Anda di halaman 1dari 8

RUANG KELAS DALAM PRODUKSI OBAT

05/19/2010 by admin in c-GMP

5 Votes

Ruang kelas A adalah area yang terlokalisasi untuk aktivitas yang memiliki
risiko tinggi, seperti area pengisian produk, area tempat tindakan aseptik dilakukan (pengujian sterilitas
produk jadi) atau area yang berada di dalam LAF dengan kecepatan aliran yang homogen antara 0,360,54 m/s (nilai acuan) pada titik sekeliling kerja.

Ruang kelas B adalah area yang melingkupi ruang besih kelas A terutama untuk proses produksi dengan
sistem preparasi dan pengisian larutan produk secara aseptis. Namun jika digunakan metode sterilisasi
akhir (terminally sterilized product) maka ruangan ini tidak perlu dikualifikasi.

Ruang kelas C adalah area bersih untuk melakukan kegiatan dengan tingkat kekritisan yang lebih rendah
di dalam suatu proses pembuatan produk steril.

Ruang kelas D adalah area bersih untuk melakukan kegiatan dengan tingkat kekritisan yang lebih rendah
di dalam suatu proses pembuatan produk steril. Meliputi:

1. Area penimbangan bahan baku beserta ruang-ruang antaranya.

2. Area preparasi larutan beserta ruang-ruang antaranya.

3. Area yang melingkupi mesin pengisian larutan beserta ruang-ruang antaranya.

4. Beberapa ruang antara luar di area yang melingkupi LAF untuk pengujian sterilitas produk dan
pengujian batas mikroba sampel.

RUANG PRODUKSI STERIL

1.

Ruangan produksi steril adalah tempat yang disiapkan secara khusus dari bahan-bahan dan tata
bentuk yang harus sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Ruangan ini
dipersiapkan untuk produksi obat steril, sehingga harus mempunyai syarat khusus. Obat atau
bahan obat yang akan diproduksi harus mempunyai kepastian bahwa obat tidak terkontaminasi
(pure).
Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain, konstruksi dan letak
yang memadai, serta disesuaikn kondisinya dan dirawat dengan baik untuk memudahkan
pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa
untuk memperkecil resiko terjadinya kekeliruan, pencemaran-silang dan kesalahan lain, dan
memudahkan pembersihan , sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindari pencemaran
silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat menurunkan mutu obat.
Menurut CPOB, ruangan steril dikategorikan ruang kelas I dan II atau sering disebut white area,
yang harus memenuhi syarat jumlah partikel dan mikroba. Kelas I sebenarnya berada dalam
ruangan kelas II, tetapi ruang kelas I memiliki alat LAF (Laminar Air Flow), yaitu alat yang
menjamin ruangan dalam kondisi steril dan bias dipakai untuk pembuatan secara aseptik.
Sebaliknya, ruangan produksi steril harus memenuhi syarat sebagai berikut :
Bebas mikroorganisme aktif
Untuk mendapatkannya, udara yang ada di dalam ruangan disaring dengan HEPA filter agar
mendapatkan udara yang bebas mikroorganisme dan partikel.
Ada batasan kontaminasi dengan partikel
Tekanan positif, yakni tekanan udara di dalam ruangan lebih besar daripada udara di luar,
sehingga udara di dalam mengalir ke luar (udara di luar yang lebih kotor tidak dapat masuk ke
dalam ruangan yang lebih bersih)
Minimal terbagi atas tiga area, yaitu area kotor (black area), intermediate area (grey area), dan
area bersih (white area)
Tata letak ruang hendaklah dikaji sejak tahap perencanaan konstruksi bangunan demi keefektifan
semua kegiatan, kelancaran arus kerja, komunikasi, dan pengawasan serta untuk menghindari
ketidakteraturan. Tata letak ruang dalam area produksi yang harus dipenuhi antara lain :
Untuk pengolahan produk yang mengandung bahan yang menimbulkan sensitisasi
tinggi, disediakan fasilitas tersendiri untuk masing-masing produk. Udara yang
dikeluarkan dari fasilitas itu dilewatkan atau melalui suatu sistem yang sesuai sebelum
dilepaskan ke atmosfer.

2.

Luas area kerja produksi minimal 2 kali luas yang diperlukan untuk penempatan
peralatan (termasuk wadah yang diperlukan untuk suatu kegiatan) ditambah luas area
untuk keperluan pembersihan dan perawatan mesin oleh operator produksi dan/atau
teknisi.

3.

Permukaan lantai, dinding, langit-langit dan pintu hendaklah :

Kedap air
Tidak terdapat sambungan untuk mengurangi pelepasan atau pengumpulan partikel.

Tidak merupakan media pertumbuhan mikroba.


