Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA

KECEMASAN (ANSIETAS)

DISUSUN OLEH
KELOMPOK VIII
1. INDRAWATI R. USIA
2. SRI UTAMI
3. INDAH RATNASARI
4. IQRA NURUl ARSITA
5. LEKSIANUS PORENG
6. BERTORIUS DJENGA

12.1101.031
12.1101.039
12.1101.009
12.1101.047
12.1101.019
12.1101.061

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2014

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan


meningkatnya jumlah penderita penyakit jiwa, terutama gangguan
kecemasan. Berbagai macam krisis yang terjadi sebenarnya bukan krisis
ekonomi sebagai pangkal masalahnya, melainkan mendasar pada
kesehatan mental bangsa ini sendiri. Minimnya perhatian terhadap
kesehatan mental bangsa termanifestasi dalam begitu banyak masalah
yang disebut krisis multidimensional. Pernyataan ini dinyatakan dengan
jelas oleh dr. Danardi Sosrosumihardjo, Sp.K.J., dari Perhimpunan Dokter
Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dalam konferensi pers
Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa ke-2, yang bertema Kesehatan Jiwa
Masyarakat, Kesehatan Jiwa Bangsa, pada hari Kamis (9/ 10) di Jakarta.
Pernyataan ini bukanlah tanpa dasar. Krisis ekonomi yang terus
berkepanjangan ternyata meninggalkan kisah-kisah menyedihkan dengan
meningkatnya jumlah penderita ganngguan jiwa, terutama jenis anxietas
(gangguan kecemasan). Gejala gangguan kesehatan mental yang
mencakup mulai dari gangguan kecemasan, depresi, panik hingga
gangguan jiwa yang berat seperti Schizoprenia hingga pada tindakan
bunuh diri, semakin mewabah di tengah masyarakat. Dari sekian jumlah
penderita yang ada baru 8% yang mendapatkan pengobatan yang
memadai. Sedangkan selebihnya tidak tertangani.
Masalah gangguan jiwa yang menyebabkan menurunnya kesehatan
mental ini ternyata terjadi hampir di seluruh negara di dunia. WHO (World
Health Organization) badan dunia PBB yang menangani masalah
kesehatan dunia, memandang serius masalah kesehatan mental dengan
menjadikan isu global WHO. WHO mengangkat beberapa jenis gangguan
jiwa seperti Schizoprenia, Alzheimer, epilepsy, keterbelakangan mental
dan ketergantungan alkohol sebagai isu yang perlu mendapatkan
perhatian.
B.

Tujuan

Tujuan disusunnya laporan ini adalah agar dapat:


1.
Membedakan antara ansietas normal dengan ansietas yang
dialami pada gangguan ansietas
2.

Membedakan antara ansietas, takut, dan stres

3.

Menjelaskan akibat positif dan negatif ansietas

4.
Menjelaskan tingkat ansietas dengan perubahan prilaku yang
terkait dengan setiap tingkat tersebut

5.
Mendiskusikan penggunaan mekanisme pertahanan oleh individu
yang mengalami gangguan ansietas

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ansietas
Ketakutan/kekhawatiran pada sesuatu yang tdk jelas dan
berhubungan dengan perasaan tidak menentu dan tak berdaya
(helplessness).
Perasaan isolasi, terasing, dan terancam mungkin dialami.
Individu mempersepsikan kepribadiannya terancam.
Berhenti kalau mati.
Karakteristik ansietas
Mpk emosi dan bersifat subyektif.
Sumber tdk jelas (takut ~ sumber jelas).
Bisa ditularkan
Terjadi akibat adanya ancaman pada harga diri, identitas diri.
Perlu adanya keseimbangan antara keberanian dan kecemasan
Tingkat ansietas
1. Ansietas ringan: pd kehidupan sehari-hari. Individu sadar. Lahan
persepsi meningkat (mendengar, melihat, meraba lebih dari
sebelumnya). Perlu untuk memotivasi belajar, pertumbuhan, dan
kreativitas.
2. Ansietas sedang: lahan persepsi menyempit (melihat, mendengar,
meraba menurun dpd sblmnya). Fokus pd perhatian segera.
3. Ansietas berat: lahan persepsi sangat sempit, hanya bisa
memusatkan perhatian pd yg detil, tdk yg lain. Semua perilaku
ditujukan untuk menurunkan ansietas.
4. Panik: hilang kontrol, hanya bisa menurut perintah
Tak bisa melakukan sesuatu tanpa perintah atau arahan.
Disorganisasi kepribadian.
Meningkatnya aktivitas motorik
Menurunnya kemampuan menghubung-hubungkan Distrosi persepsi
Hilangnya pikiran rasional

