Anda di halaman 1dari 4

TEORI PENGEMBANGAN WILAYAH SUBURBAN

Daerah sub-urban merupakan daerah pinggiran kota yang terekspansi


akibat pemekaran kota. Fenomena ini disebabkan karena kemunculan jaringanjaringan jalan baru sehingga mempermudah adanya perluasan lahan. Wilayah
suburban mempunyai karakteristik yaitu pencampuran antara desa dengan kota.
Dibawah ini terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sub-urban
menurut Daldjoeni (1992) mengutip whynne-hammond yaitu :
1. Peningkatan pelayanan transportasi kota . Tersedianya angkutan umum
memudahkan orang untuk bertempat tinggal jauh dari tempat kerjanya.
2. Perpindahan penduduk dari pusat kotake pinggiran kotadan masuknya
penduduk baru yang berasal dari perdesaan .
3. Munculnya permukiman penduduk. Pemerintah membantu masyarakat yang
akan mendirikan rumah lewat pinjaman bank.
4. Dorongan hakikat manusia memperoleh kenyamanan.
Permasalahan yang sering muncul di daerah sub-urban adalah terjadi
perubahan sektor pertanian yang dapat menimbulkan masalah lingkungan secara
fisik yaitu perubahan dari sawah menjadi kawasan perumahan, masalah
transportasi yaitu bertempat tinggal dipinggiran namun bekerja di pusat kota
sehingga hal seperti ini yang menyebabkan lalu lintas menjadi padat. Wilayah
sub-urban ialah dijadikan sebagai tempat tinggal para pengaju yang bekerja di
pusat kota karena bagi mereka sebuah kawasan pinggiran merupakan kawasan
yang nyaman dan tenteram karena jauh dari polusi dan kebisingan aktivitas pusat
kota.
Fenomena yang terkait dengan wilayah sub-urban yaitu urban sprawl, dimana
urban sprawl yaitu pengembangan di wilayah sub-urban yang tidak terencana
dengan baik dan tidak teratur dengan pembangunan dikawasan berkepadatan
penduduk rendah, pesatnya perkembangan perumahan permukiman pada wilayah
sub urban dengan guna lahan yang tidak seimbang, dominan memakai kendaraan
bermotor (motor dan mobil), perkembangan kelompok perumahan permukiman
terpisah dengan fasilitas publik sehingga masyarakat yang ingin memenuhi
kebutuhan hidup harus menggunakan kendaraan bermotor terlebih dahulu yang
jarak tempuhnya lebih dari 2.000 meter, dengan pola perkembangan kota tersebut

memberi

dampak

pada

pemborosan

energi,

pemborosan

dana

transportasi,pencemaran lingkungan dan polusi udara semakin meningkat.


Untuk mengatasi terjadinya urban sprawl di wilayah sub-urban yaitu dengan
menerapkan sistem manajemen pertumbuhan kota (growth management/GM)
dimana wilayah perencanaan teori manajemen pertumbuhan kota sangat tepat
untuk wilayah sub urban karena pada teori manajemen pertumbuhan kota ini saat
melakukan pola perencanaan sangat diperkirakan dan dipastikan tentang keadaan
masa yang akan datang dengan menggunakan data yang ada (sekarang) dengan
memperkirakan luas lahan yang dibutuhkan, kebutuhan sarana dan prasarana serta
kualitas lingkungan hidup yang direncanakan dalam jangka panjang dan yang
kedua yaitu teori untuk mengatasi terjadinya urban sprawl di wilayah sub urban
yaitu Teori smart Growth ialah pendekatan perencanaan dengan sistem
pertumbuhan cerdas/pintar, dengan strategi pembangunan yang sangat perduli
pada konsep keberlanjutan disertai dengan sistem penguatan ekonomi masyarakat
dan lebih ragam sosial. Konsep perencanaan dengan teori smarth growth pada
suatu wilayah sub urban akan memberikan suatu manfaat di masa yang akan
datang yaitu pada elemen perencanaan fisik ialah kerapatan bangunan
tinggi,fungsi lahan campuran, dan berbagai moda transportasi tersedia.
Dengan selalu memperhatikan konsep compact city sehingga diharapkan
dapat mencapai kota humanis yang ramah lingkungan (eco city) namun untuk
mencapai Konsep compact city harus didukung dengan vertical housing, green
building, mixed land use, dan complete street. Dibawah ini penjelasan untuk
mencapai konsep compact city yaitu :

1. Vertical housing
Terjadinya Urban sprawl ditandai dengan banyaknya bangunan
yang terbangun secara horizontal dengan tidak teratur yang membuat
dampak negatif di suatu wilayah yaitu borosnya penggunaan lahan dengan

kepadatan penduduk yang rendah. Pembangunan hunian vertikal dapat


membuat dampak positif disuatu wilayah tersebut yaitu dengan
mengefisienkan penggunaan lahan dengan ruang terbuk hijau dua kali
lebih luas dibandingkan dengan ketinggian bangunan.
2. Mixed Land use
Penggunaan lahan campuran disuatu perkotaan dapat memberikan
dampak positif disuatu wilayah yaitu lebih efisien penggunaan lahan, lebih
pendek jarak dan waktu pencapaian. Misalnya yaitu didalam suatu wilayah
tersebut terdapat bangunan dengan fungsi perdagangan, pendidikan,
pelayanan umum, dll. Sehingga masyarakat tidak perlu melakukan
pergerakan jarak jauh untuk berpergian.
3. Green Building
Green building yaitu konsep pada bangunan dapat dicapai dengan
memanfaatkan sinar matahari, arah angin, dan vegetasi. Sinar matahari
dapat dimanfaatkan untuk penerang ruangan agar lebih efisien dalam
penggunaan penerang buatan. Tanaman perdu, pohon, serta rumput dapat
mereduksi panas serta mengarahkan angin untuk masuk ke ventilasi
bangunan sehingga terjadi pergerakan udara tanpa harus menggunakan
AC. Dinding bangunan yang dibuat hijau pada sisi bidang luar atau dalam
bangunan dapat mereduksi panas ataupun polusi udara.

4. Complete Street
Kota yang ramah lingkugan berati lebih memperhatikan lingkungan
dalam sebuah perencanaan. Melestarikan lingkungan seperti tumbuhan,
memberi pengaruh besar untuk mencapai eco city. Setiap ruas jalan yang
dibangun jalur pedestrian seharusnya dilengkapi dengan jalur hijau. Selain
sebagai peneduh untuk para pejalan, jalur hijau juga untuk melesarikan
lingkungan hidup. Selain jalur hijau, ruang terbuka hijau (RTH) juga
menjadi salah satu aspek pendukung menuju kota yang humanis.
Setidaknya terdapat 30% dari luas wilayah yang terisi oleh RTH.