebenaran apa yang disajikan baik pada latar
belakang penulisan, kajian pustaka, metode, kondisi terbaru
lapangan, analisis dan kesimpulan serta saran .
Teknik presentase , yaitu nilai pada saat presentasi kelompok ,
pembagian tugas presentasi tiap anggota kelompok tertata dengan
baik, artikulasi jelas, teknik penyajian power point menarik,
terpenuhinya gambar-gambar yang secara visual dan

teknik

penyajian peta benar, indah (estetik), dan komposisi tepat.


Teknik Analisis

adalah terpenuhinya tata cara analisis yaitu

bagaimana data primer maupun sekunder yang diolah, dinilai


berdasarkan teori dan standar-standar Pemerintah, Sedang norma
dan standar penyajian, yaitu terpenuhinya tata cara penulisan,
penyajian gambar yang benar berdasarkan berbagai aturan
penggambaran

peta

menempatkan

ukuran

sesuai

skala,

kelengkapan keterangan, dll.

Ekologi Kawasan Tepian Air

27

Etika dan kerapihan tugas, yaitu terpenuhinya perilaku mahasiswa


yang

tidak

melanggar

aturan

kejujuran,

kedisiplinan

dan

kemandirian. Di samping itu juga dilihat tingkat penyajian penulisan


dan gambar yang jelas dan rapih sehingga mudah dimengerti oleh
orang lain.
2) Skor dengan interval 0 s/d 4 dengan keterangan seperti di atas.
3) Bobot, bervariasi pada tiap aspek sesuai dengan tingkat kesulitan dan
telah ditentukan seperti terlihat pada tabel. Keseluruhan bobot
tersebut berjumlah 100%.
4) Nilai adalah hasil kali antara skor satuan dengan bobot satuan. Lima
dari nilai satuan tersebut, akan dijumlah menjadi total nilai, yang akan
disesuaikan kembali dengan nilai yang ada pada keterangan atau
dikonversi menjadi nilai E s/d A.

9. NORMA AKADEMIK
1. Masuk ke Kelas mahasiswa harus berpakaian rapih, pakai sepatu dan
bersikap sopan ( tidak ribut ).
2. Mahasiswa hadir tepat waktu di kelas dan pada saat

pelajaran

berlangsung tidak diperkenankan mahasiswa masuk kelas (terlambat)


terkecuali jika ada alasan yang dapat diterima secara bersama oleh
anggota kelas.
3. Mahasiswa wajib membawa perlengkapan tulis berupa buku catatan
dan alat tulis.

Ekologi Kawasan Tepian Air

28

4. Peserta matakuliah wajib menyelesaikan matakuliah ini karena


merupakan matakuliah wajib pada prodi Pengembangan Wilayah Kota
(PWK) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

10. JADWAL PEMBELAJARAN


Minggu

Topik Bahasan

Penjelasan umum
tentang program
pembelajaran , Tujuan
Pembelajaran,
Kepustakaan,
Pembentukan Kelompok,
Pemilihan ketua
kelompok dan ketua
kelas

Metode
Pembelajaran
3

Kriteria Penilaian
4
Pemahaman materi
(critical thinking/kognitif)

Role Play,
Kedisiplinan (afektif)

Pemahaman materi
(critical thinking/kognitif)
Mengetahui dan
memahami Ekologi
Kawasan Tepian Air

Self Directed
Learning
Case Study ,

II - V

VI - VIII

IX

Mampu
mengembangkan Ilmu
Pengembangan Wilayah
Kota dengan
menerapkan ekologi
kawasan tepian air pada
kondisi lapangan

Mampu memahami
ekologi kawasan tepian
air dalam Konteks
Pengembangan Wilayah
dan Kota

Ekologi Kawasan Tepian Air

Case Study,
Self Directed
Learning

Kesesuaian pustaka
(critical review/kognitif)
Kedisiplinan (afektif)

Pemahaman materi
(critical thinking/kognitif)
Estetika (kebenaran,
kelengkapan, kerapihan
gambar)
Kontribusi keaktifan dlm
diskusi kelompok
(softskills/
physikomotorik)
Kedisiplinan mhs
(afektif)
Pemahaman materi
(critical thinking/kognitif)

Mid Test
Kedisiplinan mhs
(afektif)

29

X - XI

XII - XV

XVI

Mampu mengaplikasikan
materi ekologi kawasan
tepian air yang telah
dipahami pada masingmasing kasus
(kelompok) di lapangan

Mampu
mempresentasikan dan
menggambarkan konsep
Pengembangan
Kawasan Tepian air
berbasis Ekologis Sesuai
Karakteristik Fisik dan
Non fisik

Ujian Akhir Semester


(UAS)

Ekologi Kawasan Tepian Air

Case Study,
, Self Directed
Learning

Case Study,
Self Directed
Learning

Problem Based
Learning

Pemahaman materi
dalam mengobservasi
lapangan (critical
thinking/kognitif)
Kontribusi keaktifan dlm
survey lapangan
(softskills/physikomotorik
)
Kedisiplinan mhs
(afektif)

Pemahaman materi
(critical thinking/kognitif)
Estetika (kebenaran,
kelengkapan, kerapihan
penyajian )
Kontribusi keaktifan dlm
diskusi kelompok
(softskills/physikomotorik
)
Kedisiplinan mhs
(afektif)
Pemahaman materi
(critical thinking/kognitif)
Estetika (kebenaran,
kelengkapan, kerapihan
penyajian)
Kedisiplinan (afektif)

30

BAHAN AJAR
MATAKULIAH EKOLOGI KAWASAN
TEPIAN AIR
229D5203

Pengajar

: Dr. Ir. Mimi Arifin, Msi


Prof. Dr. Slamet Trisutomo,MS
Wiwik Wahidah Osman ST. MT.

Semester

: IV (Empat)/Genap

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

Ekologi Kawasan Tepian Air

31

BAHAN AJAR
Mata Kuliah: Ekologi Kawasan Tepian Air

Tujuan Umum
Mata kuliah Ekologi Kawasan Tepian Air merupakan mata kuliah
inti dan dapat di ikuti oleh mahasiswa pada semester ke empat (semester
genap). Tujuannya agar dalam menganalisis pengembangan dan
peruntukan suatu wilayah khususnya pembangunan kawasan tepian air,
pesisir dan laut harus berbasis ekologi.
Ekologi

diharapkan

menjadi

mindset

setiap

orang

baik

penghuni/pengguna atau pengembang/perencana kawasan tepian air


Indonesia. Oleh karena itu dalam menganalisis pengembangan kawasan
tepian air dibutuhkan pemahaman awal tentang pengertian ekologi,
pengertian kawasan tepian air, jenis dan karakteristik kawasan tepian air
serta standar-standar dan Undang-undang ataupun Peraturan Pemerintah
tentang penataan kawasan tepian air.
Selain itu juga mulai diperkenalkan tentang jenis Kawasan tepian
air dengan potensi dan permasalahannya secara umum, selanjutnya agar
lebih dipahami mahasiswa mempraktekkan dengan survey langsung pada
beberapa kasus kawasan tepian air yang berada di Provinsi Sulawesi
Selatan.

Survey dilakukan secara berkelompok. Setelah memahami

potensi dan masalah setiap kasus dilanjutkan agar mahasiswa sudah


mulai mampu menganalisis kasus masing-masing kelompok secara

Ekologi Kawasan Tepian Air

32

sederhana bagaimana pengembangan serta perencanaan kawasan tepian


air yang berbasis ekologi.
Materi Pertemuan Minggu I.
Memaparkan maksud dan tujuan umum serta khusus dari mata kuliah
Ekologi Kawasan Tepian Air.
Materi Pertemuan Minggu II- V.
Pengertian Ekologi secara Umum dan Kawasan Tepian Air
Ekologi Kawasan Tepian Laut
Ekologi Kawasan Tepian Danau dan Rawa
Ekologi Kawasan Tepian Sungai

Materi Pertemuan Minggu VI - VIII.


Perencanaan Pembangunan Daerah Dalam Konteks Pengelolaan
Wilayah Pesisir Terpadu
Wawasan Lingkungan dalam Pengembangan Maritim dan Kelautan
Peran Ekosistim dalam Mitigasi Bencana

Materi Pertemuan Minggu IX


Memotivasi mahasiswa untuk memahami materi kuliah yang telah
diberikan dengan melakukan Ujian Tengah Semester (UTS), dalam bentuk
esay dan tugas permahasiswa mencari standar-standar dan Undangundang ataupun Peraturan Pemerintah terbaru

tentang penataan

kawasan tepian air.


Materi Pertemuan Minggu X-XI

Penjelasan Tugas survey secara berkelompok

Asistensi Hasil survey

Ekologi Kawasan Tepian Air

33

Mampu mengaplikasikan materi ekologi kawasan tepian air yang


dipahami pada kasus dilapangan
Materi Pertemuan Minggu XII - XV.

Presentasi perkelompok

Mampu mempresentasikan dan menggambarkan konsep Pengembangan


Kawasan Tepian air sesuai Karakter kawasan survey masing-masing
kelompok
Mampu menanggapi dan berdiskusi secara etis antar kelompok.

Materi Pertemuan Minggu XVI

Ujian Akhir Semester (UAS)

Pemahaman tentang Ekologi Kawasan Tepian Air dan pengaplikasiannya


pada kasus perkelompok

serta penguasaan tiap mahasiswa terhadap

hasil studi kelompok di lapangan

Ekologi Kawasan Tepian Air

34

BAHAN AJAR
MATA KULIAH : EKOLOGI KAWASAN TEPIAN AIR
A. Pendahuluan :
Pengembangan kawasan tepi air di Indonesia merupakan pokok masalah
yang potensial ditangani secara lebih seksama, karena Indonesia memiliki
garis pantai terpanjang di dunia dan berdasarkan PP 47/97 (Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional) terdapat 516 kota di Indonesia dengan 216 kota
diantaranya merupakan kota tepian air yang berada di tepi laut (pantai),
sungai atau danau.

Perlu disadari dengan potensi yang dimiliki

diharapkan manusia Indonesia mampu memikirkan pengembangan serta


perencanaan yang tepat pada kawasan tepian air.
Untuk kelangsungan suatu kawasan

tepian air dengan karakteristik

tertentu, maka penanganan berbasis ekologi sangat diperlukan agar


diketahui bagi masyarakat Indonesia

dipahami bahkan diharapkan

menjadi mindset setiap masyarakat penghuni, pengguna, pengembang


maupun perencana.
Pokok materi dalam mata kuliah Ekologi Kawasan Tepia air adalah
mengembangan dan merencanakan kawasan tepian air, dengan terlebih
dahulu melakukan tinjauan karakteristik ekologi kawasan tersebut seperti
karakteristik fisik dan lingkungan, Flora dan Fauna, Ekososbud,
Permukiman Masyarakat, Sarana dan Prasarana Lingkungan, sistim
Pengelolaan Kawasan jika ada dan Status Hukum (Legalitas). Selanjutnya
menganalisis dengan mempertimbangkan semua karakteristik tersebut
dengan

potensi dan permasalahannya lalu membuat

rekomendasi

konsep perencanaan untuk perbaikan ke depan. Dengan demikian hal


ini merupakan

suatu yang amat penting diajarkan bagi mahasiswa

program studi Pengembangan dan Perencanaan Kota.

Ekologi Kawasan Tepian Air

35

Tujuan Mempelajari Mata Kuliah Ekologi Kawasan Tepian Air:


4. Agar mahasiswa mengetahui memahami tentang manfaat bagi
masyarakat jika suatu lingkungan yang direncanakan dengan
mempertimbangkan kelangsungan sumberdayanya khususnya
pada kawasan tepian air.
5. Agar mahasiswa memiliki kemampuan dan sadar untuk
menghadirkan konsep ekologis dalam setiap pengembangan
dan perencanaan suatu kawasan khususnya kawasan tepian air

B. PENYAJIAN
Materi bahan ajar yang dibahas dalam buku ini mengacu pada
Kontrak Pembelajaran, Garis Besar Rencana Pembelajaran (GBRP)
mata kuliah Ekologi Kawasan Tepian Air, yakni :

Isi Materi Pertemuan Minggu I.

Menjelaskan Pengertian ekologi secara umum dan secara khusus


tujuan dan manfaat ekologi kawasan tepian air

Isi Materi Pertemuan Minggu II- V.


Pengertian Ekologi secara Umum dan Kawasan Tepian Air
Ekologi Kawasan Tepian Laut
Ekologi Kawasan Tepian Danau dan Rawa
Ekologi Kawasan Tepian Sungai

Ekologi Kawasan Tepian Air

36

Isi Materi Pertemuan Minggu VI - VIII


Perencanaan Pembangunan Daerah Dalam Konteks Pengelolaan
Wilayah Pesisir Terpadu
Wawasan Lingkungan dalam Pengembangan Maritim dan Kelautan
Peran Ekosistim dalam Mitigasi Bencana

Isi Materi Pertemuan Minggu IX


Ujian Tengah Semester (UTS), dalam bentuk Esay dan tugas perorangan
mencari standar-standar, Undang-undang atau Peraturan

Pemerintah

tentang Kawasan Tepian Air.

Isi Materi Pertemuan Minggu X - XI


Pemberian Tugas Kelompok untuk survey pada Kawasan Tepian Air di
Provinsi Sulawesi Selatan dan Asistensi

Isi Materi Pertemuan Minggu XII - XV.


Presentasi Tugas Perkelompok dan diskusi kelas

Isi Materi Materi Pertemuan Minggu XVI


Ujian Akhir Semester (UAS) dalam bentuk Esay untuk menilai tingkat
pemahaman tiap mahasiswa tentang Ekologi Kawasan Tepian Air dan
penguasaan terhadap hasil studi di lapangan

Ekologi Kawasan Tepian Air

37

Materi Pertemuan Minggu I


A. Kontrak perkuliahan
B. Menjelaskan tujuan mempelajari ekologi kawasan tepian air
Pendahuluan.
Menurut Dahuri dkk. (2001) komponen biofisik wilayah pesisir
dan laut Indonesia yang membentang sepanjang kurang lebih 81.000
km garis pantai dan menyebar pada sekitar 17.508 pulau dengan
sekitar 5,8 juta km2 wilayah perairan termasuk ZEEI, memiliki potensi
sumberdaya hayati

yang melimpah dan beragam jenisnya dan

masing-masing sumberdaya tersebut memiliki nilai penting baik dari


sisi pasar domestic terlebih pasar internasional.
Dengan besarnya potensi alam perairan Indonesia dalam masa
perkembangannya sangat menarik para investor baik lokal maupun
asing

untuk

memanfaatkannya

Masalah

akan

muncul

jika

pemanfaatan berlangsung tanpa melihat kepentingan generasi ke


depan (inter generation). Banyak pembangunan sektoral, regional,
swasta dan masyarakat mengambil tempati kawasan tepian air dan
laut,

seperti

budidaya

perikanan,

resort

wisata,

industri,

pertambangan, pelabuhan laut,dan reklamasi pantai untuk perluasan


kota. Alasan-alasan terkait dengan kurangnya prasarana umum di
wilayah tepian air, pesisir dan laut, lemahnya perencanaan spasial
yang berakhir pada tumpang tindih berbagai sektor di suatu kawasan,
dampak polusi serta kerusakan lingkungan.
Pembangunan berkelanjutan (sustainable development)
yang merupakan visi dunia internasional kini juga merupakan visi
nasional. Visi pembangunan berkelanjutan tidak melarang aktivitas
pembangunan

ekonomi,

tetapi

menganjurkannya

dengan

persyaratan bahwa laju (tingkat) kegiatan pembangunan tidak


melampaui daya dukung (carrying capacity) lingkungan alam
Sudah saatnya, membentuk masyarakat dan pemikir/perencana

Ekologi Kawasan Tepian Air

38

yang

memiliki

kesadaran

kolektif

dalam

merealisasikan

pembangunan berkelanjutan, khususnya pembangunan kawasan


tepian air, pesisir dan laut berbasis ekologi.
Ekologi diharapkan menjadi mindset setiap orang baik
penghuni/pengguna

atau

perencana

kawasan

tepian

air

Indonesia.Untuk itu mata kuliah ekologi Kawasan Tepian Air bagi


mahasiswa PWK diperlukan untuk mendukung harapan tersebut.

Tujuan Mempelajari Ekologi Kawasan Tepian Air


Mata kuliah Ekologi Kawasan Tepian Air diwajibkan kepada mahasiwa
PWK dengan tujuan antara lain :
1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami Ekologi kawasan
tepian air
2. Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi Jenis dan karakteristik
kawasan tepian air
3. Memahami dan mengetahui standar, peraturan pemerintah tentang
pembangunan, penataan dan perencanaan kawasan tepian air
berbasis ekologi
4.

Mampu

mengidentifikasi

dan

menganalisis

potensi

dan

permasalahan kawasan tepian air pada lokasi survey dan


menyajikan dalam data spasial, kuantitatif dan kualitatif.
5. Berdasarkan hasil analisis, mahasiswa mampu membuat arahan
pengembangan, penataan dan perencanaan kawasan tepian air
yang berbasis ekologi

Ekologi Kawasan Tepian Air

39

Materi Pertemuan Minggu II - V


A. Pengertian Ekologi , Ekosistim dan Kawasan Tepian Air

1. Pengertian Ekologi
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organism dengan
lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunan oikos (habitat)
dan logos (ilmu). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik
interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan
lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst
Haeckel (1834- 1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai
kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan
berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotikdan biotik. Faktor
abiotik

antara

lain suhu,

air,

kelembaban, cahaya,

dan

topografi,

sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia,
hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan
tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas,
dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem
yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru
muncul pada tahun 70-an. Akan tetapi, ekologimempunyai pengaruh
yang

besar

terhadap

cabang

biologinya.

Ekologi

mempelajari

bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan


mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan dengan benda tak hidup
di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya. Ekologi, biologi dan ilmu
kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botaniyang
menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan
ekonomi

energi

yang

menggambarkan

kebanyakan rantai

makanan manusia dan tingkat tropik.

Ekologi Kawasan Tepian Air

40

Para ahli ekologi mempelajari hal berikut:

Perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke


makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor
yang menyebabkannya.

Perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda dalam


faktor-faktor yang menyebabkannya.

Terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk


hidup dan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

2. Pengertian Ekosistem
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh
hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan
secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang
saling memengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang
melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik
sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan
terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari
sebagai sumber dari semua energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersamasama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan
beradaptasi

dengan

lingkungan

fisik,

sebaliknya

organisme

juga

memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Pengertian ini


didasarkan

pada

Hipotesis

Gaia,

yaitu:

"organisme,

khususnya

mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan


suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk
kehidupan". Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia

Ekologi Kawasan Tepian Air

41

atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet
lain dalam tata surya.
a. Komponen Ekosistem

Secara umum, komponen ekosistem terbagi atas dua kelompok


yakni biotik dan juga abiotik. Komponen biotik sendiri merupakan
komponen berupa mahluk hidup. Sementara itu komponen abiotik
mencakup semua hal di luar mahluk hidup dalam sebuah satuan
ekosistem. Meski tak hidup, namun komponen abiotik ini sangat
mempengaruhi keberlangsungan hidup dari komponen biotik. Apa saja
komponen abiotik tersebut, antara lain:
1) Suhu.
2) Tanah dan Batu.
3) Air
4) Udara
5) Cahaya
6) Iklim
Sementara itu komponen biotik mencakup beberapa hal yang dapat
dikelompokkan berdasarkan fungsinya. Berdasarkan fungsi komponen
tersebut, maka ia akan dibagi menjadi dua komponen dasar yakni autotrof
dan juga komponen heterotrof. Pengertian keduanya adalah sebagai
berikut :
1) Autotrof tak lain adalah istilah yang menunjuk pada mahluk hidup
yang bisa membentuk sendiri makanannya sendiri.
2) Heterotrof sendiri adalah organisme konsumen yang tak bisa
membentuk makanannya sendiri sehingga ia mengambil kebutuhan
tersebut dari luar dirinya.
sementara itu jika dilihat dari susunan trofiknya, maka komponen
ekosistem biotik dibagi ke dalam 3 kelompok yakni:

Ekologi Kawasan Tepian Air

42

1) Produsen. Secara sederhana diartikan sebagai penghasil makanan. Ia


adalah mahluk hidup atau organisme yang menghasilkan makanannya
sendiri. Organisme yang tercakup dalam kelompok ini adalah
tumbuhan yang memiliki klorofil. Dalam ekosistem darat, tumbuhan
sangat diperlukan sebagai sumber makanan mahluk hidup lainnya.
Sementara itu dalam ekosistem perairan, organisme dengan klorofil
adalah berbagai jenis alga juga fitoplankton.
2) Komponen ekosistem biotik selanjutnya adalah konsumen. Ia secara
sederhana diartikan sebagai pemakai. Kelompok ini mencakup semua
organisme yang tak bisa menghasilkan makanan bagi dirinya sendiri
sehingga ia harus mendapatkan makanan dari organisme lainnya
untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Konsumen ini
dibagi ke dalam 3 bagian yakni: konsumen tingkat pertama meliputi
semua organisme yang mengkonsumsi zat langsung dari tumbuhan
atau disebut herbivora. Konsumen tingkat kedia yakni semua mahluk
hidpu yang memperoleh makanan dengan memangsa herbivora tadi
atau disebut karnivora. Terakhir adalah konsumen tingkat ketiga yakni
mahluk hidup yang memangsa konsumen tingkat kedua.
3) Pengurai atau decomposer. Merupakan komponen ekosistem biotik
yang sangat berperan dalam hal menguraikan bahan-bahan organis
yang muasalnya dari mahluk hidup yang telah mati atau juga hasil
pembuangan sistem pencernaan mahluk hidpu. Organisme pengurai
ini cukup penting sebab ia menjaga stabilitas ekosistem dengan
mengurai zat-zat buangan tersebut sehingga diserap oleh tanah dan
menjadi unsur hara bagi perkembangan tumbuhan.

b. Interaksi dalam Ekosistem


Tentunya setelah mengetahui komponen dalam suatu ekosistem
kita bertanya-tanya bagaimana sesungguhnya hubangan antara makhluk
hdup yang tinggal menetap dalam suatu ekositem, nah begini nih sahabat

Ekologi Kawasan Tepian Air

43

Setiap

makhluk

hidup

akan

berusaha

untuk

mempertahankan

populasinya, tentu dengan cara mencari makanan dan terus berkembang


biak, seperti yang kita ketahui ada makhluk hidup karnivora dan herbivora
hal ini akan menimbulkan hubungan erat yang biasa dinamakan rantai
makanan dan jaring jaring makanan.
1) Rantai makanan
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan dengan
urutan dan arah tertentu. Pada peristiwa tersebut terjadi perpindahan
energi dari produsen ke konsumen, dan selanjutnya ke pengurai.
Konsumen tingkat pertama juga disebut konsumen primer, dan konsumen
tingkat ketiga disebut konsumen tersier. Tingkatan-tingkatan ini disebut
trofik. Konsumen puncak merupakan konsume terakhir dan bila mati akan
diuraikan oleh dekomposer. Contoh rantai makanan adalah sebagai
berikut:

Gambar 2 : Rantai Makanan

Ekologi Kawasan Tepian Air

44

2) Jaring-jaring makanan
Dalam ekosistem, suatu organisme tidak hanya makan satu jenis
makanan saja, dan juga dapat dimakan oleh beberapa jenis pemangsa.
Oleh

karena

itu

terjadi

beberapa

rantai

makanan

yang

saling

berhubungan. Sekumpulan rantai makanan yang saling berhubungan ini


disebut dengan jaring-jaring makanan. Contoh jaring-jaring makanan
adalah sebagai berikut.

Gambar 3. Jaring - jaring makanan

c. Tipe-tipe Ekosistem
Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten
darat, dan ekosistem buatan.
1) Akuatik (air)

Ekosistem air tawar.

Ekologi Kawasan Tepian Air

45

Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok,
penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam
tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya
tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar.
Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.

Ekosistem air laut.

Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang


tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena
suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar
25 C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat
batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin
di bagian bawah yang disebut daerah termoklin.

Ekosistem estuari.

Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut.


Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau
rawa garam. Ekosistem estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya
akan nutrisi. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput
rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain
berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan.

Ekosistem pantai.

Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di


gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan
terhadap hempasan gelombang dan angin. Tumbuhan yang hidup di
ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal.

Ekosistem sungai.

Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air
sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan.

Ekologi Kawasan Tepian Air

46

Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air.
Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang. Ekosistem
sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-kura, ular,
buaya, dan lumba-lumba.

Ekosistem terumbu karang.

Ekosistem ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai. Efisiensi
ekosistem ini sangat tinggi. Hewan-hewan yang hidup di karang memakan
organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro
organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora
seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut,
dan ikan karnivora. Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat
pantai memiliki pasir putih.

Ekosistem laut dalam.

Kedalamannya lebih dari 6.000 m. Biasanya terdapat lele laut dan


ikan laut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen terdapat
bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.

Ekosistem lamun.

Lamun atau seagrass adalah satu-satunya kelompok tumbuhtumbuhan berbunga yang hidup di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini
hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput di
darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai-tangkai
yang

merayap

yang

efektif

untuk

berbiak.

Berbeda

dengan

tumbuh-tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga,


berbuah dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem
internal untuk mengangkut gas dan zat-zat hara. Sebagai sumber daya
hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
2) Terestrial (darat)

Ekologi Kawasan Tepian Air

47

Penentuan zona dalam ekosistem terestrial ditentukan oleh


temperatur dan curah hujan. Ekosistem terestrial dapat dikontrol oleh iklim
dan gangguan. Iklim sangat penting untuk menentukan mengapa suatu
ekosistem terestrial berada pada suatu tempat tertentu. Pola ekosistem
dapat berubah akibat gangguan seperti petir, kebakaran, atau aktivitas
manusia.

Hutan hujan tropis.


Hutan hujan tropis terdapat di daerah tropik dan subtropik. Ciri-

cirinya adalah curah hujan 200-225 cm per tahun. Spesies pepohonan


relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya
tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m,
cabang-cabang pohon tinggi dan berdaun lebat hingga membentuk
tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro, yaitu
iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme. Daerah tudung cukup
mendapat sinar matahari, variasi suhu dan kelembapan tinggi, suhu
sepanjang hari sekitar 25 C. Dalam hutan hujan tropis sering terdapat
tumbuhan khas, yaitu liana (rotan) dan anggrek sebagai epifit. Hewannya
antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

Sabana.
Sabana dari daerah tropik terdapat di wilayah dengan curah hujan

40 60 inci per tahun, tetapi temepratur dan kelembaban masih


tergantung musim. Sabana yang terluas di dunia terdapat di Afrika; namun
di Australia juga terdapat sabana yang luas. Hewan yang hidup di sabana
antara lain serangga dan mamalia seperti zebra, singa, dan hyena.

Padang rumput.
Padang rumput terdapat di daerah yang terbentang dari daerah

tropik ke subtropik. Ciri-ciri padang rumput adalah curah hujan kurang


lebih 25-30 cm per tahun, hujan turun tidak teratur, porositas (peresapan

Ekologi Kawasan Tepian Air

48

air) tinggi, dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas
tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada
kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar,
serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.

Gurun.
Gurun terdapat di daerah tropik yang berbatasan dengan padang

rumput. Ciri-ciri ekosistem gurun adalah gersang dan curah hujan rendah
(25 cm/tahun). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar.
Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di
gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya
kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai
jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain
rodentia, semut, ular, kadal, katak, kalajengking, dan beberapa hewan
nokturnal lain.

Hutan gugur.
Hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki

empat musim, ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun.


Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewan yang
terdapat di hutam gugur antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung
pelatuk, dan rakun (sebangsa luwak).

Taiga
Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan

daerah tropik, ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya


taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer,
pinus, dan sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali,
sedangkan hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan
burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

Tundra

Ekologi Kawasan Tepian Air

49

Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran


kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan
tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan
adalah sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan perdu, dan
rumput alang-alang. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi
dengan keadaan yang dingin.

Karst (batu gamping /gua).


Karst berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah

Yugoslavia. Kawasan karst di Indonesia rata-rata mempunyai ciri-ciri yang


hampir sama yaitu, tanahnya kurang subur untuk pertanian, sensitif
terhadap erosi, mudah longsor, bersifat rentan dengan pori-pori aerasi
yang rendah, gaya permeabilitas yang lamban dan didominasi oleh poripori mikro. Ekosistem karst mengalami keunikan tersendiri, dengan
keragaman aspek biotis yang tidak dijumpai di ekosistem lain.
3) Ekosistim Buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk
memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi
dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia,
dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah :

bendungan

hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus

agroekosistem berupa sawah tadah hujan

sawah irigasi

perkebunan sawit

ekosistem pemukiman seperti kota dan desa

ekosistem ruang angkasa.

Ekologi Kawasan Tepian Air

50

Ekosistem kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi


yang banyak. Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar,
serta memiliki pengeluaran yang eksesif seperti polusi dan panas.
Ekosistem ruang angkasa bukan merupakan suatu sistem tertutup
yang dapat memenuhi sendiri kebutuhannya tanpa tergantung input
dari luar. Semua ekosistem dan kehidupan selalu bergantung pada
bumi.

3. Pengertian Kawasan Tepian Air


Secara umum, pengertian tepian air dapat diartikan sebagai suatu
proses dan hasil pembangunan yang memiliki kontak visual dengan air,
seperti : air laut, air sungai dan danau. Dalam kamus Oxford edisi 1987,
daerah tepianairterutama bagian kota yang menghadap laut, sungai atau
danau dan jenis perairan lainnya, oleh BreendamRigby, mendefinisikan
daerah tepianair sebagai thewateredgesinthecityandtowninallsize.
Mengenai

prinsip

perancangan

sendiri

(IsfaSastrawati,

Prinsip

Perancangan Kawasan Tepian Air, 2003) merupakan dasar dasar


penataan kota atau kawasan yang memasukkan berbagai aspek
pertimbangan

dan

komponen

penataan

untuk

mencapai

suatu

perancangan kota atau kawasan yang baik. Bila dihubungkan dengan


pembangunan kota, kawasan Tepian Air adalah area yang dibatasi oleh
air

dan

komunitasnya

yang

dalam

pengembangannya

mampu

memasukkan nilai manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai
alami. Dari pengertian di atas, maka dapat didefinisikan bahwa prinsip
perancangan kawasan tepianair merupakan dasar dasar penataan
kawasan yang memasukkan aspek yang perlu dipertimbangkan dan
komponen penataan di wilayah tepian air.
a. Kajian Umum Tentang Kawasan Tepian Air

Ekologi Kawasan Tepian Air

51

Secara umum, pengertian tepian air dapat diartikan sebagai suatu


proses dan hasil pembangunan yang memiliki kontak visual dengan air,
seperti : air laut, air sungai dan danau. Dalam kamus Oxford edisi 1987,
daerah tepianair terutama bagian kota yang menghadap laut, sungai atau
danau dan jenis perairan lainnya, oleh Breendam Rigby, mendefinisikan
daerah tepianbair sebagai the water edges in the city and town in all
size.
Pengembangan

kawasan

tepian

air

dapat

dirumuskan

sebagai

pengelolaan kawasan tepianair dengan memberikan muatan kegiatan aktif


pada pertemuan tersebut. Muatan kegiatan bisa berupa aktifitas sungai
atau pantai yang memanfaatkan pemandangan perairan. Pengertian
pengembangan tepian air telah mencakup pengembangan kawasan yang
sama sekali jauh dari sumber air alami.
Mengenai

prinsip

perancangan

sendiri

(Isfa

Sastrawati,

Prinsip

Perancangan Kawasan Tepian Air, 2003) merupakan dasar dasar


penataan kota atau kawasan yang memasukkan berbagai aspek
pertimbangan

dan

komponen

penataan

untuk

mencapai

suatu

perancangan kota atau kawasan yang baik. Bila dihubungkan dengan


pembangunan kota, kawasan Tepian Air adalah area yang dibatasi oleh
air

dan

komunitasnya

yang

dalam

pengembangannya

mampu

memasukkan nilai manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai
alami.
Dari pengertian di atas, maka dapat didefinisikan bahwa prinsip
perancangan kawasan tepianair merupakan dasar dasar penataan
kawasan yang memasukkan aspek yang perlu dipertimbangkan dan
komponen penataan di wilayah tepianair.
b. Kebijakan Pemerintah Mengenai Kawasan Tepian Air
Beberapa kebijakan yang berkaitan dengan penataan kawasan
Tepian Air adalah :

Ekologi Kawasan Tepian Air

52

1) Garis sempadan pantai dan sungai.


Melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu
dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai
serta mengamankan aliran sungai. Perlindungan terhadap kawasan pantai
berhutan bakau dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai
pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang biaknya
berbagai biota laut disamping sebagai pelindung pantai dan pengikisan air
laut serta pelindung usaha budi daya dibelakangnya. Garis sempadan
pantai dan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer
ditetapkan dalam beberapa peraturan.
2) Akses (Dirjen Cipta Karya, 2000)
-

Akses berupa jalur kendaraan berada diantara batas terluar dari


sempadan Tepian Air dengan areal terbangun.

Jarak antara akses masuk menuju ruang publik atau Tepian Air dari
jalan raya sekunder atau tersier minimum 300 m.

Jaringan jalan terbatas dari parkir kendaraan roda empat.

Lebar minimum jalur pejalan di sepanjang Tepian Air adalah 3 m.


3) Peruntukan (Dirjen Cipta Karya, 2000)

Peruntukan bangunan diprioritaskan atas jenjang pertimbangan :


penggunaan lahan yang bergantung dengan air (water related uses),
penggunaan lahan yang sama sekali tidak berhubungan dengan air
(independent unrelated to water uses).

Kemiringan lahan untuk pengembangan area publik yaitu antara 0


15%. Sedangkan untuk kemiringan lahan lebih dari 15% perlu
penanganan khusus.

Jarak antara satu areal terbangun bagi fasilitas umum dengan fasilitas
umum lainnya maksimum 2 km.

Ekologi Kawasan Tepian Air

53

4) Bangunan (Dirjen. Cipta Karya, 2000)


-

Kepadatan bangunan di kawasan Tepian Air maksimum 25%.

Tinggi bangunan ditetapkan maksimum 15 m dihitung dari permukaan


tanah rata rata pada areal terbangun.

Orientasi bangunan harus menghadap ke Tepian Air dengan


mempertimbangkan posisi bangunan terhadap matahari dan arah
tiupan angin.

Bentuk dan desain bangunan disesuaikan dengan kondisi dan bentuk


tepian air serta variable lainnya.

Warna bangunan dibatasi pada warna warni alami.

Tampak bangunan didominasi oleh permainan bidang transparan


seperti tampilan element eras, jendela dan pintu.

Bangunan bangunan yang dapat dikembangkan pada areal


sempadan Tepian air berupa taman atau ruang rekreasi adalah
fasilitas areal bermain, tempat duduk dan sarana olahraga.

Bangunan di areal sempadan tepian air hanya berupa tempat ibadah,


bangunan penjaga pantai, bangunan fasilitas umum (MCK), bangunan
tanpa dinding dengan luas maksimum 50 m/unit.

Tidak dilakukan pemagaran pada areal terbangun, kecuali pemagaran


dengan tinggi maksimum 1 m dan menggunakan pagar transparan
atau dengan tanaman hidup.

B. Ekologi Kawasan Tepian Laut (Pesisir)

1. Ekosistem Pantai
Jika didefenisikan, maka ekosistem pantaitak lain adalah sebuah
kesatuan di alam dimana semua komponen baik itu abiotik maupun biotik
saling berinteraksi dan memungkinkan terjadinya aliran energi. Selain itu,

Ekologi Kawasan Tepian Air

54

interkasi tersebut juga membentuk sebuah struktur biotik juga siklus materi
antara abiotik dan biotik. Sebagai sebuah ekosistem, unsur-unsur atau
komponen yang tercakup di dalam ekosistem pantai antara lain:
1. Komponen abiotik mencakup suhu, cahaya, iklim, bebatuan
sedimen, air dan lain-lain.
2. Komponen produsen seperti misalnya alga lat, lamun, bakau dan
masih banyak lagi lainnya.
3. Komponen Konsumen misalnya kerang, ikan, udang dan masih
banyak lagi lainnya.
4. Komponen pengurai atau decomposer misalnya virus, jamur dan
bakteri.

Ciri-ciri Ekosistem Pantai

Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama ekosistem pantai yang
sehat dan baik, antara lain:
1.

Garis pantai permanen terjaga dengan baik, yakni wilayah

laut yang berbatasan dengan daratan.


2.

Terdapat kawasan ekosistem mangrove dengan jumlah ideal

30% dari jumlah total luas pesisir.


3.

Terdapat pola usaha budidaya jenis air payau dengan

berpegang pada wawasan lingkungan yang baik.


4.

Pencemaran pantai bisa dikendalikan secara baik dengan

metode alamiah atau dengan campur tangan manusia.


5.

Pantai berperan sebagai rumah yang baik bagi mahluk hidup

dan bisa menjadi sumber penghidupan bagi manusia di sekitarnya.

Ekologi Kawasan Tepian Air

55

Gambar 4 : Pantai Bira Kabupaten Bulukumba


Ekosistem pantai dikenal sebagai salah satu jenis ekosistem yang unik
sebab mencakup tiga unsur yakni tanah di daratan, air di lautan dan juga
udara. Pantai merupakan pertemuan antara ekosistem daratan dan juga
ekosistem akuatik. Ada beberapa satuan ekosistem yang tercakup di
dalam ekosistem pantai antara lain:
1.

Ekosistem Terumbu Karang atau Corall Reef.

2.

Ekosistem Hutan Bakau atau Mangrove.

3.

Ekosistem Padang lamun atau Sea Grass.

4.

Ekosistem Muara Suangai atau Estuari.

5.

Ekosistem Pantai Berpasir atau Sandu Beach.

6.

Ekosistem Pantai berbatu atau Rocky Beach.

Yang menjadi ekosistem paling utama di wilayan pesisir pantai adalah


ekosistem terumbu karang ,mangrove dan juga padang lamun.
Ekosistem pantai sangat dipengaruhi oleh siklus harian arus yang pasang
dan surut. Dengan demikina, flora dan fauna yang bisa bertahan di pantai
adalah mereka yang bisa beradaptasi dengan cara melekat ke substrat
keras agar tidak terhempas gelombang. Wilayah paling atas dari

Ekologi Kawasan Tepian Air

56

ekosistem pantai adalah titik yang hanya terkena air pada saat pasang
naik tinggi. Area ini didiami beberapa jenis moluska, ganggang, kerang,
dan beberapa jenis burung pantai. Sementara itu, titik tengah pantai
terendam jika pasang tinggi juga pasang rendah. Tempat ini didiami
beberapa organisme semisal anemone laut, remis, siput, ganggang,
porifera dan masih banyak lagi lainnya. Sementara itu wilayah terdalam
dari ekosistem pantai dihuni oleh beragam jenis mahluk invertebrate juga
ikan dan berbagai jenis rumput laut.

