Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Peningkatan mutu pendidikan khususnya di Sekolah Dasar merupakan
fokus perhatian dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Hal ini karena sekolah dasar merupakan satuan pendidikan formal pertama
yang mempunyai tanggungjawab untuk mengembangkan sikap dan
kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar (Fattah,
2006).
Pada kenyataannya pendidikan bukanlah suatu upaya yang sederhana,
melainkan suatu kegiatan yang dinamis dan penuh tantangan. Pendidikan
akan selalu berubah seiring dengan perubahan zaman, setiap saat pendidikan
selalu menjadi focus perhatian dan bahkan tak jarang menjadi sasaran
ketidakpuasan karena pendidikan menyangkut kepentingan semua orang,
bukan hanya menyangkut investasi dan kondisi kehidupan di masa yang
akan datang, melainkan juga menyangkut kondisi dan suasana kehidupan
saat ini. Itulah sebabnya, pendidikan senantiasa memerlukan upaya
perbaikan dan peningkatan sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan
tuntutan kehidupan masyarakat (Fattah, 2006).
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, pasal 44 ayat (1) mengamanatkan bahwa
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membina dan mengembangkan
tenaga kependidikan pada satuan pendidikan seperti Sekolah Menengah
Pertama (SMP). Selanjutnya Pasal 28 sampai pasal 41 dalam Peraturan
Pemerintah (PP) Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan secara nyata menegaskan bahwa pendidik dan tenaga
kependidikan harus memiliki kompetensi, kualifikasi dan profesionalisme
yang terstandar. Terkait dengan mutu pendidikan ditengarai keberhasilan
mutu kelulusan. Tercapainya keberhasilan tersebut, faktor penentu utamanya
adalah adanya pendidik/guru yang terstandar. Namun kenyataannya kondisi
guru di Indonesia belum profesional, secara kuantitatif; rata-rata nasional
guru (termasuk kepala sekolah) SD Negeri (Hamalik, 2004).

Dengan keadaan seperti itu, maka perlu mendapatkan perhatian


pemerintah dalam hal ini Depdiknas. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
di Daerah, merupakan kepanjangan pemerintah pusat melakukan pembinaan
dan pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan dengan berbagai
permasalahan yang beragam. Permasalahan itu di antaranya kualifikasi
akademik, kompetensi guru yang belum memiliki kriteria standar
kompetensi baik profesional, pedagogik, serta sosial maupun kepribadian
(Mulyasa, 2006).
Agar dapat

menjalankan

fungsinya,

guru

dituntut

memiliki

kompetensi, yaitu seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang


harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan.

Kompetensi

guru

meliputi

kompetensi

pedagogik,

kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional


(Supriadi, 1998).

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Pengertian Kompetensi Profesional


Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang
profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Karena itu,
kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan
kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya dengan
kemampuan tinggi. Profesionalisme seorang guru merupakan suatu
keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan, yaitu
pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia
termasuk gaya belajar. Pada umumnya di sekolah-sekolah yang memiliki
guru dengan kompetensi profesional akan menerapkan pembelajaran
dengan melakukan untuk menggantikan cara mengajar dimana guru hanya
berbicara dan peserta didik hanya mendengarkan (Hamalik, 2004).
Kompetensi profesional berarti Guru harus memiliki pengetahuan
yang luas serta dalam tentang subject matter (bidang studi) yang akan
diajarkan, serta penguasaan metodologi dalam arti memiliki pengetahuan
konsep teoritik, mampu memilih metode yang tepat, serta mampu
menggunakan dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu dalam
penelitian ini yang dimaksud dengan kompetensi professional yaitu
kemampuan guru dalam penguasaan terhadap materi pelajaran dan
kemampuan

guru

dalam

pengelolaan

pembelajaran.

