Anda di halaman 1dari 9

daktilititas adalah kemampuan suatu elemen struktur untuk berdeformasi baik rotasi ataupun

translasi pada saat menyerap energi dari luar sistem.


konsolidasi adalah turunnya lapisan tanah akibat keluarnya air pori yang disebabkan aksi beban
disekitarnya sejalan dengan waktu.
bangunan harus didesain memiliki daktilitas yang tinggi (artinya didesain mampu berdeformasi
yang besar). untuk tujuan tersebut, beberapa elemen kolom dan balok di desain akan terjadi
sendi plastis. elemen struktur yang getas (brittle) akan memiliki tingkat daktilitas yang rendah.
kondisi ultimate sistem struktur seperti ini memang tinggi, jauh lebih tinggi daripada desain
dengan daktilitas tinggi. tapi perencanaan dengan struktur getas, ada yang harus dibayar dengan
mahal, yaitu keruntuhan struktur secara tiba-tiba yang tidak memberikan kesempatan orang
untuk menyelamatkan diri/barang2 penting.
bangunan juga harus mempertimbangkan faktor konsolidasi. penurunan fondasi bangunan akan
merusak struktur diatasnya, menghancurkan sistem balok menerus pada jembatan, kegagalan
elemen struktur geser pada terowongan, dll. contoh yang paling nyata adalah penurunan struktur
jalan tol sediatmo (tol akses ke bandara soekarno - hatta) yang sudah mengalami penurunan
hampir 1 meter selama masa penggunaannya. Tapi kenapa tidak terjadi kerusakan pada
aspalnya ? silakan cari di search engine.
-------------------------------------------------------------------

Dikatakannya, daktilitas adalah kemampuan bangunan untuk merubah kekakuannya dan


menyerap energi gempa sambi! tetap menjaga integrasi struktur. Fungsi daktilitas untuk menjaga
integrasi bangunan agar penghuni dapat menyelamatkan diri.
Daktilitas bangunan didapat dengan merancang mekanisme pembentukan sendi plastis pada
tempat yang tidak membahayakan integrasi. Dalam keadaan normal, struktur bangunan bersifat
kaku dan kuat (stiff and strong), sementara dalam keadaan darurat ia harus bersifat ductile. Sifat
struktur bangunan ini dapat diibaratkan dengan sifat pemimpin, yang dalam keseharian harus
bersifat konsisten atau taat asas (stiff) dan profesional (strong), dan dalam situasi darurat harus
bijaksana menjaga integrasi (wise).
Struktur bangunan adalah sokoguru bangunan tempat elemen lain ditambatkan dan bertumpu.
Ibarat pemimpin yang terikat dengan rakyatnya. Sifat taat asas pemimpin memberi kepastian
hukum pada rakyat, dapat disamakan dengan fungsi pengaku dalam bangunan yang menjaga
agar tidak terjadi gerak yang berlebihan, dan menjaga kinerja elemen non-struktur.

Apa Itu Daktilitas ?


Kita sering mendengar istilah daktilitas, tapi mungkin agak-agak kurang paham
apa maknanya. Saya sendiri sebenarnya sedikit alergi jika mendengar atau
membaca istilah-istilah asing, apalagi kalau yang dibaca adalah artikel ilmiah,
ditambah lagi jika artikelnya dalam bahasa Inggris. Otak saya akan bekerja 3 kali
lebih keras, hehe.
Daktilitas berlawanan dengan kegetasan. Waduh, istilah apa pula tuh? Daktilitas
adalah kata benda, kata sifatnya adalah daktail. Sementara lawannya adalah getas
(kata sifat) istilah Londo-nya brittle, sehingga kata bendanya adalah kegetasan.
(kok jadi belajar Bahasa Indonesia ya?)
Anyway, kalau getas jujur saja bagi saya pribadi lebih gampang dipahami. Karena
kalau mendengar kata getas saya langsung ingat dengan KERUPUK. Tapi kalau
mendengar kata daktail, saya tidak bisa menemukan makanan yang sifatnya daktail
(permen karet mungkin iya, tapi saya tidak doyan permen karet), makanya lebih
susah memahami daktail daripada getas. :D
Kembali ke topik. Tiap material, khususnya material bangunan setidaknya punya
karakteristik yang berbeda jika diberi gaya (beban). Ada yang kuat jika ditekan tapi
hancur jika ditarik (misalnya beton). Ada yang kuat jika ditarik, tapi tidak ada apaapanya jika ditekan (misalnya kabel, rantai, tali, dll), ada juga yang kuat jika ditarik
dan ditekan (misalnya profil baja struktural). Dan.. tentu saja ada yang tidak kuat
jika ditarik maupun ditekan, misalnya kerupuk.
ELASTIS
dan
PLASTIS
Konsep ini mutlak harus dipahami dulu. Karena kami bukan ahlinya, maka
penjelasan di sini juga diusahakan dalam bahasa bukan ahlinya.
Misalnya ada sebuah benda (material), jika diberi gaya (ditarik, ditekan, atau
dilenturkan), benda tersebut memanjang, memendek, atau bengkok (berdeformasi).
Kemudian gaya tersebut dihilangkan, dan benda tersebut kembali persis ke bentuk
dan ukuran semula. Kondisi ini dinamakan kondisi ELASTIS.