2. Tipologi Pengembangan Kawasan Pesisir Pantai


Penanganan kawasan pantai dilakukan dengan pertimbangan
tipologi pantai. Pembagian tipe pantai kawasan perncanaan didasarkan
pada klasifikasi tipologi pantai yang disusun oleh PSDAL UNHAS dengan
Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Pedesaan Departemen Pekerjaan
Umum, Tahun 1997, secara garis besar dapat diklasifikasikan ke dalam 5
(lima) jenis, yaitu:
a. Tipe A, pantai berupa teluk dan tanjung yang panjang dan
beberapa pulau terletak di mulut teluk, kemiringan dasar yang
curam ( > 0,1) dan terbentuk dari kerikil, daratan pantai yang
berbukit, tinggi ombak datang dibawah 1 meter, kecepatan arus di
bawah 1 meter/detik tipe pasang surut adalahh setengah harian,
periode ulang kejadian badai diatas satu tahun. Pantai tipe A
sangat potensial dikembangkan menjadi kawasan perdagangan,
jasa pelayanan, pergudangan, pelabuhan, industri, permukiman
dan resort/pariwisata.
b. Tipe B, pantai berupa teluk tanpa pulau terletak di mulut teluk,
kemiringan dasar yang landai (0,01 < s 0,1) dan terbentuk dari
pasir, memiliki lingkungan muara, tinggi ombak dating antara 1-2
meter, kecepatan arus antara 0,5-1 meter/detik, tipe pasut adalah
campuran dan periode ulang kejadian badai diatas 15 tahun. Pantai
tipe

cukup

Ekologi Kawasan Tepian Air

potensial

dikembangkan

menjadi

kawasan

57

perdagangan dan prasarana penunjang pantai tipe A, namun perlu


dilakukan rekayasa khusus untuk meningkatkan aksesibilitas
terhadap pusat kota misalnya pembuatan dermaga, reklamasi
pantai dan sebagainya.
c. Tipe C, pantai berupa laguna, kemiringan dasar yang datar (s <
0,01) dan terbentuk dari lumpur, memiliki lingkungan rawa pantai,
tinggi ombak dating di bawah 1 meter, kecepatan arus dibawah 0,5
m/detik, tipe pasang surut adalah setengah harian, periode ulang
kejadian badai diatas 15 tahun. Pantai tipe C tidak potensial untuk
kegiatan

binaan

penduduk,

perlu

rekayasa

khusus melalui

penguatan dan penilaian khusus untuk meningkatkan aksesibilitas


terhadap pusat kawasan kota misalnya pembuatan dermaga,
reklamasi pantai dan sabagainya.
d. Tipe D, pantai terbuka, kemiringan dasar yang landai (0,01<s<1)
dan terbentuk dari pasir, memiliki lingkungan muara, tinggi ombak
dating diantara 1 < H 1/3 < 2 meter, kecepatan arus diantara 0,5
dan 1 m/detik, tipe pasang surut campuran, periode, kejadian ulang
badai 5 sampai 15 tahun. Pantai tipe D pada umumnya
dimanfaatkan

untuk

budidaya

air

payau,

hutan

rawa,

pengembangan ekoturisme, peningkatan penjelajahan hutan pantai


dan melihat flora dan fauna langka serta permukiman.
e. Tipe E, pantai terbuka, kemiringan dasar yang curam (s < 0,1)
terbentuk dari kerikil, memiliki lingkungan muara, tinggi ombak
dating diatas 2 meter, kecepatan arus diantara 1 m/detik, tipe
pasang surut harian, periode kejadian ulang badai di antara 5
sampai 15 tahun. Tipe E, umumnya dimanfaatkan untuk pelabuhan
dengan rekayasa break water yang lebih panjang untuk kolam
pelabuhan yang lebih luas, pengembangan ekoturisme, memancing
dan permukiman.

Ekologi Kawasan Tepian Air

58

3. Potensi Wilayah Pesisir


Dalam suatu wilayah pesisir terdapat satu atau lebih dari sistem
lingkungan atau ekosistem yang dapat bersifat alamiah maupun buatan.
Ekosistem alami yang terdapat di kawasan pesisir antara lain terumbu
karang (coastal reefs), hutan bakau (mangrove), padang lamun (sea
grass), pantai berpasir (sandy beach). Ekosistem buatan yang antara lain
berupa tambak, sawah pasang surut, kawasan pariwisata, industri,
agroindustri dan kawasan permukiman.
Potensi pembangunan yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan secara
garis beras terdiri dari 3 (tiga) kelompok yaitu sumberdaya yang dapat
diperbaharui (renewable resources), sumberdaya yang tidak dapat
diperbaharui

(non-renewable

resources)

dan

jasa-jasa

lingkungan

(environmental services).
Secara garis besar potensi-potensi pembangunan tersebut dijelaskan
sebagai berikut:
a. Sumberdaya Dapat Diperbaharui
1) Hutan Mangrove
Hutan

Mangrove

merupakan

ekosistem

utama

pendukung

kehidupan yang penting di wilayah pesisir dan lautan. Selain mempunyai


fungsi ekologi sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat
pemijahan dan asuhan berbagai biota, penahan abrasi, amukan angin
topan dan tsunami, penyerap limbah dan pencegah intrusi air laut dan lain
sebagainya. Hutan mangrove juga mempunyai fungsi penting serta
penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat-obatan dan
sebagainya. Hampir 75% tumbuhan mangrove hidup diantara 35 derajat
lintang utara 35 derajar lintang selatan dan terbanyak terdapat di
kawasan Asian Tenggara.
2) Terumbu Karang

Ekologi Kawasan Tepian Air

59

Ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas organic dan


keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dibandingkan ekosistem
lainnya. Disamping mempunyai fisik ekologi sebagai penyedia nutrient
bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan, terumbu karang
juga menghasilkan berbagai produkyang mempunyai nilai ekonomis
penting seperti berbagai jenis ikan karang, alga, taripang dan kerang
mutiara. Beberapa tempat di Indonesia, karang batu (hard coral)
dipergunakan untuk berbagai kepentingan seperti konstruksi jalan dan
bagunan, bahan baku perhiasan dan industri pembuatan kapur. Dari
estetika terumbu karang menampilkan pemandangan indah yang tidak
dimiliki oleh ekosistem lainnya. Potensi lestari sumberdaya ikan dan
terumbu karang di perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 80.802
ton/km/tahun (Dirjen Perikanan, 1991) dengan luas total terumbu karang
50.000 km yang kuat menahan gaya gelombang laut.
3) Padang Lamun dan Rumput Laut
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan yang sudah sepenuhnya
menyesuaikan diri untuk hidup dibawah permukaan air laut. Lamun hidup
diperairan dangkal dan berpasir atau sering juga dijumpai pada ekosistem
terumbu karang. Lamun membentuk padang yang luas dan lebat di dasar
laut yang terjangkau cahaya matahari dengan tingkat penyinaran yang
memadai untuk pertumbuhan. Koessoebiono (1995) mengemukakan
bahwa padang lamun di lingkungan pesisir mempunyai fungsi utama
antara lain :
-

Menstabilkan dasar laut dengan sistem perakaran yang silang;

Merupakan habibat berbagai macam ikan kecil dan udang;

Tempat hidup bagi ganggang dan zat renik lainnya;

Padang lamun yang segar merupakan bahan makanan bagi


ikan duyung, penyu dan babi laut serta di Kepulauan Seribu
juga merupakan bahan makanan bagi penduduk setempat; dan

Sebagai perangkap sedimentasi

Ekologi Kawasan Tepian Air

60

4) Sumberdaya Perikanan Laut


Potensi sumber daya perikanan laut terdiri atas sumberdaya
perikanan

pelagis

besar,

sumberdaya

perikanan

pelagis

kecil,

sumberdaya perikanan demersal, udan, ikan karang dan cumi-cumi.


Potensi tersebut secara nasional 6,7 juta ton/tahun merupakan potensi
lestari dengan tingkat pemanfaatan mencapai 48% (Dirjen Perikanan,
1995).
b. Sumberdaya Tidak Dapat Dipengaruhi
Wilayah pesisir dan lautan memiliki juga sumberdaya tidak dapat
diperbaharui (non-renewable resource) yang meliputi seluruh mineral dan
geologi. Mineral terdiri dari tiga kelas yaitu kelas A yaitu mineral strategis
seperti minyak, gas dan batubara; kelas B yaitu mineral vital yaitu seperti
emas, timah, nike, bauksit, biji besi dan croumit; kelas C yang merupakan
mineral industri seperti bahan bangunan dan galian granit, kapur, tanah
liat, kaolin dan pasir
4. Kerusakan Lingkungan Wilayah Pesisir
Lingkungan (hidup) didefinisikan sebagai kesatuan ruang dengan
semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan
perilakunya,

yang

memengaruhi

kelangsungan

kehidupan

dan

kesejahteraan manusia serta makhluk lainnya ( UU 23/97, Pasal 1 Ayat 1,


dalam Sumadjito, 2007 ). Lingkungan dapat diartikan sebagai suatu
ekosistem yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang saling
berinteraksi dan membentuk suatu kesatuan yang utuh (Dahuri dkk, 2004;
Asdak, 2004 ). Berdasarkan defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
lingkungan meliputi ekosistem dan sumber daya yang ada disuatu
wilayah.

Berdasarkan pengertian diatas, maka lingkungan wilayah pesisir sebagai


kesatuan segala sumber daya (abiotik) dan makhluk (biotic) yang terdapat
diwilayah pesisir. Ekosistem pesisir dapat dibagi menjadi dua, yaitu

Ekologi Kawasan Tepian Air

61

ekosistem alamiah dan buatan. Ekosistem alamiah wilayah pesisir antara


lain mangrove, terumbu karang, estuary, padang lamun, dan pantai.
Sedangkan ekosistem buatan antara lain berupa tambak, kawasan
permukiman, dan kawasan industri ( Dahuri dkk, 2004 ).

Kerusakan

lingkungan

lingkungan

wilayah

wilayah

pesisir

pesisir

yang

adalah

berpengaruh

perubahan
buruk

kondisi

terhadapa

keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.


Kerusakan, pada hakikatnya adalah suatu perubahan bbanik yang
disebabkan oleh faktor luar maupun dalam. Perubahan salinitas perairan
pesisir akibat aliran air tawar yang berlebih dari sungai sehingga melewati
ambang batas toleransi akan mengancam keberlangsungan hidup
ekosistem tersebut. Dengan kata lain telah terjadi kerusakan ekosistem
atau lingkungan.
Jenis jenis permasalahan dan kerusakan lingkungan diwilayah pesisir
antara lain :
a. Sedimentasi
Sedimentasi adalah masalah pengendapan sedimen, baik dari
sungai maupun dari laut lepas, dan merupakan suatu proses alamiah
yang pasti terjadi diwilayah pesisir. Proses sedimentasi berfunsi konstruktif
terhadap wilayah pesisir, yakni membentuk daratan pantai dan dibutuhkan
oleh ekosistem pesisir sebagai sumber zat hara. Namun, jika kadarnya
berlebihan, sedimentasi berdampak bencana dan kerusakan bagi wilayah
pesisir, seperti pendangkalan wilayah pesisir.

Sedimen yang masuk kewilayah pesisir berpotensi untuk mendangkalkan


perairan pesisir, membentuk delta dan tanah - tanah timbul. Terbentuknya
delta dan tanah timbul dipengaruhi oleh tiga faktor ( De Blij dan Muller,
1996 ) yaitu :

Kuantitas dan jenis material sedimen yang dibawa aliran sungai.

Konfigurasi dasar laut yang dekat dengan mulut sungai

Ekologi Kawasan Tepian Air

62

Kekuatan arus dan gelombang laut.

b. Banjir
Banjir diwilayah pesisir dapat disebabkan oleh pendangkalan
sungai, pasang-surut laut, atau kombinasi kedua-duanya. Bila curah hujan
tinggi, sungai yang dangkal tidak mampu menampung air hujan, sehingga
terjadilah banjir. Kenaikan muka air laut akibat pemanasan global juga
berkontribusi dalam menyebabkan banjir diwilayah pesisir.

c. Pencemaran Perairan Pesisir


Pencemaran perairan pantai berakibat buruk bagi wilayah pesisir
jika air laut tidak mampu lagi untuk membersihkan dirinya dari bahanbahan pencemar yang masuk keperairan pantai. Bahan-bahan pencemar
air laut dapat berasal dari darat dan laut. Bahan pencemar dari darat
seperti limbah rumah tangga, industri, dan pertanian. Bahan pencemar
dari laut seperti tumpahan minyak dari kapal kapal. Pencemaran
perairan pesisir dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem dan biotabiota perairan pesisir.

d. Degradasi Fisik Habitat Pesisir


Wilayah pesisir memiliki keanekaragaman ekosistem dan biotabiota yang tinggi. Kerusakan ekosistem wilayah pesisir dapat terjadi
karena pencemaran perairan pesisir, konversi lahan, dan eksploitasi yang
berlebihan oleh manusia, seperti penambangan terumbu karang, dan
penebangan hutan mangrove. Berikut ini adalah beberapa contoh
kerusakan ekosistem wilayah pesisir :

1) Kerusakan hutan mangrove


Kerusakan hutan mangrove mengakibatkan penurunan kualitas
sumber daya ekosistem mangrove. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan
luas hutan mangrove di Indonesia. Penurunan luas hutan mangrove

Ekologi Kawasan Tepian Air

63

disebabkan oleh pemanfaatan yang berlebihan, pencemaran limbah,


sedimentasi, dan perubahan pasokan air tawar ( Dahuri dkk, 2004).

2) Kerusakan ekosistem terumbu karang


Ekosistem terumbu karang, seperti halnya mangrove, juga
berfungsi sebagai habitat biota-biota laut dan penahanan terjangan ombak
dan gelombang laut. Stabilitas ekosistem terumbu karang dipengaruhi
oleh intensitas cahaya (kecerahan), temperature perairan, dan salinitas.
Adanya pencemaran perairan, sedimentasi, dan kelebihan air tawar akibat
banjir menjadi penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang.

3) Kerusakan ekosistem padang lamun


Ekosistem padang lamun juga berperan sebagai habitat berbagai
jenis biota laut. Lamun sangat membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi
untuk kelangsungan hidupnya, jadi kondisi air yang keruh dapat merusak
ekosistem padang lamun. Salinitas, temperature dan kualitas air laut juga
merupakan factor-faktor yang mempengaruhi kelestarian ekosistem ini.
4) Kerusakan ekosistem rumput laut
Rumput laut merupakan makanan utama bagi beragam spesies
organism laut, seperti bulu babi (Dahuri dkk, 2004). Selain itu, rumput laut
bermanfaat sebagai bahan baku industri kosmetika, obat-obatan dan
makanan. Seperti halnya padang lamun, aktivitas kehidupan rumput laut
akan terganggu jika perairannta keruh akibat kandungan sedimen yang
berlebihan.
5) Kerusakan ekosistem estuary
Estuari merupakan ekosistem tempat air laut dan air tawar bertemu
dan bercampur. Dengan demikian, kondisi lingkungan estuari, khususnya
salinitas, sangat fluktuatif, sehingga hanya beberapa spesies organism
saja yang mampu bertahan terhadap perubahan tersebut. Inilah penyebab
miskinnya flora dan fauna yang hidup di ekosistem ini (Dahuri, dkk 2004).

Ekologi Kawasan Tepian Air

64

Dengan kata lain, estuari merupakan ekosistem yang sangt rentan


terhadap perubahan lingkungan dan mudah rusak.

(Gambar 5 : Ekosistem dan biota pesisir: (a) padang lamun, (b)


mangrove, (c) rumput laut, (d) terumbu karang, (e) populasi
ikan)

e. Abrasi
Abrasi pantai adalah proses mundurnya pantai dari kedudukan
semula akibat pengikisan oleh kekuatan arus dan gelombang laut.
Kerusakan ekosistem yang berperan sebagai penahan abrasi, seperti
mangrove dan terumbu karang, menyebabkan potensi kerusakan akibat
abrasi semakin besar. Dampak buruk abrasi dapat mengancam
keberlangsungan ekosistem buatan, seperti permukiman, industri dan
budidaya, terlebih yang berada di dekat atau di pinggir pantai.
f. Intrusi air asin
Intrusi air asin dari laut adalah masuknya air laut ke darat. Air asin
dapat masuk melalui saluran sungai atau merembes melalui tanah. Intrusi
air laut melalui sungai disebabkan debit air sungai yang kecil, sedangkan
intrusi melalui tanah disebabkan tipisnya cadangan air tanah kawasan

Ekologi Kawasan Tepian Air

65

pesisir dan hilir akibat pemakaian yang berlebihan. Akibatnya, manusia


akan kesulitan dalam mendapatkan sumber air bersih untuk kehidupan
sehari- hari mereka.

Gambar 6 : proses intrusi air laut ke sumur-sumur penduduk

g. Eutrofikasi
Eutrofikasi adalah pengkayaan perairan dengan nutrien, khususnya
nitrogen dan fosfat, yang menyebabkan meningginya populasi alga dan
tanaman pada perairan tersebut (blooming alga). Peningkatan jumlah
tersebut

menyebabkan

konsumsi

oksigen

meningkat,

sehingga

kandungan oksigen pada kolom air, khususnya dasar perairan berkurang.


Kandungan oksigen yang sedikit menyebabkan terjadinya aktivitas
anaerob yang menghasilkan racun berupa metana dan sulfat. Akibatnya,
ikan-ikan dan organism komunitas dasar perairan, seperti terumbu karang
mengalami kematian. Selain itu, berkembangnya jenis alga beracun
seperti dinoflagellat, menyebabkan terjadinya fenomena red tides yang
dapat mematikan ikan-ikan.

Ekologi Kawasan Tepian Air

66

Gambar 7 : Proses terjadinya eutrofikasi


C. Ekologi Kawasan Tepian Sungai
Ekosistem sungai adalah kawasan sepanjang kanan kiri sungai,
termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai Kriteria
sempadan sungai : Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai
besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar
permukiman Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan
sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu 10
sampai 15 meter
1. Pengertian Sungai
Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir
secara terus menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Sungai juga
ada yang berada di bawah tanah yang disebut underground river.
Misalnya sungai bawah tanah di goa hang soon dong di Vietnam, sungai
bawah tanah di Yucatan Meksiko, sungai bawah tanah di goa pindul
Filipina.
Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir
meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan
melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di
daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti

Ekologi Kawasan Tepian Air

67

danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang
mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk
membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada
saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung
sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.
Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam
sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air,
limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga
berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen
dan polutan.
Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian,
bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air
limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai.
Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah aliran sungai (DAS).
2 Jenis Sungai
Sungai dapat kita bagi menjadi beberapa jenis berdasarkan
pembentukannya, yaitu :
a. Sungai Hujan
Sungai hujan adalah sungai yang sumber airnya berasal dari air
hujan yang berkumpul membuat suatu aliran besar. Sungai-sungai yang
ada di Indonesia umumnya adalah termasuk ke dalam jenis sungai hujan.

Gambar 8 : Sungai Musi yang merupakan sungai hujan


Ekologi Kawasan Tepian Air

68

b. Sungai Gletser
Sungai gletser adalah sungai yang sumber airnya berasal dari salju
yang mencair berkumpul menjadi kumpulan air besar yang mengalir.
Sungai membramo / memberamo di daerah papua / irian jaya adalah
salah satu contoh dari sungai gletser yang ada di Indonesia.

Gambar 9 : Sungai Membramo


c. Sungai Campuran
Sungai campuran adalah sungai di mana air sungai itu adalah
pencampuran antara air hujan dengan air salju yang mencair. Contoh
sungai campuran adalah sungai digul di pulau papua / irian jaya.

Gambar 10 : Sungai Digul

Ekologi Kawasan Tepian Air

69

3. Manfaat Sungai
Berikut ini adalah manfaat perairan darat bagi manusia yang ada di
sekitarnya :
a. Sumber energi pembangkit listrik
b. Sebagai sarana transportasi
c. Tempat rekreasi atau hobi
d. Tempat budidaya ikan, udang, kepiting, All
e. Sumber air minum makhluk hidup
f. Bahan baku industri
g. Sumber air pertanian, peternakan dan perikanan
h. Sebagai tempat olahraga
i.

Untuk mandi dan cuci

j.

Tempat pembuangan limbah ramah lingkungan

k. Tempat riset penelitian dan eksplorasi


l.

Bahan balajar siswa sekolah dan mahasiswa

4. Manajemen Sungai
Sungai

seringkali

dikendalikan

atau

dikontrol

supaya

lebih

bermanfaat atau mengurangi dampak negatifnya terhadap kegiatan


manusia.
a. Bendung dan Bendungan dibangun untuk mengontrol aliran,
menyimpan air atau menghasilkan energi.
b. Tanggul dibuat untuk mencegah sungai mengalir melampaui batas
dataran banjirnya.
c. Kanal-kanal dibuat untuk menghubungkan sungai-sungai untuk
mentransfer air maupun navigasi
d. Badan sungai dapat dimodifikasi untuk meningkatkan navigasi atau
diluruskan untuk meningkatkan rerata aliran.

Ekologi Kawasan Tepian Air

70

Manajemen sungai merupakan aktivitas yang berkelanjutan karena sungai


cenderung untuk mengulangi kembali modifikasi buatan manusia. Saluran
yang dikeruk akan kembali mendangkal, mekanisme pintu air akan
memburuk seiring waktu berjalan, tanggul-tanggul dan bendungan sangat
mungkin mengalami rembesan atau kegagalan yang dahsyat akibatnya.
Keuntungan yang dicari dalam manajemen sungai seringkali "impas" bila
dibandingkan dengan biaya-biaya sosial ekonomis yang dikeluarkan
dalam mitigasi efek buruk dari manajemen yang bersangkutan. Sebagai
contoh, di beberapa bagian negara berkembang, sungai telah dikungkung
dalam kanal-kanal sehingga dataran banjir yang datar dapat bebas dan
dikembangkan. Banjir dapat menggenangi pola pembangunan tersebut
sehingga dibutuhkan biaya tinggi dan seringkali makan korban jiwa.

Banyak sungai kini semakin dikembangkan sebagai wahana konservasi


habitat, karena sungai termasuk penting untuk berbagai tanaman air, ikanikan yang bermigrasi, menetap, dan budidaya tambak, burung-burung,
serta beberapa jenis mamalia.

