Anda di halaman 1dari 11

ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM UROLOGI

PADA CYSTITIS

DI SUSUN OLEH :
1. AHMAD SIDQI EFENDI
2. ARIZONA
3. BAGUS ATITIA
4. DIAN PRASTIWI
5. DWI APRILIYANI
6. EKO PRAYUGO S
7. GALANG PRLYAN
8. FITRA NOR ABDILAH
9. KUKUH JIWANDONO
10. LASTRI DINI SAFITRI
11. SADITA ADHE
12. SANTI PURWANTI

(14.401.11.003)
(14.401.11.012)
(14.401.11.013)
(14.401.11.023)
(14.401.11.024)
(14.401.11.029)
(14.401.11.041)
(14.401.11.040)
(14.401.11.050)
(14.401.11.051)
(14.401.11.069)
(14.401.11.070)

AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA


PRODI DIII KEPERAWATAN
2012/2013

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah
ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan
sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang ASUHAN
KEPERAWATAN SISTITIS yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber.Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan.Baik itu yang
datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.Namun dengan penuh kesabaran
dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca.Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan.Penyusun mohon
untuk saran dan kritiknya.Terima kasih.

Krikilan,13 April 2013

Mahasiswa

KONSEP PENYAKIT SISTITIS


A. PENGERTIAN
Sistitis adalah inflamasi kendung kemih yang paling sering disebabkan oleh
menyebarnya infeksi dari uretra.(Brunner & Suddarth, 2002).
Cystitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh infeksi
asenden dari uretra.Penyebab lainnya mungkin aliran balik urine dari uretra kedalam
kandung kemih.Kontaminasi fekal atau penggunaan kateter atau sistoskop.
Beberapa penyelidikan menunjukkan 20% dari wanita-wanita dewasa tanpa
mempedulikan umur setiap tahun mengalami disuria dan insidennya meningkat sesuai
pertumbuhan usia dan aktifitas seksual, meningkatnya frekwensi infeksi saluran
perkemihan pada wanita terutama yang gagal berkemih setelah melakukan hubungan
seksual dan diperkirakan pula karena uretra wanita lebih pendek dan tidak mempunyai
substansi anti mikroba seperti yang ditemukan pada cairan seminal.
Infeksi ini berkaitan juga dengan penggunaan kontrasepsi spermasida-diafragma
karena kontrsepsi ini dapat menyebabkan obstruksi uretra parsial dan mencegah
pengosongan sempurna kandung kemih.Cistitis pada pria merupakan kondisi sekunder
akibat bebarapa faktor misalnya prostat yang terinfeksi,epididimitis, atau batu pada
kandung kemih.
Cystitis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu;
Cystitis primer;
Merupakan radang yang mengenai kandung kemih radang ini dapat terjadi karena
penyakit lainseperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi prostat dan
striktura uretra.
Cystitis sekunder;
Merupakan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari penyakit primer
misalnya uretritis dan prostatitis.
B. ETIOLOGI
Pada umumnya disebabkan oleh basil gram negatif Escheriachia Coli yang dapat
menyebabkan kira-kira 90% infeksi akut pada penderita tanpa kelainanurologis atau
kalkuli.Batang gram negatif lainnya termasuk proteus, klebsiella, enterobakter, serratea,
dan

pseudomonas

bertanggung

jawab

atas

sebagian

kecil

infeksitanpa

komplikasi.Organisme-organisme ini dapat dapat menjadi bertambah penting pada

infeksi-infeksi rekuren dan infeksi-infeksi yang berhubungan langsung dengan manipulsi


urologis, kalkuli atau obstruksi.
Pada wanita biasanya karena bakteri-bakteri daerah vagina kearah uretra atau dari
meatus terus naik kekandumg kemih dan mungkin pula karena renal infeksi tetapi yang
tersering disebabkan karena infeksi E.coli.
Pada pria biasanya sebagai akibat dari infeksi diginjal, prostat, atau oleh karena adanya
urine sisa(misalnya karena hipertropi prostat, striktura uretra, neurogenik bladder) atau
karena infeksi dari usus.
1. Jalur infeksi
Tersering dari uretra, uretra wanita lebih pendek membuat penyalkit ini lebih sering
ditemukan pada wanita
2. Infeksi ginjal yang sering meradang, melalui urine dapat masuk kekandung kemih.
Penyebaran infeksi secara lokal dari organ laindapat mengenai kandung kemih
misalnya appendiksitis.
3. Pada laki-laki prostat merupakan sumber infeksi.
C. Faktor predisposisi
Benda asing yang menyebabkan iritasi, misalnya kalkulus tumor dan faeces dari
fistula usus
Instrumentasi saat operasi menyebabkan trauma dan menimbulakn infeksi
Retensi urine yang kronis memungkinkan berkembang biaknya bakteri
Hubungan seksual
D. TANDA DAN GEJALA
pada umumnya tanda dan gejala yang terjadi pada cystitis adalah ;
peningkatan frekwensi miksi baik diurnal maupun nocturnal
disuria karena epitelium yang meradang tertekan
rasa nyeri pada daerah suprapubik atau perineal
rasa ingin buang air kecil
hematuria
demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah
E. PATOFISIOLOGI
Cystitis merupakan infeksi saluran kemih bagian bawah yang secara umum
disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu Escheriachia Coli peradangan timbul dengan
penjalaran secara hematogen ataupun akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah, baik
akut maupun kronik dapat bilateral maupun unilateral.
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui

1. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat saluran kemih yang
terinfeksi.
2. Hematogen yaitu penyebaran mikroorganisme patogen yang masuk melalui darah yang
terdapat kuman penyebab infeksi saluran kemih yang masuk melalui darah dari suplay
jantung ke ginjal.
3. Limfogen yaitu kuman masuk melalui kelenjar getah bening yang disalurkan melalui
helium ginjal.
4. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.
Dua jalur utama terjadi infeksi saluran kemih ialah hematogen dan ascending. Tetapi
dari kedua cara ini, ascending-lah yang paling sering terjadi.
Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang
rendah karena menderita suatu penyakit kronik atau pada pasien yang sementara mendapat
pengobatan imun supresif. Penyebaran hematogen bisa juga timbul akibat adanya infeksi
di salah satu tempat misalnya infeksi S.Aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran
hematogen dari fokus infeksi dari tulang, kulit, endotel atau di tempat lain.
Infeksi ascending yaitu masuknya mikroorganisme dari uretra ke kandung kemih dan
menyebabkan infeksi pada saluran kemih bawah.Infeksi ascending juga bisa terjadi oleh
adanya refluks vesico ureter yang mana mikroorganisme yang melalui ureter naik ke ginjal
untuk menyebabkan infeksi.
Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik
dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan
mukosa.Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada
dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui
berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada kasus infeksi kandung kemih pemeriksaan yang biasa dilakukan berdasarkan
literatur yang ada adalah ;
1. Pemeriksaan urine lengkap
2. Pemeriksaan USG abdomen
3. Pemeriksaan photo BNO dan BNO IVP
G. KOMPLIKASI
1. Pembentukan Abses ginjal atau perirenal
2. Gagal ginjal
H. PENGOBATAN
Tidak ada pengobatan standar ataupun pengobatan efektif untuk sistitis interstisialis.
Beberapa jenis pengobatan yang pernah dicoba dilakukan pada penderita sistitis
interstisialis:
Dilatasi (pelebaran) kandung kemih dengan tekanan hidrostatik (tenaga air)
Obat-obatan (elmiron, nalmafen)
Anti-depresi (memberikan efek pereda nyeri)
Antispasmodik
Klorapaktin (dimasukkan ke dalam kandung kemih)
Antibiotik (biasanya tidak banyak membantu, kecuali jika terdapat infeksi kandung
kemih)
DMSO (dimetilsulfoksida), untuk mengurangi peradangan
Pembedahan.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian pada klien ISK menggunakan pendekatan bersifat
menyeluruh yaitu :
Identitas
Hampir semua penderita kelainan system
urologi 95% menyerang pada wanita
Alasan Masuk Rumah Sakit
Biasanya klien menhgeluh sering kencing, kencingnya berwarna seperti teh, nyeri di
daerah di daerah suprapubic
Keluhan Utama
Sering kensing dan kencing berwarna seperti the
Pengkajian fisik :
1. Palpasi kandung kemih
2. Inspeksi daerah meatus
Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernihan urine
Pengkajian pada costovertebralis
Riwayat psikososial :
Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan
Persepsi terhadap kondisi penyakit
Mekanisme kopin dan system pendukung
Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga
Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit
Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis
2. Diagnosa Keperawatan
1) Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia) yang
berhubungan dengan Inflamasi pada kandung kemih
2) Nyeri akut yang berhubungan dengan proses penyakit
3) Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah
3. Perencanaan
1) Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan frekuensi dan atau nokturia)
yang berhubungan dengan Inflamasi pada kandung kemih
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat
mempertahankan pola eliminasi secara adekuat.
Kriteria :
Klien dapat berkemih setiap 3 jam
Klien tidak kesulitan pada saat berkemih
Klien dapat bak dengan berkemih
Intervensi :

a. Ukur dan catat urine setiap kali berkemih


Rasional : Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui
input/out put
b. Anjurkan untuk berkemih setiap 2 3 jam

Rasional : Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria.


c. Palpasi kandung kemih tiap 4 jam

Rasional : Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih.


d. Bantu klien ke kamar kecil, memakai pispot/urinal

Rasional : Untuk memudahkan klien di dalam berkemih.


klien
mendapatkan
posisi
berkemih

e. Bantu

yang

nyaman

Rasional : Supaya klien tidak sukar untuk berkemih.


2) Nyeri akut yang berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa
nyaman dan nyerinya berkurang.
Kriteria Hasil :
Pasien mengatakan / tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih.
Kandung kemih tidak tegang
Pasien nampak tenang
Ekspresi wajah tenang
Intervensi :
a. Kaji intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri.
Rasional : Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi
b. Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran.
Rasional : Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot-otot
c. Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi
Rasional :Untuk membantu klien dalam berkemih
d. Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi.
Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri

3) Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang


proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak memperlihatkan tandatanda gelisah.
Kriteria hasil :
Klien tidak gelisah
Klien tenang
Intervensi :
a. Beri support pada klien
Rasional : Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan YME.
b. Beri penjelasan tentang penyakitnya
Rasional : Agar klien mengerti

c. Kaji tingkat kecemasan


Rasional : Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien
d. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan
dan pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & suddarth.buku ajar keperawatan bedah,EGC,jakarta,2001
Doenges E.marilynn,rencana asuhan keperawatan;pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawat pasien,Jakarta.EGC.2000
http://perawatgila.wordpress.com/2008/12/18/cystitis/
http://zaa23.wordpress.com/2009/10/08/sistitis/
http://hidayat2.wordpress.com/2009/03/23/askep-uretro-sistitis/