Anda di halaman 1dari 10

NALISIS GRADASI AGREGAT GABUNGAN LASTON BINDER PADA RUAS JALAN

SIMPANG TOHPATI SIMPANG SAKAH


(Studi Kasus Paket Pemeliharaan Berkala Jalan Tahun Anggaran 2011)
Ida Bagus Wirahaji
Program Studi Teknik Sipil, FT UNHI
ABSTRAK
Lapis perkerasan jalan pada sistem perkerasan lentur menggunakan material aspal dan material
agregat. Material aspal digunakan sebagai bahan pengikat material agregat, dimana agregat
didistribusikan sesuai dengan ukuran diameter partikelnya. Sebelum digunakan sebagai bahan
campuran aspal, kedua material ini harus melewati pemeriksaan propertis mengikuti persyaratan
dalam buku spesifikasi teknik 2010.
Pada Proyek Pemeliharaan Berkala Jalan Simpang Tohpati Simpang Sakah, baik propertis
material aspal maupun material agregatnya telah memenuhi persyaratan spesifikasi 2010.
Material agregat yang digunakan diambil dari quarry di dusun Badeg, desa Subudi, Selat,
Karangasem.
Setelah material campuran aspal dinyatakan layak digunakan, Perusahaan Jasa Konstruksi (PJK)
segera mengajukan Design Mix Formula (DMF) kepada Direksi Pekerjaan. Apabila disetujui
DMF berubah menjadi Job Mix Formula (JMF). DMF antara lain berisi usulan rancangan kadar
aspal (optimum) dan gradasi agregat gabungan pada campuran aspal Laston Binder.
Penentuan gradasi agregat gabungan dilakukan dengan cara coba-coba (trial and error). Gradasi
yang didapat dan disepakati adalah gradasi yang mempunyai nilai deviasi + 4.86% dengan
proporsi masing-masing fraksi agregat adalah: 29% Ca, 18 % Ma, 52 % Fa, dan 1 % Filler.
Evaluasi terhadap kadar aspal (optimum) dan gradasi agregat gabungan dilakukan melalui
extraction test. Pemeriksaan ini memisahkan material aspal dan material agregat, dapat
dilakukan pada campuran yang belum dan yang sudah dipadatkan.
Hasil evaluasi kadar aspal dibandingkan kadar aspal (optimum) pada JMF 6.20% pada
campuran yang belum dipadatkan adalah 6.23% dengan deviasi + 0.03%, dan campuran yang
sudah dipadatkan adalah 6.22%, deviasi 0.02%. Sedangkan hasil evaluasi gradasi agregat
gabungan untuk campuran yang belum dipadatkan mempunyai deviasi 5.38% terhadap gradasi
agregat gabungan JMF, dan pada campuran yang sudah dipadatkan didapatkan deviasi 4.20%.
Kata Kunci: Gradasi Agregat Gabungan, Spesifikasi Teknik 2010.
LATAR BELAKANG
Pada sistem perkerasan lentur, jalan terdiri dari beberapa lapis perkerasan. Lapis
perkerasan ada 2 (dua) macam, yaitu lapis perkerasan tanpa bahan pengikat dan lapis perkerasan
dengan bahan pengikat (aspal). Lapis perkerasan tanpa bahan pengikat difungsikan sebagai
subbase course dan base course. Subbase course ditempatkan di atas subgrade, dan base course
ditempatkan di atas subbase. Lapis perkerasan beraspal dapat difungsikan sebagai base course
dan sebagai surface.

