Anda di halaman 1dari 6

LO 2D.

Prosedur Restorasi Rigid berdasarkan Macam-Macam Bahan


A. Inlay/Onlay Logam
1. Inlay/Onlay Logam Direk
Kunjungan pertama
a) Tahap preparasi
Karakteristik utama preparasi pada inlay/onlay logam adalah tidak
boleh ada undercut. Secara teoritis sudut antara dinding kavitas antara
7o-10o. Dinding kavitas dihaluskan dengan finishing bur fissure tapered
dengan kecepatan rendah ataupun tinggi dan membentuk sudut internal
yang tajam. Tepi kavitas dibevel untuk mendapatkan adaptasi tepi yang
baik.
b) Membuat pola malam direk
Pada sebagian besar kasus dipakai malam inlay. Pertama, permukaan
preparasi dilumas dulu dengan lapisan tipis parafin cair atau larutan
sabun. Kemudian sebatang malam inlay dilunakkan dan dibentuk
mengerucut dengan cara memanaskan ujung malam diatas api spirtus.
Kerucut malam yang lunak tersebut ditekan ke kavitas sampai malam
mendingin. Jika sudah menngeras, malam dikeluarkan dengan
instrumen panas atau tajam sambil hati-hati dalam membentuk bevel
sudut tepi kavitas dan kontur gigi. Lalu, permukaan malam dihaluskan
dengan cotton pellet yang sudah dibasahi terlebih dahulu.
c) Memberi sprue pada pola malam
Sprue terbuat dari kawat bulat lurus dengan diameter 1 mm dan panjang
15 mm. Sprue dipanaskan dan ditambah selapis malam inlay
disekelilingnya dan kemudian ditusukkan pada tengah pola malam dan
dibiarkan sampai dingin. Fungsi sprue ini adalah sebagai pegangan
untuk menarik pola malam dari kavitas dan untuk membuat saluran
tempat mengalir logam setelah pola malam ditanam.
d) Tambalan sementara
Tambalan/Inlay sementara diperlukan untuk melindungi dentin yang
terbuka sampai inlay selesai dicor. Dimana tambalan ini, dapat berupa
semen zinc oxide eugenol atau akrilik.
e) Tahap Laboratorium

Sprue dan pola malam diletakkan pada crucible former dan dituutp
dengan bumbung tuang, kemudian dituang bahan investment dan
dibiarkan mengeras. Jika telah mengeras, crucible former dan sprue
diangkan dengan pinset. Lalu bumbung tuang dipanaskan dalam tungku
sampai malam meleleh dan menguap, kemudian logam cair dicorkan
dan dibiarkan mengeras. Ketika masih panas, bumbung tuang
dicelupkan ke dalam air agar bahan investment mudah pecah dan
mudah dibuka. Selanjutnya sprue dipotong dan disisakan sedikit

sebagai pegangan untuk mencoba inlay/onlay pada pasien.


Kunjungan kedua
Inlay sementara dibuka, kavitas dibersihkan, dan diperiksa dari sisa
tambalan sementara. Sebelum dicobakan, permukaan inlay/onlay harus
diperiksa lalu dapat dicobakan kedalam kavitas. Jika restorasi pas, maka
tepi inlay/onlay diburnish dengan burnisher dari restorasi ke gigi.
Selanjutnya tepi restorasi dipoles, restorasi diangkat dan sprue dipotong
dengan disk karborundum. Lalu restorasi diulaskan semen dengan SIK
atau semen Zn(PO4) pada permukaan dalam restorasi. Restorasi
dimasukkan ke dalam kavitas dan ditekan sampai posisinya baik dengan
menggunakan burnisher. Jika semen telah mengeras, kelebihan semen
dihilangkan dengan ekskavator atau sonde, baru terakhir restorasi dipoles
lagi dan tepi restorasi divernish ulang.

2. Inlay/Onlay Logam Indirek


Teknik preparasi inlay/onlay logam indirek sama dengan inlay/onlay logam
direk, yang membedakan adalah proses pencetakkan. Pencetakkan pada
inlay/onlay logam indirek menggunakan bahan cetak elastomer dan cetakan
rahang

antagonisnya

menggunakan

alginat.

