Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Minat
Minat adalah kecenderungan yang agak menetap pada subjek untuk
merasa tertarik pada bidang tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam
bidang tersebut. Minat merupakan dorongan perhatian terhadap sesuatu yang
disertai dengan perasaan dan pikiran (Habsari, 2005). Minat dapat
menyebabkan seseorang giat melakukan suatu kegiatan menuju ke sesuatu yang
telah menarik minatnya (Gunarsa, 2008). Minat merupakan faktor psikologi
yang terbentuk dan berkembang oleh adanya pengaruh bawaan dan pengaruh
lingkungan. Namun faktor lingkungan merupakan faktor paling dominan yang
dapat mempengaruhi minat. Pada umumnya minat dapat menentukan sebuah
sikap seseorang dalam mengambil tindakan.
Menurut Muhammadinah (2009), minat diartikan sebagai kehendak,
keinginan atau kesukaan. Minat seseorang terhadap suatu objek diawali dari
perhatian seseorang terhadap objek tersebut. Minat sangat menentukan dalam
setiap usaha dan perlu dikembangkan dalam setiap individu. Faktor-faktor yang
menimbulkan minat dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Faktor kebutuhan diri
Faktor kebutuhan diri dapat berupa kebutuhan yang berhubungan
dengan jasmani dan kejiwaan.
2. Faktor-faktor sosial
Faktor sosial timbul karena minat dalam diri seseorang dapat didorong
oleh motif sosial, yaitu kebutuhan untuk mendapat pengakuan dan harga
diri lingkungan dimana ia berada.
3. Faktor emosional
Merupakan ukuran intensitas seseorang dalam menaruh perhatian
terhadap sesuatu kegiatan atau objek tertentu.

13

Aspek aspek minat adalah sebagai berikut:


a.
Sikap umum terhadap aktivitas (general attitude toward the activity).
Sikap umum disini maksudnya adalah sikap yang dimiliki oleh individu,
b.

yaitu perasaan suka atau tidak suka terhadap aktivitas.


Pilihan spesifik untuk menyukai aktivitas (spesific preference for or liking
the activity). Individu akan memutuskan pilihannya untuk menyukai

c.

aktivitas tersebut.
Merasa senang dengan aktivitas (enjoyment of the activity), yaitu perasaan
senang individu terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan

d.

aktivitasnya.
Aktivitas tersebut mempunyai arti atau penting bagi individu (personel
importance or significance of the activity to the individual). Individu

e.

merasa bahwa aktivitas yang dilakukannya sangat berarti.


Adanya minat intrisik dalam isi aktivitas (instrinsic interest in the content
of

f.

activity).

Dalam

aktivitas

tersebut

terdapat

perasaan

yang

menyenangkan.
Berpartisipasi dalam aktivitas (reported choise of or participation in the
activity). Individu akan berpartisipasi dalam aktivitas itu karena
menyukainya.

2.1.2 Konsep Karir


Karir merupakan posisi yang dipegang individu dalam suatu jabatan di
suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Karir dipandang sebagai
rangkaian promosi untuk memperoleh pekerjaan yang lebih mempunyai beban
tanggung jawab lebih tinggi atau penempatan posisi yang lebih baik dalam
hirarki pekerjaan seseorang sepanjang kehidupan kerjanya.
2.1.2.1 Karir di Bidang Perpajakan
Pajak merupakan penyumbang terbesar dalam porsi penghasilan
Indonesia dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Untuk mendukug besaran

14

penerimaan tersebut, Indonesia membutuhkan pegawai pajak yang yang


profesional. Tidak hanya pemerintah yang membutuhkan tenaga yang ahli
dalam bidang perpajakan. Banyak wajib pajak baik perusahaan maupun
perorangan yang mencari orang-orang yang mengerti dengan ilmu perpajakan
untuk membantu mereka dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.
Profesi yang terkait dengan disiplin ilmu perpajakan
(www.pajakonline.com) adalah sebagai berikut:
a) Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) diberi kepercayaan, wewenang, dan
tanggung jawab untuk memberikan pelayanan, pembinaan, dan pengawasan
secara langsung kepada wajib pajak tertentu. Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
memiliki peranan yang penting dalam menjamin bahwa Wajib Pajak
mengerti akan kewajiban perpajakannya. Peranan ini diserahkan secara
langsung kepada para petugas yang berkompeten dalam menunjang
suksesnya sistem kemandirian yangdiberikan kepada Wajib Pajak Indonesia.
b) Konsultan Pajak
Profesional yang bukan merupakan karyawan WP yang telah memenuhi
kualifikasi pendidikan tertentu dan memiliki izin dari Menteri Keuangan
untuk memberikan nasehat perpajakan, dapat menerima kuasa untuk
melaksanakan kewajiban perpajakan atas nama WP dengan menerima
imbalan tertentu (fee), meskipun tanggung jawab tetap berada pada WP itu
sendiri.
Selain menyelesaikan kasus-kasus perpajakan, konsultan pajak dituntut
untuk senantiasa memberikan masukan mengenai prinsip-prinsip dan
manajemen perpajakan yang harus ditempuh oleh kliennya agar dapat

15

mengoptimalkan kepatuhan terhadap UU dan peraturan pajak yang berlaku.


Motif utama yang paling mendasar atas profesi Konsultan Pajak adalah fee
oriented, sehingga setiap perkembangan, kegiatan, perencanaan, kasus,
sengketa maupun dampak atas perubahan kebijakan perpajakan yang terjadi
dilakukan berdasarkan motif untuk menghasilkan fee secara optimal.
c) Tax Specialist (Perusahaan)
Profesional, bukan pegawai DJP dan bukan Konsultan Pajak, yang
memiliki kemampuan dan latar belakang perpajakan yang memadai serta
memiliki kualifikasi teknis tertentu untuk melaksanakan seluruh kewajiban
dan kepatuhan perpajakan, memberikan analisa atas setiap permasalahan
perpajakan yang terjadi, serta menginformasikan dampak dari setiap
perubahan tersebut kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Pada praktiknya, profesi Tax Specialist dapat berfungsi sebagai
pengelola pajak (Tax Manager) didalam Perusahaan, pengajar/ akademisi
ilmu bidang perpajakan, maupun pengamat serta analis perpajakan.
Tax Manager adalah Tax Specialist yang mewakili manajemen WP
dalam menangani seluruh aspek perpajakan perusahaan yang telah
memenuhi kulaifikasi teknis tertentu dan menerima gaji dari perusahaan. Tax
Manager dituntut untuk menciptakan dan menjalankan suatu sistem internal
informasi perpajakan yang efektif dan efisien untuk menciptakan kualitas
dokumen dan pelaporan perpajakan yang auditable dan reliable. Tax
Manager wajib mengetahui jalannya kegiatan usaha perusahaan dan
mengidentifikasi setiap kelemahan yang ada, untuk kemudian melakukan
suatu pendekatan yang sistematis dan komprehensif untuk memenuhi
kewajiban kepatuhan perpajakan.
Pengajar atau instruktur atau akademisi perpajakan adalah Tax
Specialist yang memahami landasan teori dan operasional perpajakan yang

