Anda di halaman 1dari 94

BEKAL DA’I DALAM TAFSIR AL-MISBAH KARYA MUHAMMAD QURAISH SHIHAB

(analisis Al-Qur’an surat al-muddatsir ayat 1-7)

Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk memenuhi Syarat-syarat Gelar Sarjana Ilmu
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk memenuhi Syarat-syarat Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S. Kom. I)
Oleh:
SITI MASITOH
NIM. 104051001847

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2010

BEKAL DA’I DALAM TAFSIR AL-MISBAH KARYA MUHAMMAD QURAISH SHIHAB

(Analisis Al-Qur’an surat Al-Muddatsir ayat 1-7)

Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk memenuhi Syarat-syarat Gelar Sarjana Ilmu
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk memenuhi Syarat-syarat Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S. Kom. I)
Oleh:
SITI MASITOH
NIM. 104051001847
Di bawah bimbingan
Oleh: SITI MASITOH NIM. 104051001847 Di bawah bimbingan JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2010

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. dengan ketentuan yang berlaku
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1.
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2.
dengan
ketentuan
yang
berlaku
di
Universitas
Islam
Negeri
Hidayatullah Jakarta.
3.
Universiatas Islam Negeri Syarif Hidatullah Jakarta.

Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata S1 di Universitas Islam

Sumber yang telah gunakan dalam penulisan skripsi telah saya cantumkan

Syarif

Jika dikemudian hari terbukti bahwa hasil karya saya merupakan jiplakan

dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di

Jakarta, 04 Desember 2010

Siti Masitoh

ABSTRAK

Bekal Da’I dalam tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab (analisis Al-Qur’an surat al-muddatsir ayat 1 7)

(analisis Al- Qur’an surat al-muddatsir ayat 1 – 7) Buku tafsir Al-Misbah adalah salah satu hal

Buku tafsir Al-Misbah adalah salah satu hal yang menarik bagi penulis, karena ia merupakan buku yang dikarang oleh seorang mufassir terkenal yaitu: M. Quraish Shihab. Dakwah yang dilakukannya sangat beragam mulia dari ceramah mimbar yang monolog, diskusi interaktif dalam kajian dan seminar, hingga dalam bentuk buku, sehingga beliau telah menerbikan puluhan judul buku dan salah satunya yaitu buku Tafsir Al-Misbah, Pesan-kesan dan keserasian Al-Qur’an Juz 29. Penulis mengambil buku tafsir Al-Misbah ini karena menilai buku Tafsir ini khususnya Tafsir al-Misbah Juz 29 yang menerangkan Surat Al-Muddatsir ayat 1 7 ini sangatlah membantu penulis dalam menulis skripsi ini sehingga menambah pengetahuan dari berbagai persoalan yang telah menghimpit kita sekarang ini.

Bagaimanakah kualitas dan kapabilitas yang harus dimiliki dari dalam Tafsir Al-Misbah ? Dan bagaimana relevansi bekal yang harus dimiliki Da’i terhadap keadaan zaman sekarnag ini ?.

Dalam Tafsir Al-Misbah ini kualitas dan kapabilitas memang harus seimbang dimiliki oleh Da’i dimana adanya bekal spiritual, moral, intelektual serta hal-hal yang positif yang dapat membantu dalam membangun kepribadian Da’i itu sendiri. Sedang relevansi bekal da’i dalam kehidupan sekarang ini sangatlah relevan, karena Tafsir yang ditulis oleh M. Quraish Shihab ini mencangkup dari segi keagamaan, pembaharuan dan ke Indonesian.

Penelitian ini menggunakan analisis Al-Qur’an khususnya surat Al- Muddatsir ayat 1 7 dimana dengan pendekatan yaitu penafsiran yang menerangkan arti ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai seginya, berdasarkan aturan- aturan ayat, hubungan ayat-ayatnya, hadits serta para pendapat para Mufassirin itu sendiri. Hakekatnya study tafsir ini adalah menjelaskan maksud ayat-ayat Al- Qur’an yang sebagian besar masalah dalam bentuk global. Adapun sarana pendukung pekerjaan menafsirkan Al-Qur’an dilengkapi dengan buku-buku yang terikat dengan ayat yang akan ditafsirkannya.

Dengan penelitian ini dalam menganalisis Al-Qur’an surat Al-Muddatsir ayat 1 7 ini dalam tafsir Al-Misbah, maka ini menjadi landasan penulisan teori bekal da’i apa saja yang harus dimiliki da’i. Sebagai media penulisan dalam membangun kepribadian da’i sehingga sangatlah efektif dalam penyampaiannya dan dapat diterapkan dalam kehidupan da’i sehari-hari.

Bekal da’i yang terdapat dalam surat Al-Muddatsir ayat 1 7 menerangkan bagaimana proses pembentukan kepribadian yang harus dimiliki oleh da’i dengan demikian ini semua akan memberikan kontribusi bagi da’i dan juga manfaat bagi kita semua, karena sebagai da’i haruslah memberikan suritauladan yang baik bagi diri sendiri dan juga madunya.

i

KATA PENGANTAR

Al-Hamdulillah Rabil’aalamin, sembah sujud dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah banyak
Al-Hamdulillah Rabil’aalamin, sembah sujud dan puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah banyak memberikan karunia-Nya yang
tak terhingga sehingga skripsi ini selesai.
Tak
lupa
Shalawat
serta
salam
kepada
Habibullah
Rasulullah
Muhammmad SAW serta para sahabatnya yang telah membawa kebaikan kepada
umatnya dari jalan kegelapan menuju jalan kebenaran.
Skripsi ini tidak akan selesai tanpa jasa dari berbagai pihak, maka penulis
ingin menganturkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada:
1.
Bpk. Dr. H. Arief Subhan, MA. Sebagai Dekan Fakultas Ilmu
Dakwah
dan Ilmu Komunikasi.
2.
Bpk.
Drs.
Jumroni,
M.Si.
Sebagai
Ketua
Jurusan
Komunikasi
dan
Penyiaran Islam.
3.
Ibu Umi Musyarofah, MA. Sebagai Sekretaris Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam

4. Bpk. Dr. A. Ilyas Ismail, MA. Selaku Dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membantu selam proses

Skripsi ini.

5. Semua Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah

memberikan Ilmu selama mengikut perkuliahan.

ii

6.

Abi ( H. Muhasyar) dan Umi ( Hj. Mimi) yang selalu memberikan nasihat,

do’a serta motivasi yang tiada henti dan mohon ma’af

apabila ananda

belum bisa memberikan yang terbaik buat Abi dan Umi, semoga Allah SWT selalu melindungi kalian,
belum bisa memberikan yang terbaik buat Abi dan Umi, semoga Allah
SWT selalu melindungi kalian, Ananda sangat menyayangi kalian.
7.
Kakak-Kakakku
yang
tersayang,
Syarfunnajah,
Syarif
Muawan,
Siti
Mutiah,
Siti
Novilah,
Nur’ani,
M.
Ya’la,
Nurul
Hikmah,
dan
Siti
Fakhriyah. yang telah memberikan motivasi tiada henti agar ananda bisa
lulus kuliah dan bisa meraih cita-cita terimakasih atas dukungannya selam
ini. Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikan kalian.
8.
Untuk
sahabatku
yang
tercantik
Emma
Masrurah
terimakasih
atas
dukunganmu selama ini semoga persahabatan ini membawa kebaikan
untuk kita amin.
9.
Dan untuk sehabatku di KPI C Pay, Edwin, Ray, Eriz, Ratih, Sukriah,
Ade, Lilis, Nia, Intan, dan Eti terimakasih atas dukungan kalian yang tiada
henti, semoga silaturahmi kita tetap terjalin.

Jakarta, 30 Agustus 2010

iii

DAFTAR ISI

ABSTRAK i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1
ABSTRAK
i
KATA PENGANTAR
ii
DAFTAR ISI
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
7
D. Metodologi Penelitian
8
E. Tinjauan Kepustakaan
10
F. Sistematika Penulisan
11
BAB II
RUANG LINGKUP TENTANG DA’I
A. Pengertian da’i
13
B. Sifat-Sifat Asasi da’i Rabbani
15
C. Perjuangan da’i
24

BAB III

TINJAUAN ANALISIS TAFSIR AL-MISBAH

A. Riwayat Hidup Penulis

31

B. Pembahasaan Mengenai Tafsir

34

C. Ciri-Ciri Tafsir AL-Misbah

38

iv

BAB IV

KONSEP TAFSIR AL-MISBAH TENTANG

BEKAL DA’I DALAM SURAT AL-MUDATSIR AYAT 1-7

A. Teks Al-Qur’an Surat Al-Mudatsir ayat 1-7 39 B. Asbabul Nuzul Surat Al-Mudatsir ayat 1-7
A. Teks Al-Qur’an Surat Al-Mudatsir ayat 1-7
39
B. Asbabul Nuzul Surat Al-Mudatsir ayat 1-7
39
C. Analisis Ayat dan Bekal Da’i Dalam Surat
AL-Mudatsir ayat 1-7
41
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulam
80
B. Saran
82
DAFTAR PUSTAKA
83
LAMPIRAN

v

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang fushshilat :33 berikut:
A. Latar Belakang
fushshilat :33 berikut:

Islam adalah agama yang diwahyukan Allah SWT dengan jalan-Nya.

Untuk itu Nabi Muhammad SAW beserta pengikutnya dalam menyampaikan

ajaran Islam senantiasa berlandaskan pada norma-norma yang jelas. Diantara

norma-norma yang jelas itu, telah ditegaskan dalam Al-Qur’an pada surat

 

Artinya: ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata:

"Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (Q.S. Fushshilat : 33) 1

Ayat di atas menunjukkan bahwa Islam adalah agama dakwah, yang

menegaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan ajaran Nya kepada

seluruh umat manusia. sehingga Al-Qur’an pun secara Imperatif menegaskan

bahwa Allah SWT menegaskan bahwa Allah SWT memerintahkan setiap

muslim

untuk

menyeru

umat

manusia

ke

jalan-Nya,

dengan

cara

yang

bijaksana, dengan nasehat yang baik dan argumentasi yang rasional. Hal ini

telah ditegaskan dalam Al-Qur’an pada surat an-Nahl:125 berikut:



1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, (Bandung :Jumnatul’ Ali, 2004),

h. 481

1

2

  

125 ) 2 yang sesuai dengan ajaran agama. 3 oleh beberapa hal: 1.
125 ) 2
yang sesuai dengan ajaran agama. 3
oleh beberapa hal:
1.

Artinya : ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”( An-Nahl :

Keberhasilan dakwah harus didukung oleh semua aspek, mulai dari

politik, ekonomi, hukum, agama dan budaya yang kesemuanya itu mendukung

proses berjalannya dakwah. Artinya dakwah itu harus bersifat mu’asyirah

ghoiru taqlidiyah (modern dan tidak kuno). Secara metode dakwah dilakukan

berdasarkan keasliannya yaitu Al-Qur’an dan hadits. Namun cara, sarana,

serta strategi yang digunakan harus seiring dengan perkembangan zaman,

artinya dakwah harus melihat situasi, kondisi, suasana, peristiwa, sikap,

keperluan yang kemudian dikaitkan dengan sasaran tetapi tetap dalam koridor

Sedangkan menurut Ahmad Mubarak, keberhasilan dakwah dimungkinkan

Karena pesan dakwah yang disampaikan oleh seorang da’i memang

relevan dengan kebutuhan masyarakat yang merupakan satu keniscayaan

yang tidak mungkin ditolak, sehingga mereka menerima pesan dakwah itu

dengan antusias.