Hilangnya komunikasi dan fungsi efektif.


Bila berlangsung berkepanjangan menyebabkan exhaustion ~ kematian
B. Rentang respon
Adaptif
mal adaptif

antisipasi

ringan

sedang

berat panik

a. Faktor predisposisi
1. Teori Psikoanalisa: ansietas mpk konflik elemen kepribadian id
dan super ego (dorongan insting dan hati nurani). Ansietas
mengingatkan ego akan adanya bahaya yg perlu diatasi.
2. Teori interpersonal: ansietas terjadi krn ketakutan penolakan dlm
hub interpersonal. Dihubungkan dg trauma masa pertumbuhan
(kehilangan, perpisahan) yg menyebabkan ketdkberdayaan). Idv
yg harga diri rendah mudah mengalami ansietas.
3. Teori perilaku; ansitas timbul sbg akibat frustrasi yg disebabkan
oleh sesutu yg mengganggu pencapaian tujuan. Mrpk dorongan
yg dipelajari utk menghindari rasa sakit/nyeri. Ansietas
meningkat jika ada konflik (konflik ~ ansietas ~ helplessness)
4. Kondisi keluarga: ansietas dpt timbul secara nyata dlm keluarga.
Ada overlaps gg ansietas dan depresi.
5. Keadaan biologis: dpt dipengaruhi dan mempengaruhi ansietas.
Ansietas terjadi akibat GABA >>. Ansietas dpt memperburuk
penyakit (hipertensi, jantung, peptic ulcers). Kelelahan
mengakibatkan idv mudah terangsang dan merasa ansietas.
b. Faktor prespitasi
1. Ancaman integritas fisik: ketidakmampuan fisiologis dan
menurunnya kemampuan melaksanakan ADL.
2. Ancaman thd sistem diri; mengancam identitas, harga diri,
integrasi sosial. Mis: phk, kesulitan peran baru.
3. Gabungan: penyebab timbulnya ansietas gabungan dr genetik,
perkembangan, stresor fisik, stresor psikososial.
c. Prilaku
1. Ansietas dpt diekspresikan lgs melalui perubahan fisiologis dan
perilaku scr tdk lgs melalui timbulnya gejala/mekanisme koping
utk mempertahankan diri dari ansietas.

d.

e.

f.

C.