16

kuat, dapat melihat aspek perpajakan dari berbagai sisi dan kepentingan,
dapat melakukan pendekatan-pendekatan ilmiah atas setiap perkembangan,
kegiatan, perencanaan, kasus, sengketa maupun perubahan perpajakan yang
terjadi serta telah memiliki kualifikasi teknis tertentu untuk secara
komprehensif melakukan transfer of knowledge kepada pihak-pihak lain
yang berkepentingan dengan selalu menjaga keseimbangan dari informasi
yang didistribusikan tersebut.
Pengamat dan analis perpajakan adalah Tax Specialist dengan latar
belakang disiplin ilmu yang beragam yang dapat melakukan penilaian
(assessment) atas setiap perubahan kebijakan perpajakan, penerapan
kebijakan baru, kasus-kasus perpajakan yang terjadi, serta berbagai
perkembangan perpajakan lainnya, dan pengaruhnya terhadap Wajib Pajak
berdasarkan disiplin ilmu yang telah mereka miliki. Pengamat dan analis
perpajakan seyogyanya telah memenuhi kualifikasi teknis tertentu untuk
dapat memberikan analisa atau melakukan pengamatan secara tajam
berbobot, bermanfaat dan berimbang.
2.1.2.2 Minat Karir dibidang Perpajakan
Minat mahasiswa untuk berkarir dibidang perpajakan dapat dicetuskan
oleh berbagai hal. Stimulus yang diperoleh dari lingkungan sekitar seperti
dosen yang sebagian besar juga merangkap sebagai praktisi memberikan
dorongan bagi mahasiswa untuk menumbuhkan minat berkarirnya.
2.1.3 Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu
suatu stimulus yang diterima oleh individu melalui alat reseptor yaitu indera.

17

Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya.


Persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan
kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang
apa yang diindera.
Gibson (dalam Ivancevich, 2008) medefinisikan persepsi adalah proses
kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan memahami
dunia sekitarnya (terhadap obyek). Gibson juga menjelaskan bahwa persepsi
merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Oleh
karena itu, setiap individu memberikan arti kepada stimulus secara berbeda
meskipun obyeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali lebih
penting daripada situasi itu sendiri.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan atau
penerimaan langsung dari suatu atau merupakan proses seseorang mengetahui
beberapa hal dari panca indera. Walgito (2004: 88) menyatakan bahwa persepsi
merupakan pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus pada
inderannya dan merupakan respon yang integrated dalam diri individu.
Penginderaan akan dikaitkan dengan stimulus, sedangkan persepsi dikaitkan
dengan objek. Dengan persepsi seseorang akan menyadari tentang keadaan
disekitarnya dan juga keadaan diri sendiri. Persepsi setiap manusia berbeda atas
suatu obyek yang dilihat dan dialaminya. Perbedaan ini terjadi karena persepsi
merupakan hasil pengamatan individu terhadap suatu obyek yang diperoleh dari
penafsiran masing-masing individu.
Atas beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan
tanggapan seseorang dalam memahami apapun yang ada disekitarnya. Persepsi
dan penilaian seseorang sangat dipengaruhi oleh asumsi (stimulus) yang dibuat

18

oleh individu atas suatu hal tersebut. Subana (2007), dalam Hidayatulloh
(2010), mengidentifikasikan tahap-tahap persepsi sebagai berikut:
a. Penerimaan Stimulus
Terjadi apabila seseorang menghadapi stimulus atau rangsangan tertentu
yang terjadi pada lingkungannya yang berupa peristiwa, hasil kerja suatu
organisai maupun orang-orang yang berada disekelilingnya. Stimulus
diterima melalui pancaindera yang dimiliki oleh manusia.
b. Seleksi Stimulus
Terjadi apabila seseorang dalam likungan sekitarnya menghadapi
berbagai stimulus yang berbeda jumlah intensitasnya, sehingga tidak
memungkinkan untuk mengingat dan menanggapi semua stimulus yang ada
secara bersama-sama. Proses seleksi dilakukan dengan memperhatikan
faktor-faktor internal (kebutuhan dan motif pengalaman, pengetahuan, dan
harapan) dan faktor-faktor eksternal (kontinuitas, ukuran, dan pengulangan)
c. Pengorganisasian Stimulus
Suatu proses pengumpulan dan penyusunan suatu informasi yang
beragam menjadi suatu bentuk tertentu yang lebih mudah dimengerti dan
teratur.
d. Interpretasi
Suatu penafsiran dari informasi yang telah diorganisir sehingga
diperoleh suatu pengertian yang dapat dipahami. Sifat penafsiran ini sangat
tergantung pada masing-masing individu.
e. Reaksi
Tindakan yang dilakukan seseorang sesuai dengan informasi yang telah
diserap melalui tahap interpretasi. Reaksi ini bisa berupa sikap, pendapat
atau aktivitas nyata.
2.1.4 Motivasi
Motivasi merupakan kekuatan seseorang yang dapat menimbulkan
tingkat persistensi dan antusiasme dalam melakukan suatu kegiatan, baik yang

19

bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari
luar individu (motivasi ekstrinsik)
Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan
seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi
menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks
dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu,
baik disadari maupun tidak disadari (Makmun, 2003). Motivasi adalah sesuatu
hal yang menyebabkan dan mendukung tindakan atau perilaku seseorang.
2.1.4.1 Teori Motivasi
Motivasi membuat seseorang bekerja lebih berprestasi. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental
yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan
memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi
kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan.
2.1.4.1.1 Teori Motivasi Kepuasan (Content Theory)
Teori ini merupakan teori yang didasarkan pada kebutuhan insan dan
kepuasannya. Maka dapat dicari faktor-faktor pendorong dan penghambatnya.
Pada teori kepuasan ini didukung juga oleh para pakar diantaranya:
a. Teori Hirarki Kebutuhan ( A. Maslow)
Inti teori Maslow adalah bahwa kebutuhan tersusun dalam suatu hirarki
(Ivancevich, 2008). Penjelasan mengenai konsep motivasi manusia menurut
Maslow mengacu pada lima kebutuhan pokok yang disusun secara hirarkis.
Tata lima tingkatan motivasi secara hierarkis ini adalah sebagai berikut:
1.