Pada

saat

ini

terjadi

kecenderungan

bahwa

aspek

lingkungan

dikesampingkan, karena menganggap aspek ekonomi lebih penting. Hal


ini tak lepas dari kebijakan otonomi daerah yang diberikan kewenangan
penuh masing-masing daerah untuk mengatur sendiri wilayahnya, dimana
masing-masing ada kecenderungan untuk meningkatkan pendapatan
daearah. Akibatnya, sumberdaya alam dimanfaatkan secara besarbesaran tanpa memperhatikan pelestariannya. Dalam hal ini termasuk
sungai

sebagai

sumberdaya

alam

yang

mendukung

kehidupan

masyarakat. Peranan sungai menjadi sangat penting khususnya dalam


upaya mempertahankan sumberdaya air yang berkelanjutan.
Baik tidaknya kualitas sungai dapat disebabkan oleh faktor alam maupun
faktor

manusia.

Faktor

alam,

misalnya

erupsi

gunung

berapi

menyebabkan banyak lumpur dan pasir yang terbawa aliran sungai.

Ekologi Kawasan Tepian Air

71

Selebihnya adalah faktor dari manusia. Sungai yang lestari dan masih
baik kualitasnya akan banyak bermanfaat bagi manusia, sebaliknya
sungai yang buruk kualitasnya akan menyebabkan bencana bagi
manusia, seperti penyakit, banjir dan longsor serta mengurangi estetika
sungai dan daerah dia berada. Data menunjukkan bahwa lebih kurang
1.278 sungai di Indonesia terdapat puluhan sungai yang sudah
menunjukkan pertanda kurang sehat untuk air minum karena sampah
permukiman dan industry. Bahkan pada beberapa kota besar, sungainya
sudah tidak layak untuk irigasi, mengingat air yang tercemar mengandung
bakteri, virus dan bahan-bahan kimiawi yang berbahaya. Kondisi yang
demikian itu harus segera diatasi dengan mencarikan solusi terbaik.
Karena bila tidak, selain kemanfaatan sungai menjadi tidak optimal dan
merusak habitat hewan dan tumbuhan, kelestarian sungai pun akan
terancam. Bahkan mungkin akan menjadi sungai mati yang menjadi
sumber penyebaran penyakit bagi penduduk.
Pelestarian

sungai

menjadi

hal

yang

mutlak

dilakukan

untuk

menghindarkan kualitas sungai yang semakin memburuk. Untuk itu,


dibutuhkan suatu pengelolaan sungai dalam satu manajemen, dari hulu
sampai muara sungai. Dalam kenyataannya, satu sungai melalui
beberapa wilayah administratif yang berbeda sehingga menimbulkan
kecenderungan pengelolaan yang tidak sama. Untuk mengantisipasi
perbedaan pengelolaan sungai, maka manajemen dapat diambil alih oleh
Provinsi agar terhindar dari perbedaan kepentingan. Dalam program
pengelolaan sungai, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga harus
melibatkan masyarakat. Masyarakat bukan sebagai obyek saja, namun
juga sebagai subyek dalam melaksanakan program-progran Pemerintah.
Untuk menyiapkan masyarakat sebagai subyek perlu dibekali dengan
pengetahuan dan informasi mengenai sungai melalui pemberdayaan
masyarakat. Dalam pemberdayaan masyarakat melalui beberapa tahap,
yaitu :

Ekologi Kawasan Tepian Air

72

1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku


sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan
kesadaran tinggi.
2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan,
kecakapan, ketrampilan agar terbuka wawasan dan memberikan
ketrampilan dasar sehingga dapat mengambil peran di dalam
pembangunan.
3. Tahap

peningkatan

kemampuan

intelektual,

kecakapan,

ketrampilan sehingga terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif


untuk mengantarkan kemandirian.

Pada tahap awal, masyarakat di sekitar sungai diberikan penyadaran akan


arti pentingnya sungai bagi kehidupan mereka sendiri. Langkah ini dapat
ditempuh melalui pertemuan penyuluhan, kunjungan pembinaan atau
komunikasi informasi dan edukasi massa melalui pemutaran film atau
media seni lainnya, seperti kethoprak, dagelan, dan lain-lain. Masyarakat
diberikan pemahaman bahwa sungai merupakan bagian dari sumberdaya
alam yang mereka miliki dan banyak memberikan manfaat sehingga
sudah seharusnya mereka jaga kelestariannya. Dalam kehidupan seharihari mereka diajarkan untuk tidak membuang sampah dan kotoran ke
sungai, juga buang air kecil dan buang air besar. Disamping itu,
masyarakat

ditimbulkan

kepeduliannya

terhadap

sungai,

dengan

melakukan gerakan bersih sungai, memasang rambu-rambu peringatan


agar orang lain tidak membuang sampah dan kotoran ke sungai serta
memperingatkannya jika ada pelanggaran. Selain itu, masyarakat diajak
untuk melakukan penghijauan di sekitar sungai dengan tanaman yang
bisa bermanfaat bagi mereka atau pepohonan yang biji-bijiannya dapat
dimakan burung. Untuk para pelaku usaha, upaya penyadaran dilakukan
dengan cara dialog agar tidak membuang limbahnya langsung ke sungai,
tetapi harus melalui tahap pengolahan terlebih dahulu sehingga lebih
ramah lingkungan. Penyadaran terhadap masyarakat ada kalanya
membutuhkan sanksi, dalam hal ini Pemerintah dapat membuat aturan-

Ekologi Kawasan Tepian Air

73

aturan pengelolaan sungai berikut sanksinya bila ada pelanggaran.


Pengawasan terhadap penegakan aturan juga perlu dilaksanakan untuk
menjamin ketertiban di wilayah sungai.
D. Ekologi Kawasan Tepian Danau
Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya
mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.

Gambar 11 :Berbagai Organisme Air Tawar Berdasarkan Cara Hidupnya


Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya
matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi
fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya
matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan
temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah
yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan
kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal tersebut danau dibagi
menjadi 4 daerah sebagai berikut.

Ekologi Kawasan Tepian Air

74

a) Daerah litoral
Daerah

ini

merupakan

daerah

dangkal.

Cahaya

matahari

menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan


tepi.Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya
ada yang mencuat ke atas permukaan air.
Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang
yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga,
krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular,
itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di
danau.
b. Daerah limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan
masih

dapat

berbagai

ditembus

fitoplankton,

sinar

matahari.

termasuk

Daerah

ganggang

ini

dan

dihuni

oleh

sianobakteri.

Ganggang berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi


selama musim panas dan musim semi.
Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang- udangan
kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan- ikan kecil.
Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian ikan besar
dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.
c. Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam, yaitu daerah afotik
danau.
respirasi

Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen untuk


seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari

daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.


d. Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya
bentos dan sisa-sisa organisme mati.
Ekologi Kawasan Tepian Air

75

Gambar12 :. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar


Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organiknya, yaitu sebagai berikut :
a. Danau Oligotropik
Oligotropik

merupakan

sebutan

untuk

danau

yang

dalam

dan kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak


produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme,
dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.
b. Danau Eutropik
Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya
akan
kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya
adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen
terdapat di daerah profundal.
Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya
materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat

Ekologi Kawasan Tepian Air

76

dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan


pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan
buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan
populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang
berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.
Pengkayaan danau seperti ini disebut "eutrofikasi". Eutrofikasi membuat
air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.
Kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat
penting

untuk

Perlindungan

mempertahankan
terhadap

kawasan

kelestarian

fungsi

sungai/waduk

waduk/danau.

dilakukan

untuk

melindungi danau/waduk. Kriteria : sepanjang tepian danau/waduk antara


50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Kawasan Rawa Berhutan Bakau Kawasan pesisir laut yang merupakan


habitat alami hutan bakau(mangrove) yang berfungsi memberikan
perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Kriteria : Minimal
130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah
tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat.

Lahan genangan air secara alamiah yang terjadi secara terus menerus
atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai
ciri-ciri khusus termasuk dalam kawasan pengelolaan kawasan lindung
Kawasan hutan lindung Kawasan suaka alam darat Kawasan bergambut
Kawasan mangrove Kawasan resapan air Taman Nasional Sempadan
pantai Taman hutan raya Sempadan sungai Taman wisata alam Kawasan
sekitar waduk/danau Kawasan cagar budaya dan Kawasan sekitar mata
air Ilmu pengetahuan Kawasan suaka alam laut dan perairan Kawasan
rawan bencana.

Ekologi Kawasan Tepian Air

77

Materi Pertemuan Minggu VI - VIII


A. PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DALAM KONTEKS
PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR TERPADU

Pembangunan

adalah

upaya

menciptakan

perubahan

dan

pertumbuhan yang bersifat multidimensional. Seiring dengan perjalanan


waktu,

banyak

perubahan

dalam

manajemen

pemerintahan

dan

pembangunan. Pembangunan yahng dahulu tersentralisasikan kini mulai


didesentralisasikan. Kekuasaan yang dahulu sering memusat pada satu
titik kekuasaan saja sekarang telah melebar ke berbagai titik kekuasaan.
Perilaku manajemen pemerintahan yang dahulu bersifat sentralistis,
sekarang berubah lebih banyak melakukan upaya yang bersifat
desentralisasi. Demikian pula pendekatan birokrasi pemerintah dalam
menangani masalah- masalah pemerintahan terjadi kecenderungan
perubahan dari pendekatan-pendekatan paradigmatik ke nir-paradigmatik
atau

beyond

the

bureaucratic

paradigm

dan

timbulnya

proses

pemberdayaan (empowerment). Dengan demikian kekuasaan itu berada


diberbagai tempat, atau jikalau terdapat kekuasaan berada di salah satu
tempat maka kekuasaan itu diimbangi dengan check and balance oleh
sentra-sentra kekuasaan di tempat lain.

Pengalaman pembangunan bangsa-bangsa di dunia dan bangsa kita


sendiri waktu lalu menunjukkan, bahwa paradigma (pola) pembangunan
yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan aspek
pemerataan dan kesesuaian sosial-budaya serta kelestarian lingkungan
secara proporsional, pada akhirnya akan bermuara pada kegagalan.

Bersamaan dengan berlangsungnya proses pembangunan, di dalam tata


pemerintahan indonesia sedang terjadi suatu perkembangan yang
monumental, yaitu meningkatnya peranan dan posisi daerah, dari provinsi
yang satu ke provinsi yang lain atau dari kabupaten/kota yang Satu ke
kabupaten/kota yang lain. Sejak 1 januari 2001 secara resmi diterapkan
Ekologi Kawasan Tepian Air

78

UU No 22/1999 da UUU No 25/1999 yang mengatur tentang Otonomi


Daerah, dan sejak itu indonesia memasuki era otonomi daerah. Proses
desentralisasi ini sejalan dan merupakan

bagian dari paket proses

demokratisasi.

1. Konsepsi Pembangunan Daerah di Era Otonomi

Pemerintah telah mengundangkan Undang-Undang Nomor 22


tahun 1999 tentang pemerintah daerah yang pada prinsipnya memberikan
otonomi kewenangan yang sangat luas pada pemerintah daerah provinsi
dan kabupaten/kota dalam mengurus dan mengelola berbagai sektor
pembangunan yang sebelumnya banyak dikerjakan oleh pemerintah
pusat.

Ketika otonomi daerah digulirkan dengan titik berat pada daerah


kabupaten/kota, maka yang banyak disorot adalah soal penyerahan
suber-sumber keuangan atau perimbangan keuangan pusat dan daerah.
Persoalan pengelolaan sumber-sumber keuangan atau pembagian
rezeki antara pusat dan pemerintah daerah dijadikanSebagai leading
factor dan sekaligus leading sector yang menentukan keberadaan
otonomi daerah dan keberhasilan implementasinya. Sepertinya tanpa
diberikan hak kepada daerah untuk mengelola uang dan sumber
sumbernya, seakan akan tidak ada otonomi.

Dalam konteks Pemerintahan Daerah Propinsi, maka otonomi bukan


sekedar persoalan penambahan jumlah urusan atau persoalan pembagian
rezeki antara provinsi (dalam hal ini Pemda Provinsi) dan daerah (Pemda
Kabupaten/kota). Tetapi pertama, dengan adanya otonomi berarti
pemerintah daerah (kabupaten/kota) memiliki otoritas (authority) yang
secara esensial merupakan hak, yaitu hak untuk memutuskan, hak
memerintah, dan hak untuk melakukan sesuatu untuk kepentingan daerah
dan masyarakat yang ada di dalamnya, tanpa banyak tergantung kepada

Ekologi Kawasan Tepian Air

79

provinsi.Kedua, otonomi daerah berarti bahwa pemerintah daerah


(kabupaten/kota) dan lembaga lembaga daerah serta masyarakatnya
secara

nyata

memiliki

full

authority,

full

responsibility,

dan

full

accountability. Ketiga, dengan otonomi akan mengurangi problema


birokrasi klasik dan pemerintah sentralistatik yang menekankan pada
regulasi

dan

komando

otoritarian

dimana

pemerintah

daerah

(kabupaten/kota) hanya sebagai pelaksana atau perpanjangan tangan


pemerintah pusat dan provinsi untuk menyelenggarakan pembangunan di
daerah. Artinya, melaksanakan otonomi dengan sendirinya dapat
meningkatkan

keefektifan

organisasi

birokrasi

pemerintah

daerah

(kabupaten/kota) untuk pembangunan daerah.

Jadi otonomi harus diimplementasikan tidak lagi sekedar agar daerah


melakukan sesuatu yang diinginkan oleh pusat, melainkan agar daerah
menjadi mampu melakukan sesuatu atau inisiatif yang berasal dari
daerah, oleh daerah, dan untuk daerah. Sebab itu, otonomi daerah tidak
lagi sekedar delegasi otoritas oleh pemerintah pusat.

2. Implikasi Otonomi Daerah dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir


dan Laut

a. Pewilayahan Kawasan Pesisir dan Laut Menurut UU No. 22 Tahun


1999

Pemerintah Indonesia pada tanggal 7 Mei 1999 menetapkan UU


No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan adanya UU ini
maka UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok Pokok Pemerintahan di
Daerah dan UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa tidak
berlaku lagi. Adanya UU No. 22 Tahun 1999 ini membawa implikasi baru
bagi pembangunan pesisir dan laut, khususnya perikanan pantai yang
biasanya dilakukan oleh nelayan skala kecil.

Ekologi Kawasan Tepian Air

80

Bila sebelumnya seluruh wilayah perairan laut Indonesia berada pada


wewenang pemerintah pusat, maka dengan UU No. 22 Tahun 1999,
pemerintah daerah (provinsi dan kota/kabupaten) memiliki wewenang atas
sebagian wilayah perarian laut. Disebutkan dalam pasal 3 UU No. 22
Tahun 1999 ini, wilayah daerah provinsi terdiri dari wilayah darat dan
wilayah laut sejauh 12 mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut
lepas dan ke arah perairan kepulauan.

Di dalam provinsi, diatur bahwa setiap kabupaten yang berbatasan


dengan laut memiliki wewenang atas perairan laut sejauh sepertiga dari
batas laut daerah provinsi atau sejauh 4 mil laut (pasal 10 ayat 3).
Kewenangan daerah di wilayah laut meliputi kegiatan kegiatan
eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut.
Wewenang lainnya yang ada kaitannya dengan sektor kelautan adalah
pengetahuan kepentingan administratif, pengaturan tata ruang, serta
penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau
yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah pusat (pasal 10 ayat
2). Dengan adanya UU No. 22 Tahun 1999 ini maka pengelolaan perairan
laut di atas 12 mil dari garis pantai, termasuk perairan Zone Ekonomi
Eksklusif Indonesia (ZEEI) masih merupakan wewenang pemerintah
pusat.

Pelaksanaan UU No. 22 Tahun 1999 memiliki implikasi terhadap kegiatan


eksploitasi

sumberdaya

pesisir

dan

laut,

khususnya

dalam

hal

pewilayahan daerah penangkapan ikan Yang menjadi wewenang daerah


akan sulit dilaksanakan dank arena itu membutuhkan perencanaan dan
pengawasan yang efektif untuk menghindari pelanggaran wilayah oleh
nelayan.

b. Pendapatan Perikanan Daerah Menurut UU No. 25 Tahun 1999


Bersamaan dengan dikeluarkannya UU No.22 Tahun 1999,
pemerintah mengeluarkan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan

Ekologi Kawasan Tepian Air

81

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang merupakan


komplemen bagi pelaksanaan otonomi daerah. Penghasilan atau
pendapatan dari kegiatan perikanan mendapat perhatian tersendiri pada
UU No.25 Tahun 19999 ini. Pada pasal 6 ayat 5 dikatakan bahwa
penerimaan Negara dari sumberdaya alam sector perikanan dibagi
dengan imbangan 20% untuk pemerintah pusat dan 80% untuk
pemerintah daerah.

Dengan adanya aturan yang berlaku ini maka daerah-daerah yang


memang memiliki sumberdaya perikanan tidak dapat memetik manfaat
lebih dari daerah yang tidak memiliki sumberdaya perikanan. Sementara
daerah yang memiliki sumebrdaya kehutanan akan meraih manfaat yang
lebih besar dari daerah lain yang bukan penghasil. Dengan kata lain,
daerah yang mempunyai sumberdaya perikanan secara relative tidak lebih
diuntungkan dengan adanya UU No. 25 Tahun 1999 ini.

Peluang untuk memperoleh pendapatan daerah dari kegiatan perikanan


masih dimungkinkan selain dari pungutan hasil perikanan dan pungutan
pengusaha perikanan, yakni melalui retribusi atau pajak daerah yang
mungkin saja bisa diterapkan terhadap setiap kegiatan peningkatan nilai
tambah produk perikanan di daerah. Pasal 5 UU No. 25 Tahun 1999
mengatakan bahwa retribusi pajak daerah harus diatur dengan UndangUndang.

3. Perencanaan Pembangunan Daerah dengan Muatan Pengelolaan


Pesisir Terpadu
Dengan diberikannya wewenang kepada daerah ntuk mengelola
dan memanfaatkan sumber daya pesisir dan laut yang berada dalam
batas-batas yang telah ditetapkan, maka manfaat terbesar sumber daya
laut diperoleh oleh pemerintah daerah dan masyarakat.

Dengan

kewenangan tersebut, pemerintah daerah sudah memiliki landasan yang


kuat untuk mengimplementasikan pembangunan pesisir dan laut secara

Ekologi Kawasan Tepian Air

82

terpadu mulai dari aspek perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan


pengendalian sumberdaya pesisir

dan laut dalam upaya menerapkan

pembangunan pesisir dan laut secara berkelanjutan.

Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah seberapa besar keinginan


dan komitmen pemerintah daerah untuk mengelola sumberdaya pesisir
dan laut secara berkelanjutan yang berada dalam wewenang/kekuasaan?
Pertanyaan ini penting mengingat tidak seluruh daerah memiliki
pemahaman yang sama akan arti pentingnya pengelolaan sumber daya
pesisir dan laut secara berkelanjutan. Pembangunan pesisir dan laut
berkelanjutan pada dasarnya adalah pembangunan untuk mencapai
keseimbangan antara manfaat dan kelestariannya sumber daya pesisir
dan laut. Artinya bahwa sumber daya pesisir dan lautan dapat
dieksploitasi untuk kemaslahatan manusia, namun tidak menjadikan
lingkungan termasuk sumberdaya alam itu sendiri rusak.

Isyarat pembangunan berkelanjutan dalam undang-undang ini seperti


tersirat dalam pasal 10 ayat 1, bahwa daerah berwewenang mengelola
sumberdaya nasional yang tersedia diwilayahnya dan bertanggung jawab
memelihara kelestarian lingkungan sesuai peraturan perundangan. Oleh
karena itu, dalam pendayagunaan sumberdaya alam tersebut haruslah
dilakukan secara terencana, rasional, optiman dan bertanggung jawab
disesuaikan dengan daya dukungnya dan digunakan untuk sebesarbesarnya bagi kemakmuran masyarakat, serta harus memperhatikan
kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup untu terciptanya
pembangunan yang berkelanjutan.

Salah satu permasalahan yang muncul dalam pengelolaan sumberdaya


alam pesisir dan laut di daerah selama ini adalah adanya konflik-konflik
pemanfaatan dan kekuasaan. Upaya penanganan masalah tersebut
diharapkan dapat dilakukan secara reaktif dan pro aktif. Secara reaktif
maksudnya pemerintah daerah dapat melakukan resolusi konflik, mediasi

Ekologi Kawasan Tepian Air

83

atau musyawarah dalam menangani masalah tersebut. Upaya pro aktif


adalah upaya penanganan konflik pengelolaan sumber daya pesisir dan
laut secara aktif dan dilakukan untuk mengantisipasi atau mengurangi
potensi-potensi konflik pada masa yang akan datang.