Tapi, ada suatu kondisi jika gaya tersebut ditambah besarnya, benda tersebut sudah
tidak bisa kembali ke bentuk semula. Benda itu sudah dalam kondisi PLASTIS atau
INELASTIS.
Dalam kondisi elastis, besarnya gaya berbanding lurus dengan besarnya deformasi.
Misalnya kita ambil gaya tarik versus penambahan panjang. Semakin bsar gaya
tariknya, semakin besar pula penambahan panjangnya. Dalam pembahasan biasanya
digunakan tegangan untuk mewakili gaya ( = F/A), dan regangan untuk mewakili
penambahan panjang ( = L/L)

Titik waktu pertama kali material tersebut memasuki kondisi plastis disebutTitik
Leleh (Yield Stress). Pada kondisi plastis, hubungan tegangan regangan sudah
menyimpang jauh dari linear. Diberi tambahan gaya sedikit saja, deformasinya bisa
bertambah berlipat-lipat kali dari deformasi elastis.
Jika gaya tersebut ditambah, maka material tersebut bisa putus. Titik ini
disebut titik putus, atau titik fraktur (Ultimate Stress).

Daktilitas adalah kemampuan material mengembangkan regangannya dari pertama


kali leleh hingga akhirnya putus. Atau, daktilitas bisa juga kita artikan seberapa
plastis material tersebut. Semakin panjang ekor plastisnya, semakin daktail
material tersebut.
Kebalikan dengan daktail, material yang GETAS tidak memiliki ekor plastis yang
panjang. Malah ada yang sama sekali tidak memiliki ekor plastis. Artinya, titik
lelehnya sama dengan titik putusnya. Begitu dia leleh saat itu juga dia putus.
MODULUS
ELASTISITAS
Modulus Elastisitas biasa disebut juga Modulus Young. Walaupun sebenarnya
Modulus Young adalah bagian dari Modulus Elastisitas (sumber: wikipedia).
Modulus Elastisitas (nggak usah diturunkan ya persamaannya), dirumuskan sebagai:
adalah
regangan,
dan adalah
regangan.
Pada grafik hubungan tegangan-regangan, kemiringan kurva elastis menunjukkan
besarnya Modulus Elastisitas.
Semakin tegak kurva elastisnya, maka semakin besar nilai E-nya. Sebaliknya
semakin landai kurvanya, semakin kecil nilai E-nya.
BAJA
Di antara tiga material utama konstruksi (baja, beton, kayu), baja adalah material
yang paling daktail. Tegangan lelehnya tinggi, regangan maksimumnya besar.
Modulus Elastisitasnya juga tinggi.

BETON
Beton kebalikan dengan baja. Beton justru sangat tidak daktail. Beton malah sangat
getas ketika mengalami tegangan tarik. Sedangkan ketika mengalami tekan, perilaku
elastisnya hanya terlihat sekitar 0 30% dari kuat tekan beton. Setelah itu tidak
elastis lagi. Hal ini konon diakibatkan karena munculnya retak-retak pada saat
tegangan sudah mulai tinggi.
KARET
Karet adalah contoh material yang sangat fleksibel (modulus Elastisitas kecil) tapi
juga getas. Artinya, begitu mencapai titik leleh seketika itu juga karet itu putus.
Regangan karet bisa mencapai lebih dari 100%, artinya karet dapat memanjang 2
kali
(bahkan
lebih)
dari
panjang
semula.
Regangan
beton
(tekan)
paling
maksimal
sekitar
0.3-0.4
persen.
Regangan leleh baja sekitar 0.2 persen, dan regangan putusnya mencapai 15%. (so,
kalau anda mau menarik sebuah tulangan baja hingga putus, paling tidak anda harus
bisa menarik tulangan tersebut menjadi 15% lebih panjang terlebih dahulu baru
kemudian baja itu akan putus)
Kalo digambarkan ketiganya kurang lebih perbandingannya seperti gambar berikut.