Kebutuhan yang bersifat fisiologis (lahiriyah)


Manifestasi kebutuhan ini terlihat dalam tiga hal pokok, sandang,
pangan dan papan. Bagi karyawan, kebutuhan akan gaji, uang lembur,
hadiah-hadiah dan fasilitas lainnya seperti rumah, dan kendaraan.

20

Menjadi motif dasar bagi seseorang mau bekerja, menjadi efektif dan
2.

dapat memberikan produktivitas yang tinggi bagi organisasi.


Kebutuhan keamanan dan keselamatan kerja (Safety Needs)
Kebutuhan ini mengarah kepada rasa keamanan, ketentraman dan
jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatanya, wewenangnya dan
tanggung jawabnya sebagai karyawan. Pekerja dapat bekerja dengan
antusias dan penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan formal

3.

atas kedudukan dan wewenangnya.


Kebutuhan sosial (Social Needs)
Kebutuhan akan kasih sayang dan bersahabat (kerjasama) dalam
kelompok kerja atau antar kelompok. Kebutuhan akan diikutsertakan,
meningkatkan relasi dengan pihak-pihak yang diperlukan dan
tumbuhnya rasa kebersamaan termasuk adanya sense of belonging

4.

dalam organisasi.
Kebutuhan akan prestasi (Esteem Needs)
Kebutuhan akan kedudukan dan promosi dibidang kepegawaian.
Kebutuhan akan simbol-simbol dalam statusnya, serta prestise yang
ditampilkannya.

5.

Kebutuhan mempertinggi kapisitas kerja (Self actualization)


Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik.
Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan
dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra
dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini
diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan
antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil
produktivitas organisasi yang lebih tinggi.
Teori Maslow tentang motivasi secara mutlak menunjukkan perwujudan
diri sebagai pemenuhan (pemuasan) kebutuhan yang bercirikan pertumbuhan

21

dan

pengembangan

individu.

Perilaku

yang

ditimbulkannya

dapat

dimotivasikan oleh manajer dan diarahkan sebagai subjek-subjek yang


berperan. Dorongan yang dirangsang ataupun tidak, harus tumbuh sebagai
subjek yang memenuhi kebutuhannya masing-masing yang harus dicapainya
dan sekaligus selaku subjek yang mencapai hasil untuk sasaran-sasaran
organisasi.
b. Teori Tiga Motif Sosial (D. McClelland)
David Clarence McClelland dikenal untuk karyanya pada pencapaian
motivasi.

David

McClelland

memelopori

motivasi

kerja

berpikir,

mengembangkan pencapaian berbasis teori dan model motivasi, dan


dipromosikan dalam perbaikan metode penilaian karyawan, serta advokasi
berbasis kompetensi penilaian dan tes. Ide nya telah diadopsi secara luas di
berbagai organisasi, dan berkaitan erat dengan teori FrederickHerzberg. David
McClelland dikenal menjelaskan tiga jenis motivasi, yang diidentifikasi dalam
buku The Achieving Society (Ivancevich, 2008):
1. Motivasi untuk berprestasi (n-ACH)
Kebutuhan akan prestasi merupakan dorongan untuk mengungguli,
berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses.
Kebutuhan ini pada hirarki Maslow terletak antara kebutuhan akan
penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Ciri-ciri inidividu yang
menunjukkan orientasi tinggi antara lain bersedia menerima resiko yang
relatif tinggi, keinginan untuk mendapatkan umpan balik tentang hasil kerja
mereka, keinginan mendapatkan tanggung jawab pemecahan masalah.
n-ACH adalah motivasi untuk berprestasi , karena itu karyawan akan
berusaha mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat
realistis tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan. Karyawan perlu

22

mendapat umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk pengakuan


terhadap prestasinya tersebut.
2. Motivasi untuk berkuasa (n-pow)
Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang
lain berperilaku dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak
akan berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain. Kebutuhan ini pada teori
Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan
aktualisasi diri. McClelland menyatakan bahwa kebutuhan akan kekuasaan
sangat berhubungan dengan kebutuhan untuk mencapai suatu posisi
kepemimpinan. Karyawan memiliki motivasi untuk berpengaruh terhadap
lingkungannya, memiliki karakter kuat untuk memimpin dan memiliki ide-ide
untuk menang. Ada juga motivasi untuk peningkatan status dan prestise
pribadi.
3. Motivasi untuk berafiliasi/bersahabat (n-affil)
Kebutuhan akan Afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi
yang ramah dan akrab. Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai
hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak
lain. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi yang tinggi umumnya
berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksi sosial yang tinggi.
McClelland mengatakan bahwa kebanyakan orang memiliki kombinasi
karakteristik tersebut, akibatnya akan mempengaruhi perilaku karyawan
dalam bekerja atau mengelola organisasi.
c. Teori Dua Faktor (Frederick Herzberg)
Frederick Herzberg mengemukakan teori motivasi berdasar teori dua
faktor yaitu faktor higiene dan motivator (Ivancevich, 2008). Hezberg membagi

23

kebutuhan Maslow menjadi dua bagian yaitu kebutuhan tingkat rendah (fisik,
rasa aman, dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (prestise dan aktualisasi
diri) serta mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi individu
adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya.
Menurut Hezberg, faktor-faktor seperti kebijakan,

administrasi

perusahaan, dan gaji yang memadai dalam suatu pekerjaan akan menentramkan
karyawan. Bila faktor-faktor ini tidak memadai maka orang-orang tidak akan
terpuaskan.
Herzberg menyatakan bahwa orang dalam melaksanakan pekerjaannya
dipengaruhi oleh dua faktor yang merupakan kebutuhan, yaitu :
1. Maintenance Factors
Adalah faktor-faktor pemeliharaan yang berhubungan dengan hakikat
manusia yang ingin memperoleh ketentraman badaniah. Kebutuhan
kesehatan ini merupakan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus,
karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi.
2. Motivation Factors
Adalah faktor motivator yang menyangkut kebutuhan psikologis
seseorang yaitu perasaan sempurna dalam melakukan pekerjaan. Factor
motivasi ini berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang
berkaitan langsung denagn pekerjaan.
d. Teori E-R-G ( Clayton Alderfer)
Alderfer mengemukakan tiga tingkat kategori kebutuhan (Ivancevich,
2008). Kebutuhan tersebut adalah ;
1. Eksistence (E) atau Eksistensi
Meliputi kebutuhan fisiologis sepeerti lapar, rasa haus, seks, kebutuhan
materi, dan lingkungan kerja yang menyenangkan.
2. Relatedness (R) atau keterkaitan