2. Respon fisiologis dpt terjadi pd sistem kardiovaskuler,


pernafasan, meuromuskuler, GI, perkemihan, dan kulit
3. Perilaku: motorik, afektif, kognitif
Efek fisiologis ansietas
1. Kardiovaskuler: palpitasi, berdebar-debar, TD, pinsan, TD, N .
2. Pernafasan: P, nafas pendek, dada sesak, nafas dangkal, rasa
tercekik, terengah-engah.
3. Neuromuskuler: refeks, terkejut, mata berkedip-kedip, insomnia,
tremor, kaku-kaku, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum,
gerakan lambat, kaki goyah.
4. Gastrointestinal: hilang nafsu makan, menolak makan, abdomen
tdk nyaman, nyeri abdomen, mual, perih, diare.
5. Sistem perkemihan: tekanan utk b.a.k., sering b.a.k.
6. Kulit: wajah kemerahan, keringat lokal, gatal-gatal, rasa panas
dingin, wajah pucat, berkeringat seluruh tubuh.
Respon prilaku
1. Motorik: gelisah, ketegangan fisik, tremor, sering kaget, bicara
cepat, kurang koordinasi, cenderung celaka, menarik diri,
menghindar, menahan diri, hiperventilasi.
2. Kognitif: gg perhatian, tak bisa konsentrasi, pelupa, salah tafsir,
pikiran blocking, menurunnya lahan persepsi, bingung,
kesadaran diri berlebihan, waspada berlebihan, hilangnya
obyektivitas, takut hilang kontrol, takut luka/mati.
3. Afektif: tdk sabar, tegang, nervous, takut berlebihan, teror,
gugup, sangat gelisah.
Mekanisme koping
1. Task Oriented (orientasi pd tugas)
a. Dipirkan utk memecahkan masalah, konflik, memenuhi
kebutuhan.
b. Realistis memenuhi tuntutan situasi stres
c. Disadari dan berorientasi pd tindakan
d. Berupa reaksi: melawan (mengatasi rintangan utk
memuaskan kebutuhan), menarik diri (menghilangkan
sumber ancaman fisik atau psikologis), kompromi
(mengubah cara, tujuan utk memuaskan kebutuhan)
2. Ego oriented:
a. Task oriented tdk selalu berhasil
b. Melindungi self
c. Berguna pd ansietas ringan ~ sedang
d. Melindungi dr perasaan inadequacy dan buruk
e. Berupa penggunaan mekanisme pertahanan diri (defens
mechanism)
Masalah keperawatan
1. Harga diri rendah
2. Gangguan citra tubuh
3. Ansietas
4. Koping individu tdk efektif

5. Kurangnya pengetahuan
D. Pohon masalah

g
sa
kh
g
tn
ua
n
rrrs
cag
i
e
ina
se
rgd
ts
a
o
pia
tesir
u
nrfi
b
s
ge
u
i
en
h
td
k
aa
hh
u
a
n

t
r

E. Diagnosa keperawatan
Menurut NANDA:
Ansietas
Koping individu tidak efektif
Contoh dx lengkap:
Ansietas berat b.d. konflik seksual ditandai dg mencuci tangan
berulang-ulang, pikiran kotor dan adanya kuman yg sering
timbul.
Ansietas sedang b.d. prestasi sekolah yg buruk
dimanifestasikan dg denial dan rasionalisasi yg berlebihan.
Koping individu tak efektif b.d. kematian anak,
dimanifestasikan dg ketdkmampuan mengingat kembali
peristiwa kecelakaan.
Tujuan
Menurunkan tingkat kecemasan klien.
Mendukung dan melindungi klien
F. Tindakan keperawatan pada ansietas beras-panik
Tujuan: memberi dukungan, melindungi, dan menurunkan tingkat
ansietas pada tkt sedang atau ringan.