2 Ibid, h. 282 3 Dr. Irwan Prayitno, Fiqhud Dakwah; Seri Pendidikan Islami, (Bekasi : Pustaka Tarbiyatunna, 2002), Cet. Ke 1, h. 75

3

2. Karena faktor seorang da’i yaitu da’i tersebut memiliki daya tarik personal

yang menyebabkan masyarakat sudah dapat menerima pesan dakwahnya

meski kualitas dakwahnya boleh jadi sederhana saja. 3. Karena kondisi psikologi masyarakat yang sedang haus
meski kualitas dakwahnya boleh jadi sederhana saja.
3.
Karena kondisi psikologi masyarakat yang sedang haus terhadap siraman
rohani dan mereka terlanjur memilki persepsi positif pada setiap da’i
sehingga pesan dakwah sebenarnya kurang jelas ditafsirkan sendiri oleh
masyarakat dengan penafsiran yang jelas.
4.
Karena faktor kemasan yang menarik, masyarakat yang semula acuh tak
acuh terhadap agama juga da’i, setelah melihat paket dakwah yang diberi
kemasan
lain 4 ,
maka
paket
dakwah
berhasil
menjadi
stimuli
yang
menggelitik
persepsi
masyarakat
dan
akhirnya
merekapun
merespon
positif.
Mempelajari lingkungan dan tempat dakwah adalah perkara yang
sangat urgen, karena sesungguhnya da’i dalam medan dakwahnya sangat
membutuhkan pengetahuan tentang keadaan dan kondisi sang mad’u baik
mengenai
i’tikadnya
(keyakinan),
kejiwaannya,
sosial
kemasyarakatan,
ekonomi dan mengetahui pusat-pusat kesesatan, tempat-tempat penyimpangan

mereka.

Demikian juga seorang da’i butuh pengetahuan

tentang bahasa

mereka, adat kebiasaannya, dan paham tentang problem mereka serta titik

penyimpangan akhlak mereka, tsaqofah (kebudayaan) mereka, tingkatan debat

4 Ahmad Mubarok, Pisikologi Dakwah, (Jakarta : Pustaka Pirdaus, 1999), Cet. Ke-1 h.

113

4

mereka, syubhat yang banyak menyebar dikalangan mereka serta madzhab-

madzhab mereka. 5

Untuk mensyiarkan ajaran Islam diperlukan para da’i dan yang mampu menjadi teladan bagi para mad’unya
Untuk mensyiarkan ajaran Islam diperlukan para da’i dan yang mampu
menjadi teladan bagi para mad’unya baik dalm kehidupan pribadi maupun
sosialnya.
Di
mana
Mereka
yang
memiliki
kecerdasan
esensial
dalam
kehidupan
bermasyarakat
yaitu
kecerdasan
emosional
dan
spritual.
Kecerdasan emosional disebutkan beberapa contoh sifat yaitu: lemah lembut,
tidak sombong dan pemaaf. Sedangkan kecerdasan spiritual digambarkan
dengan sifat-sifat pokok yaitu: selalu dekat dengan Allah SWT, berdo’a di
siang dan malam hari, bertaubat dan mohon ampun kepada Allah SWT.
Di
antara sifat kepribadian da’i
yang diteladani
Imam para da’i
Rasulullah SAW adalah sifat lemah-lembut, tidak sombong, pemaaf bahkan
siap mendo’akan mereka yang melakukan kekhilafan, mengajak mereka untuk
bermusyawarah guna mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi. Dan
ini
semua merupakan rahmat bagi mereka yang ingin menteladani dari sifat
Rasulullah SAW. Karena sebaliknya mereka yang bersikap kasar terhadap
Mad’u
nya
lama
kelamaan
akan
ditinggalkan
karena
tak
seorang
pun

menyukai sikap kasar dan kekerasan. 6

Ini semuanya kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, karena

pada

hakikatnya Al-Qur’an menempati posisi sentral dalam studi-studi keislaman.

Di samping itu keberadaan Al-Qur’an ditambah dengan keinginan mereka

untuk

memahami

petunjuk

dan

mukzizat-mukjizatnya.di

mana

telah

5 Muzaldi Hazbulah, LC. 9 Pilar keberhasilan Da’I di medan Dakwah, (Solo : Pustaka Arafah, 2000) h. 106

6 Idris Somat, Diktat Mengenai Ayat- ayat dakwah

5

melahirkan sekian banyak

disiplin Ilmu keislaman dan metode - metode

penelitian. sehingga dengan lahirnya berbagai metode penafsiran Al-Qur’an

(yang terakhir adalah maudhu’i atau tauhidiy). 7 Al-Qur’an dengan menggunakan metode atau pendekatan tertentu
(yang terakhir adalah maudhu’i atau tauhidiy). 7
Al-Qur’an
dengan
menggunakan
metode
atau
pendekatan
tertentu
ayat-ayat
Al-Qur’an.
Sehingga
ketika
Al-Qur’an
ditafsirkan
menggunakan
metode
dan
pendekatan
tertentu,
misalnya
sebagainya. Realita seperti ini merupakan suatu kewajaran. 8
ingin selalu ”mengkonsumsi” dan menjadikan Al-Qur’an
hidup,
bahkan
terkadang
dijadikan
sebagai
legitimasi
bagi

Tafsir merupakan suatu hasil pemahaman seorang mufassir terhadap

yang

dilakukan mufassir, dan di maksudkan untuk memperjelas suatu makna teks

dengan

menggunakan

pendekatan filsafat, maka akan melahirkan produk penafsiran yang bercorak

filosofis. Jika Al-Qur’an ditafsirkan menggunakn pendekatan sufistik dan

Munculnya beragam sudut pandang dalam menafsirkan Al-Qur’an,

sesungguhnya merupakan suatu keniscayaan sejarah, sebab setiap generasi

sebagai pedoman

tindakan

perilakunya. Menurut Ignaz Goldziher, setiap aliran pemikiran yang muncul

dalam sejarah ummat Islam selalu cenderung untuk mencari legitimasi dan

justifikasi dari kitab sucinya. (Al-Qur’an). 9

Teks Al-Qur’an sangat terbuka untuk ditafsirkan (multi interpretable)

dan masing-masing mufassir, ketika masing-masing menafsirkan Al-Qur’an

dapat dipengaruhi oleh kondisi sosial-kultur di mana ia tinggal, bahkan situasi

politik

yang

melingkupinya

juga

sangat

mempengaruhi,

serta

adanya

7 Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Mizan ; 2007) Cet. 1 hal. 237

8 Abdul Mustakin Madzahibut al-islami, (Beirut ; daar Iqra, 1983), h. 3

9 Ignaz Goldziher, Madzhab at Tafsir al-Islami, (Beirut ; Daar iqra, 1983), h. 3

6

kecenderungan dalam diri mufassir untuk memahami Al-Qur’an sesuai dengan

disiplin ilmu yang ia tekuni, sehingga meskipun kajiannya satu yaitu teks Al-

ragam (plural). beberapa macam, seperti corak bahasa, sastra, filsafat, sastra muhammad abduh yaitu suatu
ragam (plural).
beberapa
macam,
seperti
corak
bahasa,
sastra,
filsafat,
sastra
muhammad
abduh
yaitu
suatu
corak
tafsir
yang
menjelaskan
petunjuk
ayat
Al-Qur’an
yang
berkaitan
langsung
dengan
bahasa yang mudah dipahami.

Qur’an , tetrapi hasil penafsiran Al-Qur’an tidaklah satu melainkan beraneka

Dalam sejarah perkembangan tafsir, dikenal beberapa metode tafsir,

antara lain tafsir tahlili, yaitu penafsiran secara kronologis, tafsir mendahului,

yaitu tafsir yang bersifat tematis dan sebagainya. Corak tafsir pun dikenal

budaya

kemasyarakatan (adabi ijtima’i ) dan lain-lain. Beragamnya metode dan corak

penafsiran Al-Qur’an menunjukkan adanya dinamika didalam diri Al-Qur’an.

Perspektif sastra budaya kemasyarakatan atau adabi ijtima’i dimulai oleh

petunjuk-

kehidupan

masyarakat. Serta usaha-usaha mencari solusi atau menanggulangi masalah-

masalah yang muncul kepada mereka, berdasarkan petunjuk tersebut dalam

Dakwah ternyata tidak hanya bicara tentang upaya mengajak, tetapi

banyak kunci-kunci dakwah yang tersirat di dalamnya Muhammad Quraish

Shihab mengartikan dakwah tidak hanya suatu kewajiban ummat Islam, tetapi

sesungguhnya merupakan dimensi kehidupan manusia yang terkait dalam

corak sastra budaya, sosial, ekonomi, dan lain-lain semua terangkum di dalam

Al-Qur’an.

7

Kitab tafsir Al-Misbah yang ditulis oleh Muhammad Quraish Shihab

di mana masuk dalam kategori Tafsir adabi ijtima’i. Tafsir inilah yang

menjadi fokus dalam pembahasan karena penulis sangat tertarik mengkaji secara komprehensip terhadap masalah
menjadi
fokus
dalam
pembahasan
karena
penulis
sangat
tertarik
mengkaji
secara
komprehensip
terhadap
masalah
tersebut
dalam
skripsi yang berjudul:
Bekal Da’i Dalam Tafsir AL-Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab
( analisis Al-Qur’an surat al-Mudatsir ayat 1-7 )
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Mudatsir ayat 1-7
2. Perumusan Masalah
diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut :

untuk

sebuah

Pembahasan masalah bekal da’i sangatlah luas dan kompleks tetapi

karena keterbatasan penulis, maka penelitian ini dibatasi pada harapan

bahwa seorang Da’i mempunyai bekal yang terdapat dalam surat al-

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah yang akan

Bagaimana kualitas dan kapabilitas yang harus dimiliki da’i dalam tafsir

Al-Misbah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

8

Tujuan yang hendak dicapai penulis dalam pembahasan skripsi ini

adalah ”Untuk mengetahui bagimanakah bekal da’i menurut tafsir al-

dalam berdakwah” 2. Manfaat Penelitian a. Memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu tafsir Islam b. bidang
dalam berdakwah”
2. Manfaat Penelitian
a. Memberikan
kontribusi
dalam
perkembangan
ilmu
tafsir
Islam
b.
bidang
tafsir,
dan
sumbangan
pikiran,
sehingga
dapat
referensi bagi peneliti selanjutnya
c.
Sumbangan
terhadap
dinamika
ilmu
pengetahuan
yang
berkembang
D. Metodologi Penelitian

Misbah yang tertuang dalam surat al-Mudatsir ayat1-7 khususnya yang

berkenaan dengan da’i di mana dalam konteks ini da’i menjadi objek

dan

perkembangan masyarakat dalam memahami sumber-sumber ajaran

Untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan khususnya dalam

dijadikan

selalu

Metode yang digunakan dalam pencarian sumber melalui Studi Tafsir

yang diperoleh dari:

1.

Studi

Tafsir,

merupakan

suatu

hasil

pemahaman

terhadap

Al-Qur’an

dengan

menggunakan

metode

seorang

mufassir

atau

pendekatan

tertentu yang dilakukan mufassir, dan di maksudkan untuk memperjelas

suatu

makna

teks

ayat-ayat

Al-Qur’an.

Sehingga

ketika

Al-Qur’an

ditafsirkan

dengan

menggunakan

pendekatan

filsafat,

maka

akan

melahirkan

produk

penafsiran

yang

bercorak

filosofis

dan

lain

9

sebagainnya.

Hakekatnya

adalah

menjelaskan

maksud

ayat-ayat

Al-

Qur’an yang sebagian bisa masih dalam bentuk global, adapun sarana

yang terkait dengan ayat yang akan ditafsirkannya. 2. Skiripsi mushaf dengan menonjolkan kandungan lafaznya,
yang terkait dengan ayat yang akan ditafsirkannya.
2. Skiripsi
mushaf
dengan
menonjolkan
kandungan
lafaznya,
hubungan
berhubungan
dengannya
serta
pendapat-pendapat
para
mufasirin
sendiri.
3. Adapun kitab-kitab tafsirnya sebagai berikut:
Tafsir Al-Misbah, karya Muhammad Quraish Shihab juz 29
Tafsir Al-Azhar, karya Prof Dr. Hamka juz 29
Tafsir Qur’an Karim, karya Prof. Dr. H. Muhammad Yunus.
Tafsir Fizhillah.

pendukung pekerjaan menafsirkan Al-Qur’an itu meliputu berbagai Ilmu

yang berhubungan dengan hal itu dan juga dilengkapi dengan buku-buku

ini termasuk kajian tafsir metode Tahlily (Analisis), dengan

pendekatan yaitu penafsiran yang menerangkan arti ayat-ayat Al-Qur’an

dari berbagai seginya, berdasarkan aturan-aturan ayat atau surat dari

ayat-

ayatnya, hubungan surat-suratnya, sebab-sebab turunnya, haditsnya yang

itu

Pengantar Ilmu Tafsir, karya Drs. Rif’at Syauqi Nawawi, Drs. M. Ali

Hasan.

