Anda di halaman 1dari 5

Makalah: Hakikat Ilmu

A.

Ilmu dan Falsafah

Berpikir mencirikan hakikat manusia dan karena berpikirlah dia menjadi manusia. Berpikir pada dasarnya
merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan atau pun ilmu. Pengetahuan adalah produk
kegiatan berpikir. Banyak yang mengatakan ilmu dan pengetahuan itu sama, namun pemahaman
tersebut jelas tidak benar. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang memilki cirri-ciri tertentu, yaitu
bersifat rasional dan empiris.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun
secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di
bidang (pengetahuan) itu. Ilmu merupakan buah pemikiran manusia dalam menjawab pertanyaanpertanyaan. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang terdapat dalam kehidupan manusia. Manusia
tentu tidak hanya membutuhkan ilmu, akan tetapi hal lain yang terkait dalam kehidupan yaitu falsafah,
seni, dan agamanya. Sejalan dengan yang dikemukakan Enstein ilmu tanpa agama adalah buta
sedangkan agama tanpa ilmu adalah lumpuh.
Falsafah diartikan sebagai suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang
mengupas sesuatau sedalam-dalamnya (Suriasumantri, 1999:4). Filsafat Ilmu merupakan bagian dari
Epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah).
Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang
ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Falsafah menanyakan segala sesuatu
dari kegiatan berpikir kita dari awal sampai akhir seperti dinyatakan oleh Socrates, bahwa tugas falsafah
yang sebenarnya bukanlah menjawab pertanyaan kita namun mempersoalkan jawaban yang diberikan.
Pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok,
apakah yang ingin kita ketahui? (ontologi), bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan?
(epistimologi), dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita? (aksiologi). Ontologi membahas tentang
apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan perkataan lain, suatu pengkajian
mengenai teori tentang ada. Epistemologi yaitu teori pengetahuan, bagaimana cara kita mendapatkan
pengetahuan mengenai obyek tersebut. Selanjutnya axiologi yakni teori tentang nilai. Dan analisis
kefalsafahan ditinjau dari tiga landasan tersebut.
B.

Dasar Ontologi Ilmu

Ontologi ilmu berdasar pada pertanyaan apa yang menjadi bidang telaah ilmu? atau apa yang ingin
diketahui oleh ilmu? Ilmu berorientasi pada dunia empiris, sehingga ilmu membatasi diri hanya kepada
kejadian empiris saja. Objek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang dapat
ditinjau oleh panca indera manusia.
Ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai obyek empiris. Asumsi pertama menganggap obyek-obyek
tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, seperti halnya bentuk, struktur, sifat, dan sebagainya.

Pendekatan keilmuan yang pertama terhadap obyek-obyek yang ditelaahnya dan taxonomi merupakan
cabang keilmuan yang pertama kali berkembang. Konsep ilmu yang lebih dalam seperti konsep
perbandingan (komparatif) dan kuantitatif hanya dimungkinkan dengan adanya taxonomi yang baik.
Asumsi kedua adalah anggapan bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu
tertentu. Kegiatan keilmuan ini mempelajari tingkah laku suatu obyek dlam suatu keadaan tertentu. Ilmu
dalam hal ini hanya menuntut adanya kelestarian yang relatif sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak
berubah dalam jangka waktu tertentu. Dalam asumsi ini dapat disimpulkan bahwa benda-benda dalam
jangka panjang akan mengalami perubahan dalam jangka waktu yang berbeda-beda untuk tiap benda.
Asumsi yang ketiga adalah determinisme. Dalam hal ini tiap gejala bukan merupakan suatu kejadia yang
bersifat kebetulan. Ilmu tidak meuntut adanya hubungan sebab-akibat yang mutlak sehingga suatu
kejadian tertentu harus selalu diikuti oleh suatu kejadian yang lain. Ilmu tidak mengemukakan bahwa X
selalu mengakibatkan Y, melainkan mengatakan bahwa X mempunyai kemungkinan (peluang) yang
besar untuk mengakibatkan terjadinya Y.
Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urutan kejadian yang sama. Semua teori
keilmuan memiliki asumsi ini, baik yang dinyatakan dengan tersurat maupun yang tercakup secara
tersirat. Asumsi-asumsi tersebut melandasi penarikan kesimpulan
C.

