Anda di halaman 1dari 1

Babad Djalasutra, Sumodidjojo, 1956, #802

Menceritakan kisah Pangeran Panggung, yang kemudian bernama Kiyai Jalasutra. Cerita diawali
dengan kisah Prabu Bratanjung (Brawijaya IV) yang berputra Jaka Pamekas. Jaka Pamekas berguru
kepada Sunan Gunung Jati, kemudian bergelar Pangeran Kandhuruwan. Kanduruwan berputra
Watisrawa, salah satu murid Seh Siti Jenar. Saat Seh Siti Jenar dibunuh para wali, Watisrawa sangat
marah dan tidak menerima kenyataan. Watisrawa mendirikan perguruan dan bergelar Pangeran
Panggung. Ia mengajarkan ilmu sejati dan memiliki banyak pengikut. Para wali merasa cemas,
melaporkan hal itu kepada Sultan Demak, yang akhirnya diperintah untuk masuk ke dalam kobaran
api, tetapi selamat. Sekeluarnya dari dalam api justru menyerahkan kitab ajaran Suluk
Malangsumirang kepada sultan, untuk diajarkan kepada para muda yang sering hanyut dalam hal
duniawi. Pangeran Panggung lalu pergi dari Demak, tinggal di Bengkung menjadi sesepuh bergelar Ki
Ageng Bengkung. Perguruan lalu dipindah ke puncak gunung Jalasutra dan menjadi guru di sana
bergelar Ki Jalasutra.