Semua lapisan perkerasan itu dari atas subgrade sampai surface sebagian besar terdiri
dari agregat baik dari segi persen berat maupun persen volume. Menurut Sukirman (2003), lapis
perkerasan jalan terdiri dari 90 95% berat agregat dan 75 85% volume agregat. Dengan
demikian kualitas lapis perkerasan jalan sangat ditentukan oleh sifat agregat dan gradasi agregat
dalam campuran.
Karakteristik paling penting dari agregat sebagai material penyusun campuran lapis
perkerasan jalan, menurut Wighnall (2003) adalah ketahanannya terhadap keretakan, pukulan,
abrasi dan keausan, berat jenis, penyerapan air, gradasinya serta bentuk butirnya. Tidak semua
karakteristik tersebut dipakai untuk setiap lapis perkerasan. Misalnya, pada lapis pondasi (base
course) nilai abrasi dan keausan yang tinggi tidak disyaratkan, tetapi merupakan syarat yang
penting untuk lapis perkerasan permukaan (wearing course).
Pada Proyek Pemeliharaan Berkala Ruas Jalan Simpang Tohpati Simpang Sakah Tahun
Anggaran 2011, dilaksanakan overlay Laston Binder (AC-BC) dan Laston Lapis Aus (AC-WC).
Pelaksana pekerjaan adalah PT. Adi Murti, konsultan supervisi PT. Wiranta Bhuana Raya. Lokasi
produksi Laston di dusun Badeg, desa Subudi, Kec. Selat Karangkasem. Lokasi overlay pada
ruas jalan simpang Tohpati sampai dengan Simpang Sakah, dibagi menjadi 2 (dua) segmen.
Segmen I dari Simpang Tohpati sampai dengan desa Celuk. Segmen II dari desa Batuan sampai
Simpang Sakah. Waktu pelaksanaan dari tanggal 29 April sampai 3 Desember 2011.
Material agregat sebagai bahan campuran Laston pada proyek ini bersumber dari quarry
di dusun Badeg, Selat, Karangasem. Sebelum dibuatkan rancangan campuran Laston, contoh
agregat diambil sebagai sampel untuk dibawa dan diuji propertisnya di Unit Pelayanan Terpadu
Balai Peralatan dan Pengujian di Jl. Cokroaminoto, Ubung, Denpasar. Contoh agregat yang
dibawa adalah Coarse Agregat, Medium Agregate, Fine Agregate, dan Filler.
Sampel material agregat tersebut harus melewati beberapa pengujian atau pemeriksaan,
sebelum dinyatakan layak dipakai sebagai bahan campuran lapis perkerasan. Beberapa
pengujian/pemeriksaan tersebut adalah: pemeriksaan abrasi, indeks kepipihan, kadar lumpur dan
lempung, soundness, sand equivalent, analisis saringan, angularitas, berat jenis dan peresapan
agregat terhadap air.
Aspal sebagai bahan pengikat campuran Laston juga dibawa sampelnya ke Lab UPT
untuk diperiksa sifat-sifat dasarnya. Jenis aspal yang digunakan adalah AC 60/70. Contoh aspal
harus melalui pemeriksaan, seperti: pemeriksaan penetrasi, titik lembek, titik nyala, kehilangan
berat, daktilitas, dan berat jenis.
Segera setelah pemeriksaan propertis agregat dan aspal selesai dan memenuhi persyaratan
spesifikasi teknik 2010, perusahaan jasa konstruksi (PJK) mengajukan design mix formula
(DMF) yang menggunakan material yang sama (satu quarry) dengan yang di uji di UPT tadi.
Mengapa menggunakan material agregat pada quarry yang sama, karena diasumsikan propertis
agregat akan sama.
Design mix formula (DMF) yang diajukan PJK adalah Laston Binder dan Laston Lapis
Aus. DMF berisi usulan proporsi takaran agregat dari pemasok dingin (cold bin) untuk dapat
menghasilkan komposisi yang optimum. Perhitungan proporsi takaran agregat digunakan untuk
penentuan awal bukaan pemasok dingin. Contoh agregat dari pemasok panas (hot bin) diambil
setelah dipastikan besarnya bukaan pada pemasok dingin. Setelah itu proporsi takaran pada
pemasok panas ditentukan. Suatu rumusan DMF kemudian akan ditentukan berdasarkan
prosedur Marshall (Spesifikasi, 2010).
DMF beserta data dan grafik percobaan di laboratorium diserahkan oleh PJK untuk
mendapatkan persetujuan dari Direksi Pekerjaan, dalam hal ini quality engineer dan lab

