Anda di halaman 1dari 13

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN

UNTUK TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)


DI KECAMATAN SELOPURO KABUPATEN BLITAR
Farkhatul Layli
Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial
Universitas Negeri Malang
E-mail: Khavapearl_11@yahoo.co.id
ABSTRAK: Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui
karakteristik lahan dan mengevaluasi tingkat kesesuaian lahan di Kecamatan
Selopuro Kabupaten Blitar. Metode penelitian ini adalah metode survei,
pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan di lapangan, uji laboratorium,
dokumentasi dan pengukuran di lapangan. Metode pengambilan sampel dalam
penelitian ini adalah purposive sampling dengan cara tumpang susun (overlay) Peta
Jenis Tanah, Peta Kemiringan Lereng, dan Peta Penggunaan Lahan. Metode
analisis dalam penelitian ini adalah pembandingan (matching). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa karakteristik lahan di Kecamatan Selopuro yaitu:
temperatur/suhu rata-rata 26,6 oC, curah hujan 2091 mm, lamanya masa kering
rata-rata 3,5 bulan, kelembaban 80%, drainase baik, tekstur tanah sedang
(lempung, lempung berdebu), halus (liat), agak kasar (lempung berpasir), bahan
kasar < 15 %, kedalaman efektif tanah > 100 cm, KTK Liat > 16, kejenuhan basa
> 30%, pH tanah 5,96,7, C-organik < 0,8%, lereng < 8% , tingkat bahaya erosi
sangat rendah/sangat ringan, batuan di permukaan < 5 % dan singkapan batuan < 5
%. Kesesuaian lahan untuk budidaya tanaman kakao di Kecamatan Selopuro
adalah S3 (sesuai marginal) pada semua unit lahan yaitu K.a.3, K.b.1, L.a.2, T.b.1.
Kata kunci: evaluasi kesesuaian lahan, tanaman kakao

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan
yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia
lapangan kerja, sumber pendapatan, dan devisa negara.Mengingat peranan perkebunan
kakao yang sangat penting tersebut, maka harus dilakukan peningkatan baik dalam hal
produksi maupun kualitas produk yang dihasilkan. Hal tersebut bermanfaat juga untuk
mendorong pertumbuhan perekonomian dan meningkatkan pendapatan masyarakat
khususnya bagi pekebun kakao.
Indonesia merupakan negara terbesar ke-2 penghasil kakao dengan jumlah produksi
pada tahun 2010 sebesar 850.000 ton, namun sebanyak 78,5% kakao yang dihasilkan
diekspor dalam bentuk biji kakao yang belum difermentasi, sehingga memiliki kualitas dan
harga yang rendah. Salah satu penyebabnya adalah pabrik pengolahan kakao yang ada di
Indonesia sangat terbatas. Jawa Timur hanya memiliki satu pabrik pengolahan kakao yaitu
di Surabaya, dan masih ada satu pabrik lagi yang sedang dalam tahap pembangunan di
Blitar.
Pembangunan pabrik pengolahan kakao tersebut memberikan peluang bagi
Kabupaten Blitar untuk mengembangkan komoditas kakao. Selain itu dalam rentang dua
tahun (2011-2012) Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menambah area penanaman
komoditas kakao seluas 5.000 ha. Pengembangan tersebut difokuskan di wilayah selatan
Jawa Timur termasuk Kabupaten Blitar untuk meningkatkan jumlah produksi komoditas
kakao.
1