Paradigma Dakwah Sayyid Quthub, karya Dr. A. Ilyas Ismail, MA.

10

E. Tinjauan kepustakaan

Tinjauan kepustakaan (literatur) yang berkaitan dengan topik pembahasaan,

skripsi ini salah satunya: shihab dengna salah satu bukunya muamalah. dengan manusia.
skripsi ini salah satunya:
shihab dengna salah satu bukunya
muamalah.
dengan manusia.

atau bahkan yang nemberikan inspirasi dan mendasari dilakukannya penulisan

Skripsi atas nama syukriah, judul skripsi ”Analisis Isi pesan Dakwah M.

Quraish Shihab dalam buku menabur pesan ilahi”. Fakultas Ilmu dakwah dan

Ilmu Komunikasi, jurusan Komunikasi Penyiaraan Islam, NIM:104051001847

tahun pembuatan 2008. Skripsi ini juga melakukan analisis buku dari Quraish

yang berjudul menabur pesan illahi.

Sebagai seorang penulis beliau sangatlah relevan baik dari segi keagamaan,

pembaharuan dan keIndonesiaan. dimana dalam buku beliau ditekankan pada

tiga poin pesan dakwah yang di ambil yaitu: dalam bidang ibadah, akidah dan

Ketiga poin pesan dakwah tersebut sangatlah penting dalam menjalankan

dakwah. Dimana berkaitan baik berhubungan dengan Allah SWT maupun

Ini merupakan suatu gambaran bagi da’i yang menjalankan

dakwah. Ketiga poin tersebut merupakan suatu pengetahuan yang lazimnya

mesti

dipahami,

dijalankan

dan

diamalkan

dalam

kehidupan

sehari-hari

sehingga dakwah yang disampaikan bermanfaat untuk dirinya dan lingkungan.

Skripsi

ini

walaupun

segi

objek

penelitiannya

berbeda

dimana

ini

merupakan penelitian kualitatif tetapi penulis hanya mengambil dari segi

teorinya saja tentang analisi isi.

11

F. Sistematika Penulisan

BAB I.

Pendahuluan

Pada bab pertama ini penulis menyampaikan latar belakang masalah penelitian, pembatasan dan perumusan masalah,
Pada
bab
pertama
ini
penulis
menyampaikan
latar
belakang
masalah penelitian, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan
dan
manfaat
penelitian,
metodologi
penelitian,
dan
tinjauan
kepustakaan
BAB II.
Kerangka Pemikiran Teoritis
Pada bab
kedua ini
penulis
membahas
teoritis
tentang ruang
lingkup tentang da’i, sifat-sifat asasi da’i Rabbani serta perjuangan
da’i.
BAB III.
Gambaran umum tentang tafsir AL-Misbah
Dalam bab ini penulis membahas tinjauan anlisis tafsir Al-Misbah,
melingkupi
riwayat
hidup
penulis,
metode,
dan
perspektif
penafsiran
Tafsir
Al-Misbah
serta
ciri-ciri
khusus
Tafsir
Al-
Misbah.
BAB IV.
Analisis
Pada bab ini merupakan inti dari seluruh pembahasan, beberapa

uraian perspektif tafsir AL-Misbah tentang bekal da’i dalam surat

al-Mudatsir ayat 1-7 terdiri dari : teks ayat dan terjemahanya,

asbabul nuzul serta analisis ayat yang mengutip tantang bekal da’i

dalam tafsir AL-Misbah.

12

BAB V.

Kesimpulan dan Saran.

Pada bab ini penulis memberikan kesimpulan tentang Da’i dan

bekal Da’i dari pada uraian menurut Muhammad Quraish Shihab.
bekal Da’i dari pada uraian menurut Muhammad Quraish Shihab.

BAB II

RUANG LINGKUP TENTANG DA’I

A. Pengertian Da’i Di dalam Al-Qur’an kata”Ulama” secara eksplisit dinyatakan di dalam dua ayat, pertama
A. Pengertian Da’i
Di dalam Al-Qur’an kata”Ulama” secara eksplisit dinyatakan di dalam
dua ayat, pertama dalam surat As-Syu’ara’ ayat 197, dan kedua di dalam surat
surat Fathir ayat 28. Ayat pertama meskipun berkaitan dengan Bani Israel,
menunjukkan bahwa seseorang itu dikatakan ulama apabila memiliki keluasan
dan kedalaman ilmu-ilmu agama, tempat orang bertanya dan meminta fatwa.
Ayat kedua menunjukkan bahwa seseorang dikatakan ulama, apabila memiliki
khasysyah’
takut
dan
cinta
yang
tinggi
kepada
Allah
SWT,
senantiasa
memelihara hubungan dengan-Nya. Fatwa dan Ilmu yang disampaikan kepada
masyarakat, mencerminkan takwanya kepada Allah SWT. Bahwasanya kata-
kata ulama, kiayi, da’i dan lain sebagainya itu semua hanya sebutan saja
bukan
sebagai
nama,
dimana
da’i
adalah
orang
yang
melakukan
atau
melaksanakan dakwah baik lisan, tulisan dan perbuatan secara individu,
kelompok, organisasi atau lembaga. da’i sering disebut juga mubaligh (orang

yang menyampaikan ajaran Islam). Pada dasarnya semua pribadi muslim itu

berperan

secara

otomatis,

komunikasi

disebut

sebagai

sebagai

mubaligh

atau

komunikator.

Untuk

da’i

dalam

bahasa

itu

dalam

komunikasi

dakwah yang berperan sebagai da’i atau mubaligh adalah:

a) Secara umum adalah setiap muslim atau muslimat yang mukallaf (dewasa)

di mana bagi mereka adalah kewajiban.

13

14

b)

Secara khusus adalah mereka yang mengambil keahlian (mutakhasis)

dalam bidang agama Islam yang dikenal dengan panggilan ulama, kiayi

ataupun da’i. juga harus memiliki semangat dan gairah keislaman yang tinggi tantangan yang berat
ataupun da’i.
juga
harus
memiliki
semangat
dan
gairah
keislaman
yang
tinggi
tantangan yang berat

Profil da’i yang dimaksud di sini adalah tentang karakteristik da’i

yang harus memiliki seperti sikap, kepribadian, pengetahuan, dan lainnya

untuk melakukan dakwah. 1 karena da’i merupakan salah satu unsur penting

dalam proses dakwah. Sebagai pelaku dan penggerak kegiatan dakwah, da’i

menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan atau kegagalan dakwah. 2 Da’i

pada dasarnya adalah penyeru kejalan Allah, pengibar panji-panji Islam, dan

pejuang (mujahid) yang mengupayakan terwujudnya sistem Islam dalam

realitas kehidupan umat manusia. Sebagai penyeru kejalan Allah, da’i tidak

bisa tidak, harus memilki pemahaman yang luas mengenai Islam sehingga ia

dapat menjelaskan ajaran Islam kepada masyarakat dengan baik dan benar. Ia

yang

menyebabkan ia setiap saat dapat menyeru manusia kepada kebaikan dan

mencegah mereka dari kejahatan, meskipun untuk itu ia harus menghadapi

Bahkan da’i adalah identik dengan dakwah itu sendiri. 3 Dikatakan

demikian, karena seorang da’i harus menjadi teladan dan panutan yang baik di

tengah-tengah

masyarakat.

Menurut

Abd

al-Badi

Saqar,

tidak

dapat

membedakan antara da’i dan dakwah. Diantara keduanya, tidak boleh ada

kontradiksi.

Bagi

Saqar,

da’i

adalah

arsitek

(muhandis),

pembina

dan

1 M. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, ( Jakarta : kencana 2002 ), cet. Ke-1, hal.79

2 ‘Abd al-Badi Saqar, op.cit., h. 6-7

3 Abd al-Badi saqar, op. cit., h. 10-13

15

pengembang

masyarakat

(banna).

da’i

bukan

hanya

aktor

atau

pemain

sandiwara yang hanya mencari tepuk tangan penonton, dan bukan juga

yang hanya mencari tepuk tangan penonton, dan bukan juga seniman yang hanya mencari penghargaan. Sebagai arsitek

seniman yang hanya mencari penghargaan. Sebagai arsitek dan pengembang

sosial, da’i harus melakukan rekayasa sosial dan melakukan perubahan,

khususnya perubahan mental manusia (taghyir al-nafs al-insaniyah) dengan

metode yang tepat. Dengan perubahan ini, diharapkan masyarakat, bahkan

umat manusia mencapai kesempurnaan dan kemajuan. Jika demikian sungguh

keliru menurut Saqar, orang yang berpendapat bahwa dia telah menyampaikan

pidato, ia merasa telah berdakwah. da’i harus melakukan perubahan dan

gerakan di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu da’i harus memiliki sifat-sifat

yang terpuji atau akhlak yang mulia. Keluhuran budi pekerti ini menjadi salah

satu pendorong yang memungkinkan masyarakat (mad’u) dapat mengikuti

jalan kebenaran yang diserukan sang da’i. Sifat-sifat yang mulia itu adalah

sifat yang harus dimiliki semua kaum muslim. Namun bagi seorang da’i sifat-

sifat itu haruslah memiliki nilai lebih. Dengan perkataan lain sifat-sifat yang

mulia itu bagi seorang da’i harus tampak lebih mantap, lebih sempurna, dan

lebih menonjol, sehingga ia dapat menjadi dakwah yang hidup dan menjadi

teladan yang bergerak.

B. Sifat Asasi da’i Rabbani

Menurut

Abdurrahman

An-Nahlawi,

dalam

buku

konsep

Manajemen Pengembangan Mutu Dosen, berkaitan dengan tanggung jawab

seorang juru dakwah (da’i) dalam melaksanakan tugasnya. Beliau menyatakan

bahwa sifat dan persyaratan juru dakwah (da’i) adalah sifat Robbany pada

16

tujuan,

prilaku

dan

pola

pikir,

kemudian

ikhlas,

sabar

dan

jujur.

Juga

membekali

dengan

ilmu

serta menguasai

dengan

teknis

berdakwah

dan

mengenal mad’u, di samping itu juga harus menguasai materi dakwah. 4 Dengan demikian dapat disimpulkan
mengenal mad’u, di samping itu juga harus menguasai materi dakwah. 4
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dakwah yang bermutu
ditandai oleh sifat tanggung jawab yang tercermin pada prilaku yang robbany,
ikhlas sabar, dan jujur, dapat mengambil keputusan yang berwibawa serta
mandiri dan propesional, memiliki keahlian tekhnis mengelolah dakwah,
mampu mengajak mad’u serta menguasai konsep. Dan juga disebutkan bahwa
dakwah
yang
bermutu
adalah
da’i
yang
membuat
keputusan
secara
profesional,
bertanggung
jawab
dan
memberi
arahan
pada
masyarakat
(mad’u). Sebagaimana telah ditegaskan dalam Al-Qur’an pada surat al-Imran
146-148 sebagai berikut:
 
             
  

    

 

Artinya: Berapa banyak Nabi yang berperang bersama Robbaniyyin yang banyak, mereka tidak merasa lemah (di depan musuh) karena musibah di jalan Allah, mereka tidak lemah dan tidak merasa kalah (pesimis). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Bukanlah perkataan mereka kecuali (lantunan doa) Ya Robbana

4 Abdurrahman an-Nahlawi, Konsep Manajemen Mutu Dosen, ( Jakarta: logos wacana Ilmu) cet. Ke-1, h.26.

17

ampunilah dosa-dosa kami, kelebih-lebih sikap kami, teguhkanlah pendirian kami dan bantulah kami atas orang-orang kafir. Maka Allah memberikan balasan (pahala) di dunia dan kebaikan balasan akhirat, dan Allah menyukai orang-orang yang ihsan (QS. Ali Imran: 146-148)

Sifat asasi bagi setiap da’i tergambar dalam ayat-ayat ini yang menjelaskan tentang mereka yang mengikuti
Sifat
asasi
bagi
setiap
da’i
tergambar
dalam
ayat-ayat
ini
yang
menjelaskan tentang mereka yang mengikuti jejak langkah perjuangan dakwah
para Nabi , khususnya Nabi Muhammad SAW.
Ribbiyyun:
artinya
orang-orang
yang
Robbaniyyun
yaitu
memiliki
komitmen
kuat
kepada
Allah
Robb
alam
semesta;
ada
ulama
yang
menafsirkan Ribbiyun dengan kelompok ulama para pewaris Nabi yang
berjuang membela dakwah Islam.
Katsir:
banyak,
maksudnya
adalah
para
pengikut
Nabi
itu
hendak
diperhatikan kuantitasnya, kalau kata Ribbiyyun menerangkan aspek kualitas
para pengikut Nabi yaitu Robbaniyyun, maka kata katsir menjelaskan aspek
kuantitas para pengikut Nabi.
Sifat-sifat
asasi para da’i di jalan Allah SWT, sebagaimana tersurat
dalam ayat-ayat ini adalah:
1.