KERUPUK
Kebetulan belum ada laboratorium yang mengadakan penelitian tentang hubungan
tegangan-regangan dari kerupuk. Mungkin anda berminat?
Dari pembahasan ini akan muncul istilah-istilah lain seperti:
1.
Sendi
Plastis.
Sendi plastis adalah kondisi ujung-ujung elemen struktur yang semula kaku (rigid)

atau terjepit sempurna, kemudian menjadi sendi (pinned) karena material


penyusunnya (dalam hal ini baja) telah mengalami kondisi plastis.
Misalnya sambungan balok ke kolom pada awalnya didesain kaku (rigid), namun
karena momen tumpuan sangatt besar mengakibatkan semua tulang tarik pada
balok mengalami leleh. Jika sudah leleh, tentu sudah tidak elastis lagi.
Gaya gempa yang arahnya bolak balik menyebabkan sisi atas dan sisi bawah balok
secara bergantian mengalami tekanan tarik dan tekan yang besar, bahkan dapat
membuat
beton
menjadi
retak
atau
hancur.
Dalam kondisi seperti ini, kekuatan ujung balok bergantung kepada tulangan.
Deformasinya (dalam hal ini putaran sudut) menjadi besar, dan ujung balok tidak
rigid lagi, alias sudah seperi sendi.

2.
Daktilitas
Penampang.
Daktilitas penampang adalah kemampuan penampang untuk mengembangkan
deformasinya setelah mengalami leleh pertama kali.
Atau bisa disebut juga seberapa lama suatu elemen struktur bisa bertahan dengan
kondisi sendi plastis di ujung-ujungnya.
3.Daktilitas
Struktur
Daktilitas secara keseluruhan. Khususnya dalam memikul beban lateral (gempa).
Tiga hal ini insya Allah akan dibahas di lain kesempatan. Semoga bermanfaat.[]

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kekenyalan aspal. Kekenyalan aspal dapat
dinyatakan dengan panjang pemuluran aspal yang dapat tercapai hingga sebelum
putus. Nilai daktilitas tidak dapat menyatakan kekuatan tarik aspal.
Sifat reologis daktilitas digunakan untuk mengetahui ketahanan aspal terhadap retak
dalam penggunaanya sebagai lapisan perkerasan. Aspal yang memiliki daktilitas
yang rendah akan mengalami retak-retak dalam penggunaannya karena lapisan
perkerasan mengalami perubahan suhu agak tinggi. Oleh sebab itu aspal perlu
memiliki daktilitas yang cukup tinggi.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengukur jarak terpanjang yang dapat
terbentuk dari bahan bitumen pada 2 cetakan kuningan, karena penarikan dengan
mesin uji, sebelum bahan bitumen tersebut menjadi putus. Pemeriksaan ini
dilakukan pada suhu 25 0,5 C dan dengan kecepatan tarik mesin 0 mm per menit
(dengan toleransi 5%).
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui salah satu sifat mekanik bahan
bitumen yaitu kekenyalan yang diwujudkan dalam bentuk kemampuannya untuk
ditarik yang memenuhi syarat jarak tertentu (dalam pemeriksaan ini adalah 100 cm),
maka dianggap bahan ini mempunyai sifat daktilitas yang tinggi.
Mesin uji biasanya mempunyai batas alat ukur hingga 100 cm. Hal yang sering
terjadi dalam pemeriksaan daktilitas adalah bahwa jarak penarikan sampel
umumnya selalu di atas 100 cm yang menunjukkan bahwa sampel ini mempunyai
daktilitas tinggi. Permasalahan yang timbul akibat keterbatasan mesin uji dalam
mengukur jarak putus sampel, kita tidak mengetahui seberapa besar daktilitas yang
dimiliki benda uji. Oleh karena itu, masih diperlukan jenis pemeriksaan lain yang
dapat mengukur daktilitas maksimum bahan bitumen yang melewati jarak 100 cm.
Peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam pengujian ini adalah:
1.
Cetakan kuningan. Cetakan ini terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian yang disebut
clip dengan sebuah lubang pada bagian belakang dan bagian samping cetakan
yang berfungsi sebagai pengunci clip sebelum cetakan ini diuji. Pada saat
pengujian, bagian samping harus dilepas.
2.
Bak perendam, isi 10 liter yang dapat mempertahankan suhu pemeriksaan
dengan toleransi yangn tidak lebih dari 0,5C dari suhu pemeriksaan. Kedalaman