Perkebunan kakao di Kabupaten Blitar sudah dikembangkan dengan total


produktifitas kakao di Kabupaten Blitar pada tahun 2010 sebesar 713,02 kg/ha/th dengan
luas lahan 2.325 ha. Kecamatan tersebut adalah Kecamatan Wates dengan jumlah produksi
kakao tertinggi yaitu 191,7 ton, diikuti Kecamatan Udanawu sebesar 103,9 ton, dan
Kecamatan Ponggok sebesar 82,6 ton, sedangkan Kecamatan Selopuro dengan luas
wilayah sebesar 39,29 km2 memiliki luas perkebunan sebesar 14 ha dan jumlah produksi
kakao sebesar 6,4 ton (Blitar dalam angka, 2010: 280).
Perkebunan kakao di Kecamatan Selopuro merupakan perkebunan rakyat dan
belum dikembangkan dalam bentuk perkebunan yang lebih besar yaitu hanya ditanam
biasa di halaman atau kebun dan tegalan. Pengembangan budidaya kakao ini harus
disesuaikan antara syarat tumbuh dengan karakteristik lahan, karena setiap penggunaan
lahan memiliki syarat yang berbeda-beda.
Tingkat kesesuaian suatu lahan untuk tanaman kakao berpengaruh terhadap
produktifitas kakao, dan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesesuaian lahan di
Kecamatan Selopuro untuk tanaman kakao perlu dilakukan evaluasi kesesuaian lahan.
Evaluasi kesesuaian lahan adalah suatu proses penilaian sumber daya lahan untuk
penggunaan tertentu, dalam hal ini yaitu untuk pengembangan perkebunan kakao. Hasil
evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman kakao digunakan sebagai pertimbangan dalam
mengembangkan dan meningkatkan produktifitas kakao di Kecamatan Selopuro.
Peningkatan hasil produksi kakao ini sangat penting karena peluangnya sangat
besar, mengingat kebutuhan biji kakao dunia belum dapat tercukupi sehingga wilayahwilayah yang berpotensi untuk dilakukan budidaya kakao harus dikembangkan. Penentuan
potensi suatu wilayah dalam hal ini adalah potensi pengembangan perkebunan kakao
memerlukan penilaian kesesuaian lahan karena perkebunan kakao yang dikembangkan di
Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar belum berdasarkan kesesuaian lahan.
Berlatar belakang dari pengembangan komoditas tanaman kakao di Kecamatan
Selopuro Kabupaten Blitar dan pentingnya evaluasi kesesuaian lahan maka penelitian ini
mengkaji tentang karakteristik lahan di Kecamatan Selopuro dan menentukan tingkat
kesesuaian lahan untuk budidaya tanaman kakao di wilayah tersebut.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode survei. Data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder, sedangkan teknik pengambilan data
dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi, uji laboratorium, pengukuran di lapangan,
dan wawancara. Objek yang digunakan berdasarkan dari hasil tumpang susun (overlay)
tiga jenis peta yaitu peta kemiringan lereng, peta penggunaan lahan, dan peta jenis tanah.
Hasil tumpang susun tersebut akan menghasilkan peta unit lahan. Berdasarkan peta unit
lahan dapat ditentukan titik sampel satuan lahan menggunakan teknik purposive sampling.
Analisis data yang digunakan adalah pembandingan (matching) antara karakteristik lahan
dengan kriteria kelas kesesuaian lahan.
Lokasi penelitian
Penelitian dilakukan di lahan yang ada di Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar
yang memiliki luas 39,29 km2.
Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan antara lain: Software ESRI ArcGIS 9.3, Alat tulis, Plastik,
Bor tanah, Meteran, Abney level, Kamera, GPS (Global Posisitioning System).
2

Subyek dan Objek Penelitian


1. Subjek
Subjek penelitian ini adalah lahan perkebunan, sawah tadah hujan, dan
tegalan/ladang di Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar.
2. Objek
Objek dalam penelitian ini adalah satuan unit lahan yang didapatkan dari hasil
tumpang susun (overlay) tiga jenis peta yaitu peta kemiringan lereng, peta penggunaan
lahan, dan peta jenis tanah. Hasil tumpang susun menghasilkan peta satuan unit lahan yang
dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan Objek penelitian. Metode pengambilan sampel
dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Hasil dari overlay dan pengambilan
sampel menggunakan purposive sampling terdapat empat unit lahan yaitu unit lahan K.a.3,
K.b.1, L.a.2, dan unit lahan T.b.1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari overlay tersebut didapatkan enam belas unit lahan yang keterangannya
dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Unit Lahan Wilayah Kecamatan Selopuro
No.

Unit Lahan

Jenis Tanah

1
P.a.2
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
2
P.a.3
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
3
P.b.1
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
4
P.b.2
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
5
P.c.2
Dystropepts, Tropodults, Troporthents
6
S.a.1
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
7
S.a.2
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
8
S.b.1
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
9
S.b.2
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
10
S.c.2
Dystropepts, Tropodults, Troporthents
11
K.a.2
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
12
K.a.3
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
13
K.b.2
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
14
T.b.1
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
15
T.b.2
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
16
L.a.2
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
(Sumber: Analisis Data 2012)
Keterangan:
P
= Permukiman
S
= Sawah Irigasi
K
= Perkebunan
T
= Sawah Tadah Hujan
L
= Tegalan/Ladang
a
= Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
b
= Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
c
= Dystropepts, Tropodults, Troporthents
1
= Kemiringan Lereng 0-2%
2
= Kemiringan Lereng 2-15%
3
= Kemiringan Lereng 15-40%

Kemiringan
Lereng
2-15 %
15-40 %
0-2 %
2-15 %
15-40 %
0-2 %
2-15 %
0-2 %
2-15 %
2-15 %
2-15 %
15-40 %
2-15 %
0-2 %
2-15 %
2-15 %

Penggunaan
Lahan
Permukiman
Permukiman
Permukiman
Permukiman
Permukiman
Sawah irigasi
Sawah irigasi
Sawah irigasi
Sawah irigasi
Sawah irigasi
Perkebunan
Perkebunan
Perkebunan
Sawah tadah hujan
Sawah tadah hujan
Tegalan/ladang

Dari semua unit lahan tersebut dilakukan pemilihan sampel untuk penelitian
menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh empat sampel yaitu K.a.1,
K.b.3, L.a.2, dan T.b.1, untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 1.2 sebagai
berikut:
Tabel 1.2 Sampel Penelitian di Kecamatan Selopuro
Sampel

Unit
lahan

Jenis tanah

Sampel 1
K.a.3
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
Sampel 2
K.b.1
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
Sampel 3
L.a.2
Ustropepts, Tropaquepts, Chromusterts
Sampel 4
T.b.1
Dystrandepts, Tropodults, Eutropepts
(Sumber: Analisis Data 2012)

1.