Penanganan seperti ini dilakukan melalui penataan kembali kelembagaan


pemerintah daerah, baik dalam bentuk konsep perencanaan, peraturan
perundang-undangan,sumberdaya

manusia,

sistem

administrasi

pembangunan yang mengacu pada rencana pengelolaan sumber daya


pesisir dan laut terpadu dari setiap daerah propinsi, kabupaten/kota,
dengan cara menyusun zonasi kawasan pesisir dan laut untuk
memfokuskan sektor-sektor tertentu dalam suatu zona, menyusun
rencana pengelolaan (managemen plan) untuk suatu kawasan tertentu
atau sumber daya tertentu. Selanjutnya membuat rencana aksi (action
plan) yang membuat rencana investasi pada berbagai sektor, baik untuk
kepentingan

pemerintah

daerah,

swasta

maupun

masyarakat.

Keseluruhan tahapan ini merupakan rencana strategis yang penting untuk


dilakukan oleh pemerintah propinsi, dan kabupaten/kota dalam rangka
pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut secara terpadu. Namun
hendaknya proses perencanaan yang dilakukan adalah perencanaan
partisipaif, artinya segenap komponen daerah hendaknya dilibatkan dalam
setiap proses dan tahapan perencanaan dan pengelolaan sumberdaya
pesisir dan laut.
B. WAWASAN LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN MARITIM
DAN KELAUTAN

1. Wawasan

Lingkungan

dalam

Pengembangan

Kelautan dan

Kemaritiman
Negara Kepulauan Nusantara terletak diantara benua Austraulia
dan benua Asia serta membatasi samudra Pasifik dan Hindia. Busur
kepulauan Indonesia merupakan untaian pulau-pulau yang berada di

Ekologi Kawasan Tepian Air

84

perairan dalam maupun dangkal, terdiri dari sekitar 17.508 buah pulau
yang memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 80.000 km. Kepulauan
Indonesia terbentuk oleh berbagai proses geologi yang berpengaruh kuat
pada pembentukan morfologi pantai, sementara letaknya di kawasan iklim
tropis memberi banyak ragam bentang alam pantai dengan beragam pula
biota yang mendiaminya.
Posisi Indonesia terletak di daerah ekuatorial dengan luas lautan yang
lebih besar dibandingkan dengan luas daratan. Luas daratan kita adalah
sekitar 1,9 juta km2 , sedangkan luas perairan laut (termasuk ZEEI)
mencapai 5,8 juta km2 atau sekitar 75% dari seluruh wilayah Indonesia.
Selain perairan laut, Indonesia juga memiliki ekosistem perairan air tawar
yang cukup luas, yang terdiri dari 5.886 sungai, 186 danau, dan sekitar 33
juta ha rawa (Agenda 21 Indonesia, 1977).
Apabila keanekaragaman hayati (biodiversity) diartikan sebagai
keanekaragaman kehidupan pada tingkat gen,spesies, ekosistem dan
proses-proses

eko-biologis,

maka

Indonesia

merupakan

negara

megabiodiversity terbesar kedua di dunia setela Brazil. Bahkan, dalam


hal keanekaragaman hayati laut, menurut IUCN (1995) Indonesia
merupakan negara megabiodiversity terbesar didunia. Hal ini dapat
dimengerti, karena indonesia memiliki seluruh ekosistem kelautan tropis
yang terlengkap di dunia, mulai dari hutan mangrove, padang lamun,
rumpu laut , sampai terumbu karang.
2. Fisiografi dan Klimatologi
Wilayah Indonesia memiliki perairan laut dalam yang dialasi kerak
samudera dan laut dangkal tepian dari paparan benua. Paparan tepian
kontinen yang memiliki kedalaman kurang dari 100m, merupakan bagian
dari apa yang disebut sebagai cekungan busur dan inti kraton yang relatif
stabil. Sejumlah sungai besar bermuara ke perairan ini. Kondisi demikian
memberi sifat dari kawasan ini berpantai landai, bahkan di Pantai timur
sumatera dan Selatan Papua, dicirikan oleh kawasan verawa (wetland)

Ekologi Kawasan Tepian Air

85

yang ditutupi hutan mangrove yang berfungsi pula sebagai pelindung


pantai. Hal ini sama juga terdapat di pesisir barat dan selatan kalimantan,
namun sedikit berbeda di pesisir utara Jawa yang umumnya merupakan
bagian dari kompleks sistem endapan vulkanik gunung berapi, kecuali
jalur Rembang_Tuban yang berupa perbukitan dengan pantai batu
gamping. Pulau-pulau lebih kecil di jalur sunda kecil (Bali-Flores),
terbentuk oleh untaian gunung api, memiliki pantai landai atau bertebing
dari endapan vulkanik di perairan laut dalam. fenomena yang mirip terlihat
pada pulau-pulau di laut Banda, laut dalam yang beralas sisa dari kerak
samudera. Perairan hangat mennjang tumbuh luasnya terumbu karang di
pulau-pulau tersebut, yang sama fungsinya dengan mangrove, yakni
melindungi pantai dari hempasan gelombang (Hantoro et al, 2001).
Perairan laut dalam di jalur tunjaman dari sumatra hingga Jawa-Bali,
Papua utara, Sulawesi utara dam seram memiliki bentang alam curam
pada pesisirnya, namun adakalanya memiliki pesisir landai yang sempit
dan berpasir karbonat hasil rombakan terumbu karang. Pesisir dan
pantainya terbuka dari hempasan gelombang kua perairan samudera
(Samudera Pasifik, Laut zulu, Laut Banda, dll). Kawasan ini juga berada
pada pengaruh gerak tegak (vertikal) tektonik. Pesisir di bagian busuryang
mengalami tumbukan (Sumba-Timor) juga ditandai oleh pantai curam dari
bantuan keratan tektonik di pesisir selatan, namun dicirikan pula oleh
gerak pengangkatan (0,5-1mm/th) yang memberikan bentang alam teras
terumbu karang terangkat di pesisir utara pulau-pulau (Hantoro el al,
2001).
Secara geografis, kepulauan Indonesia terletak pada suatu kawasan yang
rentan namun berkaitan dengan mekanisme perubahan iklim global. West
pacific warm pool (perairan hangat pasifik Barat) dan penaikan massa air
(upwlling) di samudera hindia saling berpengaruh dengan cuaca di
Indonesia. Arus lintas global (arlindo) dari pasifik ke samudera hindia
melalui perairan Indonesia, memberi pengaruh timbal balik pada cuaca
lokla dan global. Mekanisme iklim antara asia dan austraulia mengatur

Ekologi Kawasan Tepian Air

86

musim kering dan basah di indonesia. Beberapa gejala dan regulator iklim
dan cuaca penting global melibatkan sistem cuaca di Indonesia, antara
lain : La Nina, El Nino, ENSO,dan juga tak kurang penting adalah apa
yang disebut sebagai indian ocean dipole yang berdasarkan data proksi,
terbukti berperan cukup penting dalam mengomtrol cuaca di lintas
samudera hindia barat dan timur (Hantoro el al, 2001).
Secara geografis, kepulauan Indonesia terletak pada suatu
kawasan yang rentan namun berkaitan dengan mekanisme perubahan
iklim global. West pacific warm pool (perairan hangat pasifik Barat) dan
penaikan massa air (upwlling) di samudera hindia saling berpengaruh
dengan cuaca di Indonesia. Arus lintas global (arlindo) dari pasifik ke
samudera hindia melalui perairan Indonesia, memberi pengaruh timbal
balik pada cuaca lokla dan global. Mekanisme iklim antara asia dan
austraulia mengatur musim kering dan basah di indonesia. Beberapa
gejala dan regulator iklim dan cuaca penting global melibatkan sistem
cuaca di Indonesia, antara lain : La Nina, El Nino, ENSO,dan juga tak
kurang penting adalah apa yang disebut sebagai indian ocean dipole
yang berdasarkan data proksi, terbukti berperan cukup penting dalam
mengomtrol cuaca di lintas samudera hindia barat dan timur (Hantoro el
al, 2001).
3. Potensi Sumberdaya Alam dan Jasa-jasa Lingkungan
Secara umum, sumberdaya alam kelautan terdiri atas sumberdaya
dapat pulih (renewable resources), sumberdaya tidak dapat pulih (nonrenewable resources), dan jasa-jasa lingkungan(enviromental services).
a. Sumber Dapat Pulih
Data Statistik menunjukkan bahwa sektor kelautan memperlihatkan
peningkatan dan kontribusi lagi pembangunan perekonomian, seiring
dengan pemanfaatan potensi yang terbentang luas. Salah satu bagian
terpenting dari sektor kelautan adalah sumberdaya hayati kelautan atau
sumberdaya perikanan. Selama kurun waktu 1999-2002, produk domestik

Ekologi Kawasan Tepian Air

87

bruto (PDB) subsektor perikanan mengalami kenaikan 21,72 persen, atau


jauh lebih besar dari kenaikan PDB nasional sebesar 13,56 Persen.
Hasil analisis yang terbaru menunjukkan bahwa potensi ikan laut kita
adalah 6,26 juta ton MSY (maximum suistainable yield) atu 5,00 juta ton
TAC(total allowable catch). Angka MSY ata TAC ini adalah batas atas
produksi perikanan yang aman bagi keberlanjutan lingkungan dan
sumberdaya ikan (Tabel 1). Dengan produksi perikanan laut sebesar 3,62
juta ton pada tahun 1998, maka itu berarti perairan laut kita telah
dimanfaatkan sebsar 57,83 MSY atau 72,40 TAC. Dengan begitu peluang
untuk pengembangan perikanan tangkap di laut tinggal kurang dari
separuh potensi ikan yang ada.

b. Sumber Daya Tidak Dapat Pulih


Sumber daya tidak dapat pulih (non-renewable resources) berupa
sumber daya mineral di kawasan perairan laut Indonesia relative besar,
seperti minyak dan gas bumi, bauksit, timah, bii besi dan bahan tambang
seperti pesisir laut serta mineral lainnya.
1) Minyak Bumi dan Gas Lepas Pantai
Sumberdaya tidak dapat pulih terpenting dan terbesar saat ini
adalah minyak bumi. Jumlah produksi minyak bumi Indonesia sampai
tahun 2000 tercatat mencapai 4,872 juta barel dengan nilai penjualan total
mencapai US$ 20,45 milyar. Dari jumlah tersebut, ternyata baru sekitar 32
persen produksi minyak bumi berasal dari penambangan lepas pantai.
2) Emas dan Perak
Emas dan perak dalam bentuk mineral letakan ditemukan pada
endapan dasar laut di perairan Lampung, Kalimantan Selatan, Sukabumi
Selatan, Teluk Tomini dan Laut Arafura. Dari data petrografi mineral,
umumnya mineral emas ini berasosiasi dengan mineral perak terutama
pada contoh clay mineral.

3) Pasir Kuarsa

Ekologi Kawasan Tepian Air

88

Pasir kuarsa yang dikenal sebagai mineral silica (bahan kaca),


merupakan sedimen lapukan dan ledakan dari batuan induk yang bersifat
granitic ataupun rombakan dari urat-urat kuarsa atau kristalin. Potensi
pasir kuarsa umumnya terdapat di sepanjang jalur granit Kepulauan Riau,
Bangka dan Belitung. Umumnya pasir laut di perairan Riau mempunyai
kandungan kuarsa di atas 80%. Selain itu, umumnya pasir kuarsa ini juga
mengandung mineral pembawa unsure radio aktif torium. Oleh sebab
itulah, ekspor pasir laut sebagai material reklamasi pantai ke Singapura
yang

ditambang

di

kawasan

perairan

Riau,

sebenarnya

dapat

diklasifikasikan sebagai komoditi mineral yang mempunyai harga jual yang


jauh lebih tinggi dari pada harga pasir laut atau agregat.

4) Monazit, Zirkon, dan Rutil


Monazit, zircon, dan rutil merupakan produk sampingan (by
product) dari endapan ledakan. Monazite dan zircon merupakan mineral
yang penting dan langka karena mengandung unsure torium yang bersiat
radio aktif. Umumnya mineral ini dimanfaatkan sebagai produk sampingan
penambangan timah di Bangka dan Belitung.

5) Pasir Besi
Pasir besi yang umumnya berwarna hitam terdiri dari mineral
magnetit dan ilmenit, banyak ditemukan hampir di seluruh kawasan pantai
Indonesia terutama yang telah terangkut dari endapan vulkanik yang
bersifat basa. Penambangan pasir besi telah dilakukan di Pantai Cilacap,
Jampang Kulon dan Yogyakarta dan digunakan sebagai bahan dasar
logam besi dan sebagai mineral pencampur dalam industry semen.
Kawasan busur vulksnik merupsksn sumber pasi besi yang berlimpah
se[erti di sepanjang Pantai Selatan Jawa dan Sumatera, Nusa Tenggara,
Maluku Utara, dan Sulawesi Utara.

Ekologi Kawasan Tepian Air

89

6. Agregat Bahan Konstruksi


Agregat merupakan bahan konstruksi terdiri dari kerikil dan pasir
yang tersebar dalam jumlah berlimpah di kawasan pantai dan lepas
pantai. Kawasan perairan Karimun dan Kundur merupakan kawasan
penambangan pasir laut terbesar saat ini, karena jenis dan komposisi
pasir yang ditambang memenuhi persyaratan untuk material konstruksi
dan bahan reklamasi.
7. Fosporit
Endapat fosporit berumur Resen berupa fospat kalium dalam
bentuk nodul atau butiran telah ditemukan di dasar laut Paparan Sahul,
yaitu antara Pulau Timor dan Australia.
8. Nodul dan Kerak Mangaan
Endapan mangaan umumnya ditemukan dalam bentuk nodul
(nodule), kerak (Crust) atau hamparan (Pavement). Indikasi sumberdaya
mineral mangaan ini ditemukan di Laut Banda, Laut Selat Lombok,
Perairan pulau Damar dan Misool, perairan Sula, Sulawesi Utara dan
Halmahera. Jenis mineral mangaan yang ditemukan di perairan Indonesia
Timur umumnya berbentuk nodul yang kaya akan mangaan besi. Kerak
mangaan ditemukan pada system Punggungan Lucipara dan sekitar
Punggungan Tampomas di Cekungan Banda Utara.
9. Kromit
Letak dan sebaran endapan kromit rombakan (detrital) selalu
ditemukan berdekatan dengan batuan induknya (ultrabasa) . Oleh sebab
itu penyebaran endapan kromit ini umumnya ditemukan di sekitar gawir
pantai (coastal cliff ) yang berdekatan dengan singkapan batuan ultrabasa
di Kalimantan Timur dan Tenggara, Pulau Laut dan Sebuku, Sulawesi
Tenggara dan Timurlaut, Halmahera, Waigeo dan Timor.
10. Gan Biogenik Kelautan (methan)

Ekologi Kawasan Tepian Air

90

Gas biogenic merupakan salah satu sumber energi alternatif untuk


kawasan pesisir yang terpencil. Pemetaan geologi kelautan sistematik di
wilayah perairan Laut Jawa dan Selat Sumatera yang dilakukan oleh
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Balitbang Energi
dan Sumberdaya Mineral, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral
sejak tahun 1990 memperlihatkan indikasi sumber gas biogenik yang
terperangkap pada sedimen Holocene. Lapisan pembawa gas ini
umumnya ditemukan pada kedalaman antara 20-50 m di bawah dasar
laut.
Pemetaan secara horizontal menunjukkan bahwa hampir seluruh kawasan
perairan dangkal terutama di muara-muara sungai besar ditemukan
indikasi sedimen mengandung fas (gas charged sediment) yang diduga
merupakan akumulasi gas biogenic yang berasal dari maturasi tumbuhan
rawa purba yang tertimbun sedimen Resen.
Gas biogenic ini umumnyadidominasi oleh gas methan yang dikenal
sebagai salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Gas
biogenic telah dieksploitasi dan dimanfaatkan sebagai energy pembangkit
listrik mikro dan industry kecil di muara sungai Yangtze, China (Mc Caffret
et al, 1985) Umumnya dari satu sumur gas di kawasan ini dapat
dieksploitasi 5000m3 per gas per hari dengan tekanan maximum m6,1
kg/cm2.
Sepanjang kawasan perairan Pantai Utara Jawa, pantai selatan
Kalimantan, pantai Timur Kalimantan, dan pantai barat Sumatera
merupakan kawasan yang potensial menjadi sumber gas biogenik, karena
memiliki sejarah terbentuknya sungai dan rawa purba yang mirip dengan
terbentuknya gas biogenik di muara Sungai Yangtze.
11. Mineral Hydromental
Indikasi adanya mineral hydromental deposit di perairan Indonesia
ditemukan di perairan Sulawesi Utara, Teluk Tomini, Selat Sunda dan
perairan Wetar (Gunung api bawah laut Komba, Abang Komba, dan Ibu

Ekologi Kawasan Tepian Air

91

Komba). Lubang hydromental (hydromental vent) atau yang lebih dikenal


dengan istilah Black Smoker dan White Smoker merupakan ekosistem
laut dalam yang unik, karena air panas yang dikeluarkannya mengandung
ikatan sulfur yang digunakan oleh bakteria sebagai energi. Dengan
demikian, dasar laut kawasan ini mempunyai kelimpahan biota laut yang
tinggi. Selain itu, ahli geologi kelautan menaruh perhatian karena diyakini
bahwa lubang hydromental ini membawa larutan mineral yang selanjutnya
mengawali proses mineralisasi pada suatu jebakan mineral dasar laut.
Kawasan black smoker biasanya berpotensi mineral tembaga dan white
smoker berpotensi mineral emas.
12. Sumberdaya Energi yang Berasal dari Dinamika Lautan
Sumberdaya energy yang berasal dari dinamika lautan, sampai
saat ini masih terbatas pemanfaatannya pada beberapa Negara maju
yang menguasai teknologi pengembangannya. Sementara di Indonesia
masih belum banyak yang bisa dikembangkan. Hal ini antara lain
disebabkan oleh keterbatasan teknologi yang kita kuasai. Misalnya
sumber energi pasut di dunia yang diperkirakan mencapai 65 ribu Mw.
Hingga saat ini, baru sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan.
Beberapa Negara telah mulai memanfaatkannya, seperti perancis yang
memelopori bidang ini dengan membangun PLT-Pasut dengan kapasitas
240Mw di Rance dan berfungsi dengan baik. Negara-negara lain yang
telah memanfaatkannya adalah Rusia dengan kapasitas 0,4Mwm Cina
dengan membangun beberapa PLT-Pasut dan berkapasitas total 8Mw.
Beberapa Negara lain ikut ambil bagian dalam usaha memanfaatkan
energi gelombang ini, diantaranya Amerika Serikat, Inggris, Kanada,
Korea Selatan, dan Australia. Pengalaman Negara-negara tersebut dapat
digunakan untuk memanfaatkan laut sebagai sumber energi yang belum
tergarap.

Ekologi Kawasan Tepian Air

92

C. PERAN EKOSISTIM DALAM MITIGASI BENCANA


Wilayah pesisir menyediakan sumberdaya alam yang produktif baik
sebagai sumber pangan, tambang mineral dan energy maupun kawasan
rekreasi atau pariwisata. Selain itu, wilayah ini juga memiliki aksesibilitas
yang sangat baik untuk berbagai kegiatan ekonomi, seperti transportasi
dan kepelabuhan, industry dan permukiman. Namun demikian, seiring
dengan peningkatan jumlah penduduk dan intensitas pembangunan, daya
dukung ekosistem

pesisir dalam menyediakan segenap sumberdaya

dalam dan jasa-jasa lingkungan terancam rusak.


Pengalaman membangun sumberdaya pesisir masa lalu, selain telah
menghasilkan

berbagai

keberhasilan,

juga

menimbulkan

berbagai

permasalahan ekologi dan sosial-ekonomi yang justru dapat mengancam


kesinambungan

pembangunan

nasional.