Mudah dibersihkan, serta tahan terhadap proses pembersihan, bahan pembersih dan
disinfektan yang digunakan berulangkali dengan memperhatikan faktor kepadatan,
porositas, tekstur, dan sifat elektrostatis
Area produksi hendaknya memperhatikan beberapa hal, antara lain :

1. Untuk memperkecil resiko bahaya medis yang serius akibat terjadinya pencemaran silang, suatu
sarana khusus dan self-container hendaklah disediakan untuk produksi obat tertentu seperti
produk yang dapat menimbulkan sensitif tinggi, produk lainya seperti antibiotik tertentu (missal
penisilin). Produk hormone seks, produk sitotoksik, produk tertentu dengan bahna aktif
berpotensi tinggi, produk biologi (misal: yang berasal dari mikroorganisme hidup ) dan produk
non-obat hendaklah diprodukdsi di bangunan terpisah.
2. Pembuatan produk yang diklasifikasikan sebagai racun seperti pestisida dan herbisida tidak
boleh dilakukan disarana produksi obat
3. Tata-letak ruangan produksi sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk :

Memungkinkan kegiatan produksi dilakukan di area yang saling berhubungan antara satu
ruangan dengan ruangan lain mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas
kebersihan yang di persyaratkan.

Mencegah kesesakan dan ketidakteraturan dan

Memungkinkan terlaksananya komunikasi dan pengawasan yang efektif.

4. Luas area kerja dan area penyimpanan bahan atau produk yang sedang dalam proses hendaklah
memadai untuk memungkinkan penempatan peralatan dan bahan secara teratur dan sesuai
dengan alur proses, sehingga dapat memperkecil resiko terjadi kekeliruan antara produk obat

atau komponen obat yang berbeda, mencegah pencemaran silang dan memperkecil resiko
terlewatnya atau salah melaksanakan tahapan proses produksi atau pengawasan.
5. Permukaan dinding, lantai dan langit-langit bagian dalam ruangan dimana terdapat bahan baku
dan bahan pengemas primer, produk antara atau ruahan yamg terpapar ke lingkungan hendaklah
halus, bebas retak dan sambungan terbuka. Tidak melepaskan praktikulat, serta memungkinkan
pelaksanaan pembersihan (bila perlu disinfeksi) yang mudah dan efektif.
6. Konstruksi lantai di area pengolahan hendaklah dibuat dari bahan kedap air permukaannya rata
dan memungkinkan pelaksanaan pembersihan yang cepat dan efisien apabila terjadi tumpahan
bahan. Sudut antara dinding dan lantai di area pengolahan hendaklah berbentuk lengkungan.
7. Pipa, fiting lampu, titik fentilasi dan instalasi sarana penunjang lain hendaklah dirancang
sedemikian rupa untuk menghindari terbentuknya ceruk yang sulit dibersihkan. Untuk
kepentingan perawatan sedapat mungkin instalasi sarana penujang seperti ini hendaklah dapat di
jangkau dari luar area pengolahan.
8. Pipa yang terpasang didalam ruangan tidak boleh menempel diding tetapi digantung dengan
menggunakan siku-siku pada jarak cukup untuk memudahkan pembersihan menyeluruh.
9. Pemasangan rangka atap, pipa dan saluran udara di dalam hendaklah dihindari. Apabila tidak
terhindarkan, maka prosedur dan jadwal pembersihan instalasi tersebut hendaklah dibuat dan di
ikuti.
10. Lubang udara masuk dan keluar serta pipa-pipa dan salurannya hendaklah dipasang sedemikian
rupa untuk mencegah pencemaran terhadap produk.
11. Saluran pembuangan air hendaklah cukup besar, dirancang dan dilengkapi dengan bak control
serta ventilasi yang baik maupun mencegah aliran balik sedapat mungkin saluran terbuka
dicegah tetapi bila perlu hendaklah cukup dangkal untuk memudahkan pembersihan dan
disinfeksi.
12. Area produksi hendaklah diventilasi secara efektif dengan mengunakan sistem pengendalian
udara termasuk filter udara dengan tingkat efisiensi yang dapat mencegah pencemaran dan
pencemaran silang, pengendalian kelembaban udara sesuai kebutuhan produk yang diproses dan
kegiatan yang dilakukan di dalam ruangan dan dampaknya terhadap lingkungan luar pabrik.
Area produksi hendaklah dipantau secara teratur baik selama ada maupun tidak ada kegiatan
produksi untuk memastikan pemenuhan terhadap spesifikasi yang dirancang sebelumnya.
13. Area dimana dilakukan kegiatan yang menimbulkan debu misalnya pada saat pengambilan
sempel, penimbangan bahan /produk, pencampuran dan pengolahan bahan atau produk
pengemasan produk serbuk, memerlukan sarana penunjang khusus untuk mencegah pencemaran
silang dan memudahkan pembersihan.
14. Tata letak ruang area pengemasan dirancang khusus untuk mencegah campur baur atau
pencemaran silang.
15. Area produksi hendaklah mendapat penerangan yang memadai, terutama penerangan di mana
pengawasan visual dilakukan pada saat proses berjalan.
16. Pengawasan selama proses dapat dilakukan di dalam area produksi sepanjang kegiatan tersebut
tidak menimbulkan resiko terhadap produksi obat.