Kemiringan
Lereng

Penggunaan lahan

15-40 %
0-2 %
2-15 %
0-2 %

Perkebunan
Perkebunan
Ladang/tegalan
Sawah tadah hujan

Titik
pengambilan
sampel
Desa Ploso
Desa Popoh
Desa Popoh
Desa Popoh

Karakteristik lahan di Kecamatan Selopuro


Karakteristik lahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah karakteristik lahan
yang dapat mewakili kualitas lahan yaitu, temperatur (tc), ketersediaan air (wa),
ketersediaan oksigen (oa), retensi hara (nr), bahaya erosi (eh), bahaya banjir (fh) dan
penyiapan lahan (lp).
Penentuan nilai-nilai karakteristik lahan yang berhubungan dengan kedalaman
tanah seperti tekstur, Kapasitas Tukar Kation (KTK), reaksi tanah atau derajat keasaman
(pH), C-organik, dan Kejenuhan basa (KB) disesuaikan dengan kedalaman zone perakaran
dari tanaman yang dievaluasi, untuk berbagai tanaman tahunan yang berakar tunggang
(dikotil) perlu lebih dalam biasanya sampai kedalaman antara 60 sampai 100 cm
(Djaenudin, 2003: 4).
Berdasarkan hal tersebut, maka sampel tanah yang diambil dalam penelitian ini
adalah tanah yang berada pada kedalaman antara 60 sampai 100 cm, karena tanaman kakao
merupakan tanaman tahunan. Berikut ini adalah karakteristik lahan di daerah penelitian:

Tabel 1.3 Karakteristik Masing-Masing Unit Lahan di Daerah Penelitian


Hasil Pengukuran
Persyaratan penggunaan/
karakteristik lahan

K.a.3

K.b.1

L.a.2

T.b.1

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)

26,6oC

26,6oC

26,6oC

26,6oC

Ketersediaan air (wa)


Curah hujan (mm)
Lamanya masa kering (bln)
Kelembaban (%)

2093,6
3,5
80

2093,6
3,5
80

2093,6
3,5
80

2093,6
3,5
80

Ketersediaan oksigen (oa)


Drainase

Baik

Baik

Baik

Baik

Sedang
0
150

Halus
0
120

Sedang
0
115

Agak kasar
0
167

34,01
43
6,5
0,50

37,06
30
6,6
0,15

17,75
65
5,9
0,68

25,09
34
6,7
0,07

5
Sangat rendah

4
Sangat rendah

5
Sangat rendah

2
Sangat rendah

0
0

0
0

0
0

3
3

Media perakaran (rc)


Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif tanah (cm)
Retensi hara (nr)
KTK liat (me/100g)
Kejenuhan basa (%)
pH
C-organik (%)
Bahaya erosi (eh)
Kemiringan lereng (%)
Tingkat bahaya erosi
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Batuan tersingkap (%)
(Sumber: Analisis Data 2012)

2.

Tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman kakao di Kecamatan Selopuro


Tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman kakao di Kecamatan Selopuro dapat
diketahui setelah dilakukan pembandingan (matching) antara karakteristik lahan di
Kecamatan Selopuro dengan syarat tumbuh tanaman kakao. Karakteristik lahan di
Kecamatan Selopuro dapat diketahui melalui pengamatan dan pengukuran di lapangan, uji
laboratorium, serta melalui dokumentasi.
Menurut Rayes, 2006:141, metode matching untuk nilai kesesuaian lahan adalah
dengan membandingkan kelas kesesuaian lahan didasarkan pada nilai terendah (terberat)
sebagai faktor pembatas dalam evaluasi kesesuaian lahan. Pada metode faktor pembatas,
setiap sifat-sifat lahan atau kualitas lahan disusun berurutan mulai yang terbaik (yang
memiliki pembatas paling rendah) hingga yang terburuk atau yang terbesar
penghambatnya, sehingga faktor pembatas terkecil untuk kelas terbaik dan faktor pembatas
terbesar untuk kelas terburuk.
Hasil dari pembandingan (matching) tersebut yaitu kelas kesesuaian lahan untuk
tanaman kakao di Kecamatan Selopuro adalah S3 (sesuai marginal). Kelas S3 tersebut
dapat diartikan bahwa lahan memiliki faktor pembatas yang berat, dan untuk mengatasi
faktor pembatas tersebut memerlukan modal yang tinggi. Perincian mengenai hasil
evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman kakao di Kecamatan Selopuro ada pada Tabel
1.4.
5

Tabel 1.4 Hasil Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) di
Kecamatan Selopuro
Kelas kesesuaian lahan
Persyaratan penggunaan/
karakteristik lahan
K.a.3
K.b.1
L.a.2
T.b.1
Nilai
Kelas
Nilai
Kelas
Nilai
Kelas
Nilai
Kelas
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
26,6oC
S1
26,6oC
S1
26,6oC
S1
26,6oC S1
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm)
Lamanya masa kering (bln)
Kelembaban (%)

