Anda di halaman 1dari 6

Autis menurut Pandangan Islam

Autisme infantil (autisme pada masa kanak-kanak) adalah gangguan


ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang
ditunjukan dengan penguasaan yang tertunda, echolalia (meniru/membeo),
mutism (kebisuan, tidak mempunyai kemampuan untuk berbicara), pembalikan
kalimat dan kata (menggunakan kamu untuk saya), adanya aktivitas bermain yang
repetitif dan stereotipik, rute ingatan yang kuat, dan keinginan obsesif untuk
mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya, rasa takut akan perubahan,
kontak mata yang buruk, lebih menyukai gambar dan benda mati (kaplan et al,
1997).
Gangguan autis adalah salah satu perkembangan pervasif berawal sebelum
usia 2,5 tahun. Anak autisme mengalami gangguan perkembangan yang kompleks
yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan
gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi,
sensori, dan belajar (kaplan et al, 1997).
Penyakit dalam pandangan islam merupakan cobaan yang diberikan Allah
SWT kepada hamba-Nya untuk menguji keimanan. Ketika seseorang sakit disana
terkandung pahala, ampunan dan akan mengingatkan orang sakit kepada Allah
SWT. Allah SWT menciptakan cobaan antara lain untuk mengingatkan manusia
terhadap rahmat-rahmat yang telah diberikan-Nya. Allah SWT memberikan
penyakit agar setiap manusia dapat menyadari bahwa selama ini dia telah diberi
rahmat sehat yang begitu banyak (Shihab, 1999).

Dalam menjalani hidup, manusia tidak lepas dari ujian yang diberikan oleh
Allah SWT, seperti ujian ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa.
Dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :
Artinya :
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah (2): 155).

Semua orang sepakat bahwa nilai kesehatan bagi setiap manusia sangat
penting. Bagi umat Islam, dengan kondisi sehat setiap muslim dapat menunaikan
kewajibannya, baik fungsinya sebagai pribadi, makhluk sosial, atau hamba Allah.
Setiap orang sangat memerlukan kondisi sehat, kapan dan dimana pun berada.
Untuk tujuan kemaslahatan, keberadaan dan bantuan ahli kesehatan dan
pengobatan seperti dokter, paramedik, dan yang sejenisnya sangat diperlukan oleh
setiap orang (Zuhroni, 2008).
Autisme terdapat pada semua negara di dunia, serta tidak memandang ras,
etnis, agama, maupun latar belakang sosial ekonomi. Secara global prevalensinya
berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan autisme laki-laki lebih banyak dibandingkan
wanita (lebih kurang 4 kalinya). Di indonesia belum ada angka yang tepat
mengenai angka kejadian autism (Sshattock, 2002).
Kesehatan adalah rahmat Allah SWT yang sangat besar, karena itu agama
Islam sangat menekankan agar manusia menjaga kesehatannya, juga menjaga diri
dari setiap penyebab yang dapat menjadikannnya menderita sakit. Islam sangat

mengedapankan pola hidup sehat, seperti anjuran tentang menjaga kesehatan,


kebersihan, pola makan, menjaga kehormatan dari perbuatan keji, menjauhkan
diri dari mengonsumsi khamr dan berbagai zat adiktif, dan lain-lain (Zuhroni
dkk,2003). Islam mengajarkan dalam memecahkan masalah serta menetapkan apa
tujuan tindakan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
Artinya :
Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung dari niat dan
tujuannya, dan manusia akan memperoleh apa yang diniatkannya (HR. Al
Bukhari).
Fisiologi

autis

dapat

disebabkan

beberapa

faktor

yaitu

faktor

psikodinamika dan keluarga, kelainan organik-neurologis-biologis, faktor genetik,


faktor imunologi, faktor perinatal, temuan neuroanatomi, dan biokimia (Kaplan et
al, 1997).
Autis merupakan gangguan jiwa yang dialami pada anak dengan
karakteristik gangguannya dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, sensoris,
pola bermain, perilaku, dan emosi (Suryana, 2004).
Penegasan Rasulullah tersirat dalam pernyataan Rasulullah yang berisi bahwa
Allah menurunkan penyakit juga sekaligus obatnya, ada yang mengetahui dan ada
yang tidak, seperti dinyatakan dalam hadits :
Artinya :
Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan
menurunkan pula obatnya (HR. Al Bukhori).