ا, tidak lemah mental saat ditimpah

musibah dijalan Allah, dalam perjuangan mereka hanya menginginkan

salah satu dari dua pilihan yang keduanya baik dalam pandangan” mati

syahid atau kemenangan” karena kemenangan bagi mereka adalah karunia

Allah dan sekaligus perintahnya untuk terus melanjutkan perjuangan yang

masih panjang menuju Ridho-Nya. mati syahid adalah pintu perjumpaan

yang sangat mulia untuk bertemu dengan kekasih Allah SWT.

18

2.

(tidak lemah) Dakwah tidak menempuh jarak sepuluh atau dua

puluh kilo meter, jalan dakwah tidak dihiasi bunga dan kenikmatan, tetapi

jalan dakwah sarat dengan duri merintang dan hewan-hewan dalam mencapai tujuannya memerlukan orang-orang kuat penuh
jalan dakwah sarat dengan duri merintang
dan hewan-hewan
dalam mencapai tujuannya memerlukan orang-orang
kuat
penuh keikhlasan dan ketabahan.
3.   (tidak tunduk kepada musuh). Diantara cobaan dalam
beraktifitas
setiap
da’i
dituntut
untuk
dinamis,
proaktif
dan

yang

senantiasa mengganggu mereka yang melewatinya. Karenanya dakwah

yang tangguh dan

dari segi fisik, dengan fisik yang sehat dan kuat para da’i itu

diharapkan dapat melewati rintangan dan cobaan dalam dakwah dengan

dakwah adalah rayuan dan iming-iming yang dilakukan musuh-musuh

dakwah untuk memperdayakan para da’i, agar merek dengan leluasa

melakukan kehendak dan keinginan mereka dalam menyebarkan kebatilan

di muka bumi. Secara kontekstual ayat ini memberikan pengertian bahwa

hendaknya da’i tidak boleh menjadi orang yang lemah operasional, dalam

kreatif

inovatif, sehingga tidak mudah dirayu dan diperdayakan oleh orang-orang

yang tidak suka kepada dakwah Islam.

4.   َ(perkataan mereka tidak lain

adalah permohonan ampunan Allah). Mengapa da’i masih juga memohon

ampun kepada Allah SWT? bukankah ia sudah banyak berbuat untuk

banyak memperoleh pahala dari Allah? oh tiada demikian halnya da’i

yang rabbani, ia tetap berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT, ia

19

merasa amalnya kecil dan lemah dihadapan Allah yang maha kuasa dan

perkasa. Karenanya ia selalu tetap memohon ampunan kepadaNya, seperti

dengan terus meningkatkan amal penghambaan kepadaNya. ada upaya merealisasinya. 5 kedudukan Akhlak dihadapan
dengan terus meningkatkan amal penghambaan kepadaNya.
ada upaya merealisasinya. 5
kedudukan Akhlak dihadapan

sang teladan para da’i Rasulullah SAW tidak kurang dari 70 kali dalam

sehari beliau membaca istighfar, di samping senantiasa meningkatkan

amal-amal ibadahnya. Ketika beliau ditabya mengapa engkau masih

melakukan hal itu, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa sebelum

dan sesudahnya? Nabi SAW menjawab: ” kenapa aku tidak menjadi

hamba yang pandai bersyukur? Maksudnya : ampunan Allah SWT adalah

karunia dan anugrah dariNya, maka setiap anugrah itu harus disyukuri

Merealisasi hal-hal di atas tidak semudah membalikkan telapak tangan,

sangat membutuhkan kerja keras dan keseriusan aktivitas juga memerlukan

kebersihan hati, niat dan motivasi. Beratnya realisasi itu bukan berarti tidak

Menurut pandangan Paradigma Dakwah Sayyid Quthub bahwasanya

Allah sangat jelas tingginya dan Akhlak

merupakan salah satu prinsip yang amat penting dalam agama Islam, terlebih

lagi seorang da’i, lebih lanjut lagi Sayyid Quthub menegaskan sebagai berikut:

Barang siapa memperhatikan agama Islam dan sejarah kehidupan Nabi

Muhammad SAW, ia akan mengetahui bahwa akhlak merupakan salah satu

ajaran dasar Islam yang terang benderang yang di atasnya dibangun prinsip-

prinsip penetapan hukum dan pendidikan moral Islam. Dakwah dalam agama

5 M. Idris Shomad, Mengenal ayat-ayat Dakwah, Diktat mata kuliah Tafsir, Jakarta: 2005

20

ini,

adalah

seruan

keras

(besar)

kepada

kesucian

moralitas,

kebersihan,

amanah, kejujuran, keadilan, kasih sayang, kebajikan, tepat janji, integritas

(kesesuaian perkataan dengan tingkah laku perbuatan dan Islam ini menurut Sayyid Quthub dimaksudkan untuk
(kesesuaian
perkataan
dengan
tingkah
laku
perbuatan
dan
Islam
ini
menurut
Sayyid
Quthub
dimaksudkan
untuk
menjaga
pribadi, sosial- kemasyarakatan. Maupun dalam masalah bangsa dan Negara. 6
Adapun Akhlak da’i dalam pandangan Sayyid Quthub sebagai berikut:
1. Kasih sayang

kesesuaian

keduanya dengan tingkah laku dan hati nurani), dan mencegah manusia dari

tindakan sewenang-wenang, zhalim, menipu, curang, makan harta manusia

dengan bathil, menodai kehormatan manusia, dan mencegah berkembangnya

perbuatan asusila dalam bentuk apapun.penetapan hukum dan undang-undang

dan

melindungi prinsip-prinsip moralitas. ini juga dimaksudkan agar nilai-nilai

akhlak itu tetap terjaga dan terpelihara baik dalam rasa, jiwa, dan perilaku,

maupun dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat, baik dalam masalah

Menurut Sayyid Quthub, diantara sifat- sifat mulia yang amat penting dan

mutlak harus dimiliki seorang da’i adalah sifat kasih sayang (rahmah),

seperti kasih sayang yang dimiliki dan diperlihatkan oleh pelaku dakwah

yang pertama, yaitu Rasulullah SAWdimana kasih sayang Nabi yang luas

dan lapang. Dikatakan bahwa Rasulullah SAW, tidak pernah marah karena

dirinya sendiri, tidak pula sempit dada karena kesalahan atau kelemahan

orang lain. Beliau tidak pernah berebut sesuatu yang bernilai duniawi

untuk

kepentingan

dirinya.

Bahkan

beliau

memberikan

6 Sayyid Quthub, Fi Zhilal, op.cit., jilid V, h. 3657.

semua

yang

21

dimilikinya untuk orang lain dengan lapang dada dan penuh kesenangan.

Manusia dapat menikmati kesantunan beliau, kasih sayang, dan keluhuran

terlepas dari keluhuran budi pekerti beliau dan kasih-sayangnya. 7 harus dilakukan.
terlepas dari keluhuran budi pekerti beliau dan kasih-sayangnya. 7
harus dilakukan.

budi pekerti beliau. Setiap orang yang pernah berteman atau bergaul

dengan Nabi, ia pasti terkesan dan jatuh hati kepada beliau, ini tidak

Pentingnya kasih sayang ini, menurut pemikiran Sayyid Quthub,

dapat dilihat dari sudut kepentingan da’i dan mad’u itu sendiri. Dari sudut

kepentingan da’i dapat ditegaskan bahwa kasih sayang bukan hanya

diperlukan, tetapi merupakan kebutuhan bagi seorang da’i. hal ini karena

da’i pada dasarnya seorang pemimpin, pembimbing rohani, pengajar dan

pendidik (mu’allim wa murabbi). Dalam kedudukan dan kapasitasnya

sebagai semua itu, da’i merupakan orang pertama yang harus memiiki sifat

kasih sayang dan mewujudkan kasih sayang itu dalam proses dakwah yang

Dari sudut kepentingan mad’u, kasih sayang diperlakukan karena

watak dan jiwa manusia mengalami perkembangan. pada kenyataannya

jiwa manusia tidaklah sempurna. Namun, dalam waktu yang bersamaan,

jiwa itu menerima pertumbuhan dan perkembangan sehingga mencapi

tingkat kesempurnaan tertentu. Dalam suatu komunitas pastilah di situ

terdapat orang-orang

yang memiliki kelemahan dan kekurangan. Al-

Qur’an sendiri sama sekali tidak menyangkal kenyataan ini. 8

2. Integritas (Keutuhan Pribadi)

7 Sayyid Quthub,Ibid, Fi Zhilal, jilid 1, h. 500-501

8 Lihat Ibid, Fi Zhilal, jilid 1, h. 529.

22

Di samping kasih sayang, seorang da’i harus pula memiliki integritas

atau keutuhan pribadi. Integritas mengandung beberapa makna, antara lain,

keterpaduan, kebulatan, keutuhan, jujur dan dapat dipercaya. ia bersifat benar dan jujur, serta jauh dari
keterpaduan,
kebulatan,
keutuhan,
jujur
dan
dapat
dipercaya.
ia bersifat benar dan jujur, serta jauh dari sifat dusta. 9
sama
dengan
dimensi
lahirnya
dan
laku
perbuatannya
sama
perkataanya. 10
akan
ada
pengaruhnya
apa-apa.
Bahkan,
tidak
seorangpun

Dalam

pengertian ini, orang yang memiliki integritas adalah orang yang pada

dirinya berpadu dan bersatu antara kata dan perbuatan. Dengan kata lain,

Menurut Sayyid Quthub, integritas menunjuk pada sikap konsistensi

dan persesuaian antara kata dan perbuatan dan antara keduanya dengan

hati nurani. Dalam Integritas itu mengandung makna kejujuran (al-shidq)

dan konsistensi ( al- Istiqomah) dalam memperjuangkan kebenaran. Kedua

sifat ini, menurut Sayyid Quthub, adalah orang yang dimensi batinnya

dengan

Oleh larena itu tanpa kejujuran dan integritas, kata-kata para da’i dan

pemuka agama itu, meski amat indah dan dengan retorika tinggi, tidak

dapat

mendengar dan mempercayai ucapan mereka, kecuali mereka mampuh

membuktikan diri menjadi terjemah hidup dari apa yang mereka katakan

dan mewujudkan dalam kehidupan nyata. ketika itu, masyarakat (mad’u)

dapat mendengar dan mempercayai perkataan mereka dan memegang

teguh janji dan seruan mereka. 11

9 Depdikbud, Kamus Besar, op.cit., h. 335

10 Sayyid Quthub, Fi Zhilal, op.cit., jilid VI, h. 3553

11 Ibid

23

Seperti

halnya

Al-Qur’an

Hadits

(al-sunnah),

menurut

Sayyid

Quthub, juga memberikan perhatian besar terhadap pembentukan pribadi

tidak tepat janji, dan khianat (tidak amanah). Sayyid Quthub ini. 12 3. Kerja Keras da’i
tidak
tepat
janji,
dan
khianat
(tidak
amanah).
Sayyid
Quthub
ini. 12
3.
Kerja Keras
da’i
untuk
menggunakan
waktunya
secara
efisien
bagi
terlebih lagi para da’i. 13

muslim yang memiliki integritas tinggi. Perhatian itu menurutnya, dapat

dilihat dari keterangan Nabi tentang ciri-ciri orang munafik, yaitu dusta,

juga

mengutip hadits riwayat Imam Ahmad yang bersumber dari Abd Allah Ibn

Amir ibn Rabiah yang dianggapnya amat mengesankan dalam masalah

Sifat lain yang harus dimiliki seorang da’i ialah sikap sungguh-

sungguh dan kerja keras (al-jidd wa’amal). Sifat ini mengharuskan para

kepentingan

dakwah. Ia harus menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia dan tidak

berguna. Ini berarti kerja keras harus menjadi watak pribadi muslim,

Menurut Sayyid Quthub, keharusan kerja keras ini, merupakan

tuntutan dari sistem Islam itu sendiri. yaitu sistem hidup yang realistik

yang tidak mungkin diwujudkan hanya angan-angan dan ilusi semata.