2093,6
3,5
80

S1
S3
S1

2093,6
3,5
80

S1
S3
S1

2093,6
3,5
80

S1
S3
S1

2093,6
3,5
80

S1
S3
S1

Ketersediaan oksigen (oa)


Drainase

Baik

S1

Baik

S1

Baik

S1

Baik

S1

Tekstur

Sedang

S1

Halus

S1

Sedang

S1

Bahan kasar (%)


Kedalaman efektif tanah (cm)

0
150

S1
S1

0
120

S1
S1

0
115

S1
S1

Agak
kasar
0
167

Retensi hara (nr)


KTK liat (me/100g)
Kejenuhan basa (%)
pH
C-organik (%)

34,01
43
6,5
0,50

S1
S1
S1
S3

37,06
30
6,6
0,15

S1
S2
S1
S3

17,75
65
5,9
0,68

S1
S1
S2
S3

25,09
34
6,7
0,07

S1
S2
S1
S3

5
Sangat
rendah

S1

4
Sangat
rendah

S1

5
Sangat
rendah

S1

2
Sangat
rendah

S1

Media perakaran (rc)

Bahaya erosi (eh)


Kemiringan lereng (%)
Tingkat bahaya erosi

S1

S1

S1

S1
S1
S1

S1

Penyiapan lahan (lp)


Batuan di permukaan (%)
0
S1
0
S1
0
S1
3
S1
Batuan tersingkap (%)
0
S1
0
S1
0
S1
3
S1
Kelas Kesesuaian Lahan
S3
S3
S3
S3
Sub Kelas Kesesuaian Lahan
S3wa, S3nr
S3wa, S3nr
S3wa, S3nr
S3wa, S3nr
Unit Kesesuaian Lahan
S3wa-2, S3nr-4
S3wa-2, S3nr-4
S3wa-2, S3nr-4
S3wa-2, S3nr-4
(Sumber: Analisis Data, 2012)
Keterangan:
S1 : Sangat Sesuai
S2 : Cukup Sesuai
S3 : Sesuai Marginal
S3wa
: Kelas sesuai marginal dengan faktor pembatas ketersediaan air
S3nr
: Kelas cukup sesuai dengan faktor pembatas retensi hara
S3wa-2
: Kelas sesuai marginal dengan faktor pembatas retensi hara untuk lamanya masa kering
S2nr-4
: Kelas cukup sesuai dengan faktor pembatas retensi hara untuk C-organik

Pembahasan
Berdasarkan Tabel 5.19 tersebut dapat diketahui bahwa unit-unit lahan tersebut
memiliki tingkat klasifikasi kesesuaian kelas S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), dan S3
(sesuai marginal). Faktor pembatas dari masing-masing unit lahan antara lain: kejenuhan
basa, pH, lamanya masa kering, dan C-organik. Faktor pembatas yang terberat adalah
lamanya masa kering, dan C-organik. Berikut adalah penjelasan kelas kesesuaian lahan
untuk tanaman kakao di daerah penelitian:
1. Kelas Sesuai Marginal (S3)
Unit lahan yang memiliki tingkat kesesuaian kelas sesuai marginal (S3) adalah
K.a.3, K.b.1, L.a.2, T.b.1, yaitu dengan faktor pembatas lamanya masa kering dan Corganik. Faktor pembatas tersebut termasuk dalam kualitas lahan ketersediaan air dan
retensi hara.
a. Faktor pembatas lamanya masa kering
Semua unit lahan yaitu K.a.3, K.b.1, L.a.2, T.b.1 memiliki rata-rata lamanya
masa kering yang sama yaitu 3,5 bulan. Menurut Djaenudin, 2003:183, lama masa
kering antara 3-4 bulan termasuk pada kelas kesesuaian S3 (sesuai marginal). Faktor
pembatas lamanya masa kering tersebut dipengaruhi oleh curah hujan. Curah hujan di
suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan geografi dan perputaran/pertemuan arus udara.
Oleh karena itu jumlah curah hujan selalu beragam menurut bulan dan letak stasiun
pengamat (Kabupaten Blitar dalam Angka, 2011: 45).
Rupa permukaan daratan (geomorfologi) dan ketinggian tempat (altitude) akan
mempengaruhi iklim. Pegunungan dapat berperan sebagai penghalang fisik pergerakan
angin. Akibatnya akan terjadi curah hujan yang relatif tinggi pada sisi pegunungan
yang menghadang angin (Lakitan, 2002: 22). Kecamatan Selopuro memiliki morfologi
dataran dan jauh dari pegunungan. Oleh karena itu Kecamatan Selopuro memiliki
masa kering yang cukup panjang.
Secara umum, untuk wilayah Indonesia di sekitar garis ekuator dicirikan oleh
musim kemarau yang singkat dan musim hujan yang panjang. Musim kemarau secara
berangsur-angsur menjadi lebih panjang untuk wilayah yang lebih jauh dari garis
ekuator ke arah selatan dan tenggara (Lakitan, 2002: 135).
Kecamatan Selopuro memiliki curah hujan rata-rata yang cukup tinggi yaitu
2093,6 mm. Curah hujan tersebut tidak tersebar secara merata pada tiap-tiap bulan,
selain itu pengaruh letak Kecamatan Selopuro yang jauh dari garis ekuator juga
mempengaruhi lamanya masa kering. Rata-rata Kecamatan Selopuro selama 3,5 bulan
mengalami bulan kering atau memiliki curah hujan < 60 mm.
Selain itu berdasarkan perbandingan rata-rata bulan kering dengan rata-rata
bulan basah menunjukkan bahwa unit-unit lahan tersebut termasuk tipe iklim C, yaitu
daerah dengan kriteria agak basah. Berdasarkan tipe iklim, kakao sangat ideal ditanam
pada daerah-daerah dengan tipe iklim B menurut Schmidt dan Fergusson (Siregar,
2011: 40). Sehingga faktor pembatas ketersediaan hujan untuk parameter lamanya
masa kering diklasifikasikan ke dalam kelas sesuai marginal (S3).
b. Faktor pembatas C-organik
Faktor pembatas ke dua dengan kategori kelas kesesuaian lahan S3 (sesuai
marginal) adalah C-organik. Nilai C-organik menunjukkan kandungan bahan organik
dalam tanah, bahan organik berperan dalam menyediakan sumber makanan bagi
tumbuhan. Jumlah C-organik berdasarkan hasil uji laboratorium pada semua unit lahan
sangat rendah yaitu kurang dari 0,8%.
Menurut Djaenudin, 2003:183, C-organik < 0,8% termasuk pada kelas
kesesuaian S3 (sesuai marginal). Hal tersebut juga dijelaskan oleh Siregar, dkk,
7