technician dari konsultan supervisi serta pengawas mutu dari PU. Setelah disetujui, DMF
berubah status menjadi JMF (job mix formula).
Setelah mengantongi JMF Barulah PJK boleh melakukan percobaan produksi dan
penghamparan. JMF adalah suatu dokumen yang menyatakan bahwa rancangan campuran
laboratorium yang tertera dalam DMF dapat diproduksi dengan instalasi pencampur aspal
(asphalt mixing plant, AMP), dihampar dan dipadatkan di lapangan dengan peralatan yang telah
ditetapkan (Spesifikasi 2010).
RUMUSAN MASALAH
Pada Proyek Pemeliharaan Berkala Jalan Simpang Tohpati Simpang Sakah Tahun
Anggaran 2011, dilakukan kegiatan untuk memproses DMF menjadi JMF, untuk item pekerjaan
Laston Binder dan Laston Lapis Aus. Kedua jenis Laston ini memerlukan waktu yang relatif
lama (sekitar satu bulan) untuk menjadikannya dokumen JMF.
Dalam kajian ini dibatasi pada Laston Binder Halus, yaitu lapis antara yang terletak di
atas Laston Base. Ada 2 (dua) hal yang penting menjadi bahan kajian adalah:
1. Bagaimanakah proses menentukan proporsi takaran agregat agar didapat gradasi agregat
gabungan yang memenuhi spesifikasi Teknik 2010?
2. Bagaimanakah hasil kadar aspal (optimum) dan gradasi agregat gabungan setelah dievaluasi
melalui extraction test?
TINJAUAN TEORI
Klasifikasi Agregat
Agregat dapat diklasifikasikan menurut: proses pembentukannya, proses pengolahannya,
dan ukuran diameter butrinya (Thanaya, 2008). Menurut proses pembentukannya agregat dapat
dibagi menjadi: (1) batu beku (beku di dalam tidak keluar dari perut bumi, dan beku di luar
keluar karena letusan gunung); (2) batu sedimen; dan (3) batu metamorf. Berdasarkan proses
pengolahannya, dapat dibagi menjadi: (1) batu alam; (2) batu pecah; dan (3) batu limbah, hasil
samping pabrik. Berdasarkan ukuran butirnya, dapat dibagi menjadi: (1) batu kasar, tertahan
pada saringan No. 8 (2.36 mm); (2) batu halus, lolos saringan No. 8 dan tertahan pada saringan
No. 200 (0.075 mm); dan (3) filler, sebagai pengisi voids, lolos saringan No. 200.
Klasifikasi Kelompok Batuan Standar Inggris, menurut Wignall (2003) teridiri dari 11
kelompok, yaitu: (1) kelompok buatan, hasil proses produksi pabrik, seperti: slag, klinker, burnt
shale; (2) kelompok Basalt, seperti: basalt, dolerite, basic porphyrite, andesite, yang
mengandung mineral ferromagnetis; (3) kelompok Flint, flint dan chert adalah kelompok batuan
sedimen yang halus, ukuran diameter 0.2 mm; (4) kelompok Gabbro, batuan beku kasar dan
menengah berkuran 2 mm, seperti: gabbro, basic diorite, basic gneiss; (5) kelompok Granit,
batuan beku menengah yang bersifat asam berbutir kasar, seperti: granit, quartz-diorite, granite
gneiss; (6) kelompok Gritstone, batuan sedimen berukuran medium kasar, seperti: pasir, ruff;
(7) kelompok Hornfels, terdiri dari batuan metamorf kecuali marmer dan quartzite; (8) kelompok
Batu Kapur, batuan sedimen yang disusun kalsium dan magnesium karbonat, seperti: batu kapur,
dolomit, marmer; (9) kelompok Porphyry, batuan gunung mengandung asam, seperti: porphyry,
granophyry, mikrogranit, felsit; (10) kelompok Quartzite, batu sedimen atau metamorf yang
tersusun dari sebagian besar kuarsa, seperti: quartzite, ganister, siiceons; (11) kelompok Schist,
batuan berlapis, seperti: schist, phylite, slate.

Di Bali jenis batuan yang digunakan adalah batuan beku di luar, hasil letusan gunung
berapi, seperti gunung Agung dan batuan sedimen yang digali pada daerah aliran sungai (DAS).
Quarry quarry yang terletak di desa Subudi, desa Simpar, desa Butus, desa Kubu, desa
Gunaksa dan sebagainya termasuk golongan batuan beku di luar. Quarry-quarry yang terletak di
desa Akah, desa Apet, desa Peh, desa Bonian, desa Bantas dan sebagainya tergolong batuan
sedimen, yang ditambang pada sungai-sungai.
Pada Proyek Pemeliharaan Berkala Jalan Simpang Tohpati Simpang Sakah, quarry PJK
PT Adi Murti berlokasi di dusun Badeg, desa Subudi, kecematan Selat, Karangasem. Jenis
batuannya adalah batuan beku, termasuk beku di luar. Batuan ini ditambang di lereng gunung
Agung. Segala kebutuhannya terhadap agregat sudah dapat terpenuhi di sini.

1.
2.
3.
4.

Batu Pecah dari Stone Crusher


Spesifikasi 2010 mensyaratkan, bahwa fraksi agregat kasar harus dari batu pecah dari
mesin pemecah batu dan disiapkan dalam ukuran nominal sesuai dengan jenis campuran yang
direncanakan. Keunggulan batu pecah dari mesin pemecah batu (stone crusher) adalah memiliki
permukaan yang kasar sehingga memperbesar daya lekat agregat terhadap aspal.
Setiap PJK yang memiliki AMP biasanya memiliki instalasi stone crusher untuk
mencukupi kebutuhan agregat dalam memproduksi campuran aspal.
Ada 4 (empat) cara kerja mesin dalam memecah agregat, yaitu:
Impact, untuk agregat yang keras dan abrasif, menghasilkan bentuk kubical, dense graded.
Attrition, untuk memecahkan agregat yang tidak terlalu keras dan getas. Cara ini memerlukan
energi yang besar.
Shear, menghasilkan ukuran yang besar (primary crushing).
Compression, untuk agregat keras, abrasif, agregat tidak lengket.
Agregat kasar dari stone crusher harus mempunyai angularitas seperti yang disyaratkan
dalam Tabel 01. Angularitas adalah persen terhadap berat agregat yang lebih besar dari 4.75 mm
dengan muka bidang pecah satu atau lebih berdasarkan uji menurut Pennsylvania DoTs Test
Method (Spesifikasi, 2010).
Tabel 01: Ketentuan agregat kasar (Spesifikasi 2010).

