Anda di halaman 1dari 4

Laporan Praktikum

Hari/Tanggal Praktikum

: Senin/15 Februari 2015

Hari/Tanggal Pengumpulan : Senin/02 Maret 2015


Kimia Pangan

Waktu

: 13.00-17.00 WIB

PJP

: Rita Kharisma, S.si

Asisten

: Riska Puspitasari, S.si

Nama

: M. Fahmi Dermawan

NIM

: 1127040042

Kelas/Smt

: Kimia 6B

ANALISIS KADAR AIR DENGAN METODE THERMOGRAVIMETRI


Pembahasan
Pada praktikum kali ini, penentuan kadar air menggunakan metode Thermogravimetri,
yaitu pengeringan menggunakan oven. Penentuan kadar air dengan metode oven dilakukan
dengan cara mengeluarkan air dari bahan dengan bantuan panas yang disebut dengan proses
pengeringan. Analisis kadar air dengan metode oven didasarkan atas berat yang hilang, oleh
karena itu sampel seharusnya mempunyai kestabilan panas yang tinggi dan tidak mengandung
komponen yang mudah menguap. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi analisis air metode
oven diantaranya adalah yang berhubungan dengan penimbangan sampel, kondisi oven,
pengeringan sampel, dan perlakuan setelah pengeringan. Faktor-faktor yang berkaitan dengan
kondisi oven seperti suhu, gradien suhu, kecepatan aliran dan kelembaban udara adalah faktorfaktor yang sangat penting diperhatikan dalam metode pengeringan dengan oven.
(Andarwulan,2011).
Sampel yang kami teliti adalah bengkuang. Sebelum di teliti, bentuk bengkuang harus di
kecilkan atau dihaluskan terlebih dahulu agar kadar air dalam benkuang cepat menguap. Setelah
itu dimasukan ke dalam botol timbang yang telah di ketahui beratnya agar dapat di hitung berat
awal sampel bengkuang. Setelah di timbang, sampel di masukkan ke dalam oven selama 1 jam
dengan suhu 105oC dengan cara tutup botol timbang di buka, agar uap air pada bahan dapat
keluar. Proses pengeringan ini bertujuan mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air pada
bengkuang dengan cara menguapkan air tersebut dengan bantuan energi panas. Hal ini sesuai
dengan pendapat Adawyah (2008) bahwa tujuan pengeringan untuk mengurangi kadar air bahan
sampai batas perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan
pembusukan terhambat atau bahkan terhenti sama sekali.

Setelah di oven botol timbang di masukkan ke dalam desikator selama 15 menit untuk
penurunan suhu agar menjadi suhu kamar, di dalam desikator terdapat silika gel yang berfungsi
sebagai penyerap air yang terdapat pada bahan. Setelah itu sampel di timbang kembali sebagai
hasil pengeringan pertama. Perlakuan ini terus di lakukan hingga mendapatkan berat konstan.
Dari hasil penelitian yang kami lakukan, kami mendapatkan kadar air (wet basis) dari
bengkuang sebesar 86,36% dan kadar air (dry basis) sebesar 633%. Pada dry basis didapatkan
nilai demikian mungkin saja dikarenakan pengovenan yang kurang stabil. Karena Faktor-faktor
yang berkaitan dengan kondisi oven seperti suhu, gradien suhu, kecepatan aliran dan kelembaban
udara adalah faktor-faktor yang sangat penting diperhatikan dalam metode pengeringan dengan
oven. (Andarwulan,2011).
Perhitungan
Perhitungan kadar air bahan :
Berat botol timbang

: 16,0387 gram

Berat botol timbang + sampel : 18, 0687 gram


Berat konstan

: 16,3170 gram + 16,3143 gram = 16,6313 gram / 2 = 16,3156

Berat bahan basah

: 18, 0687 gram - 16,0387 gram = 2,0300 gram

Berat bahan kering

: 16,3156 gram - 16,0387 gram = 0,2769 gram

Berat air dalam bahan yang diuapkan : 2,0300 gram - 0,2769 gram = 1,7531 gram
Kadar air bahan (w basah)

1,7531 gram
x 100 =86,36
2,0300 gram

Kadar air bahan (w kering)

1,7531 gram
x 100 =633
0,2769 gram

Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Kadar air bahan (w basah) pada bengkuang didapat
sedangkan kadar air bahan (w kering) pada bengkuang didapat sebanyak
dikarenakan kurang stabilnya dalam proses pemanasan.
Daftar pustaka
Anonim.2009.Toluene.http://Wikipedia.org. Diakses 23 oktober 2010.
Dwijosepputro.D.1994.Dasar-dasar mikrobiologi.Djambatan.Jakarta.
Winarno FG. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta (ID): Gramedia

86,36 ,
633 , ini

Sudarmadji.1996.Analisa bahan hasil pertanian.Penerbit Liberty.yogyakarta.