2011:45, yang menyatakan bahwa zat organik pada lapisan tanah setebal 0-15 cm
sebaiknya lebih dari 3%. Kadar tersebut setara dengan 1,75% unsur karbon yang dapat
menyediakan hara dan air serta struktur tanah yang gembur.
2. Kelas S2 (cukup sesuai)
a. Faktor pembatas kejenuhan basa (KB)
Faktor pembatas ke dua adalah kejenuhan basa, unit lahan K.b.1 dan T.b.1
memiliki nilai kejenuhan basa rendah yaitu 30% dan 34% sehingga berdasarkan
kriteria kesesuaian Djaenudin, 2003:189, diklasifikasikan ke dalam kategori kelas
cukup sesuai (S2). Nilai kejenuhan basa yang rendah menunjukkan tanah memiliki
tingkat kesuburan rendah.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, dapat diketahui bahwa jumlah KB rendah
karena memiliki jumlah basa yang rendah. Jumlah KB pada unit lahan K.b.1 dan T.b.1
lebih rendah dibandingkan dua unit lahan lainnya yaitu 11,14 dan 8,45. Faktor yang
menyebabkan jumlah basa rendah pada unit lahan K.b.1 adalah jumlah Na yaitu
sebesar 0,34 me/100g, sedangkan pada unit lahan T.b.1 adalah K dengan jumlah 0.01
me/100g.
b. Faktor pembatas pH
Faktor pembatas ke tiga adalah pH yang terdapat pada unit lahan L.a.2 yaitu
sebesar 5,9. Sementara besarnya pH yang dikehendaki oleh tanaman kakao menurut
Djaenudin, 2003:189 berkisar antara 6 7, sehingga diklasifikasikan dalam kelas
kesesuaian S2 (cukup sesuai). Siregar, dkk, 2011: 44, juga mengatakan bahwa
tanaman cokelat dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki keasaman (pH)
6-7,5, tidak lebih tinggi dari 8, serta tidak lebih rendah dari 4.
Besarnya pH menunjukkan tingkat keasaman tanah, semakin tinggi tingkat
keasaman tanah semakin tinggi pula bahan organik. Akan tetapi tingkat keasaman
yang terlalu tinggi akan mengurangi kesuburan tanah. Selain menunjukkan tingkat
keasaman tanah, pH juga menunjukkan adanya unsur-unsur yang bersifat racun bagi
tanaman. Tanah dengan pH yang rendah mengindikasikan tanah tersebut mangandung
unsur alumunium yang bersifat racun dan mengikat phosfor sehingga tidak dapat
diserap oleh tanaman.
pH rendah mengindikasikan bahwa tingkat kemasaman tanah tinggi dan Corganik juga tinggi. Perlu diketahui bahwa besar pH di unit lahan L.a.2 adalah 5,9
dengan jumlah C-organik 0,68%. Jumlah C-organik pada unit lahan ini adalah jumlah
yang paling besar di antara unit lahan lainnya. Besarnya jumlah C-organik tersebut
menyebabkan tingkat kemasaman semakin tinggi atau pH rendah, karena semakin
banyak ion H+ yang dilepas oleh bahan organik yang berasal dari proses dekomposisi
bahan organik .
Faktor-faktor pembatas pada masing-masing unit lahan tersebut harus diatasi
dengan cara dilakukan perbaikan sehingga semua unit lahan dapat digunakan untuk
budidaya tanaman kakao. Faktor pembatas yang harus segera diatasi adalah faktor
pembatas terberat. Menurut Rayes (2006:186), usaha perbaikan terdiri dari tiga tingkat
pengelolaan:
a. Tingkat pengelolaan rendah: pengelolaan dapat dilakukan oleh petani
dengan biaya yang relatif rendah.
b. Tingkat pengelolaan sedang: pengelolaan dapat dilakukan pada tingkat
petani menengah, memerlukan modal yang cukup besar dan teknik
pertanian sedang.