Dasar Epistimologi Ilmu

Epistemologi dipandang sebagi teori mengenai pengetahuan (the theory of kenowledge) atau bagian dari
kajian filsafat yang spesialisasi membidani kajian mengenai segala hal yang terkait dengan ilmu
pengetahuan, seperti tabiat, landasan, sifat, jenisnya, asal mula, objek, struktur, cara, proses, ukuran atau
validitas pengetahuan (Kamus Filsafat)
Epistimologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam
usaha manusia untuk memperoleh pengetahuan. ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan
menerapkan metode keilmuan. Ilmu merupakan sebagian dari pengetahuan, yakni pengetahuan yang
memiliki sifat-sifat tertentu, maka ilmu dapat juga disebut pengetahuan keilmuan.
Ditinjau dari pengetahuan ini, ilmu lebih bersifat kegiatan daripada sekedar produk yang siap
dikonsumsikan. Kegiatan ilmu juga dinamis dan tidak statis. Kegiatan dalam mencari pengetahuan
tentang apa pun, selama hal itu terbatas pada obyek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan
mempergunakan metode keilmuan.
1.

Metode Keilmuan

Ditinjau dari cara berpikir manusia, terdapat dua pola dalam memperoleh pengetahuan, yang pertama
adalah berpikir secara rasional, di mana berdasarkan paham rasionalisme ini ide tentang kebenaran
sudah ada. Ide tentang kebenaran yang menjadi dasar bagi pengetahuan diperoleh lewat berpikri secara
rasional, terlepas dari pengalaman manusia. Kedua adalah pola pikir empirisme. Menurut mereka

pengetahuan harus diperoleh dari pengalaman. Lalu berkembanglah apa yang dinamakan pola berfikir
empiris.
Metode keilmuan adalah gabungan antara pendekatan rasional dan empiris. Rasionalisme memberikan
kerangka pemikiran yang koheren dan logis sedangkan empirisme kerangka pengujian dalam
memastikan suatu kebenaran. Jadi dapat disimpulkan dari penjelasan ini bahwa salah satu aspek dari
kegiatan keilmuan adalah menyusun konsep penjelasan atau berpikir secara teoritis. Pemikiran teoritis ini
bersifat deduktif dan pada dasarnya merupakan suatu proses berpikir yang logis dan sistematis.
2.

Kelebihan dan Kekurangan Berpikir secara Keilmuan

Kelebihan ilmu terletak pada pengetahuan yang tersusun secara logis dan sistematis serta telah teruji
kebenarannya. Proses penilaian yang terus-menerus ini mengembangkan suatu mekanisme yang bersifat
memperbaiki diri. Mekanisme ini dimungkinkan dengan adanya karakteristik ilmu yang lain, yakni bersifat
terbuka dan tersurat (eksplisit). Kegiatan keilmuan dilakukan dengan cara terbuka sehingga semua pihak
mengetahui keseluruhn proses yang dilakukan. Pengungkapan ini dilakukan secara tersurat dengan
mempergunakan berbagai media yang tersedia dalam komunikasi keilmuan. Ilmu bersifat kumulatif (ilmu
berkembang dengan sangat pesat dan waktu relatif singkat).
Kekurangan bersumber pada asumsi landasan epistimologi ilmu, yaitu memeroleh pengetahuan
bertumpu pada persepsi, ingatan, dan penalaran. Ketiga hal tersebut memiliki kelemahan. Pancaindra
yang diandalkan oleh persepsi amatlah tidak sempurna, begitupun ingatan yang kurang bisa dipercaya,
serta cara penalarana dalam suatu kesimpulan jelas sekali memiliki kelemahan. Kekurangan lain terlihat
pada penjelajahan ilmu secara ontologis yang membatasi diri pada gejala-gejala empiris. Aspek
kehidupan manusia amatlah kompleks dan tidak semata bersifat empiris. Intinya masih banyk hal-hal
yang tidak bisa terjangkau oleh kegiatan keilmuan.
3.

Beberapa Konsep Dalam Ilmu

Proses untuk mendapatkan pengetahuan keilmuam dalam semua bidang ilmu adalah sama. Metode yang
dipergunakan adalah metode keilmuan yang sama. Dalam objek yang ditelaah dalam ilmu-ilmu alam dan
ilmu-ilmu sosial tidak terdapat perbedaan yang mendasar yang dalam hal ini menyebabkan
pemgembangan teknik-teknik yang berbeda sesuai bidang yang dihadapinya. Namun, teknik-teknik
tersebut dikembangkan dalam rangka melaksanakan metode keilmuan yang sama.
Konsep kegiatan keilmuan terbagi dalam dua sudut pandang, yaitu, induksi dan deduksi. Induksi adalah
suatu cara pengambilan keputusan di mana kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasuskasus individual. Dalam membantu kita menarik kesimpulan umum adalah dengan statistika. Statistika
merupakan alat atau metode yang terlibat dalam proses induktif dari kegiatan keilmuan. Ilmu induktif
merupakan penyelesaian masalah didasarkan atas pengalaman indrawi atau empiris, contoh ilmu alam.
Konsep dalam kegiatan keilmuan deduksi adalah sebuah proses menarik kesimpulan yang bersifat
individual dari pernyataan yang bersifat umum. Deduksi merupakan suatu proses penarikan kesimpulan

dari pernyataan-pernyataan yang kebenarannya telah diketahui. Dalam menarik kesimpulan secara
deduksi maka logikalah yang memegang peranan penting. Ilmu deduktif merupakan penyelesaian
masalah yang dihadapi dengan cara penjabaran bukan atas pengalaman indrawi, contohnya adalah
Matematika.
4.