Pengeloalaan

pembelajaran yang dimaksud adalah pemahaman terhadap peserta didik,


perencanaan pelaksanaan pembelajaran, penguasaan metode dan media
pembelajaran serta penilaian hasil belajar (Arikunto, 1993).
Penguasaan guru terhadap materi pelajaran sangat penting guna
menunjang keberhasilan pengajaran. Pentingnya penguasaan bahan ajar oleh
seorang guru untuk mencapai keberhasilan pengajaran. Guru harus
membantu siswa dalam akalnya (bidang ilmu pengetahuan) dan membantu
agar siswa menguasai kecakapan kerja tertentu (selaras dengan tuntutan
teknologi), sehingga mutu penguasaan bahan ajar para guru sangat
menentukan keberhasilan pengajaran yang dilakukan.
2.2.

Sikap Profesional dan Peran Guru

Guru adalah orang yang memegang peran penting dalam merancang


strategi

pembelajaran

yang

akan

dilakukan.

Keberhasilan

proses

pembelajaran sangat tergantung pada penampilan guru dalam mengajar dan


kegiatan mengajar dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh seseorang
yang telah melewati pendidikan tertentu yang memang dirancang untuk
mempersiapkan sebagai seorang guru. Pernyataan tersebut mengantarkan
kepada pengertian bahwa mengajar adalah suatu profesi, dan pekerjaan guru
adalah pekerjaan profesional. Setiap pekerjaan profesional dipersyaratkan
memiliki kemampuan atau kompetensi tertentu agar yang bersangkutan
dapat melaksanakan tugas-tugas profesionalnnya (Zamroni, 2001).
Guru dituntut memiliki kompetensi, yaitu seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh
guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi guru meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi professional. Dalam UU tersebut, secara eksplisit disebutkan
bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:
a) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran
yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
b) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan
kompetensi

secara

berkelanjutan

melalui

pembinaan

dan

pengembangan profesi dan karier.


Guru sebagai pendidik bertanggung jawab mewariskan nilai-nilai dan
norma-norma kepada generasi berikutnya. Tanggung jawab guru dapat
berupa tanggung jawab moral, tanggung jawab bidang pendidikan, tanggung
jawab bidang kemasyarakatan dan tanggung jawab dalam bidang keilmuan.
Tanggung jawab di bidang pendidikan contonya guru harus kompeten dalam
pengembangan

kurikulum

dan

mengimplementasikannya

dalam

pembelajaran mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar


(Mulyasa, 2007).
Menurut Hawi (2013), Guru hendaknya mampu menyediakan
fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk berinteraksi dalam proses belajar
mengajar. Dengan itu diharapkan para murid dapat melaksanakan tangung
jawab secara baik. Bahkan dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar

telah memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan dengan hasil yang


memuaskan. Dengan kata lain, perjanjian belajar mengajar (the learnimg
contract) ada lima, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Tanggung jawab belajar terletak pada pelajar.


Belajar memerlukan kegiatan.
Pengajar harus mampu menyediakan fasilitas kegiatan.
Pengajar harus dapat membuktikan bahwa ia telah menggunakan

fasilitas dengan baik.


5. Pelajar harus mampu memperlihatkan hasil belajar dapat
dilaksanakan bersamaan secara baik.
Menurut Soetjipto dan Raflis (2009), Walaupun segala perilaku guru
selalu di perhatikan masyarakat, tetapi yang akan dibicarakan dalam bagian
ini adalah khusus prilaku guru yang berhubungan dengan profesinya. Hal ini
berhubungan dengan bagaimana pola tingkah laku guru dalam memahami,
menghayati,

serta

mengamalkan

sikap

kemampuan

dan

sikap

profesionalnya. Pola tingkah laku guru yang berhubungan dengan itu akan
dibicarakan sesuai dengan sasarannya, yakni sikap profesional keguruan
terhadap:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

2.3.

