Anda di halaman 1dari 8

Al-Kindi

BAB II
Pembahasan
1. Biografi Al-Kindi
Al-Kindi, namalengkapnya adalah Abu Yusuf Yacub ibnu Ishaq ibnu
Al-Shabbah ibnu Imran ibnu Muhammad ibn Al-Asyas ibnu Qais AlKindi. Kindah, pada siapa nama Al-Kindi dinisbatkan, adalah suatu
kabilah terkemuka pra-Islam yang merupakan cabang dari Bani Kahlan
yang menetap di Yaman.
Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H (801 M) dari
keluarga kaya dan terhormat. Kakek buyutnya, Al-Asyas ibnu Qais,
adalah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw. Yang gugur sebagai
syuhada bersama Saad ibnu Abi Waqqas dalam peperangan antara
kaum Muslimin dengan Persia di Irak. Sementara itu ayahnya, Ishaq
ibnu Al-Shabbah, adalah Gubernur Kufah pada masa pemerintah AlMahdi (775-785 M) dan Al-Rasyid (786-809 M). Ayahnya meninggal
ketika ia masih usia kanak-kanak, namun ia tetap memperoleh
kesempatan untuk menuntut ilmu dengan baik. Al-Kindi sendiri
mengalami masa pemerintah lima khalifah Bani Abbas, yakni Al-Amin
(809-813 M), Al-Mamun (813-833 M), Al-Mutasim (833-842 M), AlWasiq (842-847 M) dan Al-Mutawakkil (847-861 M), suatu masa
kejayaan Dinasti Abbasiyah dan berkembangnya intelektual,
khususnya faham Mutazilah.
Sedikit sekali informasi yang kita peroleh tentang pendidikannya. Ia
pindah dari Kufah ke Basrah, sebuah pusat studi bahasa dan teologi
Islam. Kemudian selagi masih muda, ia menetap di Baghdad, ibu kota
kerajaan Bani Abbas, yang juga sebagai jantung kehidupan intelektual
pada masa itu, tidaklah heran ia dapat menguasai ilmu astronomi,
ilmu ukur, ilmu alam, astrologi, ilmu pasti, ilmu seni musik,
meteorologi, optika, kedokteran, matematika, filsafat dan politik.
Penguasaannya terhadap filsafat dan disiplin ilmu lainnya telah
menempatkan ia menjadi orang Islam pertama yang berkebangsaan
Arab dalam jajaran para filosof terkemuka. Karena itu pulalah ia dinilai

Al-Kindi
pantas menyandang gelar Failasuf al-Arab (Filosof berkebangsaan
Arab).
Oleh karena itu, Al-Ahwaniy mengatakan bahwa Al-Kindi termasuk
salah seorang dari empat besar penerjemah bersama Hunain ibnu
Ishaq, Sabit ibnu Qurra, dan Umar ibnu Al-Farkhan Al-Thabari.
Ketika masa pemerintah Al-Mutawakkil, Daulat Bani Abbas kembali
menjadikan ahlussunah wal-jamaah sebagai mazhab negara, ganti
dari mazhab Mutazilah. Suasana ini dimanfaatkan oleh kelompokkelompok yang anti filsafat. Atas hasutan Muhammad dan Ahmad, dua
orang putera ibnu Syakir diantara yang mereka katakan, orang yang
mempelajari filsafat menjadi kurang hormat pada agama AlMutawakkil memerintahkan agar Al-Kindi didera dan perpustakaannya
yang bernama Al-Kindiyah disita. Akan tetapi, tidak lama kemudian
perpustakaannya dikembalikan lagi kepada pemiliknya.
Sebenarnya, tidak ada kepastian mengenai tahun kelahiran,
kematian, dan siapa-siapa saja guru yang mendidiknya. Mustafa Abd
Al-Raziq cenderung mengatakan tahun wafatnya adalah 252 H,
sedangkan Massignon menunjuk tahun 260 H, suatu pendapat yang
juga diyakini oleh Hendry Corbin dan Nellino. Sementara itu, Yaqut AlHimawi mengatakan bahwa Al-Kindi wafat sesudah berusia 80 tahun
atau lebih sedikit.
Betapa pun juga Al-Kindi sudah dinobatkan sebagai filosof Muslim
berkebangsaan Arab yang pertama, ia layak disejajarkan dengan
filosof-filosof Muslim non-Arab. Sumbangan Al-Kindi yang sangat
berharga dalam dunia filsafat Islam ialah usahanya untuk membuka
jalan dan menjawab rasa enggan dari umat Islam lainnya untuk
menerima ilmu filsafat ini, yang terasa asing di masa itu.1
2. Karya Tulisnya
Sebagai seorang filsuf Islam yang snagat produktif. Diperkirakan
karya yang pernah ditulis Al-Kindi dalam berbagai bidang tidak kurang
dari 270 buah. Dalam bidang filsafat, diantaranya adalah:
a. Kitab Al-Kindi ila Al-Mutashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang
filsafat pertama);
1

Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A., Filsafat Islam, (Jakarta: PT


RajaGrafindo Persada, 2004), CetI, hlm. 37-41.

Al-Kindi
b. Kitab al-Falsafah al-Dakhilat wa al-Masail al-Manthiqiyyah wa alMuqtashah wa ma Fawqa al-Thabiiyyah (tentang filsafat yang
memperkenalkan dan masalah-masalah logika dan muskil, serta
metafisika);
c. Kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah illa bi ilm al-Riyadhiyyah
(tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu
pengetahuan dan matematika);
d. Kitab fi Qashd Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksudmaksud Aristoteles dalam kategori-kategori).
e. Kitab fi Maiyyah al-ilm wa Aqsamihi (tentang sifat ilmu
pengetahuan dan klasifikasinya);
f. Risalah fi Hudud al-Asyya wa Rusumiha (tentang definisi bendabenda dan uraiannya);
g. Risalah fi Annahu Jawahir la Ajsam (tentang substansi-substansi
tanpa badan);
h. Kitab fi Ibarah al-Jawami al-Fikriyah (tentang ungkapanungkapan mengenai ide-ide komprehensif);
i. Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah (sebuah tulisan filosofis
tentang rahasia-rahasia spiritual);
j. Risalah fi al-Ibanah an al-Illat al-Failat al-Qaribah li al-kawn wa
al-Fasad (tentang penjelasan mengenai sebab dekat yang aktif
terhadap alam dan kerusakan).2
3. Filsafatnya
a. Talfiq
Al-Kindi berusaha memadukan (talfiq) antara agama dan filsafat.
Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang benar (knowledge of
truth,

). Al-Quran yang membawa argument-

argumen yang lebih meyakinkan dan benar tidak mungkin


bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan filsafat. Karena itu,
mempelajari filsafat dan berfilsafat tidak dilarang, bahkan teologi
adalah bagian dari filsafat, sedangkan umat Islam diwajibkan
mempelajari teologi.
Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan
sekaligus menjadi tujuan dari keduanya. Agama di samping wahyu
2

Dr. Hasyimsyah Nasution, MA, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media


Pratama, 2005), cetVI, hlm. 17.