Berobat dalam Islam dianjurkan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran dan


As-Sunnah, baik sunnah qauliyah (ucapan) maupun filiyah (perbuatan) (Al
Munajid, 2008). Sabda Rasulullah yang menyatakan penyakit dapat sembuh
apabila pengobatannya tepat. Hukum berobat, baik yang menyangkut penyakit
fisik maupun spiritual, para ulama berbeda pendapat. Al-Quran, mengutip ucapan
Nabi Ibrahim, menekankan agar orang yang sakit untuk mengupayakan sehat (AlJauziyah, 2007).
Tujuan terapi adalah menurunkan gejala perilaku dan membantu
perkembangan fungsi yang terlambat, rudimenter, atau tidak ada, seperti
keterampilan bahasa dan merawat diri sendiri. Disamping itu, orang tua yang
kecewa memerlukan bantuan dan konseling (Kaplan et al, 1997).
Terapi autis dapat dengan medikamentosa dan non medikamentosa. Pada
medikamentosa, obat-obat yang dapat digunakan berupa Haloperidol (Haldol),
Fenfluramine (Pondimin), Naltroxone (Trexan), dan Lithium (Eskalith) (Kaplan et
al, 1997). Terapi non medikamentosa dapat berupa terapi perilaku, terapi
biomedik, terapi integrasi sensori, terapi okupasi, psikoterapi, terapi wicara,
Applied Behavioral Analysis (ABA), terapi diet (Handojo, 2008).
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa autis pada anak
merupakan ujian yang mendatangkan pahala sehingga harus disikapi dengan sabar
dan tawakal. Orang tua anak yang mengalami gangguan autis dalam pandangan
Islam merupakan cobaan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya untuk
menguji keimanan. Sesuai syariat Islam, solusi dari autis adalah berobat
berdasarkan berdasarkan sabda Rasulullah yang menyatakan penyakit dapat

sembuh apabila pengobatannya tepat. Untuk orang tua diharapkan sabar dan tidak
merasa rendah diri terhadap gangguan yang dialami anaknya karena autis
merupakan cobaan yang diberikan Allah SWT. Selain dengan berobat, anak autis
maupun orang tuanya diharapkan senantiasa bertawakal kepada Allah SWT agar
selalu dekat dengan Allah. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya :
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tentram (QS. Al-Rad, (13): 28).

PENGOBATAN DALAM ISLAM


Berbagai ayat ditegaskan bahwa fungsi Al-Quran sebagai bimbingan bagi
manusia dalam masalah duniawi dan spiritual, dan ajaran yang dibawanya
mengandung masalah yang berhubungan dengan kedokteran. Demikian juga, Nabi
diutus menjadi seorang rasul, utusan Allah, bukan seorang thabib (dokter). Tidak
ada satupun ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa kedudukan Al-Quran
adalah sebuah kitab tentang ilmu kedokteran (Zuhroni dkk, 2003).
Disebutkan

oleh

Nabi

Muhammad

SAW bahwa

sebaik-baiknya

pengobatan adalah Al-Quran ;


Artinya: Dari Ali ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda sebaik-baiknya
penyembuhan adalah Al-Quran (HR Ibn Majah).
Pengobatan Nabi merupakan bagian dari berobat dengan Al-Quran.
Pengobatan yang bersifar preventif yang terdapat dalam Al-Quran cukup

menonjol, dalam hal ini digali dalam konsep thaharat secara holistik meliputi suci
fisik dan non fisik serta jasmani dan rohani. Segala sesuatu yang diterangkan
dalam Al-Quraan, mencakup semua jenis penyaktit baik jasmani dan rohani
(Zuhroni dkk, 2003).
Barang siapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al-Quran maka
Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barang siapa yang tidak beriman kepada
Al-Quran maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.
Terhadap penyakit menurut Al-Quran pengobatannya adalah melalui doa sesuai
dengan firman Allah SWT ;
Artinya : Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan
rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. Al-Isra, (17): 82).
Dalam ayat ini dijelaskan Allah SWT menurunkan penyakit dan menurunkan pula
obatnya.