Peraturan perundang-undangan
Organisasi profesi
Teman sejawat
Anak didik
Tempat kerja
Pemimpin
Pekerjaan

Pengembangan Sikap Profesional


Pengembangan profesi guru melalui pendidikan profesi dalam rangka
pengembangan kualifikasi akademik untuk saat ini cukup terbantu dengan
disediakannya dana penyelenggaran pendidikan kualifikasi untuk guru yang
belum sarjana, program sertifikasi dan kesempatan untuk mengikuti
pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan pengembangan
profesi melalui pembinaan berkelanjutan adalah melalui peningkatan
kualitas peran supervisi akademik oleh pengawas dan kepala sekolah, in-

service training, kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),


Kelompok Kerja Guru (KKG) dan peran organisasi profesi (Hamalik, 2004).
Menurut Surya (2003), Dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu
professional, maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap
profesionalnya.
1. Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan
Dalam pendidikan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan
nanti. Pembetukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi
harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya di lembaga
pendidikan guru.
2. Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan
Peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan
mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya,
ataupun secara informal media massa televisi, radio, koran, dan majalah
maupun publikasi lainnya.
2.6.

Komponen-komponen Kompetensi Profesional


a. Penguasaan Bahan Bidang Studi
Kompetensi pertama yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah
penguasaan bahan bidang studi. Penguasaan ini menjadi landasan pokok
untuk keterampilan mengajar. Yang dimaksud dengan kemampuan
menguasai bahan bidang studi menurut Wijaya (1994) adalah kemampuan
mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, menyintesiskan,
dan mengevaluasi sejumlah pengetahuan keahlian yang diajarkannya.
Menurut Wijaya (1994), Ada dua hal dalam menguasai bahan bidang studi :
1. Menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah.
Untuk menguasai bahan bidang studi dan kurikulum sekolah dapat
dilakukan dengan cara:
a. Mengkaji bahan kurikulum bidang studi.
b. Mengkaji isi buku-buku teks bidang studi yang bersangkutan.
c. Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang disarankan dalam
kurikulum bidang studi yang bersangkutan.
2. Menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi. Hal ini dilakukan
dengan cara :
a. Mempelajari ilmu yang relevan.

b. Mempelajari aplikasi bidang ilmu ke dalam bidang ilmu yang


lain (untuk program-program studi tertentu).
c. Mempelajari cara menilai kurikulum bidang studi.
b. Pengelolaan Program Belajar Mengajar
Secara rinci, menurut Arikunto (1993), kemampuan mengelola program
belajar mengajar dapat dengan cara berikut ini.
1. Merumuskan tujuan instruksional. Kemampuan ini dilakukan dengan
cara :
a. Mengkaji kurikulum bidang studi.
b. Mempelajari cirri-ciri rumusan tujuan instruksional.
c. Mempelajari tujuan instruksional bidang studi yang bersangkutan.
d. Merumuskan tujuan instruksional bidang studi yang bersangkutan.
2. Mengenal dan dapat menggunakan metode belajar mengajar.
Kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara :
a. Mempelajari macam-macam metode mengajar.
b. Menggunakan macam-macam metode mengajar.
3. Memilih dan menyusun prosedur instruksional

yang

tepat.

Kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara :


a. Mempelajari kriteria pemilihan materi dan prosedur mengajar.
b. Menggunakan criteria pmilihan materi dan prosedur mengajar.
c. Merencanakan program pelajaran.
d. Menyusun suatu pelajaran.
4. Melaksanakan program belajar mengajar. Kemampuan ini dapat
dilakukan dengan cara:
a. Mempelajari fungsi dan peran guru dalam proses belajar
mengajar.
b. Menggunakan alat bantu belajar mengajar.
c. Menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar.
d. Memonitor proses belajar peserta didik.
e. Menyesuaikan rencana program pengajaran dengan situasi kelas.
5. Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial. Kemampuan
ini dapat dilakukan dengan cara :
a. Mempelajari factor-faktor penyebab kesulitan belajar.
b. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik.
c. Menyusun rencana pengajaran remedial.
d. Melaksanakan pengajaran remedial.
c. Pengelolaan Dan Penggunaan Media Serta Sumber Belajar
Kemampuan ini pada dasarnya merupakan kemampuan menciptakan
kondisi belajar yang merangsang agar proses belajar mengajar dapat
berlangsung secara efektif dan efisien.
Ada lima jenis kemampuan memahami media dan sumber belajar,
menurut Cece Wijaya (1994) yaitu :