Secara

ekologis,

banyak

kawasan pesisir , terutama di Pesisir Timur Sumatera, Pantai Utara Jawa,


Bali dan Makassar, yang telah terancam kapasitas keberlanjutannya
melalui pencemaran, degradasi fisik habitat, over-eksploitasi sumberdaya
alam, dan konflik penggunaan lahan (ruang) pembangunan. Secara
sosial-ekonomi, sebagian besar penduduk pesisir masih berupa kelompok
sosial termiskin di tanah air, dan kesenjangan pembangunan antar
wilayah masih sangat besar.
Berbagai permasalahan yang muncul di kawasan pesisir sebagaimana
dikemukakan di atas ternyata banyak diakibatkan oleh faktor eksternal
yang tejadi diluar kawasan pesisir itu sendiri (baik dari daratan maupun
lautan), sehingga berbagai aktivitas yang dilakukan di kedua kawasan
tersebut baik langsung maupun tidak langsung yang memberikan dampak
terhadap kawasan pesisir. Untuk mengatasi dampak yang ditimbulakan,
misalnya akibat adanya bahan pencemar atau sedimentasi yang masuk
ke pesisir atau adanya abrasi pantai, sangat diperlukan pengolahan
secara terpadu dengan memperhatikan keterkaitan antar kawasan, bagi
keberlanjutan pembangunan wilayah pesisir.

Ekologi Kawasan Tepian Air

93

1. Fungsi Ekosistem Pesisir dalam Mitigasi Kerusakan Lingkungan


dan Sumberdaya
Wilayah pesisir merupakan wilayah peralihan antara ekosistem
darat dan laut yang saling berhubungan satu sama lain. Ekosistem pesisir
merupakan suatu himpunan integral dari komponen hayati dan nir-hayati
yang secara fungsional saling berinteraksi membentuk suatu sistem.
Ekosistem pesisir berperan penting sebagai penyedia pangan, tempat
perlindungi dan tempat berkembangbiak berbagai jenis ikan, udang,
kerang dan biota laut lainnya (Bengen, 2000). Selain itu, ekosistem pesisir
(terutama ekosistem mangrove dan terumbu karang) juga memiliki fungsi
yang sangat penting sebagai pelindung pantai dan pemukiman peisisr dari
hantaman gelombang, badai dan erosi pantai. Karena itu pengelolaan
ekosistem

pesisir

baik

langsung

maupun

tidak

langsung

harus

memperhatikan ketekaitan ekologi antar ekosostem di wilayah pesisir.


Hutan Bakau sebagai dalam Mitigasi Bencana
Salah satu faktor terjadinya degradasi (penyusutan) hutan bakau di
Indonesia

disebabkan

masih

banyaknya

masyarakat

yang

belum

memahami pentingnya ekosistem hutan bakau, baik untuk menjaga


lingkungan (ekologis) maupun manfaatnya bagi kehidupan (ekonomis).
Hutan bakau memiliki arti penting bagi nelayan tradisional dan masyarakat
yang tinggal di wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil. Tak hanya
menyelamatkan kehidupan mereka dari ancaman abrasi pesisir pantai.
Kawasan hutan bakau juga memberi kontribusi ekonomi bagi mereka.
Ikan, udang, kerang, kepiting, dan organisme lainnya menempatkan
kawasan bakau sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah untuk
bertelur (spawning ground), dan daerah untuk mencari makan (feeding
ground). Hal tersebut menunjukan tingkat ketergantungan yang sangat
tinggi bagi biota perairan tersebut.

Ekologi Kawasan Tepian Air

94

Hutan bakau atau mangrove memiliki beberapa fugsi jika kita tinjau deri
beberapa aspek, misalnya aspek fisika, kimia dan biologi. Dari sisi aspek
fisika, mangrove berperan sebagai pelindung garis pantai dari ancama
abrasi yang disebabkan meluapnya air laut ke daratan. Hutan bakau
meredam efek destruksi dari gelombang pasang, dan barperan sebagai
pelindung bagi kawasan perumahan nelayan yang biasanya berada di
belakang hutan ini dengan mengurangi atau menghambat kecepatan
tiupan angin ribut dan badai.
Dari aspek kimia, hutan bakau berperan sama halnya dengan fungsi hutan
pada umumnya, yaitu mengurangi terjadinya polusi udara dengan
menyerap gas karbondioksida (Co2) yang berada di udara kemudian
menghasilkan oksigen (O2) yang kemudian digunakan oleh mahluk hidup
untuk menjalani proses kehidupannya. Kawasan mangrove juga dapat
menyerap limbah buangan yang telah mencemari laut baik limbah
domestik yang berasal dari rumah tangga, limbah yang berasal dari lalu
lintas perkapalan ataupun yang berasal dari darat.
Aspek biologi dari hutan mangrove yaitu menjadi lokasi atau tempat
habitat beberapa mahluk hidup untuk melakukan aktifitasnya, baik untuk
berkembag biak atau mencari makan. Hutan bakau juga sebagai tempat
bersarang atau persinggahan bagi beberapa jenis burung yang melakukan
migrasi untuk melakukan perkembangbiakan atau upaya menghindar dari
ancaman pergantian musim.
Namun ada satu fungsi lagi yang harus kita ketahui bersama, jika ditinjau
dari aspek sosial dan ekonomi maka kawasan ini juga sangat
berpengaruh

terhadap

perkembangan

kehidupan

manusia

yang

berdomisili di sekitarnya. Dari aspek ekonomi, hutan mangrove dapat


dikembangkan menjadi hutan wisata yang secara langsung berdampak
positif pada kehidupan masyarakat sekitar.
Hutan yang menjulang dari dari dasar laut: kawasan pesisir pantai di
wilayah tropis dilindungi oleh sabuk berwarna hijau yang membentang

Ekologi Kawasan Tepian Air

95

antara laut dan daratan. Hutan Bakau membutuhkan suhu air hangat,
paduan antara air asin dan air tawar. Berbagai jenis burung hidup dan
berkembang biak di dahan-dahan Bakau. Sementara akarnya yang
menancap bumi berfungsi sebagai habitat alami ikan dan kepiting.

Dalam 2004 telah terjadi 24 kali tsunamy di Amerika Serikat, sejak tahun1946
telah membunuh 350 orang dan menghasilkan sebuah dokumen Tsunamy yang
di produksi oleh National Disaster Education Coalition. Sedangkan gempa dan
tsunamy

Aceh

2004

tercatat

sebagai

tsunamy

terbesar

sepanjang

sejarah dengan korban 200.000 jiwa.

Melihat beberapa kejadian seperti tersebut diatas, terpikir oleh para ahli
bagaimana

cara mengurangi dampak dari tsunami secara alamiah

maupun rekayasa. Salah satu cara pengurangan risiko tsunami secara


alamiah adalah dengan penanaman mangrove di daerah pantai. Beberapa
hasil penelitian yang pernah dilakukan adalah sbb:
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/01/06/index.html:

Secara ekologis hutan mangrove dapat menjadi penahan abrasi atau


erosi, gelombang atau angin kencang, pengendali intrusi air laut dan
tempat habitat berbagai jenis fauna.

Ekosistem mangrove, baik secara sendiri maupun secara bersama


dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang, berperan
penting dalam stabilisasi suatu ekosistem pesisir, baik secara fisik
maupun secara biologis

http://kesemat.undip.ac.id/:

Tsunami pada dasarnya merupakan pergerakan massa air laut ke


daratan berupa arus dan gelombang air yang sangat kuat.

Mangrove dapat menjadi penghambat energi yang cukup efektif dalam


meredam kuat energi kelajuannya. (syarat dan ketentuan berlaku)

Ekologi Kawasan Tepian Air

96

Tsunami ibaratnya mengguyur air ke kepala kita. Kepala dengan


rambut pendek /panjang tentu akan lebih mampu meredam laju air bila
dibandingkan dengan kepala yang gundul (plontos).

2. Ancaman Terhadap Ekosistem Pesisir


Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan pesatnya kegiatan
pembangunan di pesisir bagi berbagai peruntukkan (permukiman,
perikanan, pelabuhan dll), maka tekanan ekologis terhadap ekosistem
pesisir semakin meningkat pula. Meningkatnya tekanan ini tentunya dapat
mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem pesisir, baik
secara langsung (misalnya kegiatan konservasi lahan) maupun tidak
langsung

(misalnya

pencemaran

oleh

limbah

berbagai

kegiatan

pembangunan).
Beberapa ancaman penting dari berbagai aktivitas pembangunan
terhadap ekosistem pesisir adalah ancaman terhadap kualitas lingkungan
dan sumberdaya alam serta jasa-jasa pesisir. Ancaman-ancaman ini
dapat berdiri sendiri atau saling terkait dalam setiap bidang kegiatan
pembangunan.
a. Sedimentasi dan Pencemaran
Kegiatan pembukaan lahan atas dan pesisir untuk pertanian,
pertambangan dan pengembangan kota merupakan sumber beban
sedimen dan pencemaran perairan pesisir dan laut. Adanya penebangan
hutan dan penambangan di Daerah Aliran Sungai (DAS) telah
menimbulkan sedimentasi serius di beberapa daerah muara dan perairan
pesisir. Pembukaan lahan atas sebagai bagian dari kegiatan pertanian,
telah meningkatkan limbah pertanian baik padat maupun cair yang
masukke perairan pesisir dan laut melalui aliran sungai. Limbah cair yang
mengandung nitrogen dan fosfor berpotensi menimbulkan keadaan lewat
subur (eutrofikasi) yang merugikan ekosistem pesisir.

Ekologi Kawasan Tepian Air

97

Selain limbah perairan, sampah-sampah padat rumah tangga dan kota


merupakan sumber pencemaran peraiaran pesisir dan laut yang sulit
dikontrol, sebagai akibat perkembangan pemukiman yang pesat. Sumber
pencemaran lain di pesisir

dapat berasal dari kegiatan pembangunan

lainnya, seperti kegiatan pertambangan dan industry.


Masukan kuantitas limbah ke dalam ekosistem pesisir di Indonesia terus
meningkat secara tajam, terutama dalam dua dasawarsa terakhir.
Misalnya, jika pada tahun 1972 penggunaan pupuk nitrogen untuk seluruh
kegiatan pertanian di tanah air tercatat sekitar 350.000 ton, maka pada
tahun 1990 jumlah tersebut meningkat menjadi 1.500.000 ton.
Status pencemaran pesisir di Indonesia, terutama di daerah padat
penduduk, kegiatan industry, pertanian intensif dan lalulintas pelayaran,
seperti Teluk Jakarta, Selat Malaka, Semarang, Surabaya dan Balikpapan
sudah memprihatikan. Konsentrasi logam berat Merkuri (Hg) di perairan
Teluk Jakarta

pada tahun 1977-1978 berkisar antara 0.002-0.35 ppm

(Batan, 1979), kemudian pada tahun 1982 tercatat antara 0.005-0.029


ppm (LON-LIPI, 1983). Sementara itu baku mutu lingkungan dalam
KEPMEN KLH No. 02/1988 adalah sebesar 0.003 ppm. Dengan demikian
kondisi Teluk Jakarta dapat dikatakan telah tercemar logam berat
(khususnya Merkuri).
b. Degradasi Habitat
Erosi pantai merupakan salah satu masalah serius degradasi garis
pantai. Selain proses-proses alami, seperti angin, arus, hujan dan
gelombang, aktivitas manusia juga menjadi penyebab penting erosi
pantai. Kebanyakan erosi akibat aktivitas manusia adalah pembukaan
hutan

pesisir

untuk

kepentingan

pemukiman,

dan

pembangunan

infrastruktur, sehingga sangat mengurangi fungsi perlindungan terhadap


pantai.
Ancaman lain terhadap degradasi habitat adalah degradasi terumbu
karang. Degradasi terumbu karang di peraiaran pesisir disebabkan oleh

Ekologi Kawasan Tepian Air

98

berbagai aktivitas manusia, di antaranya pemanfaatan ekosistem terumbu


karang sebagai

sumber pangan maupun ikan hias sebagian besar

dikarenakan oleh penggunaan bahan peledak, tablet potas dan sianida.


Kenyataan ini dapat dijumpai di banyak lokasi terumbu karang, berupa
karang-karang yang rusak secara fisik dalam formasi berbentuk cekungan.
Selain itu degradasi terumbu karang terjadi sebagai akibat kegiatan
penambangan/ penggalian karang untuk kepentingan konstruksi jalan atau
bangunan.
Degradasi terumbu karang akibat pemanfaatannya sebagai obyek wisata
terlihat dari kerusakan-kerusakan fisik karang yang disebabkan oleh
pembuangan jangkar kapal/perahu yang membawa wisatawan ke lokasi
terumbu karang. Kerusakan juga dapat diakiabatkan oleh prilaku
wisatawan, misalnya penginjakan terumbu karang oleh penyelam yang
kurang berpengalamn maupun oleh penyelam yang memburu ikan. Salin
itu limbah yang dibuang turis atau limbah yang berasal dari aktivitas di
daratan ikut menimbulkan kerusakan karang.
3. Degradasi sumber Daya dan Keanekaragaman Hayati
Sejalan

dengan

meningkatnya

kegiatan

pembangunan,

dan

perkembangan permukiman dan perkotaan kearah pesisir, maka terlihat


jelas adanya degradasi sumberdaya pesisir. Salah satu degradasi
sumberdaya pesisir yang cukup menonjol Adalah degradasi hutan
mangrove akibat pembukaan lahan atau konversi hutan menjadi kawasan
pertambakan, permukiman, industry, dan lain-lain. Selain konversi,
degradasi hutan mangrove juga terjadi sebagai akibat pemanfaatannya
yang intensif untuk arang, bahan kontruksi atau bahan baku kertas serta
pemanfaatan langsung lainnya.
Degradasi sumberdaya juga terjadi pada terumbu karang, diantaranya
sebagai akibat eksploitasi intensif ikan-ikan arang. Eksploitasi ini sangat
berdampak pada semakin menurunnya keanekaragaman ikan karang

Ekologi Kawasan Tepian Air

99

bahkan punahnya jenis ikan tertentu. Hal ini tentu saja akan berakibat
pada kualitas estetika terumbu karang sebagai obyek wisata selam.
Ancaman lain terhadap keanekaragaman hayati di perairan pesisir diduga
antara lain berasal dari pembangunan infrastruktur (hotel,restoran, dan
lain-lain) di pinggir pantai, dan juga reklamasi pantai. Kegiatan reklamasi
pantai sebagaimana terjadi di beberapa kawasan pesisir, diperkirakan
dapat merubah

struktur ekologi komunitas biota laut bahkan dapat

menurunkan keanekaragaman hayati perairan. Dalam skala yang lebih


kecil, pembangunan hotel-hotel atau restoran-restoran di pinggir panatai
dapat memberikan dampak yang sama, terutama bila berada di sekitar
kawasan konservasi atau taman laut.
4. Upaya Mengatasi Ancaman Degradasi Melalui Konservasi dan
Rehabilitasi Ekosistem Pesisir
Sebagaimana telah dikemukakan, berbagai aktivitas pembangunan
telah memberikan ancaman serius terhadap ekosistem pesisir, khususnya
ekosistem estuaria, mangrove, padang lamun dan terumbu karang.
Padahal ekosistem ini berperan penting sebagai penyedia makanan,
tempat perlindungan dan tempat berkembangbiak berbagai jenis makhluk
hidup laut; disanmping dalam mitigasi bencana sebagai pelindung pantai
dan permukiman pesisir dari hantaman gelombang, badai dan erosi
panati. Karena itu, agar supaya ekosistem ini dapat berperan secara
optimal dan berkelanjutan, maka diperlukan upaya-upaya perlindungan
dari berbagai ancaman kerusakan yang dapat ditimbulkan baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Salah satu upaya perlindungan yang dapat dilakukan adalah
dengan menetapkan suatu kawasan di pesisir sebagai kawasan
konservasi yang antara lain bertujuan untuk melindungi habitat-habitat
kritis,

mempertahankan

dan

melindungi keanekaragaman

Ekologi Kawasan Tepian Air

meningkatkan

kualitas

sumberdaya,

hayati dan melindungi proses-proses

100

ekologi. Juga diperlukan upaya rehabilitasi terhadap ekosistem yang telah


mengalami kerusakan.
Berbagai bentuk dan model konservasi dan rehabilitasi ekosistem
pesisir dapat diterapkan sesuai dengan tujuannya. Berikut ini disampaikan
contoh dari beberapa bentuk dan model konservasi dan rehabilitasi
ekosistem pesisir.
a. Pengembangan Daerah Perlindungan Laut Sebagai Salah Satu
Upaya Konservasi Terumbu Karang
Salah satu strategi konservasi ekosistem terumbu karang yang
berkembang saat ini adalah pengembangan Daerah Perlindungan Laut
(Marine Sanctuary atau Marine Protected Area). Pengembangan daerah
perlindungan

laut

merupakan

upaya

untuk mempertahankan

dan

memperbaiki kualitas sumberdaya dan sekaligus mempertahankan dan


meningkatkan kualitas sumberdaya hayati lainnya yang berasosiasi
dengan terumbu karang. Tujuan dari daerah perlindungan laut adalah : (1)
memelihara fungsi ekologis dengan melindungi habitat tempat hidup,
bertelur, dan memijah biota-biota laut, dan (2) memelihara fungsi
ekonomis kawasan pesisir bagi masyarakat setempat dan sekitarnya,
sehingga dapat dipertahankan keberlanjutan produksi perikanan yang
pada sekitarnya, sehingga dapat dipertahan keberkelanjutan produksi
perikanan

yang

pada

akhirnya

akan

meningkatkan

pendapatan

masyarakat.
Salah satu contoh pengembangan Daerah Perlindungan Laut (DPL)
adalah sebagaimana yang dikembangkan di Desa Blongko, Kabupaten
Minahasa, Sulawesi Utara, yang merupakan upaya masyarakat Desa
Blongko. Daerah perlindungan laut yang diterapkan oleh masyarakat
dibagi dalam dua zona atau kawasan atau kawasan, yaitu zona inti dan
zona penyangga, dimana pada zona tersebut diberlakukan ketentuan
masing-masing. Namun pada dasarnya kegiatan tersebut dimaksudkan
untuk melindungi sumberdaya laut, yang kemudian akan dimanfaatkan
oleh masyarakat untuk mememuhi kebutuhan hidupnya (peningkatan

Ekologi Kawasan Tepian Air

101

produksi ikan). Pelarangan menggunakan alat-alat penangkapan ikan


pada Daerah Perlindungan Laut adalah untuk mencegah terjadinya
kerusakan ekosistem terumbu karang, yang pada tahap selanjutnya akan
mempengaruhi sumberdaya ikan yang berasosiasi dengan ekosistem
terumbu karang tersebut. Pemanfaatan hanya dilakukan secara terbatas
dan menggunakan alat sederhana yang tidak merusak serta dilakukan
pada waktu tertentu, yaitu ketika sumberdaya ikan sudah mengalami
pemulihan (recovery). Pada saat daerah perlindungan laut belum mampu
menopang

kehidupan

masyarakat

Blongko,

maka

sistem

sosial

masyarakat Desa Blongko berupaya untuk mencari sumber-sumber energi


(mata pencaharian alternatif) untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini
dilakukan untuk mempertahankan system akibat berkurangnya sumber
energi dari laut (DPL). Oleh karena itu, sebagian anggota masyarakat
(komponen sistem) melakukan kegiatan budidaya rumput laut, atau
mencari ikan di tempat lain di luar kawasan daerah perlindungan laut
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pengeloalaan sumberdaya pesisir khususnya terumbu karang di Desa
Blongko,

terutama

dilandasi

oleh

semakin

terbatasnya

potensi

sumberdaya pesisir dan laut desa untuk menjamin kehidupan dan


terpeliharanya fungsi lingkungan hidup. Oleh karena itu, wilayah laut yang
sangat berpotensial sebagai tempat penyediaan sumberdaya perikanan
laut,serta sangat efektif untuk meningkatkan produksi perikanan di dalam
wilayah

dan

sekitarnya,

serta

wilayah

daratan

sebagai

wilayah

penyanggah, perlu dilindungi.


Dalam rangka menjamin pelestarian lingkungan hidup (darat dan Laut),
maka setiap orang berkewajiban untuk menjaga, mengawasi dan
memelihara lingkungan hidup yang dijamin oleh hokum dan perundangundangan yang berlaku. Untuk lebih mengoptimalkan perlindungan
sumberdaya laut tersebut, maka perlindungan kawasan pesisir dan laut
desa perlu dituangkan dalam suatu keputusan masyarakat desa, sebagai
masyarakat sadar hokum dan sadar lingkungan hidup.