Bina hubungan saling percaya dan terbuka: dengarkan keluhan,


dukung utk menceritakan perasaan, jawab pertanyaan scr lags,
menerima tanpa pamrih, hargai pribadi klien.
Sadari dan kontrol perasaan diri perawat: bersikap terbuka sesuai
perasaan, terima perasaan positif maupun negatif termasuk
perkembangan ansietas, menggali penyebab ansietas, pahami
perasaan diri secara terapeutik.
Yakinkan klien ttg manfaat mekanisme koping yg bersifat
melindungi dan tdk memfokuskan diri pd perilaku maladaptif:
terima dan dukung klien; tdk menentang klien; nyatakan perawat
bisa memahami rasa sakit tetapi tdk memfokuskan pada rasa
tersebut; beri umpan balik thd perilaku, stresor, dampak stresor dan
sumber koping; dukung ide keh fisik berhub dg kesehatan mental;
batasi perilaku maladaptif dg cara suportif.
Identifikasi dan mencoba menurunkan situasi yg menimbulkan
ansietas: sikap tenang; lingkungan tenang; batasi kontak dg klien
lain; identifikasi dan modifikasi hal yg menimbulkan cemas; terapi
fisik: mandi air hangat, pijat
Anjurkan melakukan aktivitas di luar yg menarik; share aktivitas yg
sering dilakukan; latihan fisik; buat rencana harian; libatkan
keluarga dan support system.
Tingkatkan kesehatan fisik: beri obat-obatan yg meningkatkan rasa
nyaman; observasi efek samping obat dan beri pendidikan
kesehatan yang sesuai.
G. Tindakan keperawatan pada ansietas sedang
1. Bina hubungan saling percaya:
Dengar dengan hangat dan responsif
Beri waktu kepada klien untuk berespon
Beri dukungan utk ekspresi diri.
2. Perawat menyadari dan mengenal ansietasnya sendiri:
Kenali perasaan diri
Kenali sikap dan perilaku perawat yg berdampak negatif pd
klien
Bersama klien menggali perilaku dan respon shg dapt belajar
dan berkembang
3. Bantu klien mengenal ansietasnya:
Bantu klien mengekspresikan perasaan.
Bantu klien menghubungkan perilaku dg perasaan klien.
Memvalidasi kesimpulan dan asumsi.
Pertanyaan terbuka.
4. Memperluas kesadaran berkembangnya ansietas:
Bantu klien menhubungkan situasi dan interaksi yg
menimbulkan ansietas.
Bantu klien meninjau kembali penilaian klien thd stresor yg
dirasa mengancam dan menimbulkan konflik.

Mengaitkan pengalaman saat ini dg pengalaman masa lalu


5. Bantu klien mempelajari koping yg baru
Menggali pengalaman klien menghadapi ansietas
sebelumnya.
Tunjukkan akibat negatif koping yg saat ini.
Dorong klien untuk mencoba koping adaptif yg lalu
Memusatkan tanggung jawab perubahan pada klien
Terima peran aktif klien. Mengaitkan hubungan sebab-akibat
keadaan ansietasnya.
Bantu klien menyusun kembali tujuan memodifikasi perilaku
Anjurkan penggunaan koping yg baru
Didik klien untuk memakai ansietas ringan untuk
pertumbuhan diri.
Dorong aktivitas fisik untuk menyalurkan energi
Mengerahkan dukungan sosial ~ koping adaptif diterapkan
oleh klien.
H. Terapi modalitas
1. Terapi kognisi
2. Logoterapy
3. Terapi keluarga
4. Terapi lingkungan
5. Terapi psikoreligius
6. Terapi kelompok
7. Program perencanaan pulang
1. Terapi kognisi
a. Cognitive behavior therapy
Aplikasi dari berbagai variari teori belajar dalam kehidupan.
Tujuannya adalah untuk menolong seseorang keluar dari
kesulitannya dalam berbagai bidang kehidupan dan
pengalaman
Jenis terapi kognitif antara lain :
Teknik restrukturisasi kognisi
Perawat berupaya untuk memfasilitasi klien dalam melakukan
pengamatan terhadap pemikiran dan perasaan yang muncul
Teknik penemuan fakta-fakta
Perawat jiwa mencoba memfasilitasi klien agar membeiasakan
menuangkan pikiran-pikiran abstraknya secara kongkrit dalam
bentuk tulisan untuk memudahkan menganalisanya
Teknik penemuan alterntif
Latihan menemukan dan mencari alternatif-alternatif pemecahan
masalah.klien di anjurkan klien di anjurkan untuk menuliskan
masalahnya,mengurutkan masalah-maslah paling ringan dulu
kemudian mencari dan menemukan alternatifnya
Dekatastropik