1. Mengenal, memilih dan menggunakan media.


Kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara berikut :
a. Mempelajari macam-macam media pendidikan.
b. Mempelajari criteria pemilihan criteria pendidikan.
c. Menggunakan media pendidikan.
d. Merawat alat-alat bantu belajar mengajar.
2. Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana. Kemampuan ini dapat
dikuasai dengan cara:
a. Mengenali bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekolah
untuk membuat alat-alat bentu.
b. Mempelajari perkakas untuk membuat alat-alat bantu mengajar.
c. Menggunakan perkakas untuk membuat alat bantu mengajar.
3. Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses
belajar mengajar. Kemampuan ini dapat dikuasai dengan cara :
a. Mempelajari cara-cara menggunakan laboratorium.
b. Mempelajari cara-cara dan aturan pengamanan

kerja

dilaboratorium.
c. Berlatih mengatur tata ruang laboratorium.
d. Mempelajari cara merawat dan menyimpan alat-alat.
4. Khusus untuk guru IPA, dapat mengembangkan laboratorium.
5. Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar.
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah :
a. Mempelajari fungsi-fungsi perpustakaan dalam proses belajar
mengajar.
b. Mempelajari macam-macam sumber perpustakaan.
c. Menggunakan macam-macam sumber kepustakaan.
d. Mempelajari criteria pemilihan sumber kepustakaan.
e. Menilai sumber-sumber kepustakaan.
d. Mampu Menilai Prestasi Belajar Mengajar
Kemampuan menilai prestasi belajar mengajar perlu dimiliki oleh guru.
Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan mengukur perubahan
tingkah laku peserta didik dan kemampuan mengukur kemahiran dirinya
dalam mengajar dan dalam membuat program. Menurut Fattah (2006),
Evaluasi ada tiga sasaran yang hendak dicapai, yaitu :
1. Prestasi berupa pernyataan dalam bentuk angka dan nilai tingkah laku.
2. Prestasi mengajar berupa pernyataan lingkugan yang mengamatinya
melalui penghargaan atas prestasi yang dicapainya.
3. Keunggulan program yang dibuat guru, karena relavan dengan
kebutuhan peserta didik dan lingkungannya.

e. Memiliki Wawasan Tentang Penelitian Penddidikan


Guru perlu mengikuti perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan
dan pengajaran, terutama hal-hal yang menyangkut pelaksanaan tuga-tugas
pokoknya di sekolah. Setiap guru perlu memiliki kemampuan untuk
memahami hasil-hasil penelitian itu dengan tepat sehingga mereka perlu
memiliki wawasan yang memadai tentang prinsip-prinsip dasar dan cara-cara
melaksanakan penelitian pendidikan (Fattah, 2006).
Menurut Fattah (2006), Kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru adalah
sebagai berikut :
1. Mempelajari dasar-dasar penggunaan metode ilmiah dalam penelitain
pendidikan.
2. Mempelajari teknik dan prosedur penelitian pendidikan terutama
sebagai konsumenhasil-hasil penelitian pendidikan.
3. Menafsirkan hasil-hasil penelitian untuk perbaikan pengajaran.
4. Mampu menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan
pengajaran.
.
Upaya dan Wadah Pengembangan Kompetensi Profesional Guru
Salah satu wadah yang dapat dijadikan sebagai pengembangan

2.7.

kompetensi guru adalah MGMP atau Musyawarah Mata Guru Pelajaran.