Fraksi agregat kasar yang tertahan saringan No. 8 (2.36 mm) harus bersih, keras, awet,
dan bebas dari lempung, serta bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki. Fraksi ini ditumpuk
terpisah dan dipasok ke instalasi pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampung
dingin (cold bin feeds), sedemikian rupa sehingga gradasi agabungan agregat dapat dikendalikan
dengan baik.
Agregat halus dari sumber bahan manapun harus terdiri dari pasir hasil pengayakan
batu pecah dan terdiri dari bahan yang lolos saringan No. 8 (2.36 mm). Fraksi agregat halus
ditempatkan terpisah dari fraksi agregat kasar. Agregat halus juga harus merupakan bahan yang
bersih, keras, bebas dari lempung dan bahan lain yang tidak dikehendaki. Agregat halus harus
memenuhi ketentuan, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 02.
Tabel 02: Ketentuan Agregat Halus (spesifikasi 2010).

Material lempung dibatasi hingga maksimal 1 %. Ini karena lempung merupakan material
yang bersifat non plastis, mempunyai kembang-susut (shrinkage) yang tinggi. Material lempung
bersifat menyerap air, yang dapat merusak lapis perkerasan jalan.

Agregat halus dan pasir ditumpuk terpisah dan dipasok ke instalasi pencampur aspal
dengan menggunakan pemasok penampung dingin (cold bin feeds) yang terpisah sehingga
gradasi gabungan dan persentase pasir di dalam campuran dapat dikendalikan dengan baik.
Macam-Macam Gradasi Agregat
Agregat adalah sekumpulan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir, atau mineral lainnya
berupa hasil alam atau buatan (Puslitbang, 2000). Agregat adalah bagian dari batuan yang
dipecah, dimana diameter butirnya sudah disusun menurut kebutuhan. Dalam campuran aspal
distribusi agregat menurut diameter butirnya sangat menentukan ketahanan campuran dalam
menerima beban lalu lintas. Distribusi agregat atau komposisi agregat menurut ukuran diameter
butirnya disebut Gradasi (Sukirman, 2003).
Gradasi Agregat, menurut Asiyanto (2008) ada 3 (tiga) macam, yaitu:
1. Dense graded, adalah suatu komposisi agregat yang menunjukan distribusi yang merata
sehingga dapat menghasilkan campuran yang padat.
Gambar 01: Dense Graded.

Gradasi ini digunakan pada Laston, seperti Laston Base, Laston Binder, dan Laston Lapis Aus
(wearing).
2. Open graded, adalah suatu komposisi agregat yang grafik pembagian butirnya menunjukkan di
antara ukuran-ukuran tertentu berbentuk senjang mempunyai rongga di antara agregat (VMA)
lebih besar, sehingga dapat mengakomodasi aspal lebih banyak, dan dapat menghasilkan
campuran yang lebih awet.
Gambar 02: Open Graded.

Agregat kasar dan halus pada gradasi ini tidak seimbang, dimana jumlah agregat halus lebih
banyak. Jenis gradasi ini digunakan pada Lataston, seperti HRS (Hot Roller Sheet), pada lapis
permukaan (surface), karena kedap air.
3.

Uniform graded, adalah suatu komposisi agregat yang terdiri dari partikel yang berdiameter
relatif sama. Komposisi agregat seperti ini tidak dianjurkan untuk digunakan dalam campuran
beraspal perkerasan jalan.
Gambar 03: Uniform Graded.

Jenis gradasi ini selain memiliki nilai stabilitas yang rendah juga nmenghasilkan perkerasan
porous, air mudah meresap ke lapis perkerasan, stabilitas rendah, sehingga umur pelayanan jalan
menjadi pendek.
Perbedaan dasar campuran aspal jenis Dense Graded dan Open Graded, menurut
Thanaya (2008) adalah seperti pada Tabel 03, sebagai berikut:
Tabel 03: Perbedaan Sifat Campuran Dense Graded dan Open Graded.