24

Menyangkut hubungan dengan orang-orang yang penting bagi kita,


seperti anggota keluarga, sahabat, dan penyelia di tempat kerja.
3. Growth (G) atau pertumbuhan
Meliputi kenginginan kita untuk produktif dan kreatif dengan
mengerahkan segenap kesanggupan kita.
Alderfer menyatakan bahwa bila kebutuhan akan eksistensi tidak
terpenuhi, pengaruhnya mungkin kuat, namun kategori-kategori kebutuhan
lainnya mungkin masih penting dalam mengarahkan perilaku untuk mencapai
tujuan. Meskipun suatu kebutuhan terpenenuhi, kebutuhan dapat berlangsung
terus sebagai pengaruh kuat dalam keputusan.
2.1.4.1.2 Teori Motivasi Proses (Process Theory)
Teori ini berusaha agar setiap pekerja giat sesuai dengan harapan organisasi
a.

perusahaan. Dalam hal ini teori motivasi proses yang dikenal seperti:
Teori Harapan (Expectancy Theory)
Teori harapan dikembangkan oleh Vroom yang diperluas oleh Porter
dan Lawler. Inti dari teori harapan terletak pada pendapat yang
mengemukakan bahwa kuatnya kecenderungan seseorang bertindak
bergantung pada harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti oleh suatu
hasil tertentu dan terdapat daya tarik pada hasil tersebut bagi orang yang
bersangkutan. Vroom mengembangkan sebuah teori motivasi atas
ekspektansi dari pilihan (Ivancevich, 2008). Motivasi dijelaskan dengan
mengkombinasikan ketiga prinsip ini. Orang

akan termotivasi bila ia

percaya bahwa :
1. Suatu perilaku tertentu akan menghasilkan hasil tertentu
2. Hasil tersebut punya nilai positif baginya
3. Hasil tersebut dapat dicapai dengan usaha yang dilakukan seseorang

25

Dengan kata lain Motivasi, dalam teori harapan adalah keputusan untuk
b.

mencurahkan usaha.
Teori Keadilan (Equity Theory)
Teori keadilan yang dikembangkan oleh Adam didasari pada asumsi
bahwa puas atau tidaknya seseorang terhadap apa yang dikerjakannya
merupakan hasil dari membandingkan antara input usaha, pengalaman,
skill, pendidikan dan jam kerjanya dengan output atau hasil yang
didapatkan dari pekerjaan tersebut (Mangkunegara, 2005)
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk
menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan
organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai
mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua
kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
1. Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar
2. Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas
yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan suatu persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya
menggunakan empat macam hal sebagai pembanding, hal itu antara lain :
1. Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima
berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat
pekerjaan dan pengalamannya;
2. Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi
dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;
3. Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan
yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;

26

4. Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis


imbalan yang pada nantinya akan menjadi hak dari para pegawai yang
bersangkutan.
c. Teori Penetapan Tujuan (Goal Setting Theory)
Dalam teori ini, Edwin Locke mengemukakan kesimpulan bahwa
penetapan suatu tujuan tidak hanya berpengaruh terhadap pekerjaan saja,
tetapi juga memengaruhi orang tersebut untuk mencari cara yang efektif
dalam mengerjakannya (Mangkunegara, 2005). Kejelasan tujuan yang
hendak dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya akan
menumbuhkan motivasi yang tinggi. Tujuan yang sulit sekalipun apabila
ditetapkan sendiri oleh orang yang bersangkutan atau organisasi yang
membawahinya akan membuat prestasi yang meningkat, asalkan dapat
diterima sebagai tujuan yang pantas dan layak dicapai (Siagian, 2004).
d. Teori X Y
Douglas McGregor yang menyatakan bahwa ada dua pandangan tentang
manusia: yang pertama pada dasarnya negatif (teori-X) dan kedua pada
dasarnya positif (teori-Y). McGregor berkesimpulan bahwa pandangan
seorang manajer tentang sifat manusia didasarkan atas pengelompokan
asumsi tertentu dan manmusia cenderung menyesuaikan perilakunya
terhadap bawahannya sesuai dengan asumsi-asumsi tersebut.
Implikasi dari teori-X dan teori-Y terhadap teori organisasi, McGregor
berargumentasi bahwa asumsi teori-Y lebih disukai dan dapat membimbing
para manajer dalam merancang organisasi mereka serta dapat memotivasi
pegawai-pegawainya. Secara singkatteori ini menyatakan bahwa dua
pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia, pada dasarnya satu

27

negatif (teori X) yang mengandaikan bahwa kebutuhan order rendah


mendominasi individu, dan satu lagi positif (teori Y) bahwa kebutuhan
order tinggi mendominasi individu.
2.1.5 Penghargaan
Dalam lingkup luas, sistem penghargaan organisasional adalah semua yang
dihargai dan diinginkan sumber daya manusia yang mampu dan mau diberikan
perusahaan sebagai ganti atas kontribusi yang diberikan sumber daya manusia
tersebut (Wijayanti, 2001 dalam Merdekawati, 2011). Didalamnya terbagi lagi
menjadi berbagai penghargaan finansial dan non-finansial. Meskipun uang adalah
alat yang sangat besar pengaruhnya bagi karyawan dan produktivitas mereka,
dampak dari penghargaan non-finansial juga sama berartinya bagi karyawan.
2.1.5.1 Penghargaan Finansial
Penghargaan finansial atau gaji adalah hasil yang diperoleh sebagai
kontraprestasi yang telah diyakini secara mendasar bagi sebagian perusahaan
sebagai daya tarik utama untuk memberikan kepuasan kepada karyawan
(Wijayanti, 2001 dalam Merdekawati, 2011). Penghargaan finansial berfungsi
untuk meningkatkan usaha personel dalam menghasilkan kinerja melalui
peningkatan kepastian dan meningkatkan usaha personel dalam menghasilkan
kinerja melalui peningkatan nilai penghargaan.
Penghargaan moneter dapat berdampak besar terhadap perilaku
personel, karena hampir setiap orang memandang uang sebagai suatu yang
bernilai. Uang dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa yang digunakan
untuk memenuhi berbagai keinginan manusia. Uang juga memiliki nilai
simbolis. Uang mencerminkan pencapaian dan sukses serta kadang-kadang
meningkatkan harga diri dan kekuasaan seseorang.
2.1.6 Pengakuan Profesional