c. Tingkat pengelolaan tinggi: pengelolaan hanya dapat dilakukan dengan


modal yang relatif besar, umumnya dilakukan oleh pemerintah atau
perusahaan besar, atau menengah.
Berikut ini adalah upaya-upaya untuk mengatasi faktor-faktor pembatas pada
masing-masing unit lahan:
1. Usaha perbaikan pada kelas kesesuaian lahan S3 (sesuai marginal)
a. Faktor pembatas lamanya masa kering
Faktor pembatas lamanya masa kering dapat diperbaiki melalui pembuatan
saluran irigasi atau pengairan. Cara ini juga dimaksudkan untuk bisa menjaga
ketersediaan air pada bulan-bulan kering, sehingga tanaman kakao tidak mengalami
kekeringan. Cara tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kelas kesesuaian lahan
dari S3 (sesuai marginal) menjadi S2 (cukup sesuai) dengan tingkat pengelolaan
sedang.
b. Faktor pembatas C-organik
Kandungan bahan organik ditentukan berdasarkan jumlah C-organik, bahan
organik tersebut sangat berperan secara fisik, kimia, dan biologis dalam menentukan
tingkat kesuburan tanah. Faktor pembatas C-organik ini dapat diatasi dengan
pemberian bahan organik berupa pupuk organik. Pupuk organik tersebut dapat berupa
pupuk kompos dan pupuk kandang.
Pupuk kompos berasal dari hasil pengolahan sisa-sisa tanaman yang
mengandung banyak mikroorganisme. Sementara pupuk kandang berasal dari hasil
pengolahan kotoran hewan. Berdasarkan penelitian Hanafiah (dalam Hanafiah, 2007:
181) bahwa pupuk kandang dari kotoran ayam 20 ton/ha dapat meningkatkan nilai Corganik 0,43%.
Usaha meningkatkan kadar zat organik dapat pula dilakukan dengan
memanfaatkan serasah sisa pemangkasan maupun pembenaman buah cokelat. Kulit
buah cokelat sebagai mengandung zat organik sebanyak 900 kg/ha, dan dapat
memberikan hara yang setara dengan 29 kg urea, 9 kg RP, 56,6 kg MoP, dan 8 kg
kieserit. Daun dari tanaman penaung seperti gliricida, juga mampu menambahkan
unsur hara. Sebanyak 1.990 kg/ha/tahun daun gliricida yang jatuh memberikan hara
nitrogen sebesar 40,8 kg/ha, fosfor 1,6 kg/ha, kalium 25 kg/ha, dan magnesium 9,1
kg/ha (Siregar,dkk, 2011: 46).
Pemberian pupuk organik tersebut bermanfaat untuk menggemburkan lapisan
tanah di permukaan, meningkatkan populasi jasad renik, dan mempertinggi daya serap
dan daya simpan air. Hal tersebut dapat meningkatkan kesuburan tanah, dan
meningkatkan kelas kesesuaian lahan dari S3 (sesuai marginal) menjadi S2 (cukup
sesuai) dengan tingkat pengelolaan rendah. Pengelolaan lahan dengan tingkat
pengelolaan tinggi dapat meningkatkan dua kelas dari S3 (sesuai marginal) menjadi S1
(sangat sesuai).
2. Usaha perbaikan pada kelas kesesuaian lahan S2 (cukup sesuai)
a. Faktor pembatas kejenuhan basa
Kejenuhan Basa (% KB) adalah perbandingan antara kadar kation basa dengan
KTK efektif (Hanafiah, 2007:147). Usaha perbaikan dalam meningkatkan kejenuhan
basa dalam tanah adalah dengan cara menambah unsur asam dalam tanah. Unsur asam
dalam tanah dapat ditingkatkan dengan cara pemberian kapur, supaya kejenuhan basa
meningkat.
Nilai kejenuhan basa yang dibutuhkan untuk meningkatkan kelas kesesuaian
lahan dari kelas cukup sesuai (S2) menjadi kelas sangat sesuai (S1) adalah > 35%.
Dengan demikian penambahan kapur yang dibutuhkan untuk tambahan 10%
9