Ekologi Kawasan Tepian Air

102

Setelah melalui tahap musyawarah, konsultasi, pertemuan-pertemuan,


serta sosialisasi, maka aturan-aturan daerah perlindungan laut tersebut
ditetapkan sebagai keputusan desa melalui musyawarah

umum

masyarakat desa Blongko. Keputusan Desa tersebut diusulkan kepada


pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi. Yaitu Camat, Kabupaten dan
Propinsi. Dengan demikian aspek legalitas tidak hanya dari masyarakat
desa Blongko saja, tetapi juga oleh pemerintah ada tingkat yang lebih
tinggi. Aspek legalitas ini sangat penting untuk menjadi bahan sosialisasi
kepada masyarakat luas, terutama masyarakat yang berdampingan desa
Blongko

untuk

mendapatkan

pengakuan

akan

adanya

daerah

perlindungan laut. Didalam keputusan desa tersebut termuat beberapa


hal, yaitu (1) pertimbangan dan aturan-aturan hokum yang mendasari
pembentukan daerah perlindungan laut, (2) betas yudisdiksi pengelolaan,
(3)

tugas

dan

tanggung

jawab

pengelolaan,

(4)

kegiatan

yang

diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan, (5) pendanaan, dan (6)


sanksi dan pengawasan (Tulungen et al, 1998).

b. Perbaikan Ekosistem

Terumbu Karang

Melalui

Pembuatan

Terumbu Karang Buatan


Dari sisi ekologis, ekologis terumbu buatan pada dasarnya adalah
penyediaan habitat baru dalam dalam ruang laut sebagai tempat
berlindung, mencari makanan dan pengasuhan bagi ikan, krustasea dan
molusca. Keberadaan terumbu buatan memeberi pengaruh terhadap
sistem ruang laut. Terumbu karang adalah struktur atau kerangka yang
sengaja dipasangkan ke dalam laut yang ditunjukan

sebagai tempat

berlindung dan habitat bagi biota laut atau sebagai perlindungan pantai.
Adapun manfaat dari terumbu buatan adalah (1) mengumpulkan ikan,
dimanfaatkan

sebagai

daerah

penangkapan

(fishing

ground),

(2)

memperluas habitat, (3) meningkatkan pendapatan, kesempatan kerja dan


gizi bagi masyarakat pantai, dan (4) meningkatkan produktifitas dan

Ekologi Kawasan Tepian Air

103

pendayagunaan sumber daya laut dalam kegiatan perikanan, pariwisata


dan jasa angkutan.
Dalam pembuatan terumbu buatan harus dipahami dengan baik konsep
terumbu buatan, sehingga dapat mendekati fungsi-fungsi fisik, bio-ekologi,
estetika dan pesan-pesan sosial-budaya-ekonomi. Pengadaan terumbu
buatan yang bertujuan untuk menciptakan habitat dalam ruang laut, harus
mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan, kondisi ekologi, proses
biologi dari biota yang akan dikumpulkan dan unsure-unsur yang berperan
dalam penciptaan habitat. Beberapa jenis material yang lazim digunakan.
a. Ban bekas, paling lazim digunakan karena selalu tersedia dengan
harga murah: stabil secara fisik dan kimia di dalam air dan mudah
menanganinya; penempatannya tanpa bantuan Scuba. Kelemahan
dari ban adalah daya apungnya besar yang menyebabkan ia rentang
terhadap ombak di tempat yang dangkal.
b. Beton, meski banyak variasi desain dan kontruksi, penggunaannya
terbatas berhubung harganya cukup mahal.
c. Bumbu, tidak negitu stabil, telah menurun mutunya dalam 3-5 tahun
(contoh dari Filiphina), tetapi murah, mudah menanganinya, dan
mampu menarik minat ikan karena profinya yang beragam dan mudah
dibentuk.

Agar pengadaan terumbu buatan efektif dan optimal secara ekologi, dan
membrikan kontribusi terhadap perbaikan ekosistem terumbu karang,
maka jumlah unit terumbu buatan yang ditenggelamkan di suatu wilayah
perairan harus diperhitungkan secara tepat. Beberapa landasan yang
dapat dipertimbangkan

dalampengadaan jumlah unti terumbu buatan

adalah (1) luas perairan dari suatau kawasan/pulau (terutama kedalaman


kurang dari 20m), (2) kualitas ekosistem terumbu karang buatan dengan
yang lainnya, (4) luas perairan yang diperuntukan bagi pengadaan
terumbu buatan, dan (5) karakteristik ekologi dari biota terumbu karang
(Distribusi spasial).

Ekologi Kawasan Tepian Air

104

Karakteristik ekologi dari biota terumbu karang (ikan karang) yaitu


distribusi geografisnya yang terbatas. Jangkauan penyebaran dari ikan
karang adalah sekitar 300 (tiga ratus) meter dari wilayah terumbu karang.
Oleh karena itu, penempatan terumbhu buatan lebih dari jarak tersebut
tidak efektif

secara ekologi untuk mengurangi laju tekanan terhadap

terumbu karang. Penentuan luas perairan yang diperuntukan bagi


pengembangan terumbu buatan dibatasi oleh faktor kedalaman perairan
(maksimal 20 m atau sekitar 100 m dari tubir terumbu karang). Dari luas
perairan yang memungkinkan untuk pengembangan terumbu buatan,
tidak seluruhnya diperuntukan bagi pengembangan terumbu buatan, tetapi
hanya 50 % saja yang direkomendasikan untuk dijadikan zona
pemanfaatan. Sedangkan zona untuk kegiatan pengembangan terumbu
buatan direkomendasikan sebesar 50 % dari zona pemanfaatan.
Penempatan terumbu buatan antara satu dan yang lainnya dibatasi pada
jarak 12 m, yaitu jarak antara satu unit dengan unit lainnya, atau dengan
kata lain seluas 144m2 bila ditempatkan dalam bentuk luasan. Apabila
kondisi karang masih baik, maka penempatan terumbu buatan harus jauh
dari ekosistem terumbu karang, karena tidak akan efektif dalam perbaikan
terumbu karang.

c. Wanamia

(silvofishhery)

Sebagai

Salah

Satu

Upaya

Pemberdayaan Masyarakat dalan Konservasi dan Rehabilitasi


Mangrove

Konservasi hutan mangrove merupakan satu usaha yang sangat


kompleks

untuk

dilaksanakan,

karena

kegatan

tersebut

sangat

membutuhkan sidat akomodatif terhadap segenap pihak terkait baik yang


berada di sekitar kawasan maupun di luar Pada dasarnya kegiatan ini
dilakukan demi memenuhi kebutuhan dari berbagai kepentingan. Namun
demikian, sifat akomodatif ini akan lebih dirasakan manfaatnya bilamana
keberpihakan

kepada

masyarakat

yang

sangat

rentan

terhadap

sumberdaya mangrove, diberikan porsi yang lebih besar.

Ekologi Kawasan Tepian Air

105

Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat


sebagai komponen utma penggerak konservasi hutan mangrove. Oleh
karena itu, persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan manggrove
perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masyarakat akan pentingnya
sumberdaya hutan manggrove.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa partisipasi masyarakat dalam
konservasi sumberdaya pesisir (hutan mangrove) hanya dapat diharapkan
apabila masyarakat mendapatkan manfaat dari upaya konservasi yang
dilakukan. Karena itu tidak dapat dihindari perlunya pemberdayaan
masyarakat dalam konservasi hutan manggrove, diantaranya melalui
model perhutanan sosial yang memungkinkan pemanfaatan hutan
mangrove scara lestari.
Salah satu model perhutanan sosial yang sudah cukup lama berkembang
adalah model wanamina (silvofishery). Model ini pertama kali diterapkan di
kawasan Rehabilitasi Hutan Mangrove Cikeong, Karawang Jawa Barat,
dan saat ini telah berkembang pula di Sinjai, Sulawesi Selatan. Model
wanamina

(silvofishery)yang

saat

ini

berjalan

didasarkan

pada

pemanfaatan suatu kawasan hutan mangrove, khususnya kawasan


rehabilitasi, dengan perbandingan 20% untuk kolam (empang) dan 80%
untuk mangrove.
Pada dasarnya penanaman benihatau bibit mangrovedengan sistem
wanamina (silvofishery) adalah penanaman mangrove dengan membuat
tambak/ kolam dan saluran air untuk membudidayakan sumber daya ikan
(ikan, udang, dsb), sehingga terdapat perpaduan antara tanaman
mangrove (wana) dan budidaya sumber daya ikan (mina) (Bengen, 2000)
Secara umum terdapat 3 pola sistem wanamina (silvofishery) yaitu :
1. Wanamina(silvofishery) dengan pola empang parit
Pada pola empang parit lahan untuk hutan mangrove dan empang
masih menjadi satu hamparan yang diatur satu pintu air.

Ekologi Kawasan Tepian Air

106

2. Wanamina(silvofishery)

dengan

pola

empang

parit

yang

disempurnakan
Dengan pola ini, lahan hutan mangrove dan empang diatur oleh
saluran air yang terpisah.
3. Wanamina(silvofishery) dengan pola komplangan

d. Rehabilitasi Sempadan Pantai Melalui Penanaman Mangrove

Upaya rehabilitasi (penanaman kembali) mangrove di beberapa


kawasan

pesisir

saat

ini

menjadi

satu

program

yang

banyak

dikembangkan dalam rangka melindungi sumber daya pesisir dari


kerusakan. Hal ini disadari karena besarnya peranan mangrove bagi
kehidupan manusia, baik sebagai sumber ekonomi maupun jasa-jasa
lingkungan. Salah satu jasa lingkungan dari ekosistem mangrove adalah
sebagai pelindung pantai dari ancaman abrasi pantai
Pengertian Rehabilitasi Mangrove
Menurut

Peraturan

Menteri

Kehutanan

No.03/MENHUT-V/2004

rehabilitasi hutan mangrove adalah upaya mengembalikan fungsi hutan


mangrove yang mengalami degradasi, kepada kondisi yang dianggap baik
dan mampu mengemban fungsi ekologis dan ekonomis.
Dalam kerangka pengelolaan dan pelestarian mangrove, terdapat dua
konsep utama yang dapat diterapkan. Kedua konsep ini pada dasarnya
memberikan

legitimasi

dan

pengertian

bahwa

mangrove

sangat

memerlukan pengelolaan dan perlindungan agar dapat tetap lestari.


Kedua konsep tersebut adalah perlindungan hutan mangrove dan
rehabilitasi hutan mangrove.
Kegiatan penghijauan yang dilakukan terhadap utan-hutan yang telah
gundul, merupakan salah satu upaya rehabilitasi yang bertujuan bukan
saja untuk mengembalikan nilai estetika, namun yang paling utama adalah
untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan mangrove tersebut.
Ekologi Kawasan Tepian Air

107

Kegiatan seperti ini menjadi salah satu andalan kegiatan rehabilitasi di


beberapa kawasan hutan mangrove yang telah ditebas dan dialihkan
fungsinya kepada kegiatan lain. Kegiatan rehabilitasi hutan mangrove
sendiri telah dirintis sejak tahun 1960 di kawasan pantai utara Pulau Jawa.
Sekitar 20.000 ha hutan mangrove yang rusak di pantai utara Pulau Jawa
dilaporkan telah berhasil direhabilitasi dengan menggunakan tanaman
utama Rhizophora spp dan Avicennia spp dengan persentumbuh hasil
penanaman berkisar antara 60-70%.

Gambar13 : penanaman mangrove


Fungsi dan Peranan Rehabilitasi Mangrove
Rehabilitasi hutan mangrove dilaksanakan untuk memulihkan dan
meningkatkan fungsi lindung, fungsi pelestarian dan fungsi produksi
(Kementrian Lingkungan Hidup, 1994).
Program rehabilitasi dan konservasi dimaksudkan untuk memulihkan atau
memperbaiki

kualitas

tegakan

yang

sudah

rusak

serta

mempertahankannya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga


fungsi hutan baik sebagai penghasil kayu, penjaga intrusi air laut, abrasi,
serta sebagai penyangga kehidupan tetap terjaga (Aqsa, 2010).

Ekologi Kawasan Tepian Air

108

Rehabilitasi hutan mangrove merupakan bagian dari sistem pengelolaan


hutan mangrove yang merupakan bagian integral dari pengelolaan
kawasan pesisir secara terpadu yang ditempatkan pada kerangka Daerah
Aliran

Sungai

(DAS)

sebagai

unit

manajemen.

Penyelenggaraan

rehabilitasi hutan mangrove yang dimaksud ditujukan untuk memulihkan


sumberdaya hutan yang rusak sehingga berfungsi optimal dalam
memberikan manfaat kepada seluruh pihak yang berkepentingan,
menjamin keseimbangan lingkungan dan tata air Daerah Aliran Sungai
(DAS) dan kawasan pesisir, mendukung kelangsungan industri berbasis
sumberdaya mangrove. Tujuan tersebut dapat dicapai jika penanganan
kawasan dilakukan secara tepat, adanya kelembagaan yang kuat, dan
teknologi rehabilitasi yang tepat guna berorientasi pada pemanfaatan
yang jelas (DKP, 2010).
Pemilihan Lokasi dan Kesesuaian Jenis Mangrove
Lokasi penanaman mangrove dapat dilakukan di kawasan hutan lindung,
hutan produksi, kawasan budidaya, dan di luar kawasan hutan pada
daerah :
1. Pantai, dengan lebar sebesar 130 kali nilai rata-rata perbedaan air
pasang tertinggi dan terendah tahunan yang diukur dari garis air
surut terendah ke arah darat.
2. Tepian sungai, selebar 50 m ke arah kiri dan kanan tepian sungai
yang masih terpengaruh air laut.
3. Tanggul, pelataran dan pinggiran saluran air ke tambak.
Pemilihan jenis mangrove juga harus disesuaikan dengan lahan yang
akan direhabilitasi. Beberapa jenis mangrove yang cocok untuk kondisi
lahan tertentu menurut Bengen (2006) adalah sebagai berikut :
1. Bakau (Rhizophora spp.) dapat tumbuh dengan baik pada substrat
(tanah) yang berlumpur, dan dapat mentoleransi tanah lumpurberpasir, dipantai yang agak berombak dengan frekuensi genangan

Ekologi Kawasan Tepian Air

109

20-40 kali/bulan. Bakau merah (Rhizophora stylosa) dapat ditanam


pada substrat pasir berkoral.

Gambar 14 : Tanaman Bakau


2. Api-api (Avicennia spp.) lebih cocok ditanam pada substrat pasir
berlumpur terutama di bagian terdepan pantai, dengan frekuensi
genangan 30-40 kali/bulan.

Gambar 15 : Tanaman Api-api


3. Bogem/Prapat

(Sonneratia spp.)

dapat

tumbuh

baik

dilolasi

bersubstrat lumpur atau lumpur berpasir dari pinggir pantai ke arah


darat, dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.

Ekologi Kawasan Tepian Air

110

Gambar 16 :Tanaman Bogem/Prapat


4. Tancang (Bruguiera gymnorrhiza) dapat tumbuh dengan baik pada
substrat yang lebih keras yang terletak ke arah darat dari garis
pantai dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.

Gambar 17 :Tanaman Tancang

Ekologi Kawasan Tepian Air

111

Cara Pemilihan Bibit Yang Baik


Menurut Bengen (2006) dalam proses pembibitan bibit mangrove
diusahakan berasal dari lokasi setempat atau lokasi terdekat, disesuaikan
dengan kondisi tanahnya. Persemaian dilakukan dilakukan di lokasi tanam
untuk penyesuaian dengan lingkungan setempat.
Menurut Bengen (2006), untuk mengatasi hama pada tanaman mangrove
sebaiknya dilakukan beberapa cara sebagai berikut :

Buah Rhizophora spp. atau Bruguiera spp. yang akan digunakan


sebagai bibit, dipilih yang telah cukup matang. Tanda-tanda
kematangan buah ditunjukkan oleh keluarnya buah dari tangakai.

Buah kemudian disimpan ditempat yang teduh, ditutupi dengan


karung goni yang setengah basah selama 5-7 hari. Penyimpanan
ini dimaksudkan untuk menghilangkan bau/aroma buah segar yang
dimiliki buah mangrove yang sangat disenangi oleh serangga.

Gambar 18 ; Buah Rhizopora spp.


Setelah itu buah mangrove siap untuk disemai pada kantong plastik/botol
air mineral bekas atau ditanam langsung ke lokasi tanam.

Ekologi Kawasan Tepian Air

112

Penanaman mangrove dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan


menanam langsung buahnya atau melalui persemaian bibit. Penanaman
langsung tingkat keberhasilan tumbuhnya rendah (sekitar 20-30%),
sedangkan

penanaman

dengan

melalui

persemaian

bibit

tingkat

keberhasilan tumbuhnya relatif tinggi (sekitar 60-80%). Untuk memperoleh


bibit mangrove yang baik, pengumpulan buah (propagule) dapat dilakukan
antara bulan September sampai dengan bulan Maret, dengan karak
teristik sebagai berikut :
Bakau/Bakau-bakau (Rhizophora spp.)

Buah sebaiknya dipilih dari pohon mangrove yang berusia di atas


10 tahun.

Buah yang baik dicirikan oleh hampir lepasnya bongkol dari batang
buah.

Buah yang sudah matang dari Bakau Besar (R. mucronata)


dicirikan oleh warna buah hijau tua atau kecoklatan dengan
kotiledon (cincin) yang berwarna kuning; buah Bakau Kecil (R.
apiculata) matang ditandai dengan warna buah hijau kecoklatan
dan warna kotiledon merah.

Tancang (Bruguiera spp.)

Buah dipilih dari pohon yang berumur antara 5-10 tahun.

Buahnya dipilih yang sudah matang, dicirikan oleh hampir lepasnya


bongkol buah dari batangnya.

Api-api

(Avicennia spp.),

Bogem

(Sonneratia spp),

dan

Nyirih

(Xilocarpus granatum)

Buah sebaiknya diambil yang sudah matang, dicirikan oleh warna


kecoklatan, agak keras dan bebas dari hama penggerek.

Buah lebih baik diambil yang sudah jatuh dari pohon.

Ekologi Kawasan Tepian Air

113

Pembibitan
Buah disemaikan langsung ke kantong-kantong plastik atau ke dalam
botol air mineral bekas yang yang sudah berisi media tanah. Sebelum diisi
tanah, bagian bawah kantong plastik atau botol air mineral bekas diberi
lubang agar air yang berlebihan dapat keluar. Khusus untuk buah bakau
(Rhizophora spp.) dan Tancang (Bruguiera spp.) sebelum disemaikan
sebaiknya disimpan dulu di tempat yang teduh dan ditutupi dengan karung
basah selama 5-7 hari. Ini bermanfaat untuk menghindari batang bibit
dimakan oleh serangga atau ketan pada saat ditanam nanti (Bengen,
2006).
Persemaian bibit mangrove menurut Bengen (2006) dilakukan pada lahan
yang lapang dan datar, dekat dengan lokasi tanam. Terendam dengan air
pasang, dengan frekuensi lebih kurang 20-40 kali/bulan, sehingga tidak
memerlukan penyiraman
Pembuatan bedeng persemian
1. Ukuran disesuaikan dengan kebutuhan, umumnya berukuran 1x5 m
atau 1x10 m dengan tinggi 1 m
2. Bedeng diberi naungan ringan dari daun nipah atau sejenis.
3. Media bedengan berasal dari tanah lumpur sekitarnya.
4. Bedeng berukuran 1x5 m dapat menampung bibit dalam kantong
plastik (10x50 cm) atau dalam botol air mineral bekas (500 ml)
sebanyak 1200 unit, atau sebanyak 2250 unit untuk bedeng
berukuran 1x10 m.
Cara pembibitan mangrove adalah dengan cara buah disemaikan
langsung ke kantong-kantong plastik atau ke dalam botol air mineral
bekas yang sudah berisi media tanah. Sebelum diisi tanah, bagian bawah
kantong plastik atau botol air mineral bekas diberi lubang agar air yang
berlebihan dapat keluar. Khusus untuk buah Bakau (Rizophora spp.) dan

Ekologi Kawasan Tepian Air

114

Tancang (Bruguiera spp.) sebelum disemaikan sebaiknya disimpan dulu di


tempat yang teduh dan ditutupi karung basah selam 5-7 hari. Daun
muncul setelah 20 hari, setelah berumur 2-3 bulan bibit sudah bisa
ditanam di lokasi.
Penanaman
Menurut Bengen (2006) penanaman mangrove dapat dilakukan melalui
dua sistem, yaitu : (1) sistem banjar harian, dan (2) sistem tumpang sari,
atau lebih dikenal dengan sistem wanamina (silvofishery).
(1) Sistem banjar harian
a. Menggunakan benih

Didekat ajir, buat lubang tanam pada saat air surut, dengan
kedalaman lubang disesuaikan dengan benih yang akan ditanam.
Penanaman benih sebaiknya dilakukan sedalam kurang lebih
sepertiga dari panjang benih.

