Anda di halaman 1dari 2

1.A.

Analisa Cutting
Penentuan daerah yang mengandung hidrokarbon memerlukan suatu data-data geologi bawah
permukaan secara tepat dan akurat. Salah satu metode untuk mendapatkan data bawah
permukaan tersebut melalui analisa cutting dan analisa logging.
Pekerjaan analisa cutting dilakukan dalam kerangka pekerjaan mud logging yang terutama
untuk mengidentifikasi saturasi hidrokarbon dan mengestimasi karakteristik batuan reservoir.
Analisa cutting merupakan interpretasi serpihan batuan yang tersirkulasi ke permukaan
bersamaan dengan lumpur bor. Serpihan tersebut berasal dari gerusan batuan reservoir pada saat
operasi pemboran berlangsung.
Pada analisa cutting, kandungan hidrokarbon dapat dideteksi dengan melihat perbahan warna
yang terjadi pada saat cutting tersebut dianalisa. Analisa dilakukan melalui penyinaran
sinar ultraviolet untuk mengetahui lithologi batuannya meliputi jenis batuan, kandungan mineral,
struktur batuan dan kandungan fosil untuk menentukan ada tidaknya akumulasi hidrokarbon.
Analisa terhadap cutting dapat dilakukan dengan menggunakan pengamatan fluoroscopic berupa
penggunaan sinar ultraviolet untuk mendeteksi adanya kandungan hidrokarbon pada sample
(core) batuan. Analisa ini juga untuk membedakan antara jenis minyak berat (heavy oil),
minyak ringan (light oil) maupun minyak medium (intermediate oil). Pada analisa fluoroscopic,
kualitas penampakan fluorisensi ditentukan dari distribusi fluorisensi dalam sample (core)
batuan yang diamati.
Dari hasil analisa cutting yang dilakukan dapat diketahui jenis lapisan dan interval kedalaman
sumur dimana terdapat akumulasi hidrokarbon. Jika diketahui bahwa formasi tersebut
mengandung akumulasi hidrokarbon yang prospektif, maka pengeboran lanjutan dapat dilakukan
pada berbagai titik yang dianggap prospek. Tetapi jika dari analisa tidak ditemukan kandungan
hidrokarbon, maka titik pengeboran dipindah ke lokasi lain yang dianggap lebih prospek
berdasar survey geologi.
Kesalahan dalam menganalisa cutting sering disebabkan oleh adanya sample yang
terkontaminasi dengan batuan diatasnya yang runtuh dan bercampur dengan cutting, adanya lost
circulation sehingga sample cutting yang didapatkan sering tidak mewakili kedalaman lubang

bor pada saat itu. Kesalahan lainnya juga terjadi akibat adanya gel strength (bantalan) lumpur
yang tidak cukup baik untuk mengangkat cutting ke permukaan. Dari semua hal tersebut kembali
kepada faktor engineer untuk dapat menginterpretasikan semua data yang diperoleh dan
membuat kongklusi yang cepat dan akurat.