Al-Kindi
mempergunakan akal, dan filsafat juga mempergunakan akal. Yang
Benar Pertama (The First Truth) bagi Al-Kindi ialah Tuhan. Filsafat
dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama ini pulalah
dasarnya. Filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang Tuhan.
Dengan demikian, orang yang menolak filsafat maka orang
tersebut menurut Al-Kindi telah mengingkari kebenaran, dan karena
itu ia dapat dikelompokkan kepada kafir, karena orang tersebut
telah jauh dari kebenaran, kendatipun ia menganggap dirinya paling
benar. Di samping itu, karena pengetahuan tentang kebenaran
termasuk pengetahuan tentang Tuhan, tentang keesaan-Nya, tentang
apa yang baik dan berguna, dan juga sebagai alat untuk berpegang
teguh kepada-Nya dan untuk menghindari hal-hal yang sebaliknya.
Dengan demikian, kita harus menyambut dengan gembira kebenaran
dari mana pun datangnya, sebab tidak ada yang lebih berharga bagi
para pencari kebenaran itu sendiri. Karena itu, tidak wajar
merendahkan kebenaran serta merendahkan orang yang mengatakan
dan mengajarkannya. Tidak ada seorang pun akan rendah dengan
sebab kebenaran, sebaliknya semua orang akan menjadi mulia oleh
kebenaran. Jika diibaratkan maka orang yang mengingkari kebenaran
tersebut tidak beda dengan orang yang memperdagangkan agama,
dan pada hakikatnya orang itu tidak lagi beragama karena ia telah
menjual agamanya. Siapa yang memperdagangkan agama berarti ia
bukan orang beragama. Orang yang mengingkari usaha mengetahui
hakikat sesuatu berhak untuk membebaskannya dari agama, sehingga
ia disebut sebagai orang kafir.
Di samping argument rasional, Al-Kindi juga mengacu kepada alQuran yang banyak menyuruh meneliti dan mengamati segala
macam fenomena yang terdapat di alam. Di antaranya adalah alHasyr [59]: 2, al-Ghasyiyah [88]: 17-20, al-Araf [7]: 185, dan alBaqarah [2]: 164.
Dalam karyanya Kammiyah Kutub Aristoteles, Al-Kindi
mengemukakan perbedaan antara filsafat dan agama, sebagai berikut:
1. Filsafat termasuk humaniora (ilmu kemanusiaan) yang dicapai
filsuf dengan berpikir, belajar, sedangkan agama adalah ilmu

Al-Kindi
ketuhanan yang menempati tingkat tertinggi karena diperoleh
tanpa melalui proses belajar, dan hanya diterima secara
langsung oleh para Rasul dalam bentuk wahyu.
2. Jawaban filsafat menunjukkan ketidakpastian (semu) dan
memerlukan berpikir atau perenungan. Sedangkan agama
lewat dalil-dalilnya yang dibawa al-Quran memberi jawaban
secara pasti dan meyakinkan dengan mutlak. Bandingkan
dengan surah Yasin [36]: 79-81.
3. Filsafat mempergunakan metode logika, sedangkan agama
mendekatinya dengan metode keimanan.3
Jadi, dapat kami simpulkan bahwa Al-Kindi berusaha
memadukan antara filsafat dan agama (talfiq) atau antara akal dan
wahyu. Baginya, tanggapan pemikiran dari seseorang tokoh sekalipun
belum menjamin kebenaran akan sesuatu, karena itu dibutuhkan alat
yang menjamin untuk kebenaran sesuatu tersebut.
Al-Kindi mengharuskan agar filsafat dapat dimiliki dan
dipelajari. Karena filsafat merupakan pencarian pengetahuan terhadap
hakikat segala sesuatu. Termasuk masalah ketuhanan, etika dan juga
ilmu pengetahuan lainnya.
b. Metafisika
Adapun mengenai ketuhanan, bagi Al-Kindi, Tuhan adalah wujud
yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujud-Nya tidak
berakhir, sedangkan wujud lain disebabkan wujud-Nya. Tuhan adalah
Mahaesa yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak ada zat lain yang
menyamai-Nya dalam segala aspek. Ia tidak dilahirkan dan tidak pula
melahirkan.4
Benda-benda yang di alam ini, menurut Al-Kindi, mempunyai dua
hakikat: hakikat sebagai juzi (al-haqiqat juziyyat) yang disebut aniah
dan hakikat sebagai kulli (al-haqiqat kulliyat), dan ini disebut mahiah,
yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus (jins) dan
species (nau).
Tujuan akhir dalam filsafat Islam adalah untuk memperoleh
pengetahuan yang meyakinkan tentang Allah. Allah dalam filsafat AlKindi, tidak mempunyai hakikat dalam arti aniah dan mahiah. Tidak
3

Dr. Hasyimsyah Nasution, MA, Filsafat Islam, hlm. 17-19.