Pembinaan profesi guu yang terkait dengan MGMP merupakan cikal bakal
hasil inovatif Cianjur Project, yaitu gugus pembinaan yang berasal dari
kelompok kerja guru (KKG untuk sekolah dasar dan MGMP untuk tingkat
SMP/SMA/SMK). MGMP adalah wahana kerja sama guru-guru dan sebagai
tempat mendiskusikan masalah yang berkaitan dengan kemampuan
profesional, yaitu merencanakan, melaksanakan, dan menilai kemajuan
murid (Imron, 1995).
Di MGMP guruguru
meningkatkan

kualitas

proses

dapat

mendiskusikan

belajarmengajar

masalah

serta

untuk

memikirkan

kemungkinan pemecahannya berdasarkan pengalamann dan ideide yang


bersumber dari guru itu sendiri. Semua masalah yang menyangkut upaya
perbaikan pengajaran dapat dibahas dan dipecahkan di forum MGMP. Forum
MGMP ini terkait pula dengan dengan forum lainnya yaitu mKKS
(musyawarah Kerja Kepala Sekolah), mKPS (musyawarah Kerja Pengawas
Sekolah) (Imron, 1995).

1. Pengertian Musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)


MGMP merupakan suatu forum atau wadah profesional guru mata
pelajaran yang berada pada suatu wilayah kabupaten/ kota/ kecamatan/
sanggar/ gugus sekolah. Ruang lingkupnya meliputi guru mata pelajaran
pada SMA Negeri dan Swasta, baik yang berstatus PNS maupun Swasta dan
atau guru tidak tetap/honorarium. Prinsip kerjanya adalah cerminan kegiatan
dari, oleh, dan untuk guru dari semua sekolah. Atas dasar ini, maka
MGMP merupakan organisasi nonstruktural yang bersifat mandiri,
berasaskan kekeluargaan, dan tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan
lembaga lain (Imron, 1995).
2. Tujuan Musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)
Menurut Arikunto (1993), Tujuan diselenggarakannya MGMP ialah
sebagai berikut:
a. Pertama, untuk memotivasi guru guna meningkatkan kemampuan
dan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan, dan membuat
evaluasi

program

pembelajaran

dalam rangka

meningkatkan

keyakinan diri sebagai guru profesional.


b. Kedua, untuk menyatakan kemampuan dan kemahiran guru dalam
melaksanakan pembelajaran sehingga dapat menunjang usaha
peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan.
c. Ketiga, untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dan
dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari
solusi alternatif pemecahannya sesuai dengan karakteristik mata
pelajaran masing-masing, guru, kondisi sekolah, dan lingkungannya.
d. Keempat, untuk membantu guru memperoleh informasi teknis
edukatif yang berkaitan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan
teknologi, kegiatan kurikulum, metodologi, dan sistem pengujian
yang sesuai dengan mata pelajaran yang bersangkutan.
e. Kelima, saling berbagi informasi dan pengalaman dari hasil
lokakarya, simposium, seminar, diklat, classroom action research,
referensi, dan lain-lain kegiatan profesional yang dibahas bersamasama.
f. Keenam, mampu menjabarkan dan merumuskan agenda reformasi
sekolah (school reform), khususnya focus classroom reform,
sehingga berproses pada reorientasi pembelajaran yang efektif.
3. Peran Musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)