Bahan

cetak

elastomer

konvensional ini bersifat hidrofobik, sehingga permukaan gigi yang


dipreparasi harus kering dan gigi diisolasi dengan kapas atau bisa
menggunakan saliva ejector.
B. Inlay/Onlay Komposit

Prosedur inlay komposit mirip dengan alloy emas. Hanya saja, tidak
dilakukan pembuatan bevel dan tidak perlu preparasi line angle. Kekuatan
lapisan inlay komposit yaitu 1,5 mm.
Kunjungan Pertama
a) Anestesi
b) Pasang rubber dam
c) Hilangkan restorasi lama
d) Bersihkan karies
e) Dilakukan preparasi dengan bentuk divergen 6 kearah oklusal
f) Pembuatan cetakan dengan polyeter
g) Membuat restorasi sementara dengan resin
Kunjungan Kedua
a) Anestesi local
b) Membuka restorasi sementara
c) Membersihkan kavitas
d) Inlay dicobakan dengan mengecek warna dan titik kontak
e) Tempatkan rubber dam
f) Etsa dilakukan pada inlay dan kavitas dengan asam fosfat 10% selama
20-30 detik atau asam fosfat 30-40% selama 15 detik
g) Kavitas dicuci kemudian dikeringkan
h) Aplikasikan bahan bonding pada kavitas dan tempatkan inlay pada
i)
j)
k)
l)
m)

semen bonding
Polimerisasi inlay secara sempurna dengan light cure selama 3 menit
Hilaangkan kelebihan inlay
Lepas rubber dam
Dilakukan penyelesaian oklusal dan cek oklusi
Lakukan kontrol

C. Inlay/Onlay Porselen
Kunjungan Pertama
a) Tumpatan amalgam dibongkar
b) Kavitas dibersihkan
c) Preparasi kavitas
Akses Ke Karies
Tahap pertama preparsi adalah memperoleh akses ke dentin karies
dengan menggunkan bur fisur tungsten carbide pendek-kuncup
dengan kecepatan tinggi. Penggunaan bur kuncup dan bukan bur
fisur sejajar adalah untuk mencegah terbentuknya undercut.
Menentukan Luas Karies

Jika akses telah diperoleh, kavitas bisa dilebarkan kearah


bukopalatal sampai dicapai pertautan email-dentin yang sehat. Hal
ini menentukan lebar boks arah bukopalatal.
Desain Preparasi Kavitas
Desain preparasi kavitas harus memastikan retensi seperti dinding
vertikal kavitas utama yang hampir sejajar dan sedut divergensi
dinding bukal dan lingual pada bagian proksimal masing-masing
adalah 50-100. Jika sudut kurang 50, struktur gigi yang masih ada
berada pada keadaan yang terlalu banyak tekanan selama prosedur
sementasi dan jika sudut lebih dari 100, retensinya bermasalah.
Keyway
Keyway dibuat dengan kemiringan minimal sekitar 100 memakai
bus fisur kuncup dan dijaga agar sumbu bur sejajar dengan sumbu
gigi. Lebar keyway diantara tonjol merupakan daerah yang paling
sempit dan melebar kearah yang berlawanan dengan letak karies
aproksimalnya dan dengan mengikuti kontur fisurnya. Setelah
membuat keyway, kavitas dikeringkan untuk memeriksa ada
tidaknya sisa karies dibagian ini dan bahwa kavitasnya sedikit
membuka dengan sumbu yang benar. Jika kemiringan dinding tidak
tepat, maka ketidaktepatan itu harus diperbaiki.
Boks Aproksimal
Kini perhatian dapat dialihkan kembali ke lesi aproksimalnya.
Dibagian ini kavitas harus di dalamkan memakai bur bulat
kecepatan rendah dan dengan cara yang sama dengan jalan
membuang dentin karies pada daerah pertautan email-dentin.
Ketika dentin karies pada pertautan email-dentin telah dibuang,
dinding email dapat dipecahkan dengan pahat pemotong tepi
gingiva. Preparasi dibuat miring sebesar 10 derajat dengan bur fisur
runcing. Gigi tetangga dilindungi dengan lempeng matriks untuk
melindunginya dari kemungkinan terkena bur. Menjaga agar sumbu
bur sejajar dengan waktu pembuatan keyway merupakan hal yang
sangat penting sehingga bagian boks dan keywaynya mempunyai
kemiringan yang sama. Pelebaran ke arah gingiva hanya dilakukan