Pada spesifikasi 2010, gradasi agregat gabungan untuk campuran aspal, ditunjukkan
dalam persen terhadap berat agregat dan bahan pengisi, harus memenuhi batas-batas yang
diberikan Tabel 04. Rancangan dan perbandingan untuk gradasi agregat gabungan Laston Binder

Halus harus mempunyai jarak terhadap batas-batas yang ditentukan. Batas bawah dan batas atas
merupakan persen berat yang lolos terhadap total agregat dalam campuran.
Tabel 04: Amplop Gradasi Agregat Gabungan Laston
Binder Halus (Spesifikasi 2010)

Tabel 04 di atas adalah persyaratan Laston Binder Halus bergradasi menerus. Sedangkan
Laston Binder Kasar penggunaannya pada daerah yang mengalami deformasi yang lebih tinggi
dari biasanya, seperti paa daerah pegunungan, gerbang tol dan sebaginya.
ANALISIS
1. Mencari Gradasi Agregat Gabungan
Setelah hasil pemeriksaan propertis agregat dan aspal memenuhi persyaratan, maka
dilakukan pemeriksaan gradasi masing-masing fraksi, yaitu fraksi Agregat Kasar/Coarse
Agregate (Ca), Agregat Medium/Medium Agregate (Ma), Agregat Halus/Fine Agregate (Fa), dan
fraksi bahan Pengisi/Filler. Dari hasil pemeriksaan di Laboratorium Base Camp di dusun Badeg,
desa Subudi, Selat, Karangasem, diperoleh gradasi tiap-tiap fraksi, seperti ditunjukkan pada
Tabel 05 sd Tabel 08 serta Grafik 04 sd Grafik 07, sebagai berikut.
Tabel 05: Gradasi Fraksi Coarse Agregate (Ca)
Gambar 04: Grafik Gradasi Rata-Rata Coarse Agregate (Ca)

Dari Tabel 05 dapat dilihat agregat lolos 100% pada saringan ukuran 25.00 mm dan 19.00
mm, dan lolos 46.29% pada saringan 12.50 mm. Sebagian besar agregat tertahan pada saringan
ukuran 9.50 mm. Agregat kasar (Ca) bagian utama dari campuran yang menahan beban lalulintas
Tabel 06: Gradasi Fraksi Medium Agregate (Ma)
Gambar 05: Grafik Gradasi Rata-Rata Medium Agregate (Ma)

Dalam Tabel 06 diperlihatkan partikel agregat lolos 100% dari saringan 25.00 mm sd 9.50
mm. Partikel sebagian besar tertahan pada saringan 4.750 mm. Selanjutnya dari saringan 2.360
mm sd 0.075 terdistribusi secara merata (menerus).
Tabel 07: Gradasi Fraksi Fine Agregate (Fa)
Gambar 06: Grafik Gradasi Rata-Rata Fine Agregate (Fa)

Dari Tabel 07 dapat dilihat bahwa dari saringan ukuran 25.00 mm sd 9.50 mm agregat
masih lolos 100%. Pada saringan 4.750 mm sd 1.180 mm masih lolos lebih dari 50%. Fine
Agregate dapat berfungsi merapatkan campuran, memperkecil rongga-rongga antar partikel
agregat.
Tabel 08: Gradasi Fraksi Bahan Pengisi / Filler
Gambar 07: Grafik gradasi Rata-Rata Bahan Pengisi/Filler.

Dari Tabel 08 diperlihatkan bahwa gradasi bahan pengisi/filler pada proyek ini
digunakan cement portland lebih dari 75% lolos saringan No. 200. Filler berfungsi untuk
mengisi rongga-rongga dalam campuran (VIM) sehingga campuran dapat mencapai kepadatan
optimum. Filler juga berfungsi untuk membuat lapisan kedap air, sehingga kadar filler yang lebih
tinggi cocok pada lapis permukaan.
Setelah gradasi masing-masing fraksi agregat Ca, Ma, Fa, dan F didapat, langkah
berikutnya mulai melakukan pencampuran semua fraksi (blending) dengan takaran proporsi yang
sedemikian rupa sehingga gradasi agregat gabungan memenuhi spesifikasi yang dibatasi dengan
range batas bawah dan batas atas. Spesifikasi agregat gabungan dapat dilihat pada Tabel 04.
Penentuan takaran proporsi masing-masing fraksi agregat agar berada di antara batas
bawah dan batas atas pada spesifikasi, dilakukan dengan cara coba-coba (trial and error). Karena
Laston Binder gradasinya lebih kasar dari pada Laston Lapis Aus, sudah tentu proporsi Ca lebih
tinggi dari pada proporsi Ca pada Laston Lapis Aus.
Tabel 09: Percobaan I 35% Ca, 15% Ma, 49% Fa dan 1% F, didapat selisih = -14.37.