17. Pintu area produksi yang berhubungan langsung ke lingkungan luar, separti pintu bahaya
kebakaran, hendaklah ditutup rapat. pintu tersebut hendaklah diamankan sedemikian rupa
sehingga hanya dapat digunakan dalam keadaan darurat sebagai pintu keluar. Pintu dalam area
produksi yang berfungsi sebagai barier terhadap pencemaran silang hendaklah selalu ditutup
apabila sedang tidak digunakan.
Ruangan produksi didesain sedemikian rupa sehingga mengurangi risiko terkontaminasi
mikroorganisme, partikel, atau kotoran. Tahapan proses untuk mendapatkan ruangan produksi
steril bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Bersihkan lantai, dinding, dan langit-langit dari debu dan kotoran. Hampir seluruh benda-benda
yang di sterilkan harus secara fisik bersih terlebih dahulu sebelum proses standar sterilisasi
dilakukan. Kontaminasi mikroba pada dasarnya dapat dihilangkan melalui pembersihan dengan
menggunakan deterjen dan air atau dihancurkan dengan cara sterilisasi atau desinfektisasi.
Pembersihan yang dilanjutkan dengan pengeringan terhadap permukaan hampir dapat dinyatakan
efektif sebagaimana halnya jika menggunakan desinfektan.
2. Bersihkan lantai, dinding, dan langit-langit dengan cairan disinfektan hingga bebas
mikroorganisme. Beberapa disinfektan yang banyak digunakan :
a. Alcohol : Etil atau Isopropil alcohol (60-90 %)
Mekanisme kerjanya denaturasi protein.
Keuntungan : daya bunuh cepat dengan sifat bakterisidal, tuberkulosidal, fungsidal, dan
virusidal.
Kerugian :
Perlu waktu kontak minimum 5 menit untuk mencapai tingkat desinfeksi
Tidak memiliki aktivitas residual
Mudah menguap dan terbakar
Terinaktivasi oleh materi organic
Tidak bersifat sporisidal
b. Halogen : Chlorine (Na-hipoklorit)
Mekanisme kerjanya kemungkinan menginhibisi reaksi enzimatik dalam sel, denaturasi protein,
dan inaktivasi asam nukleat.
Keuntungan : efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negative, tuberkulosidal,
fungsidal, dan virusidal dengan daya kerja yang cepat.
Dosis :
50 ppm dapat membunuh vegetatif vakteri dan virus HIV
200 ppm dapat membunuh virus-virus lain
500 ppm dapat membunuh hepatitis B
1000 ppm dapat membunuh Mycrobacterium tuberculosis
Kerugian :
Terinaktivasi oleh materi organic
Korosif terhadap alat dan wadah
Tidak bersifat sporisidal
c. Glutaraldehid

Pada konsentarsi 2 %, pH 7,5-8,5 bertindak sebagai high level disinfectant (HLD) yang berarti
dapat menghancurkan semua mikroorganisme vegetative, basil TBC, fungi, virus ukuran kecil
dan non lipid, serta virus berukuran sedang kecuali sejumlah tertentu spora bakteri.
Mekanisme kerjanya adalah membunuh mikroorganisme melalui proses alkilasi protein.
Keuntungan:
Dapat membunuh vegetative bakteri dalam waktu 2 menit.
Bakterisidal, tuberkulosidal, fungisidal, virusidal, dan sporisidal. Waktu yang dibutuhkan antara
10-30 menit, sedangkan proses sterilisasi perendaman butuh waktu sampai dengan 10 jam
Kerugian:
Bau yang menyegat
Dapat menyebabkan muntah-muntah bila ventilasi ruangan buruk
Konsentrasi 0,2 ppm dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernafasan
Dapat menguap
Tidak mempunyai kemampuan membersihkan
d. Hidrogen peroksida
Pada konsentrasi 6 % berfungsi sebagai high Level disinfectant (HLD)
Mekanisme kerjanya menyerang membran lipid mikroorganisme.
Keuntungan :
Bakterisidal, virusidal, tuberkulosidal, fungsidal, dan sporisidal.
Kerugian :
Terpengaruh oleh perubahan pH
e. Formaldehid
Konsentrasi 8 % formaldehid + 70 % alcohol berfungsi sebagai HLD. Sebaliknya, konsentrasi
kurang dari 4 % berfungsi sebagai Low Level Disinfektan (LLD), yaitu: disinfektan tidak
memiliki daya bunuh terhadap spora bakteri, mikrobakterium, semua fungi, serta semua virus
ukuran kecil dan sedang.
Mekanisme kerjanya menginaktivasi mikroorganisme melalui reaksi alkilasi terhadap gugus
amino dan gugus sulfhidril pada protein.
Keuntungan :
Bakterisidal, tuberkulosidal, fungisidal, dan virusidal
Sporisidal (8% formaldehid dalam 70 % alcohol)
Kerugian :
Terinaktivasi oleh materi organic
Potensial karsinogen
Menimbulkan uap yang mengiritasi
Korosif
f. Fenol
Mekanisme kerjanya penetrasi terhadap dinding sel dan mengendapkan protein sel. Fenol biasa
digunakan untuk melakukan desinfeksi dinding, lantai, dan permukaan meja (permukaan keras)
Keuntungan :