kejenuhan basa adalah 1 ton CaCO3 100 ha-1 dengan asumsi tanah 2000 ton/hektar
(Hanafiah, 2005: 163).
Upaya lain adalah dengan penambahan bahan organik yang didapatkan dari
pemupukan, baik pupuk kandang, pupuk hijau atau pupuk kompos. Pemberian bahan
organik tersebut dapat meningkatkan jumlah kejenuhan basa karena bahan organik
berkaitan dengan KTK, dan KTK juga mempengaruhi besar kecilnya kejenuhan basa.
Meningkatnya jumlah kejenuhan basa pada unit lahan K.b.1 dan T.b.1 dapat
meningkatkan kelas kesesuaian lahan dari S2 (cukup sesuai) menjadi S1 (sangat
sesuai).
b. Faktor pembatas pH
Unit lahan L.a.2 memiliki pH sebesar 5,9, dengan pH tersebut tanaman kakao
tidak dapat tumbuh dengan baik karena tanaman kakao menghendaki pH antara 6-7.
Meningkatkan pH dapat dilakukan dengan cara pengapuran. Pemberian kapur
bertujuan untuk meningkatkan pH tanah dari sangat masam atau masam ke pH agak
netral atau netral, serta menurunkan kadar Al.
Kadar Ca dan Mg dapat dinaikkan dengan memberikan dapat diberikan
dolomit, selain meningkatkan pH tanah pemberian kapur juga dapat meningkatkan
kadar Ca dan kejenuhan basa. Terdapat hubungan yang sangat nyata antara takaran
kapur dengan Al dan kejenuhan Al. Dosis kapur disesuaikan dengan pH tanah,
umumnya sekitar 3 ton/ha, berkisar antara 1-5 ton/ha. Kapur yang baik adalah kapur
magnesium atau dolomit yang dapat sekaligus menyuplai Ca dan Mg (Maspary, 2011).
Meningkatnya pH akan meningkatkan kesuburan tanah karena unsur-unsur
yang bersifat racun bagi tanaman menjadi menurun. Usaha perbaikan pH tersebut
dapat meningkatkan kelas kesesuaian lahan dari S2 (cukup sesuai) menjadi S1 (sangat
sesuai) dengan tingkat pengelolaan sedang.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Evaluasi Kesesuaian Lahan
untuk Tanaman Kakao (Theobroma cacao, L) di Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Karakteristik lahan di Kecamatan Selopuro yaitu: temperatur/suhu rata-rata 26,6 oC,
curah hujan 2093,6 mm, lamanya masa kering rata-rata 3,5 bulan, kelembaban 80%,
drainase baik, tekstur tanah sedang (lempung, lempung berdebu), halus (liat), agak
kasar (lempung berpasir), bahan kasar < 15 %, kedalaman efektif tanah > 100 cm,
KTK Liat > 16, kejenuhan basa > 30%, pH 5,96,7, C-organik < 0,8%, lereng < 8% ,
tingkat bahaya erosi sangat rendah/sangat ringan, batuan di permukaan < 5 %, dan
batuan tersingkap < 5 %.
2. Kesesuaian lahan untuk budidaya tanaman kakao di Kecamatan Selopuro pada unit
lahan K.a.3, K.b.1, L.a.2, T.b.1 tergolong dalam klasifikasi tingkat kesesuaian lahan
S3 (sesuai marginal).
Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas maka penelitian ini memberikan


informasi dan saran untuk pemanfaatan lahan Kecamatan Selopuro khususnya untuk
pembudidayaan tanaman kakao, diantaranya sebagai berikut:
1. Melakukan penanganan terhadap karakteristik lahan yang menjadi faktor penghambat
bagi pertumbuhan tanaman kakao.
10

2.

3.

Masyarakat dapat memanfaatkan lahan untuk budidaya tanaman kakao dengan tetap
memperhatikan pengelolaan lahan yang sesuai dengan kesesuaian lahan. Masyarakat,
sebelum melakukan budidaya tanaman kakao hendaknya memperhatikan karakteristik
lahan yang sesuai untuk tanaman kakao serta cara pembudidayaan yang tepat.
Bagi pemerintah daerah yaitu supaya dapat mendukung kegiatan budidaya tanaman
kakao dengan cara memberikan bantuan modal, menyediakan bibit unggul, serta
melakukan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan
perekonomian masyarakat yang secara tidak langsung juga dapat meningkatkan
pendapatan daerah.