Menurut Arikunto (1993), Peran musyawarah guru mata pelajaran antara


lain:
a. Pertama, reformator, dalam classroom reform, terutama dalam
reorientasi pembelajaran efektif;
b. Kedua, mediator, dalam pengembangan dan peningkatan kompetensi
guru, terutama dalam pengembangan kurikulum dan sistem
pengujian;
c. Ketiga, supporting agency, dalam inovasi manajemen kelas dan
manajemen sekolah;
d. Keempat, collaborator, terhadap unit terkait dan organisasi profesi
yang relevan;
e. Kelima, evaluator dan developer school reform dalam konteks
MPMBS;
f. Keenam, clinical dan academic supervisor, dengan pendekatan
penilaian appraisal.
4. Kegiatan Musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)
Menurut Arikunto (1993), Kegiatankegiatan yang dilaksanakan dalam
pertemuan MGMP antara lain :
a. Meningkatkan pemahaman kurikulum.
b. Mengembangkan silabus dan sistem penilaian.
c. Mengembangkan dan merancang bahan ajar.
d. Meningkatkan pemahaman tentang pendidikan peserta luas (Broad
based education) dan pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life
skil).
e. Mengembangkan model pembelajaran efektif.
f. Mengembangkan dan melaksanakan analisis sarana pembelajaran.
g. Mengembangkan dan melaksanakan pembuatan alat pembelajaran
sederhana.
h. Mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran berbasis
komputer.
i. Mengembangkan

media

dalam

melaksanakan

proses

belajar

perlu

adanya

mengajar.
Dalam

pelaksanaan

kegiatan

MGMP

sangat

perencanaan yang terinci dan terarah. Pembelajaran yang berkualitas


sangat ditentukan oleh kualitas komponen pendukung pembelajaran.
Komponen yang paling utama dalam musyawarah guru adalah
narasumber dan guru, karena keduanya memegang 2 peranan penting
dalam usaha pencapaian keberhasilan memecahkan masalah. Dalam hal

ini guru dapat digambarkan sebagai manajer dalam pembelajaran.


Berdasarkan sejumlah kegiatan yang harus dilakukan guru, telah
menempatkan peran guru sebagai manager of learning yang berarti
guru sangat menentukan dalam hal perencanaan, pelaksanaan dan
penilaian produktivitas proses belajar mengajar (Satori, 2007).

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pengembangan profesi guru melalui pendidikan profesi dalam rangka
pengembangan kualifikasi akademik untuk saat ini cukup terbantu dengan
disediakannya dana penyelenggaran pendidikan kualifikasi untuk guru yang
belum sarjana, program sertifikasi dan kesempatan untuk mengikuti
pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan pengembangan
profesi melalui pembinaan berkelanjutan adalah melalui peningkatan
kualitas peran supervisi akademik oleh pengawas dan kepala sekolah, inservice training, kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),
Kelompok Kerja Guru (KKG) dan peran organisasi profesi.

Salah satu wadah yang dapat dijadikan sebagai pengembangan


kompetensi guru adalah MGMP atau Musyawarah Mata Guru Pelajaran.
Pembinaan profesi guu yang terkait dengan MGMP merupakan cikal bakal
hasil inovatif Cianjur Project, yaitu gugus pembinaan yang berasal dari
kelompok kerja guru (KKG untuk sekolah dasar dan MGMP untuk tingkat
SMP/SMA/SMK). MGMP adalah wahana kerja sama guru-guru dan sebagai
tempat mendiskusikan masalah yang berkaitan dengan kemampuan
profesional, yaitu merencanakan, melaksanakan, dan menilai kemajuan
murid.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Fattah, Nanang. 2006. Ekonomi & pembiyaan pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Hamalik, Oemar. 2004. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.
Jakarta : Bumi Aksara.
Hawi, Akmal. 2013. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam. Jakarta:
Rajawali Pers.
Imron, Ali. 1995 Pembinaan Guru di Indonesia. Jakarta: Dunia Pustaka.
Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep,Karakteristik, dan
Implementasi. Bandung : RemajaRosdakarya.

Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif


dan Menyenangkan. Bandung :Remaja Rosdakarya.
Satori, Djamaan. 2007. Profesi Keguruan Edisi 1. Jakarta: Universitas Terbuka.
Supriadi, Dedi. 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru.Yogyakarta :
Adicita Karya Nusa.
Surya, Mohamad. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung :
Yayasan Bhakti Winaya.
Prof. Soetjipto dan Drs. Raflis Kosasi, M.Sc. 2009. Profesi Keguruan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Wijaya, Cece. 1994. Kemampuan dasar guru dalam proses belajar mengajar.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Zamroni. 2001. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf
Publishing