Anda di halaman 1dari 1

Dekomposisi Pada Airbag

Dekomposisi merupakan salah satu perubahan secara kimia yang membuat objek,
biasanya makhluk hidup yang mati dapat mengalami perusakan susunan/struktur yang
dilakukan oleh dekomposer(termasuk semut, belatung, bakteri, cacing, dan jamur). Reaksi
dekomposisi menjadikan suatu senyawa tunggal terurai menjadi dua atau lebih unsur atau
senyawa yang baru. reaksi ini sering melibatkan sumber energi seperti panas, cahaya, atau
listrik yang selain memecah ikatan senyawa. Kadang kadang, katalis akan mempercepat
reaksi atau membiarkannya berlangsung pada suhu yang lebih rendah. Reaksi ini digunakan
industri dalam produksi beberapa unsur - terutama logam reaktif dan di laboratorium untuk
analida sampel.Dalam beberapa senyawa, energi yang diperlukan untuk proses pembusukkan
kecil dan dapat disediakan oleh guncangan kecil, seperti dampak fisik. Salah satu senyawa
tersebut adalah azida timbal (Pb(N3)2, yang terurai eksplosif dan melepaskan gas hidrogen
jika mengalami dampaka yang cukup kecil. Natrium azida adalah sama, tapi sedikit kurang
sensitif, senyawa yang digunakan untuk mengembangkan airbag mobil saat tabrakan.
Airbag atau kantong udara merupakan perangkat keselamatan kendaraan bermotor
modern. Dalam kecelakaan lalu lintas, antara mobil dengan kendaraan lain atau objek tetap,
pengemudi dan penumpang dilindungi dengan kantong udara yang mengembang dalam
hitungan mili detik. Untuk mengembangkan kantong dengan sangat cepat, pada saat terjadi
kecelakaan, pemicu akan mengaktifkan reaksi kimia propelant dengan sangat cepat dan
menghasilkan gas N2 dalam waktu yang sangat singkat untuk mengembangkan kantong.
Proses pengembangan itu terjadi karena adanya reaksi dekomposisi, dan desain kantong
udara menggunakan prinsip stoikiometri.
Komposisi kimia kantong udara berbeda beda, tetapi biasanya menggunakan
campuran Natrium azida(NaN3), kalium nitrat(KNO3), dan silikon dioksida(SiO2) sebagai
reaktan sekunder. Dengan rangsangan listrik dari roll-over sensor, NaN3 akan terurai dalam
reaksi berikut
2 NaN3(s)

2 Na(s) + 3 N2(g)

Selanjutnya, untuk menghindari adanya kebakaran, akibat bertemunya Natrium dengan air,
maka natrium yang terbentuk segera akan bereaksi dengan KNO3 membentuk K2O, Na2O,
dan N2. Lalu K2O, Na2O akan bereaksi dengan SiO2, membentuk alkil silikat, zat yang tidak
reaktif dan tidak berbahaya bila dibuang.