Islam adalah aqidah dan perbuatan atau kerja (amal) yang membuktikan

aqidah itu. Komitmen seorang terhadap aqidah Islam harus ditunjukkan

12 Ibid., Fi Zhilal, jilid VI, H. 3553.

13 Ahmad Faiz, op.cit., h.

24

melalui perbuatan yang dapat dilihat oleh Allah, Rasulullah SAW dan

kaum muslimin. 14

tidak bermakna dan sia-sia. C. Perjuangan Da’i Dakwah sebagai usaha membangun sistem Islam pada
tidak bermakna dan sia-sia.
C. Perjuangan Da’i
Dakwah
sebagai
usaha
membangun
sistem
Islam
pada

Bagi seorang da’i tuntutan kerja keras ini makin tinggi. Hal ini

karena seorang da’i pada dasarnya tidak tidak bekerja dan tidak hidup

untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan orang lain, (umat). Oleh

karena itu, ia harus mampuh mengatur waktunya secara efisien bagi

kepentingan dakwah dan harus menghindarkan diri dari perbuatan yang

dasarnya

merupakan suatu proses perjuangan yang amat panjang. Dalam proses ini da’i

tidak saja memerlukan berbagai bekal seperti telah dijelaskan, tetapi juga

membutuhkan komitmen perjuangan yang amat tinggi. Hal ini karena dakwah

pada dasarnya identik dengan perjuangan itu sendiri. Dalam kaitan ini, cukup

beralasan bila Sayyid Quthub memposisikan da’i sebagai pejuang (mujahid).

Sebagai mujahid, da’i tentu harus bekerja keras dan berjuang tanpa kenal lelah

sepanjang hayatnya.

Dalam pemikiran Sayyid Quthub, perjuangan da’i dapat dilihat, antara

lain, dari tiga bentuk, pertama, dari kesaksian (komitmen) yang ia tunjukkan

kepada

Islam.

Kedua,

dari

pengorbanan

dan

kesanggupan

menghadapi

berbagai ujian dan cobaan.

Ketiga, perjuangan itu pada akhirnya harus

14 Sayyid Quthub, Fi Zhillal, op.cit., jilid III, H. 1709.

25

mencapai kemenangan, tentu dengan izin pertolongan Allah SWT. Berikut

disajikan tiga bentuk perjuangan itu secara berurutan.

1. Kesaksian Da’i Kesaksian (syahadah) sebagai ungkapan keimanan kepada Allah dan Rasul, ini merupakan ajaran
1. Kesaksian Da’i
Kesaksian (syahadah) sebagai ungkapan keimanan kepada Allah dan
Rasul, ini merupakan ajaran yang paling dasar dalam Islam. Semua
bangunan Islam yang meliputi ibadah, syariah dan mu’amalah. Dalam
pengertian ini syahadat bukan kesaksian yang bersifat verbalistik semata,
melainkan sebuah komitmen dari setiap orang yang beriman kepada Allah
dan Rasul untuk secara sungguh-sungguh dan konsisten mengembangkan
sistem hidup Islam. 15
Kesaksian sebagai bagian tak terpisahkan dari proses dakwah itu
sendiri, memiliki tahapan-tahapanya sendiri. Kesaksian itu harus dimulai
dari diri sendiri, keluarga dan sanak famili atau kerabat. Semua ini harus
menunjukkan sistem Islam dan menjadi terjemah yang baik dari Islam.
Selanjutnya, dengan mengajak orang lain atau umat agar mewujudkan
Islam dari berbagi segi kehidupan baik menyangkut masalah pribadi,
kemasyarakatan,
ekonomi
maupun
politik.
Lalu
tahapan
terakhir,

kesaksian

itu

ditunjukkan

dengan

perjuangan

atau

jihad

untuk

menghilangkan berbagai hambatan yang memfitnah dan menyesatkan

manusia. Jika seseorang gugur di jalan ini, ia baru dinamai ”pahlawan” (

syahid), artinya ia telah memenuhi kesaksian kepada agama Nya dan

menghadap Tuhan Nya.

15 Fi Zhilal, Jilid IV, h. 2446

26

2. Ujian dan Coba’an Da’i

Sebagai pejuang yang berusaha mengkokohkan sistem Islam, tentu

cobaa’an ini dapat dipandang sebagai konsekwensi logis dari dari iman, serta sabar menghadapi berbagai kesulitan
cobaa’an
ini
dapat
dipandang
sebagai
konsekwensi
logis
dari
dari iman, serta sabar menghadapi berbagai kesulitan dijalan iman itu. 16
ada enam bentuk ujian yang biasa dihadapi para da’i dan pejuang Islam.
ini
biasanya
da’i
berjuang
sendiri,
tidak
ada
orang
lain
yang
dapat
digunakan
untuk
melawan
kesewenangan
ini,
dan

da’i akan menghadapi berbagai coba’an dan ujian. Ujian dan coba’an itu

beraneka ragam dari yang ringan dan yang paling berat. Ujian dan

iman.

Dikatakan demikian, karena iman sesungguhnya bukan hanya kata-kata,

tetapi kesanggupan seorang melaksanakan tugas-tugas agama yang timbul

Ujian dan coba’an itu sendiri beraneka ragam baik jenis maupun

bentuknya. Menurut Sayyid Quthub, perangkat-perangkat ujian itu terus

berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun secara umum

Pertama, ancaman dan siksaan fisik, dalam menghadapi ancaman

yang

membantunya. Ia sendiri tidak dapat mencegahnya dan tidak ada kekuatan

ini

merupakan ujian yang umum yang dialami oleh para da’i. 17

Kedua,

ujian

dari

keluarga

dan

orang-orang

terdekat,

pihak

keluarga bisa mendapat musibah atau kesulitan karena sang da’i. Menurut

kelazimannya, pihak keluarga akan meminta sang da’i melakukan berbagi

16 Fi Zhilal, jilid V, h. 2720

17 Fi Zhilal, jilid V, h. 2720.

27

kompromi

dengan

pihak

yang

memusuhi

atau

kalau

perlu

berhenti

berdakwah demi keselamatan dan keamanan keluarga. 18

Ketiga, ujian kekayaan dan kemewahan duniawi, para pendukung kejahatan, musuh-musuh da’i justru merupakan
Ketiga, ujian kekayaan dan kemewahan duniawi, para pendukung
kejahatan,
musuh-musuh
da’i
justru
merupakan
orang-orang
yang
memiliki
kekayaan
yang
berlimpah-limpah.
Masyarakat
memandang
mereka sebagai orang-orang yang berhasil dan sukses. Mereka mendapat
ujian, dihormati dari masyarakat, sebaliknya sang da’i tidak memiliki apa-
apa dan sama sekali kurang diperhitungkan ia berjuang sendiri, tidak ada
orang lain yang membelanya. Juga tidak ada yang memberi apresiasi
terhadap nilai kebenaran yang ia bawa, kecuali segelintir orang dari
mereka seperjuangan, yaitu orang-orang yang tidak memiliki apa-apa
dalam urusan dunia. 19
Keempat, ujian keterasingan, seorang da’i pasti merasa terasing
ketika ia melihat lingkungan dan orang-orang disekitarnya tenggelam
dalam gelombang kesesatan yang amat dalam. Dia menjadi gelisah dan
bingung sendiri, menjadi orang asing di tengah-tengah lingkungannya
sendiri. 20

Kelima,

ujian

modernisasi,

ujian

ini tampak

jelas

pada masa

sekarang ini. Di satu pihak, orang mukmin melihat umat dan bangsa-

bangsa lain tenggelam dalam kehinaan. Namun di pihak lain, kehidupan

sosial mereka tampak maju dan berbudaya. Dalam kehidupan mereka ada

penghargaan

dan

perlindungan

18 Ibid., h. 2723.

19 Ibid., Fi Zhilal, jilid VI, h. 3288.

20 Ibid

yang

tinggi

terhadap

hak-hak

asasi

28

manusia. Mereka juga kaya dan kuat. Namun mereka melawan dan

memerangi agama dan Tuhan. 21

Allah SWT. 22 makin berat pula ujiannya.
Allah SWT. 22
makin berat pula ujiannya.

Keenam, ujian dan goda’an nafsu, ini merupakan ujian yang paling

besar dan paling berat, melebihi ujian-ujian yang lain. Godaan nafsu dapat

berwujud konsumerisme, kecintaan yang berlebihan pada tahta dan harta,

serta pola hidup yang berorientasi pada kesenangan dan kenikmatan.

Godaan nafsu dapat pula berubah kesulitan membangun sikap hidup

istiqamah di jalan iman ditambah lagi dengan hambatan baik dari diri

sendiri, orang lain, lingkungan, masyarakat, maupun dalam pemikiran dan

gagasan. Ujian ini sungguh berat, tidak banyak orang yang dapat bertahan

dengan ujian ini, kecuali sedikit orang yang mendapat perlindungan dari

Inilah berbagi macam dan bentuk ujian yang biasa dihadapi oleh

para da’i mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat, serta

ringannya ujian sangat bergantung kepada da’i tersebut bisa dilihat dari

kualitas iman seseorang, karena makin tinggi kualitas iman seseorang,

Pengemban amanah ini tidak bisa tidak, memerlukan latihan dan

pembekalan, baik berupa kesulitan hidup, kemampuan mengendalikan

hawa nafs, maupun kesabaran atas duka dan derita. Mereka harus tetap

yakin terhadap pahala dan pertolongan Allah, meskipun ujian dan coba’an

itu tidak kunjung berakhir, malahan kadang-kadang dalam waktu yang

21 Ibid

22 Ibid. h. 2721

29

cukup lama. Pada waktunya, sesuai dengan kebijaksanaan Tuhan, para da’i

yang berjuang dijalan Allah akan memetik kemenangan dengan izin dan

pertolongan-Nya. 3. Kemenangan da’i SWT? Menurut Sayyid Quthub, menolong Allah SWT menolong agama-Nya.
pertolongan-Nya.
3. Kemenangan da’i
SWT?
Menurut
Sayyid
Quthub,
menolong
Allah
SWT
menolong agama-Nya.

Dalam Al-Qur’an terdapat sekian banyak ayat yang menjanjikan

kemenangan bagi orang-orang yang menolong Allah SWT. Keterangan

mengenai hal ini dapat dibaca, antara lain, dalam surah Muhammad:7,

Ghafir:51 dan surah al-Hajj: 40-41. dalam ayat-ayat tersebut kemenangan

yang dijanjikan Tuhan dikaitkan dengan perjuangan menolong Allah SWT

sehingga timbul pertanyaan bagaiman cara manusia menolong Allah

bermakna

Menolong agama Allah berarti menerima kebenaran agama itu dan

mewujudkan dalam kehidupan yang nyata. Untuk keperluan ini, ada dua

jalan yang harus dilakukan. Pertama, menolong Allah dengan menolong

dirinya sendiri. Kedua, menolong Allah dengan menolong orang lain

(umat) dengan mewujudkan sistem atau syariatnya. 23

Proses yang pertama (menolong diri sendiri) harus dilakukan dengan

memperkuat iman, yaitu iman yang benar-benar bersih dari unsur-unsur

kemusrikan

baik

kemusrikan

yang

nyata

(jali)

maupun

yang

samar

(khafi) 24 .