seperlunya saja sekedar membebaskan pertautan email-dentin dari


karies, demikian juga halnya dalam arah bukolingual. Setiap email
yang tak terdukung dentin sehat, hendaknya dibuang dengan bur
fisur kecepatan tinggi.
Pembuangan Karies Dalam
Karies mungkin masih tertinggal di dinding aksial. Jika dinding
karies telah terbuang, periksalah kemungkinan masih adanya
daerah undercut. Undercut padadaerah

pertautan email-dentin

seharusnya telah dibersihkan. Jika masih terdapat undercut pada


dinding aksial, maka undercut tersebut biasanya terletak seluruhnya
pada dentin dan ditutup dengan semen pelapik pada tahap preparasi
berikutnya sehingga preparasi mempunyai kemiringan yang
dikehendaki.
Bevel
Garis sudut aksiopulpa hendaknya dibevel, dengan menggunkan
bur fisur. Hal ini untuk memungkinka diperolehnya ketebalan yang
cukup bagi pola malam yang kelak akan dibuat di daerah yang
dinilai kritis. Bevel hendaknya diletakkan di tepi email agar tepi
tipis hasil tuangan dapat dipaskan seandainya kerapatan hasil
tuangan dengan gigi tidak baik. Hendaknya bevel tidak diluaskan
lebih ke dalam lagi karena retensi restorasi akan berkurang. Tepi
luar bevel harus halus dan kontinyu untuk memudahkan
penyelesaian restorasi dan supaya tepi tumpatannya beradapatsi
baik dengan gigi. Bevel biasanya tidak dibuat didinding aproksimal
karena akan menciptakan undercut, mengingat sebagian besar tepi
kavitas terletak di bawah bagian gigi yang paling cembung. Akan
tetapi dinding gingiva dapat dan harus dibevel. Bevel gingiva
sangat penting karena akan menigkatkan kecekatan tuangan yang
biasanya merupakan hal yang paling kritis.
d) Pola Malam
Pola malam dibuat secara
- Direct
: pembuatan restorasi rigid secara langsung dalam satu kali
kunjungan.
- Indirect : pembuatan restorasi rigid yang dilakukan di laboratorium

dan berkali-kali kunjungan


e) Gigi direstorasi rigid sementara dengan menggunakan semen perekat
sementara, seperti zinc oksid eugenol.
Kunjungan Kedua
a) Tumpatan rigid sementara dibongkar
b) Setelah preparasi selesai, aplikasikan lapisan tipis lubricant larut air
atau separating medium (cairan agar atau gliserin) pada gigi. Kemudian
tempatkan

matriks

band,

wedge

atau

cincin

penahan

untuk

menghasilkan kontak proksimal yang baik.


c) Lalu tumpat dengan porselen. Sesuaikan anatomi oklusal dengan
menggunkan bur untuk menghasilkan pit dan fisur, inklinasi tonjol dan
batas margin yang baik dan sistemis.
d) Trial Inlay/ Onlay porselen pada pasien
e) Jika kedudukannya baik, restorasi rigid yang sudah ditrial disemenkan
pada gigi tersebut.
f) Kelebihan semen dari tepi-tepi yang dapat dijangkau dibersihkan
dengan eskavator sementara benang gigi digunakan untuk membuang
kelebihan di aproksimal. Tepi-tepi restorasi harus dilapisi dua lapisan
pernis copalite untuk mengurangi pelarutan semen selama jam-jam
pertama pengerasan. Setelah itu, Permukaan oklusal harus dipoles
dengan pasta pumis yang diletakkan pada bur sikat, diikutu oleh
whiting yang diletakkan pada berbagai sikat.
DAFTAR PUSTAKA
Josef, Schmidseder. 2000. Color Atlas of Dental Medicine Aesthetic Dentistry.
New York : ThiemeLO
OBrien, William J. 2002. Dental Materials and Their Selection 3rd Ed. Chicago:
Quintessence Publishing Co,Inc