Kegiatan Keilmuan sebagai Sebuah Proses

Kegiatan keilmuan sebagai sebuah proses merupakan suatu aktivitas penenlitian yang rasional, kognitif
dan bertujuan (Pandia: 38). Pada dasarnya kegiatan keilmuan berangkat dari suatu masalah yang
kemudian dicari pemecahannya. Dalam kegiatan keilmuan dikenal dengan dua bentuk masalah yaitu
masalah yang belum pernah diselidiki sebelumnya sehingga jawaban permasalahan tersebut merupakan
pengetahuan baru. Bentuk kedua adalah suatu masalah yang berupa konsekwensi praktis dari
pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya. Penelitian dalam bentuk pertama disebut ilmu murni
sedangkan pada bentuk kedua disebut ilmu terapan. Kegiatan keilmuan dapat dibagi menjadi empat
langkah, yaitu perumusan masalah, penyusunan hipotesis, deduksi dari hipotesis, dan pengujian.
Keempat langkah ini harus dilalui agar penelaahan dapat menghasilkan pengetahuan keilmuan.
Masalah adalah sebuah pertanyaan dan setiap pertanyaan mengundang sebuah jawaban. Untuk
memeroleh jawaban yang tepat maka dibutuhkan perumusan masalah yang baik karena perumusan
masalah merupakan titik tolak dari seluruh kegiatan keilmuan yang akan dilakukan. Tujuan penelaahan
keilmuan adalah mencari pengetahuan yang merupakan milik umum. Jawaban yang diberikan atas suatu
masalah merupakan milik publik yang kemudian akan dipergunakan dalam kehidupan mereka. Oleh
sebab itu, persyaratan pertama adalah penafsiran yang sama terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Setelah merumuskan masalah kegiatan keilmuan yang kedua adalah penyusunan hipotesis. Hipotesis
merupakan dugaan mengenai hubungan antara faktor-faktor yang terlibat dalam suatu masalah. Dugaan
ini memungkinkan kita untuk menjelaskan hakikat suatu gejala. Selanjutnya fakta-fakta diturunkan secara
deduktif, deduksi yang menghasilkan konsekuensi logis dari pernyataan yang diajukan. Mengumpulkan
fakta-fakta untuk mensyahkan kesimpulan sangat penting untuk mengetahui faktor-faktor lain dalam suatu
permasalahan.
Kegiatan keilmuan selanjutnya ialah penyusunan dan pengujian teori. Teori disusun sebagai kerangka
pemikiran yang menjelaskan struktur hubungan antara faktor-faktor yang terlibat dalam suatu masalah.
Teori yang diajukan sama halnya dengan sebuah hipotesis yang kemudian harus diuji secara empiris agar
dapat disyahkan kebenarannya secara keilmuan. Pengujian ini dilakukan dengan mendeduksikan
konsekuensi dari hipotesis tersebut dan kemudian memeriksa apakah konsekuensi ini memang terdapat
atau tidak.
D.

Dasar Axiologi Ilmu

Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Francis Bacon

mengemukakan

pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah kekuasaan itu akan

merupakan berkat atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada orang yang
menggunakan kekuasaan tersebut.
Ilmu bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang
harus mempunyai sikap. Jalan mana yang akan ditempuh dalam memanfaatkan kekuasaan yang besar
itu terletak pada sistem nilai si pemilik pengetahuan tersebut. Namun netralitas ilmu hanya terletak pada
dasar epistemologisnya saja, sedangkan secara ontologis dan axiologis, ilmuwan harus mampu menilai
antara yang baik dan yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap. Kekuasan
ilmu yang besar mengharuskan seorang ilmuawan mempunya landasan moral yang kuat, jangan sampai
seorang pendidik hanya memiliki kepintaran atau otak yang besar namun tidak memiliki jiwa yang besar.
Kesimpulan

Hakikat ilmu merupakan objek kajian filsafat ilmu yang didasari oleh tiga pertanyaan yang ditinjau
dari segi ontologi, epistimologi, dan axiologi.
Daftar Pustaka
Pandia, Wisma. Makalah: Filsafat Ilmu. Sekolah Tinggi Theologi Injili Philadelphia.
Suriasumantri, S. Jujun. 1999. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
_________________. 2010. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: PT Peneba Swadaya.