Pada Tabel 09 dicoba proporsi agregat 35% Ca, 15% Ma, 49% Fa dan 1% F, didapat
selisih = -14.37. Deviasi yang diperoleh terlalu besar, sehingga dicoba lagi berikut dengan
takaran proporsi fraksi agregat yang berbeda. Komposisi ini juga tidak memenuhi range batas
bawah dan batas atas, yaitu pada saringan 0.600 mm, diperoleh angka 20.69% berada di bawah
batas bawah yang ditentukan sebesar 20.7%.
Tabel 10: Percobaan II 32% Ca, 17% Ma, 50% Fa dan 1% F, didapat selisih = - 6.18.

Tabel 10 adalah gradasi agregat gabungan hasil dari percobaan II dengan komposisi
setiap fraksi adalah 32% Ca, 17% Ma, 50% Fa dan 1% F, didapat selisih = - 6.18. Hasil negatif
ini menandakan bahwa gradasi agregat gabungan berada di atas batas tengah. Deviasi ini masih
tergolong tinggi, sehingga perlu diperkecil lagi. Kurva yang dihasilkan berada antara kurva batas
bawah dengan batas atas.
Demikian seterusnya dilakukan percobaan yang berulangkali dengan mengubah takaran
proporsi tiap-tiap fraksi agregat, kecuali fraksi Filler yang sudah ditentukan dalam spesifikasi
sebesar 1 sd 2%. Dalam hal Percobaan ini ditentukan secara tetap proporsi filler sebesar 1%.
Tabel 11: Percobaan III 29% Ca, 18% Ma, 51% Fa dan 1% F, didapat selisih = + 4.86.

Tabel 11 adalah hasil dari percobaan yang berulang kali (trial and error), dengan takaran
proporsi fraksi agregat 29% Ca, 18% Ma, 51% Fa dan 1% F, didapat deviasi = + 4.86. Hasil yang
terakhir ini disepakati untuk digunakan sebagai rancangan campuran untuk produksi campuran
aspal selanjutnya. Bisa saja dengan takaran proporsi lainnya dapat menghasilkan deviasi yang
lebih kecil, yang lebih mendekati batas tengah.
Dengan hasil deviasi positif ini berarti kurva yang diperoleh berada di antara batas bawah
dan batas tengah. Jadi Kurva Gradasi Agregat Gabungan dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 08: Gradasi Agregat Gabungan dengan Deviasi Total = + 4.86.

2. Evaluasi Gradasi dengan Extraction Test

Evaluasi terhadap gradasi agregat gabungan dilakukan dengan extraction test, dengan
menguraikan lagi gradasi agregat gabungan dalam campuran, dimana aspal sebagai bahan
pengikat sudah lepas dari agregat. Agregat yang tanpa bahan pengikat tersebut sudah lepas satu
sama lainnya, dikeringkan kemudian diayak di atas susunan saringan. Susunan ukuran saringan
sama dengan ukuran saringan sewaktu membuat percobaan dalam menemukan gradasi agregat
gabungan.
Peralatan ekstraksi terdiri dari mangkok dan perlengkapan pada mangkok yang
memungkinkan berputar pada kecepatan yang dapat dikontrol di atas 3600 rpm (lihat Gambar
09). Kecepatan tersebut dapat dikontrol secara manual atau dengan mengatur kecepatan tersebut
terlebih dahulu. Perlengkapan tersebut tersedia dalam kontener (tempat penampung alat-alat)
untuk menangkap dan menampung cairan pelarut yang keluar dari mangkok dan sebagai saluran
buang untuk memindahkan cairan pelarut. Perlengkapan tersebut seharusnya lebih tersedia
dengan eksplosion-prod fatures (sebuah alat) dan terpasang pada sebuah penutup atau sebuah
permukaan efektif saluran agar tersedianya ventilasi (tempat udara keluar).
Gambar 09: Centrifuge Extractor.

1.
2.
3.

4.