23 Ibid., Fi Zhilal jilid VI, h. 3288.

24 Ibid

30

Sedangkan

proses

yang

kedua

(menolong

orang

lain)

harus

dilakukan

dengan

membangun

dan

mewujudkan

sistem

Islam

dalam

realitas kehidupan baik dalam tataran individu, keluarga, masyarakat dan umat. Kemashlahatan dan kebaikan yang akan
realitas kehidupan baik dalam tataran individu, keluarga, masyarakat dan
umat. Kemashlahatan dan kebaikan yang akan timbul dari tegaknya sistem
dan syariat Islam, tentu tidak lagi bersifat personal, melainkan berwujud
kebaikan umum yang akan dirasakan oleh setiap orang. 25
Dalam surah al-Hajj yang dikutip di atas, Allah memperlihatkan
contoh dari orang-orang yang telah menolong agama-Nya, yaitu orang-
orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan melakukan amr
ma’ruf dan nahi mungkar. Ketiganya merupakan prinsip-prinsip Islam
yang amat penting. Orang-orang yang dalam hidupnya telah berjuang
untuk
dapat
menegakkan
ketiganya,
mereka
diidentifikasi
sebagai
penolong agama Allah SWT. 26
Para da’i yang berjuang untuk mewujudkan sistem Islam, tentu
merupakan pertolongan agama Allah SWT. Mereka dengan sendirinya
berhak
mendapat
kemenangan
sebagaimana
dijanjikan.
Namun
kemenangan ini bukanlah hadiah gratis yang dapat dicapai begitu saja.

Untuk menggapainya diperlukan proses perjuangan yang agak panjang dan

melelahkan jalan kemenangan itu meliputi iman, jihad, ujian dan coba’an,

sabar dan tahan uji, serta orientasi menuju tuhan semata, lalu setelah itu

datang kemenangan dan kenikmatan. 27

25 Ibid.

26 Ibid, Fi Zhillah, jilid IV, H. 2427.

27 Ibid., Fi Zhillah, jilid I, h. 219

BAB III

TINJAUAN ANALISIS TAFSIR AL-MISBAH

A. Riwayat Hidup Penulis 1. Kehidupan Awal Muhammad Quraish Muhammad Quraish Shihab, lahir di Rampang,
A. Riwayat Hidup Penulis
1. Kehidupan Awal Muhammad Quraish
Muhammad Quraish Shihab, lahir di Rampang, Sulawesi Selatan,
pada tanggal 16 februari 1994, ia keturunan Arab. 1 Ayahnya bernama
Abdurrahman
Shihab,
ádalah
seorang
rektor
IAIN
Allaudin
Ujung
Pandang dan menjadi guru besar dalam bidang dakwah di kampus itu.
Bukan
itu
saja,
Abdurrahman
Shihab
juga
seorang
wiraswastawan
sekaligus mubaligh yang handal. Walaupun beliau Sangat sibuk dalam
berbagai hal, tetapi ia tidak lupa mendidik anak-anaknya, seperti Umar
Shihab, Alwi Shihab dan Quraish Shihab. Beliau sering mengajak anak-
anaknya, untuk menghadiri pengajian dan mendengarkan petuah agama.
Hal ini seperti kemukakan Quraish Shihab, yaitu:
“ Sering kali ayah mengajak anak-anaknya bersama . pada saat-saat

inilah beliau menyampaikan petuah-petuah keagamaannya. Dari petuah-

petuah keagamaanya. Dari petuah-petuah tersebut saya banyak mengetahui

ayat-ayat Al-Qur‟an atau petuah Nabi, sahabat, atau pakar-pakar Al-

Qur‟an

yang ingat detik ini saya masih ingat .dari sanalah benih cinta

tumbuh pada studi Al-Qur‟an.

1 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Maudhu’i Atas Berbagai Persoalan Umat, ( Bandung: Mizan, 2003), cet.ke-XIV, h. XI.

31

32

2. Perjalanan Intelektual Muhammad Quraish Shihab

Ia pertama kali menyelesaikan pendidikannya di sekolah rakyat di

Tasyri’iy li Al-Qur’an al-Karim”. setelah itu kembali ke halamannya, Ujung Pandang. 2
Tasyri’iy
li
Al-Qur’an
al-Karim”.
setelah
itu
kembali
ke
halamannya, Ujung Pandang. 2

Ujung Pandang, kemudian melanjutkannya ke sekolah menengahnya di

padang, sambil “nyantri” di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah

pada tahun 1956-1958. kemudian atas saran ayahnya ia melanjutkan

sekolahnya di Kairo, Mesir pada tahun 1958. Di sana ia diterima di kelas II

Tsanawiyah al-Azhar. Karena kepiawaiannya, ia masuk Universitas Al-

Azhar, Fakultas Ushuludin jurusan Tafsir Hadits dan meraih gelar Lc (S-1)

pada tahun 1967. tidak puas dengan gelar yang diraihnya, ia kemudian

melanjutkan pendidikannya di fakultas yang sama, dengan mengambil

spesialisasi (jurusan) Tafsir Al-Qur‟an. Pada tahun 1969 tepatnya berumur

25 tahun, ia meraih gelar MA, dengan tesis yang berjudul “al-Ijaz al-

kampung

Di ujung Pandang, ia mendapat kepercayan untuk menjabat sebagai

wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan di IAIN Allaudin,

Ujung Pandang, selain itu ia juga menjabat sebagai koordinator Perguruan

Tinggi Swasta (wilayah VII Indonesia Bagian Timur) dan pembantu

kepolisian Indonesia Bagian Timur bidang pembinaan mental, serta pernah

melakukan

penelitian

dengan

tema

“Penerapan

kerukunan

Hidup

Beragama

di

Indonesia

Bagian

Timur

(1975),

dan

“Masalah

Wakaf

Sulawesi Selatan (1978).”

33

Setelah mengabdikan dirinya pada tanah kelahirannya, ia melakukan

studinya S-3 di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir pada tahun 1980, karena

kesungguhan serta kejeniusannya, ia mampu menyelesaikan dari Asia Tenggara yang meraih gelar tersebut. professional,
kesungguhan serta kejeniusannya, ia mampu menyelesaikan
dari Asia Tenggara yang meraih gelar tersebut.
professional,
antara
lain
Pengurus
Perhimpunan
Ilmu-Ilmu

S-3 nya

dalam waktu 2 tahun, tepatnya pada tahun 1982 dengan disertainya yang

berjudul “Nazhm al- Durar li al-Biaa’iy Tahqiq wa Dirasah” ia berhasil

meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Qur‟an dengan Yudisium Summa

Cum Laude disertai dengan peringkat I (Mumtaz ma‟a Martabat al-Syaraf

al-„ula ). 3 Dengan prestasinya itu ia tercatat sebagai orang yang pertama

Pada tahun 1984, ia kembali ke Indonesia kemudian ia mendapat

tugas mengajar di Fakultas Ushuluddian dan Pasca Sarjana IAIN Syarif

Hidayatullah Jakarta. Selain itu ia juga mendapat amanah sebagai Ketua

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat pada tahun 1984, Anggota Lajnah

Pentasih Al-Qur‟an Departemen Agama pada tahun 1989 dan Ketua

Lembaga Pengembangan. Beliau juga terlibat dalam beberapa organisasi

Syari‟ah,

Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan

kebudayaan,

dan

Asisten

Ketua

Umum

Ikatan

Cenekiawan

Muslim

Indonesia (ICMI). Di dalam kesibukannya ia aktif dalam kegiatan ilmiah

di dalam maupun di luar negeri, dan aktif dalam tulis menulis di berbagai

surat kabar seperti Pelita, majalah Ulumul Quran, dan Mimbar Ulama.

3 Ibid.

34

B. Pembahasan mengenai tafsir dan perkembangannya

Al-Qur‟an sebagai sumber asasi Islam memuat banyak makna. Hal itu

makna itu tidak akan membuahkan hasil apa-apa jika tidak digali.
makna itu tidak akan membuahkan hasil apa-apa jika tidak digali.

misalnya sepeerti dikutip Quraish Shihab dari Abdullah Diras, “ayat-ayat Al-

Qur‟an bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda

dengan apa yan terpancar dari sudut lainnya. Dan tidak mustahil jika kita

mempersilahkan orang lain memandangnya dari sudut lainnya, maka dia akan

melihat banyak dibanding apa yang kita lihat”. Kekayaan makna itu pula yang

mendorong nabi memerintahkan Muadz bin Jabal menggunakan ijtihad dalam

memutus sesuatu yang tidak dapat secara harfiah di dalam Al-Qur‟an. Tidak

hanya sebatas itu, tindakan berijtihadnya saja diberi imbalan pahala, lebih-

lebih jika ijtihadnya benar, sejalan dengan anjuran Nabi, Ali bin Abi Thalib

menyatakan “Al-Qur‟an baina daftay al-mushaf la yantiq, innama yantiqu

(yatakallamu) bihi ar-rijal”. Artinya manusialah yang bertugas mengungkap

pesan Al-Qur‟an agar ia berfungsi memberi petunjuk. Karena itu, makna-

Dalam mengungkap makna pesan Tuhan di dalam Al-Qur‟an dikenal

dua pendekatan, tafsir dan ta‟wil. Dilihat dari segi bahasa, tafsir bermakna

menyingkap, menjelaskan dan menampakan. Dan dilihat dari segi istilah,

tafsir berarti suatu ilmu yang dapat mengungkap pesan kitab Allah yang

diturunkan kepada Muhammad sehingga dapat menjelaskan makna-makna dan

hukum-hukumnya.

Sedang

ta’wil

dari

segi

bahasa

bermakna

mengembalikkan, menuju titik akhir dan menjelaskan implikasinya, dan dari

segi istilah berarti mengembalikan sesuatu kepada tujuannya semula, baik

35

secara ilmiah maupun praksis. Atau memalingkan makna haqiqi pada makna

majazi sebagaimana diteorisasi oleh Ibnu Rusyd.

Dilihat dari sumber penafsirannya, para peneliti tafsir acap kali membedakan dua model tafsir: tafsir bi
Dilihat
dari
sumber
penafsirannya,
para
peneliti
tafsir
acap
kali
membedakan dua model tafsir: tafsir bi al-ma’sur yang juga dikenal dengan
tafsir riwayah atau manqul, apabila sumber penafsirannya adalah riwayat-
riwayat. Dan tafsir bi ar- ray yang juga dikenal dengan tafsir ma’qul atau
tafsir dirayah, jika sumber yang diambil adalah ijtihad. Sebagai turunan dari
kedua model tafsir itu, Hay Farmawi meringkas berbagai metode tafsir
menjadi empat macam: tafsir tahlili, tafsir ijmali, tafsir muqarin, dan tafsir
tematik (maudhu’i).
Dikatakan tafsir tahlili apabila ayat-ayat ditafsirkan satu persatu menurut
urutannya sebagai mushaf. Atau, menjelaskan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan
cara meneliti semua aspeknya dan menyingkap deluruh maksudnya, dimulai
dari uraian makna kosa kata, makna kalimat, maksud setiap ungkapan, kaitan
antarpemisah sampai keterkaitan riwayat-riwayat yang berasal dari Nabi,
Sahabat, tabi‟in dan prosedurnya dengan cara mengikuti urutan mushaf.
Menurut Farmawi, para mufassir berbeda-beda dalam mengoperasionalkan

metode ini. Karena itu, lahirlah metode tafsir bi al-ma’sur, tafsir bi ar-ra’yi,

tafsir sufi, tafsir fiqhi, tafsir falsafi, tafsir ilmi dan tafsir adabi ijtima’i. Tafsir

ijmali adalah tafsir yang memaknai ayat-yat Al-Qur‟an hanya secara global,

seperti

tafsir

jalalain.