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Dikenal dengan teknik bila dan apa.hal ini meliputi upaya menolong
klien untuk melakukan evaluasi terhadap situasi dimana klien
mencoba memandang masalahnya secara berlebihan dari situasi
alamiah
Reframing
Strategi dalam merubah persepsi klien terhadap situsi atau prilaku
Thought stopping
Teknik berhenti memikirkan sangat baik disaat klien mulai
memikirkan sesuatu sebagai masalah
Role play
Memungkinakan klien untuk belajar menganalisa prilaku salahnya
melalui kegiatan sandiwara yang biasa dievaluasi oleh klien dengan
memanfaatkan alur cerita dan prlaku orang lain dll.
Logoterapi
Logoterapi memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari
tiga dimensi : fisik,psikologis, dan spiritual. Untuk memahami diri
dan kesehatan kita harus memperhitungkan ketiganya
Terapi keluarga
Keluarga merupakan sistem pendukung uatam yang memberi
perawatan langsung pada setiap keadaan klien.umumnya keluarga
meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak sanggup lagi
merawatnya.oleh karena itu asuhan keperawatan yang berfokus
pada keluarga bukan hanya memulihkan keadaan klien tetapi
bertujuan untuk menengembangkan dan meningkatkan kemampuan
keluarga dalam mengatasi maslah kesehatan keluarga tersebut
Terapi lingkungan
Membantu individu untuk mengembangkan rasa harga diri
mengembangkan kemampuan untuk berhubungan dengan orang
lain membantu belajar mempercayai orang lain dan mempersiapkan
diri untuk kembali kemasyarakat dan mencapai perubahan
kesehatan yang positif
Terapi psikoreligius
Manfaat komimet agama tidak hanya dalam penyakit fisik,tetapijuga
dibidang kesehatan jiwa. Makin religius seseorang maka makin
terhindar dari stres
Terapi kelompok
Dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien
dengan gangguan interpersonal
Program perencanaan pulang
Tujuan dan prinsip dalam perencanaan pulang merupakan dasar
untuk menetukan tindakan selanjutnya.adapun tujuan perencaan
pulang adalah meningkatkan perawatn berkelanjutan bagi
klien,membantu rujukan klien pada pelayanan yang lain,membantu
klien dan keluarga memiliki pengetahuan ,keterampilan dan sikap
dalam memperbaiki serta mempertahankan status kesehatan klien

Jenis-jenis pemulangan pasien


Menurut stuart dan sundeen(1991) ada 3 jenis pemulangan pasien :
1. Conditional discharge (pulang sementara/cuti)
Bila keadaan klien cukup baik untuk dirawat dirumah maka cara
pemulangan ini dapat dipakai.
2. Absolute discharge (pulang mutlak selamanya)
Cara pulang ini merupakan terminasi akhir dari hubungan klien
dengan rumah sakit terapi bila klien perlu dirawat kembali maka
prosedur perawatan dapat dilaksanakan kembali. Jenis pemulangan
ini diberikan kepada klien yang mengalami perbaikan status
kesehatan yang baik sehingga dapat berfungsi kembali secara
optimal di masyarakan
3. Judicial discharge (pulang paksa)
Klien di perbolehkan pulang walaupun kondisi kesehatnya belum
memungkinkan untuk dipulangkan misalnya karena klien adalah
narapidana atau karena kelurga menginginkan klien untuk pulang
karena suatu alasan

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN
Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak
menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu
yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau
beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang
berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa
kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat
berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air
besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan
gelisah
B. SARAN
Kepada teman-teman mahasiswa agara dapat memberikan masuk
yang bersifat membangun demi perbaikan laporan ini,harapannya
semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam
meningkatkan pengtahuan dalam bidang keperawatan khususnya
keperawatan jiwa

DAFTAR PUSTAKA
Iyus yosep, S.Kp,M,si.2011.keperawatan jiwa edisi revisi.penerbit refika
aditama. perpustakan keperawatan universitas indonesia timur
Ermawati dalami S.kp. asuhan keperawatan jiwa dengan maslah
psikososial.2009.penerbit trans info media,jakarta. Perpustakaan
keperawatan universitas indonesia timur
http://www.komiteuap.files.wordpress.com/2011/05/sak-ansietas-ok.pdf
diunggah tanggal 06 januari 2014