Dr. Hasyimsyah Nasution, MA, Filsafat Islam, hlm. 19.

Al-Kindi
aniah karena Allah bukan benda yang mempunyai sifat fisik dan tidak
pula termasuk dalam benda-benda di ala mini. Allah tidak tersusun
dari materi (al-hayula) dan bentuk (al-shurat). Akan tetapi, Allah juga
tidak mempunyai hakikat dalam bentuk mahiah karena Allah tidak
merupakan genus atau species. Bagi Al-Kindi, Allah adalah unik. Ia
hanya satu dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Dialah Yang Benar
Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal (al-Haqq alWahid). Selain dari-Nya, semuanya mengandung arti banyak.5
Untuk membuktikan adanya Allah, Al-Kindi mengemukakan tiga
dalil empiris:
1. Baharunya alam;
2. Keanekaragaman dalam wujud;
3. Kerapian alam.
Tentang dalil baharunya alam telah lazim dikenal di kalangan
kaum teolog sebelum Al-Kindi. Akan tetapi, Al-Kindi
mengemukakannya secara filosofis. Ia berangkat dari pertanyaan,
apakah mungkin sesuatu menjadi sebab bagi wujud dirinya? Dengan
tegas Al-Kindi menjawab, bahwa itu tidak mungkin karena alam ini
mempunyai permulaan waktu dan setiap yang mempunyai permulaan
akan berkesudahan (mutanahi). Justru itu setiap benda, ada yang
menyebabkan wujudnya dan mustahil benda itu sendiri yang menjadi
sebabnya. Ini berarti bahwa alam semesta baharu dan diciptakan dari
tiada oleh yang menciptakannya, yakni Allah SWT.
Tentang dalil yang kedua, keanekaragaman dalam wujud, kata
Al-Kindi dalam alam empiris ini tidak mungkin ada keanekaragaman
atau sebaliknya. Terjadinya keanekaragaman dan keseragaman ini
bukan secara kebetulan, tetapi ada yang menyebabkan atau yang
merancangnya. Sebagai penyebabnya mustahil alam itu sendiri, dan
jika alam yang menjadi sebab (illat)-nya akan terjadi tasalsul
(rangkaian) yang tidak akan habis-habisnya. Sementara itu, sesuatu
yang tidak berakhir tidak mungkin terjadi. Justru itu, sebab atau illatnya harus yang berada di luar alam sendiri, yakni Yang Maha Baik,

Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A., Filsafat Islam, hlm. 50-51.

Al-Kindi
Maha Mulia, dan lebih dahulu adanya dari alam, yang disebut dengan
Allah SWT.
Tentang dalil yang ketiga, kerapian alam, Al-Kindi menegaskan
bahwa alam empiris ini tidak mungkin teratur dan terkendali begitu
saja tanpa ada yang mengatur dan mengendalikannya. Pengatur dan
pengendaliannya tentu yang berada di luar alam dan tidak sama
dengan alam. Zat itu tidak terlihat, tetapi dapat diketahui dengan
melihat tanda-tanda atau fenomena yang terdapat di alam ini. Zat
itulah yang disebut dengan Allah SWT.6
Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut Al-Kindi, sebagai
pencipta haruslah memiliki sifat keesaan, terlepas dari segala
keanekaragaman dengan yang lain. Ia juga dapat mengendalikan dan
mengatur segala sesuatu yang mempunyai permulaan dan kesudahan.
Maka dari itu, pencipta harus tunggal, tidak mempunyai materi
maupun bentuk. Zat itulah Allah SWT.

BAB III
Penutup
Daftar Pustaka
Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama,
2005
6

Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A., Filsafat Islam, hlm. 53-54.

Al-Kindi
Zar, Shirajuddin. Filsafat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004