Anda di halaman 1dari 6

B.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan
penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi,
pemeriksaan fisik adalah :
1. Identitas klien.
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama
kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan
kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan
penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau
lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi

usus

asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya
infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan
perawatannya .
2. Riwayat keperawatan.
a. Awalan serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia
kemudian timbul diare.
b.

Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan


elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun
besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir
kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.

3.

Riwayat kesehatan masa lalu.


Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

4.

Riwayat psikososial keluarga.


Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,

kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,
setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa
bersalah.

5. Kebutuhan dasar.
a) Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,
BAK sedikit atau jarang.
b) Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan
berat badan pasien.
c) Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan
menimbulkan rasa tidak nyaman.
d) Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
e) Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri
akibat distensi abdomen.
6. Pemerikasaan fisik.
a. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran composmentis
sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.
b. Pemeriksaan sistematik :
1. Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir
kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
2. Perkusi : adanya distensi abdomen.
3. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis
4. Auskultasi : terdengarnya bising usus.
c. Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
d.Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat
badan menurun
e. Pemeriksaan penunjang.
f. Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk mengetahui
penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.
B. Diagnosa Keperawatan

1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah
serta intake terbatas (mual).
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan
peningkatan peristaltik usus.
3. Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
4. Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya

5. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d
pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan
kognitif.
6. Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru
C. Intervensi dan Rasional
Dx I : Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan
muntah serta intake terbatas (mual)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda
dehidrasi
Intervensi dan Rasional :
1. Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi sebagai upaya
rehidrasi untuk mengganti cairan.
2. Pantau intake dan output. yang keluar bersama feses.
3. Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan
cairan pengganti.
4. Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa
5. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif
Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui
Dx II : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi
nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan berat badan
Intervensi dan Rasional :
1.

Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.

2.

Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai
pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan Pembatasan diet per

oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga
terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah
keadaan klinis klien memungkinkan.
3.

Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet Memenuhi


kebutuhan nutrisi klien

4.

Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi Mengistirahatkan kerja


gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanju

Dx III : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri
berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal
Intervensi dan Rasional :
1. Atur

posisi

yang

nyaman

bagi

klien,

misalnya

dengan

lutut

fleksi.

Rasional : Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri


2. Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase
punggung dan kompres hangat abdomen.
Rasional : Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian klien dan
meningkatkan kemampuan koping
3. Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan
perawatan kulit.
Rasional : Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi
4. Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi.
Rasional : Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan
spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis
5. Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik
nyeri, petunjuk verbal dan non verbal.
Rasional : Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi
selanjutnya
Dx IV : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan keluarga
mengungkapkan kecemasan berkurang.

Intervensi dan Rasional :


1. Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik
tentang mekanisme koping yang tepat.
Rasional : Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif
pemecahan masalah
2. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien
yang anaknya mengalami masalah yang sama.
Rasional : Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satusatunya orang yang mengalami masalah yang demikian
3. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam
membantu klien.
Rasional : Mengurangi rangsang 5eksternal yang dapat memicu peningkatan
kecemasan
Dx V : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau
keterbatasan kognitif.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan keluarga
akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu
mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.
Intervensi dan Rasional :
1. Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang
penyakit dan perawatan anaknya.
Rasional :Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta
latar belakang pengetahuan sebelumnya.
2. Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap
gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.
Rasional : Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi
keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien

3. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta
efek samping yang mungkin timbul
Rasional : Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam
pengobatan.
4. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi
Rasional : Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan
perawatan diri anaknya
Dx VI : Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda kenyamanan
Intervensi dan Rasional :
1.

Anjurkan pada keluarga untuk selalu mengunjungi klien dan berpartisipasi dalam
perawatn yang dilakukan
Rasional : Mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan

2.

Berikan sentuhan dan berbicara pada anak sesering mungkin


Rasional :Memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress

3.

Lakukan stimulasi sensory atau terapi bermain sesuai dengan ingkat perkembangan
klien
Rasional : Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimum

D. Implementasi
Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah
direncanakan sebelumnya.
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila
ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana,
kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam
evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan
tercapai.