DAFTAR RUJUKAN
. 2011. Jatim Kekurangan Pabrik Pengelolah Kakao (Online),
(http://mediarakyatonline.com/jatim-kekurangan-pabrik-pengelolah-kakao.html),
diakses 08 Januari 2012.
____ . 2011. Jatim Tambah Lahan Kakao Hingga 5.000 hektare (Online),
(http://jpmi.or.id/2011/11/12/jatim-tambah-lahan-kakao-hingga-5-000hektare/kebun-kakao/), diakses 08 Januari 2012.
____
.
2011.
Tanah-tanah
di
Indonesia.
(Online),
(http://fandicka.blog.com/2011/03/25/tanah-tanah-di-indonesia/), diakses 10 Juli
2012.
____
.
Kakao
(Online),
(http://www.disbun.jabarprov.go.id/assets/.../Budidaya%20Tan.%20Kakao.d...),
diakses 10 Juli 2012.
Abdissalam, dkk. 2009. Identifikasi Gunung Api Purba Karangtengah di Pegunungan
Selatan Wonogiri, Jawa Tengah. Jurnal Geologi Indonesia.(4): 253-267.
Arsyad, Sitanala. 2006. Konservasi Tanah Dan Air. Bogor: IPB Press.
Badan Perijinan Dan Penanaman Modal Daerah Provinsi Kalimantan Timur. 2009.
Prospek Menggiurkan Investasi Budidaya Kakao. Kalimantan Timur.
BPS Kabupaten Blitar. 2010. Kecamatan Selopuro dalam Angka 2010. Blitar: Cipta Indah
Blitar.
Buringh, P. 1991. Pengantar Pengkajian Tanah-Tanah Wilayah Tropika dan Subtropika.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Darmawijaya,M. Isa. 1992.Klasifikasi Tanah Dasar. Teori Bagi Peneliti Tanah dan
Pelaksana Pertanian di Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Dinas PU Bina Marga dan Pengairan. 2011. Data Curah Hujan Bulanan Kabupaten Blitar
Tahun 2001-2011. Blitar: Kantor PU Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Blitar.
Djaenudin, Marwan H., H. Subagyo, Mulyani, Anny., Suharta. 2003. Kriteria Kesesuaian
Lahan untuk Komoditas Pertanian. Jakarta: Pusat penelitian tanah dan agroklimat,
badan pengembangan penelitian dan pengembangan pertanian.
Foth, Henry D. 1995. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan Oleh Endang Dwi Purbayanti,
Dwi Retno Lukiwati, Rahayuning Trimulatsih, Editor Sri Andayani B. Hudoyo.
Gajahmada University Press, edisi ketujuh, 718pp.
Hanafiah, Ali, Kemas. 2007. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Hardjowigeno, Sarwono. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: CV
AKADEMIKA PRESSINDO
Kabupaten Blitar Dalam Angka 2011. 2011. Blitar: Badan Pusat Statistik Kabupaten
Blitar.
____

11

Lakitan, benyamin. 2002. Dasar-Dasar Klimatologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada


Maspary.
2011.
Mengatasi
Tanah
Masam
dan
Basa,
(Online),
(http://www.gerbangpertanian.com/2011/11/mengatasi-tanah-masam-dan-basa.html),
diakses 28 Juli 2012.
Mega, I Made, dkk. 2010. Buku Ajar Klasifikasi Tanah dan Kesesuaian Lahan. Denpasar:
Universitas Udayana.
Mega.
2011.
Fotosintesis
Tumbuhan
C3,
C4,
dan
CAM.
(Online),
(http://20de.wordpress.com/2011/11/30/fotosintesis-tumbuhan-c3-c4-dan-cam/),
diakses 05 Agustus 2012.
Narbuko, Kholid dan Achmadi, Abu. 2001. Metodologi Penelitian: Memberikan Bekal
Teoritis pada Mahasiswa Tentang Metodologi Penelitian serta Diharapkan Dapat
Melaksanakan Penelitian dengan Langkah-Langkah yang Benar. Jakarta: Bumi
Aksara.
Nasution, S. 2002. Metode Research: Penelitian Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara
Nurmaningsih, Mitha rokh, 2010. Evalusi Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Sengon
(Albizia Falcataria) pada Tanah Regosol di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang.
Skripsi tidak diterbitkan. Malang: UM
Panduan Praktis Budidaya Kakao (Theobroma cacao). 2008. Balai Penelitian Tanah,
Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian: Bogor.
Petunjuk Teknis Konservasi Lahan dan Air. 2007. Balai Besar LITBANG Sumberdaya
Lahan Pertanian, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen
Pertanian.
Rayes, M. Luthfi. 2006. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Yogyakarta: ANDI.
Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Blitar Tahun 2008-2028. 2008. Blitar: Badan
Pusat Statistik Kabupaten Blitar.
Ritung S, Wahyunto, Agus F, Hidayat H. 2007. Panduan Evaluasi Kesesuaian Lahan
dengan Contoh Peta Arahan Penggunaan Lahan Kabupaten Aceh Barat. Balai
Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor, Indonesia.
Siregar, T.HS., S, Riyadi dan L, Nuraeni. 2011. Budidaya Cokelat. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Sitorus, santun. 1985. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bandung: Tarsito.
Tjasjono, Bayong. 2004. Klimatologi Umum. Bandung: Penerbit ITB.
Universitas Negeri Malang. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis,
Disertasi, Artikel, Makalah, Tugas Akhir, Laporan Penelitian. Malang: UM.
Viber. 2008. Syarat Pertumbuhan dan Perkembangbiakan Kakao, (Online),
(http://viber.wordpress.com/budidaya-kakao/syarat-pertumbuhan-danperkembangbiakan-kakao/), diakses 19 Juli 2012.
Widodo, Wahyu, dkk. Inventarisasi dan Evaluasi Mineral Logam di Pegunungan Selatan
Jawa
Timur
(Kabupaten
Pacitan,
Dll),
(Online),
(http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=268&
Itemid=30

12

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN


UNTUK TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)
DI KECAMATAN SELOPURO KABUPATEN BLITAR

ARTIKEL

OLEH
FARKHATUL LAYLI
NIM 108821417249

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
PROGRAM STUDI S-1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
AGUSTUS 2012
13