Tafsir

muqarin

adalah

tafsir

yang

mencoba

membandingkan antara satu tafsir dengan tafsir yang lain, baik dari segi objek

bahasannya maupun dari segi metodenya. Sedang tafsir tematik (maudhu’i)

36

adalah

tafsir

yang

membahas

persoalan-persoalan

tertentu

dengan

cara

mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur‟an yang senada yang membahas persoalan

tertentu. studi Al-Qur‟an mistik, studi Al-Qur‟an sektarian dan studi studi Al-Qur‟an modern.
tertentu.
studi
Al-Qur‟an
mistik,
studi
Al-Qur‟an
sektarian
dan
studi
studi Al-Qur‟an modern.

Sementara itu, dilihat dari tren atau kecenderungan studi Al-Qur‟an

mulai klasik hingga kontemporer, Ignaz Goldzhiher mencatat adanya lima

kecenderungan, yakni studi Al-Qur‟an tradisional, studi Al-Qur‟an dogmatis,

Al-Qur‟an

modern. Kecenderungan sudi Al-Qur‟an modern, oleh Gholdziher dikaitkan

dengan gerakan pemikiran yang berkembang di India dan Mesir, kendati

dengan titik tolak yang berbeda. Gerakan Islam di India dengan figurnya

Ahmad Khan bertolak pada pembaruan pemikiran keislaman dengan figur

utamanya Muhammad Abduh. Muhammad Abduh tercatat sebagai pelopor

Yang dimaksud studi Al-Qur‟an modern dalam hal ini adalah sebuah

usaha “mengontekskan” Al-Qur‟an dengan tuntutan zaman. Tujuan seperti itu

sebenarnya telah dirintis sejak Zaman Nabi Muhammad. Menurut Muhammad

Abduh, Al-Qur‟an merupakan sumber asasi Islam sebagai agama universal,

yang acap kali sesuai dengan kepentingan setiap masyarakat, Zaman dan

berbagai peradaban, di mana pun dan kapan pun, sehingga ia tetap memberi

petunjuk pada mereka dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Tafsir

modern Muhammad Abduh ini kemudian dikenal sebagai tafsir adabi ijtima‟i.

Tafsir adabi ijtima‟i ini mempunyai empat unsur pokok yaitu:

a. menguraikan ketelitian redaksi ayat-ayat al-Qaur‟an.

37

b. Menguraikan

makna

dan

kandungan

ayat-ayat

al-Quran

dengan

susunan kalimat yang indah.

c. Aksentuasi pada tujuan utama di uraikannya. d. Penafsiran yang dikaitkan dengan sunatullah dalam masyarakat.
c. Aksentuasi pada tujuan utama di uraikannya.
d. Penafsiran yang dikaitkan dengan sunatullah dalam masyarakat.
modern itu dapat di pahami demikian.

Kecenderungan tafsir modern dibagi lagi menjadi tiga model, yakni tafsir

ilmi, tafsir realis (waqi‟i) dan tafsir sastra (adabi). Secara singkat, ketiga tafsir

Tafsir ilmi berprinsip bahwa Al-Qur‟an mendahului ilmu pengetahuan

modern sehingga mustahil Al-Qur‟an bertentangan dengan sains modern.

Tafsir waqi‟i berprinsip Al-Qur‟an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia

dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari, sehingga ia harus ditafsiri

dengan pendekatan tertentuyang membuatnya mampuh menjawab berbagai

tantangan yang dihadapi manusia . dan tafsir adabi berprinsip bahwa Al-

Qur‟an merupakan kitab sastra terbesar dan bacaan mulia yang mampu

mempengaruhi jiwa terdalam manusia secara estetik. Berbeda dengan dua

model lainnya, model tafsir sastra tidak berpotensi untul menjawab berbagai

tantangan yang dihadapi umat manusia sebagaimana pendekatan lainnya,

melainkan hendak mengembalikan Al-Qur‟an kepada pesan awalnya yang

ditunjukan kepada jiwa pendengar awalnya.

Sejalan

dengan

itu,

jika

menilik

pada

sejarah

perkembangan

tafsir,

menurut Ignaz Goldziher, perkembangan tafsir selalu mengalami pergeseran

paradigma

dan

epistemologi.

Pada

era

klasik,

epistemologi

tafsir

pada

umumnya bertumpuh pada ranah verbal-tekstual yang penjelasannya sangat

38

mengandalkan

nalar

bayani

dan

memiliki

kecenderungan

ideologis.

Sedangkan tafsir di era modern tidak lagi bertumpuh pada verbal- tekstual,

ini diukur melalui apakah sebuah produk tafsir sesuai dengan pengetahuan atau tidak. Dan apakah produk
ini
diukur
melalui
apakah
sebuah
produk
tafsir
sesuai
dengan
pengetahuan
atau
tidak.
Dan
apakah
produk
tafsir
mampuh
atau tidak.
C. Ciri-ciri tafsir Al-Misbah
a.
aturan urutan ayat atau surat dalam mushaf.
b.
Menerangkan lebih rinci kandungan lafadznya.
c.
Adanya muhasabah dengan ayat dan antar surat.
d.
mufasir.
Al-Misbah ini termasuk dalam kategori tafsir modern.

tetapi telah memanfaatkan metode-metode kontemporer. Kebenaran tafsir era

teori

menjawab

persoalan-persoalan sosial keagamaan yang melanda kehidupan masyarakat

Menerangkan arti ayat-ayat Al-Qur‟an dari berbagai segi berdasarkan

Adanya muhasabah dengan hadits-hadits dan pendapat-pendapat para

Dari uraian ciri-ciri diatas, maka dapat disimpulkan bahwasanya tafsir

BAB IV

KONSEP TAFSIR AL-MISBAH TENTANG DA’I

A. Teks Al-Qur’an Surat Al-Muddatsir ayat 1-7 Serta Terjemahnya 1. Teks Ayat dan Terjemahnya 
A. Teks Al-Qur’an Surat Al-Muddatsir ayat 1-7 Serta Terjemahnya
1. Teks Ayat dan Terjemahnya
            
          
Artinya: Wahai orang yang berselubung (1) Bangunlah, lalu peringatkanlah!
(2) Dan Tuhan engkau hendaklah engkau agungkan (3) Dan pakaian
engkau, hendaklah bersihkan (4) Dan perbuatan dosa hendaklah
engkau jauhi (5) Dan janganlah engkau memberi karena ingin
balasan lebih banyak(6) Dan hanya kepada Tuhanmu saja maka
bersabarlah (7).
2. Asbab Al-Nuzul
Dalam
suatu
riwayat
dikemukakan
bahwa
Rasulullah
SAW
bersabda: ketika aku seledai uzlah, selama sebulan di gua Hira aku turun

kelembah. Setelah sampai ketengah lembah ada yang memanggilku, tetapi

aku tidak melihat seorangpun disana. Aku mengadahkan kepalaku kelangit,

dan tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku digua hira, aku

cepat-cepat

pulang

dan

berkata

(kepada

orang

rumah)

selimutilah-

selimutilah aku” maka turunlah ayat ini surat Al-Mudatsir

sebagai perintah

untuk menyingsingkan selimutnya dan berdakwah.

39

40

Diriwayatkan oleh Asyaikhani yang bersumber dari jabir.

Surah ini disepakati oleh ulama turun sebelum

Nabi berhijrah,

pertama Surah Iqra. menyatakan bahwa surah al-Muddatsir merupakan wahyu kedua Muzammil. sebelum turunnya Iqra,
pertama Surah Iqra.
menyatakan
bahwa
surah
al-Muddatsir
merupakan
wahyu
kedua
Muzammil.
sebelum
turunnya
Iqra,
namun
ulama-ulama
hadits
tidak

bahkan sekian ayatnya ( ayat 1-7) di nilai oleh banyak ulama sebagai bagian

dari wahyu-wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.

Bahkan ada yang berpendapat awal surah ini turun setelah turunnya lima ayat

Ditemukan riwayat dalam sahih Bukhari dan sahih Muslim, yang

yang

diterima Nabi SAW. Memang ada pendapat yang menjadikan surah al-

Muzammil sebagai wahyu kedua antara lain didasarkan pada riwayat Ibn

Ishaq. Hanya saja walaupun kiah yang diutarakannya mirip dengan kisah

turunnya awal surah aal-Muddatsir namun pada akhir redaksi riwayat tersebut

ditemukan semacam keraguan dari perawinya, apakah ia al-Muddatsir atau al-

Hadits yang ditemukan oleh Bukhari dan Muslim menyangkut sejarah

turunnya surah ini, justru menjelaskan bahwa surah al-Muddatsir turun

berpendapat

demikian, karena mereka menemukan dalam redaksi hadits tersebut suatu

petunjuk yang dapat dijadikan dasar bagi pendapat yang menyatakan Iqra

adalah wahyu pertama yang turun, apalagi jika dilihat banyaknya riwayat lain

yang mendukung kedudukaan surah Iqra sebagai wahyu pertama.

Sejarah

turunnya

Al-Qur‟an

menceritakan

bahwa

pernah

terjadi

selang waktu yang relatif lama setelah turunnya Iqra, dimana ketika itu Nabi

41

SAW tidak meneriam wahyu, sehingga kalau surah l-Muddatsir ini akan

dinamakan juga surah yang pertama yang turun, maka yang dimaksud surah

pertama setelah selang waktu tersebut, bukan yang pertama keseluruhan. berbicara menyangkut hal yang sama.
pertama
setelah
selang
waktu
tersebut,
bukan
yang
pertama
keseluruhan.
berbicara
menyangkut
hal
yang
sama.
Yaitu
pembinaan
terhadap
Rasulullah SAW, dalam rangka menghadapi tugas-tugas penyebaran agama. 1
3. Ayat Tentang Bekal Da’i dan penjelasannya
Artinya :
“Hai yang berselimut.”

scara

Antara al-Muddatsir dan al-Muzammil tidak dapat dipastikan yang

mana yang terdahulu dan yang mana yang kemudian. Kisah turunnya sangat

mirip, yakni seperti yang diceritakan Jabir di atas. Ayat-ayat awalnya pun

diri

(1) 

Kata ( ) al-Muddatsir terambil dari kata ( ) iddatsara. Kata ini apapun bentuknya, tidak ditemukkan dalam Al-Qur‟an kecuali sekali, yaitu pada ayat pertama surah ini.Iddatsara berarti mengenakan ( ) ditsar, yaitu sejenis kain yang diletakkan di atas baju yang dipakai dengan tujuan menghangatkan atau dipakai sewaktu berbaring tidur (selimut). Disepakati oleh ulama tafsir bahwa yang dimaksud dengan yang berselimut adalah Nabi Muhammad SAW.