28

Pengakuan profesional meliputi hal-hal yang berhubungan dengan


pengakuan terhadap prestasi. Pengakuan profesional ini meliputi adanya
kemungkinan bekerja dengan ahli yang lain, kesempatan untuk berkembang
dan pengakuan prestasi. Pengakuan profesional meliputi kesempatan untuk
berkembang, adanya pengakuan apabila berprestasi, cara untuk kenaikan
pangkat, dan keahlian untuk mencapai sukses (Widyasari, 2010).
Elemen-elemen dalam pengakuan profesional ini diantaranya adalah
adanya pelatihan kerja, adanya pelatihan profesi, adanya pengakuan prestasi,
pengalaman kerja yang bervariasi, kesempatan berkompetisi dan perlunya
keahlian untuk mencapai sukses.
2.1.7 Pertimbangan Pasar Kerja
Pertimbangan pasar kerja meliputi keamanan kerja dan tersedianya
lapangan kerja atau kemudahan mengakses lowongan kerja (Rahayu, 2003
dalam Merdekawati 2011). Keamanan kerja yang dimaksud adalah pekerjaan
dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Karir yang diharapkan bukan pilihan karir sementara, akan tetapi harus
dapat terus berlanjut sampai seseorang nantinya akan pensiun. Dalam hal ini
bukan berarti jabatan kerja tetap stagnan diposisi yang sama ketika pekerja baru
memulai karir hingga akhir masa kerja ketika pensiun.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian pertama dilakukan oleh Fitriani dan Yuliarti (2004) yang
meneliti pengaruh tingkat pendidikan dan jenis program pendidikan dengan
persepsi terhadap profesi akuntansi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa
semakin senior (semakin lama mahasiswa mengikuti pendidikan akuntansi),
semakin mahasiswa tidak suka akuntansi dan semakin tidak ingin berkarir dan
berprofesi sebagai akuntan. Hal ini terjadi pada program S-1 reguler dan

29

ekstensi. Sementara pada program D-3 tidak ada perbedaan antara senior dan
junior.
Penelitian kedua dilakukan oleh Widyastuti, dkk (2004). Penelitian ini
menggunakan variabel motivasi karir, motivasi kualitas dan motivasi ekonomi
sebagai variable independen sementara variable dependennya adalah minat
mahasiswa untuk mengikuti PPAk. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa
motivasi karir merupakan faktor yang paling signifikan mempengaruhi minat
mahasiswa untuk mengikuti PPAk, sedangkan untuk motivasi kualitas dan
motivasi ekonomi tidak signifikan mempengaruhi minat untuk mengikuti
PPAk. Serta ada perbedaan minat antara mahasiswa tingkat awal dan tingkat
akhir.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Setiyani (2005). Setiyani meneliti
faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan karir mahasiswa sebagai Akuntan
Publik. Hasil penelitian ini adalah gaji, pelatihan profesional, pengakuan
profesional, lingkungan kerja menyebabkan perbedaan peilihan karir.
Sementara nilai intrinsik pekerjaan, pertimbangan pasar kerja, dan nilai-nilai
sosial tidak menyebabkan perbedaan.
Penelitian keempat dilakukan oleh Lisnasary dan Fitriyani (2008). Hasil
penelitian ini menyatakan bahwa pada mahasiswa akuntansi ekstension, faktor
yang mempengaruhi minat mengikuti PPAk adalah motivasi gelar, masa
pendidikan, dan motivasi karier sementara pada mahasiswa akuntansi regular
tidak ada satu pun faktor yang mempengaruhi minat mengikuti PPAk Pada
mahasiswa PPAk, faktor yang mempengaruhi minat mengikuti PPAk adalah
motivasi karier dan USAP.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Widyasari (2010). Penelitian ini
menyatakan bahwa secara keseluruhan ada perbedaan pandangan mahasiswa

30

akuntansi yang dilihat dari keinginan karir akuntan yang ditinjau dari gaji/
penghargaan finansial, pelatihan profesional, pengakuan profesional, nilai-nilai
sosial, lingkungan kerja dan pertimbangan pasar kerja. Sedangkan dari
personalitas disimpulkan bahwa secara keseluruhan tidak ada perbedaan
pandangan dari mahasiswa akuntansi.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Uyar, Haydar dan Kuzey (2011)
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan karir bidang akuntansi
oleh mahasiswa. Peneliti tersebut mengaitkan antara performa jurusan
akuntansi dan pilihan karir mahasiswa dibidang akuntansi. Menurut penelitian
ini, faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa untuk berkarir dibidang
akuntansi adalah ketertarikan dibidang akuntansi, kesempatan yang tersedia dan
keselarasan dengan latar pendidikan.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Puspitarini dan Fariyana (2011)
mengenai faktor-faktor mempengaruhi minat mahasiswa akuntansi mengikuti
PPAk. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa motivasi karir, motivasi ekonomi,
motivasi kualitas, motivasi mencari ilmu, motivasi gelar, motivasi mengikuti
USAP, biaya pendidikan PPAk, dan lama pendidikan PPAk mempengaruhi
minat mahasiswa akuntansi mengikuti PPAk.
Penelitian berikutnya dilakukan oleh Merdekawati dan Sulistyawati
(2011) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan karir Akuntan
Publik dan Non Akuntan Publik. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa
Penghargaan finansial, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja, dan
personalitas secara parsial tidak berpengaruh terhadap pemilihan karir Akuntan
Publik dan Non Akuntan Publik, sementara pelatihan profesional, Pengakuan
profesional, dan nilai-nilai sosial secara parsial berpengaruh terhadap pemilihan
karir Akuntan Publik dan Non Akuntan Publik.