air pada bak ini tidak boleh kurang dari 100 mm di bawah permukaan air. bak
tersebut diperlengkapi dengan pelat dasar berlubang yang diletakkan 50 mm dari
dasar bak perendam untuk meletakkan benda uji. Air dalam bak perendam harus
bebas dari oli dan kotoran lain serta bebas dari bahan organik lain yang mungkin
tumbuh di dalam bak.
3.
Termometer.
4.
Mesin uji yang dapat menjaga sampel tetap terendam, tidak menimbulkan
getaran selama pemeriksaan dan dapat menarik benda uji dengan kecepatan
tetap.
5.
Alat pemanas, untuk mencairkan bitumen keras.
6.
Metil alkohol teknik dan sodium klorida.
Acuan pengujian yang umum digunakan adalah dari SK SNI M 18-1990F, yang
mengadopsi dari AASHTO T 51-89 dan ASTM D 113-79.
Persiapan benda uji :
1.
Susun bagian-bagian cetakan kuningan.
2.
Lapisi atas dan bawah cetakan serta permukaan pelat alas cetakan dengan
bahan campuran dextrin dan gliserin atau amalgam.
3.
Pasang cetakan daktilitas diatas pelat dasar.
4.
Panaskan contoh bitumen kira-kira 100 gram sehingga cair dan dapat
dituang. Untuk menghidarkan pemanasan setempat, lakukan dengan hati-hati.
Pemanasan dilakukan sampai suhu antara 80 sampai 100 C diatas titik lembek.
5.
Tuangkan contoh bitumen dengan hati-hati ke dalam cetakan daktilitas dari
ujung ke ujung hingga penuh berlebihan.
6.
Dinginkan cetakan pada suhu ruang 30 sampai 40 menit lalu pindahkan
seluruhnya ke dalam bak perendam yang telah disiapkan pada suhu pemeriksaan
(sesuai dengan spesifikasi) selama 30 menit.
7.
Ratakan contoh yang berlebihan dengan pisau atau spatula yang panas
sehingga cetakan terisi penuh dan rata.
Langkah-langkah pengujian :
1.
Sampel didiamkan pada suhu 25 C dalam bak perendam selama 85 sampai
95 menit, kemudian lepaskan cetakan sampel dari alasnya dan lepaskan bagian
samping dari cetakan.
2.
Pasang cetakan daktilitas yang telah terisi sampel pada alat mesin uji dan
jalankan mesin uji sehingga akan menarik sampel secara teratur dengan
kecepatan 5 cm/menit sampai sampel putus. Perbedaan kecepatan 5% masih
diijinkan.
3.
Bacalah jarak antara pemegang cetakan pada saat sampel putus (dalam cm).
Selama percobaan berlangsung sampel harus terendam sekurang-kurangnya 2,5
cm di bawah permukaan air dan suhu harus dipertahankan tetap (25 0,5 C).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian adalah apabila pada saat
pengujian, sampel menyentuh dasar mesin uji atau terapung pada permukaan
air

, maka pengujian dianggap gagal dan tidak normal. Untuk menghindari hal semacam itu
maka berat jenis air harus disesuaikan dengan berat jenis sampel dengan menambahkan metil
alkohol atau sodium klorida. Apabila pemeriksaan normal tidak berhasil setelah dilakukan 3
kali, maka dilaporkan bahwa pengujian daktilitas bitumen tersebut gagal.

Maksud pemeriksaan ini adalah untuk mengukur jarak


terpanjang yang dapat ditarik antara dua cetakan yang berisi

bitumen keras sebelum putus, pada suhu dan kecepatan tarik


tertentu.