Alat ekstraksi pelengkapnya adalah cincin penyaring, oven untuk menjaga temperatur
pada 2309C, panci rata untuk menghangat contoh, kesetimbangan/skala dengan sensitivitas 0.1
gram, plat panas elektrik, dan silinder graduated kapasitas 100 ml, 1000 ml atau 2000 ml.
Benda uji dapat diambil dari campuran yang belum dipadatkan dan pada campuran yang
sudah dipadatkan. Sampel campuran yang belum dipadatkan dapat diambil pada DT yang baru
keluar dari instalasi AMP. Sampel campuran yang sudah dipadatkan dapat diambil di lapangan,
dimana campuran intu dihampar. Pengambilan sampel dilakukan dengan alat Core Drill.
Pada proyek ini sampel campuran aspal diambil yang belum padat dan yang sudah
dipadatkan. Sampel yang belum dipadatkan diambil dari hasil produksi Lanston Binder yang
baru saja keluar dari AMP diangkut oleh DT. Pada sampel ini dilakukan pemeriksaan 3 (tiga) kali
setiap produksi.
Sampel campuran yang sudah dipadatkan diambil dari lapangan, di ruas jalan simpang
Tohpati simpang Sakah. Sampel campuran diambil pada lapis permukaan jalan setiap jarak
yang tertentu dengan jumlah sanpel yang diatur dalam spesifikasi 2010.
Pemeriksaan ekstraksi dilaksanakan di Laboratorium PJK, bertempat di Base Camp PT
Adi Murti, di dusun Badeg, desa Subudi, Selat, Karangasem. Adapun prosedur kerjanya adalah
sebagai berikut:
Tentukan jumlah uap dari material;
Letakkan porsi (sampel) pada mangkok;
Tutupi porsi pengetasan pada mangkok dengan thrichlorethylene (dapat digunakan bensin
sebagai pengganti thrichlorethylene), dan beri waktu yang cukup bagi pelarut (bensin) untuk
melarutkan porsi pengetesan (tidak lebih dari 1/2 jam). Letakkan porsi pengetesan pada mangkok
penampung dan pelarut (bensin) pada perlengkapan ekstraksi. Keringkan dan tentukan massa
dari cincin penyaring dan cocokkan atau paskan bibit sekeliling mangkok. Jepit penutup dari
mangkok dengan kencang (erat) dan letakkan gelas kimia dibawah saluran buang untuk
mengumpulkan ekstrak;
Mulailah proses pemutaran dengan pelan (centrifuge revoltving) dan tambahkan kecepatan
secara bertahap sampai mencapai kecepatan maksimum yaitu 3600 rpm, dan juga sampai pelarut
berhenti mengalir pada saluran pembuangan. Hentikan mesin dan tambahkan 200 ml (atau lebih
sesuai dengan massa sampel yang tepat) thrichlorethylene (bensin), dan ulangi prosedur tersebut.

5.

6.
7.
8.

Gunakan tambahan pelarut secukupnya sehingga ekstak tidak lebih gelap dari warna jerami
bersih. Kumpulkan ekstrak dan cuci pada penampung yang sesuai untuk penentuan bahan
mineral;
Lepaskan cincin penyaring dari mangkok dan keringkan dengan udara. Jika yang digunakan
sebagai penyaring adalah sabuk kelapa, gosoklah bahan material yang menempel pada
permukaan cincin dan tambahkan ke agregat ekstrak. Keringkan cincin pada temperatur yang
tetap pada suhu di atas 2309F (1155C). Hati-hatilah ketika memindahkan semua isi pada
mangkok ke panci besi dan keringkan pada tempat uap dan kemudian pada temperatur yang
tetap atau dengan plat polos pada 2309F (1105C). Jika thrichlorethylene atau
trichloroethane digunakan sebagai pelarut ekstrak, pengeringan awal pada tempat penguap dapat
dihilangkan. Massa dari agregat ekstrak (W3) sama dengan massa dari agregat pada panci
ditambah peningkatan massa pada cincin penyaring;
Tentukan jumlah dari bahan material pada pengekstrakan untuk metode ini, pemusingan yang
tepat mungkin digunakan (700 gram atau lebih);
Setelah proses pengekstraksian, masukkan pelarut campuran bitumen kedalam alat
pemutar/pemusing dan putar dengan pelan. Tingkatkan kecepatan secara bertahap pada 700 gram
atau lebih selama 30 menit. Pindahkan pelarut;
Keringkan botol dengan udara, pindahkan material yang memungkinkan. Timbang material dan
tambahkan pada berat agregat ekstrak.
.

Tabel 12: Hasil Pemeriksaan I Penguraian Aspal dari agregat pada campuran yang belum dipadatkan.

Setelah melalui proses pemisahan antara agregat dan aspal diperoleh kadar aspal pada
Tabel 12 sebesar 6.23 %, angka ini melebihi dari angka yang ditetapkan sebelumnya dan yang
telah disepakati (kadar aspal optimum) sebesar 6.20%. Namun spesifikasi 2010 memberi
toleransi sebesar 0.3% berat total campuran. Dengan selisih sebesar 0.03% dapatlah dikatakan
instalasi AMP bekerja secara akurat sesuai dengan sertifikat kalibrasi yang dikantonginya.
Selanjutnya setelah kadar aspal campuran dapat diketahui, pekerjaan berikutnya
mengeringkan dalam oven agregat yang telah terpisah dengan aspal. Agregat yang sudah dalam
kondisi kering kemudian ditaruh pada seperangkat saringan yang disusun sedemikian rupa sama
dengan sewaktu membuat/menentukan gradasi agregat gabungan. Hasil pengayakan agregat
seperti tertera pada Tabel 13.
Tabel 13: Hasil Pemeriksaan I Penguraian Gradasi Agregat Gabungan pada campuran yang belum dipadatkan.