31

Penelitian yang selanjutnya dilakukan oleh Ikbal (2011) yang meneliti


tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa akuntansi untuk
mengikuti pendidikan PPAk. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa motivasi
kualitas, motivasi karir, dan motivasi ekonomi berpengaruh positif terhadap
minat mahasiswa akuntansi untuk mengikuti pendidikan PPAk.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Chan (2012) yang meneliti tentang
Analisis faktor-fator yang mempengaruhi pemilihan karir menjadi akuntan
publik oleh mahasiswa akuntansi. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa
pelatihan profesional dan pencapaian akademik berpengaruh terhadap
pemilihan karir menjadi akuntan publik oleh mahasiswa akuntansi. Sementara
penghargaan finansial, pengakuan profesional, nilai-nilai sosial, lingkungan
kerja, pertimbangan pasar kerja dan personalitas tidak berpengaruh terhadap
pemilihan karir menjadi akuntan publik oleh mahasiswa akuntansi.
Penelitian berikutnya dilakukan oleh Trisnawati (2013) yang meneliti
tentang

minat mahasiswa jurusan akuntansi fakultas ekonomi Unversitas

Brawijaya berkarir dibidang perpajakan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa


persepsi dan motivasi berpengaruh terhadap minat mahasiswa jurusan
akuntansi fakultas ekonomi Unversitas Brawijaya berkarir dibidang perpajakan.
Penelitian terdahulu mengenai persepsi, motivasi, penghargaan
finansial. Pengakuan profesional, dan pertimbangan pasar kerja terhadap minat
mahasiswa jurusan akuntansi untuk berkarir dapat diringkas pada tabel 2.1.
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu mengenai persepsi, motivasi, penghargaan finansial.
Pengakuan profesional, dan pertimbangan pasar kerja terhadap minat
mahasiswa jurusan akuntansi untuk berkarir
No
1

Peneliti
(tahun)
Fitriani dan

Judul penelitian
Perbedaan Persepsi antara

Variabel

Hasil penelitian

Dependen :
32

Yuliarti
(2004)

Widyastuti,
dkk (2004)

Mahasiswa Senior dan


Junior Mengenai Profesi
Akuntansi pada Program
S1 Regular, S1
Ekstension, dan
Program D3

Pengaruh Motivasi
Terhadap Minat
Mahasiswa Akuntansi
Untuk Mengikuti
Pendidikan Profesi
Akuntansi

Persepsi
terhadap profesi
akuntansi
Independen:
- Tingkat
pendidikan
- Jenis program
pendidikan

Rediyana
Setiyani
(2005)

Riani
Nurainah
Lisnasari dan
Fitriany
(2008)

Faktor-Faktor Yang
Membedakan Mahasiswa
Akuntansi Dalam Memilih
Profesi Sebagai Akuntan
Publik Dan Non Akuntan
Publik

Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Minat
Mahasiswa Akuntansi
untuk Mengikuti
Pendidikan Profesi

Dependen :
Minat
mengikuti PPAk
Independen :
Motivasi
kualitas
Motivasi karir
Motivasi
ekonomi
Tingkat
pendidikan
Dependen :
Pemilihan karir
mahasiswa
sebagai
Akuntan Publik
Independen :
- Gaji
- Pelatihan
professional
- Pengakuan
profesional
- Nilai-nilai
sosial
- Lingkungan
kerja
- Nilai intrinsik
pekerjaan
- Pertimbangan
pasar kerja
Dependen :
Minat
mengikuti PPAk

Berpengaruh (pada
program S1 regular
dan ekstension)
Berpengaruh (pada
program S1 regular
dan ekstension)

- Tidak Berpengaruh
- Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
Tidak Berpengaruh

Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
Tidak Berpengaruh

Independen :
33

Akununtansi (PPAk)

- Motivasi karir

- Motivasi
mencari ilmu
- Motivasi
ekonomi
- Motivasi gelar

Yuanita
Widyasari
(2010)

Ali Uyar, Ali


Haydar,
Cemil Kuzey
(2011)

- Motivasi
mengikuti
USAP
- Biaya
pendidikan
PPAk
- Lama
pendidikan
PPAk
Persepsi Mahasiswa
Dependen :
Pemilihan karir
Akuntansi Mengenai
Independen :
Faktor-Faktor yang
Membedakan Pemilihan - Gaji
- Pelatihan
Karir
profesional
- Pengakuan
profesional
- Nilai-nilai sosial
- Lingkungan
kerja
- Pertimbangan
pasar kerja
- Personalitas
Factors Affecting
Dependen :
Kinerja jurusan
Students Career Choice
akuntansi
In Accounting: The Case
Independen :
Of A Turkish University
Akuntansi
bukan sebagai
karir pilihan:
- Tingkat
kesulitan
- Masa
-

- Berpengaruh (pada
program S1 ekstensi
dan mahasiswa
PPAk)
-Tidak Berpengaruh
-Tidak Berpengaruh
- Berpengaruh (pada
program S1
ekstensi)
- Berpengaruh (pada
mahasiswa PPAk)
- Tidak Berpengaruh
Berpengaruh
(pada program S1
ekstensi)

Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh

Berpengaruh
Tidak berpengaruh

34

Diah
Puspitarini
dan Fariyana
Kusumawati
(2011)

Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Minat
Mahasiswa Mengikuti
Pendidikan Profesi
Akununtansi (PPAk)

studi
- Tingkat
kebosanan
- Tingkat
stres
- Pertanggungja waban
- Kesempatan
bekerja
dibidang lain
- Keuntungan
bekerja
dibidang lain
- Tingkat
kesempatan
Akuntansi
sebagai karir
pilihan:
- Kesempatan
- Ketertarikan
dibidang
akuntansi
- Kemampuan
- Kebebasan karir - Pengaruh
keluarga
- Kesempatan
berwirausaha - Ekspektasi
keuntungan - Status sosial
- Pengaruh
lingkungan
Dependen :
Minat
mahasiswa
akuntansi
mengikuti PPAk
Independen:
Motivasi karir
Motivasi
ekonomi
Motivasi

Tidak berpengaruh
Berpengaruh
Tidak berpengaruh
Tidak berpengaruh
- Berpengaruh
Berpengaruh

Berpengaruh
Berpengaruh

Berpengaruh
Tidak berpengaruh
Tidak berpengaruh
Tidak berpengaruh
Tidak berpengaruh
Tidak berpengaruh
Tidak berpengaruh

Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh

35

Dian Putri
Merdekawati
dan Ardiani
Ika
Sulistyawati
(2011)

Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pemilihan
Karir
Akuntan Publik dan Non
Akuntan Publik
-

Muhammad
Ikbal (2011)

Pengaruh Motivasi
Terhadap Minat
Mahasiswa Akuntansi
untuk Mengikuti
Pendidikan PPAk

kualitas
Motivasi
mencari ilmu
Motivasi gelar
Motivasi
mengikuti
USAP
Biaya
pendidikan
PPAk
Lama
pendidikan
PPAk
Dependen :
Pemilihan Karir
Akuntan Publik
dan Non
Akuntan Publik
Independen:
Penghargaan
finansial
pelatihan
profesional
Pengakuan
profesional
Nilai-nilai sosial
Lingkungan
kerja
Pertimbangan
pasar kerja
Personalitas
Dependen :
Minat
mahasiswa
akuntansi untuk
mengikuti
pendidikan
PPAk
Independen:
Motivasi
kualitas
Motivasi karir
Motivasi

Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh

Berpengaruh

Berpengaruh

Tidak Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
Tidak Berpengaruh

- Berpengaruh
- Berpengaruh
- Berpengaruh

36

10

Andi
Setiawan
Chan (2012)

Analisis Faktor-Fator yang


Mempengaruhi Pemilihan
Karir Menjadi Akuntan
Publik Oleh Mahasiswa Akuntansi
-

11

Mei
Trisnawati
(2013)

Pengaruh Persepsi dan


Motivasi Terhadap Minat
Mahasiswa Jurusan
Akuntasi Fakultas
Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Brawijaya
Berkarir Di Bidang
Perpajakan

ekonomi
Dependen :
Pemilihan karir
Independen :
- Tidak Berpengaruh
Penghargaan
finansial
- Berpengaruh
pelatihan
profesional
- Tidak Berpengaruh
Pengakuan
profesional
- Tidak Berpengaruh
Nilai-nilai sosial
Lingkungan
- Tidak Berpengaruh
kerja
Pertimbangan
- Tidak Berpengaruh
pasar kerja
Personalitas
- Berpengaruh
Pencapaian
- Tidak Berpengaruh
Akademik
Dependen :
Minat
mahasiswa
jurusan
akuntansi untuk
berkarir
dibidang
perpajakan

Independen:
- Persepsi
- Motivasi

Berpengaruh
Berpengaruh

2.3 Kerangka Pemikiran, Model Penelitian dan Hipotesis Penelitian


2.3.1

erangka Pemikiran
2.3.1.1 Pengaruh persepsi terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk berkarir
dalam bidang perpajakan
Persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk
menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (Gibson, dkk, 1989). Stimulus
yang diterima seseorang akan mempengaruhi penafsiranya terhadap suatu
37

objek. Jika suatu objek ditafsirkan sebagai sesuatu yang menarik, maka hal ini
akan mempengaruhi kesukaannya terhadap objek tersebut.
Menurut Trisnawati (2013), persepsi berpengaruh terhadap minat
mahasiswa jurusan akuntansi untuk berkarir di bidang perpajakan. Hal ini
didukung dalam teori motivasi proses (equity theory), yaitu dalam
menumbuhkan suatu persepsi tertentu, seseorang akan membandingkan input
suatu usaha dengan outputnya.
Dalam

menentukan

profesinya

dimasa

depan,

mahasiswa

akan

mempertimbangkan berbagai hal terkait profesi tersebut. Mahasiswa tentu akan


menafsirkan bidang karirnya berdasarkan stimulus yang diterimanya. Sebagai
mahasiswa, maka stimulus utama yang diperolehnya bersumber dari proses
perkuliahan dan kegiatan akademis lainnya seperti pelatihan karir dan
pengembangan karakter.
Jika seorang mahasiswa memiliki persepsi bahwa berkarir dibidang
perpajakan adalah sesuatu hal yang menjanjikan, maka ia akan memiliki minat
untuk berkarir dalam bidang perpajakan. Sebaliknya, jika ia memiliki persepsi
bahwa berkarir dibidang perpajakan tidak begitu menjanjikan, maka ia tidak
akan memiliki minat untuk berkarir dalam bidang perpajakan.
Dari penjelasan diatas dapat diambil hipotesis penelitian yaitu:
H1 : Persepsi berpengaruh terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk
berkarir dibidang perpajakan.
2.3.1.2 Pengaruh motivasi terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk berkarir
dalam bidang perpajakan

38

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan seseorang yang dapat


menimbulkan tingkat persistensi dan antusiasme dalam melaksanakan suatu
kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi
intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Seberapa kuat

motivasi yang dimiliki individu akan menentukan tindakan atau perilaku


individu tersebut.
Menurut Trisnawati (2013), motivasi berpengaruh terhadap minat
mahasiswa jurusan akuntansi untuk berkarir di bidang perpajakan. kaitan antara
motivasi dan minat ini didukung dalam teori motivasi harapa (expectancy
theory), yaitu kecenderungan seseorang untuk bertindak bergantung pada
harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti oleh suatu hasil tertentu dan
terdapat daya tarik pada hasil tersebut bagi orang yang bersangkutan. Karir
dibidang perpajakan membutuhkan latar pendidikan tertentu agar individu yang
berkarir dalam bidang perpajakan memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan akuntansi dengan
konsentrasi perpajakan tentu akan merasa lebih percaya diri dan siap untuk
berkarir dibidang perpajakan.
Selain itu, fleksibilitas karir dibidang perpajakan memungkinkan
individu yang berkecimpung didalamnya memperoleh penghasilan tambahan.
Berbagai kelebihan baik dari sisi mahasiswa maupun kelebihan dari sisi karir
dibidang perpajakan itu sendiri akan memotivasi mahasiswa untuk memiliki
minat terhadap karir dibidang perpajakan.
Dari penjelasan diatas dapat diambil hipotesis penelitian yaitu:

39

H2

: Motivasi berpengaruh terhadap minat mahasiswa akuntansi untuk

berkarir dibidang perpajakan.