Sabab

nuzul

yang

dikemukakan

di

atas

mengundang

kita

untuk

memahami kata “berselimut” dalam arti yang hakiki, bukan dalam arti kiasan

seperti “berselubung dengan pakaian keNabian”

atau dengan

“akhlak yang

mulia” bila kalimat “orang yang berselimut“ dikaitkan lebih jauh dengan sebab

1 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an, (Jakarta :

Lentra Hati , 2002)

42

turunnya ayat, maka arti yang ditunjuk oleh peristiwa tersebut adalah orang yang

diselimuti. Pengertian ini didukung oleh suatu bacaan yang dinisbahkan kepada

Ikrimah, yaitu: ( ) menyelimuti adalah istri beliau, khadijah ra. orang yang berselimut”. sehingga, seperti
Ikrimah, yaitu: (
) menyelimuti adalah istri beliau, khadijah ra.
orang yang berselimut”.
sehingga,
seperti
yang
beliau
akui
sendiri
dalam
hadits
riwayat
Ath-Thabariy,
“Aku mengira bahwa
itulah kematian mungkin

Menyelimuti diri atau diselimuti, tujuannya adalah untuk menghilangkan

rasa takut yang menyelimuti jiwa Nabi Muhammad SAW, beberapa saat sebelum

turunnya ayat-ayat ini. biasanya bila seseorang takut, ia akan menutupi dirinya

atau ia akan menggigil, dan saat itu selimut akan sangat bermanfaat. Inilah yang

tejadi pada diri Nabi Muhammad SAW. Khususnya pada masa awal kedatangan

malaikat jibril kepada beliau. Hal ini terbukti setelah mengamati pula surah Al-

Muzzammil yang turun berselang dengan surah ini dan yang artinya sama, yaitu”

Perasaan takut yang meliputi diri Nabi Muhammad SAW. Pada awal

kedatangan wahyu agaknya disebabkan karena pengalaman pertama beliau alami

ketika menerima wahyu Iqra. Beliau dirangkul oleh malaikat sedemikian kuatnya

yang diriwayatkan

Bukhariy, Telah kurasakan (puncak) kepayahan “atau, dengan kata lain, pada

juga

perasaan takut tersebut akibat pandangannya kepada malaikat yang diberi sifat

oleh Al-Qur‟an sebagai “yang mempunyai kekuatan disisi Allah, Pemilik „Arsy”

(QS 81:20); atau karena beratnya wahyu yang beliau terima itu (QS 73:5). Adapun

penyebab rasa takut beliau yang dipahami dari sebab nuzul ayat serta dari celah-

celah kata “Al-Muddatsir”, namun ia sama sekali tidak mengurangi keagungan

Rasul SAW. Perasaan serupa pernah dialami oleh Nabi Musa ketika beliau

43

melihat tongkatnya berubah menjadi ular (QS. 27:10). Hal-hal semacam ini untuk

menggambarkan

bahwa

para

Nabi,

walaupun

mempunyai

keistimewaan-

keistimewaan dari segi spiritual, namun mereka tidak luput dari kalinya hal-hal semacam itu. 2 )2(
keistimewaan
dari
segi
spiritual,
namun
mereka
tidak
luput
dari
kalinya hal-hal semacam itu. 2
)2(
“Bangkitlah, lau berilah peringatan”

naluri

kemanusian, seperti rasa takut tersebut. Dan memang tidak mungkin bagi seorang

manusia untuk tidak merasa gentar atau takut ketika menghadap untuk pertama

merasa gentar atau takut ketika menghadap untuk pertama Kata ( م ق ) qum terambil dari

Kata (مق) qum terambil dari kata (مىق) qawama yang mempunyai banyak bentuk. Secara umum, kata-kata yang dibentuk dari akar kata tersebut diartikan sebagai “melaksanakan sesuatu secara sempurna dalam berbagai seginya”. Karena itu, perintah di atas menuntut kebangkitan yang sempurna , penuh semangat dan percaya diri, sehingga yang diseru dalam hal ini Nabi Muhammad SAWharus membukabselimut, menyingsingkan lengan baju untuk berjuang menghadapi kaum musrikin. Kata (رذنا) andzir berasal dari kata (رذن) nadzara yang mempunyai banyak arti, antara lain, sedikit, awal sesuatu dan janji untuk melaksanakan sesuatu bila tepenuhi syaratnya. Pada ayat di atas, kata ini biasa ditejemahkan dengan peringatkanlah. Peringatan didefinisan sebagai “penyampaian yang mengandung unsur menakut-nakuti.”

Bila diperhatikan arti asal kosa kata tersebut, maka peringatan yang

disampaikan itu merupakan sebagian kecil serta pendahuluan dari satu hal yang

besar dan berkepanjangan dan apa yang diperingatkan itu pasti akan terjadi selama

syaratnya

telah

terpenuhi.

Syarat

tersebut

adalah

pengabaian

kandungan

peringatan tersebut.

 

Disini

timbul

pertanyaan,

siapakah

yang

diperingatkan

dan

apa

kandungan peringatan tersebut? Pertanyaan ini tidak tersurat jawabannya dalam

2 M. Quraish Shihab, Tafsir atas surat-surat pendek berdasarkan urutan turunnya wahyu (Bandung: Pustaka Hidayah Cet. ke 3 1999) h. 219

44

redaksi ayat, sehingga menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan ulama tafsir.

Satu

pihak

beranggapan

bahwa

mereka

yang

diperingatkan

sengaja

tidak

berakhir dengan huruf ra ( keheranan bagi manusia bahwa kami mewahyukan kepada seorang diantara mereka
berakhir dengan huruf ra
(
keheranan
bagi
manusia
bahwa
kami
mewahyukan
kepada
seorang
diantara mereka bahwa, “Berikanlah peringatan kepada manusia” 3
minum.
bentuk
rahasia
yang
ditunjukan
kepada
orang-orang
yang
tertentu,

dikemukakan. Hal ini, dissamping untuk menyesuaikan bunyi akhir ayat ini

dengan bunyi akhir ayat yang lain dan ayat-ayat kemudian, masing-masing

) juga untuk memberikan cakupan yang umum bagi

perintah tersebut. Dalam Surah Yunus ayat 2 dijelaskan, Patutkah menjadi

lelaki

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa pada dasarnya perintah di sini

belum ditujukan secara khusus kepada siapapun. Yang penting adalah melakukan

peringatan, kepada siapa saja, terserah kepada Rasulullah SAW. Hal ini sama

dengan perintah makan dan minum, baik yang ditemukkan dalam Al-Qur‟an

maupun ucapan seseorang yang mempersilahkan tamunya untuk makan dan

Penulis cenderung untuk mendukung pendapat kedua ini, karena sejarah

memberitakan bahwa realisasi perintah itu dilaksanakan oleh rasul SAW. Dalam

baik

keluarganya maupun teman-teman yang beliau anggap dapat menerima ajaran

Islam, atau minimal tidak menimbulkan

reaksi yang dapat

menghalangi lajunya

dakwah. Realisasi perintah ini secara terbuka dimulai setelah berlau tiga tahun

dari turunnya wahyu pertama, yakni dengan turunnya QS. Asy-Syua‟ra : 26: 214

3 Ibid h.221

45



Artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. Dan ayat 94 Surah Al-Hijr Surah Ghafir
Artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.
Dan ayat 94 Surah Al-Hijr
Surah Ghafir Ayat 18 dinyatakan:
Demikian pula dengan surah ibrahim ayat 44:



Artinya: Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.

Adapun kandungan peringatan, maka berdasarkan petunjuk ayat-ayat

yang menggunakan redaksi yang sama dengan redaksi ayat ini, dapat kita

katakana bahwa peringatan tersebut menyangkut “siksa di hari kemudian” dalam





Artinya: “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan.”

 

Artinya: “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka”.

Apa yang dikemukakan di atas tentang kandungan peringatan ini lebih di

perkuat lagi dengan hadits yang menceritakan kandungan perintah Nabi SAW.

46

Ketika turunya firman Allah SWT yang memerintahkan beliau untuk memberi

peringatan kepada kerabat-kerabatnya yang dekat.

mengenal kebohongan dari engkau” Rasul bersabda: “ketahuilah akan datang dan amat pedih”. Nabi untuk memberi
mengenal
kebohongan
dari
engkau”
Rasul
bersabda:
“ketahuilah
akan datang dan amat pedih”.
Nabi untuk memberi keringatan tentang keesaan tuhan (QS. 15:2).

Dalam redaksi ayat itu juga tidak disebutkan kandungan peringatan,

namun didalam hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabriy diinformasikan bahwa

ketika itu beliau menyampaikan, “Seandainya kuberikan kepada kalian bahwa

dibelakang bukit (Shafa) ini telah terkumpul barisan berkuda untuk menyerang

kalian, apakah kalian mempercayaiku ?” mereka menjawab, “kami tidak pernah

bahwa

sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian tentang siksa yang

Meyakini bahwa kandungan peringatan tersebut adalah “siksa tuhan”

menurut hemat penulis, lebih tepat dari pada menjadikan kandungan ayat ketiga

(“Dan tuhanmu, Agungkanlah !”) sebagai peringatan yang ditugaskan kepada

Nabi untuk menyampaikannya. Sebab, kaidah kebahasaan tidak mendukungnya,

walaupun terdapat suatu ayat dalam Al-Qur‟an yang memerintahkan kepada Nabi-

(3)

Dan Tuhanmu, maka agungkanlah

Karena

memberi

peringatan

dapat

mengakibatkan

kebencian

dan

gangguan dari yang diperingati, maka ayat di atas melanjutkan bahwa dan

bersamaan itu hanya tuhan pemelihara dan pendidikmu saja, apapun yang terjadi

maka agungkanlah!

47

Ayat ketiga surah ini sampai dengan ayat ketujuh yang turun sebagai

suatu rangkaian dengan ayat pertama dan kedua, merupakan petunjuk Allah SWT

Petunjuk yang pertama adalah “ dan Tuhanmu, maka agungkanlah! pada Surah Al-Isra ayat 111:
Petunjuk yang pertama adalah “ dan Tuhanmu, maka agungkanlah!
pada Surah Al-Isra ayat 111:

dalam rangka pembinaan diri Nabi SAW. Demi suksesnya tugas-tugasvkeNabian.

Kata (كبر) Tuhanmu pada ayat di atas disebutkan mendahului kata (زّبك) agungkan. Itu disamping untuk menyesuaikan bunyi akhir ayat, bahkan yang lebih penting untuk menggambarkan bahwa perintah takbir (mengagungkan) hendaknya hanya diperuntukkan baginya semata-mata, tidak terhadap sesuatu pun selain-Nya. Mengagungkan tuhan dapat berbentuk ucapan, perbuatan, atau sikap bathin. Takbir dengan ucapan adalah mengucapkan Allahu akbar. Takbir dengan sikap bathin adalah menyakini bahwa dia maha besar, kepada-Nya tunduk segala makhluk dan kepada-Nya kembali keputusan segala sesuatu. Apapun dihadapan- Nya adalah kecil dan tidak berarti, sehingga bila terjadi benturan dengan kehendak atau ketetapan-Nya, maka dia pasti yang menentukan. Sedang takbir dengan perbuatan adalah pengejawantahan makna-makna yang dikandung”takbir dengan sikap bathin” tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Perintah bertakbir disini mencakup ketiga hal di atas, bahkan diamati

bahwa dalam Al-Qur‟an tidak ditemukan perintah untuk “mengucapkan takbir”,

berbeda hanya dengan Hamdallah (ucapan al-hamdullah). Perintah bertakbir

hanya ditemukan dua kali dalam Al-Qur‟an. Yaitu pada surah Al-Muddatsir ini



 

Artinya: Dan Katakanlah: Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.

Ketika seseorang mengucapkan takbir, maka pada hakikatnya ada dua hal

yang seharusnya ia capai, pertama, pernyataan keluar sikap bathinnya tersebut.

48

Kedua,

mengatur

sikap

lahirnya

sehingga

setiap

langkahnya

berada

dalam

kerangka makna kalimat tersebut.

Dampak dari kedua hal ini adalah terhujamnya kedalam jiwa, rasa memiliki serta kesediaan mempertahankan hakikat
Dampak dari kedua hal ini adalah terhujamnya kedalam jiwa, rasa
memiliki
serta
kesediaan
mempertahankan
hakikat
yang
diucapkannya
itu.
Disamping tertanamnya
kesadaran
akan
kecil
dan
remehnya segala
sesuatu
selainnya. Betapapun ia dinamai “besar” atau “agung” dan pada saat yang sama
pengucapannya merasa kuat dan mampu menghadapi segala tantangan karena ia
telah mengaggungkan jiwa raganya kepada yang maha agung itu, dan dengan
demikian ia tidak akan meminta perlindungan kceuali kepadanya. Ia tidak akan
mengharapkan
sesuatu
yang
lebih
besar
kecuali
darinya.
Ia
akan
selalu
melaksanakan
perintahnya,
ini
terjadi
akibat
rasa
takut
kepadanya,
butuh
kepadanya, atau bahkan akibat rasa kagum.
Inilah petunjuk pertama yang merupakan titik tolak bagi segala aktivitas.
Karena itu, adalah sangat wajar apabila hakikat ini merupakan pelajaran pertama
yang diberikan kepada Muhammad SAW. dalam rangka menghadapi tugasnya
yang berat.

)4( 

Dan Pakaianmu, maka bersihkanlah

Inilah petunjuk kedua yang diterima oleh Rasulullah SAW. Dalam

rangka melaksanakan tugas tabligh, setelah pada petunjuk pertama dalam ayat

ditekankan keharusan mengkhususkan pengagungan (takbir) hanya kepada Allah

SWT ayat di atas menyatakan “Dan pakaianmu bagaimanapun keadaanmu maka

bersihkanlah”.

49

Kata (بايث ) tsiyab adalah bentuk jamak dari kata (بىث)