g.

3.

4.
5.

Spektrum luas, bakterisidal gram positif dan negative, fungisidal, tuberkulosidal, dan virus
lipofilik
Toleransi cukup baik terhadap beban organic dan air sadah
Mempunyai aktivitas residual
Kerugian :
Tidak bersifat sporisidal
Terinaktivasi oleh materi organik
Korosif terhadap karet dan sebagian plastic
Campuran chlorhexidine dan cetrimide
Contoh :
Cairan Hibicet dari SSL International plc Oldham, England
Komposisi :
Chlorhexidine Gluconate 1,5% b/v, Cetrimide 15%b/v (masing-masing setara dengan 7,5% v/v
chlorhexidine gluconate solution Ph.Eur. 37,5% v/v strong cetrimide solution B.P 40%)
Pemakaian :
Satu bagian di dalam 100 bagian air; 10 ml + air hingga menjadi genap 1000 ml. fungsinya
sebagai pembersih dan antiseptik.
Bersihkan udara dengan alat pengasapan (fogging) yang mengandung cairan air borne
disinfectants of surfaces
Contoh : Anios Special DJP, Laboratories Anios.
Komposisi :
Formaldehyde, Didecyldimethylammonium chloride, Dimethicone.
Dapat membunuh mikroba : E. coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa,
Streptococcus Faecalis dalam 4 ml/m3
Sinari ruangan dengan ultraviolet minimum selama 24 jam
Setelah itu, ruangan ditutup dan dialiri udara yang telah bebas mikroorganisme, sehingga
didapatkan ruangan clean area untuk produksi steril.
Clean area mempunyai klasifikasi atau grade A, B, C, dan D. Klasifikasi dibagi berdasarkan
jumlah maksimum partikel dan jumlah mikroba yang mengkontaminasinya per meter kubik
udara.
Jumlah maksimum partikel dan jumlah mikrobakteri per meter kubik
Grade
0,5 m
5 m
Jumlah mikroorganisme
A
3500
0
<1
B
3500
0
10
C
350000
2000
100
D
3500000
20000
200
Petugas yang akan bekerja di dalam ruangan produksi steril harus mengganti baju dan
membersihkan diri menggunakan cairan antiseptik di dalam ruangan clean changing area dan
dibilas dengan udara steril, sehingga diharapkan petugas bebas dari kotoran dan mikroorganisme.

Petugas yang akan bekerja di dalam ruangan produksi steril saat masuk ke rumah changing area,
harus mengganti baju dan sepatu serta memakai topi dan kacamata steril yang telah tersedia.
Setelah itu, dia baru masuk ke ruangan clean filling room atau ruangan preparation area.
Laminair airflow merupakan tempat bekerja secara aseptic, untuk tes sterilitas, aseptic
dispensing, dan i.v. mixture (pencampuran obat suntik). Tekanan yang ada di dalam ruangan
laminair airflow dibuat menjadi tekanan negatif. Artinya, aliran udara yang ada mengalir kembali
kedalam ruangan laminair airflow.
Penyebab kontaminasinya adalah :
Udara yang masuk ke ruangan, baik dara dai dalam maupun dari luar.
Hasil-hasil produksi yang ada di ruangan
Oleh karena itu, control kualitas diperlukan untuk :
1. Control udara
Dengan menggunakan HEPA filter, bila berasap menggunakan smoke detector.
2. Temperature dan humidity
Target temperature 20C dan relative humidity 35-45% dengan tekanan positif.