2.3.1.3 Pengaruh penghargaan finansial terhadap minat mahasiswa akuntansi
untuk berkarir dalam bidang perpajakan
Secara luas, penghargaan finansial diciptakan untuk menarik, menahan
dan memotivasi kinerja karyawan. Pengahargaan finansial merupakan hasil
yang diperoleh sebagai kontraprestasi yang telah diyakini secara mendasar bagi
sebagian perusahaan sebagai daya tarik utama untuk memberikan kepuasan
kepada karyawan.
Penghargaan finansial dapat berdampak besar terhadap perilaku
individu, karena hampir setiap orang memandang uang sebagai sesuatu yang
bernilai. Teori hierarki kebutuhan juga menyatakan bahwa manusia akan
memenuhi kebutuhannya yang bersifat fisiologis, dalam hal ini materi. Menurut
Widyasari (2010), penghargaan finansial mempengaruhi perilaku mahasiswa
dalam memilih karirnya.
Mahasiswa cenderung tertarik dengan karir yang menawarkan gaji awal
yang tinggi serta peningkatan gaji yang jelas (Setiyani, 2005). Meningkatnya
kebutuhan akan tenaga ahli perpajakan membuat imbal jasa yang diberikan
kepada sumber daya manusia yang menguasai bidang tersebut relatif menarik.
Penawaran penghasilan yang besar dari pemberi kerja bagi pekerja yang
menguasai pajak akan menarik minat mahasiswa untuk berkarir dibidang
perpajakan.
H3

Dari penjelasan diatas dapat diambil hipotesis penelitian yaitu:


: Penghargaan finansial berpengaruh terhadap minat mahasiswa akuntansi
untuk berkarir dibidang perpajakan.

40

2.3.1.4 Pengaruh pengakuan profesional terhadap minat mahasiswa akuntansi


untuk berkarir dalam bidang perpajakan
Keinginan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi merupakan sifat
manusiawi yang dimiliki setiap orang. Dalam teori hirarki kebutuhan, manusia
memiliki kebutuhan untuk prestasi yang perlu dipenuhi.
Dalam lingkup pekerja, penghargaan atas profesionalitas menjadi
kebutuhan akan prestasi yang perlu dipenuhi. Menurut Widyasari (2010),
pengakuan profesional meliputi kesempatan untuk berkembang, pengakuan atas
prestasi, kenaikan pangkat, dan keahlian untuk mencapai sukses.
Merdekawati dan Sulistyawati (2011) menyatakan bahwa pengakuan
profesional berpengaruh terhadap pemilihan karir mahasiswa. Hal ini berarti
pemilihan karir tidak hanya bertujuan untuk mencari penghasilan yang layak
tetapi juga karena adanya keinginan untuk mengembangkan diri.
Dengan kata lain, mahasiswa sebagai calon pekerja menginginkan
tantangan untuk karirnya kelak. Keinginan untuk mengembangkan diri dalam
karir dibidang perpajakan akan cenderung terpenuhi karena perpajakan
merupakan bidang karir yang dinamis. Karir dalam dunia perpajakan
membutuhkan pelatihan yang berkelanjutan karena mengikuti perubahan aturan
yang berlaku. Pengalaman berkarir dalam bidang perpajakan tentu memiliki
kesan tersendiri karena berkaitan dengan masyarakat dan negara. Orang yang
hendak berkarir dibidang perpajakan juga harus memiliki keahlian khusus yang
diperoleh dari pelatihan tertentu.
Sehingga pengakuan profesional yang kelak akan diterima seseorang
ketika berkarir dibidang perpajakan akan meningkatkan minat mahasiswa untuk
bekarir dibidang perpajakan.
Dari penjelasan diatas dapat diambil hipotesis penelitian yaitu:
41

H4

: Pengakuan profesional berpengaruh terhadap minat mahasiswa

akuntansi untuk berkarir dibidang perpajakan.


2.3.1.5 Pengaruh pertimbangan pasar kerja terhadap minat mahasiswa akuntansi
untuk berkarir dalam bidang perpajakan
Ketersediaan lapangan kerja dan jaminan kerja menjadi pertimbangan
besar bagi individu untuk memilih karirnya. Dalam teori hirarki kebutuhan,
manusia memiliki kebutuhan keamanan dan keselamatan kerja yang mengarah
pada rasa aman, tentram dan jaminan seseorang dalam kedudukannya,
jabatannya, wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai pekerja.
Menurut Widyasari (2010), pertimbangan pasar kerja meliputi jaminan
keamanan kerja terkait seberapa lama suatu pekerjaan dapat bertahan dan akses
lowongan kerja.
Pertimbangan pasar kerja mempengaruhi mahasiswa dalam memilih
karirnya (Widyasari, 2010). Fakta bahwa besarnya kesempatan dan semakin
dipermudahnya akses atas lowongan karir dibidang perpajakan menjadi daya
tarik tersendiri bagi mahasiswa untuk berkarir dibidang perpajakan. Jumlah
pegawai pajak di Indonesia yang belum ideal dan kebutuhan atas akuntan yang
piawai dalam ilmu perpajakan oleh pihak swasta mencerminkan besarnya
peluang karir dibidang perpajakan.
Sementara itu, berbagai kesempatan tersebut juga didukung oleh
terbukanya akses informasi atas lowongan kerja yang berkaitan dengan
perpajakan. Peluang dan kemudahan ini akan mempengaruhi minat mahasiswa
untuk berkarir dibidang perpajakan.

H5

Dari penjelasan diatas dapat diambil hipotesis penelitian yaitu:


: Pertimbanga pasar kerja berpengaruh terhadap minat mahasiswa
akuntansi untuk berkarir dibidang perpajakan.

42

2.3.2 Model Penelitian


Berdasarkan telaah pustaka serta penelitian terdahulu, maka penelitian ini
menjelaskan minat mahasiswa akuntansi untuk berkarir dibidang perpajakan yang
dipengaruhi oleh persepsi, motivasi, penghargaan finasial, pengakuan professional, dan
pertimbangan pasar kerja. Untuk membantu dalam memahami penelitian ini,
diperlukan adanya suatu model pemikiran sebagai berikut :
Model Pemikiran
i
o
M
P
e
t
g
n
r
a
is
h
tg
t
e
v
ia
p
a
r
k
m
iM
s
g
u
a
b
h
a
n
a
n
g
s
P
a
i
F
r
n
is
o
w
n
e
f
a
P
n
s
J
is
a
iu
o
r
r
a
n
s
lu
a
e
K
a
r
jn
a
A
u
k
n
t
a
n
s
i
u
n
t
u
k
B
e
r
k
r
a
i
r

H1
H2
H3
H4

d
i
i
b
d
a
n
g
P
e
r
p
a
ja
k
a
n

H5

Gambar 2.1

43