Benih ditanam secara tegak, dengan bakal kecambah menghadap


ke atas.

b. Menggunakan bibit

Buat lubang didekat ajir pada saat air surut, dengan ukuran lebih
besar dari ukuran kantong plastik atau botol air mineral bekas.

Bibit ditanam secara tegak ke dalam lubang yang telah di buat,


dengan melepaskan bibit dari kantong plastik atau botol air mineral
secara hati-hati agar tidak merusak akarnya.

Sela-sela lubang disekeliling bibit ditimbun dengan tanah sebatas


leher akar

c. Jarak tanam tergantung pada tujuan penanaman mangrove, bila untuk


perlindungan pantai bibit ditanam ada jarak 1x1 m, tetapi bil untuk
produksi digunakan jarak 2x2 m.

Ekologi Kawasan Tepian Air

115

d. Jenis tanaman mangrove yang ditanam disesuaikan dengan zonasi


ataupun tujuan dari penanaman mangrove di lokasi tersebut. Bila untuk
penahan abrasi gunakann jenis bakau (Rhizophora spp.), namun bila
untuk penghjauan saja cukup ditanam jenis api-api (Avicennia spp.)
(2) Sistem wanamina (Silvofishery)
Pada prinsipnya penanaman benih atau bibit mangrove dengan sistem
wanamina sama seperti pada sistem banjar harian. Perbedaannya adalah
pada

penanaman mangrove

dengan sistem

wanamina dibuatkan

tambak/kolam dan saluran air untuk membudidayakan sumber daya ikan


(ikan, udang, dsb), sehingga terdapat perpaduan antara tanaman
mangrove (wana) dan budidaya sumberdaya ikan (mina).
Secara umum terdapat tiga pola dalam sistem wanamina (Menurut
Bengen, 2006), , yaitu;

Wanamina dengan pola empang parit, pada pola empang parit


lahan untuk hutan mangrove dengan empang masih menjadi satu
hamparan yang diatur oleh satu pintu air.

Wamina dengan pola empang parit yang disenpurnakan. Lahan


untuk hutan mangrove dan empang diatur oleh saluran air yang
terpisah.

Wamina dengan pola komplangan. Lahan untuk hutan mangrove


dan hutan mangrove terpisah dalam dua hamparan ynag diatur
oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk hutan
mangrove dan empang.

Pemeliharaan
Langkah-langkah pemeliharaan mangrove menurut Bengen (2006) adalah
sebagai berikut :
Penyiangan dan Penyulaman

Ekologi Kawasan Tepian Air

116

Tiga bulan setelah penanaman dilaksanakan pemeriksaan lapangan untuk


mengetahui tingkat pertumbuhan tanaman. Apabila ada tanaman yang
mati, harus segera dilaksanakan penyulaman dengan tanaman yang baru.
Pada lokasi penanaman yang agak tinggi atau frekuensi genangan air
pasang

kurang,

perlu

mendapat

perhatian

lebih

intensif

dalam

pemeliharaannya. Hal ini disebabkan pad alokasi tersebut cepat ditumbuhi


kembali oleh sejenis pakisan atau Piyai (Acrosthicum aureumi). Jadi
apabila kelihatan tumbuhan Piyai mengganggu tumbuhan anakan, perlu
segera

dilakukan

penebasan

kembali.

Kegiatan

penyiangan

dan

penyulaman ini dilakukan samapai tanaman berumur lima tahun.


Penjarangan
Penjarangan adalah tindakan pemeliharaan untuk mengatur ruang
tumbuh dengan cara untuk mengurangi kerapatan tegakan, dengan
harapat dapat meningkatkan pertumbuhan dan kualitas tegakan tinggal.
Sesuai dengan Sistim Sulvikultur Hutan Payau dan hasil penelitian yang di
lakukan oleh HPH PT. Bina Lestari, Riau Tahun 1998, penjarangan
sebaiknya dilakukan pada 10 s/d 15 tahun setelah tebangan. Untuk
penjarangan tahap I ( Et+10) akan ditinggalkan permudaan tingkat
pancang dan tiang sebesar 70% dari tingkat semai ideal ( 2.500 pohon per
ha ), sedangkan penjarangan tahap II ( Et+15 ) akan ditinggalkan
permudaan tingkat tiang (pole) sebanyak 70% dari jumlah pohon tinggal
pada penjarangan tahap I.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulia, F. 1995 dalam
tulisan yang berjudul Riap = Petumbuhan ? Hutan Mangrove Pohon
Jenis Rhizophora apiculata di Areal Eks HPH PT. Bina Lestari, Riau
menyebutkan bahwa riap pohon bakau ( R. Apiculta ) dengan jarak tanam
2m x 2m mulai menurun ( pertemuan CAI dan MAI ) pada saat tanaman
berumur 7 sampai dengan 8 tahun, sehingga perlu dilakukan penjarangan

Ekologi Kawasan Tepian Air

117

minimal pada umur 10 tahun, agar pertumbuhan tanaman bisa lebih cepat
dibandingkan dengan tidak dijarangkan sama sekali.
Hasil penjarangan diharapkan sudah dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku industri arang kayu dan atau bahan baku kayu serpih/pulp.
Pertumbuhan (growth) tegakan pada umur 10 tahun adalah 103,25 m3/ha
dan pada tegakan yang sudah berumur 15 sebesar 126,60 m3/ha.
Kegiatan penjarangan diperlukan untuk memberi ruang tumbuh yang ideal
bagi tanaman, yaitu agar pertumbuhan tanaman dapat meningkat dan
pohon-pohon yang tumbuh sehat dan baik. Hasil penjarangan ini dapat
dimanfaatkan untuk bahan baku arang, industri kertas, kayu bakar,
bahkan untuk makanan kambing.
Perlindungan tanaman
Mangrove dalam pertumbuhannya mempunyai masa-masa kritis.
Oleh karena itu perlindungan tanaman mangrove dari hama yang
merusak, mulai dari pembibitan hingga mencapai anakan, perlu dilakukan
agar pertumbuhannya dapat berlangsung dengan baik.
Sejak usia pertumbuhan satu tahun, batang mangrove sangat disukai oleh
serangga atau ketam/kepiting. Menurut pengalaman 60-70% mangrove
akan mati sebelum berusia satu tahun karena digerogoti oleh seranggga
atau ketam/kepiting.
Hama lain yang sering menyerang tanaman mangrove pada usia muda
adalah kutu lompat (mealy bug). Serangan pleh hama ini dicirikan oleh
warna daun tanaman menjadi kuning, kemudian rontok dan tanaman mati.
Bila serangan hama ini terjadi sebaiknya tanaman yang terserang
dimusnahkan saja agar menghambat penyebarannya pada tanaman lain.

Ekologi Kawasan Tepian Air

118

D. STANDAR STANDAR, PERATURAN PEMERINTAH DAN TEORI


YANG MENYANGKUT PENGEMBANGAN, PENATAAN DAN
PERENCANAAN KAWASAN TEPIAN AIR
1.Standar Standar, Peraturan Pemerintah Pada Daerah Aliran
Sungai
Berdasarkan Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air, daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang
merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang
berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan yang berasal dari
curah hujan ke dan au atau ke laut secara alami, yang batas di darat
merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah
perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
Dalam Peraturan Pemerintah RI No. 38 Tahun 2011 Sungai adalah
alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air
beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi
kanan dan kiri oleh garis sempadan.
Sempadan sungai atau floodplain terdapat di antara ekosistem sungai
dan ekosistem daratan. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik
Indonesia No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung,
sempadan sungai didefinisikan sebagai kawasan sepanjang kiri dan kanan
sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang
mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi sungai.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2011 tentang Sungai
bahwa fungsi pengaturan sempadan sungai sebagai ruang penyangga
antara ekosistem sungai dan daratan, agar fungsi sungai dan kegiatan
manusia tidak saling terganggu. Pengertian daerah sempadan sungai
menurut kebijakan ini adalah garis maya di kiri dan kanan palung sungai
yang ditetapkan sebagai batas perlindungan sungai, sedang pengertian
bantaran sungai adalah ruang antara tepi palung sungai dan kaki tanggul
sebelah dalam yang terletak di kiri dan kanan palung sungai.
Dalam Peraturan Menteri PU No. 63/PRT/1993 tentang garis
sempadan sungai, daerah manfaat sungai, daerah penguasaan sungai dan
bekas sungai diungkapkan bahwa daerah penguasaan sungai adalah
dataran banjir, daerah retensi, bantaran atau daerah sempadan yang tidak

Ekologi Kawasan Tepian Air

119

dibebaskan. Oleh karena itu, pengelolaan sungai mensyaratkan adanya


penataan bantaran sungai sebagai dataran banjir.
2. Standar Dan Peraturan Yang Terkait Dengan Pembangunan Di
Wilayah Das Dan Pantai
Peraturan perundang-undangan yang terkait dalam perencanaan daerah
aliran sungai yang perlu diperhatikan ialah:
1. Kepres 32/1990 tentang pengolahan kawasan lindung
a. Garis sempadan pantai 100 m diukur dari pasang tertinggi.
b. Garis sempadan sungai di luar daerah permukiman minimun 100
meter di kiri-kanan sungai besar, minimum 50 meter di kiri-kanan
anak sungai
c. Garis sempadan sungai di daerah permukiman, sempadan sungai
cukup untuk membangun jalan inspeksi 10-15 m
2. Berdasarkan Permen PU No. 63/PRT/1993,
a. Sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan
sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul,
sedangkan sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan
perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar
sepanjang kaki tanggul.
b. Sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan
dihitung dari tepi sungai ditetapkan,
1) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m, garis
sempadan minimum 10 m,
2) sungai yang mempunyai kedalaman 3 m 20 m, garis sempadan
minimum 15 m,
3) sungai yang memiliki kedalaman lebih dari 20 m, garis sempadan
minimum 30 m.
3. Akses (Ditjen Cipta Karya, 2000)
a. Akses untuk kendaraan berada di antara batas terluar sempadan
tepian air.
b. Setiap 300 m ada jalan akses ke tepian air
c. Jalan bebas dari parkir roda empat
d. Lebar minimum tiga meter.
4. Peruntukan lahan
a. Peruntukan berdasarkan jenjang
1) Penggunaan dan ketergantungan dengan air (water dependent
uses)
2) Ketergantungan dengan adanya air (water related)
3) Tidak tergantung dengan air (independent water uses)
Ekologi Kawasan Tepian Air

120

b. Kemiringan lahan di area publik 0-15%


c. Jarak area terbangun dengan fasum/fasos maksimal 2 km.
5. Bangunan di tepian pantai
a. Kepadatan maksimum 25%
b. Tinggi maksimum 15 m dari muka tanah
c. Orientasi menghadap air
d. Bidang bangunan transparan agar dapat memanfaatkan view.
e. Di area sempadan boleh tempat ibadah, toilet umum, pos penjaga
pantai, bangunan tempat berteduh tanpa dinding.
f. Di area sempadan hanya taman, ruang publik, tempat bermain dan
tempat duduk.
g. Tidak boleh ada pemagaran fisik, boleh pagar alami, tanaman hijau
maksimum satu meter.
3. Pengembangan Penataan Dan Perencanaan Wilayah Tepian
Air
Konsep Bangunan Sederhana Pada Kawasan Pesisir
Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia
Nomor

15/Permen/M/2006

tentang

Petunjuk

Pelaksanaan

Penyelenggaraan Pengembangan Kawasan Nelayan, butir ketiga mengenai


Perencanaan Kawasan Nelayan. Perencanaan dalam Penyelenggaran
perlu mempertimbangkan:
1. Penataan

ruang

kawasan

nelayan

yang

memperhatikan

dan

memberikan karakteristik spesifik bagi desa-desa pantai agar dapat


memberikan keseimbangan dan keserasian interaksi dengan kegiatan
fungsi kelautan dan perikanan.
2. Pengembangan
(tradisional) dan

desain

lingkungan

dan

rumah

yang

spesifik

memiliki nilai jual sebagai objek wisata.

Pola dan tata letak tapak perumahan di kawasan pesisir umumnya


terbentuk karena adanya penyesuaian dengan kondisi alam.
Perencanaan hendaknya tidak mempertimbangkan aspek kebutuhan
fisik rumah bagi masyarakat pesisir, tetapi perlu mempertimbangkan
aspek kebutuhan fisik yang terkait kuat dari sosial budaya dan sosial
ekonomi masyarakatnya. Perlu mempertimbangkan proses perencanaan
Ekologi Kawasan Tepian Air

121

untuk meningkatkan peran serta masyarakat, khusus minat masyarakat


kelompok sasaran pesisir untuk tetap bersemangat dalam membangun
perumahan dan pemukiman. Mempertimbangkan proses perencanaan
yang dapat meningkatkan ekonomi keluarga dan kesehatan keluarga.
Kebijakan Penataan Ruang di Wilayah Pesisir
Penataan

ruang

merupakan

sebuah

pendekatan

dalam

pengembangan wilayah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas


kesejahteraan

masyarakat

dan

lingkungan

hidup

melalui

upaya

pengelolaan kawasan. (Menkimpraswil, 2003) menjelaskan pendekatan


penataan ruang dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah terdiri
atas tiga proses yang saling berkaitan, yakni:
Proses perencanaan tata ruang wilayah, yang menghasilkan rencana
tata ruang wilayah yang merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar
interaksi manusia/makhluk hidup dengan lingkungannya dapat berjalan
serasi,

selaras,

seimbang

untuk

tercapainya

kesejahteraan

manusia/makhluk hidup serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan


pembangunan (development sustainability).
Proses pemanfaatan ruang, yang merupakan wujud operasionaliasi
rencana tata ruang atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri; dan
Proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas mekanisme
pengawasan dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan agar
tetap sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan tujuan
penataan ruang wilayahnya. Sebagai daerah peralihan antara ekosistem
darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut, wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang
sangat besar serta menyediakan berbagai jasa lingkungan. Penataan
ruang di wilayah pesisir menjadi faktor penting dalam pengelolaan wilayah
pesisir yang efektif dan efisien.
Pedoman-Pedoman Perencanaan Untuk Pembangunan Di Kawasan Tepian
Air (Pantai). (White, 1993; Wrenn, 1983; Sastrawati, 2003; Kumurur,
2001) antara lain :
Ekologi Kawasan Tepian Air

122

a. Untuk bangunan water dependent uses seperti marina, tambatan


perahu, dermaga, rekreasi air dapat ditempatkan di daerah sempadan
pantai.
b. Bangunan non dependent uses seperti gedung konvensi, mall, pabrik
harus ditempatkan di luar sempadan pantai.
c. Sempadan untuk area tepian air diisi dengan green belt mangrove,
sebagai open space atau tempat rekreasi.
d. Pada area Sempadan tepian air, bangunan tidak menghalangi
pandangan ke laut, titik melampaui 7 m, maksimum dua lantai.
Menurut Siahaan (2008), dasar dari konsep pelestarian dan
pengembangan kawasan tepian air adalah upaya pencegahan terjadinya
perusakan dan upaya penanganan yang berkelanjutan terhadap bagian
kota yang terletak di antara daratan dan perairan. Kawasan tepian air
yang dimaksud adalah kawasan yang belum menjadi area terbangun.
Landasan desain pelestarian dan pengembangan kawasan tepian air,
dengan cara membagi kawasan kedalam dua bagian yaitu:
1) Kajian karakteristik global kawasan tepian air dengan kriteria obyek
kajian mengacu pada kawasan yang terletak di tepi air, tepi sungai,
tepi kanal, maupun tepi laut, dan
2). Kajian desain kawasan tepian air secara sintesa. Untuk mengetahui
temuan kajian skema hasil analisis dikelompokkan dalam suatu
kesamaan sifat.
Karakteristik global kawasan diketahui dengan melakukan perbandingan
dengan kawasan tertentu, yaitu desain konservasi, preservasi,
redevelopment, dan desain development.

Ekologi Kawasan Tepian Air

123

Materi Pertemuan Minggu IX


Ujian Tengah Semester (UTS), dalam bentuk Esay dan tugas perorangan
mencari standar-standar, Undang-undang atau Peraturan

Pemerintah

tentang Kawasan Tepian Air.

Materi Pertemuan Minggu X-XI

Penjelasan Tugas survey secara berkelompok

Asistensi Hasil survey


Mampu mengaplikasikan materi ekologi kawasan tepian air yang
dipahami pada kasus dilapangan

Materi Pertemuan Minggu XII - XV.

Presentasi perkelompok

Mampu mempresentasikan dan menggambarkan konsep Pengembangan


Kawasan Tepian air sesuai Karakter kawasan survey masing-masing
kelompok
Mampu menanggapi dan berdiskusi secara etis antar kelompok.

Materi Pertemuan Minggu XVI

Ujian Akhir Semester (UAS)

Pemahaman tentang Ekologi Kawasan Tepian Air dan pengaplikasiannya


pada kasus perkelompok

serta penguasaan tiap mahasiswa terhadap

hasil studi kelompok di lapangan

Ekologi Kawasan Tepian Air

124

DAFTAR PUSTAKA
1. Whitten J.Anthony,Mustafa M., Henderson G., Ekologi Sulawesi,
Diterjemahkan

oleh

Gembong

Tjitrosoepomo,

Fakultas

Biologi

Universritas Gajah Mada, Gajah Mada University Press,1987.


2. McNaughton S.J., Larry L.Wolf, Ekologi Umum,Diterjemahkan oleh
Priggoseputro Dan Srigandono, Edisi kedua Gajah Mada University
Press,1998.
3. Purwanto, Hari, Kebudayaan dan Lingkungan Dalam Perspektif
Antropologi, Pustaka Pelajar , Yogyakarta 2008.
4. Budiharsono,Sugeng , Teknik Analisis Pembangunan Wilayah
Pesisir Dan Lautan, PT Pradnya Paramita, Jakarta 2001.
5. Panuju R. Iah, Saefulhakim, Rustiandi, Perencanaan Dan
Pengembangan Wilayah, Yayasan Pustaka Obor dan Crespent
Press, Jakarta 2011.
6. Satria Arif, Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir, Cidesindo
Press IPB, Bogor 2002.
7. Bengen Dietriech, Ragam Pemikiran Menuju Pembangunan Pesisir
dan Laut Berkelanjutan Berbasis Eko-Sosiosistem, Pusat
Pembelajaran Dan Pengembangan Pesisir dan Laut, Makassar 2004.

Ekologi Kawasan Tepian Air

125

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Ekologi Kawasan Tepian Air

126

LAMPIRAN 01

Isi Materi Pertemuan Minggu I.

Menjelaskan Pengertian ekologi secara umum dan secara khusus tujuan


dan manfaat ekologi kawasan tepian air

Isi Materi Pertemuan Minggu II- V.


Pengertian Ekologi secara Umum dan Kawasan Tepian Air
Ekologi Kawasan Tepian Laut
Ekologi Kawasan Tepian Danau dan Rawa
Ekologi Kawasan Tepian Sungai

Isi Materi Pertemuan Minggu VI - VIII


Perencanaan Pembangunan Daerah Dalam Konteks Pengelolaan Wilayah
Pesisir Terpadu
Wawasan Lingkungan dalam Pengembangan Maritim dan Kelautan
Peran Ekosistim dalam Mitigasi Bencana
Standar Standar, Peraturan Pemerintah Dan Teori Yang Menyangkut
Pengembangan, Penataan Dan Perencanaan Kawasan Tepian Air

Isi Materi Pertemuan Minggu IX


Ujian Tengah Semester (UTS), dalam bentuk Esay dan tugas perorangan
mencari standar-standar, Undang-undang atau Peraturan Pemerintah tentang
Kawasan Tepian Air.

Ekologi Kawasan Tepian Air

127

Isi Materi Pertemuan Minggu X - XI


Pemberian Tugas Kelompok untuk survey pada Kawasan Tepian Air di Provinsi
Sulawesi Selatan dan Asistensi

Isi Materi Pertemuan Minggu XII - XV.


Presentasi Tugas Perkelompok dan diskusi kelas

Isi Materi Materi Pertemuan Minggu XVI


Ujian Akhir Semester (UAS)

dalam bentuk Esay untuk menilai tingkat

pemahaman tiap mahasiswa tentang Ekologi Kawasan Tepian Air dan


penguasaan terhadap hasil studi di lapangan

Ekologi Kawasan Tepian Air

128

LAMPIRAN 02: CONTOH KARTU ASISTENSI

KARTU ASISTENSI
TUGAS EKOLOGI KAWASAN TEPIAN AIR
NAMA MAHASISWA : .
STAMBUK

: ......

DOSEN

: ..

No

Tanggal

Ekologi Kawasan Tepian Air

Keterangan

Paraf

129