Sumardjo Damin. 2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta (ID): EGC
UJI NINHIDRIN
Pembahasan
Uji Ninhidrin digunakan untuk identifikasi asam amino bebas yang terdapat
dalam sampel. Asam amino bebas adalah asam amino yang gugus aminonya tidak terikat
(Robinson 1995). Ninhidrin adalah reagen yang berguna untuk mendeteksi asam amino dan
menetapkan konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik dan
bila bereaksi dengan asam amino akan menghasilkan zat warna ungu. Hanya atom nitrogen dari
zat warna ungu yang berasal dari asam amino, selebihnya terkonversi menjadi aldehid dan
karbondioksida. Jadi, zat warna ungu yang sama dihasilkan dari semua asam amino dengan
gugus amino primer dan intensitas warnanya berbanding lurus dengan konsentrasi asam amino
yang ada (Hart 2003).
Dalam percobaan kali ini menggunakan sampel MSG, keju, glatin, aquades, gula putih,
susu skim dan putih telur. Dari data hasil praktikum menunjukan hasil yang berbeda-beda tiap
sampel. Dengan percobaan ini dapat diketahui sampel mana yang positif mengandung protein
dilihat dari ada atau tidaknya kandungan asam amino.
Table hasil uji ninhidrin.
Sampel
Keju

Pemanasan
Bagian atas : putih

Tanpa pemanasan
Bagian atas : putih

Gelatin

Bagian bawah : biru


Bagian atas : kuning

Bagian bawah : biru seulas


Bagian atas : kuning

Akuades
Gula
Susu
MSG
Putih telur

Bagian bawah : tidak berwarna


Tidak berwarna
Tidak berwarna
Biru
Ungu
Putih

Bagian bawah : tidak berwarna


Tidak berwarna
Tidak berwarna
Biru
Ungu
Bagian atas : putih
Bagian bawah : kuning jernih

Pada prinsipnya kerja uji ninhidrin ini, menguji ada atau tidaknya protein dalam suatu
senyawa dengan penambahan reagen ninhidrin untuk mengetahui jumlah kadar asam amino bebas
yang terkandung didalamnya. Dimana asam amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin dan
membentuk senyawa kompleks berwarna ungu, sehingga, karena setelah dipanaskan warnanya
berubah menjadi ungu, dan pada tujuh sampel yang kami teliti yang mengandung asam amino

dengan uji ninhidrin terdapat pada sampel keju, MSG dan susu

atau dikatakan positif

mengandung asam amino, Adanya kandungan gugus karboksil (COOH) dan amino bebas (NH3)
pada sampel protein tersebut ditunjukkan dengan perubahan warna sampel menjadi ungu dan biru
muda. Pemanasan yang dilakukan pada tiap uji percobaan bertujuan untuk koagulasi protein
sehingga tidak dapat larut dalam air dan terbentuknya endapan.
sedangkan pada sampel yang lainnya negative mengandung asam amino. Pada sampel
gelatin, dan putih telur seharusnya dihasilkan positif mengandung asam amino namun hasil yang
didapat oleh kami negative, ini dikarenakan karena sedikitnya penambahan reagen ninhidrin,
karena semakin banyak ninhidrin pada zat uji yang dapat bereaksi , semakin pekat warnanya.
Reaksi yang terjadi pada uji ninhidrin :

Gambar Reaksi uji Ninhidrin (Bintang M 2010)


Pada reaksi diatas ninhidrin ditambah asam alfa amino menghasilkan ninhidrin tereduksi
dan NH3, karbon dioksida juga gugus aldehidnya lepas kelingkungan, kemudian ninhidrin
tereduksi dan NH3 ditambah ninhidrin baru diperoses secara kondensasi menghasilkan garam
diketo-hydrihalide-diketo-hydramine yang menyebabkan warna ungu.
Kesimpulan
Dari data hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa yang positif mengandung asam amino bebas
terdapat pada sampel keju, MSG dan susu.
Daftar pustaka
Arbianto Purwo. 1993. Biokimia Konsep-Konsep Dasar. Bandung (ID): ITB Pr
Bintang Maria. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta (ID): Erlangga
Fessenden RJ, Fessenden JS. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta (ID): Binarupa Aksara.
Terjemahan dari: Fundamentals of Organic Chemistry.
Girindra A. 1986. Biokimia I. Jakarta: Gramedia.
Hart Harold et al. 2003. Kimia Organik. Suminar Setiati Achmadi, penerjemah; Jakarta (ID):
Erlangga. Terjemahan dari: Organic Chemistry.