Gradasi agregat gabungan yang diuraikan kembali tersebut ditimbang jumlah berat yang
tertahan pada tiap-tiap ukuran saringan, didapat persentase akumulatif yang tertahan. Untuk
mencari persentase akumulasi yang lolos (pass) tinggal mengurangi angka 100 dengan %
Retaining (tertahan).
Pada Tabel 13 diperlihatkan pada saringan 4.750 mm terdapat deviasi negatif yang
tertinggi (- 1.78) terhadap gradasi JMF, sedangkan deviasi positif yang terbesar pada saringan
9.500 mm (+ 1.15%). Secara keseluruhan penjumlahan semua deviasi tersebut menghasilkan
deviasi total sebesar (- 5.38%). Hal ini disebabkan deviasi negatif lebih banyak dan lebih besar
dari pada deviasi positif. Deviasi negatif terhadap gradasi JMF berarti kurva gradasi ekstraksi
berada di atas gradasi JMF.
Tabel 14: Hasil Pemeriksaan II Penguraian Agregat dengan Aspal.

Hasil pemeriksaan berikutnya pada Tabel 14, memberikan selisih yang lebih kecil pada
kadar aspal. Setelah dipisahkan dengan agregat diperoleh kadar aspal 6.22%, dengan deviasi
0.02%. Kadar aspal rancangan yang dikerjakan di Laboratorium seringkali tidak sama dengan
kadar aspal yang diproduksi AMP. Tetapi dengan toleransi deviasi 0.3% seperti yang disyaratkan
spesifikasi 2010, deviasi itu memenuhi syarat.
Tabel 15: Hasil Pemeriksaan II Penguraian Gradasi Agregat Gabungan.

Pada Tabel 15, diperlihatkan hasil evaluasi gradasi agregat gabungan, dengan deviasi
positif (+) terdapat pada saringan 4.750 mm, 1.180 mm, dan 0.300 mm. Deviasi (+) terbesar
terdapat pada saringan 4.750 sebesar 1.68%. Deviasi negatif (-) terdapat pada saringan 12.500
mm, 9,500 mm, 2.360 mm, 0.600 mm, 0.150 mm, dan 0.075 mm. Secara keseluruhan deviasi
total sebesar 4.20%, masih lebih kecil dari deviasi pada Tabel 13.

1.
2.
3.

4.

SIMPULAN
Buku Spesifikasi 2010 sebagai salah satu dokumen kontrak dalam pelaksanaan pekerjaan
Proyek Pemeliharaan Berkala Ruas Jalan Simpang Tohpati Simpang Sakah menjadi dokumen
yang amat penting. Spesifikasi 2010 menjadi standar dalam pengawasan mutu pelaksanaan
pekerjaan. Beberapa hal yang dapat disimpulkan adalah:
Propertis material baik aspal maupun agregat dalam proyek ini sudah memenuhi persyaratan
spesifikasi, sehingga layak digunakan sebabagai bahan campuran aspal Laston Binder.
Gradasi agregat gabungan memiliki deviasi yang kecil terhadap batas tengah Spesifikasi yaitu
sebesar = + 4.86 %. Deviasi positif (+) menunjukkan kurva yang dihasilkan berada di antara
batas bawah dan batas tengah.
Evaluasi kadar aspal dan gradasi agregat gabungan dalam campuran aspal dilakukan dengan
extraction test. Dari pemeriksaan ekstraksi ini diperoleh deviasi kadar aspal yang relatif kecil
sebesar 0.02% dan 0.03%. Nilai yang ditolerir oleh spesifikasi adalah 0.3 % berat total
campuran. Hal ini menunjukkan kalibrasi instalasi AMP memberikan hasil yang akurat.
Pemeriksaan gradasi agregat gabungan pada campuran yang belum dan yang sudah dipadatkan
yang dibandingkan dengan gradasi agregat gabungan pada JMF memberikan hasil yang
memuaskan, dengan angka deviasi yang relatif kecil. Angka deviasi yang didapat adalah sebesar
5.38% pada campuran yang belum dipadatkan dan 4.20% pada campuran yang sudah
dipadatkan